Bahkan, Para Sahabat yang Mulia Itupun Pernah Bersitegang

32719693425_93360ff037_n

Oleh: Syafei Al Bantanie
GM SMART Ekselensia Indonesia

Kisah ini ditulis dengan indah dalam Sirah Nabawiyah. Kisah yang membuat saya semakin cinta dengan agama ini (Islam), baginda Nabi tercinta, dan para sahabat mulia.

Satu hari, sebakda melakukan perjalanan panjang nan melelahkan, Rasulullah dan para sahabat singgah di sebuah tempat. Haus terasa mencekik. Maklum saat itu tengah musim panas dengan teriknya.

Beberapa sahabat Anshar segera mengambil air. Pun dengan beberapa sahabat Muhajirin. Di tengah perjalanan mengambil air, karena lelah yang sangat, sahabat Anshar bertabrakan dengan sahabat Muhajirin. Tumpahlah air masing-masing. Terjadi ketegangan mulut di antara mereka.

Mengetahui ketegangan yang terjadi, apa yang dilakukan sahabat-sahabat senior? Sebuah demonstrasi kualitas individu dan akhlak mulia. Sahabat Umar bin Khattab tidak menunjukkan ego sektoralnya dengan membela Muhajirin. Pun dengan sahabat Sa’ad bin Muadz tidak menampilkan ego sektoralnya dengan mendukung Anshar.

Sahabat-sahabat senior itu dengan kata-kata penuh hikmahnya berupaya mengingatkan tentang persaudaraan di antara mereka. Tentang ukhuwah yang telah terajut mesra.

Yang paling memikat hati adalah apa yang dilakukan oleh Rasulullah. Baginda Rasul menyerukan agar perjalanan segera dilanjutkan agar cepat sampai Madinah. Ada apa dengan Madinah?

Rupanya baginda Rasul ingin membangkitkan memori indah para sahabatnya. Madinah adalah rumah bersama. Di Madinah mereka merajut persaudaraan yang indah. Kualitas persaudaraan yang hanya ada dalam Islam. Sebagaimana, dilukiskan dengan memesona dalam QS. Al-Hasyr ayat 8-10. Mereka, Muhajirin dan Anshar, saling mencintai, mengutamakan saudaranya, dan sama sekali tiada dengki di antara mereka.

Begitu sampai Madinah. Baginda Rasul mengingatkan tentang memori indah persaudaraan para sahabat. Detail dengan sudut-sudut di Madinah yang menjadi saksi bisu betapa indahnya persaudaraan mereka. Para sahabat pun mengharu biru. Mereka yang bersitegang itu saling berpelukan satu sama lain. Mereka saling meminta maaf. Ah, indah sekali. Indah…

Bersaudara sesama muslim memang bukan berarti tiada perselisihan di dalamnya. Bukankah dalam QS. Al-Hujurat ayat 9, sebakda menegaskan Mukmin itu bersaudara, lanjutan ayatnya adalah, “…maka damaikanlah di antara saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”

Inilah indahnya persaudaraan sesama muslim. Ketegangan dan perselisihan di antara mereka tetap dalam bingkai ukhuwah. Justru hal ini kemudian membuat mereka lebih saling memahami, mengerti, dan menyayangi satu sama lain.

Semoga Allah Yang Maha Rahman dan Maha Rahim mengumpulkan kita kembali di surga Firdaus bersama baginda tercinta Nabi Muhammad saw., keluarga, dan para sahabat mulia.

Komentar

komentar



Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044