Pelajaran dalam Perjalanan?

IMG-20171228-WA0004

Oleh: Usamah Ismail

Semuanya berawal dari spontanitas. Berawal dari celetukan bibiku –yang memang suka nyeletuk— tentang wisata sekeluarga mengunjungi “Kampung Coklat” yang ada di Kota  Blitar. Sebuah celetukan yang membuat kami sekeluarga berunding hebat. Tak disangka gayung bersambut karena nenek pulang membawa kabar gembira, beliau menyampaikan kalau baru saja mendapatkan uang arisan. “Ya sudah, ini pakai saja uang nenek untuk biaya kamu jalan-jalan. Nenek ikhlas,” ujar nenek seraya menggelontorkan sejumlah uang. Aku senang bukan kepalang karena tanpa terlalu banyak diskusi rencana “iseng” ini berhasil. Hanya butuh celetukan, rejeki, dan orang yang mengiyakan maka jadilah rencana kami sekeluarga jalan-jalan. Nah ada dua pelajaran yang kupetik dari sini, yuk simak.

IMG-20171228-WA0011

–Pelajaran 1–

Spontanitas tak selamanya buruk. Bahkan, kadang dibutuhkan untuk menghasilkan sesuatu yang wah. Karena, terlalu banyak pertimbangan biasanya hanya menghancurkan rencana yang telah atau sedang dibuat. Jadi, aku berpikir bahwa memang, terlalu banyak berpikir itu tak baik.

Kala itu, kami berangkat menggunakan mobil elf yang sudah disewa pada diskusi singkat sebelumnya. Aku mendapat tempat duduk di bagian paling depan di samping pak sopir. Selama perjalanan aku hanya duduk terdiam memangku sepupuku yang masih berusia dua tahun. Apa hal yang membuatku terdiam, padahal ini adalah wisata keluarga yang seharusnya diisi dengan canda tawa? Yah, perlu diketahui bahwa dari semua penumpang mobil besar itu, kaum lelaki duduk di kursi bagian terdepan mobil (aku, sopir dan sepupu bayi). Di belakang? Diisi oleh kaum hawa, mulai dari mbak-mbak, ibu-ibu, sampai nenek-nenek, termasuk adik perempuanku. Jadi, aku hanya diam mendengarkan dan berusaha memahami apa maksud obrolan kaum hawa di belakang (yah, kurang lebih isinya gosip ibu-ibu yang aku tak pernah paham).

–Pelajaran 2–

“Mungkin ini memang saatnya mengambil pelajaran,” pikirku.

Manusia sebagai makhluk hidup harus memiliki kemampuan beradaptasi. Selama ini aku bisa beradaptasi dan hidup tentram di lingkungan yang semuanya lelaki. Iya sekolahku, SMART Ekselensia Indonesia, isinya memang lelaki semua. Nah yang aku bingung seharusnya aku juga bisa beradaptasi dan membaur dengan lingkungan heterogen. Ahh… aneh memang. Tapi aku tak menyerah aku terus “memaksa” diri ini agar lebih baik dalam membaur di lingkungan baru dan lebih heterogen.

IMG-20171228-WA0000

Aku tiba di Kampung Coklat – Blitar dengan wajah sumringah, begitupula dengan keluargaku. Kami mulai memasuki gerbang dan disambut lorong gelap serta remang-remang. Di sepanjang lorong, terlihat banyak lukisan-lukisan yang menggambarkan semua sejarah tentang coklat. Rombongan keluargaku berjalan terlalu terburu-buru, jadi aku tak sempat membaca dan memahami semua lukisan di sana. Setelah melewati lorong, sampailah kami  di tempat rindang penuh dengan pohon coklat yang ternyata tak terlalu tinggi pohonnya.

IMG_20171226_100530

Aku terkejut saat melihat bagian dalam dari tempat wisata ini, ternyata indah. Yah walaupun isinya hanya orang berjualan berbagai macam produk berbahan dasar coklat, seperti es krim coklat, coklat panas, permen coklat berbagai rasa, dsb.  Aku hanya melihat-lihat ke sana ke mari dan tertawa. Karena memang dasarnya coklat itu harganya mahal, dan aku tak bawa uang karena aku juga tak tahu bahwa akan jadi seperti ini. Lalu, setelah diperhatikan lagi, ternyata ada tempat khusus -yang bukan untuk lapak jualan-, tempat terapi kaki dengan ikan. Entah apa sebutan dan khasiatnya, hanya karena ini yang termurah diantara yang lain, aku langsung menceburkan kakiku ke dalam kolam ikan itu dan menghabiskan waktu yang cukup lama hanya terduduk di sana sambil menunggu para wanita menyelesaikan urusannya -berbelanja, makan, dan mengobrol-.

IMG_20171226_105546

–Pelajaran 3–

Ambil hikmahnya. Liburan Pulang Kampung SMART kali ini aku banyak mengambil hikmah berharga dari awal tiba di kampung halaman hingga perjalanan ke Kampung Coklat.  Aku merasa menjadi sosok baru yang siap menyongsong kehidupan SMART lebih baik lagi. Ah tak sabar rasanya segera kembali ke sekolah.

IMG-20171228-WA0000

Yah apapun yang terjadi pada liburan kali ini, aku ambil saja hikmahnya…