SMART Ekselensia Indonesia

Sebuah Perjuangan Menggapai Mimpi yang Harus Kamu Tahu

Sebuah Perjuangan Menggapai Mimpi yang Harus Kamu Tahu

Oleh : Amma Muliya Romadoni

Kandidat Master Thermal-Fluid Engineering ITB

 

Lahir dan dibesarkan di Jakarta, tidak serta merta membuat saya menjadi terlena dengan segala kegemerlapan ibukota. Segala sesuatu harus diperjuangkan dan diperlukan kegigihan untuk mencapai tujuan hidup. Seluruh nikmat yang diperoleh patut disyukuri, salah satunya mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan jenjang sekolah menengah di Bogor. Untuk bisa bersekolah di SMART Ekselensia Indonesia tidak perlu mengeluarkan biaya sepeserpun. Sekolah berasrama bertaraf internasional, akselerasi SMP-SMA hanya ditempuh 5 tahun, dan diperuntukan bagi anak-anak berprestasi dari seluruh Indonesia yang memiliki keterbatasan finansial. Sekolah ini pertama kali dirintis pada tahun 2004 sebagai salah satu program Dompet Dhuafa dalam bidang pendidikan. Saya adalah angkatan pertama Smart Ekselensia Indonesia.

Bagi saya, Jakarta dan Bogor sangatlah jauh karena harus terpisah dari orangtua untuk menjalani kehidupan sebagai seorang siswa berasrama layaknya tinggal di pesantren. Kondisi seperti ini harus bisa dilewati agar bisa beradaptasi dengan mudah terhadap lingkungan dan keluarga baru. SMART Ekselensia Indonesia, sebagai sekolah unggulan diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang berkarakter dan berdaya saing global. Terbukti dari prestasi yang telah ditorehkan baik perlombaan tingkat nasional dan internasional. Misalnya Olimpiade Sains Nasional (OSN) dan lainnya.

Kombinasi antara keilmuan dan spiritualitas menjadi ciri khas sekolah ini. Pelajaran Bahasa Arab dan Al-Quran menjadi pembeda sekaligus menjadi ruh dari sekolah SMART Ekselensia Indonesia ini. Selain itu pelajaran umum lainn­ya diajarkan berdasarkan kurikulum pendidikan di Indonesia. Saya adalah salah satu siswa yang berhasil menjadi Finalis Indonesian Science Project Olympiad (ISPO), serta menjuarai perlombaan Karya Ilmiah lain yang diadakan di wilayah Bogor dan sekitarnya. Selain itu, terpilih menjadi asisten pada mata pelajaran Al-Quran merupakan sebuah kebanggaan tersendiri, disamping prestasi akademik lainnya. Dekat dengan Al-Quran akan membuat segala aktivitas duniawi terasa lebih mudah untuk dijalani. Hal ini dikarenakan keberkahan yang ada pada Al-Quran. Walhasil, Alhamdulillah saya lulus dari SMART Ekselensia Indonesia berbekal 4 Juz hafalan Al-Quran.

Setelah menjadi alumni SMART Ekselensia Indonesia, saya melanjutkan studi di Teknik Mesin Universitas Sumatera Utara (USU) melalui jalur Ujian Masuk Bersama (UMB). Awalnya, diterimanya sebagai mahasiswa USU tidak mendapatkan restu dari orangtua, karena lagi-lagi harus terpisah jarak dengan orangtua di Jakarta. Akan tetapi, saya memberikan pemahaman kepada orangtua bahwa ini merupakan sebuah proses yang harus dijalani. Allah telah menentukan pilihan terbaik bagi hamba Nya, hanya saja sebagai seorang hamba, kita tidak pernah tahu rahasia apa yang akan Allah berikan pada kita. Dengan bermodalkan ilmu dan kegigihan untuk belajar, saya beranikan diri untuk berangkat ke Medan bersama beberapa teman lainnya. Kultur yang berbeda, mengharuskan saya untuk selalu sigap dalam beradaptasi selama menjalani kehidupan di Medan. Ada anggapan bahwa masyarakat Medan keras dalam berbicara, tapi bagi saya itulah ciri khas yang dimiliki kota Medan. Disinilah saya berproses dan belajar banyak hal yang baru. Banyak hal yang bisa diperoleh dari kota yang terkenal dengan oleh-oleh “Bika Ambonnya” ini.

Layaknya seperti mahasiswa lainnya, perkuliahan terasa belum sempurna tanpa diisi dengan aktivitas organisasi untuk meng-upgrade kemampuan softskill. Tercatat selama menjadi mahasiswa di USU, saya pernah diamanahkan untuk memimpin beberapa organisasi, baik organisasi kerohanian, Unit Kegiatan Mahasiswa, ataupun Riset Mahasiswa. Klimaksnya, ketika saya bersama teman-teman Tim Horas USU lainnya bisa membanggakan Indonesia di kancah Internasional pada perlombaan mobil hemat energi, Shell Eco-marathon Asia 2014. Bagi saya, menimba ilmu bukan hanya duduk dan mendengarkan dosen berbicara memaparkan materi yang dijelaskannya. Banyak hal di luar sana yang bisa diambil untuk dijadikan ilmu, hanya saja kita harus cerdas untuk memilah-milih ilmu tersebut sehingga sesuai dengan kebutuhan. Janganlah terlalu menghabiskan waktu untuk hal yang kurang bermanfaat. “Waktu adalah pedang”. Maka gunakan waktu dengan bijak untuk memperoleh kebermanfaatan. Kemampuan berwirausaha juga sangat dibutuhkan bagi seorang mahasiswa. Selain pernah mendapatkan bantuan wirausaha dari Student Enterpreneurship Center (SEC) USU, pada akhir semester saya juga membuat sebuah lembaga training khusus Engineering Software untuk mengasah skill technopreneurship.

Fitrah sebagai seorang manusia, kita tidak akan pernah merasa puas terhadap ilmu. Setelah menyandang gelar sarjana, Alhamdulillah Allah mengizinkan saya untuk melanjutkan ke jenjang master melalui program beasiswa LPDP dari Kementrian Keuangan RI. Setelah Jakarta, Bogor, dan Medan, maka Bandung merupakan destinasi selanjutnya untuk tempat menimba ilmu. Tentunya setiap tempat memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri yang harus diambil hikmah kehidupannya. Thermal-Fluid Engineering Institut Teknologi Bandung (ITB) merupakan rumah baru saya untuk menimba ilmu selama di Bandung. Saya harus siap untuk memulai petualangan baru menjalani kehidupan di Bandung. Karena target saya berikutnya adalah menyelesaikan perkuliahan dengan hasil yang memuaskan dan menuntaskan hafalan 30 Juz yang merupakan cita-cita sejak dulu. Semoga harapan itu bisa terwujud. Aamiin..

SMART Ekselensia Indonesia

Ingin Lebih Bermanfaat? Baca Tulisan Kakak Kelas Kami yuk

Ingin Lebih Bermanfaat? Baca Tulisan Kakak Kelas Kami yuk

Oleh Vikram Makrif

Alumni SMART Angkatan IX, berkuliah di Universitas Diponegoro 2017

 

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia lainnya

Sebaik-baik ilmu adalah ilmu yang diamalkan

Sebaik-baik harta adalah harta yang disedekahkan

Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat

Berawal dari tiga kalimat di atas,aku bertekad untuk menjadi manusia  yang baik dengan cara menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain.  Selama ini aku telah menerima banyak manfaat dari harta yang baik yaitu  harta yang diberikan oleh para donatur Dompet Dhuafa dengan keikhlasan  hati mereka. Aku merupakan salah satu anak yang mendapatkan bantuan beasiswa  pendidikan dari Dompet Dhuafa Pendidikan yakni bersekolah gratis selama 5 tahun  untuk  jenjang  SMP dan SMA di sekolah SMART Ekselensia Indonesia.

Bersekolah di SMART Ekselensia Indonesia telah mejadikanku anak yang berpendidikan dan berguna untuk orang lain. Karena dengan bantuan tersebut  tersebarlah kebaikan yang kuterima. Namun bagiku Kebaikan tidak boleh putus di penerima  manfaat sepertiku saja, tetapi kebaikan harus terus mengalir kepada setiap manusia yang berada

disekitarku.

Tiga Kalimat di atas merupakan motivasiku untuk terus berbuat kebaikan.  Aku berkeinginan memiliki ilmu yang baik dengan mengamalkan ilmu yang telah diberikan  oleh SMART kepadaku.  Aku juga bertekad menjadi manusia yang baik dan bermanfaat untuk orang-orang disekitarku serta berkontribusi untuk membangun Indonesia menjadi lebih baik dengan generasi yang berpendidikan dan memiliki ilmu yang bermanfaat.

Selama ini tak banyak kontribusi yang kupersembahkan untuk negeri ini.  Tak banyak pula kebermanfaatan yang kuberikan untuk orang lain disekitarku. Namun dengan keinginan  yang kuat, aku berusaha untuk dapat berguna untuk orang lain dan berkontribusi sebaik yang kubisa walau hanya sedikit manfaat yang dapat dirasakan oleh orang lain sekitarku.

Berada di SMART selama 4 tahun, sudah banyak ilmu yang kudapatkan, mulai dari ilmu dunia sampai ilmu tentang akhirat.  Ilmu-ilmu itu tidak akan berarti jika tidak kuamalkan dan tidak akan bermanfaat bila tidak kusebarkan dan kuajarkan pada orang lain.

Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Quran dan yang mengajarkannya

Jampang Mengaji merupakan program Asrama SMART Ekselensia Indonesia  yang bertujuan untuk membimbing anak-anak sekitar Desa Jampang agar lebih cinta terhadap Al-Quran. Hadits Rasul meyatakan “Sebaikbaik kalian adalah orang yang belajar Al-Quran dan yang mengajarkannya”. Seperti  yang  termaktub dalam hadits tersebut, aku ingin menjadi manusia yang baik, aku ingin belajar Al-Quran dan mengajarkannya. Jampang mengaji salah satu cara agar aku dapat mengajarkan ilmu yang telah aku dapat kepada anak-anak disekitar Jampang dengan memberikan mereka pengetahuan tentang Al-Quran dengan baik dan benar.

Pada program Jampang Mengaji aku ditunjuk menjadi koordinator  selama enam bulan atau satu semester. Menjadi koodinator sekaligus pengajar Jampang Mengaji membuatku senang karena dengan begitu aku dapat menyebarkan ilmu yang telah didapat dari SMART kepada anak-anak disekitar Jampang.

Aku merasakan kebahagian tersendiri saat dapat melihat para peserta Jampang Mengaji  bersemangat dalam mempelajari  ilmu Al-Quran. Tentunya para pengajar merasa senang, terutama aku sebagai koordinator Jampang Mengaji. Saat para peserta mengaji dengan sungguh-sungguh dan ceria, bahkan ada beberapa peserta Jampang Mengaji yang sudah datang ke SMART pukul 14:00 WIB padahal kegiatan baru dimulai setelah asar.

Mengajar adalah salah satu kegiatan yang aku sukai. Mengajar apapun itu, asalkan dengan mengajar tersebut aku dapat bermanfaat untuk orang lain. Entah itu mengajarkan pelajaran sekolah seperti matematika,fisika,bahasa, biologi atau yang lainseperti menjahit, silat, dan sebagainya. Semua hal yang berhubungan dengan mengajar akan aku lakukan dengan senang hati dan semampuku tentunya.

Salah satu kegiatan mengajar dibidang non akademik yang aku lakukan adalah mengajar  pramuka untuk penggalang di SDN Jampang 04. Berbekal modal pelatihan KMD (Kursus Mahir Dasar) untuk menjadi seorang pembina pramuka yang diberikan oleh SMART, aku mencoba untuk terus dapat menyebarkan ilmu yang kumiliki kepada orang yang berada disekitarku yaitu mengajar pramuka kepada para murid kelas 4 dan 5 SDN Jampang  04 setiap Sabtu.

Membina Pramuka di SDN Jampang 04 membuatku dapat mewujukkan tekadku untuk mengamalkan ilmu yang kumiliki kepada masyarakat disekitarku.Keinginanku membina pramuka di SDN Jampang 04 adalah untuk membentuk karakteryang baik bagi para peserta didik.

Kegiatan mengajar tidak harus selalu diwujudkan mejadi seorang pembina ataupun pengajar. Tetapi juga dapat diwujudkan dalam bentuk menjadi  seorang duta yang dapat memberikankan pengetahuan baru untuk masyarakat. Aku tidak hanya mengajar di satu tempat, karena jika aku hanya mengajar di satu tempat sama maka kebermanfaatan hanya terbatas di tempat itu saja. Maka dari itu aku memutuskan untuk menjadi Duta Gemari Baca 2016 agar aku dapat memberikan pengetahuan baru ke berbagai tempat dan berbagai golongan.

Duta Gemari Baca ini bertugas untuk menyebarkan informasi  tentang literasi kepada semua orang dan mengajak orang lain untuk senang membaca. Aku sangat senang dan bangga dapat menjadi bagian dari Duta Gemari Baca yang dibentuk oleh Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa. Menjadi Duta Gemari Baca membuatku merasa menjadi orang yang berguna untuk mengajak orang lain mengenal dan menyukai literasi.

Beberapa kegiatan yang kulakukan selama menjadi Duta Gemari Baca adalah memberikan  pengetahuan baru dan mengajak anak-anak disekitar daerah Bogor untuk mencintai literasi dan gemar membaca. Selain itu, ada pula kegiatan membuka Pojok Baca di Jalan Duren, Depok pada September lalu. Pojok Baca yang dibuat para Duta Gemari Baca tersebut diharapkan menumbuhkan rasa cinta anak-anak yang berada di desa Jalan Duren semakin gemar membaca .

Alhamdulilah dengan berbagai kegiatan yang aku lakukan di SMART dapat mewadahi usahaku untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Semoga kebaikan dan kebermanfaatan akan terus mengalir kepada sebanyak mungkin orang membutuhkannya. Karena sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat.

 

IMG_0116

Sebuah Peta Bernama SMART

Sebuah Peta Bernama SMART

Oleh: Wayan Muhammad Yusuf

Alumni SMART Angkatan 8. Saat Ini Berkuliah di Universitas Brawijaya Jurusan Ilmu Ekonomi Prodi Ekonomi Islam.

 

Asrama. Sekolah. Asrama. Sekolah. Asrama lagi. Sekolah lagi. Yah begitulah keseharian kami di SMART Ekselensia Indonesia. Dikatakan bosan, gak juga. Tapi dibilang gak bosan, namun tak dapat digambarkan. Hampir lima tahun saya berada di SMART, selama di sini saya cukup mengerti arti jauh dari keluarga dan arti “terkekang” dalam aturan. Di tulisan ini saya tak akan bercerita tentang suka duka selama di SMART atau suka duka ketika jauh dari keluarga, melainkan tentang peta. Hah? Peta? Hubungannya apa coba? Ada, pasti ada.

Saya teringat cerita seorang guru, kata-katanya yang paling saya ingat adalah: “Nasihat (aturan) itu ibarat sebuah peta”. Tuh kan ada hubungannya sama peta. Lalu maksudnya bagaimana? Begini, SMART itu tak seperti sekolah lain pada umumnya dan kami yang ada di sini bisa dikatakan tidak seperti anak-anak di luar pada umumnya. Di sini kami harus taat pada aturan ini dan aturan itu. Terus kalo tak taat aturan dihukum? Paling dibotaki dan ujung-ujungnya dikeluarkan dari SMART. Eh lupa kok malah dijawab duluan. Saya lanjutkan dulu ya pesan guru saya: “Mungkin saat ini orang yang kita nasihati tidak mengikutinya. Ibarat orang akan terus berjalan tidak pada tempatnya, tapi apa yang membedakan antara orang yang dinasihati dan yang tidak? Bedanya –kalau misalnya- orang yang diberi peta ingin selalu berjalan pada tempatnya dan menjadi lebih baik, maka dia hanya perlu melihat peta tersebut. Berbeda dengan orang yang tak mempunyai peta, dia pasti bingung untuk mengambil jalan yang mana jika ia ingin berubah haluan.

Benar gak? Masih belum percaya? Saya paparkan beberapa pengalaman saya ya, saya mengenal seorang teman di SMART EI, di akhir semester ia menyatakan ingin berubah dan memutuskan untuk menghafal beberapa juz Al-Quran. Lalu kenapa dia memilih untuk menghafal Al-Quran? Jawabannya karena ia ingat nasihat yang disampaikan guru Al-Qurannya tentang keutamaan menghafal Quran, Quran itu diibaratkan peta yang akan membimbing kita semua ke jalan yang lebih baik. Dengan Quran juga kita takkan mudah tersesat karena Quran akan selalu memandu kita.

Sekarang sudah mengerti dong korelasi antara nasihat dengan peta? Di SMART mereka yang menurut akan aturan merupakan orang-orang yang mengikuti peta, mereka ingin menjadi lebih baik dan baik lagi walau mungkin terbersit perasaan jenuh. Sedangkan mereka yang dibotaki atau bahkan dikeluarkan dari SMART merupakan orang-orang yang tidak mengikuti atau bahkan menolak menggunakan peta.

Nah untuk adik-adik kelas saya di SMART, SMART bukanlah penjara; aturannya juga bukanlah kungkungan, walaupun terkadang aturannya terkesan “memaksa” namun dari sanalah kalian akan mampu untuk menggambarkan petamu sendiri walau mungkin saat ini kalian tidak mengerti, namun di masa depan pastilah sangat berguna.

IMG_0117

Millenials Ooooo Millenials, Baca Ini Yuk

Millenials Ooooo Millenials, Baca Ini Yuk

Oleh: Insan Maulana

Alumni SMART Angkatan 9 Berkuliah di UPI Bandung

 

Aku rela dipenjara asalkan dengan buku, karena dengan buku aku bebas.”

 –Muhammad Hatta-

Zaman sekarang, teknologi mengambil peran penting dalam kehidupan manusia dan seiring berjalannya waktu, teknologi semakin berkembang dan semakin maju. Kemajuan teknologi membuat kita semakin mudah melakukan segala sesuatu, kita ambil contoh jika kita ingin melakukan komunikasi antar kota, puluhan tahun yang lalu kita harus menggunakan surat dan membutuhkan waktu yang lama, itu komunikasi antar kota. Bagaimana dengan komunikasi antar benua? Sepertinya mustahil dilakukan. Namun, sekarang teknologi menyediakan berbagai fitur yang membuat komunikasi antar benua menjadi lebih mudah, selain itu waktu yang dibutuhkan pun teramat singkat. Teknologi seperti e-mail, SMS (Short Message Service), telepon atau media sosial seperti facebook-lah yang membuatnya mungkin. Termasuk untuk mencari informasi, kini tersedia internet yang teramat mudah diakses, bandingkan saat abad 20 ketika itu hanya tersedia surat kabar dan buku sebagai sumber informasi.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan pengguna internet cukup banyak dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara. Sebuah agensi marketing sosial mengeluarkan sebuah laporan pada Maret 2015 mengenai data jumlah pengguna website dan media sosial di Indonesia. Ternyata, jumlahnya menembus angka 72,7 juta pengguna aktif internet dan 74 juta pengguna aktif media sosial.[1] Angka ini meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun. Padahal, di awal pendiriannya, jaringan internet hanya menghubungkan beberapa universitas di Amerika, sekarang internet sudah menjadi viral dan menyasar berbagai kalangan, mulai dari dewasa, remaja bahkan anak usia sekolah dasar sudah mengenal dunia internet.

Sangat mudahnya mendapat informasi melalui internet ini adalah faktor utama turunnya minat untuk membaca buku. Selain punya banyak pengguna internet, Indonesia juga merupakan negara dengan tingkat minat membaca buku yang sangat rendah dibanding dengan negara Asia Tenggara lainnya. Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, H.R Agung Laksono, di Media Tempo pada 12 Januari 2012, menyebutkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah dimana prosentase minat baca masyarakat Indonesia hanya sebesar 0,01 persen, artinya dalam 10.000 orang hanya satu orang saja yang memiliki minat baca. Tingkat minat baca masyarakat Indonesia ini masih jauh ketinggalan dibandingkan negara lain seperti Jepang yang mencapai 45 persen dan Singapura yang menyentuh angka 55 persen. Bahkan berdasarkan survei UNESCO, budaya baca masyarakat Indonesia berada di urutan 38 dari 39 negara yang paling rendah di kawasan ASEAN.[2] Hal ini sungguh memprihatinkan, padahal informasi yang kita dapat dari buku lebih detil daripada informasi yang didapat dari internet. Masyarakat Indonesia pada umumnya cenderung haus akan informasi, seperti contoh mereka selalu ingin mengetahui kabar, kegiatan dan foto-foto temannya. Cara yang tepat bagi mereka tentu menggunakan media sosial seperti Facebook, Twiter dan Instagram. Fenomena inilah yang membuat perspektif mayoritas orang terhadap kegiatan membaca buku atau menulis cerita terlihat kuno atau ketinggalan zaman. Selain itu, kutu buku juga sering dikucilkan dan dianggap culun.

Dalam segala kemudahan yang ditawarkan, media sosial juga kerap kali membawa serta dampak negatif bagi penggunanya. Lupa waktu karena keasyikan, tidak mau membaca buku, dan sering ditemukan hal yang tidak penting seperti kata-kata kotor, kasar bahkan gambar vulgar adalah sedikit dari banyaknya dampak negatif internet. Sekarang mari kita bahas tentang buku. Memang jika kita teliti buku-buku zaman sekarang banyak yang mengandung  konten negatif seperti komik dan novel yang berlabel “dewasa” di bagiam sampulnya. Hal-hal seperti itulah yang menyebabkan sumber daya manusia di suatu negara menjadi hancur secara pikiran maupun perilaku. Maka dari itu, dalam membaca buku pun kita tetap harus selektif.

Berlatar belakang hal-hal di atas, menurut saya perlu beberapa cara suntuk meningkatkan minat baca dan menulis masyarakat terutama kalangan muda yang masih duduk di bangku sekolah. Pertama, pemerintah harus memberikan imbauan kepada seluruh sekolah supaya menasihati siswa-siswinya untuk tidak terlalu sering dan berhati-hati dalam menggunakan media sosial apalagi menyalahgunakannya. Selain itu, penting juga untuk menginformasikan tentang pentingnya membaca buku dan berlatih menulis. Kedua, pemerintah harus mengadakan lomba tentang literasi supaya siswa yang sudah berkembang kemampuan literasinya bisa menyalurkan kemampuan dan bersaing dengan orang lain.

Untuk itu, akan lebih baik jika kita membaca buku yang berisi tentang ilmu pengetahuan atau novel yang berisi cerita orang-orang sukses yang inspiratif dan memotivasi daripada menghabiskan waktu menggunakan media sosial. Tidak salah bila kita menggunakan media sosial dan internet untuk mencari informasi karena lebih mudah, namun kita harus menyadari bahwa dengan membaca buku, ilmu yang kita dapat akan lebih banyak.

  • [1] http://jarvis-store.com/
  • [2] http://timorexpress.fajar.co.id/
Pulkam (4)

Memang Kenapa Kalau Jones? Bangga Dong!

Memang Kenapa Kalau Jones? Bangga Dong!

Oleh: Reza Bagus

Alumni SMART Angkatan 9 berkuliah di UGM Jurusan Sosiatri 2017

Sendirian, kepanasan, kehujanan, ketiduran, kelaparan, semua aktivitas jomblo itu sudah biasa bagiku. Aku sudah menjomblo sekitar…. Berapa abad ya??? Eh salah berapa tahun ya? Hmm saking lamanya aku sampai lupa.

Aku menjomblo karena aku memang jomblo. Jadi, dulu waktu aku  kudet (kurang update) dan nggak tahu apa itu jomblo, teman-temanku banyak yang ngomongin tentang jomblo. Aku pun mulai bingung. Jomblo itu kantong kresek jenis apa ya? Dijual di pasar nggak? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu bermunculan di kepalaku dan datang nggak bilang-bilang dan ngilang-ngilang.

Aku semakin bingung setelah mendengar kalau ternyata jomblo itu ada berbagai macam jenis. Ada jomblo petualang, ada jomblo ngenes, ada jomblo kaleng (ini kok malah kayak banci kaleng ya? ataukah ini jomblo yang suka ngumpulin kaleng?), ada jomblo kritis (mungkin kelamaan menjomblo), ada juga jomblo dramatis (suka mendramatisir keadaan), dan jomblo fisabilillah alias jomblo bukan karena nasib melainkan prinsip.

Aku yang semakin penasaran akhirnya nanya ke teman yang cudet (celalu update) perihal jomblo-menjomblo ini, namanya Irvan.

“Eh, Pan. Jomblo itu apa sih? Kantong kresek bukan?”tanyaku.

“Hahaha… Hari gini, nggak tahu apa itu jomblo? Jomblo itu nggak punya pacar! Persis deh kayak kamu gitu,.” jawabnya.

Akupun sempat nanya ke beberapa teman lain. Akhirnya,  dapat disimpulkan bahwa kalau jomblo itu selalu nyesek kerjaannya. Ngeliat cowok sama cewek berduaan, nyesek. Ngeliat cewek sama cewek berduaan, nyesek. Ngeliat sendal sepasang, nyesek. Ngeliat orang lain nyesek, nyesek juga.

Gitu doang??? Ah, itu sih gampang. Aku sudah terbiasa sendiri. Secara mental, fisik, serta matematis, aku siap jadi jomblo. Beberapa bulan kemudian, cobaan itu mulai datang silih berganti, dari kanan dan kiri, dari sana dan sini, dari sekarang dan tadi, pokoknya dari-dari lah.

Cobaan pertama. Waktu itu aku lagi jalan kaki, jalan sambil Ngeliatin kaki, sambil bilang, “Ini kaki, yaa?” Tiba-tiba aku melewati sebuah warung. Di dalamnya ada cowok dan cewek, kayaknya mereka lagi pacaran. Aku perhatikan apa yang sedang mereka lakukan. Ternyata mereka sedang suap-suapan. Sontak seperti ada anak panah yang nyucuk dada aku, JLEB!!!

Cobaan kedua. Waktu itu aku lagi di taman, duduk, sendirian di kursi goyang. Aku rasa tempat ini adalah tempat penyiksaan jomblo. Dikit-dikit ada orang berduaan dan dikit-dikit ada orang pegangan tangan. JLEB level 2

Cobaan ketiga. Aku sedang berjalan di sebuah kompleks. Aku melewati sebuah danau. Di sana ada banyak sekali pasangan berdua-duaan, dan mereka nampak sedang bercumbu. Miris

Aku akhirnya sadar, kalo jadi jomblo itu nggak mudah, nggak gampang. Aku pun masuk ke dalam tahap galau karena status kejombloanku. Aku sedikit sedih, tapi rasa lapar lebih banyak menghampiri, akhirnya aku berniat membeli bakso untuk menghilangkan kesedihan. Sesampainya di kedai penjual nbakso, aku langsung memesan bakso seporsi.

“Mang, bakso satu porsi, nggak pake lama ya mang,” ucapku mantap penuh rasa lapar.

“Ini, Mas. Baksonya, 10.000 aja,” kata mamang penjual bakso.

Setelah selesai makan, kubuka dompetku untuk membayar. Di sana, nampak foto kedua orangtuaku sedang tersenyum manis, semanis madu. Melihat senyum mereka aku tersadar kalau aku sudah terlalu berlebihan meratapi nasibku sebagai seorang jomblo. Aku juga terlau berlebihan karena selalu mencari ‘orang yang akan memberikanku kebahagiaan’ sementara itu semua bisa kudapatkan dari orangtua yang telah membesarkanku selama ini, merekalah yang seharusnya aku bahagiakan, merekalah seumber kebahagiaanku.

Orangtuaku menginginkanku belajar dengan baik, jadi orang yang baik, dan taat agama. Pacaran? Sama sekali nggak ada di agama Islam. Aku akan menjadi orang paling berdosa kalau sampai membuat kedua senyum itu berubah menjadi cemberut tanda kecewa, apalagi tangisan. Akhirnya aku memutuskan, aku akan jadi JONES, bukan jomblo ngenes, tapi jomblo happiness. No khalwat, until akad. Satu-satunya alasanku menjomblo adalah kedua orangtuaku, aku belum bisa membahagiakan mereka, tak pantas rasanya berbuat macam-macm. So, you can call me JONES. Tapi, sebenernya sih aku bukan jomblo, tapi single. Karena single itu prinsip, sedangkan jomblo itu nasib.

SMART Ekselensia Indonesia

Kusuka Jadi Anak IPS

Kusuka Jadi Anak IPS

Oleh: Reza Bagus Yustriawan
Alumni SMART Ekselensia Indonesia Angkatan IX, Mahasiswa Sosiatri FISIP UGM 2017

Anak IPS? Apa yang terlintas di benakmu saat mendengar kata IPS? Nakal? Suka tawuran? Kumpulan begundal? Kalau ya, berarti pikiranmu sudah terkontaminasi dengan “pepatah”  orangtua zaman dulu. Memang, kata siapa semua anak IPS itu begundal? Anak IPS itu seharusnya dihormati tahu, karena anak IPS gemar melestarikan budaya Indonesia melalui beragam ilmu sosial yang diajarkan para guru tercinta.

Namun, suka duka sebagai anak IPS yaa banyak juga sih, diantaranya, dicap kalau mereka yang masuk jurusan IPS itu tak elok dan akan sulit mencari pekerjaan di masa depan. Padahal nih yaa, tanpa kehadiran anak IPS, mungkin anak cucu kita tak akan tahu Tari Saman asal Aceh, Kujang, Rencong, Sejarah Indonesia, bahkan sejarah aku dan dia. Ini bercanda hehe.

Walau begitu, ada enaknya juga jadi anak IPS, misalnya, tak perlu berurusan dengan angka-angka ajaib, tak perlu mencari bilangan-bilangan rumit, dan tak perlu berpikir terlalu banyak (maksudnya tak perlu berurusan dengan kimia, matematika, fisika, dan pelajaran eksakta lainnya). Jadi, kalau belajar yaa gitu-gitu aja, enak, nyantai, nggak perlu kalkulator, nggak perlu ngitung-ngitung pergerakan setiap benda di bumi. Palingan ngitung-ngitung cuma dipake sekali-kali­—misal di kantin, ngitung utang—.

Hayoo… Ngaku…

Kalau nggak enaknya jadi Anak IPS juga banyak, salah satu yang paling bikin kesal itu kita harus ngapalin nama-nama orang luar yang nggak jelas. Ada juga tanggal-tanggal. Boro-boro nginget tanggal lahir orang, tanggal lahir orangtua aja nggak tau, ya nggak? Ngaku! Sedangkan, tanggal peristiwa kesaktian aku saja, aku nggak inget, apalagi hari Kesaktian Pancasila??

Jangan dikira jadi anak IPS itu nggak ribet. Mungkin selama ini banyak yang bilang kalau yang ribet itu cuma anak IPA doang, harus bawa termometer lah, labu melerleyer lah, spiritus lah. Eh! Jangan salah! Anak IPS juga ribet, malah lebih ribet, disuruh bawa peta lah, buat peta lah, menggali fosil lah, buat peta sambil menggali fosil lah, berkomunikasi dengan manusia-manusia purba lah. Ribetan mana hayo??

Yaa, ribet dua-duanya lah.

Aku sebenarnya agak resah, soalnya IPS di Indonesia dianggap tempatnya anak-anak buangan.

Aku nggak setuju!!

Pertama, karena aku juga anak IPS. Kedua, yaitu kalau nggak ada IPS nggak ada psikolog, kalau nggak ada psikolog nggak ada yang bisa nolongin orang stres, kalau terlalu banyak orang stres semua jadi stres, kalau semua orang stres entar mati. Wahhh!!! Kalau nggak ada anak IPS ujung-ujungnya nyawa semua orang mati. Ngeri banget kan akibatnya??

*Ngaco

IMG20180301084408

Sebuah Kisah Lebaran dan Baju Baru

Sebuah Kisah Lebaran dan Baju Baru

 Oleh: Andri Yulian
Suasana Syawal masih begitu terasa. Ya meski kali ini Lebaran di kota orang tapi banyak hal yang diperoleh.
Hal pertama yang banyak ditanyakan kepadaku adalah kenapa aku tidak mudik ke kampung halaman, kan rumahnya dekat, kan bisa naik bus kalau tidak ada tiket kereta, kenapa gak berkumpul bersama keluarga dan berlebaran di desa. Itulah contoh pertanyaan yang muncul di beberapa media sosial, dan kadang hanya bisa menjawab tidak karena sulit menjelaskan alasanya.
Entah kenapa, Lebaran tahun ini aku lebih memilih untuk menikmatinya sendiri tanpa kedua orangtua, sempat ada pertentangan saatku sampaikan bahwa aku tidak pulang Lebaran nanti, aku mau tetap di sini saja. Ibu adalah orang pertama yang menentang keinginanku, demikian dengan ayah. Maklum keluarga kami seringkali menghabiskan Lebaran di rumah dan selalu komplet bahkan saat aku menjalankan tugas sebagai guru konsultan di pedalaman Palembang, saat Lebaran aku sempatkan untuk pulang. Tapi sepertinya tidak untuk tahun ini.
Ramadan kemarin, bagiku adalah Ramadan yang luar biasa, saat di mana aku bisa benar-benar berbagi kebahagiaan bersama mereka. Ya mereka adalah siswa-siswa ditempatku bekerja, tidak semua memang tapi ada beberapa anak yang telah aku anggap sebagai adikku sendiri dan mereka telah mengajarkan aku tentang banyak hal.
Mungkin bagi kita, memakai baju Lebaran di Hari Raya adalah suatu hal yang biasa, bahkan mungkin tidak mesti di momen Lebaran kita bisa memakai baju baru. Ternyata hal ini tidak berlaku untuk mereka, mungkin untuk beberapa siswa yang beruntung dapat terpilih mengikuti program HOMESTAY, program orang tua asuh yang memang diselenggarakan oleh pihak sekolah. Tapi untuk mereka yang tidak beruntung, ya menetap di asrama. keuntungan dari program HOMESTAY ini mereka bisa mendapatkan uang saku dan baju-baju baru, berkunjung ke tempat-tempat wisata dan berbagai hal yang tidak mereka dapatkan di asrama, tapi ini tidak untuk semua siswa.
Baju lebaran seakan menjadi hal yang benar-benar mereka impikan, berbeda sekali dengan saya yang Alhamdulillah, baju lebaran pasti selalu dapat dari paman ataupun bibi, bahkan aku bisa dapat dua baju baru sekaligus,
Ada rasa haru yang mendalam, mengingat perjuagan mereka untuk mendapatkan baju lebaran, bahkan ada yang rela mencuci baju temannya untuk mendapatkan upah, bahkan ada yang tanpa segan meminta baju dari temannya yang sudah tidak muat dipakai, tapi muat untuk dirinya.
Banyak hal yang aku peroleh dari Ramadan tahun ini, Lebaran kali ini meski jauh dari orangtua tapi senang sekali dapat berbagi apa yang saya punya kepada mereka.
Meski sejatinya Lebaran bukan berati baju yang baru yang kita kenakan, tetapi melihat perjuangan mereka, mereka pantas untuk mendapatkannya walaupun tidak setiap tahun.
Hikmah besar yang dapat saya petik adalah, terkadang hal-hal biasa yang sering kita dapatkan, dapat berarti suatu hal yang besar bagi mereka yang belum pernah melakukan.
Mari terus bersyukur dan berusaha membuat setiap orang bahagia .
Terima kasih bapak dan Ibu yang sudah mengizinkan aku untuk tidak pulang Lebaran kali ini.

Ramadan Bulannya Al-Quran, Yuk Kita Utamakan!

Ramadan Bulannya Al-Quran, Yuk Kita Utamakan!

 

Sob seperti yang telah kamu ketahui kalau Al-Quran memiliki peranan penting dalam hidup manusia. Di dalam Al-Quran tertera berbagai keajaiban alam hingga kegiatan muamalah  yang sangat pas serta relevan dengan kehidupan kita hingga saat ini, padahal Al-Quran telah ada di Bumi sejak ribuan tahun silam lho. Luar biasa sekali kan? Tak mengherankan jika Al-Quran memang pas dijadikan pedoman bagi kita semua.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda:

اقرأوا القرآن فإنه يأتي يوم القيامة شفيعا لأصحابه

“Bacalah Al Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai syafa’at bagi Shahibul Qur’an” – (HR. Muslim  804)

Selain dipelajari, ternyata Al-Quran juga bagus bila kita menghapalnya. Para penghapal Al-Quran biasa disebut dengan Shahibul Qur’an, Sob, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani pernah berkata bahwasanya Shahibul Qur’an adalah orang yang menghafalkan Quran di hati, hal itu didasarkan atas sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

يؤم القوم أقرؤهم لكتاب الله

“Hendaknya yang mengimami sebuah kaum adalah yang paling aqra’ (paling hafal) terhadap kitabullah”

Lalu apakah kamu tahu kalau banyaaak sekali keutamaan menghafal Al-Quran diantaranya:.

  • Mendapatkan ridho Allah swt.
  • Quran akan menjadi penolong (syafaat) bagi penghafalnya
  • Akan menjadi benteng dan perisai hidup
  • Pedoman dalam menjalankan kehidupan
  • Kebaikan dan berkah bagi penghafalnya
  • Rasulullah sering mengutamakan yang hafalannya lebih banyak (Mendapat tasyrif nabawi)
  • Para ahli Quran adalah keluarga Allah yang berjalan di atas bumi
  • “Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahli Al Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya.” (HR. Ahmad)
  • Dipakaikan mahkota dari cahaya di hari kiamat yang cahayanya seperti cahaya matahari
  • Kedua orang tuanya dipakaikan jubah kemuliaan yang tak dapat ditukarkan dengan dunia dan seisinya
  • Kedudukannya di akhir ayat yang dia baca
  • Tiap satu huruf adalah satu hasanah hingga 10 hasanah

Setelah mengetahui keutamaann menghafal Al-Quran, maka kamu harus mengerahui kalau derajat surga yang didapatkan seseorang itu tergantung pada banyak hafalan Al Qur’annya di dunia, bukan pada banyak bacaannya, sebagaimana disangka oleh sebagian orang. Maka di sini kita ketahui keutamaan yang besar bagi pada penghafal Al Qur’an. Namun dengan syarat ia menghafalkan Al Qur’an untuk mengharap wajah Allah tabaaraka wa ta’ala, bukan untuk tujuan dunia atau harta” (Silsilah Ash Shahihah, 5/281).

Nah Dompet Dhuafa Pendidikan sebagai lembaga yang peduli dengan pendidikan anak negeri serta turut serta mencetak para penghafal muda Al-Qur’an melalui program-program pendidikannya akan meluncurkan program Ekselensia Tahfidz School yang segera diresmikan dalam waktu dekat.

Kami mengajak kamu semua untuk ikut berinvestasi untuk masa depan Indonesia dengan bersedekah untuk program-program Dompet Dhuafa Pendidikan.

IMG_0116

Amalan Cerdas Ini Pas Kamu Terapkan di Bulan Ramadan

Amalan Cerdas Ini Pas Kamu Terapkan di Bulan Ramadan

 

Sob pernahkah kamu merasa banyak sekali melakukan kesalahan yang berujung pada dosa? Lalu apa yang kamu lakukan untuk menghilangkan dan meminimalisasi perasaan tersebut? Kalau kami biasanya banyak-banyak membaca Qur’an, karena kami tahu ketika membaca Quran kami akan mendapatkan pahala dan kebaikan dari kemuliaannya. Selain itu kami juga berusaha mencari amalan cerdas. Amalan cerdas? Apa itu? Jadi Sob amalan cerdas ialah amalan yang pahalanya bisa mengalir sampai  kita meninggal dunia. Nah kalau menurut Ustaz Adi Hidayat, LC amalan ini biasa disebut dengan Shodaqoh Jariyah.

“Ketika kita punya uang Rp 100.000. Bagaimana caranya agar uang Rp 100.000 tersebut awet sampai ke akhirat? Caranya, cari amalan cerdas. Misalnya belikan mushaf berikan ke penghafal Al-Qur’an. Begitu dibacakan Al-Qur’annya, kita dapat pahalanya,” lanjutnya.

Seperti sabda Rasulullah saw., “Dari Anas Radhiyallahu anhu , beliau mengatakan, ” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ada tujuh hal yang pahalanya akan tetap mengalir bagi seorang hamba padahal dia sudah terbaring dalam kuburnya setelah wafatnya (yaitu): Orang yang yang mengajarkan suatu ilmu, mengalirkan sungai, menggali sumur, menanamkan kurma, membangun masjid, mewariskan mushaf atau meninggalkan anak yang memohonkan ampun buatnya setelah dia meninggal”. Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bazzar dalam Kasyful Astâr, halaman 149. hadis ini dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam shahihul Jami’ no. 3602

Salah satu nikmat besar Allah yang diberikan kepada hamba-Nya adalah menyediakan pintu-pintu kebaikan yang sangat banyak. Pintu-pintu kebaikan tersebut diberikan bagi mereka yang mendapat taufik dan hidayah semasa hidupnya, dan pahalanya akan mengalir ketika mereka meninggal. Karena orang yang sudah meninggal itu mereka tidak bisa lagi beramal dan mereka akan diminta pertanggunjawaban lalu diberi balasan dari perbuatan-perbuatan yang pernah mereka lakukan dalam hidup mereka.

Dengan memperbanyak amalan-amalan jariah, maka sebenarnya kita sedang menanam benih-benih pahala yang buahnya akan dipanen ketika seseorang sudah tidak berada di dunia lho Sob. Selama amalan kita bermanfaat bagi orang lain di dunia, maka pahala-pahala kita akan terus mengalir di akhirat kelak.

Semoga Allah Azza wa Jalla menghapus dosa-dosa kita dari pahala-pahala kebaikan yang kita lakukan dan senantiasa memberikan kita kesempatan untuk selalu berbuat kebaikan ya Sob.

Pulkam (14)

Pemuda dan Inspirasi Ramadan Kala Sunyi

Pemuda dan Inspirasi Ramadan Kala Sunyi

Oleh: Purwoudiutomo, GM Beastudi Indonesia

Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki pemuda” (Tan Malaka)

April 1993, surat kabar Republika yang baru berusia 3 bulan melakukan promosi di Stadion Kridosono, Yogyakarta. Ketika acara ramah tamah di Restoran Bambu Kuning, rombongan Republika bertemu sekelompok da’i muda yang tergabung dalam Corps Dakwah Pedesaan (CDP). Mereka adalah da’i sekaligus guru dan pemberdaya masyarakat yang berkiprah di daerah miskin Gunung Kidul yang saat itu tengah dilanda kekeringan dan kelaparan. Sebagai aktivis sosial, anggota CDP ini hanya digaji Rp. 6000.- per bulan. Gaji mereka berasal dari sumbangan para mahasiswa dari berbagai kampus di Yogyakarta. Singkat cerita, peristiwa tersebut menginspirasi lahirnya sebuah rubrik di Harian Umum Republika yang bertajuk Dompet Dhuafa pada 2 Juli 1993. Dompet Dhuafa kemudian terus berkembang menjadi salah satu Lembaga Amil Zakat tingkat nasional terbesar di Indonesia dengan puluhan kantor cabang dan perwakilan di dalam dan luar negeri. Sejarah kemudian mencatat nama Parni Hadi, Haidar Bagir, Sinansari Ecip, dan Erie Sudewo sebagai pendiri Yayasan Dompet Dhuafa Republika. Sejarah juga mencatat nama Ustadz Umar Sanusi dan (alm.) Ustadz Jalal Mukhsin sebagai pegiat Corps Dakwah Pedesaan. Namun sejarah luput mencatat, siapa saja mahasiswa yang telah menginspirasi rombongan Republika kala itu dengan menyisihkan uang saku mereka untuk menggaji anggota CDP. Ya, mereka adalah para pemuda yang menginspirasi dalam sunyi.

Pemuda ada di masa puncak idealisme. Kematangan secara fisik yang belum disertai kesempurnaan kematangan emosional justru membuat para pemuda menjadi sosok pemberani yang memegang teguh prinsip yang diyakininya. Itulah yang dilakukan oleh Tamlikha, Maksalmina, Martunis, Nainunis, Sarbunis, Falyastatnunis dan Dzununis yang memilih mengasingkan diri dalam sebuah gua untuk mempertahankan akidahnya. Setelah ditidurkan selama tiga ratus (ditambah sembilan) tahun dan bertemu kembali dengan masyarakat yang sudah silih berganti generasi dan sudah beriman kepada Allah SWT, alih-alih menjadi saksi hidup sejarah masa lalu mereka justru memohon agar Allah SWT mencabut nyawa mereka tanpa sepengetahuan orang lain. Idealisme orientasinya adalah terwujudnya cita-cita, bukan ketenaran. Bahkan nama-nama mereka pun kurang familiar dibandingkan dengan inspirasi sejarah oleh para pemuda yang bergelar Ashabul Kahfi. “…Sesungguhnya mereka itu orang-orang muda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahi mereka dengan hidayah dan petunjuk. Dan Kami kuatkan hati mereka (dengan kesabaran dan keberanian)…” (QS. Al Kahfi: 13 – 14).

Memperjuangkan sebuah idealisme tentu diwarnai berbagai tantangan yang menghadang. Pengorbanan adalah konsekuensi dari sebuah perjuangan. Dalam Al Qur’an Surah Al Buruj dikisahkan mengenai ashabul ukhdud,  kaum terlaknat yang menggali parit berisi api dan melempar semua orang yang beriman kepada Allah SWT ke dalam parit api tersebut. Kisah lengkap ashabul ukhdud dimuat dalam sebuah hadits panjang yang diriwayatkan Imam Muslim. Berkisah tentang seorang pemuda beriman yang dikaruniai keahlian pengobatan dan kemustajaban do’a. Kematiannya justru menancapkan iman yang mendalam kepada masyarakat yang menyaksikan pembunuhannya. Pun keimanan tersebut membuat mereka dilemparkan ke dalam parit api. Mereka menemui ajal dengan mendapatkan keridhaan Allah. Dalam hadits panjang tersebut, si pemuda hanya disebut ghulam yang berarti anak muda. Tidak dikenal namanya tidaklah mengurangi inspirasi mengenai keistiqomahan dan pengorbanan yang dicontohkan.

Semangat pemuda adalah semangat berjuang dan berkarya. Nothing to lose. Benar ataupun salah akan jadi pembelajaran hidup. Cenderung spontan dan agak kurang pikir panjang, tapi karenanya justru menjadi perjuangan yang penuh ketulusan dan keikhlashan. Jika di-list, akan panjang sekali daftar tokoh kunci pemuda inspiratif yang tak terlalu dikenal sejarah. Sebutlah Soegondo Djojopuspito, Ketua Panitia Kongres Pemuda II tahun 1928 yang menjadi titik tolak gerakan pemuda di Indonesia. Belum digelari pahlawan nasional, kalah tenar jika dibandingkan W.R. Supratman, misalnya. Padahal posisi sebagai Ketua Panitia saat itu sangatlah berisiko dan memberikan andil signifikan dalam keberlangsungan Kongres Pemuda. Atau sebut saja Wikana yang mendesak Soekarno memproklamasikan Indonesia, Frans Mendur yang mendokumentasikan detik-detik proklamasi, Shodanco Singgih yang ‘menculik’ Soekarno – Hatta ke Rengasdengklok atau Kusno Wibowo yang merobek warna biru pada bendera bendara yang berkibar di Hotel Yamato. Karena ketercapaian cita-cita adalah yang utama dibandingkan dikenalnya nama, para pemuda idealis ini tidak ambil pusing bagaimana catatan sejarah akan menempatkan mereka. Ya, sejarah juga alpa mencatat siapa mahasiswa yang pertama kali menduduki gedung MPR/ DPR dalam artian yang sebenarnya pada tahun 1998. Karena bukan disitu esensi perjuangan mereka.

Namun roda zaman terus berputar, era pengetahuan dan informasi seakan menuntut semua pihak untuk menunjukkan eksistensi. Para pemuda yang tadinya asyik menginspirasi dalam sunyi kini tak ketinggalan menjadi garda terdepan unjuk eksistensi. Berbagai macam kanal kontribusi digagas, bisa berupa kegiatan, program, gerakan, atau bahkan aplikasi di dunia maya. Iklim kompetisi ditambah motivasi untuk unjuk gigi mewarnai dinamika kontribusi pemuda. Menjadi sulit menyamakan isu dan gerak langkah kontribusi pemuda. Yang memang tidak lagi didesain untuk disatukan. Belum lagi semakin banyak pemuda yang kehilangan jati diri sehingga eksistensi menjadi orientasi, tak lagi memperjuangkan cita dan visi bersama. Kontribusi harus dalam ramai agar bisa menginspirasi. Bagaimanapun harus ada keuntungan yang diperoleh dari setiap karya dan kontribusi. Lebih miris lagi mendapati semakin banyaknya pemuda apatis yang tak peduli. Tingginya kompetisi diyakininya sebagai sebuah tanda untuk hidup ‘mandiri’, hidup untuk diri sendiri, hidup dalam dunianya sendiri. Bagi mereka, karya tidak perlu dibagi, cukuplah untuk menginspirasi diri sendiri.

Akan tetapi, yang namanya roda akan kembali ke titik awal. Saat ini pun masih banyak pemuda yang terus berkarya dalam sepi, tetap menginspirasi dalam sunyi. Gemerlap publikasi tak menyilaukan matanya yang menatap masa depan dengan penuh optimisme kegemilangan. Mereka sudah selesai dengan dirinya, sehingga dengan atau tanpa dikenal manusia, karya tetap harus tercipta. Eksistensi dirinya tak ada nilainya jika dibandingkan dengan motivasi untuk terus berkontribusi dan banyaknya manfaat yang hendak dirawat. Ketika memperjuangkan cita mulia menjadi pilihan, inspirasi bisa dilakukan dalam ramai maupun sunyi. Bentuk perjuangan bisa berubah menyesuaikan zaman, namun cita perjuangan tetaplah sama. Belum tentu populer, tapi memang popularitas bukan tujuan. Semakin sunyi, semakin menginspirasi, sebab energi tidak perlu terkuras hanya untuk meladeni persepsi orang. Hingga akan tiba suatu masa dimana kontribusi dalam sunyi ini kan dibuka tabirnya, menginspirasi dunia, membuat perubahan nyata. Tinggal pastikan diri kita turut berperan di dalamnya.