Furqan dan Impiannya Berkurban

furqan

Bukan hal mudah merantau di usia belia, selalu ada tantangan serta pergolakan dalam diri ketika memutuskan untuk pergi meninggalkan keluarga tercinta di kampung halaman. Namun berbeda dengan Muhammad Furqan, ia berkomitmen pada dirinya bahwa merantau dapat mengasah jiwa pekerja keras sekaligus menjadi sarana pengaktualisasian kemandirian dalam dirinya.

Saat ini Furqan, sapaan akrabnya, duduk di kelas 2A Sekolah Menengah Pertama (SMP) SMART Ekselensia Indonesia. Ia dilahirkan di Lubuk Alung, Sumatera Barat, pada 24 September 2003. Sekembalinya dari kampung halaman pada momen Pulang Kampung SMART Januari lalu Furqan memiliki tekad berkurban untuk ibunda tercinta. Karena menurutnya saat ini ia belum mampu untuk menghajikan ibunya, maka ia memilih alternatif lain yakni berkurban. Sejak saat itu ia mulai menabung, sedikit demi sedikit uang bulanan dari sekolah ia kumpulkan, namun ia merasa kalau hanya mengandalkan uang bulanan sekolah saja tak akan mungkin mengejar target berkurban bulan September nanti. Berbekal informasi dari para ustaz dan usatazah di sekolah ia mulai bergerilya membantu dua ustaz asrama berjualan makanan ringan.

Di usianya yang menginjak empat belas tahun, Furqan dikenal sebagai sosok pekerja keras, penuh semangat, dan tak pernah mengeluh. Selain berjualan, disela-sela kesibukannya ia juga menjadi relawan di Perpustakaan Pusat Sumber Belajar (PSB) Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa. Setiap harinya Furqan mampu menghasilkan Rp 15.000,00 dari hasil menjajakan makanan ringan, ia berkelana dari satu asrama ke asrama lainnya menawarkan beragam penganan untuk dijual, menurut Furqan dalam hitungan menit jualannya pasti habis. “Per hari saya biasa menabung Rp 5000,00 sampai Rp 15.000,00; beruntung saya tak begitu suka jajan terlalu banyak sehingga bisa fokus mengelola keuangan pribadi,” tandasnya.

“Sulit”, adalah kata pertama yang Furqan ucapkan ketika ditanya bagaimana membagi waktu antara sekolah dan berdagang, apalagi Furqan masih tercatat sebagai seorang pelajar SMP dan juga seorang relawan. Kesibukan nan padat, tugas sekolah yang menumpuk serta kegiatan ekstrakulikuler kadang menjadi tantangan terbesar baginya. “Biasanya saya membawa serta Pekerjaan Rumah (PR) ketika berdagang, jadi ketika belum banyak pembeli saya bisa mengerjakan PR atau biasanya saya mengerjakan PR dulu baru berdagang,” ujarnya.

Furqan mengaku jika ibu di kampung halaman merupakan motivasi terbesarnya dalam berdagang, “Kalau lagi malas biasanya saya teringat ibu di rumah. Saya teringat betapa keras usaha ibu berdagang untuk membiayai hidup kami. Ibu adalah motivasi terbesar agar saya bisa bangkit dan tidak malas berlarut-larut,” tambahnya.

Berkat usaha kerasnya, Furqan akhirnya berhasil memenuhi impian besar dalam hidupnya yakni membeli kambing untuk dikurbankan September nanti. “Perasaan saya saat ini senang sekaligus sedih. Senang karena akhirnya bisa berkurban untuk ibu di kampung halaman, sedih karena ibu tidak ada di sini untuk menyaksikan sendiri kambing yang saya pilihkan untuknya,” ucapnya berkaca-kaca penuh haru.

Ia berpesan agar tak menjadikan ketidakmampuan sebagai alasan untuk tak berkurban, karena ketika sudah bertekad maka Allah akan membantu memenuhi niat baik tersebut. “Jangan lupa tekadkan niat tersebut untuk orang-orang tercinta karena ridho Allah ada pada ridho mereka,” tandasnya. (AR)

Komentar

komentar



Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044