Sebuah Sentilan Pembangkit Rasa Syukur

SMART Ekselensia Indonesia

Sebuah Sentilan Pembangkit Rasa Syukur

Oleh: Muhammad Wahyudin Nur

Alumni SMART Angkatan 8 Berkuliah di UNPAD Jurusan Sastra Arab

Berangkat dari sebuah ayat,

“Diwajibkan atas kamu berperang,padahal itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu,padahal itu amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui,sedang kamu tidak mengetahui”

Al Baqarah : 216

            Hidup itu gak melulu seperti yang kita mau, seperti sebuah peribahasa yang sering kita dengar atau baca,”Man Proposes, GOD Disposes”. Kita bisa saja membuat  rencana-rencana cantik yang sekilas  membuat hidup kita terasa indah,namun kehendak Allah kadang merubah semua rencana-rencana cantik tersebut. Sebagaimana ayat di atas, ayat yang tak bosan-bosannya teman sekamar saya di Asrama SMART Ekselensia Indonesia, kamar Hammas lantunkan, boleh jadi kita membenci sesuatu padahal itu baik bagi kita, dan boleh jadi kita menyukai sesuatu padahal itu buruk bagi kita. Ayat tersebut benar benar menyentuh hati saya ketika saya lulus dari SMART Ekselensia Indonesia.

            Rencana yang saya buat begitu Indah kala itu, betapa cantiknya ketika membayangkan lulus SNMPTN di sebuah perguruan tinggi ternama di Bogor, mempelajari Ilmu Komputer yang saat itu sangat saya gema,tetapi sebuah keputusan pahit hadir menampar saya terbangun dari angan angan indah tersebut, PLAK! Wahyuddin tidak diterima di kampus tersebut melalui jalur undangan. Saat itu saya begitu yakin dengan nilai-nilai saya, luar biasa, pelajaran besar. Kejadian tersebut begitu menampar saya dan menciptakan galau berkepanjangan. Hingga tersadar , ketika tidak lulus SNMPTN atau jalur undangan, saya harus berjuang untuk SBMPTN atau jalur tes tulis dan jalur mandiri di PTN-PTN incaran saya.

            Belajar dan berdoa agar Allah berikan   yang terbaik adalah usaha terbaik yang bisa saya lakukan. Atas izin Allah saya mendapat kesempatan untuk mencoba SBMPTN di tahun kemarin, dan Alhamdulillah atas izin Allah, lagi-lagi saya tidak diterima. Setelah pengumuman SBMPTN, hari setelahnya adalah pengumuman dari salah satu  jalur mandiri yang saya ikuti, dan hasilnya pun serupa.

            Singkat cerita, selain SBMPTN saya mengikuti 5 ujian mandiri untuk meraih PTN sebagai jenjang selanjutnya dari pendidikan saya saat itu, dan semua gagal. Sedih adalah hal yang saya rasakan, saya kecewa dengan diri saya, mungkin begitu pula dengan SMART, dan begitu pula dengan keluarga saya. “Kemarin belajarnya gimana??” “Doanya kurang kamu,” semua ujian mandiri sudah habis, dan saya  langsung mencari ‘tempat menetap’ bagi saya setelah lulus SMA ini.

 Sesuai dengan rencana yg saya buat apabila tidak lulus di PTN manapun, saya akan menghafal Al-Qur’an, sesuatu yang gagal saya lakukan dalam 5 tahun masa pendidikan di SMART Ekselensia Indonesia. Saya mencari-cari rumah tahfidz yang menerima santri lulusan SMA, dari mulai program 10 bulan, 1 tahun, 2 tahun, saya coba kirim berkas, dan Alhamdulillah saya berkesempatan untuk mencoba seleksi beasiswa menghafal di sebuah rumah tahfidz baru, yang baru saja didirikan. Seleksi kala itu adalah berupa kecepatan menghafal, satu jam per halaman. Saya gagal, saya hanya menyelesaikan setengah halaman dalam satu jam. Saya pun mulai pesimis dan mulai menyusuri google untuk mencari rumah tahfidz lain karena selain yang satu itu, dua rumah tahfiz yang saya daftar kala itu, sudah tutup. Alhasil,rumah tahfidz selain itu, tidak ditemukan. Pada saat itu sya benar benar pasrah kepada ketentuan Allah‘azza wa jalla. Setelah menunggu sekian hari, Alhamdulillah rumah tahfidz tersebut mau menerima saya.

Dimulailah perjalanan baru saya dalam menghafal Al-Qur’an. Bukan sekadar membaca tulisan tulisan berbahasa Arab, menghafalnya, lalu menyetorkannya. Mungkin itu yang pertama kali saya lakukan di awal perjuangan menghafal Al-Qur’an, mengejar target, tamat secepat cepatnya, namun setelah menghafal Al-Qur’an sekian juz, hidayah Allah datang.

“Menghafal AlQur’an bukan masalah cepat cepat seperti balap motor, tapi seperti acara Rangking 1 di teve, siapa yg paling lama bertahan dengan AlQur’an, dialah pemenangnya” ucap seorang ustaz di rumah tahfiz saya.

Mulailah saya membaca dan mencoba memahami tiap pesan cinta yang Allah sampaikan untuk hamba-Nya yang mau membaca kalam-Nya.Tak jarang Allah menghantam hati saya dengan kalam-Nya, membuat saya tersadar bahwa selama ini, saya berjalan di atas kesesatan. Allah membuka mata hati saya lewat sebuah training yang sangat terkenal di Indonesia, Private Class Pola Pertolongan Allah. Pesan cinta Allah tidak hanya Ia sampaikan lewat kitab suci-Nya, tapi dalam setiap masalah yang saya hadapi, Allah lampirkan pesan cintaNya. Saat itu saya masih mengidamkan PTN, dan Allah mengembalikan saya kepada kejadian yang lalu ketika tak ada satupun PTN yang berhasil saya raih untuk membaca pesan cintaNya. Kenyataannya, pada saat itu, Allah hendak memanggil saya untuk bermesraan barang sejenak denganNya dan memahamiNya.

8 bulan sudah saya menghafal Al-Qur’an, lalu Allah pertemukan saya dengan SBMPTN lagi.Tepat setahun yang lalu, dia menjadi sumber sakit hati terbesar saya seumur hidup. Namun kali ini, saya benar benar ingin mencobanya kembali. Kali ini, niat saya berubah, saya tidak meminta kepada Allah agar dapat kuliah di mana pun seperti doa saya tahun lalu, saya tidak memaksa Allah untuk memasukkan saya di PTN favorit seperti tahun lalu, do’a saya kali ini,

“Allah, hamba-Mu ini sekarang akan menghadapi ujian yang akan merubah banyak hal, suasana hati, ukhuwah, dan sebagainya. Allah, untuk kali ini, hamba ikhlas apabila tidak dapat PTN yang hamba idamkan sejak dahulu karena hamba sudah memiliki-Mu yang  dengan sangat baik memberikan cinta-Mu pada hamba. Allah, satu hal yang hamba tidak mau terjadi setelah keputusan hasil dari ujian ini diumumkan,dan hamba sangat tidak mau ini terjadi, hamba tidak ingin ada pihak yang kecewa dengan keputusan-Mu nanti, hamba tidak ingin ada ukhuwah yang rusak karena keputusan-Mu kelak, hamba tidak ingin mengecewakan lembaga SMART Ekselensia Indonesia yang telah dengan sangat baik membina hamba atas izin-Mu selama 5 tahun. Hamba mohon pada-Mu ya Rabb, apapun keputusan-Mu, tempatkanlah hamba dalam ridho-Mu, tempatkanlah hamba dalam cinta-Mu, ya Rabb, Engkau yang Maha Penyayang, perkenankanlah ya Rabb”

Yaa kira-kira begitulah isi do’a saya beberapa bulan yang lalu, ada yang gak saya tulis, itu pribadi, hehe. Alhamdulillah, setelah SBMPTN berlalu saya masih dihantui perasaan takut tidak diterima karena ikut tes juga agak maksa minta izinnya ke pihak rumah tahfiz saya, dan teman-teman yang lain gak ada yang se keras saya maksa ke pak direkturnya. Setelah melalui masa penantian hasil sambil menambah nambah hafalan yang belum disetorkan, Alhamdulillah, atas do’a orang-orang yang mendo’akan saya, dan tentu atas kasih sayang Allah, Allah takdirkan saya untuk melanjutkan hidup yang telah Allah amanahkan kepada saya di jurusan Sastra Arab, Universitas Padjajaran.

WALLAHI, saya melihat dengan jelas pertolongan Allah pada kejadian ini. Kejadian ini membuat saya semakin melek dengan nyatanya cinta Allah pada hamba-Nya. Sastra Arab bukanlah bagian dari mimpi saya tahun lalu, rencana saya pun bukan disitu melainkan di psikologi, beberapa bulan yang lalu saya serahkan semua buku-buku yang menunjang untuk latihan SBMPTN kepada saudara dan teman saya karena saya sudah gak yakin untuk dapat ikut serta di SBMPTN 2017. Alhamdulillah, Allah beri saya sebuah buku kumpulan soal SOSHUM untuk belajar seharga Rp 50.000. Murah, bukan? Ketika SMA basic saya SAINTEK, dan Allah tuntun saya ke arah SOSHUM, saya buka buku soal-soal SOSHUM itu, Alhamdulillah ketika tes, ada beberapa materi yang dahulu saya pelajari selama duduk di kelas 10, dan atas izin Allah, saya diterima di Universitas Padjajaran dengan Pertolongan Allah.