IMG-20170814-WA0001

Oleh: Asep Rogia

Kesiswaan SMART Ekselensia Indonesia

Banyak kecerdasan hilang, kepekaan tumpul, perkembangan macet karena anak cerdas tidak dididik, tidak dibimbing, tidak dikembangkan di lingkungan yang baik. Ibaratnya bagaikan mengembangkan bibit unggul maka diperlukan tanah subur, pupuk terbaik, dan udara yang segar.

Kehidupan para siswa selama di SMART adalah miniatur kehidupan kader-kader mundzirul-qoum, khoiru-ummah pembina umat insan-insan pilihan;  setelah mereka kembali ke masyarakat.

Mereka tidak dilatih untuk hanya menjadi khadim, “pelayan”, atau pekerja yang dibayar sekenenaya, namun juga dipersiapkan untuk menjadi pemimpin masa depan mumpuni. Oleh karenanya pada Sabtu (06-08) dilangsungkan kegiatan Pelatihan Dasar Kepemimpinan (PDK)  2 di Aula Al-Insan Lembaga Pengembangan Insani, Jawa Barat. Kegiatan kepemimpinan ini ditujukan untuk para siswa yang duduk di kelas IV dan XI.

Selama lima jam lamanya para siswa digembleng oleh para alumni SMART yang diadaulat sebagai pembicara. Alhamdulillah acara berlansung dengan sangat baik. Kegiatan PDK menjadi bukti bahwa pola proses pendidikan SMART menghasilkan output berjiwa pemimpin.

Oleh: Muhammad Habiburahman

Alumni SMART Angkatan 9 saat ini berkuliah di UNS Jurusan Sastra Indonesia 2017

Aku tahu ini bukan Georgia, Rendra.
Tidak ada Negro di sini, kecuali si Jawa
Dan gereja boleh dimasuki siapa saja

Tidak ada yang menderita, di sini
Kecuali tukang becak yang seharian pulas
Tertidur dalam pangkuan becaknya

“Betsy.
Di mana engkau, Betsy?”
“Kulo senes Betsy.
Niki kulo, Pariem.”

Ini bukan Georgia, Rendra.
Ini Solo, tempat mbok Pariem menahan
kesedihan dalam pejam matanya.

Solo, 2017

Oleh: Muhammad Wahyudin Nur

Alumni SMART Angkatan 8 saat ini berkuliah di UNPAD Jurusan Sastra Arab 2017
khalKemarin sore saya mampir ke sebuah ATM di dekat kampus UPI, Cibiru, Bandung, lalu di depan pintu ATM saya melihat peminta sumbangan membawa sebuah amplop besar. Awalnya ragu, namun teringat kalau saya memiliki banyak uang receh kembalian memfoto kopi berkas, karena niatan hati ingin memberi maka saya bawa masuk saja amplop itu ke dalam ATM.

Entah kanapa tiba-tiba recehan yang tadi banyak tiba-tiba sulit sekali diambil, saking sulitnya sampai tak terasa antrrean di luar mengular. Rasa tak enak membuat orang mengantre lama, maka saya urungkan niat untuk mengambil uang dan bergegas keluar lalu menyerahkan amplop kosong ke peminta sumbangan. Malu bercampur tak enak saya memutuskan untuk pulang ke rumah, sesampainya di rumah uang yang saya niatkan untuk disumbnagkan raib entah ke mana. Fix kantong saya hampa dan hanya tersisa dua butir uang logam. Nahas memang, namun saya belajar satu hal yakni kalau kita jangan pernah menunda sedekah. Masha Allah.

Setelah kejadian di atas saya memtuskan untuk menjadi lebih peka terhadap keadaan, apalagi saya juga disibukkan dengan daftar ulang ini dan itu. Nah menurut kabar yang saya terima peserta daftar ulang WAJIB membawa rapor asli untuk ditunjukkan kepada panitia. Saya tiba-tiba gelisah, perasaan tak enak, benar saja ternyata rapor saya tertinggal di Marga Asih, daerah tempat saya menuntut ilmu tahfiz selama setahun terakhir ini. PANIK! Akhirnya  saya menghubungi teman untuk mengantarkan rapor ke kampus. Miris, tak ada yang bisa membantu karena mereka juga sibuk. Saya lemas karena takutnya disuruh kembali lagi le kampus keesokan hari sementara rapor tak saya pegang, belum lagi uang saya juga menipis dan ongkos ke Marga Asih lumayan banyak.

Saya hanya bisa berdoa yang terbaik kepada Allah. Tiba-tiba saja Allah mengirimkan jawabannya secepat kilat, ternyata berkas rapor asli tak terlalu dibutuhkan. Rasa senang tak bisa saya bendung. Lagi-lagi saya belajar bahwa cinta Allah untuk hambanya luar biasa sekali.