Tentang Kamu di Sore Menjelang Magrib

IMG_20170609_154815

Oleh: Vikram Makrif
Alumni SMART Angkatan 9

“Bahagialah setiap saat! Bukan karena segala hal baik-baik saja, tapi karena ada yang baik dalam segala hal”

Halo para pembaca yang baik hati. Aku adalah sore menjelang magrib. Aku akan berbagi tentang kamu. Siapakah kamu? Siapapun kamu yang sedang membaca tulisan ini, kamu adalah Vikram Makrif. Kamu dipanggil Vikram oleh teman-temanmu. Aku akan berbagi tentang kegiatanmu saat sore mejelang magrib di bulan suci Ramadan 1438 H.

Apa saja kegiatan kamu di bulan Ramadan ini Vikram? Kamu sendiri mungkin sudah tahu. Kamu sedang menunggu pengumuman SBMTPN 2017. Selama menunggu hasil SBMPTN 2017 kamu mencari kegiatan yang dapat bermanfaat untuk orang lain. Sehingga mulai dari Ramadan ke-3 sampai Ramadan ke-16 kamu mengajar pesantren kilat (SANLAT) di Masjid Al-Furqon Kel. Pasir Mulya.

IMG_20170607_161455

Kamu mengajar pesantren kilat Al-Furqon setelah Salat Asar sampai menjelang berbuka puasa. Kamu mengajar bersama pengurus DKM Masjid Al-Furqon dan guru madrasah di sana. Awalnya kamu bingung dengan metode pengajaran di sana yang berbeda dengan cara mengajarmu. Tapi setelah melihat cara mengajar guru dan juga melihat anak-anak SANLAT yang luar biasa, kamu dapat menyesuaikan diri mengajar di sana.

Ini semua tentang kamu Vikram. Tentang kamu di sore menjelang magrib. Seusai bersujud pada Sang Khalik kamu berbagi pada anak-anak. Kamu tersenyum menyapa mereka yang sedang berlari-larian di halaman masjid Al-Furqon. Mereka pun juga tersenyum manis padamu.

“Assalamualaikum adik-adik yuk kita ngaji !!! (” katamu pada mereka memberi salam.
“Walaikumsalam Kak Vi em. Hari ini ngajinya di mana Kak? Aula apa masjid?” tanya mereka padamu.
“Hari ini kita di Aula lagi ya, biar tempatnya luas” jawabmu sambil tersenyum dan berjalan menuju aula.

Kamu sebenarnya senang mengajar mereka. Mereka pun juga senang diajarkan olehmu. Tapi terkadang kamu bingung sendiri dengan tingkah laku mereka. Kamu tidak ingin terlalu dekat dengan mereka, anak-anak SANLAT yang lucu dan luar biasa itu. Tak dapat dielakkan lagi kamu dan anak-anak itu bagaikan magnet dan besi. Sangat dekat sekali jika sudah berjumpa. Apakah itu perumpamaan yang benar untukmu? Mungkin saja benar.

“Ayoo adik-adik kita buat lingkaran yang besar ya biar bisa kebagian tempat semua,” ajakmu pada murid-muridmu bersiap untuk game seusai mengaji.
“Aku pengen dekat Kak Vi em” kata salah satu muridmu.
“Aku juga, aku juga” kata muridmu yang lainnya saling berebut memegang tanganmu.
“Eh eh jangan dorong-dorongan gitu dong, sekarang kita buat lingkaran besar ya adik-adik” katamu pada mereka dengan kedua tanganmu yang masih ditarik-tarik.
“Gak mau, maunya dekat Kak Vi em” kata salah satu muridmu.
“Gak, aku duluan dekat Kak Vi em” kata muridmu yang lain dengan nada yang sedikit naik.

Kamu semakin pusing melihat tingkah laku mereka saling berebut ingin berada di samping dirimu. Seketika kamu menghilang dan telah berada di dimensi yang berbeda dengan anak-anak. Kamu melihat sekitar. Semua terlihat gelap olehmu. Kamu langsung menatap ke bawah. Di sana kamu melihat dirimu sendiri sedang mengajar mengaji anak-anak SANLAT. Setelah itu kamu mengajak mereka untuk membuat lingkaran. Kamu melihat dirimu sendiri bersusah payah mengurus anak-anak kecil usia TK dan SD kelas satu hingga tiga. Kamu juga melihat guru madrasah dan pengurus DKM Al-Furqon sedang memperhatikan tadarus anak-anak SANLAT yang sudah al-quran.

Melihat kejadian itu dari dimensi lain, kamu berkata dalam hati. Andaikan aku bisa berubah menjadi banyak sesuai dengan jumlah adik-adik itu mungkin mereka tidak akan berebutan. Tapi semua hanyalah hayalanmu Vikram. Kamu tidak bisa berubah menjadi banyak seperti di film kartun anak. Karena kamu hanyalah manusia biasa. Hehehe…

IMG_20170607_160106

Kembali lagi pada episode anak-anak berebut bedara di sampingmu. Kamu langsung maju ke tengah lingkaran dan berkata “Biar adil kakak di tengah-tengah aja ya, ayo lingkarannya dilebarin lagi!”. Kamu melihat mereka langsung membuat lingkaran besar. Mereka senang saat kamu memulai bernyanyi. “Lingkaran besar, lingkaran besar, lingkaran besar… lingkaran kecil, lingkaran kecil, lingkaran kecil…” kamu pun tertawa saat mereka juga ikut bernyanyi.
***
Ini semua tentang kamu Vikram. Tentang kamu di sore menjelang magrib. Seusai bersujud pada sang Khalik kamu berbagi pada anak-anak. Kamu tersenyum menyapa anak-anak SANLAT ketika mereka sedang menatap tetesan air yang jatuh dari awan-awan di langit. Mereka pun tersenyum manis padamu.

“Assalamualaikum adik-adik yuk kita masuk ke dalam !!! (” katamu pada mereka memberi salam sambil mengajak mereka masuk ke dalam masjid.
“Walaikumsalam. Iya Kak Vi em” jawab mereka padamu dan bergegas masuk masjid mengikutimu.

Kamu tahu hari itu hujan turun dari langit sangat deras. Kamu pun mengajak anak-anak mengaji di dalam masjid bukan di aula. Kamu memulai kegiatan dengan mengajak mereka untuk berdoa. Setelah itu kamu muroja’ah hafalan mereka surah An-nisa ayat 58-65. Kamu tersenyum seperti hari-hari yang lalu saat mereka juga muroja’ah hafalan. Kamu kagum melihat mereka hafal ayat yang panjang itu. Walaupun kamu melihat mereka membacanya sambil bermain menjahili teman di sampingnya.

Setelah kamu muroja’ah hafalan, kamu menyuruh mereka untuk mengikuti para pengajarnya masing-masing. Seperti biasa jika pengurus DKM bisa mengajar, maka kamu mengajar anak-anak yang masih iqro bukan yang al-quran. Karena anak-anak lebih suka diajar olehmu dari pada yang lain.

“Adik-adik, kakak punya cerita keren nih. Tapi kalian harus jadi patung ya, mulutnya dikunci, kuncinya dibuang, telinganya dipasang, duduk yang rapi” katamu pada anak-anak yang masih iqro.

“Siap, Yes Yes Okee..” jawab mereka serentak setalah kamu berkata ‘duduk yang rapi’.
“Ceritanya yang serem gak Kak?” tanya salah satu murid yang duduk didepanmu.
“Gak lah, sekarang ceritanya tentang nabi kita Nabi Muhammad saw.” Jawabmu pada anak di depanmu itu.
“Nah jadi gini ceritanya. Nabi kita telah berjumpa sama Allah. Di depan nabi telah ditampakkan surga tempat beliau tinggal. Allah berkata pada Nabi ‘Ya Muhammad ini adalah surgamu silahkan engkau masuk’. Nabi diam sejenak dan berkata ‘Ya Allah ya Tuhanku, bagaimanakah nasib umatku?’.

Subhanallah ya adik-adik Nabi kita nanti di hari akhir terus memikirkan kita, padahal surga sudah di depan matanya. Nah apa kata Allah setelah itu? Mau dilanjutin ceritanya?” katamu panjang lebar pada anak-anak.

Kamu senang mereka semua terdiam mendengarkan ceritamu. Walaupun kamu melihat mereka tidak diam menjadi patung saat kamu bercerita. Adakalanya saat bercerita kamu sesekali berhenti dan menegur murid yang menjahili temannya.

“Setelah itu Nabi kita berlari lagi mencari para umatnya yang masih memiliki iman di hatinya untuk masuk ke dalam surga. Walaupun imannya sebesar biji zarrah. Tahu gak adik-adik biji zarrah itu sebesar apa?” tanyamu pada anak-anak.
“Lebih kecil lagi lah Kak. Kan tadi biji sawi lebih kecil dari biji kurma. Berarti segede upil Kak” jawab salah satu murid padamu dengan pemikirannya sendiri.
“Bukanlah, masa segede upil. Kalo zaman dulu orang-orang tahunya biji zarrah itu sebesar biji sawi. Sebenarnya Dika bener sih lebih kecil dari biji sawi, tapi bukan segede upil. Biji zarrah itu yang kakak tahu dari guru kakak lebih kecil dari partikel sub atomik” jelasmu pada anak-anak.

Mereka semua bingung dengan penjelasanmu tadi tentang ukuran biji zarrah. Mereka yang masih TK dan SD kamu jelaskan tentang partikel sub atomik. Berarti kamu salah audien nih dalam penjelasan tentang ukuran fisika modern.

“Nah partikel sub atomik itu jutaan kali jauh lebih kecil dari pada biji sawi. Jadi intinya gak bisa kita lihatlah gitu. Subhanallah kan adik-adik. Orang yang imannya kecil banget aja masih bisa masuk surga dengan syafaat dari Nabi kita tercinta” lanjutmu menjelaskan ukuran biji zarrah.

Setelah kamu bercerita anak-anak mulai mengaji iqro denganmu secara bergantian. Kamu mengajari mereka satu persatu. Saat mengajar tiba-tiba ada yang murid yang tertawa melihatmu mengajar.

“Ih Om lucu deh” kata Syilmi salah satu muridmu.
“Apa? OM?” katamu seketika.
“Eh iya lupa lagi, Kakak Vi em, itu lucu banget jerawatnya gede banget” kata Syilmi padamu.
“Udah jangan dilihatin terus jerawat kakak, nanti pecah” katamu bercanda pada Syilmi.
“Itu Om juga lucu kumisnya, panjang banget. Hihihi..” kata Syilmi lagi kepadamu.
“Apa?Om lagi?”katamu seketika.
“Eh lupa lagi, abisnya Kakak kumisnya panjang banget tuh” kata Syilmi sambil menunjuk jenggotmu.
“Waduh Syilmi ini jenggot bukan kumis” jelasmu singkat.
“Ooh iya tuh jenglot kakak panjang, jadi lucu” kata Syilmi padamu sambil tertawa.
“Bukan jenglot, tapi jenggot” jelasmu gregetan.
“Hahaha jengkol? Mata kakak kayak jengkol tuh” ucap Syilmi blak-blakkan padamu.

Tiba-tiba kamu menghilang ke dimensi lain. Semua pandanganmu seketika gelap. Kamu merasakan tubuhmu membesar. Perutmu menjadi gendut. Wajahmu berubah menjadi badut. Matamu menjadi jengkol. Kamu melihat anak-anak SANLAT yang sedang berlari-larian. Kamu langsung memakan mereka semua sekaligus. Mereka berteriak-teriak takut melihat wajahmu. Tubuh raksasamu dengan cepat melahap pada anak-anak yang lucu dan gemesin di sana.

Semua tentang raksasa badut mata jengkol hanyalah hayalanmu. Kembali lagi ke adegan kamu mengajar dan berbicara kepada Syilmi salah satu muridmu.

“Terserah Syilmi deh, nih kakak lagi ngajar jadi nanti ya ngobrolnya” jelasmu pada Syilmi.
“Ayo Adli lanjut lagi ngajinya” katamu kepada Adli sambil menunjuk iqronya.
Tiba-tiba ada anak yang berlari menghampirimu dan berkata “Kak Vi em Dinda nangis tuh di sana”
“Kenapa ko bisa nangis Dinda nya?” tanyamu pada anak itu.
“Tadi Dinda dipukul sama Dika Kak” jawab anak itu padamu.
“Iya iya nanti kakak ke sana” katamu singkat.

Kamu menghampiri Dinda yang sedang menangis. Lalu kamu memanggil Dika yang memukul Dinda untuk meminta maaf. Kamu melihat Dika dengan tatapan sedikit memaksa untuk meminta maaf. Akhirnya dengan tatapan supermu Dika pun meminta maaf pada Dinda muridmu yang menangis. Kamu membawa Dinda duduk di dekatmu dan terus mengajaknya untuk tidak menangis lagi.

Tiba-tiba ada anak yang berlari menghampirimu dan berkata “Kak Vi em Hana nangis juga”
“Kenapa lagi, kok bisa?” tanyamu pada anak itu.
“Gak tau kak, tiba-tiba aja nangis” jawab anak itu padamu.
“Oke deh, bawa Hananya ke sini kakak lagi ngajar nih!” serumu pada anak itu.
“Hana nya nagis terus tuh kak, lihat aja di sana, megang-megang kepalanya” jelas anak itu padamu.

Kamu langsung berdiri dan menggendong Hana ke tempat Dinda yang masih menangis. Kamu bingung dengan keadaan itu. Kamu melihat dua anak menangis. Kamu juga masih belum selesai mengajar.

Akhirnya Allah membantu mu. Beberapa saat kemudian mereka berhenti menangis di dekatmu. Kamu terlihat bagaikan seorang ayah yang memiliki banyak anak-anak yang lucu. Kamu bahagia bisa mengajar mereka. Walaupun hanya mengajarkan menbaca dan menulis iqro dan al-quran.
Itu lah kisah nyata tentangmu di bulan Ramadan 1438 H. Kisah tentang kamu di sore menjelang magrib.
“Bahagia bukan hanya karena memiliki sesuatu yang luar biasa, tapi bahagia itu membagikan sesuatu yang kita miliki walaupun tidak terlalu luar biasa”

***

Tamat

Komentar

komentar



Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044