small

HOMESTAY 2016 bersama SMART Ekselensia Indonesia

13407147_1819847318234652_2727104745803979914_n

Yuk bersama-sama berbagi kebaikan di program HOMESTAY 2016 bersama SMART Ekselensia Indonesia

SMART Ekselensia Indonesia merupakan sekolah menengah akselerasi SMP-SMA (5 tahun), berasrama & bebas biaya yang diperuntukkan bagi anak-anak dari seluruh pelosok nusantara yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata, berprestasi, dan berasal dari keluarga kurang mampu. Hingga tahun 2016 SMART telah meluluskan 8 angkatan & 98% diterima di PTN seluruh Indonesia.

Apa itu HOMESTAY?
HOMESTAY merupakan program pembinaan siswa SMART Ekselensia Indonesia khusus di Hari Raya Idul Fitri dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar & berinteraksi langsung dengan Host Parent (donatur dan masyarakat umum). HOMESTAY memberikan ruang kepada publik untuk berbagi kebahagiaan di Hari Raya Idul Fitri bersama para siswa SMART yang setiap tahunnya tidak bisa merasakan berlebaran dengan keluarga tercinta.

HOMESTAY bertujuan agar siswa dapat belajar langsung dari keluarga Host Parent tentang nilai-nilai positif dalam kehidupan, hingga kelak meraka  tumbuh menjadi generasi yang kuat dan mampu berkontribusi bagi umat juga bangsa dengan membawa nilai-nilai positif tersebut.
Adapun syarat dan ketentuan menjadi Host Parent antara lain:

1. Keluarga muslim
2. Domisili wilayah JaBoDeTaBek
3. Mengisi formulir pendaftaran
4. Mengikuti tahapan seleksi

Homestay akan dilaksanakan pada 02 -10 Juli 2016

02 Juli 2016: Siswa diantar ke kediaman Host Parent

10 Juli 2016: Siswa dikembalikan ke sekolah oleh Host Parent

 

SILAHKAN MENGISI FORMULIR ONLINE

Untuk informasi lebih lanjut sila menghubungi nara hubung kami di 082311254000 – Bukhori

Mari bersama-sama #MembentangKebaikan bersama kami di program HOMESTAY

#ZAKATNESIA

IMG-20160607-WA0002-depan

Kegiatan Unggulan Dompet Dhuafa Pendidikan di Bulan Ramadhan

IMG-20160607-WA0002

Di bulan Ramadhan yang penuh berkah, tahun ini Dompet Dhuafa Pendidikan mempersembahkan kegiatan-kegiatan unggulan selama bulan Ramadan sebagai berikut:

  1. Homestay

Merupakan salah satu program SMART  yang memberikan kesempatan kepada siswa SMART untuk tinggal bersama keluarga donatur/ muzakki selama 2 pekan untuk mengambil pembelajaran kehidupan dari keluarga donator sebagai host parent. Kami mengajak Edulovers untuk berbagi kehangatan keluarga dalam suasana Idul Fitri bersama siswa SMART Ekselensia Indonesia

  1. Jampang Mengaji spesial Ramadhan

Jampang  Mengaji merupakan salah satu program sosial SMART yang digarap oleh Divisi Asrama SMART. Program ini merupakan salah satu bentuk perwujudan konstribusi sosial SMART  kepada masyarakat dalam hal pendidikan terutama dalam bidang baca tulis dan tahfidz Al-Qur’an. Daerah yang menjadi sasaran dari program ini adalah daerah Jampang, Parung, Jawa Barat. Di bulan Ramadhan ini, Jampang Mengaji akan memberikan sesuatu yang baru dan special bagi para pesertanya.

  1. I’tikaf
  1. Festival Ramadhan Beta

Festival Ramadhan Beta merupakan kumpulan kegiatan Ramadhan diseluruh wilayah DesPro yang dilakukan secara serentak. Kegiatannya meliputi Tarhib Ramadhan, Berbagai Lomba, & Pembagian Sembako pada yang membutuhkan.

  1. Pesantren Literasi (Sanrasi)

Pesantren Literasi (Sanrasi) merupakan salah satu program unggulan Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa Pendidikan dalam menyambut Ramadhan. Sanrasi merupakan program pemanfaatan momentum dalam menciptakan kebermanfaatan program yang berkelanjutan. Titik tekan program ini adalah perluasan pemahaman literasi dan pengembangan jaringan sadar literasi. Harapan utama program ini adalah mengenalkan dan membiasakan masyarakat umum untuk sadar tentang budaya literasi.

  1. Safari Dakwah Ramadhan 1437H

Safari Dakwah Ramadhan merupakan serangkaian acara spesial yang dihelat Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa Pendidikan yang terdiri dari:

  • Ceramah Keliling. Kegiatan ini dilakukan dari satu desa ke desa lain yang berada disekitar wilayah program Sekolah Literasi Indonesia Makmal Pendidikan
  • Tarawih Keliling. Kegiatan ini serupa dengan dengan Ceramah Keliling, namun Tarawih Keliling turut melibatkan para guru dampingan/sekolah inisiasi dan juga siswa
  1. Sepucuk Senyum Ramadhan

Sepucuk Senyum Ramadhan merupakan gerakan berkirim surat ucapan Idul Fitri kepada seluruh alumni, dan jaringan Dompet Dhuafa Pendidikan

smartwisuda

Akhirnya Kami Lulus!

Kemarin malam (27/05) kami, Angkatan 8, mengadakan acara kumpul untuk terakhir kalinya. Suasana mendung, semua seperti dirundung murung. Mungkin karena nanti setelah lulus kami akan sulit untuk sekadar berkumpul atau bercengkrama seperti dulu. Mengingat itu sedih rasanya, tapi apa mau dikata, memang fasenya seperti itu kan? Malam itu banyak hal kami bicarakan, mulai dari yang sedih sampai menyenangkan. Lalu tiba-tiba kami teringat kalau pakaian wisuda kami belum disetrika, dan kami seperti lupa kalau besok ternyata…. wisuda.

Mari menyetrika, lalu istirahat….

Udara hari ini (28/05) terasa menusuk, dingin dan enak untuk menarik selimut kembali, bahkan sampai membuat mata kami seolah tak mau berkompromi, mungkin karena semalam kami tidur terlalu larut. Namun semangat kami untuk melaksanakan prosesi wisuda mengalahkan itu semua, dengan semangat super akhirnya kami bergegas mandi, memakai pakaian wisuda yang sudah licin disetrika, lalu ramai-ramai menuju Kelas Kimia untuk mengambil toga. Di Kelas Kimia bu Dina sudah menanti kami, mengingatkan agar kami jangan sampai terlambat. Ah segera saja kami memakai toga dan sedikit wefie di sana sini hehe lalu meluncur ke tenda besar tempat dilaksanakannya wisuda. Sesampainya di sana ternyata acara intinya belum dimulai dan kami harus menunggu selama beberapa menit, banyak dari kami yang mengeluh kepanasan karena tebalnya baju wisuda, tapi yasudahlah yang penting hari ini hari besar untuk kami.

Wisuda 16

Akhirnya kami dipanggil masuk ke dalam ruangan wisuda, beberapa dari kami mulai menitikkan air mata ketika lagu Gaudeamus Igitur dan Mars SMART dikumandangkan. 5 tahun, sungguh tak terasa. Rasanya baru kemarin kami ribut masalah sepele, menangis bersama-sama kerena rindu orang tua, dan melakukan kegiatan bersama-sama. Sekarang kami harus berhadapan dengan bab baru dalam hidup kami, bab kelulusan. Sedih, namun kami kuat. Berjauhan dengan orang tua dan saudara dalam waktu 5 tahun membuat kami semua terlatih menghadapi kesedihan, walau akhirnya air mata pasti akan tumpah juga.

Wisuda 13

Oke balik ke prosesi wisuda ya. Mengusung tema ‘Membentang Kebaikan, Menggapai Harapan, Melukis Masa Depan’ di wisuda Angkatan 8 ini banyak hal istimewa kami dapatkan. Seperti misalnya wejangan dan pembelajaran menjadi pribadi sukses dari pak Sendy Aditya Kamesvara, Marketing & Operation Director PT. Metra Digital Media by Telkom Indonesia, menurutnya yang penting dalam hidup itu perjuangan dan keinginan sungguh-sungguh untuk menggapai mimpi yang kita punya, tanpa itu semua maka mimpi kita hanya akan jadi bualan semata. Selain pak Sendy ada juga ibu Sri Nurhidayah, GM Divisi Pendidikan Dompet Dhuafa yang membesarkan hati kami semua agar tidak minder dengan keadaan karena yang terpenting adalah bagaimana kela bisa sukses dan bermanfaat luas bagi orang lain. Wah pokoknya dua pembicara keren ini sungguh membuat kami merinding dan makin semangat untuk menggapai yang kami cita-citakan. Pun di prosesi wisuda tahun ini kami juga bisa melihat kemajuan adik-adik kelas kami yang tergabung dalam Tim Ansamble, Tari Saman, dan juga Paduan Suara. Sekarang mereka hebat-hebat, musikalitas dan harmonisasi gerakan mereka juga lebih selaras, kerenlah.

Wisuda 2

Wisuda 3

Wisuda 4

Wisuda 6

Wisuda 7

Wisuda 9

Sesi demi sesi berlalu, sampailah kami di sesi di mana kami resmi menjadi alumni SMART Ekselensia Indonesia, sesi pengalungan dan pemberian sertifikat selama belajar di sini. Satu per satu nama kami dipanggil, satu per satu tali topi toga kami dipindah, senang dan sumringah terpancar di raut wajah kami. Jelas kami senang karena akhirnya bisa menamatkan pendidikan tingkat sekolah menengah dengan hasil yang baik, tak ada yang lebih menyenangkan dari itu. Setelah semua nama dipanggil, setelah kami semua duduk di bangku masing-masing, tak dinyana ternyata ada pengumuman tambahan, pengumuman wisudawan terbaik. Dag dig dug dag dig dug kami menerka-nerka kira-kira siapa yang berhasil menyabet gelar bergensi tersebut. Wisudawan terbaik merupakan gelar yang diberikan pada siswa terbaik selama belajar di SMART dalam kurun waktu lima tahun, penilaiannya sendiri dilakukan oleh para guru dan juga guru di asrama. Kami masih menanti, menanti dan menanti. Hingga akhirnya nama Muhammad Fatih Daffa terucap dari mulut pak July, Kepala Sekolah kami, sorak sorai sontak memenuhi ruangan karena Fatih memang selama ini dikenal menjadi siswa yang selalu di depan. Karena Fatih terpilih menjadi wisudawan terbaik maka ada dua tugas menanti Fatih di atas panggung, serah terima kendi ilmu pada adik kelas kami di Angkatan 13 –yang baru akan mulai belajar selepas Lebaran nanti- dan pembacaan ikrar alumni. Alhamdulillah semua dilakukan Fatih dengan baik.  Tak ketinggalan pada kesempatan tadi 11 orang yang berhasil lolos SNMPTN juga mendapatkan sesinya sendiri.

Wisuda 15

Wisuda 14

Wisuda 12

Oh iya seperti wisuda tahun-tahun sebelumnya alumni SMART dari berbagai angkatan pasti datang. Namun pada kesempatan kali ini agak berbeda karena salah satu alumni SMART, panggil saja ia kak Ama, yang saat ini sedang mengambil S2 di ITB memaparkan tentang IKA SMART Ekselensia Indonesia alias Ikatan Keluarga Alumni SMART Ekselensia Indonesia. Jadi IKA SMART Ekselensia Indonesia merupakan wadah bagi semua alumni SMART, para alumni akan ditempatkan dalam satu “rumah”, nah ada beberapa ketentuan yang harus diikuti para alumni agar hubungan mereka kian erat. Eh ternyata baru sadar kalau kami saat ini telah resmi menjadi alumni SMART. Bikin baper sih.

Wisuda 11

Setelah melewati beberapa sesi yang agak membosankan, sampailah kami dipenghujung acara, lebih tepatnya acara puncak. Di acara puncak ini para tamu undangan kami “paksa” menyaksikan video angkatan kami, syukurlah hasilnya melegakan karena banyak dari mereka yang terpingkal-pingkal. Sebelum video berakhir teman kami membawakan teatrikal puisi yang mampu menyihir tamu undangan yang datang dan membuat guru kami menangis. Tangisan makin banyak terlihat ketika kami yang ber-32 tampil menyanyikan lagu untuk guru kami tersayang, usai menyanyikan lagu kami semua meminta maaf pada mereka dengan berderai air mata. Berat rasanya meninggalkan SMART, berat rasanya meninggalkan kenangan indah selama lima tahun bersama, berat rasanya melupakan semua hal indah indah ketika kami di sini. Berat sekali *baper lagi deh.

Wisuda 8

Tak ada kata yang bisa kami ucapkan selain terima kasih, ini bukanlah perpisahan hanya sebuah pertemuan kembali yang tertunda. Terima kasih SMART atas pengalaman lima tahun yang tak terlupakkan.

 

KAMI SUDAH LULUS! DUNIA KAMPUS TUNGGU KAMI!

 

DSC_0167

Titian Tangga Asrama

Oleh: Andrian Eka Wijaya.

Kelas 5 Jurusan IPA Angkatan 8.

 

Assalamualaikum Wr. Wb.

DSC_0167Pertama, saya ingin berterima kasih pada Allah SWT. Kedua, tak lupa shalawat serta salam tetap tercurah pada Nabi Muhammad SAW. Ketiga, pembuka tulisan ini memang aneh tapi bodo amat, ya saya mau cerita tentang kehidupan selama saya hidup di SMART Ekselensia Indonesia atau lebih tepatnya curahan hati yang saya alami selama di SMART Ekselensia Indonesia.

SMART Ekselensia Indonesia. Sekolah berasrama yang ditempuh hanya dalam kurun waktu 5 tahun. Nah diantara kalian siapa coba yang gak tahu asrama? Di SMART kami juga tinggal di asrama lho. Di asrama kami “dipaksa” untuk bisa hidup mandiri dengan sendirinya seperti mencuci baju, piring, beres-beres, dan masih banyak lagi. Hufffft….banyak lah pokoknya. Percaya atau tidak, tapi saya bangga menjadi anak asrama. Kenapa? Karena ternyata anak asrama itu tak seperti anak-anak kebanyakan di luar sana, dengan hidup di asrama mental kami ditempa dari cengeng jadi tidak cengeng, dari malas jadi rajin, dari kotor jadi bersih. Eh tapi yang terakhir cuma pengin pencitraan saja hehe.

Asrama, asrama, asrama. Memang bosan sih hidup di asrama yang kerjaanya ya itu…itu…itu…saja. Mulai dari bangun sampai tidur lagi yang dilihat hanya itu-itu doang shay. Tapi ada satu hal yang saya kagumi dari Asrama SMART. Apa itu? Itu adalah “tangga” kenapa tangga? Karena tangga sudah seperti bagian dari hidup siswa di Asrama SMART. Mulai dari mau berangkat sekolah turun tangga, pulang sekolah naik tangga, mau makan kudu mesti harus lewat tangga, sampe mau tidur pun juga ketemu tangga … huh … bosan. Tapi karena tangga kami jadi kuat karena secara tidak langsung kami berolahraga tiap hari. Karena tangga juga saya jadi yakin kalau cita-cita itu memang harus dikejar, perlahan tapi pasti.

Saya yakin kelak saya dan teman-teman lainnya akan jadi mutiara yang bersinari ketika keluar dari asrama SMART, sehingga nanti kami akan dapat menyinari lingkungan sekiranya dengan cahaya keindahan hahaha… sekian curahan hati saya tentang hidup di Asrama SMART. Terimakasih sudah mau membaca tulisan saya yang singkat padat jelas bermakna.

 

HIDUP ASRAMA!

DSC_0146

Cita-Cita?

Oleh: Afdal Firman.

Kelas 5 Jurusan IPA Angkatan 8.

 

DSC_0146“Apa cita-citamu, Afdal? Tanya ayahku. Pertanyaan itu dilontarkan oleh ayahku lima tahun yang lalu. Lantas aku menjawabnya, “pemain bola professional, yah”. Ia terlihat manggut-manggut seraya bertanya kembali, “memang itu bisa dikatakan cita-cita?” sekenanya aku menjawab, “Cuma itu yang aku tahu yah, dan aku rasa aku bisa bermain bola. Lagipula jadi TNI, dokter, Polisi sudah pasaran yah”. Ayahku termangu mendengar jawabanku, tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya setelah itu. Ada jeda panjang yang membuat suasana tak mengenakkan kala itu.

Dulu mungkin aku tidak tahu kenapa ayah menanyakan cita-cita kepadaku, tapi sekarang aku tahu jawabannya. Tak ubahnya seorang guru, ayahku merupakan orang pertama yang ingin melihat anaknya sukses. Begitu pun ibuku.

Ketika itu aku ingin masuk SSB selepas SD, namun sekolah menawarkan beasiswa SMART padaku. Dengan restu orang tua aku mengikuti tes beasiswa tersebut. Selepas tes aku yakin sekali tidak lulus. Banyak sekali kotak jawaban yang kosong. Lalu aku berpikir mungkin menjadi pesepakbola merupakan pilihan yang tepat, oleh karenanya aku aku meminta kepada ayahku untuk dibelikan sepatu bola. Setelah sekian lama nego akhirnya ayah membelikanku sepatu bola. “Nih Dal sepatu bolanya. Besok daftarnya ayah temanin,” ucap ayahku. Ucapannya membuat hatiku senang, namun kesenangan itu tak bertahan lama, rasa bahagia itu digantikan rasa sedih yang menggelora. Namun ini bukan sedih pada umumnya, rasa sedih ini merupakan ungkapan kebahagiaan yang tidak dapat digambarkan.

Aku lulus seleksi beasiswa SMART, yap aku lulus, hilang sudah perbendaharaan kata-kataku setelah melihat pengumuman itu. Sebentar lagi aku akan berpisah dengan mereka yang kucintai. Cita-citaku kukubur, sepatu itu? Sepatu itu hanya kutaruh di dapur. Sedih, namun orang tuaku selalu punya obat untuk kesedihanku. “Ingat ketika dulu ayah bertanya tentang cita-cita?” Tanya ayahku seraya meredakan suasana hatiku. “Ya ayah,” jawabku singkat. “Sebagaimana darah Minang mengalir dalam tubuhku, aku ingin menjadi pengusaha,” jawabku sekenanya lagi. Berbinar mata ayahku mendengar kata-kata tersebut. Tentu ayahku senang karena anak-anaknya memiliki cita-cita yang jelas. Menurut ayahku, cita-cita yang tak jelas. SMART serasa menjawab semuanya.

Sekarang aku diambang pintu untuk memulai perjalanan mencari perwujudan cita-citaku. Tak terasa 5 tahun ditempa di kawah candradimuka SMART Ekselensia Indonesia telah kulewati segala prosesnya dengan caraku sendiri. Cita-cita yang kubanggakan dulu benar-benar telah kukubur untuk selamanya. Kini udara terasa sangat sejuk untuk kuhirup. Sebentar lagi aku akan melihat wajah bahagia orangtuaku. Yang dulu teramat sulit untuk menemukannya. Namun pada saat harinya tiba, wajah bahagia itu akan sangat mudah ditemukan. Semudah membalik telapak tangan

Ke mana sekarang?

Mengejar perwujudan cita-citaku!!!

 

Bogor, 26 Mei 2016

aku

Aku, SMART, dan ITB

Oleh: Doni Septian

Kelas 5 Jurusan IPA Angkatan 8

 

aku“Kriing”. Aduh kok berisik sekali sih. Seingatku aku hampir tidak pernah menyetel alarm sepagi itu. Satu hal yang kusadari setelah berhasil memaksa tubuh ini untuk bangun yakni “AKU SUDAH ADA DI BOGOR”. Seketika kepala berdesir, pusing, pengin pulang ke kampung.

Pagi itu tanggal 1 Juli 2011, untuk pertama kalinya aku menjalani Shalat Shubuh tepat waktu, tidak seperti di Pekanbaru dulu. Tapi seperti kebanyakan anak normal lainnya, aku tak bisa jauh dari orang tua, alhasil aku sering sekali menangis di dalam toilet supaya tak ketahuan yang lain. Keran kubuka besar-besar dan aku bisa menangis sepuasnya, aku kangen ayah dan ibu. Namun seiring berjalannya waktu aku sudah mulai jarang menangis, aku dan Angkatan 8 lainnya sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan baru kami di SMART Ekselensia Indonesia, kami mulai bisa bercanda sama-sama, lari ke sana ke sini, dan masih banyak lagi keseruan lainnya. Menangis? Masih suka juga, tapi itu juga karena ada anak Bali yang mengejekku.

Di sekolah kami ada peraturan di mana siswa boleh memakai gawai asrama dan juga izin keluar, tapi khusus anak baru jika ingin izin keluar harus didampingi oleh kakak kelas. Hanya saja yang menarik perhatianku dan Angkatan 8 lainnya hanya jatah menelpon orang tua, saking kangennya banyak yang menangis ketika dapat giliran menelpon, mungkin kangen. Rasa kangen pada orang tua juga membuat kami bertingkah aneh, aku ingat betul dulu aku dan Sutrisno sama-sama memimpin Angkatan 8 untuk menyanyikan lagu Bunda milik Melly Goeslaw. Sampai di bait “oooh Bunda ada dan tiada dirimu ada di dalam hatiku”, eh pada nangis kejer hahahahaha. Pengin ketawa ngakak, tapi gak enak. Dan hari itu menjadi hari di mana masa-masa sedih, indah, mengharukan, dan bahkan memalukan terukir dalam hidupku.

Pada 2012 lalu ketika Olimpiade Humaniora Nusantara (OHARA) dihelat, aku mengikuti lomba story telling. Aku membawakan kisah  Jaka Tarub dan Nawang Wulan, tak disangka di tengah pertunjukkan aku lupa naskah, daripada malu akhirnya aku pura-pura serak dan batuk-batuk syantik gitu, lah malah dikasih air sama panitia. Tahu gitu mending aku pingsan sekalian. Di tahun yang sama dan kelas yang sama (kelas 1) aku ditunjuk oleh bu Lisa untuk mengikuti lomba FL2SN cabang story telling dan aku menduduki peringkat 3, bangganya.

Waktu terus berjalan, eh tapi aneh ya kalau waktu jalan-jalan.  Ya sudahlah ya lanjut lagi deh, dulu ada anggapan kalau anak-anak dhuafa seperti aku dan teman-temanku tak akan bisa bertemu dengan orang-orang penting, tapi mereka salah. Selama di SMART Ekselensia Indonesia aku banyak bertemu dengan tokoh terkenal bahkan artis seperti Ustad Maulana, Nikita Willy, Baim Wong, bahkan Dubes Jerman dan Amerika Serikat. Senanglah pokoknya bisa bertemu mereka semua.

Lalu tak terasa sudah empat tahun di SMART Ekselensia Indonesia dan sekarang aku sudah kelas 5 (kelas 3 SMA di sekolah lain), yang lebih menyenangkan akhirnya aku masuk jurusan IPA. Masuk IPA membuatku lebih banyak berpikir terutama berpikir tentang Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Kala itu aku selalu berpikir untuk masuk Kimia UI, aku sudah minta doa ke kanan dan ke kiri macam sedang maaf-maafan sewaktu Lebaran, sedihnya aku tak akan bisa dapat kesempatan ke sana karena SNMPTN UI tidak mencakup ke SMART Ekselensia Indonesia. Alhasil  aku pilih ITB Fakultas MIPA untuk SNMPTN tahun ini. Setelah berunding dengan guru BK dan pimpinan SMART panjang lebar aku tak disarankan masuk ITB, terlepas dari itu aku cukup terharu karena mereka mau menyisihkan waktunya untuk mendengar ocehanku,. Akhirnya aku harus mengikuti konseling lanjutan bersama bu Amal (guru BK) yang berakhir dengan kesimpulan kalau aku harus memiih Manajemen IPB.

Percaya atau tidak, sebenarnya konseling alias diskusi dengan bu Amal yang panjang itu tak menghasilkan kesimpulan akhir, karena pada saat pendaftaran SNMPTN aku keukeuh memilih FMIPA ITB. Titik dan aku yakin makanya pilihanku tersebut kufinalisasi alias tak bisa diubah lagi. Bu Amal agak kesal dibuatnya seraya berkata “Doni, kamu mempermainkan saya?!” dengan ekspresi muka yang susah digambarkan, itu membuatku kepikiran. Aku hanya membatin “paling juga tak lolos, tapi kan bisa ikutan SBMPTN terus masuk UI”. Itu prinsipku saat itu hingga jelang pengumuman SNMPTN tiba.

Keresahanku tak kunjung reda bahkan makin menjadi karena ternyata pengumuman SNMPTN diundur hingga 9 Mei. Kulupakan sejenak saja si SNMPTN dan fokus belajar untuk SBMPTN, sampai beberapa hari kemudian ketika kami sedang belajar tiba-tiba di koridor luar terdengar teriakan dan sorak sorai. Kami yang di kelas sudah yakin kalau SNMPTN telah diumumkan, makin gelisah saja aku dibuatnya. Sejurus kemudian masuklah Alfian ke kelas sambil memberi selamat. Aku bingung, apakah ini mimpi? Aku berhasil masuk ITB? FAKULTAS MIPA ITB? Alhamdulillah ya Allah aku senang sekali, aku keluar kelas lalu berlarian sepanjang koridor. Kulihat Renald, sahabat kentalku di ujung koridor, ia melihatku dan berlari ke arahku lalu ia memelukku seraya berkata: “Kita lolos Don, gue keterima di UNPAD ya Allah”. Tak ada yang lebih menyenangkan mendengar kabar itu.

Alhamdulillah kabar kelolosanku ke FMIPA ITB menjadi kado terindah yang bisa kuberikan untuk ibukku di kampung halaman.

 

2015-07-04-22-16-37_deco-01

KAISS “Sang Penentu”

2015-07-04-22-16-37_deco-01

Oleh: Muhibuddin

Kelas 5 Jurusan IPA Angkatan 8

 

Yang namanya tugas akhir pasti selalu diidentikkan dengan skripsi atau tesis dan biasanya dilakukan oleh mahasiswa yang akan menyelesaikan pendidikan sarjana atau masternya. Tapi kalau di SMART Ekselensia Indonesia jelas berbeda, tugas akhir  berlaku untuk para siswa kelas 5 (setara kelas 3 SMA di sekolah lain) yang akan menyelesaikan jenjang sekolah menengah atas mereka di sini. Memang tak serupa skripsi atau tesis sih melainkan lebih kepada karya ilmiah yang biasa kami sebut Karya Ilmiah Siswa SMART (KAISS). Mungkin ini hanya karya ilmiah, tetapi harga yang harus dibayar setara dengan skripsi dan tesis, yakni kelulusan.

Sayang, tidak semua siswa menganggap serius KAISS sejak awal, ada yang masih bercanda dan santai-santai. Sedangkan siswa yang serius menganggap KAISS harus diselesaikan segera; mereka mulai mengajukan judul, bimbingan dan lain-lain. Tidak semua berjalan sesuai yang diharapkan, ada yang tidak diterima judulnya, ada yang kebingungan harus mulai dari mana, bahkan ada yang harus berganti judul di tengah jalan karena ada beberapa masalah.

Saya Muhib, salah satu siswa yang baru saja menyelesaikan hal  mengerikan di atas. Mengerikan? Ya, memang mengerikan. Untuk mengajukan judul saja banyak pertimbangan, harus ini lah harus itu lah, katanya sih kalau sudah bisa membuat KAISS nanti ketika berkuliah akan mudah membuat karya ilmiah. Saya akui memang tidak mudah menyelesaikan KAISS, banyak keterbatasan karena di sini kami berasrama dan fasilitas terbatas, oh iya juga sering tersandung karena keterbatasan dana. Ada yang menikmati dan ada juga yang terus mengeluh mengerjakan ini semua, kalau saya happy happy saja. Ketika sidang KAISS berlangsung ada yang berjalan lancar, ada juga yang melalui banyak hambatan di sana sini, tapi Alhamdulillah kalau saya termasuk yang dimudahkan.

Pesan saya untuk adik-adik kelas, ada baiknya semua yang kalian ingin teliti dikonsep dari sekarang dan jangan menunda-nunda. Kumpulkan data sebaik-baiknya, jangan hanya terpaku pada informasi daring di laman web karena referensi dari buku lebih menunjang untuk sebuah karya tulis karena dapat dipertanggungjawabkan. Satu hal yang pasti, nikmati saja semua prosesnya. Jatuh bangun ketika membuat KAISS anggap saja sebagai bumbu penyedap, kalau jatuh ya bangun lagi, tak perlu takut.

snbfullnew

Pengumuman Seleksi Nasional Beasiswa (SNB) SMART Ekselensia Indonesia

Selamat kepada para siswa yang telah lolos seleksi. Semoga SMART Ekselensia Indonesia menjadi jalan sukses meraih mimpi di masa depan. SMART Ekselensia Indonesia adalah sekolah menengah berasrama, bebas biaya, berakselerasi (5 tahun SMP-SMA), dan terakreditasi A, didedikasikan untuk anak-anak dhuafa berprestasi dari seluruh Indonesia. SMART Ekselensia Indonesia telah meluluskan 7 angkatan (2009-2015) dengan 100 persen alumninya lolos PTN terakreditasi A di Indonesia.

 

NO. NAMA ASAL DAERAH
1 Abdul Rahman Aziz Jabodetabek
2 Mulyadi Jabodetabek
3 Naufal Wahyu Hidayat Jabodetabek
4 Wildani Fadhillah Jabodetabek
5 Yika Rifkian Dilanazra Jabodetabek
6 Gozi Hasbiyallah Jawa Barat
7 Ilham Amirullah Jawa Barat
8 Muhamad Rais Mochtar Jawa Barat
9 Muhammad Qais Fathin Jawa Barat
10 Muhammad Syauqi Jawa Barat
11 Muhammad Zaky Dhiyaul Haq Jawa Barat
12 Fashhan Firyal Fahrezy Jawa Barat
13 Muhammad Jeri Pratama Jawa Tengah
14 Muhammad Zulfikar Saifullah Jawa Tengah
15 Ibrahim Kholilulloh D.I. Yogyakarta
16 Rahmat Hidayat D.I. Yogyakarta
17 Abdullah Azzam Sumatera Barat
18 Muhammad Furqon Sumatera Barat
19 Muhammad Shaleh habibi Sumatera Barat
20 Salim Rahman Sumatera Barat
21 Elang Bayu Sumatera Utara
22 Hilman Fadhlillah Sumatera Utara
23 Mohammad Giofany Sumatera Utara
24 Najib Nur Rahman Sumatera Utara
25 Sadianto Sumatera Selatan
26 Andriyan Putra Jambi
27 Aufa Salahuddin Zaidani Lampung
28 Residen Nusantara Ramadhani Mubarok Lampung
29 Mohamad Ridho Ar-Rasyid Nasution Riau
30 Muhammad Malik Firdaus Riau
31 Faiz Aufal Huda NTB
32 Izat Hamdanil NTB
33 Wahyunazi NTB
34 M. Iqbar Ba’asyir Kalimantan Barat
35 Muhammad Syahrul Nizam Kalimantan Timur
36 Slamat Riyadi Kalimantan Selatan
37 Muhammad Alfianur Kalimantan Selatan
38 Muhammad Asdar Sulawesi Tenggara
39 Rizal Sulawesi Tengah
40 Muhammad Rafiq Bangka Belitung

 

IMG-20160518-WA0007-aaa

Al-Qur’an dan Mahkota Kemuliaan

IMG-20160518-WA0007

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie.

(GM Sekolah Model Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa, Penulis 48 Buku)

Basyir, demikian remaja asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan, ini biasa disapa oleh guru-guru dan teman-temannya di SMART Ekselensia Indonesia (SMART EI). Ahmad Basyir Najwan, demikian nama lengkap pemberian orangtuanya, adalah salah seorang siswa SMP  SMART EI yang berprestasi pada dua bidang keilmuan sekaligus. Yakni ilmu Agama dan ilmu umum. Pada bidang ilmu umum, Basyir adalah finalis Olimpiade Sains Nasional cabang IPA. Sedang, pada bidang ilmu Agama, Basyir telah memiliki hafalan Al-Qur’an di atas 20 juz.

Terkhusus untuk hafalan Al-Qur’an Basyir memang bercita-cita menjadi hafizh. Ia ingin menghafal Al-Qur’an 30 juz. Karena itulah, Basyir mengikuti program Takhasus Tahfizh di SMART EI. Ia ingin memberikan hadiah terindah untuk Ibu dan Ayahnya. Yakni, mahkota kemuliaan di surga kelak. Ia ingin memuliakan Ibu dan Ayahnya dengan hafalan Al-Qur’annya.

Basyir menyadari betapa besar jasa orangtuanya, terkhusus Ibunya. Ibunya bersimbah darah dan bertaruh nyawa saat melahirkannya. Sakitnya saat melahirkan membuat ribuan syaraf sang Ibu seolah terputus. Rasa sakit yang hanya bisa ditanggung oleh perempuan. Bahkan, laki-laki yang secara kasat mata fisiknya lebih kuat, tak akan sanggup menanggung sakitnya melahirkan.

Begitu sang anak lahir, Ibu spontanitas menyunggingkan senyumnya yang berbuncah. Seolah hilang rasa sakit itu seketika. Sang anak diciumi dengan hangat. Hari-hari selanjutnya Ibu terus melimpahi sang anak dengan kasih sayang. Disusui hingga 2 tahun. Di rawat dan dibesarkan dengan harapan sang anak kelak menjadi anak saleh yang berbakti.

Maka, sebuah kewajiban bagi anak untuk berbakti kepada Ibunya. Menjadi tempat bersandar bagi Ibunya dihari senjanya. Menjadi tumpuan harapan saat kesendiriannya. Menjadi syafaat di akhirat dengan kesalehannya. Inilah yang terukir di hati Basyir. Ia ingin Ibunya bangga memiliki anak sepertinya. Maka, hadiah terbaik yang ingin dipersembahkan itu adalah hafalan Al-Qur’an secara sempurna 30 juz.

Lahir di tengah keluarga kurang beruntung secara ekonomi tidak membuat Basyir kehilangan cita-cita. Berbekal doa dan semangat dari orangtuanya, setelah dinyatakan lulus sebagai penerima beasiswa SMART EI, Basyir mantap merantau ke Bogor untuk sebuah misi besar sebagai muslim. Menuntut ilmu di SMART Ekselensia Indonesia Islamic Boarding School. Sebuah sekolah jenjang SMP dan SMA yang didirikan oleh Dompet Dhuafa sebagai kontribusi nyata untuk memutus rantai kebodohan dan kemiskinan.

Sejak berdiri 2004 hingga kini 2016, SMART EI telah meluluskan 7 angkatan dengan torehan 100% lulusannya diterima di perguruan tinggi negeri. Harapannya anak-anak ini kelak bisa memutus rantai kemiskinan keluarganya. Tidak hanya itu, kelak anak-anak ini pun diharapkan bisa berkontribusi bagi umat, bagi anak-anak kurang beruntung lainnya untuk memperoleh pendidikan yang baik.

Kembali ke cerita Basyir. Ketika menginjakkan kaki di SMART dan mengawali proses pembelajaran, anak ini memang sudah terlihat kecerdasannya. Semua mata pelajaran selalu mendapat nilai bagus. Belajar bersama para guru yang berdedikasi adalah nikmat yang sangat disyukurinya. Di SMART EI pula minatnya untuk menghafal Al-Qur’an mulai tumbuh dan berbunga. Ust Syahid, guru Tahfizh, adalah orang yang selalu mengompori Basyir untuk menghafal Al-Qur’an. Guru Tahfizh yang juga Shivu Thifan Po Khan ini memang terkenal “tukang kompor” yang positif bagi murid-muridnya. Terkadang anak-anak diajak menghafal Al-Qur’an sambil berlatih jurus-jurus Thifan.

Basyir sangat menikmati proses pembelajaran Al-Qur’an di SMART EI. Tak heran perkembangan hafalannya berjalan cepat. Saat ini Basyir duduk di kelas 3 SMP SMART EI dan telah memiliki hafalan Al-Qur’an lebih dari 20 juz. Targetnya sebelum lulus SMA SMART EI, Basyir telah menyelesaikan hafalannya. Berkat hafalan Al-Qur’annya, Basyir memperoleh hadiah umroh dari sebuah bank syariah pada Desember 2015 lalu.

Teriring doa dari kami, nak. Semoga kau segera menyelesaikan hafalan Al-Qur’anmu dan menghadiahkannya untuk Ibumu, terutama untuk almarhum Ayahmu. Semoga pula sekolah ini semakin berkah dengan lahirnya para penghafal Al-Qur’an yang saleh. Semoga pula kebaikannya turut mengalir kepada guru-guru yang berdedikasi mengajarkan ilmunya di sekolah ini.

Mahasuci Allah dan segala puji hanya untuk-Nya.    

IMG-20160515-WA0000

Taman Baca BIndo SMART

Oleh: Aldi

 

Pada Minggu (15/05) Kelompok Bahasa Indonesia SMART Ekselensia Indonesia menggelar acara Peresmian Taman Baca Bindo SMART di Inkopad, Arco, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Mengusung tema “Transfer Ilmu Lewat Buku” acara yang dihadiri oleh puluhan tamu undangan dan peserta dan dimulai pukul 08.00 WIB ini dibuka oleh bu Yati selaku Pembina Acara dan juga oleh pak Imron selaku pemilik Yayasan Islam Ashabul Kahfi Madani. Acara yang bertujuan untuk meningkatkan minat membaca anak juga untuk mengembangkan kecintaan anak akan buku terutama buku yang ada di perpustakaan ini mengambil lokasi di wilayah Inkopad. Kenapa Inkopad? Karena dewasa ini membaca buku sudah menjadi hal yang dianggap tak menarik di sana, padahal membaca buku sangat bermanfaat untuk meningkatkan kecerdasan anak.

Setelah sambutan-sambutan, kami melakukan Ice breaking terlebih dahulu agar peserta tidak bosan. Setelah itu kami melakukan peresmian perpustakaan dengan menggunting pita sebagai tanda bahwa perpustakaan ini sudah dibuka, para peserta dipersilakan untuk masuk perpustakaan untuk melihat-lihat. Nah, lanjut ke acara inti yaitu dongeng yang  diceritakan  oleh kak Dian. Kak Dian mendongeng tentang kura-kura yang terkena musibah, penampilan sangat menghibur peserta karena kak Dian sangat ekspresif. Setelah sesi mendongeng selesai kami mengadakan lomba membaca puisi dan lomba bercerita, ternyata peserta membaca puisi lebih banyak daripada bercerita akhirnya panitia memutuskan 4 pemenang dari lomba membaca puisi dan 2 pemenang dari lomba bercerita. Waah seru sekali pokoknya. Sebelum pulang para peseta pun mendapatkan goodybag yang berisi beberapa buku, dengan begitu berakhirlah acara peresmian perpustakaan. Kami berharap semoga kegiatan ini bermanfaat bagi masyarakat. Kami merasa bahagia karena acara berlangsung dengan baik.

Sebelum acara ini terealisasi, proses yang kami lalui cukup melelahkan namun menyenangkan. Layaknya seorang profesional kami harus membuat konsep, membuat alur kerja yang mumpuni dan juga membuat proposal yang sistematis. Setelah beberapa proses dan pengajuan serta presentasi proposal ke Master Clean Laundry, BNI Syariah, PSB (Pusat Sumber Belajar) Makmal Dompet Dhuafa,  Brimob Kedung Halang, Asuransi Takaful, dan Nurul Fikri akhirnya kami mendapatkan tiga lemari buku dan empat kardus buku serta fresh money yang dapat kami gunakan untuk mengisi perpustakaan.