Cinta Budaya Islam, DD Pendidikan dan Dapoer Enterprise Gelar Lomba Marawis

Gempuran budaya asing yang sangat masif pada generasi muda islam membuat khawatir berbagai pihak. Jika dibiarkan, maka budaya islam bisa hilang ditelan zaman termasuk marawis. Menyadari hal tersebut, DD Pendidikan dan Dapoer Enterprise bekerjasama gelar lomba marawis pada hari Sabtu, 24 November 2018 di Mall Blok M.

Boyke selaku Ketua Panitia dari Dapoer Enterprise menyampaikan bahwa event ini dilaksanakan sekaligus untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad 1440 H.

“Saya berharap kedepan marawis dapat dijadikan sebagai salah satu kegiatan ekstrakurikuler di berbagai sekolah. Jangan sampai marawis tergerus zaman sebagaimana budaya Betawi saat ini” lanjut Boyke

Dalam acara lomba hari ini, tim marawis SMART Ekselensia Indonesia DD Pendidikan berkesempatan tampil menjadi pembuka acara. Wildan selaku vokalis menyampaikan bahwa dirinya sangat senang mendapatkan pengalaman tampil didepan banyak orang. Wildan yang berasal dari Kalimantan Selatan ini juga bercita-cita mengikuti jejak kakaknya yaitu sebagai vokalis marawis.

Salah satu peserta lomba marawis, Muhammad Farhan Nabil dari SMPIT Insan Mubarok juga menyampaikan harapannya.

“Saya berharap agar marawis bisa menjadi sarana untuk menyebarkan kebaikan islam” celoteh Farhan sapaan akrabnya.

Dalam sambutannya, Zulfa dari DD Pendidikan memotivasi peserta agar jangan menganggap perlombaan sebagai beban.

“Hilangkan rasa takut kalah, takut dimarahin, dan ketakutan lainnya. Tapi jadikan moment ini sebagai ajang silaturahmi antar sekolah, guru, dan lembaga lain, dan jadikan perlombaan ini sebagai ajang senang-senang” pesan Zulfa.

Selain untuk menjalin silaturahmi, lomba marawis ini diharapkan dapat menguatkan kolaborasi antara Dapoer Enterprise dan Blok M dengan Dompet Dhuafa Pendidikan.

Tentunya semua pihak juga berharap agar acara ini semakin menambah rasa cinta pada budaya islam termasuk marawis.

UNITAR Malaysia Berikan Apresiasi untuk SMART Ekselensia Indonesia

BOGOR – Dompet Dhuafa Pendidikan mendapat kunjungan dari Universitas Tun Abdul Razak (UNITAR) Malaysia pada hari Sabtu (27/10). UNITAR merupakan salah satu kampus swasta di Malaysia. Kampus ini menggabungkan kelas konvensional dengan penggunaan efisiensi bahan kursus berbasis situs web serta proses pembelajaran online.

Rombongan dari UNITAR sampai di kampus SMART pada pukul 08.00. Mereka diterima di Aula Masjid Al Insan Dompet Dhuafa Pendidikan. Sebanyak 80 orang siswa Kelas 4 dan Kelas 5 SMA SMART Ekselensia Indonesia hadir menyambut dan ikut berdialog bersama saudara serumpun ini. Acara dibuka dengan sambutan dari Abdul Khalim selaku Senior Manager SMART Ekselensia Indonesia. Kemudian dilanjutkan dengan presentasi dari UNITAR yang disampaikan oleh Aziey Mohd selaku Business Development UNITAR.

Tujuan dari kunjungan ini adalah untuk mengenalkan UNITAR lebih jauh kepada seluruh siswa SMA SMART Ekselensia Indonesia. Pada kesematan ini juga dibahas rencana kerjasama antara UNITAR dengan SMART, yaitu pemberian beasiswa kepada beberapa siswa terpilih untuk melanjutkan pendidikan di UNITAR.

“Saya sangat senang sekali bisa kenal SMART Ekselensia, murid-muridnya pandai-pandai. Saya salut dengan semangat mereka, sampai tadi banyak sekali pertanyaan yang harus saya jawab,” kesan Aziey. Ia juga menambahkan bahwa tidak sulit untuk mendapatkan beasiswa di UNITAR. Pasalnya, seleksi beasiswa hanya akan dilakukan dari nilai raport. “Jadi semangat belajar kalian juga harus ditingkatkan, ya!” pungkas Aziey.

Baik UNITAR maupun SMART berharap ke depan terjalin hubungan baik yang saling mendukung. “Harapannya, dengan adanya kunjungan ini akan terjalin kerjasama yang baik antara SMART dengan UNITAR. Ke depan, akan ada banyak siswa SMART yang melanjutkan pendidikan di luar negeri. Semoga UNITAR salah satu kampusnya,” ungkap Khalim.

Apresiasi Positif dan Kesan Manis untuk OHARA

Apresiasi Positif dan Kesan Manis untuk OHARA

SMART Ekselensia Indonesia baru saja menyelesaikan hajatan besar tahunannya, yaitu pergelaran Olimpiade Humaniora Nusantara (OHARA) ke-10. Acara ini digelar pada Rabu dan Kamis kemarin, 24-25 Oktober 2018. Banyak apresiasi positif didapatkan oleh SMART terhadap gelaran OHARA.

Dari pemerintah, SMART mendapat dukungan berupa pemberian dua piala bergilir. Satu piala bergilir dari Gubernur Jawa Barat sejak kepemimpinan Ahmad Heryawan. Piala ini diberikan kepada pemenang lomba Opera Van Jampang. Piala bergilir lain dipersembahkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, untuk pemenang lomba Lintas Nusantara.

Namun, menurut Syarif, seorang konsultan pendidikan yang mengelola sebuah sekolah, seharusnya ajang OHARA ini dapat bekerjasama dengan pemerintah dalam bentuk lain. “Harapan saya, ke depan semoga acara ini bisa ditingkatkan lagi melalui kerjasama dengan pemerintah daerah, sehingga bisa menjadi program pemerintah, dan acara ini bisa terbantu secara finansial dan publikasi,” papar Syarif yang berkesempatan menjadi juri pada Lomba Esai OHARA.

Syarif juga memberikan kesan positifnya terhadap acara ini. “Acara OHARA ini luar biasa karena bisa membawa peserta dari luar daerah. Gaungnya acara ini bisa sampai ke tempat yang jauh, sampai ke daerah Kalimantan dan Sulawesi,” ungkapnya. Ya, tahun ini peserta OHARA ada yang berasal dari kedua pulau tersebut.

Lalu bagaimana kesan peserta dari pulau terjauh itu tentang OHARA? “Bergabung di acara OHARA ini bisa mengasah kepedulian kita sebagai pelajar terhadap budaya Indoesia. Di samping itu, dengan OHARA juga kita dapat mencari solusi atas permasalah sosial yang ada di masyarakat, jadi kita tidak hanya mementingkan diri sendiri namun mementingkan orang lain juga,” ungkap Nur Danil, siswa Kelas XI SMA Negeri 2 Gowa, Makasar, Sulawesi Selatan. Nur mengikuti Lomba Esai pada OHARA kali ini. Esainya berjudul “Konsolidasi Budaya Siri’Na Pacce Melalui Eksistensi Sikap Sipakatau, Sipakainge dan Sipakalebbi di Kalangan Pemuda Bugis Makassar”

Kesan positif lainnya juga datang dari para siswa SMP 1 Kemang, Bogor. Tim mereka menjuarai Lomba Lintas Nusantara dan berhak menyimpan piala bergilir dari Kemendikbud tahun ini.

“Ajang OHARA sangat baik untuk pemuda dan pemudi Indonesia. Kita dapat jauh memperdalam pengetahuan tentang budaya-budaya Indonesia. Karena pemuda sekarang banyak yang lebih dekat dengan budaya asing, dan dengan adanya ajang ini bisa membuktikan generasi zaman now tidak lupa dengan budaya Indonesia dan tidak menganggapnya sebagai hal yang kuno,” ungkap mereka.

Demikianlah, perhelatan OHARA telah berakhir. Untuk tuan rumah, acara ini juga menjadi ajang pembinaan bagi para siswa SMART. Mereka dapat berlatih mengelola event, berlatih tampil di depan banyak orang, juga berlatih menjalin relasi dengan orang baru.

OHARA juga menjadi sarana open house untuk SMART. Para siswa pun mengeluarkan banyak tampilan seni mereka yang memukau hadirin. Sukses selalu, SMARTies!

Olimpiade Budaya Pertama di Indonesia Resmi Dibuka

Pagi ini, Rabu (24/10), Olimpiade Humaniora Nusantara atau OHARA resmi dibuka. Olimpiade ini, hanya ada satu-satunya dan pertama di Indonesia. SMART Ekselensia  Indonesia (SMART) yang menginisiasinya. Dan, kali ini adalah tahun ke-10 OHARA digelar.

OHARA dibuka secara resmi oleh Asep Sudarsono, S.Pd.M.M, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jawa Barat Wilayah 1. Dalam sambutannya, Asep memberikan apresiasi terhadap olimpiade ini. “Untuk berhasil itu ada tiga hal yang harus dilakukan. Pertama, install pengetahuan dengan cara belajar, kedua install keahlian dengan mengikuti beberapa latihan, dan ketiga install pengalaman dengan hadir dalam kegiatan positif, seperti OHARA ini,” ungkap Asep. Tak lupa Asep juga berpesan bahwa dalam kompetisi, menang kalah itu hal yang biasa. Ia meminta pihak yang kalah untuk bersabar, dan bersyukur bagi yang menang.

OHARA dihelat bukan semata untuk mewadahi para pemuda yang sangat bergelora dalam kompetisi, namun acara ini membawa misi penting. Hal ini disampaikan oleh General Manager Sekolah Ekselensia Indonesia, Agung Pardini, dalam sambutannya. “OHARA ini diharapkan dapat menjadi pemantik untuk semua siswa lebih mengenal budaya yang ada di Indonesia dan akhirnya dapat menjadi manusia produktif,” papar Agung.

Perhelatan OHARA tahun ini mengangkat tema “Satukan Harmoni Budaya Nusantara”, sebuah ajakan kepada anak-anak muda untuk tidak hanya melestarikan, namun membuat keragaman budaya ini menjadi sebuah harmoni. Para peserta OHARA pun berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Tercatat, sebanyak 268 siswa dari 37 sekolah menjadi peserta acara masterpiece ini. Selain berasal dari Pulau Jawa, peserta terjauh berasal dari Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, dan Sulawesi Selatan.

SMART pun berlaku sebagai tuan rumah yang memuliakan tamunya. Berbagai sajian telah disiapkan untuk menyambut dan menghibur para tamu yang hadir. Sebagai pembukaan, siswa-siswa berbakat SMART menyuguhkan Tari Saman yang disambut para hadirin dengan sangat meriah. Selain itu, para siswa SMART hari ini juga tampil dalam teater mini musikal, dan akustik. Rangkaian tampilan seni ini merupakan suplemen untuk mengolah rasa para siswa SMART juga sebagai bentuk pelestarian budaya.

SMART sendiri sebenarnya adalah miniatur Indonesia. Para siswa sekolah berlabel “Islamic Leadership Boarding School” ini berasal dari seluruh penjuru nusantara, dan mewakili keragaman budaya Indonesia. Sekolah menengah berasrama bebas biaya ini didirikan oleh Dompet Dhuafa pada tahun 2004. SMART hadir untuk memberikan kesempatan pada anak-anak berprestasi namun memiliki keterbatasan ekonomi, agar dapat mengakses pendidikan yang berkualitas. Hal ini senada dengan apa yang disampaikan oleh Yuli Pujihardi, Direktur Zona Madina, selaku perwakilan dari Dompet Dhuafa. “Permasalahan yang dihadapi dhuafa salah satunya adalah pendidikan dan kami, Dompet Dhuafa menyediakan SMART untuk mengatasi masalah tersebut. Dengan adanya OHARA ini diharapkan dapat membentuk anak yang memiliki adab, berbudaya dan bangga dengan budaya Indonesia,” terang Yuli.

OHARA telah dilaksanakan sejak tahun 2009 lalu. Lebih dari 1.500 siswa telah menjadi pesertanya. Tahun ini, para peserta OHARA akan berlaga dalam lima kompetisi budaya, yaitu Opera Van Jampang (OVJ), Lintas Nusantara (Lintara), Festival Akulturasi Kuliner Nusantara (FAKN), Story Telling, dan Lomba Esai. Beragam penghargaan telah disediakan untuk para pemenang.

Piala bergilir Gubernur Jawa Barat akan dibawa pulanh oleh pemenang lomba OVJ. Demikian juga untuk pemenang lomba Lintara, mereka akan mendapatkan piala bergilir dari  Kemendikbud. Sedangkan untuk lomba FAKN, Essay dan Story Telling akan mendapatkan uang pembinaan.

Cara SMART Ajak Anak Muda Harmonikan Budaya Nusantara

Seiring masifnya arus globalisasi yang melanda negeri ini, kekhawatiran akan semakin tergerusnya budaya nusantara semakin mencuat. Hal itu bukan tanpa alasan. Seiring dunia yang makin tanpa batasan, dengan bantuan teknologi yang juga makin canggih, budaya asing makin kuat pula menggempur. Sasaran utamanya tentu saja anak-anak muda selaku pengguna aktif teknologi kekinian. Maka budaya yang notabenenya adalah identitas bangsa besar ini pun, tak bisa dielakkan dari krisis yang akan melandanya.

Bertolak dari pemikiran tersebut, SMART Ekselensia Indonesia (SMART) melakukan tindakan nyata. Sejak 2009 lalu, sekolah berlabel Islamic Leadership Boarding School ini menginisiasi OHARA, singkatan dari Olimpiade Humaniora Nusantara setiap tahunnya. Selayaknya olimpiade, OHARA juga berformat kompetisi. Perlombaan kreasi budaya antar sekolah ini sudah berlevel nasional. Pesertanya adalah siswa SMP-SMA sederajat. Tahun ini merupakan perhelatan OHARA yang ke-10. Telah lebih dari 1500 siswa dari seluruh Indonesia menjadi peserta olimpiade ini.

Tahun ini OHARA mengangkat tema “Satukan Harmoni Budaya Nusantara”. Sesuai dengan  tujuan dihelatnya OHARA itu sendiri, yaitu untuk memperkuat pengetahuan generasi muda dalam hal kebudayaan dan keharmonisan nusantara. Olimpiade ini akan berlangsung selama dua hari pada tanggal 24-25 Oktober 2018, berlokasi di sekolah SMART, Desa Jampang, Kemang, Kabupaten Bogor.

Sebanyak 286 siswa yang berasal dari 36 sekolah akan berlaga dalam OHARA. Mereka akan berkompetisi di lima cabang lomba, yaitu Lomba Essay, FAKN, Story Telling, Lintara, dan OVJ. Lomba Esai adalah ajang bagi para peserta untuk menuangkan gagasan mereka tentang kebudayaan nusantara. FAKN atau Festival Akulturasi Kuliner Nusantara adalah kompetisi memadukan dua atau lebih kuliner dari daerah yang berbeda, namun tidak meninggalkan kekhasannya.

OVJ, singkatan dari Opera Van Jampang adalah pentas drama bernuansa budaya berbumbu humor, namun tetap memiliki pesan moral. Cerita yang diangkat dalam OVJ biasanya adalah dongeng khas nusantara. Sedangkan Story Telling adalah kompetisi keahlian menceritakan kembali cerita rakyat nusantara menggunakan bahasa Inggris. Dan, Lintara atau Lintas Nusantara, merupakan lomba masterpiece SMART yang memadukan tes tulis, permainan tradisional, cosplay, dan jelajah lintas alam, kesemua tantangan tersebut tetap benuansakan budaya Indonesia.

SMART sendiri adalah sekolah menengah berasrama bebas biaya yang didirikan oleh Dompet Dhuafa untuk anak-anak berprestasi dengan keterbatasan ekonomi dari seluruh Indonesia. Siswa SMART menjalani sekolah SMP-SMA secara akselerasi dengan sistem kredit semester (SKS) dan program pendidikan kepemimpinan. OHARA merupakan bentuk apresiasi para siswa SMART terhadap keragaman budaya dari daerah-daerah asal mereka. (NRS)

Yang Muda Yang Satukan Harmoni Budaya Nusantara di OHARA

Yang Muda Yang Satukan Harmoni Budaya Nusantara di OHARA

Bogor – Tak terasa setahun telah berlalu dan Olimpiade Humaniora Nusantara 2017 telah lama pergi meninggalkan kami.  Rasa sedih sempat menghampiri, namun hidup harus terus berjalan kan Sob?

Sekarang kami tak sedih lagi karena pada Rabu dan Kamis (23-24 Oktober) SMART Ekselensia Indonesia Boarding Islamic School akhirnya kembali mengadakan OHARA.

Olimpiade Humaniora Nusantara

 

Seperti yang kamu ketahui OHARA bertujuan untuk menyadarkan generasi muda untuk lebih perhatian terhadap budaya bangsanya. Kebanyakan anak muda zaman sekarang beranggapan bahwa budaya adalah suatu hal yang “kaku” dan “kuno”, padahal sebagai negeri yang memiliki banyak kekayaan budaya seharusnya menjadi suatu kebanggaan bagi para pemuda. Pemuda, sebagaimana pernyataan dari Soekarno, adalah tonggak suatu bangsa karena itulah SMART ingin turut serta berkontribusi terhadap  pengembangan budaya tanah air melalui lomba-lomba yang dapat membuat para pemuda semakin mencintai budaya.

Tahun ini OHARA mengusung tema “Satukan Harmoni Budaya Nusantara” sebagai pengingat jika indonesia adalah negeri dengan budaya sangat melimpah. Ada lima lomba yang dijagokan antara lain: Lintara, FAKN, Story Telling, Essay, dan OVJ.

Lintara alias Lintas Nusantara merupakan lomba yang ditujukkan untuk siswa SMP di seluruh indonesia. Lomba ini mengajak peserta untuk lebih mengenal budaya nusantara lebih dalam. Di Lintara, peserta akan merasakan budaya nusantara melalui berbagai mata lomba yang akan diadakan di indoor maupun outdoor. Tidak hanya budaya, peserta akan diajak untuk lebih dekat dengan alam.

Berbeda dengan Lintara, FAKN (Festival Akulturasi Kuliner Nusantara) adalah lomba yang akan menguji kereativitas para peserta untuk mengakulturasikan dua masakan khas daerah menjadi suatu sajian yang enak dan memilki nilai jual.

Ada juga lomba Story Telling, namun berbeda dengan lomba sejenis, di OHARA peserta WAJIB menggunakan bahasa daerah dari cerita yang mereka bawakan. Pokoknya keren deh Sob

Selain tiga lomba di atas di OHARA tahun ini  Essay turut mengambil porsinya sebagai lomba baru yang digadang mampu menyelaraskan kemampuan berpikir generasi muda dan kemampuan mereka menggerakan di masyarakat. Sst ada yang spesial di Essay nih Sob, karena para peserta akan kami ajak mengikuti pelatihan Social Leader forum bertajuk “Berkontribusi Nyata Terhadap Kemajuan Bangsa”.

Untuk lomba terakhir kami memiliki OVJ (Opera Van Jampang). Lomba ini adalah bentuk visual budaya nusantara yang dijadikan ke dalam bentuk opera disertai dengan guyonan-guyonan untuk menambah keseruan Para peserta dituntut mampu membuat pertunjukkan lucu berdasarkan cerita-cerita budaya di Indonesia. Menghibur dan seru sekali, kamu kudu nonton juga.

OHARA dapat terselenggara berkat dukungan darimu dan berbagai pihak. Kami harap OHARA mampu menjadi wadah untuk menampung inovasi-inovasi brilian anak bangsa demi menyatukan harmoni budaya nusantara. Tunggu reportase kami selanjutnya (AR).

SALAM OHARA….

Perubahan di Ujung Doa

Pukul 16.15, sekolah sudah mulai sepi. Hanya beberapa siswa yang masih beraktivitas di beberapa kelas. Ada yang remedial, ada yang , ada yang mempersiapkan acara OASE, ada juga yang sekadar mengobrol bersama teman-temannya. Aku sendiri masih menunggu dua orang siswa. Aku memutuskan untuk memanggil mereka setelah selesai rapat penilaian Ujian Akhir Semester (UAS) semester ganjil.

“Ustadz memanggil saya?” kata seorang siswa setelah mengucapkan salam.

“Iya,” jawabku, “silakan duduk. Mana Fajar?”

Dua siswa yang aku panggil adalah Dian dan Fajar. Dian sudah berada di depanku, tapi Fajar belum datang. Mereka berdua adalah siswa kelas 4 SMART Ekselensia Indonesia.

“Saya tidak ketemu, Ustadz. Tapi dia sudah tahu kok,” jawab Dian.

Tatapanku tajam pada muka Dian. Ia tampak penasaran karena tidak tahu alasan aku memanggilnya.

“Ya sudah, mungkin Fajar tidak datang, nanti saja menyusul,” kataku.

“Memangnya ada apa, Ustadz?” tanya Dian penasaran.

Aku menarik napas dalam-dalam sebelum menyampaikan berita itu padanya. Mungkin bagi sebagian guru hal ini wajar-wajar saja, tapi tidak untukku. Begitu juga untuk anak itu seharusnya. Mata pelajaran yang aku ajarkan adalah mata pelajaran wajib jurusan. Setiap siswa yang mengambil jurusan IPA harus lulus pelajaran ini.

“Kamu masih ingat, dulu di awal semester saya pernah memanggil kamu sama Fajar?” kataku dengan nada rendah dan agak berat.

“Iya, Ustadz.”

“Dulu saya mengingatkan kamu bahwa dengan cara belajar, sikap, dan semangat kamu yang seperti itu, kamu sulit untuk lulus pelajaran saya,” kataku lagi.

“Iya, Ustadz, saya ingat.” Dian menunduk, mungkin ia sudah bisa menebak apa yang akan aku sampaikan. Fisika. Mayoritas anak SMA merasa bahwa pelajaran ini cukup sulit untuk dikuasai. Bahkan ada yang menganggap lulus saja sudah cukup. Tidak usah mengharapkan nilai yang muluk-muluk. Aku sendiri saat masih pelajar SMA juga merasakan bahwa Fisika itu tidak mudah. Akibatnya, guru Fisika sering kali merasa bahwa siswa harus berusaha lebih keras agar mendapatkan nilai baik. Tidak sedikit guru yang terkesan galak agar para siswanya bisa menjaga keseriusan dan konsentrasi selama belajar Fisika.

“Saya baru selesai rapat nilai. Dan kamu, maaf, belum lulus.”

Dian terdiam. Aku tidak tahu apa kira-kira yang ada dalam benaknya saat itu. Tapi bisa jadi ini adalah sesuatu yang berat bagi dia, mengingat bahwa nilai Fisika menentukan naik kelas atau tidaknya siswa jurusan IPA. Tetapi karena ini baru nilai UAS semester ganjil, maka tidak berpengaruh pada kenaikan kelas, asalkan saat ujian kenaikan kelas hasilnya bagus.

Ketika rapat nilai bersama guru-guru SMA, wali kelas, wakil kurikulum, dan kepala sekolah, tidak sedikit yang terkejut dengan ketidaklulusan kedua siswaku itu. Terkejut karena khawatir nilai itu akan berpengaruh pada saat SNMPTN Undangan. Ada peserta rapat yang menyarankan kepadaku agar kedua siswa itu diberi kesempatan untuk memperbaiki nilainya. Tetapi, guru-guru yang lain mengingatkan bahwa nilai hasil rapat hari itu adalah final dan sudah tidak bisa diubah lagi. Aku sendiri bertanggung jawab penuh atas nilai yang kuberikan. Sebenarnya bisa saja aku memberikan beberapa tugas tambahan sebelum rapat nilai untuk mendongkrak nilai mereka. Tapi, jauh dalam batinku bertanya: apakah ini esensi dari pendidikan yang aku berikan pada mereka, siswa-siswaku? Apakah memang orientasinya angka-angka saja? Aku yakin tidak. Biarlah nilai kedua anak itu apa adanya agar mereka bisa belajar dari sana bahwa nilai sebesar itulah yang bisa mereka peroleh dengan tingkat usaha yang mereka lakukan selama ini.

“Sebenarnya, mungkin wali kelasmu akan menyampaikannya pula. Menyampaikan nilai apa saja yang belum lulus atau perlu ditingkatkan lagi. Tapi, saya ingin menyampaikannya sendiri.”

“Iya, Ustadz,” jawab Dian singkat.

Sepertinya aku tidak melihat raut sedih di wajahnya. Entah aku salah mengira, atau Dian berusaha tegar, atau memang ia tidak sedih dengan nilai yang diperolehnya.

“Saya berharap, di semester depan kamu lebih sungguh-sungguh. Ingat, Fisika adalah mata pelajaran jurusan sehingga jika kamu tidak lulus, maka kamu tidak naik kelas.”

Dian hanya terlihat mengangguk tanpa berkata sepatah kata pun. Suasana menjadi hening untuk beberapa saat. Padahal, dalam hatiku, aku merasa banyak sekali yang ingin disampaikan, ingin sekali ketidaklulusannya kujadikan kayu bakar untuk membakar semangatnya sehingga ia bisa mencapai nilai lebih baik di masa depan, tidak hanya semester berikutnya. Ingin sekali aku mengingatkan Dian bahwa ia adalah siswa terpilih; bahwa dalam dirinya terkandung potensi yang sangat besar untuk tumbuh menjadi seorang siswa yang sangat cerdas karena hasil tes tingkat kecerdasannya memang menunjukkan bahwa kemampuannya di atas rata-rata. Entah mengapa, semua itu tidak keluar dari mulutku.

“Baiklah kalau begitu, kamu boleh kembali ke asrama,” kataku menutup pertemuan.

“Baik, Ustadz, makasih Ustadz.” Dian kemudian keluar dari ruangan kelasku setelah bersalaman dan mengucapkan salam.

Adapun Fajar, anak ini mulai menarik perhatianku ketika rapat pra-penjurusan. Guru Bimbingan Konseling mengabarkan bahwa Fajar ingin sepertiku, kuliah di Institut Teknologi Bandung. Tapi waktu itu, di kelas 3 semester 1 ia tidak menunjukkan sikap belajar seperti yang diinginkannya. Guru-guru pun tidak merekomendasikannya masuk IPA, tapi IPS. Berdasarkan informasi dari guru BK itu, selama semester 2 aku memerhatikannya; sikapnya, belajarnya, motivasinya, dan nilai-nilainya. Alhamdulillah, ada peningkatan sehingga di rapat penjurusan aku menyetujui Fajar masuk IPA.

Sayangnya, saat semester 1 kelas 4 itu, lagi-lagi kebiasaan ia semasa kelas 3 muncul. Bukan sekali dua kali aku memergokinya sedang mengisengi temannya dengan mencopot tali sepatu atau hal-hal lain. Sering ia malah berjalan-jalan dan ketawa-tawa di dalam kelas ketika aku memberikan tugas sehingga aku tidak bosan-bosan memanggil dan mengingatkannya. Karena tidak ada perubahan sikap dalam belajar, nilai Fisikanya di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Ia pun terancam tidak lulus dalam pelajaran ini.

Beberapa hari setelah pemanggilan Dian, Fajar datang ke ruanganku. Pertama-tama aku tanya kenapa dirinya tidak hadir pada hari ketika aku menungguinya. Kemudian aku menyampaikan hal yang sama dengan yang aku sampaikan pada Dian. Dan respons Fajar pun tidak jauh berbeda seperti Dian.

Semester 2 dimulai setelah siswa-siswa pulang kampung. Aku tidak henti-hentinya mengamati sikap Dian dan Fajar. Aku bahagia melihatnya. Ada harapan besar. Mereka berubah, mereka lebih rajin dan lebih serius di kelas. Meskipun sesekali keusilan Fajar muncul, aku tetap bahagia karena sudah jauh lebih baik dibandingkan semester 1. Hasil dari perubahan sikap mereka berdua adalah pada ulangan-ulangan Fisika nilai mereka selalu di atas KKM. Bahkan pada ulangan terakhir tentang termodinamika, Fajar memperoleh nilai di atas 90, sedangkan Dian 80-an. Subhanallah. Mahasuci Allah, Dzat yang mampu membolak- balikkan hati hamba-Nya. Semoga Allah menetapkan hati mereka pada kesungguh-sungguhan, keimanan, ketaatan, dan kecintaan pada-Nya. Yaa muqallibal quluub, tsabbit quluubanaa,’alaa diinika, wa’alaa thaa’atika. [] (Agus Suherman)

*Diambil dari buku “Marginal Parenting”

OHARA siap digelar, ayo segera daftar

Halo para Pejuang Budaya di seluruh Indonesia!

Lomba budaya tingkat nasional dengan hadiah puluhan juta rupiah, Olimpiade Humaniora Nusantara 2018, masih terus dibuka pendaftarannya hingga 7 Oktober 2018!

OHARA kali ini bertemakan “Satukan Harmoni Budaya Nusantara” yang akan dilaksanakan pada tanggal 24 s.d. 25 Oktober 2018.

Ayo para pelajar SMP dan SMA/sederajat di seluruh Indonesia, kesempatan untuk meraih piala bergilir Kemendikbud, Gubernur Jawa Barat, sertifikat tingkat nasional serta keseruan bertemu para peserta se-Indonesia masih terbuka lebar!

Terdapat 5 lomba kece yang sangat mudah untuk diikuti dalam OHARA 2018, kamu pun bisa langsung mendaftar secara online di link yang tertera:
1. Festival Akulturasi Kuliner Nusantara (SMA sederajat) [bit.ly/ohara2k18_fakn]
2. Opera Van Jampang (SMP dan SMA sederajat) [bit.ly/ohara2k18_ovj]
3. Lintas Nusantara (SMP sederajat) [bit.ly/ohara2k18_lintara]
4. Lomba Esai (SMA sederajat) [bit.ly/ohara2k18_esai]
5. Story Telling (SMP dan SMA sederajat) [bit.ly/ohara2k18_storytelling_SMP atau bit.ly/ohara2k18_storytelling_SMA]

Tunggu apa lagi, ayo segera daftarkan dirimu dan tunjukkan bahwa sekolahmu adalah yang terbaik dalam OHARA 2018!

Jangan lupa untuk sebarkan info ini ke seluruh teman-teman dan sekolahmu!

Ikuti terus perkembangan #ohara2018 di akun sosial media kami:

Fanspage : Olimpiade Humaniora Nusantara
Twitter : @cintaohara
Instagram : @cintaohara
Web : ohara.smartekselensia.net
WA :
0813 1571 4190 (Erdiansyah)

ef6d4c0e-971e-4192-aef9-ebf2bb647b96

,

Yuk Budayakan Menolong Sob

Yuk Budayakan Menolong Sob

Oleh: Syafei Al-Bantanie
Direktur Dompet Dhuafa Pendidikan

“Menolong layaknya sebuah investasi yang sangat menguntungkan. Kita akan memanennya disaat yang tepat.”

Alkisah, seorang ibu tua terlihat bingung di tepi sebuah jalan yang masih sepi. Mobil itu mogok. Ia tidak tahu harus berbuat apa karena ia tidak mengerti mesin mobil. Saat itu, seorang lelaki muda melintas di jalan itu mengendarai sepeda motor. Ia berhenti tepat di sebelah si ibu. Lelaki muda itu menawarkan bantuannya untuk mengecek mobil. Si ibu mempersilakan dengan senang hati.

Lelaki muda itu membuka kap mobil, mengutak-ngatik kabel-kabel di dalamnya. Kemudian, ia juga tak sungkan untuk masuk ke kolong mobil. Mungkin ada bagian yang harus dibetulkan. Kurang lebih 30 menit, lelaki muda itu mencoba membetulkan mobil si ibu.

“Sudah selesai. Silakan coba nyalakan mesinnya,” ujar si lelaki muda.

Si ibu menyalakan stater, dan suara mesin mobil mulai menyala. Alhamdulillaah, mobil itu sudah bisa berjalan kembali. Si ibu tampak gembira. Ia membuka dompetnya dan mengambil beberapa lembar rupiah. Si ibu menyerahkannya ke lelaki muda itu sambil berucap terima kasih.

“Maaf ibu, saya tidak bisa menerimanya,” tegas lelaki itu.

“Mengapa? Anda sudah menolong saya. Ini ungkapan terima kasih saya kepada Anda,” terang si Ibu.

“Maaf ibu, bagi saya menolong bukanlah suatu pekerjaan. Karena itu, saya tidak berhak menerima imbalan. Kalau ibu ingin berterima kasih kepada saya, silakan Ibu tolong orang lain yang membutuhkan pertolongan,” terang si lelaki muda.

“Baiklah kalau begitu. Tapi siapa namamu?”

“Namaku Ihsan.”

Si Ibu berpamitan sambil mengucapkan terima kasih. Mobil bergerak meninggalkan lelaki muda itu.

Di tengah perjalanan, si ibu singgah di sebuah kedai. Ia memesan makanan dan minuman. Seorang perempuan yang tengah hamil dengan sigap menyiapkan pesanan si Ibu. Melihat perempuan muda yang tengah hamil itu, si Ibu teringat dengan kata-kata Ihsan, “Kalau Ibu ingin berterima kasih kepada saya, silakan Ibu tolong orang lain yang membutuhkan pertolongan.”

Usai makan dan minum, si Ibu meminta bon. Ketika pelayan perempuan muda itu sedang membuatkan bon, si Ibu pergi tanpa diketahui pelayan perempuan itu. Pelayan perempuan itu menghampiri meja si Ibu. Ia bingung karena tidak mendapati si Ibu di mejanya. Di mejanya tergeletak secarik kertas dan uang yang cukup banyak.

Surat itu tertulis, “Di perjalanan, mobilku mogok. Ada seorang lelaki muda bernama Ihsan yang berbaik hati membetulkan mobilku. Akan tetapi, ia tidak mau menerima imbalan dariku. Ia meminta saya untuk menolong orang lain sebagai imbalannya. Aku melihat kau sedang hamil. Aku ingin membantu biaya persalinan anakmu nanti. Aku tinggalkan uang ini sebagai pembayaran makanan dan minumanku. Sisanya ambillah untuk biaya persalinan anakmu. Semoga kau berbahagia dengan suami dan anakmu.”

Perempuan muda itu berkaca-kaca membaca surat si Ibu. Sore hari, perempuan itu pulang ke rumahnya. Bertemu sang suami yang dicintainya. Malam harinya, saat si suami tertidur pulas karena lelah bekerja, si perempuan itu mengusap kepala suaminya sambil berbisik, “Mas Ihsan, kau tidak usah merisaukan biaya persalinan untuk anak kita. Keikhlasanmu menolong orang lain telah berbuah kebaikan untuk kita.”

***

Betapa indahnya hidup ini jika kita saling menolong satu sama lain. Menolong atas dasar keikhlasan bukan karena ada tujuan dibaliknya. Meski orang yang kita tolong tidak atau belum bisa membalas kebaikan kita, tetapi yakinlah Allah pasti menggerakan tangan-tangan lain untuk menolong kita saat kita membutuhkan pertolongan.

Satu kebaikan kecil bisa berarti besar bagi orang yang membutuhkan. Saya teringat kisah yang diceritakan teman saya. Ia bercerita tentang seorang supir angkot yang masih muda. Disaat jam kerja angkot-angkot berlomba-lomba mencari penumpang untuk mengejar setoran.

Ketika itu, ada seorang Ibu dengan tiga anaknya berdiri di tepian jalan. Setiap angkot yang lewat disetopnya, angkot itu berhenti sejenak, lalu jalan kembali. Tibalah angkot yang disupiri oleh pemuda ini yang distop oleh si Ibu.

“Mas, angkot ini sampe terminal bis ya?” tanya si Ibu.

“Iya, Bu,” jawab supir angkot.

“Tapi, saya tidak punya uang untuk bayar ongkosnya,” ujar si Ibu jujur.

“Nggak apa-apa, Bu. Ayo, naiklah,” sahut pemuda supir angkot.

Si Ibu dan tiga anaknya pun naik. Disaat supir angkot lain berebut penumpang untuk mengejar setoran, pemuda supir angkot ini malah merelakan empat kursi untuk Ibu dan tiga anaknya.

Saat sampai terminal, para penumpang turun juga si Ibu dan tiga anaknya. Ibu ini berucap terima kasih pada si pemuda supir angkot itu. Ada penumpang seorang bapak yang juga turun dan menyerahkan uang dua puluh ribu rupiah. Pemuda supir angkot itu memberikan kembalian enam belas ribu rupiah, namun bapak itu menolaknya.

“Ambil saja kembaliannya. Itu untuk ongkos Ibu dan tiga anaknya tadi. Dik, terus berbuat baik, ya,” pesan si Bapak itu pada pemuda supir angkot.

Lihatlah, betapa indah hidup saling tolong-menolong. Andaikan separuh saja penduduk bumi ini berpikir untuk menolong oranglain, maka akan damailah dunia ini. Karena itu, mari kita saling membantu dan menolong satu sama lain. Kita adalah saudara. Saudara itu laksana satu tubuh. Jika satu bagian tubuh merasakan sakit, maka bagian lain ikut merasakannya. Kemudian, sama-sama memulihkan bagian tubuh yang sakit itu.

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal kasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam.” (HR. Muslim).

,

Menjadi Jurnalis? Siapa Takut!

Menjadi Jurnalis? Siapa Takut!

 

 

Oleh : Syahrizal Rachim, Alumni SMART Angkatan X Berkuliah di UNPAD Jurusan Hukum

Kebudayaan nusantara merupakan salah satu hal yang saat ini menjadi perbincangan hangat diantara para pelajar di Indonesia. Para pelajar berlomba-lomba untuk menciptakan kreasinya sendiri untuk mewariskan budaya yang ada di Indonesia.

Hal ini menjadikan kegiatan jurnalistik menjadi sebuah kegiatan yang sangat penting untuk mengenalkan budaya kepada siapa saja. Peliputan budaya-budaya dengan kreatif dan pengemasan media menjadi menarik membuat para “penikmat” hasil karya jurnalistik semakin tergugah untuk mencintai budaya Indonesia.

Semangat para jurnalis muda di sekolah seharusnya mendapatkan dukungan dari berbagai pihak untuk menyukseskan pelestarian budaya yang ada di negeri ini.

Berbagai macam pelatihan mengenai cara mengelola karya jurnalistik sangatlah diperlukan di tengah minimnya kegiatan literasi untuk mengenal budaya di sekolah. Program desa budaya yang ada di berbagai daerah mampu menjadi pengembang budaya pada masyarakat. Siswa-siswa sebaiknya lebih mengetahui industri pembuatan barang kebudayaan, sehingga pada akhirnya berbagai peninggalan budaya di Indonesia dapat terus berkembang untuk mempercepat pengembangan karakter siswa.