Idul Adha Penuh Keceriaan Cuma Ada di SMART

 

Kemarin (22-08) kami semua melaksanakan Salat Idul Adha, hanya saja prosesi penyembelihan baru dilakukan keesokan harinya. Kasak kusuk di setiap kamar tak terbendung terkait kegiatan Idul Adha di SMART, sama seperti kami mereka juga tak sabar, tapi kami harus segera tidur karena esok harus fit.  Akhirnya hari yang dinanti datang juga, pada Kamis (23-08) kami bersama para pegawai Dompet Dhuafa Pendidikan mengikuti kegiatan Nyabar alias Nyate Bareng Dompet Dhuafa Pendidikan. Tahun ini kami mendapat donasi Kambing sebanyak enam belas ekor  dan dua ekor sapi, kami bahagia sekali bisa melihat hewan qurban yang terlihat bersih di lapangan sekolah.

P_20180823_091510

Sambil bercengkrama kami berbondong-bondong menuju Lapangan Futsal untuk berkumpul mendengarkan sepatah dua patah kata dari Ustaz Syafei, Direktur Dompet Dhuafa Pendidikan, membuka Nyabar. Setelah mendengarkan sambutan tanpa ba bi bu kami merangsek menuju kambing yang ingin disembelih. Kami dibagi menjadi beberapa tim besar; ada tim yang membantu penyembelihan, membantu memotong-motong daging, menyiapkan perlengkapan untuk nyate, dan  mengkoordinasikan hasil bakaran sate kepada para pegawai serta guru.

P_20180823_091259

Suasana Lapangan Futsal SMART mendadak sangat semarak, maklum ratusan orang berkumpul menjadi satu. Pokoknya seru sekali, kami semua bahu membahu membuat sate terenak untuk dimakan bersama-sama. Selama dua jam setengah masakan sate kami jadi juga, tapi belum bisa kami makan dulu karena harus dikumpulkan terlebih dahulu di pantry sekolah.

3

“Bagi siswa yang telah selesai harap segera ke asrama untuk bebersih lalu ke masjid untuk melaksanakan Salat Zuhur berjamaah,” ujar Ustaz Firman lantang. Kami segera membereskan kekacauan di sekitar dan bergegas ke asrama untuk bebersih.

Usai melaksanakan Salat Zuhur berjamaah kami diminta ke Ruang Makan SMART untuk menikmati sate yang telah kami masak, waaah senangnya bukan kepalang karena akhirnya bisa mencicipi hasil masakan sendiri.

IMG-20180823-WA0000

Kami kembali dibagi berdasarkan kelas agar pendistribusian satenya adil dan merata, rasanya tak sabar ingin melahap sate di depan mata. Setelah semua sate terdistribusikan dengan baik tibalah momen penentuan, penentuan nikmat atau tidaknya masakan kami, ternyataaaa sate buatan kami semua rasanya nikmat dan dahsayat Sooob, hingga membuat makan kami semakin lahap.

2

IMG-20180823-WA0001

Alhamdulillah, hanya kata itu saja yang bisa kami ucapkan atas berkah hari ini. Kami sangat berterima kasih kepada para donatur atas kebaikannya berkurban di SMART, kami berdoa semoga berkah baik selalu menyertai mereka semua aamiin. (AR).

 

 

 

Yuk Ikutan Cuti Berbagi di Hari Kemerdekaan Indonesia

Kapan terakhir kali kamu merasakan upacara kemerdekaan bersama teman di luar sekolah Sob?

 
Bagi kebanyakan orang, merayakan Hari Kemerdekaan identik dengan upacara bendera. Tak jarang upacara di gunung menjadi pilihan. Namun pernahkah membayangkan rasanya upacara di sekolah yang letaknya di kaki gunung?
 
Komunitas Filantropi Pendidikan (KFP) mengajak kamu untuk merayakan hari kemerdekaan bersama anak-anak MI Al-Ikhlas dalam Cuti Berbagi. MI Al-Ikhlas merupakan salah satu sekolah dampingan Dompet Dhuafa Pendidikan yang terletak di kaki gunung Gede. Bukan hanya merayakan kemerdekaan dengan upacara, kita akan berbagi inspirasi dan merasakan kembali masa kecil dengan lomba-lomba 17-an.
 
Kapan pelaksanaannya?
16 – 18 Agustus 2018
(Titik kumpul 16 Agustus 2018 pukul 22.00 di Stasiun Bogor)
 
Di mana?
MI Al Ikhlas, Kampung Gunung Putri, Desa Sukatani, Kec. Pacet, Kabupaten Cianjur
 
Apa saja yang akan kita lakukan?
1. Upacara 17 Agustus
2. Ruang berbagi inspirasi
3. Kegiatan belajar dan bermain
4. Lomba-lomba 17 Agustus
5. Tracking Curug Kampung Gunung Putri
6. Live in bersama warga
 
Biaya: Rp 100K
(Donasi, transportasi, konsumsi)
 
Pendaftaran
081318725301
 
Siapapun kamu, apapun minat kamu, yuk bersama merayakan cita-cita bangsa bersama anak-anak dengan menjadi peserta Cuti Berbagi.

SELAKI 2.0

Oleh: Habib

Laut tak akan surut,
Matahari jelas dipanggang
Di punggung ombak biru
Di situ, tatap kita bertemu
–Pas satu sentuhan angin
Menggugurkan kelopak
Bunga waru.

(pan-tai,2017 )

 

 Pertemanan yang Hanya Bisa Kamu Temui di SMART

Oleh: Muhamad Reza Alamsyah,

Alumni SMART Angkatan 7, saat ini berkuliah di Unpad jurusan Bahasa dan Sastra Inggris

 

 

”Friendship is not something you learn in SCHOOL. But if you haven’t learned the meaning of FRIENDSHIP, you really haven’t learned anything.”
Muhammad Ali

 

Kalimat pembuka yang sangat sok-sokan ya hmm. Biarkan terlebih dahulu saya bercerita sedikit mengenai siapa saya sebenarnya. Nama lengkap saya Muhamad Reza Alamsyah, angkatan 7 SMART Ekselensia Indonesia (kami mengidentitaskan diri sebagai INDIERS), berhasil lulus dengan selamat pada tahun 2015, dan sekarang berkuliah di Universitas Padjadjaran jurusan Bahasa dan Sastra Inggris. Iya, memang belum lama.

Rasanya baru kemarin saya berangkat meninggalkan Makassar, kota kelahiran saya, dengan berat hati sambil membawa tekad kuat untuk mencapai sukses. Sangat klise memang, tapi begitu manis, apalagi untuk seorang anak yang baru memasuki usia 12 tahun pada saat itu.

Pertama kali saya menginjakkan kaki di SMART Ekselensia Indonesia dan mengetahui saya akan berada di sini selama lima tahun ke depan yang tentu bukan waktu yang singkat, saya langsung diserang rasa takut dan sedih secara bersamaan sehingga berkeinginan kuat untuk berhenti melangkah dan lebih baik pulang saja ke Makassar. Tapi, ya tentu ada tapinya, setelah beberapa bulan merasakan atmosfer yang betu-betul sebuah hal baru bagi saya, kesadaran bahwa saya tidak akan sendiri melangkah dan mengingat betapa banyaknya orang di kampung saya, khusunya keluarga, yang mengharapkan masa depan yang cerah bagi saya, keputusan untuk menetap sambil melanjutkan perjuangan akhirnya bulat.

Saya dipertemukan dengan anak-anak yang Subhanallah dalam banyak hal. Melakukan banyak kegiatan bersama membuat saya tidak ada keraguan untuk menganggap mereka sebagai sahabat atau mungkin lebih jauh, sebagai saudara baru, yang akhirnya dipertemukan di sekolah ini.

Masih amat jelas melekat mengenai begitu banyaknya kisah yang kami alami bersama. Kami pernah menundukkan kepala sambil menggerutu dalam hati ketika dihukum massal oleh Anggota KOPASSUS atas kesalahan kami yang katanya menjadi contoh buruk bagi adik kelas kami. Pernah juga menangis jika mengingat atau diingatkan mengenai keluarga yang jauh di sana oleh ustad atau ustadzah kami yang entah sengaja atau tidak, dan juga tertawa puas atas lelucon-lelucon lama yang sebenarnya tidak terlalu lucu tapi entah bagimana jadi lucu dan segar kembali untuk dibahas. Berkelana ke berbagai tempat yang dulunya hanya bisa kami saksikan melalui layar kaca dan mengagumi indahnya dari sana. Pulang balik sekolah-asrama setiap hari, bertemu orang-orang yang sama, tempat-tempat yang tak ada ubahnya dengan hari kemarin, kegiatan yang itu-itu saja, tapi cerita di setiap harinya, yang pasti berbeda, PASTI.

Kami melalui semua hal selama lima tahun di SMART bersama-bersama, hingga akhirnya wisuda hadir dan mengubah segalanya. Momen penanda akhir perjuangan kami di sekolah yang penuh cerita dan kenangan indah, yang paling kami nanti-nantikan di awal perjuangan, tapi menjadi salah satu yang paling menyedihkan yang pernah kami alami, setidaknya saya pribadi. Wisuda menyadarkan kami, bahwa lima tahun bukanlah waktu yang sangat lama, bahwa kita akan hidup sendiri-sendiri dan tak lagi bersama, bahwa semua yang pernah kami lakukan akan tinggal menjadi cerita, bahwa tak akan ada lagi dihukum bersama, isak tangis menggemuruh, atau lelucon basi yang menjadi segar. Kami dihadapkan pada realitas bahwa berkumpul bersama kelak tidak semudah biasanya, harus menyesuaikan waktu kosong, tidak ada lagi teman sekamar yang akan terganggu atas kikikan tawa puas teman lainnya, dan harus keluar untuk menghadapi hidup sesungguhnya.

Mereka menjadi alasan kedua saya setelah keluarga di rumah atas bertahannya saya di SMART hingga akhir dan tentu saya berkewajiban berterima kasih kepada mereka atas semangat dan dukungan itu. Kelak, ketika saya telah mencapai sukses yang saya definisikan dan hidup dengan keluarga baru, saya akan mengajak anak-anak dan istri-istri, eh, istri, saya ke SMART. Menunjuk dengan bangga ke arah sekolah yang megah itu, sambil berkata, “Di sana, di setiap sudutnya, ada cerita menarik yang terpendam, tentang orang-orang jauh yang disatukan, serta menjadi saksi bisu perjuangan mereka yang pernah lemah namun bangkit tak kenal lelah”.

Memang ada benarnya kata-kata petinju tenar di atas, pertemanan bukan hal yang kita pelajari di sekolah bersama matematika dan sebagainya, tapi kalau kita tidak mempelajari arti pertemanan, kita sungguh tidak belajar apa-apa. Terima kasih SMART, terima kasih INDIERS.

 

Sincerely,

-Calon Duta Besar Indonesia untuk Inggris