Wisuda-SMART

Memutus Generasi Dhuafa Melalui Sekolah Bebas Biaya

Mendapatkan pendidikan yang layak serta berkualitas, merupakan hak setiap warga Negara sebagaimana diamanatkan oleh Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia. Pemerataan pendidikan hingga ke pelosok negeri, diharap dapat mempercepat pembangunan manusia Indonesia yang kedepannya akan mampu memutus angka kemiskinan di daerah.

Mempersiapkan generasi yang kuat lagi unggul adalah investasi jangka panjang untuk menghindarkan Indonesia dari keterpurukan dan kebangkrutan moral. Sektor pendidikan menjadi teramat penting guna mengurai simpul terlemah suatu Negara, untuk dapat menjelma sebagai cadangan kekuatan masa depan bangsa. Peran pemerintah dan partisipasi aktif masyarakat diharapkan mampu mempercepat pembenahan yang masih terus berlangsung di Negara ini.
SMART Ekselensia Indonesia – Dompet Dhuafa sebagai bagian dari masyarakat, memiliki tanggungjawab moral serta komitment untuk mempersiapkan calon pewaris negeri dengan memberikan pendidikan berkualitas melalui penyediaan sekolah bebas biaya, akselerasi dan berasrama. Setiap tahun 100% lulusan sekolah SMART dari berbagai pelosok daerah, berhasil diterima di Perguruan Tinggi Negeri terakreditasi – A diseluruh Indonesia.

Prosesi wisuda yang diadakan oleh SMART Ekselensia Indonesia pada Kamis (5/7) merupakan sebuah bentuk rasa syukur, sekaligus menjadi pengingat akan kiprah sekolah dalam membina anak-anak dhuafa selama lebih dari 8 tahun. Sebanyak 35 lulusan SMART pada tahun ajaran 2011/2012 mengikuti prosesi yang berlangsung selama 2 jam. Kegiatan ceremony wisuda ini juga dipadukan dengan acara penyambutan para siswa baru SMART, yang ditandai dengan penyerahan secara simbolik ‘Kendi Ilmu’ dari wisudawan kepada perwakilan siswa baru.

Kegiatan yang dibuka oleh Muhammad Thoriq selaku Direktur Program Dompet Dhuafa, diramaikan pula dengan penampilan tari Saman dan kolaborasi musik Arumba dari para siswa SMART Ekselensia Indonesia yang membawakan lagu ‘Si Doel Anak Betawi’ sebagai representasi perjuangan para siswa meraih cita-cita. Turut hadir pula artis Soraya Haque yang memandu Talkshow bertajuk ‘From SMART To Marginal’ yang mengulas mengenai pengalaman mengelola sekolah untuk dhuafa yang dilakukan oleh SMART.

Keharuan memuncak tatkala orang tua wisudawan dari berbagai daerah menyaksikan anak-anaknya tampil satu persatu keatas panggung sembari dikalungkan medali dan diserahkan piagam kepadanya. Harapan besar orang tua untuk dapat terbebas dari beban kemiskinan, seakan tersemat di pundak para wisudawan. “Akan selalu ada harapan untuk menyongsong hari esok yang lebih baik”. (eL)

belajar

Belajar Asyik di SMART Ekselensia Indonesia

Keceriaan mewarnai suasana belajar siswa SMART Ekselensia Indonesia. Sebagian mulai tertawa dengan lepas dan sebagian yang lain tersenyum masam menghadapi pertanyaan yang tersedia dihadapan mereka. Keriuhan sesekali mewarnai aksi mereka dalam menyusun rangkaian kata-kata diatas kartu yang dibagikan oleh guru SMART Ekselensia Indonesia. itulah sedikit gambaran mengenai aktifitas belajar di alam terbuka yang dilakukan oleh guru mata pelajaran Bahasa Indoensia pada hari Selasa (22/5/12) lalu. Topik pelajaran yang dilakukan pada hari itu tentang menyusun Laporan Perjalanan yang disampaikan menggunakan metode DOLAPER dan PUZLAPER.

Permainan kartu PUZLAPER dan DOLAPER ini dijalankan dengan memasangkan antara pertanyaan dan jawaban. Pemain dapat langsung memilih dan mengambil kartu sesuai dengan pasangannya. Pemain hanya harus beradu panjang pasangan kartu dengan lawannya. “Agar permainan dapat berjalan dengan seru, permainan harus dilangsungkan secara berkelompok. Kelompok dapat terdiri atas dua atau lebih pemain. Dengan begitu, tidak hanya materi pelajaran saja yang didapatkan, diharapkan juga tumbuh karakter dapat bekerja sama, dapat saling membantu, dan menghargai teman” ungkap Retno Winarsi, guru mata pelajaran Bahasa Indonesia SMART Ekselensia Indoensia.

Penerapan permainan kartu PUZLAPER dan DOLAPER dalam menyampaikan materi pelajaran kepada siswa, diharapkan dapat menjadi alternatif pembelajaran dengan materi laporan perjalanan. “Dengan metode ini siswa lebih tertarik untuk membaca laporan perjalanan sebelum mereka benar-benar mengetahui, membaca, dan memahami pokok-pokok laporan perjalanan itu sendiri” Tukas Retno Winarsi seraya kembali ke para siswanya. (eL)