#YukPulangKampung!

Halo Sobat SMART!

Setelah #UASnyaSMART selesai dilaksanakan beberapa minggu yang lalu, kemarin (28/12) akhirnya jerih payah usaha kami terbayarkan di #BagiRapornyaSMART. Kami cukup deg-degan karena khawatir nilai kami turun, namun Alhamdulillah banyak dari kami yang rapornya bagus. Alhamdulillah.

Foto 1

Foto 2

Foto 3

Foto 4

 

Lebih senang lagi karena kami akan pulang Sob. #YukPulangKampung! Iya akhirnya kami akan kembali ke kampung halaman dan bertemu keluarga kami di sana, waaaah pokoknya kami senang. Sebagai informasi saja, kami merupakan anak-anak yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, ada yang dari Jawa hingga Papua lho.

Foto 5

Foto 5a

Foto 5b

Layaknya kegiatan pulang kampung pada saat Lebaran, pulang kampung ala SMART juga tak kalah seru Sob. Setiap setahun sekali kami disibukkan dengan momen penting ini, biasanya pulang kampung dilaksanakan setelah pembagian rapor dan bukan pada saat Ramadhan atau Lebaran, oleh karenanya momen seperti ini sangat kami tunggu tiap tahunnya.

Foto 5c

Foto 5d

Karena sudah tidak ada Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) maka kami disibukkan dengan kegiatan mengemas, mengemas, mengemas, beberes kamar, menyetrika, dan tentu saja membeli oleh-oleh untuk keluarga kami di kampung. Beberapa dari kami telah kembali ke kampung Senin kemarin, beberapa lainnya berangkat Senin dini hari karena harus mengejar penerbangan dan kereta pagi, dan yang lainnya akan berangkat hari Selasa.

Foto 6

Foto 6a

Selama tiga minggu ke depan kami akan meninggalkan SMART Ekselensia Indonesia tercinta. Kangen? Sudah pasti, namun kami sangat tak sabar bertemu dengan keluarga dan berkumpul bersama lagi.

Foto 6b

Doakan kami selamat sampai tujuan ya Sob, semoga liburan kami menjadi penyemangat agar kami bisa berusaha lebih keras ketika masuk sekolah nanti. #YukPulangKampung!

UASnya SMART 2015

Halo Sobat SMART! Apa kabar? Semoga selalu sehat ya.

Jadwal kami saat ini sedang padat-padatnya nih Sob, iya karena kami saat ini sedang melaksanakan UAS (Ujian Akhir Semester) 2015. UAS sendiri akan dilaksanakan selama 5 hari dari Senin sampai dengan Jumat, namun untuk beberapa kelas ada yang sampai Sabtu lho.

15-12-15-09-25-34-622_photo

UAS kali ini terasa lebih seru karena ruang kelasnya menjadi lebih banyak. Yang lebih asyiknya lagi ketika ujian kami tidak disatukan dengan teman sekelas, namun disatukan dengan kakak atau adik kelas kami, jadi kesempatan untuk mencontek bisa dikatakan kecil. Untuk mata pelajaran yang diujikan di UAS sendiri beragam, disesuaikan dengan tingkatan kelas kami di sini, sebut saja Islamika, Bahasa Arab, Kimia, Fisika, Matematika, dan lain-lain.

15-12-15-09-24-37-812_photo

Seperti di sekolah-sekolah lain pada umumnya di SMART Ekselensia Indonesia nilai yang kami dapatkan juga berperan penting untuk menuntun kami ke jenjang yang lebih tinggi, oleh karena itu kami tidak main-main untuk belajar dan menjaga ritme semangat kami di sini.

20151215_092241

“UAS kali ini menegangkan sih karena materinya terutama eksakta yang buat deg-degan,” ujar Afdal Kurnia, siswa kelas 5 jurusan IPA.

20151215_092149

Walaupun mata pelajaran yang diujikan menantang, tapi kami yakin kami mampu melaksanakannya dengan baik. Kami sangat berharap di UAS kali ini kami akan mendapatkan nilai terbaik dari jerih payah kami. Setelah UAS selesai kami akan pulang kampung lho Sob. Doakan kami ya!

,

Basyir Sang Penghafal Quran Berprestasi

Foto Basyir

Halo Sobat SMART. Seperti yang kita tahu bukanlah hal yang mudah untuk menghafalkan Al-Quran, selalu ada tantangan tersendiri ketika mendedikasikan diri menjadi seorang penghafal Al-Quran. Namun berbeda dengan kawan kita, Ahmad Basyir Najwan, ia berkomitmen pada dirinya sendiri menjadikan Al-Quran sebagai salah satu media pembelajaran sekaligus sebagai sarana pengaktualisasian dirinya lho. Hebat kan?!

Saat ini Basyir, sapaan akrabnya, duduk di kelas 3 Sekolah Menengah Pertama (SMP) SMART Ekselensia Indonesia, ia dilahirkan di Kota Banjar, Kalimantan Selatan, pada 25 Oktober 2000. Perkenalan pertamanya dengan hafalan Al-Quran datang dari sang kakak, kala itu ia bercerita mengenai kemuliaan yang akan diterima kedua orang tua mereka kelak apabila ada salah satu anggota keluarga yang berhasil menjadi seorang penghafal Al-Quran. Sejak saat itu Basyir bertekad, berniat, dan berjanji untuk menjadi seorang penghafal Al-Quran.

Di usianya yang menginjak 15 tahun, Basyir sudah menghafal sebanyak 18 juz. Basyir sendiri memiliki jadwal padat dan target yang harus ia capai, satu hari ia menghafal 5 halaman, per 4 hari ia targetkan hafal 1 juz, dan per bulan ia harus bisa menghafal 7,5 juz. “Sulit”, kata pertama yang Basyir ucapkan ketika ditanya bagaimana membagi waktu antara sekolah dan menghafal Al-Quran, apalagi Basyir masih tercatat sebagai seorang pelajar SMP. Kesibukan yang padat, pekerjaan rumah yang menumpuk serta kegiatan ekstrakulikuler kadang menjadi penghambat terbesar baginya. “Kalau lagi banyak ulangan atau kegiatan di luar seperti Olimpiade Sains Nasional (OSN) yang saya ikuti di Palu beberapa bulan lalu biasanya jadwal menghafalnya diganti ke hari lain, supaya sama-sama adil,” ujarnya. Basyir mengaku mendapatkan banyak motivasi dari para guru terutama Ustadz Syahid dan juga kawan-kawannya di asrama, “Kalau lagi malas biasanya Ustadz Syahid dan teman-teman akan memotivasi saya agar bangkit lagi dan tidak malas berlarut-larut,” tambahnya. Menurut Basyir ada beberapa tips untuk menghafal dan menjaga hafalan antara lain: Buat jadwal murajaah yang detail, konsiten, jangan cepat puas dan cepat bosan, ingat motivasi di awal, dan ikuti jadwal yang sudah dibuat.

Berkat prestasinya, Basyir terpilih sebagai salah satu penerima manfaat dari Bank Danamon Syariah (BDS) berupa perjalanan Umrah ke Tanah Suci Mekah. “Perasaan saya kala itu senang dan sedih. Senang karena akhirnya bisa ke luar negeri dan ke Baitullah, sedih karena pulang kampung nanti waktunya kepotong,” tukasnya. Basyir dinilai memiliki semua kriteria yang dibutuhkan untuk menjadi salah satu penerima manfaat BDS. “Di Baitullah nanti saya akan berdoa untuk kesehatan dan kelancaran urusan keluarga, berdoa agar hafalan bisa cepat selesai, berdoa agar nanti bisa ikutan Olimpiade Sains tingkat internasional dan menang, juga berdoa untuk kakak-kakak kelas 5 di SMART Ekselensia Indonesia agar semua lulus dan semua diterima di PTN yang mereka inginkan,” imbuhnya.

Saat ini Basyir masih giat menghafal Quran, sebelum keberangkatannya ke Tanah Suci dan kepulangannya ke kampung halaman ada target besar menanti untuk ia selesaikan, hafal 30 juz Al-Quran.

,

Perjuangan dan Prestasi Wayan di Pertamina Championship 2015

Wayan Foto 1

“Kalah menang dalam pertandingan itu biasa, yang tak biasa adalah ketika kita bisa mengubah kekalahan menjadi pelajaran untuk kemenangan selanjutnya” – anonymous

Halo Sobat SMART! Pada Minggu (06/12) lalu, kawan kita, Wayan Muhammad Yusuf yang saat ini duduk di kelas 5 (setara kelas 3 SMA di sekolah lain) jurusan IPS berhasil memenangkan posisi kedua dalam kompetisi Pertamina Championship yang diselenggarakan oleh Keluarga Silat Nasional (Kelatnas) bekerja sama dengan PT. Pertamina (Persero).

Turnamen pencak silat bertaraf nasional yang diikuti oleh pesilat dari berbagai propinsi ini digelar untuk memperebutkan Piala Direktur Utama Pertamina. Pertamina Championship sendiri berlangsung di Padepokan Silat Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, dan diikuti oleh Kelatnas Indonesia Perisai Diri baik dari dalam maupun luar negeri. Digelar selama 4 hari (3-6 Desember 2015) ada beberapa nomor yang dipertandingkan pada kejuaraan ini, sebut saja pertarungan bebas, pertarungan serang hindar, kerapian teknik serta nomor tunggal IPSI. Nah nomor-nomor pertandingan tersebut dibagi lagi dalam beberapa kelompok seperti kategori dasar, junior dan senior serta dua tingkatan, tingkat dasar dan tingkat keluarga. Wayan termasuk ke dalam tingkat keluarga ke atas.

“Ini turnamen paling keren yang pernah diikuti, karena ini pertama kalinya saya tanding tanpa body (pelindung badan) terus lawan-lawannya luar biasa karena rata-rata atlet-atlet nasional,” ucap Wayan penuh semangat.

Wayan Foto 2

Selama bertanding ia mengaku ketar ketir dan grogi lantaran lawan yang harus ia hadapi memiliki postur tubuh lebih besar dan juga pengalaman yang lebih banyak di jagat silat. Wayan yang lahir di Desa Pegayaman, Bali, berujar jika ia berjuang mati-matian untuk lolos dari babak satu ke babak yang lain. Pada babak penyisihan ia berhadapan dengan lawan dari Padang dan di babak semi final ia berhadapan dengan lawan dari Bandung, kemenangan berturut-turut tersebut membawanya ke babak final dan ia harus berhadapan dengan kontingen silat asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terkenal kuat karena sudah sering menjuarai berbagai turnamen nasional. Di babak final Wayan harus mengalah karena kekuatan lawan yang besar dan ia harus berpuas diri serta bersyukur karena telah menggondol juara dua di ajang bergengsi tersebut.

“Turnamen Pertamina Championship ini merupakan turnamen terakhir yang saya ikuti. Saya sudah kelas 5 dan sudah harus fokus ke berbagai hal penting yang menyangkut kelulusan. Saya masih ingin mengharumkan nama SMART Ekselensia Indonesia dan membuat mas Haerul, guru silat saya, bangga. Saya sudah berusaha untuk menang, tapi lumayanlah dapat perak juga,” tambahnya riang.

Wayan Foto 3

Wayan baru saja menginjak usia 17 tahun dan saat ini ia tengah sibuk menyusun Karya Ilmiah Siswa SMART (KAISS) dan fokus pada persiapan Ujian Nasional (UN) yang akan dihelat beberapa bulan lagi. Di tengah kesibukannya, Wayan masih rutin berlatih silat dengan tekun bersama teman-teman seperguruannya di SMART EI, ia bertekad untuk selalu memberikan yang terbaik untuk ekstrakulikuler silat dan tidak akan pernah berhenti untuk menyemangati junior-juniornya.

“Saya punya pesan untuk teman-teman dan adik-adik saya di ekstrakurikuler silat. Kalau tanding tak perlu takut, jangan lupa untuk latihan terus menerus dan jangan pernah bosan. Lalu jangan hanya mengandalkan guru, rutin latihan sendiri juga baik untuk mengasah kemampuan diri. Kalau bertemu lawan di turnamen apapun pelajari cara main mereka, amati, dan praktikkan pada pertandingan yang kalian ikuti,” tutupnya.

Doakan Wayan agar dapat masuk ke universitas yang ia dambakan ya Sobat SMART, doakan juga agar ekstrakulikuler silat di SMART Ekselensia Indonesia semakin banyak meraih prestasi hebat. Aamiin.

“Mencari Nafkah….”

Awal tahun 2013…

Setelah sekitar 7 tahun saya mengajar di SMART Ekselensia Indonesia, saya diberi amanah untuk mendampingi siswa-siswa SMART kelas 5 dalam salah satu kegiatan menjelang mereka Ujian Nasional.

Jika dikonversi, kelas 5 di SMART sama dengan kelas XII SMA di luar SMART. Beberapa bulan menjelang Ujian Nasional, siswa SMART biasanya diberi pembekalan sebagai motivasi untuk menjaga semangat mereka, juga diberi kesempatan untuk refleksi diri. Harapannya melalui refleksi diri ini, dengan memberi banyak energi positif dan membuang semua energi negatif, siswa akan lebih prima untuk tampil minimal hingga mereka lulus dari SMART.

Boot camp adalah kegiatan rutin yang dilakukan oleh SMART terkhusus untuk siswa kelas 5, yang dilakukan di luar lingkungan SMART. Kegiatan ini menurut saya adalah kegiatan eksklusif, karena selain dikhususkan untuk kelas 5, juga karena isi kegiatan di acara ini luar biasa sekali, sangat menginspirasi buat setiap orang yang mengikutinya. Maka buat saya pribadi, mendampingi siswa-siswa memiliki kesan tersendiri.

Boot camp dilakukan selama 2 hari 2 malam. Dan untuk mengoptimalkan program ini, kami meminta fasilitator-fasilitator dari suatu lembaga profesional. Namun yang luar biasa, sekalipun fasilitator tersebut berasal dari luar SMART, siswa mudah untuk beradaptasi dengan fasilitator tersebut, sehingga mereka mendapatkan banyak bekal sepulang dari acara boot camp.

Dalam rangkaian acara boot camp ini, ada bagian yang begitu berkesan bagi saya untuk diingat dan juga berhikmah. “Mencari nafkah” adalah salah satu sesi pada acara tersebut. Siswa disebar di suatu tempat dengan modal badan mereka sendiri dan diminta untuk bisa mengumpulkan uang dengan target jumlah tertentu dan pada waktu tertentu.

Siswa bertebaran ke pasar, ke warung-warung, ke toko-toko, ke masjid, ke jalan-jalan raya dan lain-lain untuk menawarkan jasa ataupun kemampuan kepada pemilik toko atau apapun yang diperkirakan membutuhkan tenaga atau jasa mereka, serta mereka akan mendapatkan imbalan dari hasil kerja mereka. Intinya mereka tidak mengemis, namun mereka bisa memberikan berbagai macam kontribusi, baik tenaga, pikiran atau lainnya, sehingga jerih payah mereka nanti akan menghasilkan uang.

Salah seorang siswa, setelah berkeliling kesana kemari menawarkan jasa namun berkali-kali ditolak, maka dia berinisiatif untuk mengamen dengan modal suara yang menurutnya cukup bagus untuk didengar.   Bagus, sebutlah nama siswa tersebut. Bagus memasuki beberapa toko ataupun kerumunan orang-orang untuk menyanyi tanpa alat musik dengan modal suara yang ia miliki dan ia yakini bisa menghibur orang-orang serta akan mendapat hasil. Dan yang tidak kalah penting adalah modal menahan malu serta percaya diri.   Bagus pun berjalan dari satu toko ke toko yang lain untuk bernyanyi, namun begitu sedikit bahkan hampir tidak ada satupun orang yang menanggapinya. Hingga sampailah Bagus bernyanyi di salah satu kios penjual buah-buahan. “Permisi Pak”, begitu sapaan pertama Bagus kepada penjual buah. Lalu dengan semangat, bagus langsung bernyanyi sambil bertepuk-tepuk tangan sendiri tanpa peduli didengar atau dinikmati oleh penjual buah itu ataukah tidak. Karena memang hanya itu modal yang ia miliki. Namun belum lagi Bagus selesai bernyanyi untuk satu bait, tiba-tiba penjual buah tersebut memberi 2 buah salak kepada Bagus, dengan berkata: “Sudah dek, ini salak!”. Hal ini dipahami agar Bagus segera berhenti bernyanyi dan pergi. “Deg” mungkin degup jantung itu yang terdengar apabila bisa didengar. Akhirnya Bagus bergegas pergi setelah menerima salak tersebut, karena juga tidak ingin lama-lama ditonton oleh pedagang lainnya. Maluuu itu perasaan yang ada pada saat itu. Bagus berlari jauh sambil mencari teman-teman lainnya yang juga sedang mengadu nasib untuk menutupi rasa malunya.

Sebenarnya bukan salak yang diharapkan oleh Bagus, karena targetnya adalah mendapatkan uang untuk memenuhi target. Namun untuk menolak salak, juga tidak mungkin, karena memang Bagus juga merasa lapar, maka diterimanya salak itu lalu Bagus pun pergi. Ketika Bagus bertemu dengan teman-temannya yang lain, Bagus langsung bercerita sambil berbagi untuk makan salak. Bagus berkata : “Aduh.., sial gua! Nyanyi belum selesai, sudah dikasih salak!! Kesel gua! Malu tau!”. Bagus mengungkapkan perasaannya sambil makan 1 bagian salak tadi. Karena 2 salak yang diterimanya dibagi rata buat teman-temannya. Bagus memang merasa kalau suaranya sedang serak, tapi Bagus juga yakin, kalau saja diberi kesempatan bernyanyi minimal sampai “Ref”-nya, kayaknya asyik tuh lagu. Tapi apa boleh buat, rupanya orang lain belum tentu paham dengan harapannya.

Rasa senang, kesan lucu sekaligus sedih bercampur menjadi satu ketika sesama siswa kelas 5 bertemu dan saling curhat. Rasa senang muncul manakala mereka mendapat sambutan dan tawaran serta dihargai oleh orang-orang sekitar. Rasa lucu pun muncul ketika mereka benar-benar sudah merasa mempersiapkan diri dengan baik, namun ternyata reaksi orang-orang sekitar justru sebaliknya, mereka dilihat seperti aneh. Rasa sedih pun muncul ketika mereka tidak merasa dihargai sebagaimana harapan mereka. Sehingga bukan saja terbersit bagaimana bisa dihargai oleh orang lain, yang ternyata memang sulit mendapatkannya, juga ternyata untuk mendapatkan uang itu sulit,

Siswa kembali ke base camp dengan hasil apapun yang mereka dapatkan. Karena ternyata bukan saja salak atau uang yang mereka dapatkan, tapi baju kotor, muka, tangan dan kaki yang juga berlumur debu putih juga mereka dapatkan sebagai hasil kerja sebagai kuli panggul beras dan terigu… Minuman “Mijon” dan lain-lain. Emm…, luar biasa….

Di akhir sesi mencari nafkah ini, seluruh siswa diberi kesempatan buat refleksi diri terhadap suka duka selama berada di dunia nyata. Hampir 100% siswa mengatakan bahwa ternyata sulit sekali untuk bisa mendapatkan uang, sehingga mereka mampu menghargai uang yang mereka miliki. Dan yang lebih menarik adalah mereka merasakan rasa persaudaraan yang semakin erat antara satu dan lainnya di antara mereka. Mereka merasakan senasib sepenanggungan ketika berada dalam dunia nyata dimana mereka ditantang untuk bisa mandiri. Sementara orang-orang sekitar yang belum mereka kenal, tidak semua menilai mereka positif. Sehingga mereka benar-benar membutuhkan support diantara mereka.

Melalui program boot camp ini, terlihat perkembangan yang baik dari para siswa. Terbentuk konsep diri yang positif, sehingga mereka lebih tenang dan lebih giat dalam mempersiapkan ujian nasional dan dunia perkuliahan. Yang juga tidak kalah penting adalah mereka mampu menjaga kestabilan persaudaraan di antara mereka. Mereka jauh lebih kompak, lebih care, dan lebih bersahabat diantara mereka.

Subhaanallaah…. Semoga segala ikhtiar yang dilakukan para ustadz-ustadzah buat siswa-siswa SMART bisa memberikan arti dan manfaat buat kehidupan mereka di masa yang akan datang….

 

 

with love….

Belajar Pengendali Mikro (Microcontroller) Untuk Anak SMP

Oleh: Ari Kholis Fazari

Beberapa bulan yang lalu, siswa SMART Ekselensia Indonesia diramaikan dengan aksi robotika oleh klub robotika yang sengaja diundang untuk menampilkan hasil karya robotikanya. Dari peristiwa itu, saya melihat betapa besarnya antusiasme siswa SMART ketika melihat karya-karya robotika. Nurani saya pun mulai bertanya, “Kapan kira-kira siswa SMART tahu alur kerja dari robotika tersebut?”

Jika antusiasme ini diaplikasikan ke dalam tahap berikutnya, saya yakin siswa-siswa SMART akan punya karya robotika sejenis, bahkan mungkin lebih hebat dibandingkan yang telah mereka saksikan. Jalan menuju ke sana memang panjang dan akan banyak aral menerjang, namun tahap pertama bisa mereka raih jika ada ekstrakurikuler robotika di sekolah yang dikeloloa lembaga nirlaba ini. Tidak harus menghadirkan kembali tim robotika di atas agar para siswa meraih tahap pertama ini. Di SMART Ekselensia, ada seorang guru yang cukup paham materi robotika sejenis, yaitu saya sendiri: Ari Kholis Fazari.

Gayung pun bersambut ketika akhirnya Wakasek Bidang Kesiswaan melihat rona siswa yang begitu berharap bisa meniru para aksi tim robotika tersebut. Tidak sedikit siswa yang mengajukan kepada Pak Eko, Wakasek Bidang Kesiswaan, agar mulai tahun pelajaran 2014-2015 diadakan ekskul robotika. Dan Ekskul robotika pun dimulai di bawah bimbingan guru TIK SMART Ekselensia Indonesia.

Di ekskul ini siswa belajar komponen-komponen elektronika, mulai dari cara pengenalan resistor, transistor, dioda dan lain-lain. Tidak ingin berhenti di situ, suatu hari saya berinisatif mengembangkan lagi komponen yang ada karena saya yakin siswa bisa. Saya mencoba mengajarkan pengendali mikro (microcontroller).

Pengendali mikro adalah sebuah chip yang berfungsi sebagai pengontrol rangkaian elektronik dan umunya dapat menyimpan program di dalamnya. Pengendali mikro umumnya terdiri dari CPU (Central Processing Unit), memori, I/O tertentu, dan unit pendukung seperti Analog-to-Digital Converter (ADC) yang sudah terintegrasi di dalamnya.

Perkembangan pengendali mikro sendiri sangat pesat, mulai dari microprosessor MCS-51, microcontroller AT-Mega, dan microcontroller terbaru, yaitu Arduino Uno. Lantas apa yang dimaksud dengan Arduino Uno? Arduino Uno adalah salah satu dari pengendali mikro yang memiliki kelebihan dibanding pengendali mikro sebelumnya. Dalam pengendali mikro ini sudah terdapat rangkaian pengonversi rangkaian analog to digital atau ADC. Fitur ini mempermudah kita dalam membuat rangkaian elektronika, seperti sensor suhu, pengendali lampu merah, bahkan rangkaian robotika.

Alhamdulillah, antusiasme siswa semakin besar ketika saya mengajarkan materi ini. Semangat mereka begitu terlihat saat menyimak materi maupun praktik. Bahkan ada siswa yang sudah menunggu di ruangan praktik sebelum saya datang. Beberapa siswa pun tidak sungkan bertanya ketika mengalami kesulitan.

Adapun hambatan dalam menyampaikan materi ini adalah ketika saya harus menyamakan antara persepsi saya dan persepsi mereka. Hal yang lumrah karena kita tahu siswa yang saya hadapi ini yaitu siswa SMP yang tentu saja belum mampu bernalar seperti orang dewasa. Akan tetapi, saya yakin mereka adalah siswa yang sangat cerdas. Butki nyatanya adalah mereka sudah bisa membuat simulasi rangkaian, lampu flip-flop, simulasi lampu merah, sensor suhu dll. Setelah satu bulan saya mengajarkan ini, saya berharap semoga suatu hari nanti siswa SMART bisa mengakplikasikan ilmu ini dengan tepat. Saya pun berangan-angan agar suatu saat nanti para siswa marjinal ini bukan sekadar berkarya, namun mampu berlomba dan menjadi juara untuk lomba-lomba robotika.

 

,

Keseruan Mini Soccer Madania

1

Halo Sobat SMART!

Kurang lebih 2 minggu yang lalu dari sekarang, kami Tim Mini Soccer SMART Ekselensia Indonesia memulai pertandingan di Madania. Sebelumnya kami hanya berlatih kurang lebih 1 minggu, mungkin waktu yang kami miliki sangatlah kurang namun waktu sudah sangat mepet jadi yang kami bisa lakukan ya jalani sajalah. Awalnya kami memulai pertandingan dengan sistem penyelisihan grup. Pada pertandingan pertama kami harus berhadapan dengan tuan rumah, oh iya kami tergabung dalam tim U-16 yang artinya di bawah umur 16 tahun (Under 16), namun kami harus puas dengan hasil pertandingan dengan skor 0-0 alias seri. Setelah bertanding dengan kami, tim Madania diadu lagi dengan tim Al-Bayan dan Madania kalah dengan skor 2-1. Setelah Madania dan AL-Bayan selesai bertanding, kini giliran kami bermain melawan Al-Bayan dan Alhamdulillah kami menang dengan skor 2-0, terima kasih Satrio untuk gol fantastisnya (ia menendang bola dari jarak yang sangat jauh) dan terima kasih juga untuk Gilang Arisandi yang telah menyumbangkan banyak gol hingga masuk ke Buku Top Scorer (Gilang juga hebat karena ia mampu membuat gol dengan menendang bola yang melambung dan menuju kearah pojok gawang). Dari hasil ini kami menduduki puncak klasemen dengan 4 poin dan berhak maju ke babak selanjutnya dengan tim Al-Bayan yang mewakili Plot A.

Di semifinal kami bertemu dengan tim dari Masudirini. Lawan kami ternyata postur badannya besar-besar, namun bukan berarti kami takut, yang ada kami tambah semangat hingga akhirnya menang dengan skor 3-0. Kami sangat sangat bangga karena bisa masuk final. Pada pertandingan kala itu Ringga menjadi bintang lapangan dan berhasil mencatatkan namanya di papan skor. Kira-kira seperti ini kronologi pertandingannya, Ringga mendapatkan umpan manis dari Syahreza dengan hasil kerjasama yang gemilang dengan Mukhlisin dan Gilang. Mukhlisin merebut bola lalu Reza menyundul bola tersebut ke Gilang lalu ia mengontrol bola tersebut dengan dada dan mengoper balik ke Reza yang mengumpan bola agak datar ke Ringga. Ringga memperlihatkan aksi gemilangnya dengan menendang gunting bola dan menghasilkan gol. Gol kedua dicetak oleh Syahreza yang memanfaatkan kelengahan lawan, pada saat lawan fokus pada kami yang menyerang dia langsung menendang bola ke pojok bawah gawang yang tidak bisa dijangkau oleh kiper. Gol terakhir didapatkan melalui tendangan pojok yang diambil oleh Azmy, pada saat Azmy mengambil bola pojok dan menendangnya ke gawang ternyata kiper malah blunder, dia ingin memukul bola agar menjauh namun yang terjadi bola malah m,asuk ke gawangnya sendiri. Begitu hehe.

Pada babak final kami melawan tim yang sama yakni Al- Bayan pada saat penyisihan grup, kami hanya bisa banyak berdoa. Pada pertandingan kala itu kami kewalahan karena hujan turun dan membuat kondisi lapangan seperti sawah habis di bajak. Sungguh pun kami cukup merasa lega, tak dinyana tim lawan ternyata merasakan kewalahan yang kami rasakan. Mereka melawan kami dengan kondisi babak belur penuh lumpur, kami juga sama sih. Di akhir paruh waktu pertandingan skor akhir 0-0 dan terpaksa harus dilakukan adu penalti.

3 orang yang ditunjuk oleh pelatih untuk adu penalti antara lain Azmy, Mukhlis, dan Gilang. Tendangan pertama yang diambil oleh Azmy tidak membawakan hasil karena bola berhasil mengenai ujung jari kiper dan memantul ke mistar gawang. Tendangan kedua juga gagal karena bola melambung ke atas. Pada tendangan ketiga kami juga gagal mencetak skor. Karena tim kami dan tim lawan sama-sama tidak mencetak skor maka wasit melakukan kebijakan koin. Bagi siapa saja (tim kami atau tim lawan) yang dapat memasukkan bola ke gawang maka merekalah yang menang. Kami berusaha sebaik mungkin karena kesempatan hanya sekali dan tak boleh disa-siakan, namun sayang tendangan yang dilancarkan Satrio meleset.

Kami harus puas karena hanya mengantongi Juara Kedua. Walaupun hanya mendapatkan Juara Kedua kami masih bersyukur diberi kesempatan memberi yang terbaik untuk SMART Ekselensia Indonesia. Doakan kami ya Sobat SMART semoga di pertandingan berikutnya kami akan mendapatkan gelar juara, aamiin.

 

2 3 4 5 6 7 8 9 10

Terima Kasih Pak Suroso

Oleh: Rina Fatimah (Direktur Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa)

“Rina, setelah lulus SD kamu lanjut sekolah ke mana?” tanya guruku. Pertanyaan terakhir yang masih kuingat sampai sekarang dari sosok guru terbaikku. Pak Suroso, namanya. Guru yang mengajariku sejak kelas 4 hingga aku lulus di SDN 01 Panjang Utara, Bandar Lampung. Fisiknya yang tambun dan suaranya yang besar mungkin bisa membuat anak-anak takut diajarnya. Ternyata salah, pak Suroso bagiku sosok yang penyabar, bersahaja, dan lembut terhadap anak-anak.  Mengapa aku simpulkan demikian? Karena hingga hari ini, aku mencoba untuk bernostalgia kembali dimasa SD, tak ada satu pun peristiwa yang membekas yang menunjukkan peringai buruk dari beliau. Aku hanya bisa mengingat kebaikannya, senyumnya, dan suaranya. Sesekali beliau suka meletakkan salah satu tangannya di pinggang, tapi bukan marah. Gaya tolak pinggang beliau manandakan beliau tengah asyik ngobrol dengan salah satu rekan kerjanya.

Aku paling senang Pak Suroso mengajar di kelas kesenian. Kami diajarkan tangga lagu, membaca not, dan menyanyi sesuai dengan notasi. Semua lagu yang diajarkan beliau adalah lagu-lagu wajib nasional. Makanya hingga hari ini, aku masih hafal lagu-lagu wajib nasional seperti Gugur Bunga, Indonesia Pusaka, Rayuan Pulau Kelapa, Dari Sabang sampai Merauke. Mungkin hari ini anak-anak Indonesia sudah tidak hafal lagi karena lebih tergiur menghafal lagu-lagu tema kekinian. Memang dibanding dengan guru-guru yang lain, pak Suroso memang jago bernyanyi. Beliau memiliki suara bariton yang enak didengar. Wajar saja, kelas kami selalu tampil bagus ketika paduan suara upacara bendera. Dan aku selalu terpilih menjadi diriennya. Sampai hari ini, jika di kantorku ada acara-acara resmi, aku selalu ditunjuk menjadi dirigennya.

Pelajaran yang paling aku sukai semasa SD dulu yakni matematika. Agak aneh saja kalau ada anggapan pelajaran matematika, pelajaran yang paling menakutkan dan momok bagi anak-anak. Bersyukur, kesabaran pak Suroso mengajar kami, membuat kami paham. Tips yang paling kuingat yang diajarkan oleh pak Suroso yakni bagaimana menyelesaikan soal cerita. Pertama baca soal cerita dengan perlahan, jangan terburu-buru.  Kedua tulislah apa saja yang perlu diketahui dari soal tersebut. Ketiga tulislah apa yang ditanya dari soal. Setiap mengerjakan soal cerita, beliau selalu mengingatkan kami akan tiga langkah pengerjaan. Kalau masih bingung dengan pertanyaannya, silakan baca soalnya dan lihat kembali tulisan diketahuinya. Begitulah tips pak Suroso untuk menyelesaikan soal cerita.

Tak hanya pelajaran yang kami peroleh, sikap toleransi karena perbedaan keyakinan juga diajarkan oleh beliau. Pak Suroso beragama katolik, sebagian besar murid yang diajarkan beliau beragama islam. Pulang sekolah, aku dan teman-teman ikut les di rumah pak Suroso. Ssssstttt…bukan sembarangan les yang dijadikan sebagai pendokrak nilai raport yah. Les diberikan pak Suroso, murni untuk anak-anak yang masih ingin belajar lebih. Seingatku, tidak ada soal ulangan yang dibocorkan atau nilaiku jadi tambah bagus. Les dimulai pukul 1 siang, istirahat saat adzan ashar, dan kembali lagi sampai jam 4 sore. Kebetulan, jarak antara rumahku-rumah pak Suroso tidak terlalu jauh. Aku selalu mengendarai sepeda mini. Saat natalan, kami semua diundang ke rumah beliau mencicipi kue natalan buatan istrinya. Yah namanya masih anak-anak, aku sikat aja. Lagipula kuenya enak.

Tahun lalu, aku berkesempatan tugas di Lampung. Sudah ada niatan ingin berjumpa dengan beliau. Aku tanya kepada Ibu Dahlia kepala sekolah SDN Bumi Waras 1, Bandar Lampung yang sekolahnya mendapatkan pendampingan dari kantorku, “bu, kenal dengan pak Suroso yang tinggal di Panjang?  Dulunya mengajar di SDN 01 Panjang Utara?” tanyaku. “Kenal…beliau sekarang sudah menjadi kepala sekolah tapi bukan di sekolah itu lagi. Agak jauh dari rumahnya” jawab ibu Dahlia. Syukurlah, aku jawab dalam hati. Semoga esok hari ada kesempatan berkunjung.

Namun, sayangnya kesempatanku untuk berkunjung ke rumah beliau harus diurungkan. Karena pekerjaanku di Lampung belum juga rampung. Akhirnya… aku hanya bisa berkesempatan mampir melihat  SD ku dulu. Aku ingin mengucapkan terima kasih untuk guru terbaikku, pak Suroso. Kesabaran dan kasih sayangmu masih lekat di dalam hatiku. Suaramu hingga hari ini masih jelas di telingaku. Rasanya aku ingin kembali ke masa 14 tahun yang lalu, saat aku duduk di kelas 4 SD. Semoga engkau selalu diberi kesehatan dan terus dalam lindungan Tuhan, amiiin.

1aaarinafat

Ruang kelas 6, tempat penulis menimba ilmu semasa SD. Kursi yang diduduki penulis adalah tempat duduk semasa SD dulu.

SMART Field Trip Asyik

Kamis (26/11) terasa berbeda. Pagi itu cerah sekali, langit biru, burung-burung saling bersahutan, dan terdengar riuh rendah suara kami dari berbagai sudut lapangan upacara –sampai pak Juli, Kepala Sekolah kami kesal dibuatnya-. Kala itu kami dikumpulkan di sana untuk dibrifing sebelum keberangkatan.

 

Foto 1 Foto 2

 

Eh? Keberangkatan ke manakah? Wah sampai lupa bilang, kami –yang berjumlah 195 orang dari seluruh kelas- dan para guru akan pergi ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) untuk field trip. Ada banyak agenda yang kudu kami ikuti selama field trip kali ini, mulai dari mengunjungi PP-IPTEK, Museum Listrik dan Energi Baru (MLEB) hingga ke Bayt Al-Quran dan Museum Istiqlal. Kami dibrifing terlebih dahulu agar ketika tiba di sana tidak terpencar-pencar, setiap siswa dikelompokkan berdasarkan Small Family* yang biasa kami ikuti tiap Jumat pagi. Setelah brifing dirasa cukup lalu kami berdoa dan berangkat menuju TMII.

 

Foto 3 Foto 4

 

Bismillah, TMII kami datang!

Sesampainya di TMII kami langsung diarahkan ke Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PPIPTEK). Sebelum masuk kami dibrifing –lagi- oleh kakak-kakak punggawa PP-IPTEK. Ia menjelaskan bermacam peraturan yang boleh dan tidak boleh kami lakukan selama di dalam PP-IPTEK. Ketika dipersilakan masuk kami bagai kuda lepas dari kandang, lari ke sana lari ke sini, liar sekali sampai para guru kewalahan namun akhirnya kami dapat mengendalikan diri hehe. Maaf ya bapak dan ibu guru. Kami dibebaskan untuk menjelajah beragam wahana pengetahuan di PP-IPTEK sampai pukul 10.00 WIB, karena setelahnya kami akan menyaksikan film ilmiah di Science Film Festival (SFF) sampai pukul 11.00 siang. Selesai puas menyaksikan film keren di SFF kami lanjut makan siang dan shalat.

 

Foto 5 Foto 6 Foto 6a Foto 6b Foto 6c

 

Banyak hal keren lho Sob yang bisa kamu lihat di TMII, mulai dari anjungan alias rumah adat berbagai daerah di nusantara sampai macam-macam museum, salah satunya Museum Migas yang sayangnya belum rampung dibangun. Bangga sekali deh Indonesia punya TMII. Oke lanjut lagi ya, setelah ishoma kami melanjutkan perjalanan field trip ke Museum Listrik dan Energi Baru (MLEB). Kami takjub karena ternyata ada museum yang khusus untuk listrik dan energi seperti ini, sebelum masuk kami dites dulu Sob. Kami diminta untuk mengerjakan beberapa soal terkait listrik, banyak dari kami yang kebingungan. Pak pemandu juga menantang kami untuk unjuk ekspresi, jika lulus kami boleh masuk. Alhamdulillah lulus jadi kami bisa masuk dengan leluasa dengan syarat tetap bersama pak pemandu. Di dalam pak pemandu mengenalkan kami pada alat pembangkit listrik, turbin yang biasa dipakai untuk menyalakan listrik sampai energi alternatif yang bisa kita gunakan untuk membuat listrik, seru sekali.

 

Foto 7 Foto 8 foto 9 foto 10

 

Namun sayang kami terlalu lama di MLEB sehingga kami tidak bisa melanjutkan perjalanan ke Bayt Al-Quran dan Museum Istiqlal karena keburu tutup, tapi lumayan kami masih boleh masuk untuk shalat dan foto-foto. Puas di Bayt Al-Quran dan Museum Istiqlal kami bersiap pulang ke asrama.

 

Foto 11 Foto 12

 

Field trip kali ini merupakan field trip yang mengasyikkan karena kami bisa belajar berbagai macam hal di luar kelas dan tetap menambah pengetahuan kami, selain itu hubungan kami dengan para guru juga semakin erat . Semoga field trip di tahun tahun mendatang akan lebih juara lagi, aamiin. Sampai jumpa di field trip selanjutnya Sobat SMART!

 

*Small Family merupakan keluarga kecil bentukan para guru SMART Ekslensia Indonesia untuk lebih mendekatkan siswa dan gurunya, kegiatan ini dilakukan setiap Jumat pagi dengan berbagai macam agenda seperti curhat, sharing, masak bareng, nonton, dan masih banyak lagi.