Pulang Kampung

14962692_776657395808306_8088392707480707944_n

Halo Sob!

Tahukah kamu kalau pada akhir Desember nanti kami akan melaksanakan Pulang Kampung. Pulang Kampung merupakan kegiatan rutin tahunan yang dihelat agar kami dapat bertemu kembali dengan keluarga tercinta.

Seperti yang kamu ketahui siswa SMART berasal dari berbagai wilayah di Indonesia & pada momen ini kami akan pulang ke kampung halaman masing-masing setelah satu tahun lamanya tak pulang ke kampung. Kepulangan kami bukan sekadar pelepas rindu semata, tetapi juga berbagi semangat menginspirasi keluarga, teman, dan masyarakat sekitar.

Mari berpartisipasi bersama kami mengobati rindu kampung halaman dengan berdonasi melalui rekening BNI Syariah 2880288013 a.n.Yayasan Dompet Dhuafa Republika.

Detil seputar Pulang Kampung bisa kamu lihat di bawah ini.

 

[pdf-embedder url=”http://www.smartekselensia.net/wp-content/uploads/2016/11/pulangkampung.pdf” title=”pulangkampung”]

Terlambat

Kau lahir menyapa dunia
Dirimu bersih tanpa dosa
Belum bisa tuk berkata
Hanya senyum tertera

Masa berjalan kian terus
Terlihat jelas dirirmu kini
Mulai berbuat sesuka hati

Kian lama kian berani
Padahal dosa sudah untuk sendiri
Maksiat pun kau jalani
Padahal kau tahu itu keji

Nikmat Allah, kau kufuri
Kata setan, kau ikuti
Nafsu sudah mebnjadi raja
Nafsu telah berkuasa
Atas dirimu yang hina

Tanpa sadar tanpa ingat
Dirimu telah tua dan renta
Tak mampu berbuat apa-apa
Tapi masih berbuat dosa
Padahal, sedari dulu kau sadar
Semua itu tak benar

Kian berdosa kian terlena
Pada dunia yang sementara

Tibalah sosok hitam di hadapan
Dirimu terkejut tak terbayang
Dirimu takut bukan kepalang
Bagai diri tercekat karang

lisan membisu tak berkata
Syahadat pun tak terkata
Hanya makian terkata
Selama hidup hanya dosa

Nyawa menembus ubun-ubun
Tak bisa lagi meminta ampun
Pada sang Ilahi Mahatahu
Pada sang ilahi maha pengampun

Tibalah yaumul hisab
Semua amalan di hisab
Di nerakalah dirimu terjerembab

Oleh: Anggi Nur Cholis, kelas XII IPA

Tjokroaminoto dan Kacamata Impian

foto-1-dan-cover

Tahukah kamu kalau hari ini diperingati sebagai Hari Pahlawan? Hari Pahlawan diperingati setiap tanggal 10 November agar kita, terutama generasi muda, terus ingat akan jasa dan perjuangan para pahlawan yang memerdekakan Indonesia.

Untuk memeringati Hari Pahlawan ada dua kegiatan yang dilaksanakan di SMART. Yang pertama kegiatan Nonton Bareng (nobar) film “Guru Bangsa Tjokroaminoto” yang diadakan di Ruang Audio Visual Pusat Sumber Belajar (PSB) Makmal Pendidikan. Nobar ini dihadiri 40 orang peserta yang datang dari beberapa sekolah seperti SMP Berbasis Pesantren FAI UMJ Bogor dan lain sebagainya, nah kegiatannya sendiri berlangsung hingga sebelum Zuhur.

foto-2

foto-3

Selain nobar kami juga diajak untuk membedah film ini secara gamblang lho, tujuannya jelas agar kami lebih mengenal sosok guru para pemimpin besar di Indonesia ini. Sekadar informasi untukmu, Tjokroaminoto merupakan pendiri sekaligus ketua pertama organisasi Sarekat Islam, ajaran serta didikannya melahirkan beberapa tokoh nasional seperti Kartosuwiryo, Muso Alimin, dan Sukarno. Ia meninggal pada 17 Desember 1934 di usia 52 tahun, Tjokroaminoto hingga saat ini dikenal sebagai salah satu pahlawan pergerakan nasional yang berbasiskan perdagangan, agama, dan politik nasionalis berpengaruh.

foto-4

Semoga perjuangan dan semangat Tjokroaminoto menggerakan pemuda di Indonesia dapat kita contoh dan teladani ya.

“Nobar film ini seru sekali karena kami semakin paham betapa beratnya menggerakan pemuda. Selain itu nobar kali ini mengasyikkan karena banyak hadiahnya,” ujar Bobi, kelas XII IPA.

foto-5

Selesai nobar ada tugas menanti kami untuk menjabarkan dan mendeskripsikan setiap detil film di secarik kertas. SEMANGAT!

foto-6

Sementara itu -di saat yang bersamaan- di Ruang Abu Bakar Syidiq SMART sedang berlangsung kegiatan kedua yakni Pemeriksaan Mata dan Donasi Kaca Mata untuk seluruh siswa SMART Ekselensia Indonesia yang diadakan oleh MNC TV bekerjasama dengan Dompet Dhuafa Pendidikan. Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian peringatan HUT MNC TV ke-25, sebanyak 350 buah kacamata disiapkan oleh MNC TV dan Essilor Optik.

foto-7

foto-8

foto-9

Untuk kamu ketahui, ada 10 refraksionis yang hadir untuk memeriksa mata 280 siswa SMART. Oh iya selain siswa SMART, seluruh guru dan karyawan Dompet Dhuafa Pendidikan juga mendapatkan kesempatan melakukan periksa mata juga, WOW Alhamdulillah.

foto-10

“Makanan yang sehat seperti buah dan sayur harus disukai oleh adik-adik karena penting untuk kesehatan mata kita,” pesan kak Win dari Essilor Indonesia pada kami. “Selain menjaga makanan sehat, yang kedua adalah jeli mengetahui bahwa mata kita sudah lelah. Jika mata dirasa telah lelah, harus diistirahatkan. Adapun caranya adalah beragam, bisa dengan mengganti pandangan dari yang awalnya melihat dekat diistirahatkan dengan melihat jauh. Begitu pula sebaliknya. Atau dapat juga dengan istirahat seperti tidur ringan. Tips sederhana merawat mata yang berikutnya adalah menyadari pentingnya cahaya. Hindari membaca dalam gelap dan membaca terlalu dekat,” tambahnya. Kami manggut-manggut seraya menuliskan tips yang diberikan kak Win tersebut.

foto-11

Kami bersyukur karena akhirnya bisa memiliki kacamata impian yang pas dengan kondisi mata kami saat ini, terima kasih banyak MNC TV dan Essilor Optik.

foto-12

Ini merupakan Hari Pahlawan terbaik yang pernah kami ikuti. Kami makin semangat untuk bermimpi lebih besar, doakan kami semoga di masa depan kami bisa menjadi orang yang mampu menebar kebaikan serta manfaat untuk orang banyak dan menjadi pemuda yang mampu mengangkat juga mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Aamiin.

Sekali lagi, selamat Hari Pahlawan! Tetap semangat untuk belajar ya. (AR)

“My Trip My Journey Within” Akan Selalu Membekas di Hati Kami

06 November 2016

Selepas Shalat Asar dan selepas SMART Bertadarus, tiba-tiba pak Wildan, guru kami, maju ke depan mimbar membawa sebuah kabar gembira.”Esok hari kita semua akan melaksanakan field trip,” ujarnya penuh semangat. “Field trip akan dilaksanakan di Yakult dan setelahnya kita akan menuju Lido, Sukabumi. Saat field trip seluruh siswa wajib menggunakan seragam batik dan jangan lupamembawa baju ganti untuk di Lido,” tambahnya. Sontak kabar tersebut membuat kami semua senang bukan kepalang, riuh suara kami memenuhi langit-langit Masjid Al-Insan sore itu. Namun suasana mendadak sepi  ketika…. “Namun kalian harus sudah siap pukul 04.20 pagi karena kita akan berangkat pukul 05.00 pagi,” tutupnya.  Beberapa dari kami terpekur karena khawatir tidak bisa siap sepagi itu, namun yang lain menyemangati dan meyakinkan kalau kami semua PASTI bisa siap dengan waktu yang sudah ditentukan. Sore itu kami pulang ke asrama dengan perasaan Nano Nano alias campur aduk.

 

08 November 2016

Waktu menunjukkan pukul 02.30 pagi, suara alarm yang memekakkan telinga berhasil membangunkan seisi kamar. Pagi itu kami sangat sibuk, ada yang sedang bersiap-siap; menyetrika pakaian; mandi; dan membangunkan yang lain. Tetapi dikejauhan samar-samar kami melihat adik-adik kelas yang telah rapi jali, buru-buru kami menatap jam yang menempel di dinding dan terkejut karena waktu menunjukan pukul 03.00 pagi. Kami yang saat ini duduk di kelas 5 hanya bisa bergumam: “Hmmm rajin sekali adik-adik itu ya” sembari sibuk memasukkan ini dan itu ke dalam tas. Dirasa semua hal telah sukses dilakukan kami menuju ke masjid untuk melaksanakan Shalat Subuh berjamaah, setelah shalat semua siswa turun ke bawah untuk makan pagi bersama.

“Kepada seluruh siswa SMART diharapkan segera berkumpul di lapangan”. Tanpa tedeng aling-aling kami semua sudah berada di lapangan,membentuk barisan berbanjar. Pagi itu begitu dingin, beruntung kami semua membawa jaket tebal. “Ayo seluruh siswa, jadilah yang teraktif dalam kegiatan field trip tahun ini. Persiapkanlah diri kalian sebaik mungkin,” seru seorang guru menyemangati kami sebelum acara field trip 2016 dilaksanakan.

foto-1

foto-2

foto-3

foto-4

Lima bus besar telah menanti kami di luar gerbang sekolah,kami dibagi berdasarkan kelas. Bus 1 untuk kelas 12, Bus 2 untuk kelas 11, Bus 3 untuk kelas 3, Bus 4 untuk kelas 2, dan Bus 5 untuk kelas 1; setiap bus dipimpin oleh guru yang menjadi penanggungjawab kegiatan hari itu. Tepat pukul 05.00 kami berangkat menuju destinasi pertama kami, pabrik Yakult yang terletak di Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat.

foto-5

foto-6

Field trip sendiri merupakan kegiatan rutin SMART yang dilaksanakan setiap tahun. Tahun ini kami berkunjung ke pabrik Yakult dan dilanjutkan ke Lido, setiap tahun destinasinya selalu berbeda dan kami tak sabar karenanya. Mengusung tema “My Trip My Journey Within” field trip tahun ini diharapkan mampu mempererat ikatan antara siswa dan para guru dan membuat kami makin semangat untuk belajar dan menggapai mimpi yang ingin kami gapai. Perjalanan menuju Yakult begitu menyenangkan, teman-teman kami tak bisa diam, selalu bergerak ke sana gerak ke sini, ngobrol ini itu, bernyayi, sampai berbagi penganan ringan yang telah dipersiapkan di hari sebelumnya. Waktu terus berjalan hingga kami pun terlelap.

foto-7

 

foto-8

foto-9

Sesampainya di Pabrik Yakult kami harus menunggu beberapa lama. Hingga akhirnya kami disambut oleh Humas Yakult seraya mempersilakan  kami masuk ke dalam ruangan khusus dan membagikan welcome drink berupa beberapa botol Yakult dan makanan ringan.

foto-10

foto-11

foto-12

foto-13

foto-14

foto-15

Kami semua diminta menampati kursi-kursi kosong yang telah disediakan. Para petugas dengan sigap mengarahkan kami tanpa buang-buang waktu. Kami takjub dibuatnya

foto-a

foto-b

foto-c

foto-d

Di dalam kami dijelaskan seputar sejarah Yakult dan bagaimana Yakult tercipta.Yakult didirikan pada 1967 silam dan hingga saat ini masih aktif menggadang minuman sehat yang berguna untuk menjaga usus kita, Yakult mengandung bakteri bernama L.casei Shirota strain yang ditemukan 80 tahun lalu di Kyoto Imperial University, Jepang.

foto-16

foto-17

foto-18

Sebagai informasi untuk kalian, Yakult mampu memproduksi hingga 6 juta botol setiap harinya lho. Selama di sana kami juga diajak berkeliling untuk melihat kegiatan di pabrik Yakult, namun sayang kami tak diperkenankan mengambil gambar selama berkeliling.

foto-19

foto-20

Setelah puas berkeliling kami kembali ke ruangan, di sana Humas Yakult berpesan, “Kalian harus terus mengejar cita. Jangan mau kalah dengan bangsa-bangsa besar. Sudah saatnya negara kita memimpin, dan kalian adalah calon-calon pemimpin tersebut. Teruslah belajar dan jangan putus asa mengejar mimpi”. Pesan yang sungguh makjleb dan sangat membekas. Menutup kunjungan kami di Yakult, pak July, Kepala Sekolah SMART, memberikan kenang-kenangan dan kami berfoto bersama di luar.

foto-21

foto-22

foto-23

foto-24

Banyak pelajaran kami dapatkan selama di Yakult, kami sangat senang walau waktunya kurang panjang. Satu per satu kami kembali memasuki bus untuk destinasi selanjutnya, Lido. Menurut keterangan guru, di Lido kami akan melakukan berbagai permainan menyenangkan, bukan hanya menyenangkan tapi juga mampu membuat hubungan kami kian erat antara satu dengan yang lain. Selama perjalanan ke Lido langit terlihat muram, kami berdoa semoga tak hujan. Doa kami terkabul, sesampainya di sana kami lekas berganti pakaian dan berkumpul di lapangan.

foto-25

foto-26

foto-27

Pak Cipto, guru kami yang merangkap coach permainan, mulai mengarahkan kami membentuk barisan berdasar kelas.

foto-e

Permainan pertama dimulai dengan strategi kepercayaan, setiap baris harus mengikuti instruksi dengan benar dan kekompakan sangat dibutuhkan di permainan ini. Semua peserta akan menjadi nahkoda ketika aba-aba diberikan, jika pak Cipto berkata “KANAN” maka seluruh  peserta harus bergerak ke kiri dan seterusnya. Permainan berlangsung sangat seru dan meriah, kami belajar satu hal dari permainan ini: sebagai tim harus lah kompak jika mau meraih kemenangan bersama.

foto-28

foto-29

foto-30

Permainan pertama selesai, kami masuk pada sesi permainan kedua. Pada sesi kedua ini lagi-lagi kekompakan kami diuji, kami semua duduk sambil merapatkan kaki lalu diberi bola kecil yang sejurus kemudian harus diserahkan kepada teman disebelah kami hingga garis akhir dengan cara apapun. Agak sulit memang namun kami bisa melakukannya karena kami percaya akan kekuatan persahabatan selama di SMART. Suasana kian meriah karena ada bola yang terjatuh, jika bola terjatuh maka harus dimulai dari awal lagi, seru sekali.

foto-31

foto-31a

Masih banyak permainan seru lain yang kami lakukan, salah satunya Permainan Kepercayaan. Kami semua diminta untuk mengangkat teman kami hingga garis akhir, kami semua berada dalam posisi duduk, yang kami butuhkan hanya percaya dengan rekan setim. Selama permainan berlangsung tak henti-hentinya kami saling menyemangati dan tergelak, guru-guru pun tak ketinggalan mengabadikan momen tersebut.

foto-32

Kami masih ingin sekali bermain, namun alam berkata lain. Awan muram yang sedari tadi nampak bersedih, akhirnya menangis juga. Hujan turun dengan sangat lebat, kami kocar kacir mencari tempat berteduh. Walau hujan sangat lebat, beberapa teman kami malah memilih untuk berenang, sungguh unik.

foto-33

Ah field trip tahun ini sungguh menyenangkan. Banyak pelajaran hebat kami dapatkan, banyak keakraban terjalin, banyak senda gurau yang membuat kami semakin percaya jika SMART merupakan rumah kedua kami yang tak tergantikan. Kami berharap kebersamaan dan keakraban ini akan terus terjalin sampai kapanpun, aamiin.

Sampai jumpa di field trip selanjutnya! (AR)

Deg-Degan Berujung Manis

fb_img_14784190535736240

Sabtu Pagi (5/11) matahari bersinar lebih terik dari biasanya, mobil SMART yang akan mengantar kami sudah menunggu di halaman sekolah. Kami yang sudah rapi dan wangi telah sangat siap menghadapi lomba yang kami ikuti hari itu. Setelah semua dirasa siap kami menuju lokasi English Festival UIN di Madrasah Pembangunan UIN, Tangerang Selatan, Banten. Ibu Nika, guru kami sekaligus pembimbing lomba, mengantar kami memulai pertarungan sengit antar pelajar se-Jabodetabek. Terdapat beberapa lomba yang kami ikuti mulai dari Speech Contest, News Anchor, Debate Contest dan Writing Competition untuk SMA; serta Story Telling, Spelling Bee dan Speech Contest untuk SMP.

Lomba memang baru dimulai pukul 08.00 WIB, tapi kami sudah datang bahkan sebelum waktu yang telah ditentukan. Beberapa lomba langsung dimulai untuk tingkat SMA, sedangkan untuk tingkat SMP baru dimulai pukul 13.00 WIB. Perasaan kami campur aduk dan diliputi kekhawatiran ketika lomba dilaksanakan. Namun kami selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk sekolah kami, pun berbagai aksi dan strategi telah kami pikirikan masak-masak agar bisa mencapai hasil terbaik.

fb_img_14784190464925998

Lomba usai sebelum azan Maghrib dikumandangkan. Perasaan khawatir yang kami rasakan sirna seketika, karena teman kami,  Fathikur Rafi dan Usamah berhasil memasuki fase final untuk lomba News Anchor SMA dan Spelling Bee SMP. Kami bangga dan senang, kerja keras kami  terbayar lunas kami berharap semoga hasil yang terbaik akan selalu datang menghampiri kami, aamiin. (SR x AR)

fb_img_14784190614271006

?

KAMU?

0 watt

1 watt

5 watt

20 watt

50 watt

100 watt

-lampu

 

*penjelasan singkat: manusia itu ibarat lampu. Semakin besar energi dalam lampu semakin terang, bermanfaat, dan makin mahal harganya. Begitu pun manusia. Semakin besar energi posotof dalam diri sesorang semakin hebat, bermanfaat, dan makin dihargaioleh orang lain. Energi positif  itu bisa berupa apa saja. Mulai dari semangat, rasa empati, rasa menghormti, atau pun yang lainnya, asalkan energi itu berupa energi positif.

Puisi Kontemporer Oleh: Anggi Nur Cholis

Menjadi Bunda yang Dirindukan

Oleh: Syafei El-Bantanie, GM Sekolah Model.

Salah satu fenomena remaja sekarang adalah tidak kangen pulang. Seringkali saya mendapati remaja putri, apalagi remaja putra yang masih asyik nongkrong dan kongkow, padahal waktu sudah menunjukkan rentang pukul 11-12 malam. Fenomena ini membuat saya berpikir apa yang terjadi dengan remaja sekarang?

Hasil observasi saya menunjukkan para remaja itu memang sengaja tidak mau pulang karena tidak ada yang dikangeni di rumah. Tidak ada emosi yang mengikat mereka, sehingga bersegera pulang ketika waktu menjelang magrib. Ini masalah serius.

Maka, para orangtua, terutama para bunda mesti merenung mengapa para remaja itu tidak kangen pulang? Tidak memiliki ikatan emosi dengan bundanya? Tidak ada magnet yang menarik mereka untuk selalu kangen pulang.

Karena itu, indah sekali ketika kita menginsyafi ayat Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 233,
“Para Ibu hendaklah ‘yurdhi’na’ anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui dengan sempurna…”.

Perhatikan kata ‘yurdhi’na’ yang merupakan bentuk fi’il mudhari’ yang menunjukkan aktifitas sekarang dan terus berlangsung. Ternyata dari sini emotional bounding antara Ibu dengan anaknya dibangun. Sejak 0-2 tahun. Dan, inilah fase terpenting untuk membangun emotional bounding.

Maka, para bunda yang baik, adalah berbeda yurdhi’na (menyusui) dengan memberikan ASI melalui botol. Dalam yurdhi’na ada dekapan, belaian, dan sentuhan Ibu kepada anaknya. Ada untaian doa dan shalawat yang bisa dibaca seiring yurdhi’na. Inilah emotional bounding itu. Kelak, si anak terikat hatinya dengan Ibunya.

Namun demikian, saya tidak bermaksud ‘menyudutkan’ Ibu yang bekerja. Bukan ini poin diskusinya. Kapan-kapan kita bisa diskusikan. Poinnya adalah bagi para bunda yang bekerja, manfaatkanlah waktu sejak pulang bekerja, malam, sampai pagi untuk yurdhi’na dengan baik. Lupakan sejenak lelahmu. Tetaplah ajak ngobrol, bercanda, dan doakan anak-anakmu dengan penuh kasih sayang.

Fondasi emotional bounding yang telah terbangun ini, tentu harus diperkuat dengan pengasuhan yang penuh kasih sayang. Ketika anak sudah mulai sekolah, dan saat anak pulang sekolah, pertama-tama yang ditanya bukanlah ada tugas apa, kerjakan PR, lakukan ini dan itu. Bukan itu bunda.

Yang pertama-tama perlu ditanya adalah bagaimana perasaanmu hari ini sayang? Apakah menyenangkan? Adakah hal yang membuatmu sedih? Sini ceritakan sama bunda. Bunda pasti bantu kamu sebisa bunda. Kalau bunda nggak bisa bantu, nanti kita ceritakan ke buya (ayah) supaya buya yang bantu menyelesaikan.

Dialog seperti ini yang dirindukan anak remaja sekarang. Sayangnya orangtua sekarang abai dengan hal ini. Mereka lupa untuk menyentuh sisi emosi anak. Akibatnya, anak merasa tidak mendapatkan kasih sayang dari orangtuanya. Bukan fasilitas di rumah yang serba ada yang membuat anak remaja kangen pulang. Melainkan, kasih sayang lembut dari bunda dan buyanya.

Puisi Bersemi di Daratan Kalimantan

fhd1020

Dipeluk sepi Kota Marahaban dini hari, sekitar pukul 01.00 atau 02.00 WITA, saya berjalan seorang diri meninggalkan tempat acara di Kantor Bupati menuju penginapan yang jauhnya saya pikir tidak seberapa. Temu Sastrawan Tifa Nusantara 3 baru saja ditutup, selepas acara, para sastrawan dari penjuru negeri itu sedang asyik-asyiknya menaridi atas panggung utama diiringi lagu-lagu daerah Kalimantan. Saya, setelah ambil dan ikut sejenak menjadi bagian dalamkerumunanitu kini kelelahan, lalu memutuskan untuk kembalikepenginapan lebih dulu.

***

Jumat, 28 Oktober 2016, dalam rangka memenuhi undangan Temu sastrawan Tifa Nuantara 3yang dihelatdi Kota Marabahan, Kabupaten Barito, Kalimantan Selatan. Saya berangkat dan memulai petualangan ini dengan rasa syukur dan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada –siapapun Anda- yang telah membiayai tiket perjalanan ini, saya hanya bisa berdoa, semoga Allah berkali-kali lipat membalasnya.

Ini adalah pengalaman perdana menjejak Tanah Borneo, saya berangkat seorang diri hanya bermodal kebernanian dan tekad yang diyakin-yakin. Saya sempat tersesat di Bandara Soekarno Hatta gara-gara salah turun terminal. Akibatnya saya mesti berjalan kaki dari Terminal 1A ke Terminal 1C yang jaraknya cukup membuat sedikit kelelaha. Belum lagi, semua euforia ini membuat saya lupa makan dan baru saya sadari ketika rasa lapar itu harus saya kunyah pelan-pelan di ruang tunggu.

Setiba di Bandara Syamsudin Noor saya menghubungi panitia, lalu saya dijemput menggunakan mini bus yang berisikan peserta lain. Setelah mini bus terisi penuh kami berangkat menuju Kota Marabahan, perjalanan ditempuh selama 2 jam melewati Kota Banjarmasin. Malam pertama di Kalimantan saya begitu menikmati perjalanan ini sebelum akhirnya saya terlelap tak sadarkan diri.

Setiba di penginapan,peserta langsung digiring ke tempat acara, malam itu, acara Temu Sastrawan Tifa Nusantara 3 dibuka secara resmi oleh pejabat setempat, diikuti oleh penampilan-penampilan seperti dramatisasi puisi oleh Sanggar Sesaji Banjarmasin yang diiringi musik-musik khas Dayak yang bikin merinding. Dan yang penting, tentu saja, akhirnya saya ketemu makan malam!

Paruh pertama hari kedua diisi dengan diskusi sastra, dilanjutkan dengan makan siang, lalu, acara wisata ke Jembatan Rumpiang dan Jembatan Barito. Sepanjang perjalanan, kami ditemani oleh Putri Pariwisata Kabupaten Barito Kuala, yang bersedia menjelaskan ini-itu atau apa saja yang ditanya peserta sepanjang perjalanan.

Hari kedua, malam terakhir, acara ditutup dengan pembacaan nominasi 10 puisi terbaik yang dimuat dalam IJE JELA Antologi Puisi Tifa Nusantara 3 Marabahan dan perform pembacaan puisi oleh peserta. Alhamdulillah saya tidak masuk nominasi, Alhamdulillah saya tidak jadi tampil membacakan puisi karena telat daftar. Tiba-tiba, saya merasa perlu mensyukuri segala sesuatu.

Petualangan saya di Kalimantan diakhiri dengan insiden “hampir ketinggalan pesawat”. Semula bermula oleh agenda wisata yang tak terduga dari panitia, semula saya dan rombongan berangkat pukul 06:30 WITA dari penginapan menuju bandara. Dua jam kemudian kami tiba di Banjarmasin. Tiba-tiba bus diarahkan untuk berhenti di Pasar Terapung Kota Banjarmasin untuk berwisata. Saya dan seorang teman dari Makassar kelabakan sebab tiket kami yang akan berangkat pukul 11. Itu artinya, tersisa dua setengah jam sebelum keberangkatan. Sementara bandara masih 1 jam perjalanan lagi. Akhirnya, saya berusaha menghubungi saudara yang kebetulan tinggal di Banjarmasin. Setengah jam kemudian, ia datang, dan kami buru-buru melaju, menyusuri jalan-jalan Kota Banjarmasin.

Dalam kesempatan ini, saya mengucap syukur berkali-kali atas nikmat yang dicurahkan Tuhan hari-hari belakangan ini, betapa puisi telah membawa saya bertualang hingga sejauh ini. Saya tidak pernah menyangka, satu mimpi yang satu tulis di buku diari Januari lalu kini terwujud juga; saya ingin jalan-jalan ke Kalimantan!

Di jalan pulang, salah seorang teman mengirim pesan “betapa cepat semua ini berlalu, ya. Seperti mimpi!” Kini, setengah senyum dipeluk kain Sasirangan pemberian panitia semalam. Pelan-pelan saya menyadari, mungkin hidup kita memang terbuat dari mimpi, dari kefanaan yang benar-benar abadi.

Musim Nyamuk, November 2016

fhd1029

  1. Habibur Rohman; lajang, belum punya Instagram. Sehari-hari menulis puisi demi mimpi-mimpi, setelah sukses ke Kalimantan, ia berencana ke Sulawesi.

Kangen Masakan Bunda

img-20161031-wa0007

Oleh: Syafei Al Bantanie, GM Sekolah Model.

Pernahkah Bunda mengalami suatu hari setelah memasak masakan kesukaan anak Bunda, lalu menelpon anak remaja Bunda dan terjadilah dialog seperti ini,

Bunda  : “Nak, sekolahnya sudah pulang kan? Sudah sampe mana?”
Anak  : “Iya, Bun. Sekolah sudah bubar. Tapi, maaf Bun, aku nggak langsung pulang ya. Sekarang aku lagi jalan sama temen-temen mau makan ke Hokben.”
Bunda  : “Oh gitu ya? Padahal, Bunda sudah masak masakan kesukaanmu, lho.”
Anak  : Oh, gitu ya, Bun. Kalau gitu, oke deh aku segera pulang ya Bun. Bunda jangan makan dulu ya. Tungguin aku. Nanti kita makan bareng.”

Lalu, anak Bunda bilang ke teman-temannya, “Teman-teman, maaf ya aku nggak jadi ikut ke Hokben. Bundaku sudah masak masakan kesukaanku.”

Bunda yang baik, bagaimana perasaan Bunda saat merasakan pengalaman seperti itu? Tentu merasa dihargai kan? Jerih payah Bunda dalam memasak tidak sia-sia. Karena, anak Bunda lebih memilih pulang dan makan di rumah daripada makan bersama teman-temannya. Inilah rahasianya mengapa Bunda mesti bisa memasak.

Memang secara Fiqh memasak bukan lah kewajiban seorang istri atau Ibu. Artinya, seorang istri atau Ibu bisa mewakilkan kepada khadimat (pembantu). Namun, dalam perspektif pengasuhan anak, memasak adalah keterampilan yang penting dikuasai oleh seorang Ibu. Karena, setelah yurdhi’na, masakan Bunda lah yang membuat anak kangen pulang.

Bukankah kita yang sudah dewasa saja, seringkali kangen masakan Ibu kita. Dan, saat akan pulang kampung, kita memesan kepada Ibu untuk dimasakkin masakan kesukaan kita? Ini menjadi bukti nyata bahwa masakan Ibu adalah pengikat emosi agar anak kangen pulang. Bahkan, saat diajak makan di luar oleh teman-temannya sekalipun, anak lebih memilih pulang dan menikmati masakan Bundanya.

Mengapa masakan bisa menjadi ikatan emosi antara anak dan Bundanya? Karena, dalam memasak tidak sekadar menyiapkan makanan, melainkan ada bukti cinta di sana. Cinta dan kasih sayang seorang Bunda kepada anak-anaknya. Maka, memasak menjadi hal yang mengasyikkan dan membahagiakan. Terbayang saat masakan sudah matang, lalu anak-anaknya menyantap masakan buatannya dengan lahap diiringi pujian anak kepada Bundanya.

Ah, sungguh ini sangat bermakna sekali bagi seorang Bunda. Pun, masakan tersebut bernilai istimewa bagi si anak. Bukan masakan yang mahal-mahal. Bisa jadi masakan ikan asin, sayur asem, tempe, sambal, dan lalapan terasa nikmat sekali mengalahkan masakan produksi hotel bintang lima sekalipun. Di sinilah ikatan emosi antara Ibu dan anak dirajut lebih erat lagi setelah yurdhi’na.

Anak saya, Nasywa Aqeela Mazaya El-Humayra, usianya lima tahun, saat sedang asyik main dengan temannya, lalu Bundanya memanggilnya untuk makan siang. Terjadilah dialog seperti ini,

Bunda  : Teteh Nasywa, pulang yuk makan dulu. Bunda masak ayam kecap kesukaan teteh.”
Nasywa : “Yang bener, Bun, Bunda masak ayam kecap?”
Bunda  : “Iya, Bunda masak ayam kecap. Ayo pulang yuk, makan.”
Nasywa : “Oke, Bun. Teteh pulang.”

Nasywa pun makan dengan lahap. Setelah menikmati masakan Bundanya, tak lupa Nasywa mengucapkan terima kasih kepada Bundanya. Kalimat polos itu berbunyi, “Bunda, makasih sudah masakin buat Teteh Nasywa. Masakan Bunda enak banget.”

Kelak, saat remaja, bahkan hingga dewasa, memori nikmatnya masakan Bunda ini menjadi kenangan indah yang ingin diulang kembali. Makanya, meski sudah beranjak remaja atau bahkan dewasa, anak tetap kangen pulang. Berjumpa dan menikmati masakan Bundanya yang ngangenin.

Karena itu, sesibuk apapun Bunda berkarier, sempatkanlah masak untuk anak-anakmu. Jangan relakan anak-anakmu tumbuh besar dengan masakan pembantu. Harus masakan Bunda yang disantap anak-anakmu agar terjalin ikatan emosi yang kuat. Maka, Bunda yang baik, selamat memasak masakan kesukaan anak-anakmu ya!

Semoga kau menjadi Bunda yang selalu dirindukan anak-anakmu karena kesediaanmu memasak masakan kesukaan mereka dengan penuh kecintaan.