,

Perjuangan Berkesan di Kawah Candradimuka SMART

Perjuangan Berkesan di Kawah Candradimuka SMART

Oleh: Panji Laksono

Alumni SMART Angkatan V, Berkuliah IPB Jurusan Biologi

 

 

“Hati-hati ya le.. jaga diri di sana”

Tangan saya masih meggenggam pinggiran baju ibu. Terang dalam ingatan, air muka ibu masih tenang sementara saya beriak-riak tak karuan. Selain memang sedang tak enak badan, ada gejolak yang lebih tak enak yang saya rasakan. Saat itu lepas tengah hari tapi entah mengapa saya tidak ingin waktu menuntun sore datang lagi. Sebab saya tahu, itu adalah waktu terakhir –yaa dapat dikatakan demikian— sebelum udara membawa saya pergi jauh. Lebih jauh dari mimpi meneruskan sekolah di kampung saya yang ada di tengah hijaunya Kalimantan Selatan.

Bercerita tentang hal ini memaksa saya menilik lagi album masa lalu. Mereka ulang refrain lama yang tak akan saya lupakan. Saat di mana dejavu begitu pertama kali lewat di depan masjid sekolah, atau mengantre mandi demi mengejar apel pagi. Saat paket makanan dari orang tua adalah harta ghanimah yang patut dibagi-bagi, atau telepon genggam asrama yang hanya bisa kami pakai seminggu sekali. Berkisah tentang hal ini memaksa saya belajar kembali. Tentang kata ‘berani’ yang tipis makna dengan ‘nekat’. ‘Berani’ untuk merantau bahkan saat gigi susu terakhir baru tanggal dari barisannya. Tentang keikhlasan dari sapaan terakhir ibu di ujung gerbang pemeriksaan bandara juga senyum simpul dari ustaz ustazah di sana.

Perkataan ustaz ustazah tentang sekolah SMART Ekselensia Indonesia yang merupakan Kawah Candradimuka buat saya bukan cuma kata-kata. Mereka tampaknya benar-benar serius dengan hal ini. SMART membuka mata saya kalau dunia tidak sebatas tutupan kanopi pohon karet dan tidak sedamai aliran sungai Martapura. Di inkubator ini, mereka sedang meretas mimpi-mimpi. Ya, tak terkecuali mimpi saya yang kini Alhamdulillah tengah bertengger di tingkat akhir perguruan tinggi pertanian Indonesia, Institut Pertanian Bogor (IPB). Kuliah? Saya tidak ingat tuh kapan terakhir kali mimpi masuk SMP favorit di daerah saya. Tapi kemudian di sana saya diberi banyak sekali pelajaran. Tak hanya pelajaran akademik, tapi juga pelajaran hidup. Sistem pengajaran di sana tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Guru-guru yang luar biasa tak hanya mengajar lewat bicara, namun juga lewat teladan nyata.

Dari dulu mungkin ustaz-ustazah SMART sudah tahu kalau saya memang suka berorganisasi. Sedari dulu ikut OASE (Organisasi Akademika SMART Ekselensia) sebagai Staf Departemen Sosial (2009), kemudian Wakil Kepala Departemen Keuangan (2010), sampai jadi Presiden OASE (2011). Pernah bergabung di Komisi Penegak Kedisiplinan (KPK) SMART dan ikut Squad Ensamble SMART. Mungkin belum patut dibanggakan, tapi sangat berkesan. Lewat hal itu saya banyak belajar tentang organisasi. Setidaknya puing pengalaman ini akan sangat berguna di kemudian hari.

Entah dapat disebut menarik atau tidak, saya termasuk 5 orang terakhir dari SMART yang masih harus berjuang ke perguruan tinggi selagi kawan-kawan yang lain sudah beranjak. Masih teringat saat itu layar komputer masih menampilkan tulisan merah—itu artinya kamu nggak lulus bro—yang biasa. Berkali gagal lantas pikiran mulai terbang ke mana-mana. Berpikir utuk pulang ke Kalimantan saja dan menyimpan mimpi ini tahun depan. Sampai saatnya ayah mengultimatum di seberang telepon

“Kamu gak boleh pulang sebelum semua ujian kamu selesaikan,” dan saya cuma diam.

Lika-liku berbumbu drama ‘ketinggalan kereta’ pun sempat jadi cerita. Sampai harus luntang-lantung di Jogja mencari angkutan ke Malang agar bisa daftar ulang di Universitas Brawijaya. Lantas akhirnya kembali ke Bogor dan berkuliah di sana ikut jadi refrain yang saya kenang sekarang. Jika ditanya kenapa masuk IPB jurusan Biologi, saya hanya menjawab inilah yang diberi Allah pada saya. Dan saya sangat bersyukur atas hal itu. Allah tidak kasih apa yang saya mau, tapi saya percaya Dia kasih yang saya butuh.

Perjalanan sampai menjadi presiden mahasiswa IPB dilalui dengan banyak cerita. Bermula dari kadiv di kepanitiaan Semarak Bidikmisi 2013, aktif di BEM seperti menjadi kepala Departemen Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa BEM TPB 2013-2014, Staff Departemen Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa BEM FMIPA 2014-2015, sampai diamanah sekarang sebagai Ketua BEM FMIPA 2015-2016. Cerita lainnya adalah jadi sejarah menjadi Ketua pelaksana Masa Pengenalan Kampus Mahasiswa Baru (MPKMB) dua tahun berturut-turut untuk angkatan 51 dan 52 IPB. Banyak tantangan yang dihadapi dalam masing-masing cerita. Banyak pula pembelajaran yang bisa didapatkan dari setiap tantangan yang ada. Buat saya tidak ada orang yang benar-benar selesai dengan urusannya, yang ada adalah orang yang mengakselerasi dirinya untuk orang lain.

Terima kasih saja tidak akan pernah cukup untuk membalas apa yang sudah diberikan ustaz ustazah, SMART, maupun semua pihak yang turut berperan di dalamnya. Masih teringat dan sangat membekas apa yang pernah disampaikan oleh Ustaz Yasyfi M Ya’qub, bahwa “Hidup dengan berani karena mati cuma sekali”. Dari sana apa yang ingin saya bagikan untuk kawan-kawan di SMART maupun kawan-kawan yang lain adalah mari ambil peran, mari ambil bagian. Selamanya kita bisa saja terus berharap atau bermimpi. Yang membedakan pemimpi dan pemimpin adalah bukan hanya huruf ‘n’ pada akhir katanya, tapi juga kesediaanya untuk berjalan lebih jauh, tidur lebih sedikit, dan kesiapan untuk memiliki tanggung jawab lebih banyak. SMART mengajarkan banyak hal yang sangat berguna untuk masa depan. Manfaatkan keberadaan di kawah chandradimuka ini sebagai ajang untuk mengasah diri, mengaktualisasikan diri, dan belajar untuk bisa berperan bagi orang lain.

“Jika bergerak adalah pilhan, maka aku memilih untuk tidak tinggal diam”

 

 

 

,

Yuk Kita Belajar Dari Umar bin Khattab, Sob

Yuk Kita Belajar Dari Umar bin Khattab, Sob

Oleh: Aidil Ritonga

Umar bin Khattab adalah salah satu sahabat Nabi yang sangat teguh pada pendirian. Ia selalu gigih dalam mempertahankan apa yang diyakininya baik sebelum masuk Islam atau sesudahnya. Misalnya kebudayaan suku Quraisy ketika itu dimulai dari tradisi, ritual peribadatan, hingga sistem sosial ia yakini sepenuh hati. Demi itu semua ia rela mengorbankan seluruh jiwanya. Maka pantas jika ia menentang Islam dengan keras dan kejam pada awal masa dakwah, bahkan sepertinya tidak ada ampun bagi para pengikut agama Islam waktu itu.

“Aku ingin mencari orang yang berpindah agama itu (Nabi Muhammad Saw) yang telah memecah belah bangsa Quraisy, menghina impian Quraisy, mencela agama dan menghina tuhan-tuhannya. Aku ingin membunuhnya.”

Jiwanya merasa khawatir kalau kedatangan Islam akan meruntuhkan sistem sosial, politik dan budaya Mekah yang sudah mapan. Saat itu, Mekah memang memiliki posisi yang sangat strategis di kalangan bangsa Arab. Di kota ini terdapat rumah Tuhan (Ka’bah), yang selalu dikunjungi oleh orang-orang Arab. Hal inilah yang membuat suku Quraisy memiliki posisi strategis di kalangan bangsa Arab dan menjadikannya memiliki kekayaan spiritual dan material. Hal ini pula yang menjadikan Mekah menjadi maju dan berkembang. Sebab itu orang-orang kaya Mekah menentang keras agama Islam dan menyiksa orang-orang lemah dari pengikutnya. Umar bin Khathab termasuk di antara penduduk Mekah yang paling kejam.

Kita selalu berbicara tentang pendidikan karakter hampir setiap saat, sehingga kurikulum pendidikan di Indonesia terus berganti. Tapi jarang sekali dibahas dari mana sumber karakter tersebut dan apa ukuran kebenaran sebuah karakter. Dari kisah Umar bin Khathab di atas setidaknya kita dapat mengambil 2 pelajaran yaitu sebagai berikut:

Pertama, manusia itu dikendalikan oleh apa yang diyakininya. Kita tahu bahwa manusia adalah unsur pertama dalam pembentukan sebuah negara. Sedang jiwa adalah ruang kendali perasaan dan inderanya manusia. Baik buruknya perjalanan hidup, benar salahnya sikap, kokoh dan lemahnya manusia, tergantung pada kebenaran dan kualitas konsepsi yang tertanam di dalam jiwanya. Seperti akar, ia adalah penentu, seperti apa jiwanya, maka seperti itulah pohon kepribadian dan arah hidup yang terbentuk padanya.

Inilah salah satu hikmah mengapa ketika hendak membangun masyarakat baru di atas puing-puing jahiliyah, Rasulullah Saw. tidak mengawali perubahan itu dari perbaikan infrastruktur atau kekuatan politik. Sebab kelak ia bisa menjadi pemicu terjadinya benturan antar peradaban. Tapi pembangunan itu diawali dengan merubah apa yang ada di dalam jiwa mereka. Rasulullah SAW menanam konsepsi sempurna yang sering kita sebut akidah, ke dalam jiwa mereka, mengarahkan pandangan dan pikirannya, membangkitkan akal dan mengingatkan fitrahnya, serta merawat  tanaman itu dengan pendidikan dan pengembangan hingga mencapai kesuksesan.

Akidah adalah mata air yang mengalirkan kebaikan. Seperti yang dijelaskan oleh Sayyid Sabiq dalam Aqidah Islamiyah, akidah adalah sumber berbagai perasaan yang mulia, lahan untuk menanam berbagai perasaan yang baik, dan tempat tumbuhnya perasaan yang luhur. Tidak ada satu pun keutamaan dan kebaikan, kecuali pasti bersumber darinya.

Tidak ada karakter yang kokoh tanpa akidah yang benar. Jika akidah atau keimanan itu hilang maka yang akan terjadi adalah krisis moral. Salah seorang ulama pernah mengatakan, krisis yang menimpa bangsa Indonesia adalah krisis keimanan dan ketaqwaan. Berawal dari krisis yang fundamental tersebut, maka terjadilah krisis susulan, seperti pembunuhan manusia tanpa hak, pemerkosaan, perzinahan, seks bebas dan aborsi, penggunaan narkotika dan minuman keras, pencurian hutan dan perusakan alam, perampasan hak orang lain, korupsi, penganiayaan dan kezaliman serta pelanggaran lainnya. Oleh karenanya penghentian atas krisis tersebut dimulai dari akar krisis dan akar permasalahannya. Jadi mari pendidikan karakter itu kita mulai dari penanam aqidah yang benar ke dalam jiwa anak didik kita.

Kedua, ukuran benar atau tidaknya suatu karakter adalah wahyu. Bagaimana cara kita hidup dan atas nama apa menjalaninya tidak bisa dinilai dengan ukuran manusia atau cara pandang manusia karena akal manusia yang tak sempurna. Itulah yang terjadi pada Umar bin Khathab sebelum masuk Islam ia bersikap atas cara pandangnya. Dalam konteks pembangunan karakter manusia muslim proses ditempuh melalui konsep-konsep Ilahiyah. Hanya Dia-lah yang memiliki kebenaran mutlak dan seluruh konsepsinya secara pasti akan sesuai dengan fitrah manusia serta seluruh kebutuhannya. Saya kira sudah saatnya kurikulum pendidikan nasional berdasarkan atas wahyu membentuk generasi sesuai dengan yang diinginkan oleh Sang Pencipta. Keberhasilan kurikulum tersebut sudah dibuktikan oleh generasi Islam terdahulu. Nah, sekarang kita bisa membedakan bagaimana Umar bin Khathab sebelum dan setelah masuk Islam, karakternya sama tapi nilainya berbeda. Wallahu’alam

,

Bangunlah Pemuda!

Bangunlah Pemuda!

Oleh : Anggi Nur Kholis Alumni SMART 9 Berkuliah di Universitas Brawijaya

PEMUDA!!
Pemudakan lah diri kalian!

Pemuda:
Bukan identitas;
Bukan status.

Pemuda:
Amanah;
Bertanggung jawab;
Berkarakter;
itu KITA!

Sadarnya pemuda, bangkitnya pemuda
Bangkitnya pemuda, bangkitnya negara
Bangkitnya negara, memengaruhi dunia.

,

Saatnya Kita Belajar Untuk Belajar Sob

Saatnya Kita Belajar Untuk Belajar Sob

Oleh: Saiful Choirudin

Alumni SMART Angkatan 1

Assalamu’alaikum. Nama saya Saiful Choirudin, lulusan angkatan pertama SMART. Ini adalah sepenggal kisah pengalaman berharga saya.

Sejak kuliah di Universitas Paramadina, saya sudah mengajar membuat kartun di SMP Islam Al- Syukro Universal, Ciputat. Di sana, saya mengajar ekstrakurikuler khusus untuk membuat dan belajar mengetahui apa-apa saja yang berhubungan dengan kartun. Saya tahu ada lowongan kerja sambilan di sekolah itu dari seorang ustadz yang sebelumnya pernah mengajar pelajaran bahasa Inggris dan juga menjadi kepala asrama di SMART yaitu Ustadz Heri Sriyanto.

Saya mengajar untuk satu tujuan yang besar, yaitu untuk belajar. Jadi, saya masih ingin belajar meskipun sudah bekerja. Hanya belajar dan belajar.

Setelah mendapat gelar S1, saya masih ingin belajar lagi. Saat itu, belum ada pikiran yang muncul tentang mencari kerja. Kalau teman-teman saya sudah banyak yang mencari lowongan pekerjaan, saya tidak. Saya masih ingin belajar. Seakan-akan hanya ada pemikiran tentang belajar saja. Saya mengajar di SLB (Sekolah Luar Biasa) Mahardika juga masih untuk belajar, tepatnya belajar bersyukur.

Mungkin kebanyakan orang menganggap anak-anak yang berada di SLB itu gila, jelek, kotor, dsb. Tetapi saya tidak. Saya menggunakan kesempatan yang telah diberikan oleh Allah Swt. sebagai tempat untuk bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan pada kita semua.

Di SLB sendiri ada banyak hal yang unik dan berbeda dari sekolah-sekolah biasa. Satu kelas di SLB hanya berisi 5-8 siswa. Berbeda dari sekolah biasa yang bisa menampung lebih dari 20 siswa untuk satu kelas. Ketika mengajar, harus ada tenaga ekstra untuk memerhatikan dan mengawasi para siswa. Apabila seorang pengajar lalai sedikit saja, salah satu muridnya bisa melakukan hal yang tidak baik.

Saya pernah mengalami hal seperti itu. Saya pernah mengajar menggambar dan saya sedikit lalai. Apa yang terjadi? Salah satu murid saya ada yang memakan krayon yang dipegangnya. Mungkin dia mengira bahwa itu adalah sebuah permen. Saya juga pernah diludahi ketika masuk ke sebuah kelas. Saya sudah terbiasa akan hal seperti itu. Apabila di sekolah biasa seorang pengajar bisa mengajar setiap hari, di SLB tidak bisa. Seorang pengajar biasanya hanya mengajar 3 kali dalam seminggu.

Ada hal unik lain di SLB. Salah satunya adalah para orangtua murid yang selalu bersemangat mengawasi anak-anaknya. Mereka bagaikan mesin penjaga 24 jam bagi anak mereka.

Anak-anak yang bersekolah di SLB memang memiliki banyak kekurangan. Tetapi di balik kekurangan tersebut, tersimpan banyak hal yang kadang tidak dimiliki oleh orang biasa.

,

Serunya Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMART

Serunya Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMART

 

Bukan bagian dari umat kami kecuali dia yang tua menyayangi yang muda dan yang muda menghormati serta menghargai yang tua”.  Begitulah inti dari hadis nabi yang disampaikan kepala sekolah kami, Pak July Siswanto pada apel pagi Senin lalu. Sebagai punggawa tertinggi di SMART Ekselensia Indonesia beliau memiliki kewajiban untuk mengingatkan kami, para siswanya, agar saling menghargai. Apalagi sekarang SMART kedatangan banyak personel baru.

***

Senin, 16 Juli 2017 – Pagi itu begitu indah. Selagi berangkat ke sekolah kami melihat sejumlah siswa berbaris rapi di depan masjid. Mereka mengenakan seragam kebangsaan SMP (karena mereka saat ini belum diizinkan memakai seragam SMA sebelum MPLS selesai), tetapi ada yang membedakan yakni mereka juga mengalungkan nametag (terbuat dari kardus bekas) dengan beragam tulisan unik. Ah sepertinya baru kemarin kami merasakan libur panjang di asrama, tiba-tiba saja hari ini kami sudah masuk sekolah lagi. Oh iya, beberapa hari lalu, SMART kedatangan empat puluh siswa baru yang datang dari berbagai provinsi di Indonesia lho. Keempat puluh siswa baru tersebut resmi menjadi Angkatan 15 SMART Ekselensia Indonesia.

SMART Ekselensia Indonesia

Alhamdulillah di tahun ajaran baru ini kami telah duduk di kelas yang baru, adik-adik kelas Angkatan 15 juga akan merasakan kehidupan di SMART yang seru. Layaknya budaya di sekolah lain, di SMART saat ini sedang digelar Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) lho. MPLS sendiri dilaksanakan setiap tahun ajaran baru dimulai, peserta MPLS ditujukan hanya untuk mereka yang duduk di Kelas IV dan Kelas I saja. Selama tiga hari  para peserta akan mengikuti berbagai kegiatan yang akan membuka wawasan seputar SMART.

 

SMART Ekselensia Indonesia

Oh iya, tahu tidak kalau MPLS tahun ini dipegang oleh siswa lho. Pelaksanaan MPLS khusus Kelas I dipegang siswa kelas III, dan pelaksanaan MPLS kelas IV dipegang siswa-siswa dari kelas V. Tenang saja pergerakan kami diawasi langsung oleh para guru kok Sob.

 

SMART Ekselensia Indonesia

Sejak hari pertama MPLS kami sangat senang melihat antusiasme para peserta, terutama adik-adik Angkatan 15. Mungkin karena ini pengalaman pertama mereka melaksanakan MPLS sehingga terlihat sangat serius, wajah tegang nampak jelas di wajah mereka, namun semangat mereka luar biasa. Pun para peserta Kelas IV memperlihatkan hal serupa walau mereka telah di SMART selama beberapa tahun. Kami sangat berharap kegiatan ini akan menguatkan rasa cinta para siswa SMART dengan cara yang menyenangkan.

SMART Ekselensia Indonesia

Selamat menempuh tahun ajaran baru ya! Semangat di kelas untuk Kelas IV dan semangat menikmati sekolah baru ya Kelas I. Yuk bahu membahu membuat SMART semakin  berprestasi. (AR).

 

,

Hiduplah Dengan Berani Karena Mati Hanya Sekali Sob

Hiduplah Dengan Berani Karena Mati Hanya Sekali Sob

 

Panji Laksono, Presiden Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (KM) IPB tahun 2017 tercatat sebagai mahasiswa Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) angkatan 50. Pria kelahiran 22 Mei 1996 di Desa Danau Salak, Banjarmasin, Kalimantan Selatan ini merupakan salah satu penerima Beasiswa Aktivis Nusantara angkatan 2017.

Titik balik kehidupan seorang Panji dimulai pada awal kelulusan dari sekolah dasar (SD). Seorang guru menyarankannya untuk masuk ke Sekolah SMART Ekselensia Indonesia Dompet Dhuafa yang terletak di Parung, Bogor, Jawa Barat. Dari sepuluh orang pendaftar yang berasal dari Kalimantan Selatan, Panji adalah satu-satunya siswa yang diterima di sekolah tersebut.

Kehidupan sekolah asrama tentu bukan perkara mudah bagi seorang anak yang baru lulus dari bangku SD. Sebagai siswa baru, Panji tidak diizinkan keluar dari asrama selama dua bulan. Ia pun hanya memiliki waktu 20 menit selama seminggu untuk menelpon keluarganya di Kalimantan. Dengan jadwal sekolah yang padat, perlahan Panji mulai terbiasa dengan kehidupan di SMART Ekselensia Indonesia. Ia pun hanya bisa pulang ke Kalimantan setiap satu tahun sekali pada liburan awal tahun, sedangkan liburan Ramadan biasa dihabiskan bersama keluarga donatur atau teman seasramanya.

Selama di sekolah, Panji aktif mengikuti kegiatan non akademik seperti Organisasi Siswa SMART Ekselensia Indonesia (OASE) atau biasa dikenal dengan OSIS dan tim perkusi sekolah. Ia pernah menjadi staf OASE sewaktu SMP, Menteri Keuangan, dan Presiden OASE sewaktu SMA. Baginya, pengalaman paling berharga didapat melalui tim perkusi sekolah. Ia pernah tampil di berbagai tempat, mulai dari kementerian hingga pemukiman kumuh. Di sinilah ia mulai belajar mengenai kehidupan bahwa dunia ini tidak sekadar tegakan pohon karet seperti di desanya di Kalimantan.

Perjuangan Panji untuk menjadi mahasiswa pun bukan perkara mudah. Panji mencoba semua kemungkinan untuk dapat diterima di perguruan tinggi negeri (PTN). Ada tiga PTN yang saat itu menerimanya, hingga akhirnya ia menentukan pilihan pada IPB.

Pilihannya tidak salah, banyak pengalaman berharga yang Panji dapatkan selama menjadi mahasiswa IPB. Mulai dari menjadi anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Program Pendidikan Kompetensi Umum (PPKU), Ketua Masa Pengenalan Kampus Mahasiswa Baru (MPKMB) 51 dan 52, anggota BEM FMIPA, Ketua BEM FMIPA, dan kini menjadi Presiden Mahasiswa.

Alasan Panji memilih terjun di dunia aktivis cukup sederhana. Ia hanya ingin belajar sesuatu yang tidak mungkin ia dapatkan di dalam ruang kelas. Dengan menjadi seorang aktivis, banyak pengalaman dan kesempatan baru yang ia dapatkan. Contohnya ketika ia mengikuti Latihan Kepemimpinan Manajemen Mahasiswa Tingkat Lanjut (LKMM-TL) belum lama ini. Pertemuannya dengan salah satu peserta LKMM mengubah cara berpikir Panji dalam membangun Indonesia.

Kembali ke kampung halaman merupakan impian seorang Panji. Ia ingin membangun usaha keluarga dengan memanfaatkan potensi lahan di daerahnya. Panji juga bermimpi untuk menjadi Kepala Desa di desanya. Ia percaya bahwa pembangunan harus dimulai dari lini terkecil yaitu desa. Indonesia tentu akan maju jika para pemudanya mau kembali dan membangun ke desanya masing-masing.

Inilah pembeda Panji dengan penerima Beasiswa Aktivis Nusantara (BAKTI NUSA) lainnya. Kehidupan semasa sekolah asrama telah mengubah seorang Panji. Dari anak SD yang ‘cengeng’ menjadi remaja mandiri yang mampu tinggal di tanah Jawa seorang diri. Masa kampusnya pun diwarnai dengan banyak halang rintang. Tidak mudah memimpin kepanitiaan terbesar dengan jumlah peserta terbanyak di IPB selama dua tahun berturut-turut, yaitu MPKMB 51 dan 52.

Sebagai Presiden KM IPB, Panji bukan hanya bertanggung jawab dengan anggota BEM-nya saja tapi juga seluruh mahasiswa IPB. Ia mewakili suara mahasiswa dalam Majelis Wali Amanat (MWA) di IPB dan menjadi ujung tonggak perjuangan pada pemilihan rektor mendatang. Di tataran BEM Seluruh Indonesia (BEM SI), Panji merupakan representasi dari mahasiswa IPB serta menjadi penanggung jawab isu pertanian BEM SI bersama dengan teman-teman Kementerian Kebijakan BEM KM IPB.

Ada satu motivasi dari Kepala Asrama di SMART Ekselensia Indonesia yang masih dipegang teguh oleh Panji. ‘Hiduplah dengan berani karena mati hanya sekali.’ Panji menjalani kehidupannya dengan penuh keberanian sesuai dengan pesan Kepala Asramanya. Baginya, jika ada kesempatan untuk belajar, maka cobalah kesempatan tersebut. Karena setiap perjalanan hidup tentu terdapat pembelajaran di dalamnya.(MI)

Jeleknya Pacaran yang Kudu Kamu Ketahui Sob

Jeleknya Pacaran yang Kudu Kamu Ketahui Sob

Pacaran? No way. Serius, pacaran itu nggak ada manfaatnya. Ini bukan sok alim atau sok suci, bukan pula karena nggak laku, melainkan berdasarkan fakta dan kenyataan. Memang nyatanya pacaran itu nggak ada manfaatnya, malah banyak mudharatnya. Tidak sedikit lho remaja dan mahasiswi yang terjerumus dalam zina karena pacaran. Saya banyak menerima konseling masalah ini. Saya sangat miris setiap kali menerima konseling masalah ini. Kok bisa ya?

Kalau sudah kejadian kehormatannya direnggut gratisan oleh pacar, baru deh nyesel dan nangis bombay. Sayangnya, penyesalan yang terlambat. Bunga sudah layu tak bisa dibuat mekar kembali. Kalaupun kamu tidak sampai terjerumus dalam hubungan seks, harga diri kamu juga sudah terendahkan. Karena, kamu sudah dipegang-pegang dan dicium-cium oleh pacarmu, seperti orang beli mangga.

Sudah gitu, ujung-ujungnya putus. Terang saja kamu yang rugi, bro. Seolah kamu tidak ada harga dirinya. Bisa diperlakukan seperti itu. Emang kamu mau digituin? Nggak ‘kan! Hormati dan sayangi dirimu dengan tidak pacaran. Pacaran hanya merendahkan perempuan. Tidak ada pacaran yang memuliakan perempuan. Kenapa? Karena, orientasi pacaran itu fisik.

Banyak remaja dan mahasiswi pacaran alasannya untuk penjajakkan. Ia yang terjadi adalah penjajakkan fisik. Sudah didapat, ditinggal pergi. Ibarat pepatah habis manis sepah dibuang. Kurang ajar ‘kan? Makanya, kamu jangan mau jadi korban pacaran, Sist. Sudahlah putusin sekarang juga dan jangan pacaran lagi ya. Pada waktunya nanti, jika kamu sudah siap, menikahlah. Hanya dengan menikah kamu akan termuliakan.

Sudahlah jangan ngeles. Nggak ada pacaran yang sehat. Kamu mau ngomong gitu ‘kan? Pacaran sehat. Hehehe… Saya sudah banyak menerima curhatan remaja. Jadi, saya tahu ngelesnya remaja dengan menyebut pacaran sehat. Mana ada pacaran sehat? Ngawur orang yang berpendapat kayak gitu. Lebih ngawur lagi pacaran Islami. Waduh tambah kacau nih pola pikirnya.

Emang kayak gimana pacaran Islami? Pacarannya di bawah tangga masjid gitu? Atau pacarannya sms-an ngingetin shalat dan ngaji. Hadeeuhh, itu cuma pembenaran  untuk melegalkan pacaran. Pokoknya nggak ada kompromi. Sekali tidak boleh tetap tidak boleh. Titik. Yap, pacaran itu dilarang dalam Islam. Maka, sudah semestinya kamu menjauhinya.

Islam melarang pacaran mesti ada hikmahnya, antara lain agar tidak ada celah masuk setan untuk menjerumuskan kamu ke perbuatan hina (zina). Berpacaran berarti membuka celah masuk yang lebar kepada setan untuk menggoda dan menjerumuskan kamu dan pacarmu pada kemaksiatan. Ingat, setan itu super licik dan gigih buat menjerumuskan kamu dan pacarmu pada maksiat.

Setan akan menyerang kamu dan pacarmu habis-habisan; dari depan-belakang dan kanan-kiri. Dia akan mengerahkan anak buahnya untuk mengeroyok kamu berdua. Kamu tidak akan dibiarkan lolos sampai terperangkap pada maksiat. Dada akan terasa bergemuruh karena bisikan setan yang terus berhembus. Apa kamu dan pacarmu bisa tahan?

Sadarilah iman kamu masih tipis ‘kan? Hehehe… Karena itu, hindari berpacaran dan berdua-duaan dengan pacar. Jangan beri celah setan untuk menjerumuskan kamu pada zina. Boleh jadi kamu awalnya nggak ada niat, tetapi ketika kesempatan terbuka, setan menyerang habis-habisan, pacarmu juga terus mendesak, apa kamu kuat bertahan, Sist? Dari konseling yang saya terima, banyak remaja perempuan yang terjebak dalam perangkap zina.

Okelah, saya anggap kamu bisa teguh menjauhi zina meski berpacaran. Namun demikian, pikirkanlah waktu produktifmu. Apakah dengan pacaran kamu bisa mengisi waktumu untuk kegiatan produktif? Nggak ‘kan. Malah, pacaran itu menghambat banget untuk pengembangan diri. Alasannya? Sederhana saja, waktumu akan habis tersedot oleh pacar. Mulai dari sms/wa/bbm nanyain kabar sampai merayu gembel eh salah maksudnya gombal.

Berangkat dan pulang sekolah berdua, jalan-jalan berdua dengan pacar, wah banyak banget deh waktu kamu yang tersita. Eh ujung-ujungnya putus. Sudah banyak yang kamu korbankan, eh doi malah pacaran lagi sama cewek lain. Sakitnya tuh di sini (ngelus dada). Kok bisa? Ya, bisa sajalah. Lha wong, pacaran itu nggak ada ikatan hukumnya, nggak ada statusnya. Kamunya saja yang mau di PHP-in. Mau-maunya menjalin hubungan tanpa ikatan hukum.

Mungkin kamu mau ngeles lagi, pacaran ‘kan dalam rangka mencari jodoh. Saya ingatkan ya, jangan pernah berharap mendapatkan jodoh yang baik dengan pacaran. Nggak akan pernah didapat. Bagaimana bisa mendapatkan sesuatu yang baik dengan jalan yang tidak baik. Pacaran bukan jalan yang disyariatkan agama untuk mendapatkan jodoh.

Mari kita pikir dengan saksama, dalam Islam, pernikahan itu sesuatu yang serius dan agung. Islam menyebutnya dengan mitsaqan ghalizhan (perjanjian yang berat). Ya, sejatinya orang yang menikah itu membuat perjanjian yang berat dengan Allah untuk menjalankan syariat pernikahan. Nah, sekarang kamu pikirkan jika ada seorang laki-laki yang bilang cinta padamu dan ingin menikah denganmu, tapi tidak berani melamarmu, hanya berani memacarimu, apakah cintanya benar dan serius? Kamu bisa jawab sendiri ya.

Tanda laki-laki serius dan benar cintanya padamu adalah dia berani datang ke orangtuamu untuk melamarmu. Itu baru laki-laki yang serius dan benar cintanya. Kalau lelaki yang hanya berani menyatakan cinta dan memacarimu, tolak cintanya dan tinggalkan saja. Dia hanya ingin senang-senang denganmu. Makanya, beraninya memacarimu.

Sudah banyak kok buktinya. Alih-alih mencari jodoh, yang terjadi malah kehilangan kehormatan dan harga diri. Serius, Sist. Sudah banyak lho remaja perempuan yang konseling langsung ke saya terjebak dalam pacaran yang melegalkan hubungan seks. Awalnya sih menolak, tapi karena terus didesak oleh pacar, akhirnya mau juga. Terjadilah dosa besar itu (zina). Dosa yang menghinakan kamu dalam pandangan Allah. Dosa yang menghalangi ibadah selama 40 tahun jika tidak ditobati dengan tobat nasuha.

Kalau sampai kejadian seperti itu, coba kamu pikir masih mungkinkah kamu memperoleh jodoh yang baik? Kamu menikah dengan pacarmu yang sudah merenggut kehormatanmu? Iya, kalau dia mau tobat nasuha. Jika tidak, kamu hanya akan melewati masa-masa kelabu bersamanya. Jika sebelum menikah saja dia berani berbuat seperti itu kepada kamu, bukan tidak mungkin saat sudah menikah denganmu, dia melakukan hal yang sama kepada perempuan lain. Kalau sudah begitu, pasti rumit masalahnya.

Karena itu, sekali lagi saya ingatkan, sebelum kejadian, lebih baik kamu jauhi pacaran. Kalau yang sudah terlanjur pacaran, segeralah putusin. Jangan sampai kamu jadi korban pacaran. Kamu sendiri yang rugi, Sist. Kerugiannya bukan sesaat, tetapi bertahun-tahun, bahkan bisa jadi sepanjang hidupmu.

Tiada jalan lain bagi yang ingin mencari jodoh yang baik selain melalui menikah. Ungkapan dan ekspresi cinta yang tulus hanya bisa terwujud melalui pernikahan. Karena, dengan menikah, berarti kamu telah menjadi satu jiwa dengan pasanganmu. Al-Qur’an menyebutnya dengan ungkapan sangat indah, “Hunna libasul lakum wa antum libasul lahunna.” (Istri-istrimu pakaian bagimu, dan kamu pakaian bagi mereka).

Jelas sekali ‘kan? Kalau mau mencari jodoh yang baik, bukan dengan pacaran. Karena itu, jadilah jomblo bermartabat. Fokus saja menata masa depanmu. Terus mempersiapkan dan memantaskan diri untuk diberikan jodoh terbaik. Pada waktunya, ketika kamu sudah siap dan memantaskan diri, insya Allah jodoh akan bertamu ke rumahmu. Indah ‘kan?

Sumber: http://www.sahabatremaja.id/pacaran-no-way/

,

Hoax Menghibur? Baca Di Sini Sob!

Hoax Menghibur? Baca Di Sini Sob!

Oleh: Anisa Sholihat.

Duta Gemari Baca PSB Makmal Pendidikan, saat ini berkuliah di Fakultas Pendidikan Guru SD (UNJ). Kontributor SMART Corner

Pada zaman modern seperti saat ini, perkembangan teknologi komunikasi dan informasi sudah semakin maju. Proses penyampaian pesan dan informasi tidak hanya dilakukan melalui surat menyurat ataupun Short Message Service (SMS), melainkan dapat dilakukan melalui gadget dan media sosial yang mutakhir seperti Twitter, Facebook (FB), Instagram (IG), Whatsapp (WA) dan BlackBerry Messenger (BBM). Hal itu mengakibatkan melesatnya penyampaian informasi yang terjadi di masyarakat. Membludaknya informasi yang kita terima melalui media sosial merupakan salah satu bukti kemajuan teknologi. Sayangnya, kemudahan untuk mendapatkan informasi tidak selalu memberikan dampak positif, terselip pula beberapa dampak negatif seperti mudah tersebarnya berbagai berita bohong yang tidak jelas kebenarannya atau berita hoax.

Berita-berita hoax sangat mudah kita temui ketika sedang berselancar di dunia maya. Parahnya, berita tersebut amat mudah tersebar dan menjadi viral di kalangan masyarakat. Rendahnya sikap kritis masyarakat ketika mendapatkan berita, menjadi salah satu penyebab menjamurnya peredaran berita hoax. Berita yang diterima melalui media sosial, biasanya ditelan mentah-mentah, kemudian segera dibagikan kepada khalayak ramai.

Bagi sebagian besar orang, berita hoax dianggap sangat meresahkan dan mengganggu. Namun, bagi beberapa orang yang memiliki daya kreativitas yang tinggi, viralnya berita hoax di masyarakat dimanfaatkan untuk membuat akun parodi yang memuat berita-berita hoax yang menggelitik dan memancing tawa pembaca. Berita-berita hoax tersebut tentunya sangat tidak serius dan hanya bertujuan untuk menghibur masyarakat, namun di sisi lain, mereka tetap meraup keuntungan, misalnya pendapatan dari iklan suatu produk karena viralnya berita yang mereka buat.

Berikut ini beberapa akun media sosial yang kerap mengunggah berita dan menyampaikan informasi yang tidak benar atau hoax dari sisi parodi yang tentunya sangat tidak serius dan menggelitik.

Liputan9

Akun Liputan9 merupakan akun parodi dari Liputan6 yang digagas oleh Federal Marcos dan diasuh oleh co founder Rahmat Saputra. Akun yang memiliki tagline kedaluwarsa, tumpul dan tidak dapat dipercaya ini dibentuk pada 14 Februari 2012. Latar belakang dibentuknya akun Liputan9 karena melihat peluang di mana saat itu belum banyak akun yang menyiarkan berita-berita parodi. Liputan9 hadir sebagai salah satu akun penyebar  berita parodi di sosial media. Tanggapan positif mereka terima dari masyarakat yang merasa terhibur, namun ada beberapa pihak yang kontra ketika membahas isu politik.

Selama lima tahun menggeluti akun Liputan9, tentu saja banyak sekali pengalaman dan suka duka yang tim Liputan9 rasakan diantaranya kebahagiaan karena mendapatkan keuntungan berupa invoice dari viralnya berita yang mereka buat serta iklan dari beberapa produk. Selain kisah bahagia, tentu terdapat pula kisah kurang menyenangkan, semisal, karya yang mereka buat diklaim oleh akun lain.

Berawal dari keisengan, kini, akun Liputan9 telah memiliki follower dalam jumlah fantastis, yaitu 868.000 pengikut di twitter, 9.000 pengikut di instagram dan 39.500 penyuka di LINE.

Contoh berita yang diunggah Liputan9:

“Perplocoan di dunia satwa, flamingo ini disetrap dengan mengangkat satu kaki.”

“Hormati bulan Ramadhan, Arsenal datang ke Indonesia dengan puasa gelar selama 8 tahun”.

“Harga bawang naik, Nia Ramadhani dan Revalina S. Temat sepi job”.

Rahmat Saputra, selaku co-founder liputan9, merasa sangat prihatin dengan banyaknya berita hoax yang beredar di media sosial dan dapat membuat orang lain saling membenci dan bermusuhan. Lebih disayangkan lagi, menurutnya, hoax menjadi bisnis menggiurkan bagi pihak tertentu. Meskipun ia juga memanfaatkan momen viralnya berita hoax, namun liputan9 tidak memprovokasi ataupun memberitakan kabar yang dapat meresahkan masyarakat. Berita-berita hoax yang diunggahnya, tak lain hanya bertujuan untuk menghibur masyarakat.

Berita Ngakak (@BeritaBodor)

Akun twitter Berita Ngakak (@BeritaBodor) dibuat pada 2011, setelah mengamati tren di kalangan anak muda. Seperti halnya Liputan9, akun Berita Ngakak pun menyajikan berita-berita parodi yang bertujuan menghibur pembaca, biasanya berita yang disiarkan berupa plesetan dari berita sungguhan.

Contoh berita yang diunggah Berita Ngakak di Twitter:

“Karena mata duitan, Tuan Crab ditangkap dan diperiksa KPK”

“Karena maraknya kebakaran akibat arus listrik hubungan pendek maka PLN akan merubah arus listrik jadi hubungan LDR.”

“Karena kebut-kebutan, jenazah di dalam mobil jenazah kini terbangun dan sopir mobil jenazah tersebut tewas karena terkena serangan jantung.”

Sampai saat ini, pengikut di akun twitter @BeritaBodor sebanyak 950.000 follower, sedang di instagram sebanyak 135.000 pengikut. Dengan followers sebanyak itu, bukan hal yang aneh jika mereka mendapatkan banyak sekali tawaran iklan dari berbagai produk. Dari situlah, mereka mendapatkan keuntungan.

,

Aku Makin Semangat Berbuat Baik Berkat Pengumpul Kertas

Aku Makin Semangat Berbuat Baik Berkat Pengumpul Kertas

Oleh: Bambang Widyatmoko

 

Pagi tadi saat kutatap lamat dari dalam bilik kamar, kulihat tumpukan kertas memenuhi gerobak hijau yang terparkir di depan asrama. Aku bertanya-tanya: “Siapa yang mengumpulkan ya? Buat apa kertas-kertas itu?”
Rasa penasaran mendorongku mendekati objek menarik tersebut. Kulewati lantai pualam asrama yang masih basah bekas jilatan kain pel tiga menit sebelumnya. Tak lama kemudian, muncul seorang anak dengan tubuh kurus tanpa mengenakan alas kaki. Postur tubuhnya pendek untuk anak seusianya, dengan lengan mungilnyan ia menarik gerobak hijau tadi.

Di kejauhan aku dapat melihat wajahnya memerah dengan tetesan keringat meluncur deras melewati pori-pori kulitnya. Walau terengah-engah semangatnya sungguh luar biasa, sesekali kulihat ia beristirahat, mungkin lelah dengan beban yang ia bawa.

Kuberanikan diri untuk mendekatinya sambil menatap tumpukan kertas di gerobak, “hei, kamukah yang mengumpulkan kertas-kertas ini?” tanyaku. Ia menjawab “Iya kak, sama teman satu lagi”. Aku hanya mengangguk. “Oh begitu, boleh kubantu untuk menarik gerobak ini?” pintaku. Iya mengiyakan dengan senyum terbit di wajahnya, tetapi ia terlihat sedikit ragu jika aku sanggup menarik gerobak miliknya. Kujawab keraguannya dengan berkata “Aaah tenang saja aku kuat kok,” lalu kuangkat gerobak tersebut daaaan ya ternyata berat sekali. Melihatku kepayahan ia tergelak sembari berkata “tuh kan benar, sudah kubilang kalau gerobaknya berat”. Akhirmya kami tergelak bersama. “Ya sudah aku yang dorong, kamu yang narik ya. Tapi sampai gerbang SMART saja tak apa kan?” pintaku, “oke tak apa kak. Bismillah saja,” responnya. Bahu membahu kami mendorong gerobak hijau tua itu. Tiba-tiba rasa penasaranku muncul, “kerta-kertas ini mau dijualkah?” tanyaku. “Iya kak  uangnya mau aku tabungkan, lalu sisanya untukku jajan”. Jawabannya sontak menyadarkanku bahwa seharusnya aku lebih banyak bersyukur karena sangat beruntung bisa bersekolah di SMART.

Sepanjang jalan kami bercengkrama dan berkali-kali terpingkal, sayangnya percakapan kami harus disudahi. Aku sedikit sedih ketika harus berpisah dengannya, saat itu juga rasa malu menyelimutiku, benar-benar malu. Usianya jauh di bawahku, tetapi ia memiliki pemikiran yang jauuuuuh lebih dewasa dariku. Semangatnya mengumpulkan pundi-pundi Rupiah memberikan banyak pelajaran bagiku bahwa hidup memang penuh perjuangan, dan mimpi pun sungguh harus diperjuangkan. Kita tak perlu malu untuk terus berusaha, bahkan jika perlu menyusuri jalanan Ibu Kota itupun tak mengapa selama perjuangan tersebut mampu membawa kita kepada mimpi-mimpi yang didamba.

Ini pelajaran hidup berharga untukku, semoga membuatku semakin dewasa.

Kekhasan Pemimpin dan Generasi yang Mengikutinya

Kekhasan Pemimpin dan Generasi yang Mengikutinya

 

 

Tiap generasi memiliki kekhasannya sendiri, kekhasan yang dibentuk oleh zamannya. Karl Mannheim dalam essai yang ditulisnya pada 1923 “The Problem of Generations” menjelaskan bahwa  sejarah, budaya, dan kondisi politik membentuk generasi muda pada waktu tersebut. Menurut teori karl Mannheim atau biasa dikenal dengan Generation Theory terdapat 5 generasi yang lahir pasca perang dunia II; Baby Boomer, generasi X, generasi Y, generasi  Z, dan generasi Alpha. Tiap generasi tersebut memilki sifat dan kekhasan tersendiri yang terbentuk dari adanya perang dunia II, generasi di Indonesia pun tak luput dari efek perang dunia II ini.

Generasi Baby boomer yang lahir pada tahun 1946-1964 atau yang kira-kira saat ini berusia merupakan generasi awal setelah PD II berakhir, generasi yang  adaptif dengan banyak pengalaman hidup. Generasi baby boomer di Indonesia lahir pasca kemerdekaan, dimana masa-masa tersebut masih awal berdirinya bangsa ini, mereka adalah saksi dan pelaku sejarah dari proses pembentukan awal negara ini, tentunya pengalaman melawan penjajah pasca kemerdekaan seperti agresi militer dan konferensi Asia Afrika . Generasi selanjutnya, yaitu generasi X yang lahir pada tahun 1965-1980 atau yang saat ini berusia 50-an sampai 36. Generasi X menjadi saksi sejarah masa-masa labil pemerintahan, dimana beberapa peristiwa besar terjadi di saat mereka remaja, salah satunya krisis moneter pada zaman pemerintahan Sohearto yang berakhir pada penggulingan kekuasaannya selama 30 tahun. Generasi Y yang lahir pada tahun 1981-1994 atau biasa disebut generasi milenial menjadi generasi awal penggunaan internet, generasi inilah yang saat ini masuk usia produktif di Indonesia. Generasi yang mengalami awal globaliasi ini mulai merasakan bounderless antar negara. Perkembangan internet yang mampu melewati batas antar negara menjadi pemicunya. Generasi Z atau yang lahir pada tahun 1995 hingga 2010, dimana berusia awal 20an dan bangku sekolah menjadi generasi yang sudah kenal dengan internet. Bahkan terdapat ungkapan untuk menandakan generasi gawai ini “generasi menunduk” dimana setiap saat yang dipegang adalah gawai berkoneksi internet.

Perbedaan karakteristik masing-masing generasi tentu membutuhkan pemimpin yang mampu memahami kebutuhan tiap generasi yang dipimpinnya, berbagai macam pendekatan tentu perlu diupayakan. Misalnya, untuk saat ini, dimana dunia maya sudah menjadi setengah dari kehidupan masyarakat, tipe kepemimpinan yang dibutuhkan tentu berbeda dengan masa sebelumnya. Sosok pemimpin yang dekat, mengayomi, gerak cepat lebih disukai dibanding tipe pemimpin yang banyak berorasi.

Tetapi sedikit berbeda ketika bertemu dengan generasi muda suatu pulau bernama Kolorai. Pulau yang berpenghuni hanya sekitar 200 penduduk ini dan termasuk pulau terluar Indonesia, meski masuk kedalam generasi X sampai Z yang identik dengan kemajuan teknologi, pemuda di Kolorai sedikit tertinggal dengan mereka yang tinggal di Jawa. Berada di pulau ujung dari pulau Maluku yang mendapat julukan “Mutiara hitam“  menjadikan akses terhadap internet ataupun teknologi menjadi terhambat. Tentunya untuk ‘mengambil hati’ mereka butuh strategi sendiri-sendiri. Pengamatan di awal adalah hal yang saya lakukan sebelum bergaul dengan mereka. Mengamati cara berkomunikasi, kebiasaan, dan kehidupan sehari-hari adalah hal penting untuk mengetahui cara bergaul dengan mereka. Pemuda Kolorai, sebagian kecil sudah ada yang menempuh kuliah di pulau seberang, namun masih banyak pula yang menetap dan bekerja di pulau Kolorai menjadi nelayan. Mereka sebenarnya pemalu, apalagi berhadapan dengan oang Jawa. Minder. Begitu kata tetua di sini, mereka tidak PD dengan perbedaan tingkat pendidikan dengan kami anak Jawa. Sedikit sulit memang, namun tetap perlu dicoba.

Pendekatan untuk menjalin komunikasi dengan mereka dimulai dengan bertemu langsung, mengungkapkan maksud kedatangan kami ke pulau tersebut, bertemu langsung di dalam satu ruangan dan selanjutnya mengobrol menjadi lebih mudah. Mengikuti kegiatan keseharian mereka juga menjadi pendekatan yang cukup ampuh untuk menghilangkan sekat anak kota dan anak desa. Pemuda Kolorai suka berolahraga, berenang, voli, an sepakbola, perempuan dan laki-laki semuanya ahli bermain. Dari hal tersebut lah kami perlahan-lahan mulai menjadi bagian dari mereka. Masuklah pada tenggat program pengabdian dijalankan. Program yang dibuat sebelumnya harus mengalami banyak perubahan melihat berbedanya antara ekspektasi dengan kondisi sesungguhnya. Meskipun banyak berubah tetap keberlanjutan harus dipertahankan. Tentu hal itu tetap harus ada, mengingat keberadaan kami di sana hanya satu setengah bulan. Setelah tidak adanya kami, program tetap harus berlanjut. Pulau Kolorai pada tahun 2015 ditetapkan dinas pariwisata sebagai pilot project desa wisata di Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara. Untuk mendukung program pemerintah ini, berbagai usaha kami lakukan, salah satunya adalah menyadarkan masyarakat akan tanggap bencana. Pariwisata yang terintegrasi tentunya butuh mekanisme evakuasi bencana yang baik untuk saat-saat genting, karena tidak dapat dipungkiri bahwa kejadian bencana alam, khususnya, sering terjadi di wilayah teritori Indonesia. Berdasarkan peta bencana 2016 yang dikeluarkan oleh BNPB, pulau Kolorai masuk dalam zona rawan bencana tsunami. Bencana tsunami merupakan salah satu bencana yang tidak mudah untuk diprediksi, saat ini teknologi prediksi tsunami jarang ditemukan di Indonesia, hanya daerah-daerah tertentu saja yang memilikinya, dan sayangnya Kolorai bukan salah satu yang memilikinya. Oleh sebab itu, penyadaran tanggap bencana secara manual harus dilakukan, terlebih ketika daerah tersebut menjadi destinasi kedatangan wisatawan.

Melihat kondisi masyarakat setempat dan kondisi lingkungan seperti di atas, maka program sadar tanggap bencana dapat dilakukan di saat-saat terakhir. Masyarakat Kolorai lebih banyak didominasi dengan mereka yang berumur produktif. Pemuda Kolorai lebih senang untuk melihat langsung bukti daripada penjelasan panjang lebar, maka dari itu kami tunjukkan peta rawan bencana yang kami dapatkan dari laman BNPB, dari peta tersebut mereka menjadi paham keberadaan pulau mereka dan dengan hanya ditambah penjelasan kondisi fisik sedikit soal daerah mereka, mereka sudah paham mengenai tingkat rawan bencana daerah yang mereka tinggali. Ekskekusi selanjutnya adalah dengan membuat jalur evakuasi bencana. Pulau Kolorai yang kecil dan relatif datar sedikit menjadi kesulitan untuk menemukan lokasi yang pas untuk menjadi titik kumpul evakuasi warga ketika sewaktu-waktu bencana terjadi. Pemuda Kolorai akan senang ketika dilibatkan dalam sebuah penyelesaian masalah di tempatnya. Maka dari itu, kami melibatkan langsung mereka dalam penentuan jalur yang cepat dan efektif evakuasi. Dengan hanya penjelasan singkat tentang kriteria jalur evakuasi dan titik kumpul, mereka dengan cepat mampu menentukan jalan jalan yang sesuai. Dengan terlibatnya mereka langsung dalam pemecahan masalah, mereka menjadi merasa bagian penting bagi keberlanjutan program ini dan tentunya rasa tanggung jawab untuk menjadi garda terdepan dalam penyelamatan bencana tumbuh, sehingga tanpa perlu disuruh lagi mereka sudah paham untuk melaksanakan tanggap bencana.

Meski berbeda, jauh dari pembangunan bukan berarti tidak dapat berkembang. Menjadi pemimpin bukanlah perkara gampang, apalagi membangun jiwa pemimpin pada diri orang lain. Membangunnya bukan perkara yang sekedipan mata dapat langsung terwujud, perlu usaha, strategi yang apik dan pengenalan mendalam pada jiwa yang dibangun untuk dapat mewujudkannya. Dan tentu hal tersebut tidaklah secepat larinya Buroq. Pengamatan terhadap kunci-kunci pembangun dan sentuhan awal pada titik yang dibutuhkan adalah langkah yang cukup mampu menyingkat waktu pembentukan jiwa pemimpin. Kesensitifan hati dan ketajaman membaca lingkungan adalah keahlian yang perlu dimiliki untuk menjadi dan membentuk pemimpin berkarakter.