100_1817 copy - Copy

Kedekatan Hati seorang Guru

Oleh : Muhammad Syafi’ie el Bantanie (Direktur DD Pendidikan)

Abdullah ibnu Abbas pernah bercerita, sebagaimana diriwayatkan Imam At-Tirmidzi, “Suatu hari saya pernah dibonceng di belakang nabi.” Saat itulah, Rasulullah menyampaikan pesannya kepada Abdullah ibnu Abbas. Rupanya Rasulullah bermaksud menginternalisasikan tauhid ke dalam hati sepupunya itu.

“Wahai gulam (anak kecil), aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat,” terang Rasulullah membuka pembelajarannya.

“Jagalah Allah niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya kau mendapati-Nya selalu ada di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau minta tolong, mintalah tolong kepada Allah. Ketahuilah, walaupun bersatu seluruh manusia untuk memberikan manfaat kepadamu dengan sesuatu, niscaya tiadalah mereka dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah ditentukan Allah. Dan, walaupun mereka bersatu untuk mencelakakan kamu dengan sesuatu, niscaya tiadalah mereka dapat mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah ditentukan Allah kepadamu. Pena telah diangkat dan tinta telah kering.”

Dalam riwayat selain At-Tirmidzi disebutkan, “Jagalah Allah, niscaya engkau mendapati-Nya selalu di hadapanmu. Hendaklah engkau mengenal Allah di waktu lapang, niscaya Allah akan mengenalmu di waktu susah. Ketahuilah, apa yang luput darimu tidak akan mengenai engkau, dan apa yang harus mengenai engkau tidak akan luput darimu. Ketahuilah, sesungguhnya pertolongan (Allah) itu selalu bersama kesabaran, kesenangan itu ada bersama kesusahan, dan kemudahan ada bersama kesulitan.”

Indah sekali hadits ini. Dalam perspektif pendidikan, hadis ini menggambarkan proses pembelajaran seorang guru kepada muridnya. Gurunya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan muridnya adalah Abdullah ibnu Abbas. Coba kita saksamai situasinya seperti apa. Rasulullah sebagai guru membonceng Ibnu Abbas, muridnya, di atas untanya. Ibnu Abbas merasa nyaman dibonceng gurunya, Rasulullah. Jarak keduanya rapat sekali. Terjalin kedekatan fisik yang segera disusul dengan kedekatan hati antara guru dan murid .

Selanjutnya, Rasulullah pun membuka pembelajaran. Materinya berat, tentang tauhid. Namun, disampaikan dalam situasi yang sangat menyenangkan dan jauh dari tekanan. Hasilnya? Kita semua paham bahwa Abdullah ibnu Abbas tumbuh berkembang menjadi remaja saleh dan cerdas. Bahkan, Rasulullah sendiri memberikan gelar kepada Ibnu Abbas, “Turjumanul Qur’an” (Orang yang paling pakar terhadap Al-Qur’an). Tak heran pula, pada masa Khalifah Umar bin Khathab, Ibnu Abbas diangkat menjadi staf ahli khalifah saat usianya baru memasuki 14 tahun.

Singkat sekali Ibnu Abbas belajar kepada Rasulullah. Rasulullah wafat ketika Ibnu Abbas berusia 11 tahun. Tapi, saksamailah masa belajar yang singkat itu hasilnya melebihi professor masa kini. Ini tak lain karena keberhasilan Rasulullah sebagai guru dalam mendidik. Dan, salah kunci keberhasilannya terletak pada kedekatan hati Rasulullah sebagai guru kepada murid-muridnya.

Adakah guru-guru di sekolah-sekolah kita memiliki kedekatan hati dengan murid-muridnya? Ah, benarlah nasehat Imam Ahmad bin Hanbal, “Hanya suara hati yang mampu menembus hati.”

41bbc033-7ed2-4575-9d3a-fb0919a07929

OHARA siap digelar, ayo segera daftar

Halo para Pejuang Budaya di seluruh Indonesia!

Lomba budaya tingkat nasional dengan hadiah puluhan juta rupiah, Olimpiade Humaniora Nusantara 2018, masih terus dibuka pendaftarannya hingga 7 Oktober 2018!

OHARA kali ini bertemakan “Satukan Harmoni Budaya Nusantara” yang akan dilaksanakan pada tanggal 24 s.d. 25 Oktober 2018.

Ayo para pelajar SMP dan SMA/sederajat di seluruh Indonesia, kesempatan untuk meraih piala bergilir Kemendikbud, Gubernur Jawa Barat, sertifikat tingkat nasional serta keseruan bertemu para peserta se-Indonesia masih terbuka lebar!

Terdapat 5 lomba kece yang sangat mudah untuk diikuti dalam OHARA 2018, kamu pun bisa langsung mendaftar secara online di link yang tertera:
1. Festival Akulturasi Kuliner Nusantara (SMA sederajat) [bit.ly/ohara2k18_fakn]
2. Opera Van Jampang (SMP dan SMA sederajat) [bit.ly/ohara2k18_ovj]
3. Lintas Nusantara (SMP sederajat) [bit.ly/ohara2k18_lintara]
4. Lomba Esai (SMA sederajat) [bit.ly/ohara2k18_esai]
5. Story Telling (SMP dan SMA sederajat) [bit.ly/ohara2k18_storytelling_SMP atau bit.ly/ohara2k18_storytelling_SMA]

Tunggu apa lagi, ayo segera daftarkan dirimu dan tunjukkan bahwa sekolahmu adalah yang terbaik dalam OHARA 2018!

Jangan lupa untuk sebarkan info ini ke seluruh teman-teman dan sekolahmu!

Ikuti terus perkembangan #ohara2018 di akun sosial media kami:

Fanspage : Olimpiade Humaniora Nusantara
Twitter : @cintaohara
Instagram : @cintaohara
Web : ohara.smartekselensia.net
WA :
0813 1571 4190 (Erdiansyah)

ef6d4c0e-971e-4192-aef9-ebf2bb647b96

IMG-20180823-WA0000
,

Yuk Budayakan Menolong Sob

Yuk Budayakan Menolong Sob

Oleh: Syafei Al-Bantanie
Direktur Dompet Dhuafa Pendidikan

“Menolong layaknya sebuah investasi yang sangat menguntungkan. Kita akan memanennya disaat yang tepat.”

Alkisah, seorang ibu tua terlihat bingung di tepi sebuah jalan yang masih sepi. Mobil itu mogok. Ia tidak tahu harus berbuat apa karena ia tidak mengerti mesin mobil. Saat itu, seorang lelaki muda melintas di jalan itu mengendarai sepeda motor. Ia berhenti tepat di sebelah si ibu. Lelaki muda itu menawarkan bantuannya untuk mengecek mobil. Si ibu mempersilakan dengan senang hati.

Lelaki muda itu membuka kap mobil, mengutak-ngatik kabel-kabel di dalamnya. Kemudian, ia juga tak sungkan untuk masuk ke kolong mobil. Mungkin ada bagian yang harus dibetulkan. Kurang lebih 30 menit, lelaki muda itu mencoba membetulkan mobil si ibu.

“Sudah selesai. Silakan coba nyalakan mesinnya,” ujar si lelaki muda.

Si ibu menyalakan stater, dan suara mesin mobil mulai menyala. Alhamdulillaah, mobil itu sudah bisa berjalan kembali. Si ibu tampak gembira. Ia membuka dompetnya dan mengambil beberapa lembar rupiah. Si ibu menyerahkannya ke lelaki muda itu sambil berucap terima kasih.

“Maaf ibu, saya tidak bisa menerimanya,” tegas lelaki itu.

“Mengapa? Anda sudah menolong saya. Ini ungkapan terima kasih saya kepada Anda,” terang si Ibu.

“Maaf ibu, bagi saya menolong bukanlah suatu pekerjaan. Karena itu, saya tidak berhak menerima imbalan. Kalau ibu ingin berterima kasih kepada saya, silakan Ibu tolong orang lain yang membutuhkan pertolongan,” terang si lelaki muda.

“Baiklah kalau begitu. Tapi siapa namamu?”

“Namaku Ihsan.”

Si Ibu berpamitan sambil mengucapkan terima kasih. Mobil bergerak meninggalkan lelaki muda itu.

Di tengah perjalanan, si ibu singgah di sebuah kedai. Ia memesan makanan dan minuman. Seorang perempuan yang tengah hamil dengan sigap menyiapkan pesanan si Ibu. Melihat perempuan muda yang tengah hamil itu, si Ibu teringat dengan kata-kata Ihsan, “Kalau Ibu ingin berterima kasih kepada saya, silakan Ibu tolong orang lain yang membutuhkan pertolongan.”

Usai makan dan minum, si Ibu meminta bon. Ketika pelayan perempuan muda itu sedang membuatkan bon, si Ibu pergi tanpa diketahui pelayan perempuan itu. Pelayan perempuan itu menghampiri meja si Ibu. Ia bingung karena tidak mendapati si Ibu di mejanya. Di mejanya tergeletak secarik kertas dan uang yang cukup banyak.

Surat itu tertulis, “Di perjalanan, mobilku mogok. Ada seorang lelaki muda bernama Ihsan yang berbaik hati membetulkan mobilku. Akan tetapi, ia tidak mau menerima imbalan dariku. Ia meminta saya untuk menolong orang lain sebagai imbalannya. Aku melihat kau sedang hamil. Aku ingin membantu biaya persalinan anakmu nanti. Aku tinggalkan uang ini sebagai pembayaran makanan dan minumanku. Sisanya ambillah untuk biaya persalinan anakmu. Semoga kau berbahagia dengan suami dan anakmu.”

Perempuan muda itu berkaca-kaca membaca surat si Ibu. Sore hari, perempuan itu pulang ke rumahnya. Bertemu sang suami yang dicintainya. Malam harinya, saat si suami tertidur pulas karena lelah bekerja, si perempuan itu mengusap kepala suaminya sambil berbisik, “Mas Ihsan, kau tidak usah merisaukan biaya persalinan untuk anak kita. Keikhlasanmu menolong orang lain telah berbuah kebaikan untuk kita.”

***

Betapa indahnya hidup ini jika kita saling menolong satu sama lain. Menolong atas dasar keikhlasan bukan karena ada tujuan dibaliknya. Meski orang yang kita tolong tidak atau belum bisa membalas kebaikan kita, tetapi yakinlah Allah pasti menggerakan tangan-tangan lain untuk menolong kita saat kita membutuhkan pertolongan.

Satu kebaikan kecil bisa berarti besar bagi orang yang membutuhkan. Saya teringat kisah yang diceritakan teman saya. Ia bercerita tentang seorang supir angkot yang masih muda. Disaat jam kerja angkot-angkot berlomba-lomba mencari penumpang untuk mengejar setoran.

Ketika itu, ada seorang Ibu dengan tiga anaknya berdiri di tepian jalan. Setiap angkot yang lewat disetopnya, angkot itu berhenti sejenak, lalu jalan kembali. Tibalah angkot yang disupiri oleh pemuda ini yang distop oleh si Ibu.

“Mas, angkot ini sampe terminal bis ya?” tanya si Ibu.

“Iya, Bu,” jawab supir angkot.

“Tapi, saya tidak punya uang untuk bayar ongkosnya,” ujar si Ibu jujur.

“Nggak apa-apa, Bu. Ayo, naiklah,” sahut pemuda supir angkot.

Si Ibu dan tiga anaknya pun naik. Disaat supir angkot lain berebut penumpang untuk mengejar setoran, pemuda supir angkot ini malah merelakan empat kursi untuk Ibu dan tiga anaknya.

Saat sampai terminal, para penumpang turun juga si Ibu dan tiga anaknya. Ibu ini berucap terima kasih pada si pemuda supir angkot itu. Ada penumpang seorang bapak yang juga turun dan menyerahkan uang dua puluh ribu rupiah. Pemuda supir angkot itu memberikan kembalian enam belas ribu rupiah, namun bapak itu menolaknya.

“Ambil saja kembaliannya. Itu untuk ongkos Ibu dan tiga anaknya tadi. Dik, terus berbuat baik, ya,” pesan si Bapak itu pada pemuda supir angkot.

Lihatlah, betapa indah hidup saling tolong-menolong. Andaikan separuh saja penduduk bumi ini berpikir untuk menolong oranglain, maka akan damailah dunia ini. Karena itu, mari kita saling membantu dan menolong satu sama lain. Kita adalah saudara. Saudara itu laksana satu tubuh. Jika satu bagian tubuh merasakan sakit, maka bagian lain ikut merasakannya. Kemudian, sama-sama memulihkan bagian tubuh yang sakit itu.

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal kasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam.” (HR. Muslim).

SMART Ekselensia Indonesia
,

Menjadi Jurnalis? Siapa Takut!

Menjadi Jurnalis? Siapa Takut!

 

 

Oleh : Syahrizal Rachim, Alumni SMART Angkatan X Berkuliah di UNPAD Jurusan Hukum

Kebudayaan nusantara merupakan salah satu hal yang saat ini menjadi perbincangan hangat diantara para pelajar di Indonesia. Para pelajar berlomba-lomba untuk menciptakan kreasinya sendiri untuk mewariskan budaya yang ada di Indonesia.

Hal ini menjadikan kegiatan jurnalistik menjadi sebuah kegiatan yang sangat penting untuk mengenalkan budaya kepada siapa saja. Peliputan budaya-budaya dengan kreatif dan pengemasan media menjadi menarik membuat para “penikmat” hasil karya jurnalistik semakin tergugah untuk mencintai budaya Indonesia.

Semangat para jurnalis muda di sekolah seharusnya mendapatkan dukungan dari berbagai pihak untuk menyukseskan pelestarian budaya yang ada di negeri ini.

Berbagai macam pelatihan mengenai cara mengelola karya jurnalistik sangatlah diperlukan di tengah minimnya kegiatan literasi untuk mengenal budaya di sekolah. Program desa budaya yang ada di berbagai daerah mampu menjadi pengembang budaya pada masyarakat. Siswa-siswa sebaiknya lebih mengetahui industri pembuatan barang kebudayaan, sehingga pada akhirnya berbagai peninggalan budaya di Indonesia dapat terus berkembang untuk mempercepat pengembangan karakter siswa.

IMG20180301111659
,

Yuk Manfaatkan Media Sosial Sebaik-baiknya

Yuk Manfaatkan Media Sosial Sebaik-baiknya

Oleh: Insan Maulana

Alumni SMART Angkatan 9 Berkuliah di UPI Bandung

 

Aku rela dipenjara asalkan dengan buku, karena dengan buku aku bebas.”

 –Muhammad Hatta-

Zaman sekarang, teknologi mengambil peran penting dalam kehidupan manusia dan seiring berjalannya waktu, teknologi semakin berkembang dan semakin maju. Kemajuan teknologi membuat kita semakin mudah melakukan segala sesuatu, kita ambil contoh jika kita ingin melakukan komunikasi antar kota, puluhan tahun yang lalu kita harus menggunakan surat dan membutuhkan waktu yang lama, itu komunikasi antar kota. Bagaimana dengan komunikasi antar benua? Sepertinya mustahil dilakukan. Namun, sekarang teknologi menyediakan berbagai fitur yang membuat komunikasi antar benua menjadi lebih mudah, selain itu waktu yang dibutuhkan pun teramat singkat. Teknologi seperti e-mail, SMS (Short Message Service), telepon atau media sosial seperti facebook-lah yang membuatnya mungkin. Termasuk untuk mencari informasi, kini tersedia internet yang teramat mudah diakses, bandingkan saat abad 20 ketika itu hanya tersedia surat kabar dan buku sebagai sumber informasi.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan pengguna internet cukup banyak dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara. Sebuah agensi marketing sosial mengeluarkan sebuah laporan pada Maret 2015 mengenai data jumlah pengguna website dan media sosial di Indonesia. Ternyata, jumlahnya menembus angka 72,7 juta pengguna aktif internet dan 74 juta pengguna aktif media sosial.[1] Angka ini meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun. Padahal, di awal pendiriannya, jaringan internet hanya menghubungkan beberapa universitas di Amerika, sekarang internet sudah menjadi viral dan menyasar berbagai kalangan, mulai dari dewasa, remaja bahkan anak usia sekolah dasar sudah mengenal dunia internet.

Sangat mudahnya mendapat informasi melalui internet ini adalah faktor utama turunnya minat untuk membaca buku. Selain punya banyak pengguna internet, Indonesia juga merupakan negara dengan tingkat minat membaca buku yang sangat rendah dibanding dengan negara Asia Tenggara lainnya. Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, H.R Agung Laksono, di Media Tempo pada 12 Januari 2012, menyebutkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah dimana prosentase minat baca masyarakat Indonesia hanya sebesar 0,01 persen, artinya dalam 10.000 orang hanya satu orang saja yang memiliki minat baca. Tingkat minat baca masyarakat Indonesia ini masih jauh ketinggalan dibandingkan negara lain seperti Jepang yang mencapai 45 persen dan Singapura yang menyentuh angka 55 persen. Bahkan berdasarkan survei UNESCO, budaya baca masyarakat Indonesia berada di urutan 38 dari 39 negara yang paling rendah di kawasan ASEAN.[2] Hal ini sungguh memprihatinkan, padahal informasi yang kita dapat dari buku lebih detil daripada informasi yang didapat dari internet. Masyarakat Indonesia pada umumnya cenderung haus akan informasi, seperti contoh mereka selalu ingin mengetahui kabar, kegiatan dan foto-foto temannya. Cara yang tepat bagi mereka tentu menggunakan media sosial seperti Facebook, Twiter dan Instagram. Fenomena inilah yang membuat perspektif mayoritas orang terhadap kegiatan membaca buku atau menulis cerita terlihat kuno atau ketinggalan zaman. Selain itu, kutu buku juga sering dikucilkan dan dianggap culun.

Dalam segala kemudahan yang ditawarkan, media sosial juga kerap kali membawa serta dampak negatif bagi penggunanya. Lupa waktu karena keasyikan, tidak mau membaca buku, dan sering ditemukan hal yang tidak penting seperti kata-kata kotor, kasar bahkan gambar vulgar adalah sedikit dari banyaknya dampak negatif internet. Sekarang mari kita bahas tentang buku. Memang jika kita teliti buku-buku zaman sekarang banyak yang mengandung  konten negatif seperti komik dan novel yang berlabel “dewasa” di bagiam sampulnya. Hal-hal seperti itulah yang menyebabkan sumber daya manusia di suatu negara menjadi hancur secara pikiran maupun perilaku. Maka dari itu, dalam membaca buku pun kita tetap harus selektif.

Berlatar belakang hal-hal di atas, menurut saya perlu beberapa cara suntuk meningkatkan minat baca dan menulis masyarakat terutama kalangan muda yang masih duduk di bangku sekolah. Pertama, pemerintah harus memberikan imbauan kepada seluruh sekolah supaya menasihati siswa-siswinya untuk tidak terlalu sering dan berhati-hati dalam menggunakan media sosial apalagi menyalahgunakannya. Selain itu, penting juga untuk menginformasikan tentang pentingnya membaca buku dan berlatih menulis. Kedua, pemerintah harus mengadakan lomba tentang literasi supaya siswa yang sudah berkembang kemampuan literasinya bisa menyalurkan kemampuan dan bersaing dengan orang lain.

Untuk itu, akan lebih baik jika kita membaca buku yang berisi tentang ilmu pengetahuan atau novel yang berisi cerita orang-orang sukses yang inspiratif dan memotivasi daripada menghabiskan waktu menggunakan media sosial. Tidak salah bila kita menggunakan media sosial dan internet untuk mencari informasi karena lebih mudah, namun kita harus menyadari bahwa dengan membaca buku, ilmu yang kita dapat akan lebih banyak.

41613767_1344193592383360_476533454784167936_n

Perjuangan Berbuah Manis

Perjuangan Berbuah Manis

 

Alhamdulillah lagi-lagi kami mendapatkan kabar gembira nih Sob. Kak Iqro, Alumni SMART Angkatan 6 yang berkuliah di Universitas Airlangga Prodi Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, telah menyelesaikan studinya dengan predikat lulusan terbaik.

Waaah bangga sekali kami sama Kak Iqro, sukses terus ya kak dan jangan lupa untuk berkontribusi di masyarakat dan terus menorehkan prestasi hebat lainnya. (AR)

#SMARTSemangat

SMART Ekselensia Indonesia
,

Pertemanan Kami Bukan Pertemanan Biasa

 

Pertemanan Kami Bukan Pertemanan Biasa

 

 

Oleh: Muhamad Reza Alamsyah,
Alumni SMART Angkatan 7, saat ini berkuliah di Unpad jurusan Bahasa dan Sastra Inggris

”Friendship is not something you learn in SCHOOL. But if you haven’t learned the meaning of FRIENDSHIP, you really haven’t learned anything.”
Muhammad Ali

Kalimat pembuka yang sangat sok-sokan ya hmm. Biarkan terlebih dahulu saya bercerita sedikit mengenai siapa saya sebenarnya. Nama lengkap saya Muhamad Reza Alamsyah, angkatan 7 SMART Ekselensia Indonesia (kami mengidentitaskan diri sebagai INDIERS), berhasil lulus dengan selamat pada tahun 2015, dan sekarang berkuliah di Universitas Padjadjaran jurusan Bahasa dan Sastra Inggris. Iya, memang belum lama.

Rasanya baru kemarin saya berangkat meninggalkan Makassar, kota kelahiran saya, dengan berat hati sambil membawa tekad kuat untuk mencapai sukses. Sangat klise memang, tapi begitu manis, apalagi untuk seorang anak yang baru memasuki usia 12 tahun pada saat itu.

Pertama kali saya menginjakkan kaki di SMART Ekselensia Indonesia dan mengetahui saya akan berada di sini selama lima tahun ke depan yang tentu bukan waktu yang singkat, saya langsung diserang rasa takut dan sedih secara bersamaan sehingga berkeinginan kuat untuk berhenti melangkah dan lebih baik pulang saja ke Makassar. Tapi, ya tentu ada tapinya, setelah beberapa bulan merasakan atmosfer yang betu-betul sebuah hal baru bagi saya, kesadaran bahwa saya tidak akan sendiri melangkah dan mengingat betapa banyaknya orang di kampung saya, khusunya keluarga, yang mengharapkan masa depan yang cerah bagi saya, keputusan untuk menetap sambil melanjutkan perjuangan akhirnya bulat.

Saya dipertemukan dengan anak-anak yang Subhanallah dalam banyak hal. Melakukan banyak kegiatan bersama membuat saya tidak ada keraguan untuk menganggap mereka sebagai sahabat atau mungkin lebih jauh, sebagai saudara baru, yang akhirnya dipertemukan di sekolah ini.
Masih amat jelas melekat mengenai begitu banyaknya kisah yang kami alami bersama. Kami pernah menundukkan kepala sambil menggerutu dalam hati ketika dihukum massal oleh Anggota KOPASSUS atas kesalahan kami yang katanya menjadi contoh buruk bagi adik kelas kami. Pernah juga menangis jika mengingat atau diingatkan mengenai keluarga yang jauh di sana oleh ustad atau ustadzah kami yang entah sengaja atau tidak, dan juga tertawa puas atas lelucon-lelucon lama yang sebenarnya tidak terlalu lucu tapi entah bagimana jadi lucu dan segar kembali untuk dibahas. Berkelana ke berbagai tempat yang dulunya hanya bisa kami saksikan melalui layar kaca dan mengagumi indahnya dari sana. Pulang balik sekolah-asrama setiap hari, bertemu orang-orang yang sama, tempat-tempat yang tak ada ubahnya dengan hari kemarin, kegiatan yang itu-itu saja, tapi cerita di setiap harinya, yang pasti berbeda, PASTI.

Kami melalui semua hal selama lima tahun di SMART bersama-bersama, hingga akhirnya wisuda hadir dan mengubah segalanya. Momen penanda akhir perjuangan kami di sekolah yang penuh cerita dan kenangan indah, yang paling kami nanti-nantikan di awal perjuangan, tapi menjadi salah satu yang paling menyedihkan yang pernah kami alami, setidaknya saya pribadi. Wisuda menyadarkan kami, bahwa lima tahun bukanlah waktu yang sangat lama, bahwa kita akan hidup sendiri-sendiri dan tak lagi bersama, bahwa semua yang pernah kami lakukan akan tinggal menjadi cerita, bahwa tak akan ada lagi dihukum bersama, isak tangis menggemuruh, atau lelucon basi yang menjadi segar. Kami dihadapkan pada realitas bahwa berkumpul bersama kelak tidak semudah biasanya, harus menyesuaikan waktu kosong, tidak ada lagi teman sekamar yang akan terganggu atas kikikan tawa puas teman lainnya, dan harus keluar untuk menghadapi hidup sesungguhnya.

Mereka menjadi alasan kedua saya setelah keluarga di rumah atas bertahannya saya di SMART hingga akhir dan tentu saya berkewajiban berterima kasih kepada mereka atas semangat dan dukungan itu. Kelak, ketika saya telah mencapai sukses yang saya definisikan dan hidup dengan keluarga baru, saya akan mengajak anak-anak dan istri-istri, eh, istri, saya ke SMART. Menunjuk dengan bangga ke arah sekolah yang megah itu, sambil berkata, “Di sana, di setiap sudutnya, ada cerita menarik yang terpendam, tentang orang-orang jauh yang disatukan, serta menjadi saksi bisu perjuangan mereka yang pernah lemah namun bangkit tak kenal lelah”.

Memang ada benarnya kata-kata petinju tenar di atas, pertemanan bukan hal yang kita pelajari di sekolah bersama matematika dan sebagainya, tapi kalau kita tidak mempelajari arti pertemanan, kita sungguh tidak belajar apa-apa. Terima kasih SMART, terima kasih INDIERS.

Sincerely,
-Calon Duta Besar Indonesia untuk Inggris

SMART Ekselensia Indonesia
,

Idealisme Pemuda yang Harus Kamu Tahu Sob!

Idealisme Pemuda yang Harus Kamu Tahu Sob!

Oleh: Purwoudiutomo, GM Beastudi Indonesia

Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki pemuda” (Tan Malaka)

April 1993, surat kabar Republika yang baru berusia 3 bulan melakukan promosi di Stadion Kridosono, Yogyakarta. Ketika acara ramah tamah di Restoran Bambu Kuning, rombongan Republika bertemu sekelompok da’i muda yang tergabung dalam Corps Dakwah Pedesaan (CDP). Mereka adalah da’i sekaligus guru dan pemberdaya masyarakat yang berkiprah di daerah miskin Gunung Kidul yang saat itu tengah dilanda kekeringan dan kelaparan. Sebagai aktivis sosial, anggota CDP ini hanya digaji Rp 6000.- per bulan. Gaji mereka berasal dari sumbangan para mahasiswa dari berbagai kampus di Yogyakarta. Singkat cerita, peristiwa tersebut menginspirasi lahirnya sebuah rubrik di Harian Umum Republika yang bertajuk Dompet Dhuafa pada 2 Juli 1993. Dompet Dhuafa kemudian terus berkembang menjadi salah satu Lembaga Amil Zakat tingkat nasional terbesar di Indonesia dengan puluhan kantor cabang dan perwakilan di dalam dan luar negeri. Sejarah kemudian mencatat nama Parni Hadi, Haidar Bagir, Sinansari Ecip, dan Erie Sudewo sebagai pendiri Yayasan Dompet Dhuafa Republika. Sejarah juga mencatat nama Ustadz Umar Sanusi dan (alm.) Ustadz Jalal Mukhsin sebagai pegiat Corps Dakwah Pedesaan. Namun sejarah luput mencatat, siapa saja mahasiswa yang telah menginspirasi rombongan Republika kala itu dengan menyisihkan uang saku mereka untuk menggaji anggota CDP. Ya, mereka adalah para pemuda yang menginspirasi dalam sunyi.

Pemuda ada di masa puncak idealisme. Kematangan secara fisik yang belum disertai kesempurnaan kematangan emosional justru membuat para pemuda menjadi sosok pemberani yang memegang teguh prinsip yang diyakininya. Itulah yang dilakukan oleh Tamlikha, Maksalmina, Martunis, Nainunis, Sarbunis, Falyastatnunis dan Dzununis yang memilih mengasingkan diri dalam sebuah gua untuk mempertahankan akidahnya. Setelah ditidurkan selama tiga ratus (ditambah sembilan) tahun dan bertemu kembali dengan masyarakat yang sudah silih berganti generasi dan sudah beriman kepada Allah SWT, alih-alih menjadi saksi hidup sejarah masa lalu mereka justru memohon agar Allah SWT mencabut nyawa mereka tanpa sepengetahuan orang lain. Idealisme orientasinya adalah terwujudnya cita-cita, bukan ketenaran. Bahkan nama-nama mereka pun kurang familiar dibandingkan dengan inspirasi sejarah oleh para pemuda yang bergelar Ashabul Kahfi. “…Sesungguhnya mereka itu orang-orang muda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahi mereka dengan hidayah dan petunjuk. Dan Kami kuatkan hati mereka (dengan kesabaran dan keberanian)…” (QS. Al Kahfi: 13 – 14).

Memperjuangkan sebuah idealisme tentu diwarnai berbagai tantangan yang menghadang. Pengorbanan adalah konsekuensi dari sebuah perjuangan. Dalam Al Qur’an Surah Al Buruj dikisahkan mengenai ashabul ukhdud,  kaum terlaknat yang menggali parit berisi api dan melempar semua orang yang beriman kepada Allah SWT ke dalam parit api tersebut. Kisah lengkap ashabul ukhdud dimuat dalam sebuah hadits panjang yang diriwayatkan Imam Muslim. Berkisah tentang seorang pemuda beriman yang dikaruniai keahlian pengobatan dan kemustajaban do’a. Kematiannya justru menancapkan iman yang mendalam kepada masyarakat yang menyaksikan pembunuhannya. Pun keimanan tersebut membuat mereka dilemparkan ke dalam parit api. Mereka menemui ajal dengan mendapatkan keridhaan Allah. Dalam hadits panjang tersebut, si pemuda hanya disebut ghulam yang berarti anak muda. Tidak dikenal namanya tidaklah mengurangi inspirasi mengenai keistiqomahan dan pengorbanan yang dicontohkan.

Semangat pemuda adalah semangat berjuang dan berkarya. Nothing to lose. Benar ataupun salah akan jadi pembelajaran hidup. Cenderung spontan dan agak kurang pikir panjang, tapi karenanya justru menjadi perjuangan yang penuh ketulusan dan keikhlashan. Jika di-list, akan panjang sekali daftar tokoh kunci pemuda inspiratif yang tak terlalu dikenal sejarah. Sebutlah Soegondo Djojopuspito, Ketua Panitia Kongres Pemuda II tahun 1928 yang menjadi titik tolak gerakan pemuda di Indonesia. Belum digelari pahlawan nasional, kalah tenar jika dibandingkan W.R. Supratman, misalnya. Padahal posisi sebagai Ketua Panitia saat itu sangatlah berisiko dan memberikan andil signifikan dalam keberlangsungan Kongres Pemuda. Atau sebut saja Wikana yang mendesak Soekarno memproklamasikan Indonesia, Frans Mendur yang mendokumentasikan detik-detik proklamasi, Shodanco Singgih yang ‘menculik’ Soekarno – Hatta ke Rengasdengklok atau Kusno Wibowo yang merobek warna biru pada bendera bendara yang berkibar di Hotel Yamato. Karena ketercapaian cita-cita adalah yang utama dibandingkan dikenalnya nama, para pemuda idealis ini tidak ambil pusing bagaimana catatan sejarah akan menempatkan mereka. Ya, sejarah juga alpa mencatat siapa mahasiswa yang pertama kali menduduki gedung MPR/ DPR dalam artian yang sebenarnya pada tahun 1998. Karena bukan disitu esensi perjuangan mereka.

Namun roda zaman terus berputar, era pengetahuan dan informasi seakan menuntut semua pihak untuk menunjukkan eksistensi. Para pemuda yang tadinya asyik menginspirasi dalam sunyi kini tak ketinggalan menjadi garda terdepan unjuk eksistensi. Berbagai macam kanal kontribusi digagas, bisa berupa kegiatan, program, gerakan, atau bahkan aplikasi di dunia maya. Iklim kompetisi ditambah motivasi untuk unjuk gigi mewarnai dinamika kontribusi pemuda. Menjadi sulit menyamakan isu dan gerak langkah kontribusi pemuda. Yang memang tidak lagi didesain untuk disatukan. Belum lagi semakin banyak pemuda yang kehilangan jati diri sehingga eksistensi menjadi orientasi, tak lagi memperjuangkan cita dan visi bersama. Kontribusi harus dalam ramai agar bisa menginspirasi. Bagaimanapun harus ada keuntungan yang diperoleh dari setiap karya dan kontribusi. Lebih miris lagi mendapati semakin banyaknya pemuda apatis yang tak peduli. Tingginya kompetisi diyakininya sebagai sebuah tanda untuk hidup ‘mandiri’, hidup untuk diri sendiri, hidup dalam dunianya sendiri. Bagi mereka, karya tidak perlu dibagi, cukuplah untuk menginspirasi diri sendiri.

Akan tetapi, yang namanya roda akan kembali ke titik awal. Saat ini pun masih banyak pemuda yang terus berkarya dalam sepi, tetap menginspirasi dalam sunyi. Gemerlap publikasi tak menyilaukan matanya yang menatap masa depan dengan penuh optimisme kegemilangan. Mereka sudah selesai dengan dirinya, sehingga dengan atau tanpa dikenal manusia, karya tetap harus tercipta. Eksistensi dirinya tak ada nilainya jika dibandingkan dengan motivasi untuk terus berkontribusi dan banyaknya manfaat yang hendak dirawat. Ketika memperjuangkan cita mulia menjadi pilihan, inspirasi bisa dilakukan dalam ramai maupun sunyi. Bentuk perjuangan bisa berubah menyesuaikan zaman, namun cita perjuangan tetaplah sama. Belum tentu populer, tapi memang popularitas bukan tujuan. Semakin sunyi, semakin menginspirasi, sebab energi tidak perlu terkuras hanya untuk meladeni persepsi orang. Hingga akan tiba suatu masa dimana kontribusi dalam sunyi ini kan dibuka tabirnya, menginspirasi dunia, membuat perubahan nyata. Tinggal pastikan diri kita turut berperan di dalamnya.

P_20180904_084814
,

Yuk Jadi Pebisnis Sob!

Yuk Jadi Pebisnis Sob!

P_20180904_084704

 

Pagi Sob, hari ini kami kedatangan tamu istimewa lho. Beliau adalah Ibu Melisa, seorang entrepreneur muslim yang berbagi inspirasi di Aula SMART pada Selasa (04-09). Selama beberapa jam ke depan beliau memberikan materi seputar dunia bisnis kepada kami semua.

 

Menurut Ibu Melisa penting bagi generasi muda untuk mengetahui ingin menjadi apa di masa depan, sebab jika kita sudah mengetahui ingin menjadi apa maka kita akan mudah untuk menentukan target hidup yang ingin dicapai.

 

“Kalau di masa depan kalian menjadi orang sukses, itu berarti kerja keras kalian telah terbayar. Namun jangan sampai kesuksesan malah membuat akhlak kalian berubah,” ujar Ibu Melisa.

 

Akhlak, tambah Ibu Melisa, memegang peranan penting ketika kita memilih menjadi seorang pengusaha sebab tanpa akhlak yang baik maka seorang pengusaha hanya sekadar menjadi pengusaha.

 

“Pengusaha tanpa akhlak bagaikan hidup tanpa pegangan, oleh karena itu ketka menjadi pengusaha maka kalian harus mengedepankan akhlak baik,” seru Ibu Melisa.

 

Selama membangun bisnis Ibu Melisa mengalami jatuh bangun, tetapi hal tersebut tak membuat semangatnya kendur atau membuatnya menyerah. Ia menjelaskan kalau semangat turut memegang peranan penting agar api yang berkobar dalam diri tak padam.

 

“Semangat bisa menjadi salah satu bahan bakar untuk meraih mimpi, kalau kalian tak semangat bagaimana mimpi mau diraih? Betul tidak?” tanyanya disambut jawaban “Betuuuul” dari kami semua.

 

Kamu semua pasti setuju kalau hidup mengajarkan kita banyak pengalaman, nah persis seperti yang Ibu Melisa katakan kepada kami kalau pengalaman akan mengajarkan kita kemampuan untuk menyelesaikan masalah.

 

“Hidup pasti mengajarkan banyak hal, maka tugas kalian untuk menyusun jurus sendiri agar mampu menghadapi berbagai rintangan dalam hidup,” tegas Ibu Melisa.

 

Sebelum menutup acara Ibu Melisa mengajak kami semua menganalisis bisnis dengan praktik lapangan yang bertujuan mengasah peminatan dan kemampuan kami di bidang entrepreneur.

 

“Ada tiga tipe manusia di dunia. Pertama Tipe Teknisi, mereka adalah tipikal pekerja sendiri, menjual  sendiri, dan kebermanfaatannya ia nikmati sendiri. Kedua Tipe Manajer, mereka merupakan tipikal manusai dengan banyak teori dan hanya mementingkan diri sendiri serta golongannya saja. Terakhir Tipe Entrepreneur, ini adalah tipe manusia pemimpin, mereka bisa memimpin dan mampu membuat orang lain merasakan manfaat dari bisnisnya dan mampu membuat orang lain ikut sukses,” kata Ibu Melisa lantang.

 

Dalam mengambil keputusan seorang pengusaha harus melibatkan Allah, dengan melibatkan Allah maka seorang pengusaha akan semakin mudah dalam membaca peluang Sob. Agar semakin berkah pengusaha tidak boleh pelit untuk berbagi karena berbagi akan memperkaya diri dan memperlancar rejeki kita.

“Patut diingat kalau menjadi pengusaha maka kalian dituntut memiliki kemampuan berbagi, mulai dari berbagi ilmu, berbagi harta,  dan berbagi pengalaman. Ibu harap kamu semua kelak akan menjadi pengusaha sukses dunia dan akhirat aamiin,” tutup Ibu Melisa. (AR)

SMART Ekslensia Indonesia

Aku Si Anak Rantau, Aku Si Anak UI

Aku Si Anak Rantau, Aku Si Anak UI

Oleh: Ahmad Rofai

SMART Ekslensia Indonesia

Namaku Ahmad Rofai, Alumni SMART Ekselensia Indonesia Angkatan 6 asal Lampung. Aku berkuliah di Jurusan Ilmu Kesejahteran Sosial Universitas Indonesia.

 

Aku anak rantau, maka jarang sua dengan famili adalah absolut konsekuensi.
Aku anak rantau, maka rindu masakan mama, tangisan adik, tawaan ayah, obrolan kaka, marahan tetangga adalah sajian pikiran sehari-hari.
Aku anak rantau, bukan main makin paham arti jarak, cinta, waktu, sayang, benci (untuk menjadi cengeng karena amat rindu) dan tangis sebagai satu satuan paket rasa hidup.

Aku anak rantau, maka tak punya kata untuk ungkap bahagia saat famili datang membersamai tempat selama kau menetap dalam masa perantauan. Lalu haru dalam tangis.
Alhamdulillah, Alhamdulillah. Tiba masa merasa perlu menghargai apa apa yang telah selesai. Aku malas mengangguk, meng-aamiin-i dan mengiyakan kalimat “Ini bukan lah akhir, melainkan awal untuk itu, itu dan ini” pada segala jenis pernyataan seremonial.
Selalu ada selesai pada apa-apa yang pernah dimulai. Olehnya, penting mensyukuri dan menghargai diri dengan mengaku ‘selesai’ pada apa yang secara sadar pernah memulai.
Alhamdulillah aku telah menyelesaikan studiku di UI. Mendatang, tiba saat menyelesaikan apa-apa yang belum selesai. Mohon doa kawan :”)