I’tikaf: Berburu Lailatul Qadr

ss

Oleh: Amma Muliya Romadoni.

Alumni SMART Angkatan 1, Magister Student di Institut Teknologi Bandung

 

I’tikaf berasal dari bahasa Arab ‘akafa, secara harfiah berarti menetap atau berdiam diri. Dalam konteks ibadah, i’tikaf berarti berdiam diri di dalam masjid, menyibukkan diri dengan ibadah-ibadah dengan maksud untuk mendekatkan diri kepada Allah. Mengapa harus di dalam masjid? Karena masjid merupakan rumah Allah dan tempat yang cocok untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Oleh karena itu, salah satu syarat seseorang melakukan i’tikaf adalah harus dilakukan di dalam masjid. Apabila keluar dari masjid, maka orang tersebut harus berniat lagi untuk melakukan i’tikaf. Sedangkan waktu untuk beri’tikaf, bisa dilakukan kapanpun dan terkhusus pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan. Seperti dalam salah satu sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha: “Bahwasanya Nabi senantiasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan hingga beliau diwafatkan oleh Allah. Kemudian para istri beliau pun melakukan i’tikaf sepeninggal beliau“. (Muttafaq ‘alaih)

Kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan diikuti oleh umatnya sampai saat ini. Salah satu alasannya karena di waktu tersebut terdapat sebuah malam yang dalam Al-Quran dijelaskan di Surah Al-Qadr ayat 3 sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam tersebut dinamakan lailatul qadr yang berarti malam kemuliaan. Pada malam tersebut, setiap ibadah yang dilakukan, secara matematis akan diganjar pahala setara dengan melakukan ibadah selama 83 tahun ataupun lebih. Sedangkan umur umat Rasulullah secara umum, sebagaimana dalam hadisnya diperkirakan antara 60 hingga 70 tahun. Tentunya ini merupakan salah satu peluang bagi seseorang untuk mendapatkan ganjaran pahala ibadah melebihi batas usia yang diperkirakan oleh Rasulullah. Maka sudah sewajarnya untuk memperbanyak dan menggiatkan ibadah di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Memperbanyak kuantitas dan kualitas ibadahnya untuk berburu lailatul qadr di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Karena jika pada malam tersebut bertepatan dengan lailatul qadr, sungguh beruntunglah orang-orang yang beribadah pada malam tersebut.

Bagi sekolah SMART Ekselensia Indonesia, i’tikaf menjadi sebuah kegiatan tahunan yang diikuti oleh para siswa, guru, dan staf karyawan. Hal ini menjadi kegiatan yang tak terlewatkan untuk memaksimalkan Ramadhan di sepuluh hari terakhirnya. Saya sendiri pernah merasakan i’tikaf di beberapa masjid yang berada di Bogor dan Jakarta semenjak menjadi siswa SMART Ekselensia Indonesia dan beberapa tahun belakangan ini, saya diamanahi untuk menjadi imam Qiyamulail sekaligus beri’tikaf di Masjid Lab School Rawamangun Jakarta bersama dengan guru sewaktu di sekolah SMART Ekselensia Indonesia, ustaz Ahmad Sucipt dan tentunya ustaz Ahmad Sucipto membawa rombongan dari SMART Ekselensia Indonesia yang akan melaksanakan i’tikaf. Selain para siswa, peserta i’tikaf di Masjid Lab School Rawamangun juga didominasi oleh para mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan panitia i’tikafnya berasal dari DKM Masjid Lab School Rawamangun Jakarta berkolaborasi dengan Lembaga Dakwah Kampus Universitas Negeri Jakarta.

Untuk memfasilitasi peserta dalam beri’tikaf, panitia biasanya mengadakan kajian ke-Islaman di waktu-waktu tertentu. Di mana kajian ini merupakan aktivitas tambahan selain ibadah yang dilakukan secara mandiri seperti membaca Al-Quran, zikir, salat sunah, dll. Di masjid Lab School Rawamangun Jakarta sendiri, kajian keislaman disesuaikan dengan kebutuhan yang didominasi oleh para pelajar dan mahasiswa. Sedangkan untuk qiyamulail, setiap malamnya sebanyak 1 juz Al-Quran. Secara umum, aktivitas tersebut hampir sama dilakukan di beberapa masjid lain yang menyelenggarakan i’tikaf. Hanya saja berbeda dalam segi kuantitas dan materi kajian ke-Islaman yang diberikan bagi para peserta. Terlepas dari suguhan kegiatan tambahan yang disediakan oleh panitia i’tikaf, tujuannya sama yaitu untuk mendekatkan diri kepada Allah agar menjadi pribadi yang bertakwa.

Selama beri’tikaf, saya mengamati ada beberapa perbedaan jumlah peserta i’tikaf di setiap harinya selama sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan. Pada malam-malam ganjil, peserta yang beri’tikaf biasanya lebih banyak dibandingkan malam-malam genap. Hal ini menjadi suatu pemandangan yang wajar karena dalam salah satu sabdanya Rasulullah menjelaskan untuk mencari lailatul qadr di malam-malam ganjil. Sehingga peserta i’tikaf akan terlihat lebih banyak di malam-malam ganjil. Pun demikian, alangkah lebih baiknya kita tetap memaksimalkan ibadah selama sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Karena bulan Ramadhan adalah bulan ibadah dimana setiap muslimin dan muslimat dianjurkan untuk memperbanyak ibadah kepada Allah. Terlebih jika ibadah yang dilakukan bertepatan dengan lailatul qadr, maka akan mendapatkan pahala yang amat banyak untuk bekal di akhirat kelak. (AMR)

Komentar

komentar



Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044