IMG_3794

Laporan TO

IMG_3794

“Insyaallah akan ibu bantu untuk acara ini, tapi ibu pelajari dulu ya, insyallah hari senin sudah ada kejelasan ibu pilih paket mana” jawab ummi hani setelah kami bertanya tentang pilihan paket kontrapretasi. Presentasi proposal yang cukup memuaskan untuk ukuran siswa kelas 2 SMA yang sedang mencari dana untuk acara “kecil-kecilan” yang mereka buat. Kami—siswa kelas 2 SMA program IPS—telah merencanakan acara “kecil-kecilan” ini selama berminggu-minggu.

Ya, kuulangi, kami siswa kelas 2 SMA telah merencanakan acara yang cukup besar untuk ukuran kami yang belum berpengalaman. Inisiator acara ini adalah guru kami sendiri, ustazah Nurhayati, yang akrab disapa zah Yati atau Bunda yati. Beliau adalah guru bahasa indonesia di sekolah kami, SMART Ekselensia Indonesia, sekolah akselerasi, berasrama dan bebas biaya yang pertama di Indonesia. Diusung oleh Dompet Dhuafa untuk para generasi penerus indonesia yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata namun orangtuanya memiliki keterbatasan dibidang finansial.

Belajar di SMART Ekselensia Indonesia tak ubahnya penggodokan di kawah Candradimuka. Tak pernah ada kata membosankan, biasa atau yang lainnya disini. Selalu penuh kejutan, penuh tantangan, juga sarat dengan pembelajaran. Pembelajaran SMP-SMA yang seharusnya 6 tahun disingkat menjadi 5 tahun membuat kami tak hanya berlari disaat yang lain berjalan. Namun memacu dan mematahkan batas-batas yang orang lain anggap tak mungkin.

SMP-SMA yang ditempuh selama 5 tahun bukannya membuat kami setiap hari harus duduk di kelas dan mendengar ceramah dari guru—ini rahasia kita, hal yang kusebutkan tadi adalah hal yang paling ku benci di sekolah—namun banyak sekali peran yang harus kami jalankan selain menjadi pelajar. Mulai dari tukang laundry (kami nyuci sendiri, lho), event organizer (kami memiliki acara tahunan yang berskala nasional, Olimpiade Humaniora), Artist (banyak sekali pilihannya, mau jadi penari, pemain musik, penyanyi dll) hal itulah yang membuat kami tak pernah bosan untuk menimba ilmu di SMART Ekselensia Indonesia. Kembali ke acara yang kami adakan. Sebenarnya ini adalah usul guru bahasa indonesia kami kala belajar tentang proposal. Yah, kalian pasti tahu apa itu proposal, namun mungkin kalian belum pernah mempresentasikannya pada calon sponsor, mengurus tetek-bengek acara, menerima komplain dari guru pendamping peserta, kan? Nah, dari pada kami hanya belajar dikelas, mendengarkan penjelasan guru— sudah kubilang, aku benci yang satu itu—dan tertidur ditengah pelajaran, lebih baik praktek langsung. Lebih seru, menantang dan juga mendapatkan pelajaran yang kita takkan pernah dapat jika hanya mendengarkan penjelasan guru.

Lalu setujulah semua anggota kelas untuk membuat acara alih-alih mendengarkan penjelasan panjang lebar dari guru—yang sudah kubilang, itu membosankan—dan memacu adrenalin kami hingga tingkat tinggi. Awalnya kami sekelas—yang berjumlah 20 orang—dibagi menjadi 2 kelompok yang akan mengadakan 2 acara yang berbeda. Sempat terjadi ketegangan antara kami dengan guru kami, karena kami berpendapat tak mampu untuk membuat acara yang berpanitia 10 orang. Sebelum ketegangan berlarut-larut terjadi kompromi diantara kami. Akhirnya kami sepakat untuk membuat acara TryOut untuk siswa kelas tiga SMP yang berpanitiakan seluruh anggota kelas 4 IPS. Masalah baru muncul, awal bulan mei nanti siswa-siswi kelas 3 SMP akan melaksanakan UN, sementara itu kami memiliki jadwal kegiatan yang cukup padat di bulan april, maka diputuskanlah bahwa acara akan diadakan pada hari minggu, 10 april 2016 satu-satunya akhir pekan yang bebas dari acara lain.

Dimulailah perencanaan acara dari awal, rapat-rapat sampai begadang, pembuatan proposal, dan seterusnya. Setelah perencanaan selesai, kami siap mencari sponsor untuk acara yang akan kami buat. Seluruh warga kelas ditugaskan untuk mencari sponsor ke berbagai perusahaan. Aku dan dua temanku mendapat tugas untuk mempresentasikan proposal kami pada seorang pengusaha yoghurt yang kebetulan adalah ibu dari kakak kelas kami yang sudah lulus. Kami yang awalnya malu-malu untuk presentasi mendapat kepercayaan diri setelah mendapat sambutan yang hangat oleh tuan rumah. Tak disangka, calon sponsor kami langsung memberi respon positif atas acara yang akan kami buat. Beliau menyanggupi saat ditanya akankah beliau akan bekerjasama dengan kami. Namun belum sampai keluar nominal berapa yang beliau sanggup tanggung. Kejutan selanjutnya adalah ternyata tak hanya kami disambut dengan ramah, namun saat kami pulang kami dibekali dengan seplastik besar yoghurt beserta pesan untuk membagikannya di asrama.

Tak terasa sudah di H-2, atmosfer acara sudah mulai terasa, tegangnya saat memastikan kedatangan peserta, mempersiapkan logistik acara, dan seabrek keperluan lain yang dibutuhkan untuk suksesnya acara ini. Lebih sering bekerja jaauh malam tak membuat kami tumbang, namun malah memacu semangat kami. Karena bukan hanya siswa yang ikut andil dalam persiapan malam tersebut, namun guru kami juga. memang bukan ustazah yati sendiri yang mengontrol pekerjaan kami, namun ada seorang guru bahasa inggris yang rumahnya dekat dengan sekolah sehingga dapat mengarahkan kami. The Moment of Truth datang, keriuhan acara yang hanya sekitar 6 jam itu sukses membuat kami bernegosiasi dengan kasur lebih lama dari pada biasanya. Meminjam istilah Tere Liye di Kau, aku dan sepucuk angpau merah, hari itu tak hanya fisik yang di forsir, namun juga perasaan yang seakan dibawa mobil jip ber-offroad ria. Tak terasa, aku yang bertugas sebagai penanggung jawab dokumentasi selesai mengerjakan tugas di acara itu, namun bukan berarti selesainya acara itu selesailah kewajiban kami. Kami (masih) harus membereskan seluruh tempat yang digunakan untuk acara. Namun segala lelah seakan menguap saat mendapat apresiasi dari guru Bahasa Indonesia kami, Ustazah Yati atas acara yang telah sukses kami jalankan.

DSCN0289 DSCN0303 DSCN0315 DSCN0228

IMG-20160419-WA0004

FL2SN SMP 2016. Kami Bisa!

Pukul 05.30 WIB kami sudah rapi jali, sudah makan pagi, lalu menyiapkan bermacam perlengkapan yang akan kami bawa untuk kegiatan hari ini (19/03). Pukul 06.00 WIB akhirnya kami meluncuuur ke tempat dilaksanakannya kegiatan. Mau ke mana sih? Nng ikuti tulisan kami di bawah ya.

Hati riang mengiringi keberangkatan kami, namun macet yang teramat sangat karena jalanan sempit serta menanjak ditambah panas tetiba sangat membuat kami mual dan perasaan campur aduk itu terus mengiringi perjalanan kami pagi tadi ke SMPN 1 yang terletak di Ciawi, Kabupaten Bogor. Hari ini 25 teman kita yang berasal dari kelas 1 & 2 SMP mengikuti Festival dan Lomba Seni Siswa SMP (FLS2N) Kabupaten Bogor Sob, FL2SN sendiri merupakan ajang yang rutin diadakan tiap setahun sekali oleh Dinas Pendidikan lho. Setiap tahunnya kami mengirimkan kontingen untuk unjuk kebolehan sekaligus membawa nama SMART Ekselensia Indonesia agar makin dikenal. Nah siang tadi kami cukup terkejut karena yang mengikuti FLS2N ini mencapai 1300 peserta yang berasal dari berbagai sekolah di Bogor dan sekitarnya. Wow. Tapi karena kami sudah siap jadi kami tak takut untuk bersaing.

Ada 10 lomba yang kami ikuti antara lain Lomba Desain Poster, Lomba MTQ, Lomba Cipta Cerpen Bahasa Indonesia, Lomba Story Telling, Lomba Seni Lukis, Lomba Cipta Puisi, Lomba Desain Motif Batik, Lomba Baca Puisi, Lomba Debat Bahasa Indonesia, dan Lomba Seni Musik Tradisional. Alhamdulillah kami bisa mengikuti semua perlombaan dengan sangat baik.

Namun diantara semua lomba yang ada, Lomba Seni Musik Tradisional menjadi yang paling banyak menyita perhatian. Bagaimana tidak Sob, ketika peserta lain hanya membawakan satu instrumentalia lagu daerah ketika tampil, kami membawakan tiga instrumentalia lagu daerah  (Manuk Dadali, Cing Cangkeling, dan Tokecang) sekaligus yang dibawakan remix. Kebayang dong kerennya? Hehe. Penuh semangat kami bermain hingga GOR tempat kami unjuk gigi seketika disesakki penonton. Setelah selesai tepuk tangan riuh membahana memenuhi GOR yang penuh gema, waah senangnya, terima kasih kak Haidar untuk bimbingannya.

Kami saat ini masih dag dig dug karena keputusan pemenang dari tiap lomba yang kami ikuti belum keluar. Kami berharap semua kerja keras dan latihan kami selama beberapa minggu terakhir ini akan setimpal, aamiin. Tapi jikalau ternyata gelar jawara untuk melaju ke babak selanjutnya tak kami kantongi setidaknya kami telah berjuang dan berusaha . Doakan kami ya Sob.

#SMARTSemangat

 

20160419_083401-1 20160419_083614 20160419_084019 20160419_120224 20160419_121218 IMG-20160419-WA0004 IMG-20160419-WA0005 IMG-20160419-WA0006 IMG-20160419-WA0007 IMG-20160419-WA0008 IMG-20160419-WA0009

1403698_512119908884459_1634055705_o

Pengalaman TRASHIC BRISHIC

1403698_512119908884459_1634055705_o

Oleh: M. Iqbal Rifqi Ardianto,

Alumni SMART E I Angkatan 7, personil tim TRASHIC BRISHIC.
Mahasiswa Ekonomi Islam FEB Universitas Airlangga

 

Di SMART Ekselensia Indonesia banyak ekstrakulikuler yang bisa kami pilih, salah satunya Trashic alias Trash Music.  Di Trashic kami mencoba memanfaatkan barang-barang bekas untuk dijadikan serangkaian alat musik.

Setiap kali manggung kami harus menyewa angkot untuk mengangkut barang-barang yang diperlukan karena jika menggunakan mobil pribadi khawatir mobilnya akan lecet tergores “barang rongsokan” yang kami bawa. Maka tak heran ketika kami memasuki kawasan elit seperti mall, banyak orang yang melihat kami dengan tatapan penuh curiga kadang cenderung sinis, seakan-akan kami merusak pemandangan di mall tersebut.

Ada satu pengalaman menarik ketika kami tampil di salah satu mall di daerah Serpong, kala itu kami diundang untuk mengisi acara disebuah ajang pencarian bakat.  Kami turun dari angkot dan membawa satu per satu peralatan “perang” kami. Ketika sampai di depan pintu utama mall, satpam menghentikan kami dengan tegas, “Kalian mau ngapain?!”
“Maaf pak, kami pengisi acara di dalam, kami diundang oleh panitia,” sahut kami bersamaan.

Pak satpam sedikit keheranan, “Oh, tidak bisa, kalian tidak boleh lewat sini, harus lewat samping, ini mengganggu pengunjung,” lanjutnya.

Malas ribut, kami pun mengalah. Akhirnya kami masuk lewat pintu samping walau jaraknya agak lebih jauh. Kami letakkan semua perlengkapan kami di belakang panggung. Perlengkapan Trashic kami lumayan banyak, sebut saja panci, ember, botol kaca, jerigen, gentong plastik, dan lain-lain.

Setelah menaruh semua perlengkapan kami di tempatnya, tiba-tiba seorang panitia menghampiri dan menyampaikan kalau waktu tampil kami masih sekitar dua jam lagi alias masih lama. Sebagai anak asrama yang jarang ke mana-mana, maka kesempatan ini tak kami sia-siakan begitu saja, saatnya menjelajah dan berkeliling mall.

Dua jam berlalu, kami kembali ke belakang panggung. Alangkah terkejutnya kami ketika mendapati peralatan kami terisi banyak sekali sampah di dalamnya. Kemudian kami melihat seorang pengunjung melintas sembari membuang sampahnya di perlengkapan kami. Ooh kami paham, ternyata perlengkapan manggung kami dikira tong sampah oleh mereka. Emosi? Jelas, but whatever, sebentar lagi mereka akan melihat penampilan kami.

Kami lumayan terkejut karena panggung tempat kami tampil berada di tengah-tengah mall. Akhirnya waktu kami tampil tiba, awalnya deg-degan, namun karena kami sangat percaya diri maka hilang semua deg-degan yang menghinggapi diri ini. Tak dinyana banyak pengunjung yang menghentikan langkah mereka untuk menyaksikan kami, sekarang kami  menjadi pusat perhatian. Dengan senyum sangat merekah kami tampil dengan penuh semangat membara. Bidikan kamera hape tak henti-hentinya mengarah pada kami, tepuk tangan meriah seperti tak putus diberikan untuk kami, benar-benar pengalaman yang menyenangkan.

Penampilan kami pun selesai. Setelah berbenah, kami lambaikan tangan pada pak satpam yang pagi tadi menghentikkan langkah kami.

f01

Ruang Inspirasi, Celebrity Chef, dan Ledakan Inspirasi

f01

 

“Kriiing… kriiing…”

Suara bel yang cempreng dan memekakkan telinga terdengar keseluruh penjuru sekolah. Tak lama berselang terdengar pengumuman: “Assalamualaikum, kepada seluruh kelas 10 diharapkan untuk segera menuju ke Aula SMART. Sekali lagi kepada seluruh kelas 10 diharapkan segera menuju Aula SMART”. Kami yang sedari tadi berada di selasar sekolah tetiba tersadar kalau ada acara Ruang Inspirasi di aula siang itu. Namun suara pengumuman tampaknya belum cukup membuat kami beranjak menuju aula, hingga kak Akhie, Markom Dompet Dhuafa Pendidikan, harus menyusul beberapa dari kami dan menggiring kami ke sana.

 

f02

 

Aula terlihat lengang. Namun menurut mbak Eni, panitia Ruang Inspirasi, pembicara yang ditunggu sudah datang. Saat itu juga kami putuskan untuk mencari tempat duduk ternyaman sambil bersenda gurau. Siang itu kami tak belajar seperti biasa Sob, “kok bisa?” Bisa karena pak Juli, Kepala Sekolah kami, memberi lampu hijau agar kami mengikuti acara Ruang Inspirasi *terima kasih pak Juli*, dan menurut kabar burung ternyata secara eksklusif kakak-kakak Komunitas Filantropi Pendidikan (KFP) mengundang kami untuk datang ke acara Ruang Inspirasi yang diadakan di Aula SMART mulai pukul 13.00 WIB hingga lepas Ashar tersebut. Waw kami merasa tersanjung. Pasti ada darimu yang bertanya-tanya: “Kok kelas 10 saja yang terpilih?” Iya karena kelas 11 sedang sibuk mempersiapkan SBMPTN, kelas 9 sibuk Ujian Sekolah, dan adik-adik kelas kami lainnya tak jauh berbeda. Begitu Sob. Oh iya sekadar informasi untuk kalian, Ruang Inspirasi sendiri merupakan acara yang rutin dihelat KFP sebagai bagian dari pengembangan diri baik untuk siswa SMART Ekselensia Indonesia maupun pelajar lain di luar sana, biasanya kakak-kakak KFP mengundang nara sumber dengan profesi keren dan mau berbagi pengalaman mumpuni mereka agar kami terinspirasi dan makin kuat berjuang gapai mimpi.

 

f03 f03a

 

Detik berubah menit yang ditunggu akhirnya masuk ke aula juga. Awalnya kami tak tahu siapa gerangan sang pembicara, tapi wajahnya nampak familiar. Penampilannya anak muda banget, gaul, dan pembawaannya sangat tenang. Setelah diperkenalkan baru kami ngeh jika yang berdiri dihadapan kami ini seorang Celebrity Chef bernama Ari Galih Gumilang. Beberapa dari kalian mungkin sudah akrab dengan wajahnya yang selalu hadir menyapa di acara Harmoni Alam & Rahasia Dapur Nenek di TRANS TV. Selain menjadi host memasak di TRANS TV, kemampuan Chef Galih juga bisa kamu saksikan di channel YouTube Kokiku TV. Selama melakukan presentasi Chef Galih memaparkan perjuangannya menjadi seorang Celebrity Chef hingga seperti sekarang. Hwala ternyata tidak mudah Sob, pahit getir ia rasakan ketika terlunta di negeri orang namun harus tetap bertahan agar bisa hidup. Ia juga bercerita seputar pengalamannya selama berkuliah di Australia hingga perjuangan mengejar mimpinya, kami semua bengong dan hanya bisa memerhatikannya dengan tatapan kagum, ternyata dibalik kesuksesan seorang chef ada perjuangan dan juga pembelajaran tanpa henti. Ketika sesi tanya jawab berlangsung banyak diantara kami yang melayangkan pertanyaan seputar menggapai impian, dan jawaban sang chef membuat kami tertegun.

 

f04

 

“Yang pasti kalian harus memiliki tekad, keyakinan, dan punya semangat juang tinggi untuk mewujudkan mimpi-mimpi kalian. Jangan takut, ikuti passion kalian,” ujarnya penuh semangat. Ucapan Chef Galih akan kami tanam baik-baik sebagai bekal lepas SMA nanti.

 

f05 f06

 

Di dalam pikiran kami, yang namanya pesohor pasti memiliki kepribadian yang ehem khas pesohor (baca: sombong), dan kami salah. Chef Galih ternyata ramah dan membumi sekali, kami bahkan diajaknya untuk belajar memasak Sob. Iya memasak! Setelah sesi di aula selesai, kami keluar ruangan untuk belajar dan memasak bersama. Eh? Masak apa sih? Sore itu kami memasak Makaroni dengan Saus Bechamel. Saus Bechamel alias saus putih merupakan saus dasar ketika kamu ingin membuat pasta atau olahan masakan lainnya, cara membuatnya pun mudah. Nah keseruan selama memasak sangat terasa, kami dan para karyawan Dompet Dhuafa Pendidikan sangat antusias mengikuti jalannya demo memasak dari Celebrity Chef kenamaan. Ini pertama kalinya kami melihat seorang chef unjuk kebolehan, tak heran jika kami agak norak dibuatnya ehehehee. Tanpa segan Chef Galih juga mengajak kami, lebih tepatnya Ghifar, menjadi asistennya. Ia mengajarkan cara memotong yang benar, merajang yang efektif, dan memberi tips serta trik memasak. Setelah masakan jadi ia mempersilakan kami untuk mencicipi. Waaaah hasil masakan seorang ahli memang beda ya Sob, enaaaaaaaak sekali, serasa melayang ketika menyantapnya. Oke ini berlebihan hihi.

 

f07

 

Selama memasak Chef Galih juga mengadakan sesi tantangan, kami ditantang untuk mengemukakan impian kami dan alasannya. Yang berani akan diganjar kesempatan untuk makan bareng Chef Galih. Hening, tak satupun bersuara, keheningan pecah ketika Vikram serta Ghifar berani menerima tantangan sang chef. “Saya ingin menjadi pemilik restoran, walaupun tak bisa memasak namun saya akan berusaha,” tegas Ghifar lantang yang disambut tepuk tangan meriah.

 

f08

 

Berbagi inspirasi sudah, memasak dan makan bersama sudah, menerima tantangan juga sudah. Lalu apalagi? Laluuuu beberapa dari kami ditantang kembali oleh Chef Galih untuk memasak masakan sejenis dari bahan yang masih tersisa Sob, kembali kami jawab tantangan tersebut dengan senang hati. Setelah selesai, Chef Galih menutup kegiatan sore itu dengan ucapan terima kasih lalu kami semua berfoto bersama. Tak lupa kami juga mengucapkan terima kasih pada Chef Galih.

 

f09

 

Ah kami sangat bahagia, sungguh bahagia dan sangat terinspirasi Sob. Cerita, ilmu, dan pengalaman yang Chef Galih beberkan pada kami akan selalu kami patri sampai kapanpun sebagai bekal dikemudian hari. Yang jelas semua hal hebat ini tak kan pernah kami lupakan. Alhamdulillah. Terima kasih kakak-kakak KFP untuk acara kerennya.

 

#SMARTSemangat

catur

From Nothing to Something

Muhammad Fatih Daffa’ siswa SMART Ekselensia Indonesia angkatan ke-8 yang berasal dari daerah Lumajang, Jawa Timur. Remaja yang akrab disapa Fatih ini merupakan siswa panutan adik kelas dan rekan-rekannya, karena  karakter dan kecerdasannya. Remaja yang ramah, dan rendah hati (hummble), mempunyai cita-cita kelak menjadi seorang ulama saintis. Dia mengagumi sosok kepribadian, leadership dan kecerdasan  Presiden RI ketiga, yaitu Dr. Ing BJ Habibie dan ulama besar nan kharismatik Imam Syafi’ie. Tokoh idolanya ini sangat mempengaruhi motivasinya untuk berkiprah baik di asrama maupun di sekolah.

Putra ke-4 dari 9 bersaudara yang dibesarkan oleh seorang Ibu yang berprofesi sebagai tukang jahit dan ayah sebagai pegiat sosial di lingkungan desa tempat tinggalnya, telah tumbuh dan  bermetamorfosa menjadi seorang calon generasi penerus bangsa Indonesia yang mempunyai karakter dan kompetensi. Remaja yang hobi membaca segala jenis buku serta piawai dalam menulis juga terlatih dalam bermain musik, bernyanyi (Nasyid) dan juga gemar menghafal Al-Qur’an . Selama mengenyam pendidikan di SMART telah banyak tinta prestasi yang sudah ditorehkan, baik dalam bidang akademik maupun non akademik, diantaranya meraih merit award (penghargaan  untuk 5 besar)  bidang matematika di Singapura dan tampil mendendangkan lagu bernafaskan Islam di MNC TV secara live.

Selain Fatih, ada alumni SMART Ekselensia Indonesia lainnya yang telah bermetamorfosa, yaitu Nurkholis yang berasal dari Waingapu Nusa Tenggara Timur. Pasca dari SMART Ekselensia Indonesia, Nurkholis diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesai (FK-UI) melalui jalur tanpa tes (SNMPTN) dan saat ini sedang menempuh semester ke-7.  Kholis – begitu sapaan akrabnya, tinggal di Dusun Manubara, Waingapu, Sumba Timur NTT. Nurkholis dididik dan tumbuh dalam sebuah keluarga sederhana, ayahnya  sebagai penjual kue.

Kedua remaja tersebut mengalami metamorfosa dan transformasi  setelah dididik dan dibimbing dalam sebuah sekolah inkubator SMART Ekselensia Indonesia. Fatih dan Kholis  tumbuh dan berkembang sebagai pembelajar sejati dan perubahan nyata baik dari karakter maupun kompetensinya. SMART Ekselensia Indonesia  telah mengubah anak seorang pegiat sosial dan penjual gorengan yang awalnya selalu merasa minder (inferior) menjadi pribadi yang percaya diri, multi talent, pengetahuan  keagamaan lebih mendalam,  leadership, rajin menghafal Al-Qur’an dan baca Hadits. Di  asrama mereka belajar tentang, kemandirian,  kebersihan, peduli terhadap sesama, soft skill (public speaking, debate, adab) dan hard skill (menjahit, berkebun, wirausaha), dan empati.

Dua kisah diatas menggambarkan bagaimana sekolah SMART Ekselensia Indonesia berkomitmen untuk mengubah mindset dan metamorfosa siswa from nothing to something sesuai dengan bakat dan minatnya menjadi lebih produktif dan kontributif. Komitmen itu tercantum dalam sebuah misi yaitu melahirkan lulusan yang berkepribadian Islam, berjiwa pemimpin, mandiri, berprestasi, dan berdaya guna. Komitmen tersebut di support oleh ketulusan guru-guru yang mempunyai kompetensi (kreatif, inovatif), karakter, memahami dunia remaja (parenting) dan juga harus memahami tumbuh kembang anak, sehingga bisa menemukenali minat dan bakat anak.

SMART Ekselensia Indonesia merupakan sekolah bebas biaya, berasrama dan akselerasi ( SMP & SMA 5 tahun ) pertama di Indonesia. Diresmikan pada 29 Juli 2004 dengan lokasi di Jalan Raya Parung KM 42-Bogor, Jawa Barat. Sekolah ini merupakan salah satu organ yayasan  pendidikan Dompet Dhuafa, yang merupakan sekolah menengah setingkat SMP dan SMA khusus bagi siswa laki-laki lulusan Sekolah Dasar atau sederajat  yang memiliki potensi intelektual tinggi namun memiliki keterbatasan finansial. SMART Ekselensia Indonesia selain memperoleh akreditasi A (BNSP) juga sudah bersertifikat ISO 9001 : 2008 sejak 27 Februari 2013 oleh SAI Global.

Untuk menghadapi tantangan global dan program Indonesia Emas 2045,  SMART Ekselensia Indonesia menyadari bahwa tantangan yang dihadapi sangat komplek dan  kompetitif, maka SMART berikhtiar terus memperkuat fondasi dasar dengan menyuguhkan kurikulum sekolah dan asrama yang lebih terintegrasi, agar menghasilkan lulusan yang berkarakter dan kompetensi yang sesuai dengan perkembangan global.

Salah satu ikhtiar untuk meningkatkan kompetensi global, SMART Ekselensia Indonesia menjalin kemitraan  dengan Diaspora E-Class – Indonesia Diaspora  Network (IDN) dalam bentuk program “Diaspora Online Conversation Class”,  dimana dalam program ini siswa SMART Ekselensia Indonesia belajar bahasa Inggris secara virtual via skype dengan Mahasiswa/i yang ada di Eropa, Amerika, Timur Tengah, Asia Tenggara dan Australia. Jalinan kemitraan lainnya dengan Queen Marry, Jepang dalam program ini siswa SMART Ekselensia Indonesia belajar bahasa Jepang secara virtual via skype.

Selain itu, reliability merupakan salah satu dimensi kualitas SMART yang harus didukung dengan kurikulum  komprehensif yang memadukan sistem pendidikan sekolah dan sistem pendidikan asrama (internat/boarding school). Kurikulum menjadi panglima yang menjadi pedoman yang mengarahkan pembentukan siswa yang berkarakter, berjiwa pemimpin,  mandiri,  berprestasi, dan berdaya guna. Sistem active learning  yang diterapkan dalam setiap pembelajaran dan  didukung dengan  suasana belajar yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAIKEM) dan moving class, sehingga mampu menjaga tradisi lulusannya diterima 100% di PTN terakreditasi A. [MS]

1

UN 2016. SMART SEMANGAT!

 

1

Perasaan baru kemarin kami melaksanakan sidang Karya Ilmiah Siswa SMART (KAISS), eh tetiba Ujian Nasional (UN) 2016 sudah datang saja Sob. Yang jelas kami telah mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan ujian yang –katanya- menentukan nasib kami di masa depan.

2

Dari sebelum UN kami sibuk belajar, belajar, istirahat, belajar, dan belajar. Kelihatannya belajar melulu ya? Padahal nggak kok Sob, ada waktu di mana kami bisa santai, bahkan mungkin terlalu santai hehe. Mulai Senin (04/04) hingga saat ini kami sedang berjuang dan bertarung dengan soal-soal dan mata pelajaran yang menentukan kelulusan kami. Keheningan jelas menyelimuti SMART EI, karena selama kelas 12 melaksanakan UN kelas di bawahnya (kelas 7, 8, 10) juga sedang melaksanakan UTS, dan untuk menghormati kakak-kakak kelas yang sedang UN dan agar tidak menganggu jalannya UN para adik kelas dilarang ke kelas yang berada di lantai dua SMART EI.

3

4

Ada ritual yang selalu kami lakukan sebelum masuk kelas untuk melaksanakan UN Sob. Pukul 06.30 WIB kami sudah berkumpul di masjid untuk melaksanakan Shalat Dhuha agar hati lebih tenang, sekaligus meminta kemudahan ketika mengerjakan soal yang diujikan. Setelahnya kami berkumpul untuk doa bersama yang dipimpin langsung oleh pak Juli, Kepala Sekolah kami. Ketika dirasa cukup dan hati kami sudah lebih tenang kami baru diizinkan masuk ke kelas.

5

6

6a

Tahukah kamu Sob kalau tiap tahunnya SMART EI –Alhamdulillah- berhasil meluluskan semua muridnya dan rata-rata semuanya diterima 100% di PTN!  Oleh karenanya banyak pihak yakin kalau UN tahun ini SMART EI akan mampu meluluskan semua siswa-siswanya dan yakin 100% akan masuk PTN favorit mereka. Oh iya untuk kalian yang masih bingung dan bertanya-tanya: “Apa sih UN?” akan kami jelaskan sedikit nih, Ujian Nasional atau UN merupakan sistem evaluasi standar pendidikan dasar dan menengah secara nasional dan persamaan mutu tingkat pendidikan antar daerah yang dilakukan oleh Pusat Penilaian Pendidikan, Depdiknas berdasarkan UU No. 20 Tahun 2003. Nah kehadiran UN pernah menjadi momok karena beberapa tahun silam banyak sekolah yang gagal meluluskan murid-murid mereka, syukurlah sekarang sistemnya menjadi sedikit jauh lebih baik sehingga tingkat kelulusan tak seburuk tahun sebelumnya. UN tahun ini alih-alih menggunakan Computer Based Test (CBT) sekolah kami menggunakan Paper Based Test (PBT) Sob, UN sendiri dilaksanakan selama 3 hari dari tanggal 4 sampai 6 April 2016.

7

“Jujur deg-degan banget, tapi karena sudah belajar dan yakin banget pasti bisa, jadinya tak khawatir lagi. Bismillah aja pokoknya,” ujar Ihda harap-harap cemas.

8

Ada 38 kakak kelas kami yang mengikuti UN, 15 dari kelas IPA dan 17 dari kelas IPS. Selama tiga hari mereka akan berjuang menyelesaikan mata pelajaran yang  di-UN-kan. Untuk mata pelajaran yang diujikan sendiri antara lain Bahasa Indonesia, Kimia, Matematika, Biologi, Bahasa Inggris, dan Fisika untuk mereka yang mengambil jurusan IPA. Bahasa Indonesia, Geografi, Matematika, Sosiologi, Bahasa Inggris, dan Ekonomi untuk mereka yang mengambil jurusan IPS.

Sekadar informasi untukmu Sob, setiap tahunnya banyak juga lho teman-teman kita yang stres menjelang dan saat UN tiba, pun kami merasakan hal yang sama. Selain -mungkin- karena kurangnya kesiapan, bisa juga karena standar yang dipatok lumayan tinggi. Nah kami ada beberapa tips nih untuk kalian agar tidak stres menghadapi UN tahun depan. Yang pertama, kamu harus siap lahir batin! Jangan anggap UN sebagai sesuatu yang menakutkan, anggap saja ulangan biasa dengan soal yang lebih menantang. Kedua, persiapkan mental dan diri sebaik mungkin, karena yang tahu kapasitasmu kan hanya kamu. Ketiga, banyak-banyak berdoa karena kekuatan doa itu maha dahsyat. Keempat, jangan lupa sarapan sebelum ke sekolah, karena sarapan terbukti mampu menambah daya konsentrasi. Kelima, percaya diri dan jangan pernah menyontek! Keenam, kerjakan soal yang menurut kamu paling mudah. Ketujuh, jangan lupa bawa peralatan ujian sendiri, jadi kamu tidak ganggu konsentrasi temanmu yang lain. Semoga tips tersebut membantu kamu ya.

9

Kami mohon doamu ya Sob, semoga kakak-kakak kelas kami bisa mengerjakan soal dengan baik, mendapatkan nilai yang baik, dan bisa masuk PTN yang mereka inginkan. Kami juga mendoakan agar kalian semua juga lulus dengan nilai terbaik aamiin! Doakan kami juga ya Sobat SMART!

#SMARTSemangat #INSIGHTHebat

guruu

Labelling

Oleh: Ana Mariana Mujahid

 

Pada suatu hari Thomas Alva Edison pulang ke rumah dan memberikan sepucuk surat kepada mamanya. Ia berkata “Guru saya memberikan surat ini pada saya dan berpesan agar surat ini hanya diberikan pada mama.”

Dengan airmata berlinang, sang ibu membacakan isi surat tersebut “Anakmu terlalu jenius, sekolah ini terlalu sederhana dan tidak memiliki cukup guru yang baik untuk melatih dia. Ajarilah dia secara langsung.”

Tahun demi tahun berlalu, mama dari Thomas Alva Edison pun sudah meninggal. Ia sekarang sudah menjadi penemu terhebat sepanjang sejarah.

Suatu ketika dia menemukan surat yang dulu dikirim oleh gurunya di laci meja mamanya. Dia membuka dan membacanya. “Anakmu punya masalah. Ia sangat bodoh. Kami tidak mengizinkan lagi untuk datang ke sekolah ini selamanya.”

Edison menangis berjam-jam dan menulis ini di buku hariannya. “Thomas Alva Edison adalah anak gila yang oleh seorang pahlawan yaitu mama saya, diubahnya menjadi yang paling jenius sepanjang abad.

Terlepas dari akurat atau tidaknya cerita yang saya dapatkan dari media sosial di atas, isi ceritanya mengingatkan saya pada istilah labelling. Tidak jarang saya mendengar ungkapan-ungkapan “kamu, nakal sekali sih!” “bodoh, begitu saja tidak bisa”, “dasar pemalas!” dsb, baik itu dari orang tua, guru ataupun teman sebaya. Nakal, bodoh, malas bisa dikategorikan sebagai bentuk labelling atau pemberian cap terhadap seseorang atau sesuatu.

Menurut kamus Merriam-Webster, label adalah deskripsi atau identifikasi melalui kata atau frase. Label diberikan kepada anak atau seseorang untuk mendeskripsikan beberapa perilaku yang dimilikinya. Sebagai contoh, menyebutkan seseorang yang telah melanggar hukum sebagai seorang kriminal. Anak yang mendapatkan nilai jelek di sekolah disebut sebagai anak bodoh, anak yang sering mengganggu temannya disebut sebagai anak nakal. Atau anak yang tidak mengumpulkan PR disebut pemalas dll.

Dalam teori psikologi sosial, labelling adalah menetapkan atau menggambarkan seseorang dalam hal-hal yang berhubungan dengan perilakunya. Menurut A handbook for The Study of Mental Health, label adalah definisi yang ketika diberikan pada seseorang menjadi identitas diri orang tersebut dan menjelaskan tentang tipe bagaimanakah seseorang itu. Terkadang yang menjadi masalah adalah dengan memberikan label pada seseorang, kita cenderung melihat label tersebut sebagai gambaran keseluruhan, bukan gambaran perilakunya satu per satu.

Labelling ada dua macam, label negatif dan label positif. Menurut Mary Sheedy Kurcinka, penulis buku Raising Your Spirited Child (Harper Collins, 1992), label negatif dapat membuat anak kesulitan membangun self-esteem yang baik. Kurcinka berpendapat labelling tidak hanya berpengaruh terhadap perilaku anak tetapi juga terhadap perlakuan orang tua atau orang-orang di lingkungan anak itu sendiri. Orang tua yang menggunakan kata positif daripada label negatif cenderung bertindak kepada anaknya dengan perilaku dan penghargaan yang lebih baik (http://ruangpsikologi.com/topic/labeling-pada-anak/).

Hal ini juga berlaku pada seorang pendidik (guru). Seperti cerita Thomas Alva Edison di atas yang terlanjur di cap bodoh oleh gurunya karena kerap tertinggal dalam pelajaran, padahal sebenarnya Edison tidak bodoh. Namun di tangan yang tepat, yakni ibunya yang justru memberi label positif pada anaknya, Edison menjadi penemu terbesar sepanjang sejarah dengan 1093 hak paten.

Dalam makalah HERLINA/LABELING_DAN_PERKEMBANGAN_ANAK-salman.pdf. Labelling negatif memberikan dampak melalui tiga cara. Pertama, melalui self labelling (self concept). Menurut Sigmund Freud konsep diri berkembang melalui pengalaman. Terutama perlakuan orang lain terhadap diri sendiri secara berulang-ulang. Dengan menerima label “nakal” dari orang lain, maka dalam diri anak akan terbentuk konsep bahwa dirinya adalah seorang anak yang nakal. Dan anak akan mengukuhkan konsep tersebut dengan menampilkan perilaku tertentu yang menurut anggapan umum disebut perilaku anak nakal.

Kedua, melalui persepsi orang dewasa terhadap anak. Persepsi yang berupa, apapun yang anak nakal lakukan pastilah negatif. Walaupun anak berusaha menampilkan perilaku positif , namun dianggap ada niat tersembunyi, atau persepsi “pasti ada maunya nih”, atau “ah paling cuma hari ini dia begitu, besok pasti sudah nakal lagi” sehingga tidak diapresiasi oleh orang dewasa. Hal ini bisa membuat anak frustasi dan tidak mau mengulangi perilaku baiknya.

Ketiga, melalui perilaku orang dewasa terhadap anak. Orang dewasa yang sudah menganggap atau melabel anak negatif, tidak memberikan peluang pada anak untuk berubah. Misalnya dengan ungkapan “sudahlah tidak usah dinasihati lagi, buang waktu saja. Anak itu memang nakal, dan tidak akan berubah.” Akibatnya anak makin tidak tahu mana perilaku yang bisa diterima masyarakat dan terus berperilaku negatif.

Sebagai seorang pendidik sudah menjadi sebuah tanggungjawab untuk mendidik anak menjadi orang yang baik, memiliki masa depan cerah dan mengembangkan bakat serta potensi yang dimiliki oleh anak didik agar bisa bermanfaat bukan hanya untuk dirinya tapi juga untuk masyarakat. Dalam teori psikososial, erikson mengatakan bahwa dalam diri individu ada dua kutub yang akan berkembang pada setiap tahap perkembangan anak, yaitu kutub positif dan kutub negatif. Kutub mana yang akan berkembang sangat tergantung dari stimulasi lingkungan yang diterimanya. Bila lingkungan memberikan stimulasi yang negatif seperti pemberian label negatif maka kutub negatiflah yang akan berkembang, begitu pula sebaliknya. Perkataan yang buruk dapat merusak moral dan mental seseorang. Perkataan yang baik dapat memotivasi seseorang untuk menjadi yang terbaik.

Ada beberapa cara yang berupa stimulasi positif dalam mendidik anak yang bisa dilakukan baik oleh orang tua maupun guru, diantaranya; memberi atau memanggil dengan nama atau julukan yang baik. Memberikan respon yang spesifik, maksudnya berikan respon terhadap perilaku anak bukan pada kepribadiannya. Memberikan pujian dan hukuman secara tepat. Jangan berlebih dan jangan kurang, berikan pujian dan hukuman jika anak menunjukkan perilaku yang diinginkan atau tidak diinginkan. Pujian dan hukuman pun harus disesuaikan dengan usia dan jenis kelamin anak, misalkan anak laki-laki usia dua tahun akan senang jika diberi permen beda halnya dengan anak usia 12 tahun yang lebih suka jika diberi tas baru daripada permen.

Berikutnya adalah konsisten dalam memberikan pujian ataupun hukuman karena inkonsisteni malah akan membuat anak bingung menentukan perilaku yang harus dilakukan dan terakhir jangan lupa untuk memberikan pemahaman mana yang boleh dilakukan dana mana yang tidak boleh dilakukan.

Terakhir saya tutup dengan mengutip kata-kata dari Lawrence G lovasik “if you cannot do a kind deed, speak a kind word. If you cannot speak a kind word think a kind thought.”

 

Semoga bermanfaat.