,

Ini Dia Pengumuman Seleksi Nasional Beasiswa (SNB) SMART Ekselensia Indonesia 2018

Ini Dia Pengumuman Seleksi Nasional Beasiswa (SNB) SMART Ekselensia Indonesia 2018

IMG-20171105-WA00012

Halo Sob, untuk kamu yang telah menunggu hasil seleksi SNB SMART 2018, sekarang nama-nama yang lolos sudah bisa kamu cek di bawah ini ya. Kami ucapkan selamat kepada kamu yang lolos dan kami ucapkan selamat bergabung bersama kami di SMART Ekselensia Indonesia.

No Nama Asal Daerah
1 Daffa Muhammad Al Ghazali Jabodetabek
2 Iltizam Haq Jabodetabek
3 M. Azlan Triandi Jabodetabek
4 Muhammad Fauzan Muzakki Jabodetabek
5 Muhammad Rasyid Maulana Aldrian Jabodetabek
6 Raihan Eka Pramudita Jabodetabek
7 Renaldy Bagus Pratama Jabodetabek
8 Ceisap Wijaya Jawa Barat
9 Rifa Diaz Maulana Kosasih Jawa Barat
10 Hamdan Qo’du Ilal Hakim Jawa Tengah
11 Mu’adz Jawa Tengah
12 Nur Islami Dwi Nugroho Jawa Tengah
13 Sandy Firdaus Kalimantan Selatan
14 Trio Bagus Mulyono Kalimantan Selatan
15 Arief Nurahman Kalimantan Timur
16 Muhammad Fahmi Fikri Kepulauan Riau
17 Muhamad Aqshal Ilham Lampung
18 Hairul Salam NTB
19 Ade Hendrawan Riau
20 Raafi Muslim Riau
21 Rendi Pratama Riau
22 Taufik Juliandi Suratmi Sulawesi Selatan
23 Alfin Umbe Sulawesi Tengah
24 Moh. Askia Rahman Sulawesi Tengah
25 Muh. Agung Danati Sulawesi Tengah
26 Rabiansya J. S Sulawesi Tengah
27 Ahmad Khairul Sumatera Barat
28 Daffa Al-Hakim Ismed Sumatera Barat
29 Dhanny Fathurroziq Digjaya Sumatera Barat
30 Geri Mardiansah Sumatera Barat
31 Ibnu Muhamad Rifai Sumatera Barat
32 Ilham Akbar Sumatera Barat
33 M Afwandi Sumatera Barat
34 M Ikwan Sumatera Barat
35 Roni Putra Sumatera Barat
36 Arjun Elvas Janggara Sumatera Selatan
37 M. Rendi Sagita Sumatera Selatan
38 Abdul Haris Nasution Sumatera Utara
39 M. Haikal Fahtoni Sumatera Utara
40

Muhammad Sidiq Maulana

Sumatera Utara

 

Sebuah Pengalaman Berharga dari HOMESTAY

Sebuah Pengalaman Berharga dari HOMESTAY

Nama saya Ika Said, saya adalah Host Parent siswa SMART Ekselensia Indonesia untuk kegiatan HOMESTAY SMART. Pertama kali memutuskan untuk berpartisipasi dalam program HOMESTAY ini, saya menjadi Host Parent dari siswa SMART Ekselensia Indonesia bernama Somad. Ia berasal dari Bali, saat ini sedang menempuh pendidikan di Universitas Brawijaya.
Anak asuh yang kedua adalah M. Yani Al Rizki, kemudian yang paling kecil adalah Adik Agung dari Medan, saat ini menempuh kelas 3 di SMART Ekselensia Indonesia.
Sejujurnya, saya dan keluarga justru banyak belajar dari mereka. Sebab mereka adalah anak-anak yang soleh, rajin dan cerdas. Kami sangat bahagia bisa berbagi hidup dengan mereka memalui program HOMESTAY ini.
Saya dan keluarga berharap, anak-anak SMART Ekselensia Indonesia ini dapat menjadi orang yang sukses, memiliki akhlak yang baik dan tetap menjaga nama baik lembaga yang telah mendidik mereka, yakni SMART Ekselensia Indonesia dan Dompet Dhuafa.
Saya juga berharap semakin banyak orang-orang yang dapat berpartisipasi menjadi Host Parent dalam program HOME STAY, sebab menjadi Host Parent bukan hanya kita yang memberi, namun kita juga mendapatkan keuntungan dengan belajar banyak hal dari siswa yang menjadi anak asuh kita. Sebab mereka yang memiliki keterbatasan dari segi ekonomi dapat meraih cita-cita
***
Sob, ingin berbagi kebahagiaan bersama kami selama Ramadan dan Idul Fitri? Yuk ikut menjadi Host Parent dalam program HOMESTAY Idul Fitri 1439 H. HOMESTAY Idul Fitri merupakan gerakan berbagi inspirasi serta kehangatan keluarga dengan menjadi orangtua asuh (Host Parent) bagi siswa SMART Ekselensia Indonesia dan mengajak mereka merayakan Idul Fitri bersama.
SMART Ekselensia Indonesia merupakan sekolah menengah jenjang SMP dan SMA bebas biaya yang diperuntukkan bagi anak-anak pilihan yang kurang beruntung secara ekonomi di seluruh provinsi di Indonesia.Saat ini total siswa SMART Ekselensia adalah 213 siswa. Jadi, masih banyak kesempatan untuk menjadi Host Parent bagi mereka.
Info lengkap tentang HOME STAY dan syara-syarat menjadi Host Parent dapat diakses di www.smartekselensia.net/home-stay-idul-fitri/
—————————————————-
SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA RAMADAN 1439 H

Semoga ibadah puasa diterima oleh Allah Swt. Aamiin

—————————————————–

Mari bergabung bersama Dompet Dhuafa Pendidikan meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia dengan berdonasi ke

*Rekening BNI Syariah an Yayasan Dompet Dhuafa Republika
2881 2881 26*

Call Center :
0812 8833 8840

,

Lebih Kreatif Bersama Mural Kebaikan

Lebih Kreatif Bersama Mural Kebaikan

 SMART Ekselensia Indonesia 5

Halo Sob! Tahukah kamu kalau kreativitas merupakan salah satu manifestasi mumpuni bagi generasi milenials. “Lho kok bisa?” Iya Sob karena dengan kreativitas para milenials mampu menciptakan sumber lapangan kerja baru di bidang kreatif. Hmm hanya saja mencipta generasi milenials yang kreatif ternyata bukanlah hal mudah, ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah.

Nah Menjawab tantangan tersebut Dompet Dhuafa bekerjasama dengan Dompet Dhuafa Pendidikan menggelar kegiatan Mural Kebaikan yang dilaksanakan di SMART Ekselensia Indonesia pada 15-16 Mei 2018.

SMART Ekselensia Indonesia 1

Kalau menurut Ustaz Hassan, Head of Resources and Mobilization Dompet Dhuafa Pendidikan,  Dompet Dhuafa berusaha memfasilitasi kreativitas para siswa SMART agar mampu menghasilkan karya-karya hebat. “Kegiatan ini juga efektif dalam mengembangkan sektor ekonomi kreatif,” katanya.

SMART Ekselensia Indonesia

Oh iya di kegiatan Mural Kebaikan ini Kak Chiky Fawzi, animator sekaligus influencer, didapuk menjadi relawan untuk memfasilitasi kami semua. Aaah senang sekali rasanya.

SMART Ekselensia Indonesia 2

“Saya sangat bahagia bisa berbagi kreativitas dengan adik-adik SMART, mereka adalah anak-anak hebat yang memiliki segudang prestasi dan kebaikan,” papar Kak Chiky.

SMART Ekselensia Indonesia 3

Selain berorientasi mengembangkan kreativitas kami, kegiatan Mural Kebaikan juga memiliki tujuan menghindarkan generasi muda dari kegiatan negatif seperti penggunaan narkoba dan terorisme Sob. Sampai jumpa di kegiatan selanjutnya. (AR)

Pentingnya Komunikasi Bagi Generasi Kekinian

Pentingnya Komunikasi Bagi Generasi Kekinian

Oleh: Zealandia Sarah

Penerima Manfaat BAKTI NUSA 6 Yogyakarta

Setiap pemimpin memiliki masa, dan tiap masa ada pemimpinnya”

Tiap generasi memiliki kekhasannya sendiri, kekhasan yang dibentuk oleh zamannya. Karl Mannheim dalam essai yang ditulisnya pada 1923 “The Problem of Generations” menjelaskan bahwa  sejarah, budaya, dan kondisi politik membentuk generasi muda pada waktu tersebut. Menurut teori karl Mannheim atau biasa dikenal dengan Generation Theory terdapat 5 generasi yang lahir pasca perang dunia II; Baby Boomer, generasi X, generasi Y, generasi  Z, dan generasi Alpha. Tiap generasi tersebut memilki sifat dan kekhasan tersendiri yang terbentuk dari adanya perang dunia II, generasi di Indonesia pun tak luput dari efek perang dunia II ini.

Generasi Baby boomer yang lahir pada tahun 1946-1964 atau yang kira-kira saat ini berusia merupakan generasi awal setelah PD II berakhir, generasi yang  adaptif dengan banyak pengalaman hidup. Generasi baby boomer di Indonesia lahir pasca kemerdekaan, dimana masa-masa tersebut masih awal berdirinya bangsa ini, mereka adalah saksi dan pelaku sejarah dari proses pembentukan awal negara ini, tentunya pengalaman melawan penjajah pasca kemerdekaan seperti agresi militer dan konferensi Asia Afrika . Generasi selanjutnya, yaitu generasi X yang lahir pada tahun 1965-1980 atau yang saat ini berusia 50-an sampai 36. Generasi X menjadi saksi sejarah masa-masa labil pemerintahan, dimana beberapa peristiwa besar terjadi di saat mereka remaja, salah satunya krisis moneter pada zaman pemerintahan Sohearto yang berakhir pada penggulingan kekuasaannya selama 30 tahun. Generasi Y yang lahir pada tahun 1981-1994 atau biasa disebut generasi milenial menjadi generasi awal penggunaan internet, generasi inilah yang saat ini masuk usia produktif di Indonesia. Generasi yang mengalami awal globaliasi ini mulai merasakan bounderless antar negara. Perkembangan internet yang mampu melewati batas antar negara menjadi pemicunya. Generasi Z atau yang lahir pada tahun 1995 hingga 2010, dimana berusia awal 20an dan bangku sekolah menjadi generasi yang sudah kenal dengan internet. Bahkan terdapat ungkapan untuk menandakan generasi gawai ini “generasi menunduk” dimana setiap saat yang dipegang adalah gawai berkoneksi internet.

Perbedaan karakteristik masing-masing generasi tentu membutuhkan pemimpin yang mampu memahami kebutuhan tiap generasi yang dipimpinnya, berbagai macam pendekatan tentu perlu diupayakan. Misalnya, untuk saat ini, dimana dunia maya sudah menjadi setengah dari kehidupan masyarakat, tipe kepemimpinan yang dibutuhkan tentu berbeda dengan masa sebelumnya. Sosok pemimpin yang dekat, mengayomi, gerak cepat lebih disukai dibanding tipe pemimpin yang banyak berorasi.

Tetapi sedikit berbeda ketika bertemu dengan generasi muda suatu pulau bernama Kolorai. Pulau yang berpenghuni hanya sekitar 200 penduduk ini dan termasuk pulau terluar Indonesia, meski masuk kedalam generasi X sampai Z yang identik dengan kemajuan teknologi, pemuda di Kolorai sedikit tertinggal dengan mereka yang tinggal di Jawa. Berada di pulau ujung dari pulau Maluku yang mendapat julukan “Mutiara hitam“  menjadikan akses terhadap internet ataupun teknologi menjadi terhambat. Tentunya untuk ‘mengambil hati’ mereka butuh strategi sendiri-sendiri. Pengamatan di awal adalah hal yang saya lakukan sebelum bergaul dengan mereka. Mengamati cara berkomunikasi, kebiasaan, dan kehidupan sehari-hari adalah hal penting untuk mengetahui cara bergaul dengan mereka. Pemuda Kolorai, sebagian kecil sudah ada yang menempuh kuliah di pulau seberang, namun masih banyak pula yang menetap dan bekerja di pulau Kolorai menjadi nelayan. Mereka sebenarnya pemalu, apalagi berhadapan dengan oang Jawa. Minder. Begitu kata tetua di sini, mereka tidak PD dengan perbedaan tingkat pendidikan dengan kami anak Jawa. Sedikit sulit memang, namun tetap perlu dicoba.

Pendekatan untuk menjalin komunikasi dengan mereka dimulai dengan bertemu langsung, mengungkapkan maksud kedatangan kami ke pulau tersebut, bertemu langsung di dalam satu ruangan dan selanjutnya mengobrol menjadi lebih mudah. Mengikuti kegiatan keseharian mereka juga menjadi pendekatan yang cukup ampuh untuk menghilangkan sekat anak kota dan anak desa. Pemuda Kolorai suka berolahraga, berenang, voli, dan sepakbola, perempuan dan laki-laki semuanya ahli bermain. Dari hal tersebut lah kami perlahan-lahan mulai menjadi bagian dari mereka. Masuklah pada tenggat program pengabdian dijalankan. Program yang dibuat sebelumnya harus mengalami banyak perubahan melihat berbedanya antara ekspektasi dengan kondisi sesungguhnya. Meskipun banyak berubah tetap keberlanjutan harus dipertahankan. Tentu hal itu tetap harus ada, mengingat keberadaan kami di sana hanya satu setengah bulan. Setelah tidak adanya kami, program tetap harus berlanjut. Pulau Kolorai pada tahun 2015 ditetapkan dinas pariwisata sebagai pilot project desa wisata di Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara. Untuk mendukung program pemerintah ini, berbagai usaha kami lakukan, salah satunya adalah menyadarkan masyarakat akan tanggap bencana. Pariwisata yang terintegrasi tentunya butuh mekanisme evakuasi bencana yang baik untuk saat-saat genting, karena tidak dapat dipungkiri bahwa kejadian bencana alam, khususnya, sering terjadi di wilayah teritori Indonesia. Berdasarkan peta bencana 2016 yang dikeluarkan oleh BNPB, pulau Kolorai masuk dalam zona rawan bencana tsunami. Bencana tsunami merupakan salah satu bencana yang tidak mudah untuk diprediksi, saat ini teknologi prediksi tsunami jarang ditemukan di Indonesia, hanya daerah-daerah tertentu saja yang memilikinya, dan sayangnya Kolorai bukan salah satu yang memilikinya. Oleh sebab itu, penyadaran tanggap bencana secara manual harus dilakukan, terlebih ketika daerah tersebut menjadi destinasi kedatangan wisatawan.

Melihat kondisi masyarakat setempat dan kondisi lingkungan seperti di atas, maka program sadar tanggap bencana dapat dilakukan di saat-saat terakhir. Masyarakat Kolorai lebih banyak didominasi dengan mereka yang berumur produktif. Pemuda Kolorai lebih senang untuk melihat langsung bukti daripada penjelasan panjang lebar, maka dari itu kami tunjukkan peta rawan bencana yang kami dapatkan dari laman BNPB, dari peta tersebut mereka menjadi paham keberadaan pulau mereka dan dengan hanya ditambah penjelasan kondisi fisik sedikit soal daerah mereka, mereka sudah paham mengenai tingkat rawan bencana daerah yang mereka tinggali. Ekskekusi selanjutnya adalah dengan membuat jalur evakuasi bencana. Pulau Kolorai yang kecil dan relatif datar sedikit menjadi kesulitan untuk menemukan lokasi yang pas untuk menjadi titik kumpul evakuasi warga ketika sewaktu-waktu bencana terjadi. Pemuda Kolorai akan senang ketika dilibatkan dalam sebuah penyelesaian masalah di tempatnya. Maka dari itu, kami melibatkan langsung mereka dalam penentuan jalur yang cepat dan efektif evakuasi. Dengan hanya penjelasan singkat tentang kriteria jalur evakuasi dan titik kumpul, mereka dengan cepat mampu menentukan jalan jalan yang sesuai. Dengan terlibatnya mereka langsung dalam pemecahan masalah, mereka menjadi merasa bagian penting bagi keberlanjutan program ini dan tentunya rasa tanggung jawab untuk menjadi garda terdepan dalam penyelamatan bencana tumbuh, sehingga tanpa perlu disuruh lagi mereka sudah paham untuk melaksanakan tanggap bencana.

Meski berbeda, jauh dari pembangunan bukan berarti tidak dapat berkembang. Menjadi pemimpin bukanlah perkara gampang, apalagi membangun jiwa pemimpin pada diri orang lain. Membangunnya bukan perkara yang sekedipan mata dapat langsung terwujud, perlu usaha, strategi yang apik dan pengenalan mendalam pada jiwa yang dibangun untuk dapat mewujudkannya. Dan tentu hal tersebut tidaklah secepat larinya Buroq. Pengamatan terhadap kunci-kunci pembangun dan sentuhan awal pada titik yang dibutuhkan adalah langkah yang cukup mampu menyingkat waktu pembentukan jiwa pemimpin. Kesensitifan hati dan ketajaman membaca lingkungan adalah keahlian yang perlu dimiliki untuk menjadi dan membentuk pemimpin berkarakter.

Balada Olimpiade Guru Nasional (OGN) 2018

Balada Olimpiade Guru Nasional (OGN) 2018

Oleh: J. Firman Sofyan

Guru Bahasa Indonesia SMART Ekselensia Indonesia

Final Olimpiade Guru Nasional (OGN) jenjang pendidikan menengah (dikmen) dilaksanakan di Hotel Lombok Raya, Jalan Panca Usaha No. 11, Cilinaya, Cakranegara, Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Final OGN Dikmen diikuti oleh 159 finalis dari total 1233 peserta se-Indonesia dalam delapan mata pelajaran jenjang SMA/SMK/SMALB dengan rincian sebagai berikut:

  1. guru Antropologi 19 finalis
  2. guru Bahasa dan Sastra Indonesia 20 finalis
  3. guru Bahasa Inggris 20 finalis
  4. guru Bimbingan dan Konseling 20 finalis
  5. guru Matematika 20 finalis
  6. guru Pendidikan Agama Islam 20 finalis
  7. guru Prakarya dan Kewirausahaan 20 finalis
  8. guru Seni Budaya 20 finalis

OGN 2018 dilaksanakan pada tanggal 3 s.d. 7 Mei 2018. Berikut rincian kegiatan OGN 2018 yang diikuti guru dari seluruh provinsi di Indonesia, kecuali Provinsi Maluku:

No Hari/Tanggal Waktu Uraian Kegiatan Keterangan
1 Kamis, 3 Mei 2018 13.00 –  14.00 Daftar masuk (check in) dan registrasi peserta Rinjani Ballroom

Hotel Lombok Raya

14.30 – 15.00 Penjelasan Teknis Administrasi dan Akademis Rinjani Ballroom

Hotel Lombok Raya

15.00 – 16.00 Tes Wawasan Kependidikan (Daring) Rinjani Ballroom

Hotel Lombok Raya

16.00 – 16.30 Rehat

 

16.30 – 18.00 Tes Tertulis Esai Rinjani Ballroom

Hotel Lombok Raya

18.00 – 19.30 Salat dan Rehat

 

19.30 – 21.00 Pembukaan Rinjani Ballroom

Hotel Lombok Raya

2 Jumat, 4 Mei 2018 08.00 – 13.00 Tes Penyusunan Perangkat Pembelajaran Sanaru

Hotel Lombok Raya

13.00 – 14.00 Salat dan Rehat

 

14.30 – 16.30 Pencetakan Perangkat Pembelajaran Sanaru

Hotel Lombok Raya

16.30 – 19.00 Salat dan Rehat

 

19.00 – 21.00 Praktik Mengajar/Praktik Bimbingan Sanaru

Hotel Lombok Raya

3 Sabtu, 5 Mei 2018 08.00 – 12.00 Praktik Mengajar/Praktik Bimbingan Sanaru

Hotel Lombok Raya

12.00 – 13.00 Salat dan Rehat

 

13.00 – 16.00 Praktik Mengajar/Praktik Bimbingan Sanaru

Hotel Lombok Raya

17.30 – 19.30 Salat dan Rehat

 

Praktik Mengajar/Praktik Bimbingan Sanaru

Hotel Lombok Raya

19.30 – 21.00 Kebijakan Subdit Kesharlindung Rinjani Ballroom

Hotel Lombok Raya

4 Minggu, 6 Mei 2018 06.00 – 07.00 Sarapan Restoran Lombok Raya Hotel
07.00 –  08.00 Daftar keluar (check out)

 

08.00 – 15.00 Wisata edukasi

 

Desa Suku Sasak dan Pantai Kuta
5 Senin, 7 Mei 2018 06.00 – 11.00 Acara Puncak Hardiknas Lombok City Center
11.00 – 12.00 Penutupan OGN Lombok City Center

Rangkaian acara OGN 2018 terlaksana dengan baik dan tepat waktu sejak awal pembukaan sampai penutupan. Segala macam bentuk tes merupakan tantangan tersendiri bagi para finalis. Para finalis dituntut mengerjakan semua tes dalam waktu yang singkat dan padat. Pengetahuan pedagogik dan professional sebagai guru merupakan modal utama yang tidak boleh dilupakan dalam tes wawasan kependidikan. Kemampuan bernalar dan membaca cepat sangat dibutuhkan dalam mengerjakan rangkaian tes menulis esai.

SMART Ekselensia Indonesia

Saat menyusun perangkat pembelajaran, para finalis harus mengembangkan pembelajaran yang menarik disertai pemilihan media yang sesuai. Tes terakhir, praktik mengajar, menjadi tes pamungkas bagi para finalis. Para finalis menunjukkan performa terbaik pada saat praktik mengajar. Berbagai metode disampaikan dalam pembelajaran disertai media yang sederhana, bermanfaat, dan tentu saja kekinian.

SMART Ekselensia Indonesia

Selain lomba, wisata edukasi ke Desa Suku Sasak dan Pantai Kuta Lombok pun sangat berkesan. Para finalis bisa melepaskan kepenatan dan kelelahan dengan menikmati kearifan lokal masyarakat Lombok. Para finalis pun bisa mensyukuri nikmat Tuhan berupa pesona Pantai Kuta Lombok nan eksotis dan estetis. Agenda lain yang tidak kalah menarik adalah ramah tamah para finalis dengan mengenakan baju adat masing-masing. Para finalis sejenak melupakan persaingan dengan tawa dan canda melalui panampilan nan menawan.

Setelah dilakukan penilaian, pengumuman pemenang ONG Dikmen 2018 pun diumumkan. Ust. J. Firman Sofyan, guru Bahasa Indonesia SMART Ekselensia Indonesia, belum berhasil menjadi pemenang dalam OGN Dikmen tahun ini. Kita doakan semoga Ust. J. Firman Sofyan atau guru-guru SMART lainnya bisa menjadi pemenang dalam OGN tahun-tahun berikutnya.

Jawa Barat akhirnya meraih dua medali, yakni medali emas untuk mata pelajaran Matematika dan medali perak untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Provinsi Jawa Tengah menjadi juara umum pada ajang OGN Dikmen tahun 2018.

Saatnya Pulang

Saatnya Pulang

Merdu-merdu sayup di telinga,

merah nyalang yang tak padam
menjadi baris kesekian,
untuk pulang untuk waktu,
tanpa lagu

Sebab waktu bukan lagu
yang dapat kau putar ulang,
ada yang hilang mereka bilang,
kata-kata di atas kertas tak lagi sumbang,
degup di jantung tak lagi rumpang,
nyawa di setiap napas tak lagi hilang,

“Karena kau datang”,

Bersama cerita di pintu senja
kita bermain kata,
satu, dua
lalu tertawa,

“Lalu apa?”

Kita bukan sekadar cerita-fiksi yang nyata,
karena mata sudah dapat berbicara:
aksara kita sama makna,

“Boleh aku masuk sekarang?”

—Di sini dingin

(Depok, 2017, Nadhif Putra Widiansah)

Mau Masuk Jurusan Ilmu Hukum? Wajib Baca Tulisan Alumni SMART Ini!

Mau Masuk Jurusan Ilmu Hukum? Wajib Baca Tulisan Alumni SMART Ini!

Oleh: Cecep Muhammad Saepul Islam,

Alumni SMART Angkatan 8, saat ini berkuliah di Universitas Padjajaran Jurusan Hukum

“Bukan politik yang kotor, melainkan orang-orang yang berada di dalamnya saja yang tidak bisa menjaga kemurnian politik”

Itu merupakan jawaban yang sering saya katakan kepada setiap orang yang meragukan saya untuk terjun ke dalam dunia politik. Mulai dari keluarga besar, teman-teman, guru BK, kepala sekolah semua meragukan saya. Tapi saya keukeuh untuk masuk politik. Lalu, kenapa sih saya ingin sekali masuk dunia politik? Oke semuanya akan saya jelaskan di sini.

Semua bermula saat usia saya menginjak 10 tahun, saat itu saya masih duduk di bangku kelas 5 SD. Saat di mana -saya rasa- itu merupakan masa untuk membentuk kepribadian dan masa depan. Saya yang sedang asik menikmati waktu libur panjang ditawari hal menarik  oleh ayah saya, seorang yang paling saya hormati.

“Cep, besok mau ikut kampanye partai gak? Lumayan sekalian bapak ajak jalan-jalan keliling Bandung”.  Tanpa pikir panjang aku menerima ajakan itu, bukan ajakan untuk kampanye yang membuat saya bersemangat, melainkan ajakan untuk jalan-jalan keliling Bandungnya. Yah, saat itu saya belum mengerti yang namanya politik.

Keesokan harinya setelah bangun tidur, saya langsung bergegas mandi. Ini hari yang paling saya tunggu. Bapak saya sudah bersiap dengan menggunakan kaos dengan gambar lambang salah satu partai politik di Indonesia. Tanpa saya minta, bapak memberikan satu kaos yang sama dan pastinya pas dengan ukuran badan saya. Kami pun berangkat dengan motor, aku yang dibonceng oleh bapak memegang bendera partai dengan semangat.

Belum juga melewati desa, motor yang ayah saya kemudikan tiba-tiba berhenti, ternyata sudah banyak orang yang menunggu dengan seragam yang sama dengan kami. Ini akan menjadi hari yang menyenangkan, keliling Bandung berbondong-bondong dengan orang yang baru saya kenal. Gumam saya dalam hati.

Setelah beberapa menit mendengar orang yang berpidato lewat pengeras suara, kami pun berangkat. Benar-benar di luar dugaan ku, perjalanan menuju pusat Kota Bandung sangat menyenangkan. Bunyi klakson terdengar bersaut-sautan, banyak bendera partai berkibaran, dan pastinya massa semakin banyak menyelimuti jalan raya. Banyak orang yang sedang berjalan di pinggir jalan raya berhenti sejenak untuk melihat kami, rasanya seperti penguasa jalan!!

Saking semangatnya hingga tak terasa bahwa kami sudah sampai di pusat Kota Bandung. Sudah ada ribuan orang dengan seragam dan atribut partai yang sama dengan kami menutupi lapangan. Dari kejauhan terlihat berdiri kokoh panggung megah yang nantinya akan dijadikan tempat orasi oleh partai tersebut. Nyanyian sudah terdengar samar-samar dari depan panggung. Saya turun dari motor dan menunggu bapak yang sedang memarkirkan motornya. Bapak memegang tanganku, “ Jangan jauh-jauh dari bapak, nanti kamu bisa berpisah dari bapak. Bahaya!” saya hanya menganggukkan kepala.

Kami mulai menuju kerumunan, benar-benar penuh sesak. Tapi entah mengapa, saya merasa menyukai suasana seperti ini, saya hanyut dalam acara. Banyak sekali acara yang diadakan oleh partai yang kami dukung. Salah satu hal yang membuat kami semakin bersemangat adalah ketika Iwan Fals menyanyikan lagunya, Wakil Rakyat. Semua ikut bernyanyi.

“Wakil rakyat seharusnya merakyat….Jangan tidur waktu sidang soal rakyat….Wakil Rakyat bukan paduan suara”. Semuanya hanyut dalam nyanyian.

Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 WIB, namun tanpa adanya aba-aba, hujan pun turun dengan derasnya. Saya kira semuanya akan berteduh, tapi tidak! Semuanya semakin bersemangat. Ada bendera merah putih ukuran yang berkibar di atas panggung utama. Ini luar biasa!!  Saya semakin terbawa suasana, bergoyang menikmati lagu-lagu yang terus dilantunkan oleh sang presiden masyarakat, Iwan Fals.

Saat sedang asik bergoyang, bapak menyuruh saya untuk ikut dengannya. Begitu juga dengan rombongan yang satu desa dengan saya. Kami akan siapa-siap untuk Salat Zuhur, setelah itu kami siap-siap untuk pulang. Diperjalanan pulang, suasana jalan masih ramai. Banyak rombongan yang memilih untuk pulang juga. Suasana masih ramai hingga kami tiba di desa kami.

Sesampainya di rumah saya mandi, bapak sudah menunggu di ruang tamu. Nampaknya ada yang ingin bapak sampaikan kepada saya.

“Cep sini. Ada yang ingin bapak sampaikan sama kamu”

“Iya pak,” saya duduk di depan bapak.

“Gimana tadi Cep? Serukan?”

“ Iya pak,” saya mengusap-ngusap tangan yang masih kedinginan.

“ Begitulah Cep dunia politik. Semuanya siap dilakukan asalkan kita bahagia. Banyak orang yang rela hujan-hujanan demi mendukung orang yang belum tentu akan membuat mereka bahagia. Tapi kita yang memilih itu percaya, bahwa yang kita pilih adalah yang terbaik”. Bapak berhenti sejenak dan meneguk kopi yang ada di depannya.”Memang banyak yang bilang politik itu kotor, banyak korupsi, terus banyak kejahatan-kejahatan. Tapi ingatlah bahwa orang-orang yang kotor itu bukanlah orang-orang yang mengerti politik. Mereka hanya penikmat”.

“Saya pengen masuk politik pak”. Entah mengapa, seketika saya sangat ingin masuk politik.

“Bapak sih dukung-dukung aja kamu masuk politik. Tapi ingat, kamu harus amanah sama orang-orang yang udah percaya sama kamu yang udah bela-belain hujan-hujanan demi dukung kamu. Jangan sampai kamu mengecewakan mereka dan kamu termasuk ke dalam orang-orang yang menjadi penikmat politik saja. Kamu jangan sampai korupsi dan melakukan hal-hal kotor lainnya. Kamu bisa banyak teman kalau hidup di dunia politik dan bukan teman baik saja yang bakalan kamu miliki, tapi kamu juga bakalan punya temen-temen yang kotor,” ujar bapak penuh kesungguhan.

Muhun pak, saya paham”

“Dan satu lagi, Kamu ubah nasib Negara ini. Kita semua kalangan bawah udah bosan dibohongin sama orang yang kita pilih”

Saat itulah keinginan saya untuk masuk dunia politik makin kuat, bukan untuk mencari kekayaan. Tapi saya sangat menyukai dunia politik. Dunia politik itu gak ada kata lelah dan pastinya bakalan punya banyak teman. Terserah kata orang mau bilang saya bakal korupsilah, bakalan sombonglah, bakan apalah. Tapi lihat saja nanti, siapa yang akan merubah negeri ini!.

Dan sekarang saya, Cecep Muhammad Saepul Islam, seorang anak desa telah menapakkan kakinya di Universitas Padjadjaran jurusan Ilmu Hukum. Insya Allah saya akan membalas semua keraguan yang datang pada saya dengan bukti nyata bahwa saya akan mengubah image politik yang dianggap kotor oleh kalangan masyarakat.

Lalu ada pertanyaan, “Lah kok jadinya masuk Ilmu hukum bukan Ilmu Politik atau Ilmu Pemerintahan? Karena Hukum merupakan atasan segala hal yang berkaitan dengan perpolitikan di dunia.

Angklung Gubrak, Silat Cimande, dan Pengawal Sejarah yang Memudar

Angklung Gubrak, Silat Cimande, dan Pengawal Sejarah yang Memudar

Oleh: Ridwan & Ismail

“Siswa tangguh yang ustaz banggakan?” teriakan Ustaz Ahmad Sucipto menggema di langit yang cerah pagi itu. Seluruh siswa kelas IX SMART Ekselensia Indonesia sedang mempersiapkan keberangkatan mereka untuk pergi ke Kampung Budaya Sindang Barang.

Empat puluh siswa begitu antusias untuk mengikuti kegiatan wisata sejarah hari itu. Bukan hanya siswa saja yang antusias mengikutinya, namun sopir angkot yang akan mengantarkan mereka juga merasakan yang sama. Mungkin karena keceriaan dan keriuhan para siswa tak bisa dibendung dari wajah-wajah mereka yang lugu.

Sebelum berangkat, para siswa dibekali dengan wejangan dari Kepala Sekolah, Ustaz July Siswanto, bahwa acara wisata sejarah tersebut jangan menjadi hiburan semata, tetapi juga untuk menanamkan nilai cinta budaya Indonesia. Tepat setelah acara pelepasan dan foto bersama, kegiatan eksplorasi budaya negeri pun resmi dimulai.

Penampilan Angklung Gubrak dari ibu-ibu yang mengenakan pakaian khas Sunda menjadi sambutan selamat datang bagi para siswa. Angklung Gubrak merupakan salah satu warisan budaya yang masih dilestarikan di Kampung Budaya Sindang Barang.

Sejak pertama kali memasuki kawasan Sindang Barang, para siswa langsung dapat melihat rumah-rumah adat yang ada di sana. Rumah-rumah adat tersebut mengandung banyak arti dari segi bentuk bangunan dan fungsinya. Setelah menyaksikan penampilan tersebut,  para siswa disambut oleh Pak Ukad yang merupakan pengurus dari kampung budaya Sindang Barang itu sendiri.

Pak Ukad langsung mengarahkan siswa menuju gazebo. Di sana, siswa diberi pengarahan tentang sejarah Kampung Budaya Sindang Barang dan beberapa benda tradisional yang ada di sana. Siswa juga disuguhi beberapa kesenian seperti Tari Jaipong dan Silat Cimande serta berkesempatan menikmati kegiatan-kegiatan khas di kampung budaya tersebut.

Setelah pengenalan singkat, siswa diajak berkeliling untuk dapat mengenal lebih dekat bangunan dan benda-benda yang ada disana. Banyak benda yang masih dilestarikan di kampung budaya Sindang Barang, di mana barang-barang tersebut sangat sulit untuk ditemukan di tempat lain. Salah satu momen yang berkesan di berbagai rangkaian kegiatan PDK-I adalah siswa diajarkan bermain angklung. Siswa diajak untuk lebih mengenal dan mampu memainkan alat musik tradisional Jawa Barat tersebut bahkan dipandu untuk memainkan beberapa lagu tradisional, salah satunya lagu Ampar-Ampar Pisang.

Setelah puas dengan mengenal budaya Sunda, rombonganpun mendirikan Salat Zuhur berjamaah. Setelah itu, acara yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba yaitu makan siang. Hari itu mereka mendapatkan jamuan spesial dengan menyantap makanan khas Sunda yang sudah disediakan oleh pihak Kampung Budaya Sindang Barang. Nasi, sayur asem, ayam goreng, sambal merah dan sambal ijo pedas, tahu-tempe, dan lalapan  sungguh sulit dilupakan kelezataannya ditambah suasana pedesaan sarat sejarah itu.

Setelah menyantap makan siang, siswa diajak pada acara pamungkas, yaitu belajar Silat Cimande yang dipimpin oleh Pak Ukad. Siswa pun mulai mempraktikan gerakan silat yang legendaris tersebut. Awalnya mereka cukup kesusahan, tapi karena mereka terus mencoba, beberapa dari mereka pun mulai dapat mempraktikkan dengan benar. Di ujung acara, Pak Ukad memberikan beberapa petuah tentang pentingnya menjaga budaya bangsa. Acara ditutup dengan foto bersama dengan latar belakang rumah-rumah adat sunda.

Kampung Budaya ini telah berhasil memberikan goresan di hati para siswa SMART Kelas IX. Kampung yang menjadi saksi nyata tegaknya budaya di tengah masyarakat zaman sekarang, khususnya para anak muda. Beruntung masih ada orang yang peduli mengawal budaya bangsa yang hampir memudar ini. Hari itu, mereka mendapatkan pelajaran yang berharga dalam perjalanan yang sederhana.

Sampai Berjumpa Kembali SMART, Angkatan X Akan Kembali Dengan Sukses di Tangan

 

Sampai Berjumpa Kembali SMART, Angkatan X Akan Kembali Dengan Sukses di Tangan

Pagi tadi udara Bogor lebih segar dari biasanya, mungkin karena hari ini merupakan hari besar untuk kami yang duduk di Kelas 5. Iya, hari ini kami resmi diwisuda. Sungguh kami tak menyangka bahwa waktu berlalu begitu cepat, rasanya seperti baru kemarin kami yang berasal dari daerah ini menapaki lantai-lantai asrama yang dingin, lalu tetiba sudah mau meninggalkan semuanya. Termasuk kenangan indah di asrama bersama teman seangkatan dan adik kelas lainnya.
Ada rasa sedih menyeruak dalam kalbu, namun kami tak dapat berbuat banyak karena memang sudah masanya dan sudah saatnya untuk pergi. Kalau kata selebgram “kudu bisa move on“, maka kami memilih untuk terus maju sebab cita kami telah menunggu.
SMART Ekselensia Indonesia Islamic Leadership Boarding School hari ini mewisuda  53 siswa terbaik yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Wisuda Angkatan X ini merupakan sebuah bentuk rasa syukur, sekaligus prosesi penanda tuntasnya seluruh proses pembinaan di bangku sekolah menengah dan mengantarkan ke pintu gerbang pendidikan tinggi. Kami telah bersiap sejak lepas Subuh, tak sabar menanti memakai toga penuh kebanggaan.
Wisuda tahun ini mengangkat tema “Membentang Kebaikan, Mencetak Pemimpin Masa Depan Gemilang”, sebuah tema pengingat akan kiprah Sekolah Pemimpin SMART Ekselensia Indonesia selama 14 tahun dalam membina dan mendidik kami, anak-anak Indonesia, untuk menjadi calon pemimpin bangsa yang berkontribusi di masa yang akan datang.
Berdiri sejak 2004, SMART telah terakreditasi A dan bersertifikat ISO 9001:2015.  Setiap tahunnya SMART berhasil mengantarkan lebih dari 90 persen anak didiknya ke Perguruan  Tinggi Negeri (PTN) terakreditasi A. Tahun ini, sebanyak 16 teman kami telah lolos dan diterima di PTN terbaik Indonesia melalui jalur SNMPTN 2018. Kami sangat senang melihat mereka bisa masuk PTN yang mereka inginkan, sekarang tugas kami untuk berjuang melanjutkan pendidikan mereka melalui jalur ujian tulis Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2018.
Kami tak akan menyerah, kami akan terus berjuang hingga semua cita dan semua mimpi terwujud. Terima kasih kepada para guru hebat di SMART yang telah membina dan membimbing kami selama lima tahun terakhir, kami tak akan pernah lupa jasa bapak dan ibu sekalian. (AR)

Nyesek! Gak Lolos SNMPTN!

Nyesek! Gak Lolos SNMPTN!

Oleh: Johan FJR

Angkatan 7 saat ini berkuliah Universitas Gajah Mada jurusan Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (PSdK).

Tak pernah terbayang dalam hidupku, seorang perantauan di Bogor yang tinggal di asrama, ditolak kampus sekelas UI. Yap, aku dari dulu memang mengidamankan UI.

Kampus yang punya segudang fasilitas, dan almamater serba kuning ini telah memikat hatiku. Aku dan Ahfie Rofi, sahabat Sunda-Cinaku, menargetkan UI dari berbagai seleksi masuk kampus yang ada. Terhitung sudah ada 3 jenis seleksi yang kami coba: SNMPTN, SBMPTN, dan SIMAK UI. Dan Alhamdulillah semua ditolak mentah-mentah sama kampus serba ‘wah’ itu.

Entah kenapa kami yang memang sedari SMP sudah bersahabat, ternyata berlanjut sampai kuliah. Beruntung kami ditolak di UI, tapi masih diterima di UGM, dan masih bersama hehehe. Mungkin memang takdir persahabatan kami tak berlanjut di UI.

Aku sudah mencoba segala cara agar bisa masuk UI. Di SNMPTN, aku pilih Ilmu Komunikasi, Kesejahteraan Sosial, dan Arkeologi UI. Di SIMAK UI, aku pilih Ilmu Komunikasi, Kesejahteraan Sosial, dan Kriminologi. Tapi takdirku justru hadir di pilihan kedua SBMPTN. Berbrda dengan Rofi yang selalu mencantumkan Sastra Arab (Sasbar) ditiap pilihannya.

***

Sore itu gerimis mengguyur Parung, gemericiknya runut membentuk notasi begitu menyentuh aspal. Aroma tanah basah menyeruak, hidung-hidung kami bisa dengan jelas merasakannya dan semburat sinar matahari berusaha menembus awan, memberikan secercah cahayanya untuk aku yang sedang menelpon ibu di balkon barat lantai 4.

“Gantian woi!”

Aku melangkah gontai, resah menunggu pengumuman SNMPTN. Tanganku meraih modul bimbel di atas lemari. Ya, ini buku ‘sakti’ terakhirku. Aku ogah keluar banyak cuma buat beli buku-buku SBMPTN seperti teman-teman yang lain, buku-buku itu pada akhirnya tak berguna karena aku lebih suka liat kunci jawaban langsung atau sekadar ke warnet buat menjajal simulasi daring UN, aku tak mau buang-buang uang.

Keesokan harinya datang juga hari yang kutunggu, hari di mana pengumuman penerimaan via SNMPTN diumumkan. Seharusnya hasil SNMPTN sudah diumumkan pukul 09.00 WIB di TOA sekolah, tapi ternyata belum ada juga. Walau punya nilai rapor yang gak jelek-jelek amat, seuprit prestasi, juga rekam jejak yang gak neko-neko di sekolah, namun hari itu aku gusar. Aku membayangkan kalau aku diterima di UI lewat SNMPTN pasti mengasyikan sekali, membayangkan memakai jaket kuning saja membuat hati ini berdebar. Belum lagi kampusnya lengkap, berangkat kuliah bisa naik kereta, kalau ngekos dekat-dekat situ bisa berangkat kuliah naik sepeda, dan yang jelas bisa naik bis kuning yang hits itu. Aku sudah merencanakan apa saja yang mau aku lakukan di UI. Ikut lomba ini-itu, ikutan di BEM, nge-gym, tinggal di asrama, ngekos di Pocin, banyak! Bahkan aku juga sudah memutuskan kerja apa di Margonda nanti.

Karena tak kunjung ada juga pengumuman lewat TOA, aku mengajak Rofi untuk bertanya langsung ke guru di ruang BK. Aku yakin, di sana guru BK kami pasti sedang mengotak-atik data.

Dari asrama lantai 4, kami melewati wisma guru di lantai 2, dan anak-anak yang sukanya menyaksikan ISL kalau sore di kantin lantai dasar. Asrama kami memang satu komplek dengan sekolah, dalam tiga menit sampailah kami di sekolah dan langsung berpapasan sama bu Ana dan bu Uci.

“Assalamualaikum bu, hasilnya udah keluar belom?”

“Udah, ini bentar lagi ibu mau umumin.”

Aku sama Rofi mempersilakan bu Ana dan bu Uci masuk ke ruang TOA. Ding dang ding dung bunyi TOA yang kami kenal mulai mengudara. Ada suara berdehem, sejurus kemudian pengumuman pun terpampang nyata!

“Assalamualaikum. Hari ini telah didapatkan 11 mahasiswa … blablabla … melalui jalur SNMPTN. Ustadzah ucapkan selamat kepada …”

Jantungku deg-degan BANGET! Rofi menunduk sambil memasukkan tangannya ke saku jaket angkatan kami. Aku menahan napas, berusaha fokus mendengarkan pengumuman beliau.

“ … Karunia Adiyuda Dilaga, diterima di blablablabla. Muhammad Zulkifli, diterima di blablablabla … ”

Perasaanku mulai gak karuan ketika nama kedelapan disebutkan. Apakah nama kami ada di sana?

“ … Yodie Ikhwana, diterima di blablablabla. Dan Juniar Tirja Pratama Gamgulu, diterima di blablablabla … ”

… nama kesebelas pun terucap. Namaku gak ada. NAMAKU GAK ADA! NAMAKU GAK ADA!

“NAMA AKU GAK ADA FI!” “GAK ADA!” “GAK ADAAAK!” Panik kugoyang-goyangkan bahu Rofi yang kecil. Tremor sudah!

“NAMAKU JUGA!” ujar Rofi

Nyesek dan bertanya-tanya, ‘Masa sih nama kami nggak ada?

Kami berdua mengerubungi Bu Ana, disusul beberapa anak yang baru datang dari asrama. Beliau memberikan selebaran lembar ketikan. Dan benar, nama kami tidak ada. Tanganku lemas sembari membalikan kertas tadi ke pangkuan Bu Ana. Aku diam. Aku gak nyangka, kami berdua gak diterima lewat jalur undangan. Kami berdua pasrah. Hujan deras pun mengguyur kala itu.

***

Kami berdua melangkah lemas, mewek dikit, dan menghindari kerumunan massa. Kami menghindari tangga barat di mana anak-anak sedang nonton teve, takut banyak yang menanyakan kondisi kami akhirnya kami memutar ke tangga timur. Suara jeritan anak-anak yang diterima SNMPTN menggema sampai ke lantai dasar. Gemanya terus terngiang di pikiran kami berdua. NYESEK bro! Aku dan Rofi cuma duduk-duduk di tangga bawah. Merenung dan sedikit bersedih. Gak disangka ternyata kami berdua memang kurang memenuhi persyaratan SNMPTN. Aku sendiri menyadari kalau nilai Ekonomiku anjlok sejadi-jadinya. Tapi masih lebih beruntung dari Rofi yang anjlok sana-sini, hehehe.

Rasanya nyesegh dan pengin maki-maki diri sendiri, ‘Kenapa ya aku gak belajar serajin-rajinnya, atau ibadah 24×7 gitu.’ Dalam kondisi ini, kayaknya aku jadi lebih dekat sama Tuhan, mencurahkan segala isi hati, segala gusar, dan berusaha menenangkan diri dengan baca Quran. Ya, aku yang sebelumnya lemas gegara tak lolos di SNMPTN, makin terpacu karena aku berpikir, “Tuhan mungkin gak memuluskan jalan aku lewat SNMPTN karena menurut-Nya, jalur itu terlalu mudah buat aku. Maka, Ia mencoba menguji kemampuan dan kesabaran aku melalui SBMPTN”.

***

Pada akhirnya kelas bimbel di sekolahku dimulai kembali kala itu. Di dalam kelas wajah-wajah lesu nampak mewarnai kelas yang dimulai pukul 6 dan berakhir jam 7 pagi tersebut, berulang kali guruku bilang, “Kalian sebenarnya jauh lebih beruntung, karena yang diterima di SNMPTN HARUS mengambil apa yang mereka pilih agar sekolah tidak di blacklist. Jadi, kalian yang lewat SBMPTN bisa memilih jurusan kalo cocok ato enggak”. Wah, iya juga. Misalnya si Udin memilih Keperawatan. Entah dia milihnya serius atau enggak, pastinya dia harus ambil dong biar sekolahnya nggak di blacklist kampus itu, hehehe. Aku pun jadi lebih bersemangat dan lebih serius untuk memilih jurusan yang kumau.

Jujur, aku sendiri bingung BANGET untuk memilih jurusan apa.

Terhitung ada ratusan jurusan yang tersedia di kampus. Ketika pembagian jurusan IPA-IPS, maka bisa dibilang berkuranglah jumlahnya. Tapi ketika SBMPTN hanya dikasih 3 kesempatan pilihan, aku kudu banting setir putar otak lompat-lompat sambil lirik-lirik jurusan mana yang prospeknya bagus (ke depannya), juga pastinya santai pas kuliah (#AkuBanget). Setelah melihat profil masing-masing jurusan, cek prospek kerja dan tanya ke alumni sana-sini, aku jatuh hati pada tiga pilihan besar berikut:

  1. Ilmu Komunikasi UI

    Yap, aku suka banget sama dunia jurnalistik dan Ilmu Komunikasi. Menurutku keduanya memiliki keterkaitan dengan hobiku. Selain kampusnya yang udah jelas eksklusif dan kondusif, letak UI yang di Depok strategis buatku jika hendak melancong ke mana-mana: Jakarta, Bogor, Bandung bahkan Singapura.

    2. Sosiatri UGM

    Aku gak tahu sebelumnya kalau jurusan yang getol banget memerhatikan masalah sosial, kebijakan pemerintah, dan dunia perpolitikan ini ternyata sudah berganti nama menjadi Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan. Jurusan ajaib yang mempelajari 3 jurusan (Manajemen Kebijakan Publik, Sosiologi, dan Politik Pemerintahan) sekaligus ini ternyata mempunyai prospek cerah karena banyak perusahaan yang membutuhkan CSR dari lulusan ini. Dan, banyak yang langsung diterima usai wisuda dari sini, hehe.

    3. Jurnalistik Unpad

    Jurnalistik Unpad menjadi jurusan cadangan kalau kalau aku gak diterima di Ilkom UI. Sayangnya aku gak diterima di jurusan yang baru dibuka pada 2015 ini. Tapi mengapa, toh tiap kampus pasti ada pers mahasiswanya (persma).

***

Setelah banting gayung untuk buru-buru mandi mengikuti bimbel pagi, tarik sarung setiap pukul 03.00 WIB, juga belajar sehidup-semati, Alhamdulillah aku diterima di Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (PSdK) UGM. Yap, hidup baruku mulai diukir di kampus ini, kampus kerakyatan. Akan seperti apa? Aku juga tak tahu. Yang jelas untuk adik-adik kelasku jangan menyerah, belajar yang rajin kalau memang kalian ingin masuk ke jurusan favorit di kampus favorit. Yang jelas (lagi) mau SNMPTN atau SBNMPTN, kelak kamu akan jadi maba yang membawa nama SMART dikancah dunia perkuliahan, jaga baik-baik ya.