cara-menjadi-pemimpin-yang-sukses

Memorabilia Sederhana

Oleh: Firman, Guru SMART Ekselensia Indonesia
Bogor – 26 November 2017, setelah menyimak prakata dari Guru Agung, GM SMART Ekselensia Indonesia, para guru memfokuskan diri pada acara pengembangan diri dengan tema “Mengembangkan Kemampuan Pengelolaan Emosi pada Anak dan Remaja”. Fokus maksimal karena materi diisi oleh pemateri nasional. Beliau adalah Dra. Yeti Widiati, psikolog yang juga seorang penulis beberapa buku fenomenal.
Acara tersebut dilangsungkan di Aula Bumi Pengembangan Insani, pukul 13.00 sampai 17.00 WIB. Total 24 guru, baik sekolah maupun asrama, mengikuti agenda yang diprakarsai oleh Litbang SMART Ekselensia Indonesia dan HRD Divisi Pendidikan Dompet Dhuafa. Semua guru sangat antusias untuk mengikuti pelatihan tersebut karena semua memiliki ekakarsa (satu kehendak; satu niat), yaitu SMART Ekselensia Indonesia yang adigung adiguna.
Awal sesi pertama, pemateri memulai acara dengan pertanyaan, “Apakah yang dimaksud dengan emosi?”
Sebuah kata yang orang dewasa nisbi pernah mendengar bahkan mengucapkannya, namun mungkin masih awam untuk mendefinisikannya. Beberapa guru coba merespon pertanyaan tersebut, dengan sedikit malu, ragu, bahkan lugas bagaikan tinju. Usaha yang baik daripada sekadar menitipkan raga di aula. Sejatinya pemateri tidak mencari jawaban yang benar apalagi salah. Pemateri mencoba menangkap respon belajar guru yang mungkin kalah cepat oleh rasa ingin memejamkan mata.
Emosi adalah suatu kondisi psikologis yang melibatkan pengalaman subjektif, respon fisik, respon perilaku, dan ekspresi. Itu adalah definisi emosi yang dipaparkan pemateri. Setelah pertanyaan itu, materi-materi berikutnya disampaikan dengan cerdas dan lugas sehingga para peserta tetap awas dan antusias.
Selain pemaparan materi berdasarkan referensi dan pengalaman, pelatihan tersebut semakin asyik karena diwarnai dengan salinida (slide) yang menarik, bahkan sesekali diselipkan film yang menggugah emosi. Salah satu salinida berwarna adalah salinida bergambar bagian-bagian otak yang berhubungan dengan emosi. Ada tiga bagian otak yang sangat berpengaruh dalam mengelola emosi: otak reptil, sistem limbik, dan neokortex. Dalam seketika, para guru seolah sedang belajar bersama seorang neurologi. Keren!
Materi lain pada sesi satu ini adalah tipe-tipe respon emosi menurut Johnson and Greenberg. Ada empat tipe: emosi primer adaptif, emosi primer maladaptif, emosi sekunder, dan emosi instrumental. Istilah-istilah yang tidak lazim terdengar bisa dengan cepat kami pahami karena pemaparan yang efektif disertai contoh yang nyata. Selain materi tersebut, tidak akan hilang dari ingatan, yaitu bahwa setiap emosi memiliki pesan dan menurut TFE (Terapi Fokus Ekonomi) bahwa semua emosi itu bersifat positif.
Sejenak kami rehat untuk menghadap Ilahi, meneguk segelas kopi, dan menikmati empat jenis kudapan yang terbungkus rapi. Berikutnya, sesi kedua telah menanti. Sesi yang diawali oleh sebuah kalimat bijak, “Jika kita hanya memiliki palu, maka segala hal kita anggap sebagai paku.”
Pemanfaatn Terapi Fokus Ekonomi  TFE dan Solution Focus Therapy (SFT) menjadi fokus utama pada sesi kedua. Sedikit berbeda dengan sesi pertama, sesi kedua lebih banyak diisi dengan aktivitas dan diskusi guru. Aktivitas yang akhirnya membuat pelatihan semakin menderu. Beberapa guru bahkan berani mempresentasikan hasil diskusi tanpa ragu.
Dua jenis emosi, yaitu emosi positif dan emosi negatif tampaknya akan menjadi akhir petualangan sesi kedua. Namun, di akhir sesi, para guru mendapatkan kejutan, berupa balon dengan variasi warna. Balon yang menjadi fasilitator kami dengan dua jenis emosi tersebut. Balon yang ternyata membuat emosi positif kami terlihat nyata, kami tertawa, tanpa ragu apalagi takut.
Klimaksnya, ada hadiah (doorprize) yang disediakan oleh pemateri untuk beberapa kriteria. Hadiah berupa buku terbaru sang pemateri dengan judul Senyaring Tawa Ananda. Kebahagiaan berlipat bagi yang mendapatkannya. Tidak perlu kecewa yang belum beruntung membacanya. Sejatinya, kebersamaan kita semua adalah hadiah paling istimewa yang akan menjadi memorabilia. Selamanya.
IMG-20171119-WA0023

DEPUTI KEMENPORA MEMBUKA DAN MENGAPRESIASI LOMBA PERKEMAHAN PRAMUKA PENGGALANG SMART EKSELENSIA INDONESIA

IMG-20171119-WA0023

BOGOR – Pramuka merupakan salah satu kegiatan positif yang dapat membentuk karakter generasi muda. Seperti kata Bung Karno sejak puluhan tahun lalu, bahwa terdapat tiga cara dalam mendidik anak menjadi pribadi yang baik. Yakni pertama melalui keluarga, kedua melalui sekolah serta yang ketiga melalui pramuka.

Menyadari pentingnya kegiatan pramuka bagi generasi pemuda, maka SMART Ekselensia Indonesia berinisiatif untuk menyelenggarakan Lomba Perkemahan Pramuka Penggalang (LP3) se-Jawa. Pelaksanaan LP3 2017 bukan merupakan agenda perdana, sebab sejak tahun 2015 SMART Ekselensia Indonesia secara rutin melaksanakan agenda ini setiap tahunnya.

Diikuti oleh lebih dari 300 peserta dari berbagai daerah di pulau Jawa, LP3 akan dilaksanakan selama dua hari (18-19 November 2017). Upacara Pembukaan LP3 dimulai pada 18 November 2017 jam 08.00 pagi. Yasin Zainuddin dari Kwarda Jawa Barat menjadi pembina upacara.

“Kalian berkumpul di sini dari berbagai daerah, tentunya akan menemukan beragam budaya, bahasa dan karakter yang berbeda-beda. Manfaatkan kesempatan ini untuk belajar dan mendapatkan teman sebanyak-banyaknya serta saling bertukar pikiran satu sama lain” Ucap Yasin dalam pidatonya.

Agung Pardini, GM SMART Ekselensia Indonesia, dalam pidato sambutannya yang berapi-api turut menyampaikan pesan kepada para peserta LP3

“Kalian berada di tanah milik Allah SWT, sebab tanah ini merupakan tanah wakaf. Semoga keberkahan wakaf dapat membentuk karakter pramuka dalam diri kalian. Sebab darma utama seorang pramuka adalah taqwa kepada tuhan yang maha Esa. Oleh karena itu setiap adzan berkumandang, kalian harus meninggalkan segala aktivitas dan bergegaslah untuk shalat berjamaah. Satu hal penting dari kegiatan LP3 ini bukan hanya soal menang dalam pertandingan, namun tentang pembangunan karakter,” jelasnya

Acara LP3 turut dibuka dan dihadiri oleh Imam Gunawan, Sekretaris Deputi Pengembangan Pemuda KEMENPORA RI. Dengan pembawaan santai dan bersahabat, ia menjelaskan bahwa sangat mengapresiasi dan menyambut bahagia dengan pelaksanaan kegiatan LP3 ini. Bahkan Imam berharap agar kegiatan ini dapat secara konsisten dilaksanakan oleh SMART Ekselensia Indonesia.

“Pihak KEMENPORA RI turut mendukung kegiatan LP3 dengan memberikan piala bergilir KEMENPORA untuk acara ini. Hal ini berarti, SMART Ekselensia Indonesia punya tanggung jawab untuk menyelenggarakan acara ini secara konsisten. Saya berharap kalian yang menjadi peserta dapat terus berpartisipasi dalam kegiatan LP3 di tahun-tahun mendatang serta mengajak teman-teman kalian yang lain untuk ikut berpartisipasi,” kata Imam Gunawan

Terdapat sepuluh cabang lomba yang akan ditandingkan dalam LP3 2017. Sebanyak 300 lebih siswa yang terbagi ke dalam 38 regu akan saling bertanding untuk menjadi yang terbaik. Akan dipilih juara umum dan juara favorit yang akan mendapatkan uang pembinaan, sertifikat jalur prestasi serta piala KEMENPORA RI sebagai hadiah utama. Semoga rangkaian kegiatan LP3 dapat membentuk karakter para peserta agar menjadi pemuda dengan jiwa pramuka sejati. Salam pramuka! (PM).

 

IMG-20170815-WA0001

With Scout We Lead the World

Oleh: Asep Rogia 
KAMI PRAMUKA TAPI KAMI MUSLIM. Kalau ada aturan pramuka yang bertentangan dengan nilai Islam, maka aturan Pramuka layak diterjang.
Jiwa kemandirian dalam pramuka, ketaqwaan, kesederhanaan, persatuan dan patriotisme diajarkan dalam setiap sendi kehidupan maka bukan hal yang mustahil jika kita melihat pemuda dan pemudi Indonesia menjadi generasi kuat.
Jika semangat “permainan menarik yang mengandung pendidikan” sebagai ajaran dasar kepanduan dunia, diterapkan dan diejawantahkan dalam berbagai perilaku organisasi dan sistem pengajaran, bukan tidak mungkin jika pemuda dan pemudi Indonesia akan menjadi generasi penuh tekad.
Jika saja kedisplinan yang menjadi ruh pramuka diterapkan dalam setiap sendi kehidupan, dimulai dari bangun tidur hingga terlelap kembali maka tidak mustahil jika pemuda dan pemudi Indonesia memimpin dunia.
Di arena pramuka banyak terjalin persatuan. Tak peduli ras, suku, dan agama karena persatuan ialah hal utama.
Jika nilai-nilai kepramukaan tentang kepemimpinan sudah merasuk ke dalam sanubari para pemuda dan pemudi Indonesia, maka bukan mustahil jika di masa depan akan  muncul  benih-benih  unggul  calon  pemimpin  Negara  Kesatuan  Republik Indonesia bahkan pemimpin dunia!
Di SMART, ajaran inti kepanduan sudah diterapkan sehari-hari. Sebab bagi para siswa SMART mereka harus tetap hidup disiplin, kreatif, bertaqwa, aktif, dinamis, dan berjiwa luhur dalam setiap nadi kehidupan walau ada atau tidaknya kegiatan pramuka. Karena nilai-nilai pramuka sudah lama bersarang di dalam jiwa mereka.
Salam PRAMUKA!!
(Tulisan telah mengalami proses editing (AR))

 

cara-menjadi-pemimpin-yang-sukses

Karena Seorang Guru Pantang Tak Kreatif

Oleh: Dede Iwanah, S.Pd.

Guru IPS SMP SMART Ekselensia Indonesia

 

Hari itu, Sabtu siang nan terik, berkumpulah belasan bapak/ibu guru dari berbagai jenjang sekolah mulai PAUD, SD baik negeri maupun swasta dan MI di Pusat Studi Belajar (PSB) Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa. Mereka datang dari beberapa wilayah di Kabupaten Bogor.

Nampak dari raut wajah mereka sangat antusias dn terlihat semangat menimba ilmu meski terpaut usia yang cukup timpang satu sama lain. Ya, siang itu saya diamanahi menjadi fasilitator workshop media pembelajaran pada kegiatan Komunitas Guru Pembuat Media Pembelajaran (KOMED) yang dimotori oleh PSB.

Siang itu, saya mempresentasikan tentang Monasean, sebuah produk permainan yang diadopsi serupa monopoli baik bentuk ataupun permainannya dan dipadukan dengan materi ASEAN pada mata pelajaran IPS kelas IX semester 1. Monasean adalah salah satu produk orisinil karya siswa kelas IX A SMP SMART Ekselensia Indonesia tempat saya mengajar.

Tibalah saat lokakarya, di mana mereka dipersilahkan mempraktikkan membuat permainan sejenis dengan tema yang berbeda dan cara bermain yang berbeda pula sesuai dengan jenjang pendidikan siswa yang mereka ajar. Di luar dugaan para peserta lokakarya sangat antusias dengan produk Monasean, sehingga tidak perlu menunggu lama untuk mereka langsung bergerak dan menyiapkan seluruh peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan. Dengan sigap mereka langsung membentuk kelompok dan berbagi tugas, sehingga  beberapa waktu kemudian terciptalah Monopes (Monopoli Pesawat Sederhana), Monua (Monopoli Benua), dan Monomazi (Monopoli Makanan Bergizi) meski belum rampung 100%.

Subhanallah, siswa/siswi mereka patut berbangga kepada mereka, bahkan Indonesia patut mengapresiasi dedikasi mereka. Di saat orang lain berakhir pekan dengan keluarga, guru-guru yang tergabung dengan KOMED harus rela berakhir pekan dengan membuat berbagai media pembelajaran sebagai bahan ajar di kelas mereka demi melihat senyum di wajah polos para siswanya. Dua jempol untuk semangat mereka yang luar biasa.

Sungguh menyenangkan menjadi bagian dari mereka yang bekerja keras demi sebuah media pembelajaran dan larut dalam sebuah situasi di mana kertas karton warna warni, spidol, lem, aneka gambar berserakan mewarnai lantai berkarpet Ruang Audio Visual PSB. Sungguh membanggakan, merekalah guru sejati.

Setiap dari kita adalah seorang guru, seorang pembelajar sejati, seorang inspirator bagi seluruh siswanya dan bagi dunia. Kita lah guru harapan masa depan pendidikan Indonesia. Semoga semangat berkontribusi terpatri pada setiap diri kita meski bagai buih di lautan.

“A teacher who is attempting to teach without inspiring the pupil with a desire to learn is hammering on cold iron (seorang guru yang berusaha mengajarkan tanpa menginspirasi muridnya dengan keinginan untuk belajar adalah seperti memalu besi dingin) ~ Horace Mann

 

mobile users

Dengan Buku Aku Bebas

Oleh: Insan Maulana

Alumni SMART Angkatan 9 Berkuliah di UPI Bandung

 

Aku rela dipenjara asalkan dengan buku, karena dengan buku aku bebas.”

 –Muhammad Hatta-

Zaman sekarang, teknologi mengambil peran penting dalam kehidupan manusia dan seiring berjalannya waktu, teknologi semakin berkembang dan semakin maju. Kemajuan teknologi membuat kita semakin mudah melakukan segala sesuatu, kita ambil contoh jika kita ingin melakukan komunikasi antar kota, puluhan tahun yang lalu kita harus menggunakan surat dan membutuhkan waktu yang lama, itu komunikasi antar kota. Bagaimana dengan komunikasi antar benua? Sepertinya mustahil dilakukan. Namun, sekarang teknologi menyediakan berbagai fitur yang membuat komunikasi antar benua menjadi lebih mudah, selain itu waktu yang dibutuhkan pun teramat singkat. Teknologi seperti e-mail, SMS (Short Message Service), telepon atau media sosial seperti facebook-lah yang membuatnya mungkin. Termasuk untuk mencari informasi, kini tersedia internet yang teramat mudah diakses, bandingkan saat abad 20 ketika itu hanya tersedia surat kabar dan buku sebagai sumber informasi.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan pengguna internet cukup banyak dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara. Sebuah agensi marketing sosial mengeluarkan sebuah laporan pada Maret 2015 mengenai data jumlah pengguna website dan media sosial di Indonesia. Ternyata, jumlahnya menembus angka 72,7 juta pengguna aktif internet dan 74 juta pengguna aktif media sosial.[1] Angka ini meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun. Padahal, di awal pendiriannya, jaringan internet hanya menghubungkan beberapa universitas di Amerika, sekarang internet sudah menjadi viral dan menyasar berbagai kalangan, mulai dari dewasa, remaja bahkan anak usia sekolah dasar sudah mengenal dunia internet.

Sangat mudahnya mendapat informasi melalui internet ini adalah faktor utama turunnya minat untuk membaca buku. Selain punya banyak pengguna internet, Indonesia juga merupakan negara dengan tingkat minat membaca buku yang sangat rendah dibanding dengan negara Asia Tenggara lainnya. Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, H.R Agung Laksono, di Media Tempo pada 12 Januari 2012, menyebutkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah dimana prosentase minat baca masyarakat Indonesia hanya sebesar 0,01 persen, artinya dalam 10.000 orang hanya satu orang saja yang memiliki minat baca. Tingkat minat baca masyarakat Indonesia ini masih jauh ketinggalan dibandingkan negara lain seperti Jepang yang mencapai 45 persen dan Singapura yang menyentuh angka 55 persen. Bahkan berdasarkan survei UNESCO, budaya baca masyarakat Indonesia berada di urutan 38 dari 39 negara yang paling rendah di kawasan ASEAN.[2] Hal ini sungguh memprihatinkan, padahal informasi yang kita dapat dari buku lebih detil daripada informasi yang didapat dari internet. Masyarakat Indonesia pada umumnya cenderung haus akan informasi, seperti contoh mereka selalu ingin mengetahui kabar, kegiatan dan foto-foto temannya. Cara yang tepat bagi mereka tentu menggunakan media sosial seperti Facebook, Twiter dan Instagram. Fenomena inilah yang membuat perspektif mayoritas orang terhadap kegiatan membaca buku atau menulis cerita terlihat kuno atau ketinggalan zaman. Selain itu, kutu buku juga sering dikucilkan dan dianggap culun.

Dalam segala kemudahan yang ditawarkan, media sosial juga kerap kali membawa serta dampak negatif bagi penggunanya. Lupa waktu karena keasyikan, tidak mau membaca buku, dan sering ditemukan hal yang tidak penting seperti kata-kata kotor, kasar bahkan gambar vulgar adalah sedikit dari banyaknya dampak negatif internet. Sekarang mari kita bahas tentang buku. Memang jika kita teliti buku-buku zaman sekarang banyak yang mengandung  konten negatif seperti komik dan novel yang berlabel “dewasa” di bagiam sampulnya. Hal-hal seperti itulah yang menyebabkan sumber daya manusia di suatu negara menjadi hancur secara pikiran maupun perilaku. Maka dari itu, dalam membaca buku pun kita tetap harus selektif.

Berlatar belakang hal-hal di atas, menurut saya perlu beberapa cara suntuk meningkatkan minat baca dan menulis masyarakat terutama kalangan muda yang masih duduk di bangku sekolah. Pertama, pemerintah harus memberikan imbauan kepada seluruh sekolah supaya menasihati siswa-siswinya untuk tidak terlalu sering dan berhati-hati dalam menggunakan media sosial apalagi menyalahgunakannya. Selain itu, penting juga untuk menginformasikan tentang pentingnya membaca buku dan berlatih menulis. Kedua, pemerintah harus mengadakan lomba tentang literasi supaya siswa yang sudah berkembang kemampuan literasinya bisa menyalurkan kemampuan dan bersaing dengan orang lain.

Untuk itu, akan lebih baik jika kita membaca buku yang berisi tentang ilmu pengetahuan atau novel yang berisi cerita orang-orang sukses yang inspiratif dan memotivasi daripada menghabiskan waktu menggunakan media sosial. Tidak salah bila kita menggunakan media sosial dan internet untuk mencari informasi karena lebih mudah, namun kita harus menyadari bahwa dengan membaca buku, ilmu yang kita dapat akan lebih banyak.

IMG-20160815-WA0006

Karena Kegiatan Ini (Insha Allah) Pahala Kami Semakin Banyak

Sejak angkatan pertama hingga angkatan dua belas ada sebuah kegiatan yang membuat kami selalu merasa nyaman berada di SMART. Bukan hanya nyaman, tapi juga ada perasaan tenang yang menyusup diantara penatnya pikiran kami akan banyaknya pelajaran yang haus akan perhatian.

“Lalu kegiatan apakah itu?” nah kamu sudah mulai penasaran deh, kami menyebutnya SMART Ma’tsurat. SMART Ma’tsurat merupakan kegiatan yang dilaksanakan setiap Selasa, Rabu, dan Jumat lepas Salat Asar. Semua siswa wajib mengikuti kegiatan ini, tak ada kecuali. Kami yang berjumlah 240 orang berkumpul di Masjid Al-Insan lalu bershaf dan saling berhadapan, satu orang memimpin dan memandu kami selama Al-Ma’tsurat dibacakan, sisanya mengikuti.

Selama kurang lebih tiga puluh menit kami bersama-sama membaca Ma’tsurat dengan khidmat dan penuh kesyahduan. Suasana sangat tenang, damai, dan penuh kesejukan. Suara kami menggema ke seantero area masjid, tak jarang hingga membuat mereka yang lalu lalang berhenti untuk turut serta.

“SMART Ma’tsurat merupakan kegiatan yang selalu kutunggu, karena aku bisa membaca Ma’tsurat bersama teman-tema sekelasku dan kakak kelas yang lain,” ujar Qurtubi, kelas VIII. “Kebersamaannya yang membuatku kangen,” tambahnya.

Tapi tahukah kamu kalau membaca Al-Ma’tsurat memiliki beberapa keutamaan yang baik untukmu, antara lain:

  • Diriwayatkan dari Sya’bi dari Ibnu Mas’ud: “Siapa yang membaca 10 ayat dari surat Al-Baqarah di rumah, setan tidak masuk ke rumah tersebut malam itu hingga pagi hari, empat ayat yang pertama, ayat kursi, dan dua ayat setelahnya, dan penutupnya ( tiga ayat terakhir). (HR.Thabrani )
  • Dari Abdullah bin Hubaib berkata rasulullah saw bersabda kepadaku, “bacalah Qul huwallahu ahad’, dan mu’awwadzataini (qul a’udzubirabbil falaq.. dan qul a’udzubirabbinnas.. ketika pagi dan sore tiga kali, cukup untukmu segala sesuatu’. (HR.abu Dawud dan Turmudzi)
  • Keutamaan membaca Al-Ma’tsurt lainnya adalah sebagaimana yang diriwayatkan Dari Ibnu Abbas ra. Berkata, Rasulullah saw. bersabda, “siapa yang mengucapkan ketika pagi hari, ‘Allahumma inni asbahtu minka fi ni’matin’ tiga kali ketika pagi hari dan tiga kali ketika sore, Allah menyempurnakan nikmatnya atasnya” (HR.Ibnu Saunni)
  • Dari Abdullah bin Ghannam Al-Bayadhi, sesungguhnya Rasulullah saw., bersabda,” Siapa yang membaca ketika pagi ‘Allahumma maa ashbaha bii min ni’matin au bi ahadin min khalkika falakal hamdu walakasyukr’ sungguh telah menunaikan syukur hari itu, dan siapa yang membaca pada sore hari, sungguh telah menunaikan syukur malamnya”.  (HR.Abu Dawud)
  • Dari Tsauban, berkata Rasulullah saw. bersabda, ”Siapa yang mengucapkan ketika sore hari “radhitu billahi rabba wabil islami diina wabi muhammadin nabiyyah adalah hak atas Allah untuk menjadikan dia ridha”. ( HR.Turmudzi)
  • Ibnu Abbas berkata Rasulullah saw. Keluar dari (menemui) Juwairiyyah, dan dia berada di mushalanya dan beliau kembali sedang Juwairiyyah masih di mushallanya. Lantas Rasulullah bersabda, ”Engkau tak henti-hentinya di mushollamu ini“. Dia menjawab, “ya beliau bersabda “sungguh aku telah mengucapkan empat kalimat tiga kali kalau ditimbang dengan apa yang engkau katakan niscaya lebih berat dari yang engkau ucapkan,” ” Subhanallahu wabihamdihi ‘adada kholqihi”(HR.Muslim).
  • Dari Utsman bin Affan ra. Berkata, Rasulullah bersabda, ”Tidak ada seorang hamba membaca pada pagi hari setiap hari dan pada sore hari setiap malam, “Bismillaahi lladzi laa yadzurru m’asmihi syai’un……’ tiga kali maka tidak ada satu pun yang membahayakannya”. (HR.Abu dawud dan Turmudzi).
  • Dari Abi Sa’id Al-Khudri berkata, beliau bersabda,”Katakanlah jika engkau masuk pagi dan di sore hari “Allahumma inni a’udzubika minal hammi wal hazani, wa a’udzubika minal ‘ajzi wal kasali” Ia berkata,” maka aku lakukan hal itu lantas Allah menghilangkan kesusahanku dan menunaikan utangnya”. (HR.Abu Dawud).
  • Dari Abdurrohman bin Abi Bakrah dia berkata kepada bapaknya, ”wahai bapakku, sungguh aku mendengar engkau berdoa setiap pagi: ‘ Allahumma ‘aafini fi badani ….’engkau ulang tiga kali setiap pagi dan sore, dan engkau juga mengucapkan ‘ Allahumma inni a’udzubika minal kufri wal faqri…’ engkau ulang tiga kali tiap pagi dan sore. ‘ dia berkata. ”Ya wahai anakku, aku mendengar Nabi Muhammad saw. berdoa dengannya dan aku ingin mengikuti sunnahnya”. (HR.Abu Dawud, Ahmad, dan Nasai).
  • Dari Nabi saw, “penghulu istighfar adalah Allahumma anta rabbi ’barangsiapa membacanya di siang hari yakin dengannya, kemudian mati hari itu sebelum sore hari maka dia termasuk ahli surga, dan siapa yang membaca pada malam hari yakin dengannya lalu ia mati sebelum pagi hari, maka dia termasuk ahli surga”. (HR.Bukhari)
  • Dari Abu Ayyasy, sesungguhnya Rasulullah saw, bersabda, ‘siapa yang mengucapkan ketika pagi hari ‘Laa ilaaha illallah….adalah baginya sebanding memerdekakan budak dari putra Isma’il, ditulis untuknya sepuluh kebaikan, dihapus sepuluh kesalahan, diangkat sepuluh derajat, dan dia dalam penjagaan dari setan hingga sore, dan jika ia baca ketika masuk sore maka baginya seperti itu pula (HR.Abu Dawud, Nasa’i, dan Ibnu Hibban).

Waaah ternyata banyak sekali ya keutamaan membaca Al-Ma’tsurat, kami jadi semakin semangat mengikuti SMART Ma’Tsurat, selain mendamaikan juga banyak kebaikannya. Yuk kita biasakan membaca Al-Ma’tsurat agar Allah meridhoi semua hajat yang ingin kita lakukan. (AR)

 

we-love-u-pappilon-fs

Ini Dia Cara Mudah Membentuk Karakter Mumpuni

Oleh: Aidil Ritonga.

Umar bin Khathab adalah salah satu sahabat Nabi yang sangat teguh pada pendirian. Ia selalu gigih dalam mempertahankan apa yang diyakininya baik sebelum masuk Islam atau sesudahnya. Misalnya kebudayaan suku Quraisy ketika itu dimulai dari tradisi, ritual peribadatan, hingga sistem sosial ia yakini sepenuh hati. Demi itu semua ia rela mengorbankan seluruh jiwanya. Maka pantas jika ia menentang Islam dengan keras dan kejam pada awal masa dakwah, bahkan sepertinya tidak ada ampun bagi para pengikut agama Islam waktu itu.

“Aku ingin mencari orang yang berpindah agama itu (Nabi Muhammad Saw) yang telah memecah belah bangsa Quraisy, menghina impian Quraisy, mencela agama dan menghina tuhan-tuhannya. Aku ingin membunuhnya.”

Jiwanya merasa khawatir kalau kedatangan Islam akan meruntuhkan sistem sosial, politik dan budaya Mekah yang sudah mapan. Saat itu, Mekah memang memiliki posisi yang sangat strategis di kalangan bangsa Arab. Di kota ini terdapat rumah Tuhan (Ka’bah), yang selalu dikunjungi oleh orang-orang Arab. Hal inilah yang membuat suku Quraisy memiliki posisi strategis di kalangan bangsa Arab dan menjadikannya memiliki kekayaan spiritual dan material. Hal ini pula yang menjadikan Mekah menjadi maju dan berkembang. Sebab itu orang-orang kaya Mekah menentang keras agama Islam dan menyiksa orang-orang lemah dari pengikutnya. Umar bin Khathab termasuk di antara penduduk Mekah yang paling kejam.

Kita selalu berbicara tentang pendidikan karakter hampir setiap saat, sehingga kurikulum pendidikan di Indonesia terus berganti. Tapi jarang sekali dibahas dari mana sumber karakter tersebut dan apa ukuran kebenaran sebuah karakter. Dari kisah Umar bin Khathab di atas setidaknya kita dapat mengambil 2 pelajaran yaitu sebagai berikut:

Pertama, manusia itu dikendalikan oleh apa yang diyakininya. Kita tahu bahwa manusia adalah unsur pertama dalam pembentukan sebuah negara. Sedang jiwa adalah ruang kendali perasaan dan inderanya manusia. Baik buruknya perjalanan hidup, benar salahnya sikap, kokoh dan lemahnya manusia, tergantung pada kebenaran dan kualitas konsepsi yang tertanam di dalam jiwanya. Seperti akar, ia adalah penentu, seperti apa jiwanya, maka seperti itulah pohon kepribadian dan arah hidup yang terbentuk padanya.

Inilah salah satu hikmah mengapa ketika hendak membangun masyarakat baru di atas puing-puing jahiliyah, Rasulullah Saw. tidak mengawali perubahan itu dari perbaikan infrastruktur atau kekuatan politik. Sebab kelak ia bisa menjadi pemicu terjadinya benturan antar peradaban. Tapi pembangunan itu diawali dengan merubah apa yang ada di dalam jiwa mereka. Rasulullah SAW menanam konsepsi sempurna yang sering kita sebut akidah, ke dalam jiwa mereka, mengarahkan pandangan dan pikirannya, membangkitkan akal dan mengingatkan fitrahnya, serta merawat  tanaman itu dengan pendidikan dan pengembangan hingga mencapai kesuksesan.

Akidah adalah mata air yang mengalirkan kebaikan. Seperti yang dijelaskan oleh Sayyid Sabiq dalam Aqidah Islamiyah, akidah adalah sumber berbagai perasaan yang mulia, lahan untuk menanam berbagai perasaan yang baik, dan tempat tumbuhnya perasaan yang luhur. Tidak ada satu pun keutamaan dan kebaikan, kecuali pasti bersumber darinya.

Tidak ada karakter yang kokoh tanpa akidah yang benar. Jika akidah atau keimanan itu hilang maka yang akan terjadi adalah krisis moral. Salah seorang ulama pernah mengatakan, krisis yang menimpa bangsa Indonesia adalah krisis keimanan dan ketaqwaan. Berawal dari krisis yang fundamental tersebut, maka terjadilah krisis susulan, seperti pembunuhan manusia tanpa hak, pemerkosaan, perzinahan, seks bebas dan aborsi, penggunaan narkotika dan minuman keras, pencurian hutan dan perusakan alam, perampasan hak orang lain, korupsi, penganiayaan dan kezaliman serta pelanggaran lainnya. Oleh karenanya penghentian atas krisis tersebut dimulai dari akar krisis dan akar permasalahannya. Jadi mari pendidikan karakter itu kita mulai dari penanam aqidah yang benar ke dalam jiwa anak didik kita.

Kedua, ukuran benar atau tidaknya suatu karakter adalah wahyu. Bagaimana cara kita hidup dan atas nama apa menjalaninya tidak bisa dinilai dengan ukuran manusia atau cara pandang manusia karena akal manusia yang tak sempurna. Itulah yang terjadi pada Umar bin Khathab sebelum masuk Islam ia bersikap atas cara pandangnya. Dalam konteks pembangunan karakter manusia muslim proses ditempuh melalui konsep-konsep Ilahiyah. Hanya Dia-lah yang memiliki kebenaran mutlak dan seluruh konsepsinya secara pasti akan sesuai dengan fitrah manusia serta seluruh kebutuhannya. Saya kira sudah saatnya kurikulum pendidikan nasional berdasarkan atas wahyu membentuk generasi sesuai dengan yang diinginkan oleh Sang Pencipta. Keberhasilan kurikulum tersebut sudah dibuktikan oleh generasi Islam terdahulu. Nah, sekarang kita bisa membedakan bagaimana Umar bin Khathab sebelum dan setelah masuk Islam, karakternya sama tapi nilainya berbeda. Wallahu’alam

panji

Semua tentang Berjuang Kawan

Oleh: Panji Laksono

Alumni SMART Angkatan 5, Berkuliah IPB Jurusan Biologi

 

“Hati-hati ya le.. jaga diri di sana”

Tangan saya masih meggenggam pinggiran baju ibu. Terang dalam ingatan, air muka ibu masih tenang sementara saya beriak-riak tak karuan. Selain memang sedang tak enak badan, ada gejolak yang lebih tak enak yang saya rasakan. Saat itu lepas tengah hari tapi entah mengapa saya tidak ingin waktu menuntun sore datang lagi. Sebab saya tahu, itu adalah waktu terakhir –yaa dapat dikatakan demikian— sebelum udara membawa saya pergi jauh. Lebih jauh dari mimpi meneruskan sekolah di kampung saya yang ada di tengah hijaunya Kalimantan Selatan.

Bercerita tentang hal ini memaksa saya menilik lagi album masa lalu. Mereka ulang refrain lama yang tak akan saya lupakan. Saat di mana dejavu begitu pertama kali lewat di depan masjid sekolah, atau mengantre mandi demi mengejar apel pagi. Saat paket makanan dari orang tua adalah harta ghanimah yang patut dibagi-bagi, atau telepon genggam asrama yang hanya bisa kami pakai seminggu sekali. Berkisah tentang hal ini memaksa saya belajar kembali. Tentang kata ‘berani’ yang tipis makna dengan ‘nekat’. ‘Berani’ untuk merantau bahkan saat gigi susu terakhir baru tanggal dari barisannya. Tentang keikhlasan dari sapaan terakhir ibu di ujung gerbang pemeriksaan bandara juga senyum simpul dari ustadz ustadzah di sana.

Perkataan ustadz ustadzah tentang sekolah SMART Ekselensia Indonesia yang merupakan Kawah Candradimuka buat saya bukan cuma kata-kata. Mereka tampaknya benar-benar serius dengan hal ini. SMART membuka mata saya kalau dunia tidak sebatas tutupan kanopi pohon karet dan tidak sedamai aliran sungai Martapura. Di inkubator ini, mereka sedang meretas mimpi-mimpi. Ya, tak terkecuali mimpi saya yang kini Alhamdulillah tengah bertengger di tingkat akhir perguruan tinggi pertanian Indonesia, Institut Pertanian Bogor (IPB). Kuliah? Saya tidak ingat tuh kapan terakhir kali mimpi masuk SMP favorit di daerah saya. Tapi kemudian di sana saya diberi banyak sekali pelajaran. Tak hanya pelajaran akademik, tapi juga pelajaran hidup. Sistem pengajaran di sana tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Guru-guru yang luar biasa tak hanya mengajar lewat bicara, namun juga lewat teladan nyata.

Dari dulu mungkin ustadz-ustadzah SMART sudah tahu kalau saya memang suka berorganisasi. Sedari dulu ikut OASE (Organisasi Akademika SMART Ekselensia) sebagai Staf Departemen Sosial (2009), kemudian Wakil Kepala Departemen Keuangan (2010), sampai jadi Presiden OASE (2011). Pernah bergabung di Komisi Penegak Kedisiplinan (KPK) SMART dan ikut Squad Ensamble SMART. Mungkin belum patut dibanggakan, tapi sangat berkesan. Lewat hal itu saya banyak belajar tentang organisasi. Setidaknya puing pengalaman ini akan sangat berguna di kemudian hari.

Entah dapat disebut menarik atau tidak, saya termasuk 5 orang terakhir dari SMART yang masih harus berjuang ke perguruan tinggi selagi kawan-kawan yang lain sudah beranjak. Masih teringat saat itu layar komputer masih menampilkan tulisan merah—itu artinya kamu nggak lulus bro—yang biasa. Berkali gagal lantas pikiran mulai terbang ke mana-mana. Berpikir utuk pulang ke Kalimantan saja dan menyimpan mimpi ini tahun depan. Sampai saatnya ayah mengultimatum di seberang telepon

“Kamu gak boleh pulang sebelum semua ujian kamu selesaikan,” dan saya cuma diam.

Lika-liku berbumbu drama ‘ketinggalan kereta’ pun sempat jadi cerita. Sampai harus luntang-lantung di Jogja mencari angkutan ke Malang agar bisa daftar ulang di Universitas Brawijaya. Lantas akhirnya kembali ke Bogor dan berkuliah di sana ikut jadi refrain yang saya kenang sekarang. Jika ditanya kenapa masuk IPB jurusan Biologi, saya hanya menjawab inilah yang diberi Allah pada saya. Dan saya sangat bersyukur atas hal itu. Allah tidak kasih apa yang saya mau, tapi saya percaya Dia kasih yang saya butuh.

Perjalanan sampai menjadi presiden mahasiswa IPB dilalui dengan banyak cerita. Bermula dari kadiv di kepanitiaan Semarak Bidikmisi 2013, aktif di BEM seperti menjadi kepala Departemen Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa BEM TPB 2013-2014, Staff Departemen Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa BEM FMIPA 2014-2015, sampai diamanah sekarang sebagai Ketua BEM FMIPA 2015-2016. Cerita lainnya adalah jadi sejarah menjadi Ketua pelaksana Masa Pengenalan Kampus Mahasiswa Baru (MPKMB) dua tahun berturut-turut untuk angkatan 51 dan 52 IPB. Banyak tantangan yang dihadapi dalam masing-masing cerita. Banyak pula pembelajaran yang bisa didapatkan dari setiap tantangan yang ada. Buat saya tidak ada orang yang benar-benar selesai dengan urusannya, yang ada adalah orang yang mengakselerasi dirinya untuk orang lain.

Terima kasih saja tidak akan pernah cukup untuk membalas apa yang sudah diberikan ustadz ustadzah, SMART, maupun semua pihak yang turut berperan di dalamnya. Masih teringat dan sangat membekas apa yang pernah disampaikan oleh ustadz Yasyfi M Ya’qub, bahwa “Hidup dengan berani karena mati cuma sekali”. Dari sana apa yang ingin saya bagikan untuk kawan-kawan di SMART maupun kawan-kawan yang lain adalah mari ambil peran, mari ambil bagian. Selamanya kita bisa saja terus berharap atau bermimpi. Yang membedakan pemimpi dan pemimpin adalah bukan hanya huruf ‘n’ pada akhir katanya, tapi juga kesediaanya untuk berjalan lebih jauh, tidur lebih sedikit, dan kesiapan untuk memiliki tanggung jawab lebih banyak. SMART mengajarkan banyak hal yang sangat berguna untuk masa depan. Manfaatkan keberadaan di kawah chandradimuka ini sebagai ajang untuk mengasah diri, mengaktualisasikan diri, dan belajar untuk bisa berperan bagi orang lain.

“Jika bergerak adalah pilhan, maka aku memilih untuk tidak tinggal diam”

Cinta-Ramadhan

(Bukan) Pencarian Jati Diri

Oleh: Nadhif Putra Widiansah

Masih terus ku mencari
namun tak jua kutemukan
hingga semua diujung pencarian

Telaga waktu hisap semua daya
dikala letih tuk usaha
peluh hujani bebatuan
terka semua yang kurasakan

Senyuman dan candamu
selalu dapat kubayangkan
wajahmu dan hatimu
telah terlalu lama kudambakan

Mungkinkah,
bila kita kan selalu bersama

mungkinkah,
cintaku dan cintamu selamanya
hanya jika kita bersama
dan engkau milikku
milikku

 

light-3

Untuk Para Pemuda

Oleh : Anggi Nur Kholis Alumni SMART 9 Berkuliah di Universitas Brawijaya

PEMUDA!!
Pemudakan lah diri kalian!

Pemuda:
Bukan identitas;
Bukan status.

Pemuda:
Amanah;
Bertanggung jawab;
Berkarakter;
itu KITA!

Sadarnya pemuda, bangkitnya pemuda
Bangkitnya pemuda, bangkitnya negara
Bangkitnya negara, memengaruhi dunia.