,

Ini SMART, Ini (Bukan) Penjara!

Ini SMART, Ini (Bukan) Penjara!

Oleh: Ahfie Rofi

Alumni SMART Angkatan 7

Saat Ini Berkuliah di Universitas Gadjah Mada Jurusan Sastra Arab

 

Diujung tanduk!
Sisa waktuku di SMART kala itu tinggal hitungan hari. Berat rasanya harus pergi, padahal dulu hidup di sini serasa beban. Dulu inginnya cepat selesai, sekarang malah minta tambahan waktu. Tapi apa hakku? Dulu aku menganggap SMART sebagai penjara mengerikan. Namun, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya pengalaman, sekarang aku merasa ini “rumah” yang nyaman. Sebentar lagi lulus… Tidak terasa….
Yang kubayangkan waktu itu, SMART tak ubahnya seperti ibu hamil, dan aku adalah satu dari 38 janin yang akan segera lahir. Di satu sisi rasanya tidak sabar ingin cepat keluar, tapi kalau dipikir lagi, nyaman juga ya di dalam?
Lalu apa kata Ustazah Dini, guruku, menanggapi pernyataanku? Sambil tersenyum, beliau berkata,

 

“Terlalu lama di dalam rahim itu tidak baik, janin bisa mati. Terlalu cepat keluar juga tidak baik, bisa mati juga. Jadi, jalankan sesuai dengan apa yang digariskan-Nya. Nikmati, ikhlaskan, optimis dan berusahalah.”
Ah, benar juga. Memang jatah waktuku cuma lima tahun, dan sejauh ini aku tidak menyesal dengan semua yang telah terjadi.
Kembali aku ingat hari pertama aku menginjakkan kaki di SMART, Rabu 14 Juli 2010 pukul 12.00 WIB bertepatan dengan adzan dzuhur. Mobil jemputan kami tiba di tanah Dompet Dhuafa Pendidikan tercinta, membawaku dan dua temanku, Farhan (yang wajahnya mengingatkanku pada lelaki berandalan padahal seorang gamer) dan Fadlillah (yang waktu itu gendut dan culun, tapi sekarang sudah jadi “Dewa”-nya Fisika di angkatanku) serta orangtua kami masing-masing.
Aku juga ingat pernah diamanahi ayah dari temanku yang berasal dari kota penghasil timah agar menjaga anaknya selama di sini. Padahal anak yang sebenarnya postur badannya lebih kecil itu malah amat senang menggangguku. Tapi tidak apa itu masa lalu, sekarang kami sudah berdamai. Haha.

 

Lucu mengingat dulu temanku pernah dijahili habis-habisan sampai sempat dia pernah lompat dari atas ke bawah (kamar kami menggunakan kasur susun) gara-gara teman-temanku menggoyang-goyangkan ranjang anak Sulawesi itu sambil teriak, “Gempa!! Gempa!!” Untungnya dia mendarat di ranjang yang lain alih-alih langsung ke permukaan lantai. Bisa gawat kalau dia sampai cedera gara-gara itu.
Dan diantara kepolosan-kepolosan itu, tetap ada saja orang-orang yang “terpaksa” bermusuhan gara-gara masalah sepele seperti aku yang pernah bermusuhan dengan temanku dari Bandung cuma gara-gara rebutan permen (iya, serius lho!). Pernah juga ada yang ingin coba-coba kabur dari SMART Ekselensia Indonesia dan pulang ke rumah saudaranya di Jakarta karena tidak tahan tinggal di SMART tapi tidak jadi karena baru sampai di Bogor dia hilang nyali. Haha.
Tetap saja, itu hanya masa lalu, yang meski menyedihkan, meski menyebalkan, tetap akan indah ketika dikenang dengan penuh penerimaan. Dia hanya masa lalu, yang tetap akan begitu.
Sekarang kami sudah besar. Sebentar lagi berpisah, yang artinya sudah hampir lima tahun kami bersama-sama. Syukurlah, sekarang tidak ada lagi “musuhan-musuhan” ala anak-anak. Ah, indahnya.

,

Aku Makin Semangat Berbuat Baik Berkat Pengumpul Kertas

Aku Makin Semangat Berbuat Baik Berkat Pengumpul Kertas

Oleh: Bambang Widyatmoko

 

Pagi tadi saat kutatap lamat dari dalam bilik kamar, kulihat tumpukan kertas memenuhi gerobak hijau yang terparkir di depan asrama. Aku bertanya-tanya: “Siapa yang mengumpulkan ya? Buat apa kertas-kertas itu?”
Rasa penasaran mendorongku mendekati objek menarik tersebut. Kulewati lantai pualam asrama yang masih basah bekas jilatan kain pel tiga menit sebelumnya. Tak lama kemudian, muncul seorang anak dengan tubuh kurus tanpa mengenakan alas kaki. Postur tubuhnya pendek untuk anak seusianya, dengan lengan mungilnyan ia menarik gerobak hijau tadi.

Di kejauhan aku dapat melihat wajahnya memerah dengan tetesan keringat meluncur deras melewati pori-pori kulitnya. Walau terengah-engah semangatnya sungguh luar biasa, sesekali kulihat ia beristirahat, mungkin lelah dengan beban yang ia bawa.

Kuberanikan diri untuk mendekatinya sambil menatap tumpukan kertas di gerobak, “hei, kamukah yang mengumpulkan kertas-kertas ini?” tanyaku. Ia menjawab “Iya kak, sama teman satu lagi”. Aku hanya mengangguk. “Oh begitu, boleh kubantu untuk menarik gerobak ini?” pintaku. Iya mengiyakan dengan senyum terbit di wajahnya, tetapi ia terlihat sedikit ragu jika aku sanggup menarik gerobak miliknya. Kujawab keraguannya dengan berkata “Aaah tenang saja aku kuat kok,” lalu kuangkat gerobak tersebut daaaan ya ternyata berat sekali. Melihatku kepayahan ia tergelak sembari berkata “tuh kan benar, sudah kubilang kalau gerobaknya berat”. Akhirmya kami tergelak bersama. “Ya sudah aku yang dorong, kamu yang narik ya. Tapi sampai gerbang SMART saja tak apa kan?” pintaku, “oke tak apa kak. Bismillah saja,” responnya. Bahu membahu kami mendorong gerobak hijau tua itu. Tiba-tiba rasa penasaranku muncul, “kerta-kertas ini mau dijualkah?” tanyaku. “Iya kak  uangnya mau aku tabungkan, lalu sisanya untukku jajan”. Jawabannya sontak menyadarkanku bahwa seharusnya aku lebih banyak bersyukur karena sangat beruntung bisa bersekolah di SMART.

Sepanjang jalan kami bercengkrama dan berkali-kali terpingkal, sayangnya percakapan kami harus disudahi. Aku sedikit sedih ketika harus berpisah dengannya, saat itu juga rasa malu menyelimutiku, benar-benar malu. Usianya jauh di bawahku, tetapi ia memiliki pemikiran yang jauuuuuh lebih dewasa dariku. Semangatnya mengumpulkan pundi-pundi Rupiah memberikan banyak pelajaran bagiku bahwa hidup memang penuh perjuangan, dan mimpi pun sungguh harus diperjuangkan. Kita tak perlu malu untuk terus berusaha, bahkan jika perlu menyusuri jalanan Ibu Kota itupun tak mengapa selama perjuangan tersebut mampu membawa kita kepada mimpi-mimpi yang didamba.

Ini pelajaran hidup berharga untukku, semoga membuatku semakin dewasa.

,

REDUP

———–
REDUP
———–

Oleh: Muhammad Habiburohman

Ada bunga
Pelan-pelan
Pudar wanginya
Pelan-pelan sekali
Hilang kerlipnya
Dengan hati-hati
Menuju mati

(Kamis, 2017)

Kekhasan Pemimpin dan Generasi yang Mengikutinya

Kekhasan Pemimpin dan Generasi yang Mengikutinya

 

 

Tiap generasi memiliki kekhasannya sendiri, kekhasan yang dibentuk oleh zamannya. Karl Mannheim dalam essai yang ditulisnya pada 1923 “The Problem of Generations” menjelaskan bahwa  sejarah, budaya, dan kondisi politik membentuk generasi muda pada waktu tersebut. Menurut teori karl Mannheim atau biasa dikenal dengan Generation Theory terdapat 5 generasi yang lahir pasca perang dunia II; Baby Boomer, generasi X, generasi Y, generasi  Z, dan generasi Alpha. Tiap generasi tersebut memilki sifat dan kekhasan tersendiri yang terbentuk dari adanya perang dunia II, generasi di Indonesia pun tak luput dari efek perang dunia II ini.

Generasi Baby boomer yang lahir pada tahun 1946-1964 atau yang kira-kira saat ini berusia merupakan generasi awal setelah PD II berakhir, generasi yang  adaptif dengan banyak pengalaman hidup. Generasi baby boomer di Indonesia lahir pasca kemerdekaan, dimana masa-masa tersebut masih awal berdirinya bangsa ini, mereka adalah saksi dan pelaku sejarah dari proses pembentukan awal negara ini, tentunya pengalaman melawan penjajah pasca kemerdekaan seperti agresi militer dan konferensi Asia Afrika . Generasi selanjutnya, yaitu generasi X yang lahir pada tahun 1965-1980 atau yang saat ini berusia 50-an sampai 36. Generasi X menjadi saksi sejarah masa-masa labil pemerintahan, dimana beberapa peristiwa besar terjadi di saat mereka remaja, salah satunya krisis moneter pada zaman pemerintahan Sohearto yang berakhir pada penggulingan kekuasaannya selama 30 tahun. Generasi Y yang lahir pada tahun 1981-1994 atau biasa disebut generasi milenial menjadi generasi awal penggunaan internet, generasi inilah yang saat ini masuk usia produktif di Indonesia. Generasi yang mengalami awal globaliasi ini mulai merasakan bounderless antar negara. Perkembangan internet yang mampu melewati batas antar negara menjadi pemicunya. Generasi Z atau yang lahir pada tahun 1995 hingga 2010, dimana berusia awal 20an dan bangku sekolah menjadi generasi yang sudah kenal dengan internet. Bahkan terdapat ungkapan untuk menandakan generasi gawai ini “generasi menunduk” dimana setiap saat yang dipegang adalah gawai berkoneksi internet.

Perbedaan karakteristik masing-masing generasi tentu membutuhkan pemimpin yang mampu memahami kebutuhan tiap generasi yang dipimpinnya, berbagai macam pendekatan tentu perlu diupayakan. Misalnya, untuk saat ini, dimana dunia maya sudah menjadi setengah dari kehidupan masyarakat, tipe kepemimpinan yang dibutuhkan tentu berbeda dengan masa sebelumnya. Sosok pemimpin yang dekat, mengayomi, gerak cepat lebih disukai dibanding tipe pemimpin yang banyak berorasi.

Tetapi sedikit berbeda ketika bertemu dengan generasi muda suatu pulau bernama Kolorai. Pulau yang berpenghuni hanya sekitar 200 penduduk ini dan termasuk pulau terluar Indonesia, meski masuk kedalam generasi X sampai Z yang identik dengan kemajuan teknologi, pemuda di Kolorai sedikit tertinggal dengan mereka yang tinggal di Jawa. Berada di pulau ujung dari pulau Maluku yang mendapat julukan “Mutiara hitam“  menjadikan akses terhadap internet ataupun teknologi menjadi terhambat. Tentunya untuk ‘mengambil hati’ mereka butuh strategi sendiri-sendiri. Pengamatan di awal adalah hal yang saya lakukan sebelum bergaul dengan mereka. Mengamati cara berkomunikasi, kebiasaan, dan kehidupan sehari-hari adalah hal penting untuk mengetahui cara bergaul dengan mereka. Pemuda Kolorai, sebagian kecil sudah ada yang menempuh kuliah di pulau seberang, namun masih banyak pula yang menetap dan bekerja di pulau Kolorai menjadi nelayan. Mereka sebenarnya pemalu, apalagi berhadapan dengan oang Jawa. Minder. Begitu kata tetua di sini, mereka tidak PD dengan perbedaan tingkat pendidikan dengan kami anak Jawa. Sedikit sulit memang, namun tetap perlu dicoba.

Pendekatan untuk menjalin komunikasi dengan mereka dimulai dengan bertemu langsung, mengungkapkan maksud kedatangan kami ke pulau tersebut, bertemu langsung di dalam satu ruangan dan selanjutnya mengobrol menjadi lebih mudah. Mengikuti kegiatan keseharian mereka juga menjadi pendekatan yang cukup ampuh untuk menghilangkan sekat anak kota dan anak desa. Pemuda Kolorai suka berolahraga, berenang, voli, an sepakbola, perempuan dan laki-laki semuanya ahli bermain. Dari hal tersebut lah kami perlahan-lahan mulai menjadi bagian dari mereka. Masuklah pada tenggat program pengabdian dijalankan. Program yang dibuat sebelumnya harus mengalami banyak perubahan melihat berbedanya antara ekspektasi dengan kondisi sesungguhnya. Meskipun banyak berubah tetap keberlanjutan harus dipertahankan. Tentu hal itu tetap harus ada, mengingat keberadaan kami di sana hanya satu setengah bulan. Setelah tidak adanya kami, program tetap harus berlanjut. Pulau Kolorai pada tahun 2015 ditetapkan dinas pariwisata sebagai pilot project desa wisata di Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara. Untuk mendukung program pemerintah ini, berbagai usaha kami lakukan, salah satunya adalah menyadarkan masyarakat akan tanggap bencana. Pariwisata yang terintegrasi tentunya butuh mekanisme evakuasi bencana yang baik untuk saat-saat genting, karena tidak dapat dipungkiri bahwa kejadian bencana alam, khususnya, sering terjadi di wilayah teritori Indonesia. Berdasarkan peta bencana 2016 yang dikeluarkan oleh BNPB, pulau Kolorai masuk dalam zona rawan bencana tsunami. Bencana tsunami merupakan salah satu bencana yang tidak mudah untuk diprediksi, saat ini teknologi prediksi tsunami jarang ditemukan di Indonesia, hanya daerah-daerah tertentu saja yang memilikinya, dan sayangnya Kolorai bukan salah satu yang memilikinya. Oleh sebab itu, penyadaran tanggap bencana secara manual harus dilakukan, terlebih ketika daerah tersebut menjadi destinasi kedatangan wisatawan.

Melihat kondisi masyarakat setempat dan kondisi lingkungan seperti di atas, maka program sadar tanggap bencana dapat dilakukan di saat-saat terakhir. Masyarakat Kolorai lebih banyak didominasi dengan mereka yang berumur produktif. Pemuda Kolorai lebih senang untuk melihat langsung bukti daripada penjelasan panjang lebar, maka dari itu kami tunjukkan peta rawan bencana yang kami dapatkan dari laman BNPB, dari peta tersebut mereka menjadi paham keberadaan pulau mereka dan dengan hanya ditambah penjelasan kondisi fisik sedikit soal daerah mereka, mereka sudah paham mengenai tingkat rawan bencana daerah yang mereka tinggali. Ekskekusi selanjutnya adalah dengan membuat jalur evakuasi bencana. Pulau Kolorai yang kecil dan relatif datar sedikit menjadi kesulitan untuk menemukan lokasi yang pas untuk menjadi titik kumpul evakuasi warga ketika sewaktu-waktu bencana terjadi. Pemuda Kolorai akan senang ketika dilibatkan dalam sebuah penyelesaian masalah di tempatnya. Maka dari itu, kami melibatkan langsung mereka dalam penentuan jalur yang cepat dan efektif evakuasi. Dengan hanya penjelasan singkat tentang kriteria jalur evakuasi dan titik kumpul, mereka dengan cepat mampu menentukan jalan jalan yang sesuai. Dengan terlibatnya mereka langsung dalam pemecahan masalah, mereka menjadi merasa bagian penting bagi keberlanjutan program ini dan tentunya rasa tanggung jawab untuk menjadi garda terdepan dalam penyelamatan bencana tumbuh, sehingga tanpa perlu disuruh lagi mereka sudah paham untuk melaksanakan tanggap bencana.

Meski berbeda, jauh dari pembangunan bukan berarti tidak dapat berkembang. Menjadi pemimpin bukanlah perkara gampang, apalagi membangun jiwa pemimpin pada diri orang lain. Membangunnya bukan perkara yang sekedipan mata dapat langsung terwujud, perlu usaha, strategi yang apik dan pengenalan mendalam pada jiwa yang dibangun untuk dapat mewujudkannya. Dan tentu hal tersebut tidaklah secepat larinya Buroq. Pengamatan terhadap kunci-kunci pembangun dan sentuhan awal pada titik yang dibutuhkan adalah langkah yang cukup mampu menyingkat waktu pembentukan jiwa pemimpin. Kesensitifan hati dan ketajaman membaca lingkungan adalah keahlian yang perlu dimiliki untuk menjadi dan membentuk pemimpin berkarakter.

Mau Punya Karakter Mumpuni? Baca Ini Dulu Sob

Mau Punya Karakter Mumpuni? Baca Ini Dulu Sob

Oleh: Aidil Ritonga

Umar bin Khathab adalah salah satu sahabat Nabi yang sangat teguh pada pendirian. Ia selalu gigih dalam mempertahankan apa yang diyakininya baik sebelum masuk Islam atau sesudahnya. Misalnya kebudayaan suku Quraisy ketika itu dimulai dari tradisi, ritual peribadatan, hingga sistem sosial ia yakini sepenuh hati. Demi itu semua ia rela mengorbankan seluruh jiwanya. Maka pantas jika ia menentang Islam dengan keras dan kejam pada awal masa dakwah, bahkan sepertinya tidak ada ampun bagi para pengikut agama Islam waktu itu.

“Aku ingin mencari orang yang berpindah agama itu (Nabi Muhammad Saw) yang telah memecah belah bangsa Quraisy, menghina impian Quraisy, mencela agama dan menghina tuhan-tuhannya. Aku ingin membunuhnya.”

Jiwanya merasa khawatir kalau kedatangan Islam akan meruntuhkan sistem sosial, politik dan budaya Mekah yang sudah mapan. Saat itu, Mekah memang memiliki posisi yang sangat strategis di kalangan bangsa Arab. Di kota ini terdapat rumah Tuhan (Ka’bah), yang selalu dikunjungi oleh orang-orang Arab. Hal inilah yang membuat suku Quraisy memiliki posisi strategis di kalangan bangsa Arab dan menjadikannya memiliki kekayaan spiritual dan material. Hal ini pula yang menjadikan Mekah menjadi maju dan berkembang. Sebab itu orang-orang kaya Mekah menentang keras agama Islam dan menyiksa orang-orang lemah dari pengikutnya. Umar bin Khathab termasuk di antara penduduk Mekah yang paling kejam.

Kita selalu berbicara tentang pendidikan karakter hampir setiap saat, sehingga kurikulum pendidikan di Indonesia terus berganti. Tapi jarang sekali dibahas dari mana sumber karakter tersebut dan apa ukuran kebenaran sebuah karakter. Dari kisah Umar bin Khathab di atas setidaknya kita dapat mengambil 2 pelajaran yaitu sebagai berikut:

Pertama, manusia itu dikendalikan oleh apa yang diyakininya. Kita tahu bahwa manusia adalah unsur pertama dalam pembentukan sebuah negara. Sedang jiwa adalah ruang kendali perasaan dan inderanya manusia. Baik buruknya perjalanan hidup, benar salahnya sikap, kokoh dan lemahnya manusia, tergantung pada kebenaran dan kualitas konsepsi yang tertanam di dalam jiwanya. Seperti akar, ia adalah penentu, seperti apa jiwanya, maka seperti itulah pohon kepribadian dan arah hidup yang terbentuk padanya.

Inilah salah satu hikmah mengapa ketika hendak membangun masyarakat baru di atas puing-puing jahiliyah, Rasulullah Saw. tidak mengawali perubahan itu dari perbaikan infrastruktur atau kekuatan politik. Sebab kelak ia bisa menjadi pemicu terjadinya benturan antar peradaban. Tapi pembangunan itu diawali dengan merubah apa yang ada di dalam jiwa mereka. Rasulullah SAW menanam konsepsi sempurna yang sering kita sebut akidah, ke dalam jiwa mereka, mengarahkan pandangan dan pikirannya, membangkitkan akal dan mengingatkan fitrahnya, serta merawat  tanaman itu dengan pendidikan dan pengembangan hingga mencapai kesuksesan.

Akidah adalah mata air yang mengalirkan kebaikan. Seperti yang dijelaskan oleh Sayyid Sabiq dalam Aqidah Islamiyah, akidah adalah sumber berbagai perasaan yang mulia, lahan untuk menanam berbagai perasaan yang baik, dan tempat tumbuhnya perasaan yang luhur. Tidak ada satu pun keutamaan dan kebaikan, kecuali pasti bersumber darinya.

Tidak ada karakter yang kokoh tanpa akidah yang benar. Jika akidah atau keimanan itu hilang maka yang akan terjadi adalah krisis moral. Salah seorang ulama pernah mengatakan, krisis yang menimpa bangsa Indonesia adalah krisis keimanan dan ketaqwaan. Berawal dari krisis yang fundamental tersebut, maka terjadilah krisis susulan, seperti pembunuhan manusia tanpa hak, pemerkosaan, perzinahan, seks bebas dan aborsi, penggunaan narkotika dan minuman keras, pencurian hutan dan perusakan alam, perampasan hak orang lain, korupsi, penganiayaan dan kezaliman serta pelanggaran lainnya. Oleh karenanya penghentian atas krisis tersebut dimulai dari akar krisis dan akar permasalahannya. Jadi mari pendidikan karakter itu kita mulai dari penanam aqidah yang benar ke dalam jiwa anak didik kita.

Kedua, ukuran benar atau tidaknya suatu karakter adalah wahyu. Bagaimana cara kita hidup dan atas nama apa menjalaninya tidak bisa dinilai dengan ukuran manusia atau cara pandang manusia karena akal manusia yang tak sempurna. Itulah yang terjadi pada Umar bin Khathab sebelum masuk Islam ia bersikap atas cara pandangnya. Dalam konteks pembangunan karakter manusia muslim proses ditempuh melalui konsep-konsep Ilahiyah. Hanya Dia-lah yang memiliki kebenaran mutlak dan seluruh konsepsinya secara pasti akan sesuai dengan fitrah manusia serta seluruh kebutuhannya. Saya kira sudah saatnya kurikulum pendidikan nasional berdasarkan atas wahyu membentuk generasi sesuai dengan yang diinginkan oleh Sang Pencipta. Keberhasilan kurikulum tersebut sudah dibuktikan oleh generasi Islam terdahulu. Nah, sekarang kita bisa membedakan bagaimana Umar bin Khathab sebelum dan setelah masuk Islam, karakternya sama tapi nilainya berbeda. Wallahu’alam

Halo Adik Kelasku Sang Mahasiswa Baru, Semangat Ya!

Halo Adik Kelasku Sang Mahasiswa Baru, Semangat Ya!

Oleh: Johan FJR, Angkatan 7 saat ini berkuliah Universitas Gajah Mada jurusan Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (PSdK).

Tak pernah terbayang dalam hidupku, seorang perantauan di Bogor yang tinggal di asrama, ditolak kampus sekelas UI. Yap, aku dari dulu memang mengidamankan UI. Kampus yang punya segudang fasilitas, dan almamater serba kuning ini telah memikat hatiku. Aku dan Ahfie Rofi, sahabat Sunda-Cinaku, menargetkan UI dari berbagai seleksi masuk kampus yang ada. Terhitung sudah ada 3 jenis seleksi yang kami coba: SNMPTN, SBMPTN, dan SIMAK UI. Dan Alhamdulillah semua ditolak mentah-mentah sama kampus serba ‘wah’ itu. Entah kenapa kami yang memang sedari SMP sudah bersahabat, ternyata berlanjut sampai kuliah. Beruntung kami ditolak di UI, tapi masih diterima di UGM, dan masih bersama hehehe. Mungkin memang takdir persahabatan kami tak berlanjut di UI. Aku sudah mencoba segala cara agar bisa masuk UI. Di SNMPTN, aku pilih Ilmu Komunikasi, Kesejahteraan Sosial, dan Arkeologi UI. Di SIMAK UI, aku pilih Ilmu Komunikasi, Kesejahteraan Sosial, dan Kriminologi. Tapi takdirku justru hadir di pilihan kedua SBMPTN. Berbrda dengan Rofi yang selalu mencantumkan Sastra Arab (Sasbar) ditiap pilihannya.

***

Sore itu gerimis mengguyur Parung, gemericiknya runut membentuk notasi begitu menyentuh aspal. Aroma tanah basah menyeruak, hidung-hidung kami bisa dengan jelas merasakannya dan semburat sinar matahari berusaha menembus awan, memberikan secercah cahayanya untuk aku yang sedang menelpon ibu di balkon barat lantai 4. “Gantian woi!” Aku melangkah gontai, resah menunggu pengumuman SNMPTN. Tanganku meraih modul bimbel di atas lemari. Ya, ini buku ‘sakti’ terakhirku. Aku ogah keluar banyak cuma buat beli buku-buku SBMPTN seperti teman-teman yang lain, buku-buku itu pada akhirnya tak berguna karena aku lebih suka liat kunci jawaban langsung atau sekadar ke warnet buat menjajal simulasi daring UN, aku tak mau buang-buang uang. Keesokan harinya datang juga hari yang kutunggu, hari di mana pengumuman penerimaan via SNMPTN diumumkan. Seharusnya hasil SNMPTN sudah diumumkan pukul 09.00 WIB di TOA sekolah, tapi ternyata belum ada juga. Walau punya nilai rapor yang gak jelek-jelek amat, seuprit prestasi, juga rekam jejak yang gak neko-neko di sekolah, namun hari itu aku gusar. Aku membayangkan kalau aku diterima di UI lewat SNMPTN pasti mengasyikan sekali, membayangkan memakai jaket kuning saja membuat hati ini berdebar. Belum lagi kampusnya lengkap, berangkat kuliah bisa naik kereta, kalau ngekos dekat-dekat situ bisa berangkat kuliah naik sepeda, dan yang jelas bisa naik bis kuning yang hits itu. Aku sudah merencanakan apa saja yang mau aku lakukan di UI. Ikut lomba ini-itu, ikutan di BEM, nge-gym, tinggal di asrama, ngekos di Pocin, banyak! Bahkan aku juga sudah memutuskan kerja apa di Margonda nanti. Karena tak kunjung ada juga pengumuman lewat TOA, aku mengajak Rofi untuk bertanya langsung ke guru di ruang BK. Aku yakin, di sana guru BK kami pasti sedang mengotak-atik data.

Dari asrama lantai 4, kami melewati wisma guru di lantai 2, dan anak-anak yang sukanya menyaksikan ISL kalau sore di kantin lantai dasar. Asrama kami memang satu komplek dengan sekolah, dalam tiga menit sampailah kami di sekolah dan langsung berpapasan sama bu Ana dan bu Uci. “Assalamualaikum bu, hasilnya udah keluar belom?” “Udah, ini bentar lagi ibu mau umumin.” Aku sama Rofi mempersilakan bu Ana dan bu Uci masuk ke ruang TOA. Ding dang ding dung bunyi TOA yang kami kenal mulai mengudara. Ada suara berdehem, sejurus kemudian pengumuman pun terpampang nyata! “Assalamualaikum. Hari ini telah didapatkan 11 mahasiswa … blablabla … melalui jalur SNMPTN. Ustadzah ucapkan selamat kepada …” Jantungku deg-degan BANGET! Rofi menunduk sambil memasukkan tangannya ke saku jaket angkatan kami. Aku menahan napas, berusaha fokus mendengarkan pengumuman beliau. “ … Karunia Adiyuda Dilaga, diterima di blablablabla. Muhammad Zulkifli, diterima di blablablabla … ” Perasaanku mulai gak karuan ketika nama kedelapan disebutkan. Apakah nama kami ada di sana? “ … Yodie Ikhwana, diterima di blablablabla. Dan Juniar Tirja Pratama Gamgulu, diterima di blablablabla … ” … nama kesebelas pun terucap. Namaku gak ada. NAMAKU GAK ADA! NAMAKU GAK ADA! “NAMA AKU GAK ADA FI!” “GAK ADA!” “GAK ADAAAK!” Panik kugoyang-goyangkan bahu Rofi yang kecil. Tremor sudah! “NAMAKU JUGA!” ujar Rofi Nyesek dan bertanya-tanya, ‘Masa sih nama kami nggak ada?’ Kami berdua mengerubungi bu Ana, disusul beberapa anak yang baru datang dari asrama. Beliau memberikan selebaran lembar ketikan. Dan benar, nama kami tidak ada. Tanganku lemas sembari membalikan kertas tadi ke pangkuan bu Ana. Aku diam. Aku gak nyangka, kami berdua gak diterima lewat jalur undangan. Kami berdua pasrah. Hujan deras pun mengguyur kala itu.

***

Kami berdua melangkah lemas, mewek dikit, dan menghindari kerumunan massa. Kami menghindari tangga barat di mana anak-anak sedang nonton teve, takut banyak yang menanyakan kondisi kami akhirnya kami memutar ke tangga timur. Suara jeritan anak-anak yang diterima SNMPTN menggema sampai ke lantai dasar. Gemanya terus terngiang di pikiran kami berdua. NYESEK bro! Aku dan Rofi cuma duduk-duduk di tangga bawah. Merenung dan sedikit bersedih. Gak disangka ternyata kami berdua memang kurang memenuhi persyaratan SNMPTN. Aku sendiri menyadari kalau nilai Ekonomiku anjlok sejadi-jadinya. Tapi masih lebih beruntung dari Rofi yang anjlok sana-sini, hehehe. Rasanya nyesegh dan pengin maki-maki diri sendiri, ‘Kenapa ya aku gak belajar serajin-rajinnya, atau ibadah 24×7 gitu.’ Dalam kondisi ini, kayaknya aku jadi lebih dekat sama Tuhan, mencurahkan segala isi hati, segala gusar, dan berusaha menenangkan diri dengan baca Quran. Ya, aku yang sebelumnya lemas gegara tak lolos di SNMPTN, makin terpacu karena aku berpikir, “Tuhan mungkin gak memuluskan jalan aku lewat SNMPTN karena menurut-Nya, jalur itu terlalu mudah buat aku. Maka, Ia mencoba menguji kemampuan dan kesabaran aku melalui SBMPTN”.

***

Pada akhirnya kelas bimbel di sekolahku dimulai kembali kala itu. Di dalam kelas wajah-wajah lesu nampak mewarnai kelas yang dimulai pukul 6 dan berakhir jam 7 pagi tersebut, berulang kali guruku bilang, “Kalian sebenarnya jauh lebih beruntung, karena yang diterima di SNMPTN HARUS mengambil apa yang mereka pilih agar sekolah tidak di blacklist. Jadi, kalian yang lewat SBMPTN bisa memilih jurusan kalo cocok ato enggak”. Wah, iya juga. Misalnya si Udin memilih Keperawatan. Entah dia milihnya serius atau enggak, pastinya dia harus ambil dong biar sekolahnya nggak di blacklist kampus itu, hehehe. Aku pun jadi lebih bersemangat dan lebih serius untuk memilih jurusan yang kumau. Jujur, aku sendiri bingung BANGET untuk memilih jurusan apa. Terhitung ada ratusan jurusan yang tersedia di kampus. Ketika pembagian jurusan IPA-IPS, maka bisa dibilang berkuranglah jumlahnya. Tapi ketika SBMPTN hanya dikasih 3 kesempatan pilihan, aku kudu banting setir putar otak lompat-lompat sambil lirik-lirik jurusan mana yang prospeknya bagus (ke depannya), juga pastinya santai pas kuliah (#AkuBanget). Setelah melihat profil masing-masing jurusan, cek prospek kerja dan tanya ke alumni sana-sini, aku jatuh hati pada tiga pilihan besar berikut:
1. Ilmu Komunikasi UI Yap, aku suka banget sama dunia jurnalistik dan Ilmu Komunikasi. Menurutku keduanya memiliki keterkaitan dengan hobiku. Selain kampusnya yang udah jelas eksklusif dan kondusif, letak UI yang di Depok strategis buatku jika hendak melancong ke mana-mana: Jakarta, Bogor, Bandung bahkan Singapura. 2. Sosiatri UGM Aku gak tahu sebelumnya kalau jurusan yang getol banget memerhatikan masalah sosial, kebijakan pemerintah, dan dunia perpolitikan ini ternyata sudah berganti nama menjadi Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan. Jurusan ajaib yang mempelajari 3 jurusan (Manajemen Kebijakan Publik, Sosiologi, dan Politik Pemerintahan) sekaligus ini ternyata mempunyai prospek cerah karena banyak perusahaan yang membutuhkan CSR dari lulusan ini. Dan, banyak yang langsung diterima usai wisuda dari sini, hehe. 3. Jurnalistik Unpad Jurnalistik Unpad menjadi jurusan cadangan kalau kalau aku gak diterima di Ilkom UI. Sayangnya aku gak diterima di jurusan yang baru dibuka pada 2015 ini. Tapi mengapa, toh tiap kampus pasti ada pers mahasiswanya (persma).

***

Setelah banting gayung untuk buru-buru mandi mengikuti bimbel pagi, tarik sarung setiap pukul 03.00 WIB, juga belajar sehidup-semati, Alhamdulillah aku diterima di Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (PSdK) UGM. Yap, hidup baruku mulai diukir di kampus ini, kampus kerakyatan. Akan seperti apa? Aku juga tak tahu. Yang jelas untuk adik-adik kelasku jangan menyerah, belajar yang rajin kalau memang kalian ingin masuk ke jurusan favorit di kampus favorit. Yang jelas (lagi) mau SNMPTN atau SBNMPTN, kelak kamu akan jadi maba yang membawa nama SMART dikancah dunia perkuliahan, jaga baik-baik ya.