Juno

Jadi Maba Itu Pasti, Hadapi Saja Dengan Senang Hati

Jadi Maba Itu Pasti, Hadapi Saja Dengan Senang Hati

Oleh: Johan FJR

Angkatan 7 saat ini berkuliah Universitas Gajah Mada jurusan Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (PSdK).

Tak pernah terbayang dalam hidupku, seorang perantauan di Bogor yang tinggal di asrama, ditolak kampus sekelas UI. Yap, aku dari dulu memang mengidamankan UI. Kampus yang punya segudang fasilitas, dan almamater serba kuning ini telah memikat hatiku. Aku dan Ahfie Rofi, sahabat Sunda-Cinaku, menargetkan UI dari berbagai seleksi masuk kampus yang ada. Terhitung sudah ada 3 jenis seleksi yang kami coba: SNMPTN, SBMPTN, dan SIMAK UI. Dan Alhamdulillah semua ditolak mentah-mentah sama kampus serba ‘wah’ itu.

Entah kenapa kami yang memang sedari SMP sudah bersahabat, ternyata berlanjut sampai kuliah. Beruntung kami ditolak di UI, tapi masih diterima di UGM, dan masih bersama hehehe. Mungkin memang takdir persahabatan kami tak berlanjut di UI.

Aku sudah mencoba segala cara agar bisa masuk UI. Di SNMPTN, aku pilih Ilmu Komunikasi, Kesejahteraan Sosial, dan Arkeologi UI. Di SIMAK UI, aku pilih Ilmu Komunikasi, Kesejahteraan Sosial, dan Kriminologi. Tapi takdirku justru hadir di pilihan kedua SBMPTN. Berbrda dengan Rofi yang selalu mencantumkan Sastra Arab (Sasbar) ditiap pilihannya.

 

***

Sore itu gerimis mengguyur Parung, gemericiknya runut membentuk notasi begitu menyentuh aspal. Aroma tanah basah menyeruak, hidung-hidung kami bisa dengan jelas merasakannya dan semburat sinar matahari berusaha menembus awan, memberikan secercah cahayanya untuk aku yang sedang menelpon ibu di balkon barat lantai 4.

“Gantian woi!”

Aku melangkah gontai, resah menunggu pengumuman SNMPTN. Tanganku meraih modul bimbel di atas lemari. Ya, ini buku ‘sakti’ terakhirku. Aku ogah keluar banyak cuma buat beli buku-buku SBMPTN seperti teman-teman yang lain, buku-buku itu pada akhirnya tak berguna karena aku lebih suka liat kunci jawaban langsung atau sekadar ke warnet buat menjajal simulasi daring UN, aku tak mau buang-buang uang.

Keesokan harinya datang juga hari yang kutunggu, hari di mana pengumuman penerimaan via SNMPTN diumumkan. Seharusnya hasil SNMPTN sudah diumumkan pukul 09.00 WIB di TOA sekolah, tapi ternyata belum ada juga. Walau punya nilai rapor yang gak jelek-jelek amat, seuprit prestasi, juga rekam jejak yang gak neko-neko di sekolah, namun hari itu aku gusar. Aku membayangkan kalau aku diterima di UI lewat SNMPTN pasti mengasyikan sekali, membayangkan memakai jaket kuning saja membuat hati ini berdebar. Belum lagi kampusnya lengkap, berangkat kuliah bisa naik kereta, kalau ngekos dekat-dekat situ bisa berangkat kuliah naik sepeda, dan yang jelas bisa naik bis kuning yang hits itu. Aku sudah merencanakan apa saja yang mau aku lakukan di UI. Ikut lomba ini-itu, ikutan di BEM, nge-gym, tinggal di asrama, ngekos di Pocin, banyak! Bahkan aku juga sudah memutuskan kerja apa di Margonda nanti.

Karena tak kunjung ada juga pengumuman lewat TOA, aku mengajak Rofi untuk bertanya langsung ke guru di ruang BK. Aku yakin, di sana guru BK kami pasti sedang mengotak-atik data.

Dari asrama lantai 4, kami melewati wisma guru di lantai 2, dan anak-anak yang sukanya menyaksikan ISL kalau sore di kantin lantai dasar. Asrama kami memang satu komplek dengan sekolah, dalam tiga menit sampailah kami di sekolah dan langsung berpapasan sama bu Ana dan bu Uci.

“Assalamualaikum bu, hasilnya udah keluar belom?”

“Udah, ini bentar lagi ibu mau umumin.”

Aku sama Rofi mempersilakan bu Ana dan bu Uci masuk ke ruang TOA. Ding dang ding dung bunyi TOA yang kami kenal mulai mengudara. Ada suara berdehem, sejurus kemudian pengumuman pun terpampang nyata!

“Assalamualaikum. Hari ini telah didapatkan 11 mahasiswa … blablabla … melalui jalur SNMPTN. Ustadzah ucapkan selamat kepada …”

Jantungku deg-degan BANGET! Rofi menunduk sambil memasukkan tangannya ke saku jaket angkatan kami. Aku menahan napas, berusaha fokus mendengarkan pengumuman beliau.

“ … Karunia Adiyuda Dilaga, diterima di blablablabla. Muhammad Zulkifli, diterima di blablablabla … ”

Perasaanku mulai gak karuan ketika nama kedelapan disebutkan. Apakah nama kami ada di sana?

“ … Yodie Ikhwana, diterima di blablablabla. Dan Juniar Tirja Pratama Gamgulu, diterima di blablablabla … ”

… nama kesebelas pun terucap. Namaku gak ada. NAMAKU GAK ADA! NAMAKU GAK ADA!

“NAMA AKU GAK ADA FI!” “GAK ADA!” “GAK ADAAAK!” Panik kugoyang-goyangkan bahu Rofi yang kecil. Tremor sudah!

“NAMAKU JUGA!” ujar Rofi

Nyesek dan bertanya-tanya, ‘Masa sih nama kami nggak ada?

Kami berdua mengerubungi bu Ana, disusul beberapa anak yang baru datang dari asrama. Beliau memberikan selebaran lembar ketikan. Dan benar, nama kami tidak ada. Tanganku lemas sembari membalikan kertas tadi ke pangkuan bu Ana. Aku diam. Aku gak nyangka, kami berdua gak diterima lewat jalur undangan. Kami berdua pasrah. Hujan deras pun mengguyur kala itu.

***

Kami berdua melangkah lemas, mewek dikit, dan menghindari kerumunan massa. Kami menghindari tangga barat di mana anak-anak sedang nonton teve, takut banyak yang menanyakan kondisi kami akhirnya kami memutar ke tangga timur. Suara jeritan anak-anak yang diterima SNMPTN menggema sampai ke lantai dasar. Gemanya terus terngiang di pikiran kami berdua. NYESEK bro! Aku dan Rofi cuma duduk-duduk di tangga bawah. Merenung dan sedikit bersedih. Gak disangka ternyata kami berdua memang kurang memenuhi persyaratan SNMPTN. Aku sendiri menyadari kalau nilai Ekonomiku anjlok sejadi-jadinya. Tapi masih lebih beruntung dari Rofi yang anjlok sana-sini, hehehe.

Rasanya nyesegh dan pengin maki-maki diri sendiri, ‘Kenapa ya aku gak belajar serajin-rajinnya, atau ibadah 24×7 gitu.’ Dalam kondisi ini, kayaknya aku jadi lebih dekat sama Tuhan, mencurahkan segala isi hati, segala gusar, dan berusaha menenangkan diri dengan baca Quran. Ya, aku yang sebelumnya lemas gegara tak lolos di SNMPTN, makin terpacu karena aku berpikir, “Tuhan mungkin gak memuluskan jalan aku lewat SNMPTN karena menurut-Nya, jalur itu terlalu mudah buat aku. Maka, Ia mencoba menguji kemampuan dan kesabaran aku melalui SBMPTN”.

 

***

Pada akhirnya kelas bimbel di sekolahku dimulai kembali kala itu. Di dalam kelas wajah-wajah lesu nampak mewarnai kelas yang dimulai pukul 6 dan berakhir jam 7 pagi tersebut, berulang kali guruku bilang, “Kalian sebenarnya jauh lebih beruntung, karena yang diterima di SNMPTN HARUS mengambil apa yang mereka pilih agar sekolah tidak di blacklist. Jadi, kalian yang lewat SBMPTN bisa memilih jurusan kalo cocok ato enggak”. Wah, iya juga. Misalnya si Udin memilih Keperawatan. Entah dia milihnya serius atau enggak, pastinya dia harus ambil dong biar sekolahnya nggak di blacklist kampus itu, hehehe. Aku pun jadi lebih bersemangat dan lebih serius untuk memilih jurusan yang kumau.

Jujur, aku sendiri bingung BANGET untuk memilih jurusan apa.

Terhitung ada ratusan jurusan yang tersedia di kampus. Ketika pembagian jurusan IPA-IPS, maka bisa dibilang berkuranglah jumlahnya. Tapi ketika SBMPTN hanya dikasih 3 kesempatan pilihan, aku kudu banting setir putar otak lompat-lompat sambil lirik-lirik jurusan mana yang prospeknya bagus (ke depannya), juga pastinya santai pas kuliah (#AkuBanget). Setelah melihat profil masing-masing jurusan, cek prospek kerja dan tanya ke alumni sana-sini, aku jatuh hati pada tiga pilihan besar berikut:

  1. Ilmu Komunikasi UIYap, aku suka banget sama dunia jurnalistik dan Ilmu Komunikasi. Menurutku keduanya memiliki keterkaitan dengan hobiku. Selain kampusnya yang udah jelas eksklusif dan kondusif, letak UI yang di Depok strategis buatku jika hendak melancong ke mana-mana: Jakarta, Bogor, Bandung bahkan Singapura.

    2. Sosiatri UGM

    Aku gak tahu sebelumnya kalau jurusan yang getol banget memerhatikan masalah sosial, kebijakan pemerintah, dan dunia perpolitikan ini ternyata sudah berganti nama menjadi Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan. Jurusan ajaib yang mempelajari 3 jurusan (Manajemen Kebijakan Publik, Sosiologi, dan Politik Pemerintahan) sekaligus ini ternyata mempunyai prospek cerah karena banyak perusahaan yang membutuhkan CSR dari lulusan ini. Dan, banyak yang langsung diterima usai wisuda dari sini, hehe.

    3. Jurnalistik Unpad

    Jurnalistik Unpad menjadi jurusan cadangan kalau kalau aku gak diterima di Ilkom UI. Sayangnya aku gak diterima di jurusan yang baru dibuka pada 2015 ini. Tapi mengapa, toh tiap kampus pasti ada pers mahasiswanya (persma).

***

Setelah banting gayung untuk buru-buru mandi mengikuti bimbel pagi, tarik sarung setiap pukul 03.00 WIB, juga belajar sehidup-semati, Alhamdulillah aku diterima di Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (PSdK) UGM. Yap, hidup baruku mulai diukir di kampus ini, kampus kerakyatan. Akan seperti apa? Aku juga tak tahu. Yang jelas untuk adik-adik kelasku jangan menyerah, belajar yang rajin kalau memang kalian ingin masuk ke jurusan favorit di kampus favorit. Yang jelas (lagi) mau SNMPTN atau SBNMPTN, kelak kamu akan jadi maba yang membawa nama SMART EI dikancah dunia perkuliahan, jaga baik-baik ya.

 

Reza Alam

Rasa Ini Rasa Anak IPS

Rasa Ini Rasa Anak IPS

Oleh: Reza Bagus Yustriawan
Alumni SMART Ekselensia Indonesia Angkatan IX, Mahasiswa Sosiatri FISIP UGM 2017

 

Anak IPS? Apa yang terlintas di benakmu saat mendengar kata IPS? Nakal? Suka tawuran? Kumpulan begundal? Kalau ya, berarti pikiranmu sudah terkontaminasi dengan “pepatah”  orangtua zaman dulu. Memang, kata siapa semua anak IPS itu begundal? Anak IPS itu seharusnya dihormati tahu, karena anak IPS gemar melestarikan budaya Indonesia melalui beragam ilmu sosial yang diajarkan para guru tercinta.

Namun, suka duka sebagai anak IPS yaa banyak juga sih, diantaranya, dicap kalau mereka yang masuk jurusan IPS itu tak elok dan akan sulit mencari pekerjaan di masa depan. Padahal nih yaa, tanpa kehadiran anak IPS, mungkin anak cucu kita tak akan tahu Tari Saman asal Aceh, Kujang, Rencong, Sejarah Indonesia, bahkan sejarah aku dan dia. Ini bercanda hehe.

Walau begitu, ada enaknya juga jadi anak IPS, misalnya, tak perlu berurusan dengan angka-angka ajaib, tak perlu mencari bilangan-bilangan rumit, dan tak perlu berpikir terlalu banyak (maksudnya tak perlu berurusan dengan kimia, matematika, fisika, dan pelajaran eksakta lainnya). Jadi, kalau belajar yaa gitu-gitu aja, enak, nyantai, nggak perlu kalkulator, nggak perlu ngitung-ngitung pergerakan setiap benda di bumi. Palingan ngitung-ngitung cuma dipake sekali-kali­—misal di kantin, ngitung utang—.

Hayoo… Ngaku…

Kalau nggak enaknya jadi Anak IPS juga banyak, salah satu yang paling gue keselin itu kita harus ngapalin nama-nama orang luar yang nggak jelas. Ada juga tanggal-tanggal. Boro-boro nginget tanggal lahir orang, tanggal lahir orang tua aja nggak tau, ya nggak?? Ngaku lho!! Ngaku!! Sedangkan, tanggal peristiwa kesaktian aku saja, aku nggak inget, apalagi hari kesaktian pancasila??

Jangan dikira jadi anak IPS itu nggak ribet. Mungkin selama ini banyak yang bilang kalau yang ribet itu cuma anak IPA doang, harus bawa termometer lah, labu melerleyer lah, spiritus lah. Eh!! Jangan salah!! Anak IPS juga ribet, malah lebih ribet, disuruh bawa peta lah, buat peta lah, menggali fosil lah, buat peta sambil menggali fosil lah, berkomunikasi dengan manusia-manusia purba lah. Ribetan mana hayo??

Yaa, ribet dua-duanya lah.

Aku sebenarnya agak resah, soalnya IPS di Indonesia dianggap tempatnya anak-anak buangan.

Aku nggak setuju!!

Pertama, karena aku juga anak IPS. Kedua, yaitu kalau nggak ada IPS nggak ada psikolog, kalau nggak ada psikolog nggak ada yang bisa nolongin orang stres, kalau terlalu banyak orang stres semua jadi stres, kalau semua orang stres entar mati. Wahhh!!! Kalau nggak ada anak IPS ujung-ujungnya nyawa semua orang mati. Ngeri banget kan akibatnya??

*Ngaco

1200px-Disability_symbols.svg

Sudah Saatnya Kita Belajar dari Abilitas Penyandang Disabilitas Sob

Sudah Saatnya Kita Belajar dari Abilitas Penyandang Disabilitas Sob

 

Oleh: Purwo Udiutomo, GM Beastudi  Indonesia

“Dia yang Mau Menerima Saya Apa Adanya!” judul tulisan dari salah seorang kawan tiba-tiba terlintas ketika aku menghadiri Grand Launching ThisAble Creative di Unpad Training Center. Tidak mengherankan, karena tulisan tersebut baru dikirim sehari sebelumnya. Tulisan mengenai berbagai penolakan dan pertanyaan sensitif yang mengiringi hidup seorang penyandang disabilitas. Sekaligus ungkapan kesyukuran atas hadirnya pendamping hidup dan keluarganya yang begitu tulus menerimanya. Tulisan dari seorang teman penyandang disabilitas yang begitu produktif menulis. Penulis novel ‘Sepotong Diam’ dan ‘Masih Ada’ sekaligus founder One Day One Post Community.

ThisAble Creative (TAC) merupakan sebuah gerakan sosial yang diinisiasi oleh penerima Dompet Dhuafa Pendidikan. Gerakan ini bertujuan untuk memfasilitasi masyarakat difabel dalam memunculkan potensinya sehingga lebih mandiri dan dapat menciptakan inklusifitas di tengah masyarakat. Dalam acara grand launching bertemakan “Commemorate the Extraordinary” ini dilakukan penyerahan kaki palsu yang dibuat handmade oleh difabel dan untuk difabel, sharing inspirasi oleh para penyandang disabilitas, serta launching tas TAC yang dibuat langsung oleh para difabel.

Di tengah hiruk pikuk isu diskriminasi SARA terhadap para difabel seolah luput dari hiruk pikuk. Padahal para penyandang disabilitas sangat rentan terhadap tindak diskriminatif, bahkan tindak kriminal. Pelecehan dan diskriminasi yang kadang dirasakan oleh jomblowan dan jomblowati jelas jauh lebih ringan dibandingkan apa yang menimpa para penyandang disabilitas. Lingkaran setan kemiskinan berputar di sebagian besar para difabel. Mencoba memperbaiki nasib, akses terhadap pekerjaan terbatas. Hendak memutus rantai kemiskinan, akses terhadap pendidikan juga terbatas. Belum lagi terbatasnya akses fasilitas dan sarana layanan publik, ditambah berbagai stigma negatif yang dilekatkan kepada para difabel, menambah panjang daftar tindak diskriminasi terhadap para penyandang disabilitas.

Berbeda dengan isu SARA yang kental nuansa keyakinan dan budaya yang dogmatis, diskriminasi terhadap para penyandang disabilitas semestinya tidak perlu terjadi karena disatukan oleh isu kemanusiaan yang universal. Kesetaraan, saling membutuhkan dan saling membantu. Bukankah tidak ada manusia yang sempurna? Artinya ketidaksempurnaan fisik tidak seharusnya menjadi pembeda. Sayangnya keangkuhan acapkali menghijabi kesyukuran, rasa gengsi kerapkali menutupi rasa empati, alhasil diskriminasi terus terjadi. Padahal dari penuturan para penyandang disabilitas, mereka tidak ingin diistimewakan. Mereka hanya ingin dimanusiakan, bukan sebagai orang cacat yang layak dihujat, bukan epidemi yang harus dijauhi, bukan komunitas terzholimi yang minta dikasihani, juga bukan bangsawan yang segala sesuatunya harus disediakan. Mereka hanya ingin diperlakukan sebagai manusia. Peduli dan dipedulikan, mencintai dan dicintai.

Dan hari ini aku belajar banyak akan arti kesempurnaan dari ketidaksempurnaan. Salah seorang penerima kaki palsu sudah hapal lebih dari 5 juz Al Qur’an, ada juga juara paralympic yang sudah mengharumkan nama bangsa. Sementara mereka yang (katanya) ‘sempurna’ justru belum menorehkan karya apa-apa. Sekali lagi aku diingatkan bahwa setiap manusia dikaruniai kelebihan dan kekurangan. Ya, kekurangan hakikatnya adalah karunia jua, bukan aib. The extraordinary people bukanlah mereka yang tidak punya kekurangan, tetapi merekayang memiliki kekurangan namun bukannya menjadi kelemahan, namun justru menjadi kekuatan. Dan ternyata para penyandang disabilitas ini memiliki potensi yang luar biasa, menjadikannya memiliki abilitas yang tidak kalah dari para ‘penyandang non-disabilitas’. Allah Maha Adil, Dia melengkapi segala kekurangan dengan sesuatu yang setimpal…

I firmly believe that the only disability in life is a bad attitude” (Scott Hamilton)

1

Pulang Kampung Itu Ujian Kawan

Pulang Kampung Itu Ujian Kawan

Pulang Kampung Itu Ujian Kawan meskipun Pulang Kampung (PulKam) menjadi kegiatan yang ditunggu-tunggu oleh seluruh siswa SMART Ekselensia Indonesia. Namun tak dapat dipungkiri bahwa sebelum itu ada agenda yang amat memeras otak yaitu ujian atau PAS(Penilaian Akhir Semester). Inilah evaluasi ilmu yang telah kami telan selama 1 semester. PulKam menjadi penyejuk dan pemberi kebahagiaan tersendiri bagi kami yang letih  memeras otak demi hasil terbaik di PAS. Tetapi, kami tersadar jikalau Pulkamlah ujian sebenarnya.

PulKam kami anggap ujian sebenarnya karena di kampung halaman kami harus tetap mengamalkan ilmu yang telah dipelajari di sekolah. Belum lagi banyaknya pertanyaan seperti “Apakah di rumah kami selalu ke masjid?”, “Apakah kami melaksanakan salat dan puasa sunah?” Acapkali kami terlena karena hadirnya gawai ketika menikmati saat-saat PulKam sehingga lupa untuk menunaikan berbagai hal yang biasa kami lakukan di SMART.

Ternyata gawai memang terbukti mampu membuat kami lupa waktu, tak heran bila sekarang muncul istilah “Manusia Menciptakan Untuk Menghancurkan”, maksudnya, manusia menciptakan media elektronik untuk mencukupi kebutuhan rohani, namun penggunaan yang berlebihan dan melenceng dapat menghancurkan akhlak, perilaku, ramah tamah dan lain sebagainya. Nah penggunaan gawai berlebih juga mampu menumbuhkan sikap individualisme, ironis memang bila kita berbicara tentang individualisme di kalangan remaja yang semakin marak di Indonesia. Parahnya selain individualisme ternyata gawai juga mampu menimbulkan pergaulan tak terkontrol dan seolah tak memiliki batasan.

Oleh karena itulah kami yang pulang ke kampung halaman harus pintar-pintar mengatur serta menjaga diri karena ustaz dan ustazah di sekolah tak bisa mensupervisi kami secara langsung. Caranya bagaimana? Dengan meminimalisasi penggunaan gawai, tetap rutin mengaji dan datang ke majlis kebaikan, dan satu lagi tetap berpegang teguh pada nilai-nilai yang diajarkan di SMART.

Untuk saya Pulang Kampung selain menyenangkan juga ajang memperbaiki diri, semoga di Pulang Kampung tahun

syehan

Wisata Seru di Kota Melayu yang Harus Kamu Ketahui

Wisata Seru di Kota Melayu yang Harus Kamu Ketahui

Oleh: Syehan

Kelas VIII

Di hari-hari terakhir pulang kampung lalu, saya serta beberapa anak asal Riau lainnya pergi untuk mengunjungi beberapa tempat wisata yang ada di Riau, terutama yang berlokasi di Kampar, kami menempuh perjalanan sekitar 2 jam dari kota Pekanbaru. Mulanya kami pergi ke Ulu Kasok yang berada di dekat PLTA Koto Panjang. Ulu kasok merupakan wisata pemandangan alam yang terbentuk dari gugusan pulau-pulau kecil yang diakibatkan oleh tenggelamnya desa tersebut oleh PLTA Koto Panjang.

Di sana kita harus mendaki tebing terlebih dahulu untuk bisa menyaksikan pemandangan dari atas. Bagi orang yang tak bisa menaiki tebing, sudah disediakan ojek yang berada di bawah. Biaya ojek sekitar Rp 5.000. Dari atas kita bisa menikmati indahnya pemandangan dari kumpulan pulau- pulau yang eksotis, tak heran tempat ini cukup dikenal sebagai “Raja Ampatnya Sumatera”, di sana juga disediakan restoran dan juru foto.

 

Setelah berpuas-puas di atas sana sambil berfoto-foto, kami pun turun melanjutkan perjalanan yang tak kalah seru dari sebelumnya.Tempat wisata ini masih berlokasi di Kabupaten Kampar, tetapi lumayan jauh. Tempat ini merupakan bagian sejarah dari Provinsi Riau. Objek wisata ini merupakan Candi Muara Takus. Konon candi ini merupakan bagian dari pusat kerajaan Sriwijaya, diperkirakan candi ini sudah ada sejak abad ke 10 M. Biaya masuk candi ini ialah sekitar Rp 10.000. Di halaman candi terdapat 4 candi dan gundukan pembakaran mayat pada masa Sriwijaya.

Empat candi tersebut ialah Candi Tuo, Candi Bungsu, Candi Palangka dan Stupa Mahligai. Candi ini berbeda dengan candi yang ada di Jawa karena terbuat dari batu bata, bukan batu andesit . Batu tersebut konon diambil dari desa yang bernama Desa Pongkai, sebuah desa di pinggiran Sungai Kampar. Candi ini juga tak jauh dari Sungai Kampar. Setelah melihat lihat candi kami pun beristirahat untuk sholat dan makan, setelah itu kami melanjutkan perjalanan kami ke pemandian sungai hijau. Di sana kami hanya singgah sebentar karena hari sudah beranjak petang dan sesudah itu, kami pun pulang ke Pekanbaru.

Perjalanan kami akhirnya selesai, letih dan penat pun telah terbayarkan dengan panorama wisata di Bumi Lancang Kuning tersebut. Mengingat beberapa hari lagi kami akan kembali terbang ke Jawa untuk melanjutkan masa sekolah di SMART Ekselensia Indonesia.

 

IMG-20180326-WA0005

Yuk Berbagi Lewat Dongeng!

IMG-20180326-WA0005

“Sebelum kertas ditemukan oleh Tsai’Lun, sebelum mesin cetak ditemukan oleh Johann Gutenberg keduanya menjadi medium tradisi tulis, peradaban dibangun oleh segulungan kisah dongeng”
― Pramoedya Ananta Toer, Dongeng Calon Arang

Dongeng dari waktu ke waktu memiliki peran penting dalam peradaban manusia. Ia menjadi salah satu metode efektif menyampaikan pesan kebaikan.

Dongeng bagi anak-anak itu menyenangkan. Ia menjadi teman pengantar tidur, memancing imajinasi dan, membuat anak-anak bisa bermimpi tanpa batas.

Komunitas Filantropi Pendidikan (KFP) melalui Ruang Berbagi di bulan dongeng (Maret) mempersembahkan :
“Mendongeng bersama FLAC (Future Leader for Anti Corruption): Berbagi lewat Dongeng” pada:

Hari, tanggal : Sabtu, 31 Maret 2018
Pukul : 10.00 – 12.30
Tempat : Taman Rotunda UI

FLAC merupakan komunitas yang aktif menyampaikan nilai-nilai anti korupsi sejak dini melalui mendongeng. FLAC mengajak kamu yang ingin berbagi cerita, mimpi dan dongeng-dongeng inspiratif masa kecilmu.

Daftarkan diri kamu sekarang!
KUOTA TERBATAS!

HTM: Rp 15.000
(dongeng kit + donasi pendidikan)

Pembayaran bisa dilakukan on the spot atau via transfer ke:
2881 2881 26 (BNI Syariah)
a.n. Yys Dompet Dhuafa Republika

Ruang Berbagi
“Berbagi lewat Dongeng”
KFP x FLAC

Narahubung : 0813 1872 5301

IMG-20180326-WA0002

Antimelas di Olimpiade Guru Nasional (OGN) 2018

Antimelas di Olimpiade Guru Nasional (OGN) 2018

Oleh: J. Firman Sofyan

Olimpiade Guru Nasional (OGN) tingkat Provinsi Jawa Barat 2018 dilaksanakan di Kota Cimahi. Peserta OGN adalah guru yang sudah lolos mengikuti tes daring (online) yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sebanyak 90 guru dari seluruh kota dan kabupaten di Jawa Barat menjadi peserta OGN tahun ini. Berikut adalah rincian peserta OGN Jawa Barat:

  1. Guru Antropologi : 1 orang
  2. Guru Bahasa Indonesia : 25 orang
  3. Guru Bahasa Inggris : 14 orang
  4. Guru BK : 12 orang
  5. Guru Matematika : 25 orang
  6. Guru Agama Islam : 8 orang
  7. Guru Prakarya dan Kewirausahaan : 2 orang
  8. Guru Seni Budaya : 3 orang

SMA SMART Ekselensia Indonesia mengirimkan satu perwakilan dalam OGN tahun ini, beliau adalah Ustaz J. Firman Sofyan. Beliau menjadi peserta OGN mewakili Kabupaten Bogor untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia setelah dinyatakan lolos seluruh tahap seleksi, termasuk tahapan menulis makalah yang diadakan oleh Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemdikbud.

IMG-20180326-WA0003

Kegiatan OGN dilaksanakan selama dua hari pada 21 s.d. 22 Maret 2018. Pembukaan OGN dilaksanakan di  Simply Valure Hotel (The Egde), Jalan Raya Baros No 57, Cimahi. Adapun pelaksanaan seleksi bertempat di SMP Negeri 2 Cimahi, Jalan Sudirman No 52, Baros, Kota Cimahi.

IMG-20180326-WA0001

Pada hari pertama, tepat pada pukul 13.00, peserta OGN harus melakukan registrasi ulang pada panitia. Setelah itu, peserta melakukan daftar masuk (check in) kamar hotel. Para peserta ditempatkan pada beberapa kamar sesuai dengan mata pelajaran masing-masing. Pukul 16.00, seluruh peserta mengikuti acara pembukaan OGN 2018. Dalam sesi ini, panitia menyampaikan beberapa teknis pelaksanaan lomba. Panitia pun menginformasikan beberapa kabupaten atau kota yang tidak mengirimkan satu pun perwakilannya dalam OGN tahun ini. Yang tidak luput diinformasikan adalah jumlah peserta yang akan menjadi pemenang dan akan melanjutkan perjuangan dalam OGN tingkat nasional, alias final. Finalis OGN adalah 15 peserta dengan nilai terbaik untuk setiap mata pelajaran dari seluruh Indonesia.

Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan Jawa Barat, Dr. Ir. H. Ahmad Hadadi, M.Si., tiba tepat pukul 17.00. Sosok cerdas dan berwibawa tersebut berpesan bahwa guru harus mengikuti perkembangan zaman, terutama penguasaan teknologi informasi (TI). Guru harus melek TI sehingga tidak ketinggalan zaman. Melek TI juga berarti guru mampu membuat pembelajaran yang menarik dan variatif. Selain itu, beliau pun mengharuskan guru menciptakan pembelajaran yang menyenangkan. Sudah bukan zamannya lagi sekolah yang menunjukkan kekerasan. Kini zamannya sekolah yang humanis dan memanusiakan.

Pada hari kedua, seluruh peserta memulai hari dengan sarapan pada pukul 06.00. Setelah itu, para peserta diantar dengan bus berkapasitas 60 kursi menuju lokasi tes.Tes daring (online) OGN dilaksanakan tepat pukul 08.00 di SMPN 2 Cimahi. Durasi semua mata pelajaran adalah 120 menit, kecuali Matematika. Para peserta seleksi dibagi ke dalam empat ruangan, yaitu:

  1. Ruang 1 : Guru Bahasa Indonesia
  2. Ruang 2 : Guru Matematika
  3. Ruang 3 : Guru BK, Guru Agama Islam
  4. Ruang 4 : Guru B. Inggris, Guru Antropologi, dan Guru Seni Budaya.

Seluruh peserta mengerjakan soal yang sudah disediakan dalam laman kesharlindungdikmen.id dengan akun masing-masing. Jika tidak yakin, guru tidak perlu mengerjakan seluruh soal karena ada sistem penilaian, yaitu nilai 2 untuk jawaban benar, nilai 0 untuk soal dikosongkan, dan -1 untuk jawaban salah. Peserta tidak diperbolehkan bekerja sama, menyontek, menggunakan alat bantu, atau menggunakan ponsel selama tes berlangsung. Ada empat pengawas di setiap ruangan. Pengawas tes merupakan panitia dari Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kemdikbud.

Selesai mengerjakan tes, seluruh peserta kembali ke hotel dengan bus yang sama. Para peserta bisa merapikan pakaian dan properti yang dibawa seraya melakukan daftar keluar (check out) dari hotel yang cukup tua. Salat zuhur tentu tidak boleh alpa, menenangkan hati yang gundah. Santap siang menjadi agenda terakhir sebelum peserta kembali ke sekolah. Mari kita doakan Ustaz J. Firman Sofyan meraih hasil terbaik. Tidak ada salahnya juga berharap agar beliau menjadi 15 peserta terbaik dari seluruh Indonesia.

 

Foto Rama

Inilah Rama Sang Hafiz SMART

Foto Rama

Bogor – Rama Ahmad Noor Faizi ialah satu dari sekian peserta didik yang memiliki kemampuan unik di SMART Ekselensia Indonesia Dompet Dhuafa. Putra kelahiran Bogor, 21 Desember tahun 2000 ini berasal dari daerah Ciawi, Bogor Jawa Barat. Dengan latar belakang keluarga yang sederhana, Rama mulai mengenal SMART melalui kerabat dari orangtuanya yang menyarankan agar Rama mendaftar dan mengikuti seleksi masuk untuk belajar di SMART.

Pada 2013 Rama berhasil bergabung dan mulai menimba ilmu di SMART. Di lingkungan barunya ia bertemu dengan teman-teman yang tak kalah unik dengan potensi beragam dari berbagai daerah, suku, ras, dan budaya. Dari sinilah ia mulai mengenal Indonesia lebih dekat melalui aktivitas-aktivitas konstruktif di lingkungan SMART.

Sekolah berakselerasi pertama di Indonesia ini mengajarkan Rama beragam hal, salah satunya bahwa aktivitas belajar mengajar tidak selalu harus dilakukan di ruang kelas, tetapi bisa dilakukan di mana saja seperti di taman sekolah, di masjid, di alam terbuka, bahkan bisa dilakukan di bawah pohon sekalipun. Di SMART para siswanya sangat dianjurkan untuk mengekspresikan bakat serta potensi yang dimiliknya. Beragam keunikan serta potensi yang dimiliki siswa SMART begitu luar biasa, ada yang berhasil menjuarai Olimpiade Sains Nasional, kemampuan menulis yang selalu menyajikan tulisan-tulisan segar dan menarik untuk dibaca, dan menjuarai kompetisi keolahragaan hingga tingkat nasional.

Namun berbeda dengan Rama, ia memilih untuk berjuang menjadi seorang Hafiz. Rama merupakan siswa Kelas XI yang memilih untuk masuk di peminatan ilmu pengetahuan sosial memulai niatnya menghafal Al-Qur’an sejak Kelas VII. Ia mulai belajar menghafal dengan ditemani guru tahfiz menggunakan metode cepat menghafal Qur’an. Hasilnya luar biasa dalam waktu kurang dari setahun Rama berhasil menghafal 10 juz Al-Qur’an. Potensi ini terus diasah oleh SMART agar mampu melahirkan hafiz-hafiz muda untuk Indonesia lebih baik.

Tak jarang kami menjumpai Rama melanjutkan hafalannya sendiri di masjid setelah selesai melakukan Qiyamul Lail, ia melanjutkan hapalannya ketika teman-temannya yang lain tertidur di peraduannya masing-masing. Kini anak dari seorang guru agama Islam di salah satu sekolah di daerah Cibinong ini telah berhasil menyelesaikan hafalannya sebanyak 30 juz.

Rama memiliki cita-cita untuk masuk Politeknik Keuangan Negara STAN dengan peminatan jurusan akuntansi. Rama yakin bahwa ia akan berhasil masuk STAN dan memberikan kontribusi yang lebih luas bagi agama, keluarga, bangsa dan negara. Kami percaya bahwa kelak akan semakin banyak hafiz-hafiz muda yang lahir dari SMART untuk turut berkarya membuat sebuah kemajuan bagi agama, keluarga, bangsa dan negara, aamiin. (M.Fazar /Dompet Dhuafa Pendidikan).

Screenshot_20180319-101356_1

Pengumuman Peserta Ekselensia Tahfizh School yang Lolos ke Tahap Psikotes

Berikut adalah nama peserta Ekselensia Tahfizh School yang lolos ke Tahap Psikotes:

etahfizh

Screenshot_20180316-200224_1

Karena Alumni Mampu Menginspirasi

Screenshot_20180316-200224_1

“Meraih PTN terbaik memang tidak mudah. Kuatnya usaha dan mentalitas berpengaruh besar terhadap keberhasilan meraih PTN yang dicita-citakan. Hal itu bukanlah mustahil, kita bisa meraihnya!,” seru Kak Kurnia Sandi Girsang, Alumni SMART Ekselensia Indonesia angkatan IV yang kini menjadi mahasiswa di Fakultas Teknologi Industri ITB, menyemangati dan membangkitkan semangat para siswa Kelas V untuk meraih PTN terbaiknya dalam salah satu diskusi.

Sore itu tidak seperti biasanya. Pada Minggu (18-03) sebanyak 53 siswa Kelas V mengikuti kegiatan 9 bertajuk “Alumni Menginspirasi”. Kegiatan ini diinisiasi oleh Ikatan Keluarga Alumni (IKA) SMART Ekselensia Indonesia dengan tujuan memberikan inspirasi dan dorongan untuk sukses berdasarkan pengalaman nyata alumni SMART Ekselensia Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, sebanyak 6 orang alumni yang berasal dari berbagai PTN favorit datang langsung untuk berbagi pengalamannya perihal dunia perkuliahan, mulai dari perencanaan masuk, kehidupan kampus, organisasi hingga perencanaan karir pasca kuliah.

Acara alumni menginspirasi dibuka dengan acara diskusi panel antara kakak alumni dengan siswa-siswa Kelas V. Salah satu alumni, yaitu Kak Sandi, berbagi cerita mengenai perjuangan awalnya masuk kampus terbaik. Beliau mengatakan bahwa untuk masuk ke kampus favorit butuh perjuangan dan pengorbanan yang besar. “Saya berlatih sekitar 300 soal perhari di 2 bulan terakhir menuju SBMPTN. Target saya memang besar yaitu FTI ITB tapi saya sadar bahwa hal tersebut butuh perjuangan dan pengorbanan yang besar dalam banyak hal,” kata Kak Sandi. “Saya juga yang menentukan nasib saya sendiri untuk benar-benar sukses atau benar-benar gagal,” tambahnya.

Tidak hanya perjuangan awal masuk kampus terbaik, para alumni menyampaikan pula mengenai spesifikasi jurusan dari masing-masing bidang, baik rumpun sosial maupun rumpun sains. Hal ini dimaksudkan untuk menambah wawasan siswa Kelas V dalam pemilihan jurusan dalam SNMPTN maupun SBMPTN.

Salah satu Alumni yang berbagi tentang hal tersebut adalah Kak Rizky dan Kak Khairunnas yang mewakili bidang sains dan sosial. Mereka menyampaikan bahwa setiap jurusan di masing-masing kampus kurikulumnya sama. Hal yang membedakan adalah keseriusan masing-masing personal dalam menempuh pendidikannya selama kuliah. “Sebenarnya tidak ada perbedaan yang mendasar dalam sebuah jurusan yang sama di masing-masing kampus,” ujar Kak Khairunnas. Kita juga bisa memaksimalkan potensi dalam bidang akademik dengan rajin berlatih soal tahun-tahun sebelumnya. “Kita bisa meraih nilai yang baik salah satunya dengan rajin berlatih soal tahun-tahun sebelumnya karena ada beberapa mata kuliah yang menggunakan pola soal yang sama,” tambah Kak Khairunnas.

Selain berbagi mengenai spesifikasi jurusan di kampus, para alumni berbagi pengalaman mereka dalam dinamika kehidupan dan organisasi yang ada di kampus. Salah satu alumni, yaitu Kak Reza yang berasal dari IPB menuturkan bahwa banyak pilihan untuk mengikuti organisasi kampus. Hal tersebut dapat berdampak positif dan negatif bagi kita sebagai orang yang menjalankannya. Salah satu hal positifnya kita dapat mengembangkan kemampuan kepemimpinan kita sekaligus menambah relasi kita dengan orang-orang di dunia luar.

Hal terakhir yang dibagikan oleh para alumni adalah perencanaan karir pasca kuliah. Salah satu alumni yang membagikan pengalaman tersebut adalah Kak Cahya. Beliau menuturkan bahwa kita dapat berlatih untuk berani tampil di depan publik karena hal tersebut merupakan salah satu nilai penting dalam dunia kerja. “Kita juga dapat berlatih untuk memulai karir saat kuliah, salah satunya dengan mengajar bimbel ataupun menjadi asisten riset,” tutur Kak Cahya.

Pada akhir kegiatan “Alumni Menginspirasi” para siswa kelas V dibangkitkan kembali semangatnya untuk meraih PTN yang dicita-citakan. Semoga harapan untuk meluluskan 100 persen siswa SMART masuk PTN terbaik tercapai dan berjalan dengan lancar serta optimal. (SR)