SMART Ekselensia Indonesia

Puasa Kudu Setrong. Puasa Kudu Semangat. Mau Tahu Caranya? Baca Tulisan Ini Dong

Puasa Kudu Setrong. Puasa Kudu Semangat. Mau Tahu Caranya? Baca Tulisan Ini Dong

 

Ramadan merupakan bulan penuh ampunan yang selalu ditunggu kedatangannya. Di bulan ini pahala dan semua perbuatan baik kita akan diganjar beeeerkali-kali lipat, karena itulah kami bahagia sekali ketika Ramadan menyapa

Nah sama seperti kalian, sebagai pelajar jelas kita semua -PASTI- disibukkan dengan berbagai kegiatan mulai dari sekolah, ekstrakurikuler, dan kegiatan lainnya. Nah hanya saja di bulan Ramadan ini kadang kita tiba-tiba kita menjadi mudah terbawa rasa malas. Hmmm lalu apa sih yang kudu kita lakukan agar rasa malas itu pergi selama menjalani shaum Ramadam? Kan sayang ya kalau Ramadan yang hanya datang setahun sekali ini liwat begitu saja, tul gak? Yaudah yuk kita simak pemaparan di bawah ini

1. Niat Penuh Tekad

Sob puasa merupakan ajang latihan fisik dan mental bagi para pelajar, oleh sebab itulah kita perlu banget berniat dengan tekad penuh kekuatan agar ketika berpuasa kita tidak merasa malas, lemas, dan membuat kita menjalani puasa dengan tulus dan ikhlas.

Tahukah kamu kalau Allah Swt. sangat senang kepada hamba yang mempunyai tekad melakukan amal baik, jadiii yuk kumpulkan tekad agar bisa berniat berpuasa sebaik-baiknya.

2. Mengatur Jadwal Harian

Kamu perlu banget membuat agenda kegiatan harian, kalau bisa mulai dari sahur sampai berbuka bahkan hingga pelaksanaan Salat Tarawih semua dijadwal. Jika kamu membiasakan mengikuti jadwal yang telah dibuat tersebut kami yakin rasa malas akan pergi jauh-jauh.

3. Menjaga Kebugaran Tubuh

Di saat puasa kita memang diminta untuk menahan segala macam aktivitas yang membatalkan puasa, namun ada baiknya kamu juga melakukan olahraga agar badan tetap bugar dan rasa malas tak datang lagi.

 

4. Perbanyak Beribadah

Tahukah kamu kalau belajar selama bulan Ramadan juga termasuk ibadah lho, nah supaya makin berfaedah ada baiknya melakukan ibadah lain seperti membaca Al-Quran, membaca buku, dan ibadah lainnya. Dijamin rasa lelah dan malasmu akan menguap ke udara.

 

5. Makan dan Minum Bergizi

Makan dan minum yang bergizi sewaktu sahur dan berbuka terbukti mampu meningkatkan semangat kamu selama berpuasa seharian penuh lho Sob. Kami yakin kalau asupanmu baik maka seluruh aktivitasmu akan lancar tanpa rasa malas atau lemas seharian.

 

***

Jangan lupa bergabung bersama Dompet Dhuafa Pendidikan yuk demi meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia dengan berdonasi ke Rekening BNI Syariah an Yayasan Dompet Dhuafa Republika 2881 2881 26 Call Center : 0812 8833 884

 

 

 

SMART Ekselensia Indonesia
,

Ini Pengalaman Berhargaku Selama Ramadan di SMART

Ini Pengalaman Berhargaku Selama Ramadan di SMART

Oleh: Farid Ilham

Alumni SMART Angkatan 8 berkuliah di Universitas Lambung Amangkurat

Ramadan adalah bulan yang penuh berkah, itu memang betul, ya betul karena berkahnya gak main-main. Mulai dari salat sunah yang pahalanya seperti salat wajib, dll. Pokoknya segala kebaikan yang dinilai Allah baik -InsyaAllah- pahalanya akan dilipatgandakan di bulan Ramadan.

Sebagai alumni SMART Ekselensia Indonesia, bisa dibilang dulu saya termasuk aktif dalam mengikuti kegiatan ekstrakulikuler. Salah duanya adalah nasyid dan Trashic alias Trash Music. Di bulan Ramadan saya dan teman-teman  mendapatkan banyak berkah dari dua ekstrakulikuler tersebut. Seakan sudah menjadi kebiasaan  Tim Trashic dan nasyid akan banyak orderan di bulan penuh berkah tersebut. Itulah yang terjadi di Ramadan 1436 H lalu, macam artis kami banyak penggilan ke sana dan ke sini.

Sebenarnya banyak yang ingin saya ceritakan, tetapi karena sepertinya akan memakan banyak ruang jadi saya tulis tiga cerita saja yang menurut saya paling berkesan di hati saya. Yang pertama adalah cerita ketika Trashic tampil di Desa Cilincing, Sunda Kelapa, Jakarta Utara. Nah kalau gak salah saat itu masih awal-awal bulan Ramadan, saya dan teman-teman diundang oleh Remaja Masjid Sunda Kelapa untuk menghibur masyarakat dan juga tamu yang datang. Konon katanya masjid ini lekat sekali dengan sejarah Raden Fatahillah –Kalau gak salah sih-. Yang unik dari tempat kami tampil kala itu ya lingkungannya, kami tampil di pinggir laut. Semula saya pikir akan berhadapan dengan pemandangan dan aroma laut yang khas, namun saya gak nyangka ternyata baunya semerbak sekali alias bau. Sebelum tampil saya dan teman-teman sempat berkeliling dan terkejut karena mendapati air lautnya  berwarna hitam dan sampahnya bejibun. Mungkin hal itulah yang menyebabkan timbulnya bau menyengat seperti bau ikan asin bercampur sampah yang usianya ratusan tahun, Subhanallah.  Yasudahlah, akhirnya kami memutuskan untuk kembali karena giliran kami tampil telah tiba, acara ini diisi oleh banyak pengisi acara, sayangnya penonton seperti tak antusias melihat penampilan mereka. Tetapi semua berbeda ketika kami tampil, luar biasa, Allahu Akbar! Warga yang tadinya tak antusias mulai berdatangan, mulai dari yang imut-imut sampai yang gak imut, dari yang muda sampai yang gak muda lagi berkumpul membentuk kerumunan, bahkan kalau saya tak salah ingat ada yang naik sampai ke atap masjid untuk menonton kami. Bangganya kami. Setiap kali selesai bermain kami diminta main lagi, jadilah kami main sampai sebulan di sana, hehe bercanda. Tampil maksimal sudah, saatnya kami pulang, namun penonton seperti enggan melepas kami. Tapi mau bagaimana lagi kami harus pergi karena sudah semakin larut dan perjalanan menuju asrama masih panjang. Akhirnya kami berpamitan diiringi gemuruh tepuk tangan.

Cerita kedua masih tentang Trashic. Ini cerita ketika saya dan Tim Trashic manggung di Hotel Sultan, Jakarta. Kami jadi pengisi Ramadan Fair, ada banyak kegiatan di acara tersebut seperti buka bersama. Karena hotelnya bukan hotel ecek-ecek maka hidangannya pun tidak main-main, pokoknya ntap! Karena jarang menyantap makanan sekelas itu kami jadi kalap dibuatnya, semua kami cicipi dari ujung ke ujung. Perut super kenyang, hati sangat senang. Di acara tersebut turut hadir mbak Terry Putri sebagai pembawa acara, ia makin cantik semenjak berhijab, jadi saja saya pengin foto bareng hehehehe. Setelah selesai tampil kami dibekali kue-kue yang banyak sekali, Alhamdulillah ada oleh-oleh untuk kawan-kawan di asrama kala itu. Berkah berkah.

Nah cerita ketiga ini tentang grup nasyid kami yang bernama Voicexelensia (ribet yah namanya hehe). Kala itu kami diminta untuk tampil di acara santunan anak yatim dan dhuafa yang diadakan MNC TV, kami tampil dihadapan ratusan tamu undangan termasuk kawan-kawan kami dari SMART. Awalnya kami hanya tampil untuk satu segmen, setelah selesai tiba-tiba seorang kru MNC TV memanggil dan meminta kami tampil dihadapannya. Waw ternyata ia merupakan salah satu kru inti DMD Show yang tayang tiap Selasa-Kamis pukul 19.00 WIB, tak disangka setelah unjuk gigi dihadapannya kami malah disuruh tampil di acara DMD Show, kami senang luar biasa karena bisa tampil di teve. Saking senangnya sampai kami menelpon orangtua kami satu-satu hahahahamaafnorakhahaha. Menurut kru yang bertugas kami harus tampil pukul 20.00 WIB, ternyata pukul 20.00 WIB acara DMD Show baru mengudara dan kami baru akan tampil pukul 22.00 WIB, sedaaaap sedap ngantuk rasanya. Sebelum tampil kami di-make up bak selebriti, lumayan akhirnya merasakan di-make up-in make up artist hehe. Ketika waktu tampil hampir tiba kami deg-degan karena banyak sekali artis di sana, tapi kami cuek saja bahkan gak mikirin hasilnya bagaimana, yang penting tampil dan bertemu almarhumah Julia Perez. Tetapi ternyata kami tampilnya malam sekali, kami yakin sebagian teman, keluarga, bahkan karyawan Dompet Dhuafa Pendidikan pasti telah terlelap. Sedih, namun tak apalah. Keesokan harinya tim Nasyid Voicexlensia mendadak jadi artis di lingkungan Dompet Dhuafa Pendidikan, ternyata ada karyawan merekam performa kami dan menyebarkannya, wah begini ya rasanya jadi artis hehe.

Dan Ramadan 1436 H lalu menjadi Ramadan terakhir saya di SMART. Sedih rasanya, namun hidup harus terus berjalan kan? :”)

Selama di SMART pengalaman seperti ini akan selalu saya kenang, sebenarnya masih banyak pengalaman menyenangkan lainnya yang tak akan saya lupakan. Berada di sini bagaikan berada di rumah sendiri, saya dan kami semua diayomi dan disayang bagai adik sendiri. Saya rindu SMART. Saya akan terus mengingat semua hal indah selama di SMART.

***

 

SMART Ekselensia Indonesia
,

Serunya Ngabuburit di Kelas Inspirasi Bersama Geology Trisakti Student Chapter of American Association of Petroleum Geologists

Serunya Ngabuburit di Kelas Inspirasi Bersama Geology Trisakti Student Chapter of American Association of Petroleum Geologists

Kalau Ramadan apa yang ada di benakmu? Takjil? Tarawih? Tilawah Quran? Yap semua jawabanmu benar Sob, tapi ada satu hal lagi yang biasa dilakukan ketika Ramadan tiba, apa hayooo? Benar sekali, Buka Bersama alias Bukber.

Nah hari ini (29-05) kami mengikuti acara bukber bersama kakak-kakak dari Universitas Trisakti Geology Trisakti Student Chapter of American Association of Petroleum Geologistsan (AAPG). Mengusung tema Social Program 2018: “Life ain’t Perfect Without Sharing and Caring” sebanyak 42 kakak-kakak ini sengaja bertandang ke SMART untuk berbagi ilmu  seputar Geologi dan kebahagiaan.

“Kami ingin  berbagi dan juga menginspirasi adik-adik agar lebih kenal dengan dunia Geologi. Selain itu kami ingin berkenalan dengan siswa SMART,” ujar Muhammad Aditya, Ketua Geology Trisakti Student Chapter of American Association of Petroleum Geologists.

Lalu tahukah kamu kenapa Geologi Sob? Karena banyak sekali manfaat ketika kita mempelajari Ilmu Geologi, antara lain memudahkan kita mempelajari fenomena alam, memudahkan kita memetakan kemakmuran berbasis lahan, membantu kita menjaga lingkungan, dan masih banyak manfaat lainnya.

Kalau menurut Mas Fachri, Anggota Geology Trisakti Student Chapter of American Association of Petroleum Geologists, Ilmu Geologi sangat berkorelasi dengan Al Quran terutama di surah Al-Baqarah ayat 22 dan Surah An-Naba ayat 6-7. “Intinya, orang geologi harus menjelaskan fenomena geologi yang ada di lingkungan sekitar,” paparnya.

Selain memaparkan ragam lika liku Geologi, kakak-kakak Geology Trisakti Student Chapter of American Association of Petroleum Geologists juga memberikan kami beragam tips dan trik agar Ilmu Geologi dapat diimplementasikan walau kami tak masuk jurusan geologi. Setelah puas memaparkan ragam materi seputar jagat Geologi, kakak-kakak Geology Trisakti Student Chapter of American Association of Petroleum Geologists mengajak kami berbuka bersama dan memberikan donasi untuk kami, Alhamdulillah.

Waaaah bahagia sekali bisa berbuka bersama kakak-kakak Geology Trisakti Student Chapter of American Association of Petroleum Geologists, mereka keren sekali dan kami semakin semangat belajar dibuatnya.

SMART Ekselensia Indonesia
,

Salahku, Susah Bangun Sahur

Salahku, Susah Bangun Sahur

Oleh: Muhammad Habibur Rohman

Alumni SMART Angkatan IX berkuliah di Universitas Diponegoro

Saya terjaga dari mimpi aneh yang tak lagi saya ingat tanpa menelan setetes air atau secuil makanan sama sekali padahal lima tusuk sate plus lontong sudah saya siapkan sejak malam dan rupanya dan sialnya dua belas alarm yang saya pasang tidak berfungsi dengan baik sebab saya lupa membunuh mode sunyi pada telepon genggam saya.

Saat itu juga, ingin saya telepon malaikat yang biasanya teliti mencatata kata-kata saya, atau laku saya, sekadar ingin bertanya apakah kalau baca niat sekarang puasa saya akan diterima, atau apakah tanpa perbekalan sama sekali, saya akan diberi kekuatan tak kasat mata untuk bisa melampaui hari, dan saya sadar diri: tak punya kuota, dan wifi kos yang mahal harganya itu cuma 28 mbps dan lajunya seperti gerobak angkringan yang di dorong lelaki tua, yang padahal, untuk menelpon malaikat sinyal harus secepat cahaya,

Ya, sayalah yang bersalah atas semua ini. Bukan telepon genggam, bukan mode sunyi.

SMART Ekselensia Indonesia
,

Hujan Kala Ramadan

Hujan Kala Ramadan

Oleh: Nadhif Putra Widiansah

Pagi yang lupa disambut
serta surga yang luput,
hilang dari pandang,
rintik air yang rindang
menyentuh mimpi-mimpi semampai

Jalanan kuyub,
mimpi semalam seketika jadi air berjatuhan,
mengiring pagi menuju kesunyian,
abu-abu di langit disembunyikan
oleh kata yang dibacakan

Setelah tarawih orang-orang dengan ramai membicarakan
awan-awan,
sesuatu yang lain tentang kehidupan:
bahwa jauh sebelum hujan turun
mimpi-mimpi di kota harapan
selalu indah bermekaran kala Ramadan

(Jakarta, 2018)

SMART Ekselensia Indonesia
,

Aku, Nisa, dan Mimpi Ramadan Kami

Aku, Nisa, dan Mimpi di Bulan Ramadan

Oleh : Vikram Makrif

Alumnis SMART Angkatan 9 berkuliah di UNDIP Jurusan Sastra Indonesia 2017

Aku selalu suka tempat tinggi apalagi ketika Ramadan. Karena di sanalah aku bisa merasakan angin yang bertiup menerpa kulit wajahku. Di sana juga aku bisa menyampaikan pesanku pada angin. Pesan yang dengan cepat terbawa entah ke mana. Entah sampai pada orang yang dituju atau tidak. Tapi aku bahagia di tempat yang tinggi. Walau pesan itu hanya sebatas curhatanku pada angin.

Hari ini aku tahu kalian mungkin tak berada di tempat tinggi sepertiku. Aku pun juga tahu kalian tak bisa membayangkan betapa perihnya menjadi diriku. Sekarang kalian pun tak berada dalam beban masalah yang teramat berat dirasa. Mungkin semua ini hanya terkaanku semata, terkaan yang aku buat sendiri. Tapi aku tetap yakin, kalian pasti tak merasakan beban yang sangat berat di hati kalian.

Senja ini semua terasa sama seperti senja lalu. Angin terus membelai daun telingaku. Mentari sebentar lagi bersembunyi di balik tabirnya. Burung-burung pun telah beterbangan pulang ke sarangnya. Aku selalu suka tempat tinggi. Maka senja ini pun aku berada di tempat itu. Tempat yang jauh dari orang-orang di bawah sana. Tempat sepi yang nyaman tuk berdiam diri.

Gedung tertinggi di kota ini, itu lah tempat aku berdiri. Menikmati senja bersama angin yang selalu setia menemani ku sampai detik ini. Di atap sebuah gedung 40 lantai aku menatap ke bawah. Terlihat ratusan jiwa sedang melakukan aktivitas sorenya. Lampu-lampu di setiap jalanan telah nyala beberapa menit yang lalu. Mobil motor berlalu-lalang meramaikan kota ini setiap hari.

Aku mencoba menikmati senja terakhir ini dengan hati yang cukup berat. Walau aku suka tempat tinggi, tapi ini adalah terakhir kali aku dapat menikmati tempat ini di bulan Ramadan. Sebelum kepergian ku untuk selama-lamanya, aku mencoba tuk menghirup seluruh udara yang kurasa. Mencoba menenangkan diri. Menatap ke langit senja. Memejamkan mata tuk mengingat masa-masa getir itu. Sebelum tubuh ini jatuh ke bawah dari atap gedung 40 lantai. Aku menatap ke bawah lagi. Terbayangkan tubuh ini akan hancur berkeping-keping, kepala hancur, dan jiwa lepas dari jasadnya.

Ini adalah waktunya untukku pergi dari dunia ini selama-lamanya. Meninggalkan beban berat yang menyesakkan dada. Menjumpai dia yang lebih dulu meninggalkanku. Di tempat yang sama. Tempat yang sama-sama kami sukai, yaitu tempat yang tinggi. Di sanalah dia orang yang ku cintai telah lebih dulu meninggalkan ku sendirian di tempat tinggi, tempat yang kami sukai.

Aku mulai merentangkan kedua tangan. Menatap kosong ke depan. Merebahkan diri ke depan dengan cepat. Sedetik kemudian tubuhku telah terjun bebas dari gedung 40 lantai, gedung tertinggi di kota ini. Aku tak merasakan apa pun lagi. Angin yang selama ini membelai wajahku dengan lembut. Kini angin menampar wajah ini dengan keras. Tubuhku terjatuh dengan sangat cepat. Melayang di udara sore yang menyesakkan. Terjatuh, jatuh, terus jatuh. Tapi aku merasa lama sekali. Waktu terasa melambat. Bahkan aku merasa waktu berhenti seketika. Bulir air menetes dari pelupuk mataku. Terbayang masa-masa itu. Apakah aku menyesal telah melompat dari gedung ini? Percuma menyesal, waktu tak dapat kembali. Tubuhku telah jatuh dari tempat tinggi. Semua hanya tinggal menunggu waktu. Waktu yang membawaku hilang dari kehidupan ini.

***

Aku selalu suka tempat tinggi terutama di bulan Ramadan. Karena di sana lah aku aku bisa merasakan angin yang bertiup menerpa kulit wajahku. Di sana juga aku bisa menyampaikan pesanku pada angin. Pesan yang dengan cepat terbawa entah ke mana. Entah sampai pada orang yang dituju atau tidak. Tapi aku bahagia di tempat yang tinggi. Walau pesan itu hanya sebatas curhatanku pada angin.

Hari ini aku tahu kalian mungkin tak berada di tempat tinggi sepertiku. Aku pun juga tahu kalian tak bisa membayangkan betapa indahnya menjadi diriku. Sekarang kalian pun tak berada dalam kehidupan yang penuh cinta seperti yang kurasa. Mungkin semua ini hanya terkaanku semata, terkaan yang aku buat sendiri. Tapi aku tetap yakin, kalian pasti tak merasakan indahnya kasih sayang seperti yang kurasakan saat ini.

Senja ini semua terasa sama seperti senja lalu. Angin terus membelai hijab Nisa yang duduk di sampingku. Mentari sebentar lagi bersembunyi di balik tabir, sayup sayup terdengar suara takbir. Burung-burung pun telah beterbangan pulang ke sarangnya. Kami selalu suka tempat tinggi kala Ramadan. Maka senja ini pun kami berada di tempat tinggi. Tempat yang jauh dari orang-orang di bawah sana. Tempat yang nyaman tuk berbagi cerita.

Gedung tertinggi di kota ini, itu lah tempat aku dan Nisa duduk. Menikmati senja bersama hanya tuk sekadar membicarakan hal-hal yang tak jelas sembari menunggu azan berkumandang. Di atap sebuah gedung 40 lantai kami menatap ke bawah. Terlihat indah cahaya lampu jalanan yang menghiasi kota ini. Ratusan manusia berlalu-lalang meramaikan kota sore itu. Terlihat bagaikan semut-semut kecil yang lucu. Tapi bagiku lebih lucu melihat senyum manis Nisa di sampingku. Nisa menatap ke bawah melihat pemandangan gedung-gedung yang tersusun rapi. Sesekali melirik padaku dan langsung memalingkan pandangan itu ke bawah lagi sambil tersenyum.

“Kok senyum-senyum sih Sa?” tanyaku padanya saat dia memalingkan pandangannya dari ku.

“Hmm… Gak kok…” jawab Nisa tetap memandang ke bawah sambil tersenyum manis.

“Gedungnya bagus ya Sa, rapi banget,” kataku yang juga ikut tersenyum.

“Iya Lif bagus banget,” jawab Nisa singkat.

Duh mau ngomong apa lagi nih? Selalu saja aku yang memulai setiap obrolan bersamanya. Nisa selalu menjawab singkat sebelum aku menemukan obrolan yang menyenangkan.

“Sa, aku mau bilang sesuatu…” kataku memulai percakapan lagi.

“Mau bilang apa Lif?” tanya Nisa singkat.

“Nggak, udah waktunya berbuka nih,” jawabku singkat juga.

“Iiih iya benar juga, hampir saja aku lupa. Yuk ah kita makan,” kata Nisa.

“hehe…okedeh. Tapi kok kamu senyum-senyum gaje gitu,” kataku padanya.

Aku bingung dan kehabisan bahan obrolan dan makanan berbuka itu. Ditambah Nisa yang hanya diam dan menjawab singkat saat ditanya. Sore itu sama seperti sore-sore sebelumnya. Selalu memulai obrolan dengan percakapan yang tidak jelas. Berakhir pun juga tidak jelas. Namun aku tetap bahagia dengan semua ini. Duduk berdua dengannya. Menikmati sore di tempat yang tinggi. Tempat yang kami sukai.

 

***

Semua terasa menyilaukan. Kepalaku pusing, badanku terasa lemah, aku tak tahu sekarang entah berada di mana. Apakah aku sudah benar-benar tak di dunia lagi atau belum. Ternyata tidak, aku berada di sebuah ruangan, ruangan yang kulihat sekarang berbeda. Semua terlihat rapi. Meja dan kursi kayu tersusun rapi di depan sana. Juga ada papan tulis putih tergantung di temboknya. Aku lihat ke depan ada seorang wanita yang memakai kerudung tersenyum kepadaku.

“Lif sudah selesai tidurnya?” wanita itu bertanya kepadaku sambil tersenyum.

“hhmm?” hanya itu jawabanku masih bingung.

“Lif ayo pulang teman-teman yang lain sudah selesai belajar matematikanya! Kamu sih tidur terus kalau belajar matematika siang hari” jelas wanita itu yang ternyata adalah guru matematikaku.

“oohh, maaf ya Bu! Alif tidur mulu kalo jam pelajaran Ibu”kataku meminta maaf masih dengan wajah ngantuk.

“Iya Ibu maafin. Kamu sudah biasa kok tidur di kelas Ibu. Tapi saat ujian nilai kamu bagus terus. Yuk pulang!”kata Bu guru kepadaku sambil tersenyum.

“Iya Bu makasih”kataku singkat.

Siang itu aku langsung pulang ke rumah dengan berjalan kaki. Biasanya aku pulang bersama teman-temanku yang rumahnya dekat denganku. Kali ini aku hanya pulang sekolah sendiri diteriknya sinar matahari siang.

Aduh ketiduran lagi deh di kelasnya Bu Novi. Hmmm kalau Ramadan begini kenapa cepat sekali mengantuk ya? Ah pasti setiap belajar matematika aku selalu tidur. Terus selalu mimpi yang aneh-aneh. Duh sudahlah yang penting pulang dulu ke rumah bantu ibu memasak makanan berbuka. Terus lanjut tidur lagi sampai bedug Magrib menyapa hehe… 🙂

***

Yuk bergabung bersama Dompet Dhuafa Pendidikan meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia dengan berdonasi ke Rekening BNI Syariah an Yayasan Dompet Dhuafa Republika 2881 2881 26 Call Center : 0812 8833 884

SMART Ekselensia Indonesia
,

Membekas di Kalbu Kenangan Ramadanku di SMART

Membekas di Kalbu Kenangan Ramadanku di SMART

Oleh: Syahrizal Rachim

Alumni SMART Angkatan 10 berkuliah di Universitas Padjajaran Jurusan Hukum 2018

“…waktu telah menunjukan pukul empat pagi. Segera bangun dan santap sahur di kantin!” seru seorang wali asrama kami yang membangunkan siswa-siswa tercintanya untuk santap sahur melalui pelantang suara.

Hari itu masihlah sangat gelap. Ayam-ayam pun belum sempat berkokok tanda mentari masih malu-malu menampakan dirinya. Akan tetapi, kami sudah harus bangun dan bersemangat memulai aktivitas di bulan penuh ampunan ini. Santap sahur secara bersama mengawali aktivitas harian kami kala itu. Sebenarnya tidak ada perasaan sahur yang berbeda dengan sahur di bulan-bulan lainnya, karena di asrama pun kami sudah dibiasakan sahur untuk menjalankan puasa sunnah. Lantas, setelah dirasa cukup kenyang, kami langsung bersiap menuju masjid untuk melaksanakan Salat Subuh berjamaah. Banyak siswa juga yang memaksimalkan waktu untuk mencapai target tilawah di bulan penuh berkah.

Kegiatan belajar di sekolah secara reguler tetap dilaksanakan walau ada sedikit perbedaan kegiatan di siang hari, yaitu kultum yang disampaikan oleh para ustaz. Mereka tidak bosan-bosan untuk memotivasi siswa agar memaksimalkan potensi ibadah.

Terbenamnya matahari menjadi tanda akan dilaksanakannya  buka puasa bersama. Buka puasa bersama menjadi momen menjalin silaturahim dan melepas penat secara menyenangkan setelah berpuasa seharian penuh. Para siswa biasanya dibagi dalam kelompok-kelompok kecil sesuai dengan nama sahabat Rasul, dari kelas satu hingga lima.

Momen kece selanjutnya adalah Salat Tarawih. Seluruh siswa diwajibkan mengikuti Salat Tarawih secara tertib dan berjamaah. Hampir tidak ada yang berbeda dari pelaksanaan Salat Tarawih kebanyakan, kami tidak luput untuk menambah tabungan tilawah setelahnya. Buku-buku pelajaran sekolah telah menanti untuk dibaca sebelum kami beristirahat menutup hari yang indah di bulan penuh rahmat. Kebetulan, pelaksanaan Penilaian Akhir Tahun (PAT) bertepatan dengan Ramadan. Akan tetapi, kami tetap bersemangat dan fokus meraih hasil ujian yang terbaik.

Setelah bergulat dengan soal-soal ujian, akhirnya, tiba juga liburan akhir semester. Dalam liburan saat itu, kami mengisi hari dengan berbagai kegiatan menyemarakkan Ramadan. Dari sisi kreativitas dan seni, terdapat lomba menghias kamar dan asrama serta menghias parsel. Setiap siswa saling bekerja sama mengembangkan kreativitas dan potensi untuk meraih hasil yang terbaik. Tak pelak, seluruh sudut asrama penuh dengan dekorasi bertema Ramadan, Sahabat Nabi, kota-kota bersejarah, dan lainnya. Parsel-parsel lebaran juga disulap menjadi rapi dan menarik serta memilliki nilai lebih tinggi.

Dari sisi olah suara, terdapat lomba azan. Para muazin-muazin terbaik SMART saling beradu kemampuan untuk menjadi yang terbaik dalam kompetisi ini. Masing-masing pemenang lomba mendapatkan hadiah menarik dan pastinya memotivasi kita untuk menjadi lebih baik dalam semarak Ramadan.

Setelah asyik berkecimpung dalam dunia lomba-lomba, pada malam tujuh belas Ramadan, diadakanlah sebuah acara untuk memeringati pertama kalinya diturunkan Al-Quran, Nuzulul Quran. Setiap siswa dibagi menjadi beberapa halaqoh untuk menuntaskan tilawah 30 Juz. Setelah tilawah usai, ustaz-ustaz memberikan kajian tentang keutamaan Al-Quran dan memberikan penghargaan kepada siswa dengan tilawah terbanyak. Tak disangka, banyak diantara teman-temanku mendapatkan penghargaan tersebut. Kegiatan ini semakin menguatkan semangatku untuk selalu berusaha terbaik.

Di saat sepuluh malam terakhir,terdapat sebuah kegiatan yang menjadi rutinitas kami selama Ramadan, Itikaf. Dalam kegiatan Itikaf, siswa-siswa disebar ke berbagai masjid untuk melaksanakan sunnah Nabi tersebut. Di sana kami tidak hanya sekadar beristirahat melainkan menambah keberkahan Ramadan dengan mengikuti kajian-kajian, bertilawah, dan salat tarawih serta tahajud berjamaah. Banyak diantara kami saling bercengkrama dengan sesama peserta Itikaf dari berbagai daerah untuk saling menebar keceriaan dan pesan-pesan Ramadan.  Malam yang paling kami nantikan dan harapkan akan tiba, Lailatul Qadar. Walaupun tidak ada yang tahu persis kapan ada Lailatul Qadar, tetapi beberapa sumber banyak yang menyebutkan bahwa malam yang lebih baik daripada 1000 bulan tersebut jatuh pada tanggal ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadan. Banyak peserta Itikaf yang bersungguh-sungguh dalam beribadah untuk mendapatkan kesempatan malam penuh dengan kedamaian tersebut.

Selain mengikuti Itikaf, beberapa teman kami terpilih untuk mengikuti kegiatan HOME STAY. Dalam kegiatan HOME STAY, dipilihlah beberapa siswa scmenginap bersama keluarga donatur untuk saling berbagi keceriaan di bulan penuh kemuliaan. Selain itu, dengan mengikuti HOME STAY, diharapkan mendapat  inspirasi-inspirasi untuk menggapai kesuksesan di masa depan.

Di masa pengujung bulan kemuliaan, sebuah aktivitas yang kami nantikan akhirnya tiba, takbiran. Seluruh siswa bersuka cita menyambut datangnya Idul Fitri sekaligus sedih ditinggal bulan penuh dengan rahmat dan hidayah. Semoga Ramadan-Ramadan selanjutnya kita lebih maksimal beribadah dan banyak menebar keceriaan serta senyuman impian sesama umat manusia.

Sekarang saya telah lulus dari SMART, walau belum mulai berkuliah namun perasaan yang dulu singgah tetap terpetri di hati. Kangen? Jeas, karena ini kali pertama saya tak berpuasa di SMART. Ah sungguhpun SMART membentuk saya menjadi pribadi yang lebih baik.

***

Mari bergabung dan bergandengan tangan bersama Dompet Dhuafa Pendidikan untuk menyalakan pelita harapan anak-anak yang kurang beruntung secara ekonomi melalui program-program pendidikan berkualitas. Salurkan zakat, infak, dan sedekahmu melalui nomor rekening: 2881 2881 26 BNI Syariah a.n. Yayasan Dompet Dhuafa Republika

SMART Ekselensia Indonesia
,

Sebuah Kisah Tentang Takjil, Ramadan, dan SMART

Sebuah Kisah Tentang Takjil, Ramadan, dan SMART

Oleh: Kabul Hidayatullah

Alumni SMART Angkatan 8 berkuliah di Universitas Indonesia

Takjil dan Ramadan sepertinya sudah seperti sahabat karib yang tak terpisahkan. Setiap kali bertemu Ramadan (hampir) selalu kita pikirkan takjil apa sore ini? Atau ketika akan berbuka kita sering bertanya-tanya: “Loh, takjilnya mana? Tumben nggak barengan?”

Ah takjil dan Ramadan memang sudah menjadi kawan yang akrab.

Begitu juga dengan Ramadan saya tahun lalu dan kali ini. Intensitas perjumpaan dengan takjil lebih sering dari biasanya. Di Ramadan tahun ini saya sudah menjelma menjadi seorang mahasiswa, saya juga diberikan amanah menjadi Ketua Lembaga Dakwah Asrama Universitas Indonesia atau Sahabat Asrama UI. Kalau biasanya kami menyediakan takjil untuk para mahasiswa sepekan sekali (khusus untuk mereka yang berpuasa sunah), sekarang hampir tiap hari.

Selesai dengan takjilan dan Salat Magrib, tugas saya selanjutnya ialah mengkoordinasi massa (baca: mahasiswa asrama) menuju Masjid UI menggunakan kendaraan identik, yak Bus Kuning. Pelaksanaan Salat Isya serta Tarawih khusus mahasiswa asrama UI memang dipusatkan di masjid kampus agar lebih semarak. Ya begitulah, Ramadan sebagai mahasiswa asrama terkadang membawa pikiran saya terbang ke masa lima tahun lalu sewaktu masih berasrama di SMART Ekselensia Indonesia.

Ramadan, sahur, buka puasa, dan tarawih adalah hal paling berkesan untuk saya. Tentu saja  karena kesemuanya tidak akan bisa ditemukan di sebelas bulan lain, dan masa-masa Ramadan di SMART adalah cerita lain. Cerita lain karena satu bulan penuh plus Lebaran saya habiskan dengan keluarga lain (baca: teman-teman asrama) karena kami semua tak pulang ke kampung halaman. Begitulah nasib anak rantau yang berjuang menuntut ilmu. Cerita lain karena banyak kenangan bersama para pembelajar sejati dengan rasa; tekad; dan semangat berjuang yang sama.

Lain padang lain pula belalang. Ketika sahur, jika anak-anak di sebuah keluarga dibangunkan dengan cara kekeluargaan, maka berbeda dengan kami yang dibangunkan menggunakan bel super cempreng (yang meninggalkan kesan teramat sangat di telinga). Belum lagi ustaz-ustaz pembina asrama yang rajin mengetuk pintu kamar sambal berkata: “Assalamu’alaikum. Ayo bangun tahajud dulu” atau untuk kesekian kali, “Ayo bangunkan temannya, sebentar lagi imsak tuh”.

Pun ketika siang hari (biasanya ba’da Zuhur), jika para ustaz menjumpai kami terlelap setelah membaca Quran di masjid, maka mereka akan membangunkan kami melalui pengeras suara. Tak pelak hal tersebut membuat kami ketar ketir, bahkan beberapa nampak masih setengah tertidur ketika bangun dari mimpi indahnya. Ada-ada saja memang.

Saat matahari condong ke barat, murotal sore mulai diputar seantero asrama. Itu tanda untuk kami yang masih saja berolahraga (walau berpuasa tapi main futsal atau latihan silat tetap berjaln) di lapangan untuk segera pulang dan bebersih lalu ke masjid. Di masjid, kami mengambil mushaf masing-masing lalu mencari tempat “semedi” terbaik untuk bekomunikasi dengan Sang Khalik. Jelang Magrib biasanya kami mengadakan nobar alias nonton bareng. Film Islami seputar perjuangan Sahabat Nabi seperti Umar bin Khattab menjadi pilihan jitu, karena mampu membakar semangat kami. Puas menyaksikan film, kegiatan selanjutnya kami habiskan untuk mendalami kisah tesebut hingga menjelang azan. Kala itu saya sering melihat kakak-kakak SDS (SMART Discipline Squad) membagikan takjil diberbagai penjuru masjid sambil memberi tanda centang di buku absensi angkatan.

Mungkin buka bersama untuk segelintir orang menjadi sangat istimewa, namun bagi kami waktu berbuka adalah waktunya kebersamaan dengan format yang tak dapat dijumpai di tempat bukber manapun. Di SMART ketika waktu berbuka tiba maka seluruh siswa dibagi menjadi beberapa kelompok kecil berisi sekitar sepuluh orang. Setiap kelompok berisikan seluruh angkatan (dari yang termuda sampai yang paling senior), oleh karenanya momen ini menjadi momen membaur dan momen keakraban antar angkatan.

Maka ketika ditanya berkesankah Ramadan di SMART ? Maka jawabannya adalah: “Bagaimana tidak?” Ketika saya diminta membuat tulisan seputar Pengalaman Ramadan Berkesan ini, iseng-iseng saya turut membuka laman web SMART, web almamater tercinta. Tiba-tiba saya jadi rindu dengan suasana SMART, dengan takjilannya, dengan antrean ketika mengambil takjil, dengan tidurnya, dengan ustaz-ustazahnya, dengan kenangannya, dan dengan semuanya. Rindu. (KH x AR)

***

Yuk Sob bergabung bersama Dompet Dhuafa Pendidikan meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia dengan berdonasi ke Rekening BNI Syariah an Yayasan Dompet Dhuafa Republika 2881 2881 26 Call Center : 0812 8833 884

SMART Ekselensia Indonesia
,

PENGUMUMAN SELEKSI BEASISWA PROGRAM TAHFIZH “ EKSELENSIA TAHFIZH SCHOOL” 2018

PENGUMUMAN SELEKSI BEASISWA PROGRAM TAHFIZH

“ EKSELENSIA TAHFIZH SCHOOL” 2018

SMART Ekselensia Indonesia

 

Ekselensia Tahfizh School (ETS) merupakan program investasi SDM yang berfokus pada tahfidz-plus (Al-Qur’an, Islamic studies, dan leadership), yang diperuntukkan bagi anak-anak pilihan lulusan SMP/MTs/sederajat yang memiliki kemampuan akademik tinggi namun memiliki keterbatasan finansial.

Program ini dirancang dengan idealis dalam sebuah inkubasi kurikulum khas Ekselensia untuk menghasilkan lulusan (output) yang hafizh , kompetensi dalam ilmu-ilmu keislaman, dan unggul dalam kepemimpnan (kepemimpinan diri dan sosial).

Kurikulum khas Ekselensia dirancang selama 2 tahun penguatan keilmuan dan kompetensi kepemimpinan, 2 semester penguatan sukses PTN dalam negeri atau Perguruan Tinggi  Luar Negeri dan perencanaan karir pasca pendidikan.  Kurikulum khas Ekselensia juga di dukung dengan penerapan sistem manajemen mutu ISO 9001 : 2015 dan Baldrige Excellence Framework (BEF), fasilitas yang mendukung dan kondusif di kawasan Zona Madina, dan quality control proses pembelajaran tahfizh.

Para calon peserta Ekselensia Tahfizh School (ETS) angkatan pertama berasal dari 10 daerah seleksi yaitu :

  • Sumatera Utara
  • Sumatera Barat
  • Riau
  • Sumatera Selatan
  • Jabodetabek
  • Jawa Barat
  • Jawa Tengah
  • Jawa Timur
  • Jogjakarta
  • Nusa Tenggara Barat

Mereka harus melewati serangkaian tes yang terdiri dari tes administrasi, psikotes dan interview dengan Psikolog, kunjungan rumah (home visit) dan Pantuhir. Pada hari Senin, 14 Mei 2018 melalui rapat, diputuskan bahwa 6 orang berhak menjadi peserta Ekselensia Tahfizh School tahun pelajaran 2018 – 2019, yaitu :

  • Bagus Pribadi, Palembang Sumatera Selatan
  • Sultan Ilyas Fadlurrahman, Bogor Jawa Barat
  • Usamah Imam Khomeini Al Kadafi, Jogjakarta
  • Ibrahim Al-Mutaqiy, Pasuruan Jawa Timur
  • Muhammad Saifuddin, Kediri Jawa Timur
  • Ihsan Muhammad Taqiyuddin, Surabay Jawa Timur

 Selamat datang generasi Qurani! (MS)

SMART Ekselensia Indonesia
,

Vikram Adalah Kamu, Ramadan 1938 H

Vikram Adalah Kamu, Ramadan 1938 H

Oleh: Vikram Makrif
Alumni SMART Angkatan 9 berkualiah di UNDIP

“Bahagialah setiap saat! Bukan karena segala hal baik-baik saja, tapi karena ada yang baik dalam segala hal”

Halo para pembaca yang baik hati. Aku adalah sore menjelang magrib. Aku akan berbagi tentang kamu. Siapakah kamu? Siapapun kamu yang sedang membaca tulisan ini, kamu adalah Vikram Makrif. Kamu dipanggil Vikram oleh teman-temanmu. Aku akan berbagi tentang kegiatanmu saat sore kala itu mejelang magrib di bulan suci Ramadan 1438 H.

Apa saja kegiatan kamu di bulan Ramadan kala itu Vikram? Kamu sendiri mungkin sudah tahu. Kala itu kamu sedang menunggu pengumuman SBMTPN 2017. Selama menunggu hasil SBMPTN 2017 kamu mencari kegiatan yang dapat bermanfaat untuk orang lain. Sehingga mulai dari Ramadan ke-3 sampai Ramadan ke-16 kamu mengajar pesantren kilat (SANLAT) di sebuah masjid.

Kamu mengajar pesantren kilat setelah Salat Asar sampai menjelang berbuka puasa. Kamu mengajar bersama pengurus DKM lainnya dan guru madrasah di sana. Awalnya kamu bingung dengan metode pengajaran di sana yang berbeda dengan cara mengajarmu. Tapi setelah melihat cara mengajar guru dan juga melihat anak-anak SANLAT yang luar biasa, kamu dapat menyesuaikan diri mengajar di sana.

Ini semua tentang kamu Vikram. Tentang kamu di sore menjelang magrib. Seusai bersujud pada Sang Khalik kamu berbagi pada anak-anak. Kamu tersenyum menyapa mereka yang sedang berlari-larian di halaman masjid. Mereka pun juga tersenyum manis padamu.

“Assalamualaikum adik-adik yuk kita ngaji,” katamu pada mereka memberi salam.
“Walaikumsalam Kak Vi em. Hari ini ngajinya di mana kak? Aula apa masjid?” tanya mereka padamu.
“Hari ini kita di aula lagi ya, biar tempatnya luas,” jawabmu sambil tersenyum dan berjalan menuju aula.

Kamu sebenarnya senang mengajar mereka. Mereka pun juga senang diajarkan olehmu. Tapi terkadang kamu bingung sendiri dengan tingkah laku mereka. Kamu tidak ingin terlalu dekat dengan mereka, anak-anak SANLAT yang lucu dan luar biasa itu. Tak dapat dielakkan lagi kamu dan anak-anak itu bagaikan magnet dan besi. Sangat dekat sekali jika sudah berjumpa. Apakah itu perumpamaan yang benar untukmu? Mungkin saja benar.

“Ayoo adik-adik kita buat lingkaran yang besar ya biar bisa kebagian tempat semua,” ajakmu pada murid-muridmu bersiap untuk game seusai mengaji.
“Aku pengen dekat Kak Vi em,” kata salah satu muridmu.
“Aku juga, aku juga,” kata muridmu yang lainnya saling berebut memegang tanganmu.
“Eh eh jangan dorong-dorongan gitu dong, sekarang kita buat lingkaran besar ya adik-adik,” katamu pada mereka dengan kedua tanganmu yang masih ditarik-tarik.
“Gak mau, maunya dekat Kak Vi em,” kata salah satu muridmu.
“Gak, aku duluan dekat Kak Vi em,” kata muridmu yang lain dengan nada yang sedikit naik.

Kamu semakin pusing melihat tingkah laku mereka saling berebut ingin berada di samping dirimu. Seketika kamu menghilang dan telah berada di dimensi yang berbeda dengan anak-anak. Kamu melihat sekitar. Semua terlihat gelap olehmu. Kamu langsung menatap ke bawah. Di sana kamu melihat dirimu sendiri sedang mengajar mengaji anak-anak SANLAT. Setelah itu kamu mengajak mereka untuk membuat lingkaran. Kamu melihat dirimu sendiri bersusah payah mengurus anak-anak kecil usia TK dan SD kelas satu hingga tiga. Kamu juga melihat guru madrasah dan pengurus DKM Al-Furqon sedang memperhatikan tadarus anak-anak SANLAT yang sudah Al-Quran.

Melihat kejadian itu dari dimensi lain, kamu berkata dalam hati. Andaikan aku bisa berubah menjadi banyak sesuai dengan jumlah adik-adik itu mungkin mereka tidak akan berebutan. Tapi semua hanyalah hayalanmu Vikram. Kamu tidak bisa berubah menjadi banyak seperti di film kartun anak. Karena kamu hanyalah manusia biasa. Hehehe…

Kembali lagi pada episode anak-anak berebut bedara di sampingmu. Kamu langsung maju ke tengah lingkaran dan berkata “Biar adil kakak di tengah-tengah aja ya, ayo lingkarannya dilebarin lagi!”. Kamu melihat mereka langsung membuat lingkaran besar. Mereka senang saat kamu memulai bernyanyi. “Lingkaran besar, lingkaran besar, lingkaran besar… lingkaran kecil, lingkaran kecil, lingkaran kecil…” kamu pun tertawa saat mereka juga ikut bernyanyi.
***
Ini semua tentang kamu Vikram. Tentang kamu di sore menjelang magrib. Seusai bersujud pada sang Khalik kamu berbagi pada anak-anak. Kamu tersenyum menyapa anak-anak SANLAT ketika mereka sedang menatap tetesan air yang jatuh dari awan-awan di langit. Mereka pun tersenyum manis padamu.

“Assalamualaikum adik-adik yuk kita masuk ke dalam,” katamu pada mereka memberi salam sambil mengajak mereka masuk ke dalam masjid.
“Walaikumsalam. Iya Kak Vi em” jawab mereka padamu dan bergegas masuk masjid mengikutimu.

Kamu tahu hari itu hujan turun dari langit sangat deras. Kamu pun mengajak anak-anak mengaji di dalam masjid bukan di aula. Kamu memulai kegiatan dengan mengajak mereka untuk berdoa. Setelah itu kamu muroja’ah hafalan mereka surah An-nisa ayat 58-65. Kamu tersenyum seperti hari-hari yang lalu saat mereka juga muroja’ah hafalan. Kamu kagum melihat mereka hafal ayat yang panjang itu. Walaupun kamu melihat mereka membacanya sambil bermain menjahili teman di sampingnya.

Setelah kamu muroja’ah hafalan, kamu menyuruh mereka untuk mengikuti para pengajarnya masing-masing. Seperti biasa jika pengurus DKM bisa mengajar, maka kamu mengajar anak-anak yang masih iqro bukan yang Al-Quran. Karena anak-anak lebih suka diajar olehmu dari pada yang lain.

“Adik-adik, kakak punya cerita keren nih. Tapi kalian harus jadi patung ya, mulutnya dikunci, kuncinya dibuang, telinganya dipasang, duduk yang rapi,” katamu pada anak-anak yang masih iqro.

“Siap, Yes Yes Okee..” jawab mereka serentak setalah kamu berkata ‘duduk yang rapi’.
“Ceritanya yang serem gak kak?” tanya salah satu murid yang duduk di depanmu.
“Gak lah, sekarang ceritanya tentang nabi kita Nabi Muhammad Saw.,” Jawabmu pada anak di depanmu itu.
“Nah jadi gini ceritanya. Nabi kita telah berjumpa sama Allah. Di depan nabi telah ditampakkan surga tempat beliau tinggal. Allah berkata pada Nabi ‘Ya Muhammad ini adalah surgamu silahkan engkau masuk’. Nabi diam sejenak dan berkata ‘Ya Allah ya Tuhanku, bagaimanakah nasib umatku?’.

Subhanallah ya adik-adik Nabi kita nanti di hari akhir terus memikirkan kita, padahal surga sudah di depan matanya. Nah apa kata Allah setelah itu? Mau dilanjutin ceritanya?” katamu panjang lebar pada anak-anak.

Kamu senang mereka semua terdiam mendengarkan ceritamu. Walaupun kamu melihat mereka tidak diam menjadi patung saat kamu bercerita. Adakalanya saat bercerita kamu sesekali berhenti dan menegur murid yang menjahili temannya.

“Setelah itu Nabi kita berlari lagi mencari para umatnya yang masih memiliki iman di hatinya untuk masuk ke dalam surga. Walaupun imannya sebesar biji zarrah. Tahu gak adik-adik biji zarrah itu sebesar apa?” tanyamu pada anak-anak.

“Lebih kecil lagi lah Kak. Kan tadi biji sawi lebih kecil dari biji kurma. Berarti segede upil Kak” jawab salah satu murid padamu dengan pemikirannya sendiri.
“Bukanlah, masa segede upil. Kalo zaman dulu orang-orang tahunya biji zarrah itu sebesar biji sawi. Sebenarnya Dika bener sih lebih kecil dari biji sawi, tapi bukan segede upil. Biji zarrah itu yang kakak tahu dari guru kakak lebih kecil dari partikel sub atomik” jelasmu pada anak-anak.

Mereka semua bingung dengan penjelasanmu tadi tentang ukuran biji zarrah. Mereka yang masih TK dan SD kamu jelaskan tentang partikel sub atomik. Berarti kamu salah audien nih dalam penjelasan tentang ukuran fisika modern.

“Nah partikel sub atomik itu jutaan kali jauh lebih kecil dari pada biji sawi. Jadi intinya gak bisa kita lihatlah gitu. Subhanallah kan adik-adik. Orang yang imannya kecil banget aja masih bisa masuk surga dengan syafaat dari Nabi kita tercinta,” lanjutmu menjelaskan ukuran biji zarrah.

Setelah kamu bercerita anak-anak mulai mengaji iqro denganmu secara bergantian. Kamu mengajari mereka satu persatu. Saat mengajar tiba-tiba ada yang murid yang tertawa melihatmu mengajar.

“Ih Om lucu deh,” kata Syilmi salah satu muridmu.
“Apa? OM?” katamu seketika.
“Eh iya lupa lagi, Kakak Vi em, itu lucu banget jerawatnya gede banget” kata Syilmi padamu.
“Udah jangan dilihatin terus jerawat kakak, nanti pecah” katamu bercanda pada Syilmi.
“Itu Om juga lucu kumisnya, panjang banget. Hihihi..” kata Syilmi lagi kepadamu.
“Apa?Om lagi?”katamu seketika.
“Eh lupa lagi, abisnya Kakak kumisnya panjang banget tuh,” kata Syilmi sambil menunjuk jenggotmu.
“Waduh Syilmi ini jenggot bukan kumis,” jelasmu singkat.
“Ooh iya tuh jenglot kakak panjang, jadi lucu,” kata Syilmi padamu sambil tertawa.
“Bukan jenglot, tapi jenggot,” jelasmu gregetan.
“Hahaha jengkol? Mata kakak kayak jengkol tuh,” ucap Syilmi blak-blakkan padamu.

Tiba-tiba kamu menghilang ke dimensi lain. Semua pandanganmu seketika gelap. Kamu merasakan tubuhmu membesar. Perutmu menjadi gendut. Wajahmu berubah menjadi badut. Matamu menjadi jengkol. Kamu melihat anak-anak SANLAT yang sedang berlari-larian. Kamu langsung memakan mereka semua sekaligus. Mereka berteriak-teriak takut melihat wajahmu. Tubuh raksasamu dengan cepat melahap pada anak-anak yang lucu dan gemesin di sana.

Semua tentang raksasa badut mata jengkol hanyalah hayalanmu. Kembali lagi ke adegan kamu mengajar dan berbicara kepada Syilmi salah satu muridmu.

“Terserah Syilmi deh, nih kakak lagi ngajar jadi nanti ya ngobrolnya,” jelasmu pada Syilmi.
“Ayo Adli lanjut lagi ngajinya” katamu kepada Adli sambil menunjuk iqronya.
Tiba-tiba ada anak yang berlari menghampirimu dan berkata “Kak Vi em Dinda nangis tuh di sana”
“Kenapa ko bisa nangis Dinda nya?” tanyamu pada anak itu.
“Tadi Dinda dipukul sama Dika Kak” jawab anak itu padamu.
“Iya iya nanti kakak ke sana” katamu singkat.

Kamu menghampiri Dinda yang sedang menangis. Lalu kamu memanggil Dika yang memukul Dinda untuk meminta maaf. Kamu melihat Dika dengan tatapan sedikit memaksa untuk meminta maaf. Akhirnya dengan tatapan supermu Dika pun meminta maaf pada Dinda muridmu yang menangis. Kamu membawa Dinda duduk di dekatmu dan terus mengajaknya untuk tidak menangis lagi.

Tiba-tiba ada anak yang berlari menghampirimu dan berkata “Kak Vi em Hana nangis juga”
“Kenapa lagi, kok bisa?” tanyamu pada anak itu.
“Gak tau kak, tiba-tiba aja nangis” jawab anak itu padamu.
“Oke deh, bawa Hananya ke sini kakak lagi ngajar nih!” serumu pada anak itu.
“Hana nya nagis terus tuh kak, lihat aja di sana, megang-megang kepalanya” jelas anak itu padamu.

Kamu langsung berdiri dan menggendong Hana ke tempat Dinda yang masih menangis. Kamu bingung dengan keadaan itu. Kamu melihat dua anak menangis. Kamu juga masih belum selesai mengajar.

Akhirnya Allah membantu mu. Beberapa saat kemudian mereka berhenti menangis di dekatmu. Kamu terlihat bagaikan seorang ayah yang memiliki banyak anak-anak yang lucu. Kamu bahagia bisa mengajar mereka. Walaupun hanya mengajarkan menbaca dan menulis iqro dan Al-Quran.

Itu lah kisah nyata tentangmu di bulan Ramadan 1438 H kemarin. Kisah tentang kamu di sore menjelang magrib.

“Bahagia bukan hanya karena memiliki sesuatu yang luar biasa, tapi bahagia itu membagikan sesuatu yang kita miliki walaupun tidak terlalu luar biasa”

***

Sob jangan lupa bergabung bersama Dompet Dhuafa Pendidikan meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia dengan berdonasi ke Rekening BNI Syariah an Yayasan Dompet Dhuafa Republika 2881 2881 26 Call Center : 0812 8833 884