Sebuah Perjuangan Menggapai Mimpi yang Harus Kamu Tahu

Oleh : Amma Muliya Romadoni

Kandidat Master Thermal-Fluid Engineering ITB

 

Lahir dan dibesarkan di Jakarta, tidak serta merta membuat saya menjadi terlena dengan segala kegemerlapan ibukota. Segala sesuatu harus diperjuangkan dan diperlukan kegigihan untuk mencapai tujuan hidup. Seluruh nikmat yang diperoleh patut disyukuri, salah satunya mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan jenjang sekolah menengah di Bogor. Untuk bisa bersekolah di SMART Ekselensia Indonesia tidak perlu mengeluarkan biaya sepeserpun. Sekolah berasrama bertaraf internasional, akselerasi SMP-SMA hanya ditempuh 5 tahun, dan diperuntukan bagi anak-anak berprestasi dari seluruh Indonesia yang memiliki keterbatasan finansial. Sekolah ini pertama kali dirintis pada tahun 2004 sebagai salah satu program Dompet Dhuafa dalam bidang pendidikan. Saya adalah angkatan pertama Smart Ekselensia Indonesia.

Bagi saya, Jakarta dan Bogor sangatlah jauh karena harus terpisah dari orangtua untuk menjalani kehidupan sebagai seorang siswa berasrama layaknya tinggal di pesantren. Kondisi seperti ini harus bisa dilewati agar bisa beradaptasi dengan mudah terhadap lingkungan dan keluarga baru. SMART Ekselensia Indonesia, sebagai sekolah unggulan diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang berkarakter dan berdaya saing global. Terbukti dari prestasi yang telah ditorehkan baik perlombaan tingkat nasional dan internasional. Misalnya Olimpiade Sains Nasional (OSN) dan lainnya.

Kombinasi antara keilmuan dan spiritualitas menjadi ciri khas sekolah ini. Pelajaran Bahasa Arab dan Al-Quran menjadi pembeda sekaligus menjadi ruh dari sekolah SMART Ekselensia Indonesia ini. Selain itu pelajaran umum lainn­ya diajarkan berdasarkan kurikulum pendidikan di Indonesia. Saya adalah salah satu siswa yang berhasil menjadi Finalis Indonesian Science Project Olympiad (ISPO), serta menjuarai perlombaan Karya Ilmiah lain yang diadakan di wilayah Bogor dan sekitarnya. Selain itu, terpilih menjadi asisten pada mata pelajaran Al-Quran merupakan sebuah kebanggaan tersendiri, disamping prestasi akademik lainnya. Dekat dengan Al-Quran akan membuat segala aktivitas duniawi terasa lebih mudah untuk dijalani. Hal ini dikarenakan keberkahan yang ada pada Al-Quran. Walhasil, Alhamdulillah saya lulus dari SMART Ekselensia Indonesia berbekal 4 Juz hafalan Al-Quran.

Setelah menjadi alumni SMART Ekselensia Indonesia, saya melanjutkan studi di Teknik Mesin Universitas Sumatera Utara (USU) melalui jalur Ujian Masuk Bersama (UMB). Awalnya, diterimanya sebagai mahasiswa USU tidak mendapatkan restu dari orangtua, karena lagi-lagi harus terpisah jarak dengan orangtua di Jakarta. Akan tetapi, saya memberikan pemahaman kepada orangtua bahwa ini merupakan sebuah proses yang harus dijalani. Allah telah menentukan pilihan terbaik bagi hamba Nya, hanya saja sebagai seorang hamba, kita tidak pernah tahu rahasia apa yang akan Allah berikan pada kita. Dengan bermodalkan ilmu dan kegigihan untuk belajar, saya beranikan diri untuk berangkat ke Medan bersama beberapa teman lainnya. Kultur yang berbeda, mengharuskan saya untuk selalu sigap dalam beradaptasi selama menjalani kehidupan di Medan. Ada anggapan bahwa masyarakat Medan keras dalam berbicara, tapi bagi saya itulah ciri khas yang dimiliki kota Medan. Disinilah saya berproses dan belajar banyak hal yang baru. Banyak hal yang bisa diperoleh dari kota yang terkenal dengan oleh-oleh “Bika Ambonnya” ini.

Layaknya seperti mahasiswa lainnya, perkuliahan terasa belum sempurna tanpa diisi dengan aktivitas organisasi untuk meng-upgrade kemampuan softskill. Tercatat selama menjadi mahasiswa di USU, saya pernah diamanahkan untuk memimpin beberapa organisasi, baik organisasi kerohanian, Unit Kegiatan Mahasiswa, ataupun Riset Mahasiswa. Klimaksnya, ketika saya bersama teman-teman Tim Horas USU lainnya bisa membanggakan Indonesia di kancah Internasional pada perlombaan mobil hemat energi, Shell Eco-marathon Asia 2014. Bagi saya, menimba ilmu bukan hanya duduk dan mendengarkan dosen berbicara memaparkan materi yang dijelaskannya. Banyak hal di luar sana yang bisa diambil untuk dijadikan ilmu, hanya saja kita harus cerdas untuk memilah-milih ilmu tersebut sehingga sesuai dengan kebutuhan. Janganlah terlalu menghabiskan waktu untuk hal yang kurang bermanfaat. “Waktu adalah pedang”. Maka gunakan waktu dengan bijak untuk memperoleh kebermanfaatan. Kemampuan berwirausaha juga sangat dibutuhkan bagi seorang mahasiswa. Selain pernah mendapatkan bantuan wirausaha dari Student Enterpreneurship Center (SEC) USU, pada akhir semester saya juga membuat sebuah lembaga training khusus Engineering Software untuk mengasah skill technopreneurship.

Fitrah sebagai seorang manusia, kita tidak akan pernah merasa puas terhadap ilmu. Setelah menyandang gelar sarjana, Alhamdulillah Allah mengizinkan saya untuk melanjutkan ke jenjang master melalui program beasiswa LPDP dari Kementrian Keuangan RI. Setelah Jakarta, Bogor, dan Medan, maka Bandung merupakan destinasi selanjutnya untuk tempat menimba ilmu. Tentunya setiap tempat memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri yang harus diambil hikmah kehidupannya. Thermal-Fluid Engineering Institut Teknologi Bandung (ITB) merupakan rumah baru saya untuk menimba ilmu selama di Bandung. Saya harus siap untuk memulai petualangan baru menjalani kehidupan di Bandung. Karena target saya berikutnya adalah menyelesaikan perkuliahan dengan hasil yang memuaskan dan menuntaskan hafalan 30 Juz yang merupakan cita-cita sejak dulu. Semoga harapan itu bisa terwujud. Aamiin..

Kusuka Jadi Anak IPS

Oleh: Reza Bagus Yustriawan
Alumni SMART Ekselensia Indonesia Angkatan IX, Mahasiswa Sosiatri FISIP UGM 2017

Anak IPS? Apa yang terlintas di benakmu saat mendengar kata IPS? Nakal? Suka tawuran? Kumpulan begundal? Kalau ya, berarti pikiranmu sudah terkontaminasi dengan “pepatah”  orangtua zaman dulu. Memang, kata siapa semua anak IPS itu begundal? Anak IPS itu seharusnya dihormati tahu, karena anak IPS gemar melestarikan budaya Indonesia melalui beragam ilmu sosial yang diajarkan para guru tercinta.

Namun, suka duka sebagai anak IPS yaa banyak juga sih, diantaranya, dicap kalau mereka yang masuk jurusan IPS itu tak elok dan akan sulit mencari pekerjaan di masa depan. Padahal nih yaa, tanpa kehadiran anak IPS, mungkin anak cucu kita tak akan tahu Tari Saman asal Aceh, Kujang, Rencong, Sejarah Indonesia, bahkan sejarah aku dan dia. Ini bercanda hehe.

Walau begitu, ada enaknya juga jadi anak IPS, misalnya, tak perlu berurusan dengan angka-angka ajaib, tak perlu mencari bilangan-bilangan rumit, dan tak perlu berpikir terlalu banyak (maksudnya tak perlu berurusan dengan kimia, matematika, fisika, dan pelajaran eksakta lainnya). Jadi, kalau belajar yaa gitu-gitu aja, enak, nyantai, nggak perlu kalkulator, nggak perlu ngitung-ngitung pergerakan setiap benda di bumi. Palingan ngitung-ngitung cuma dipake sekali-kali­—misal di kantin, ngitung utang—.

Hayoo… Ngaku…

Kalau nggak enaknya jadi Anak IPS juga banyak, salah satu yang paling bikin kesal itu kita harus ngapalin nama-nama orang luar yang nggak jelas. Ada juga tanggal-tanggal. Boro-boro nginget tanggal lahir orang, tanggal lahir orangtua aja nggak tau, ya nggak? Ngaku! Sedangkan, tanggal peristiwa kesaktian aku saja, aku nggak inget, apalagi hari Kesaktian Pancasila??

Jangan dikira jadi anak IPS itu nggak ribet. Mungkin selama ini banyak yang bilang kalau yang ribet itu cuma anak IPA doang, harus bawa termometer lah, labu melerleyer lah, spiritus lah. Eh! Jangan salah! Anak IPS juga ribet, malah lebih ribet, disuruh bawa peta lah, buat peta lah, menggali fosil lah, buat peta sambil menggali fosil lah, berkomunikasi dengan manusia-manusia purba lah. Ribetan mana hayo??

Yaa, ribet dua-duanya lah.

Aku sebenarnya agak resah, soalnya IPS di Indonesia dianggap tempatnya anak-anak buangan.

Aku nggak setuju!!

Pertama, karena aku juga anak IPS. Kedua, yaitu kalau nggak ada IPS nggak ada psikolog, kalau nggak ada psikolog nggak ada yang bisa nolongin orang stres, kalau terlalu banyak orang stres semua jadi stres, kalau semua orang stres entar mati. Wahhh!!! Kalau nggak ada anak IPS ujung-ujungnya nyawa semua orang mati. Ngeri banget kan akibatnya??

*Ngaco

Ramadan Bulannya Al-Quran, Yuk Kita Utamakan!

 

Sob seperti yang telah kamu ketahui kalau Al-Quran memiliki peranan penting dalam hidup manusia. Di dalam Al-Quran tertera berbagai keajaiban alam hingga kegiatan muamalah  yang sangat pas serta relevan dengan kehidupan kita hingga saat ini, padahal Al-Quran telah ada di Bumi sejak ribuan tahun silam lho. Luar biasa sekali kan? Tak mengherankan jika Al-Quran memang pas dijadikan pedoman bagi kita semua.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda:

اقرأوا القرآن فإنه يأتي يوم القيامة شفيعا لأصحابه

“Bacalah Al Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai syafa’at bagi Shahibul Qur’an” – (HR. Muslim  804)

Selain dipelajari, ternyata Al-Quran juga bagus bila kita menghapalnya. Para penghapal Al-Quran biasa disebut dengan Shahibul Qur’an, Sob, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani pernah berkata bahwasanya Shahibul Qur’an adalah orang yang menghafalkan Quran di hati, hal itu didasarkan atas sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

يؤم القوم أقرؤهم لكتاب الله

“Hendaknya yang mengimami sebuah kaum adalah yang paling aqra’ (paling hafal) terhadap kitabullah”

Lalu apakah kamu tahu kalau banyaaak sekali keutamaan menghafal Al-Quran diantaranya:.

  • Mendapatkan ridho Allah swt.
  • Quran akan menjadi penolong (syafaat) bagi penghafalnya
  • Akan menjadi benteng dan perisai hidup
  • Pedoman dalam menjalankan kehidupan
  • Kebaikan dan berkah bagi penghafalnya
  • Rasulullah sering mengutamakan yang hafalannya lebih banyak (Mendapat tasyrif nabawi)
  • Para ahli Quran adalah keluarga Allah yang berjalan di atas bumi
  • “Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahli Al Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya.” (HR. Ahmad)
  • Dipakaikan mahkota dari cahaya di hari kiamat yang cahayanya seperti cahaya matahari
  • Kedua orang tuanya dipakaikan jubah kemuliaan yang tak dapat ditukarkan dengan dunia dan seisinya
  • Kedudukannya di akhir ayat yang dia baca
  • Tiap satu huruf adalah satu hasanah hingga 10 hasanah

Setelah mengetahui keutamaann menghafal Al-Quran, maka kamu harus mengerahui kalau derajat surga yang didapatkan seseorang itu tergantung pada banyak hafalan Al Qur’annya di dunia, bukan pada banyak bacaannya, sebagaimana disangka oleh sebagian orang. Maka di sini kita ketahui keutamaan yang besar bagi pada penghafal Al Qur’an. Namun dengan syarat ia menghafalkan Al Qur’an untuk mengharap wajah Allah tabaaraka wa ta’ala, bukan untuk tujuan dunia atau harta” (Silsilah Ash Shahihah, 5/281).

Nah Dompet Dhuafa Pendidikan sebagai lembaga yang peduli dengan pendidikan anak negeri serta turut serta mencetak para penghafal muda Al-Qur’an melalui program-program pendidikannya akan meluncurkan program Ekselensia Tahfidz School yang segera diresmikan dalam waktu dekat.

Kami mengajak kamu semua untuk ikut berinvestasi untuk masa depan Indonesia dengan bersedekah untuk program-program Dompet Dhuafa Pendidikan.

Amalan Cerdas Ini Pas Kamu Terapkan di Bulan Ramadan

 

Sob pernahkah kamu merasa banyak sekali melakukan kesalahan yang berujung pada dosa? Lalu apa yang kamu lakukan untuk menghilangkan dan meminimalisasi perasaan tersebut? Kalau kami biasanya banyak-banyak membaca Qur’an, karena kami tahu ketika membaca Quran kami akan mendapatkan pahala dan kebaikan dari kemuliaannya. Selain itu kami juga berusaha mencari amalan cerdas. Amalan cerdas? Apa itu? Jadi Sob amalan cerdas ialah amalan yang pahalanya bisa mengalir sampai  kita meninggal dunia. Nah kalau menurut Ustaz Adi Hidayat, LC amalan ini biasa disebut dengan Shodaqoh Jariyah.

“Ketika kita punya uang Rp 100.000. Bagaimana caranya agar uang Rp 100.000 tersebut awet sampai ke akhirat? Caranya, cari amalan cerdas. Misalnya belikan mushaf berikan ke penghafal Al-Qur’an. Begitu dibacakan Al-Qur’annya, kita dapat pahalanya,” lanjutnya.

Seperti sabda Rasulullah saw., “Dari Anas Radhiyallahu anhu , beliau mengatakan, ” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ada tujuh hal yang pahalanya akan tetap mengalir bagi seorang hamba padahal dia sudah terbaring dalam kuburnya setelah wafatnya (yaitu): Orang yang yang mengajarkan suatu ilmu, mengalirkan sungai, menggali sumur, menanamkan kurma, membangun masjid, mewariskan mushaf atau meninggalkan anak yang memohonkan ampun buatnya setelah dia meninggal”. Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bazzar dalam Kasyful Astâr, halaman 149. hadis ini dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam shahihul Jami’ no. 3602

Salah satu nikmat besar Allah yang diberikan kepada hamba-Nya adalah menyediakan pintu-pintu kebaikan yang sangat banyak. Pintu-pintu kebaikan tersebut diberikan bagi mereka yang mendapat taufik dan hidayah semasa hidupnya, dan pahalanya akan mengalir ketika mereka meninggal. Karena orang yang sudah meninggal itu mereka tidak bisa lagi beramal dan mereka akan diminta pertanggunjawaban lalu diberi balasan dari perbuatan-perbuatan yang pernah mereka lakukan dalam hidup mereka.

Dengan memperbanyak amalan-amalan jariah, maka sebenarnya kita sedang menanam benih-benih pahala yang buahnya akan dipanen ketika seseorang sudah tidak berada di dunia lho Sob. Selama amalan kita bermanfaat bagi orang lain di dunia, maka pahala-pahala kita akan terus mengalir di akhirat kelak.

Semoga Allah Azza wa Jalla menghapus dosa-dosa kita dari pahala-pahala kebaikan yang kita lakukan dan senantiasa memberikan kita kesempatan untuk selalu berbuat kebaikan ya Sob.

Pemuda dan Inspirasi Ramadan Kala Sunyi

Oleh: Purwoudiutomo, GM Beastudi Indonesia

Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki pemuda” (Tan Malaka)

April 1993, surat kabar Republika yang baru berusia 3 bulan melakukan promosi di Stadion Kridosono, Yogyakarta. Ketika acara ramah tamah di Restoran Bambu Kuning, rombongan Republika bertemu sekelompok da’i muda yang tergabung dalam Corps Dakwah Pedesaan (CDP). Mereka adalah da’i sekaligus guru dan pemberdaya masyarakat yang berkiprah di daerah miskin Gunung Kidul yang saat itu tengah dilanda kekeringan dan kelaparan. Sebagai aktivis sosial, anggota CDP ini hanya digaji Rp. 6000.- per bulan. Gaji mereka berasal dari sumbangan para mahasiswa dari berbagai kampus di Yogyakarta. Singkat cerita, peristiwa tersebut menginspirasi lahirnya sebuah rubrik di Harian Umum Republika yang bertajuk Dompet Dhuafa pada 2 Juli 1993. Dompet Dhuafa kemudian terus berkembang menjadi salah satu Lembaga Amil Zakat tingkat nasional terbesar di Indonesia dengan puluhan kantor cabang dan perwakilan di dalam dan luar negeri. Sejarah kemudian mencatat nama Parni Hadi, Haidar Bagir, Sinansari Ecip, dan Erie Sudewo sebagai pendiri Yayasan Dompet Dhuafa Republika. Sejarah juga mencatat nama Ustadz Umar Sanusi dan (alm.) Ustadz Jalal Mukhsin sebagai pegiat Corps Dakwah Pedesaan. Namun sejarah luput mencatat, siapa saja mahasiswa yang telah menginspirasi rombongan Republika kala itu dengan menyisihkan uang saku mereka untuk menggaji anggota CDP. Ya, mereka adalah para pemuda yang menginspirasi dalam sunyi.

Pemuda ada di masa puncak idealisme. Kematangan secara fisik yang belum disertai kesempurnaan kematangan emosional justru membuat para pemuda menjadi sosok pemberani yang memegang teguh prinsip yang diyakininya. Itulah yang dilakukan oleh Tamlikha, Maksalmina, Martunis, Nainunis, Sarbunis, Falyastatnunis dan Dzununis yang memilih mengasingkan diri dalam sebuah gua untuk mempertahankan akidahnya. Setelah ditidurkan selama tiga ratus (ditambah sembilan) tahun dan bertemu kembali dengan masyarakat yang sudah silih berganti generasi dan sudah beriman kepada Allah SWT, alih-alih menjadi saksi hidup sejarah masa lalu mereka justru memohon agar Allah SWT mencabut nyawa mereka tanpa sepengetahuan orang lain. Idealisme orientasinya adalah terwujudnya cita-cita, bukan ketenaran. Bahkan nama-nama mereka pun kurang familiar dibandingkan dengan inspirasi sejarah oleh para pemuda yang bergelar Ashabul Kahfi. “…Sesungguhnya mereka itu orang-orang muda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahi mereka dengan hidayah dan petunjuk. Dan Kami kuatkan hati mereka (dengan kesabaran dan keberanian)…” (QS. Al Kahfi: 13 – 14).

Memperjuangkan sebuah idealisme tentu diwarnai berbagai tantangan yang menghadang. Pengorbanan adalah konsekuensi dari sebuah perjuangan. Dalam Al Qur’an Surah Al Buruj dikisahkan mengenai ashabul ukhdud,  kaum terlaknat yang menggali parit berisi api dan melempar semua orang yang beriman kepada Allah SWT ke dalam parit api tersebut. Kisah lengkap ashabul ukhdud dimuat dalam sebuah hadits panjang yang diriwayatkan Imam Muslim. Berkisah tentang seorang pemuda beriman yang dikaruniai keahlian pengobatan dan kemustajaban do’a. Kematiannya justru menancapkan iman yang mendalam kepada masyarakat yang menyaksikan pembunuhannya. Pun keimanan tersebut membuat mereka dilemparkan ke dalam parit api. Mereka menemui ajal dengan mendapatkan keridhaan Allah. Dalam hadits panjang tersebut, si pemuda hanya disebut ghulam yang berarti anak muda. Tidak dikenal namanya tidaklah mengurangi inspirasi mengenai keistiqomahan dan pengorbanan yang dicontohkan.

Semangat pemuda adalah semangat berjuang dan berkarya. Nothing to lose. Benar ataupun salah akan jadi pembelajaran hidup. Cenderung spontan dan agak kurang pikir panjang, tapi karenanya justru menjadi perjuangan yang penuh ketulusan dan keikhlashan. Jika di-list, akan panjang sekali daftar tokoh kunci pemuda inspiratif yang tak terlalu dikenal sejarah. Sebutlah Soegondo Djojopuspito, Ketua Panitia Kongres Pemuda II tahun 1928 yang menjadi titik tolak gerakan pemuda di Indonesia. Belum digelari pahlawan nasional, kalah tenar jika dibandingkan W.R. Supratman, misalnya. Padahal posisi sebagai Ketua Panitia saat itu sangatlah berisiko dan memberikan andil signifikan dalam keberlangsungan Kongres Pemuda. Atau sebut saja Wikana yang mendesak Soekarno memproklamasikan Indonesia, Frans Mendur yang mendokumentasikan detik-detik proklamasi, Shodanco Singgih yang ‘menculik’ Soekarno – Hatta ke Rengasdengklok atau Kusno Wibowo yang merobek warna biru pada bendera bendara yang berkibar di Hotel Yamato. Karena ketercapaian cita-cita adalah yang utama dibandingkan dikenalnya nama, para pemuda idealis ini tidak ambil pusing bagaimana catatan sejarah akan menempatkan mereka. Ya, sejarah juga alpa mencatat siapa mahasiswa yang pertama kali menduduki gedung MPR/ DPR dalam artian yang sebenarnya pada tahun 1998. Karena bukan disitu esensi perjuangan mereka.

Namun roda zaman terus berputar, era pengetahuan dan informasi seakan menuntut semua pihak untuk menunjukkan eksistensi. Para pemuda yang tadinya asyik menginspirasi dalam sunyi kini tak ketinggalan menjadi garda terdepan unjuk eksistensi. Berbagai macam kanal kontribusi digagas, bisa berupa kegiatan, program, gerakan, atau bahkan aplikasi di dunia maya. Iklim kompetisi ditambah motivasi untuk unjuk gigi mewarnai dinamika kontribusi pemuda. Menjadi sulit menyamakan isu dan gerak langkah kontribusi pemuda. Yang memang tidak lagi didesain untuk disatukan. Belum lagi semakin banyak pemuda yang kehilangan jati diri sehingga eksistensi menjadi orientasi, tak lagi memperjuangkan cita dan visi bersama. Kontribusi harus dalam ramai agar bisa menginspirasi. Bagaimanapun harus ada keuntungan yang diperoleh dari setiap karya dan kontribusi. Lebih miris lagi mendapati semakin banyaknya pemuda apatis yang tak peduli. Tingginya kompetisi diyakininya sebagai sebuah tanda untuk hidup ‘mandiri’, hidup untuk diri sendiri, hidup dalam dunianya sendiri. Bagi mereka, karya tidak perlu dibagi, cukuplah untuk menginspirasi diri sendiri.

Akan tetapi, yang namanya roda akan kembali ke titik awal. Saat ini pun masih banyak pemuda yang terus berkarya dalam sepi, tetap menginspirasi dalam sunyi. Gemerlap publikasi tak menyilaukan matanya yang menatap masa depan dengan penuh optimisme kegemilangan. Mereka sudah selesai dengan dirinya, sehingga dengan atau tanpa dikenal manusia, karya tetap harus tercipta. Eksistensi dirinya tak ada nilainya jika dibandingkan dengan motivasi untuk terus berkontribusi dan banyaknya manfaat yang hendak dirawat. Ketika memperjuangkan cita mulia menjadi pilihan, inspirasi bisa dilakukan dalam ramai maupun sunyi. Bentuk perjuangan bisa berubah menyesuaikan zaman, namun cita perjuangan tetaplah sama. Belum tentu populer, tapi memang popularitas bukan tujuan. Semakin sunyi, semakin menginspirasi, sebab energi tidak perlu terkuras hanya untuk meladeni persepsi orang. Hingga akan tiba suatu masa dimana kontribusi dalam sunyi ini kan dibuka tabirnya, menginspirasi dunia, membuat perubahan nyata. Tinggal pastikan diri kita turut berperan di dalamnya.

Ternyata Puasa Kita Memengaruhi Gemilangnya Islam

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie 

Rasulullah Saw. dan umat Islam memulai perjuangan suci untuk menegakkan Agama Islam di bulan Ramadan dan memeroleh kemenangan gemilang di bulan Ramadan pula. Kapankah umat Islam Indonesia mau menapak tilasi fakta sejarah ini?

Setelah Rasulullah saw dan kaum muslimin hijrah dari Mekah ke Madinah, di kota baru ini Rasulullah Saw. menata umat dan membangun fondasi negara Islam. Dimulai dengan membangun masjid sebagai pusat kegiatan dan pembinaan umat Islam, mempersaudarakan antara Muhajirin dan Anshar, sampai membuat perjanjian damai antar suku di Madinah, termasuk dengan Yahudi.

Pada abad II Hijrah, negara yang baru seumur jagung ini mendapat ancaman dari musuh, kafir Quraisy. Kaum kafir Quraisy berjumlah seribu pasukan di bawah pimpinan Abu Jahal bergerak menuju Madinah. Rasulullah Saw. menyambutnya dengan menghimpun pasukan sejumlah 300 orang. Kedua pasukan berbeda akidah ini bergerak dan berhadap-hadapan di lembah Badar.

Lembah ini diapit oleh dua bukit; di timur diapit oleh bukit ‘Udwah al-Qushwa dan di barat diapit oleh bukit ‘Udwah ad-Dunya. Di sisi selatan, lembah Badar dibatasi oleh bukit al-Asfal. Sejak masa sebelum Islam, lembah tersebut sudah menjadi jalur yang banyak dilintasi kafilah-kafilah dagang asal Mekah atau Yaman yang hendak berniaga ke Syam (Suriah dan Lebanon).

Tanahnya yang subur karena memiliki campuran pasir dan tanah dengan beberapa mata air di lembah tersebut membuat para kafilah bisa singgah beristirahat di lembah ini dengan nyaman. Saat ini, lembah Badar menjadi salah satu kota yang berada di wilayah Propinsi Madinah dengan nama lengkap Kota Badar Hunain. Jarak kota ini dari kota Madinah sekitar 130 km.

Lembah ini menjadi saksi sejarah saat kaum muslimin memukul telak kaum kafir Quraisy dalam perang Badar. Perang ini meletus pada 17 Ramadan 2 H. bertepatan dengan 17 Maret 624 M. Perang yang sejatinya tidak seimbang ini, baik dari segi jumlah pasukan maupun perlengkapan perang, memberikan pelajaran mahal bagi kita, umat Islam. Betapapun jumlah kita sedikit, kecil, lemah, namun ketika akidah dan iman tertanam kokoh dalam hati, maka Allah pasti menguatkan dan mengokohkan. Allah pasti memberikan pertolongan, bahkan dari jalan yang tidak biasa.

Simaklah kedahsyatan pertolongan Allah yang direkam dalam Al-Qur’an surah Ali ‘Imran ayat 123-126.

“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya. (Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang mukmin, ‘Apakah tidak cukup bagi kamu, Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?’ ‘Ya (cukup)’, jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda. Dan, Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai kabar gembira bagi (kemenangan)-mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali ‘Imran : 123-126)

Perang Badar dimenangkan dengan gemilang oleh pasukan muslim atas pertolongan Allah. Pada perang ini, ratusan kaum kafir Quraisy tewas dan pentolan kaum kafir Quraisy, Abu Jahal, tewas oleh mantan budak yang disiksanya, Bilal bin Rabah ra.

Enam tahun kemudian, diawali dengan pengkhianatan kaum kafir Quraisy terhadap perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah saw menghimpun pasukan muslim dengan jumlah 10.000 pasukan. Rasulullah saw bergerak menuju Mekah dengan singgah di beberapa titik. Di satu titik persinggahan, Marra Zhahran, Abu Sofyan, pentolan kaum kafir Quraisy yang tersisa, masuk Islam. Ini pertanda kaum kafir Quraisy sebenarnya tidak berdaya melawan pasukan muslim.

Kemenangan pasukan muslim dalam Fathul Mekah sejatinya telah dikabarkan dua tahun sebelumnya dengan turunnya wahyu surat Al-Fath. Dan, pembuktiannya terjadi pada 10 Ramadan 8 H. Pasukan muslim memasuki kota Mekah tanpa perlawanan sedikitpun. Pembebasan kota Mekah berlangsung damai dan aman. Rasulullah Saw. memasuki Masjidil Haram dan menghancurkan berhala-berhala yang mengitari Kabah.

Pada hari itu, Mekah berubah dari kota kemusyrikan menjadi kota bertauhid. Warga Mekah berbondong-bondong memeluk Islam tanpa paksaan. Kemudian, disusul oleh orang-orang dari berbagai suku di sekitar Mekah dan jazirah Arab lainnya berbondong-bondong masuk Islam. Inilah kemenangan yang nyata, saat umat manusia tersinari oleh cahaya Islam, ketika umat manusia berbondong-bondong masuk agama Islam. Peristiwa ini diabadikan dalam surah An-Nashr.

Mari kita telaah dua peristiwa besar dalam sejarah Islam ini untuk kita petik pelajaran. Menariknya, perang Badar dan Fathul Mekah sama-sama terjadi di bulan Ramadan. Artinya, Ramadan adalah bulan perjuangan dan Ramadan pula bulan kemenangan. Ramadan adalah momentum bagi kita untuk melakukan perubahan dan perbaikan mendasar dan menyeluruh dalam hidup kita, baik dalam konteks pribadi, keluarga, masyarakat, maupun negara.

Karena itu, tanyakan kepada diri kita sudahkah kita menyusun program Ramadan? Telah berapa Ramadan yang kita lalui? Lalu, bagaimana hasilnya? Rasulullah saw hanya menjalani sembilan kali Ramadan dalam hidupnya. Hasilnya? Dahsyat luar biasa. Bahkan, beliau hanya perlu enam kali Ramadan untuk menuntaskan perjuangan besar, misi suci nan agung, menerangi alam dengan cahaya Islam.

Jika demikian, ada yang salah dengan Ramadan kita. Ramadan berhenti sebatas ibadah ritual yang belum terejawantahkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari. Kita masih pilih-pilih dalam menjalankan Islam. Yang mudah dan enak diambil, namun yang dirasa berat ditinggalkan. Kita puasa, tapi ekonomi ribawi masih dijalankan. Kita puasa, tapi pendidikan kita sekuler. Kita puasa, tapi masih enggan berzakat dan berinfak. Padahal, perintah puasa Ramadan pada tahun 2 Hijrah didahului dengan perintah zakat pada tahun yang sama.

Kita puasa, tapi lebih memilih kesibukan dunia daripada memenuhi panggilan Allah (baca: salat). Padahal, perintah puasa Ramadan pada tahun 2 Hijrah didahului dengan perintah pemindahan kiblat dari Masjidil Aqsha ke Kabah di Masjidil Haram. Kita puasa, tapi alergi dengan tema jihad. Padahal, perintah puasa Ramadan pada tahun 2 Hijrah disusul dengan perintah jihad fi sabilillah. Simpulannya, kita puasa, tapi sistem hidup kita belum Islami. Sistem hidup kita belum mengikuti sistem hidup Rasulullah saw dan generasi sahabat.

Jika demikian, bagaimana mungkin kemenangan gemilang umat Islam Indonesia akan hadir di Ramadan tahun ini? Entah, harus berapa Ramadan lagi, kita bisa meraih kemenangan sebagaimana Fathul Mekah? Bergantung dari kemauan dan kesungguhan kita. Allah memberikan kemenangan dan kekuasaan kepada siapa yang Dia kehendaki. Maka, mari pantaskan diri, keluarga, lembaga, masyarakat, dan negara kita untuk diberikan kemenangan gemilang. Wallahu A’lam

***

Mari bergabung dan bergandengan tangan bersama Dompet Dhuafa Pendidikan untuk menyalakan pelita harapan anak-anak yang kurang beruntung secara ekonomi melalui program-program pendidikan berkualitas. Salurkan zakat, infak, dan sedekahmu melalui nomor rekening: 2881 2881 26 BNI Syariah a.n. Yayasan Dompet Dhuafa Republika.

Tenangkan Jiwamu di Bulan Ramadan Dengan Cara Ini Yuk!

Ramadan, bulan penuh kenikmatan yang selalu kami tunggu kehadirannya. Nah untuk menambah pahala sejak Angkatan 1 hingga Angkatan 13 ada sebuah kegiatan yang membuat kami selalu merasa nyaman berada di SMART. Bukan hanya nyaman, tetapi juga ada perasaan tenang yang menyusup diantara penatnya pikiran kami akan banyaknya pelajaran dan kegiatan.

“Lalu kegiatan apakah itu?” nah kamu sudah mulai penasaran deh, kami menyebutnya SMART Ma’tsurat. SMART Ma’tsurat merupakan kegiatan yang dilaksanakan setiap sore lepas Salat Asar, namun di luar Ramadan SMART Ma’Tsurat biasa digelar pada Selasa, Rabu, dan Jumat juga lepas Salat Asar. Semua siswa wajib mengikuti kegiatan ini, tak ada kecuali. Kami yang berjumlah 240 orang lebih berkumpul di Masjid Al-Insan, satu orang memimpin dan memandu kami selama Al-Ma’tsurat dibacakan, sisanya mengikuti.

Selama kurang lebih tiga puluh menit kami bersama-sama membaca Ma’tsurat dengan khidmat dan penuh kesyahduan. Suasana sangat tenang, damai, dan penuh kesejukan. Suara kami menggema ke seantero area masjid, tak jarang hingga membuat mereka yang lalu lalang berhenti untuk turut serta.

SMART Ekselensia Indonesia

“SMART Ma’tsurat merupakan kegiatan yang selalu kutunggu, karena aku bisa membaca Ma’tsurat bersama teman-tema sekelasku dan kakak kelas yang lain,” ujar Usamah, kelas 4. “Kebersamaannya yang membuatku kangen,” tambahnya.

Tapi tahukah kamu kalau membaca Al-Ma’tsurat memiliki beberapa keutamaan yang baik untukmu apalagi di bulan Ramadan ini, antara lain:

  • Diriwayatkan dari Sya’bi dari Ibnu Mas’ud: “Siapa yang membaca 10 ayat dari surat Al-Baqarah di rumah, setan tidak masuk ke rumah tersebut malam itu hingga pagi hari, empat ayat yang pertama, ayat kursi, dan dua ayat setelahnya, dan penutupnya ( tiga ayat terakhir). (HR.Thabrani )
  • Dari Abdullah bin Hubaib berkata rasulullah saw bersabda kepadaku, “bacalah Qul huwallahu ahad’, dan mu’awwadzataini (qul a’udzubirabbil falaq.. dan qul a’udzubirabbinnas.. ketika pagi dan sore tiga kali, cukup untukmu segala sesuatu’. (HR.abu Dawud dan Turmudzi)
  • Keutamaan membaca Al-Ma’tsurt lainnya adalah sebagaimana yang diriwayatkan Dari Ibnu Abbas ra. Berkata, Rasulullah saw. bersabda, “siapa yang mengucapkan ketika pagi hari, ‘Allahumma inni asbahtu minka fi ni’matin’ tiga kali ketika pagi hari dan tiga kali ketika sore, Allah menyempurnakan nikmatnya atasnya” (HR.Ibnu Saunni)
  • Dari Abdullah bin Ghannam Al-Bayadhi, sesungguhnya Rasulullah saw., bersabda,” Siapa yang membaca ketika pagi ‘Allahumma maa ashbaha bii min ni’matin au bi ahadin min khalkika falakal hamdu walakasyukr’ sungguh telah menunaikan syukur hari itu, dan siapa yang membaca pada sore hari, sungguh telah menunaikan syukur malamnya”.  (HR.Abu Dawud)
  • Dari Tsauban, berkata Rasulullah saw. bersabda, ”Siapa yang mengucapkan ketika sore hari “radhitu billahi rabba wabil islami diina wabi muhammadin nabiyyah adalah hak atas Allah untuk menjadikan dia ridha”. ( HR.Turmudzi)
  • Ibnu Abbas berkata Rasulullah saw. Keluar dari (menemui) Juwairiyyah, dan dia berada di mushalanya dan beliau kembali sedang Juwairiyyah masih di mushallanya. Lantas Rasulullah bersabda, ”Engkau tak henti-hentinya di mushollamu ini“. Dia menjawab, “ya beliau bersabda “sungguh aku telah mengucapkan empat kalimat tiga kali kalau ditimbang dengan apa yang engkau katakan niscaya lebih berat dari yang engkau ucapkan,” ” Subhanallahu wabihamdihi ‘adada kholqihi”(HR.Muslim).
  • Dari Utsman bin Affan ra. Berkata, Rasulullah bersabda, ”Tidak ada seorang hamba membaca pada pagi hari setiap hari dan pada sore hari setiap malam, “Bismillaahi lladzi laa yadzurru m’asmihi syai’un……’ tiga kali maka tidak ada satu pun yang membahayakannya”. (HR.Abu dawud dan Turmudzi).
  • Dari Abi Sa’id Al-Khudri berkata, beliau bersabda,”Katakanlah jika engkau masuk pagi dan di sore hari “Allahumma inni a’udzubika minal hammi wal hazani, wa a’udzubika minal ‘ajzi wal kasali” Ia berkata,” maka aku lakukan hal itu lantas Allah menghilangkan kesusahanku dan menunaikan utangnya”. (HR.Abu Dawud).
  • Dari Abdurrohman bin Abi Bakrah dia berkata kepada bapaknya, ”wahai bapakku, sungguh aku mendengar engkau berdoa setiap pagi: ‘ Allahumma ‘aafini fi badani ….’engkau ulang tiga kali setiap pagi dan sore, dan engkau juga mengucapkan ‘ Allahumma inni a’udzubika minal kufri wal faqri…’ engkau ulang tiga kali tiap pagi dan sore. ‘ dia berkata. ”Ya wahai anakku, aku mendengar Nabi Muhammad saw. berdoa dengannya dan aku ingin mengikuti sunnahnya”. (HR.Abu Dawud, Ahmad, dan Nasai).
  • Dari Nabi saw, “penghulu istighfar adalah Allahumma anta rabbi ’barangsiapa membacanya di siang hari yakin dengannya, kemudian mati hari itu sebelum sore hari maka dia termasuk ahli surga, dan siapa yang membaca pada malam hari yakin dengannya lalu ia mati sebelum pagi hari, maka dia termasuk ahli surga”. (HR.Bukhari)
  • Dari Abu Ayyasy, sesungguhnya Rasulullah saw, bersabda, ‘siapa yang mengucapkan ketika pagi hari ‘Laa ilaaha illallah….adalah baginya sebanding memerdekakan budak dari putra Isma’il, ditulis untuknya sepuluh kebaikan, dihapus sepuluh kesalahan, diangkat sepuluh derajat, dan dia dalam penjagaan dari setan hingga sore, dan jika ia baca ketika masuk sore maka baginya seperti itu pula (HR.Abu Dawud, Nasa’i, dan Ibnu Hibban).

Waaah ternyata banyak sekali ya keutamaan membaca Al-Ma’tsurat, kami jadi semakin semangat mengikuti SMART Ma’Tsurat, selain mendamaikan juga banyak kebaikannya. Yuk kita biasakan membaca Al-Ma’tsurat agar Allah meridhoi semua hajat yang ingin kita lakukan. (AR)

 

Sssht Ada yang Seru Ketika Bagi Rapor Tiba lho. Kamu Wajib Baca!

 

Oleh: Muhammad Zikru Rahman

Alumni SMART Angkatan 9, Berkuliah di UNPAD Jurusan Komunikasi

 

Kalau ingat saat bagi rapor di SMART aku jadi ingin berbagi hasil observasiku seputar ekspresi yang muncul selama musim bagi rapor datang selama aku bersekolah di SMART dulu. Biasanya kalo di akhir semester pasti ada yang namanya pembagian rapor, betul gak? Ketika masuk pembagian rapor nasib seolah dipertaruhkan untuk bisa melaju ke semester selanjutnya. Naaaah aku suka sekali memerhatikan ekspresi yang muncul selama aku berada di SMART.

Di bawah ini merupakan beberapa ekspresi yang aku temui, nng kalau di luar SMART aku gak tau sih hehe. Mau tahu apa saja? Yuk simak sama-sama

 

Gembira

Ini ekspresi pertama yang selalu kutemukan tiap tahunnya. Kamu semua pasti tahulah wajah gembira seperti apa. Senyum terukir di wajah, 2 cm kanan dan 2 cm kiri, mata berbinar seakan masa depan penuh kegemerlapan, dan seterusnya. Biasanya mereka yang mendapatkan nilai wow yang akan menampilkan ekspresi ini.

 

Biasa Saja

Ini ekspresi wajahku banget, soalnya terlihat cool. Uhuk. Mereka yang berekspresi seperti ini biasanya mendapatkan nilai yang biasa-biasa saja atau nilainya bagus sekali hanya saja tak mau terlihat sombong. Nah, kalo aku  biasanya sih masuk yang bagus banget, tapi bohong.

 

Pura-pura Biasa

Ekspresi yang sebenarnya butuh hiburan karena nilai mereka biasanya jatuh namun mencoba untuk tak terlihat sedih dihadapan siswa lain.

 

Menangis Berlinang Air Mata

Ini ekspresi yang muncul akibat tidak naik kelas. Biasanya hanya adik-adik kelas yang terjangkit saja yang memiliki ekspresi ini, kalau yang sudah duduk di bangku SMA sih kebanyakan bersikap seakan tak peduli padahal nyesek.

 

Senyum Tegar dan Berkaca-kaca

Ekspresi ini muncul khusus untuk mereka yang duduk di bangku SMA. Nilai mereka jelek, tapi mereka tidak ingin memasang ekspresi menangis sambil berlinang air mata, apalagi di depan adik-adik kelas. Pasti sangat memalukan.

Nah itulah macam-macam ekspresi yang yang aku tangkap selama pembagian rapor di SMART dari tahun ke tahun, tapi tentu saja observasiku ini hanya sekadar observasi biasa dan tak mendalam dan tak bisa dijadikan tolak ukur, tapi aku senang. Ah aku jadi penasaran bagaimana ekspesi adik-adik kelasku nanti ketika pembagian rapor. (ZR x AR)

Bagi Rapor Penuh Keceriaan di Bulan Ramadan

 

Suara ustaz asrama membangunkan kami yang terlelap dengan sangat nyenyak untuk santap sahur, beliau membangunkan kami dengan lembut agar kami segera menuju ke Ruang Makan SMART, setelahnya ia meminta kami untuk bersegera ke masjid demi meluruhkan kewajiban utama sebagai seorang muslim. Lantunan ayat suci mengalun dengan indah, menenangkan hati dan pikiran kami yang beberapa hari terakhir gelisah karena dibayang-bayangi nilai rapor.

 

***

Hari ini kami akan mereportase kegiatan bagi rapor di SMART Ekselensia Indonesia. Bagi rapor di SMART sama seperti bagi rapor di sekolah lain, namun yang membedakan ialah tidak hadirnya orangtua kami pada prosesi sakral ini. Agak sedih, namun orangtua kami pasti sudah tahu kalau anaknya akan mendapatkan nilai yang baik.  Agar maksimal, bagi rapor dilaksanakan mulai pukul 08.00 sampai pukul 12.00 siang, ada beberapa kelas yang digunakan dalam proses bagi rapor tahun ini dan masing-masing kelas diisi oleh wali kelas sesuai kelas serta angkatannya masing-masing.

Sebelum rapor dibagikan setiap angkatan dari setiap kelas dipanggil ke dalam kelas untuk diberikan pengarahan seputar hasil yang tertulis di rapor. Ini merupakan pemanasan agar kami tak kaget dengan hasil yang kami dapat nantinya, setelah selesai kami dipersilakan keluar kelas untuk menunggu giliran.  Kami mengantre dan mengular di depan kelas berharap cepat dipanggil masuk ke dalam ruangan kelas lagi. Satu per satu nama kami dipanggil, di dalam kelas wali kelas telah menunggu dengan senyuman super manis, walau deg-degan namun kami harus menghadapi hasil jerih payah belajar selama ini.

Dengan sabar wali kelas kami memaparkan hasil belajar kami secara sistematis dan runut, jika ada yang kurang bagus beliau akan menasihati sekaligus memberikan solusi agar nilai kami bisa meningkat di semester yang baru. Alih-alih takut dan sedih jika ada nilai yang kurang baik, kami malah semakin termotivasi untuk belajar lebih giat lagi. Guru kami memang pandai membesarkan hati. Beliau juga mengingatkan agar kami tidak terlena jika ada banyak nilai yang bagus, karena khawatir malah menurunkan prestasi belajar semester depan.

Di depan kelas teman-teman yang belum dipanggil (dan masih menunggu dengan wajah khawatir) secara otomatis akan “merebut” rapor teman yang telah lega dengan hasil rapornya, mereka akan membandingkan nilai siswa A dengan siswa B atau dengan dirinya sendiri. Setelahnya pasti ada kalimat “Aaargh nilaiku untuk mata pelajaran ini turun” terlontar dari mulut mereka. Lucu dan seru hihi.

Bisa dibilang jika penilaian rapor di SMART berbeda dengan sekolah lain, di SMART ada dua penilaian yang dijadikan indikator. Pertama penilaian dari guru-guru sekolah alias penilaian dari mata pelajaran sehari-hari; dan kedua penilaian dari wali asrama alias penilaian yang dinilai dari aspek kejujuran, kesantunan, kesungguh-sungguhan, kedisplinan, dan kepedulian

Gegap gempita dan euforia bagi rapor kian terasa ketika seluruh siswa telah menerima rapornya masing-masing. Ada yang senang, ada yang sedih, ada yang saling hibur, namun ajaibnya semua terlihat sumringah. Makin sumringah karena per hari ini kami sudah libur, iya Sob liburan Lebaran. Oh iya tahun ini kami bisa pulang kampung setelah Lebaran lho, sungguh bahagia, walaupun tak semua siswa bisa pulang karena beberapa terbentur harga tiket yang tinggi.

 

Biarlah nilai rapor kali ini menjadi pelajaran yang berharga untuk kami agar makin giat dalam belajar dan makin cerdas dalam membagi waktu  untuk semester mendatang.

 

Liburaaaaan kami datang! Kampung halaman tunggu kamiiii! (AR)

Buku, Aku, dan Ramadanku

Oleh: Muhammad Ikram Azzam

“Membaca buku itu jendela ilmu” Kalimat yang tergantung di langit-langit Pusat Sumber Belajar (PSB) Makmal Pendidikan itu memberikan stimulus motivasi tambahan bagiku untuk gemar membaca buku.

Perkenalkan nama saya Muhammad Ikrom Azzam, saya adalah alumni SMART Angkatan IX dan saat ini berkuliah di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Jurusan Bahasa Arab. Ada kisah menarik yang ingin saya bagi tentang hobi lama saya (yang bersemi kembali), yakni membaca buku. Cerita ini bermula ketika amanah memimpin berbagai organisasi mulai saya emban pada pertengahan 2015 hingga akhir 2016.

Begini ceritanya…

Kira-kira pertengahan September 2015 lalu saya mengemban amanah baru menjadi Presiden (Ketua OSIS) Organisasi Akademika SMART Ekselensia (OASE). Semenjak itu, saya jadi lebih sibuk dari sebelumnya. Bagaimana tidak, beban moral yang cukup berat dan keharusan menjadi panutan serta harus bekerja secara profesional saya jalani setiap hari. Capai, lelah, sedih, senang saya lewati dengan penuh perjuangan, saya percaya akan hikmah dibalik usaha dan perjuangan keras yang saya lakukan. Rasa percaya tersebut menjadikan saya sebagai pemimpin yang cukup mumpuni. Alhasil, undangan mengikuti kegiatan pelatihan kepemimpinan Forum Ketua OSIS Se-Indonesia pun menjadi berlian nikmat pengalaman yang sangat berharga untuk kehidupan saya.

Ya, kegiatan Indonesia Student Leadership Camp IV yang digagas komunitas ILEAD Universitas Indonesia membuka mata saya seputar dunia kepemimpinan sejati. Dalam kegiatan tersebut banyak sekali inspirasi tentang kepemimpinan yang saya dapatkan, salah satu kalimat yang membekas di kepala saya ialah:

“Pemimpin sejati itu lahir karena kebiasaan baiknya dalam setiap aktivitas yang dijalani, dan tak sedikit pemimpin yang terlahir dari kebiasannya dalam membaca, baik membaca buku maupun membaca situasi dan manusia”.

Kalimat di atas selalu terngiang di dalam pikiran saya, hal tersebut mengembalikan hobi saya membaca buku. Hobi ini telah lama hilang karena kesibukkan saya memimpin organisasi internal sekolah, semenjak itu lah saya bertekad untuk menjadi Ketua OSIS yang paling rajin membaca buku di SMART. Tekad tersebut perlahan tapi pasti mulai saya realisasikan setelah pulang kampung di awal 2016.

Januari 2016 menjadi titik balik semangat dalam diri saya untuk kembali menekuni hobi membaca buku. Saya mulai sering mampir ke Perpus Pusat Sumber Belajar (PSB), hampir setiap hari saya menyempatkan diri untuk datang ke PSB, bahkan sampai harus diusir gara-gara masih saja membaca koran ketika jam tutup PSB menjelang. Jujur ada banyak kelucuan yang saya rasakan ketika berada di PSB untuk membangkitkan kembali hobi membaca saya, mulai dari ketiduran di PSB karena kelelahan baca buku, sampai membaca buku dengan posisi di luar kelaziman orang normal pun pernah saya rasakan. Ah, pokoknya seru sekali.

Karena keseringan ke PSB, saya jadi tahu akan info-info terbaru di sana mulai dari seminar, bedah buku, sampai organisasi keperpustakaan pun saya jalani dan ikuti terus. Dan yang paling mengesankan adalah saya berhasil dinobatkan sebagai Duta Gemari Baca Batch 1 2016  yang diadakan pada pertengahan bulan Ramadan. Sungguh banyak sekali pengalaman mengasyikkan yang saya dapatkan di tahun 2016 bersama PSB. Hingga di H-5 sebelum Pulang Kampung 2016 diadakan saya mendapatkan hadiah luar biasa atas usaha luar biasa saya dalam membaca, saya berhasil dinobatkan sebagai Pemustaka Jawara No. 1 alias pemustaka yang paling banyak membaca buku selama setahun. Menurut data PSB saya telah membaca 100 buku dengan tuntas di 2016 dan awal 2017. Wow, Its very good experience! I love reading books! Today is Reader, Tomorrow is Leader!

Berkat pengalaman tersebut saat ini saya menjadi pribadi yang lebih tangguh dan tak takut menghadapi apapun. Mengikuti Duta Gemari Baca Batch 1 2016 membuat Ramadan saya lebih hidup.

***

Mari bergabung dan bergandengan tangan bersama Dompet Dhuafa Pendidikan untuk menyalakan pelita harapan anak-anak yang kurang beruntung secara ekonomi melalui program-program pendidikan berkualitas. Salurkan zakat, infak, dan sedekahmu melalui nomor rekening: 2881 2881 26 BNI Syariah a.n. Yayasan Dompet Dhuafa Republika.