IMG-20171031-WA0002

Lomba Perkemahan Pramuka Penggalang (LP3) 2017

IMG-20171031-WA0002

SALAM PRAMUKA

Pangkalan SMART EKSELENSIA INDONESIA dengan bangga kembali menyelenggarakan Lomba Perkemahan Pramuka Penggalang (LP3) 2017 se-Pulau Jawa

“Be a Leader with Scout

Sabtu-Minggu
18-19 November 2017
Bumi Perkemahan SMART Ekselensia Indonesia

Jl.Raya Parung – Bogor KM42 Desa.Jampang Kec.Kemang Kab.Bogor 16310

Techmeet:
Kamis, 9 November 2017

Tropi :
? *Piala Bergilir Kemenpora*
? *Piala Bergilir Kwarnas*
? *Piala Bergilir Gubernur*
? *Piala Bergilir Parni Hadi*

Lomba :
*LKBB Tongkat*
*Semaphore Dance*
*Pioneering*
*Sandi-sandi*
*Hias Tenda*
*Fotografi*
*PPGD*
*PUPK*
*Perkusi*
*Yel-yel Kreasi*

Registrasi *RP 350.000* /regu
? *Sertifikat*
? *Tiska*
? *Uang Pembinaan untuk Juara Umum dan Favorit*

Info lebih lanjut kunjungi akun :
IG : @lp3.smart
FB: lp3 Smart Ekselensia
Web : www.smartekselensia.net

Nara Hubung :
1. Kak Ridwan. WA:08996632908
2. Kak Nana. WA:085714899159

IMG_3709-864x576

Merajut Prestasi di OHARA 2017

IMG_3686-864x576

Setelah kemarin (25-10) para peserta menghabiskan energi dan semangat berkompetisi pada hari pertama pelaksanaan OHARA 2017, pada Kamis pagi (26-10) OHARA 2017 kembali dibuka dengan berbagai penampilan pembuka yang meriah. Sejak pukul 08.00 pagi para peserta yang berasal dari seluruh penjuru nusantara mulai memadati panggung utama OHARA. Setelah melakukan registrasi ulang, para peserta disambut penampilan antimainstream dari tim silat yang penuh semangat. Keriuhan peserta yang hadir semakin menjadi saat tim marawis SMART menampilkan penampilan unik dengan memadukan salawat dan gerakan dinamis

Puas dengan penampilan Tim Marawis para peserta kembali dimanjakan dengan pembacaan ayat suci Al-Quran oleh Fauzan dan Alfian, penampilan keduanya mengundang decak kagum. SMART sebagai sekolah yang memelopori gelaran budaya berskala nasional tingkat sekolah menengah disinyalir mampu menggugah semangat para peserta untuk lebih baik lagi dalam menjaga budaya negerinya sendiri.
“Ini kali pertama saya melihat pembacaan ayat suci Al-Quran, saya sangat takjub dengan lantunan indahnya,” komentar Sarah, siswa SMA ICBS Sentul.

Usai mengikuti acara pembukaan, para peserta bersiap menuju arena lombanya masing-masing. Ada enam lokasi yang disiapkan panitia untuk para peserta antara lain panggung utama, ruang kelas, aula, lapangan futsal, dan lapangan SMART. Untuk Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) kami menyiapkan ruang kelas sebagai lokasi mereka berlaga, namun LKTI telah selesai di hari pertama maka di hari kedua peserta hanya menunggu pengumuman saja.
Karena LKTI telah berakhir di hari pertama, sehingga menyisakan enam cabang perlombaan saja yakni Story Telling, Social Experiment, Esai, Lintas Nusantara (Lintara), Opera van Jampang (OVJ), dan Festival Akulturasi Kuliner Nusantara (FAKN)

Lomba storytelling di hari kedua dikhususkan untuk peserta tingkat SMA, sebanyak sepuluh peserta bersaing menjadi yang terbaik. Mereka menyampaikan kisah-kisah perjuangan para pahlawan yang kerap dilupakan oleh sebagian masyarakat, penampilan mereka bagus-bagus sekali ditambah dengan properti yang mumpuni. Tepuk tangan meriah diberikan juri dan hadirin sebagai apresiasi kepada para peserta story telling atas penampilan terbaiknya. Diharapkan para peserta dapat mengamalkan pesan moral yang terkandung dalam cerita.

Di Lomba Social Experiment, para peserta kembali unjuk kebolehan dalam mempresentasikan karya social experiment-nya SMAN 2. ”Saya senang sekali, video peserta lainnya bagus-bagus berharap tahun depan Social Experiment diadakan kembali,” ucap Fauzan siswa SMAN 2 Tasikmalaya penuh semangat.
Festival Akulturasi Kuliner Nusantara (FAKN) kebanjiran peminat dikarenakan keunikan yang diusung oleh empat belas peserta dalam memadukan makanan khas Indonesia dengan budaya dari daerah dan negara lain. Berbagai macam aksi dilakukan oleh para peserta dalam memasarkan produk yang dijual, salah duanya dengan membuat stan seunik mungkin dan memberikan brosur dengan cara yang tak disangka-sangka.

Stan yang menjual makanan sungguh unik dan enak selalu dipenuhi oleh pelanggan yang rela mengantre untuk mencicipi hidangan yang mereka buat. Tak jarang banyak pembeli yang kecewa karena makanan favorit mereka habis terjual.

IMG_3709-864x576

Hingga sore tadi panggung Opera van Jampang (OVJ) masih saja dipadati oleh mereka yang penasaran akan cerita dan penampilan unik para pesertanya, di hari kedua makin banyak peserta yang tampil dengan maksimal hingga membuat juri kebingungan karena semuanya tampil sangat bagus. Namun kompetisi tetap lah kompetisi, harus ada yang menjadi juara.

Untuk Lomba Lintas Nusantara (LINTARA) di hari kedua kami mengajak peserta untuk Lintas Alam dan melakukan berbagai tantangan yang nantinya akan membawa mereka ke final, setelah melewati berbagai tantangan terpilihlah tiga sekolah untuk melaju ke babak final. Di final, pengetahuan peserta diasah di Lomba Cerdas Cermat para finalis menunjukkan wajah-wajah serius namun mampu menjawab pertanyaan dengan baik.
Kami mengucapkan selamat kepada para Pejuang Budaya yang berhasil menjadi jawara di OHARA 2017. Kami selaku panitia memohon maaf sebesar-besarnya kepada para peserta jika dalam pelaksanaan OHARA 2017 kami tidak maksimal memberikan yang terbaik.
Yuk sama-sama kita tebar indahnya budaya Indonesia! Sampai jumpa di Olimpiade Humaniora Nusantara (OHARA) tahun depan! (AR)

IMG_3768-864x576

Warna-Warni OHARA 2017, Intip Yuk!

IMG_3768-864x576

SMART Ekselensia Indonesia kembali menghelat acara tahunannya yaitu Olimpiade Humaniora Nusantara (OHARA) 2017. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, OHARA diadakan selama dua hari pada 25 dan 26 Oktober 2017. Pada hari pertama, Rabu (25-10), OHARA dibuka dengan pertunjukan teatrikal dari Tim Teater SMART, mereka unjuk kebolehan dengan penampilan bertajuk kritikan budaya yang tergerus dalam arus teknologi. Penampilan teatrikal yang dipimpin oleh Arkan mendapatkan sambutan hangat sekaligus tepuk tangan meriah. Setelah penampilan teaterikal, acara dilanjutkan dengan penampilan Tari Saman.

Demi mengasah talenta berbicara di depan umum, pada OHARA 2017 Abdul Rahim dan Muhammad Rofiq Sidiq didapuk menjadi pewara utama, keduanya merupakan siswa kelas V. Acara pembukaan hari pertama cukuplah meriah. Hal yang paling membuat hadirin terjerit adalah pada saat Pewara Lomba Opera van Jampang memasuki panggung utama. Pewara OVJ saat itu adalah kakak-kakak artis yang berani unjuk gigi di vlog OHARA 2017, yaitu Kak Devon Agastyan Putra dan Kak Hafizh Musyaffa. Kak Hafizh menggunakan kostum Hanoman sedangkan Kak Devon berlaga seperti “Si Otot Kawat Tulang Besi”, Gatot Kaca. Selain itu, hebohnya juga pada saat mereka masuk sambil berjoget dengan lagu “Eta Terangkanlah”.

Setelah Pewara OVJ menggantikan pewara utama, berakhirlah sudah acara pembukaan hari pertama dan dimulainya Lomba Opera van Jampang juga lomba-lomba lainnya. Opera van Jampang diadakan di panggung utama, Festival Akulturasi Kuliner Nusantara diadakan di sekeliling panggung utama, Lomba Lintas Nusantara (Lintara) diadakan di kelas Bahasa Inggris dan Kelas IPS SMP untuk babak penyisihannya, Story Telling diadakan di Aula Masjid Al-Insan Dompet Dhuafa Pendidikan, Presentasi Finalis Lomba Karya Tulis Ilmiah dilaksanakan di Kelas Biologi, dan Presentasi Finalis Lomba Social Experiment diadakan di Kelas Matematika SMP. Masih kurang satu lomba, nih. Ya, “Menulis Esai”. Presentasi Finalis Lomba Menulis Esai akan dilaksanakan pada hari kedua, yaitu hari Kamis, tanggal 26 Oktober 2017 di Kelas Biologi.

IMG_3577-864x576

OHARA kali ini sangat menarik karena selain dikemas dengan tema baru, panitia OHARA 2017 juga menambahkan dua mata lomba baru, yaitu Social Experiment dan Menulis Esai. Di antara kedua lomba itu, ternyata Lomba Social Experiment OHARA juga merupakan lomba bertajuk Social Experiment pertama yang diadakan di Indonesia. Salah satu hal menarik adalah ada beberapa peserta Social Experiment yang merupakan Selebgram dan influencer muda Indonesia. Mereka adalah Fauzan Noor Q. dari SMAN 2 Tasikmalaya serta si kembar, Jhehan dan Jhihan dari SMA Fajar Hidayah.

Di sekeliling panggung utama diselenggarakan Festival Akulturasi Kuliner Nusantara. Pada OHARA tahun ini, terdapat empat belas stand dari berbagai sekolah di Indonesia. Para peserta FAKN sangat kreatif dalam menggabungkan satu kuliner budaya dengan kuliner lain. Hal ini dibuktikan dengan menu-menu FAKN yang beragam dan unik. Seperti yang tergambar dalam menu Es Dayang. Es Dayang merupakan singkatan dari Es Dawet dan Es Selendang Mayang. Terinspirasi dari produksi Es Selendang Mayang Betawi yang sudah cukup langka, membuat para peserta dari SMAIT Fajar Hidayah mengemasnya dalam bentuk yang baru, yaitu dengan mengganti kuah dalam es selendang mayang dengan kuah dari es dawet. “Kami terinspirasi dari budaya Betawi dan Jawa, walaupun beda, tapi pas disatuin cocok” ujar Nabilla, salah satu kreator dari Es Dayang. Walaupun berbeda dari Es Selendang Mayang biasanya, namun bahan-bahan utama tetap dipakai dalam pembuatan Es Dayang. “Bahan-bahanya sama, ada ketan, tape, selendang mayang, nangka, krimer tapi pake kuah dawet ayu” tambahnya.

Berbeda dengan stand Es Dayang dan stand-stand FAKN lain yang cukup sederhana, SMK Putra Pelita memiliki stand unik dan menarik. Dengan warna hijau yang dominan dan tulisan “Sugar Rocket” besar yang terpampang diatasnya, membuat stand SMK Putra Pelita dilirik oleh pelanggan. Menggabungkan cita rasa lokal dan Eropa, SMK Putra Pelita berhasil membuat merek dagang “Sugar Rocket” menjadi salah satu menu primadona dalam FAKN 2017. Sebuah roti isi yang berukuran mini berbahan dasar sukun dengan krim santan ditengahnya. Sugar Rocket merupakan hasil inspirasi dari pohon sukun dibelakang rumah.

“Awalnya mikir, gimana caranya buat olahan sukun yang beda dari biasanya,” ujar Purnama, kreator dari “Sugar Rocket”. ”Dengan mengambil konsep makanan Eropa, akhirnya jadi deh burger sukun,” tambahnya. Hanya bermodal berani dan nekat, Purnama akhirnya membuat “Sugar Rocket” sebagai merek dagang sendiri dan berhasil menjual di koperasi sekolahnya. “Udah berhasil jual di koperasi sekolah, semoga dengan usaha kami bisa menang FAKN,” tutupnya.

Beralih topik ke lomba Story Telling. Juri pada lomba ini ada tiga, yaitu Mrs. Malika, Ms. Ariani, dan Mr. …. Terdapat sepuluh finalis dari SMA dan juga sepuluh finalis dari SMP. Acara dilaksanakan di Aula Masjid Al-Insan Dompet Dhuafa Pendidikan. Rencana panitia adalah menyelesaikan lomba Stortell pada sore hari pertama. Namun, rencana tersebut gagal, justru malah bisa terselesaikan sebelum pelakasanaan Salat Zuhur. Di sela-sela penampilan, setelah lima peserta tampil, ditampilkan performance dari artis SMART, Zayn Kim Mura, alias Muhammad Fadhlullah Ramadhan. Dia adalah siswa SMART Ekselensia Indonesia kelas V yang berasal dari Kota Padang, Sumatera Barat. Zayn menyanyikan ….

Tadi Stortell, sekarang kita pindah ke Lomba Lintas Nusantara. Babak penyisihan lomba ini dilaksanakan di Ruang Kelas IPS SMP dan Ruang Kelas Bahasa Inggris. Babak ini dilaksanakan dengan tes tulis. Peserta Lintara pada tahun ini ada tujuh belas tim yang masing-masing timnya terdiri dari tiga orang peserta. Dari babak penyisihan, hanya diambil dua belas tim yang tertinggi nilainya. Babak selanjutnya adalah musikalitas dengan akustik. Pada babak ini terdapat dua orang juri yaitu Kak Ardian Farizaldi dan Kak Miftah Rizkamuna (Dika). Peserta yang berhasil lolos dari babak ini adalah sebanyak delapan tim. Setelah dari babak musikalitas, para pesrta akan lanjut ke babak Outbond pada hari kedua.
Lomba berikutnya ada Social Experiment.

Seperti yang disebutkan di awal, terdapat tiga orang selebgram yang berhasil digaet panitia OHARA kali ini. Tentunya akan banyak viewers dan likers yang mereka dapat saat babak penyisihan lewat Youtube. Hal tersebut termasuk ke dalam kriteria penilaian. Juri Social Experiment ada tiga, yaitu Kak Mulyadi, Kak …, Kak …. Penilaian tidak hanya pada viewer dan likers. Para peserta harus mempresentasikan hasil karyanya di hadapan para juri dan peserta lainnya. Siapakah yang memenangi lomba kali ini? Pastikah para selebgram itu memenanginya? Penasaran kan? Tunggu saja dan ketahui hasilnya pada penutupan OHARA 2017.

Lomba Karya Tulis Ilmiah. Mungkin sudah tidak asing lagi kita mendengarnya. Lomba kali ini kembali berhasil menggaet teman-teman dari SMAN 1 Tarakan, Kalimantan Utara. Mereka sudah keempat kalinya ikut LKTI dari tahun 2014, awal diadaakannya OHARA tingkat Nasional. Akankah mereka kembali merebut piala LKTI OHARA pada tahun ini? Kita lihat saja nanti hasilnya.

Tunggu dulu, sepertinya dari tadi hanya yang agak jauh dari panggung utama. Ya, di panggung utama juga diselenggarakan lomba teater, yaitu Opera van Jampang. Juri Opera van Jampang kali ini ada tiga, yaitu Kak Dini Wikartaatmadja, Kak Angger, dan Kak Doni. Lomba ini akan dilaksanakan selama dua hari.

Ada satu lomba lagi nih. Semoga berjalan lancar ya di hari kedua. Lomba menulis Esai. Lomba yang dikatakan anak bungsu ini mendapat perhatian dari banyak partisipan budaya. Pada babak penyisihan, tedapat tiga puluh hasil karya para peserta, hanya saja yang lolos ke babak final dibatasi sepuluh orang dan mereka akan mempresentasikan esai mereka hari ini di Ruang Kelas Biologi.

Lanjutkan terus perjuangan kalian, pemuda cinta budaya. Jangan menyerah walau harus kalah. Menang kalah adalah hal yang biasa. Tinggal bagaimana kita menyikapinya dan mengambil hikmah di balik segala yang telah terjadi. Ingatlah, tidak ada manusia yang tercipta sangat sempurna. Tentu ada kekurangannya juga. Gagal merencanakan berarti merencanakan kegagalan. Sudah membuat rencana, lakukanlah, laksanakan apa yang sudah direncanakan itu.

Setelahnya, baru dilakukan evaluasi agar ke depannya bisa lebih baik lagi. Ingat, kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Berapa kali Edison gagal membuat bola lampu? Sekitar 10.000 kali kawan. Anggap saja penilaian dari dewan juri adalah sebagai evaluasi bagi kita agar bisa lebih baik lagi pada perlombaan selanjutnya. Jangan berputus asa. Ingat, masih ada Allah.

Bertawakalah. “Wahai orang-orang yang beriman, mintalah (kepada Allah) dengan sabar dan salat ...”. Sabar, itu lah yang dikatakan Allah. Selalu berada di garda terdepan dalam berbuat baik atau berlombalah dalam hal kebaikan. Semangat berkompetisi di OHARA. Semangat mempertahankan budaya. Salam OHARA, Salam Budaya! (LN)

DSC_0030

Semangat Pemuda Mengekspresikan Budaya Negeri di OHARA

DSC_0030

Demi menghadirkan kembali budaya Indonesia yang kian tenggelam, SMART Ekselensia Indonesia menghelat kegiatan tahunan berskala nasional bernama Olimpiade Humaniora Nusantara (OHARA).  OHARA diselenggarakan sejak 2009 silam, menginjak tahun kedelapan, OHARA kembali menyapa para pemuda pejuang budaya Indonesia dengan mengusung tema “Tebar Pesona Budaya Indonesia”. Bertujuan mengangkat kembali budaya Indonesia yang kaya akan nilai-nilai luhur, dipadu dengan unsur kreativitas generasi muda bangsa, OHARA  2017 diharapkan mampu mendorong para pelajar sekolah menengah di seluruh Indonesia mengenal budaya dan mencintai Indonesia.

OHARA 2017 dihelat pada Rabu dan Kamis, 25-26 Oktober, di SMART Ekselensia Indonesia, Parung, Bogor, Jawa barat. Kegiatan yang dikhususkan untuk siswa siswi sekolah menengah pertama maupun atas serta sederajat di Indonesia ini diikuti 700 peserta dari berbagai penjuru nusantara, peserta terjauh datang dari Makasaar, Sulawesi Selatan dan Tarakan, Kalimantan Utara. Para peserta berkompetisi untuk memerebutkan Piala Gubernur Jawa Barat juga uang pembinaan bernilai puluhan juta Rupia. Tahun ini OHARA  menggadang  tujuh lomba yang meramaikan seperti Lintas Nusantara (Lintara), Opera Van Jampang (OVJ), Story Telling, Festival Akulturasi Kuliner Nusantara (FAKN), Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI), Esai, dan Experiment. Selain siswa sekolah menengah, OHARA juga menyasar para pegiat ilmu humaniora dan lembaga-lembaga yang peduli pada pengembangan ilmu humaniora.

DSC_0055

Di OHARA hari pertama para peserta disambut Tarian Saman yang dibawakan dengan apik oleh tim Tari Saman SMART Angkatan 12. Selepas penampilan Saman, para peserta kembali dihibur dengan penampilan Trash Music (TRASHIC) yang enerjik dan membangkitkan semangat. OHARA 2017 dibuka oleh Syafei Al Bantanie, Direktur Donpet Dhuafa Pendidikan, yang mengungkapkan bahwa OHARA 2017 merupakan kegiatan pengaplikasian nilai-nilai kemasyarakatan dan sosial yang mulai jarang ditemui pada generasi muda. Ia juga menekankan betapa pentingnya menjaga dan melestarikan budaya Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut para peserta juga diajak untuk merefleksikan budaya-budaya Indonesia yang kaya dan khas melalui serangkaian penampilan kesenian yang menggugah kecintaan pemuda-pemudi terhadap bangsanya. “Kami berharap OHARA tahun ini makin menumbuhkan semangat dan kecintaan generasi muda pada budaya Indonesia,” ujar Syahrizal Rachim, Ketua Panitia OHARA 2017. Seluruh siswa SMART Ekselensia Indonesia terlibat aktif dalam menyukseskan pagelaran tahunan ini; mereka bahu-membahu  menyiapkan konsep, ide, dan eksekusi akhir agar OHARA 2017 berjalan dengan baik.

“Kami berusaha melibatkan seluruh siswa SMART agar mereka memiliki ikatan yang kuat satu sama lain, selain itu kami juga ingin mereka lebih mencintai Indonesia,” tegas Rizal.

Olimpiade Humaniora Nusantara merupakan ajang kompetisi yang sangat positif bagi siswa sekolah menengah di tengah maraknya berbagai pemberitaan negatif mengenai pelajar di Tanah Air,” tegas Dwi Laksmi, Pengawas Sekolah Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor. “Kami berharap Olimpiade Humaniora mampu mewadahi berbagai hal positif yang dimiliki generasi muda Indonesia,” tutupnya.

DSC_0154

OHARA 2017 bukan sekadar menekankan kecintaan pada budaya, tetapi juga mengajak untuk mencintai budaya negeri sendiri agar tak lekang dimakan zaman. (AR)

Nara Hubung:

Pradila Maulia

085 672 948 39 / markom.pendidikan@dompetdhuafa.org

 

dsc_0131

Jurnalis Muda Berbudaya

dsc_0131

 

Oleh : Syahrizal Rachim, Siswa SMA SMART Ekselensia Indonesia kelas XI IPS

Kebudayaan nusantara merupakan salah satu hal yang saat ini menjadi perbincangan hangat diantara para pelajar di Indonesia. Para pelajar berlomba-lomba untuk menciptakan kreasinya sendiri untuk mewariskan budaya yang ada di Indonesia.

Hal ini menjadikan kegiatan jurnalistik menjadi sebuah kegiatan yang sangat penting untuk mengenalkan budaya kepada siapa saja. Peliputan budaya-budaya dengan kreatif dan pengemasan media menjadi menarik membuat para “penikmat” hasil karya jurnalistik semakin tergugah untuk mencintai budaya Indonesia.

Semangat para jurnalis muda di sekolah seharusnya mendapatkan dukungan dari berbagai pihak untuk menyukseskan pelestarian budaya yang ada di negeri ini.

Berbagai macam pelatihan mengenai cara mengelola karya jurnalistik sangatlah diperlukan di tengah minimnya kegiatan literasi untuk mengenal budaya di sekolah. Program desa budaya yang ada di berbagai daerah mampu menjadi pengembang budaya pada masyarakat. Siswa-siswa sebaiknya lebih mengetahui industri pembuatan barang kebudayaan, sehingga pada akhirnya berbagai peninggalan budaya di Indonesia dapat terus berkembang untuk mempercepat pengembangan karakter siswa.

DSC_0144

Ibarat Sebuah Peta

Oleh: Wayan Muhammad Yusuf

Alumni SMART Angkatan 8. Saat Ini Berkuliah di Universitas Brawijaya Jurusan Ilmu Ekonomi Prodi Ekonomi Islam.

DSC_0144Asrama. Sekolah. Asrama. Sekolah. Asarama lagi. Sekolah lagi. Yah begitulah keseharian kami di SMART Ekselensia Indonesia. Dikatakan bosan, gak juga. Tapi dibilang gak bosan, namun tak dapat digambarkan. Hampir lima tahun saya berada di SMART, selama di sini saya cukup mengerti arti jauh dari keluarga dan arti “terkekang” dalam aturan. Di tulisan ini saya tak akan bercerita tentang suka duka selama di SMART atau suka duka ketika jauh dari keluarga, melainkan tentang peta. Hah? Peta? Hubungannya apa coba? Ada, pasti ada.

Saya teringat cerita seorang guru, kata-katanya yang paling saya ingat adalah: “Nasihat (aturan) itu ibarat sebuah peta”. Tuh kan ada hubungannya sama peta. Lalu maksudnya bagaimana? Begini, SMART itu tak seperti sekolah lain pada umumnya dan kami yang ada di sini bisa dikatakan tidak seperti anak-anak di luar pada umumnya. Di sini kami harus taat pada aturan ini dan aturan itu. Terus kalo tak taat aturan dihukum? Paling dibotaki dan ujung-ujungnya dikeluarkan dari SMART. Eh lupa kok malah dijawab duluan. Saya lanjutkan dulu ya pesan guru saya: “Mungkin saat ini orang yang kita nasihati tidak mengikutinya. Ibarat orang akan terus berjalan tidak pada tempatnya, tapi apa yang membedakan antara orang yang dinasihati dan yang tidak? Bedanya –kalau misalnya- orang yang diberi peta ingin selalu berjalan pada tempatnya dan menjadi lebih baik, maka dia hanya perlu melihat peta tersebut. Berbeda dengan orang yang tak mempunyai peta, dia pasti bingung untuk mengambil jalan yang mana jika ia ingin berubah haluan.

Benar gak? Masih belum percaya? Saya paparkan beberapa pengalaman saya ya, saya mengenal seorang teman di SMART EI, di akhir semester ia menyatakan ingin berubah dan memutuskan untuk menghafal beberapa juz Al-Quran. Lalu kenapa dia memilih untuk menghafal Al-Quran? Jawabannya karena ia ingat nasihat yang disampaikan guru Al-Qurannya tentang keutamaan menghafal Quran, Quran itu diibaratkan peta yang akan membimbing kita semua ke jalan yang lebih baik. Dengan Quran juga kita takkan mudah tersesat karena Quran akan selalu memandu kita.

Sekarang sudah mengerti dong korelasi antara nasihat dengan peta? Di SMART mereka yang menurut akan aturan merupakan orang-orang yang mengikuti peta, mereka ingin menjadi lebih baik dan baik lagi walau mungkin terbersit perasaan jenuh. Sedangkan mereka yang dibotaki atau bahkan dikeluarkan dari SMART merupakan orang-orang yang tidak mengikuti atau bahkan menolak menggunakan peta.

Nah untuk adik-adik kelas saya di SMART, SMART bukanlah penjara; aturannya juga bukanlah kungkungan, walaupun terkadang aturannya terkesan “memaksa” namun dari sanalah kalian akan mampu untuk menggambarkan petamu sendiri walau mungkin saat ini kalian tidak mengerti, namun di masa depan pastilah sangat berguna.

Kuliah-Pak-Dirgo-1

Kehidupanku Sebagai Mahasiswa dan Kenanganku di SMART

Kuliah. Masa perubahan status, siswa menjadi ‘maha’siswa. Ya, kini aku adalah seorang mahasiswa. Saat paling tepat untuk membentuk diri, menentukan seperti apa diriku ke depannya. Bertansformasi, layaknya sebuah gerabah yang baru keluar dari cetakannya. Sukses terbentuk menjadi sebuah kendi yang indah, atau pecah karena tak mampu bertahan dalam tungku pembakaran.

Masa-masa akhir di kelas lima di SMART Ekselensia Indonesia. Walaupun nilai UN-ku tidak cukup memuaskan. Meskipun aku tidak lolos dalam SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) jalur undangan. Aku merasa sangat bersemangat. Seorang remaja yang selama lima tahun terakhirnya selalu diawasi, dibina, diatur, dan didukung, akan tiba saat baginya dilepaskan. Menuju fase kehidupan selanjutnya. Mengawasi dan mengatur setiap hal yang dilakukan diri. Mencari dukungan dan membuat dukungan untuk diri agar bisa menemukan jalan terbaik bertahan di jalan itu.

Kini aku berada di posisi itu. Saat aku bebas mengatur diri. Memilih tempat. Mencari suasana. Terkadang untuk membuat diriku berada di lingkungan yang baik. Namun, terkadang pula hanya untuk membuat diriku nyaman. Entah itu baik atau buruk. Sangat sulit. Benar-benar sulit. Itu yang kurasakan di situasiku saat ini. Betapa aku merindukan saat-saat ketika berada di SMART. Bahkan, aku juga sangat merindukan saat-saat ketika aku bersama teman-temanku merasakan pelatihan dari KOPASSUS. Melakukan posisi taubat (tanyakan pada yang pernah merasakan selainku). Saat itu mungkin fisikku sangat mendapat hal yang “istimewa”. Namun, saat ini aku merasa saat itu lebih baik dari saat ini.

Kenyataan adalah kenyataan. Hanya Allah swt. dan diriku yang mampu mengubah takdir dan nasibku. Seorang guruku di SMART selalu menyampaikan ini padaku, “tugas kita sebagai manusia hanyalah berusaha, hasil itu hak prerogatifnya Allah swt”.

Untuk setiap orang yang membaca tulisan ini. Kusampaikan padamu, “Hiduplah sesukamu. Namun ingatlah, hal yang baik hanya untuk orang yang baik”. Sekian.

16507998_1038710946262873_2854575026750355066_n

Penjara yang Nyaman

Oleh: Ahfie Rofi

Alumni SMART Angkatan 7. Saat Ini Berkuliah di Universitas Gadjah Mada Jurusan Sastra Arab.

16507998_1038710946262873_2854575026750355066_nDi ujung tanduk!
Sisa waktuku di SMART tinggal hitungan hari. Berat rasanya harus pergi, padahal dulu hidup di sini serasa beban. Dulu inginnya cepat selesai, sekarang malah minta tambahan waktu. Tapi apa hakku? Dulu aku menganggap SMART sebagai penjara mengerikan. Namun, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya pengalaman, sekarang aku merasa ini “rumah” yang nyaman. Sebentar lagi lulus… Tidak terasa….

Yang kubayangkan waktu itu, SMART tak ubahnya seperti ibu hamil, dan aku adalah satu dari 38 janin yang akan segera lahir. Di satu sisi rasanya tidak sabar ingin cepat keluar, tapi kalau dipikir lagi, nyaman juga ya di dalam?

Lalu apa kata ustazah Dini guruku menanggapi pernyataanku? Sambil tersenyum, beliau berkata,

“Terlalu lama di dalam rahim itu tidak baik, janin bisa mati. Terlalu cepat keluar juga tidak baik, bisa mati juga. Jadi, jalankan sesuai dengan apa yang digariskan-Nya. Nikmati, ikhlaskan, optimis dan berusahalah.”

Ah, benar juga. Memang jatah waktuku cuma lima tahun, dan sejauh ini aku tidak menyesal dengan semua yang telah terjadi.

Kembali aku ingat hari pertama aku menginjakkan kaki di SMART, Rabu 14 Juli 2010 pukul 12.00 WIB bertepatan dengan adzan dzuhur, mobil jemputan kami tiba di tanah Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa (YPnDD) tercinta, membawaku dan dua temanku, Farhan yang wajahnya mengingatkanku pada lelaki berandalan alih-alih gamer dan Fadlillah yang waktu itu gendut dan culun, tapi sekarang sudah jadi “Dewa”-nya Fisika di angkatanku, serta orangtua kami masing-masing.

Aku juga ingat, awal-awal aku di sini, aku pernah diamanahi ayah dari temanku yang berasal dari salah satu kota penghasil timah, agar menjaga anaknya selama di sini. Padahal besok-besok, anak yang sebenarnya lebih kecil postur tubuhnya dariku ini malah amat senang menggangguku. Tapi tidak apa, itu masa lalu, sekarang kami sudah berdamai. Haha.

Lucu mengingat dulu temanku pernah dijahili habis-habisan sampai sempat dia pernah lompat dari kasur tingkat ke bawah gara-gara teman-temanku menggoyang-goyangkan ranjang anak Sulawesi itu sambil teriak, “Gempa!! Gempa!!” Untungnya dia mendarat di ranjang yang lain alih-alih langsung ke permukaan lantai. Bisa gawat kalau dia sampai cedera gara-gara itu.

Dan diantara kepolosan-kepolosan itu, tetap ada saja orang-orang yang “terpaksa” bermusuhan gara-gara masalah sepele seperti aku yang pernah bermusuhan dengan temanku dari Bandung cuma gara-gara rebutan permen (iya, serius lho!). Pernah juga ada yang ingin coba-coba kabur dari SMART Ekselensia Indonesia dan pulang ke rumah saudaranya di Jakarta karena tidak tahan tinggal di SMART EI tapi tidak jadi karena baru sampai di Bogor dia hilang nyali. Haha.

Tetap saja, itu hanya masa lalu, yang meski menyedihkan, meski menyebalkan, tetap akan indah ketika dikenang dengan penuh penerimaan. Dia hanya masa lalu, yang tetap akan begitu.

Sekarang kami sudah besar. Sebentar lagi berpisah, yang artinya sudah hampir lima tahun kami bersama-sama. Syukurlah, sekarang tidak ada lagi “musuhan-musuhan” ala anak-anak. Ah, indahnya.

Berpolitik Kenapa Tidak?

Oleh: Cecep Muhammad Saepul Islam, Alumni SMART Angkatan 8, Saat Ini Berkuliah di Universitas Padjajaran Jurusan Hukum

“Bukan politik yang kotor, melainkan orang-orang yang berada di dalamnya saja yang tidak bisa menjaga kemurnian politik”

Itu merupakan jawaban yang sering saya katakan kepada setiap orang yang meragukan saya untuk terjun ke dalam dunia politik. Mulai dari keluarga besar, teman-teman, guru BK, kepala sekolah semua meragukan saya. Tapi saya keukeuh untuk masuk politik. Lalu, kenapa sih saya ingin sekali masuk dunia politik? Oke semuanya akan saya jelaskan di sini.

Semua bermula saat usia saya menginjak 10 tahun, saat itu saya masih duduk di bangku kelas 5 SD. Saat di mana -saya rasa- itu merupakan masa untuk membentuk kepribadian dan masa depan. Saya yang sedang asik menikmati waktu libur panjang ditawari hal menarik  oleh ayah saya, seorang yang paling saya hormati.

“Cep, besok mau ikut kampanye partai gak? Lumayan sekalian bapak ajak jalan-jalan keliling Bandung”.  Tanpa pikir panjang aku menerima ajakan itu, bukan ajakan untuk kampanye yang membuat saya bersemangat, melainkan ajakan untuk jalan-jalan keliling Bandungnya. Yah, saat itu saya belum mengerti yang namanya politik.

Keesokan harinya setelah bangun tidur, saya langsung bergegas mandi. Ini hari yang paling saya tunggu. Bapak saya sudah bersiap dengan menggunakan kaos dengan gambar lambang salah satu partai politik di Indonesia. Tanpa saya minta, bapak memberikan satu kaos yang sama dan pastinya pas dengan ukuran badan saya. Kami pun berangkat dengan motor, aku yang dibonceng oleh bapak memegang bendera partai dengan semangat.

Belum juga melewati desa, motor yang ayah saya kemudikan tiba-tiba berhenti, ternyata sudah banyak orang yang menunggu dengan seragam yang sama dengan kami. Ini akan menjadi hari yang menyenangkan, keliling Bandung berbondong-bondong dengan orang yang baru saya kenal. Gumam saya dalam hati.

Setelah beberapa menit mendengar orang yang berpidato lewat pengeras suara, kami pun berangkat. Benar-benar di luar dugaan ku, perjalanan menuju pusat Kota Bandung sangat menyenangkan. Bunyi klakson terdengar bersaut-sautan, banyak bendera partai berkibaran, dan pastinya massa semakin banyak menyelimuti jalan raya. Banyak orang yang sedang berjalan di pinggir jalan raya berhenti sejenak untuk melihat kami, rasanya seperti penguasa jalan!!

Saking semangatnya hingga tak terasa bahwa kami sudah sampai di pusat Kota Bandung. Sudah ada ribuan orang dengan seragam dan atribut partai yang sama dengan kami menutupi lapangan. Dari kejauhan terlihat berdiri kokoh panggung megah yang nantinya akan dijadikan tempat orasi oleh partai tersebut. Nyanyian sudah terdengar samar-samar dari depan panggung. Saya turun dari motor dan menunggu bapak yang sedang memarkirkan motornya. Bapak memegang tanganku, “ Jangan jauh-jauh dari bapak, nanti kamu bisa berpisah dari bapak. Bahaya!” saya hanya menganggukkan kepala.

Kami mulai menuju kerumunan, benar-benar penuh sesak. Tapi entah mengapa, saya merasa menyukai suasana seperti ini, saya hanyut dalam acara. Banyak sekali acara yang diadakan oleh partai yang kami dukung. Salah satu hal yang membuat kami semakin bersemangat adalah ketika Iwan Fals menyanyikan lagunya, Wakil Rakyat. Semua ikut bernyanyi.

“Wakil rakyat seharusnya merakyat….Jangan tidur waktu sidang soal rakyat….Wakil Rakyat bukan paduan suara”. Semuanya hanyut dalam nyanyian.

Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 WIB, namun tanpa adanya aba-aba, hujan pun turun dengan derasnya. Saya kira semuanya akan berteduh, tapi tidak! Semuanya semakin bersemangat. Ada bendera merah putih ukuran yang berkibar di atas panggung utama. Ini luar biasa!!  Saya semakin terbawa suasana, bergoyang menikmati lagu-lagu yang terus dilantunkan oleh sang presiden masyarakat, Iwan Fals.

Saat sedang asik bergoyang, bapak menyuruh saya untuk ikut dengannya. Begitu juga dengan rombongan yang satu desa dengan saya. Kami akan siapa-siap untuk Salat Zuhur, setelah itu kami siap-siap untuk pulang. Diperjalanan pulang, suasana jalan masih ramai. Banyak rombongan yang memilih untuk pulang juga. Suasana masih ramai hingga kami tiba di desa kami.

Sesampainya di rumah saya mandi, bapak sudah menunggu di ruang tamu. Nampaknya ada yang ingin bapak sampaikan kepada saya.

“Cep sini. Ada yang ingin bapak sampaikan sama kamu”

“Iya pak,” saya duduk di depan bapak.

“Gimana tadi Cep? Serukan?”

“ Iya pak,” saya mengusap-ngusap tangan yang masih kedinginan.

“ Begitulah Cep dunia politik. Semuanya siap dilakukan asalkan kita bahagia. Banyak orang yang rela hujan-hujanan demi mendukung orang yang belum tentu akan membuat mereka bahagia. Tapi kita yang memilih itu percaya, bahwa yang kita pilih adalah yang terbaik”. Bapak berhenti sejenak dan meneguk kopi yang ada di depannya.”Memang banyak yang bilang politik itu kotor, banyak korupsi, terus banyak kejahatan-kejahatan. Tapi ingatlah bahwa orang-orang yang kotor itu bukanlah orang-orang yang mengerti politik. Mereka hanya penikmat”.

“Saya pengen masuk politik pak”. Entah mengapa, seketika saya sangat ingin masuk politik.

“Bapak sih dukung-dukung aja kamu masuk politik. Tapi ingat, kamu harus amanah sama orang-orang yang udah percaya sama kamu yang udah bela-belain hujan-hujanan demi dukung kamu. Jangan sampai kamu mengecewakan mereka dan kamu termasuk ke dalam orang-orang yang menjadi penikmat politik saja. Kamu jangan sampai korupsi dan melakukan hal-hal kotor lainnya. Kamu bisa banyak teman kalau hidup di dunia politik dan bukan teman baik saja yang bakalan kamu miliki, tapi kamu juga bakalan punya temen-temen yang kotor,” ujar bapak penuh kesungguhan.

Muhun pak, saya paham”

“Dan satu lagi, Kamu ubah nasib Negara ini. Kita semua kalangan bawah udah bosan dibohongin sama orang yang kita pilih”

Saat itulah keinginan saya untuk masuk dunia politik makin kuat, bukan untuk mencari kekayaan. Tapi saya sangat menyukai dunia politik. Dunia politik itu gak ada kata lelah dan pastinya bakalan punya banyak teman. Terserah kata orang mau bilang saya bakal korupsilah, bakalan sombonglah, bakan apalah. Tapi lihat saja nanti, siapa yang akan merubah negeri ini!.

Dan sekarang saya Cecep Muhammad Saepul Islam seorang anak desa akan menapakkan kakinya di Universitas Padjadjaran jurusan Ilmu Hukum. Terima kasih atas segala doa dan bantuannya dari kalian semua teman-teman Angkatan 8, karena tanpa kalian ini semua tak akan terjadi. Insya Allah saya akan membalas semua keraguan yang datang pada saya dengan bukti nyata bahwa saya akan mengubah image politik yang dianggap kotor oleh kalangan masyarakat.

Lalu ada pertanyaan, “Lah kok jadinya masuk Ilmu hukum bukan Ilmu Politik atau Ilmu Pemerintahan? Karena Hukum merupakan atasan segala hal yang berkaitan dengan perpolitikan di dunia.

IMG-20171010-WA0002

Fisika Oh Fisika Kami Menaklukanmu!

 

IMG-20171010-WA0002

Setiap tahunnya Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta menghelat Pekan Raya Ilmiah, salah satu cabang lomba yang digadang yakni Olimpiade Fisika. Setiap tahunnya pula SMART Ekselensia Indonesia mengikuti perhelatan akbar se-Jawa tersebut.

Selama beberapa minggu terakhir kami menyiapkan diri dengan mengikuti bimbingan belajar intensif bersama Pak Agus Suherman (Guru Fisika kami), juga mengikuti enrichment secara berkala agar persiapan kami semakin matang. Maklum, jika tak sungguh-sungguh maka gelar juara se-Jawa tak bisa kami genggam.

Sebagai permulaan, pada 17 September lalu kami mengikuti tes regional sebagai syarat lolos ke babak penyisihan. Tes ini digelar serentak di Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten; adapun tesnya hanya berisikan tes tulis secara kelompok, Alhamdulillah kami mendapatkan nilai tertinggi dan berhasil melenggang ke babak selanjutnya. Tahun ini kami mengirimkan dua delegasi (satu delegasi berisikan tiga orang), hanya saja yang mampu melaju ke babak selanjutnya hanya satu delegasi.

Pada Senin, 09 Oktober, kemarin akhirnya kami mengikuti final yang dilaksanakan di Auditorium Harun Nasution UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sekolah-sekolah yang masuk final selain sekolah kami diantaranya MAN 19 Jakarta, SMA Uswatun Hasanah, Usman 1 Trenggalek, Pesantren La Adzkar, SMAN 1 Purwakarta, MAN 4 Jakarta. Final dilakukan dalam beberapa sesi antara lain sesi semi final, selama semi final kami melakukan tes komputer seperti UNBK, Alhamdulillah di tes ini kami mendapat nilai tertinggi yakni 224 dan berhasil melaju ke final. Di final kami kembali mengikuti tes dalam bentuk LCC dan praktikum, Alhamdulillah kami kembali mendapat nilai tertinggi dalam LCC dan praktikum.

IMG-20171009-WA0011

Secara keseluruhan kami dinilai juri sangat menguasai materi dan diganjar menjadi Juara 1 Olimpiade Fisika se-Jawa, kami tak menyangka namun rona bahagia terlihat dari wajah kami saat menerima piala. Alhamdulillah kami kembali mengharumkan nama SMART, sekolah kami tercinta.

“Kami sangat bangga atas prestasi yang ditorehkan siswa SMART, kami juga ingin melihat sejauh mana kesiapan mereka menghadapi lomba lebih besar yaitu Olimpiade Sains Nasional (OSN),” ujar Pak Mulyadi, Koordinator Bidang Prestasi SMART. “Semoga ke depannya SMART mampu meraih prestasi lebih banyak lagi,” tutupnya. (YD/AR)