Angklung Gubrak, Silat Cimande, dan Pengawal Sejarah yang Memudar

Angklung Gubrak, Silat Cimande, dan Pengawal Sejarah yang Memudar

Oleh: Ridwan & Ismail

“Siswa tangguh yang ustaz banggakan?” teriakan Ustaz Ahmad Sucipto menggema di langit yang cerah pagi itu. Seluruh siswa kelas IX SMART Ekselensia Indonesia sedang mempersiapkan keberangkatan mereka untuk pergi ke Kampung Budaya Sindang Barang.

Empat puluh siswa begitu antusias untuk mengikuti kegiatan wisata sejarah hari itu. Bukan hanya siswa saja yang antusias mengikutinya, namun sopir angkot yang akan mengantarkan mereka juga merasakan yang sama. Mungkin karena keceriaan dan keriuhan para siswa tak bisa dibendung dari wajah-wajah mereka yang lugu.

Sebelum berangkat, para siswa dibekali dengan wejangan dari Kepala Sekolah, Ustaz July Siswanto, bahwa acara wisata sejarah tersebut jangan menjadi hiburan semata, tetapi juga untuk menanamkan nilai cinta budaya Indonesia. Tepat setelah acara pelepasan dan foto bersama, kegiatan eksplorasi budaya negeri pun resmi dimulai.

Penampilan Angklung Gubrak dari ibu-ibu yang mengenakan pakaian khas Sunda menjadi sambutan selamat datang bagi para siswa. Angklung Gubrak merupakan salah satu warisan budaya yang masih dilestarikan di Kampung Budaya Sindang Barang.

Sejak pertama kali memasuki kawasan Sindang Barang, para siswa langsung dapat melihat rumah-rumah adat yang ada di sana. Rumah-rumah adat tersebut mengandung banyak arti dari segi bentuk bangunan dan fungsinya. Setelah menyaksikan penampilan tersebut,  para siswa disambut oleh Pak Ukad yang merupakan pengurus dari kampung budaya Sindang Barang itu sendiri.

Pak Ukad langsung mengarahkan siswa menuju gazebo. Di sana, siswa diberi pengarahan tentang sejarah Kampung Budaya Sindang Barang dan beberapa benda tradisional yang ada di sana. Siswa juga disuguhi beberapa kesenian seperti Tari Jaipong dan Silat Cimande serta berkesempatan menikmati kegiatan-kegiatan khas di kampung budaya tersebut.

Setelah pengenalan singkat, siswa diajak berkeliling untuk dapat mengenal lebih dekat bangunan dan benda-benda yang ada disana. Banyak benda yang masih dilestarikan di kampung budaya Sindang Barang, di mana barang-barang tersebut sangat sulit untuk ditemukan di tempat lain. Salah satu momen yang berkesan di berbagai rangkaian kegiatan PDK-I adalah siswa diajarkan bermain angklung. Siswa diajak untuk lebih mengenal dan mampu memainkan alat musik tradisional Jawa Barat tersebut bahkan dipandu untuk memainkan beberapa lagu tradisional, salah satunya lagu Ampar-Ampar Pisang.

Setelah puas dengan mengenal budaya Sunda, rombonganpun mendirikan Salat Zuhur berjamaah. Setelah itu, acara yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba yaitu makan siang. Hari itu mereka mendapatkan jamuan spesial dengan menyantap makanan khas Sunda yang sudah disediakan oleh pihak Kampung Budaya Sindang Barang. Nasi, sayur asem, ayam goreng, sambal merah dan sambal ijo pedas, tahu-tempe, dan lalapan  sungguh sulit dilupakan kelezataannya ditambah suasana pedesaan sarat sejarah itu.

Setelah menyantap makan siang, siswa diajak pada acara pamungkas, yaitu belajar Silat Cimande yang dipimpin oleh Pak Ukad. Siswa pun mulai mempraktikan gerakan silat yang legendaris tersebut. Awalnya mereka cukup kesusahan, tapi karena mereka terus mencoba, beberapa dari mereka pun mulai dapat mempraktikkan dengan benar. Di ujung acara, Pak Ukad memberikan beberapa petuah tentang pentingnya menjaga budaya bangsa. Acara ditutup dengan foto bersama dengan latar belakang rumah-rumah adat sunda.

Kampung Budaya ini telah berhasil memberikan goresan di hati para siswa SMART Kelas IX. Kampung yang menjadi saksi nyata tegaknya budaya di tengah masyarakat zaman sekarang, khususnya para anak muda. Beruntung masih ada orang yang peduli mengawal budaya bangsa yang hampir memudar ini. Hari itu, mereka mendapatkan pelajaran yang berharga dalam perjalanan yang sederhana.