IMG-20160829-WA0002

Emas Untuk Pencak Silat SMART

IMG-20160829-WA0002

Oleh: Muhammad Syafii Al-Bantani.

SMART Ekselensia Indonesia adalah sebuah sekolah Islam yang memiliki visi menjadi sekolah model yang melahirkan generasi berkepribadian Islami, berjiwa pemimpin, mandiri, berprestasi, dan berdayaguna.

Salah satu aktifitas pembelajaran di SMART untuk mengkader pemimpin adalah melalui kegiatan ekstrakurikuler. Ekskul beladiri pencak silat adalah salah satu ekskul unggulan di SMART Ekselensia Indonesia. Setiap tahunnya, Ekskul pencak silat rutin menyumbangkan medali emas pada kejuaraan pencak silat tingkat nasional.

Tahun ini (2016), Ekskul pencak silat kembali menorehkan prestasi gemilang dengan meraih 2 medali emas pada Kejuaraan Pencak Silat Tapak Suci Tingkat SMP dan SMA Pimda ke-47 Championship, Kemenpora, Jakarta.

Setelah melalui berbagai pertandingan yang seru dan sengit, 2 medali emas berhasil diraih oleh ananda M. Tsalas Ramdani dan Raihan Afandi. Kedua medali emas tersebut diserahkan kepada GM Sekolah Model pada upacara senin, 29 Agustus 2016.

Prestasi ini membuktikan bahwa SMART Ekselensia Indonesia tidak hanya mampu mengkader anak didiknya berprestasi dibidang akademis, melainkan juga bidang non akademis. Yang pada akhirnya berujung pada mengkader pemimpin masa depan. 🙂

IMG-20160829-WA0000

bangsyaikha

Pembelajaran Menyenangkan di Kelas Bisa Dilakukan dengan Mudah!

Ketika saya baru saja menutup pelajaran dengan doa, seorang siswa buru-buru mendekat. Ia berjalan dengan langkah yang besar-besar. Senyumnya mengembang, menggamit tangan saya dan menciumnya khidmat sambil berkata:
“Ustad, pelajaran Matematika siang ini nggak kerasa banget. Tahu-tahu udah selesai aja!”
Saya mengusap bahunya penuh hangat dan menjawab, “Alhamdulillah kalau begitu. Kamu suka?”
Ia mengangguk, masih dengan simpul bibir yang indah sekali dipandang.
“…dan tumben-tumbenan saya tidak mengantuk sepanjang pelajaran,” katanya lagi. Kali ini, ia meringis nakal.
Saya membalas kalimat jujurnya barusan dengan tawa ringan. Ada bahagia yang dalam di rongga dada saya. Karena apa? Tentu saja disebabkan hal kecil barusan: ada siswa yang biasanya mengantuk dan jarang memperhatikan, eh tadi siang malah senang bukan alang kepalang.
Apa sih yang menyebabkan ia bisa demikian senang?
Tidak muluk-muluk sebenarnya. Saya hanya menggunakan kemampuan saya bercerita saja.
Jadi…
…ketika saya baru masuk ke kelas dan mendapati hampir semua siswa mengantuk    mungkin karena tadi mereka berpuasa dan suhu di siang hari agak panas, maka saya tidak langsung memulai pelajaran.
Tidak baik memulai pembahasan dengan kondisi siswa demikian. Apalagi ini pelajaran Matematika, di jam terakhir pula!
Saya justru menutup rencana pembelajaran yang sudah saya buat beberapa jenak, sedikit memutar otak, dan mencari cara agar mereka bisa lebih on dan bisa diajak belajar.
Aha! Kenapa tidak dimulai dengan bercerita saja! 
Ide itu muncul karena saya tetiba teringat pada seorang teman yang pernah memuji dengan ketulusan, “Salah satu kelebihan Bang Syaiha adalah, mampu bercerita dengan suara yang meyakinkan dan membuat orang mudah percaya. Jadi, kembangkan dengan baik kemampuan ini, Bang!”
Maka mulailah saya berkisah, tentang cerita rakyat dari Afrika. Tentang kijang dan singa yang harus bangun pagi-pagi sekali. Tidak boleh kesiangan. Sesaat setelah bangun, kijang dan singa harus segera berlari, sesegera mungkin dan sekencang-kencangnya.
Karena apa?
Inilah jawabannya… kijang melakukan hal demikian agar tidak tertangkap singa. Sedangkan singa, mengerjakan itu semua agar bisa memangsa kijang.
Keduanya harus segera bangun, tidak malas-malasan, dan harus bekerja keras mengeluarkan segala daya dan kemampuan.
Anak-anak mendengarkan dengan antusiasme yang tinggi ketika saya mengungkapkan kisah ini.
Melihat hal demikian, saya justru semakin semangat menyelesaikan dan menarik sebuah kesimpulan, “Bahwa kita semua punya mimpi dan harapan. Kita semua bahkan seperti kijang dan singa tadi, saling berkejar-kejaran menggapai harapan yang sudah ditetapkan.”
“Orang yang bermalas-malasan, jelas akan ketinggalan dan tidak diperhitungkan jaman. Hidup, menjadi besar dan dewasa, menua, lalu mati. Dikuburkan dan kemudian dilupakan. Orang-orang seperti ini menjadi manusia yang tidak penting sekali. Kepergiannya tidak ditangisi, tidak disesali.”
“Sedangkan kita semua, tentu tidak ingin demikian. Kita harus menjadi besar dan mampu menebar manfaat ke sebanyak-banyaknya orang. Jadilah inisiator kebaikan di tempat tinggal dan dimana saja kita berada. Jadilah bermanfaat.”
Sesimpel itulah…
Yang saya lakukan hanya kecil saja sebenarnya, bercerita di awal pembelajaran. Tidak lebih.
Tapi hasilnya, tanpa pernah saya duga, mampu memberikan semangat dan motivasi yang tinggi. Hingga siswa yang selama ini tidak bergairah belajar sekalipun, dengan jujur mengucapkan terimakasih dan bilang ia senang.
Saya lalu menjadi riang.
Semoga hal demikian bisa saya pertahankan.
Sumber: http://www.bangsyaiha.com/2016/08/pembelajaran-menyenangkan-di-kelas-bisa.html
kPcOkHUx

Aku, SMART, dan Masa Depan

kPcOkHUx

 

Perkenalkan, nama saya Mustarakh Gelfi biasa dipanggil Gelfi asal Pekanbaru, Riau. Saya merupakan alumni SMART Ekselensia Indonesia Angkatan 2, saat ini saya masih menyandang status mahasiswa. Lebih tepatnya mahasiswa S2 di Delft University of Technology (TU Delft), Netherlands Faculty of Civil Engineering and Geosciences (CEG) jurusan Hidraulyc Engineering. Saya akan bercerita sedikit mengenai kehidupan saya di SMART Ekselensia Indonesia.

 

Episode SMART Ekselensia Indonesia

Saya ‘didatangkan’ ke SMART saat masih sangat kecil dengan segala jenis proses seleksi yang telah dilakukan sebelumnya. Dan jauh dari orang tua adalah hal baru bagi saya, sehingga ‘balik badan’ ke rumah di Pekanbaru sempat terpikirkan saat itu. Layaknya anak asrama yang lain, proses keluar dari belitan zona nyaman rumah –barangkali- memakan waktu 2 bulan. Puncak dari proses ini, ya itu tadi, saya sempat berpikir mundur dari sekolah dan kembali ke kampung halaman. Tapi saya tidak punya banyak pilihan, karena kembali ke rumah tidak akan membawa keadaan lebih baik. Satu pilihan yang tersisa adalah menatap ke depan dengan segala kemungkinan yang ada sembari memberikan effort terbaik di setiap proses pendidikan yang diberikan.

Saya mencoba menyeimbangkan pencapaian akademik dan non-akademik selama di sekolah, secara teknis SMART EI yang mengusung boarding school sebenarnya sangat diuntungkan. Saya sempat diamanahkan memimpin OASE (Organisasi Akademika Smart Ekselensia) disaat bersamaan harus menghadapi Ujian Nasional (UN) SMP. Dikarenakan saya angkatan kedua dan periodisasi OASE saat itu belum terlalu baik, sehingga saya terpaksa memimpin dengan kabinet yang berisikan kakak-kakak kelas. Tapi sekali lagi saya tidak punya banyak pilihan, saya harus membuat ending yang baik untuk semua ini. Akhir 2008, kabinet OASE selesai dan Alhamdulillah nilai UN saya termasuk salah satu yang terbaik saat itu.

 

Episode ITB (Institut Teknologi Bandung)

Saya diterima di ITB pada tahun 2010 setelah menjalani proses pendidikan 5 tahun lamanya di SMART EI. Hidup sebagai mahasiswa secara ekonomi tentu tidak seaman waktu di asrama yang segala sesuatunya sudah tersedia. Satu lagi masalah saya saat itu, atmosfer kampus yang relatif lebih heterogen dibandingkan asrama, membuat saya kesulitan untuk tune in dalam proses pembelajaran di ITB. Tapi saya hidup tidak punya banyak pilihan, saya harus menyelesaikan proses pendidikan ini dengan sebaik-baiknya, mengambil hikmah sebanyak-banyaknya dan selalu bersyukur atas setiap keadaan yang ada.

Di ITB, saya menemukan tujuan karir yang sejalan dengan idealisme yang saya yakini tentang bangsa ini. Satu pilar utama Indonesia Emas 2045 bagi saya adalah peningkatan konektivitas maritim nasional, yaitu salah satu elemen utamanya pelabuhan. Disparitas harga barang di barat dan timur Indonesia yang tinggi tak lepas dari lemahnya infrastruktur pelabuhan kita, sederhananya kuantitas pelabuhan kita sangat kurang. Maka kemudian saya bertemu dengan Teknik Kelautan, saya belajar banyak tentang konstruksi pelabuhan di sini.

Motivasi terbesar saya melanjutkan pendidikan di Hydraulic Engineering TU Delft adalah belajar mengenai konstruksi dan manajemen pelabuhan. Kita perlu belajar cara Belanda mengelola Pelabuhan Rotterdam (Port of Rotterdam) sehingga menjadi salah satu pelabuhan terbesar di Eropa, bahkan di dunia.

Di atas semua itu, sejujurnya saya hanya manusia biasa, banyak kealfaan dalam diri. Saya bukan pemilik track record akademik terbaik, apalagi dibandingkan mahasiswa ITB lain yang lebih hebat. Bagi saya ada 2 jenis pelajar, yaitu gifted dan struggle. Banyak orang gifted (dikaruniai) secara jenial maupun finansial pada saat initial condition-nya, apalagi di kampus ITB. Akan tetapi, saya adalah golongan struggle yang berusaha bertahan mati-matian di setiap kesulitan yang ada. Sekali lagi, saya tidak punya banyak pilihan, apalagi pilihan mundur dan menyerah.

 

Nama Lengkap                       : Mustarakh Gelfi
Panggilan                                : Gelfi
Alamat                                    : Jl. Cisitu Lama 1001/160c, Bandung
TTL                                         : Gunung Sahilan (Riau), 13 Januari 1993

S1

Universitas                              : Institut Teknologi Bandung
Fakultas                                  : Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL)
Program Studi                         : Teknik Kelautan

S2

Universitas                              : Delft University of Technology (TU Delft), Netherlands
Fakultas                                  : Faculty of Civil Engineering and Geosciences (CEG)
Track (sejenis jurusan)           : Hydraulic Engineering

 

 

 

1433901623237

Teruslah Mengedukasi Diri

1433901623237

Fase dalam hidup tak ubahnya episode-episode yang silih berganti. Lima tahun mengasah potensi dalam lingkungan yang sangat membangun di SMART Ekselensia Indonesia, sudah cukup sebagai bekal untuk menapaki kehidupan dunia kampus.

Pada Juli 2011, suratan takdir mengharuskan saya untuk kembali ke kampung halaman, Makassar. Saya, Muhammad Fadli Budiman, alumni angkatan 3 SMART, diabsahkan sebagai mahasiswa jurusan Ilmu Ekonomi Universitas Hasanuddin (UNHAS). Saat itu perasaan saya bercampur aduk, karena sangat mengharapkan untuk melanjutkan perantauan sebagaimana mayoritas alumni SMART lainnya.

Ternyata skema dunia kampus tak ubahnya miniatur kehidupan masyarakat luas. Terdapat banyak tipikal mahasiswa dan pilihan jalan hidup yang akan kita tempuh. Selama di UNHAS, saya banyak menghabiskan waktu terlibat dalam dinamika organisasi atau lembaga kemahasiswaan. Mengikuti pelatihan kepemimpinan, menjalankan roda organisasi, dan menjadi delegasi fakultas dalam berbagai kegiatan. Tak luput disyukuri, sedari awal mengenyam pendidikan di UNHAS, saya mendapat beasiswa Bidikmisi. Anugerah itulah yang meringankan segala macam bentuk beban finansial kala itu.

Alih-alih berkiprah meningkatkan pencapaian akademik dan karir berorganisasi di UNHAS, baru genap dua tahun rupanya saya dihadapkan dengan jalan hidup yang baru. Pasca lulus serangkaian tes sekolah tinggi kedinasan, timbul dilema untuk melanjutkan studi di UNHAS atau beralih ke Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Awalnya sangat sulit untuk menentukan pilihan, namun didasari oleh beberapa pertimbangan dan kehendak orang tua, akhirnya saya memilih STAN sebagai lahan berikutnya untuk kembali melebarkan sayap.

Selama mengenyam pendidikan di STAN, saya mulai fokus menyelami dunia penulisan dan memorak-porandakan kinerja verbal dan imajiner otak. Saya sempat beberapa kali mengikuti perlombaan, baik yang diselenggarakan oleh STAN maupun institusi eksternal, walaupun pada akhirnya hanya menjadi masterpiece pribadi 🙂. Tapi itu tak menyurutkan niat saya untuk terus berkarya, walaupun hanya sebuah tulisan lusuh. Semakin banyak mencoba dan justru dihadapkan dengan kegagalan, bukanlah sesuatu yang harus diratapi. Karena kegagalan pun ada jatahnya. Oleh karenanya, sedini mungkin habiskan jatah gagalmu, dan bersiaplah menerima keberhasilan.

Setelah yudisium, berangkat dari rasa keingintahuan akan peradaban dan budaya kehidupan masyarakat Jawa, saya bersama sembilan orang rekan memutuskan melintasi Pulau Jawa pada pertengahan Oktober 2014. Sebagai pijakan pembuka, kami berlayar dari Makassar menuju Kota Pahlawan, Surabaya. Perjalanan berlanjut ke Kota Malang, Batu, Yogyakarta, Bogor, dan Tangerang Selatan sebagai garis finish.

Saya sangat menikmati dan memaknai setiap momen kala itu. Wisata alam dalam mengeksplorasi panorama pegunungan Kota Batu. Wisata ilmu saat mengunjungi situs bersejarah Candi Borobudur dan Prambanan. Tak ketinggalan persoalan mencicipi makanan khas setiap daerah melengkapi misi wisata kuliner sebagai seorang travelista. Dan tentunya momen pertemuan sesama alumni SMART di Yogyakarta dan Depok menjadi yang paling membahagiakan.

Februari 2015 merupakan awal saya melangkahkan kaki dalam dunia profesional: mengabdi dalam suatu instansi di bawah naungan Kementerian Keuangan yang berlokasi di Kota Kediri, Jawa Timur. Masyarakat, lingkungan, tantangan dan tanggung jawab baru hadir beriringan dalam satu waktu membentu gairah guna memperbesar kualitas diri. Satu yang istimewa dari Kota Tahu, Kediri, yakni perannya sebagai surga pelajar bahasa asing, khususnya Bahasa Inggris. Hal inilah yang mendorong saya untuk terus bergulat menggembleng kemampuan bahasa di tengah rutinitas kantor.

Satu nasihat yang saya terus kenang, teruslah mengedukasi diri, bagaimana pun dan dengan alasan apapun. Selain sebagai rangka memantaskan diri dalam mewujudkan setiap rangkaian mimpi, edukasi juga sejatinya menghaluskan budi, menajamkan akal, dan melembutkan hati. Kurang lebih begitu pula amanat yang termaktub dalam lirik mars SMART Ekselensia Indonesia, “Menjadi Pembelajar Sejati”. Senantiasa terpatri mengilhami perjalanan kita sampai kapan pun.

31

Meretas Asa di Universitas Airlangga

31

Saat seleksi SNMPTN tahun 2009, kehendak Allah memutuskan saya diterima di Universitas Airlangga (Unair), Surabaya. Sebelumnya, saya berharap bisa lolos di Paramadina Fellowship atau STAN. Rupanya, Unair adalah pilihan terbaik Allah. Saat saya masuk, Unair termasuk kampus yang termasuk peringkat lima besar di Indonesia. Namun meningkat pada saat saya lulus di tahun 2013 menjadi tiga besar di Indonesia. Perjuangan berangkat ke Surabaya adalah perjuangan meretas asa. Berbekal kenalan teman-teman etos, saya memulai membangun mimpi di kota terbesar kedua di Indonesia ini.

Tahun pertama kuliah saya memutuskan untuk menjadi “yang terbaik di Unair” karena saya adalah lulusan sekolah akselerasi. Beasiswa dari SMART hanya mampu men-support saya di tahun pertama sehingga saya mesti berpindah satu beasiswa ke beasiswa lain selama kuliah 4 tahun ke depan. Terhitung ada tiga beasiswa yang saya dapatkan. Pertama, Beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (BPPA) Unair. Beasiswa ini saya dapatkan karena IP cumlaude saya 4,00 di semester pertama kuliah. Setelah mendapat BPPA, Kepala Jurusan memberikan saya “hadiah” jalan-jalan ke Medan, Sumatera Utara untuk mewakili Unair dalam Konferensi Mahasiswa Sejarah se-Indonesia.

Beasiswa kedua adalah PPSDMS Nurul Fikri yang memberikan pembekalan kepemimpinan serta pengembangan diri. Beasiswa ini cukup bergengsi di perguruan tinggi negeri (PTN). Melalui beasiswa ini, saya sering mengikuti pelatihan bersama para tokoh Nasional sekelas Ketua MPR dan Menteri-menteri Negara. Beasiswa terakhir adalah Beasiswa Filantrofi DD yang saya gunakan untuk menyelesaikan skripsi. Prinsip saya“Menjadi terbaik di Unair” bukan tanpa alasan, karena sebagai lulusan akselerasi, saya ingin membuktikan bahwa di mana pun kita berada, yang membuat kita berkembang adalah diri kita sendiri. Bagaimana caranya kita membangun lingkungan positif di sekitar kita.

Dua tahun setelah kuliah, saya menyabet prestasi Mahasiswa Berprestasi 1 FIB Universitas Airlangga dan menjadi nominasi finalis MAWAPRES Unair di akhir tahun 2011. Setahun kemudian, saya ditunjuk sebagai Menteri Kebijakan Publik BEM Unair serta mendapat “hadiah” dari rektorat untuk jalan-jalan ke Brunei Darussalam. Saya turut mewakili Unair dalam Pertukaran Budaya ASEAN (10th ASEAN Youth Cultural Forum). Menjelang akhir 2013, saya berhasil lulus dengan predikat “lulusan terbaik” setelah bersusah-payah mengerjakan tugas-tugas akhir. Ingat, di dalam sebuah kesulitan pasti ada kemudahan.

Setelah lulus, saya sempat diterima di media terbesar di Indonesia, TEMPO Media Group. Sempat magang dua bulan di TEMPO biro Jawa Timur sebelum memutuskan untuk mundur dan mengajar di Yogyakarta, serta pernah mendapat undangan wawancara beasiswa S2 di Kedutaan Besar Turki. Namun sengaja tidak saya lanjutkan karena saya ingin mengekstraksi pengetahuan di dunia kerja sebelum lanjut studi. Bagi saya, menjadi wartawan atau pendidik adalah pengembangan diri yang sama sebelum memutuskan untuk melanjutkan hidup di kemudian hari.

Pesan terbesar saya untuk pembaca: Hidup adalah soal pilihan. Pilihan memutuskan untuk bekerja keras, bekerja cerdas atau bekerja sebaliknya. Kuliah saya adalah pilihan keras untuk dijalani. Saya dihadapkan pada iklim kuliah anak-anak fakultas sastra/ilmu budaya yang notabene santai. Sementara saya sendiri lulusan akselerasi yang terbiasa bekerja cepat, risk taker, dan visioner. Saya memutuskan untuk mewarnai jurusan danalhamdulillah keputusan saya tepat. Saya tidak pernah menyesal dengan segala keputusan, karena keputusan yang disertai dengan usaha dan doa adalah separuh ikhtiar yang diberkahi Allah. Sisanya adalah hak prerogatif Allah untuk menentukan.

Apapun keputusan kita ketika akan masuk kuliah, memasuki dunia kerja, atau suatu saat nanti menikah dan melanjutkan studi, selalu libatkan Allah dalam pengambilan keputusan. Saya masih ingat sekali, saat angkatan pertama mempersiapkan ujian SBMPTN, kami rajin sholat qiyamullail dan memutuskan untuk mabit di masjid. Selamat bekerja keras!!!

IDENTITAS PENULIS

Subandi Rianto, merupakan lulusan angkatan pertama SMART Ekselensia. Meraih gelar sarjana dari Departemen Ilmu Sejarah FIB, Universitas Airlangga dengan predikat cumlaude, juga menerima Beasiswa Kepemimpinan PPSDMS Nurul Fikri Angkatan V, Mahasiswa Berprestasi Unair 2011, Delegasi Unair pada 10th ASEAN Youth Cultural Forum Brunei Darussalam 2012, serta pernah menjabat sebagai Menteri Kebijakan Publik BEM Unair 2012.

Subandi juga pernah menjadi editor buku “Mahasiswa Menggagas Kebangkitan Indonesia” (BEM Unair; 2012) dan “Menafsir Peristiwa, Merentas Peradaban” (Departemen Ilmu Sejarah Unair; 2013). Tulisannya tersebar di KOMPAS, JAWA POS, Radar Surabaya dan Tribun Jogja. Saat ini, ia mengabdikan diri untuk mendidik dan mengajar di Yogyakarta sebelum merancang kuliah pascasarjana. Cita-cita terbesarnya adalah meraih gelar doctor in philosophy (Ph.D) sebelum umur 30 tahun. Karya artikel penulis dapat dibaca di www.subandi-rianto.webnode.com.

6

Pengusaha Sukses itu Harus Sabar

6

Dibalik kesuksesan seorang kak Syaiful Burhan, alumni  SMART angkatan 2, ternyata tak lepas dari peran kak Sahid Ismail. Kak Sahid Ismail merupakan alumni SMART angkatan 1, ia merupakan inspirasi kak Burhan dalam menjalankan usahanya. Kak Sahid telah lebih dulu menjalankan usaha miliknya, bisa dibilang saat ini ia telah berada di puncak karir.

Kak Burhan kini tengah menjalankan kuliahnya di USU (Universitas Sumatera Utara), selain sibuk kuliah, kini ia juga sibuk mengembangkan usahanya, “Molen Arab”.

Lahir di Pemalang pada 30 Maret 1993 dari seorang penjual es keliling dan guru honorer menjadikan dirinya merasa memiliki tanggungjawab untuk memperbaiki kondisi keluarga, terlebih lagi ia adalah anak tertua dari enam bersaudara. Sehingga ia memikirkan cara agar minimal “Tidak minta dari orang tua,” ungkapnya. Sejak duduk di bangku SD ia sering berjualan gorengan untuk membantu orangtua dan juga untuk menambah uang saku. Bahkan saat kelas 5, ia pernah menjadi pemulung barang bekas.

Dari dulu ia tidak pernah bercita-cita sebagai pengusaha. Cita-citanya sejak kecil ialah menjadi Fisikawan dan Menristek. Namun, ia juga pernah berpikir untuk menjadi pengusaha. Pengalamannya berjualan saat masih SD ternyata mendorongnya melakukan usaha. Usaha yang dijalankannya saat ini ternyata lahir dari kondisi “kepepet”, karena saat itu merupakan masa tersulit selama ia berkuliah. Kala itu, adiknya harus dioperasi dan orangtuanya harus mengeluarkan banyak uang, dan saat itu pula sebulan lagi ia harus membayar uang sewa tempat tinggalnya sebesar Rp 2 juta. Untuk membayar uang sewa tersebut, ia pun meminta kepada orangtuanya dan orangtuanya memberikan uang sebesar Rp 2,5 juta.

Ia berpikir bahwa uang 500 ribu dari sisa membayar uang sewa tidak akan cukup untuk biaya hidupnya. Sehingga ia memberanikan diri menaruhkan uang Rp 2,5 juta untuk dijadikan modal menjalankan usaha. Ia juga memiliki kekhawatiran akan tempat tinggalnya, jika ia tidak bisa menjalankan usahanya dengan baik, maka ia tidak akan punya tempat tinggal.

Awalnya ia bingung ingin usaha apa, yang ia tahu adalah ia hanya ingin usaha makanan karena jika tidak laku masih bisa dimakan olehnya, ia bingung makanan apa yang akan ia jual. Hingga ia teringat bahwa saat masih bersekolah di SMART, ia sering makan molen yang ukurannya besar, selain itu ia juga suka sekali dengan molen. Dari situ ia mendapatkan ide untuk berjualan molen yang ukurannya besar, yang ia namai Molen Arab.

Awal menjalankan usaha ia bekerja sendirian, selama seminggu ia memasarkan Molen Arabnya dan ternyata mendapatkan respon baik dari konsumen. Saat itu ia merasa tidak sanggup bekerja sendirian dan “udah mau mati,” ungkapnya. Dua bulan pertama ia bekerja begitu keras sendirian hingga hampir menyerah, motivasi dari kak Sahid  yang membuatnya tetap bertahan. Di dua bulan tersebut, ia hanya bisa tidur tak lebih dari dua jam. Di sela-sela waktu tidurnya yang pendek tersebut ia selalu menjalankan saran dari ustad Syahid, guru kami di SMART, untuk melaksanakan qiyamulail. Merasa tidak sanggup bekerja sendirian, ia mengajak tiga orang temannya yang juga lulusan SMART untuk bekerja dengannya, tiap orang ia gaji Rp 600 ribu.

Semenjak itu usahanya terus berkembang dan ia pun mulai mencari agen untuk menjual Molen Arab kreasinya. Kini ia telah memiliki 50 karyawan yang terdiri dari 11 orang yang bertugas memproduksi Molen dan sisanya bertugas untuk memasarkan molen tersebut. Dan saat ini ia mengandalkan asisten pribadinya untuk mengatur usahanya tersebut.

Respon yang baik dari masyarakat membuat kak Burhan ingin mengembangkan bisnis yang ia bangun. Rencananya ia akan membuat PT (Perseroan Terbatas) dan ingin membuka kafe. Kafe bertema pisang akan ia gadang, jelas seluruh menunya akan berhubungan dengan pisang, seperti pancake, lasagna, es krim, keripik, peyek, dan lain-lain.

“Insya Allah, pada September nanti usaha saya akan memperbanyak produksi, dari yang sebelumnya sebanyak 2000 molen per hari, menjadi 4000 molen per hari. Selain itu saya juga harus menambah karyawan, dan sepertinya akan membuat shift agar lebih efektif. Jadi akan dibagi dalam tiga waktu,” ungkapnya.

Itu semua ia lakukan karena banyaknya pesanan yang ia terima, mulai dari Jakarta hingga Sumatera seperti ingin merasakan kenikmatan Molen Arab buatannya. Namun ia belum berani menerima pesanan tersebut karena sulit mengirim molen tetap bagus kualitasnya hingga ke Jakarta atau Sumatera. Selain lewat pemesanan, ia juga memasarkan molennya di kampus-kampus di Medan. Selain itu, ia juga akan memperluas wilayah pemasarannya menjadi tujuh kampus. Selain lewat kampus, ia juga memiliki outlet berlantai dua; lantai satu dijadikan kantor, sedangkan lantai dua dijadikan tempat produksi. Di outlet tersebut produksi dilakukan, dan biasanya pukul 14.00,2000 molen telah habis terjual. Dari molen-molen tersebut ia meraih omset Rp 8 juta per harinya, bahkan pernah sampai Rp 16 juta sehari.

Selain itu, ia juga menggunakan dunia maya untuk mempromosikan molennya, khususnya blog dan website. Kemampuan nge-blog yang ia dapat di SMART begitu bermanfaat. Namun karena sekarang makin sibuk, ia telah jarang mengurus blognya (www.buffhans.com). Dalam waktu dekat ia akan merekrut orang untuk mengurus laman web Molen Arab yanf beralamat di www.molenarab.com. Website tersebut khusus untuk usaha yang akan memudahkan konsumen untuk memesan molennya. Selain itu, web Molen Arab juga berfungsi sebagai media informasi bagi konsumen mengenai hal terbaru dari usahanya.

Menurut Kak Burhan, posisinya saat ini tak lepas dari dukungan orangtua dan juga kak Sahid Ismail yang telah memberinya banyak motivasi dan menjadi inspirasi baginya. Selain itu, SMART berperan besar baginya terutama dalam hal mental dasar, seperti kemandirian. Dan ia tidak pernah lupa motivasi dari Ustadzah Latifah, “Jadilah ikan besar di kolam yang kecil daripada menjadi ikan kecil di kolam yang besar”.

#SMARTSemangat #MembentangKebaikan

11174900_10204030611113533_7847027910770735425_n

Belajar Untuk Belajar

11174900_10204030611113533_7847027910770735425_n

Oleh: Saiful Chorudin

Assalamu’alaikum. Nama saya Saiful Choirudin, lulusan angkatan pertama SMART. Ini adalah sepenggal kisah pengalaman berharga saya.

Sejak kuliah di Universitas Paramadina, saya sudah mengajar membuat kartun di SMP Islam Al- Syukro Universal, Ciputat. Di sana, saya mengajar ekstrakurikuler khusus untuk membuat dan belajar mengetahui apa-apa saja yang berhubungan dengan kartun. Saya tahu ada lowongan kerja sambilan di sekolah itu dari seorang ustadz yang sebelumnya pernah mengajar pelajaran bahasa Inggris dan juga menjadi kepala asrama di SMART yaitu Ustadz Heri Sriyanto.

Saya mengajar untuk satu tujuan yang besar, yaitu untuk belajar. Jadi, saya masih ingin belajar meskipun sudah bekerja. Hanya belajar dan belajar.

Setelah mendapat gelar S1, saya masih ingin belajar lagi. Saat itu, belum ada pikiran yang muncul tentang mencari kerja. Kalau teman-teman saya sudah banyak yang mencari lowongan pekerjaan, saya tidak. Saya masih ingin belajar. Seakan-akan hanya ada pemikiran tentang belajar saja. Saya mengajar di SLB (Sekolah Luar Biasa) Mahardika juga masih untuk belajar, tepatnya belajar bersyukur.

Mungkin kebanyakan orang menganggap anak-anak yang berada di SLB itu gila, jelek, kotor, dsb. Tetapi saya tidak. Saya menggunakan kesempatan yang telah diberikan oleh Allah SWT sebagai tempat untuk bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan pada kita semua.

Di SLB sendiri ada banyak hal yang unik dan berbeda dari sekolah-sekolah biasa. Satu kelas di SLB hanya berisi 5-8 siswa. Berbeda dari sekolah biasa yang bisa menampung lebih dari 20 siswa untuk satu kelas. Ketika mengajar, harus ada tenaga ekstra untuk memerhatikan dan mengawasi para siswa. Apabila seorang pengajar lalai sedikit saja, salah satu muridnya bisa melakukan hal yang tidak baik.

Saya pernah mengalami hal seperti itu. Saya pernah mengajar menggambar dan saya sedikit lalai. Apa yang terjadi? Salah satu murid saya ada yang memakan krayon yang dipegangnya. Mungkin dia mengira bahwa itu adalah sebuah permen. Saya juga pernah diludahi ketika masuk ke sebuah kelas. Saya sudah terbiasa akan hal seperti itu. Apabila di sekolah biasa seorang pengajar bisa mengajar setiap hari, di SLB tidak bisa. Seorang pengajar biasanya hanya mengajar 3 kali dalam seminggu.

Ada hal unik lain di SLB. Salah satunya adalah para orangtua murid yang selalu bersemangat mengawasi anak-anaknya. Mereka bagaikan mesin penjaga 24 jam bagi anak mereka.

Anak-anak yang bersekolah di SLB memang memiliki banyak kekurangan. Tetapi di balik kekurangan tersebut, tersimpan banyak hal yang kadang tidak dimiliki oleh orang biasa.

#SMARTSemangat #MembentangKebaikan

IMG-20160822-WA0011

Demi Kerapihan dan Kebersihan, yuk Dirapikan Sepatunya

IMG-20160822-WA0011

Di sekolah kami kerapihan dan kebersihan menjadi sebuah kewajiban, karena kerapihan dan kebersihan merupakan bagian dari iman. Selain itu keduanya juga mencerminkan diri kami sebenar-benarnya di sini. Oleh karenanya pihak sekolah sangat menekankan kebersihan dan kerapihan baik di sekolah maupun di asrama.

Ada satu peraturan baru di SMART nih Sob, yakni penempatan sepatu di masjid HARUS pada tempatnya. Sebelum ada peraturan ini hampir seluruh teman-teman kami menempatkan sepatu mereka sembarangan di sepanjang area masjid dan anehnya mereka terlihat tak peduli melihat kekacauan tersebut, hal ini tak ayal membuat gerah pihak sekolah dan juga SMART Discipline Squad (SDS).

Bagi mereka yang tidak menempatkan sepatunya di tempat yang sudah disediakan, maka akan ada hukuman tesendiri Sob. Pertama-tama tim SDS akan mencari sepatu yang ditempatkan di sembarang tempat, lalu mereka akan mengumpulkan sepatu tersebut di dekat halaman masjid. Nantinya tim SDS akan menindaklanjuti para pelanggar. “Hukumannya apa sih?” Hukumannya tak berat kok Sob, para pelanggar hanya perlu melilitkan sepatu masing-masing di leher selama 8 menit saja, lalu harus berjanji tak mengulangi perbuatan itu lagi.

Alhamdulillah cara ini ampuh mengurangi ketidakrapihan teman-teman kami dalam menempatkan sepatu mereka di masjid. (AR)

#SMARTSemangat #MembentangKebaikan

IMG-20160822-WA0015 IMG-20160822-WA0013 IMG-20160822-WA0010

foto 1

Perayaan Hari Kemerdekaan di SMART

foto 1

 

Upacara bendera 17 Agustus merupakan hal yang baru untuk kami. Biasanya ketika Hari Kemerdekaan tiba kami hanya merayakannya dengan menggelar lomba-lomba yang mampu mempererat hubungan kekeluargaan kami di SMART. Namun tahun ini ada yang berbeda, berbeda sekali dan kami sangat senang.

 

foto 2

 

01 Agustus 2016 – “Ikutan jadi panitia acara 17 Agustusan yuk adek-adek,” ujar mbak Eni, Community Engagement Institutional Secretary Dompet Dhuafa Pendidikan kala itu. Kami yang sedang duduk-duduk di selasar hanya saling tatap, sejurus kemudian tanpa menunda nunda kami langsung menjawab “YA KAMI MAU”. “Nanti kita sebagai tim akan mengonsep untuk upacara dan lomba-lombanya juga,” tambahnya. Dan kami tak menyesal telah mengiyakan ajakan tersebut, kami merasa bangga karena bisa menyuarakan ide yang kami punya, kami bukan sekadar menjadi panitia tapi juga konseptor. Beberapa hari kemudian kami sudah dilibatkan di rapat jelang perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia yang jatuh pada 17 Agustus.

 

Foto 3

foto 4

foto 05

 

17 Agustus 2016 – Waktu menunjukkan pukul 07.00 WIB. Panitia sudah rapi jali, sudah teramat siap melaksanakan amanah yang diberi padahal upacara baru akan dilaksanakan pukul 09.00 pagi. Di lapangan para petugas upacara terlihat melakukan gladi bersih tambahan, padahal hari sebelumnya (16/08) mereka telah melakukan gladi bersih, ah mungkin mereka ingin memantapkan performa mereka nanti. Lalu detik berubah menit, menit berubah jam, para panitia upacara dan lomba wara wiri menyiapkan berbagai hal yang diperlukan untuk upacara dan lomba 17-an. Beberapa nampak panik, beberapa terlihat santai namun tahu yang harus dikerjakan. Semua kompak, semua hebat.

 

Foto 6

Foto 7

Foto 8

 

Pukul 08.00 WIB para peserta upacara telah berkumpul, sayangnya bukan berkumpul di lapangan melainkan di selasar kelas, mereka berkerumun sembari tergelak bahkan berlari ke sana ke mari bak kuda kehilangan kendali. Ulah para peserta upacara ini tak ayal membuat gemas para petugas yang menjadi pemimpin barisan, satu persatu mereka memanggil para peserta untuk ke lapangan serta merapikan barisan, membuat banjar sesuai urutan kelas, dan mulai memberi aba-aba agar mereka berada dalam posisi siap.

 

Foto 9

Foto 10

foto 11

 

Setelah memastikan semua petugas dan peserta sudah pada tempatnya dan semua dirasa pas, maka Upacara Hari Kemerdekaan di SMART pun dimulai.

 

foto 12

foto 13

foto 14

 

Upacara Kemerdekaan ini dihadiri oleh seluruh siswa SMART dan juga pegawai Dompet Dhuafa Pendidikan, alumni, guru, dan para relawan Komunitas Filantropi Pendidikan (KFP). Para petugas upacara pun merupakan gabungan dari para pegawai, siswa, dan juga para Guru Sekolah Indonesia (SGI), kebersamaan dan kerjasama seperti ini jarang terjadi dan membuat kami makin semangat menampilkan yang terbaik . Anak SMART kudu hebat, kudu setrong.

 

foto 15

foto 15 a

 

Prosesi demi prosesi kami lewati, mulai dari laporan pemimpin barisan pada pemimpin upacara, penghormatan pada pemimpin upacara, laporan pemimpin upacara pada pembina upacara, penghormatan pada pembina upacara, pengibaran Sang Saka Merah Putih yang diiringi lagu Indonesia Raya, pembacaan teks Pembukaan UUD 1945 oleh seluruh peserta, pembacaan teks Pancasila oleh pembina dan diikuti seluruh peserta  upacara, mengheningkan cipta, amanat pembina upacara,  pembacaan doa, hingga pembubaran peserta, semua kami lalui dengan sangat baik. Kami pikir prosesinya akan memakan waktu lama, ternyata tidak.

 

foto 17

foto 18

foto 19

foto 20

foto 21 a

 

Ada yang menarik ketika upacara berlangsung. Bu Rina Fatimah, Direktur Dompet Dhuafa Pendidikan, nampak bersemangat sekali ketika menjadi dirigen. Bak dirigen pro beliau siap memandu grup paduan suara agar tampil maksimal, keren. Sama kerennya ketika melihat pak Agung Pardini, pembina upacara kami, memaparkan betapa pentingnya pendidikan di era modern seperti sekarang ini. Banyak hal kami pelajari dari amanat pembina upacara. Semoga kelak kami bisa menjadi orang hebat dengan cara kami sendiri, aamiin.

 

foto 21

 

Upacaranya terlihat lancar sekali ya? Padahal kenyataannya tidak juga lho. Ada saja peserta yang mengeluh begini, mengeluh begitu, nyatanya mereka baik-baik saja dan menjadikan lelah; sakit; sampai panas sebagai alasan dan tameng agar tidak ikut upacara hehe.

 

foto 22

foto 23

foto 24

 

Ada beberapa tips yang bisa kamu terapkan agar kuat ketika mengikuti Upacara 17-an nih, dibaca baik-baik ya:

  1. Jangan lupa untuk sarapan. Kalau kamu tak sarapan dijamin akan lemas dan tak akan kuat mengikuti jalannya upacara
  2. Niat itu penting, karena tanpanya kamu pasti malas-malasan menuju lapangan
  3. Minum air yang banyak. Kenapa? Agar cairan di dalam tubuh tercukupi dan kamu bisa terhindar dari pingsan
  4. Nurut sama guru. Guru itu pengganti orang tua kita kalau di luar sekolah, jadi kamu harus nurut sama mereka. Kalau gurumu berkata baris yang rapi, maka barislah yang rapi. Udah gitu aja hihi

Nah kira-kira seperti itu tips supaya kamu kuat mengikuti upacara. Semoga bermanfaat. Iya sama-sama kembali kasih :D.

 

foto 24a

 

Setelah sukses menggelar Upacara 17-an pertama di SMART, kami semua berkumpul dan diberi pujian atas performa kami untuk kegiatan ini. Alhamdulillah bahagia rasanya, semoga kami bisa lebih baik lagi di tahun-tahun yang akan datang. Panitia upacara resmi dibubarkan maka kami masuk pada agenda kedua kami yakni Lomba 17-an.

Ada lima lomba yang kami adakan di perayaan Hari Kemerdekaan tahun ini, sebut saja Lomba Makan Kerupuk, Dorong Tambang, Geboin Paku, Memasukan Benang  ke Dalam Jarum, dan Lomba Balap Karung. Supaya kamu tak bingung maka akan kami jelaskan satu-satu ya.

  1. Lomba Makan Kerupuk. Kalau kamu pikir lomba ini kurang greget, coba dipikir ulang. Di lomba makan kerupuk yang kami buat, kami melumuri kerupuk yang gurih dengan campuran kecap manis dan garam yang rasanya hmmmm…. Nah kebayang dong seperti apa rasanya? Dan peserta harus saling gendong untuk memakannya

 

foto 26

foto 27

  1. Dorong Tambang. Tarik tambang mah biasa, kalau dorong tambang jelas tak biasa. Pada dasarnya lomba ini sama seperti tarik tambang, namun posisinya kami balik, taraa jadilah dorong tambang. Lomba dorong tambang juga diikuti para guru dari Sekolah Guru Indonesia lho, seruuuu

 

foto 28

foto 29

foto 30

 

  1. Geboin Paku. Bukan, ini bukan paku temannya palu. Paku di sini merupakan tumbuhan kecil yang kami jadikan alat adu cepat. Kamu bisa lihat di video yang kami sertakan ya

  1. Memasukan Benang ke Dalam Jarum. Kalau kamu tak tahu caranya kebangetan hihihi

 

foto 31

 

  1. Lomba Balap Karung. Bagaimana membuat lomba ini greget? Buat saja para peserta berlomba menghadap arah sebaliknya, jika biasanya mereka melompat maju, kami balik jadi melompat mundur. Wooow banyak yang jatuh XD.

 

foto 32

foto 33

 

Lomba-lomba di atas tak hanya diperuntukkan untuk kami lho, karena pegawai DD Pendidikan juga boleh ikutan. Eits jangan lupa, ada hadiah keren menanti para jawara. Aaah pokoknya hari ini menjadi hari yang membahagiakan untuk kami, kami bisa bebas bersenang-senang

 

foto 34

foto 35

 

Walau lelah tak terperi, namun semua terbayar karena kami bisa melihat teman-teman kami tersenyum lebar.  Sampai jumpa di Hari kemerdekaan selanjutnya! (AR)

skolah

Full Day School Bukan Solusi Utama Perbaikan Pendidikan

skolah

 

Bogor, 9/8/2016 – Sudah menjadi tradisi pemerintah bahwa pergantian pejabat maka terjadilah pergantian kebijakan. Belum genap satu bulan Prof. Muhajir memimpin nahkoda Kemendikbud menggantikan Anies Baswedan, beliau sudah mengeluarkan pernyataan yang kontroversial yaitu mengenai sekolah fullday.

Wacana dari Mendikbud ini menimbulkan tanggapan beragam, salah satunya dari General Manajer Sekolah SMART Ekselensia Indonesia Dompet Dhuafa Syafi’ie el Bantanie. Syafi’ie menyatakan bahwa perbaikan kualitas pendidikan bukan hanya tentang full day school atau half day school, melainkan juga peningkatan kualitas guru dan perbaikan kurikulum. Dan, yang lebih mendasar lagi adalah menumbuhkan ruh atau semangat mendidik pada diri guru.

“Kelebihan yang dimiliki pendidikan boarding school. Kyai merupakan pimpinan sekaligus guru yang memiliki semangat mendidik. Sehingga, semangat ini tertularkan kepada siswa didik. Hasilnya, proses pendidikan di boarding school menjadi lebih mengena dan bermakna. Proses membentuk akhlak siswa dengan keteladanan dari para pendidik bisa terjadi selama 24 jam,” kata GM sekolah yang 100 persen siswanya masuk perguruan tinggi negeri.

Sudah waktunya bagi pengambil kebijakan pendidikan bangsa ini untuk menerapkan metode berasrama sehingga mampu menangkal dampak negatif lingkungan luar sekolah yang tidak menunjang pendidikan.