smartwisuda

Akhirnya Kami Lulus!

Kemarin malam (27/05) kami, Angkatan 8, mengadakan acara kumpul untuk terakhir kalinya. Suasana mendung, semua seperti dirundung murung. Mungkin karena nanti setelah lulus kami akan sulit untuk sekadar berkumpul atau bercengkrama seperti dulu. Mengingat itu sedih rasanya, tapi apa mau dikata, memang fasenya seperti itu kan? Malam itu banyak hal kami bicarakan, mulai dari yang sedih sampai menyenangkan. Lalu tiba-tiba kami teringat kalau pakaian wisuda kami belum disetrika, dan kami seperti lupa kalau besok ternyata…. wisuda.

Mari menyetrika, lalu istirahat….

Udara hari ini (28/05) terasa menusuk, dingin dan enak untuk menarik selimut kembali, bahkan sampai membuat mata kami seolah tak mau berkompromi, mungkin karena semalam kami tidur terlalu larut. Namun semangat kami untuk melaksanakan prosesi wisuda mengalahkan itu semua, dengan semangat super akhirnya kami bergegas mandi, memakai pakaian wisuda yang sudah licin disetrika, lalu ramai-ramai menuju Kelas Kimia untuk mengambil toga. Di Kelas Kimia bu Dina sudah menanti kami, mengingatkan agar kami jangan sampai terlambat. Ah segera saja kami memakai toga dan sedikit wefie di sana sini hehe lalu meluncur ke tenda besar tempat dilaksanakannya wisuda. Sesampainya di sana ternyata acara intinya belum dimulai dan kami harus menunggu selama beberapa menit, banyak dari kami yang mengeluh kepanasan karena tebalnya baju wisuda, tapi yasudahlah yang penting hari ini hari besar untuk kami.

Wisuda 16

Akhirnya kami dipanggil masuk ke dalam ruangan wisuda, beberapa dari kami mulai menitikkan air mata ketika lagu Gaudeamus Igitur dan Mars SMART dikumandangkan. 5 tahun, sungguh tak terasa. Rasanya baru kemarin kami ribut masalah sepele, menangis bersama-sama kerena rindu orang tua, dan melakukan kegiatan bersama-sama. Sekarang kami harus berhadapan dengan bab baru dalam hidup kami, bab kelulusan. Sedih, namun kami kuat. Berjauhan dengan orang tua dan saudara dalam waktu 5 tahun membuat kami semua terlatih menghadapi kesedihan, walau akhirnya air mata pasti akan tumpah juga.

Wisuda 13

Oke balik ke prosesi wisuda ya. Mengusung tema ‘Membentang Kebaikan, Menggapai Harapan, Melukis Masa Depan’ di wisuda Angkatan 8 ini banyak hal istimewa kami dapatkan. Seperti misalnya wejangan dan pembelajaran menjadi pribadi sukses dari pak Sendy Aditya Kamesvara, Marketing & Operation Director PT. Metra Digital Media by Telkom Indonesia, menurutnya yang penting dalam hidup itu perjuangan dan keinginan sungguh-sungguh untuk menggapai mimpi yang kita punya, tanpa itu semua maka mimpi kita hanya akan jadi bualan semata. Selain pak Sendy ada juga ibu Sri Nurhidayah, GM Divisi Pendidikan Dompet Dhuafa yang membesarkan hati kami semua agar tidak minder dengan keadaan karena yang terpenting adalah bagaimana kela bisa sukses dan bermanfaat luas bagi orang lain. Wah pokoknya dua pembicara keren ini sungguh membuat kami merinding dan makin semangat untuk menggapai yang kami cita-citakan. Pun di prosesi wisuda tahun ini kami juga bisa melihat kemajuan adik-adik kelas kami yang tergabung dalam Tim Ansamble, Tari Saman, dan juga Paduan Suara. Sekarang mereka hebat-hebat, musikalitas dan harmonisasi gerakan mereka juga lebih selaras, kerenlah.

Wisuda 2

Wisuda 3

Wisuda 4

Wisuda 6

Wisuda 7

Wisuda 9

Sesi demi sesi berlalu, sampailah kami di sesi di mana kami resmi menjadi alumni SMART Ekselensia Indonesia, sesi pengalungan dan pemberian sertifikat selama belajar di sini. Satu per satu nama kami dipanggil, satu per satu tali topi toga kami dipindah, senang dan sumringah terpancar di raut wajah kami. Jelas kami senang karena akhirnya bisa menamatkan pendidikan tingkat sekolah menengah dengan hasil yang baik, tak ada yang lebih menyenangkan dari itu. Setelah semua nama dipanggil, setelah kami semua duduk di bangku masing-masing, tak dinyana ternyata ada pengumuman tambahan, pengumuman wisudawan terbaik. Dag dig dug dag dig dug kami menerka-nerka kira-kira siapa yang berhasil menyabet gelar bergensi tersebut. Wisudawan terbaik merupakan gelar yang diberikan pada siswa terbaik selama belajar di SMART dalam kurun waktu lima tahun, penilaiannya sendiri dilakukan oleh para guru dan juga guru di asrama. Kami masih menanti, menanti dan menanti. Hingga akhirnya nama Muhammad Fatih Daffa terucap dari mulut pak July, Kepala Sekolah kami, sorak sorai sontak memenuhi ruangan karena Fatih memang selama ini dikenal menjadi siswa yang selalu di depan. Karena Fatih terpilih menjadi wisudawan terbaik maka ada dua tugas menanti Fatih di atas panggung, serah terima kendi ilmu pada adik kelas kami di Angkatan 13 –yang baru akan mulai belajar selepas Lebaran nanti- dan pembacaan ikrar alumni. Alhamdulillah semua dilakukan Fatih dengan baik.  Tak ketinggalan pada kesempatan tadi 11 orang yang berhasil lolos SNMPTN juga mendapatkan sesinya sendiri.

Wisuda 15

Wisuda 14

Wisuda 12

Oh iya seperti wisuda tahun-tahun sebelumnya alumni SMART dari berbagai angkatan pasti datang. Namun pada kesempatan kali ini agak berbeda karena salah satu alumni SMART, panggil saja ia kak Ama, yang saat ini sedang mengambil S2 di ITB memaparkan tentang IKA SMART Ekselensia Indonesia alias Ikatan Keluarga Alumni SMART Ekselensia Indonesia. Jadi IKA SMART Ekselensia Indonesia merupakan wadah bagi semua alumni SMART, para alumni akan ditempatkan dalam satu “rumah”, nah ada beberapa ketentuan yang harus diikuti para alumni agar hubungan mereka kian erat. Eh ternyata baru sadar kalau kami saat ini telah resmi menjadi alumni SMART. Bikin baper sih.

Wisuda 11

Setelah melewati beberapa sesi yang agak membosankan, sampailah kami dipenghujung acara, lebih tepatnya acara puncak. Di acara puncak ini para tamu undangan kami “paksa” menyaksikan video angkatan kami, syukurlah hasilnya melegakan karena banyak dari mereka yang terpingkal-pingkal. Sebelum video berakhir teman kami membawakan teatrikal puisi yang mampu menyihir tamu undangan yang datang dan membuat guru kami menangis. Tangisan makin banyak terlihat ketika kami yang ber-32 tampil menyanyikan lagu untuk guru kami tersayang, usai menyanyikan lagu kami semua meminta maaf pada mereka dengan berderai air mata. Berat rasanya meninggalkan SMART, berat rasanya meninggalkan kenangan indah selama lima tahun bersama, berat rasanya melupakan semua hal indah indah ketika kami di sini. Berat sekali *baper lagi deh.

Wisuda 8

Tak ada kata yang bisa kami ucapkan selain terima kasih, ini bukanlah perpisahan hanya sebuah pertemuan kembali yang tertunda. Terima kasih SMART atas pengalaman lima tahun yang tak terlupakkan.

 

KAMI SUDAH LULUS! DUNIA KAMPUS TUNGGU KAMI!

 

DSC_0167

Titian Tangga Asrama

Oleh: Andrian Eka Wijaya.

Kelas 5 Jurusan IPA Angkatan 8.

 

Assalamualaikum Wr. Wb.

DSC_0167Pertama, saya ingin berterima kasih pada Allah SWT. Kedua, tak lupa shalawat serta salam tetap tercurah pada Nabi Muhammad SAW. Ketiga, pembuka tulisan ini memang aneh tapi bodo amat, ya saya mau cerita tentang kehidupan selama saya hidup di SMART Ekselensia Indonesia atau lebih tepatnya curahan hati yang saya alami selama di SMART Ekselensia Indonesia.

SMART Ekselensia Indonesia. Sekolah berasrama yang ditempuh hanya dalam kurun waktu 5 tahun. Nah diantara kalian siapa coba yang gak tahu asrama? Di SMART kami juga tinggal di asrama lho. Di asrama kami “dipaksa” untuk bisa hidup mandiri dengan sendirinya seperti mencuci baju, piring, beres-beres, dan masih banyak lagi. Hufffft….banyak lah pokoknya. Percaya atau tidak, tapi saya bangga menjadi anak asrama. Kenapa? Karena ternyata anak asrama itu tak seperti anak-anak kebanyakan di luar sana, dengan hidup di asrama mental kami ditempa dari cengeng jadi tidak cengeng, dari malas jadi rajin, dari kotor jadi bersih. Eh tapi yang terakhir cuma pengin pencitraan saja hehe.

Asrama, asrama, asrama. Memang bosan sih hidup di asrama yang kerjaanya ya itu…itu…itu…saja. Mulai dari bangun sampai tidur lagi yang dilihat hanya itu-itu doang shay. Tapi ada satu hal yang saya kagumi dari Asrama SMART. Apa itu? Itu adalah “tangga” kenapa tangga? Karena tangga sudah seperti bagian dari hidup siswa di Asrama SMART. Mulai dari mau berangkat sekolah turun tangga, pulang sekolah naik tangga, mau makan kudu mesti harus lewat tangga, sampe mau tidur pun juga ketemu tangga … huh … bosan. Tapi karena tangga kami jadi kuat karena secara tidak langsung kami berolahraga tiap hari. Karena tangga juga saya jadi yakin kalau cita-cita itu memang harus dikejar, perlahan tapi pasti.

Saya yakin kelak saya dan teman-teman lainnya akan jadi mutiara yang bersinari ketika keluar dari asrama SMART, sehingga nanti kami akan dapat menyinari lingkungan sekiranya dengan cahaya keindahan hahaha… sekian curahan hati saya tentang hidup di Asrama SMART. Terimakasih sudah mau membaca tulisan saya yang singkat padat jelas bermakna.

 

HIDUP ASRAMA!

DSC_0146

Cita-Cita?

Oleh: Afdal Firman.

Kelas 5 Jurusan IPA Angkatan 8.

 

DSC_0146“Apa cita-citamu, Afdal? Tanya ayahku. Pertanyaan itu dilontarkan oleh ayahku lima tahun yang lalu. Lantas aku menjawabnya, “pemain bola professional, yah”. Ia terlihat manggut-manggut seraya bertanya kembali, “memang itu bisa dikatakan cita-cita?” sekenanya aku menjawab, “Cuma itu yang aku tahu yah, dan aku rasa aku bisa bermain bola. Lagipula jadi TNI, dokter, Polisi sudah pasaran yah”. Ayahku termangu mendengar jawabanku, tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya setelah itu. Ada jeda panjang yang membuat suasana tak mengenakkan kala itu.

Dulu mungkin aku tidak tahu kenapa ayah menanyakan cita-cita kepadaku, tapi sekarang aku tahu jawabannya. Tak ubahnya seorang guru, ayahku merupakan orang pertama yang ingin melihat anaknya sukses. Begitu pun ibuku.

Ketika itu aku ingin masuk SSB selepas SD, namun sekolah menawarkan beasiswa SMART padaku. Dengan restu orang tua aku mengikuti tes beasiswa tersebut. Selepas tes aku yakin sekali tidak lulus. Banyak sekali kotak jawaban yang kosong. Lalu aku berpikir mungkin menjadi pesepakbola merupakan pilihan yang tepat, oleh karenanya aku aku meminta kepada ayahku untuk dibelikan sepatu bola. Setelah sekian lama nego akhirnya ayah membelikanku sepatu bola. “Nih Dal sepatu bolanya. Besok daftarnya ayah temanin,” ucap ayahku. Ucapannya membuat hatiku senang, namun kesenangan itu tak bertahan lama, rasa bahagia itu digantikan rasa sedih yang menggelora. Namun ini bukan sedih pada umumnya, rasa sedih ini merupakan ungkapan kebahagiaan yang tidak dapat digambarkan.

Aku lulus seleksi beasiswa SMART, yap aku lulus, hilang sudah perbendaharaan kata-kataku setelah melihat pengumuman itu. Sebentar lagi aku akan berpisah dengan mereka yang kucintai. Cita-citaku kukubur, sepatu itu? Sepatu itu hanya kutaruh di dapur. Sedih, namun orang tuaku selalu punya obat untuk kesedihanku. “Ingat ketika dulu ayah bertanya tentang cita-cita?” Tanya ayahku seraya meredakan suasana hatiku. “Ya ayah,” jawabku singkat. “Sebagaimana darah Minang mengalir dalam tubuhku, aku ingin menjadi pengusaha,” jawabku sekenanya lagi. Berbinar mata ayahku mendengar kata-kata tersebut. Tentu ayahku senang karena anak-anaknya memiliki cita-cita yang jelas. Menurut ayahku, cita-cita yang tak jelas. SMART serasa menjawab semuanya.

Sekarang aku diambang pintu untuk memulai perjalanan mencari perwujudan cita-citaku. Tak terasa 5 tahun ditempa di kawah candradimuka SMART Ekselensia Indonesia telah kulewati segala prosesnya dengan caraku sendiri. Cita-cita yang kubanggakan dulu benar-benar telah kukubur untuk selamanya. Kini udara terasa sangat sejuk untuk kuhirup. Sebentar lagi aku akan melihat wajah bahagia orangtuaku. Yang dulu teramat sulit untuk menemukannya. Namun pada saat harinya tiba, wajah bahagia itu akan sangat mudah ditemukan. Semudah membalik telapak tangan

Ke mana sekarang?

Mengejar perwujudan cita-citaku!!!

 

Bogor, 26 Mei 2016

2015-07-04-22-16-37_deco-01

KAISS “Sang Penentu”

2015-07-04-22-16-37_deco-01

Oleh: Muhibuddin

Kelas 5 Jurusan IPA Angkatan 8

 

Yang namanya tugas akhir pasti selalu diidentikkan dengan skripsi atau tesis dan biasanya dilakukan oleh mahasiswa yang akan menyelesaikan pendidikan sarjana atau masternya. Tapi kalau di SMART Ekselensia Indonesia jelas berbeda, tugas akhir  berlaku untuk para siswa kelas 5 (setara kelas 3 SMA di sekolah lain) yang akan menyelesaikan jenjang sekolah menengah atas mereka di sini. Memang tak serupa skripsi atau tesis sih melainkan lebih kepada karya ilmiah yang biasa kami sebut Karya Ilmiah Siswa SMART (KAISS). Mungkin ini hanya karya ilmiah, tetapi harga yang harus dibayar setara dengan skripsi dan tesis, yakni kelulusan.

Sayang, tidak semua siswa menganggap serius KAISS sejak awal, ada yang masih bercanda dan santai-santai. Sedangkan siswa yang serius menganggap KAISS harus diselesaikan segera; mereka mulai mengajukan judul, bimbingan dan lain-lain. Tidak semua berjalan sesuai yang diharapkan, ada yang tidak diterima judulnya, ada yang kebingungan harus mulai dari mana, bahkan ada yang harus berganti judul di tengah jalan karena ada beberapa masalah.

Saya Muhib, salah satu siswa yang baru saja menyelesaikan hal  mengerikan di atas. Mengerikan? Ya, memang mengerikan. Untuk mengajukan judul saja banyak pertimbangan, harus ini lah harus itu lah, katanya sih kalau sudah bisa membuat KAISS nanti ketika berkuliah akan mudah membuat karya ilmiah. Saya akui memang tidak mudah menyelesaikan KAISS, banyak keterbatasan karena di sini kami berasrama dan fasilitas terbatas, oh iya juga sering tersandung karena keterbatasan dana. Ada yang menikmati dan ada juga yang terus mengeluh mengerjakan ini semua, kalau saya happy happy saja. Ketika sidang KAISS berlangsung ada yang berjalan lancar, ada juga yang melalui banyak hambatan di sana sini, tapi Alhamdulillah kalau saya termasuk yang dimudahkan.

Pesan saya untuk adik-adik kelas, ada baiknya semua yang kalian ingin teliti dikonsep dari sekarang dan jangan menunda-nunda. Kumpulkan data sebaik-baiknya, jangan hanya terpaku pada informasi daring di laman web karena referensi dari buku lebih menunjang untuk sebuah karya tulis karena dapat dipertanggungjawabkan. Satu hal yang pasti, nikmati saja semua prosesnya. Jatuh bangun ketika membuat KAISS anggap saja sebagai bumbu penyedap, kalau jatuh ya bangun lagi, tak perlu takut.

snbfullnew

Pengumuman Seleksi Nasional Beasiswa (SNB) SMART Ekselensia Indonesia

Selamat kepada para siswa yang telah lolos seleksi. Semoga SMART Ekselensia Indonesia menjadi jalan sukses meraih mimpi di masa depan. SMART Ekselensia Indonesia adalah sekolah menengah berasrama, bebas biaya, berakselerasi (5 tahun SMP-SMA), dan terakreditasi A, didedikasikan untuk anak-anak dhuafa berprestasi dari seluruh Indonesia. SMART Ekselensia Indonesia telah meluluskan 7 angkatan (2009-2015) dengan 100 persen alumninya lolos PTN terakreditasi A di Indonesia.

 

NO. NAMA ASAL DAERAH
1 Abdul Rahman Aziz Jabodetabek
2 Mulyadi Jabodetabek
3 Naufal Wahyu Hidayat Jabodetabek
4 Wildani Fadhillah Jabodetabek
5 Yika Rifkian Dilanazra Jabodetabek
6 Gozi Hasbiyallah Jawa Barat
7 Ilham Amirullah Jawa Barat
8 Muhamad Rais Mochtar Jawa Barat
9 Muhammad Qais Fathin Jawa Barat
10 Muhammad Syauqi Jawa Barat
11 Muhammad Zaky Dhiyaul Haq Jawa Barat
12 Fashhan Firyal Fahrezy Jawa Barat
13 Muhammad Jeri Pratama Jawa Tengah
14 Muhammad Zulfikar Saifullah Jawa Tengah
15 Ibrahim Kholilulloh D.I. Yogyakarta
16 Rahmat Hidayat D.I. Yogyakarta
17 Abdullah Azzam Sumatera Barat
18 Muhammad Furqon Sumatera Barat
19 Muhammad Shaleh habibi Sumatera Barat
20 Salim Rahman Sumatera Barat
21 Elang Bayu Sumatera Utara
22 Hilman Fadhlillah Sumatera Utara
23 Mohammad Giofany Sumatera Utara
24 Najib Nur Rahman Sumatera Utara
25 Sadianto Sumatera Selatan
26 Andriyan Putra Jambi
27 Aufa Salahuddin Zaidani Lampung
28 Residen Nusantara Ramadhani Mubarok Lampung
29 Mohamad Ridho Ar-Rasyid Nasution Riau
30 Muhammad Malik Firdaus Riau
31 Faiz Aufal Huda NTB
32 Izat Hamdanil NTB
33 Wahyunazi NTB
34 M. Iqbar Ba’asyir Kalimantan Barat
35 Muhammad Syahrul Nizam Kalimantan Timur
36 Slamat Riyadi Kalimantan Selatan
37 Muhammad Alfianur Kalimantan Selatan
38 Muhammad Asdar Sulawesi Tenggara
39 Rizal Sulawesi Tengah
40 Muhammad Rafiq Bangka Belitung

 

IMG-20160518-WA0007-aaa

Al-Qur’an dan Mahkota Kemuliaan

IMG-20160518-WA0007

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie.

(GM Sekolah Model Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa, Penulis 48 Buku)

Basyir, demikian remaja asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan, ini biasa disapa oleh guru-guru dan teman-temannya di SMART Ekselensia Indonesia (SMART EI). Ahmad Basyir Najwan, demikian nama lengkap pemberian orangtuanya, adalah salah seorang siswa SMP  SMART EI yang berprestasi pada dua bidang keilmuan sekaligus. Yakni ilmu Agama dan ilmu umum. Pada bidang ilmu umum, Basyir adalah finalis Olimpiade Sains Nasional cabang IPA. Sedang, pada bidang ilmu Agama, Basyir telah memiliki hafalan Al-Qur’an di atas 20 juz.

Terkhusus untuk hafalan Al-Qur’an Basyir memang bercita-cita menjadi hafizh. Ia ingin menghafal Al-Qur’an 30 juz. Karena itulah, Basyir mengikuti program Takhasus Tahfizh di SMART EI. Ia ingin memberikan hadiah terindah untuk Ibu dan Ayahnya. Yakni, mahkota kemuliaan di surga kelak. Ia ingin memuliakan Ibu dan Ayahnya dengan hafalan Al-Qur’annya.

Basyir menyadari betapa besar jasa orangtuanya, terkhusus Ibunya. Ibunya bersimbah darah dan bertaruh nyawa saat melahirkannya. Sakitnya saat melahirkan membuat ribuan syaraf sang Ibu seolah terputus. Rasa sakit yang hanya bisa ditanggung oleh perempuan. Bahkan, laki-laki yang secara kasat mata fisiknya lebih kuat, tak akan sanggup menanggung sakitnya melahirkan.

Begitu sang anak lahir, Ibu spontanitas menyunggingkan senyumnya yang berbuncah. Seolah hilang rasa sakit itu seketika. Sang anak diciumi dengan hangat. Hari-hari selanjutnya Ibu terus melimpahi sang anak dengan kasih sayang. Disusui hingga 2 tahun. Di rawat dan dibesarkan dengan harapan sang anak kelak menjadi anak saleh yang berbakti.

Maka, sebuah kewajiban bagi anak untuk berbakti kepada Ibunya. Menjadi tempat bersandar bagi Ibunya dihari senjanya. Menjadi tumpuan harapan saat kesendiriannya. Menjadi syafaat di akhirat dengan kesalehannya. Inilah yang terukir di hati Basyir. Ia ingin Ibunya bangga memiliki anak sepertinya. Maka, hadiah terbaik yang ingin dipersembahkan itu adalah hafalan Al-Qur’an secara sempurna 30 juz.

Lahir di tengah keluarga kurang beruntung secara ekonomi tidak membuat Basyir kehilangan cita-cita. Berbekal doa dan semangat dari orangtuanya, setelah dinyatakan lulus sebagai penerima beasiswa SMART EI, Basyir mantap merantau ke Bogor untuk sebuah misi besar sebagai muslim. Menuntut ilmu di SMART Ekselensia Indonesia Islamic Boarding School. Sebuah sekolah jenjang SMP dan SMA yang didirikan oleh Dompet Dhuafa sebagai kontribusi nyata untuk memutus rantai kebodohan dan kemiskinan.

Sejak berdiri 2004 hingga kini 2016, SMART EI telah meluluskan 7 angkatan dengan torehan 100% lulusannya diterima di perguruan tinggi negeri. Harapannya anak-anak ini kelak bisa memutus rantai kemiskinan keluarganya. Tidak hanya itu, kelak anak-anak ini pun diharapkan bisa berkontribusi bagi umat, bagi anak-anak kurang beruntung lainnya untuk memperoleh pendidikan yang baik.

Kembali ke cerita Basyir. Ketika menginjakkan kaki di SMART dan mengawali proses pembelajaran, anak ini memang sudah terlihat kecerdasannya. Semua mata pelajaran selalu mendapat nilai bagus. Belajar bersama para guru yang berdedikasi adalah nikmat yang sangat disyukurinya. Di SMART EI pula minatnya untuk menghafal Al-Qur’an mulai tumbuh dan berbunga. Ust Syahid, guru Tahfizh, adalah orang yang selalu mengompori Basyir untuk menghafal Al-Qur’an. Guru Tahfizh yang juga Shivu Thifan Po Khan ini memang terkenal “tukang kompor” yang positif bagi murid-muridnya. Terkadang anak-anak diajak menghafal Al-Qur’an sambil berlatih jurus-jurus Thifan.

Basyir sangat menikmati proses pembelajaran Al-Qur’an di SMART EI. Tak heran perkembangan hafalannya berjalan cepat. Saat ini Basyir duduk di kelas 3 SMP SMART EI dan telah memiliki hafalan Al-Qur’an lebih dari 20 juz. Targetnya sebelum lulus SMA SMART EI, Basyir telah menyelesaikan hafalannya. Berkat hafalan Al-Qur’annya, Basyir memperoleh hadiah umroh dari sebuah bank syariah pada Desember 2015 lalu.

Teriring doa dari kami, nak. Semoga kau segera menyelesaikan hafalan Al-Qur’anmu dan menghadiahkannya untuk Ibumu, terutama untuk almarhum Ayahmu. Semoga pula sekolah ini semakin berkah dengan lahirnya para penghafal Al-Qur’an yang saleh. Semoga pula kebaikannya turut mengalir kepada guru-guru yang berdedikasi mengajarkan ilmunya di sekolah ini.

Mahasuci Allah dan segala puji hanya untuk-Nya.    

IMG-20160515-WA0000

Taman Baca BIndo SMART

Oleh: Aldi

 

Pada Minggu (15/05) Kelompok Bahasa Indonesia SMART Ekselensia Indonesia menggelar acara Peresmian Taman Baca Bindo SMART di Inkopad, Arco, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Mengusung tema “Transfer Ilmu Lewat Buku” acara yang dihadiri oleh puluhan tamu undangan dan peserta dan dimulai pukul 08.00 WIB ini dibuka oleh bu Yati selaku Pembina Acara dan juga oleh pak Imron selaku pemilik Yayasan Islam Ashabul Kahfi Madani. Acara yang bertujuan untuk meningkatkan minat membaca anak juga untuk mengembangkan kecintaan anak akan buku terutama buku yang ada di perpustakaan ini mengambil lokasi di wilayah Inkopad. Kenapa Inkopad? Karena dewasa ini membaca buku sudah menjadi hal yang dianggap tak menarik di sana, padahal membaca buku sangat bermanfaat untuk meningkatkan kecerdasan anak.

Setelah sambutan-sambutan, kami melakukan Ice breaking terlebih dahulu agar peserta tidak bosan. Setelah itu kami melakukan peresmian perpustakaan dengan menggunting pita sebagai tanda bahwa perpustakaan ini sudah dibuka, para peserta dipersilakan untuk masuk perpustakaan untuk melihat-lihat. Nah, lanjut ke acara inti yaitu dongeng yang  diceritakan  oleh kak Dian. Kak Dian mendongeng tentang kura-kura yang terkena musibah, penampilan sangat menghibur peserta karena kak Dian sangat ekspresif. Setelah sesi mendongeng selesai kami mengadakan lomba membaca puisi dan lomba bercerita, ternyata peserta membaca puisi lebih banyak daripada bercerita akhirnya panitia memutuskan 4 pemenang dari lomba membaca puisi dan 2 pemenang dari lomba bercerita. Waah seru sekali pokoknya. Sebelum pulang para peseta pun mendapatkan goodybag yang berisi beberapa buku, dengan begitu berakhirlah acara peresmian perpustakaan. Kami berharap semoga kegiatan ini bermanfaat bagi masyarakat. Kami merasa bahagia karena acara berlangsung dengan baik.

Sebelum acara ini terealisasi, proses yang kami lalui cukup melelahkan namun menyenangkan. Layaknya seorang profesional kami harus membuat konsep, membuat alur kerja yang mumpuni dan juga membuat proposal yang sistematis. Setelah beberapa proses dan pengajuan serta presentasi proposal ke Master Clean Laundry, BNI Syariah, PSB (Pusat Sumber Belajar) Makmal Dompet Dhuafa,  Brimob Kedung Halang, Asuransi Takaful, dan Nurul Fikri akhirnya kami mendapatkan tiga lemari buku dan empat kardus buku serta fresh money yang dapat kami gunakan untuk mengisi perpustakaan.

 

DSC_0158small

Ramadhan Berkah di SMART Ekselensia Indonesia

Oleh: Farid Ilham.

Kelas 5 Jurusan IPA

 

DSC_0158Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, itu memang betul, ya betul karena berkahnya gak main-main. Mulai dari shalat sunat yang pahalanya seperti shalat wajib, dll. Pokoknya segala kebaikan yang dinilai Allah baik – insha Allah- pahalanya akan dilipatgandakan di bulan Ramadhan.

Sebagai siswa SMART Ekselensia Indonesia, saya bisa dibilang aktif karena mengikuti banyak ekstrakulikuler *pret! Salah duanya adalah nasyid dan Trashic alias Trash Music. Di bulan Ramadhan saya dan teman-teman  mendapatkan banyak berkah dari dua ekstrakulikuler tersebut. Seakan sudah menjadi kebiasaan  tim Trashic dan nasyid akan banyak orderan di bulan penuh berkah tersebut *asek. Begitupun dengan Ramadhan 1436 H kemarin, macam artis kami banyak penggilan ke sana dan ke sini.

Sebenarnya banyak yang ingin saya ceritakan, tapi karena kayaknya kebanyakan jadi saya tulis tiga cerita saja yang menurut saya paling berkesan di dalam dompet saya, eh hati saya maksudnya, uhuk. Yang pertama adalah cerita ketika Trashic tampil di Desa Cilincing, Sunda Kelapa, Jakarta Utara, Indonesia, Bumi, Galaksi Bima Sakti. Nah kalau gak salah saat itu masih awal-awal bulan Ramadhan, saya dan teman-teman diundang oleh Remaja Masjid Sunda Kelapa untuk menghibur masyarakat dan juga tamu yang datang. Konon katanya masjid ini lekat sekali dengan sejarah Raden Fatahillah –Kalau gak salah sih-. Yang unik dari tempat kami tampil kala itu ya lingkungannya, kami tampil di pinggir laut. Semula saya pikir akan berhadapan dengan pemandangan dan aroma laut yang khas, namun saya gak nyangka ternyata baunya semerbak sekali alias bau. Sebelum tampil saya dan teman-teman sempat berkeliling dan terkejut karena mendapati air lautnya  berwarna hitam dan sampahnya bejibun. Mungkin hal itulah yang menyebabkan timbulnya bau menyengat seperti bau ikan asin bercampur sampah yang usianya ratusan tahun, Subhanallah.  Yasudahlah, akhirnya kami memutuskan untuk kembali karena giliran kami tampil telah tiba, acara ini diisi oleh banyak pengisi acara, sayang penontonnya seperti tak antusias malah cenderung sepi. Semua berbeda ketika kami tampil, luar biasa, Allahu Akbar! Warga yang tadinya tak antusias mulai berdatangan, mulai dari yang imut-imut sampai yang gak imut, dari yang muda sampai yang gak muda lagi berkumpul membentuk kerumunan, bahkan kalau saya tak salah ingat ada yang naik sampai ke atap masjid untuk menonton kami. Bangganya kami. Setiap kali selesai bermain kami diminta main lagi, jadilah kami main sampai sebulan di sana, hehe bercanda. Tampil maksimal sudah, saatnya kami pulang, namun penonton seperti enggan melepas kami. Tapi mau bagaimana lagi kami harus pergi karena sudah semakin larut dan perjalanan menuju asrama masih panjang. Akhirnya kami berpamitan diiringi lagu Indonesia Raya, lah, tepuk tangan maksudnya.

Cerita kedua masih tentang Trashic. Ini cerita ketika saya dan tim Trashic manggung di Hotel Sultan, Jakarta. Kami jadi pengisi Ramadhan Fair, ada banyak kegiatan di acara tersebut seperti buka bersama. Karena hotelnya bukan hotel ecek-ecek maka hidangannya pun tidak main-main, pokoknya ntap! Karena jarang menyantap makanan sekelas itu kami jadi kalap dibuatnya, semua kami cicipi dari ujung ke ujung. Perut super kenyang, hati sangat senang. Di acara tersebut turut hadir mbak Terry Putri sebagai pembawa acara, ia makin cantik semenjak berhijab, jadi saja saya pengin foto bareng hehehehe. Setelah selesai tampil kami dibekali kue-kue yang banyak sekali, Alhamdulillah ada oleh-oleh untuk kawan-kawan di asrama.

Nah cerita ketiga ini tentang grup nasyid kami yang bernama Voicexelensia (ribet yah namanya hehe). Kala itu kami diminta untuk tampil di acara santunan anak yatim dan dhuafa yang diadakan MNC TV, kami tampil dihadapan ratusan tamu undangan termasuk kawan-kawan kami di SMART EI karena mereka semua diajak berpartisipasi. Awalnya kami hanya tampil untuk satu segmen, setelah selesai tiba-tiba seorang kru MNC TV memanggil kami dan kami diminta untuk tampil dihadapannya. Waw ternyata ia merupakan salah satu kru inti DMD Show yang tayang tiap Selasa-Kamis pukul 19.00 WIB, tak disangka kami disuruh tampil di acara DMD Show, kami senangnya luar biasa karena bisa tampil di teve. Saking senangnya sampai kami menelpon orang tua kami satu-satu hahahaha. Menurut kru yang bertugas kami harus tampil pukul 20.00 WIB, ternyata pukul 20.00 WIB acara DMD Show baru mengudara dan kami baru akan tampil pukul 22.00 WIB, sedaaaap sedap ngantuk. Sebelum tampil kami di-make up bak selebriti, lumayan akhirnya merasakan di-make up-in make up artist hehe. Ketika waktu tampil tiba kami deg-degan karena banyak sekali artis di sana, tapi kami cuek saja bahkan gak mikirin hasilnya bagaimana, yang penting tampil ketemu JuPe. Sudah hahahaha. Tapi karena tampilnya malam, kami yakin sebagian teman, keluarga, bahkan karyawan Dompet Dhuafa Pendidikan pasti telah terlelap, namun tak apalah. Keesokan harinya tim Nasid Voicexlensia mendadak jadi artis di lingkungan Dompet Dhuafa Pendidikan, ternyata ada karyawan yang merekam performa kami dan menyebarkannya, wah begini ya rasanya jadi artis hehe.

Dan Ramadhan 1436 H kemarin menjadi Ramadhan terakhir saya di SMART EI…

Selama di SMART EI pengalaman seperti ini akan selalu saya kenang, sebenarnya masih banyak pengalaman menyenangkan lainnya yang tak akan saya lupakan. Berada di sini bagaikan berada di rumah sendiri, saya dan kami semua diayomi dan disayang bagai adik sendiri. Sebentar lagi waktu saya akan berakhir, saya akan lulus dari SMART EI. Rasa sedih pasti akan saya rasakan, namun saya akan terus mengingat semua hal indah yang saya dapat selama di SMART EI.

bi6

Tahun Tahunku di SMART Ekselensia Indonesia

Oleh: Yudi

Kelas 5 Jurusan IPA

 

10423883_1046184145445609_2216341307783267451_nAku tidak tahu apakah pemikiranku benar atau salah, aku berpikir SMART Ekselensia Indonesia adalah sekolah yang berbeda dengan sekolah berasrama lainnya. Layaknya Taman Mini Indonesia Indah (TMII)  yang merangkum seluruh adat dan budaya setiap provinsi di Nusantara, begitu pun SMART Ekselensia Indonesia. SMART EI adalah miniatur Indonesia yang merangkum ratusan kepribadian serta bermacam cara pandang. Selama lima tahun menjalani masa-masa indah di kampus biru SMART Ekselensia Indonesia banyak pengalaman yang kudapatkan.

Teringat  pada tahun pertama, aku hanyalah seorang bocah yang duduk memikirkan rumah. Mungkin aku akan terus dalam posisi itu apabila seorang Bali tak menyapaku, ia mengajakku berkenalan dengan yang lainnya. Yap itulah pelajaran pertamaku dari anak Bali yang kutemui di hari pertama. Darinya aku belajar bahwa teman itu dicari, didatangi, tak ada orang yang tertarik dengan si pendiam yang membosankan. Di tahun pertama juga aku belajar caranya waspada, terutama waspada ketika bermain bola. Terdengar aneh sih tapi tak mengapa hehe. Pertama kali bermain bola di SMART EI, aku langsung mendapatkan pengalaman tak mengenakkan, tendangan kakak kelas yang super kencang mengenai perutku dan membuatku perutku nyeri. Lalu pernah juga gawang setinggi dua meter menimpa kakiku, mau tahu rasanya? Sakiiit, sakitnya lebih sakit dari sakit hati hahaha. Di tahun yang sama aku akhirnya merasakan hukuman karena aku melanggar aturan, aku dihukum karena aku meladeni seorang lelaki kelahiran Padang yang mudah naik darah dan mudah tersulut amarahnya, namun dari situ aku belajar banyak terutama belajar meladeni orang lain dengan melihat kepribadian mereka.

“Ceritanya di tahun pertama saja nih?” Tentu saja tidak, di tahun kedua bahkan aku belajar lebih banyak lagi di SMART EI.  Sebut saja ia “kesabaran”, aku jadi teringat ketika tak sengaja aku menendang seorang teman yang hendak mengikuti lomba, lagi-lagi aku kena hukum dan membuat temanku kesusahan, kesabaranku diuji karena musibah seperti tak ada habisnya menerpaku.  Belum selesai dengan itu semua sekarang tiba masa di mana aku mulai bosan dengan yang namanya belajar, sehingga nilai-nilaiku buruk di semester pertama. Seperti itulah kehidupan tahun keduaku.

Di tahun ketiga aku dikejutkan dengan banyak hal, salah satunya ketika keunggulan semua siswa SMART EI diuji, di akhir tahun kami harus menghadapi UKK dan UN dan kami harus mengulang materi SMP lalu kembali memperkuat materi kelas 1 SMA, tentu saja tidak mudah, apalagi bagiku yang saat itu sedang bosan. Bahkan nih di semester pertama aku menempati peringkat bawah kelas, fuh mau tak mau aku harus berusaha lagi.  Di akhir tahun nilai UN ku ternyata kurang bagus bahkan bisa dibilang buruk, namun nilai raporku menempati 5 besar di kelas.

Hingga akhirnya tiba di tahun keempat, aku mengikuti tiga organisasi sekaligus saat itu. Dengan berorganisasi banyak hal kudapat, salah banyaknya organisasi mengajarkanku tentang  bagaimana harus –makin- bersabar menghadapi ketidakpatuhan adik kelas dan menghadapi ego kakak kelas di organisasi, memutar otak mencari solusi agar organisasi tetap berjalan baik tanpa masalah, bermusyawarah untuk mufakat, dan memutuskan hal sulit yang kadang dianggap mudah. Selain itu organisasi mengajarkanku membuat acara yang tadinya terlihat musathil menjadi nyata dan prosesnya sungguh menyenangkan, di sinilah hidup terasa benar-benar hidup. Tahun keempatku melelahkan, tapi juga menyenangkan. Mungkin ini tahun terbaik untukku. Mungkin.

Namun diantara semua tahun yang aku jalani di SMART EI, tahun kelima merupakan tahun yang paling melelahkan. Aku dan teman-temanku harus rela meninggalkan organisasi yang kami bina, harus rela meminimalisasi kegiatan yang kurang bermanfaat karena kami harus fokus pada Ujian Nasional (UN), SNMPTN, dan SBMPTN. Hari-hariku dipenuhi dengan belajar, belajar, bimbingan, belajar, bimbingan. Agak monoton dan sedikit membosankan, tapi aku harus melakukannya demi masa depan yang lebih baik. Di tahun kelima ini aku belajar bagaimana belajar bersabar pada level yang lebih tinggi lagi. Lima tahun di SMART EI sungguh merubahku menjadi pribadi yang lebih baik, dan tak terasa ini adalah tahun terakhirku, waktuku di sini tinggal sebentar lagi. Sedih? Jelas namun aku juga harus terus maju.

Buatku SMART EI bukan sekadar hanya sekolah, pulang ke asrama, tidur, makan, shalat. Bahkan di sini akan ada waktu ketika kami tidak bisa tidur, tidak bisa makan, dan bahkan tidak kembali ke asrama dari sekolah yang hanya berjarak sangat dekat. Namun semua kenangan di SMART EI tak akan pernah aku lupakan. Semua kebahagiaan, kesedihan, kebersamaan, persaudaraan, bahkan rasa kesal akan tetap kusimpan sampai kapan pun. Setiap tahun di sini mengandung makna dan pelajaran yang kelak akan berguna saat aku pergi meninggalkan kampus tercinta ini.

 

11 Mei 2016

Pusing memikirkan SBMPTN, doakan aku ya

WhatsApp-Image-20160512 (2)

Asiknya Field Trip. Asiknya Bertani

WhatsApp-Image-20160512 (2)

Waktu menunjukkan pukul 05.30 WIB, namun kami sudah rapi jali, sudah makan pagi, sudah menyiapkan semua yang mau dibawa untuk field trip hari ini. “Wah? Field trip? Lagi?” Nng iya sih, tapi ini bukan field trip besar seperti beberapa bulan lalu Sob. Jadi, field trip kali ini merupakan bagian dari belajar juga, iya belajar di luar kelas. Ada tiga mata pelajaran yang bersatu padu seperti Biologi, Sosiologi (karena di dalamnya ada bahasan lingkungan hidup), dan juga Kimia.

16-05-11-11-10-19-809_photo

‘Enjoy Your Trip and Provide Benefits to Others” menjadi tema field trip yang khusus diadakan untuk kelas 4 jurusan IPA & IPS ini lho Sob. Pukul 07.00 WIB kami berangkat menuju Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP) yang berlokasi di Jalan Tentara Pelajar, Cimanggu, Bogor. Kami didampingi oleh bu Dedeh, bu Dini, dan bu Eka, ditambah satu lagi kak Akhie yang sudah menunggu di lokasi. Pukul 08.00 WIB akhirnya kami sampai juga di sana, kedatangan kami langsung disambut perwakilan BBP2TP yang kemudian mempersilakan kami untuk masuk ke Aula Rapat. Wah ruangannya besar Sob, kami agak norak sampai beberapa dari kami dengan jumawa berlagak menjadi pimpinan dewan yang sedang melaksanakan rapat hehe. Selang beberapa lama kami kembali disambut pimpinan BBP2TP, setelah berbicara panjang lebar seputar profil BBP2TP ia berpesan agar kami tak putus asa dan bisa terus berjuang supaya bisa memajukan bangsa melalui pertanian.

WhatsApp-Image-20160512(1) WhatsApp-Image-20160512(2) WhatsApp-Image-20160512(3)

“Field trip ini bertujuan untuk mengasah kepedulian siswa pada lingkungan, dan semoga kegiatan ini memberikan banyak manfaat bagi seluruh siswa,” ujar bu Dedeh pada kesempatan kali itu.

Pada sesi pertama kami dibekali berbagai wejangan hebat, salah satunya dari bu Evi. Ia mengatakan bahwa bangsa kita masih tergantung dengan produk pertanian, namun masih banyak yang tidak dikembangkan dengan layak seperti umbi-umbian. Umbi-umbian banyak sekali dilupakan oleh masyarakat, padahal manfaatnya bagus sekali untuk tubuh, maka tak heran kalau saat ini banyak masyarakat yang terkena kanker usus karena kurangnya asupan serat alami baik untuk tubuh. Kanker usus sendiri merupakan pembunuh nomor 3 di Indonesia. Ia juga mengatakan kalau sebenarnya mudah untuk menanam tanaman pertanian, karena kita bisa memanfaatkan lahan di rumah.

20160511_080838_HDR

 

Setelah menerima banyak ilmu baru dari bu Evi, pada sesi kedua kami kembali mendapatkan materi lain yang tak kalah seru. Bagi kami materinya bukan sesuatu yang baru, karena ada juga di buku pelajaran, tapi yang ini lebih mendalam dan merinci penjelasannya Sob. Pak Miskat Ramdani, Tim Agro Edukasi, didapuk menjadi pengisi materi untuk kami siang itu, selagi memperkenalkan diri ia mulai menyalakan proyektor, sejurus kemudian kami semua memicingkan mata membaca judul di layar besar dihadapan kami yang bertuliskan “Bertanam Sayuran di Lahan Sempit Bisa Nggak ya?” Jujur membaca judulnya saja kami sudah senyam senyum sendiri dan membuat kami semakin penasaran sekali dengan bahasan materinya. Menurut pak Miskat praktik menanam beragam tanaman di daerah kota disebut juga pertanian perkotaan, di mana praktik budidaya tanaman tersebut membutuhkan pemrosesan hasil tanam dan distribusi bahan pangan di wilayah kota. Lahan yang digunakan bisa tanah tempat tinggal atau bisa juga memanfaatkan lahan tidur & lahan kritis atau memanfaatkan ruang terbuka. Tapi kalau ternyata kamu hanya punya pekarangan rumah untuk bercocok tanam juga tak masalah Sob, kalau kata pak Miskat ada empat level untuk mengoptimalkan pekarangan rumah antara lain level without homeyard, level medium homeyard, level narrow homeyard, dan level wide homeyard. Namun kalau kamu kesulitan, kamu bisa mempraktikkan cara seperti menggunakan ruang vertikulturs, vertiminaponik, wolkaponik, dan hidroponik. Setelah selesai menerangkan tak disangka ternyata teman-teman kita antusias sekali untuk bertanya lho, pak Miskat sampai kewalahan dibuatnya. Puas dengan sesi kedua, kami kembali diajak untuk menikmati sesi tiga, sesi yang kami tunggu-tunggu karena kami bisa langsung praktik bercocok tanam. Membayangkannya saja sudah senang.

16-05-11-10-31-02-553_photo

16-05-11-10-30-43-773_photo

16-05-11-10-29-44-431_photo

Kami keluar ruangan dan dibawa ke Taman Agro Edukasi, tempat di mana kami akan praktik langsung sekaligus belajar mengenal dunia pertanian. Kami yang dari awal sudah dibagi kelompok kembali dikelompokkan berdasar kelompok awal kami. Kelompok 1 bersama bu Eka, Kelompok 2 bersama kak Akhie, Kelompok 3 bersama bu Dini, dan Kelompok 4 bersama bu Dedeh. Kami saling bergantian untuk mengikuti berbagai sesi seru bersama pakar pertanian. Ada 4 sesi yang kami ikuti Sob seperti cara pembudidayaan wortel yang baik dan benar, cara menyangkok yang baik agar hasilnya sesuai harapan, pengenalan bibit tanaman dan bagaimana seharusnya bibit diperlakukan, dan terakhir kami belajar membuat tanaman hidroponik serta wolkaponik. Kami tak menyangka kalau semuanya (mulai dari bahan hingga proses pembuatan) mudah Sob, kami pikir akan sulit sekali dan ternyata kami salah. Taman Agro Edukasi siang itu dipenuhi senda gurau dan juga gelak tawa, kami terkejut karena pegawai-pegawai di sana lucu-lucu dan jelas pandai. Keren. Sebelum menyudahi sesi terakhir kami ditantang untuk main tebak-tebakan nama sayur dan jenis bibit yang digunakan, kalau bisa jawab akan mendapatkan hadiah tanaman untuk dibawa pulang, asyiknya. Mengakhiri semua sesi kami semua berfoto bersama lho, duh pengalaman yang sangat sangat menyenangkan Sob.

16-05-11-09-56-10-125_photo

16-05-11-09-53-03-443_photo

16-05-11-09-52-14-993_photo

Kami berharap kegiatan keren ini akan terus rutin diadakan, setelah field trip ini mata kami semakin terbuka dengan luasnya dunia pertanian yang ternyata keren dan sangat membentang kebaikan bagi masyarakat luas di Indonesia, Lalu apakah kami tertarik terjun di dunia pertanian? Jawabannya, YA.

#SMARTSemangat