Membangun Semangat Baru Pertanian Menuju Indonesia Jaya

Membangun Semangat Baru Pertanian Menuju Indonesia Jaya

Oleh: Syahrizal, Kelas XII IPS

Makan dan minum merupakan aktivitas yang tidak pernah dilewati oleh manusia di dunia. Bagaimana tidak? Manusia membutuhkan nutrisi dengan melakukan aktivitas makan dan minum untuk memenuhi kebutuhan dan menjalankan segala kegiatan dengan optimal. Bahan makanan yang dimakan manusia dapat berasal dari mana saja, dari darat atau pun perairan.

Saat ini, di televisi ataupun media lainnya kita sering mendengar masalah mengenai pangan ataupun pertanian. Ada permasalahan mengenai daerah kekurangan makanan, bayi kurang gizi atau sawah di sejumlah daerah yang kekeringan dan terancam gagal panen. Hal ini mengisyaratkan bahwa pangan merupakan topik yang sangat krusial. Masalah pangan juga menjadi permasalahan utama di masyarakat karena kita tidak akan pernah luput darinya.

Berbicara mengenai pangan pasti selalu berkaitan dengan pertanian. Pertanian merupakan aktivitas mengolah lahan dan mengembangkan berbagai komoditi yang digunakan untuk memenuhi segala kebutuhan manusia. Banyak sekali orang bertanya mengapa di negeri kita tercinta, Indonesia, masih banyak yang merasakan lapar dan kekurangan gizi? Padahal, di negeri kita tercinta banyak sekali lahan subur dan produktif. Dengan luas sekitar 1,9 juta km persegi (Sumber : IPS 3 SMP/MTs Erlangga) bukan tidak mungkin Indonesia dapat memenuhi segala kebutuhan rakyatnya.

Titik krusial dari permasalahan pangan adalah dalam hal produksi. Masyaakat seakan lupa dengan permasalahan penting ini dan hanya berfokus kepada pemberitaan media saja tanpa ada aksi nyata dalam menanggapinya.

Menurut ensiklopedia ekonomi, produksi adalah proses penambahan nilai dari suatu barang/jasa untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup manusia. Dalam teori produksi kita mengenal empat faktor utama kemajuan produksi. Faktor tersebut antara lain Sumber Daya Alam, Tenaga Kerja, dan Modal serta Kewirausahaan.

Sumber Daya Alam sebagai faktor pertama memiliki peranan yang cukup penting. Manusia sebagai makhluk yang tinggal di bumi tentu saja mengolah lahan di sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sejak zaman dahulu bahkan zaman purba manusia sudah dikenal mengolah lahan-lahan subur. Akan tetapi, kini permasalahan justru menghampiri sumber daya alam. Saat ini banyak sekali lahan-lahan kritis di sejumlah daerah dan kurangnya lahan yang dapat dikembangkan sebagai lahan pertanian. Lahan pertanian semakin menyusut dikarenakan kebutuhan manusia akan lahan akan tempat tinggal dan area bisnis lainnya. Pada akhirnya produksi pangan pun menurun.

Yang kedua, tenaga kerja. Dalam rangka mengolah lahan pertanian dibutuhkan para tenaga kerja yang terampil. Akan tetapi, saat ini jumlah petani di Indonesia semakin menyusut. Banyak para petani yang alih profesi dan merantau ke ibu kota. Mereka berdalih jika hanya menjadi petani, kehidupan tidak akan berkembang dan pendapatan tidak akan meningkat. Keterampilan untuk mengolah lahan lebih optimal juga semakin berkurang.

Ketiga, sektor modal. Sektor ini berperan penting untuk membiayai aktivitas produksi padi. Dalam sektor ini seringkali mengalami kendala yaitu kurangnya dana untuk mengolah lahan. Mulai dari pembelian bibit, pemupukan, peralatan, dll.

Keempat, sektor kewirausahaan. Sektor ini berperan dalam meningkatkan minat seseorang untuk berusaha membangun potensi di aktivitas perekonomian sehari-hari. Namun, minat dalam berwirausaha dan menunjukan usaha nyata para pemuda di Indonesia dalam bidang pertanian masih kurang dari harapan. Inovasi-inovasi yang dilanjutkan hanya segelintir saja.

Aksi nyata pertama dari sisi sumber daya alam. Sumber daya lahan di Indonesia yang semakin menyempit dapat dikelola menjadi lahan produktif dengan teknik urban farming. Masyarakat di perkotaan dapat memanfaatkan areal di sekitar rumahnya dengan menanam apotek hidup. Kegiatan ini mungkin dapat dilakukan walau masih terdapat kekurangan.

Aksi nyata kedua adalah menambah lahan pertanian efektif yang tadinya 45 juta hektare menjadi 60 juta hektare dengan memerhatikan apek kubutuhan lahan perumahan serta merevitalisasi lahan kritis tanpa merusak area lingkungan yang dilindungi.

Para teknokrat di Indonesia juga dapat beraksi nyata untuk membantu para petani di daerah untuk dapat mengelola lahan pertanian lebih produktif dan optimal. Hal ini dilakukan untuk menyesuaikan dengan perkembangan dan peningkatan produksi, sehingga dibutuhkan transfer teknologi untuk mencapainya. Jumlah para petani muda di Indonesia juga harus ditingkatkan selaras dengan penambahan luas areal pertanian.

Dalam meningkatkan produksi petanian diperlukan penambahan modal. Bantuan kredit lunak dari pemerintah ataupun swasta dalam pemenuhan modal untuk membangun pertanian Indonesia. Selain pemberian modal secara langsung, berbagai lembaga dapat mengoptimalkan dana Corporate Social Responsibility (CSR) untuk penambahan kemampuan dan pengalaman seperti Pertanian Sehat Indonesia dan Kampung Ternak Nusantara Dompet Dhuafa.

Pendidikan tidak boleh luput sebagai faktor yang menentukan kesuksesan kedaulatan pangan. Pemerintah saat ini menciptakan kurikulum nasional yang memuat mata pelajaran prakarya. Dalam prakarya, siswa-siswa diharapkan berwirausaha secara aktif dan kreatif. Para siswa dilatih untuk menumbuhkan jiwa kemandirian dalam mengolah potensi yang ada di lingkungan sekitar. Dengan ini –produksi hasil pertanian–diharapkan untuk meningkat seiring dengan adanya materi budidaya pertanian.

Di samping peningkatan faktor-faktor produksi, diperlukan pula pola pengawasan yang aktif dan bijaksana. Kegiatan-kegiatan yang dapat mengurangi porduksi hasil pertanian secara tidak baik dan illegal harus dihentikan secara tegas. Jika tidak, usaha-usaha kita dalam peningkatan hasil pertanian akan sulit tercapai.

Bangsa kita sebenarnya memiliki potensi sangat besar untuk mencapai kedaulatan pangan. Pangan sendiri menurut UU No.7 1996 menyatakan bahwa pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya menjadi hak asasi setiap rakyat Indonesia. Tentu saja sedari sekarang kita bangsa Indonesia harus menyiapkan SDM yang berkualitas untuk meneruskan pelaksanaan pembangunan nasional.

Setiap elemen masyarakat harus turut serta dalam membangun ketahanan pangan di negeri tercinta ini. Kampanye tidak menyia-nyiakan makanan dan program penggantian produk beras dapat dilakukan untuk mecapai ketahanan pangan di Indonesia. Dengan jumlah penduduk 237.556.336 jiwa (BPS : 2010) bukan tidak mungkin Indonesia menjadi negara paling maju dalam ketahanan pangan sesuai yang dicita-citakan rakyat di seluruh penjuru nusantara.

Komentar

komentar



Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044