22710413563_030bd16209

Aku Ingin Hidup 100 Tahun yang Lalu

Suara alarm seakan menepuk pipiku dan mengguncangkan tubuhku. Aku terjaga. Kulihat jam digital di samping tempat tidurku telah menunjukkan pukul 06.00. Akupun segera bangkit dari tempat tidurku, alarm jam itu pun seketika berhenti berbunyi. Aku mulai melangkahkan kaki menuju kamar mandi yang terletak dalam kamarku. Kasurku secara otomatis terangkat merapat ke tembok menyisakan area yang membuat kamarku terasa lebih luas. Aku pun masuk ke ruang mandi, memilih paket ‘standar’ di layar touch screen dalam ruang mandiku dan membiarkan sistem komputasi yang ‘memandikanku’…

Namaku Ali. Tahun ini usiaku genap 16 tahun. Kini aku baru saja menyelesaikan sarapanku. Lagi-lagi makanan siap saji. Keluargaku memang berlangganan food online, setiap pagi dan malam ada kurir yang mengantarkan pesanan makanan yang masih hangat. Sementara untuk makan siangnya, ibuku biasa memasak sendiri, kurir juga siap mengantarkan bahan makanan yang dipilih sesuai jadwal yang ditentukan. Saat ini ibuku terlihat sibuk dengan gadgetnya, sepertinya hendak mencoba menu baru untuk siang ini. Ada beberapa situs yang menjadi referensi ibuku dalam memasak, namun paling sering ibuku merujuk ke postingan ibu-ibu lainnya di media sosial.

Di meja kerja seberang sana, ayahku sudah sejak tadi melihat layar notebooknya yang terhubung dengan tablet besar yang menjadi ‘separuh nyawa’nya. Jika seabad lalu, marak e-commerce, e-business, freelance online ataupun home office, saat ini sebagian besar pekerjaan memang di kerjakan di rumah. Pekerjaan lapangan hanya untuk inspeksi dan maintenance berkala. Para petani dan nelayan sudah memakai alat canggih, bahkan tidak sedikit bahan makanan hasil rekayasa. Tatap muka masih digunakan untuk keperluan penting dan urgent serta untuk hal-hal insidental. Selain itu, ada berbagai jasa yang mempertemukan langsung pelanggan dengan penyedia jasa –seperti kurir makanan tadi—dalam rangka menjamin kualitas layanan. Namun selebihnya robot dan sistem yang bekerja.

Sisa makananku sudah dibawa oleh smart robotic trash can yang mengumpulkan dan mengolah sampah untuk kepentingan reduce, reuse, recycle dan replace. Jam sudah menunjukkan pukul 07.00, aku harus bersiap ‘berangkat’ sekolah. Konon puluhan tahun lalu ada yang namanya jam analog lengkap dengan jarum jamnya, yang tidak presisi menunjukkan waktu. Jangankan detik yang tidak jelas, menitpun bisa berbeda tergantung sudut pandang. Jam analog tersebut kabarnya juga harus dikalibrasi manual jika kita pergi ke wilayah dengan perbedaan pembagian waktu. Tidak praktis. Bahkan cara membaca jam tersebut konon diajarkan di sekolah dasar pada masa itu, pun sudah ada jam digital. Kadang aku juga tak habis pikir jika mendengar kisah pembelajaran di masa lalu. Mengapa anak-anak harus belajar tentang perkalian dan pembagian bertingkat yang rumit sementara ada kalkulator? Mengapa mereka harus menghapal nama-nama menteri atau ibukota-ibukota Negara sementara semua informasinya terdapat di internet?

Aku pun berpamitan ke orang tuaku untuk sekolah, beranjak masuk kamar dan duduk menghadap meja belajar. Segera kupakai Virtual Reality (VR) Helmet yang langsung saja membawaku ke sekolah. Praktis. Kakekku pernah bercerita bahwa ketika masih kecil dan tinggal di desa, ia pernah merasakan berjalan berkilo-kilo hanya untuk bersekolah. Ketika pindah ke kota di masa SMA, kakekku bercerita pernah ‘perang’ dengan sekolah lain, kalau tidak salah ingat istilahnya tawuran. Tidak beradab. Kini, sekolah bebas dari tawuran, bullying, dan berbagai hal yang tidak relevan dengan pembelajaran. Cukup install semacam program e-school dalam VR helmet yang terintegrasi dengan identitas (ID) yang kita miliki, semua orang dapat bersekolah sesuai dengan usia dan levelnya. Kurikulum sudah terstandardisasi internasional, tinggal pilihan bahasa dan peminatan saja yang akan membedakan. Pendidikan yang modern dan beradab.

Aku sudah berada di ‘ruang kelas’ dengan dinding hologram yang membantu visualisasi pembelajaran. Defaultnya bercorak hijau dan biru yang nyaman dilihat. Di kelasku ada 25 siswa dan seorang guru yang mengajar di depan kelas. Posisi duduk siswa disusun setengah lingkaran, baris pertama 12 meja, baris kedua 13 meja. Meja siswa juga virtual yang dapat menampilkan berbagai hologram untuk mempermudah pembelajaran, termasuk buku catatan dan modul pelajaran yang terhubung dengan arsip digital yang dimiliki masing-masing siswa. Intervensi audio juga dioptimalkan sehingga semakin kondusif untuk menangkap pelajaran. Tidak ada bau keringat atau siswa yang hilir mudik seperti cerita masa sekolah kakekku. Tentu juga tidak ada yang curang ketika ujian. Program ini sangat secure, tidak membuka ruang sedikitpun bagi siswa untuk melakukan cheat.

Sempat terlintas di pikiran, apakah teman-temanku di kelas ini nyata? Aku memang mengenal nama mereka namun hanya sebatas itu. Privacy rights adalah perkara serius. Kadang aku merasa teman-temanku di game online ataupun media sosial lebih nyata dari mereka, lebih ada ekspresinya. Bagaimanapun, di dunia yang sangat individualis seperti ini, saling mengenal bukanlah hal penting, kecuali jika kita punya kepentingan. Suasana luar rumah juga sama saja, lebih kaku dan tidak ramah, menurutku orang-orang di zaman ini terlalu serius dan berhati-hati. Sekadar tegur sapa juga tidak. Karenanya, aku tidak sepenuhnya percaya dengan dongeng masa lalu yang diceritakan kakekku. Sangat aneh jika tidak sedikit orang yang mau menolong orang lain yang tidak dikenalnya tanpa kepentingan apapun. Tidak masuk akal.

Namaku Ali. Lahir di Distrik Depok, Negara Bagian West Java tahun 2084. VR Helmet kulepas. Pembelajaran hari ini selesai. Ada PR untuk menentukan cita-cita profesi di masa depan. Tiba-tiba teringat kisah kakekku yang berprofesi sebagai guru, yang sering dibuat pusing oleh para siswanya. Sangat inspiratif jika saja yang diceritakannya benar-benar nyata. Bukan, aku tidak tertarik menjadi seorang guru. Bahkan aku tidak yakin guru di kelasku benar-benar ada orangnya. Aku ingin menjadi siswa yang diajar kakekku. Siswa yang merasakan kucuran keringat setelah berlari-lari menuju gerbang sekolah yang akan segera ditutup, merasakan lelah dan membosankannya upacara bendera, berbuat usil dengan teman sekelas, menikmati getaran cinta pertama dengan adik kelas, mencoba sensasi bolos, menikmati persaingan dan konflik dengan teman, hingga merasakan interaksi dengan orang tua kedua. Aku iri pada mereka yang punya guru, teman, sekolah, dan banyak permainan yang benar-benar nyata. Hidup di era virtual tanpa kendala jarak tidaklah semenyenangkan kedengarannya. Dan berbicara tentang cita-cita, aku sudah mantap, ingin menjadi kurir makanan. Setidaknya aku masih akan bisa bercerita ke anak cucuku bahwa benar ada manusia lain di bumi ini selain diri kita…

cara-menjadi-pemimpin-yang-sukses

Pemimpin Tepercaya, Pemimpin Memercaya

…Someone you know is on your side can set you free. I can do that for you if you believe in me. Why second-guess? What feels so right? Just trust your heart and you’ll see the light…
(‘True to Your Heart’, 98° feat Stevie Wonder)

Kepercayaan adalah hal penting yang harus ada dalam sebuah tim. Rasa percaya merupakan dasar dari kerja tim, dan sifatnya adalah resiprokal (timbal balik) bukan satu arah. Salah satu kriteria penting seorang pemimpin adalah dapat dipercaya. Kepercayaan kepada seorang pemimpin erat kaitannya dengan integritas, keteladanan, keadilan dan konsistensi. Pemimpin yang dapat dipercaya akan memberikan ketenangan dan kenyamanan bagi mereka yang dipimpinnya. Kepercayaan ini merupakan modal dasar bagi seorang pemimpin untuk membangun dan melejitkan tim atau organisasi yang dipimpinnya.

Kepercayaan adalah hubungan resiprokal, namun bawahan akan lebih mudah memercayai pemimpinnya dibandingkan sebaliknya. Memiliki integritas, sejalan antara perkataan dengan perbuatan, jujur, adil, serta dapat memberi teladan yang baik sudah menjadi syarat cukup bagi seorang pemimpin untuk memperoleh kepercayaan yang dipimpinnya. Apalagi jika pemimpin tersebut memiliki kompetensi dan pengalaman yang mumpuni, tentunya menjadi nilai tambah untuk meningkatkan kepercayaan dari yang dipimpinnya. Belum lagi kekuasaan dan kewenangan seorang pemimpin bisa memperkuat kewajiban untuk percaya kepadanya, pun terpaksa. Ya, dalam titik ekstrim, seorang pemimpin bisa saja hanya memilih mereka yang memercayainya untuk dipimpin.

Persoalan klasik muncul ketika sosok pemimpin tidak lagi bisa dipercaya, terus berdusta, mengingkari janji, tidak adil dan transparan, serta gagal memberikan perasaan tenang pada yang dipimpinnya atas segala tindak tanduknya. Opsi menggulingkan kepemimpinan kerap butuh perjuangan keras dan biaya sosial yang tinggi. Sikap apatis seringkali menjadi opsi yang lebih realistis mengingat keterbatasan kemampuan untuk mengubah karakter kepemimpinan. Akhirnya, tim mungkin tidak hancur, namun tanpa kepercayaan tim sudah kehilangan ruhnya. Rutinitas organisasi mungkin masih bisa berjalan, dengan setiap elemen hanya berupaya menyelamatkan diri mereka sendiri. Kepemimpinan tanpa kepercayaan hanyalah sebuah kehampaan dan omong kosong.

Masalah juga akan muncul ketika kepercayaan tidak menemukan hubungan timbal baliknya. Seorang pemimpin yang memercayai anggota timnya yang ternyata tidak amanah, bisa saja langsung memberikan treatment atau bahkan mengeluarkan ‘penyakit’ tersebut dari tim. Penyakit ini mudah didiagnosa karena pengaruh kekuasaan pemimpin akan terbantu oleh ketidaknyamanan dari anggota tim yang lain. Persoalan yang lebih rumit akan muncul ketika seorang pemimpin tidak atau kurang memercayai mereka yang dipimpinnya. Bisa jadi semua tanggung jawab dan beban kepemimpinan akan sepenuhnya dipikul oleh sang pemimpin. Padahal kepemimpinan bukan hanya seni memengaruhi orang lain, tetapi juga memercayai orang lain.

Tidak sedikit pemimpin dengan potensi yang luar biasa terjebak dalam kondisi ini: gagal sepenuhnya memercayai yang dipimpinnya. Fungsi delegasi hanya jadi formalitas layaknya dalang yang memainkan wayang. Super team tidak terbentuk karena pemimpin mengambil alih seluruh tanggung jawab, toh yang penting tujuan tercapai. Bukannya meringankan kerja anggota tim, pemimpin tanpa sadar justru tengah mengebiri potensi anggota tim. Barangkali tugas memang bisa selesai lebih cepat dan lebih berkualitas jika dikerjakan langsung oleh sang pemimpin, namun ketergantungan besar terhadap sosok pemimpin bukanlah hal ideal dalam kepemimpinan. Dinamika tim, termasuk belajar dari kesalahan, merupakan hal penting untuk terus bisa berkembang dan melakukan perbaikan. Pemimpin kadang lupa bahwa kepercayaan bersifat resiprokal, alih-alih menenangkan anggota tim, memberikan kepercayaan ‘setengah hati’ justru akan berbuah ketidakpercayaan.

Pemimpin sejati bukanlah pemimpin yang hebat, namun juga pemimpin yang menghebatkan mereka yang dipimpinnya. Dan memberikan kepercayaan adalah kunci pengembangan potensi anggota tim. Kepemimpinan ada siklusnya, kaderisasi adalah keniscayaan, membangun kepercayaan yang resiprokal antar anggota tim dan antara pemimpin dengan yang dipimpinnya adalah langkah strategis untuk memastikan kesinambungan suatu organisasi. Menjadi pemimpin yang tepercaya (dapat dipercaya) memang penting, namun menjadi pemimpin yang dapat memercaya (memberikan kepercayaan) tidak kalah penting. Karena kepercayaan adalah hubungan timbal baik, keduanya dapat seiring sejalan.

“Bukankah kepercayaan itu sebuah rasionalitas ilmiah?” (Tere Liye)

12798941_754044474731611_6133078321480692286_n

Kala Senja Tiba

12798941_754044474731611_6133078321480692286_nKarya: Laksmana Khatulistiwa, Kelas IX SMP SMART

Kala senja tiba
Waktunya menatap duka
Melupakan luka
Menurunkan senjata

Kala senja tiba
Mentari meredupkan sinarnya
Tanda dunia tlah sirna
Dari dunia yang fana

Kala senja tiba
Hari beranjak gelap
Mengajak untuk terlelap
Beranjak dari siap

Kala senja tiba
Cahaya meredup muram
Meninggalkan rasa suram
Hari tlah beranjak malam

Bila malam tiba
Muncul serdadu gerilya
Menciptakan bahaya
Menyiagakan semua

Bila malam tiba
Hati takkan tenang
Sulit berharap menang
Apalagi untuk bersenang

Bila malam tiba
Rasa takut meninggi
Seakan tak mau pergi
Hingga mulailah pagi

Sudah pagi
Mentari bersinar cerah
Memulai pertumpahan darah
Menuju ke satu arah

Sudah pagi
Waktunya merengkuh duka
Menerima luka
Waktunya mengangkat senjata

 

_20161201_105420

Aku, SMART, dan ITB

_20161201_105420

Oleh: Doni Septian

Alumni SMART Angkatan 8
Saat ini berkuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) Jurusan MIPA

“Kriing”. Aduh kok berisik sekali sih. Seingatku aku hampir tidak pernah menyetel alarm sepagi itu. Satu hal yang kusadari setelah berhasil memaksa tubuh ini untuk bangun yakni “AKU SUDAH ADA DI BOGOR”. Seketika kepala berdesir, pusing, pengin pulang ke kampung.

Pagi itu tanggal 1 Juli 2011, untuk pertama kalinya aku menjalani Shalat Shubuh tepat waktu, tidak seperti di Pekanbaru dulu. Tapi seperti kebanyakan anak normal lainnya, aku tak bisa jauh dari orang tua, alhasil aku sering sekali menangis di dalam toilet supaya tak ketahuan yang lain. Keran kubuka besar-besar dan aku bisa menangis sepuasnya, aku kangen ayah dan ibu. Namun seiring berjalannya waktu aku sudah mulai jarang menangis, aku dan Angkatan 8 lainnya sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan baru kami di SMART Ekselensia Indonesia, kami mulai bisa bercanda sama-sama, lari ke sana ke sini, dan masih banyak lagi keseruan lainnya. Menangis? Masih suka juga, tapi itu juga karena ada anak Bali yang mengejekku.

Di sekolah kami ada peraturan di mana siswa boleh memakai gawai asrama dan juga izin keluar, tapi khusus anak baru jika ingin izin keluar harus didampingi oleh kakak kelas. Hanya saja yang menarik perhatianku dan Angkatan 8 lainnya hanya jatah menelpon orang tua, saking kangennya banyak yang menangis ketika dapat giliran menelpon, mungkin kangen. Rasa kangen pada orang tua juga membuat kami bertingkah aneh, aku ingat betul dulu aku dan Sutrisno sama-sama memimpin Angkatan 8 untuk menyanyikan lagu Bunda milik Melly Goeslaw. Sampai di bait “oooh Bunda ada dan tiada dirimu ada di dalam hatiku”, eh pada nangis kejer hahahahaha. Pengin ketawa ngakak, tapi gak enak. Dan hari itu menjadi hari di mana masa-masa sedih, indah, mengharukan, dan bahkan memalukan terukir dalam hidupku.

Pada 2012 lalu ketika Olimpiade Humaniora Nusantara (OHARA) dihelat, aku mengikuti lomba story telling. Aku membawakan kisah  Jaka Tarub dan Nawang Wulan, tak disangka di tengah pertunjukkan aku lupa naskah, daripada malu akhirnya aku pura-pura serak dan batuk-batuk syantik gitu, lah malah dikasih air sama panitia. Tahu gitu mending aku pingsan sekalian. Di tahun yang sama dan kelas yang sama (kelas 1) aku ditunjuk oleh bu Lisa untuk mengikuti lomba FL2SN cabang story telling dan aku menduduki peringkat 3, bangganya.

Waktu terus berjalan, eh tapi aneh ya kalau waktu jalan-jalan.  Ya sudahlah ya lanjut lagi deh, dulu ada anggapan kalau anak-anak dhuafa seperti aku dan teman-temanku tak akan bisa bertemu dengan orang-orang penting, tapi mereka salah. Selama di SMART Ekselensia Indonesia aku banyak bertemu dengan tokoh terkenal bahkan artis seperti Ustad Maulana, Nikita Willy, Baim Wong, bahkan Dubes Jerman dan Amerika Serikat. Senanglah pokoknya bisa bertemu mereka semua.

Lalu tak terasa sudah empat tahun di SMART Ekselensia Indonesia dan sekarang aku sudah kelas 5 (kelas 3 SMA di sekolah lain), yang lebih menyenangkan akhirnya aku masuk jurusan IPA. Masuk IPA membuatku lebih banyak berpikir terutama berpikir tentang Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Kala itu aku selalu berpikir untuk masuk Kimia UI, aku sudah minta doa ke kanan dan ke kiri macam sedang maaf-maafan sewaktu Lebaran, sedihnya aku tak akan bisa dapat kesempatan ke sana karena SNMPTN UI tidak mencakup ke SMART Ekselensia Indonesia. Alhasil  aku pilih ITB Fakultas MIPA untuk SNMPTN tahun ini. Setelah berunding dengan guru BK dan pimpinan SMART panjang lebar aku tak disarankan masuk ITB, terlepas dari itu aku cukup terharu karena mereka mau menyisihkan waktunya untuk mendengar ocehanku,. Akhirnya aku harus mengikuti konseling lanjutan bersama bu Amal (guru BK) yang berakhir dengan kesimpulan kalau aku harus memiih Manajemen IPB.

Percaya atau tidak, sebenarnya konseling alias diskusi dengan bu Amal yang panjang itu tak menghasilkan kesimpulan akhir, karena pada saat pendaftaran SNMPTN aku keukeuh memilih FMIPA ITB. Titik dan aku yakin makanya pilihanku tersebut kufinalisasi alias tak bisa diubah lagi. Bu Amal agak kesal dibuatnya seraya berkata “Doni, kamu mempermainkan saya?!” dengan ekspresi muka yang susah digambarkan, itu membuatku kepikiran. Aku hanya membatin “paling juga tak lolos, tapi kan bisa ikutan SBMPTN terus masuk UI”. Itu prinsipku saat itu hingga jelang pengumuman SNMPTN tiba.

Keresahanku tak kunjung reda bahkan makin menjadi karena ternyata pengumuman SNMPTN diundur hingga 9 Mei. Kulupakan sejenak saja si SNMPTN dan fokus belajar untuk SBMPTN, sampai beberapa hari kemudian ketika kami sedang belajar tiba-tiba di koridor luar terdengar teriakan dan sorak sorai. Kami yang di kelas sudah yakin kalau SNMPTN telah diumumkan, makin gelisah saja aku dibuatnya. Sejurus kemudian masuklah Alfian ke kelas sambil memberi selamat. Aku bingung, apakah ini mimpi? Aku berhasil masuk ITB? FAKULTAS MIPA ITB? Alhamdulillah ya Allah aku senang sekali, aku keluar kelas lalu berlarian sepanjang koridor. Kulihat Renald, sahabat kentalku di ujung koridor, ia melihatku dan berlari ke arahku lalu ia memelukku seraya berkata: “Kita lolos Don, gue keterima di UNPAD ya Allah”. Tak ada yang lebih menyenangkan mendengar kabar itu.

Alhamdulillah kabar kelolosanku ke FMIPA ITB menjadi kado terindah yang bisa kuberikan untuk ibukku di kampung halaman.

 

IMG-20170325-WA0001(1)
,

Olimpiade Sains Nasional (OSN) Tingkat Propinsi SMA mewakili SMART

IMG-20170325-WA0001

 

Kami mengucapkan selamat dan sukses kepada tiga teman kita yakni:

1. Habibullah Akbar
2. Ahmad Basyir Najwan
3. Syahrizal Rachim

Yang akan melenggang ke Olimpiade Sains Nasional (OSN) Tingkat Propinsi SMA mewakili SMART merebut kembali emas di bidang TIK (Komputer), Fisika, dan Kebumian.

Tulisan seputar kemenangan ketiganya bisa kamu baca di sini > http://www.smartekselensia.net/perjuangan-keras-berbuah-dua-medali-emas-dan-satu-perunggu/

#SMARTSemangat #MembentangKebaikan

P_20170320_074423_HDR-711x400

Ini USBN, Kawan. Mari Berjuang!

P_20170320_074423_HDR-711x400

Beberapa minggu terakhir wajah kami selalu tertutup buku, bahkan sambil berjalan kami masih membaca buku. Bukan ini bukan karena kami menyembunyikan sesuatu kok, tetapi karena kami sedang sibuk belajar untuk persiapan UN, try out, dan Ujian Sekolah Berbasis Nasional (USBN). Nah sejak Senin (20-03) hingga hari ini kami yang duduk di Kelas XII (baik IPA maupun IPS) disibukkan dengan USBN lho.

P_20170320_073939_HDR-400x711

USBN? Apa itu? Yuk berkenalan dengan USBN.

USBN merupakan salah satu alternatif patokan kelulusan siswa, jadi saat ini UN bukanlah satu-satunya penentu kelulusan siswa. Jika UN dibuat oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) berdasarkan kisi-kisi yang dikeluarkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), maka USBN dibuat oleh guru-guru sekolah. Para guru tersebut tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) dan juga Kelompok Kerja Guru (KKG). Guru dari sekolah masing-masing membuat soal dari standar kisi-kisi yang sudah disusun oleh BSNP dan juga Kemendikbud.

P_20170320_073923_HDR-711x400

Dalam konsep USBN, jenis soal terdiri dari pilihan ganda dan esai. Tak seperti UN yang seluruhnya merupakan pilihan ganda, jumlah soal pilihan ganda di USBN akan dikurangi. Hal tersebut dilakukan agar kemampuan berpikir kritis siswa semakin terasah.

Mata pelajaran yang diujikan dalam USBN 2017 ini sedikit berbeda dengan UN. Untuk bidang IPA, yang diujikan antara lain Pendidikan Agama, PKN, Sejarah, Fisika, Kimia dan Biologi. Untuk bidang IPS, mata pelajaran yang diujikan antara lain Pendidikan Agama, PKN, Sejarah, Ekonomi, Geografi dan Sosiologi.
Ini merupakan pengalaman pertama kami mengikuti USBN, rasanya sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata karena kami memang tak memiliki gambaran pasti akan seperti apa USBN nantinya. Kami telah mempersiapkan diri sebaik mungkin, belajar dengan tekun, rajin mengulang pelajaran yang diujikan sehingga rasa khawatir yang menghinggapi diri dapat ditepis dengan mudah. Alhamdulillah selama mengerjakan soal USBN tidak ada kendala berarti, hanya saja di awal agak deg-degan tetapi setelah mengenal lebih dalam malah kami semakin termotivasi untuk belajar lebih baik lagi. Walaupun UN bukan satu-satunya penentu kelulusan, kami tidak boleh berpangku tangan. Kami akan terus semangat belajar dan membuktikan bahwa kami bisa dan mampu menjadi yang terbaik.

Doakan kami agar nilai USBN kami bagus dan kami bisa lulus dengan hasil membanggakan, aamiin. (AR)

ceria7

Buletin Ceria Edisi 7 “Berkarya Dengan Cinta”

ceria7

“Keberhasilan tidak diukur dari pengakuan orang-orang atas karya kita. Keberhasilan adalah buah dari benih yang kau tanam dengan cinta. Saat panen tiba, bisa kau katakan pada dirimu, ‘Aku berhasil.’ Kau berhasil mendapat rasa hormat atas pekerjaan-mu sebab kau bekerja bukan hanya melulu untuk hidup, tapi untuk menunjukkan cintamu pada sesama.”

Begitulah ungkapan Paulo Coelho dalam manuskrip yang ditemukan di Acra. Sengaja saya pinjam kata-kata penulis asal Brazil ini untuk menyampaikan perasaan dan pikiran saya tentang profesi yang saya jalani sebagai…

Penasaran dengan lanjutan kisah inspiratif diatas dan berbagai kisah unik menarik lainnya? Simak di Buletin Ceria Edisi 7 ” Berkarya Dengan Cinta ” dengan membuka tautan berikut: bit.ly/buletinceriaedisi7

Selamat membaca 🙂

Jabat erat penuh cinta,
Dompet Dhuafa Pendidikan

IMG-20170322-WA0007

Semangat Kami Semangat Emas

IMG-20170322-WA0007

Senang  rasanya melihat senyum merekah kakak kelas yang berhasil menyabet dua emas dan satu perunggu di Olimpiade Sains Nasional (OSN) Tingkat Kabupaten untuk SMA yang dilaksanakan beberapa pekan lalu di SMAN 2 Cibinong. Kami yang mengikuti OSN Tingkat Kabupaten untuk SMP masih belum tenang karena belum ada pengumuman dari pihak terkait.

IMG-20170322-WA0004

OSN tingkat Kabupaten untuk SMP diadakan di SMPN 3 Cibinong, peserta yang mengikuti OSN Kabupaten tahun ini cukup membludak. Hal tersebut terlihat dari banyaknya sekolah yang mengirimkan kontingennya untuk bertanding. Walau jumlah peserta lombanya banyak, tetapi kami tak gentar dan tetap semangat memberikan yang terbaik untuk SMART tercinta. Tahun ini SMART mengirimkan empat belas kontingen untuk bertanding mewakili bidang studi yang dilombakan yakni Matematika, IPA, dan IPS. Kami berempat belas telah berjuang dengan sangat keras, belajar dengan sangat giat, dan berdoa dengan intensitas luar biasa demi meraih gelar juara. Untuk tingkat SMP sendiri jumlah kontingen yang dikirim tidak sebanyak tingkat SMA, kenapa? Karena waktu yang dimiliki siswa SMP lebih singkat dibandingkan kakak kelas mereka di tingkat SMA. Tingkat SMA memiliki waktu belajar satu tahun untuk mempersiapkan diri (baik mental maupun materi yang dikuasai) dari kelas 3 SMP. Meskipun demikian usaha kami tak kendur walau jumlah kontingennya sedikit.

IMG-20170322-WA0005

Hari berganti minggu namun belum ada pengumuman dari pihak terkait, setelah menunggu agak lama akhirnya pengumuman datang juga. Alhamdulillah  Muhammad Zaky Diyaul Haq berhasil menyabet medali emas untuk bidang studi IPS. “Alhamdulillah tidak menyangka anak bimbingan saya bisa meraih emas, sungguh perjuangan kami terbayarkan,” ucap Ibu Dedeh Iwanah, Pembimbing Zaky, penuh haru. Oh iya Zaky meraih emas dengan perolehan nilai yang baik dan tidak terpaut jauh dari saingannya lho. Hebat Zaky!

IMG-20170322-WA0006 IMG-20170321-WA0002

Kami mohon doamu ya, doakan Zaky agar mampu mengharumkan nama SMART Ekselensia Indonesia dan membuat SMART berjaya di OSN Propinsi untuk SMP, aamiin. (AR x NU)

IMG-20170314-WA0012
,

Perjuangan Keras Berbuah Dua Medali Emas dan Satu Perunggu

IMG-20170314-WA0012

Masih ingat dengan posan kami pada 14 Maret lalu? Nah dua hari yang lalu atau tepatnya 18 Maret 2017  pengumuman para juara telah diumumkan lho, Alhamdulillah sekolah kami berhasil memboyong dua medali emas untuk Bidang Fisika dan Komputer dan satu medali perunggu diperoleh Bidang Kebumian. Medali emas Bidang Fisika diraih oleh Muhammad Basyir Najwan asal Kalimantan, Basyir digadang-gadang SMART untuk meraih emas, tak mengherankan jika ia sangat tekun belajar agar target yang ingin ia capai terpenuhi. Tak sia-sia akhirnya ia mampu membayar kepercayaan yang diberikan SMART dengan memboyong medali emas.

Selain Basyir, Habibullah Akbar juga berhasil menggondol medali emas dengan perolehan nilai jauh meninggalkan para pesaingnya. Konon selama pull out Habib tak pernah lepas dengan buku panduan yang disodorkan oleh Pak Ari Kholis, Guru Komputer kami, ke mana-mana ia selalu membawa dan mempelajari materi Komputer. Wah hebat.

Sedangkan medali perunggu Bidang Kebumian diraih Syahrizal Rachim, siswa kelas 4  IPS. Rizal, panggilan akrabnya, rutin bangun pagi buta untuk belajar setelah melaksanakan salat Tahajud. Tak heran jika ketika OSN Tingkat Kabupaten berlangsung ia terlihat sangat siap.

Seperti yang kamu tahu tentu tidak mudah berada di posisi kami saat ini, banyak hal kami persiapkan; banyak strategi kami matangkan; banyak usaha kami kerahkan; dan banyak doa kami panjatkan, semua kami sinergikan agar hasilnya maksimal serta tak mengecewakan. Untuk itulah jauh sebelum hari H tiba kami belajar dengan sangat keras, (hampir) setiap hari kami mengerjakan beragam soal yang dilombakan dibimbing guru kesayangan, kami yakin bisa mengerjakan semua soal dengan baik. OSN bagi kami ialah ajang aktualisasi diri, di sini kemampuan dan kejujuran kami diuji, oleh karena itu pantang untuk kami menyerah atau berbuat curang.

“Kami menyadari OSN Tingkat Kabupaten Bogor merupakan ajang bergengsi untuk pelajar se-Bogor. Oleh karenanya kami ingin mempertahankan gelar dan menambah gelar baru,” jelas Pak Mulyadi, Guru Pembimbing OSN kami.

Alhamdulillah perjuangan kami berkutat selama lebih dari tiga jam dengan soal-soal membuahkan hasil yang baik, satu hal yang pasti pressure alias tekanan ketika mengerjakan soal sangatlah tinggi. Namun karena sudah memegang teguh rasa yakin semua tekanan dalam diri kami salurkan menjadi energi positif sehingga kami bisa fokus dan berjuang lebih kuat, soal di depan mata seolah tak menjadi halangan lagi dan peraihan dua medali emas serta satu medali perunggu mampu mengantarkan kami  berada di posisi ke-3 di bawah SMAN 2 Cibinong dan SMA Dwi Warna. SMART mengungguli 31 sekolah lain yang mengikuti OSN Tingkat Kabupaten Bogor 2017.

Kami siap untuk menghadapi OSN Tingkat Propinsi, kami siap bersaing dengan para pelajar hebat nusantara lainnya, kami siap karena kami semangat! Semangat untuk menggapai semua mimpi yang kami dambakan.

Doakan kami ya. (AR x AEM)

 

hujan

Setengah Memori

Oleh: Azzam, Kelas XII IPS

Setengah memori dipenggal degup masa
Sisanya, tertinggal pada
Manuskrip yang tertulis tintanya,
Sedang tentangnya semakin tertinggal
Dilelap pekatnya kekinian,  tersenggal
Tanpa napas menyejuk kehidupan
Hanya nampak pada guratan raut
Pada beberapa orang yang senja,
Yang memindai dengan mata
Milik hati,
Diberkahi lusinan cahaya nirvana,
Sebab jiwa raga menghamba
Merapal puja puji surgawi,
Setengah tak percaya
Aku berlari lalui lorong-lorong
Berharap tak dibui dusta melolong,
Terus mencari dengan harap setitik cahaya
Padahal intuisi menggurui
Memaksa akal merasuk lakuan diri
Menyumpal doktrin-doktrin pagi tadi
Dengan buku yang tak kumengerti,
Dibaca tanpa sempat memahami,
Hanya sedikit yang kutahu, tentangnya
Disertai rembulan yang terbelah bersamanya
Datang seterang gemintang
Dimuka kehidupan,
Membawa seberkas harapan
Untuk segumpal peradaban,
Dan kini, masa seakan menghapus
barisan memori tersisa,
Terlupa akannya

11.08 WIB
(Kota Hujan, 2016)
-Na Dhif-