IMG-20170624-small

Buletin Ceria Edisi 8 Spesial Ramadan 1438 H “Sahabat Berbagi Harapan”

IMG-20170624-WA0000

Assalamualaikum Wr Wb.

Dear Sahabat Pendidikan yang kami cintai karena Allah

“Pak ustaz, saya adalah seorang karyawan swasta. Perusahaan kami bergerak dibidang penyediaan jasa konsultasi. Setiap bulan saya mendapatkan take home pay Rp 8.700.000,- dan biasanya menjelang lebaran perusahan memberikan THR yang besarnya 2 kali THP. Saya terkadang diminta menjadi narasumber seminar dengan besaran honor yang beragam. Saat ini saya telah berkeluarga dengan dua orang anak. Istri saya full time sebagai ibu rumah tangga. Setiap bulannya kami harus membayar cicilan KPR sebesar Rp 2.500.000,-. Alhamdulillah istri saya selaku pengelola keuangan masih bisa menabung perbulannya Rp 2.000.000,- untuk keperluan darurat dan investasi. Mohon arahannya kira-kira bagaimana agar kami bisa membayar zakat dengan benar?”

Itulah salah satu pertanyaan seputar zakat yang biasa kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Tentunya kita ingin mendapatkan jawaban meyakinkan dari ahli yang tepercaya di bidangnya.

Ingin tahu jawaban lengkapnya dan berbagai kisah seputar Ramadan dari sisi lain Dompet Dhuafa Pendidikan? Simak di Buletin Ceria Edisi 8 spesial Ramadan 1438 H “Sahabat Berbagi Harapan” dengan membuka tautan berikut: bit.ly/buletinceriaedisi8

Selamat Membaca
Jabat erat penuh cinta,

Dompet Dhuafa Pendidikan

dhuafa

Karena Kita yang Membutuhkan Mereka (Dhuafa)

Sejenak mari kita simak pesan indah dari baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

“Carikan aku orang-orang miskin. Karena, kalian diberi rezeki dan ditolong Allah dengan keberadaan orang-orang lemah di antara kalian” – (HR. Abu Dawud, An-Nasai, At-Tirmidzi)

“Sesungguhnya Allah menolong umat ini dengan orang-orang lemahnya, doa-doa, dan keikhlasan mereka” – (HR. An-Nasai)

Indah, mendalam, dan menghentak kesadaran pesan dari baginda Rasul di atas. Sejatinya, kehadiran orang-orang lemah (dhuafa) di sekitar adalah anugerah bagi kita. Karena, dengan kehadiran merekalah, Allah akan menolong dan memberi rezeki bagi kita.

Maka, kita meski mampu memaknai arti kehadiran orang-orang lemah di sekitar kita. Mulut mereka tak akan lantunkan doa-doa untuk kita jika kita hanya pamer kekayaan kepada mereka. Kita abai dan tak peka dengan perut mereka yang lapar. Kita tuli dengan rintihan mereka yang kesusahan.

Alih-alih doa yang terlantunkan, malahan sumpah serapah yang bisa saja terucapkan. Jika begini, celakalah kita. Pertolongan Allah tak akan turun di sekitar kita, di tengah masyarakat kita. Karena, kita abai dengan kehadiran orang-orang lemah di sekitar kita.

Mari jernihkan pikiran kita agar hadis baginda Rasul itu terealisasi sempurna. Ketika kita peduli dengan orang-orang lemah di sekitar kita. Kita peka dengan kelaparan dan kesusahannya. Lalu, mengambil langkah nyata bergandengan tangan untuk menyantun dhuafa. Di sinilah akan terlafadz dari mulut orang-orang lemah itu untaian doa-doa untuk kita. Dengan demikian, Allah akan menolong kita dan mencurah-curahkan rezeki untuk kita.

Maka, jangan sia-siakan orang-orang lemah di sekitar kita. Karena, kitalah yang membutuhkan mereka.

 

 

Transfer Infak dan Sedekah
2881 2881 26 (BNI Syariah a.n. Yys Dompet Dhuafa Republika)
Sertakan “38” di belakang nominal, contoh: “500.038”

_DSC0267

7 Mitos dalam Berinovasi

_DSC0267

Oleh: Purwoudiutomo, GM Beastudi Indonesia

“Innovation distinguishes between a leader and a follower” (Steve Jobs)

Dalam KBBI, inovasi didefinisikan sebagai pembaharuan, atau penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya (gagasan, metode, atau alat). Inovasi berbeda dengan penemuan (invention/ discovery) yang hanya menghasilkan pengetahuan (knowledge) baru. Inovasi merupakan sebuah proses transformasi yang memberikan nilai tambah sehingga menghasilkan produk baru, baik berupa barang, jasa, sistem, dan sebagainya.

Inovasi bukan sekedar membedakan antara pemimpin dengan pengikut sebagaimana penuturan Steve Jobs, namun inovasi akan sangat menentukan jatuh bangun bahkan hidup matinya sebuah organisasi atau perusahaan. Daur hidup produk (product life cycle) mulai dari development, introduction, growth, mature, hingga decline juga dirasakan dalam lingkup organisasi atau perusahaan. Tidak sedikit organisasi dan perusahaan yang berhasil tumbuh lalu kemudian mati karena gagal berinovasi. Terlena dengan zona nyaman, sekadar mengerjakan hal yang itu-itu saja, dan lalai dalam berinovasi sehingga tertinggal. Perusahaan game Atari mungkin salah satu contohnya, sempat menguasai pasar namun pada akhirnya tersisihkan dengan berbagi produk inovasi dari kompetitornya seperti Nintendo, Sega dan PlayStation. Hal serupa juga dialami Nokia dan BlackBerry dalam bisnis gadget dan telekomunikasi, tergerus oleh iOS dan Android. Atari dan Nokia perlahan memang mencoba bangkit namun era keemasan sudah berlalu.

Arti pentingnya inovasi untuk tetap survive di organisasi ataupun perusahaan seringkali sudah dipahami. Namun dalam implementasinya, ada berbagai mitos ataupun jebakan yang menghambat sebuah inovasi. Padahal urgensi inovasi bukan hanya menyoal baik tidaknya sebuah produk inovasi, tetapi juga cepat lambatnya inovasi dilakukan. Di tengah dunia yang semakin bergerak cepat, sedikit terlambat saja bisa jadi akan tertinggal. Berikut beberapa mitos yang kerap menjadi jebakan dalam berinovasi.

Inovasi membutuhkan kreativitas tinggi
Tidak sedikit mereka yang urung berinovasi berdalih bahwa mereka kurang kreatif dalam menelurkan sebuah karya inovatif. Apakah inovasi membutuhkan kreativitas? Bisa jadi. Namun kreativitas bukan syarat pokok. Ada tiga komponen penting inovasi: ide, implementasi, dan dampak. Ide tidak harus bersumber dari kreativitas, bahkan idealnya sumber ide inovatif adalah untuk menjawab kebutuhan atau mengatasi masalah yang dihadapi. Kondisi mendesak juga bisa memunculkan produk inovasi, misalnya uang kertas dan makanan kaleng yang merupakan produk inovasi di masa perang. Bahkan produk inovasi bisa lahir dari ketidaksengajaan, misalnya penisilin dan resep Cocacola. Jadi, kreativitas memang penting untuk melahirkan inovasi, namun ketiadaannya tidak dapat menjadi alasan untuk tidak berinovasi.

Inovasi butuh landasan riset yang rumit
Dalam organisasi konvensional, inovasi biasanya diampu oleh tim penelitian dan pengembangan, karenanya inovasi tidak terlepas dari riset dan kajian mendalam. Produk hasil inovasi dapat dipastikan mampu dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Namun organisasi modern memandang inovasi lebih sederhana dan fleksibel, sehingga dapat dilakukan oleh seluruh anggota organisasi tanpa kecuali. Riset dan pengembangan tentu tetap dibutuhkan, tetapi untuk menguatkan produk inovasi, bukan membuatnya. Alhasil, semakin banyak produk inovasi yang bersumber dari ideyang sederhana, dibuat secara sederhana oleh orang-orang yang tidak harus memahami dunia penelitian dan pengembangan.

Inovasi tidak jauh dari produk teknologi
Terminologi inovasi saat ini identik dengan pembaharuan teknologi, misalnya telepon genggam, kendaraan bermotor, ataupun peralatan elektronik. Padahal inovasi banyak jenisnya, tidak hanya berupa barang hasil pembaharuan teknologi, tetapi bisa juga berupa inovasi sistem, jaringan, bisnis, hingga inovasi pendidikan, sosial ataupun budaya. Inovasi kurikulum pendidikan tentu tidak melulu bicara tentang alih teknologi, demikian pula dengan inovasi sistem lembaga keuangan syariah, misalnya. Banyak produk inovasi yang nyata bermanfaat bagi masyarakat namun tidak dihasilkan oleh para ilmuwan, insinyur, ataupun teknolog. Dimana masih ada gap atau masalah, disitulah terbuka peluang untuk melakukan inovasi.

Inovasi butuh biaya mahal
Di beberapa negara maju, ada bagian jalan yang dipasangi sel surya sebagai sumber energi alternatif. Memasang solar cell di sepanjang jalan tentu butuh biaya besar, dan memang tidak sedikit produk inovasi yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit, misalnya kereta api cepat ataupun mobil listrik. Biaya yang dianggap wajar untuk sebuah pembaharuan, tetapi apakah inovasi harus berbiaya mahal? Tentu tidak. Grameen Bank sebagai sebuah contoh inovasi sosial yang saat ini asetnya sudah mencapai miliaran dolar ternyata dimulai hanya dengan modal 20 sen. Wikipedia yang jauh mengalahkan Microsoft Encarta bahkan Encyclopedia Britannica dari segi jumlah kontributor dan banyaknya pengetahuan yang tersimpan di dalamnya, ternyata biaya pembuatan dan perawatannya jauh lebih murah dibandingkan ensiklopedia besar lain yang sudah lebih dulu eksis. Inovasi tidak harus berbiaya mahal, dan inovasi berbiaya mahal belum tentu juga lebih baik dari inovasi rendah biaya.

Semakin banyak produk inovatif yang ditawarkan berarti semakin baik
Perusahaan-perusahaan besar memiliki perhatian yang sangat besar terhadap produk inovasi, ketatnya kompetisi membuat mereka terus berinovasi. Hanya saja tidak jarang inovasi yang dilakukan justru kontraproduktif dengan keberhasilan yang mereka harapkan. Terus berinovasi memang penting namun tidak semua produk inovasi akan cocok di pasaran. Coca Cola dan Pepsi pernah mengalaminya ketika membuat varian rasa baru. Alih-alih menarik konsumen, inovasi produk tersebut justru berakhir pada kegagalan. Bahkan perusahaan sekelas Microsoft dan Google pun pernah mengeluarkan produk inovasi yang justru mendatangkan kerugian yang tidak sedikit. Inovasi tidak seharusnya sekadar menawarkan hal yang baru namun tidak sesuai dengan lingkungan dan kebutuhan pasar. Perhatian terhadap kekhasan dan keunggulan produk juga perlu menjadi perhatian. Memperbanyak varian produk –seinovatif apapun—belum tentu berbanding lurus dengan hasil yang diperoleh.

Inovasi yang berhasil adalah inovasi yang berbeda, besar, dan berkualitas
Era industri yang telah berlalu, digantikan dengan era informasi dan pengetahuan ternyata turut memberi dampak pada paradigma inovasi. Di masa lalu, semakin baru dan canggih sebuah produk inovasi, maka semakin hebat. Saat ini, ukuran kualitas sebuah inovasi justru lebih banyak dilihat kesesuaian dengan kebutuhan dan permintaan pasar, serta dampak dan kebermanfaatannya. Jika dahulu karya inovasi yang unggul adalah yang unik dan sulit ditiru, di era pengetahuan justru kemudahan sebuah produk inovasi untuk bisa digunakan oleh semua orang menjadi nilai keunggulan. Tidak perlu benar-benar berbeda dan rumit, karya inovasi yang sederhana namun dapat dimanfaatkan secara luas akan lebih dianggap berkualitas.

Inovator adalah sosok luar biasa dan berbakat
Apakah inovasi merupakan bakat atau dapat dibentuk? Setiap manusia sejatinya dikaruniai kemampuan berpikir dan mengeluarkan ide, tetapi berapa banyak di antara mereka yang mengimplementasikan ide tersebut dalam sebuah karya inovatif. Sebesar apapun bakat kreativitas seseorang, jika tidak disertai dengan aksi nyata, tentu takkan berbuah inovasi. Aksi seadanya ternyata tidak cukup, belajar dari para inovator hebat seperti Thomas Alfa Edison ataupun Steve Jobs, inovasi harus disertai dengan konsistensi dan persistensi. Kesungguhan dalam menghasilkan sebuah karya inovasi lebih menentukan dibandingkan sekadar bakat. Dan ternyata hampir semua karya inovatif adalah hasil kolaborasi bukan karya seorang individu, pun mungkin sosok yang muncul dikenal public hanya seorang. Ya, selain imajinasi, transformasi, aksi dan konsistensi, inovasi juga butuh kolaborasi. Sehingga tidak ada seseorang yang paling layak menjadi seorang innovator, sebab setiap diri kita punya bakat untuk menjadi seorang inovator.

Screenshot_20170620-150102

Ramadan Berkah di SMART Ekselensia Indonesia

Oleh: Farid Ilham

Alumni SMART Angkatan 8, Berkuliah di Universitas Mulawarman Jurusan Fakultas Kesehatan Masyarakat

 

Screenshot_20170620-150102

 

 

 

 

 

Ramadan adalah bulan yang penuh berkah, itu memang betul, ya betul karena berkahnya gak main-main. Mulai dari salat sunat yang pahalanya seperti salat wajib, dll. Pokoknya segala kebaikan yang dinilai Allah baik -insha Allah- pahalanya akan dilipatgandakan di bulan Ramadan.

Sebagai alumni SMART Ekselensia Indonesia, bisa dibilang dulu saya termasuk aktif dalam mengikuti kegiatan ekstrakulikuler. Salah duanya adalah nasyid dan Trashic alias Trash Music. Di bulan Ramadan saya dan teman-teman  mendapatkan banyak berkah dari dua ekstrakulikuler tersebut. Seakan sudah menjadi kebiasaan  tim Trashic dan nasyid akan banyak orderan di bulan penuh berkah tersebut. Begitupun dengan Ramadan 1436 H lalu, macam artis kami banyak penggilan ke sana dan ke sini.

Sebenarnya banyak yang ingin saya ceritakan, tetapi karena sepertinya akan makan banyak ruang jadi saya tulis tiga cerita saja yang menurut saya paling berkesan di hati saya. Yang pertama adalah cerita ketika Trashic tampil di Desa Cilincing, Sunda Kelapa, Jakarta Utara. Nah kalau gak salah saat itu masih awal-awal bulan Ramadan, saya dan teman-teman diundang oleh Remaja Masjid Sunda Kelapa untuk menghibur masyarakat dan juga tamu yang datang. Konon katanya masjid ini lekat sekali dengan sejarah Raden Fatahillah –Kalau gak salah sih-. Yang unik dari tempat kami tampil kala itu ya lingkungannya, kami tampil di pinggir laut. Semula saya pikir akan berhadapan dengan pemandangan dan aroma laut yang khas, namun saya gak nyangka ternyata baunya semerbak sekali alias bau. Sebelum tampil saya dan teman-teman sempat berkeliling dan terkejut karena mendapati air lautnya  berwarna hitam dan sampahnya bejibun. Mungkin hal itulah yang menyebabkan timbulnya bau menyengat seperti bau ikan asin bercampur sampah yang usianya ratusan tahun, Subhanallah.  Yasudahlah, akhirnya kami memutuskan untuk kembali karena giliran kami tampil telah tiba, acara ini diisi oleh banyak pengisi acara, sayangnya penonton seperti tak antusias melihat penampilan mereka. Tetapi semua berbeda ketika kami tampil, luar biasa, Allahu Akbar! Warga yang tadinya tak antusias mulai berdatangan, mulai dari yang imut-imut sampai yang gak imut, dari yang muda sampai yang gak muda lagi berkumpul membentuk kerumunan, bahkan kalau saya tak salah ingat ada yang naik sampai ke atap masjid untuk menonton kami. Bangganya kami. Setiap kali selesai bermain kami diminta main lagi, jadilah kami main sampai sebulan di sana, hehe bercanda. Tampil maksimal sudah, saatnya kami pulang, namun penonton seperti enggan melepas kami. Tapi mau bagaimana lagi kami harus pergi karena sudah semakin larut dan perjalanan menuju asrama masih panjang. Akhirnya kami berpamitan diiringi gemuruh tepuk tangan.

Cerita kedua masih tentang Trashic. Ini cerita ketika saya dan tim Trashic manggung di Hotel Sultan, Jakarta. Kami jadi pengisi Ramadan Fair, ada banyak kegiatan di acara tersebut seperti buka bersama. Karena hotelnya bukan hotel ecek-ecek maka hidangannya pun tidak main-main, pokoknya ntap! Karena jarang menyantap makanan sekelas itu kami jadi kalap dibuatnya, semua kami cicipi dari ujung ke ujung. Perut super kenyang, hati sangat senang. Di acara tersebut turut hadir mbak Terry Putri sebagai pembawa acara, ia makin cantik semenjak berhijab, jadi saja saya pengin foto bareng hehehehe. Setelah selesai tampil kami dibekali kue-kue yang banyak sekali, Alhamdulillah ada oleh-oleh untuk kawan-kawan di asrama kala itu. Berkah berkah.

Nah cerita ketiga ini tentang grup nasyid kami yang bernama Voicexelensia (ribet yah namanya hehe). Kala itu kami diminta untuk tampil di acara santunan anak yatim dan dhuafa yang diadakan MNC TV, kami tampil dihadapan ratusan tamu undangan termasuk kawan-kawan kami dari SMART. Awalnya kami hanya tampil untuk satu segmen, setelah selesai tiba-tiba seorang kru MNC TV memanggil dan meminta kami tampil dihadapannya. Waw ternyata ia merupakan salah satu kru inti DMD Show yang tayang tiap Selasa-Kamis pukul 19.00 WIB, tak disangka setelah unjuk gigi dihadapannya kami malah disuruh tampil di acara DMD Show, kami senang luar biasa karena bisa tampil di teve. Saking senangnya sampai kami menelpon orangtua kami satu-satu hahahahamaafnorakhahaha. Menurut kru yang bertugas kami harus tampil pukul 20.00 WIB, ternyata pukul 20.00 WIB acara DMD Show baru mengudara dan kami baru akan tampil pukul 22.00 WIB, sedaaaap sedap ngantuk rasanya. Sebelum tampil kami di-make up bak selebriti, lumayan akhirnya merasakan di-make up-in make up artist hehe. Ketika waktu tampil hampir tiba kami deg-degan karena banyak sekali artis di sana, tapi kami cuek saja bahkan gak mikirin hasilnya bagaimana, yang penting tampil dan bertemu alm.Julia Perez. Tetapi ternyata kami tampilnya malam sekali, kami yakin sebagian teman, keluarga, bahkan karyawan Dompet Dhuafa Pendidikan pasti telah terlelap. Sedih, namun tak apalah. Keesokan harinya tim Nasyid Voicexlensia mendadak jadi artis di lingkungan Dompet Dhuafa Pendidikan, ternyata ada karyawan merekam performa kami dan menyebarkannya, wah begini ya rasanya jadi artis hehe.

Dan Ramadan 1436 H lalu menjadi Ramadan terakhir saya di SMART.

Selama di SMART pengalaman seperti ini akan selalu saya kenang, sebenarnya masih banyak pengalaman menyenangkan lainnya yang tak akan saya lupakan. Berada di sini bagaikan berada di rumah sendiri, saya dan kami semua diayomi dan disayang bagai adik sendiri. Saya rindu SMART. Saya akan terus mengingat semua hal indah selama di SMART.

IMG-20170116-WA0009

Bagaimana Baginda Rasulullah Memperbaiki Kesalahan Sahabatnya

IMG-20170116-WA0009

Oleh: Syafi’ie el-Bantanie 

 

Imam Al-Hakim, dalam kitabnya Al-Mustadrak, meriwayatkan, satu ketika Rasulullah bersama muslimin melakukan perjalanan. Singgahlah disebuah tempat, Marru Zhahran namanya, antara Mekah dan Madinah.

Seorang sahabat, Khawad namanya, tak sengaja melihat sekelompok gadis tengah berlalu. Khawad yang masih lajang ini menghampiri gadis-gadis itu dan menyapanya ramah.

Pada saat yang sama, Rasulullah bersama rombongan hendak melanjutkan perjalanan. Menyadari Khawad tak ada dalam rombongan, Rasulullah mencarinya. Rupanya Khawad sedang berbincang dengan gadis-gadis itu.

“Khawad, sedang apa kau di sini?” Tanya Baginda Rasul.

Khawad gelagapan… “Ehhmm saya sedang mencari unta saya yang hilang ya, Rasulullah,” jawab Khawad berusaha menyelamatkan muka di depan Baginda Rasul.

Baginda Rasul tahu Khawad berdusta. Namun, alangkah mulianya akhlak beliau. Baginda Rasul tidak mencecar Khawad, apalagi memarahinya di depan gadis-gadis itu yang bisa menyebabkan harga dirinya runtuh, atau menjustifikasinya sebagai pendusta.

Apa yang dilakukan Baginda Rasul? Beliau tersenyum dan berkata, “Ayo, kita lanjutkan perjalanan. Kita cari untamu sambil berjalan.”

Baginda Rasul bersama muslimin melanjutkan perjalanan. Sepanjang perjalanan, Baginda Rasul berulang kali menanyakan kepada Khawad perihal untanya yang hilang. Apakah sudah ketemu. Jelas saja, Khawad menjadi bingung mau menjawab apa. Khawad merasa bersalah membohongi Rasulullah.

Sesampainya di Madinah, Khawad segera menuju Masjid Nabawi dan shalat 2 rakaat. Dalam hatinya, dia berjanji untuk berterus terang kepada Rasulullah. Baginda Rasul, tau Khawad sudah mulai sadar. Inilah waktu yang tepat untuk menasihatinya.

Maka, Baginda Rasul masuk ke Masjid Nabawi. Hanya ada beliau dan Khawad. Tak ada yang lain. Di situlah Khawad menangis dan meminta maaf kepada Rasulullah. Apa respon Rasulullah? Memarahinya? Menghukumnya?

“Rahimakallah, rahimakallah, rahimakallah,” ucap Baginda Rasul.

(Semoga Allah merahmatimu 3 x).

 

Indah nian akhlak Baginda Rasulullah, junjungan kita tercinta. Poin-poin penting sebagai pelajaran:

  1. Saat Rasul tahu Khawad berdusta, beliau tidak langsung mencecar apalagi menjatuhkan harga dirinya di depan umum (gadis-gadis itu). Karena, Rasul tahu Khawad tidak sepenuh hati ingin berdusta.
  1. Rasul menunggu waktu yang tepat untuk menasihati dan memperbaiki (Di Masjid Nabawi dalam kondisi Khawad sudah merasa bersalah) dan tak ada siapapun.
  1. Dan, ketika Khawad mengakui kesalahan dan meminta maaf, Rasul tidak memperpanjang urusan. Bahkan, mendoakannya. Pun, tidak menceritakan kepada para sahabat lain.

 

Belajar dari Khalifah Ali dan Abu Musa Al-Asy’ari

Saudaraku, ketika seorang muslim diambil haknya oleh orang lain yang terang-benderang pelakunya. Tepat di hadapan mata. Di sinilah bab mempertahankan hak milik dalam Fiqh tepat dikemukakan. Bahkan, wajib mempertahankan hak milik.

Namun, adalah berbeda kasus dengan seorang muslim yang kehilangan hartanya, namun tidak jelas apakah hilang, dipinjam, dighasab, ataukah dicuri; dan, tidak jelas pula siapa pelakunya, adalah berbeda bab hukumnya dalam Fiqh.

Khalifah Ali pernah kehilangan baju besinya. Belakangan diketahui ada pada seorang Yahudi. Apakah berhak langsung mengambil hak miliknya itu? dan dipastikan si Yahudi pencurinya? Tidak boleh. Ada aturan Fiqhnya.

Ketika disampaikan kepada Qadhi (Abu Musa Al-Asy’ari), dan saksi yang didatangkan adalah Sayidina Hasan, putra Sayidina Ali. Abu Musa tidak menerima kesaksian Sayidina Hasan karena kerabat khalifah Ali (putranya). Ketika Khalifah Ali tak bisa mendatangkan saksi diluar kerabatnya, maka Abu Musa memutuskan si Yahudi terbebas dari tuntutan. Belakangan si Yahudi masuk Islam karena indahnya keadilan Islam.

Saudaraku, benar mencari harta milik yang hilang adalah hak kita. Namun, menjaga kehormatan dan nama baik orang lain juga kewajiban yang harus kita jaga dan tunaikan. Adalah tidak benar dalam mencari harta milik yang hilang dengan menerabas kewajiban menjaga kehormatan dan nama baik , dan bahkan nama baik institusi. Semua ada babnya dalam Fiqh. Mari kita proporsional dalam menempatkan masalah sesuai hukum Fiqhnya.

Semoga menjadi pelajaran bagi kita untuk saling memperbaiki diri. Wallaahu a’lam.

rizal

Ramadan, Bulan Semangat Penuh Impian

Oleh: Syahrizal Rachim.

Siswa SMART Ekselensia Indonesia Kelas IV IPS

 

rizal“…waktu telah menunjukan pukul empat pagi. Segera bangun dan santap sahur di kantin!” seru seorang wali asrama kami yang membangunkan siswa-siswa tercintanya untuk santap sahur melalui pelantang suara.

Hari itu masihlah sangat gelap. Ayam-ayam pun belum sempat berkokok tanda mentari masih malu-malu menampakan dirinya. Akan tetapi, kami sudah harus bangun dan bersemangat memulai aktivitas di bulan penuh ampunan ini. Santap sahur secara bersama mengawali aktivitas harian kami di bulan ini. Sebenarnya tidak ada perasaan sahur yang berbeda dengan sahur di bulan-bulan lainnya, karena di asrama pun kami sudah dibiasakan sahur untuk menjalankan puasa sunnah. Lantas, setelah dirasa cukup kenyang, kami langsung bersiap menuju masjid untuk melaksanakan Salat Subuh berjamaah. Banyak siswa juga yang memaksimalkan waktu untuk mencapai target tilawah di bulan penuh berkah.

Kegiatan belajar di sekolah secara reguler tetap dilaksanakan walau ada sedikit perbedaan kegiatan di siang hari, yaitu kultum yang disampaikan oleh para ustaz. Mereka tidak bosan-bosan untuk memotivasi siswa agar memaksimalkan potensi ibadah.

Terbenamnya matahari menjadi tanda akan dilaksanakannya  buka puasa bersama. Buka puasa bersama menjadi momen menjalin silaturahim dan melepas penat secara menyenangkan setelah berpuasa seharian penuh. Para siswa biasanya dibagi dalam kelompok-kelompok kecil sesuai dengan nama sahabat Rasul, dari kelas satu hingga lima.

Momen kece selanjutnya adalah Salat Tarawih. Seluruh siswa diwajibkan mengikuti Salat Tarawih secara tertib dan berjamaah. Hampir tidak ada yang berbeda dari pelaksanaan Salat Tarawih kebanyakan, kami tidak luput untuk menambah tabungan tilawah setelahnya. Buku-buku pelajaran sekolah telah menanti untuk dibaca sebelum kami beristirahat menutup hari yang indah di bulan penuh rahmat. Kebetulan, pelaksanaan Penilaian Akhir Tahun (PAT) bertepatan dengan Ramadan. Akan tetapi, kami tetap bersemangat dan fokus meraih hasil ujian yang terbaik.

Setelah bergulat dengan soal-soal ujian, akhirnya, tiba juga liburan akhir semester. Dalam liburan kali ini, diisi dengan berbagai kegiatan menyemarakkan Ramadan. Dari sisi kreativitas dan seni, terdapat lomba menghias kamar dan asrama serta menghias parsel. Setiap siswa saling bekerja sama mengembangkan kreativitas dan potensi untuk meraih hasil yang terbaik. Tak pelak, seluruh sudut asrama penuh dengan dekorasi bertema Ramadan, Sahabat Nabi, kota-kota bersejarah, dan lainnya. Parsel-parsel lebaran juga disulap menjadi rapi dan menarik serta memilliki nilai lebih tinggi.

Dari sisi olah suara, terdapat lomba azan. Para muazin-muazin terbaik SMART saling beradu kemampuan untuk menjadi yang terbaik dalam kompetisi ini. Masing-masing pemenang lomba mendapatkan hadiah menarik dan pastinya memotivasi kita untuk menjadi lebih baik dalam semarak Ramadan.

Setelah asik berkecimpung dalam dunia lomba-lomba, pada malam tujuh belas Ramadan, diadakanlah sebuah acara untuk memperingati pertama kalinya diturunkan Al-Quran, Nuzulul Quran. Setiap siswa dibagi menjadi beberapa halaqoh untuk menuntaskan tilawah 30 Juz. Setelah tilawah usai, ustad-ustad memberikan kajian tentang keutamaan Al-Quran dan memberikan penghargaan kepada siswa dengan tilawah terbanyak. Tak disangka, banyak diantara teman-temanku mendapatkan penghargaan tersebut. Hal ini semakin menguatkan semangatku untuk selalu berusaha terbaik.

Di saat sepuluh malam terakhir,terdapat sebuah kegiatan yang menjadi rutinitas kami selama Ramadan, Itikaf. Dalam kegiatan Itikaf, siswa-siswa disebar ke berbagai masjid untuk melaksanakan sunnah Nabi tersebut. Di sana kami tidak hanya sekadar beristirahat melainkan menambah keberkahan Ramadan dengan mengikuti kajian-kajian, bertilawah, dan salat tarawih serta tahajud berjamaah. Banyak diantara kami saling bercengkrama dengan sesama peserta Itikaf dari berbagai daerah untuk saling menebar keceriaan dan pesan-pesan Ramadan.  Malam yang paling kami nantikan dan harapkan akan tiba, Lailatul Qadar. Walaupun tidak ada yang tahu persis kapan ada Lailatul Qadar, tetapi beberapa sumber banyak yang menyebutkan bahwa malam yang lebih baik daripada 1000 bulan tersebut jatuh pada tanggal ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadan. Banyak peserta Itikaf yang bersungguh-sungguh dalam beribadah untuk mendapatkan kesempatan malam penuh dengan kedamaian tersebut.

Selain mengikuti Itikaf, beberapa teman kami terpilih untuk mengikuti kegiatan Homestay. Dalam kegiatan Homestay,dipilihlah beberapa siswa scmenginap bersama keluarga donatur untuk saling berbagi keceriaan di bulan penuh kemuliaan. Selain itu, dengan mengikuti Homestay, diharapkan mendapat  inspirasi-inspirasi untuk menggapai kesuksesan di masa depan.

Di masa pengujung bulan kemuliaan, sebuah aktivitas yang kami nantikan akhirnya tiba, takbiran. Seluruh siswa bersuka cita menyambut datangnya Idul Fitri sekaligus sedih ditinggal bulan penuh dengan rahmat dan hidayah. Semoga Ramadan-Ramadan selanjutnya kita lebih maksimal beribadah dan banyak menebar keceriaan serta senyuman impian sesama umat manusia.

 

***

Mari bergabung dan bergandengan tangan bersama Dompet Dhuafa Pendidikan untuk menyalakan pelita harapan anak-anak yang kurang beruntung secara ekonomi melalui program-program pendidikan berkualitas. Salurkan zakat, infak, dan sedekahmu melalui nomor rekening: 2881 2881 26 BNI Syariah a.n. Yayasan Dompet Dhuafa Republika

ss

I’tikaf: Berburu Lailatul Qadr

ss

Oleh: Amma Muliya Romadoni.

Alumni SMART Angkatan 1, Magister Student di Institut Teknologi Bandung

 

I’tikaf berasal dari bahasa Arab ‘akafa, secara harfiah berarti menetap atau berdiam diri. Dalam konteks ibadah, i’tikaf berarti berdiam diri di dalam masjid, menyibukkan diri dengan ibadah-ibadah dengan maksud untuk mendekatkan diri kepada Allah. Mengapa harus di dalam masjid? Karena masjid merupakan rumah Allah dan tempat yang cocok untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Oleh karena itu, salah satu syarat seseorang melakukan i’tikaf adalah harus dilakukan di dalam masjid. Apabila keluar dari masjid, maka orang tersebut harus berniat lagi untuk melakukan i’tikaf. Sedangkan waktu untuk beri’tikaf, bisa dilakukan kapanpun dan terkhusus pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan. Seperti dalam salah satu sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha: “Bahwasanya Nabi senantiasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan hingga beliau diwafatkan oleh Allah. Kemudian para istri beliau pun melakukan i’tikaf sepeninggal beliau“. (Muttafaq ‘alaih)

Kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan diikuti oleh umatnya sampai saat ini. Salah satu alasannya karena di waktu tersebut terdapat sebuah malam yang dalam Al-Quran dijelaskan di Surah Al-Qadr ayat 3 sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam tersebut dinamakan lailatul qadr yang berarti malam kemuliaan. Pada malam tersebut, setiap ibadah yang dilakukan, secara matematis akan diganjar pahala setara dengan melakukan ibadah selama 83 tahun ataupun lebih. Sedangkan umur umat Rasulullah secara umum, sebagaimana dalam hadisnya diperkirakan antara 60 hingga 70 tahun. Tentunya ini merupakan salah satu peluang bagi seseorang untuk mendapatkan ganjaran pahala ibadah melebihi batas usia yang diperkirakan oleh Rasulullah. Maka sudah sewajarnya untuk memperbanyak dan menggiatkan ibadah di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Memperbanyak kuantitas dan kualitas ibadahnya untuk berburu lailatul qadr di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Karena jika pada malam tersebut bertepatan dengan lailatul qadr, sungguh beruntunglah orang-orang yang beribadah pada malam tersebut.

Bagi sekolah SMART Ekselensia Indonesia, i’tikaf menjadi sebuah kegiatan tahunan yang diikuti oleh para siswa, guru, dan staf karyawan. Hal ini menjadi kegiatan yang tak terlewatkan untuk memaksimalkan Ramadhan di sepuluh hari terakhirnya. Saya sendiri pernah merasakan i’tikaf di beberapa masjid yang berada di Bogor dan Jakarta semenjak menjadi siswa SMART Ekselensia Indonesia dan beberapa tahun belakangan ini, saya diamanahi untuk menjadi imam Qiyamulail sekaligus beri’tikaf di Masjid Lab School Rawamangun Jakarta bersama dengan guru sewaktu di sekolah SMART Ekselensia Indonesia, ustaz Ahmad Sucipt dan tentunya ustaz Ahmad Sucipto membawa rombongan dari SMART Ekselensia Indonesia yang akan melaksanakan i’tikaf. Selain para siswa, peserta i’tikaf di Masjid Lab School Rawamangun juga didominasi oleh para mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan panitia i’tikafnya berasal dari DKM Masjid Lab School Rawamangun Jakarta berkolaborasi dengan Lembaga Dakwah Kampus Universitas Negeri Jakarta.

Untuk memfasilitasi peserta dalam beri’tikaf, panitia biasanya mengadakan kajian ke-Islaman di waktu-waktu tertentu. Di mana kajian ini merupakan aktivitas tambahan selain ibadah yang dilakukan secara mandiri seperti membaca Al-Quran, zikir, salat sunah, dll. Di masjid Lab School Rawamangun Jakarta sendiri, kajian keislaman disesuaikan dengan kebutuhan yang didominasi oleh para pelajar dan mahasiswa. Sedangkan untuk qiyamulail, setiap malamnya sebanyak 1 juz Al-Quran. Secara umum, aktivitas tersebut hampir sama dilakukan di beberapa masjid lain yang menyelenggarakan i’tikaf. Hanya saja berbeda dalam segi kuantitas dan materi kajian ke-Islaman yang diberikan bagi para peserta. Terlepas dari suguhan kegiatan tambahan yang disediakan oleh panitia i’tikaf, tujuannya sama yaitu untuk mendekatkan diri kepada Allah agar menjadi pribadi yang bertakwa.

Selama beri’tikaf, saya mengamati ada beberapa perbedaan jumlah peserta i’tikaf di setiap harinya selama sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan. Pada malam-malam ganjil, peserta yang beri’tikaf biasanya lebih banyak dibandingkan malam-malam genap. Hal ini menjadi suatu pemandangan yang wajar karena dalam salah satu sabdanya Rasulullah menjelaskan untuk mencari lailatul qadr di malam-malam ganjil. Sehingga peserta i’tikaf akan terlihat lebih banyak di malam-malam ganjil. Pun demikian, alangkah lebih baiknya kita tetap memaksimalkan ibadah selama sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Karena bulan Ramadhan adalah bulan ibadah dimana setiap muslimin dan muslimat dianjurkan untuk memperbanyak ibadah kepada Allah. Terlebih jika ibadah yang dilakukan bertepatan dengan lailatul qadr, maka akan mendapatkan pahala yang amat banyak untuk bekal di akhirat kelak. (AMR)

COVER

Bukber Asyik Bersama FWD Life

COVER

Setiap tahunnya jutaan umat muslim seluruh dunia menantikan hadirnya bulan Ramadan, sang bulan penuh ampunan dan penuh rahmat. Di bulan istimewa tersebut Allah swt. menawarkan kita pahala berlipat ganda, bahkan tidur pun berpahala. Wow. Eits walau begitu bukan berarti kamu bisa tidur seharian dari pagi hingga matahari terbenam tanpa melakukan ibadah lainnya lho.

Maka dari itu, siapa coba yang tak senang jika bulan Ramadan datang?

Kalau kami senang sekali jika Ramadan datang, karena bulan Ramadan merupakan bulan padat untuk para siswa SMART. Apa pasal? Pasalnya ada saja undangan untuk menghadiri acara ini dan acara itu, kalau sudah begitu biasanya kami akan mempersiapkan fisik sebaik mungkin karena kesempatan takkan datang dua kali.

P_20170613_162443

Seperti yang kami rasakan kemarin (14-06), secara eksklusif 120 siswa SMART diundang oleh FWD Life untuk menghadiri acara FWD Bebas Berbagi 2017 yang diadakan di Aula Al-Madinah, Bogor, Jawa Barat. Melalui progran FWD Bebas Berbagi,  FWD Life ingin berkontribusi dalam meningkatkan literasi keuangan masyarakat Indonesia terutama di kalangan anak muda, perempuan, dan wirausaha kecil menengah. Oleh karenanya, FWD Life kembali menggandeng Dompet Dhuafa sebagai mitra strategis untuk mengembangkan pendidikan dan berkontribusi dalam membangun komunitas Literasi Keuangan Indonesia.

P_20170613_163913

Program FWD Bebas Berbagi 2017 akan berfokus pada pengembangan literasi di SMART Ekselensia Indonesia nih, hal tersebut didasari atas minimnya pengetahuan anak muda kiwari terkait Literasi Keuangan, padahal pengetahuan seputar  Literasi Keuangan sangat dibutuhkan agar generasi muda seperti kami dapat menjadi penggerak perekonomian masa depan Indonesia. Untuk itu, FWD Life memberikan edukasi keuangan melalui permainan yang seru sebagai salah satu aktivitas yang dilakukan dalam program FWD Bebas Berbagi 2017.

P_20170613_163354

Pada kesempatan kemarin FWD Life mengadakan talk show bertajuk “Temukan Passionmu” bersama Kak Bena Kribo. Kak Bena Kribo ialah seorang influencer; blogger; serta Youtuber, ia terkenal dikalangan anak-anak muda karena membawa angin segar dalam memaksimalkan ranah daring (online.pen) dengan ide-ide konyol serta segar. Menurut Kak Bena, saat ini kita hidup di mana internet sangat memudahkan kita belajar banyak hal, oleh karenanya, penting untuk memanfaatkan internet sebaik mungkin.

P_20170613_162429

Bukan tanpa alasan jika ia berkata demikian sebab internet saat ini memang memegang peranan besar terhadap perkembangan generasi muda. Kak Bena juga menyampaikan pentingnya mencari jati diri dan passion sedini mungkin, semakin cepat menemukan keduanya maka semakin cepat menemukan target dalam hidup. Ia menambahkan jika generasi muda pantang untuk bermalas-malasan di era serba mudah seperti sekarang.

“Kalau kita punya waktu untuk bermalas-malasan, seharusnya kita menggunakan waktu tersebut untuk memaksimalkan diri,” tegas Kak Bena.”Memang butuh waktu untuk mencari passion, itulah mengapa kita harus terus mengeksplorasi bakat dan kemampuan kita. Tanyakan pada diri sendiri secara berkala, jangan menyerah, karena musuh terbesar dalam pencapaian mimpi kita adalah diri kita sendiri,” tambahnya.

Pak Ade Bungsu, Chief of Product Proposition & Sharia FWD Life, menjelaskan bahwa FWD Life sebagai asuransi hidup selalu menitikberatkan kontribusinya dalam menciptakan dan menumbuhkan passion generasi muda. Ia juga berharap setelah mengikuti talk show ini para siswa SMART yang hadir  tak akan berhenti belajar dan berkontribusi di masyarakat.

Selain membahas passion, kami juga diajak membedah Literasi Keuangan secara gamblang . “Kami menyadari bahwa Literasi Keuangan merupakan pengetahuan yang cukup sulit untuk dipahami. Oleh karena itu, FWD Life mengemas pembelajaran tentang literasi keuangan melalui permainan monopoli yang telah biasa dimainkan oleh anak-anak. Sehingga anak-anak akan mendapatkan pengetahuan sambil bermain,” tambah Pak Ade Bungsu.

P_20170613_163104

Setelah mendapatkan pemaparan seputar Literasi Keuangan, kami diajak bermain permainan Literasi Keuangan. Riuh aula dipenuhi sorak sorai kami ketika bermain, ternyata permainannya seru sekali, kami bisa bermain sambil belajar.

Terima kasih FWD Life atas pengalaman serunya, kami banyak belajar untuk mengenali diri lebih baik serta semakin semangat mengejar passion kami. Semoga kelak kami bisa menjadi orang yang mampu berkontribusi di masyarakat.

Oh iya sampai lupa,kamu juga bisa bergabung dalam program #FWDBebasBerbagi 2017 melalui  media sosial Facebook dan Twitter. FWD Life mengajak kamu semua untuk membagikan foto di akun media sosial FWD di mana setiap 1 share yang dilakukan akan bernilai Rp 5000. Hasil donasi program #FWDbebasberbagi2017 akan digunakan untuk membangun Ruang Audio Visual Pusat Sumber Belajar (PSB) Dompet Dhuafa Pendidikan yang setiap harinya dikunjungi oleh siswa SMART Ekselensia Indonesia dan masyarakat umum. (AR)

FWD Life dan Dompet Dhuafa berharap masyarakat dapat berpartisipasi dalam kegiatan ini. Semakin banyak masyarakat yang membagikan foto maka akan semakin banyak donasi yang terkumpul untuk mengembangkan media pembelajaran Literasi Keuangan bagi siswa SMART Ekselensia Indonesia.

13267730_10206470605225293_8166733316319150187_n

Ramadan Bernama Rindu

Oleh: Kabul Hiayatullah.

Alumni SMART Ekselensia Indonesia Angkatan 8, saat ini berkuliah di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

 

13267730_10206470605225293_8166733316319150187_nTakjil dan Ramadan sepertinya sudah seperti sahabat karib yang tak terpisahkan. Setiap kali bertemu Ramadan (hampir) selalu kita pikirkan takjil apa sore ini? Atau ketika akan berbuka kita sering bertanya-tanya: “Loh, takjilnya mana? Tumben nggak barengan?”

Ah takjil dan Ramadan memang sudah menjadi kawan yang akrab.

Begitu juga dengan Ramadan saya kali ini. Intensitas perjumpaan dengan takjil lebih sering dari biasanya. Di Ramadan tahun ini saya sudah menjelma menjadi seorang mahasiswa, saya juga diberikan amanah menjadi Ketua Lembaga Dakwah Asrama Universitas Indonesia atau Sahabat Asrama UI. Kalau biasanya kami menyediakan takjil untuk para mahasiswa sepekan sekali (khusus untuk mereka yang berpuasa sunah), sekarang hampir tiap hari.

Selesai dengan takjilan dan Salat Magrib, tugas saya selanjutnya ialah mengkoordinasi massa (baca: mahasiswa asrama) menuju Masjid UI menggunakan kendaraan identik, yak Bus Kuning. Pelaksanaan Salat Isya serta Tarawih khusus mahasiswa asrama UI memang dipusatkan di masjid kampus agar lebih semarak. Ya begitulah, Ramadan sebagai mahasiswa asrama terkadang membawa pikiran saya terbang ke masa lima tahun lalu sewaktu masih berasrama di SMART Ekselensia Indonesia.

Ramadan, sahur, buka puasa, dan tarawih adalah hal paling berkesan untuk saya. Tentu saja  karena kesemuanya tidak akan bisa ditemukan di sebelas bulan lain, dan masa-masa Ramadan di SMART adalah cerita lain. Cerita lain karena satu bulan penuh plus Lebaran saya habiskan dengan keluarga lain (baca: teman-teman asrama) karena kami semua tak pulang ke kampung halaman. Begitulah nasib anak rantau yang berjuang menuntut ilmu. Cerita lain karena banyak kenangan bersama para pembelajar sejati dengan rasa; tekad; dan semangat berjuang yang sama.

Lain padang lain pula belalang. Ketika sahur, jika anak-anak di sebuah keluarga dibangunkan dengan cara kekeluargaan, maka berbeda dengan kami yang dibangunkan menggunakan bel super cempreng (yang meninggalkan kesan teramat sangat di telinga). Belum lagi ustaz-ustaz pembina asrama yang rajin mengetuk pintu kamar sambal berkata: “Assalamu’alaikum. Ayo bangun tahajud dulu” atau untuk kesekian kali, “Ayo bangunkan temannya, sebentar lagi imsak tuh”.

Pun ketika siang hari (biasanya ba’da Zuhur), jika para ustaz menjumpai kami terlelap setelah membaca Quran di masjid, maka mereka akan membangunkan kami melalui pengeras suara. Tak pelak hal tersebut membuat kami ketar ketir, bahkan beberapa nampak masih setengah tertidur ketika bangun dari mimpi indahnya. Ada-ada saja memang.

Saat matahari condong ke barat, murotal sore mulai diputar seantero asrama. Itu tanda untuk kami yang masih saja berolahraga (walau berpuasa tapi main futsal atau latihan silat tetap berjaln) di lapangan untuk segera pulang dan bebersih lalu ke masjid. Di masjid, kami mengambil mushaf masing-masing lalu mencari tempat “semedi” terbaik untuk bekomunikasi dengan Sang Khalik. Jelang Magrib biasanya kami mengadakan nobar alias nonton bareng. Film Islami seputar perjuangan Sahabat Nabi seperti Umar bin Khattab menjadi pilihan jitu, karena mampu membakar semangat kami. Puas menyaksikan film, kegiatan selanjutnya kami habiskan untuk mendalami kisah tesebut hingga menjelang azan. Kala itu saya sering melihat kakak-kakak SDS (SMART Discipline Squad) membagikan takjil diberbagai penjuru masjid sambil memberi tanda centang di buku absensi angkatan.

Mungkin buka bersama untuk segelintir orang menjadi sangat istimewa, namun bagi kami waktu berbuka adalah waktunya kebersamaan dengan format yang tak dapat dijumpai di tempat bukber manapun. Di SMART ketika waktu berbuka tiba maka seluruh siswa dibagi menjadi beberapa kelompok kecil berisi sekitar sepuluh orang. Setiap kelompok berisikan seluruh angkatan (dari yang termuda sampai yang paling senior), oleh karenanya momen ini menjadi momen membaur dan momen keakraban antar angkatan.

Maka ketika ditanya berkesankah Ramadan di SMART ? Maka jawabannya adalah: “Bagaimana tidak?” Ketika saya diminta membuat tulisan seputar Pengalaman Ramadan Berkesan ini, iseng-iseng saya turut membuka laman web SMART,web almamater tercinta. Tiba-tiba saya jadi rindu dengan suasana SMART, dengan takjilannya, dengan antrean ketika mengambil takjil, dengan tidurnya, dengan ustaz-ustazahnya, dengan kenangannya, dan dengan semuanya. Rindu. (KH x AR)

IMG-20170610-WA0009

THR Penuh Kegembiraan

IMG-20170610-WA0007

Kalau kamu dengar kata Tunjangan Hari Raya (THR), apa yang pertama kali terlintas di benakmu? Belanja? Jajan? Disumbangkan? Ah pokoknya banyak yang bisa kamu lakukan dengan THR. Tapi kalau pelajar rasanya tak mungkin mendapatkan THR, karena THR biasanya hanya ditujukkan untuk mereka yang telah bekerja kan? Hmmm sedih juga sih, namun kami tetap bersyukur karena masih memiliki banyak hal untuk disyukuri.

IMG-20170610-WA0006

Kekuatan syukur memang luar biasa. Percayakah kamu kalau dari sebuah kata syukur bisa memuluskan berbagai hal? Kalau kami percaya sekali. Di bulan suci Ramadan ini berkah tak henti-hentinya menghampiri kami, salah satunya datang dari The Respect Indonesia. The Respect Indonesia merupakan satu-satunya komunitas lintas profesi yang ada di Indonesia, tahun ini mereka kembali mengadakan kegiatan Respect Berbagi dengan tema “Tanda Hati Respect”. Nah kegiatan yang rutin diadakan setahun sekali tersebut merupakan bentuk tanda syukur The Respect Indonesia, untuk merayakannya mereka mengajak 25 siswa berprestasi SMART Ekselensia Indonesia untuk berbelanja bersama di Transmart Carrefour Puri Indah. Tahukah kamu, ini merupakan pengalaman terbaik karena akhirnya kami bisa merasakan THR, iya pihak The Respect Indonesia memberikan kami THR berupa voucher belanja sebesar Rp 1.000.000. Masha Allah, kami kaget dan senang dibuatnya.

IMG-20170610-WA0009

Menurut Pak Feri Purwo, Ketua Umum Respect Indonesia, mereka ingin membagi rasa syukur serta kebahagiaan dengan berbelanja bersama kami, orangtua kami, dan para pendamping kami. Ak Feri juga mengungkapkan rasa bangganya atas berbagai capaian prestasi kami selama di SMART.

“Dari banyaknya ragam kegiatan bakti sosial, kami memilih kegiatan berbelanja bersama keluarga, karena kegiatan berbelanja bersama keluarga di supermarket tidak semua bisa mengalaminya. Saat Ramadan dan jelang lebaran ini kami ingin anak-anak SMART Ekselensia Indonesia yang berprestasi bisa merasakan kebahagiaan sebagai penghargaan atas prestasi yang sudah mereka raih selama ini,” ujarnya seraya memilihkan berbagai macam barang yang kami perlukan kala itu.

Walau nominal yang diberikan besar namun kami diberi tanggung jawab besar untuk membelanjakan barang dengan bijak. Bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk dibagi dengan teman lain di asrama. Kala itu kami menjelajah setiap sudut Transmart Carrefour dan memilih beragam barang yang kami mau dan kami sukai. Riuh rendah suara kami sembari mendorong troli ke sana dan ke sini, sesekali terdengar “sssht” dari mulut pendamping kami hihi.

IMG-20170610-WA0010

“Ramadan kali ini terasa berbeda untuk para siswa SMART. Biasanya kami menerima bingkisan, sekarang mereka diberi kesempatan untuk berbelanja langsung. Kesempatan yang jarang mereka rasakan, semoga kebahagiaan Ramadan mereka menjadi keberkahan untuk The Respect Indonesia. Kami ucapkan terima kasih atas kesempatan dan kebaikan yang diberikan The Respect Indonesia. Hanya Allah swt. yang bisa membalasnya,” ucapnya penuh haru.

IMG-20170610-WA0008

Kegiatan Berbelanja Bersama dikemas secara hangat, santai, dan kekeluargaan sekali deh. Kakak-kakak dari The Respect Indonesia baik sekali karena mau membantu kami memilihkan ini dan itu, bahkan memberikan nasihat sebelum mengambil barang yang kami butuhkan. Setelah selesai berbelanja, kami diajak beramah tamah dengan semua kakak-kakak The Respect Indonesia yang hadir. Setelahnya kami mengikuti tausiyah serta buka puasa bersama. Acara ditutup dengan pemberian bingkisan dari The Respect Indonesia untuk siswa SMART Ekselensia Indonesia. Wah pokoknya seru sekali.

IMG-20170610-WA0005

Pengalaman berbelanja bersama seperti ini sangat baru untuk kami, sampai kapanpun tak akan pernah kami lupakan. Selama berbelanja kami merasa terpecut untuk terus mengasah dan meningkatkan kemampuan diri agar kelak bisa menjadi orang yang mampu membantu orang lain. Kelak kami ingin melakukan hal serupa seperti yang dilakukan The Respect Indonesia. (AR x PM)