selfi cover-768x576

Sociopreneur, Sekolah Master, dan Duta Gemari Baca

Oleh: M. Ikram Azzam 
Duta Gemari Baca PSB Makmal Pendidikan
Baru lulus dari SMART Ekselensia Indonesia pada Mei 2017

selfi cover-768x576

Panggil saja saya Azzam, pada 21 Mei lalu saya baru menyelesaikan studi SMA di SMART Ekselensia Indonesia. Bersama dua orang teman lainnya, sudah setahun terakhir saya tergabung ke dalam Duta Gemari Baca bentukan Pusat Sumber Belajar (PSB) Makmal Pendidikan. Banyak kegiatan berbau literasi kami lakukan guna menyadarkan masyarakat akan arti penting membaca dan berliterasi sedini mungkin.

IMG-20170530-WA0006-768x576

Nah pada Minggu (28-05) menjadi hari yang menyenangkan bagi saya dan para Duta Gemari Baca, pasalnya pada hari itu beberapa orang Duta mengadakan kunjungan literasi ke sebuah sekolah dibilangan Kota Depok bernama Sekolah Master. Sekolah Master ialah singkatan dari Sekolah Masyarakat Terminal, sekolah ini merupakan sekolah bentukan dari dana masyarakat yang hanya diperuntukkan untuk orang-orang menengah ke bawah dan anak-anak jalanan.

IMG-20170530-WA0005-768x576

Pada kunjungan kala itu, kami para Duta Gemari Baca mendapatkan kesempatan untuk belajar sociopreneur dari Kak Nana, relawan dan pengembang Sekolah Master. Kak Nana memberikan materi seputar membuat program berbasis kegiatan sosial dan enterpreneurship, kami sangat senang karena bisa belajar langsung dari ahlinya. Besar harapan kami setelah mengikuti kegiatan ini kami tak hanya jago berliterasi, tetapi juga bisa mengembangkan diri dengan melakukan kegiatan sociopreneurship yang kelak berguna dalam pengembangan masyarakat di lingkungan.

IMG-20170530-WA0004-768x576

Kegiatan berbagi ilmu ini dimulai sekitar pukul 08.30 WIB dan bertempat di Ruang Taman Baca Masyarakat (TBM) milik Sekolah Master. Vikram dan Azmi, Duta Gemari Baca yang juga teman satu sekolah, didapuk menjadi MC dan pembaca Quran. Acara terus bergulir hingga sampailah pada sesi diskusi dengan dipandu Kak Eko, Pembina Duta Gemari Baca. Diskusi penuh suka cita dan canda tawa ini berlangsung kurang lebih 3 jam 30 menit, selama kurun waktu tersebut kami banyak melakukan diskusi terbuka bersama Kak Nana.

IMG-20170530-WA0003-768x576

Selain seru, kami mendapatkan banyak hal seperti sejarah berdirinya Sekolah Master, kegiatan Sekolah Master, tantangan yang mereka dihadapi selama menjalankan Sekolah Master, langkah-langkah mengatasi masalah yang menyergap Sekolah Master, sampai cara mengatasi keunikan siswa dan orangtua di Sekolah Master. Setelah sesi diskusi pertama selesai, kami melanjutkan sesi diskusi tahap dua dengan beberapa rentetan pertanyaan dari para Duta Gemari Baca kepada Kak Nana, kami menyimak penjelasan Kak Nana dengan seksama. Suasana diskusi sangat menyenangkan hingga tanpa kami sadari waktu Maghrib telah tiba, kami bergegas berbuka puasa dengan meneguk air putih dan memakan kue lapis, lalu menutup kegiatan dengan foto bersama.

IMG-20170530-WA0002-768x576

Setelah ditutup, kami melaksanakan Salat Magrib berjamaah di masjid terdekat. Setelah itu kami langsung menuju ke sebuah restoran steak untuk makan bersama menu-menu makanan yang tersaji begitu membuat kami lupa diri. Rasanya semua ingin dipesan.

Akhirnya pesanan kami tiba di meja, kami menikmati semua hidangan sembari mendengarkan info terbaru dari Kak Eko terkait pemilihan Duta Gemari Baca 2017 (batch 2). Kami adalah Duta Gemari Baca angkatan 1, menjadi tugas kami untuk membantu mencari dua puluh Duta Gemari Baca batch 2 agar regenerasi hebat terus terjaga. Menjelang malam seluruh rangkaian kegiatan selesai, kami kembali berfoto serta bermaaf-maafan dan melakukan perpisahan mandat tugas sebagai Duta Gemari Baca angkatan 1.

Mau menjadi Duta Gemari Baca angkatan 2 selanjutnya? Kamu bisa langsung membuka laman web Makmal Pendidikan di sini >> http://www.makmalpendidikan.net/yuk-gabung-duta-gemari-baca-batch-2/ dan melengkapi syarat sera ketentuan yang ada di sana. Kami tunggu ya!

Duta Gembaca Batch 2-1-768x1087

Oh iya jangan lupa juga untuk bergabung dan bergandengan tangan bersama Dompet Dhuafa Pendidikan untuk menyalakan pelita harapan anak-anak yang kurang beruntung secara ekonomi melalui program-program pendidikan berkualitas. Salurkan zakat, infak, dan sedekahmu melalui nomor rekening: 2881 2881 26 BNI Syariah a.n. Yayasan Dompet Dhuafa Republika yaaa.

 

IMG-20170529-WA0004

Mimpi Anak Kampung Jadi Ilmuwan yang Hafizh Qur’an

IMG-20170529-WA0004

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie.
(GM SMART Ekselensia Indonesia Islamic Leadership Boarding School)

Basyir, demikian remaja asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan, ini biasa disapa oleh guru-guru dan teman-temannya di SMART Ekselensia Indonesia. Ahmad Basyir Najwan, demikian nama lengkap pemberian orangtuanya, adalah salah seorang siswa Sekolah Pemimpin SMART Ekselensia Indonesia yang berprestasi pada dua bidang keilmuan sekaligus. Yakni, ilmu Agama dan ilmu umum. Pada bidang ilmu umum, Basyir adalah peraih medali emas bidang Fisika Olimpiade Sains Nasional (OSN) Tingkat Provinsi, dan pada 2 – 8 Juli 2017 mendatang akan bertanding pada OSN Tingkat Nasional di Pekanbaru, Riau.

Sedang pada bidang ilmu Agama, Basyir telah memiliki hafalan Al-Qur’an 25 juz. Terkhusus untuk hafalan Al-Qur’an, Basyir memang bercita-cita menjadi hafizh. Ia ingin menghafal Al-Qur’an 30 juz. Karena itulah, Basyir mengikuti program Takhasus Tahfizh di SMART Ekselensia Indonesia. Ia ingin memberikan hadiah terindah untuk Ibu dan almarhum Ayahnya yakni mahkota kemuliaan di surga kelak. Ia ingin memuliakan Ibu dan Ayahnya dengan hafalan Al-Qur’annya.

Basyir menyadari betapa besar jasa orangtuanya, terkhusus Ibunya. Karenanya, Basyir ingin Ibunya bangga memiliki anak sepertinya. Maka, hadiah terbaik yang ingin dipersembahkan itu adalah hafalan Al-Qur’an secara sempurna 30 juz. Semoga kelak menjadi syafaat bagi Ibunda dan ayahandanya di akhirat kelak.

Lahir di tengah keluarga kurang beruntung secara ekonomi tidak membuat Basyir kehilangan cita-cita. Berbekal doa dan semangat dari orangtuanya, setelah dinyatakan lulus sebagai penerima beasiswa SMART Ekselensia Indonesia, Basyir mantap merantau ke Bogor untuk sebuah misi besar sebagai muslim. Menuntut ilmu di SMART Ekselensia Indonesia Islamic Leadership Boarding School. Sebuah sekolah jenjang SMP dan SMA selama 5 tahun yang didirikan oleh Dompet Dhuafa sebagai kontribusi nyata untuk memutus rantai kebodohan dan kemiskinan, juga melahirkan generasi pemimpin yang saleh.

Ketika menginjakkan kaki di SMART Ekselensia Indonesia dan mengawali proses pembelajaran, anak ini memang sudah terlihat kecerdasannya. Semua mata pelajaran selalu mendapat nilai bagus. Belajar bersama para guru yang berdedikasi adalah nikmat yang sangat disyukurinya. Di SMART Ekselensia Indonesia pula minatnya untuk menghafal Al-Qur’an mulai tumbuh dan berbunga. Ustadz Syahid, guru Tahfizh, adalah orang yang selalu mengompori Basyir untuk menghafal Al-Qur’an. Guru Tahfizh yang juga Shivu Thifan Po Khan ini memang terkenal “tukang kompor” yang positif bagi murid-muridnya. Terkadang anak-anak diajak menghafal Al-Qur’an sambil berlatih jurus-jurus Thifan.

Basyir sangat menikmati proses pembelajaran Al-Qur’an di SMART Ekselensia Indonesia. Tak heran perkembangan hafalannya berjalan cepat. Saat ini Basyir duduk di kelas 4 IPA SMART Ekselensia Indonesia dan telah memiliki hafalan Al-Qur’an 25 juz. Targetnya sebelum lulus SMA, Basyir telah menyelesaikan hafalannya. Berkat hafalan Al-Qur’annya, Basyir memperoleh hadiah umroh dari sebuah bank syariah pada Desember 2015 lalu.

Kini prestasi Basyir semakin cemerlang, mimpinya untuk meraih medali emas OSN terlihat titik terangnya. Basyir sangat mencintai Fisika, meski masih SMA buku-buku Fisika untuk mahasiswa perguruan tinggi habis dilalapnya. Perjuangan meraih mimpi besar itu dimulai pada OSN tingkat kabupaten, dengan kerja keras dan tentu saja pertolongan Allah, Basyir melenggang ke tingkat provinsi dengan menyabet medali emas bidang Fisika.

Pada OSN Tingkat Provinsi yang dihelat di Lembang pada 8 – 10 Mei 2017 lalu, Basyir kembali menunjukkan kecerdasannya. Lagi, buah kerja keras, doa, dan tawakal berbuah manis. Basyir melaju ke OSN Tingkat Nasional dengan menggenggam medali emas bidang Fisika. Basyir berharap pada OSN tingkat nasional yang akan dihelat di Pekanbaru 2 – 8 Juli 2017 mendatang, ia bisa kembali meraih medali emas. Sehingga, bisa mewakili Indonesia untuk mengikuti Olimpiade Fisika Tingkat Asia, dan kemudian menembus Olimpiade Fisika Tingkat Dunia.

Teriring doa dari kami, nak. Semoga kau segera menyelesaikan hafalan Al-Qur’anmu dan berhasil meraih medali emas OSN sebagai langkah awal menjadi ilmuwan. Kelak, amalkan ilmu yang kau miliki untuk berkontribusi sebesar-besarnya bagi dakwah Islam dan kemaslahatan umat.

Semoga sekolah ini (SMART Ekselensia Indonesia) semakin berkah dengan melahirkan para penghafal Al-Qur’an yang bertakwa. Juga mengkader para ilmuwan, pemimpin, dan cendekiawan yang saleh. Semoga pula keberkahannya turut mengalir kepada guru-guru yang berdedikasi mengajarkan ilmunya di sekolah ini. Mahasuci Allah dan segala puji hanya untuk-Nya.

Mari bergabung dan bergandengan tangan bersama Dompet Dhuafa Pendidikan untuk menyalakan pelita harapan anak-anak yang kurang beruntung secara ekonomi melalui program-program pendidikan berkualitas. Salurkan zakat, infak, dan sedekah Anda melalui nomor rekening: 2881 2881 26 BNI Syariah a.n. Yayasan Dompet Dhuafa Republika.

17-05-24-06-21-22-513_deco

Gelorakan Semangatmu di Olimpiade Sains Nasional (OSN) Tingkat Nasional, Basyir!

17-05-24-06-21-22-513_deco

Entah bagaimana mengungkapkannya, tapi kami sangat bahagia ketika mengetahui kalau pada Senin (22-05) SMART Ekselensia Indonesia kembali menorehkan prestasi dengan meraih medali emas dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN) Tingkat Propinsi. Seperti yang kamu semua ketahui jika pelaksanaan OSN Tingkat Propinsi digelar selama tiga hari (08-10 Mei) oleh Direktorat Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Propinsi Jawa Barat di Wisma Bumi Makmur Indah Lembang, Bandung, Jawa Barat, dan diikuti ratusan peserta terpilih. Jelas persaingannya sangat sengit.

Nah pada kesempatan kala itu SMART mengirimkan tiga kontingen terbaiknya dalam perhelatan bergengsi tersebut. Namun sorotan utama tertuju pada kawan kami, Ahmad Basyir Najwan, Kelas 11 IPA, yang berhasil menyabet medali emas untuk bidang Fisika. Ini adalah kemenangan kedua Basyir setelah sebelumnya berhasil memboyong emas di OSN Tingkat Kabupaten Bogor. Bukan tanpa alasan SMART menggadang Basyir untuk merebut posisi juara. Di sekolah, Basyir memang dikenal sebagai siswa dengan segudang prestasi, baik akademik maupun non akademik. Hal tersebut kembali ia buktikan dengan perolehan medali emas pada OSN Tingkat Propinsi. Kereeen!

Sebelum mengikuti OSN Tingkat Propinsi, selama tiga hari Basyir mengikuti karantina di Gedung PPPPTK, Bogor, Jawa Barat, dengan bimbingan dari guru SMART dan pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor. Kerja keras, usaha, doa, dan dukungan berbagai pihak itu kini berbuah manis, Basyir melenggang ke Olimpiade Sains Nasional (OSN) Tingkat Nasional yang akan diselenggarakan pada 02-08 Juli 2017 di Kota Pekanbaru, Propinsi Riau.

“Saya bersyukur dengan hidayah dan taufik dari Allah, medali emas bidang Fisika kembali saya genggam. Ini adalah berkah tiada tara. Ini adalah usaha keras semua pihak di SMART Ekselensia Indonesia. Saya akan berjuang segenap raga sepenuh jiwa memberikan yang terbaik pada OSN nanti,” ujar Basyir penuh keharuan.

Seluruh peserta OSN terpilih akan kembali bersaing di bidang yang diujikan. Basyir sebagai satu-satunya wakil dari SMART Ekselensia Indonesia akan menunjukkan seluruh kemampuannya menghadapi 75 peserta lain dari berbagai daerah di Indonesia untuk bidang Fisika. Doakan Basyir ya. Selamat berjuang Basyir! (AR)

IMG-20160628-WA0001

Tarhib Ramadhan Anti-Mainstream

IMG-20160628-WA0001

Oleh: Purwoudiutomo

General Manager Beastudi Indonesia

“Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad), dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaknya dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa mereka yang kumpulkan (dari harta benda).” (QS. Yunus: 58)
Tak terasa, dalam hitungan hari Ramadan akan kembali menyapa. Bulan yang penuh berkah dan Rahmat dari Allah swt. Kaum muslimin pun ramai menyambutnya. Salah satu perwujudannya adalah dengan mengadakan kegiatan Tarhib Ramadan. Dalam Kamus Al Munawir, kata tarhib berasal dari fi’il “rahiba, yarhabu, rahbun”yang berarti luas, lapang dan lebar. Dan selanjutnya menjadi fi’il “rahhaba, yurahhibu, tarhiban” yang mengandung arti menyambut, menerima dengan penuh kelapangan, kelebaran dan keterbukaan hati. Menurut Kamus Al-Munjid, kata tarhib merupakan masdar dari akar kata rahaba (menyambut) yang mengandung makna penyambutan. Istilah Tarhib Ramadan kian populer, bahkan sudah masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Akhir pekan lalu saja penulis dapat empat undangan Tarhib Ramadan yang waktunya bersamaan. Belum ditambah pekan sebelumnya dan pekan ini. Sayangnya, popularitas ini terasa berbanding terbalik dengan esensi dari tarhib itu sendiri. Ya, belakangan ini tarhib semakin terasa hanya sebagai kegiatan rutin menjelang Ramadan, kehilangan jati dirinya sebagai salah satu check point Ramadan.
Eksklusifitas mungkin memang membuat sesuatu lebih terasa spesial dan berkesan. Tapi formalitas Tarhib Ramadan juga dipengaruhi oleh konten yang kurang variatif. Bisa dibilang hanya pawai Ramadan yang kreatif dan saling memaafkan yang esensial, selebihnya –terutama kajian dan ceramahnya—nyaris tak ada perubahan dari waktu ke waktu. Ceramahnya tidak jauh-jauh dari dimulai dengan Al Qur’an Surah Al Baqarah ayat 183, dilanjutkan dengan keutamaan puasa, misalnya dengan hadits “Barangsiapa berpuasa Ramadan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.”  (HR. Bukhari – Muslim), kemudian diakhiri dengan bekal yang harus disiapkan mulai dari ruhiyah, fikriyah, jasadiyah hingga maaliyah.
Pengingatan akan bekal Ramadan bukannya tidak penting. Mempersiapkan bekal bahkan sangat penting. Hanya saja ukuran keberhasilan suatu kegiatan tidaklah diukur hanya dari terselenggaranya kegiatan, atau bahkan banyaknya peserta yang datang. Ada efektifitas kegiatan yang perlu jadi perhatian. Dalam hal ini pengulangan informasi tentang bekal Ramadan akan kehilangan makna karena pengetahuan akan hal tersebut sudah cukup. Ibarat air dalam wadah yang justru luber karena kebanyakan air. Tidak efektif dan tidak efisien. Butuh kreativitas agar wadahnya semakin membesar. Sehingga dalam konteks efektifitas, memastikan peserta memiliki bekal yang cukup lebih penting dibandingkan menginformasikan bekal yang harus dimiliki, berulang-ulang.
Contoh lebih teknis. Jika fokus Tarhib Ramadan memastikan peserta memiliki bekal ilmu tentang Ramadan yang mumpuni, alih-alih menggunakan metode ceramah, metode permainan bisa jadi lebih efektif dan menarik. Sekadar diberikan buku panduan Ramadan kemungkinan tidak akan dibaca, tapi jika dilombakan maka akan lain ceritanya. Misalnya dengan lomba cerdas cermat setelah sebelumnya peserta diberikan kisi-kisi pertanyaan. Peserta akan aktif mencari informasi akan pengetahuan Ramadan dibandingkan pasif mendengarkan ceramah. Peserta yang ‘tak ingin menang’ sekalipun akan berusaha untuk ‘tidak memalukan’. Selepas kegiatan, akan lebih banyak bekal ilmu yang diperoleh peserta. Dengan kegiatan yang lebih menyenangkan pula.
Jika fokus tarhib Ramadan memastikan bekal fisik peserta. Sekadar pengetahuan akan pentingnya bekal fisik belum tentu linier dengan bekal fisik yang dimiliki. Akan lebih efektif jika konten tarhibnya berupa pemeriksaan kesehatan. Sambil menunggu jadwal konsultasi kesehatan, ada berbagai media visualisasi tentang berbagai tips sehat selama menjalani ibadah Ramadan. Misalnya menu sehat sahur dan buka puasa, pengaturan waktu istirahat yang ideal, mengatasi penyakit musiman di bulan Ramadan, dan sebagainya. Akan lebih baik lagi jika sebelumnya ada penugasan bagi peserta terkait persiapan fisik, sehingga paska kegiatan bekal fisik peserta lebih dapat dipastikan terpenuhi.
Pun demikian jika fokus tarhib Ramadan memastikan bekal ruhiyah atau maaliyah peserta, kontennya bisa menyesuaikan dengan tujuan kegiatan, tidak melulu harus ceramah. Untuk penguatan ruhiyah misalnya, mungkin perlu ada agenda muta’baah dan muhasabah dengan nuansa ruhiyah yang benar-benar dimunculkan. Jauh dari kegaduhan dan mencerahkan. Tarhib Ramadan juga bisa dikuatkan dengan tips trik yang aplikatif. Misalnya tarhib Ramadan yang fokus pada tema ‘Ramadan bersama keluarga’. Kontennya bisa jadi terkait puasa dan pendidikan keluarga, bagaimana mempersiapkan anak untuk berpuasa, silaturahim produktif dan sebagainya. Semakin fokus, semakin efektif. Intinya, selepas tarhib Ramadan ada nilai tambah yang diperoleh peserta, tidak sekadar menggugurkan kewajiban.
Tarhib Ramadan sejatinya alur yang tidak terpisah dari pembinaan selama bulan Ramadan, kecuali jika dilakukan sebatas formalitas. Sebagaimana dalam gerakan senam, perlu ada pemanasan sebelum masuk ke bagian inti (dan pendinginan). Tanpa pemanasan, pesenam akan rentan cidera. Tapi pemanasan yang asal-asalan tidak ada manfaatnya, malah bisa mengganggu keseimbangan tubuh. Ibarat tulisan, pengantar atau pendahuluan ini menjadi penting sebab jika langsung masuk ke bagian isi akan terasa ada sesuatu yang terputus. Tapi pengantar atau pendahuluan yang cuma basa-basi tidaklah sepenting itu. Semoga bekal kita cukup untuk mengarungi samudera Ramadan. Sehingga kita dapat tiba di tujuan dengan kondisi yang lebih baik. Marhaban Ya Ramadan.
“Telah datang kepada kamu syahrul mubarak (bulan yang diberkahi). Diwajibkan kamu berpuasa padanya. Pada bulan tersebut pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, syaithan-syaithan dibelunggu. Padanya juga terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang terhalang kebaikan pada malam tersebut, maka ia telah terhalang dari kebaikan tersebut.”  (HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi)

indowarkop-1495532789606

Hari Patah Hati Nasional Para Generasi Z

indowarkop-1495532789606

Sejak dua hari lalu media sosial gencar dengan pemberitaan seputar Raisa dan Hamish Daud. Seperti yang kamu ketahui Raisa dikenal sebagai penyanyi bersuara merdu dengan tembang hits tak berkesudahan, maka tak heran bila ia diganjar dengan banyak piala Anugerah Musik Indonesia (AMI) 2016 kemarin. Sedangkan Hamish Daud dikenal sebagai seorang arsitek, pengusaha, dan pembawa acara sebuah program petualangan. Hubungan keduanya diresmikan pada Minggu (21-05) kemarin.

Sontak saja publik dibuat geger terutama kaum adam pencinta Raisa dan kaum hawa pencinta Hamish Daud. Saking gegernya muncullah tagar #HariPatahHatiNasional di Twitter dan Instagram sebagai bentuk rasa sedih para fans setia keduanya. Muda mudi, tua muda, mengungkapkan rasa sedih mereka dengan mentwit  dan mempos beragam kalimat serta meme yang notabene mencerminkan perasaan mereka saat itu. Ada yang galau, ada yang sekadar lucu-lucuan, dan ada pula yang bereaksi secara berlebihan.

Dengan jumlah pengguna Internet terbesar keenam di dunia, jelas saja tagar #HariPatahHatiNasional mendulang kesuksesan dan menduduki posisi topik paling tren pertama baik di Indonesia maupun dunia. Seakan tak mau melewatkan momen penting tersebut, berita daring terus menerus memborbardir kita dengan informasi seputar keduanya setiap hari hingga detik ini. Lalu apakah kita semua butuh informasi seperti itu? Jelas tidak!

Coba kamu perhatikan, berapa banyak berita tentang prestasi anak bangsa di kancah nasional atau internasional yang diangkat media besar (baik daring maupun cetak)? Jika jawabanmu sedikit, maka kamu benar. Sudah terlalu lama kita dijejali dengan berita-berita yang tak membangkitkan semangat pemuda negeri ini untuk bangkit berprestasi. Zaman semakin maju, gawai semakin canggih tetapi tetap saja pemuda pemudi Indonesia tertinggal dari negara-negara berkembang lain. Kenapa? Karena kita terlalu asyik dengan berita remeh-temeh. Maka tak bisa dipungkiri jika pelajar saat ini lebih senang mengakses akun berita gosip dibandingkan mengakses berita seputar dunia masa kini, berswafoto dengan pose seronok karena mencontoh selebgram dibandingkan melirik biografi tokoh-tokoh penuh inspirasi, dan memilih untuk menjadi hits dengan cara yang salah. Fenomena seperti ini jika dibiarkan terus menerus bisa membahayakan keberlangsungan dan regenerasi pemuda-pemudi dengan kualitas pemimpin di Indonesia lho.

“Lalu (si)apa yang salah?”

Dalam hal ini media memiliki peran aktif terbesar dalam penyampaian pesan melalui berita. Alih-alih menyampaikan berita penuh prestasi saat ini, konten berita malah lebih menekankan pada sensasi. Sayangnya kita tak bisa serta merta menyalahkan media, karena faktanya partisipasimu serta kebutuhanmu akan berita tak mutu juga ikut ambil bagian dalam proses penciptaan generasi tanpa prestasi.

Sebelum masuk ke pembahasan,  kami yakin kamu semua pasti mendambakan prestasi mumpuni untuk dibanggakan. Akan tetapi, gimana mau mulai berprestasi kalau yang kamu konsumsi hanyalah informasi tanpa isi. “Aduh serba salah ya? Harus bagaimana dong?” Pertama, mulai sekarang, kita sebagai generasi emas Indonesia harus pintar dalam menggunakan gawai. Gawai tercipta sebagai alat penunjang aktivitas dan pelengkap kebutuhan komunikasi kita. Mudahnya pencarian informasi di gawai menambah daftar panjang “masalah” kita saat ini. Kita semakin malas membaca koran atau buku karena akun-akun gosip serta hiburan ternyata lebih menarik hati. Padahal konten di dalamnya belum tentu menunjang kebutuhan kita sebagai pelajar.

Kedua, jauhkan dirimu dari akun-akun tak mutu serta media berisi informasi sampah, dan mulailah mengikuti akun-akun yang akan mengasah kemampuan serta bakatmu.

Ketiga, buatlah jadwal penggunaan gawai seefektif mungkin; jangan sampai gawai malah menguasaimu sehingga membuatmu terbelenggu dari kata prestasi.

Keempat, cari kesibukan dengan mengikuti kegiatan luar ruang yang nantinya akan menggiringmu kepada prestasi.

Kelima, manfaatkan gawaimu untuk membuat inovasi baru sesuai minat dan bakatmu.

Dibandingkan puluhan tahun lalu, saat ini kita hidup di zaman di mana informasi terkini bisa kamu dapatkan dengan mudahnya. Saking mudahnya, kita lupa untuk kembali menilik apakah informasi tersebut benar-benar mengakomodasi kita sebagai pelajar atau tidak. Sebagai pelajar, tugas kita adalah belajar. Kata pelajar bukanlah sekadar titel tempelan tanpa arti. Kita memiliki tanggung jawab untuk membuat negeri ini berprestasi agar tak kalah dengan negara lain di bumi. Kalau bukan sekarang, kapan lagi? (AR).

 

pengumuman-1024x330

Selamat Datang Calon Pemimpin Indonesia / Pengumuman Hasil Seleksi Nasional Bersama SMART 2017

Bogor. Tahun ajaran baru selalu diidentikkan dengan kegiatan penerimaan siswa baru. Seperti sekolah-sekolah lainnya, SMART Ekselensia Indonesia Islamic Leadership Boarding School juga menerima siswa baru lulusan sekolah dasar. Namun yang membedakan di SMART Ekselensia Indonesia proses seleksi dilakukan dengan ketat, dimulai dari seleksi berkas, tes tulis, tes wawancara dan psikotes yang dilakukan diseluruh wilayah Indonesia. Keseluruhan proses tersebut dirasa sepadan dengan hasil yang akan diperoleh siswa yakni beasiswa penuh selama 5 tahun.

SMART merupakan sekolah menengah jenjang SMP hingga SMA bebas biaya, berasrama dengan program percepatan Sistem Kredit Semester (SKS) dan pendidikan kepemimpinan yang diperuntukkan bagi anak-anak pilihan yang kurang beruntung secara ekonomi dari seluruh Indonesia,” ujar Muhammad Syafie, General Manager SMART Ekselensia Indonesia.

Pendidikan sekolah dan asrama selama 5 tahun kami terapkan untuk membentuk karakter dan prestasi siswa, hasilnya sebagin besar siswa SMART memiliki karakter pemimpin, cerdas, dan berprestasi akademik serta non-akademik,” lanjut Syafie.

Hari ini, 22 Mei 2017, bertempat di kantor SMART Ekselensia Indonesia Zona Madina Parung, Bogor, sebuah momentum perubahan dimulai, 40 anak terbaik dari seluruh Indonesia telah berhasil melewati proses seleksi ketat masuk SMART. Selamat datang dan selamat bergabung di Sekolah Pemimpin SMART Ekselensia Indonesia,” tutup Syafie.

Berikut daftar nama siswa SMART Ekselensia Indonesia tahun pelajaran 2017-2018. Selamat!

_20170522_061415
_20170522_061521
_20170522_061545
_20170522_061617

 

Restu

Salam Semangat Calon Pemimpin

Restu

Rasanya baru kemarin lantunan lagu “Gaudeamus Igitur” mengiringi saya menuju dunia perkuliahan. Ternyata itu sudah lima tahun lalu, sejak SMART Ekselensia Indonesia mewisuda saya bersama kawan-kawan angkatan ketiga, Genesis. Kini pengalaman lima tahun di SMART sedang saya sambung dengan cerita perjuangan saat ini di kampus.

Sebelumnya perkenalkan nama saya Restu Muhammad Adam, biasa dipanggil Restu. Saat ini saya tengah menjalani pendidikan kedokteran di Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar.

Awalnya saya terdaftar sebagai mahasiswa teknik Unhas. Namun karena beberapa hal, saya memutuskan untuk  mencari kampus lain meskipun perkuliahan baru beberapa bulan berjalan. Saat itu, mencari tempat kuliah baru ataupun tetap sama-sama perlu pertimbangan. Saya banyak berkonsultasi dengan kakak alumni juga guru-guru di SMART. Syukur saya bisa melewati keputusan berat itu. Setidaknya sekarang saya bisa menasihati diri saya sendiri, mungkin juga orang lain, untuk terlebih dahulu memiliki informasi yang rinci sebelum memutuskan sesuatu terutama tempat kuliah.

Saya pun pindah kuliah setahun kemudian. Masih di kota yang sama, saya lulus tes untuk melanjutkan pendidikan di Fakultas Kedokteran Unhas. Fakultas yang disebut sebagai hierarki tertinggi pendidikan di Indonesia Timur. Fakultas ini menuntut banyak hal, termasuk kemampuan finansial. Padahal saya sama sekali tidak punya dana saat itu. Beasiswa bidikmisi saya telah hangus sejak saya pindah fakultas. Singkatnya tidak ada beasiswa apapun yang membantu kekurangan finansial saya saat itu.

Saya tetap berusaha mencari cara untuk melanjutkan kuliah. Kondisi tersebut berlangsung mulai dari pengumuman kelulusan hingga detik-detik menjelang perkuliahan dimulai. Saya mulai kesulitan menemukan jalan keluarnya. Sampai suatu waktu usai magrib saya menerima panggilan telepon dari seorang ibu. “Nak, insyaallah saya akan membantu sampai kamu lulus,” katanya. Saya girang sekali. Kehadiran beliau sebagai orang tua asuh memberikan saya dukungan tidak hanya secara materil namun juga secara moril.

Tibalah saatnya perkuliahan dimulai. Hari pertama kuliah teman-teman menunjuk saya sebagai ketua kelas, memimpin 250-an mahasiswa lain. Awalnya semuanya berlagsung tanpa ada masalah berarti. Memasuki minggu kedua, jadwal menjadi sangat padat. Kesibukan kuliah serta ospek membuat saya biasa tidur 2-3 jam sehari. Kesibukan seperti itu berlangsung hingga satu tahun. Yah, ternyata mahasiswa itu di tuntut untuk jadi nokturnal juga.

Meskipun sudah dapat orangtua asuh, saya tidak lantas meminta untuk segala keperluan saya. Hal itu menuntut saya untuk berkembang sebagai mahasiswa maupun sebagai pribadi. Di sinilah letak krusialnya. Saya perlu mengatur pengeluaran saya yang hanya cukup untuk makan satu bulan. Kadang kurang jika ada keperluan mendadak. Tanpa uang transport, apalagi untuk keperluan lain, seperti buku. Oh iya, sampai semester 6 ini saya hanya memiliki 2 buah buku. Keduanya pun hadiah. Sebab buku-buku kedokteran umumnya mahal dan sering kali hanya dipakai untuk satu mata kuliah. Jadilah saya perlu untuk merumuskan metode belajar sendiri. Hasilnya tidak begitu buruk tapi tidak sempurna juga. Pembelaan saya, “Paling tidak, nilai indeks prestasi (IP) saya masih di atas tiga”.

Tidak adil rasanya jika saya hanya membagi pengalaman repot-repotnya saja. Banyak juga pengalaman yang menyenangkan. Salah satunya adalah bakti sosial. Kegiatan blusukan ini biasanya dilakukan di daerah yang agak terpencil dan relatif membutuhkan bantuan medis.
Kegiatan ini sangat menyenangkan. Saya masih ingat saat pertama kali melakukan sirkumsisi (khitanan). Di samping saya berdiri dokter penanggung jawab, sedang didepan saya seorang anak berbaring menahan perih. Tangan saya yang belepotan darah dan betadine sedikit gemetaran. Saya harus beradu cepat dengan anastesi yang nampaknya mulai habis. Keringat menambah tegang suasana. Jahitan demi jahitan sampai akhirnya selesai. Perasaan saya luar biasa lega campur senang. Sirkumsisi pertama saya berjalan lancar.

Selain dapat mengasah keterampilan medis, saya juga dapat menambah wawasan. Melihat tempat baru, budaya baru, makanan khas baru, semua hal yang serba baru.

Sebenarnya keadaan setiap mahasiswa mungkin akan berbeda-beda. Tapi saya percaya selalu ada jalan keluar dari setiap masalah. Beruntung, saya juga tidak sepenuhnya asing di tanah rantau ini. Di sini, saya masih memiliki keluarga, tiga orang Genesis (angkatan 3 SMART EI), dan tiga orang Expert (angkatan 1 SMART EI). Masa-masa sulit ataupun senang lebih terasa dengan kehadiran mereka. Kami tidak bosan melanjutkan persaudaraan selama di Smart dan akan saling mendukung sampai cita-cita kami tercapai.

Sebenarnya saya lebih senang jika dapat berbagi pengalaman secara langsung. Semoga kita memiliki kesempatan itu. Sekian dulu. Tetap semangat menuntut ilmu, bagaimana pun susahnya.  Salam semangat calon pemimpin.

topi-toga

Wisuda… Oh… Wis… Uda(h)…

…Sarjana-sarjana dengan toga di kepalanya, berbaris bagai robot meninggalkan masyarakatnya. Mengejar mimpi televisi, seolah tak akan mati. Oh, generasi yang hilang, korban perang peradaban. Apa arti ilmu pengetahuan tanpa takwa dan iman…” (‘Generasi yang Hilang’, Teater Kanvas)

Jika di awal tahun ajaran merupakan masanya orientasi, akhir tahun ajaran adalah waktunya wisuda. Banyak institusi pendidikan, mulai dari jenjang pendidikan usia dini hingga pendidikan tinggi menyelenggarakan wisuda, bahkan tidak ketinggalan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA/ TPQ). Biaya penyelenggaraan wisuda tentu tidak sedikit dan biasanya dibebankan kepada para wisudawan. Belum lagi para wisudawan tidak jarang direpotkan dengan berbagai persiapan wisuda hingga pakaian wisuda yang digunakan. Orang tua wisudawan juga tak kalah repot dan capeknya. Tidak heran sebagian lulusan memilih untuk tidak mengikuti wisuda yang dianggap kurang worth it dibandingkan semua biaya yang harus dikeluarkan dan segala hiruk-pikuk yang ditimbulkan.

Dalam KBBI, wisuda didefinisikan sebagai peresmian atau pelantikan yang dilakukan dengan upacara khidmat, sementara kata wisudawan dan wisudawati dikaitkan langsung dengan sarjana (muda). Dulu wisuda memang identik dengan peresmian gelar sarjana, namun sekarang terminologi wisuda sudah luas digunakan untuk menggambarkan proses akhir pelepasan lulusan di semua jenjang pendidikan. Sarjana masih merupakan gelar yang eksklusif bagi kebanyakan masyarakat karenanya proses pelantikannya dianggap sakral dan penting. Sebuah momentum yang membanggakan. Namun sebegitu bernilaikah wisuda untuk jenjang pendidikan menengah, dasar, apalagi pendidikan anak usia dini?

Tulisan ini tidak hendak mempersoalkan tingkat kepentingan wisuda ataupun menimbang positif dan negatifnya. Namun ketika wisuda diposisikan sebagai bagian dari alur pendidikan –sebagaimana masa orientasi ataupun KBM– yang memiliki esensi tertentu, sebatas event seremonial tentu akan mengikis arti wisuda itu sendiri. Betapa banyak penyelenggaraan wisuda yang mewah, meriah, dan gegap gempita yang justru mengaburkan makna kesakralan dan kekhidmatan yang seharusnya lebih kental terasa. Tak sedikit para wisudawan yang terjebak pada kebahagiaan semu di tengah ketidakpastian masa depan. Betapa banyak para wisudawan SMA yang masih resah hendak melanjutkan kemana, atau betapa banyak wisudawan sarjana yang masih gelisah mau kemana selepas kuliah.

Sebagai momentum penting di masa awal transisi, wisuda semestinya diposisikan sebagai titik tolak pengingat hakikat diri seorang wisudawan. Sejenak melihat kembali jejak perjalanan sekaligus membuat proyeksi masa depan yang barangkali masih penuh dengan ketidakpastian. Bersiap menghadapi masa depan seraya menyadari ada tanggung jawab baru yang kini telah dipikul. Berat memang, karenanya wisuda belumlah saatnya dialamatkan pada lulusan TK ataupun SD. Terlalu berat bagi mereka untuk merancang rekayasa masa depan. Buat mereka, wisuda adalah wis, udah. Seremonial penanda kelulusan. Wisuda hanyalah haha hihi tak ubahnya perayaan ulang tahun. Namun untuk lulusan SMA, apalagi perguruan tinggi, wisuda seharusnya dimaknai lebih.

Sebagai ajang refleksi proses yang telah dijalani, wisuda jelas bukanlah ajang untuk sekadar mendapat pengakuan. Sebagai momentum persiapan dalam menghadapi masa depan, wisuda jelas berbeda dengan kegiatan foto bersama sambil mengenakan toga. Kesakralan wisuda seharusnya didukung dengan konten acara yang menekankan pada aspek pembekalan dan penguatan wisudawan, bukan sebatas seremonial. Wisuda bukanlah garis finish proses pendidikan, hanya stasiun pemberhentian sementara sebagai penanda masuknya masa transisi. Karenanya pembekalan bagi para wisudawan sangatlah penting, jauh lebih penting dari seremonial memindahkan tassel (tali) pada mortarboard (topi wisudawan) dari kiri ke kanan. Dan kualitas (keberhasilan) seorang wisudawan baru benar-benar akan terlihat setelah mereka lulus, melewati masa transisi, menempuh jenjang selanjutnya dan terlibat aktif di tengah masyarakat.

Jika saat ini sudah banyak pihak yang kritis menyikapi kegiatan orientasi baik di sekolah maupun di kampus sebagai pemberi kesan pertama. Sudah selayaknya kita juga bijak dan cerdas dalam menyikapi wisuda baik di sekolah maupun di kampus sebagai pemberi kesan terakhir. Mempersiapkan simpul kenangan yang indah dan membangun untuk selalu dikenang. Bukan sebatas serimoni tanpa esensi. Jika kesan pertama akan menyertai proses selanjutnya, maka kesan terakhir akan mewarnai kehidupan di jenjang selanjutnya. Wisuda adalah momen tepat untuk mengukuhkan nilai-nilai kebaikan, sebagai bekalan berharga bagi para lulusan. Wisuda harus dijaga prosesnya agar tidak kehilangan makna. Agar wisuda tidak kehilangan kekhidmatan dan kesakralannya. Agar wisuda tidak sekadar wis, udah

1

An9kasa Siap Mengangkasa

1

Rasanya seperti baru kemarin kami datang ke SMART. Kami yang hanya anak daerah tiba-tiba “dipaksa” untuk merantau seorang diri, jauh dari orangtua serta sanak saudara, bahkan rasa takut sempat menyergap. Namun seiring berjalannya waktu semua perasaan itu hilang dan sirna entah ke mana, sekarang yang ada hanyalah perasaan cinta dan suka. Cinta, karena di SMART kami bertemu saudara baru, kami semua disatukan sebuah tali super kuat sehingga ikatan kami tak mudah dipisahkan. Suka, karena di SMART kami bisa belajar dari guru-guru hebat sehingga kami mampu mengeskplorasi bakat tanpa harus khawatir ada yang mencela.

Setelah melewati berbagai ujian sekolah, Sidang Karya Ilmiah Siswa SMART (KAISS), Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK), Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), dan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), kami si kelas tertinggi dari Angkatan XI akhirnya menanggalkan status kami sebagai anak SMA. Iya, hari ini (21-05) kami diwisuda, setelah lima tahun menempuh pendidikan di SMART akhirnya sampai juga di hari di mana kami harus merelakan semua orang terkasih “pergi” dari kehidupan kami. Kami ingat betul selama lima tahun banyak hal terjadi, banyak suka dan duka kami lewati bersama, banyak pertengkaran kami lalui, bahkan tak jarang perdebatan sengit menjadi santapan sehari-hari. Namun begitu kami semua tetap solid, kami tetap melalui semuanya dengan kebersamaan, kami tak kenal dengan kata baper (bawa perasaan.pen), karena kami satu.

2

Sebut saja kami An9kasa, Angkatan Sembilan SMART Ekselensia Indonesia, sebagai angkatan dengan jumlah siswa cukup banyak yakni 47 orang kami merasa entah kenapa waktu cepat sekali pergi tahu-tahu sudah diwisuda saja. Pagi ini kami telah mempersiapkan diri untuk menyambut hari besar, pukul 04.00 pagi kami telah rapi serta percaya diri. Kami melangkah pasti mengambil toga dan memakainya dengan bangga hati, tak ada yang mengalahkan sensasi seperti ini. Jika pada tahun-tahun sebelumnya prosesi wisuda dilakukan di sekolah, tahun ini pihak sekolah memilih Aula Masjid Al-Madinah untuk melakukan seremonial penting dalam hidup kami. Sesampainya di lokasi kami langsung berfoto di photobooth yang telah bertengger manis seraya menyambut kami beserta keluarga dari kampung halaman, puas berfoto kami berfoto lagi dengan para guru kesayangan, lalu barulah prosesi wisuda dimulai. Acara dibuka dengan penampilan Tari Saman SMART, para tamu undangan terlihat begitu menikmati tarian penuh semangat tersebut. Belum juga mereda euforia penampilan Tim Tari Saman SMART, para tamu kemudian disuguhkan penampilan Tim Ansamble dengan instrumen indah menggugah.

3

4

Pada wisuda tahun ini, SMART mengundang Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A. Ed, M. Phil sebagai pembicara utama. Hamid Fahmy ialah putra KH. Imam Zarkasyi, pendiri Pesantren Modern Gontor Ponorogo. Saat ini ia menjabat sebagai Direktur Institute for The Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS), Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), serta  Wakil Rektor Universitas Islam Darussalam. Ia memberikan banyak wejangan berharga untuk kami salah satunya agar kami tak pantang menyerah untuk menggapai mimpi karena kami adalah calon-calon pemimpin bangsa mumpuni. Sungguh kami banyak belajar dari paparan Dr. Hamid, terima kasih Dok.

5

Angkatan XI dikenal karena menorehkan banyak prestasi selama bersekolah di SMART, pada prosesi wisuda beberapa waktu lalu Pak July, Kepala Sekolah SMART, mengumumkan sederet prestasi angkatan kami dengan penuh kebanggaan. Sebagai perwakilan Angkatan 9, Aldy dari Kelas XII IPA, maju ke depan podium untuk menerima penghargaan dari sekolah.

6

Sesi demi sesi berlalu sampailah kami pada prosesi sakral, prosesi yang mengejewantahkan semua teori masa depan kami, prosesi akhir sebelum kami benar-benar pergi menggapai mimpi tinggi kami. Satu persatu nama kami dipanggil, tali topi toga kami diubah arah haluannya, tabung berisi ijazah dan kelengkapan lainnya telah kami pegang dengan pasti, dan penuh haru kami menyalami satu satu guru-guru terkasih. Lima tahun sungguh waktu yang sangat cepat, isak tangis menghiasi jalannya prosesi. Prosesi sukses kami lewati, sampai jua di pengumuman wisudawan terbaik, Wisudawan Terbaik SMART 2017 jatuh pada Satrio, ia sepertinya senang sekali karena berkali-kali menangis karena bahagia, selamat ya.

7

8

 

Sebagai penutup kami menayangkan video angkatan berdurasi pendek penuh kejutan, syukurlah para tamu terhibur dibuatnya. Selesai memutar video kami melancarkan kejutan lainnya dengan melakukan monolog dengan pesan penuh makna untuk orang-orang tercinta di SMART, ketika para tamu terbawa suasana, kami serang lagi titik sedih mereka dengan menyanyikan theme song An9kasa. Rasa haru tak dapat terbendung, kami menangis sepanjang menyanyikan lagu yang liriknya kami gubah bersama-sama. Rasa sedih ini, rasa sakit di dada ini, bukanlah sesuatu tanpa arti. Ini bukan perpisahan, ini adalah sebuah awal mula perjumpaan baru di dunia baru.

10

Selamat berjuang kawan, terima kasih SMART Ekselensia Indonesia! (AR)

IMG-20170410-WA0009

Tentang Angkasa

IMG-20170410-WA0009

Oleh: Muhammad Ikrom Azzam
Kelas XII IPS

Lihatlah!
Angkasa mengelilingi kita
Membentangkan bintang-bintang
Yang terus mengingatkan
Akan sebuah kisah
Yang tak pernah terpudarkan

Kisah ini, bukanlah kisah yang biasa
Melainkan kisah yang penuh cinta
Melainkan kisah yang penuh makna
Yang memggambarkan arti pershabatan
Yang takkan pernah putus
Oleh suatu apapun

Ya,
Tak terasa semua waktu ini
Berlalu begitu
Tangis, canda, tawa, kala lalu
Akan terus menjadi saksi sejarah
Akan hadirnya Angkasa

Sejujurnya,
Kami masih butuh kalian
Kami masih ingin bersama kalian
Namun,
Meninggalkan semua kenangan ini
Untuk terbang menuju angkasa
Angkasa impian kami

Huh berat rasanya
Meninggalkan semua ini
Semua kenangan yang kita buat

Tapi,
Kami benar-benar harus perg
Kami benar-benar harus meninggalkan kalian
Dan mungkin,
Dibalik tangis dan air mata kami ini
Kami titipkan maaf dan terima kasih
Atas segala yang pernah kalian beri untuk kami

Dengan penuh sayang,

Angkasa (Angakatan Sembilan SMART Ekselensia)