Memorabilia Sederhana

cara-menjadi-pemimpin-yang-sukses
Oleh: Firman, Guru SMART Ekselensia Indonesia
Bogor – 26 November 2017, setelah menyimak prakata dari Guru Agung, GM SMART Ekselensia Indonesia, para guru memfokuskan diri pada acara pengembangan diri dengan tema “Mengembangkan Kemampuan Pengelolaan Emosi pada Anak dan Remaja”. Fokus maksimal karena materi diisi oleh pemateri nasional. Beliau adalah Dra. Yeti Widiati, psikolog yang juga seorang penulis beberapa buku fenomenal.
Acara tersebut dilangsungkan di Aula Bumi Pengembangan Insani, pukul 13.00 sampai 17.00 WIB. Total 24 guru, baik sekolah maupun asrama, mengikuti agenda yang diprakarsai oleh Litbang SMART Ekselensia Indonesia dan HRD Divisi Pendidikan Dompet Dhuafa. Semua guru sangat antusias untuk mengikuti pelatihan tersebut karena semua memiliki ekakarsa (satu kehendak; satu niat), yaitu SMART Ekselensia Indonesia yang adigung adiguna.
Awal sesi pertama, pemateri memulai acara dengan pertanyaan, “Apakah yang dimaksud dengan emosi?”
Sebuah kata yang orang dewasa nisbi pernah mendengar bahkan mengucapkannya, namun mungkin masih awam untuk mendefinisikannya. Beberapa guru coba merespon pertanyaan tersebut, dengan sedikit malu, ragu, bahkan lugas bagaikan tinju. Usaha yang baik daripada sekadar menitipkan raga di aula. Sejatinya pemateri tidak mencari jawaban yang benar apalagi salah. Pemateri mencoba menangkap respon belajar guru yang mungkin kalah cepat oleh rasa ingin memejamkan mata.
Emosi adalah suatu kondisi psikologis yang melibatkan pengalaman subjektif, respon fisik, respon perilaku, dan ekspresi. Itu adalah definisi emosi yang dipaparkan pemateri. Setelah pertanyaan itu, materi-materi berikutnya disampaikan dengan cerdas dan lugas sehingga para peserta tetap awas dan antusias.
Selain pemaparan materi berdasarkan referensi dan pengalaman, pelatihan tersebut semakin asyik karena diwarnai dengan salinida (slide) yang menarik, bahkan sesekali diselipkan film yang menggugah emosi. Salah satu salinida berwarna adalah salinida bergambar bagian-bagian otak yang berhubungan dengan emosi. Ada tiga bagian otak yang sangat berpengaruh dalam mengelola emosi: otak reptil, sistem limbik, dan neokortex. Dalam seketika, para guru seolah sedang belajar bersama seorang neurologi. Keren!
Materi lain pada sesi satu ini adalah tipe-tipe respon emosi menurut Johnson and Greenberg. Ada empat tipe: emosi primer adaptif, emosi primer maladaptif, emosi sekunder, dan emosi instrumental. Istilah-istilah yang tidak lazim terdengar bisa dengan cepat kami pahami karena pemaparan yang efektif disertai contoh yang nyata. Selain materi tersebut, tidak akan hilang dari ingatan, yaitu bahwa setiap emosi memiliki pesan dan menurut TFE (Terapi Fokus Ekonomi) bahwa semua emosi itu bersifat positif.
Sejenak kami rehat untuk menghadap Ilahi, meneguk segelas kopi, dan menikmati empat jenis kudapan yang terbungkus rapi. Berikutnya, sesi kedua telah menanti. Sesi yang diawali oleh sebuah kalimat bijak, “Jika kita hanya memiliki palu, maka segala hal kita anggap sebagai paku.”
Pemanfaatn Terapi Fokus Ekonomi  TFE dan Solution Focus Therapy (SFT) menjadi fokus utama pada sesi kedua. Sedikit berbeda dengan sesi pertama, sesi kedua lebih banyak diisi dengan aktivitas dan diskusi guru. Aktivitas yang akhirnya membuat pelatihan semakin menderu. Beberapa guru bahkan berani mempresentasikan hasil diskusi tanpa ragu.
Dua jenis emosi, yaitu emosi positif dan emosi negatif tampaknya akan menjadi akhir petualangan sesi kedua. Namun, di akhir sesi, para guru mendapatkan kejutan, berupa balon dengan variasi warna. Balon yang menjadi fasilitator kami dengan dua jenis emosi tersebut. Balon yang ternyata membuat emosi positif kami terlihat nyata, kami tertawa, tanpa ragu apalagi takut.
Klimaksnya, ada hadiah (doorprize) yang disediakan oleh pemateri untuk beberapa kriteria. Hadiah berupa buku terbaru sang pemateri dengan judul Senyaring Tawa Ananda. Kebahagiaan berlipat bagi yang mendapatkannya. Tidak perlu kecewa yang belum beruntung membacanya. Sejatinya, kebersamaan kita semua adalah hadiah paling istimewa yang akan menjadi memorabilia. Selamanya.