Marak Kampus Abal-abal, (si)Apa yang Salah?

Sekolahlah biasa saja, jangan pintar-pintar, percuma! Latihlah bibirmu agar pandai berkicau, sebab mereka sangat perlu kicau yang merdu. Sekolah buatmu hanya perlu untuk titel, peduli titel diktat atau titel mukjizat. Sekolah buatmu hanya perlu untuk gengsi, agar mudah bergaul tentu banyak relasi
(‘Nak (2)’, Iwan Fals)

Beberapa waktu lalu dunia pendidikan tinggi mendapat kabar kurang membanggakan, Kemenristek Dikti secara resmi menonaktifkan 243 perguruan tinggi swasta, pun belakangan direvisi bahwa yang dinonaktifkan ‘hanya’ 239 perguruan tinggi. Sejumlah perguruan tinggi yang dinonaktifkan ini didominasi oleh 103 sekolah tinggi swasta dan 98 akademi dengan kekhususan pendidikan pada berbagai bidang seperti keperawatan, pariwisata dan bahasa asing. Ada berbagai pelanggaran sehingga kampus-kampus tersebut dinonaktifkan, di antaranya terkait laporan akademik, nisbah dosen/ mahasiswa, pelanggaran peraturan perundang-undangan, kelas jauh dan program studi tanpa izin, penyelenggaraan kelas Sabtu-Minggu, jumlah mahasiswa over kuota, ijazah dan gelar palsu, konflik internal, kasus mahasiswa dan dosen, hingga pemindahan/pengalihan mahasiswa tanpa izin Kopertis.

Penonaktifan perguruan tinggi ini memang tidak permanen dan bukan berarti pencabutan izin. Perguruan tinggi yang dinonaktifkan akan memperoleh sanksi berupa penundaan atau tidak memperoleh pelayanan berupa pengusulan akreditasi BAN PT, penambahan prodi baru, mengajukan sertifikasi dosen, bila sebagai calon penerima hibah dari Kemristekdikti maka pengajuan tidak diproses dan pemberhentian beasiswa bagi mahasiswanya. Pun demikian, Kebijakan ini menimbulkan banyak kebingungan di pihak mahasiswa dan perguruan tinggi yang dinonaktifkan, apalagi tidak sedikit perguruan tinggi yang mengaku tidak memperoleh informasinya langsung dari Kemdiknas Dikti. Tidak sedikit pula kampus yang mengajukan keberatan dan pembelaan.

Bakar Lumbung Ala Kemenristek Dikti

Fenomena kampus abal-abal memang bukan isapan jempol. Kasus jual beli ijazah bukan hal baru dan sudah banyak terungkap. Belum lama ini pemerintah telah menutup 12 perguruan tinggi swasta yang tidak memiliki izin operasional dan terbukti memalsukan ijazah. Ironisnya, tidak sedikit di antaranya yang berupa institut keguruan dan ilmu pendidikan yang mencetak guru. Belum lama ini juga ramai kasus wisuda ilegal, beberapa di antaranya yang terungkap adalah kasus wisuda ilegal di kampus Undar (Universitas Darul Ulum) Jombang 31 Mei 2015, wisuda abal-abal di gedung Manggala Wanabakti Kementerian Kehutanan 9 September lalu, dan kasus wisuda ilegal Yayasan Aldiana di Universitas Terbuka Convention Centre (UTCC) 10 hari berselang. Kasus pelanggaran hukum ini tentu perlu ditindak serius.

Namun pertanyaannya, apakah menonaktifkan kampus dapat menyelesaikan masalah? Sementara sumber masalah juga berasal dari permintaan masyarakat akan pendidikan perguruan tinggi ditambah gelar akademik yang menjadi simbol. Permasalahan juga bersumber pada ketegasan pemerintah dan ketimpangan pembangunan. Jangankan perguruan tinggi yang idealnya tentu memiliki standar yang tinggi, Mendikbud bahkan menyebutkan bahwa 75 persen sekolah dasar hingga menengah tidak memenuhi standar pelayanan minimal. Disini perlu ada peran pemerintah dalam pemerataan pembangunan dan pemenuhan standar, bukan sekadar menutup atau menonaktifkan yang di bawah standar.

Maraknya ‘kampus seadanya’ tidak terlepas dari besarnya permintaan masyarakat sementara ketersediaan kampus berkualitas masih sangat terbatas. Perhatikan saja data BPS yang menyebutkan bahwa pada tahun 2013, Angka Partisipas Sekolah (APS) untuk anak usia 7 – 12 tahun dan 13 – 15 tahun sudah mencapai 98.42% dan 90.81%. Sementara APS untuk anak usia 16 – 18 tahun hanya 63.84%. Parahnya lagi, APS untuk anak usia 19 – 24 tahun hanya 20.14%. Artinya memang banyak anak lulusan setingkat SMP yang tidak terserap ke jenjang setingkat SMA. Dan lebih banyak lagi anak lulusan setingkat SMA yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Faktor ekonomi mungkin memang menjadi salah satu alasan, namun ada faktor keterbatasan kuota yang juga terjadi. Dalam hal ini, daya tampung jenjang pendidikan yang lebih tinggi memang tidak memungkinkan untuk menyerap seluruh lulusan jenjang pendidikan yang ada di bawahnya. Hal inilah yang terjadi pada dunia perguruan tinggi di Indonesia sehingga angka partisipasinya sangat jauh dari 100%.

Sesuai hukum supply – demand, berbagai ‘kampus alternatif’ pun muncul untuk menampung mereka yang berkeinginan dan berkemampuan namun terbatasi oleh kuota. Kualitas bukan menjadi hal yang prioritas karena masyarakatpun mengutamakan gelar dan ijazah. Gayung bersambut, sejumlah oknum bahkan menjadikannya sebagai ladang bisnis pun harus bertentangan dengan hukum. Di sisi lain, ada pula inisiatif masyarakat untuk mendidik generasi mudanya yang ‘terpaksa putus sekolah oleh sistem’ dengan mendirikan kampus. Faktor keadaan memaksa mereka untuk belum bisa memberikan kualitas terbaik. Berbeda motif, dengan standar yang sama, keduanya pun memperoleh tindakan dan sanksi serupa.

Dalam UU nomor 12 tahun 2012, ada lima jenis sanksi yang dapat diberikan kepada kampus yang tidak memenuhi standar dan melanggar aturan, yaitu peringatan tertulis, pemberhentian bantuan sementara oleh pemerintah, pemberhentian sementara kegiatan, pemberhentian pembinaan, dan pencabutan izin. Terkait nasib mahasiswa dan dosen yang kampusnya dinonaktifkan, Dikti akan membantu mengalihkan ke perguruan tinggi lain yang terdekat. Terlihat sekali terlalu menyederhanakan masalah. Mahasiswa dan dosen tersebut ada di kampus yang dinonaktifkan bukan tanpa alasan, malah barangkali tanpa pilihan. Alih-alih membantu agar tidak merugikan masyarakat, kebijakan gegabah justru berpotensi merugikan masyarakat.

Adil adalah proporsional bukan sama rata. Ada fungsi pembinaan dari pemerintah dan Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) yang tersebar di 12 wilayah yang semestinya harus didahulukan sebelum memberikan sanksi. Kualitas kampus dan pendidikan di seluruh Indonesia perlu diidentifikasi dan dipetakan untuk kemudian diperkuat dengan pembinaan sehingga standar yang diharapkan dapat dipenuhi, bukan sekedar diberangus yang tidak menyelesaikan masalah. Kontribusi masyarakat untuk membantu pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa perlu diapresiasi, atau pendidikan untuk semua hanya akan menjadi jargon ketika pemerintah berpikir semuanya dapat ditanganinya tanpa peran serta masyarakat.

Rasio Dosen – Mahasiswa dan Kualitas Pendidikan
Nisbah atau rasio dosen terhadap mahasiswa adalah kasus paling banyak terjadi sehingga perguruan tinggi dinonaktifkan. Pemerintah telah menetapkan bahwa untuk program studi eksakta, rasio tersebut minimal 1:30 dan untuk program studi non-eksakta minimal 1:45. Berbicara konsep pembelajaran ideal, hal tersebut tentu beralasan, namun ketika berbicara dalam konteks realita, perlu ada penanganan terintegrasi yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan menonaktifan kampus.

Masalah dosen tidak terlalu berbeda dengan masalah guru bahkan pendidikan di Indonesia, kata kuncinya adalah kualitas, kuantitas, dan pemerataan. Kita kesampingkan dulu 5,4 jutaan mahasiswa di Indonesia, dan fokus pada 270 ribuan dosen dimana sepertiganya masih lulusan S1 dan hanya 11% yang bergelar doktor. Dari sejumlah dosen ini, hanya sekitar 60% yang dosen tetap dan hanya sekitar 40% yang sudah tersertifikasi. Jika hanya ada sekitar 108 ribuan dosen yang memenuhi kualifikasi untuk mengajar 5,4 jutaan mahasiswa, artinya nisbah dosen – mahasiswa hanya 1:50, tidak memenuhi persyaratan Undang-undang. Padahal hitung-hitungan tersebut belum memperhatikan aspek spesialisasi dan persebaran dosen, sehingga tidak heran rasio dosen – mahasiswa yang ideal masih sulit dipenuhi.

Akhirnya, masalah penonaktifan kampus mau tidak mau merambat ke sistem penyiapan dosen, apalagi standarnya dosen sudah tidak boleh hanya lulusan S1. Selain itu juga perlu diperhatikan masalah kesejahteraan dosen dengan kerumitan kerja yang harus dihadapi. Terciptalah rantai setan permasalahan. Kampus dinonaktifkan membuat jumlah kampus semakin dikit. Semakin sedikit kampus, semakin sedikit mahasiswa, pendapatan kampus dari mahasiswa semakin sedikit, gaji dosen tidak naik, semakin sedikit yang mau jadi dosen, rasio dosen – mahasiswa tidak terpenuhi. Kampuspun dinonaktifkan, terus begitu. Kampus pun menaikkan biaya pendidikan untuk memutus rantai setan tersebut, namun yang terjadi adalah diskriminasi pendidikan, dimana hanya masyarakat mampu saja yang dapat mengenyam pendidikan tinggi.

Karenanya, permasalahan ini harus diurai secara sistematis dan terintegrasi. Perlu ada desain besar pengelolaan pendidikan tinggi, agar kebijakan yang dilakukan tidak reaktif. Adalah aneh jika mengharapkan angka partisipasi pendidikan tinggi naik dengan sekadar menonaktifkan kampus. Aneh juga berharap peningkatan jumlah dosen tanpa memperhatikan pembinaan dan kesejahteraan mereka sebagaimana tidak masuk akalnya mengharapkan seluruh kampus memenuhi standar minimum tanpa melakukan pembangunan pendidikan yang adil dan merata.

Tindakan tegas terhadap kampus yang melanggar hukum memang diperlukan, namun pembinaan jangan dilupakan. Kampus-kampus besar perlu dikembangkan, bahkan jika perlu dikuatkan dengan membangun cabang di daerah dan dikolaborasikan dengan kampus-kampus kecil untuk keterjaminan kualitas dan pemerataan. Kuantitas dan kualitas dosen perlu diperbaiki dan dimeratakan. Kesejahteraan dosen diperhatikan tanpa harus melakukan diskriminasi pendidikan. Peran serta masyarakat perlu diapresiasi dan ditingkatkan sehingga kampus dengan masyarakat dapat saling mengedukasi dan menguatkan. Pendidikan (tinggi) berkualitas untuk semua pun bukan lagi sebatas wacana.

Flat Earth, Rotasi Bumi dan Egosentris

Oleh: Purwo Udiutomo, GM Beastudi Indonesia

Entah mengapa tiba-tiba belakangan ini marak diskusi tentang bumi bulat vs bumi datar. Saya yang tidak tahu apa-apa mendadak dimintai pendapatnya. Flat Earth Theory yang diisi dengan bumbu konspirasi tentu menjadi daya tarik tersendiri untuk dibahas. Tidak sedikit orang melakukan debat kusir mempertahankan pendapatnya. Tidak jarang dengan kata-kata yang kurang pantas. Ada juga yang ikutan sok tahu kayak saya ^_^. Tidak sedikit juga orang yang tidak mau ambil pusing untuk membahasnya. Lebih baik berbekal untuk kehidupan akhirat dengan iman, ilmu dan amal shalih. Memang benar sih, debat tentang bentuk bumi cenderung tidak produktif, namun sesekali bolehlah saya ikut meramaikan pendapat yang belum tentu teruji kebenarannya. Ya, karena yang benar tentu datangnya dari Allah SWT.

Kontroversi teori bumi datar memang bukan hal baru, ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu juga sudah menjadi perdebatan tak berujung. Diskusinya mungkin bisa saja langsung selesai jika pihak pendukung flat earth bisa memberikan pembuktian nyata, bukan sekedar pembuktian terbalik. Misalnya foto bumi datar dilihat dari luar angkasa bukan sekadar kritik terhadap foto buatan komputer atau Computer Generated Imaginary (CGI) yang diterbitkan NASA. Atau foto dinding es di antartika ketimbang sibuk menganalisa kebenaran tentang peluncuran satelit atau pendaratan di bulan. Jika dilihat dari berbagai video dan penjelasan yang banyak tersebar di dunia maya, argumentasi pendukung flat earth memang seakan-akan ilmiah, penuh asumsi dan cocokologi yang seolah merupakan suatu kebenaran.

Ya, saya pribadi cenderung mengambil pendapat bahwa bumi ellipsoid, bulat dengan sedikit pemampatan di kedua kutubnya, sampai ada pembuktian nyata yang benar-benar memperlihatkan bentuk lain dari bumi. Adapun berbagai peta bumi datar yang salah satu di antaranya ada dalam bendera PBB adalah untuk memudahkan gambaran keseluruhan negara. Gambar globe dua dimensi tidak akan memperlihatkan gambar di sisi sebaliknya, masak iya bendera gambarnya harus dibuat bolak-balik agar tidak ada negara yang merasa dianaktirikan. Tapi bukankah dalam Al Qur’an banyak disebutkan bahwa bumi dihamparkan? Ayolah, hamparan itu bukan berarti datar tetapi luas membentang. Tersedia, siap untuk diapa-apain. Lagipula penjelasan lebih lengkap bisa dilihat dalam tafsirnya, tanpa harus cocokologi. Setahu saya sih tidak ada ayat dalam Al Qur’an yang secara eksplisit menyebutkan bentuk bumi bulat atau datar. CMIIW.

Saya bukan pakar astronomi, apalagi ahli astrologi ^_^. Sebagai orang awam, saya beranggapan bahwa satu kebohongan akan mendatangkan kebohongan yang lain. Bisa dibayangkan betapa banyaknya kebohongan yang harus ditutupi jika ternyata bumi benar-benar datar. Bukan hanya membohongi tentara yang menjaga antartika dan keluarganya, juga harus membohongi semua ilmuwan, pekerja yang bergerak di bidang teknologi satelit dan keantariksaan, dan banyak lagi kebohongan yang harus dibuat dan disembunyikan rapat. Lebih jauh lagi, saya malah melihat teori bumi datar ini masih memiliki banyak celah. Misalnya, rasi bintang pari/ layang-layang yang selalu terlihat di selatan. Jika bumi datar dan bintang ada dalam kubah bumi, rasi bintang selatan di Indonesia seharusnya terlihat di barat atau timur dari wilayah yang berbeda 90 derajat dari Indonesia, atau bahkan terlihat di ujung utara dari wilayah yang berseberangan dengan Indonesia. Itu baru bicara tentang rasi bintang, belum lagi penjelasan tentang aurora dan efek Coriolis yang sulit dijelaskan dengan teori bumi datar.

Selanjutnya mengenai perbedaan waktu. Semakin jauh dari kutub utara bumi datar, perbedaan waktunya akan semakin kecil untuk jarak yang sama, namun kenyataannya tidaklah demikian. Teori bumi datar juga akan kesulitan untuk menjelaskan mengenai tahun syamsiyah dan tahun qomariyah sebab kecepatan revolusi matahari sama dengan revolusi bulan. Fenomena gerhana dalam teori bumi datar cuma bisa dijelaskan sebatas asumsi adanya antimoon, padahal gerhana sudah ada sejak zaman dahulu, jauh sebelum freemason –apalagi NASA—yang dituding sebagai konspirator didirikan. Selain itu jika matahari tetap ada di atas mengapa es di kutub utara tidak mencair? Atau mungkin ada konspirasi berupa freezer raksasa di kutub utara? ?

Pun demikian, teori bumi datar sukses membuat saya kembali mempertanyakan tentang kebenaran akan rotasi bumi. Jika memang bumi bergerak mengitari matahari (heliosentris) ataupun sebaliknya (geosentris), tanpa rotasi bumi pun sudah akan terjadi siang dan malam, hanya lamanya siang dan malam saja yang mungkin berubah. Tapi waktu itu pun relatif, karena sebenarnya lamanya waktu satu harilah yang dipakai untuk menentukan kala rotasi, bukan sebaliknya. Sulit membayangkan bumi bergerak dengan kecepatan lebih dari 1600 km/jam tapi kita sama sekali tidak merasakannya. Penjelasan yang ada hanyalah bahwa kita berada dalam sistem yang bergerak dengan percepatan nol sehingga tidak merasakan putaran yang begitu cepat. Lalu mengapa jika kita naik mobil atau kereta dengan kecepatan konstan (percepatan nol), kita tetap merasa bergerak? Karena kita terpengaruh dengan gerak semu di sekeliling kita, konon jika kita naik komedi putar dalam kotak tertutup raksasa, kita pun tidak akan merasakan putaran komedi putar. Benarkah?

Bagaimana dengan pesawat? Dalam kondisi duduk kita tidak merasakan pesawat bergerak dengan cepat. Tapi jika kita coba bergerak dalam kabin pesawat misalnya, akan terasa bahwa ketika kita berjalan berlawanan arah dengan arah pesawat langkah kaki akan lebih ringan, sebaliknya langkah akan lebih berat ketika kita berjalan searah dengan arah pesawat. Dalam dunia pelayaran, hal tersebut dikenal dengan efek eotvos yang menjadi salah satu bukti adanya putaran bumi. Tapi mengapa efek eotvos tidak terasa di kendaraan darat. Tidak hanya itu, kita juga tidak merasakan bedanya menendang bola ke arah timur dan barat, ataupun perbedaan waktu yang signifikan ketika melakukan perjalanan ke timur dan barat. Padahal bumi berputar dari barat ke timur dengan kecepatan yang sangat tinggi. Lalu, dengan kecepatan seperti itu, mengapa angin tidak hanya berhembus berlawanan arah dengan arah rotasi bumi sebagaimana kita merasakannya ketika naik kendaraan dengan kecepatan yang jauh lebih lambat? Gerakan awan pun bisa ke segala arah. Berarti kecepatan angin dan awan yang searah dengan arah rotasi bumi luar biasa, mencapai ribuan km/ jam? Dalam menembak sasaran juga yang lebih menentukan adalah arah angin yang hanya beberapa km/ jam, bukan rotasi bumi yang kecepatannya lebih dari 1600 km/ jam. Sebagai catatan, badai dahsyat pun kecepatannya hanya puluhan hingga ratusan km/ jam.

Semua pertanyaan kritis tersebut sebenarnya bisa dijawab jika ternyata bumi memang berputar, namun kecepatannya jauh lebih kecil sehingga kita tidak merasakannya. Bandul Foucault yang selama ini dianggap sebagai pembuktian adanya rotasi bumi hanya menggambarkan adanya gerakan bumi, tidak menggambarkan kecepatannya. Secara validitas, percobaan tersebut malah tidak sekuat percobaan yang dilakukan Michelson-Morley untuk membuktikan keberadaan eter yang justru hasilnya malah menguatkan bahwa bumi tidak bergerak. Percobaan menarik dilakukan Berzenberg dan Reich yang menjatuhkan peluru logam dari menara setinggi 110 meter dan ternyata jatuhnya peluru tidak tepat tegak lurus tapi agak melenceng ke arah timur. Kecepatan lebih dari 1600 km/ jam artinya setara dengan kecepatan lebih dari 400 meter/ detik. Sementara dalam gerak jatuh bebas dari ketinggian 110 meter, dibutuhkan waktu puluhan detik sebuah benda mencapai tanah. Seharusnya hasilnya bukannya agak melenceng, tapi jauh melenceng hingga puluhan kilometer. Bumi mungkin tidak benar-benar diam, tetap bergerak untuk menjaga keseimbagannya, namun tidak harus secepat itu. Semakin cepat rotasi, permukaan bumi seharusnya lebih rata tidak ada gunung yang menjulang sangat tinggi karena terkikis. Semakin cepat rotasi, air laut pun akan bergejolak sangat tinggi karena adanya gaya sentripetal. Semakin cepat rotasi, satelit harus bergerak dengan kecepatan yang amat sangat tinggi sehingga komponennya akan mudah rusak dan terbakar. Apa benar bumi berotasi? Secepat itu?

Lho, bukannya jika bumi berotasi lebih lambat maka lama waktu siang dan malam akan semakin panjang? Betul, tapi itu jika mataharinya hanya diam, tidak ikut bergerak mengelilingi bumi. Jika matahari turut bergerak mengelilingi bumi dengan arah yang berlawanan dengan arah rotasi bumi, lama waktu siang dan malam dapat signifikan dipangkas. Berarti saya penganut geosentris? Bisa iya, bisa tidak. Jika dipaksa memilih, yah antara geosentris dan heliosentris, mungkin mirip dengan tychonic system dengan beberapa perubahan. Bukti adanya revolusi bumi selama ini yang kerap jadi acuan adalah aberasi dan paralaks bintang. Namun bagaimana jika bukan hanya bumi, tetapi bintang sebenarnya juga bergerak? Dan matahari yang juga merupakan sebuah bintang juga turut bergerak? Penemuan terbaru mengungkapkan bahwa benda langit dan alam semesta ini memang bergerak. Sebuah benda yang bergerak akan menghasilkan gerakan semu terhadap benda lainnya. Jika kedua benda bergerak, maka yang terjadi adalah gerak relatif tergantung titik acuannya. Jika matahari dijadikan titik acuan ya bumi yang bergerak mengelilingi matahari, sebaliknya jika titik acuannya bumi maka matahari yang mengelilingi bumi. Hal itu terjadi karena tidak ada benda langit yang benar-benar diam statis. Tetap bergerak untuk menjaga keseimbangan kehidupan.

Terakhir, tulisan ini hanya opini pribadi, tidak perlu dianggap terlalu serius dan diyakini sebagai sebuah kebenaran. Karena hanya Sang Pemelihara Alam Semesta-lah Yang Maha Mengetahui fakta sebenarnya di balik penciptaan lagit dan bumi. Tidak sedikit juga manusia yang seakan mendahului Allah SWT dalam memastikan sistem alam semesta. Bukan lagi geosentris atau heliosentris, tapi sudah berubah menjadi egosentris. Merasa paling benar dan pendapatnya adalah satu-satunya kebenaran. Buat saya pribadi, tulisan ini merupakan sebuah tafakur sekaligus tadzakur, betapa kecilnya diri kita, betapa terbatasnya indera kita, dan betapa sedikitnya ilmu kita.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka(QS. Ali Imron: 190 – 191)

Menantang Ketidaknyamanan Demi Kemuliaan

Oleh: Syafei Al-Bantanie, GM Sekolah Model

Bila kita menginginkan kemuliaan, maka harus berani menantang ketidaknyamanan. Lihatlah Musa ‘Alaihissalam. Demi kemuliaan di sisi Allah, Ia tinggalkan kenyamanan negeri Madyan. Melepaskan hidup tentram bersama mertua, Nabi Syuaib, yang sabar dan penyantun. Melupakan asyiknya menggembala dan berkebun.

Musa bawa serta istrinya pergi menuju Mesir menantang ketidaknyamanan. Temui Fir’aun dan mendakwahinya. Datang ke Mesir untuk selamatkan kaumnya. Risikonya tak tanggung-tanggung. Hingga Allah memutuskan untuk dirinya; syahid dalam dakwah atau memenangkan dakwah.

Demikianlah rekam jejak orang-orang yang memilih kemuliaan. Ada yang syahid dalam dakwah layaknya Nabi Zakaria dan Nabi Yahya. Ada pula yang dimenangkan oleh Allah layaknya Nabi Musa dan Nabi Daud. Pun dengan generasi jauh setelahnya. Sebut saja sebagai contoh Sayidina Umar bin Khathab, Umar bin Abdul Aziz, Thariq bin Ziyad, Muhammad Al-Fatih.

Nama mereka ditulis dalam sejarah dengan tinta emas bukan karena berleha-leha dan menikmati hidup untuk dirinya. Mereka adalah orang-orang yang mengambil tanggung jawab atas setiap masalah umat. Mereka marah saat yang lain memaklumi. Mereka sedih ketika yang lain tak ada rasa. Mereka lelah dengan kelelahan yang tak biasa. Mereka terus berkarya saat yang lain terlena. Tapi, di situlah letak kemuliaan mereka. Maka, pantas saja Allah sematkan amanah-amanah besar ke pundak mereka.

Lantas, bagaimana dengan kita? Masih memilih berleha-leha dan menikmati hidup untuk diri sendiri?

Merengkuh Mimpi, Merengkuh Asa dan Masa Depan

IMG-20170516-WA0012

Kami sangat percaya jika usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Setelah kami dinyatakan lulus Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) dan meraih nilai (yang Alhamdulillah) baik, kami masih dihantui dengan kehadiran Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).

IMG-20170516-WA0006-01

IMG-20170516-WA0007-01

Tiga minggu yang lalu sebelas orang teman kami telah sukses melenggang menuju PTN impian mereka melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), walau sedikit kecewa karena tak ada nama kami di lembar pengumuman namun kami tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan. Rejeki setiap orang sudah ada diatur dengan baik, jadi kami yakin jika rejeki kami bukan di SNMPTN. Hanya semangat baja agar tidak gampang menyerah yang kami punya saat ini, maka hampir setiap hari kami belajar jelang SBMPTN. Semua materi serta buku-buku SBMPTN super tebal kami lahap tanpa kenal lelah, berdiskusi dan menganalisis soal-soal bersama-sama seakan menjadi kebutuhan, walau begitu kami tetap meluangkan waktu untuk sekadar bersantai atau bermain bersama siswa SMART yang lain kok. Jika otak terlalu diporsir rasanya kasihan juga kan, betul tidak? Kami juga bersyukur memiliki guru super baik yang setiap hari dengan sabar selalu membimbing, kami bertekad tak akan mengecewakan mereka.

IMG-20170516-WA0008-01 IMG-20170516-WA0010

Hari besar yang kami tunggu akhirnya datang juga, hari ini (Selasa (16-05)), kami resmi melaksanakan SBMPTN. 36 siswa Kelas XII dari jurusan IPA dan IPS telah bersiap diri sedari pagi untuk menuju lokasi dilaksanakannya ujian penentu “nasib” ke depannya. Kami semua telah rapi jali, wangi, dan tak kami biarkan hal-hal negatif mengikuti. Pokoknya kami tetapkan hari ini sebagai hari pembuktian, oh iya tahun ini peserta SBMPTN dari SMART melaksanakan ujian di empat lokasi berbeda antara lain SMK Pembangunan, SMAN 2, SMAN 9, dan Universitas Ibnu Khaldun (UIKA), lokasi ujiannya berjarak cukup jauh namun syukurlah pihak sekolah memfasilitasi kami dengan armada memadai hingga sampai di lokasi. Sesampainya di lokasi kami sedikit terkejut karena peserta ujiannya sangat banyak, mereka datang dari berbagai sekolah dari penjuru daerah di Bogor, mereka terlihat siap menghadapi ujian hari ini. Jiper (minder.red) itu haram hukumnya dan pantang untuk kami meyerah sebelum berjuang, hari ini kami akan memaksimalkan seluruh kemampuan agar tak kalah dengan mereka, kami sangat yakin bisa mengerjakan soal dengan sangat baik karena kami telah sangat siap menghadapi semuanya. Di sini mimpi, asa, dan masa depan kami tertidur serta menanti untuk dibangunkan. Akan kami rengkuh semuanya dengan seluruh jiwa raga.

IMG-20170516-WA0014 IMG-20170516-WA0015

Ujian baru dimulai pukul 07.30 (dibeberapa lokasi, ujian baru dimulai pukul 09.30), sebelum ujian dimulai kami sempatkan dahulu untuk melaksanakan Salat Dhuha. Setelah salat rasanya semua badai dalam jiwa mereda, kami menjadi lebih tenang. Tiba-tiba kami dikejutkan suara bel super nyaring, itu tanda supaya kami segera memasuki kelas, di dalam semua peserta sudah duduk dengan tenang tanpa suara, para pengawas mulai memberikan sedikit wejangan seraya membagikan soal di tangan. Kalau boleh jujur jelas kami deg-degan, rasa tak percaya jika SBMPTN sudah dipelupuk mata. Berbekal doa dan hasil belajar berminggu-minggu kami memulai petualangan kami di rimba  soal dengan penuh percaya diri dan optimis. Bismillah semoga Allah memberikan kami kemudahan, semoga jerih payah kami berbuah manis, semoga semua asa dan cita kami terwujud. Aamiin.

Kami mohon doamu ya. (AR)

Belajar Kepemimpinan di Kemah Bakti SMART

IMG-20170513-WA0006-1

Lega. Hanya satu kata itu saja yang mampu menggambarkan perasaan kami (yang duduk di Kelas 3) setelah akhirnya selesai melaksanakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) beberapa hari lalu.

Untuk melepaskan semua penat dan mengasah jiwa kepemimpinan kami, pihak sekolah mengadakan kegiatan Kemah Bakti. Kemah Bakti merupakan kegiatan bakti sosial yang rutin diadakan setahun sekali, nah kali ini kegiatan Kemah Bakti diadakan di Desa Bantar Sari, Jawa Barat lho. Karena jaraknya cukup jauh maka kami berangkat pagi-pagi sekali agar terhindar dari kemacetan.

Selama di perjalanan kami disuguhkan dengan hamparan hijau persawahan serta perkebunan yang memanjakan mata, tak selang berapa lama kami melihat tulisan “Selamat Datang di Desa Bantar Sari”, itu artinya kami sudah sampai. Setelah turun dari mobil kami disambut Pak Lukmanul Hakim yang dikenal sebagai salah satu kepala desa terbaik Kabupaten Bogor. Pak Lukman mengarahkan kami ke Masjid Al-Ghomidi karena ia akan membeberkan banyak pelajaran berharga di sana. Selama acara berlangsung ia banyak memberikan motivasi kepada kami tentang pentingnya menjadi pemuda kontributif bagi Indonesia. “Kontribusi untuk membangun Indonesia dapat dimulai dengan membangun desa,” ujarnya penuh semangat. Ia juga banyak bercerita seputar pengalamannya dalam mengembangkan potensi desa dengan cara mengembangkan potensi masyarakat, sebab menurutnya apabila potensi masyarakat dikembangkan dengan baik, maka desa dapat berkembang dari berbagai aspek. “Pemimpin juga harus memiliki akhlak yang baik kepada masyarakat, karena pemimpin yang baik akan dicintai masyarakatnya,” tegas Pak Lukman.

IMG-20170513-WA0000-1

IMG-20170513-WA0005-1

Selain mendapatkan materi keren dari Pak Lukman, kegiatan Kemah Bakti turut diisi berbagai rangkaian acara melatih kepemimpinan yang menarik seperti pembukaan perpustakaan kecil untuk anak-anak warga Desa Bantar Sari, sharing menghafal al-Qur’an, qiyamul lail bersama, berbagi alat tulis untuk 50 anak yatim, hingga bekerja bakti membersihkan masjid warga.

IMG-20170513-WA0004-1

IMG-20170513-WA0006-1

Oh iya kami juga diajak untuk berkeliling melihat kebun jambu kristal yang menjadi komoditi Desa Bantar Sari, di sana kami melihat langsung bentuk pengembangan potensi desa. Wah senangnya, kami jadi banyak belajar tentang bagaimana mengelola kebun jambu yang baik dan benar.

IMG-20170513-WA0002-1

IMG-20170513-WA0003-1

Puas berkeliling kebun, kegiatan Kemah Bakti akhirnya harus berakhir dan ditutup dengan penanaman 400 bibit pohon di lingkungan rumah warga dan sekitar Desa Bantar Sari. Pengalaman ini akan kami ingat terus dan semua ilmu yang didapat akan kami aplikasikan agar kelak kami bisa menjadi generasi penerus bangsa yang hebat. (ARxPM)

Jomblo Bermartabat

Oleh: Syafei Al Bantanie, GM Sekolah Model Dompet Dhuafa Pendidikan

 

IMG_20170428_184010_013

Bila kau diejek teman-temanmu, “ATM aja bersama, kamu masih mandiri aja”.

“Sandal aja berpasangan, kamu masih jomblo aja”.

“Pantai aja memiliki ombak, kamu memiliki siapa?”

Maka, jawablah dengan mantap, “Jomblo itu layaknya bendera di atas tiang. Sendiri tapi dihormati dan ditinggikan”.

Mengasah Jiwa Kepemimpinan di SMART Camp

IMG-20170425-WA0002

SMART Ekselensia sebagai Islamic Leadership Boarding School memiliki beberapa kegiatan unggulan guna mendukung proses pembinaan para siswanya, salah satu program unggulan yang rutin diberikan kepada siswa adalah SMART Camp. Kegiatan ini diberikan kepada siswa kelas 7 dan 8 SMP. Pelaksanaan kegiatan SMART Camp biasanya diadakan di luar lingkungan sekolah di tempat yang memiliki fasilitas outbond dan menyajikan pemandangan alam.

Rangkaian kegiatan disusun oleh guru dengan model yang sama, yakni berkelompok. Hal ini bertujuan agar dapat melatih kerjasama antar siswa SMART. Beberapa kegiatan dalam SMART Camp antara lain pentas seni kelompok di mana siswa diminta untuk menampilkan kreativitas seni secara bebas, beberapa permainan seru untuk melatih mental; kecermatan; dan kekompakan tim, serta ada pula jurit malam. Jurit malam merupakan kegiatan yang cukup menegangkan, sebab beberapa siswa terpilih akan dibangunkan tengah malam disaat yang lain sedang tertidur pulas. Para siswa ini diminta menutup mata dan hanya mengikuti tepukan suara untuk menyelesaikan misi bagi kelompok mereka di setiap pos yang telah dijaga oleh panitia. Seru sekali deh.

IMG-20170425-WA0001

Di hari terakhir kegiatan SMART Camp semua siswa diminta turun ke kolam untuk mengambil ikan dengan tangan kosong. Ikan yang berhasil ditangkap akan dijadikan bekal makan siang, hmm enaknya. Kegiatan ini dinilai sangat baik untuk melatih para siswa agar memahami bahwa apapun yang mereka inginkan tentunya dibutuhkan usaha dan kerja keras, serta kerjasama yang baik.

Itulah beberapa rangkaian kegiatan SMART Camp Islamic Leadership Boarding School SMART. Semoga dengan pola pembinaan tersebut SMART mampu mencetak pemimpin masa depan yang jujur, amanah, dan mampu bekerjasama dengan berbagai pihak secara baik. (PM)

Olimpiade Sains Nasional (OSN) Tingkat Propinsi Kami Datang!

IMG-20170508-WA0000

Masih ingatkah kamu akan tulisan kami beberapa bulan lalu seputar Olimpiade Sains Nasional (OSN) Tingkat Kabupaten? Kalau masih ingat kamu hebat. Nah saat ini tiga kawan kita sedang berada di Bandung untuk kembali mewakili SMART dalam OSN Propinsi Jawa Barat. Pelaksanaan OSN Propinsi Jawa Barat sendiri dilaksanakan mulai Senin hingga Rabu (8–10 Mei) di Wisma Bumi Makmur Indah Lembang, Bandung, Jawa Barat.

Dalam ajang bergengsi ini, SMART mengirimkan tiga kontingen hebatnya yakni Ahmad Basyir Najwan untuk bidang Fisika, Habibullah Akbar untuk bidang Komputer dan Syahrizal Rachim untuk bidang Kebumian. Sebelum berpartisipasi dalam OSN Propinsi Jawa Barat ketiganya berhasil menyabet dua medali emas dan satu perunggu; Ahmad Basyir Najwan dan Habibullah Akbar masing-masing meraih medali emas di bidang Fisika dan Komputer, sementara Syahrizal Rachim meraih medali perunggu pada bidang Kebumian.

“Kami menyadari OSN Tingkat Propinsi merupakan ajang bergengsi untuk pelajar se-Jawa Barat. Oleh karenanya kami ingin mempertahankan gelar dan menambah gelar baru,” jelas Pak Mulyadi, Guru Pembimbing OSN kami.

Berbagai persiapan telah kami lakukan agar kami dapat melenggang dengan pasti di OSN Tingkat Nasional nanti seperti pembinaan intensif oleh guru di sekolah, persiapan secara mandiri, sampai camp selama tiga hari di P4TK Bogor jelang keberangkatan ke Bandung. Seperti yang kamu tahu tentu tidak mudah berada di posisi kami saat ini, banyak hal kami persiapkan; banyak strategi kami matangkan; banyak usaha kami kerahkan; dan banyak doa kami panjatkan, semua kami sinergikan agar hasilnya maksimal serta tak mengecewakan. Untuk itulah jauh sebelum hari H tiba kami belajar intensif dengan pembinaan guru di sekolah, (hampir) setiap hari kami mengerjakan beragam soal yang dilombakan sampai mengikuti camp yang dilaksanakan selama tiga hari di P4TK Bogor sebelum keberangkatan ke Bandung. Kami yakin bisa mengerjakan semua soal dengan baik, OSN bagi kami ialah ajang aktualisasi diri, di sini kemampuan dan kejujuran kami diuji, oleh karena itu pantang untuk kami menyerah atau berbuat curang.

Pada OSN Propinsi tahun ini, SMART  menargetkan menyabet medali emas dan melaju ke OSN tingkat Nasional. Kami siap untuk menghadapi OSN Tingkat Propinsi (dan Nasional), kami siap bersaing dengan para pelajar hebat nusantara lainnya, kami siap karena kami semangat! Semangat untuk menggapai semua mimpi yang kami dambakan.

Doakan kami ya (ARxPM)

 

Yuk #IURANBUKU!

buku

“Payah lah bu, koleksi buku kami sedikit. Kondisi perpustakaan kami juga kurang maksimal karena berada di bawah tangga,” ujar Pak Ardi, Kepala Sekolah SDS Al-Falah Medan, Sumatera Utara.

Tidak meratanya penyebaran buku-buku bacaan yang dapat diakses oleh masyarakat khususnya siswa-siswa di sekolah jadi momok dunia literasi Indonesia. Buku-buku bisa diakses dengan mudah oleh siswa-siswa hanya di daerah perkotaan. Sebaliknya, daerah-daerah pedesaan dan 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal), ketersedian buku sangat terbatas. Bahkan tidak ada sama sekali.

Meski begitu, secercah harapan itu masih ada. Hasrat membaca anak-anak di daerah masih sangat tinggi.

Di MI Syafa’atut Thulab Ogan Ilir misalnya, karena keterbatasan buku mereka memanfaatkan “Keranjang llmu” dengan rela keliling setiap hari bergantian ke kelas-kelas. Demi memastikan kebutuhan membaca setiap siswa terpenuhi.

Begitu juga di SDS Al-Falah Medan, dengan keterbatasan buku dan fasilitas sekolah mereka berjibaku membuat pojok baca darurat di bawah tangga sekolah demi menyediakan kesempatan bagi siswa untuk membaca.

Dompet Dhuafa Pendidikan mengajak kamu untuk menyalakan kembali harapan tersebut. Kita bantu generasi-generasi penerus bangsa menjadi generasi terbaik dengan memberikan mereka bahan bacaan yang berkualitas.

Yuk #IURANBUKU! Kita bantu anak-anak marjinal mendapatkan akses buku-buku terbaik.

Salurkan donasi (minimal) Rp 50.000 melalui rekening:
BNI Syariah 2880 2880 13
(a.n. Yayasan Dompet Dhuafa Republika)
Sertakan kode unik di akhir nominal dengan angka 5.
(Contoh: donasi untuk 1 buku dana yang ditransfer 50.005).

Perjalanan Panjang Para Pemimpin

IMG-20170410-WA0009

Oleh: Zayd Syaifullah.

Manajer Peningkatan Mutu Pendidikan [PMP] Makmal Pendidikan

 

Jurus jalan panjang itu perjuangan dengan nafas panjang, berfikir panjang, berhitung lengkap, energi simultan, stamina tangguh, tidak sumbu pendek, berstrategi komprehensif, presisi skala prioritas, cinta dan setia kepada firman Allah” (Emha Ainun Nadjib)

Pada suatu malam, Amirul Mukminin Umar bin Khattab r.a. dalam kegiatan rondanya mendengar dialog seorang anak perempuan dan ibunya, seorang penjual susu yang miskin. Sang Ibu berkata, “Wahai anakku, segeralah kita tambah air dalam susu ini supaya terlihat banyak sebelum terbit matahari”. Anaknya menjawab, “Kita tak boleh berbuat seperti itu, Bu. Amirul Mukminin melarangnya”. Sang Ibu masih mendesak, “Tidak mengapa, toh Amirul Mukminin takkan tahu”. Anaknya pun menjawab, “Jika Amirul Mukminin tidak tahu, Tuhan Umar pasti tahu”. Umar r.a. yang mendengarnya lantas menangis, tersentuh dengan kemuliaan hati anak gadis tersebut. Sekembalinya ke rumah, Umar r.a. menyuruh ‘Ashim, anak lelakinya, untuk menikahi gadis tersebut.

Puluhan tahun kemudian, kas di baitul maal berlimpah, tidak ada masyarakat yang mau dan layak menerima zakat hingga harus didistribusikan ke negeri tetangga. Utang pribadi dan biaya pernikahan pun ditanggung kas Negara. Bahkan dikisahkan serigala dan domba dapat hidup berdampingan di masa itu. Adalah Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang telah melakukan perubahan revolusioner hanya dalam kurun waktu 2 tahun 5 bulan pemerintahannya. Kepemimpinannya mungkin singkat, namun karyanya luar biasa. Dan sejatinya kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz adalah proses panjang. Sejak kecil ia telah dibina di Madinah oleh generasi sahabat dan tabi’in. Menjadikan beliau seorang hafizh Al Qur’an, perawi hadits, ahli fiqih sekaligus mujtahid dan pemimpin yang zuhud. Reputasinya kian cemerlang selama 7 tahun menjadi Gubernur Madinah. Kerendahan hati dan kesederhanaannya selama menjadi khalifah semakin menguatkan keteladanannya hingga dijuluki Khulafaur Rasyidin Kelima. Dan sejatinya, proses kepemimpinannya sudah dimulai sejak Umar bin Khattab r.a. bermimpi mempunyai generasi penerus pemimpin ummat yang adil berkharisma dengan luka di dahinya. Bahkan proses tersebut telah dimulai sejak neneknya menolak permintaan Sang Ibu untuk diam-diam menambahkan air ke dalam susu. Ya, Umar bin Abdul Aziz adalah putra dari Ummu ‘Ashim, Laila binti ‘Ashim bin Umar bin Khattab.

Kepemimpinan adalah proses panjang, sejak zaman para Nabi dan Rasul hingga saat ini keniscayaan tersebut tidaklah berubah. Hampir semua pemimpin besar yang kita kenal dibentuk lewat proses panjang. Hari ini mungkin tidak sedikit kita jumpai pemimpin instan. Namun yang sebenarnya dilalui adalah cara instan meraih jabatan kekuasaan, bukan menyoal kualitas kepemimpinan yang butuh proses dalam membangunnya. Karenanya jangan ditanya tentang kualitas para pemimpin karbitan ini. Akselerasi kepemimpinan memang mungkin dilakukan, namun tetap tidak mengesampingkan proses yang harus dijalani. Usamah bin Zayd r.a. yang menjadi panglima perang di usia 18 tahun misalnya, telah melalui berbagai proses pembuktian kepiawaiannya dalam kancah peperangan di usia belasan tahun. Atau sebutlah Muhammad Al Fatih yang menaklukkan Konstantinopel di usia 21 tahun. Kualitas kepemimpinannya sudah dipersiapkan sejak kecil. Hafidz Al Qur’an, menguasai beragam bahasa dan kepakaran, juga tak pernah meninggalkan shalat fardhu, shalat rawatib dan qiyamullail semenjak aqil baligh, tentu membutuhkan kesungguhan ekstra. Proses yang tidak mudah harus dilalui untuk mencapai kuaitas kepemimpinan jempolan.

Bagaimanapun, buah yang matang di pohon akan lebih manis dan segar rasanya dibandingkan buah karbitan. Memang bisa jadi dari luar tampilan buah karbitan lebih menarik, namun isinya tetap saja lebih hambar. Tampilan luar bisa direkayasa menjadi menarik dan simpatik, namun software-nya tetap butuh banyak diupgrade. Pengarbitan memang bisa mengakselerasi tingkat kematangan, namun ketika ada proses alami yang terlewat untuk dilakukan, tentu akan ada bagian kualitas yang hilang. Dan bagaimanapun, masakan rumah akan lebih sehat dibandingkan makanan instan. Mungkin makanan instan bisa lebih cepat mengobati lapar, apalagi dengan bantuan iklan di sana-sini. Soal rasa mungkin bisa subjektif, namun efek jangka panjang makanan instan jelas lebih buruk. Kenikmatan semunya hanya sesaat, waktu lah yang akan menunjukkan bahaya penyakit yang menyertainya. Iklan bisa menipu karena memang hanya pesanan untuk membuat publik tertarik. Padahal ada masakan rumah yang barangkali butuh proses ekstra namun lebih sehat dan murah. Dan jangan harap potensi penyakit juga ikut diiklankan.

Een leidersweg is een lijdensweg. Leiden is lijden (Jalan pemimpin bukan jalan yang mudah. Memimpin adalah jalan yang menderita)”, demikian kata Kasman Singodimedjo, seorang anggota parlemen RI dari Masyumi. Proses menjadi pemimpin melalui jalan yang sangat jauh dan membutuhkan nafas panjang. Ada berbagai ujian, hambatan serta medan pembuktian yang menyertai jalan tersebut. Jelas lebih sulit dibandingkan jalan instan yang sebenarnya juga tak mudah. Karenanya lebih banyak yang memilih jalan pengikut yang lebih ramah dan risikonya rendah. Namun kesulitan itu akan sebanding dengan capaian kualitas yang terbentuk. Butuh persiapan matang, strategi tepat dan keyakinan kuat untuk melaluinya. Jalan inilah yang telah dipilih dan dilalui para pemimpin besar, pemimpin teladan, dan pemimpin para pejuang. Berbagai tantangan bahkan penderitaan yang menghadang hanyalah suplemen yang kian menyehatkan kualitas kepemimpinan mereka. Lantas, beranikah kita mengikuti jejak langkah mereka?

“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar…” (QS. Al Balad: 10 – 11)