Halo para Pejuang Budaya di seluruh Indonesia!

Lomba budaya tingkat nasional dengan hadiah puluhan juta rupiah, Olimpiade Humaniora Nusantara 2018, masih terus dibuka pendaftarannya hingga 7 Oktober 2018!

OHARA kali ini bertemakan “Satukan Harmoni Budaya Nusantara” yang akan dilaksanakan pada tanggal 24 s.d. 25 Oktober 2018.

Ayo para pelajar SMP dan SMA/sederajat di seluruh Indonesia, kesempatan untuk meraih piala bergilir Kemendikbud, Gubernur Jawa Barat, sertifikat tingkat nasional serta keseruan bertemu para peserta se-Indonesia masih terbuka lebar!

Terdapat 5 lomba kece yang sangat mudah untuk diikuti dalam OHARA 2018, kamu pun bisa langsung mendaftar secara online di link yang tertera:
1. Festival Akulturasi Kuliner Nusantara (SMA sederajat) [bit.ly/ohara2k18_fakn]
2. Opera Van Jampang (SMP dan SMA sederajat) [bit.ly/ohara2k18_ovj]
3. Lintas Nusantara (SMP sederajat) [bit.ly/ohara2k18_lintara]
4. Lomba Esai (SMA sederajat) [bit.ly/ohara2k18_esai]
5. Story Telling (SMP dan SMA sederajat) [bit.ly/ohara2k18_storytelling_SMP atau bit.ly/ohara2k18_storytelling_SMA]

Tunggu apa lagi, ayo segera daftarkan dirimu dan tunjukkan bahwa sekolahmu adalah yang terbaik dalam OHARA 2018!

Jangan lupa untuk sebarkan info ini ke seluruh teman-teman dan sekolahmu!

Ikuti terus perkembangan #ohara2018 di akun sosial media kami:

Fanspage : Olimpiade Humaniora Nusantara
Twitter : @cintaohara
Instagram : @cintaohara
Web : ohara.smartekselensia.net
WA :
0813 1571 4190 (Erdiansyah)

ef6d4c0e-971e-4192-aef9-ebf2bb647b96

Yuk Manfaatkan Media Sosial Sebaik-baiknya

Oleh: Insan Maulana

Alumni SMART Angkatan 9 Berkuliah di UPI Bandung

 

Aku rela dipenjara asalkan dengan buku, karena dengan buku aku bebas.”

 –Muhammad Hatta-

Zaman sekarang, teknologi mengambil peran penting dalam kehidupan manusia dan seiring berjalannya waktu, teknologi semakin berkembang dan semakin maju. Kemajuan teknologi membuat kita semakin mudah melakukan segala sesuatu, kita ambil contoh jika kita ingin melakukan komunikasi antar kota, puluhan tahun yang lalu kita harus menggunakan surat dan membutuhkan waktu yang lama, itu komunikasi antar kota. Bagaimana dengan komunikasi antar benua? Sepertinya mustahil dilakukan. Namun, sekarang teknologi menyediakan berbagai fitur yang membuat komunikasi antar benua menjadi lebih mudah, selain itu waktu yang dibutuhkan pun teramat singkat. Teknologi seperti e-mail, SMS (Short Message Service), telepon atau media sosial seperti facebook-lah yang membuatnya mungkin. Termasuk untuk mencari informasi, kini tersedia internet yang teramat mudah diakses, bandingkan saat abad 20 ketika itu hanya tersedia surat kabar dan buku sebagai sumber informasi.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan pengguna internet cukup banyak dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara. Sebuah agensi marketing sosial mengeluarkan sebuah laporan pada Maret 2015 mengenai data jumlah pengguna website dan media sosial di Indonesia. Ternyata, jumlahnya menembus angka 72,7 juta pengguna aktif internet dan 74 juta pengguna aktif media sosial.[1] Angka ini meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun. Padahal, di awal pendiriannya, jaringan internet hanya menghubungkan beberapa universitas di Amerika, sekarang internet sudah menjadi viral dan menyasar berbagai kalangan, mulai dari dewasa, remaja bahkan anak usia sekolah dasar sudah mengenal dunia internet.

Sangat mudahnya mendapat informasi melalui internet ini adalah faktor utama turunnya minat untuk membaca buku. Selain punya banyak pengguna internet, Indonesia juga merupakan negara dengan tingkat minat membaca buku yang sangat rendah dibanding dengan negara Asia Tenggara lainnya. Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, H.R Agung Laksono, di Media Tempo pada 12 Januari 2012, menyebutkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah dimana prosentase minat baca masyarakat Indonesia hanya sebesar 0,01 persen, artinya dalam 10.000 orang hanya satu orang saja yang memiliki minat baca. Tingkat minat baca masyarakat Indonesia ini masih jauh ketinggalan dibandingkan negara lain seperti Jepang yang mencapai 45 persen dan Singapura yang menyentuh angka 55 persen. Bahkan berdasarkan survei UNESCO, budaya baca masyarakat Indonesia berada di urutan 38 dari 39 negara yang paling rendah di kawasan ASEAN.[2] Hal ini sungguh memprihatinkan, padahal informasi yang kita dapat dari buku lebih detil daripada informasi yang didapat dari internet. Masyarakat Indonesia pada umumnya cenderung haus akan informasi, seperti contoh mereka selalu ingin mengetahui kabar, kegiatan dan foto-foto temannya. Cara yang tepat bagi mereka tentu menggunakan media sosial seperti Facebook, Twiter dan Instagram. Fenomena inilah yang membuat perspektif mayoritas orang terhadap kegiatan membaca buku atau menulis cerita terlihat kuno atau ketinggalan zaman. Selain itu, kutu buku juga sering dikucilkan dan dianggap culun.

Dalam segala kemudahan yang ditawarkan, media sosial juga kerap kali membawa serta dampak negatif bagi penggunanya. Lupa waktu karena keasyikan, tidak mau membaca buku, dan sering ditemukan hal yang tidak penting seperti kata-kata kotor, kasar bahkan gambar vulgar adalah sedikit dari banyaknya dampak negatif internet. Sekarang mari kita bahas tentang buku. Memang jika kita teliti buku-buku zaman sekarang banyak yang mengandung  konten negatif seperti komik dan novel yang berlabel “dewasa” di bagiam sampulnya. Hal-hal seperti itulah yang menyebabkan sumber daya manusia di suatu negara menjadi hancur secara pikiran maupun perilaku. Maka dari itu, dalam membaca buku pun kita tetap harus selektif.

Berlatar belakang hal-hal di atas, menurut saya perlu beberapa cara suntuk meningkatkan minat baca dan menulis masyarakat terutama kalangan muda yang masih duduk di bangku sekolah. Pertama, pemerintah harus memberikan imbauan kepada seluruh sekolah supaya menasihati siswa-siswinya untuk tidak terlalu sering dan berhati-hati dalam menggunakan media sosial apalagi menyalahgunakannya. Selain itu, penting juga untuk menginformasikan tentang pentingnya membaca buku dan berlatih menulis. Kedua, pemerintah harus mengadakan lomba tentang literasi supaya siswa yang sudah berkembang kemampuan literasinya bisa menyalurkan kemampuan dan bersaing dengan orang lain.

Untuk itu, akan lebih baik jika kita membaca buku yang berisi tentang ilmu pengetahuan atau novel yang berisi cerita orang-orang sukses yang inspiratif dan memotivasi daripada menghabiskan waktu menggunakan media sosial. Tidak salah bila kita menggunakan media sosial dan internet untuk mencari informasi karena lebih mudah, namun kita harus menyadari bahwa dengan membaca buku, ilmu yang kita dapat akan lebih banyak.

Aku Si Anak Rantau, Aku Si Anak UI

Oleh: Ahmad Rofai

SMART Ekslensia Indonesia

Namaku Ahmad Rofai, Alumni SMART Ekselensia Indonesia Angkatan 6 asal Lampung. Aku berkuliah di Jurusan Ilmu Kesejahteran Sosial Universitas Indonesia.

 

Aku anak rantau, maka jarang sua dengan famili adalah absolut konsekuensi.
Aku anak rantau, maka rindu masakan mama, tangisan adik, tawaan ayah, obrolan kaka, marahan tetangga adalah sajian pikiran sehari-hari.
Aku anak rantau, bukan main makin paham arti jarak, cinta, waktu, sayang, benci (untuk menjadi cengeng karena amat rindu) dan tangis sebagai satu satuan paket rasa hidup.

Aku anak rantau, maka tak punya kata untuk ungkap bahagia saat famili datang membersamai tempat selama kau menetap dalam masa perantauan. Lalu haru dalam tangis.
Alhamdulillah, Alhamdulillah. Tiba masa merasa perlu menghargai apa apa yang telah selesai. Aku malas mengangguk, meng-aamiin-i dan mengiyakan kalimat “Ini bukan lah akhir, melainkan awal untuk itu, itu dan ini” pada segala jenis pernyataan seremonial.
Selalu ada selesai pada apa-apa yang pernah dimulai. Olehnya, penting mensyukuri dan menghargai diri dengan mengaku ‘selesai’ pada apa yang secara sadar pernah memulai.
Alhamdulillah aku telah menyelesaikan studiku di UI. Mendatang, tiba saat menyelesaikan apa-apa yang belum selesai. Mohon doa kawan :”)