IMG-20170920-WA0006

Kemarin, Rabu ( 20-09), kami mendapat kunjungan dari Direktorat Keuangan TNI Angkatan Darat (DITKUAD) dan Persatuan Instri TNI (PERSIT) Kartika Candra Kirana Cabang 17 lho. Rombongan tamu yang berjumlah lebih dari empat puluh orang ini disambut dengan penampilan tim musik ensamble siswa SMART Ekselensia Indonesia. Penampilan sederhana berupa lagu-lagu daerah ternyata begitu menarik perhatian para tamu, bahkan ketika penampilan selesai, mereka meminta kami untuk mengulangi lagi lagu Manuk Dadali. Wah bangganya. Di akhir penampilan, kami semua diminta memperkenalkan diri dan menyebutkan asal daerah kami.

IMG-20170920-WA0005

Hafiz dan Devon, kelas 5, didaulat menjadi pemandu acara kunjungan. Dengan gaya khas mereka yang kocak dan komunikatif keduanya mampu membuat para anggota TNI menikmati jalannya acara, bahkan ada sesi di mana para anggota TNI dan kedua pemandu acara saling berbalas pantun hingga membuat suasana semakin ceria.

IMG-20170920-WA0004

Selain hiburan, SMART juga turut memperkenalkan Rama, teman kami yang juga seorang Hafiz Quran. Sosok Rama membuat ibu Angelia, istri DIRKUAD Brigjen TNI Sasongko Hardono, dibuat kagum karenanya. Untuk menguji kemampuannya, ibu Angelia memberikan tes kepada Rama untuk meneruskan bacaan Al-Qur’an yang ia bacakan. Ia semakin kagum karena Rama berhasil menjawab tantangan dengan sangat baik.

IMG-20170920-WA0003

Pada kunjungan kali ini, DIRKUAD dan PERSIT juga memberikan donasi berupa alat olahraga untuk mendukung kegiatan kami di sekolah. Kunjungan dilanjutkan dengan touring di lingkungan Dompet Dhuafa Pendidikan dipandu oleh M. Syafiie, GM SMART, serta Hafiz dan Devon sebagai perwakilan siswa. Para tamu juga berkesempatan melakukan interaksi dengan teman kami lainnya di kelas saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Seru sekali deh.

Kunjungan DIRKUAD dan PERSIT ini diharapkan menjadi gerbang pembuka kerjasama dan sinergi yang baik antara pihak TNI dan SMART Ekselensia Indonesia, aamiin.

Oleh: Asep Rogia
Kesiswaan SMART Ekselensia Indonesia

Jiwa guru pejuang bukan hanya mengajar mata pelajaran tertentu, tetapi juga mengajarkan seputar kepemimpinan dan perjuangan.

Karena sejatinya para siswa membutuhkan pemantapan seputar keduanya, karena kedua hal tersebut menentukan keberhasilan usaha pengajaran dan pembinaan umat seperti diteladankan oleh pejuang-pejuang dan pahlawan-pahlawan sejati sebelumnya.

Karisma, reputasi, kondite, pamor, wibawa, pengaruh dan popularitas atau semacamnya hanyalah bonus dari usaha keras guru dalam memberikan yang terbaik kepada anak didiknya, bonus atas usahanya bermujahadah ikhlas dan berusaha mengoptimalisasi amal sholih hanya karena Allah swt.

Sama halnya seperti para gurudi SMART Ekselensia Indonesia yang telah mengabdikan keilmuannya dijalan Robb Jalla Jallaluhu guna mewariskan dzurriyah/generasi yang saliimul akidah, shohihul ibadah dan matinul akhlak. Kami hanya berharap kelak para siswa SMART akan menjadi pribadi-pribadi yang bermanfaat aamiin.

Alfaqir bil ilmi.

(Telah mengalami proses editing oleh AR)

Merdu-merdu sayup di telinga,

merah nyalang yang tak padam
menjadi baris kesekian,
untuk pulang untuk waktu,
tanpa lagu

Sebab waktu bukan lagu
yang dapat kau putar ulang,
ada yang hilang mereka bilang,
kata-kata di atas kertas tak lagi sumbang,
degup di jantung tak lagi rumpang,
nyawa di setiap napas tak lagi hilang,

“Karena kau datang”,

Bersama cerita di pintu senja
kita bermain kata,
satu, dua
lalu tertawa,

“Lalu apa?”

Kita bukan sekadar cerita-fiksi yang nyata,
karena mata sudah dapat berbicara:
aksara kita sama makna,

“Boleh aku masuk sekarang?”

—Di sini dingin

(Depok, 2017, Nadhif Putra Widiansah)

furqan

Bukan hal mudah merantau di usia belia, selalu ada tantangan serta pergolakan dalam diri ketika memutuskan untuk pergi meninggalkan keluarga tercinta di kampung halaman. Namun berbeda dengan Muhammad Furqan, ia berkomitmen pada dirinya bahwa merantau dapat mengasah jiwa pekerja keras sekaligus menjadi sarana pengaktualisasian kemandirian dalam dirinya.

Saat ini Furqan, sapaan akrabnya, duduk di kelas 2A Sekolah Menengah Pertama (SMP) SMART Ekselensia Indonesia. Ia dilahirkan di Lubuk Alung, Sumatera Barat, pada 24 September 2003. Sekembalinya dari kampung halaman pada momen Pulang Kampung SMART Januari lalu Furqan memiliki tekad berkurban untuk ibunda tercinta. Karena menurutnya saat ini ia belum mampu untuk menghajikan ibunya, maka ia memilih alternatif lain yakni berkurban. Sejak saat itu ia mulai menabung, sedikit demi sedikit uang bulanan dari sekolah ia kumpulkan, namun ia merasa kalau hanya mengandalkan uang bulanan sekolah saja tak akan mungkin mengejar target berkurban bulan September nanti. Berbekal informasi dari para ustaz dan usatazah di sekolah ia mulai bergerilya membantu dua ustaz asrama berjualan makanan ringan.

Di usianya yang menginjak empat belas tahun, Furqan dikenal sebagai sosok pekerja keras, penuh semangat, dan tak pernah mengeluh. Selain berjualan, disela-sela kesibukannya ia juga menjadi relawan di Perpustakaan Pusat Sumber Belajar (PSB) Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa. Setiap harinya Furqan mampu menghasilkan Rp 15.000,00 dari hasil menjajakan makanan ringan, ia berkelana dari satu asrama ke asrama lainnya menawarkan beragam penganan untuk dijual, menurut Furqan dalam hitungan menit jualannya pasti habis. “Per hari saya biasa menabung Rp 5000,00 sampai Rp 15.000,00; beruntung saya tak begitu suka jajan terlalu banyak sehingga bisa fokus mengelola keuangan pribadi,” tandasnya.

“Sulit”, adalah kata pertama yang Furqan ucapkan ketika ditanya bagaimana membagi waktu antara sekolah dan berdagang, apalagi Furqan masih tercatat sebagai seorang pelajar SMP dan juga seorang relawan. Kesibukan nan padat, tugas sekolah yang menumpuk serta kegiatan ekstrakulikuler kadang menjadi tantangan terbesar baginya. “Biasanya saya membawa serta Pekerjaan Rumah (PR) ketika berdagang, jadi ketika belum banyak pembeli saya bisa mengerjakan PR atau biasanya saya mengerjakan PR dulu baru berdagang,” ujarnya.

Furqan mengaku jika ibu di kampung halaman merupakan motivasi terbesarnya dalam berdagang, “Kalau lagi malas biasanya saya teringat ibu di rumah. Saya teringat betapa keras usaha ibu berdagang untuk membiayai hidup kami. Ibu adalah motivasi terbesar agar saya bisa bangkit dan tidak malas berlarut-larut,” tambahnya.

Berkat usaha kerasnya, Furqan akhirnya berhasil memenuhi impian besar dalam hidupnya yakni membeli kambing untuk dikurbankan September nanti. “Perasaan saya saat ini senang sekaligus sedih. Senang karena akhirnya bisa berkurban untuk ibu di kampung halaman, sedih karena ibu tidak ada di sini untuk menyaksikan sendiri kambing yang saya pilihkan untuknya,” ucapnya berkaca-kaca penuh haru.

Ia berpesan agar tak menjadikan ketidakmampuan sebagai alasan untuk tak berkurban, karena ketika sudah bertekad maka Allah akan membantu memenuhi niat baik tersebut. “Jangan lupa tekadkan niat tersebut untuk orang-orang tercinta karena ridho Allah ada pada ridho mereka,” tandasnya. (AR)