SMART Kedatangan Direktorat Keuangan TNI Angkatan Darat

IMG-20170920-WA0006

Kemarin, Rabu ( 20-09), kami mendapat kunjungan dari Direktorat Keuangan TNI Angkatan Darat (DITKUAD) dan Persatuan Instri TNI (PERSIT) Kartika Candra Kirana Cabang 17 lho. Rombongan tamu yang berjumlah lebih dari empat puluh orang ini disambut dengan penampilan tim musik ensamble siswa SMART Ekselensia Indonesia. Penampilan sederhana berupa lagu-lagu daerah ternyata begitu menarik perhatian para tamu, bahkan ketika penampilan selesai, mereka meminta kami untuk mengulangi lagi lagu Manuk Dadali. Wah bangganya. Di akhir penampilan, kami semua diminta memperkenalkan diri dan menyebutkan asal daerah kami.

IMG-20170920-WA0005

Hafiz dan Devon, kelas 5, didaulat menjadi pemandu acara kunjungan. Dengan gaya khas mereka yang kocak dan komunikatif keduanya mampu membuat para anggota TNI menikmati jalannya acara, bahkan ada sesi di mana para anggota TNI dan kedua pemandu acara saling berbalas pantun hingga membuat suasana semakin ceria.

IMG-20170920-WA0004

Selain hiburan, SMART juga turut memperkenalkan Rama, teman kami yang juga seorang Hafiz Quran. Sosok Rama membuat ibu Angelia, istri DIRKUAD Brigjen TNI Sasongko Hardono, dibuat kagum karenanya. Untuk menguji kemampuannya, ibu Angelia memberikan tes kepada Rama untuk meneruskan bacaan Al-Qur’an yang ia bacakan. Ia semakin kagum karena Rama berhasil menjawab tantangan dengan sangat baik.

IMG-20170920-WA0003

Pada kunjungan kali ini, DIRKUAD dan PERSIT juga memberikan donasi berupa alat olahraga untuk mendukung kegiatan kami di sekolah. Kunjungan dilanjutkan dengan touring di lingkungan Dompet Dhuafa Pendidikan dipandu oleh M. Syafiie, GM SMART, serta Hafiz dan Devon sebagai perwakilan siswa. Para tamu juga berkesempatan melakukan interaksi dengan teman kami lainnya di kelas saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Seru sekali deh.

Kunjungan DIRKUAD dan PERSIT ini diharapkan menjadi gerbang pembuka kerjasama dan sinergi yang baik antara pihak TNI dan SMART Ekselensia Indonesia, aamiin.

Bahkan, Para Sahabat yang Mulia Itupun Pernah Bersitegang

Oleh: Syafei Al Bantanie
GM SMART Ekselensia Indonesia

Kisah ini ditulis dengan indah dalam Sirah Nabawiyah. Kisah yang membuat saya semakin cinta dengan agama ini (Islam), baginda Nabi tercinta, dan para sahabat mulia.

Satu hari, sebakda melakukan perjalanan panjang nan melelahkan, Rasulullah dan para sahabat singgah di sebuah tempat. Haus terasa mencekik. Maklum saat itu tengah musim panas dengan teriknya.

Beberapa sahabat Anshar segera mengambil air. Pun dengan beberapa sahabat Muhajirin. Di tengah perjalanan mengambil air, karena lelah yang sangat, sahabat Anshar bertabrakan dengan sahabat Muhajirin. Tumpahlah air masing-masing. Terjadi ketegangan mulut di antara mereka.

Mengetahui ketegangan yang terjadi, apa yang dilakukan sahabat-sahabat senior? Sebuah demonstrasi kualitas individu dan akhlak mulia. Sahabat Umar bin Khattab tidak menunjukkan ego sektoralnya dengan membela Muhajirin. Pun dengan sahabat Sa’ad bin Muadz tidak menampilkan ego sektoralnya dengan mendukung Anshar.

Sahabat-sahabat senior itu dengan kata-kata penuh hikmahnya berupaya mengingatkan tentang persaudaraan di antara mereka. Tentang ukhuwah yang telah terajut mesra.

Yang paling memikat hati adalah apa yang dilakukan oleh Rasulullah. Baginda Rasul menyerukan agar perjalanan segera dilanjutkan agar cepat sampai Madinah. Ada apa dengan Madinah?

Rupanya baginda Rasul ingin membangkitkan memori indah para sahabatnya. Madinah adalah rumah bersama. Di Madinah mereka merajut persaudaraan yang indah. Kualitas persaudaraan yang hanya ada dalam Islam. Sebagaimana, dilukiskan dengan memesona dalam QS. Al-Hasyr ayat 8-10. Mereka, Muhajirin dan Anshar, saling mencintai, mengutamakan saudaranya, dan sama sekali tiada dengki di antara mereka.

Begitu sampai Madinah. Baginda Rasul mengingatkan tentang memori indah persaudaraan para sahabat. Detail dengan sudut-sudut di Madinah yang menjadi saksi bisu betapa indahnya persaudaraan mereka. Para sahabat pun mengharu biru. Mereka yang bersitegang itu saling berpelukan satu sama lain. Mereka saling meminta maaf. Ah, indah sekali. Indah…

Bersaudara sesama muslim memang bukan berarti tiada perselisihan di dalamnya. Bukankah dalam QS. Al-Hujurat ayat 9, sebakda menegaskan Mukmin itu bersaudara, lanjutan ayatnya adalah, “…maka damaikanlah di antara saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”

Inilah indahnya persaudaraan sesama muslim. Ketegangan dan perselisihan di antara mereka tetap dalam bingkai ukhuwah. Justru hal ini kemudian membuat mereka lebih saling memahami, mengerti, dan menyayangi satu sama lain.

Semoga Allah Yang Maha Rahman dan Maha Rahim mengumpulkan kita kembali di surga Firdaus bersama baginda tercinta Nabi Muhammad saw., keluarga, dan para sahabat mulia.

Bagimu Guru Jiwa Raga Kami

Oleh: Asep Rogia
Kesiswaan SMART Ekselensia Indonesia

Jiwa guru pejuang bukan hanya mengajar mata pelajaran tertentu, tetapi juga mengajarkan seputar kepemimpinan dan perjuangan.

Karena sejatinya para siswa membutuhkan pemantapan seputar keduanya, karena kedua hal tersebut menentukan keberhasilan usaha pengajaran dan pembinaan umat seperti diteladankan oleh pejuang-pejuang dan pahlawan-pahlawan sejati sebelumnya.

Karisma, reputasi, kondite, pamor, wibawa, pengaruh dan popularitas atau semacamnya hanyalah bonus dari usaha keras guru dalam memberikan yang terbaik kepada anak didiknya, bonus atas usahanya bermujahadah ikhlas dan berusaha mengoptimalisasi amal sholih hanya karena Allah swt.

Sama halnya seperti para gurudi SMART Ekselensia Indonesia yang telah mengabdikan keilmuannya dijalan Robb Jalla Jallaluhu guna mewariskan dzurriyah/generasi yang saliimul akidah, shohihul ibadah dan matinul akhlak. Kami hanya berharap kelak para siswa SMART akan menjadi pribadi-pribadi yang bermanfaat aamiin.

Alfaqir bil ilmi.

(Telah mengalami proses editing oleh AR)

Pulang

Merdu-merdu sayup di telinga,

merah nyalang yang tak padam
menjadi baris kesekian,
untuk pulang untuk waktu,
tanpa lagu

Sebab waktu bukan lagu
yang dapat kau putar ulang,
ada yang hilang mereka bilang,
kata-kata di atas kertas tak lagi sumbang,
degup di jantung tak lagi rumpang,
nyawa di setiap napas tak lagi hilang,

“Karena kau datang”,

Bersama cerita di pintu senja
kita bermain kata,
satu, dua
lalu tertawa,

“Lalu apa?”

Kita bukan sekadar cerita-fiksi yang nyata,
karena mata sudah dapat berbicara:
aksara kita sama makna,

“Boleh aku masuk sekarang?”

—Di sini dingin

(Depok, 2017, Nadhif Putra Widiansah)

Menolong itu Investasi

Oleh: Syafei Al-Bantanie
GM SMART Ekselensia Indonesia

“Menolong layaknya sebuah investasi yang sangat menguntungkan. Kita akan memanennya disaat yang tepat.”

Alkisah, seorang ibu tua terlihat bingung di tepi sebuah jalan yang masih sepi. Mobil itu mogok. Ia tidak tahu harus berbuat apa karena ia tidak mengerti mesin mobil. Saat itu, seorang lelaki muda melintas di jalan itu mengendarai sepeda motor. Ia berhenti tepat di sebelah si ibu. Lelaki muda itu menawarkan bantuannya untuk mengecek mobil. Si ibu mempersilakan dengan senang hati.

Lelaki muda itu membuka kap mobil, mengutak-ngatik kabel-kabel di dalamnya. Kemudian, ia juga tak sungkan untuk masuk ke kolong mobil. Mungkin ada bagian yang harus dibetulkan. Kurang lebih 30 menit, lelaki muda itu mencoba membetulkan mobil si ibu.

“Sudah selesai. Silakan coba nyalakan mesinnya,” ujar si lelaki muda.

Si ibu menyalakan stater, dan suara mesin mobil mulai menyala. Alhamdulillaah, mobil itu sudah bisa berjalan kembali. Si ibu tampak gembira. Ia membuka dompetnya dan mengambil beberapa lembar rupiah. Si ibu menyerahkannya ke lelaki muda itu sambil berucap terima kasih.

“Maaf ibu, saya tidak bisa menerimanya,” tegas lelaki itu.

“Mengapa? Anda sudah menolong saya. Ini ungkapan terima kasih saya kepada Anda,” terang si Ibu.

“Maaf ibu, bagi saya menolong bukanlah suatu pekerjaan. Karena itu, saya tidak berhak menerima imbalan. Kalau ibu ingin berterima kasih kepada saya, silakan Ibu tolong orang lain yang membutuhkan pertolongan,” terang si lelaki muda.

“Baiklah kalau begitu. Tapi siapa namamu?”

“Namaku Ihsan.”

Si Ibu berpamitan sambil mengucapkan terima kasih. Mobil bergerak meninggalkan lelaki muda itu.

Di tengah perjalanan, si ibu singgah di sebuah kedai. Ia memesan makanan dan minuman. Seorang perempuan yang tengah hamil dengan sigap menyiapkan pesanan si Ibu. Melihat perempuan muda yang tengah hamil itu, si Ibu teringat dengan kata-kata Ihsan, “Kalau Ibu ingin berterima kasih kepada saya, silakan Ibu tolong orang lain yang membutuhkan pertolongan.”

Usai makan dan minum, si Ibu meminta bon. Ketika pelayan perempuan muda itu sedang membuatkan bon, si Ibu pergi tanpa diketahui pelayan perempuan itu. Pelayan perempuan itu menghampiri meja si Ibu. Ia bingung karena tidak mendapati si Ibu di mejanya. Di mejanya tergeletak secarik kertas dan uang yang cukup banyak.

Surat itu tertulis, “Di perjalanan, mobilku mogok. Ada seorang lelaki muda bernama Ihsan yang berbaik hati membetulkan mobilku. Akan tetapi, ia tidak mau menerima imbalan dariku. Ia meminta saya untuk menolong orang lain sebagai imbalannya. Aku melihat kau sedang hamil. Aku ingin membantu biaya persalinan anakmu nanti. Aku tinggalkan uang ini sebagai pembayaran makanan dan minumanku. Sisanya ambillah untuk biaya persalinan anakmu. Semoga kau berbahagia dengan suami dan anakmu.”

Perempuan muda itu berkaca-kaca membaca surat si Ibu. Sore hari, perempuan itu pulang ke rumahnya. Bertemu sang suami yang dicintainya. Malam harinya, saat si suami tertidur pulas karena lelah bekerja, si perempuan itu mengusap kepala suaminya sambil berbisik, “Mas Ihsan, kau tidak usah merisaukan biaya persalinan untuk anak kita. Keikhlasanmu menolong orang lain telah berbuah kebaikan untuk kita.”

***

Betapa indahnya hidup ini jika kita saling menolong satu sama lain. Menolong atas dasar keikhlasan bukan karena ada tujuan dibaliknya. Meski orang yang kita tolong tidak atau belum bisa membalas kebaikan kita, tetapi yakinlah Allah pasti menggerakan tangan-tangan lain untuk menolong kita saat kita membutuhkan pertolongan.

Satu kebaikan kecil bisa berarti besar bagi orang yang membutuhkan. Saya teringat kisah yang diceritakan teman saya. Ia bercerita tentang seorang supir angkot yang masih muda. Disaat jam kerja angkot-angkot berlomba-lomba mencari penumpang untuk mengejar setoran.

Ketika itu, ada seorang Ibu dengan tiga anaknya berdiri di tepian jalan. Setiap angkot yang lewat disetopnya, angkot itu berhenti sejenak, lalu jalan kembali. Tibalah angkot yang disupiri oleh pemuda ini yang distop oleh si Ibu.

“Mas, angkot ini sampe terminal bis ya?” tanya si Ibu.

“Iya, Bu,” jawab supir angkot.

“Tapi, saya tidak punya uang untuk bayar ongkosnya,” ujar si Ibu jujur.

“Nggak apa-apa, Bu. Ayo, naiklah,” sahut pemuda supir angkot.

Si Ibu dan tiga anaknya pun naik. Disaat supir angkot lain berebut penumpang untuk mengejar setoran, pemuda supir angkot ini malah merelakan empat kursi untuk Ibu dan tiga anaknya.

Saat sampai terminal, para penumpang turun juga si Ibu dan tiga anaknya. Ibu ini berucap terima kasih pada si pemuda supir angkot itu. Ada penumpang seorang bapak yang juga turun dan menyerahkan uang dua puluh ribu rupiah. Pemuda supir angkot itu memberikan kembalian enam belas ribu rupiah, namun bapak itu menolaknya.

“Ambil saja kembaliannya. Itu untuk ongkos Ibu dan tiga anaknya tadi. Dik, terus berbuat baik, ya,” pesan si Bapak itu pada pemuda supir angkot.

Lihatlah, betapa indah hidup saling tolong-menolong. Andaikan separuh saja penduduk bumi ini berpikir untuk menolong oranglain, maka akan damailah dunia ini. Karena itu, mari kita saling membantu dan menolong satu sama lain. Kita adalah saudara. Saudara itu laksana satu tubuh. Jika satu bagian tubuh merasakan sakit, maka bagian lain ikut merasakannya. Kemudian, sama-sama memulihkan bagian tubuh yang sakit itu.

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal kasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam.” (HR. Muslim).

Mutiara Hitam, Generasi Y dan Generasi Z

Oleh: Zealandia Sarah

Penerima Manfaat BAKTI NUSA 6 Yogyakarta

 

Setiap pemimpin memiliki masa, dan tiap masa ada pemimpinnya”

Tiap generasi memiliki kekhasannya sendiri, kekhasan yang dibentuk oleh zamannya. Karl Mannheim dalam essai yang ditulisnya pada 1923 “The Problem of Generations” menjelaskan bahwa  sejarah, budaya, dan kondisi politik membentuk generasi muda pada waktu tersebut. Menurut teori karl Mannheim atau biasa dikenal dengan Generation Theory terdapat 5 generasi yang lahir pasca perang dunia II; Baby Boomer, generasi X, generasi Y, generasi  Z, dan generasi Alpha. Tiap generasi tersebut memilki sifat dan kekhasan tersendiri yang terbentuk dari adanya perang dunia II, generasi di Indonesia pun tak luput dari efek perang dunia II ini.

Generasi Baby boomer yang lahir pada tahun 1946-1964 atau yang kira-kira saat ini berusia merupakan generasi awal setelah PD II berakhir, generasi yang  adaptif dengan banyak pengalaman hidup. Generasi baby boomer di Indonesia lahir pasca kemerdekaan, dimana masa-masa tersebut masih awal berdirinya bangsa ini, mereka adalah saksi dan pelaku sejarah dari proses pembentukan awal negara ini, tentunya pengalaman melawan penjajah pasca kemerdekaan seperti agresi militer dan konferensi Asia Afrika . Generasi selanjutnya, yaitu generasi X yang lahir pada tahun 1965-1980 atau yang saat ini berusia 50-an sampai 36. Generasi X menjadi saksi sejarah masa-masa labil pemerintahan, dimana beberapa peristiwa besar terjadi di saat mereka remaja, salah satunya krisis moneter pada zaman pemerintahan Sohearto yang berakhir pada penggulingan kekuasaannya selama 30 tahun. Generasi Y yang lahir pada tahun 1981-1994 atau biasa disebut generasi milenial menjadi generasi awal penggunaan internet, generasi inilah yang saat ini masuk usia produktif di Indonesia. Generasi yang mengalami awal globaliasi ini mulai merasakan bounderless antar negara. Perkembangan internet yang mampu melewati batas antar negara menjadi pemicunya. Generasi Z atau yang lahir pada tahun 1995 hingga 2010, dimana berusia awal 20an dan bangku sekolah menjadi generasi yang sudah kenal dengan internet. Bahkan terdapat ungkapan untuk menandakan generasi gawai ini “generasi menunduk” dimana setiap saat yang dipegang adalah gawai berkoneksi internet.

Perbedaan karakteristik masing-masing generasi tentu membutuhkan pemimpin yang mampu memahami kebutuhan tiap generasi yang dipimpinnya, berbagai macam pendekatan tentu perlu diupayakan. Misalnya, untuk saat ini, dimana dunia maya sudah menjadi setengah dari kehidupan masyarakat, tipe kepemimpinan yang dibutuhkan tentu berbeda dengan masa sebelumnya. Sosok pemimpin yang dekat, mengayomi, gerak cepat lebih disukai dibanding tipe pemimpin yang banyak berorasi.

Tetapi sedikit berbeda ketika bertemu dengan generasi muda suatu pulau bernama Kolorai. Pulau yang berpenghuni hanya sekitar 200 penduduk ini dan termasuk pulau terluar Indonesia, meski masuk kedalam generasi X sampai Z yang identik dengan kemajuan teknologi, pemuda di Kolorai sedikit tertinggal dengan mereka yang tinggal di Jawa. Berada di pulau ujung dari pulau Maluku yang mendapat julukan “Mutiara hitam“  menjadikan akses terhadap internet ataupun teknologi menjadi terhambat. Tentunya untuk ‘mengambil hati’ mereka butuh strategi sendiri-sendiri. Pengamatan di awal adalah hal yang saya lakukan sebelum bergaul dengan mereka. Mengamati cara berkomunikasi, kebiasaan, dan kehidupan sehari-hari adalah hal penting untuk mengetahui cara bergaul dengan mereka. Pemuda Kolorai, sebagian kecil sudah ada yang menempuh kuliah di pulau seberang, namun masih banyak pula yang menetap dan bekerja di pulau Kolorai menjadi nelayan. Mereka sebenarnya pemalu, apalagi berhadapan dengan oang Jawa. Minder. Begitu kata tetua di sini, mereka tidak PD dengan perbedaan tingkat pendidikan dengan kami anak Jawa. Sedikit sulit memang, namun tetap perlu dicoba.

Pendekatan untuk menjalin komunikasi dengan mereka dimulai dengan bertemu langsung, mengungkapkan maksud kedatangan kami ke pulau tersebut, bertemu langsung di dalam satu ruangan dan selanjutnya mengobrol menjadi lebih mudah. Mengikuti kegiatan keseharian mereka juga menjadi pendekatan yang cukup ampuh untuk menghilangkan sekat anak kota dan anak desa. Pemuda Kolorai suka berolahraga, berenang, voli, an sepakbola, perempuan dan laki-laki semuanya ahli bermain. Dari hal tersebut lah kami perlahan-lahan mulai menjadi bagian dari mereka. Masuklah pada tenggat program pengabdian dijalankan. Program yang dibuat sebelumnya harus mengalami banyak perubahan melihat berbedanya antara ekspektasi dengan kondisi sesungguhnya. Meskipun banyak berubah tetap keberlanjutan harus dipertahankan. Tentu hal itu tetap harus ada, mengingat keberadaan kami di sana hanya satu setengah bulan. Setelah tidak adanya kami, program tetap harus berlanjut. Pulau Kolorai pada tahun 2015 ditetapkan dinas pariwisata sebagai pilot project desa wisata di Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara. Untuk mendukung program pemerintah ini, berbagai usaha kami lakukan, salah satunya adalah menyadarkan masyarakat akan tanggap bencana. Pariwisata yang terintegrasi tentunya butuh mekanisme evakuasi bencana yang baik untuk saat-saat genting, karena tidak dapat dipungkiri bahwa kejadian bencana alam, khususnya, sering terjadi di wilayah teritori Indonesia. Berdasarkan peta bencana 2016 yang dikeluarkan oleh BNPB, pulau Kolorai masuk dalam zona rawan bencana tsunami. Bencana tsunami merupakan salah satu bencana yang tidak mudah untuk diprediksi, saat ini teknologi prediksi tsunami jarang ditemukan di Indonesia, hanya daerah-daerah tertentu saja yang memilikinya, dan sayangnya Kolorai bukan salah satu yang memilikinya. Oleh sebab itu, penyadaran tanggap bencana secara manual harus dilakukan, terlebih ketika daerah tersebut menjadi destinasi kedatangan wisatawan.

Melihat kondisi masyarakat setempat dan kondisi lingkungan seperti di atas, maka program sadar tanggap bencana dapat dilakukan di saat-saat terakhir. Masyarakat Kolorai lebih banyak didominasi dengan mereka yang berumur produktif. Pemuda Kolorai lebih senang untuk melihat langsung bukti daripada penjelasan panjang lebar, maka dari itu kami tunjukkan peta rawan bencana yang kami dapatkan dari laman BNPB, dari peta tersebut mereka menjadi paham keberadaan pulau mereka dan dengan hanya ditambah penjelasan kondisi fisik sedikit soal daerah mereka, mereka sudah paham mengenai tingkat rawan bencana daerah yang mereka tinggali. Ekskekusi selanjutnya adalah dengan membuat jalur evakuasi bencana. Pulau Kolorai yang kecil dan relatif datar sedikit menjadi kesulitan untuk menemukan lokasi yang pas untuk menjadi titik kumpul evakuasi warga ketika sewaktu-waktu bencana terjadi. Pemuda Kolorai akan senang ketika dilibatkan dalam sebuah penyelesaian masalah di tempatnya. Maka dari itu, kami melibatkan langsung mereka dalam penentuan jalur yang cepat dan efektif evakuasi. Dengan hanya penjelasan singkat tentang kriteria jalur evakuasi dan titik kumpul, mereka dengan cepat mampu menentukan jalan jalan yang sesuai. Dengan terlibatnya mereka langsung dalam pemecahan masalah, mereka menjadi merasa bagian penting bagi keberlanjutan program ini dan tentunya rasa tanggung jawab untuk menjadi garda terdepan dalam penyelamatan bencana tumbuh, sehingga tanpa perlu disuruh lagi mereka sudah paham untuk melaksanakan tanggap bencana.

Meski berbeda, jauh dari pembangunan bukan berarti tidak dapat berkembang. Menjadi pemimpin bukanlah perkara gampang, apalagi membangun jiwa pemimpin pada diri orang lain. Membangunnya bukan perkara yang sekedipan mata dapat langsung terwujud, perlu usaha, strategi yang apik dan pengenalan mendalam pada jiwa yang dibangun untuk dapat mewujudkannya. Dan tentu hal tersebut tidaklah secepat larinya Buroq. Pengamatan terhadap kunci-kunci pembangun dan sentuhan awal pada titik yang dibutuhkan adalah langkah yang cukup mampu menyingkat waktu pembentukan jiwa pemimpin. Kesensitifan hati dan ketajaman membaca lingkungan adalah keahlian yang perlu dimiliki untuk menjadi dan membentuk pemimpin berkarakter.

Furqan dan Impiannya Berkurban

furqan

Bukan hal mudah merantau di usia belia, selalu ada tantangan serta pergolakan dalam diri ketika memutuskan untuk pergi meninggalkan keluarga tercinta di kampung halaman. Namun berbeda dengan Muhammad Furqan, ia berkomitmen pada dirinya bahwa merantau dapat mengasah jiwa pekerja keras sekaligus menjadi sarana pengaktualisasian kemandirian dalam dirinya.

Saat ini Furqan, sapaan akrabnya, duduk di kelas 2A Sekolah Menengah Pertama (SMP) SMART Ekselensia Indonesia. Ia dilahirkan di Lubuk Alung, Sumatera Barat, pada 24 September 2003. Sekembalinya dari kampung halaman pada momen Pulang Kampung SMART Januari lalu Furqan memiliki tekad berkurban untuk ibunda tercinta. Karena menurutnya saat ini ia belum mampu untuk menghajikan ibunya, maka ia memilih alternatif lain yakni berkurban. Sejak saat itu ia mulai menabung, sedikit demi sedikit uang bulanan dari sekolah ia kumpulkan, namun ia merasa kalau hanya mengandalkan uang bulanan sekolah saja tak akan mungkin mengejar target berkurban bulan September nanti. Berbekal informasi dari para ustaz dan usatazah di sekolah ia mulai bergerilya membantu dua ustaz asrama berjualan makanan ringan.

Di usianya yang menginjak empat belas tahun, Furqan dikenal sebagai sosok pekerja keras, penuh semangat, dan tak pernah mengeluh. Selain berjualan, disela-sela kesibukannya ia juga menjadi relawan di Perpustakaan Pusat Sumber Belajar (PSB) Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa. Setiap harinya Furqan mampu menghasilkan Rp 15.000,00 dari hasil menjajakan makanan ringan, ia berkelana dari satu asrama ke asrama lainnya menawarkan beragam penganan untuk dijual, menurut Furqan dalam hitungan menit jualannya pasti habis. “Per hari saya biasa menabung Rp 5000,00 sampai Rp 15.000,00; beruntung saya tak begitu suka jajan terlalu banyak sehingga bisa fokus mengelola keuangan pribadi,” tandasnya.

“Sulit”, adalah kata pertama yang Furqan ucapkan ketika ditanya bagaimana membagi waktu antara sekolah dan berdagang, apalagi Furqan masih tercatat sebagai seorang pelajar SMP dan juga seorang relawan. Kesibukan nan padat, tugas sekolah yang menumpuk serta kegiatan ekstrakulikuler kadang menjadi tantangan terbesar baginya. “Biasanya saya membawa serta Pekerjaan Rumah (PR) ketika berdagang, jadi ketika belum banyak pembeli saya bisa mengerjakan PR atau biasanya saya mengerjakan PR dulu baru berdagang,” ujarnya.

Furqan mengaku jika ibu di kampung halaman merupakan motivasi terbesarnya dalam berdagang, “Kalau lagi malas biasanya saya teringat ibu di rumah. Saya teringat betapa keras usaha ibu berdagang untuk membiayai hidup kami. Ibu adalah motivasi terbesar agar saya bisa bangkit dan tidak malas berlarut-larut,” tambahnya.

Berkat usaha kerasnya, Furqan akhirnya berhasil memenuhi impian besar dalam hidupnya yakni membeli kambing untuk dikurbankan September nanti. “Perasaan saya saat ini senang sekaligus sedih. Senang karena akhirnya bisa berkurban untuk ibu di kampung halaman, sedih karena ibu tidak ada di sini untuk menyaksikan sendiri kambing yang saya pilihkan untuknya,” ucapnya berkaca-kaca penuh haru.

Ia berpesan agar tak menjadikan ketidakmampuan sebagai alasan untuk tak berkurban, karena ketika sudah bertekad maka Allah akan membantu memenuhi niat baik tersebut. “Jangan lupa tekadkan niat tersebut untuk orang-orang tercinta karena ridho Allah ada pada ridho mereka,” tandasnya. (AR)