Akun Berita Hoax yang Menghibur

Oleh: Anisa Sholihat.

Duta Gemari Baca PSB Makmal Pendidikan, saat ini berkuliah di Fakultas Pendidikan Guru SD (UNJ)

 

Pada zaman modern seperti saat ini, perkembangan teknologi komunikasi dan informasi sudah semakin maju. Proses penyampaian pesan dan informasi tidak hanya dilakukan melalui surat menyurat ataupun Short Message Service (SMS), melainkan dapat dilakukan melalui gadget dan media sosial yang mutakhir seperti Twitter, Facebook (FB), Instagram (IG), Whatsapp (WA) dan BlackBerry Messenger (BBM). Hal itu mengakibatkan melesatnya penyampaian informasi yang terjadi di masyarakat. Membludaknya informasi yang kita terima melalui media sosial merupakan salah satu bukti kemajuan teknologi. Sayangnya, kemudahan untuk mendapatkan informasi tidak selalu memberikan dampak positif, terselip pula beberapa dampak negatif seperti mudah tersebarnya berbagai berita bohong yang tidak jelas kebenarannya atau berita hoax.

Berita-berita hoax sangat mudah kita temui ketika sedang berselancar di dunia maya. Parahnya, berita tersebut amat mudah tersebar dan menjadi viral di kalangan masyarakat. Rendahnya sikap kritis masyarakat ketika mendapatkan berita, menjadi salah satu penyebab menjamurnya peredaran berita hoax. Berita yang diterima melalui media sosial, biasanya ditelan mentah-mentah, kemudian segera dibagikan kepada khalayak ramai.

Bagi sebagian besar orang, berita hoax dianggap sangat meresahkan dan mengganggu. Namun, bagi beberapa orang yang memiliki daya kreativitas yang tinggi, viralnya berita hoax di masyarakat dimanfaatkan untuk membuat akun parodi yang memuat berita-berita hoax yang menggelitik dan memancing tawa pembaca. Berita-berita hoax tersebut tentunya sangat tidak serius dan hanya bertujuan untuk menghibur masyarakat, namun di sisi lain, mereka tetap meraup keuntungan, misalnya pendapatan dari iklan suatu produk karena viralnya berita yang mereka buat.

Berikut ini beberapa akun media sosial yang kerap mengunggah berita dan menyampaikan informasi yang tidak benar atau hoax dari sisi parodi yang tentunya sangat tidak serius dan menggelitik.

Liputan9

Akun Liputan9 merupakan akun parodi dari Liputan6 yang digagas oleh Federal Marcos dan diasuh oleh co founder Rahmat Saputra. Akun yang memiliki tagline kedaluwarsa, tumpul dan tidak dapat dipercaya ini dibentuk pada 14 Februari 2012. Latar belakang dibentuknya akun Liputan9 karena melihat peluang di mana saat itu belum banyak akun yang menyiarkan berita-berita parodi. Liputan9 hadir sebagai salah satu akun penyebar  berita parodi di sosial media. Tanggapan positif mereka terima dari masyarakat yang merasa terhibur, namun ada beberapa pihak yang kontra ketika membahas isu politik.

Selama lima tahun menggeluti akun Liputan9, tentu saja banyak sekali pengalaman dan suka duka yang tim Liputan9 rasakan diantaranya kebahagiaan karena mendapatkan keuntungan berupa invoice dari viralnya berita yang mereka buat serta iklan dari beberapa produk. Selain kisah bahagia, tentu terdapat pula kisah kurang menyenangkan, semisal, karya yang mereka buat diklaim oleh akun lain.

Berawal dari keisengan, kini, akun Liputan9 telah memiliki follower dalam jumlah fantastis, yaitu 868.000 pengikut di twitter, 9.000 pengikut di instagram dan 39.500 penyuka di LINE.

Contoh berita yang diunggah Liputan9:

“Perplocoan di dunia satwa, flamingo ini disetrap dengan mengangkat satu kaki.”

“Hormati bulan Ramadhan, Arsenal datang ke Indonesia dengan puasa gelar selama 8 tahun”.

“Harga bawang naik, Nia Ramadhani dan Revalina S. Temat sepi job”.

Rahmat Saputra, selaku co-founder liputan9, merasa sangat prihatin dengan banyaknya berita hoax yang beredar di media sosial dan dapat membuat orang lain saling membenci dan bermusuhan. Lebih disayangkan lagi, menurutnya, hoax menjadi bisnis menggiurkan bagi pihak tertentu. Meskipun ia juga memanfaatkan momen viralnya berita hoax, namun liputan9 tidak memprovokasi ataupun memberitakan kabar yang dapat meresahkan masyarakat. Berita-berita hoax yang diunggahnya, tak lain hanya bertujuan untuk menghibur masyarakat.

 

Berita Ngakak (@BeritaBodor)

Akun twitter Berita Ngakak (@BeritaBodor) dibuat pada 2011, setelah mengamati tren di kalangan anak muda. Seperti halnya Liputan9, akun Berita Ngakak pun menyajikan berita-berita parodi yang bertujuan menghibur pembaca, biasanya berita yang disiarkan berupa plesetan dari berita sungguhan.

Contoh berita yang diunggah Berita Ngakak di Twitter:

“Karena mata duitan, Tuan Crab ditangkap dan diperiksa KPK”

“Karena maraknya kebakaran akibat arus listrik hubungan pendek maka PLN akan merubah arus listrik jadi hubungan LDR.”

“Karena kebut-kebutan, jenazah di dalam mobil jenazah kini terbangun dan sopir mobil jenazah tersebut tewas karena terkena serangan jantung.”

Sampai saat ini, pengikut di akun twitter @BeritaBodor sebanyak 950.000 follower, sedang di instagram sebanyak 135.000 pengikut. Dengan followers sebanyak itu, bukan hal yang aneh jika mereka mendapatkan banyak sekali tawaran iklan dari berbagai produk. Dari situlah, mereka mendapatkan keuntungan.

Puasa dan Perubahan Sosial

P_20170131_073014

Oleh: Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia

Presiden Mahasiswa UGM, PM BAKTI NUSA 6 Yogyakarta

 

Tidak pernah ada peradaban, pemikiran, serta kebudayaan di mana pun yang dapat membentuk kepribadian secara kaffah sebagaimana yang telah Islam lakukan.

Dalam tulisan ini, penulis hendak mengajak kita berpikir kembali untuk melakukan aksi-aksi perubahan. Dengan itu tema yang hendak diangkat adalah puasa dan korelasinya dengan perubahan sosial.

Tentu pertama-tama, kita harus memulai perbincangan mengenai puasa dalam perspektif yang progresif; bukan sekadar menahan lapar, haus dan syahwat. Secara terminologi benar bahwa puasa dikenal sebagai upaya menahan lapar, haus, dan syahwat dimulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Namun, lebih jauh, kita menginginkan agar puasa menjadi sarana untuk mengeratkan diri dengan Sang Pencipta. Di saat bersamaan, puasa juga memiliki dampak secara sosial dengan mencipta perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik.

Perubahan-perubahan yang seperti apakah itu?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita bisa memahaminya secara jernih dengan terlebih dahulu mendengar firman Allah swt. dalam QS. Al Baqarah: 183, Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana orang-orang sebelum kamu agar kamu menjadi orang yang bertakwa”.

Dan juga mari kita telaah sebuah hadis berikut: “Dia meninggalkan makan, minum dan syahwat karena mencari keridhaanKu. Puasa adalah milik-Ku, dan Aku yang akan membe­rinya balasan khusus. Sedang kebaikan akan mendapat pahala sepuluh kali lipat.” (HR. Bukhari).

Dari kedua dalil di atas, menurut hemat penulis, setidaknya ada tiga dimensi yang layak untuk dielaborasi.

Pertama, puasa bermakna sebagai “suatu perjalanan spiritual”. Artinya, puasa membuat kita bisa lebih dekat pada-Nya. Kita menjadi gemar berefleksi tentang hidup,adalah sebuah kewajiban yang mendudukkan puasa sebagai rukun Islam keempat beserta penilaian khusus dari Allah swt. kepada hamba-Nya. Puasa dijadikan sarana berbagai kegiatan positif. Sehingga, berpikir dan bergeraknya manusia penuh dengan belas kasih, berharap selalu kepada ampunan-Nya dan berupaya untuk membebaskan diri dari api neraka.

Kedua, puasa sebagai bentuk ketertundukan kita kepada Allah swt. Di sini, puasa berguna untuk menunjukkan seberapa jauh kita mengakui diri sebagai makhluk, merasa tunduk, dan yang terkadang berpikir muluk. Terakhir, puasa sebagai sarana untuk mendidik diri. Dalam dimensi ini, kita secara sadar atau pun tidak merasakan bahwa bulan Ramadan mencipta perubahan-perubahan. Sebab, Ramadan telah melatih kita untuk terbiasa beramal sholeh dengan belajar untuk gemar memberi, tak kuasa melihat yang miskin dan dilemahkan, serta membentuk kesalehan sosial.

Tiga dimensi ini yang barangkali membuat kita mulai memahami konsepsi puasa sebagai ibadah yang progresif karena meletakkan kemanfaatannya pada upaya pembebasan dan perubahan sosial. Tentu kita sadar bahwa perubahan hadir dari hal terkecil, beranjak sedang dan mendewasa hingga kita tanpa sadar mengerti dengan sendirinya bahwa perubahan itu adalah keniscayaan.

Pertanyaannya, hendak diarahkan ke mana perubahan itu?

Dalam hemat penulis, sebagaimana di awal disampaikan, seharusnya perubahan itu hendak diarahkan kepada hal-hal yang baik dengan turut aktif membangun kehidupan bersama yang madani. Sebab, puasa seharusnya memastikan kita telah selesai dengan urusan pribadi, sehingga dengan ini kita bisa beranjak kepada persoalan keumatan. Lantas, perubahan itu tidak mungkin bersifat egoistis. Ia akan berupaya sekeras-kerasnya; sekuat-kuatnya untuk memelihara keyakinan terhadap perbaikan-perbaikan kehidupan dengan meletakkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.

Selain karena puasa sebagai sebuah kewajiban yang menyempurnakan rukun Islam, puasa juga hendak membuat setiap insan menjadi pribadi yang bertakwa. Takwa ialah menjalankan segala perintah Allah swt. dan menjauhi larangan-Nya. Dengan ketakwaan, kita akan mencapai derajat tertinggi sebagai “manusia paripurna”, yakni manusia mulia yang telah menjalankan tugasnya dengan baik sebagai khalifah di bumi serta melaksanakan perintah-perintah Allah sebagai seorang hamba, baik sebagai individu maupun sebagai anak bangsa yang hidup bermasyarakat.

Sehingga, puasa adalah sebuah satu kesatuan amal yang kemanfaatannya utuh dan menyeluruh kepada pribadi dan orang lain. Puasa akan mendudukan ketiga dimensi yang telah disampaikan di awal penjelasan kepada perubahan sosial yang mengandung karakter emansipatoris (pembebasan). Penekanannya terletak pada aspek empati. Maka, tidak salah apabila bulan Ramadan kita sebut sebagai bulan empati.

Dengan semua penjelasan ini, kita bisa menyimpulkan bahwa puasa adalah sesuatu hal yang menggembirakan. Bernilai kebajikan bagi yang melaksanakannya sepenuh hati. Puasa juga memiliki potensi untuk melakukan pelbagai perubahan sosial karena di sana telah diasah dan dididik untuk mencintai orang lain dibandingkan dengan diri sendiri.

Harapannya, kita akan segera mencapai tatanan masyarakat Indonesia yang madani dengan berkepribadian mulia sebagai manusia paripurna. Mari jadikan momentum puasa ini sebagai sarana melakukan perubahan diri dan sosial!

Rama Ahmad Nurfaizi: Impian Menjadi Hafizh Qur’an

IMG-20170607-WA0000

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie

GM SMART Ekselensia Indonesia Islamic Leadership Boarding School

 

Rama, demikian panggilan akrab siswa yang agak pemalu ini. Pemilik nama lengkap Rama Ahmad Nurfaizi ini telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an sebanyak 27 juz. Rama bertekad menyelesaikan hafalan Al-Qur’an 30 juz sebelum lulus dari Sekolah Pemimpin SMART Ekselensia Indonesia. Sebuah sekolah berasrama jenjang SMP dan SMA bebas biaya yang didirikan oleh Dompet Dhuafa untuk melahirkan generasi pemimpin yang bertakwa.

Kecintaan Rama pada Al-Qur’an berawal dari pesan sang Ayah ketika dirinya dinyatakan lulus sebagai penerima beasiswa SMART Ekselensia Indonesia. Pesan sang Ayah begitu membekas dalam hatinya, dan ketika melaksanakannya, Rama seperti merasakan kesejukan hati berinteraksi dengan Al-Qur’an.

“Nak, jika sewaktu-waktu kamu merasa bosan di sini, baca saja Al-Qur’an ya,” demikian pesan sang Ayah.

Rama mengaku bersyukur bisa bersekolah di SMART Ekselensia Indonesia. Pertama kali Rama terkesan dengan SMART Ekselensia Indonesia ketika mengikuti tes seleksi masuk SMART Ekselensia Indonesia. Saat itu, Rama melihat siswa-siswa membawa buku-buku tebal dan asyik membacanya. Dalam pikirannya, “Wah, hebat sekali sekolah ini. Siswa-siswanya rajin membaca”.

Kesan itulah yang memotivasi Rama untuk serius mengikuti seleksi masuk SMART Ekselensia Indonesia agar berhasil lolos. Ketika dinyatakan lolos seleksi, mulai tes potensi akademik, psikotes dan wawancara, dan home visit, Rama merasa bahagia dan bersyukur. Rasa syukurnya itu diwujudkan dengan bersungguh-sungguh belajar di SMART Ekselensia Indonesia. Terutama menekuni pembelajaran Al-Qur’an.

Rama mulai menghafal Al-Qur’an ketika kelas I semester II. Ketika semester I, ia fokus memperbagus bacaan Al-Qur’an (tahsin). Ini adalah prasyarat untuk bisa memulai menghafal Al-Qur’an.

“Pertama kali mulai menghafal Al-Qur’an ketika kelas I semester II. Waktu itu, saya diajari oleh Ustaz Syahid (Guru Tahfizh) metode Quranuna untuk menghafal Al-Qur’an. Ternyata hasilnya luar biasa. Saya bisa menyelesaikan hafalan 1 juz dalam waktu 1 bulan. Sejak saat itu, saya bersemangat menghafal Al-Qur’an dan menyetorkan hafalan saya kepada Ustaz Syahid,” terang Rama saat ditanya pertama kali menghafal Al-Qur’an.

Setelah menyetorkan hafalan, bukan berarti selesai. Justru, menurut Rama, yang lebih berat lagi adalah menjaga hafalannya. Karena itulah, Rama memacu dirinya untuk muraja’ah 5 juz per hari. Konsekuensinya jelas pada pembagian waktu harian yang ketat. Maka, tak heran jika guru-guru di sekolah seringkali melihat Rama membawa Al-Qur’an ke mana-mana. Saat ada waktu luang, terutama sebakda salat, ia manfaatkan untuk muraja’ah.

“Saya berusaha muraja’ah 5 juz per hari untuk menjaga hafalan. Untuk ini, terkadang saya tidur agak larut dibandingkan teman-teman sekamar. Karena, mesti menyelesaikan muraja’ah terlebih dahulu,” paparnya.

Sementara, untuk menambah dan memperlancar hafalan, Rama melakukannya pada waktu sebakda Asar hingga menjelang Magrib. Rama ingin mempersembahkan hafalan Al-Qur’an untuk Ayah tercintanya. Ia berdoa agar hafalan Al-Qur’annya menjadi syafa’at bagi Ayah dan Ibunya.

“Ayahlah yang pertama kali menumbuhkan kecintaan saya kepada Al-Qur’an. Ketika itu, yang terpikir oleh saya adalah saya ingin menghafal Al-Qur’an untuk mengikuti keinginan Ayah dan membahagiakannya,” tutur Rama berkaca-kaca.

Doa kami bersamamu, nak. Semoga kau menjadi Hafizh Qur’an yang saleh. Beramal dan berkarya dengan kompentensi Al-Qur’an yang kau miliki untuk dakwah Islam dan kemaslahatan umat. Semoga keberkahannya mengalir kepada guru-guru, sekolah ini, dan siapapun yang terlibat dalam gerakan dakwah yang mulia ini.

Mari bergabung dan bergandengan tangan bersama Dompet Dhuafa Pendidikan untuk menyalakan pelita harapan anak-anak yang kurang beruntung secara ekonomi melalui program-program pendidikan berkualitas. Salurkan zakat, infak, dan sedekah Anda ke: 2881 2881 26 BNI Syariah an. Yayasan Dompet Dhuafa Republika.

Syahrizal Rachim: Berdakwah Lewat Tulisan dan Media

IMG-20170605-WA0008-800x800

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie
GM SMART Ekselensia Indonesia Islamic Leadership Boarding School
Tidak banyak siswa yang memiliki kemampuan menulis dan jurnalistik yang mumpuni. Menulis masih menjadi momok bagi siswa. Menuangkan ide dan pendapat lewat tulisan rasanya seperti harus memanggul beban berton-ton. Namun, tidak demikian dengan Syarhrizal Rachim. Siswa Sekolah Pemimpin SMART Ekselensia Indonesia asal Depok ini sangat mencintai dunia tulis-menulis dan jurnalistik.

“Pertama kali saya terkesan dengan SMART Ekselensia Indonesia ketika tes potensi akademik. Ketika itu, selain tes matematika dasar dan Agama Islam, ada tes mengarang tentang cita-cita. Saya excited banget. Wah, ini sekolahnya beda banget dengan yang lain,” tutur Syahrizal penuh ekspresi.

Karena itu, ketika Syahrizal dinyatakan lulus sebagai penerima manfaat beasiswa SMART Ekselensia Indonesia, ia sangat antusias dan yang paling memacu adrenalinnya belajar di SMART Ekselensia Indonesia adalah ekstra kurikuler (ekskul) jurnalistik. Syahrizal pun langsung mendaftar di ekskul jurnalistik dan bertekad berbuat sesuatu dengan ekskul ini.

“Mengapa saya tertarik dengan menulis dan jurnalistik? Karena, lewat menulis dan  jurnalistiklah saya bisa berpendapat dan menyampaikan gagasan secara elegan dan beretika,” papar Syahrizal.

Dengan kepiawaiannya menulis, guru pembimbing ekskul jurnalistik mendapuk Syahrizal menjadi pemimpin redaksi majalah S’Detik, majalah yang diterbitkan oleh ekskul jurnalistik. Target prestasi langsung dicanangkan olehnya dalam satu tahun periode kepemimpinannya. Ketika itu, Syahrizal kelas 3 SMART Ekselensia Indonesia.

Hasilnya, pada Oktober 2015 lalu, Syahrizal berhasil membawa tim S’Detik meraih Juara I pada Lomba Karya Jurnalistk Siswa Tingkat Nasional di Solo yang diselenggarakan oleh Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Bahkan, secara individu, Syahrizal berhasil menyabet penghargaan untuk kategori The Best Opinion.

Perjuangan panjang itu berbuah manis. Karena, sebelumnya Syahrizal dan tim mesti melewati kompetisi di level kabupaten dan provinsi. Syukur Alhamdulillah, Syahrizal dan tim berhasil mengungguli para kompetitornya dan melenggang ke tingkat nasional, dan akhirnya berhasil menyabet Juara I untuk mengharumkan nama Sekolah Pemimpin SMART Ekselensia Indonesia.

Tidak sampai di sini kiprah Syahrizal, rupanya ia punya visi besar dengan jurnalistik. Syahrizal bercita-cita berdakwah lewat tulisan dan media. Ia bercita-cita menjadi pengusaha dibidang media. Lewat media, Syahrizal ingin mendakwahkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

“Bagi saya, menulis dan jurnalistik adalah hobi saya. Menulis dan jurnalistik seperti bagian hidup saya yang tidak terpisahkan dengan diri saya. Lewat media dan jurnalistik, saya ingin mendakwahkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Saya terinspirasi dengan surat kabar Republika,” terang Syahrizal ketika ditanya tentang cita-citanya.

Ya, meski terlahir dari keluarga yang kurang beruntung secara ekonomi, Syahrizal menancapkan cita-citanya setinggi angkasa untuk Islam dan Indonesia.

Kami tunggu karya-karya besarmu, nak. Mendakwahkan Islam lewat tulisan dan media. Kabarkan ke segenap penjuru Indonesia dan dunia tentang Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Agar cahaya Islam yang indah dan damai menerangi semesta dunia.

Mari bergabung dan bergandengan tangan bersama Dompet Dhuafa Pendidikan untuk menyalakan pelita harapan anak-anak yang kurang beruntung secara ekonomi melalui program-program pendidikan berkualitas. Salurkan zakat, infak, dan sedekah Anda ke: 2881 2881 26 BNI Syariah an. Yayasan Dompet Dhuafa Republika.

 

The Power of Nyinyir

Oleh: Susilowati, S.Pd

Anggota Komunitas Media Pembelajaran (KOMED) Makmal Pendidikan sekaligus Aktivis Komunitas Guru Menulis (KAGUM)

Nyinyir dalam kamus besar bahasa Indonesia mengandung kata kerja sekaligus kata sifat. Nyinyir adalah kata kerja yang artinya mengulang-ngulang pembicaraan sambil membebek, ngenye, atau mencibir. Bisa kita simpulkan bahwa nyinyi\r adalah kata atau kalimat-kalimat yang memiliki kesan nada sinis dan merendahkan lawan bicara kita baik secara individu maupun kelompok.  Fenomena bahasa nyinyir ini sedang hangat, mengeliat, dan membaur dalam setiap space kalimat yang dipos oleh teman-teman kita di media sosial. Biasanya tulisan bernada nyinyir ini betah membenam di saat kejadian-kejadian terhangat yang terjadi di negeri ini. Sebagai contoh nyata adalah gelombang aksi damai yang telah terjadi di tiga putaran yang diselenggarakan di ibu kota negara. Aksi damai yang dilakukan jutaan ummat Islam dari berbagai penjuru daerah di Indonesia. Ada pro ada kontra itu sudah pasti. Dari pro dan kontra inilah undangan kata –kata nyinyir menghambur keluar begitu saja. Tak peduli norma atau etika. Yang terpenting melalui kalimat-kalimat tersebut terekspresikan syahwat bicara (syahwatu qoola) untuk melemahkan lawan bicara baik dari pihak yang pro maupun yang kontra. Dapat dipastikan bahwa kalimat nyinyir menjadi kendaraan terkuat dalam perang opini di tengah problematika ummat saat ini, tanpa terkecuali.

Bagaimana Islam memandang fenomena ini?  Mari kita renungkan kembali beberapa hadis berikut ini:

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklan bicara yang baik-baik atau diam (HR. Bukhari)”

“Seorang mukmim bukanlah pengumpat, pengutuk, berkata keji atau berkata busuk (Hr. Bukhari dan Al Hakim).”

“Kebanyakan dosa dari anak Adam karena lidahnya (HR. Ath-Thabrani dan Al-Bihaqi)”

“Yang paling aku takutkan dari ummatku adalah orang munafik yang pandai bersilat lidah (HR. Abu Ya’la)”

Risalah Islam memerintahkan kaum muslim agar menjaga lisan (lidah), gunakan lisan untuk berbicara hal-hal yang baik saja atau lebih baik diam, tidak mengumpat, tidak menyakiti , bahkan berkata keji. Atau bicara dalam kepura-puraan.

Islam memberi perhatian khusus tentang lisan. Kalimat-kalimat yang diucapkan oleh seorang muslim baik yang menyangkut urusan pribadi maupun orang banyak hendaknya berasaskan  sumber atau ajaran Islam yang benar. Karena lengkapnya ajaran Islam meliputi seluruh persoalan hidup ummatnya. Jangan berbicara atau jangan mengikuti jika kita tidak mengetahui tentangnya atau janganlah bertaqlid (mengekor) buta tanpa risalah yang benar baik sumber maupun asalnya. Kelak apa-apa yang kita lisankan akan mengundang pertanggungjawaban dihadapan-Nya. Nasihat dan seruan dalam Islam tidaklah menyakiti. Nasihat atau kata dalam Islam yang bersumber dari ajaran Islam mengandung kebenaran sejati yang dapat memuaskan akal dan menentramkan hati karena bersumber dari pemikiran yang cerdas dan cemerlang (Fikrul mustaniir).

Kita kembali ke kalimat-kalimat nyinyir tadi, apakah kalimat-kalimat tersebut bisa dipertanggungjawabkan? Atau malah memicu pertengkaran antar pribadi atau kelompok. Kita sudah bisa menilai dan bila itu terjadi tentunya menjadi pertanggungjawaban masing-masing baik di hadapan manusia maupun di hadapan Sang Khalik. Kalimat atau pernyataan baik itu muncul dari pribadi cerdas, cerdas karena isi kepalanya memiliki sumber perkataan yang berasal dari kajian ilmu yang ia miliki. Ia tidak membebek atau pun nyinyir bahkan sekadar ikut-ikutan. Mulutmu harimaumu itu adalah benar. Bagaimana jika kita ingin memiliki harimau yang jinak? Maka carilah ilmu untuk menjinakan harimau tersebut. Begitu pula dengan kata. Jika kita ingin memiliki kata atau kalimat yang baik, menentramkan, menunjukan kebaikan kepada orang lain berdasarkan pandangan agama, maka carilah ilmunya.
Mari bijak dalam berkata, karena kekuatan sebuah kata adalah ilmu. The power of  the speech is  knowledge. Mari kita berikan setiap kata adalah inspirasi, bukan menyakiti. Berkatalah dengan ilmu. Wallahu’alam.

Home Stay Idul Fitri SMART Ekselensia Indonesia

IMG-20170605-WA0002-1-768x1090

Apa itu program HOME STAY IDUL FITRI?

Home Stay Idul Fitri merupakan gerakan kepedulian dan berbagi  inspirasi serta kehangatan keluarga  untuk siswa SMART Ekselensia Indonesia Islamic Leadership Boarding School, dikemas dalam program orangtua asuh (Host Parents) selama liburan Idul Fitri. Gerakan ini mengajak keluarga Indonesia yang memiliki nilai-nilai  luhur dalam keluarga dan pencapaian penghidupan yang baik untuk berbagi inspirasi, motivasi, dan keteladanan.

Mari berkenalan dengan siswa SMART Ekselensia Indonesia Islamic Leadership Boarding School

Siswa SMART Ekselensia Indonesia Islamic Leadership Boarding School adalah anak-anak Cerdas Istimewa Berbakat Istimewa (CIBI) dan berasal dari keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah. Orangtua mereka  adalah buruh tani, nelayan, tukang becak, pedagang asongan, guru honorer, guru mengaji dll. Tidak sedikit dari mereka yang sudah kehilangan ayah atau ibu, bahkan kehilangan keduanya. Kami memilih mereka dari berbagai daerah di penjuru  nusantara dengan seleksi yang ketat dan menyemainya di sekolah SMART Ekselensia Indonesia Islamic Leadership Boarding School.
Saat liburan Idul Fitri mereka tidak dapat berkumpul dengan keluarga di kampung halaman, karena waktu libur panjang dan pulang kampung sekolah SMART Ekselensia Indonesia Islamic Leadership Boarding School dilakukan setahun sekali pada Januari.

Mari mengenal SMART Ekselensia Indonesia Islamic Leadership Boarding School

SMART Ekselensia Indonesia Islamic Leadership Boarding School , sebagai salah satu program Pendidikan dari Dompet Dhuafa Pendidikan (DDP), merupakan bagian dari masyarakat yang memiliki tanggungjawab moral serta komitmen untuk mempersiapkan calon pewaris negeri, dengan mengusung visi “Menjadi Sekolah Model yang Melahirkan Generasi Berkepribadian Islami, Berjiwa Pemimpin, Mandiri, Berprestasi, dan Berdaya Guna”. Untuk mewujudkan visi tersebut, maka sekolah ini terus berikhtiar untuk senantiasa memberikan layanan pendidikan yang berkualitas melalui penyediaan program-program untuk meningkatkan kompetensi (competency) dan karakter (character) peserta didiknya, kurikulum 2013 berbasis Sistem Kredit Semester (SKS) dan berasrama (boarding). Hingga tahun 2017 siswa SMART Ekselensia Indonesia Islamic Leadership Boarding School mencapai 14 angkatan dan telah meluluskan sebanyak  9 angkatan yang telah tersebar di perguruan-perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi luar negeri.

Syarat dan ketentuan menjadi keluarga Host Parents?

  1. Keluarga Muslim
  2. Domisili wilayah JABODETABEK
  3. Mengisi Form Pendaftaran Calon Host Parents
  4. Menandatangani surat kesediaan menjadi Host Parents
  5. Menyediakan diri dan keluarga menerima siswa SMART Ekselensia Indonesia Islamic Leadership Boarding School untuk menjadi bagian dari keluarga minimal 3 (tiga) hari, maksimal 2 (dua) pekan, dengan rentang durasi waktu program Home Stay dari tanggal 19 Juni 2017–02 Juli 2017
  6. Mencukupi kebutuhan siswa selama menjadi bagian dari keluarga Host Parents
  7. Memperlakukan siswa SMART Ekselensia Indonesia Islamic Leadership Boarding School seperti anggota keluarga lainnya, tidak memposisikan sebagai tamu atau pekerja dan dalam lingkungan Islami
  8. Siswa peserta Home Stay akan diantar ke rumah keluarga Host Parents
  9. Dan siswa diantar kembali ke sekolah SMART Ekselensia Indonesia Islamic Leadership Boarding School  oleh Host Parents
  10. Host Parents diharapkan dapat memantau dan memberi catatan pada buku monitoring Home Stay yang diisi oleh peserta Home Stay sebagai bahan evaluasi siswa yang ikut program Home Stay.

Bagaimana cara mendaftar menjadi Host Parents?

  1. Formulir dapat diunduh disini [Download]
  2. Dapat menghubungi narahubung Home Stay Idul Fitri 1438 H dan meminta dikirimkan formulir via email

Kapan Waktu Pelaksanaannya?

  1. Pembukaan pendaftaran Host Parents (6 – 14 Juni 2017)
  2. Fiksasi calon Host Parents (15 Juni 2017)
  3. Siswa mulai diantar ke rumah Host Parents (19 Juni 2017)
  4. Rentang Waktu siswa Home Stay  di rumah Host Parents dari tanggal 19 Juni 2017 – 02 Juli 2017  
  5. Siswa diantar kembali ke SMART Ekselensia Indonesia Islamic Leadership Boarding School oleh Host Parents sesuai dengan jangka waktu yang disepakati oleh Host parents dan panitia.

Sekretariat Panitia,
SMART Ekselensia Indonesia Islamic Leadership Boarding School
Jl. Raya Parung – Bogor Km.42 Desa Jampang Kecamatan Kemang Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16310
Narahubung: Aidil Azhari Ritonga 
Nomor gawai: 081385641245 (Whatsapp)
Email: aidil@dompetdhuafa.org

Pancasila, Cita-Cita atau Angan Semata?

foto-20-01(2)

Oleh: Andi Ahmadi.
Pegiat Literasi Sekolah Literasi Indonesia Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa

Jika mendengar kata Pancasila, barangkali yang terbersit di benak sebagian masyarakat Indonesia adalah kebhinekaan atau keberagaman. Hal tersebut wajar saja, terlebih lagi akhir-akhir ini isu yang mencuat ke permukaan adalah tentang keberagaman.

Berbicara masalah keberagaman, rasanya tidak berlebihan jika saya menganggap Indonesia adalah negara percontohan. Karena terbukti sudah berpuluh-puluh tahun Indonesia besar dan damai dalam keberagaman. Meminjam istilah Bapak Anies Baswedan, bahwa keberagaman di negeri ini adalah fakta, maka bukan lagi harus diupayakan, melainkan harus dirawat keberadaannya.

Ketika membincang mengenai cita-cita luhur Pancasila, justru yang masih menjadi PR besar negara ini adalah bagaimana mengupayakan terwujudnya keadilan sosial, seperti yang termaktub dalam sila kelima; keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia; dan berbicara masalah keadilan sosial di negeri ini rasa-rasanya masih sangat jauh dari yang dicita-citakan. Jauh panggang dari api, begitulah peribahasa yang tepat untuk menggambarkannya.

Jika kita benar-benar mau membuka mata (hati) kita, maka kita akan melihat betapa ketimpangan di negeri ini begitu menganga. Mulai dari ketimpangan ekonomi, penegakan hukum, hingga pelaksanaan pendidikan sebagai upaya pencerdasan anak bangsa. Puisi “Tapi Bukan Kita Punya” Pak Jenderal setidaknya bisa menjadi gambarannya.

Dalam tulisan ini, saya akan fokus pada keadilan sosial yang belum merata di sektor pendidikan.

Seorang guru di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, pernah berujar kepada saya bahwa guru-guru di sekolah tempat ia mengajar hampir tidak pernah mengikuti yang namanya pelatihan. Bukan karena tidak mau, tapi karena tidak adanya kesempatan yang diberikan. Sehingga kompetensi guru pun hanya ala kadarnya. Hal ini tentu akan berimbas kepada kualitas muridnya.

Kualitas guru memang menjadi masalah krusial di negeri ini. Tuntutan pemerintah untuk melahirkan peserta didik berkualitas nyatanya tidak dibarengi dengan upaya serius untuk meningkatan kualitas pendidiknya, khususnya yang berada di daerah. Kalaupun ada guru berkualitas di negeri ini, sebagian besar terpolarisasi di kota-kota maju saja.

Kedua, di samping masalah kualitas guru, yang juga masih menjadi persoalan yang belum terpecahkan adalah mengenai kesejahteraan guru, khususnya guru yang berstatus honorer/guru bantu. Adalah Pak Edi, seorang guru di Engkerengas, sebuah desa kecil di pedalaman Kapuas Hulu, yang setiap pulang dari sekolah harus menjadi buruh pengangkut kayu demi mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Tiap hari ia harus naik-turun bukit, karena nyatanya gaji dari sekolah 150 ribu perbulan tidak cukup untuk menghidupi anak istrinya.

Barangkali ini adalah masalah klasik yang sudah sering kita dengar. Namun sesungguhnya ini bukanlah masalah yang sederhana. Tugas guru amatlah berat. Bagaimana mungkin seorang guru bisa sepenuhnya fokus memikirkan kualitas pendidikan jika ia sendiri belum selesai dengan masalah pribadinya. Di samping mereka berpikir bagaimana mencerdaskan murid-muridnya, mereka juga harus berpikir keras bagaimana agar dapur tetap bisa mengepul.

Selain kualitas dan kesejahteraan guru, masalah ketiga yang menjadi kesenjangan di pendidikan Indonesia adalah mengenai akses. Berbicara masalah akses tentu banyak sekali ketimpangan antara sekolah yang berada di kota dan sekolah di pedalaman. Salah satunya adalah akses terhadap sumber belajar, dalam hal ini buku berkualitas.

Tidak bisa dipungkiri bahwa buku adalah teman belajar paling baik, setelah guru tentunya. Ketika anak-anak di kota dengan mudahnya mendapatkan buku berkualitas, anak-anak di pedalaman bahkan tidak tahu apa yang harus dibaca. Sehingga tidaklah heran melihat mereka begitu senang ketika ada donasi buku yang sampai kepada mereka, meskipun itu hanya buku bekas yang mulai pudar warnanya.

Ketiga persoalan di atas hanyalah sebagian dari masalah-masalah pendidikan yang ada. Namun jika ketiga persoalan tersebut mampu diatasi, setidaknya ada rasa optimis bahwa pendidikan Indonesia akan menemui titik terang. Maka seyogyanya pemerintah harus menjadikan upaya peningkatan kualitas guru di daerah menjadi prioritas utama pembangunan pendidikan. Sehingga kesenjangan kualitas pendidikan antara di kota dan pedalaman bisa diminimalisasi.

Setelah guru ditingkatkan kualitasnya, selanjutnya adalah ditingkatkan kesejahteraannya. Bagi guru honorer/guru bantu yang berkualitas harus diberikan tunjangan lain sebagai apresiasi atas pengabdian dan prestasinya. Dengan demikian gap antara guru PNS dan guru honorer bisa menipis. Sehingga tak ada lagi anggapan bahwa guru honorer diperlakukan seperti sapi perah.

Dan yang tak kalah penting adalah penyediaan akses terhadap buku berkualitas. Pemerintah selayaknya membuat sistem perbukuan yang baik agar buku berkualitas bisa terdistribusi secara merata ke setiap daerah di republik ini. Ketika setiap anak di negeri ini memiliki akses yang mudah dalam memperoleh buku berkualitas sebagai sumber belajar, maka setiap anak Indonesia akan memiliki peluang yang sama untuk berprestasi.

Olehnya, di hari lahirnya Pancasila ini, rasanya kita tak perlu berlebihan meneriakkan tentang keberagaman, karena keberagaman di negeri ini sudah benar adanya. Kita tinggal merawatnya agar tidak terurai. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita memastikan Pancasila sebagai ideologi negara bisa tuntas pengamalannya hingga sila kelima. Sehingga cita-cita luhur pendiri bangsa yang tertuang dalam Pancasila tak hanya menjadi angan semata.