Jpeg

UN (Ujian Nikmati) Saja!

Jpeg

Oleh: Vikram, Kelas 12 IPA

“Jika ujian datang cobalah untuk hadapi, hayati, dan nikmati!”

Namaku Vikram Makrif asal Jambi, kelas 12 IPA SMA SMART. Hari ini, 28 november2016 aku pergi ke Megamendung bersama teman sekelasku Vebrian Galih asal Jogjakarta. Kami berdua mengisi acara Training Motivasi Quantum Learning untuk siswa kelas 6 di SDIT Baitul Halim. SDIT Baitul Halim saat ini sedang mengadakan kegiatan Super Camp selama sehari semalam untuk siswa kelas 3 sampai kelas 6. Juga mengadakan kegiatan out bound untuk siswa kelas 1 dan 2.

Jpeg

Kami berangkat dari SMART bersama bu Dina sebagai pendamping. Kami dijemput oleh pihak sekolah Baitul Halim  pukul 11.00 dan sampai di sana pukul 12 siang. Setelah itu kami melihat-lihat tempat kamping para peserta, tempatnya sangat indah. Ada berbagai macam tempat rekreasi dan out bond. Lalu kami menuju aula acara training yang semi tertutup atau bisa dibilang seperti saung yang sangat luas. Kami makan siang terlebih dahulu, setelah itu baru kami mempersiapkan bahan-bahan dan materi yang akan disampaikan nanti.

Kegiatan Training Motivasi Quantum Learning ini bertujuan untuk menambah semangat siswa kelas 6 SD agar lebih giat lagi dalam belajar mempesiapkan diri sebelum UN. Juga untuk memberikan tips-tips agar belajar lebih mudah dan menyenangkan melalui metode Quantum Learning, yaitu Speed reading, Super Memory System, dan mind Mapping.

Tepat pukul 14.30 acara pun dimulai. Kami memulai acara dengan menguji kefokusan para peserta dengan permainan, setelah itu barulah kami memperkenalkan diri kepada seluruh peserta. Kami memberi materi dimulai dari  Speed Reading, setelah itu Super Memory System, dan yang terakhir mind mapping. Acara dimulai pukul 14.30 dan berakhir pukul 17.50. Pada setiap pergantian materi aku dan Galih memberikan ice breaking berupa permainan ataupun senam agar tidak membosankan.

Setelah menjelaskan tips-tips belajar yang mudah dan menyenangkan kami berdua berbagi pengalaman mempersiapkan diri sebelum UN SD dan pengalaman suka duka hidup di asrama. Mereka memerhatikan dengan seksama dan tertawa ketika kami cerita lucu.

Di akhir acara aku meminta mereka semua untuk saling menghargai satu sama lain, saling tolong menolong, dan juga saling meminta maaf pada teman yang lain. Mereka semua berdiri, saling berpelukan membentuk lingkaran. 16 peserta laki-laki saling bergandengan tangan membuat lingkaran yang besar. 16 peserta perempuan membentuk lingkaran juga namun lebih kecil karena mereka saling berpelukan dan menangis.

“Semuanya coba ikuti kata-kata kakak! Kita adalah teman, kita adalah sahabat, kita adalah keluarga, aku sayang kalian semua,” kataku menyuruh mereka mengulangi kata-kata yang kuucapkan.

“Kita adalah teman, kita adalah sahabat, kita adalah keluarga, aku sayang kalian semua,” teriak seluruh peserta penuh semangat sambil menatap wajah teman-temannya.

Peserta perempuan saling meminta maaf dan berpelukan dengan teman-temannya, sedangkan yang laki-laki saling meminta maaf walau tidak sambil menangis. Setelah itu kami semua bernyanyi bersama sebelum acara ditutup. Aku juga berpesan pada mereka agar tidak melupakan materi yang sudah diberikan serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Setelah ini kita semua harus lebih giat lagi belajarnya, cobalah untuk saling menolong sesama teman, dan juga kalian bisa pakai tips-tips dari kakak untuk pesiapan ujian kalian. Ingat jika ujian datang cobalah untuk hadapi, hayati, dan nikmati!” pesanku pada mereka.

Alhamdulillah acara berakhir dengan sukses, lalu kami semua berfoto bersama sebelum Shalat Magrib. Para peserta mengatakan acara training motivasinya seru dan mengasyikan, ada beberapa dari mereka yang ingin bermain dor-doran sepeti saat ice breaking, ada yang ingin video motivasinya lebih bayak lagi. Bahkan setelah acara selesai beberapa dari mereka meminta tanda tanganku juga tanda tangan Galih. Wah bahagia rasanya, semoga adik-adik  SDIT

tumblr_static_filename_640_v2

Bulan Hujan

Oleh: Nadhif Putra

Dipeluk sepi malam rindang,
menjejak di serpihan gang lengang,
sisanya hanya terdengar pijar tawa,
mata bening mulai merembas, pada
sekujur lapis bernadi milikku
sedang, rinai tawa yang tadi
menggubah titik noktah ilusi
malam sepi, yang lantunkan singkat
sajak dingin pemeran pikat

Kembali pada meja nomor satu
memula, peruntungan pada waktu
pertaruhan tentang dingin, biku
jari-jariku mulai membisu
terguyur basah sore tadi, rindu
sejenak mulai melepasiku
lewat sendi-sendi kata, dirimu
menutur frasa-frasa malamku
yang, merangkai sajak waktu

Masih membekas aroma hujan
di kota, pemilik pameran hujan
membuatku rindu, kecup peluh itu
tak tahan sebab lebam merenggut
kilasan rautmu,
sebentar saja, bulan hujanku
tanpa terasa akan bersua
memupus ruang lewat kata
tatap mata, juga rona
tujuh warna setelahnya

Hanya dengan begitu,
aku dapat kembali mengenalmu
seperti awal waktu,
saat aku menemukanmu,
potongan hujan, sepertimu

21.37 WIB
(Bogor, 2016)

img-20161125-wa0001

Mengembalikan Peran Guru Sebagai Figur yang Digugu dan Ditiru

img-20161125-wa0001

Oleh: Andi Ahmadi, Koordinator Sekolah Literasi Indonesia, Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa

Jika ditanya siapa guru yang paling berpengaruh terhadap kehidupan saya saat ini, maka ia adalah Bu Titah Nurjannah, guru saya sewaktu SD dulu. Sosoknya begitu membekas di hati, bukan hanya karena kecerdasannya, melainkan juga karena kewibawaan dan keteladanannya.

***

Pada masa awal kemerdekaan hingga awal tahun 2000-an, guru adalah sosok yang begitu mulia dan diagungkan, baik di lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat. Di sekolah, guru begitu dihormati dan menjadi teladan bagi murid-muridnya, sedangkan di lingkungan masyarakat guru menjadi rujukan, baik dalam ucapan, perbuatan, maupun pemikiran.

Posisi guru yang begitu agung tersebut bukanlah tanpa sebab. Pasalnya, guru pada saat itu sangatlah menjadi panutan bagi orang-orang yang ada di sekitarnya. Slogan “Guru; digugu dan ditiru” benar-benar melekat pada dirinya, bukan sekadar ungkapan tanpa makna. Bahkan masyarakat tidak akan melihat mata pelajaran apa yang diampu oleh guru tersebut, asalkan dia adalah seorang guru maka masyarakat akan sepakat bahwa ia bisa diandalkan.

Namun, dewasa ini slogan digugu dan ditiru perlahan mulai luntur dari diri sebagian besar guru di negeri ini.  Tidak sedikit dari mereka yang dalam menjalankan profesinya hanya sebatas untuk menggugurkan tugas, dan terjebak pada rutinitas mengajar yang kadang minim akan pemaknaan.

Ungkapan guru sebagai orang yang bisa digugu dan ditiru maknanya amatlah dalam. Digugu memiliki arti dipercaya atau dipatuhi, sedangkan ditiru berarti diikuti atau diteladani. Sudah sepatutnya seorang guru memiliki dua hal tersebut. Segala penyampaian dari guru haruslah sebuah kebenaran yang menumbuhkan keyakinan kepada setiap yang mendengarnya, dan segala tingkah lakunya haruslah menjadi contoh bagi setiap yang melihatnya.

Kemampuan guru untuk bisa digugu dan ditiru erat kaitannya dengan empat kompetensi yang harus dimiliki seorang guru, yakni kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Pada hakikatnya, jika empat kompetensi tersebut dimiliki oleh guru, maka predikat digugu dan ditiru dengan sendirinya akan mengikut pada diri guru tersebut.

Agar bisa dipercaya dan dipatuhi, seorang guru haruslah memiliki pemahaman yang luas dan mendalam terhadap ilmu pengetahuan yang hendak ia sampaikan. Tidak cukup dengan itu, seorang guru juga harus memiliki pengetahuan yang baik mengenai metode dalam menyampaikannya. Bagaimana mungkin seorang guru bisa meyakinkan muridnya kalau ia lemah dalam pemahaman dan penyampaian. Maka seorang guru harus senantiasa memperbaharui kompetensinya, baik dalam hal keilmuan maupun metode pembelajarannya. Itulah kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional.

Selain bisa dipercaya dan dipatuhi, seorang guru haruslah bisa menjadi teladan atau panutan. Dan inilah yang sebenarnya jauh lebih penting dari peran seorang guru dalam pendidikan. Banyak guru yang berhasil mengajar muridnya hingga menjadi orang pintar, namun hanya sedikit di antara mereka yang bisa mencetak  generasi yang berakhlak mulia. Ironisnya lagi, sebagian dari guru di republik ini malah mempertontonkan sikap yang tak seharusnya dilakukan oleh seorang guru.  Tengok saja data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), seperti dilansir keterangan tertulis Kemdikbud, Selasa (14/6), di mana sepanjang Januari 2011 sampai Juli 2015 terdapat 1.880 kasus kekerasan yang terjadi di lingkungan pendidikan. Hal ini menunjukkan betapa guru sudah sangat jauh dari keteladanan.

Bagaimana mungkin pendidikan kita akan melahirkan generasi yang unggul jika gurunya tidak mampu memberikan keteladanan, baik dalam ucapan, pemikiran, maupun perbuatannya. Bangsa ini tengah dilanda krisis keteladanan, maka guru harus mampu berdiri paling depan untuk memberi keteladanan.

Siapapun dia, jika telah memilih profesi guru sebagai jalan hidupnya, maka ia harus siap mengembalikan profesi mulia tersebut pada khittahnya. Seorang guru haruslah memiliki kepribadian yang dewasa, luhur, berwibawa, dan mulia akhlaknya. Selain itu, melalui kemampuan komunikasinya, guru juga harus mampu menciptakan hubungan yang baik dalam setiap interaksinya, baik interaksi dengan warga sekolah maupun warga masyarakat secara umum. Itulah kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial.

Melalui peringatan Hari Guru Nasional, sebagai guru mari kita mengintrospeksi diri, sejauh mana kita bisa menjadi figur yang mampu menginspirasi. Di tangan gurulah masa depan generasi bangsa ini dititipkan, maka hadirnya guru sudah selayaknya memberi kehangatan, perkataannya memberi pencerahan, dan sikapnya penuh keteladanan. Itulah hakikatnya seorang pahlawan.

smart1

SELEKSI NASIONAL BEASISWA SMART EKSELENSIA INDONESIA ISLAMIC BOARDING SCHOOL 2017

smart1

smart3

smart2

SMART Ekselensia Indonesia Islamic Boarding School mencari generasi muda terbaik calon pemimpin masa depan dari seluruh penjuru Indonesia untuk bergabung  bersama kami.

SMART Ekselensia Indonesia merupakan sekolah menengah tingkat SMP-SMA bebas biaya, berasrama dengan program percepatan sistem SKS pertama di Indonesia. SMART Ekselensia Indonesia merupakan salah satu program Dompet Dhuafa Pendidikan  yang bertujuan menjadi sekolah model yang melahirkan generasi berkepribadian Islami, berjiwa pemimpin, mandiri, berprestasi, dan berdayaguna.

Kurikulum SMART Ekselensia Indonesia merupakan kurikulum yang memadukan sistem pendidikan sekolah dan sistem pendidikan asrama. Sebagai jaminan kualitas para peserta didik, SMART Ekselensia Indonesia mengembangkan kurikulum 7 (tujuh) mata pelajaran khas yang dielaborasi dalam jangka waktu 5 tahun untuk menunjang sistem pendidikan yang berkelanjutan dari tingkat SMP-SMA. Ketujuh kurikulum khas tersebut adalah sebagai berikut:

1. Islamika (Al-Qur’an Hadis, Akidah Akhlak, Fiqh, Sejarah Peradaban Islam)
2. Tahfizh Al-Qur’an
3. Matematika
4. Bahasa Arab
5. Bahasa Indonesia
6. Bahasa Inggris
7. Teknologi Informasi

SMART Ekselensia Indonesia juga memiliki program unggulan:
1. Takhasus Tahfizh 30 juz untuk mengkader calon hufazh.
2. Takhasus Islamic Studies untuk mengkader cendekiawan muslim.

Sistem pendidikan sekolah dan asrama didukung dengan sistem manajemen mutu yang diakui secara internasional melalui ISO 9001:2008 dan Baldrige Excellence Framework. Ditunjang pula dengan guru-guru terbaik dan ahli berasal dari berbagai kampus terbaik dalam dan luar negeri.

Tunggu apalagi, daftarkan anak Anda, tetangga demi masa depan Indonesia yang lebih baik!

Informasi lebih lanjut:
PANITIA PUSAT: 0852 8502 0603 (Imtinanika Syahara)
email: smart.ekselensia.school@gmail.com
Website: smartekselensia.net
Facebook: SMART Ekselensia Indonesia
Twitter: @smartekselensia

Download

Download Formulir Pendaftaran SNB SMART Ekselensia Indonesia 2017 [Download]

 

[pdf-embedder url=”http://www.smartekselensia.net/wp-content/uploads/2016/11/SNB2017.pdf” title=”pendaftaran”]

[thetotalviews]

img_20161119_0933541

Ilmu Istimewa untuk Guru Adiguna

img_20161119_0933541

Laporan Pelaihan Pengembangan Butir Soal dengan High Order Thinking Skill (HOTS)

Oleh: J. Firman Sofyan, Guru Bahasa Indonesia SMART

Para siswa, dengan berseragam Pramuka, menyambut kami di pos sekuriti. Seperti biasa, kami memarkirkan kendaraan di tempat yang seharusnya untuk kemudian menuju aula. Yang naik kendaraan umum, tentu harus ikut serta. Ikut dalam pelatihan yang diadakan oleh Litbang Sekolah Model yang diadakan di akhir pekan (lagi). Demi ilmu baru, kami tidak bimbang, apalagi ragu, akan mengerahkan jiwa, raga, harta (ongkos maksudnya), untuk menerima ilmu meski akhir pekan.

Pukul 07.55, di aula SMART Ekselensia Indonesia, telah siap sedia lima orang guru dengan gaya berbusana beda-beda, tentu saja. Para guru disiplin tersebut adalah Ust. Gani, Ust. Mulyadi, Ustz. Eka, Ustz. Novi, dan Ustz. Retno. Saya menjadi peserta keenam. Alhamdulillah, masih sepuluh besar.

Satu per satu, guru lain pun mulai memasuki aula. Ada yang datang dengan senyuman. Ada yang menunjukkan muka masam. Beberapa menunjukkan ekspresi datar tak terdefinisikan. Namun, insya Allah semuanya mengucap salam. Kemudian, semua memilih kursi dan duduk dengan nyaman.

img_20161119_0933321

Telah berbagai tema kami obrolkan saat tiga puluh menit berlalu dari pukul delapan. Yang belum sempat sarapan bahkan bisa menyempatkan untuk jajan. Guru-guru paling alim tidak lupa mengambil wudu untuk kemudian mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta. Aktivitas-aktivitas tersebut kami lakukan seraya menunggu pembicara yang belum tiba karena pasti ada sebuah alasan.

Ustaz Abdul Gani, Koordinator Litbang SMART Ekselensia Indonesia, akhirnya kembali memasuki ruangan tepat pukul 08.45 ditemani dua orang berpenampilan rapi, bersih, dan cerdas. Seorang lelaki dan seorang wanita. Coba menerka usia mereka, tampaknya hampir berkepala empat atau mungkin lebih. Sang pembicara utama, Deni Hadiana, peneliti Indonesia Bermutu, Puspendik, Balitbang Kemdikbud, langsung menyampaikan sebuah pertanyaan setelah dipersilakan oleh moderator, Ustaz Abdul Gani. Wanita yang datang bersama Bapak Deni ternyata tidak turut serta menjadi pembicara. Beliau ikut memilih kursi untuk berdampingan dengan para peserta, yaitu guru-guru SMART Ekselensia Indonesia.

“Apa yang teman-teman bayangkan jika mendengar kata penilaian?” itulah kalimat pembuka yang disampaikan Pak Deni. Beberapa peserta berinisiatif menjawab stimulus tersebut. Jawaban yang diberikan pun sangat variatif dan berkelas, menunjukkan betapa hebatnya kapasitas dan kapabilitas para pendidik siswa-siswa di SMART Ekselensia Indonesia.

Setelah itu, penjelasan dan pemaparan Pak Deni pun mengalir begitu indah. Penjelasannya mudah dipahami. Salindia (slide) presentasinya cukup aktual. Interaksi dengan para peserta sangat baik. Logat Sundanya memang masih agak kental, namun itu tidak menutupi kecerdasannya. Tutur katanya logis dan sistematis. Pokoknya pambicara kali ini top abiiz!

Pada sesi pertama, Pak Deni menyampaikan beberapa konsep pembuatan bank soal dan kriteria pemilihan materi untuk pembuatan soal. Salah satu hal penting dan baru dari materi pertama ini adalah empat kriteria pemilihan materi yang meliputi urgensi, kontinuitas, relevansi, dan keterpakaian. Aktivitas pada sesi pertama ini diisi pula dengan presentasi oleh tiga guru tentang pembuatan indikator pembuatan soal. Tiga guru beruntung tersebut adalah Ust. Mulyadi, Ustz. Dina, dan saya sendiri.

img_20161119_0906581

Tidak terasa, kini sudah saatnya kami rehat sejenak untuk menikmati dua jenis kudapan yang terlihat istimewa. Tidak lupa juga disediakan kopi bagi yang sering dijadikan sebagai sugesti penghilang rasa kantuk oleh beberapa insan. Ada pula teh celup didampingi gula di dalam stoples kecil dan bening. Namun, bagi saya, minuman terbaik adalah air bening (air mineral).

Seperempat jam sudah cukup bagi kami untuk sejenak mengisi perut yang mulai menipis dan kempis. Cukup untuk meningkatkan kembali gairah dan semangat kami dalam berpetualang menikmati setiap untaian kalimat yang disampaikan sang pembicara. Sesi berikutnya, tepat pukul 11.00, kami melanjutkan presentasi pembuatan soal sesuai dengan indiator yang telah dibuat. Empat guru pemberani pada sesi kedua adalah Ustz. Lisa, Ustz. Ulfi, dan Ustz. Dede. Presentasi berjalan interaktif karena soal-soal yang dibuat para presentator sangat baik dan kreatif.

Pukul 11.45 kami akhiri sementara kegiatan menyenangkan dan mengeyangkan (ilmu) ini. Saatnya kami bergegas menuju seruan azan untuk segera melaksanakan kewajiban.

Setelah kebutuhan rohani dan jasmani tuntas didapatkan, pukul 12.50 kami kembali menyiapkan fisik dan pikiran untuk menyerap ilmu berikutnya dari Pak Deni. Bukan ilmu menghilang apalagi ilmu menggandakan uang pastinya. Ini adalah ilmu yang sangat istimewa. Ilmu yang akan membuat guru menjadi lebih adiguna. Ilmu ini adalah Pengembangan Butir Soal dengan High Order Thinking Skill (HOTS). Ini adalah materi pelatihan yang betul-betul saya harapkan sejak tahun ajaran 2015-2016. Alhamdulillah, sekolah bisa menghadirkan pembicara yang berkualitas sehingga kini kami pun insya Allah bisa  membuat soal-soal dengan tepat, baik, dan komprensif.

img_20161119_0905271

Bukti bahwa ilmu yang disampaikan aplikatif bagi kami adalah presentasi oleh salah satu guru paling cerdas yang dimiliki SMART Ekselensia Indonesia: Ust. Mulyadi. Dan, hasilnya sungguh puspawarna.

Satu per satu aktivitas telah kami lewati. Jujur kami sangat senang hati karena di akhir pekan kemarin mendapatkan ilmu yang penuh arti. Terima kasih kami ucapkan kepada semua pihak yang telah menyelenggarakan pelatihan ini, terutama kepada sang pemateri Bapak Deni. Semoga ilmu yang Bapak berikan bisa kami aplikasikan bukan hanya hari ini, melainkan sepanjang hayat kami. Pukul 14.15 kami pulang menuju keluarga yang telah menanti.

 

 

dscf1261

Mencintai Literasi di Bulan Bahasa

dscf1261

Lapangan SMART menjadi saksi bisu dari berbagai kegiatan yang telah dilaksanakan SMART sejak angkatan pertama. Bisa dibilang SMART berbeda dengan sekolah-sekolah lain, jika di sekolah lain upacara biasa diadakan setiap Senin, di sekolah kami hampir setiap hari lho (tentu saja Sabtu dan Minggu tak termasuk). Sebut saja ia Apel Pagi, kegiatan ini telah dimulai sejak SMART berdiri sekitar 14 tahun yang lalu. Karena berbeda dengan upacara, maka lebih banyak kegiatan menarik di Apel Pagi, seperti pagi ini (23/11), Lapangan SMART terlihat sangat semarak dan penuh dengan kegembiraan. Apa pasal? Pasalnya dua teman kami membawakan Stand Up Comedy dihadapan ratusan siswa SMART dan para guru dengan gaya mereka yang unik dan menarik.

dscf1318 dscf1320

“Dari lahir gue udah jadi pejabat; Peranakan Jawa Batak,” buka Rizky Dwi Satrio, Kelas XII IPA, yang disambut gelak tawa. Skrip komedi yang ia bawakan makin membuat para peserta Apel Pagi riuh dengan tawa. Setelah Satrio puas mengocok perut kami tiba giliran Boby Anggara, Kelas XII IPA, membawakan skrip komedi selanjutnya. Penampilan Boby juga mampu membuat kami semua tergelak.

Oh iya kamu pasti heran ya kenapa bisa ada Stand Up Comedy di Apel Pagi, jadi begini, Sejak 16 November lalu hingga 24 November nanti kami mengadakan Bulan Bahasa SMART. Bulan Bahasa merupakan kegiatan yang dihelat oleh Organisasi Akademika SMART (OASE) agar para siswa SMART lebih mencintai literasi. Sekadar info untukmu kalau kondisi literasi di Indonesia dapat dibilang masih kurang, Indonesia saja tercatat menempati peringkat 64 dari 65 negara yang menjadi objek dalam hal literasi. Bahkan tingkat membaca siswa di Indonesia menempati urutan 57 dari 65 negara (PISA, 2010), pun indeks minat membaca masih berada pada angka 0,001 yang artinya dari 1000 orang hanya 1 orang yang membaca.

Naah Bulan Bahasa ini menjadi ajang kami untuk lebih mencintai literasi, ada beberapa kegiatan yang kami adakan seperti Stand Up Comedy, Khitobah (ceramah menggunakan bahasa Arab), dan Balas Pantun. Pelaksanaan Bulan Bahasa dilaksanakan di lokasi dan jam yang berbeda-beda, Stand Up Comedy diadakan setiap pagi di lapangan apel, Khitobah dilaksanakan lepas Zuhur di Masjid Al-Insan, dan Balas Pantun diadakan di kelas lepas Asar.

fb_img_1479808092764 p_20161122_122205 img-20161012-wa0003

Kami tak menyangka jika peminat Bulan Bahasa banyaak sekali, sekitar 150 siswa turut berpartisipasi dan meramaikan kegiatan yang dilaksanakan setiap tahun ini. Kami berharap jika Bulan Bahasa tahun ini mampu membuat kami lebih rajin untuk membaca, menelaah, dan mengingatkan teman yang lain betapa pentingnya membaca dan berliterasi. (AR x MA)

 

img-20161025-wa0005

13645111_1253525344657720_6303200642392524960_n

Tobi

13645111_1253525344657720_6303200642392524960_n

Oleh: Dede Iwanah, Guru IPS SMP SMART.

Badannya ramping, mungkin paling di kelas atau bahkan angkatannya. Rona wajahnya suram, entah bakat alam atau sekadar untuk memperdaya para lawan bicara. Bisa swafoto dengan senyumnya adalah sebuah hal langka. Tutur kata dan gesturnya hampir berbanding lurus dengan ekspresinya. Tobi, itulah namanya. Ia adalah salah satu siswa kelas cerdas istimewa di SMART Ekselensia Indonesia. Kini, ia berada di kelas XI program IPS, sesuai pilihannya.

Adapun Icha, tampak kontras dengan Tobi Ifanda Putra. Ia senantiasa memberikan senyuman dan sapaan kepada setiap insan. Pipinya tembam apalagi saat tertawa. Gemas sekali melihatnya. Ia pun tidak sungkan menyapa orang yang baru dilihatnya. Tidak jelas memang ucapannya, namun semua memakluminya. Ya, maklumlah karena Icha hanyalah seorang balita. Tiga tahun usianya.

Tobi adalah anak didik umi*, sedangkan Icha adalah anak kandung umi. Bukan tanpa maksud umi menyandingkan keduanya di pelaminan, eh, di dalam tulisan maksud umi.

Icha, putri bungsu umi, kini tidak bisa jauh dari tempat umi bekerja. Ia kini belajar, bermain, dan beraktivitas di day care Bumi Pengembangan Insani. Ini adalah sebuah program baru yang berada di Bumi Pengembangan Insani, sebuah program yang sangat membantu para karyawan yang memiliki putra atau putri yang masih harus mendapatkan perhatian ekstra.

Icha dan Hira menjadi peserta perdana program tersebut. Dua balita cantik, aktif, cerdas, dan menggemaskan, terutama bagian pipi mereka tentu saja. Icha telah beberapa kali berganti pengasuh sehingga cukup mudah beradaptasi dengan orang-orang baru. Terkadang tidak sulit bagi Icha untuk menunjukkan rasa sayang kepada pengasuhnya. Akan tetapi, beberapa kali Icha pun kesulitan untuk dekat dengan pengasuh lainnya meski sang pengasuh sudah menjaga Icha dalam durasi cukup lama. Dalam kondisi seperti itu, tidak ada jalan lain selain mencari pengasuh baru. Mungkin benar apa kata orang, anak kecil tidak bisa berbohong, dia bisa merasakan kasih sayang dan ketulusan hati seseorang.

Sore itu, waktu sudah menunjukkan pukul 16.00. Waktunya Icha pulang belajar dari day care, tempatnya belajar. Akan tetapi, karena sore itu umi harus mengikuti rapat di kantor, Icha pun harus turut serta dalam rapat tersebut. Tak lama berselang, Icha merasa bosan dan memutuskan bermain dengan Hira yang juga turut menunggu bundanya yang sedang rapat. Akhirnya, umi mengantar Icha menemui Hira di Pusat Sumber Belajar (PSB) Makmal Pendidikan. Sesampainya di sana, Icha menemukan Hira sedang bermain dengan Kak Tobi. Melihat wajah Kak Tobi, Icha pun urung mendatangi Hira dan sang lelaki asing.

Tidak lama duduk bersama Umi, lagi-lagi Icha merasa bosan dan keluar ruangan tanpa ucapan. Beberapa waktu kemudian, Bunda Hira menyampaikan bahwa Icha sudah bergabung dengan Hira dan Kak Tobi menjadi tiga sekawan. Awalnya umi heran, namun rasa tersebut terlupakan saat Hira tersenyum menawan. Setelah rapat selesai, akhirnya Icha pamit kepada Hira dan Kak Tobi untuk pulang.

Keesokan harinya, Icha belajar kembali di PSB dan bertemu dengan Kak Tobi untuk kali kedua. Sesekali terlihat Icha berusaha merebut hati Kak Tobi dari Hira. Tampaknya konflik dan intrik akan segera terjadi di antara mereka bertiga. Hira yang telah menganggap Kak Tobi bagaikan kakak kandungnya, tentu tak rela kehilangan kasih sayang sang kakak. Icha, sebagai seorang balita, tentu ingin menunjukkan egonya. Ia ingin juga mendapatkan hati Tobi Ifanda Putra. Sungguh kisah drama yang adiwarna.

Entah dengan ilmu apa, entah dengan teori siapa, Tobi bisa menyatukan hati Hira dan Icha. Kini mereka menjadi trio tak terpisahkan. Trio unik dan nyentrik yang terdiri seorang remaja dan dua orang balita.

Sore itu, waktu sudah menunjukkan pukul 16.00, sudah waktunya Icha dan Hira pulang. Mereka berdua bersiap-siap untuk segera pulang. Dan, di saat itu juga, Icha melihat Kak Tobi dengan kakak lainnya menuju lapangan futsal SMART Ekselensia Indonesia. Drama kembali terjadi. Icha seolah tak ikhlas memalingkan pandangan dari Kak Tobi. Icha ingin menyaksikan bagaimana perjuangan Kak Tobi saat beradu fisik dan strategi di lapangan futsal hingga tiga puluh menit beranjak dari pukul 16.00.

Sampai pukul 16.30, Icha tetap tidak mau beranjak dari duduknya. Berkali-kali umi berhitung memberikan kesempatan Icha menonton permainan futsal, namun usaha itu selalu gagal. Icha tetap tidak mau pulang.

Mulut kecilnya berujar bahwa Icha hanya mau pulang jika diantar Kak Tobi! Seketika itu umi terkaget bukan kepalang. Umi pun kemudian berusaha memberikan pengertian bahwa Kaka Tobi sedang bermain, tidak bisa mengantar Icha pulang. Usaha umi kembali gagal sehingga umi meminta tolong kepada seorang kakak yang berada dekat tempat Icha duduk untuk menyampaikan permintaan Icha kepada Kak Tobi nan cemerlang.

Untuk beberapa saat, Kak Tobi tidak memenuhi permintaan Icha karena sedang asyik bermain futsal. Icha terlihat sedih sekali. Air hangat seolah akan segera meleleh dari mata sayunya. Kekecewaan nyaris saja menghinggapi dirinya. Namun, tidak beberapa lama kemudian, sang pahlawan pun datang. Akhirnya, Kak Tobi keluar lapangan dan memenuhi permintaan dan mengantar Icha pulang. Tidak sampai rumah memang. Sampai parkir motor pun sudah membuat Hira senang. Icha dan Kak Tobi pun harus mengucapkan salam perpisahan di sore hari yang mendung dan cukup kelam.

Sejak hari itu, berbagai pertanyaan timbul di benak saya. Entah mengapa Hira dan Icha begitu nyaman bermain dengan seorang Tobi Ifanda Putra. Bukan karena fisik pastinya. Bukan juga karena harta tentu saja. Mungkin hanya ketulusan hati anak-anak kecil itu yang bisa menjawabnya.

Di balik wajahnya yang (maaf) suram dan kelam itu, ternyata seorang Tobi memiliki hati istimewa. Hati yang mungkin tidak dimiliki orang lain yang berpenampilan lebih wah. Tobi memiliki kekayaan dan ketulusan hati untuk mencintai anak-anak kecil yang manja. Ia tulus, tanpa meminta apa-apa. Sorot mata Tobi menunjukkan betapa ikhlasnya saat ia bersama Hira dan Icha. Pelajaran yang sangat berharga dari seorang anak peraih beasiswa Dompet Dhuafa. Darinya, kita belajar bahwa penampian fisik bukanlah segalanya, darinya kami belajar keikhlasan. Terima kasih, Tobi Ifanda Putra.

 

*umi merupakan panggilan sayang siswa SMART, anak, dan suami kepada ibu Dede (red.)

sunrise-sunset-sun-calculator

Sedikit Tentang Pagi

(Tak Ada Nasihat yang Pantas Untuk Rembulan)

Oleh: Nadhif Putra Widiansah, Kelas XII IPA

Biarkan aku bercerita
sedikit tentang kawan lamaku,
begini:

“Rembulan datang malam hari,
mengusik mimpi
dan menanti pagi,
pergi kembali di ujung malam
jatuh harapnya di ufuk pagi.”

lagi,
“Rembulan datang malam hari,
mengganjal khayal
dan memendek napas malam,
datang lagi dengan intuisi tentang pagi.”

dan lagi,
“Rembulan datang malam hari,
tubuhnya ringkih tergerus masa,
lengan-lengannya merangkul ironi,
masih saja mendamba pagi.”

dan lagi-lagi,
“Rembulan datang malam hari,
matanya celik,
ditatapnya pelik
masih begitu, hanya menikmati ritme
konstelasi menuju pagi
langkahnya gontai
juwita miliki
derapnya lugu menuju pagi.”

Tak pernah berhenti,
begitu aku melihatnya
ditiap malamnya,
kadang berubah sendu
seringkali kukira rindu
mungkin, tak ada nasihat
yang pantas untuk rembulan,
tembangkan barang
dua melodi petikan,

Begitu juga dengan malam, hitam
terus saja diam
tak bergeming memelukrembulan,

yang hampir tersungkur mengejar pagi
dan kini,masih saja kulihat;

“Rembulan datang,
memuja pagi.”

(Bogor, 2016)

p_20161119_094124

Berjejaring dan Membentang Kebaikan

p_20161119_094124  

“Jadilah manusia yang bermanfaat sebesar-besarnya untuk siapapun dan di mana pun,” ungkap kak Dini, pembicara dalam acara workshop bersama Duta Gemari Baca Dompet Dhuafa, penuh semangat.

Langit cerah dan mentari pagi menemani langkah kami menuju Pusat Sumber Belajar (PSB) Makmal Pendidikan. Di tengah indahnya Sabtu pagi (19/11), kami mengikuti workshop bulanan para Duta Gemari Baca bertajuk “Networking dan Partnership”. Acara yang diadakan di lantai satu PSB ini dihadiri 20 peserta yang terdiri dari Duta Gemari Baca, siswa SMART dan beberapa mahasiswa Sekolah Guru Indonesia (SGI). Melihat para peserta yang datang, semangat kami semakin menggebu untuk mendapatkan inspirasi baru dan cara asyik berelasi.

Sekitar pukul 9 pagi workshop penuh insprasi ini dimulai.

Terdapat dua sesi dalam kegiatan workshop kali ini. Sesi pertama ialah networking dalam workshop  dijelaskan betapa dahsyatnya berjejaring. Pada awal kegiatan, para peserta diajak untuk bercerita mengenai benda yang dibagikan kepada masing-masing peserta.  Para peserta diajak untuk aktif dan menemukan banyak inspirasi dari benda disekitar. Kak Dini menuturkan bahwa penting sekali memiliki  jiwa yang baik,murah hati dan tulus. Hal tersebut merupakan mata uang utama dalam kegiatan berjejaring.

Kegiatan interaktif seperti simulasi mengumpulkan kartu nama saat seminar dilakukan untuk menambah inspirasi para pejuang Gemari Baca. Aksi nyata untuk saling berbagi hasrat dan menunjukan perilaku baik dalam berjejaring.  Kisah-kisah inspiratif juga dibagikan untuk mengajak berjejaring dengan baik dan optimal. Sayangnya, sesi yang sangat mengasyikan ini hanya sampai pukul 12 siang saja. Namun kak Dini tidak segan untuk mengevaluasi seraya mengapresiasi aksi para peserta, ternyata banyak sekali ketidaksadaran untuk berelasi dengan baik yang selama ini kami lakukan.

p_20161119_094145

Waktu istirahat siang tiba. Seraya mencicipi hidangan nasi bakar spesial, para peserta saling berinteraksi dan bertukar pendapat mengenai sesi pertama workshop.Rehat siang ternyata tidak mengendurkan semangat para peserta workshop untuk mendapatkan inspirasi. Hal ini dibuktikan saat dibukanya sesi kedua workshop tentang Strategic Patnership. Tepuk tangan meriah membuka kegiatan inspirasi yang dibawakan oleh kak Andi Angger Sutawijaya, ia adalah Koordinator Nasional Komunitas Filantropi Pendidikan dan Ketua Komunitas Turun Tangan Banten.

Dengan pengalaman yang mumpuni di bidang partnership, kak Angger memberikan inspirasi nyata untuk berjejaring dengan baik dan optimal. Kak Angger menyatakan bahwa pentingnya kita untuk memiliki lingkaran partner, ia menyampaikan dengan lugas keutamaan gerakan sosial yang akan kami rencanakan. Aksi interaktif dan menyenangkan juga terdapat dalam sesi ini, para peserta diajak untuk turun langsung membuat rancangan kegiatan dan bersimulasi mencari sponsor yang akan kita tuju. Berbagai tips kepemimpinan dan berorganisasi juga dibagikan untuk mengajak kami untuk membuat gerakan sosial.

p_20161119_094650

Di akhir acara, para peserta mendapat banyak sekali manfaat dari networking dan partnership dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah rintik hujan Sabtu sore berakhirlah acara Workshop Gemari Baca. Semoga kebermanfaatan dari partnership dan networking tidak berhenti di satu titik. Dibutuhkan aksi nyata untuk menyebarkan nilai dan manfaat agar kehidupan mejadi lebih bik dima yang akan datang. (RZL x AR)

p_20161116_131607

Negosiasi? Siapa Takut?

p_20161116_131607

Ada yang berbeda di pelajaran Bahasa Indonesia siang ini (16/10), kami yang biasanya belajar di kelas dengan teman satu jurusan (IPA dan IPS jadwalnya berbeda) sekarang tumplek blek di Aula SMART. Aula begitu padat hingga kami bingung harus duduk di mana, bagaimana tidak padat, 50 siswa disatukan untuk mengikuti kelas spesial di mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Kalau dengar kata spesial pasti kamu langsung terbayang hal-hal keren deh, itu juga yang kami rasakan. Jujur kali pertama mendengar akan diajarkan materi negosiasi rasanya seperti mendapat angin segar, kenapa? Karena itu artinya kami belajar hal baru yang akan mengasah kemampuan lagi. Materi negosiasi dibawakan oleh kak Dini Wikartaadmadja, ia merupakan Creative Librarian dari Pusat Sumber Belajar (PSB) Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa, oh iya kegiatan ini dimulai pukul 13.00 sampai jelang Asar. Kalau menurut bu Yati, Guru Bahasa Indonesia kami, pemberian materi negosiasi dilakukan agar kami tidak hanya pintar berteori namun juga pintar untuk melakukan interaksi yang bisa diaplikasikan langsung di masyarakat kelak.

p_20161116_131512

Selama materi berlangsung kami dibagi menjadi enam kelompok, sebelum materi diberikan masing-masing kelompok telah membuat kesepakatan dengan kak Dini, jika kedapatan melanggar akan dikenakan sanksi nyata hmmm. Pada kesempatan kali ini kak Dini membeberkan seluk beluk negoisasi. Tahukah kamu jika negosiasi merupakan proses di mana dua pihak yang memiliki persepsi, motivasi, dan kebutuhan yang berbeda dan mencoba bersepakat demi kepentingan bersama? Nah Ada beberapa unsur negosiasi yang harus kamu ketahui nih antara lain adanya proses komunikasi, adanya perbedaan kepentingan, adanya perundingan, dan adanya kesepakatan.  Itu saja? Tentu tidak karena ternyata masih ada langkah-langkah yang harus kamu lalui seperti persiapan untuk meningkatkan target capaian dan persiapan mental, jangan lupa ada juga pembukaan yang meliputi sikap menyenangkan, tegas, dan satu lagi, senyum. Yap senyum itu penting untuk memberikan kesan baik ketika bernegosisasi.

“Kakak ingin agar kalian bisa mengetahui arti negosiasi dan menerapkan negosiasi di kehidupan nyata,” ungkap kak Dini penuh semangat.

p_20161116_131638

Setelah materi awal dipaparkan, kami langsung praktik membuat rancangan dan strategi negosiasi dengan tema yang sudah ditentukan. Kelompok 1: Penjualan, Kelompok 2: Peraturan, Kelompok 3: Perizinan, Kelompok 4: Liburan, Kelompok 5:  Tugas, Kelompok 6:  Program OSIS, semua tema harus kami ubah menjadi satu negosiasi logis yang bisa diterapkan di sekolah dan masyarakat. Beberapa dari kami nampak kesulitan, namun kak Dini dan bu Yati dengan sabar mengajarkan langkah-langkahnya dengan sangat sabar.

p_20161116_143616

Setelah semuanya selesai, strategi tiap kelompok ditempel di dinding agar kelompok yang lain bisa membaca strategi yang kami terapkan dalam bernegosiasi. Puas dengan hasil yang kami tempel, kami melanjutkan ke tahap presentasi. Di tahap ini kami banyak belajar cara berkomunikasi yang baik, baik secara verbal dan non verbal. Komunikasi yang baik sangat ditekankan karena negosiasi membutuhkan kemampuan komunikasi yang mumpuni agar tujuan tercapai, waah semua kelompok bekerja sangat keras sekali, namun sepadan dengan banyaknya pelajaran berharga yang kami peroleh.

p_20161116_131404

Materi negosiasi tak berakhir sampai sini saja, karena nanti akan ada materi selanjutnya yang melibatkan karyawan Dompet Dhuafa  Pendidikan dan juga masyarakat sekitar. Duh kami sudah sangat tidak sabar, doakan kami ya. (AR)

p_20161116_131439

p_20161116_131424