Terlalu Tinggi

DSC_0034b

Oleh : Vikram Makrif
Kelas XII IPA
Duta Gemari Baca Makmal Pendidikan

Aku selalu suka tempat tinggi. Karena di sanalah aku bisa merasakan angin yang bertiup menerpa kulit wajahku. Di sana juga aku bisa menyampaikan pesanku pada angin. Pesan yang dengan cepat terbawa entah kemana. Entah sampai pada orang yang dituju atau tidak. Tapi aku bahagia di tempat yang tinggi. Walau pesan itu hanya sebatas curhatanku pada angin.

Hari ini aku tahu kalian mungkin tak berada di tempat tinggi seperti ku. Aku pun juga tahu kalian tak bisa membayangkan betapa perihnya menjadi diriku. Sekarang kalian pun tak berada dalam beban masalah yang teramat berat dirasa. Mungkin semua ini hanya terkaanku semata, terkaan yang aku buat sendiri. Tapi aku tetap yakin, kalian pasti tak merasakan beban yang sangat berat di hati kalian.

Senja ini semua terasa sama seperti senja lalu. Angin terus membelai daun telingaku. Mentari sebentar lagi bersembunyi di balik tabirnya. Burung-burung pun telah beterbangan pulang ke sarangnya. Aku selalu suka tempat tinggi. Maka senja ini pun aku berada di tempat itu. Tempat yang jauh dari orang-orang di bawah sana. Tempat sepi yang nyaman tuk berdiam diri.

Gedung tertinggi di kota ini, itu lah tempat aku berdiri. Menikmati senja bersama angin yang selalu setia menemani ku sampai detik ini. Di atap sebuah gedung 40 lantai aku menatap ke bawah. Terlihat ratusan jiwa sedang melakukan aktivitas sorenya. Lampu-lampu di setiap jalanan telah nyala beberapa menit yang lalu. Mobil motor berlalu-lalang meramaikan kota ini setiap hari.

Aku mencoba menikmati senja terakhir ini dengan hati yang cukup berat. Walau aku suka tempat tinggi, tapi ini adalah terakhir kali aku dapat menikmati tempat ini. Sebelum kepergian ku untuk selama-lamanya, aku mencoba tuk menghirup seluruh udara yang kurasa. Mencoba menenangkan diri. Menatap ke langit senja. Memejamkan mata tuk mengingat masa-masa getir itu. Sebelum tubuh ini jatuh ke bawah dari atap gedung 40 lantai. Aku menatap kebawah lagi. Terbayangkan tubuh ini akan hancur berkeping-keping, kepala hancur, dan jiwa lepas dari jasadnya.

Ini adalah waktunya untuk ku pergi dari dunia ini selama-lamanya. Meninggalkan beban berat yang menyesakkan dada. Menjumpai dia yang lebih dulu meninggalkan ku. Di tempat yang sama. Tempat yang sama-sama kami sukai, yaitu tempat yang tinggi. Di sanalah dia orang yang ku cintai telah lebih dulu meninggalkan ku sendirian di tempat tinggi, tempat yang kami sukai.

Aku mulai merentangkan kedua tangan. Menatap kosong kedepan. Merebahkan diri ke depan dengan cepat. Sedetik kemudian tubuhku telah terjun bebas dari gedung 40 lantai, gedung tertinggi di kota ini. Aku tak merasakan apa pun lagi. Angin yang selama ini membelai wajahku dengan lembut. Kini angin menampar wajah ini dengan keras. Tubuhku terjatuh dengan sangat cepat. Melayang di udara sore yang menyesakkan. Terjatuh, jatuh, terus jatuh. Tapi aku merasa lama sekali. Waktu terasa melambat. Bahkan aku merasa waktu berhenti seketika. Bulir air menetes dari pelupuk mataku. Terbayang masa-masa itu. Apakah aku menyesal telah melompat dari gedung ini? Percuma menyesal, waktu tak dapat kembali. Tubuhku telah jatuh dari tempat tinggi. Semua hanya tinggal menunggu waktu. Waktu yang membawaku hilang dari kehidupan ini.

***

Aku selalu suka tempat tinggi. Karena di sanalah aku aku bisa merasakan angin yang bertiup menerpa kulit wajahku. Di sana juga aku bisa menyampaikan pesanku pada angin. Pesan yang dengan cepat terbawa entah kemana. Entah sampai pada orang yang dituju atau tidak. Tapi aku bahagia di tempat yang tinggi. Walau pesan itu hanya sebatas curhatanku pada angin.

Hari ini aku tahu kalian mungkin tak berada di tempat tinggi seperti ku. Aku pun juga tahu kalian tak bisa membayangkan betapa indahnya menjadi diriku. Sekarang kalian pun tak berada dalam kehidupan yang penuh cinta seperti yang kurasa. Mungkin semua ini hanya terkaanku semata, terkaan yang aku buat sendiri. Tapi aku tetap yakin, kalian pasti tak merasakan indahnya kasih sayang seperti yang kurasakan saat ini.

Senja ini semua terasa sama seperti senja lalu. Angin terus membelai rambut indah Nisa yang duduk di sampingku. Mentari sebentar lagi bersembunyi di balik tabir. Burung-burung pun telah beterbangan pulang ke sarangnya. Kami selalu suka tempat tinggi. Maka senja ini pun kami berada di tempat tinggi. Tempat yang jauh dari orang-orang di bawah sana. Tempat yang nyaman tuk berbagi cerita.

Gedung tertinggi di kota ini, itu lah tempat aku dan Nisa duduk. Menikmati senja bersama hanya tuk sekadar membicarakan hal-hal yang tak jelas. Di atap sebuah gedung 40 lantai kami menatap ke bawah. Terlihat indah cahaya lampu jalanan yang menghiasi kota ini. Ratusan manusia berlalu-lalang meramaikan kota sore itu. Terlihat bagaikan semut-semut kecil yang lucu. Tapi bagiku lebih lucu melihat senyum manis Nisa di sampingku. Nisa menatap ke bawah melihat pemandangan gedung-gedung yang tersusun rapi. Sesekali melirik padaku dan langsung memalingkan pandangan itu ke bawah lagi sambil tersenyum.

“Kok senyum-senyum sih Sa?” tanyaku padanya saat dia memalingkan pandangannya dari ku.

“Hmm… Gak kok…” jawab Nisa tetap memandang ke bawah sambil tersenyum manis.

“Gedungnya bagus ya Sa, rapi banget” kataku yang juga ikut tersenyum.

“Iya Lif bagus banget” jawab Nisa singkat.

Duh mau ngomong apa lagi nih? Selalu saja aku yang memulai setiap obrolan bersamanya. Nisa selalu menjawab singkat sebelum aku menemukan obrolan yang menyenangkan.

“Sa, aku mau bilang sesuatu…” kataku memulai percakapan lagi.

“Mau bilang apa Lif?” tanya Nisa singkat.

“hmm.. Gak jadi deh” jawabku singkat juga.

“Iiih kamu selalu gitu deh Lif, katanya mau bilang sesuatu” kata Nisa.

“hmm abis itu bilangnya gak jadi deh” lanjut Nisa sedikit cemberut.

“hehe… Lagian aku bingung mau ngobrol apaan. Trus kamunya juga diem aja, senyum-senyum gaje gitu” kataku padanya.

Aku bingung dan kehabisan bahan obrolan sore itu. Ditambah Nisa yang hanya diam dan menjawab singkat saat ditanya. Sore itu sama seperti sore-sore sebelumnya. Selalu memulai obrolan dengan percakapan yang tidak jelas. Berakhir pun juga tidak jelas. Namun aku tetap bahagia dengan semua ini. Duduk berdua dengannya. Menikmati sore di tempat yang tinggi. Tempat yang kami sukai.

Hari ini seharusnya aku mengatakan perasaanku yang sebenarnya pada Nisa. Karena hari ini hari istimewa baginya. Juga hari ini adalah hari yang telahku rencanakan untuk mengungkapkan rasa ini padanya. Aku benar-benar ingin mengatakan hal itu sore ini, sekaligus memberikan hadiah terindah yang paling di sukai Nisa.

“Sa, aku mau bilang sesuatu…” kataku mencoba memecah keheningan.

“Apa Lif? Jangan bilang gak jadi lagi…” kata Nisa menatap wajahku dengan wajah sedikit cemberut.

“Sesuatu…” jawabku singkat sambil tersenyum menatap wajah Nisa yang cemberut.

“Nah tu kan, gaje…” keluh Nisa sambil memalingkan wajahnya ke bawah gedung.

“Kan bener aku bilangnya sesuatu bukan bilang gak jadi…”kataku padanya.

Wah dia ngambek deh. Gimana nih ngungkapinnya? Trus juga kalo kelamaan bunganya bisa layu nih. Masa’ hadiah ulang tahunnya layu sih. Ayo Alif sekarang waktunya. Tempatnya juga udah pas banget nih. C’mon!!

“Nisa jangan ngambek gitu dong, nanti jadi jelek deh!” kataku memulai percakapan lagi.

“Gak papa, emang dari dulu jelek kok” jawab Nisa masih cemberut.

“Aku tahu kenapa kamu dari tadi ngambek Sa” kataku dengan cepat.

“Kamu kira aku lupa ya dengan hari ulang tahun mu?”tanyaku langsung.

“Ini hadiah dari aku Sa! Selamat ulang tahun yang ke tujuh belas ya!” kataku sambil tersenyum dan memberikan bunga pohon bambu serta selendang berwarna biru muda kesukaan Nisa.

Seketika waktu terasa berhenti. Aku terdiam menatap wajah sendu Nisa. Sebulir air seketika menetes dari matanya. Aku tetap terdiam menatap ke depan tak bersuara. Angin terus bertiup membelai rambut hitam milik Nisa. Membuatnya semakin indah tuk dipandang. Air mata Nisa mengalir cepat. Dia menatapku sambil menangis terharu menerima selendang biru muda yang kuberikan.

“Makasih ya Lif, kamu selalu tahu apa yang aku suka. Walau itu hal yang aneh sekali pun” kata Nisa sambil menangis menerima selendang yang kuberi.

“Iya sama-sama Sa, kan sekarang hari ulang tahun kamu” jawabku dengan suara yang pelan.

“Nisa aku mau bilang kalau selama ini aku senang dengan kebersaan kita sebagai teman. Kita sama-sama suka tempat tinggi. Sama-sama suka hal yang aneh-aneh. Tapi aku gak tahu apakah kamu sama sepertiku. Aku menyukaimu Nisa…” lanjutku dengan suara yang pelan.

***

Waktu terasa melambat. Bahkan aku merasa waktu berhenti seketika. Apakah aku menyesal telah melompat dari gedung ini? Percuma menyesal, waktu tak dapat kembali. Tubuhku telah jatuh dari tempat tinggi. Semua hanya tinggal menunggu waktu. Waktu yang membawaku hilang dari kehidupan ini.

Aku dapat merasakan tubuhku telah berada di lantai 29 gedung tertinggi di kota ini. Melayang di udara. Bersama angin yang terus menampar wajahku dengan sangat keras. Tamparan itu membawaku kembali pada masaku saat bersama dengan Nisa. Angin ini terus mengingatkan ku dengan peristiwa yang menyakitkan itu. Peristiwa saat Nisa meninggalkanku untuk selama-lamanya.

Terbayangkan olehku kejadian terjatuhnya Nisa dari gedung 40 lantai sore itu. Aku mendapati Nisa dikerubungi oleh banyak orang yang tak aku kenal. Tubuhnya telah terpecah-belah, hancur lebur tak bersisa, tubuhnya saja tak dapat aku kenali lagi. Aku memang tak mengenal wajah yang hancur itu. Tapi aku tahu gadis yang jatuh itu adalah Nisa, dari pakaian serba biru yang dikenakannya. Juga selendang biru muda yang kuberikan pada Nisa saat ulang tahunnya yang ke-17. Nisa telah pergi meninggalkanku saat itu. Di usianya yang ke tujuh belas lebih satu hari.

Bayangan tentang Nisa seketika hilang. Tubuhku telah berada di lantai 15 gedung tertinggi di kota ini. Hanya tinggal menunggu waktu tubuh ini akan hancur berkeping-keping. Orang-orang di bawah takkan mengenali tubuh yang jatuh ini. Aku akan pergi tuk selama-lamanya meniggalkan dunia dan menyusul orang yang aku sayangi.

“BRAKKK” terdengar sangat keras bunyi sesuatu terjatuh.

Seketika pandanganku menjadi kabur dan perlahan semua terlihat hitam. Tapi aku tak merasakan jiwa yang terlepas dari jasadnya. Apakah aku masih hidup? Ya sepertinya aku masih hidup. Aku belum pergi dari dunia ini. Tubuhku pun masih utuh. Tangan masih menempel pada badan. Kaki masih lengkap dua. Aku bisa merasakan itu semua. Walau pandangan ini hitam tak terlihat apapun.

“BRAKKK” terdengar lagi suara yang sama keras.

“Suara apa itu?” tanyaku seketika saat kaget mendengar dalam kegelapan.

Bumi bergetar. Angin mendesing cepat ke daun telingaku. Buku-buku di atas lemariku satu persatu berjatuhan. Lampu kamarku sudah mati sedari tadi. Membuat seisi kamar gelap gulita. Tubuhku pun ikut bergetar bersama goncangan dari dalam perut bumi.

Aku baru sadar ternyata kejadian tadi hanyalah sebuah mimpi. Mimpi yang malam ini menganggu istirahatku. Aku memang sering bermimpi hal aneh seperti bunuh diri, kisah cinta, pertarungan, bahkan peperangan. Tapi semua mimpiku tak pernah satu pun hal yang aku sukai. Tak pernah hal-hal yang menyenangkan.

Menyadari bumi yang bergetar. Aku menyangka bahwa ini adalah perbuatan penguasa diktator itu. Yang setiap saat selalu mengincar aku dan para pemilik kekuatan aneh lainnya. Segera saja aku cepat-cepat melupakan semua mimpi yang setiap malam selalu aneh. Turun dari tempat tidur dan bergegas kabur dari rumah ini. Menuju tempat persembunyian Zen dan Yar pemilik kekuatan aneh yang masih hidup di negeri yang membosankan ini.

Angin adalah temanku. Angin juga kekuatanku. Maka dengan mengendalikan angin aku terbang menuju tempat Zen sang pemilik kekuatan selfie (swafoto). Zen yang setiap kali selfie maka orang yang bersamanya dalam foto akan menjadi patung dan meninggal dalam 30 detik.

Gerakanku kali sangat lamban dari biasanya. Kerena malam ini aku masuk angin. Sedikit pilek dan batuk-batuk. Mungkin karena tadi saat tidur aku tidak memakai selimut.

Tempat persembunyian Zen cukup jauh dari rumahku. Sekitar satu jam perjalanan jika berjalan kaki. Namun dengan kekuatan yang kumiliki, aku bisa sampai di tempat persembunyian Zen sekitar lima menit saat sedang sehat. Karena malam ini aku sedang kurang enak badan perjalanan menemui Zen akan memakan waktu 15 menit.

Selama terbang dengan mengendalikan angin. Tubuhku kedinginan. Pilekku semakin menjadi-jadi. Kepalaku pun menjadi sedikit pusing. Pandangan mataku menjadi terbatas. Mungkin aku terbang terlalu tinggi sehingga udara malam membuat tubuhku lemah. Aku pun mengurangi volume angin yang menyelimuti tubuhku. Hingga posisiku berada pada ketinggian yang cukup rendah kira-kira 15 meter dari permukaan tanah.

“Lif… Lif… Sini” terdengar suara memanggil namaku.

“Lif… Turun cepat!!” suara itu memanggil lagi.

Ternyata saat ku lirik ke bawah suara itu adalah suara Yar Sang pemilik kekuatan sampah. Yar dapat membuat musuh terkapar di tempat dengan bau sampah dan tumpukan sampah yang dia kendalikan. Namun kekuatan Yar tidak berpengaruh untuk musuh yang menutup hidung dan mulutnya dengan alat buatan pemerintah.

Aku cepat-cepat turun mendekati Yar. Walau dia bau sampah, Yar tetap temanku sesama pemilik kekuatan aneh. Yar juga orang yang serius. Makanya aku langsung turun menjumpai Yar.

“Ehh Yar… apa kabar bro?” tanyaku saat kakiku telah menapak di tanah.

“Baik Lif… gak usah basa-basi lagi. Kita harus langsung ke tempat Zen dan menolongnya Lif!” kata Yar tergesa-gesa.

“Emang ada apa dengan Zen? Kebetulan aku juga mau ke tempat Zen nih”tanyaku pada Yar.

“Kamu gak tau kalo malam ini pemerintah mengincar Zen karena kekuatan dia sedikit berkurang saat malam hari”jelas Yar singkat padaku.

“Berarti guncangan bumi tadi perbuatan pemerintah diktator itu dong?”tanyaku seketika.

“Betul. Yuk kita segera menolong Zen!”ajak Yar padaku.

Aku dan Yar segera terbang menuju tempat persembunyian Zen. Angin yang ku kendalikan juga membawa terbang Yar dengan cepat. Walau masih pilek dan batuk-batuk aku tetap mengendalikan angin dengan sangat cepat. Lima menit kemudian kami telah sampai di tempat persembunyian Zen.

***

Kursi dan meja berhamburan di mana-mana. Kaca jendela kamar Zen pecah berkeping-keping. Lantai penuh dengan mayat-mayat pasukan pemerintah yang telah menjadi patung. Tembok kamar Zen pun penuh dengan bekas tembakan peluru uranuim milik pasukan yang telah dibunuh Zen menggunakan kekuatan selfie-nya.

 

Aku dan Yar tidak menemukan Zen di mana pun. Kamarnya hancur. Ruang utama pun sudah tak beratap lagi. Melihat kondisi seperti ini. Aku bermaksud untuk berpencar dengan Yar. Agar Zen cepat ditemukan. Tapi Yar menolaknya dan ingin tetap mencari zen bersama-sama.

“ZEN DI MANA KAMU? INI KAMI LIF DAN YAR”teriak kami bersama-sama mencari Zen ke setiap ruangan.

“Lif… Yar… Cepat pergi. Mereka ada di sini!!!” terdengar pelan suara Zen dari ruangan paling pojok.

“Lif itu suara Zen. Yuk kita segera ke ruangan itu!”kata Yar dengan cepat menarik tanganku menuju ruangan pojok.

“Pelan-pelan Yar, siapa tau itu jebakan doang”kataku kepada Yar.

Yar tetap tak mendengarkan kata-kataku. Dia terus berlari menuju ruangan itu dan langsung masuk saat membuka ganggang pintu.

“DOORR…”seketika terdengar suara tembakan saat Yar baru satu langkah masuk ke dalam ruangan itu.

“YAARRR” teriakku sambil berlari menuju ruangan yang sama.

Saat aku melangkah masuk ke dalam ruangan itu. Tiba-tiba moncong sebuah senapan telah mengarah padaku. Peluru uranium super cepat meluncur bagaikan angin menuju badanku. Namun tembakan itu sia-sia. Aku Sang pemilik kekuatan angin dengan cepat membelokkan peluru itu lima senti di belakang punggungku.

Setelah tembakan yang pertama tak berhasil mengenaiku. Puluhan peluru uranium lainnya segera meluncur dari berbagai arah lima detik kemudian. Peluru itu luar biasa cepatnya beterbangan ke arahku. Namun semua itu tetap sia-sia. Aku membungkus tubuhku dengan angin yang mengintari tubuh dengan cepat. Sehingga puluhan peluru itu terpental ke segala arah.

Dari dalam tameng angin yang kubuat. Terlihat Zen tertangkap jaring listrik pasukan pemerintah. Tangannya diikat dengan tali cahaya yang membuat tangan selfie-nya tidak berdaya. Yar pun terlihat sekarat oleh satu tembakan peluru uranium yang dapat menghisap kekuatan aneh yang dimilikinya. Puluhan peluru tiada habisnya menyerbu badanku yang tertutup angin.

Aku mulai marah melihat teman-temanku yang tak lagi bisa berbuat apa-apa. Pasukan pemerintah yang bersembunyi akan segera aku basmi. Angin yang ada di ruangan itu jumlahnya sedikit, sehingga aku tidak bisa mengendalikannya sesuka hatiku. Jadi aku harus membuat strategi agar bisa menang melawan pasukan pemerintah.

Aku berjalan masih dengan tubuh yang dilindungi angin yang ada di ruangan itu. Berjalan ke depan mengikuti arah datangnya salah satu peluru. Ketika sudah sampai pada tempat persembunyian salah satu penembak. Aku langsung menggerakkan beberapa angin untuk masik ke dalam tubuh penembak itu. Sesaat kemudian orang itu masuk angin dan perutnya kembung. Hanya dalam 15 detik orang itu mati karena kebanyakan masuk angin. Itu adalah keahlianku membunuh musuh dengan memasukkan angin ke dalam tubuh mereka.

Tiba-tiba sebuah jaring listrik menggulung tubuhku. Aku terjatuh karena sengatan listrik yang mengejutkan. Jaring listrik itu sama seperti peluru uranium, menghisap kekuatan dengan sangat cepat. Tubuhku pun menjadi lemah tak berdaya seperti Zen. Hanya bisa menatap samar-samar.

“HAHAHA… Kalian sudah kalah. Kami sudah tahu semua kelemahan kalian para pemilik kekuatan aneh. Demi kenyamanan negeri ini kalian yang membuat banyak bencana harus dibunuh. HAHAHA…”kata salah seorang dari pasukan pemerintah yang berjalan mendekatiku.

“Terutama Kau pemilik kekuatan masuk angin. Kau harus dibunuh segera. Karena kau yang paling kuat diantara mereka”jelas orang itu sambil menendang perutku. “Makan ini!” lanjutnya terus menendangku.

Sial awas aja kau. Kalau aku bisa kabur tak akan ku ampuni semua pasukan pemerintah diktator itu.

“Aku akan menyelesaikannya dengan cepat sang masuk angin. Terimalah tembakan yang mematikan ini. Peluru uranium ini akan memecahkan kepalamu. HAHAHA…”kata orang itu sambil menginjak perutku dan menodongkan pistolnya ke kepalaku.

“DOORR” peluru itu meluncur sangat cepat menebus kepalaku.

Semua terasa menyilaukan. Kepalaku pusing, badanku terasa lemah, aku tak tahu sekarang entah berada di mana. Apakah aku sudah dibunuh oleh orang itu? Atau aku hanya ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara pemerintah?. Tidak, ruangan yang kulihat sekarang berbeda. Semua terlihat rapi. Meja dan kursi kayu tersusun rapi di depan sana. Juga ada papan tulis putih tergantung di temboknya. Aku lihat ke depan ada seorang wanita yang memakai kerudung tersenyum kepadaku.

“Lif sudah selesai tidurnya?” wanita itu bertanya kepadaku sambil tersenyum.

“hhmm?”hanya itu jawabanku masih bingung.

“Lif ayo pulang teman-teman yang lain sudah selesai belajar matematikanya! Kamu sih tidur terus kalau belajar matematika siang hari” jelas wanita itu yang ternyata adalah guru matematikaku.

“oohh, maaf ya Bu! Alif tidur mulu kalo jam pelajaran Ibu”kataku meminta maaf masih dengan wajah ngantuk.

“Iya Ibu maafin. Kamu sudah biasa kok tidur di kelas Ibu. Tapi saat ujian nilai kamu bagus terus. Yuk pulang!”kata Bu guru kepadaku sambil tersenyum.

“Iya Bu makasih”kataku singkat.

Siang itu aku langsung pulang ke rumah dengan berjalan kaki. Biasanya aku pulang bersama teman-temanku yang rumahnya dekat denganku. Kali ini aku hanya pulang sekolah sendiri diteriknya sinar matahari siang.

Aduh ketiduran lagi deh di kelasnya Bu Novi. Pasti setiap belajar matematika aku selalu tidur. Terus selalu mimpi yang aneh-aneh. Duh udah-lah yang penting pulang dulu ke rumah. Terus lanjut tidur lagi. Hehe… 🙂

Selesai

Komentar

komentar



Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044