DSC_0112

Kejutan di Hari Guru Nasional Untuk Guru Kami Tersayang

DSC_0112

Terpujilah wahai Engkau Ibu Bapak Guru
Namamu akan selalu hidup, dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir, didalam hatiku
S’bagai prasasti terimakasihku untuk pengabdianmu

 

Halo Sobat SMART, apa kabar? Kalian pasti sering mendengar lagu di atas mengalun setiap Hari Guru Nasional tiba. Namun pada praktiknya Hari Guru hanya menjadi hari biasa, terutama bagi para guru yang telah mengorbankan banyak waktunya untuk mencerdaskan anak bangsa.

Untuk memeringati Hari Guru Nasional yang jatuh pada 25 November lalu, Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa (YPnDD) & SMART Ekselensia Indonesia bekerjasama dengan PT. Milko Beverage Industry menggelar kegiatan bertajuk “Sebuah #KadoUntukGuru, Dari Guru Untuk Guru”. Tak ada yang lebih indah ketika kita dapat #KembaliKeSekolah dan memberikan #KadoUntukGuru, karena jasa mereka patut diapresiasi setinggi-tingginya, kegiatan yang dilaksanakan di SMART Ekselensia Indonesia ini dihadiri oleh perwakilan YPnDD, SMART EI, dan perwakilan dari PT. Milko Beverage Industry yakni ibu Lira, Direktur PT. Milko Beverage Industry; ibu Hesty, HRD PT. Milko Beverage Industry; pak Agus dan pak Dhody, Marketing PT. Milko Beverage Industry.

“Sebuah #KadoUntukGuru, Dari Guru Untuk Guru” merupakan kejutan yang ditujukan untuk para guru yang mengajar di SMART Ekselensia Indonesia. Pihak YPnDD & perwakilan PT. Milko Beverage Industry masuk ke kelas-kelas (tanpa diketahui para guru) seraya menyanyikan lagu ‘Hymne Guru’ serta memberi bingkisan pada para guru yang sedang mengajar. Dibantu para calon guru dari Sekolah Guru Indonesia (SGI) Angkatan 16, kegiatan yang diwarnai suasana haru sekaligus bahagia ini tak ayal membuat para guru menangis, menangis bahagia tentunya. Alhamdulillah 25 guru SMART Ekselensia Indonesia dapat merayakan ‪#‎HariGuruNasional dengan cara yang berbeda dan lebih berkesan.

“Saya senang sekali, belum pernah ada yang memberikan kejutan untuk saya dan para guru SMART Ekselensia Indonesia di Hari Guru Nasional,” ujar ibu Eka, Guru Matematika kami penuh keharuan.

Kegiatan ini bertujuan untuk mengapresiasi jasa dan profesi para guru yang telah berjuang gigih mencerdaskan anak bangsa serta sebagai salah satu sarana pemantapan kerjasama antara PT. Milko Beverage Industry dengan YPnDD.

“Kalian harus menghargai guru-guru yang mengajar kalian, jangan lupakan jasa mereka ketika sudah menggapai mimpi yang kalian capai,” pesan ibu Lira, Direktur PT. Milko Beverage Industry pada kami.

 

DSC_0119 DSC_0131 DSC_0108 DSC_0105

1aaaiqa3

Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa Terima Penghargaan Gold Award on Performance Excellence Growth dari IQAF

1aaaiqa3

Jakarta (19/11). Sebagai lembaga nirlaba, Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa (YPDD) membuktikan diri sebagai lembaga kredibel yang telah menerapkan sistem manajemen mutu berdasarkan Baldridge Excellence Framework (BEF). Hal ini ditandai dengan penghargaan “Gold Award on Performance Excellence Growth“  dari Indonesia Quality Award Foundation.  Penghargaan ini merujuk terhadap penilaian kinerja ekselen berbasiskan “Kriteria Baldrige“. Kriteria ini dalam kegiatan IQA diberi istilah Malcolm Baldrige Criteria for Performance Excellence (MBCfPE).

Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa menjadi satu-satunya Non Government Organization yang berhasil meraih penghargaan ini. Widodo Alyusro, Head of QRD Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa, mengatakan bahwa penghargaan ini diberikan kepada seluruh amil Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa yang telah bekerja keras menhadirkan kualitas manajemen mutu yang terbaik. “Semoga penhargaan ini menjadi pecut semangat dan kerja keras amil untuk peningkatan mutu dan kinerja ekselen.” Tambahnya.

Selain Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa, di sektor pendidikan juga hadir Binus University dan Universitas Islam Bandung. Selain Sektor pendidikan, ada sektor industri yang mendapatkan penghargaan, antara lain PT. Jalantol Lingkarluar Jakarta, PT. Indonesia Comnets Plus, PT. Krakatau Bandar Samudra, PT. Semen Padang, PT. Pembangkitan Jawa Bali dan PT. Semen Tonasa.

Penghargaan ini, menurut Widodo adalah bentuk upaya Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa menjadi lembaga yang kredibel dan akuntabel. “Semakin kita tingkatkan kualitas manajemen mutu program, maka akan semakin memberikan kepercayaan kepada para donatur yang selama ini membantu kami.” Pungkasnya.

plang smart

Pembelajar Sejati

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie

 

Sekolah kami SMART Ekselensia
Kami dari Sumatra hingga Papua
Hanya satu tekad di dalam diri
Menjadi pembelajar sejati…

Bait di atas adalah penggalan reff dari mars SMART Ekselensia Indonesia. Ketika pertama kali saya bergabung dengan SMART Ekselensia pada 26 Juli 2010 dan pertama kali mendengar mars di atas, saya bergumam, “Wah keren sekali mars-nya.” Sedari dulu saya menyukai istilah “pembelajar sejati”. Bukan karena kemegahan intelektual yang tersirat dari istilah itu, melainkan spirit untuk terus membaca, menelaah, merenungi, memikirkan, dan menginsyafi, inilah yang membuat saya jatuh cinta dengan istilah ini.

Pembelajar sejati merupakan penafsiran dari wahyu pertama, Iqra. Seorang pembelajar sejati mesti menginsyafi bahwa belajar tidak terbatas waktu, tempat, dan usia. Tepat sekali sabda Rasulullah SAW yang merangkan, “Menuntut ilmu itu sedari buaian hingga datangnya kematian.”

Di mana saja berada, dengan siapapun berinteraksi, seorang pembelajar sejati bisa memetik hikmah dan mereguk wawasan. Berjalan ke penjuru negeri dan mengamati perilaku manusia merupakan inspirasi untuk berkarya bagi pembelajar sejati. Peristiwa sepele dan sederhana bagi kebanyakan orang, bisa menjadi ide cemerlang bagi pembelajar sejati untuk menuliskannya. Dan, dengan tulisan itu dia berbagi inspirasi ke sebanyak mungkin orang. Lebih hebat lagi bila dengan tulisan itu banyak orang yang tercerahkan dan tersadarkan.

Itulah mengapa Al-Qur’an menyuruh kita untuk berjalan di penjuru bumi, perhatikan dan pikirkan alam semesta serta cermati dan saksamai jejak perilaku orang-orang terdahulu untuk menjadi pelajaran bagi orang-orang di masa kini. Menurut penulis buku Ayat-ayat Semesta, ayat-ayat Al-Qur’an tentang semesta jauh lebih banyak dibandingkan ayat-ayat tentang hukum. Mengapa? Karena, dengan mengamati dan merenungi semesta akan semakin menambah keimanan kita kepada Allah. Dan, berapa banyak di dalam Al-Qur’an, setelah menerangkan betapa harmoninya disain alam semesta, selalu diakhiri dengan ungkapan, “Pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang memikirkan”. Sebagai contoh saksamailah surat Ar-Rum ayat 22 – 26.

Oleh karena itu, sungguh ironi jika masyarakat sekarang memahami belajar adalah sekolah. Tugas orangtua selesai dengan menyekolahkan anaknya. Anak pun seperti itu, merasa telah cukup belajar dengan bersekolah. Atas nama lulus sekolah, tak mengapa ujian nasional menyontek. Bila perlu menyontek masal dan difasilitasi oleh sekolah. Pemutihan nilai rapor pun menjadi legal. Sekali lagi atas nama sekolah. Tak beda juga dengan kelakuan oknum para pegawai negeri yang mengejar ijazah demi kenaikan pangkat dan jabatan meski kuliahnya asal-asalan. Bahkan, skripsi atau tesis pun bisa jadi dituliskan oleh orang lain. Sekali lagi atas nama sekolah.

Makna belajar telah sedemikian terpalingkan dari makna aslinya. Tegas sekali yang kita butuhkan adalah belajar, bukan sekolah. Sekolah hanyalah salah satu cara dan tempat untuk belajar, namun bukan satu-satunya. Bahkan, bisa jadi sekolah (yang tidak bermutu) bisa menjadi tempat yang salah untuk belajar. Ini bukan berarti meng-absurd-kan sekolah. Tidak sama sekali. Saya hanya bermaksud untuk menyadarkan kita semua bahwa yang kita butuhkan adalah belajar, bukan sekolah.

Maka, jadikan sekolah sebagai salah satu saja sarana untuk belajar. Selain itu, belajarlah di sekolah kehidupan ini. Belajarlah di sekolah alam semesta ini. Maka, belajar tak pernah mengenal kata lulus. Kita selamanya pembelajar. Dari sini bisa dikenali mana pembelajar sejati, dan pembelajar musiman. Ketika musim sekolah dan kuliah, jadi pembelajar. Begitu musim wisuda, berhenti jadi pembelajar.

Misalnya, seorang mahasiswa yang lulus menjadi sarjana pendidikan dan kemudian menjadi guru. Lalu, karena sudah menjadi guru semangat belajarnya menjadi luntur, bahkan perlahan menghilang. Sejatinya, dia adalah pembelajar musiman. Dia telah gagal menjadi pembelajar sejati. Dan, untuk sekolah yang memiliki guru-guru semacam ini, sulit untuk menjadi sekolah peradaban yang melahirkan generasi pembangun peradaban.

Menutup tulisan ini, saya ingin menceritakan seorang teman saya, lebih tepatnya senior saya, sekadar untuk memantik semangat belajar kita. Kami sama-sama lulusan UIN Jakarta. Hanya beda generasi. Dia seorang pemimpin redaksi penerbit nasional. Gelar akademisnya cukup sarjana saja. Namun, intelektualitasnya mungkin bisa setaraf doktor. Kemampuan Bahasa Inggris dan Arab-nya pun tak diragukan. Karena, ia biasa menerjemahkan buku-buku berbahasa Inggris dan Arab. Dan, kualitas terjemahannya juga berbobot dan enak dibaca. Dengan kompetensinya itu, dia kerap diundang keluar negeri untuk berbicara pada forum-forum internasional. Terakhir, beliau bercerita baru saja menjelajah beberapa negara Eropa atas undangan UNESCO, PBB.

Dari cerita di atas, kita juga bisa menginsyafi bahwa kualitas seseorang belum tentu dilihat dari sederet gelar akademis yang menyertai namanya di depan dan di belakang. Melainkan, sekuat dan sekonsisten apa dia belajar dan terus belajar sepanjang hayatnya. Selamat menjadi pembelajar sejati.

Salam,
Muhammad Syafi’ie el-Bantanie
(GM Sekolah Model YPnDD)