,

Mimpiku, SMART, dan Kedokteran UI

Mimpiku, SMART, dan Kedokteran UI

Oleh: Nurkholis.

Alumni SMART Ekselensia Indonesia Angkatan 4

Awal cerita saya bisa bersekolah dan merasakan manisnya beasiswa di SMART Ekselensia Indonesia berawal dari informasi dan tawaran dari seorang guru agama Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Kamalaputi, Nusa Tenggara Timur (NTT). Setelah melalui proses seleksi regional NTT, akhirnya saya berhasil menjadi perwakilan penerima beasiswa bersekolah gratis SMP dan SMA di SMART Ekselensia Indonesia selama 5 tahun (akselerasi). Sekolah ini merupakan sekolah bagi mereka yang kurang mampu namun memiliki kecerdasan yang mumpuni. Saya sendiri berasal dari keluarga yang kurang mampu, ayah berwiraswasta dengan menjajakan kue dan ibu hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang membantu suaminya. Keluarga kami memang kurang mampu namun kami memiliki kemampuan bertahan yang sangat tinggi. Pekerja keras. Hal ini yang selalu coba saya tanamkan dalam diri untuk menjadi “orang” nantinya.

Awal mula berada di SMART Ekselensia Indonesia saya sempat mengalami hal yang sulit, maklum anak rantau. Saya menyebutnya sindrom kangen rumah. Kurang lebih selama 2 tahun saya (masih) mengalami gejala-gejala ingin pulang, sehingga masa-masa SMP tidak banyak yang bisa saya lakukan. Kurun waktu dua tahun saya pergunakan untuk beradaptasi. Yap, saya termasuk tipe orang yang butuh waktu untuk beradaptasi lebih. Singkat cerita, saya mulai terbiasa dengan dunia akademis di tahun berikutnya, cara pandang mulai visioner. Mulai tahu harus jadi apa saya di masa yang akan datang. 3 tahun berikutnya, saya mulai merintis nilai rapor saya untuk mendapatkan angka 8 di 6 mata pelajaran dasar (yang diujikan dalam UN). Dan selama 3 tahun menjalani masa SMA, saya cukup berkembang dalam hal akademis serta keorganisasian.

Tiba saatnya ketika akhir masa SMA untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Saya ingin bercerita sedikit mengenai proses masuk perguruan tinggi negeri. Ketika itu, saya mendapat kesempatan untuk mengikuti “SNMPTN undangan” di mana proses seleksi hanya dilihat dari berkas-berkas yang ada tanpa dilakukan ujian tulis. Saya bukanlah orang jenius atau pun orang paling pintar di angkatan saya. Akan tetapi, berkat kerja keras ketika masa SMA, di 6 mata pelajaran dasar (yang diujikan dalam UN) saya menduduki peringkat pertama dengan grafik progresivitas yang meningkat. Walaupun jika di total semua pelajaran saya tidak akan mendapat posisi pertama. Dengan kondisi tersebut, saya mencoba memilih jurusan dan universitas yang menurut saya terbaik saat itu. Saya bertekad memilih jurusan pendidikan dokter di Universitas Indonesia. Pertimbangan saat itu adalah saya suka biologi sehingga menurut saya jurusan terbaik bidang itu adalah kedokteran, saya menduduki posisi pertama yang dapat dibilang saya murid rekomendasi sekolah, dan juga jikalau hasilnya pun tidak lolos saya masih ada kesempatan di ujian tulis nanti. Dengan membaca Bismillah, saya memilih pilihan pertama Fakultas Kedokteran UI dan pilihan kedua jurusan non-kedokteran di Universitas Airlangga.

Alhamdulillah, saya berhasil masuk sebagai siswa kedua dari sekolah yang masuk kedokteran UI setelah sebelumnya senior saya juga masuk melalui jalur yang sama. Saat itu, saya langsung sujud syukur kepada Allah atas apa yang telah diberikan. Saya percaya itu memang takdir yang dibuat oleh-Nya, bukan takdir yang sekadar dibuat-buat melainkan takdir yang sebenarya dibuat & patut disyukuri dengan kesungguhan dalam mengembannya. Dengan perasaan yang senang bercampur haru saya kabari keluarga di NTT dan betapa bahagianya mereka, sempat tidak percaya, dan akhirnya mereka menerimanya dengan tangisan bahagia. Sungguh perkataan “berikan ikhtiar terbaikmu dan serahkan segala hasilnya kepada Allah” sangat patut dilakukan disetiap kegiatan kita. Karena Allah lah yang paling tahu kebutuhan terbaik hambanya. Terimakasih Allah SWT. Terimakasih SMART Ekselensia Indonesia.

,

Banyak Jalan Menuju Roma. Banyak Jalan Menuju PTN Sob

Banyak Jalan Menuju Roma. Banyak Jalan Menuju PTN Sob

Oleh: Johan FJR

Angkatan 7 saat ini berkuliah Universitas Gajah Mada jurusan Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (PSdK).

Tak pernah terbayang dalam hidupku, seorang perantauan di Bogor yang tinggal di asrama, ditolak kampus sekelas UI. Yap, aku dari dulu memang mengidamankan UI.

Kampus yang punya segudang fasilitas, dan almamater serba kuning ini telah memikat hatiku. Aku dan Ahfie Rofi, sahabat Sunda-Cinaku, menargetkan UI dari berbagai seleksi masuk kampus yang ada. Terhitung sudah ada 3 jenis seleksi yang kami coba: SNMPTN, SBMPTN, dan SIMAK UI. Dan Alhamdulillah semua ditolak mentah-mentah sama kampus serba ‘wah’ itu.

Entah kenapa kami yang memang sedari SMP sudah bersahabat, ternyata berlanjut sampai kuliah. Beruntung kami ditolak di UI, tapi masih diterima di UGM, dan masih bersama hehehe. Mungkin memang takdir persahabatan kami tak berlanjut di UI.

Aku sudah mencoba segala cara agar bisa masuk UI. Di SNMPTN, aku pilih Ilmu Komunikasi, Kesejahteraan Sosial, dan Arkeologi UI. Di SIMAK UI, aku pilih Ilmu Komunikasi, Kesejahteraan Sosial, dan Kriminologi. Tapi takdirku justru hadir di pilihan kedua SBMPTN. Berbrda dengan Rofi yang selalu mencantumkan Sastra Arab (Sasbar) ditiap pilihannya.

***

Sore itu gerimis mengguyur Parung, gemericiknya runut membentuk notasi begitu menyentuh aspal. Aroma tanah basah menyeruak, hidung-hidung kami bisa dengan jelas merasakannya dan semburat sinar matahari berusaha menembus awan, memberikan secercah cahayanya untuk aku yang sedang menelpon ibu di balkon barat lantai 4.

“Gantian woi!”

Aku melangkah gontai, resah menunggu pengumuman SNMPTN. Tanganku meraih modul bimbel di atas lemari. Ya, ini buku ‘sakti’ terakhirku. Aku ogah keluar banyak cuma buat beli buku-buku SBMPTN seperti teman-teman yang lain, buku-buku itu pada akhirnya tak berguna karena aku lebih suka liat kunci jawaban langsung atau sekadar ke warnet buat menjajal simulasi daring UN, aku tak mau buang-buang uang.

Keesokan harinya datang juga hari yang kutunggu, hari di mana pengumuman penerimaan via SNMPTN diumumkan. Seharusnya hasil SNMPTN sudah diumumkan pukul 09.00 WIB di TOA sekolah, tapi ternyata belum ada juga. Walau punya nilai rapor yang gak jelek-jelek amat, seuprit prestasi, juga rekam jejak yang gak neko-neko di sekolah, namun hari itu aku gusar. Aku membayangkan kalau aku diterima di UI lewat SNMPTN pasti mengasyikan sekali, membayangkan memakai jaket kuning saja membuat hati ini berdebar. Belum lagi kampusnya lengkap, berangkat kuliah bisa naik kereta, kalau ngekos dekat-dekat situ bisa berangkat kuliah naik sepeda, dan yang jelas bisa naik bis kuning yang hits itu. Aku sudah merencanakan apa saja yang mau aku lakukan di UI. Ikut lomba ini-itu, ikutan di BEM, nge-gym, tinggal di asrama, ngekos di Pocin, banyak! Bahkan aku juga sudah memutuskan kerja apa di Margonda nanti.

Karena tak kunjung ada juga pengumuman lewat TOA, aku mengajak Rofi untuk bertanya langsung ke guru di ruang BK. Aku yakin, di sana guru BK kami pasti sedang mengotak-atik data.

Dari asrama lantai 4, kami melewati wisma guru di lantai 2, dan anak-anak yang sukanya menyaksikan ISL kalau sore di kantin lantai dasar. Asrama kami memang satu komplek dengan sekolah, dalam tiga menit sampailah kami di sekolah dan langsung berpapasan sama bu Ana dan bu Uci.

“Assalamualaikum bu, hasilnya udah keluar belom?”

“Udah, ini bentar lagi ibu mau umumin.”

Aku sama Rofi mempersilakan bu Ana dan bu Uci masuk ke ruang TOA. Ding dang ding dung bunyi TOA yang kami kenal mulai mengudara. Ada suara berdehem, sejurus kemudian pengumuman pun terpampang nyata!

“Assalamualaikum. Hari ini telah didapatkan 11 mahasiswa … blablabla … melalui jalur SNMPTN. Ustadzah ucapkan selamat kepada …”

Jantungku deg-degan BANGET! Rofi menunduk sambil memasukkan tangannya ke saku jaket angkatan kami. Aku menahan napas, berusaha fokus mendengarkan pengumuman beliau.

“ … Karunia Adiyuda Dilaga, diterima di blablablabla. Muhammad Zulkifli, diterima di blablablabla … ”

Perasaanku mulai gak karuan ketika nama kedelapan disebutkan. Apakah nama kami ada di sana?

“ … Yodie Ikhwana, diterima di blablablabla. Dan Juniar Tirja Pratama Gamgulu, diterima di blablablabla … ”

… nama kesebelas pun terucap. Namaku gak ada. NAMAKU GAK ADA! NAMAKU GAK ADA!

“NAMA AKU GAK ADA FI!” “GAK ADA!” “GAK ADAAAK!” Panik kugoyang-goyangkan bahu Rofi yang kecil. Tremor sudah!

“NAMAKU JUGA!” ujar Rofi

Nyesek dan bertanya-tanya, ‘Masa sih nama kami nggak ada?

Kami berdua mengerubungi Bu Ana, disusul beberapa anak yang baru datang dari asrama. Beliau memberikan selebaran lembar ketikan. Dan benar, nama kami tidak ada. Tanganku lemas sembari membalikan kertas tadi ke pangkuan Bu Ana. Aku diam. Aku gak nyangka, kami berdua gak diterima lewat jalur undangan. Kami berdua pasrah. Hujan deras pun mengguyur kala itu.

***

Kami berdua melangkah lemas, mewek dikit, dan menghindari kerumunan massa. Kami menghindari tangga barat di mana anak-anak sedang nonton teve, takut banyak yang menanyakan kondisi kami akhirnya kami memutar ke tangga timur. Suara jeritan anak-anak yang diterima SNMPTN menggema sampai ke lantai dasar. Gemanya terus terngiang di pikiran kami berdua. NYESEK bro! Aku dan Rofi cuma duduk-duduk di tangga bawah. Merenung dan sedikit bersedih. Gak disangka ternyata kami berdua memang kurang memenuhi persyaratan SNMPTN. Aku sendiri menyadari kalau nilai Ekonomiku anjlok sejadi-jadinya. Tapi masih lebih beruntung dari Rofi yang anjlok sana-sini, hehehe.

Rasanya nyesegh dan pengin maki-maki diri sendiri, ‘Kenapa ya aku gak belajar serajin-rajinnya, atau ibadah 24×7 gitu.’ Dalam kondisi ini, kayaknya aku jadi lebih dekat sama Tuhan, mencurahkan segala isi hati, segala gusar, dan berusaha menenangkan diri dengan baca Quran. Ya, aku yang sebelumnya lemas gegara tak lolos di SNMPTN, makin terpacu karena aku berpikir, “Tuhan mungkin gak memuluskan jalan aku lewat SNMPTN karena menurut-Nya, jalur itu terlalu mudah buat aku. Maka, Ia mencoba menguji kemampuan dan kesabaran aku melalui SBMPTN”.

***

Pada akhirnya kelas bimbel di sekolahku dimulai kembali kala itu. Di dalam kelas wajah-wajah lesu nampak mewarnai kelas yang dimulai pukul 6 dan berakhir jam 7 pagi tersebut, berulang kali guruku bilang, “Kalian sebenarnya jauh lebih beruntung, karena yang diterima di SNMPTN HARUS mengambil apa yang mereka pilih agar sekolah tidak di blacklist. Jadi, kalian yang lewat SBMPTN bisa memilih jurusan kalo cocok ato enggak”. Wah, iya juga. Misalnya si Udin memilih Keperawatan. Entah dia milihnya serius atau enggak, pastinya dia harus ambil dong biar sekolahnya nggak di blacklist kampus itu, hehehe. Aku pun jadi lebih bersemangat dan lebih serius untuk memilih jurusan yang kumau.

Jujur, aku sendiri bingung BANGET untuk memilih jurusan apa.

Terhitung ada ratusan jurusan yang tersedia di kampus. Ketika pembagian jurusan IPA-IPS, maka bisa dibilang berkuranglah jumlahnya. Tapi ketika SBMPTN hanya dikasih 3 kesempatan pilihan, aku kudu banting setir putar otak lompat-lompat sambil lirik-lirik jurusan mana yang prospeknya bagus (ke depannya), juga pastinya santai pas kuliah (#AkuBanget). Setelah melihat profil masing-masing jurusan, cek prospek kerja dan tanya ke alumni sana-sini, aku jatuh hati pada tiga pilihan besar berikut:

  1. Ilmu Komunikasi UIYap, aku suka banget sama dunia jurnalistik dan Ilmu Komunikasi. Menurutku keduanya memiliki keterkaitan dengan hobiku. Selain kampusnya yang udah jelas eksklusif dan kondusif, letak UI yang di Depok strategis buatku jika hendak melancong ke mana-mana: Jakarta, Bogor, Bandung bahkan Singapura.2. Sosiatri UGM

    Aku gak tahu sebelumnya kalau jurusan yang getol banget memerhatikan masalah sosial, kebijakan pemerintah, dan dunia perpolitikan ini ternyata sudah berganti nama menjadi Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan. Jurusan ajaib yang mempelajari 3 jurusan (Manajemen Kebijakan Publik, Sosiologi, dan Politik Pemerintahan) sekaligus ini ternyata mempunyai prospek cerah karena banyak perusahaan yang membutuhkan CSR dari lulusan ini. Dan, banyak yang langsung diterima usai wisuda dari sini, hehe.

    3. Jurnalistik Unpad

    Jurnalistik Unpad menjadi jurusan cadangan kalau kalau aku gak diterima di Ilkom UI. Sayangnya aku gak diterima di jurusan yang baru dibuka pada 2015 ini. Tapi mengapa, toh tiap kampus pasti ada pers mahasiswanya (persma).

***

Setelah banting gayung untuk buru-buru mandi mengikuti bimbel pagi, tarik sarung setiap pukul 03.00 WIB, juga belajar sehidup-semati, Alhamdulillah aku diterima di Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (PSdK) UGM. Yap, hidup baruku mulai diukir di kampus ini, kampus kerakyatan. Akan seperti apa? Aku juga tak tahu. Yang jelas untuk adik-adik kelasku jangan menyerah, belajar yang rajin kalau memang kalian ingin masuk ke jurusan favorit di kampus favorit. Yang jelas (lagi) mau SNMPTN atau SBNMPTN, kelak kamu akan jadi maba yang membawa nama SMART dikancah dunia perkuliahan, jaga baik-baik ya.

,

Sudah Saatnya Bangun Duhai Pemuda!

Sudah Saatnya Bangun Duhai Pemuda!

Oleh : Anggi Nur Kholis Alumni SMART 9 Berkuliah di Universitas Brawijaya

PEMUDA!!
Pemudakan lah diri kalian!

Pemuda:
Bukan identitas;
Bukan status.

Pemuda:
Amanah;
Bertanggung jawab;
Berkarakter;
itu KITA!

Sadarnya pemuda, bangkitnya pemuda
Bangkitnya pemuda, bangkitnya negara
Bangkitnya negara, memengaruhi dunia.

,

Karena Perjuanganku Baru Dimulai Setelah SMART

Karena Perjuanganku Baru Dimulai Setelah SMART

Oleh: Muhammad Fatih Daffa

Alumni SMART Angkatan 8, Saat Ini Berkuliah Di Institut Teknologi Bandung (ITB) Jurusan School of Life Science and Technology Engineering Program

 

Kuliah. Masa perubahan status, siswa menjadi ‘maha’siswa. Ya, kini aku adalah seorang mahasiswa. Saat paling tepat untuk membentuk diri, menentukan seperti apa diriku ke depannya. Bertansformasi, layaknya sebuah gerabah yang baru keluar dari cetakannya. Sukses terbentuk menjadi sebuah kendi yang indah, atau pecah karena tak mampu bertahan dalam tungku pembakaran.

Masa-masa akhir di kelas XII di SMART, walaupun nilai Ujian Nasionalku tidak cukup memuaskan. Meskipun aku tidak lolos dalam SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) jalur undangan. Aku merasa sangat bersemangat. Seorang remaja yang selama lima tahun terakhirnya selalu diawasi, dibina, diatur, dan didukung, akan tiba saat baginya dilepaskan menuju fase kehidupan selanjutnya. Mengawasi dan mengatur setiap hal yang dilakukan diri. Mencari dukungan dan membuat dukungan untuk diri agar bisa menemukan jalan terbaik bertahan di jalan itu.

Kini aku berada di posisi itu. Saat aku bebas mengatur diri, memilih tempat, mencari suasana. Terkadang kebebasan tersebut untuk membuat diriku berada di lingkungan yang baik. Namun, terkadang pula kebebasan tersebut hanya untuk membuat diriku nyaman. Entah apakah itu baik atau buruk. Sangat sulit, benar-benar sulit. Itu yang saat ini kurasakan, betapa aku merindukan saat-saat ketika berada di SMART. Bahkan, aku juga sangat merindukan saat-saat ketika aku bersama teman-temanku merasakan pelatihan dari KOPASSUS. Melakukan posisi taubat (tanyakan pada yang pernah merasakan selainku hehe). Saat itu mungkin fisikku mendapatkan hal “istimewa”, namun aku merasa saat itu lebih baik dari saat ini.

 

Kenyataan adalah kenyataan. Hanya Allah swt. dan diriku yang mampu mengubah takdir dan nasibku. Guruku di SMART selalu menyampaikan ini: “Tugas kita sebagai manusia hanyalah berusaha, hasil itu hak prerogatifnya Allah swt”. Untuk setiap orang yang membaca tulisan ini. Kusampaikan padamu, “Hiduplah sesukamu. Namun ingatlah, hal yang baik hanya untuk orang yang baik”.

Sekian.

,

Idul Adha Penuh Keceriaan Cuma Ada di SMART

Idul Adha Penuh Keceriaan Cuma Ada di SMART

 

Kemarin (22-08) kami semua melaksanakan Salat Idul Adha, hanya saja prosesi penyembelihan baru dilakukan keesokan harinya. Kasak kusuk di setiap kamar tak terbendung terkait kegiatan Idul Adha di SMART, sama seperti kami mereka juga tak sabar, tapi kami harus segera tidur karena esok harus fit.  Akhirnya hari yang dinanti datang juga, pada Kamis (23-08) kami bersama para pegawai Dompet Dhuafa Pendidikan mengikuti kegiatan Nyabar alias Nyate Bareng Dompet Dhuafa Pendidikan. Tahun ini kami mendapat donasi Kambing sebanyak enam belas ekor  dan dua ekor sapi, kami bahagia sekali bisa melihat hewan qurban yang terlihat bersih di lapangan sekolah.

P_20180823_091510

Sambil bercengkrama kami berbondong-bondong menuju Lapangan Futsal untuk berkumpul mendengarkan sepatah dua patah kata dari Ustaz Syafei, Direktur Dompet Dhuafa Pendidikan, membuka Nyabar. Setelah mendengarkan sambutan tanpa ba bi bu kami merangsek menuju kambing yang ingin disembelih. Kami dibagi menjadi beberapa tim besar; ada tim yang membantu penyembelihan, membantu memotong-motong daging, menyiapkan perlengkapan untuk nyate, dan  mengkoordinasikan hasil bakaran sate kepada para pegawai serta guru.

P_20180823_091259

Suasana Lapangan Futsal SMART mendadak sangat semarak, maklum ratusan orang berkumpul menjadi satu. Pokoknya seru sekali, kami semua bahu membahu membuat sate terenak untuk dimakan bersama-sama. Selama dua jam setengah masakan sate kami jadi juga, tapi belum bisa kami makan dulu karena harus dikumpulkan terlebih dahulu di pantry sekolah.

3

“Bagi siswa yang telah selesai harap segera ke asrama untuk bebersih lalu ke masjid untuk melaksanakan Salat Zuhur berjamaah,” ujar Ustaz Firman lantang. Kami segera membereskan kekacauan di sekitar dan bergegas ke asrama untuk bebersih.

Usai melaksanakan Salat Zuhur berjamaah kami diminta ke Ruang Makan SMART untuk menikmati sate yang telah kami masak, waaah senangnya bukan kepalang karena akhirnya bisa mencicipi hasil masakan sendiri.

IMG-20180823-WA0000

Kami kembali dibagi berdasarkan kelas agar pendistribusian satenya adil dan merata, rasanya tak sabar ingin melahap sate di depan mata. Setelah semua sate terdistribusikan dengan baik tibalah momen penentuan, penentuan nikmat atau tidaknya masakan kami, ternyataaaa sate buatan kami semua rasanya nikmat dan dahsayat Sooob, hingga membuat makan kami semakin lahap.

2

IMG-20180823-WA0001

Alhamdulillah, hanya kata itu saja yang bisa kami ucapkan atas berkah hari ini. Kami sangat berterima kasih kepada para donatur atas kebaikannya berkurban di SMART, kami berdoa semoga berkah baik selalu menyertai mereka semua aamiin. (AR).

 

 

Yuk Ikutan Cuti Berbagi di Hari Kemerdekaan Indonesia

 

Yuk Ikutan Cuti Berbagi di Hari Kemerdekaan Indonesia

Kapan terakhir kali kamu merasakan upacara kemerdekaan bersama teman di luar sekolah Sob?

 
Bagi kebanyakan orang, merayakan Hari Kemerdekaan identik dengan upacara bendera. Tak jarang upacara di gunung menjadi pilihan. Namun pernahkah membayangkan rasanya upacara di sekolah yang letaknya di kaki gunung?
 
Komunitas Filantropi Pendidikan (KFP) mengajak kamu untuk merayakan hari kemerdekaan bersama anak-anak MI Al-Ikhlas dalam Cuti Berbagi. MI Al-Ikhlas merupakan salah satu sekolah dampingan Dompet Dhuafa Pendidikan yang terletak di kaki gunung Gede. Bukan hanya merayakan kemerdekaan dengan upacara, kita akan berbagi inspirasi dan merasakan kembali masa kecil dengan lomba-lomba 17-an.
 
Kapan pelaksanaannya?
16 – 18 Agustus 2018
(Titik kumpul 16 Agustus 2018 pukul 22.00 di Stasiun Bogor)
 
Di mana?
MI Al Ikhlas, Kampung Gunung Putri, Desa Sukatani, Kec. Pacet, Kabupaten Cianjur
 
Apa saja yang akan kita lakukan?
1. Upacara 17 Agustus
2. Ruang berbagi inspirasi
3. Kegiatan belajar dan bermain
4. Lomba-lomba 17 Agustus
5. Tracking Curug Kampung Gunung Putri
6. Live in bersama warga
 
Biaya: Rp 100K
(Donasi, transportasi, konsumsi)
 
Pendaftaran
081318725301
 
Siapapun kamu, apapun minat kamu, yuk bersama merayakan cita-cita bangsa bersama anak-anak dengan menjadi peserta Cuti Berbagi.
,

Ibu, Bapak, Sekarang Saya Anak Hukum

Ibu, Bapak, Sekarang Saya Anak Hukum

Oleh: Syahrizal Rachim, Alumni SMART Angkatan X berkuliah di Universitas Padjajaran Jurusan Ilmu Hukum

 

Nama saya Syahrizal Rachim, kamu pasti sudah akrab dengan saya karena tulisan saya sering mejeng di web SMART. Saya lahir pada 18 Oktober 2000 di Depok dan kini saya bertempat tinggal di Bogor. Saya bersekolah di SMA SMART Ekselensia Indonesia, sebuah sekolah menengah atas berakselerasi dan berasrama yang berbasis keislaman dan kepemimpinan (islamic boarding leadership school). Sebagai siswa sekolah tersebut, saya hanya berkesempatan tinggal di rumah pada saat liburan sekolah yang hanya ada sekali dalam setahun, yaitu saat akhir tahun.

Ayah saya bernama Deddy Suwardi. Beliau bekerja sebagai ojeg antar jemput anak sekolah di sekitar rumah saya. Beliau bekerja dari Senin sampai Jum’at mengikuti jadwal sekolah dan les siswa yang diantarnya. Beliau hanya bekerja sendiri. Beliau adalah seorang tamatan SMA. Adapun ibu saya bernama Ati Ingewati. Beliau tidak bekerja, melainkan fokus sebagai ibu rumah tangga. Beliaulah yang mengurus rumah sepanjang hari dan seorang diri. Beliau adalah seorang tamatan SMA.

Saya merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Jadi, saya memiliki seorang kakak kandung. Kakak saya saat ini berada di jenjang kelas 3 SMA.

Saya tinggal di rumah milik nenek saya yang berada di bilangan Bojong Gede, Kabupaten Bogor. Sebelumnya saya beberapa kali berpindah dari satu rumah kerabat keluarga ke rumah kerabat lainnya karena terkena imbas penggusuran rumah. Selain itu, rumah ini berada di sebuah permukiman yang cukup padat serta sangat dekat dengan Sungai Ciliwung yang berada persis di depan rumah saya

Pada 2007, saya mulai bersekolah di SDN Cilangkap 2 yang letaknya dekat dengan rumah pada saat itu. Selama saya bersekolah SD, saya beberapa kali pindah rumah namun saya tidak berpindah SD. Saat kelas lima SD, saya beberapa kali mengikuti lomba olimpiade sains untuk menjadi perwakilan SD maupun kota dalam bidang IPA. Ketika saya duduk di kelas enam, saya mencoba untuk mendaftarkan diri untuk mengikuti seleksi beasiswa SMART Ekselensia Indonesia. Saya mengetahui informasi SMART dari salah seorang paman saya dan seorang pengurus DKM sebuah masjid. Saya mengikuti seleksi mulai dari nilai rapor, tes tulis, psikotes, hingga pantukhir yang berlangsung kurang lebih selama 5 bulan. Sekitar bulan Mei 2013, Alhamdulillah saya mendapat kabar bahwa saya diterima masuk SMART Ekselensia Indonesia. Hal ini sangatlah membantu meringankan beban ekonomi keluarga saya yang sedang sulit sekaligus melukis cita-cita dan mimpi besar.

Setelah itu, pada tahun yang sama, saya melanjutkan sekolah di SMP SMART Ekselensia Indonesia. Letaknya di Parung, Bogor. Tidak seperti saat SD, kali ini saya harus hidup di asrama bersama teman-teman saya yang menurut saya sangat hebat dalam bidang akademik dari seluruh penjuru Indonesia. Sama seperti teman yang lainnya, saya sempat sulit untuk beradaptasi hidup jauh dari kakak dan orangtua di asrama. Saya juga bersyukur dapat mempunyai teman-teman yang baik dan lingkungan yang mendukung. Berkat dorongan yang kuat saya berusaha dan bersungguh-sungguh untuk mencapai target cita-cita dalam memaksimalkan potensi semangat belajar yang ada di SMART Ekselensia.

Saya mulai mengikuti berbagai kegiatan mulai dari berbagai perlombaan dan organisasi siswa di sekolah. Saat kelas 1 dan 2 SMP, Alhamdulillah saya diberi kesempatan oleh SMART mengikuti lomba OSN tingkat kabupaten dan puji syukur mendapatkan juara 2 serta mewakili Kabupaten Bogor di tingkat Provinsi Jawa Barat. Di SMART Ekselensia Indonesia saya sangat menyukai dunia menulis dan jurnalistik. Hingga pada suatu ketika di kelas 3, Alhamdulillah saya berhasil meraih penghargaan jurnalistik tingkat nasional dan anugerah penulis opini terbaik dari Kemendikbud RI di Solo, Jawa Tengah.

Setelah lulus SMP, saya lanjut ke tingkat SMA. Di masa SMA, Alhamdulillah saya mendapat amanah untuk menjadi pengurus OSIS dan ketua sebuah kegiatan sekolah berskala nasional. Di samping itu pula saya harus memerhatikan nilai akademik yang harus konsisten. Alhamdulillah, saya kembali berhasil menjadi juara Olimpiade Sains Kabupaten di bidang kebumian dan menjadi salah satu Duta Bahasa Pelajar Jawa Barat. Alhamdulillah, saat acara kelulusan saya mendapat amanah oleh sekolah dengan menjadi Wisudawan Terbaik SMART Ekselensia Angkatan X. Hal ini menjadi motivasi mendalam untuk terus istiqomah menjaga kesungguhan dan semangat yang selama ini SMART tanamkan kepada seluruh siswa-siswanya oleh para Ustaz dan Ustazah.

Selain itu, saya menemukan cita-cita yang ingin saya capai dan memang sesuai dengan minat dan bakat di sekolah ini. Saya ingin menjadi seorang Jaksa Agung yang jujur dan adil di Indonesia. Saya ingin berkontribusi untuk memajukan negara melalui bidang hukum dan meningkatkan rasa adil bagi seluruh rakyat Indonesia. Saya juga beranggapan bahwa menjadi Jaksa adalah hal yang istimewa walau penuh dengan tantangan maupun halangan dari berbagai sisi. Pekerjaan ini memang memerlukan keahlian mumpuni karakter yang mengakar seperti kejujuran dan fokus yang tinggi serta kecakapan dalam mengemukakan pendapat. Oleh karena itu, saya ingin menuntut ilmu di Jurusan Ilmu Hukum, Universitas Padjadjaran, sebagai tempat terbaik dalam rangka mencapai cita-cita tersebut. Saya yakin bahwa banyak manfaat, kemampuan, dan pengalaman yang saya peroleh di jurusan tersebut.

Alhamdulillah, sekarang saya resmi diterima di Jurusan Ilmu Hukum-Unpad, bahkan melalui jalur seleksi undangan SNMPTN. Saat ini, saya berusaha untuk fokus mempersiapkan segala hal agar dapat berkuliah dengan baik di tempat tersebut, tempat yang akan saya datangi untuk melanjutkan ikhtiar saya meraih cita-cita setinggi-tingginya.

Memasuki dunia baru pastinya akan banyak tantangan yang datang untuk menguji seberapa besar konsistensi kita dalam memegang nilai-nilai yang telah ditanam sejak masa di SMART Ekselensia Indonesia. Dengan hal tersebut, saya memiliki harapan untuk memaksimalkan diri di dalam kegiatan keorganisasian dan menciptakan karya yang bermanfaat serta berkontribusi nyata bagi kehidupan seluas-luasnya.

Semoga benih-benih kebermanfaatan yang telah ditanam oleh SMART Ekselensia Indonesia tidak akan pernah hilang dan terus membentang segala kebaikan ke seluruh penjuru dunia.

,

Anak Kalimantan Ini Berhasil Masuk Universitas Brawijaya, Simak Kisahnya Di Sini Sob!

Anak Kalimantan Ini Berhasil Masuk Universitas Brawijaya, Simak Kisahnya Di Sini Sob!

Oleh: Ahmad Roni Erlangga, Alumni SMART Angkatan X berkuliah di Universitas Brawijaya Jurusan Perpajakan 2018

 

SMART Ekselensia Indonesia merupakan sekolah tempatku menjalani pendidikan SMP dan SMA. SMART merupakan sekolah yang sangat luar biasa, sekolah yang mampu mengubah pandangan akun si anak Kalimantan ini.

Berawal dari informasi yang diberikan oleh guru SD, aku akhirnya mengenal SMART Ekselensia Indonesia. Ketika mendapat informasi tersebut, aku langsung tertarik dengan sekolah ini. Dengan menjalani serangkaian tes yg cukup berat, aku akhirnya lulus beasiswa sekolah ini.

Berat memang ketika awal berada di sekolah ini karena harus jauh dari orangtua di usia yang masih belia. Anak Kalimantan ini, harus cepat beradaptasi dengan lingkungan yang masih sangat asing. Namun, berkat guru-guru dan pengurus sekolah ini, aku dapat melaluinya dengan baik.

Banyak hal yang aku dapatkan sejak bersekolah di SMART Ekselensia Indonesia. Anak Kalimantan ini sebelumnya belum mengenal teknologi, masih sangat buta dengan dunia luar. Namun, SMART Ekselensia Indonesia membuatku mengenal semua itu.

Sebuah pengalaman luar biasa bisa bersekolah di SMART Ekselensia Indonesia.  Sekolah ini tidak hanya berfokus pada nilai akademik saja, akhlak siswa juga menjadi fokus utama. Selain itu ada banyak sekali kegiatan di sekolah ini yang sangat membantu meningkatkan kemampuan siswa. Segala kegiatan siswa selalu di fasilitasi oleh sekolah. Hal itulah yang membuatku mengikuti banyak kegiatan di sekolah ini untuk meningkatkan kapasitas diriku.

Aku tergabung dalam sebuah grup musik yang unik di sekolah ini yaitu Trash Music (TRASHIC). Sebuah grup musik yang alat musiknya dar barang-barang bekas. Kegiatan TRASHIC ini memberikan ku banyak pengalaman. Aku bisa tampil di depan banyak orang dan menghibur mereka. Ada perasaan yang tak bisa dijelaskan ketika melihat orang-orang tersenyum karena penampilanku. Aku juga bisa melihat modern dan megahnya Kota Jakarta yang biasanya hanya kulihat di televisi karena sering diundang untuk tampil. Aku juga bisa berprestasi dan membanggakan  sekolah dengan menjadi juara di sebuah perlombaan perkusi.

Aku juga aktif dalam organisasi di SMART Ekselensia Indonesia. Aku mencalonkan diriku menjadi Ketua OSIS walaupun akhirnya tidak terpilih. Aku akhirnya menjadi ketua bagian kerohanian Islam dan sosial. Tugasku cukup banyak dalam organisasi, aku dan timku harus membuat kegiatan yang dapat meningkatkan jiwa keislaman siswa. Selain itu, aku juga bertanggung jawab untuk membuat kegiatan sosial yang bisa bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Walaupun melelahkan dan menguras banyak tenaga, aku sangat menikmati kesibukanku karena ada imbalan setimpal berupa keterlibatan banyak pihak.

Aku juga aktif dalam berbagai kegiatan, seperti menjadi panitia berbagai acara besar yang diadakan sekolah. Aku sadar betapa besar tanggung jawab ketika bersekolah di SMART Ekselensia Indonesia, karena sekolahku dibiayai dana zakat. Oleh karena itu, aku selalu aktif dalam berbagai kegiatan yang aku yakin dapat bermanfaat ketika kuliah dan dewasa nanti.

Walaupun ikut berbagai kegiatan yang cukup menyita banyak waktu, aku tidak boleh lupa dengan pelajaran di sekolah. Aku harus bisa membagi waktuku untuk belajar dan mengikuti berbagai kegiatan lainnya. Nilai pelajaran ku di sekolah sangat baik. Hal itu terbukti dengan nilai rapor ku yang selalu diatas KKM, walaupun KKM di SMART Ekselensia Indonesia terbilang cukup tinggi. Aku juga bisa berprestasi di bidang akademik dengan memenangi perlombaan akuntansi.

Hal itu tidak terlepas dari peran para guru yang sangat besar. Guru selalu bisa menyampaikan pelajaran dengan menyenangkan dan tidak membosankan. Guru juga bisa menjadi teman curhat ketika kami memiliki banyak masalah. Guru di SMART juga selalu mau membantu siswa dalam urusan apapun walaupun itu sudah di luar tugas mereka. Aku menemukan guru-guru yang sangat luar biasa dan berbeda dari sekolah lain.

Aku bercita-cita menjadi Kepala Dirjen Pajak Indonesia. Aku sangat menyukai pelajaran ekonomi, aku juga menemukan guru ekonomi yang luar biasa di sekolah ini. Sekolah juga sangat mendukung cita cita ku ini. Sekolah senantiasa mengarahkanku menuju cita-cita itu. Aku diarahkan untuk memilih jurusan perpajakan ketika kuliah nanti.

Aku pun memilih Jurusan Administrasi Perpajakan di Universitas Brawijaya. Dengan segala usaha dan bimbingan belajar dari guru-guru yang luar biasa, aku bisa lolos di jurusan yang aku ingingkan melalui jalur SBMPTN.

Kini, aku akan menghadapi dunia perkuliahan di universitas impian. Bekal yang telah diberikan oleh SMART Ekselensia Indonesia akan sangat bermanfaat bagiku, aku sangat berterima kasih kepada SMART Ekselensia Indonesia karena aku bisa sampai di titik ini. Aku akan menjadi orang besar dan bisa bermanfaat bagi sebanyak-banyak umat dengan meraih cita-citaku. Terima kasih SMART Ekselensia Indonesia.

 

 

 

 

 

,

Ini Penantianku, Penantianku Menuju Bahagia

Ini Penantianku, Penantianku Menuju Bahagia

Oleh: Ikhsan Burhanudin, Alumni SMART Angkatan X berkuliah di Universitas Padjajaran Jurusan Administrasi Publik 2018

 Nama saya Ikhsan Burhanudin, alumni SMART Ekselensia Indonesia Angkatan X lulusan tahun 2018. Saya berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta, Kabupaten Sleman. Sekarang saya diterima di Universitas Padjadjaran Jurusan Administrasi Negara (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) melalui jalur SBMPTN 2018. Alhamdulilah dengan capaian tersebut saya sangat bersyukur bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Saya juga mendaftar program  beasiswa Bidikmisi dari pemerintah.

Tidak terasa lima tahun berada di SMART Ekselensia Indonesia untuk mengenyam pendidikan SMP & SMA. Perjalanan ini saya mulai pada 11 Juli 2013, meninggalkan kampung halaman untuk menuntut ilmu di kawah candradimuka SMART Ekselensia Indonesia. Di sini saya berjumpa dengan teman-teman dari Medan sampai Papua yang mempunyai kesamaan latar belakang keluarga. Di tempat ini kami ditempa untuk mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan. Selain itu, kami juga dibina untuk disiplin, berkepribadian Islami, mandiri, serta berjiwa pemimpin.

Pada 2016 lalu saya beranjak masuk SMA dan mengambil jurusan IPS. Mulai saat itu juga saya merencanakan untuk melanjutkan ke jenjang Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Setiap siswa pasti memiliki mimpi masuk PTN dengan jurusan idaman, Alhamdulillah saya juga memiliki PTN dan jurusan yang menjadi prioritas yakni bisa masuk Universitas Gadjah Mada (UGM) Jurusan Manajemen dan Kebijakan Publik. Ketika SMA, kebijakan sekolah berubah dengan menetapkan KKM untuk angkatan kami dengan nilai 86. Hal ini tidak menjadi beban bagi kami.

Saya juga mempunyai impian untuk bisa masuk PTN melalui jalur SNMPTN (undangan). Jalur ini menggunakan nilai rapor dan prestasi. Nilai rapor yang digunakan mulai dari semester 2 hingga semester 5. Untuk lolos pemeringkatan SNMPTN otomatis nilai rapot di setiap semesternya harus meningkat. Saat kelas XII, SMART Ekselensia Indonesia memberikan fasilitas yaitu psikotes untuk mengetahui minat dan bakat sebelum menentukan jurusan PTN. Selain itu, pihak sekolah juga menyediakan Bimbingan Konseling (BK) untuk membantu siswa dalam memilih jurusan. Saya pun memanfaatkan BK untuk membantu dan memberikan arahan dalam memilih jurusan.

Di saat saya duduk di kelas XII, guru BK memberikan jadwal konseling kepada masing-masing siswa kelas XII. Tibalah jatah konseling saya waktu itu. Ketika itu guru BK menanyakan tentang latar belakang keluarga saya dan mengenai perkuliahan. Obrolan pun berlanjut dan guru BK menanyakan kepada saya, “Ikhsan, apa kamu berkeinginan untuk SNMPTN?”. Saya pun menjawab, “inginlah, ustazah”. Kemudian guru saya tersebut memberikan daftar nilai dan ranking saya selama 5 semester serta hasil psikotes PTN. Alhamdulillah, tanpa disadari saya selalu mendapat ranking 3 dan nilai rapot rata-rata selalu meningkat. Hasil psikotes pun menunjukkan bahwa saran jurusan saya yaitu akuntansi dan manajemen kebijakan publik. Dari hasil psikotes juga menunjukkan minat kerja saya ada di bagian clerical (berhubungan dengan tugas rutin yang sistematis dan teratur), computation (berhubungan dengan angka), dan personal (berhubungan dengan pelayanan terhadap banyak orang).

Kemudian ustazah bertanya lagi ke saya, “apa kamu yakin bisa lolos pemeringkatan SNMPTN dan seandainya kamu lolos, jurusan apa dan PTN mana yang akan kamu ambil”. Saya pun menjawab “saya sih fifty-fifty, zah. Seandainya lolos pemeringkatan saya akan ambil UGM Jurusan Manajemen dan Kebijakan Publik walaupun kemungkinan kecil untuk diterima. Karena orangtua menyuruh saya untuk kuliah di UGM agar dekat dengan rumah”. Ustazah pun kembali memberikan tanggapan, “jadi kamu mau misi “bunuh diri”. Karena kalau ikhsan mau ambil UGM melalui SNMPTN itu mustahil untuk lolos itu di luar region sekolah kita meskipun niai-nilaimu bagus, coba lihat kakak kelas sebelumnya dan apakah kamu yakin bisa lolos untuk SBMPTN seandainya SNMPTN-mu gagal”. “InsyaAllah saya siap untuk SBMPTN dan yakin lolos” itulah jawaban saya meskipun pada kenyataannya saat itu saya belum siap untuk SBMPTN. Pada tahun ini, pihak manajemen sekolah memasang target bisa lolos 100% siswanya ke perguruan tinggi negeri. Ini menjadi tantangan dan motivasi buat kami terlebih buat saya.

Akhirnya tibalah pengumuman pemeringkatan SNMPTN. Ketika itu saya mencoba untuk login ke akun saya dan Alhamdulillah saya lolos pemeringkatan. Setelah itu saya berdiskusi kepada orangtua, kakak pertama, dan Ustazah Amal, Guru BK. Orangtua dan kakak menyarankan saya untuk memilih UGM dengan berbagai pertimbangan salah satunya dekat dengan rumah dan biaya hidupnya. Kemudian saya konseling dengan guru BK terkait jurusan untuk SNMPTN. Guru BK pun memberikan masukan kepada saya ,”jika kamu tidak lolos SNMPTN, kamu segera move on dan kamu harus bertanggung jawab karena ini keputusanmu”. Saya pun menjawab, “Iya saya siap karena ini keputusan yang saya ambil dan saya juga tidak menyangka bisa lolos pemeringkatan”.

Pada saat finalisasi pendaftaran SNMPTN saya mengambil dua pilihan, pilihan pertama UGM Jurusan Manajemen dan Kebijakan Publik sedangkan pilihan kedua UNPAD Jurusan Administrasi Negara. Meskipun saya lolos pemeringkatan, saya tetap belajar untuk SBMPTN dan menguatkan doa sembari berharap lolos SNMPTN meskipun itu tidak mungkin bagi saya.

Hari pengumuman SNMPTN pun tiba, 17 April 2018 pukul 17.00. Saat itu 16 siswa dinyatakan lolos SNMPTN 2018. Akan tetapi nama saya tidak ada dalam pengumuman tersebut. Saya dinyatakan belum lolos SNMPTN dan harus berjuang di SBMPTN. Hasil tersebut tidak membuat saya patah semangat dan itu adalah keputusan yang saya ambil jadi tidak harus kecewa. Kegagalan adalah awal dari sebuah kesuksesan dari kegagalanlah kita dapat mengambil pelajaran, itulah yang membuat saya tetap semangat untuk berusaha masuk PTN. Saya juga beranggapan Allah mempunyai jalan lain dan mampu untuk mengikuti SBMPTN hingga lolos.

Kemudian saya fokus untuk SBMPTN dengan lebih serius lagi belajar, latihan soal-soal, serta serius dalam TO. Sembari itu, saya juga berkonsultasi jurusan yang akan saya pilih untuk SBMPTN kepada orangtua, kakak, dan ustazah amal selaku guru BK. Saya berkonsultasi dengan melihat beberapa TO yang sudah dijalani dengan hasil yang belum sesuai target. Orangtua dan kakak untuk tetap mengambil UGM dipilihkan pertama dengan jurusan yang sama. Alasannya sama yaitu biayanya dan dekat dengan rumah. Kemudian pilihan kedua saya adalah UNPAD Jurusan Administrasi Negara sedangkan pilihan ketiga yaitu UNY Jurusan Administrasi Negara juga. Guru BK dan manajemen sekolah pun menyetujui pilihan SBMPTN saya. Ketika TO pun saya menggunakan pilihan tersebut. Hasil yang didapat ketika TO pun kurang memuaskan karena saya belum bisa lolos tapi hanya direkomendasikan. Hal ini karena poin atau nilai saya kurang sedikit dari target. Saya terus belajar dan latihan soal-soal.

Hingga akhirnya pendaftaran SBMPTN tiba. Sesuai dengan persetujuan manajemen sekolah dan guru BK, saya mendaftarkan tiga jurusan tadi. Pilihan pertama saya SBMPTN yaitu UGM Jurusan Manajemen dan Kebijakan Publik, pilihan kedua UNPAD Jurusan Administrasi Negara, dan pilihan ketiga UNY Jurusan Ilmu Administrasi Negara. SBMPTN dilaksanakan pada 8 Mei 2018 dan saya mendapatkan lokasi di SMA Tunas Harapan Bogor. Dalam masa penantian ujian SBMPTN ini, saya dan teman-teman Angkatan X SMART Ekselensia Indonesia melaksanakan wisuda terlebih dahulu pada Sabtu, 5 Mei 2018.

Hari yang ditunggu tiba, Selasa 8 Mei 2018, saya dan teman-teman Angkatan X berjuang untuk mengikuti ujian tulis SBMPTN. Dengan penuh ketenangan, ketelitian, serta keseriusan saya menjawab soal-soal SBMPTN. Tak terasa ujian SBMPTN selesai dan hasilnya baru akan diumumkan pada 3 Juli 2018.

Dalam menanti pengumuman SBMPTN, tak lupa saya terus memanjatkan doa agar diberikan yang terbaik supaya tembus di salah satu PTN pilihan. Terlebih lagi waktu itu masuk Bulan Ramadan, waktu di mana doa setiap hamba-Nya dikabulkan. Saya terus memanjatkan doa dan tak lupa melakukan amalan sunah seperti Salat Tahajjud dan Duha. Tak lupa pula saya meminta doa kepada orangtua serta saudara-saudara agar lolos SBMPTN. Sambil menunggu pengumuman, saya pergi berlibur ke beberapa tempat untuk melepas penat dan membuang beban.

Tak terasa waktu pun berlalu dan sampailah pada hari pengumuman. Pengumuman dilaksanakan pada pukul 15.00 dan di akses di web SBMPTN. Waktu itu saya deg-degan, maka saya perbanyak beristigfar dan mencoba login ke laman SBMPTN. Kemudian saya masukkan nomor peserta dan tanggal lahir saya. Setelah itu saya enter dan muncul tulisan nomor peserta, nama, dan tanggal lahir saya serta muncul tulisan selamat anda dinyatakan lulus seleksi SBMPTN 2018 di PTN Universitas Padjadjaran program studi Ilmu Administrasi Negara. Setelah itu saya dan keluarga bersyukur, Alhamdulillah lulus SBMPTN dan bisa masuk PTN. Alhamdulillah ternyata pilihan kedua yang lolos, karena Allah memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Mungkin ini salah satu jalan saya menuju puncak kesuksesan.

Semoga ketika kuliah nanti saya bisa berbagi manfaat kepada masyarakat sekitar. Saya dapat aktif dan berkontribusi dalam setiap organisasi kampus serta dapat membanggakan almamater. Selain itu bisa membahagiakan dan membanggakan orangtua dan kakak-kakak saya serta keluarga besar SMART Ekselensia Indonesia, Dompet Dhuafa, dan para donatur. Tak lupa selalu bersyukur kepada Allah Swt., Dialah yang memberikan semua ini. Karena motivasi saya ialah Allah dulu, Allah lagi, Allah terus. Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih kepada SMART Ekselensia Indonesia terutama dompet dhuafa dan para donatur yang telah memberikan saya beasiswa pendidikan selama 5 tahun di kawah candradimuka. Terima kasih saya ucapkan kepada ustaz dan ustadzah yang telah memberikan segenap ilmu serta seluruh civitas yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu.

,

SELAKI 2.0

SELAKI 2.0

Oleh: Habib

Laut tak akan surut,
Matahari jelas dipanggang
Di punggung ombak biru
Di situ, tatap kita bertemu
–Pas satu sentuhan angin
Menggugurkan kelopak
Bunga waru.

(pan-tai,2017 )