Kunjungan Univ Malaysia

UNITAR Malaysia Berikan Apresiasi untuk SMART Ekselensia Indonesia

BOGOR – Dompet Dhuafa Pendidikan mendapat kunjungan dari Universitas Tun Abdul Razak (UNITAR) Malaysia pada hari Sabtu (27/10). UNITAR merupakan salah satu kampus swasta di Malaysia. Kampus ini menggabungkan kelas konvensional dengan penggunaan efisiensi bahan kursus berbasis situs web serta proses pembelajaran online.

Rombongan dari UNITAR sampai di kampus SMART pada pukul 08.00. Mereka diterima di Aula Masjid Al Insan Dompet Dhuafa Pendidikan. Sebanyak 80 orang siswa Kelas 4 dan Kelas 5 SMA SMART Ekselensia Indonesia hadir menyambut dan ikut berdialog bersama saudara serumpun ini. Acara dibuka dengan sambutan dari Abdul Khalim selaku Senior Manager SMART Ekselensia Indonesia. Kemudian dilanjutkan dengan presentasi dari UNITAR yang disampaikan oleh Aziey Mohd selaku Business Development UNITAR.

Tujuan dari kunjungan ini adalah untuk mengenalkan UNITAR lebih jauh kepada seluruh siswa SMA SMART Ekselensia Indonesia. Pada kesematan ini juga dibahas rencana kerjasama antara UNITAR dengan SMART, yaitu pemberian beasiswa kepada beberapa siswa terpilih untuk melanjutkan pendidikan di UNITAR.

“Saya sangat senang sekali bisa kenal SMART Ekselensia, murid-muridnya pandai-pandai. Saya salut dengan semangat mereka, sampai tadi banyak sekali pertanyaan yang harus saya jawab,” kesan Aziey. Ia juga menambahkan bahwa tidak sulit untuk mendapatkan beasiswa di UNITAR. Pasalnya, seleksi beasiswa hanya akan dilakukan dari nilai raport. “Jadi semangat belajar kalian juga harus ditingkatkan, ya!” pungkas Aziey.

Baik UNITAR maupun SMART berharap ke depan terjalin hubungan baik yang saling mendukung. “Harapannya, dengan adanya kunjungan ini akan terjalin kerjasama yang baik antara SMART dengan UNITAR. Ke depan, akan ada banyak siswa SMART yang melanjutkan pendidikan di luar negeri. Semoga UNITAR salah satu kampusnya,” ungkap Khalim.

Apresiasi Positif dan Kesan Manis untuk OHARA

Apresiasi Positif dan Kesan Manis untuk OHARA

SMART Ekselensia Indonesia baru saja menyelesaikan hajatan besar tahunannya, yaitu pergelaran Olimpiade Humaniora Nusantara (OHARA) ke-10. Acara ini digelar pada Rabu dan Kamis kemarin, 24-25 Oktober 2018. Banyak apresiasi positif didapatkan oleh SMART terhadap gelaran OHARA.

Dari pemerintah, SMART mendapat dukungan berupa pemberian dua piala bergilir. Satu piala bergilir dari Gubernur Jawa Barat sejak kepemimpinan Ahmad Heryawan. Piala ini diberikan kepada pemenang lomba Opera Van Jampang. Piala bergilir lain dipersembahkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, untuk pemenang lomba Lintas Nusantara.

Namun, menurut Syarif, seorang konsultan pendidikan yang mengelola sebuah sekolah, seharusnya ajang OHARA ini dapat bekerjasama dengan pemerintah dalam bentuk lain. “Harapan saya, ke depan semoga acara ini bisa ditingkatkan lagi melalui kerjasama dengan pemerintah daerah, sehingga bisa menjadi program pemerintah, dan acara ini bisa terbantu secara finansial dan publikasi,” papar Syarif yang berkesempatan menjadi juri pada Lomba Esai OHARA.

Syarif juga memberikan kesan positifnya terhadap acara ini. “Acara OHARA ini luar biasa karena bisa membawa peserta dari luar daerah. Gaungnya acara ini bisa sampai ke tempat yang jauh, sampai ke daerah Kalimantan dan Sulawesi,” ungkapnya. Ya, tahun ini peserta OHARA ada yang berasal dari kedua pulau tersebut.

Lalu bagaimana kesan peserta dari pulau terjauh itu tentang OHARA? “Bergabung di acara OHARA ini bisa mengasah kepedulian kita sebagai pelajar terhadap budaya Indoesia. Di samping itu, dengan OHARA juga kita dapat mencari solusi atas permasalah sosial yang ada di masyarakat, jadi kita tidak hanya mementingkan diri sendiri namun mementingkan orang lain juga,” ungkap Nur Danil, siswa Kelas XI SMA Negeri 2 Gowa, Makasar, Sulawesi Selatan. Nur mengikuti Lomba Esai pada OHARA kali ini. Esainya berjudul “Konsolidasi Budaya Siri’Na Pacce Melalui Eksistensi Sikap Sipakatau, Sipakainge dan Sipakalebbi di Kalangan Pemuda Bugis Makassar”

Kesan positif lainnya juga datang dari para siswa SMP 1 Kemang, Bogor. Tim mereka menjuarai Lomba Lintas Nusantara dan berhak menyimpan piala bergilir dari Kemendikbud tahun ini.

“Ajang OHARA sangat baik untuk pemuda dan pemudi Indonesia. Kita dapat jauh memperdalam pengetahuan tentang budaya-budaya Indonesia. Karena pemuda sekarang banyak yang lebih dekat dengan budaya asing, dan dengan adanya ajang ini bisa membuktikan generasi zaman now tidak lupa dengan budaya Indonesia dan tidak menganggapnya sebagai hal yang kuno,” ungkap mereka.

Demikianlah, perhelatan OHARA telah berakhir. Untuk tuan rumah, acara ini juga menjadi ajang pembinaan bagi para siswa SMART. Mereka dapat berlatih mengelola event, berlatih tampil di depan banyak orang, juga berlatih menjalin relasi dengan orang baru.

OHARA juga menjadi sarana open house untuk SMART. Para siswa pun mengeluarkan banyak tampilan seni mereka yang memukau hadirin. Sukses selalu, SMARTies!

Day 1

Olimpiade Budaya Pertama di Indonesia Resmi Dibuka

Pagi ini, Rabu (24/10), Olimpiade Humaniora Nusantara atau OHARA resmi dibuka. Olimpiade ini, hanya ada satu-satunya dan pertama di Indonesia. SMART Ekselensia  Indonesia (SMART) yang menginisiasinya. Dan, kali ini adalah tahun ke-10 OHARA digelar.

OHARA dibuka secara resmi oleh Asep Sudarsono, S.Pd.M.M, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jawa Barat Wilayah 1. Dalam sambutannya, Asep memberikan apresiasi terhadap olimpiade ini. “Untuk berhasil itu ada tiga hal yang harus dilakukan. Pertama, install pengetahuan dengan cara belajar, kedua install keahlian dengan mengikuti beberapa latihan, dan ketiga install pengalaman dengan hadir dalam kegiatan positif, seperti OHARA ini,” ungkap Asep. Tak lupa Asep juga berpesan bahwa dalam kompetisi, menang kalah itu hal yang biasa. Ia meminta pihak yang kalah untuk bersabar, dan bersyukur bagi yang menang.

OHARA dihelat bukan semata untuk mewadahi para pemuda yang sangat bergelora dalam kompetisi, namun acara ini membawa misi penting. Hal ini disampaikan oleh General Manager Sekolah Ekselensia Indonesia, Agung Pardini, dalam sambutannya. “OHARA ini diharapkan dapat menjadi pemantik untuk semua siswa lebih mengenal budaya yang ada di Indonesia dan akhirnya dapat menjadi manusia produktif,” papar Agung.

Perhelatan OHARA tahun ini mengangkat tema “Satukan Harmoni Budaya Nusantara”, sebuah ajakan kepada anak-anak muda untuk tidak hanya melestarikan, namun membuat keragaman budaya ini menjadi sebuah harmoni. Para peserta OHARA pun berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Tercatat, sebanyak 268 siswa dari 37 sekolah menjadi peserta acara masterpiece ini. Selain berasal dari Pulau Jawa, peserta terjauh berasal dari Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, dan Sulawesi Selatan.

SMART pun berlaku sebagai tuan rumah yang memuliakan tamunya. Berbagai sajian telah disiapkan untuk menyambut dan menghibur para tamu yang hadir. Sebagai pembukaan, siswa-siswa berbakat SMART menyuguhkan Tari Saman yang disambut para hadirin dengan sangat meriah. Selain itu, para siswa SMART hari ini juga tampil dalam teater mini musikal, dan akustik. Rangkaian tampilan seni ini merupakan suplemen untuk mengolah rasa para siswa SMART juga sebagai bentuk pelestarian budaya.

SMART sendiri sebenarnya adalah miniatur Indonesia. Para siswa sekolah berlabel “Islamic Leadership Boarding School” ini berasal dari seluruh penjuru nusantara, dan mewakili keragaman budaya Indonesia. Sekolah menengah berasrama bebas biaya ini didirikan oleh Dompet Dhuafa pada tahun 2004. SMART hadir untuk memberikan kesempatan pada anak-anak berprestasi namun memiliki keterbatasan ekonomi, agar dapat mengakses pendidikan yang berkualitas. Hal ini senada dengan apa yang disampaikan oleh Yuli Pujihardi, Direktur Zona Madina, selaku perwakilan dari Dompet Dhuafa. “Permasalahan yang dihadapi dhuafa salah satunya adalah pendidikan dan kami, Dompet Dhuafa menyediakan SMART untuk mengatasi masalah tersebut. Dengan adanya OHARA ini diharapkan dapat membentuk anak yang memiliki adab, berbudaya dan bangga dengan budaya Indonesia,” terang Yuli.

OHARA telah dilaksanakan sejak tahun 2009 lalu. Lebih dari 1.500 siswa telah menjadi pesertanya. Tahun ini, para peserta OHARA akan berlaga dalam lima kompetisi budaya, yaitu Opera Van Jampang (OVJ), Lintas Nusantara (Lintara), Festival Akulturasi Kuliner Nusantara (FAKN), Story Telling, dan Lomba Esai. Beragam penghargaan telah disediakan untuk para pemenang.

Piala bergilir Gubernur Jawa Barat akan dibawa pulanh oleh pemenang lomba OVJ. Demikian juga untuk pemenang lomba Lintara, mereka akan mendapatkan piala bergilir dari  Kemendikbud. Sedangkan untuk lomba FAKN, Essay dan Story Telling akan mendapatkan uang pembinaan.

Tari Saman Ohara part 1

Cara SMART Ajak Anak Muda Harmonikan Budaya Nusantara

Seiring masifnya arus globalisasi yang melanda negeri ini, kekhawatiran akan semakin tergerusnya budaya nusantara semakin mencuat. Hal itu bukan tanpa alasan. Seiring dunia yang makin tanpa batasan, dengan bantuan teknologi yang juga makin canggih, budaya asing makin kuat pula menggempur. Sasaran utamanya tentu saja anak-anak muda selaku pengguna aktif teknologi kekinian. Maka budaya yang notabenenya adalah identitas bangsa besar ini pun, tak bisa dielakkan dari krisis yang akan melandanya.

Bertolak dari pemikiran tersebut, SMART Ekselensia Indonesia (SMART) melakukan tindakan nyata. Sejak 2009 lalu, sekolah berlabel Islamic Leadership Boarding School ini menginisiasi OHARA, singkatan dari Olimpiade Humaniora Nusantara setiap tahunnya. Selayaknya olimpiade, OHARA juga berformat kompetisi. Perlombaan kreasi budaya antar sekolah ini sudah berlevel nasional. Pesertanya adalah siswa SMP-SMA sederajat. Tahun ini merupakan perhelatan OHARA yang ke-10. Telah lebih dari 1500 siswa dari seluruh Indonesia menjadi peserta olimpiade ini.

Tahun ini OHARA mengangkat tema “Satukan Harmoni Budaya Nusantara”. Sesuai dengan  tujuan dihelatnya OHARA itu sendiri, yaitu untuk memperkuat pengetahuan generasi muda dalam hal kebudayaan dan keharmonisan nusantara. Olimpiade ini akan berlangsung selama dua hari pada tanggal 24-25 Oktober 2018, berlokasi di sekolah SMART, Desa Jampang, Kemang, Kabupaten Bogor.

Sebanyak 286 siswa yang berasal dari 36 sekolah akan berlaga dalam OHARA. Mereka akan berkompetisi di lima cabang lomba, yaitu Lomba Essay, FAKN, Story Telling, Lintara, dan OVJ. Lomba Esai adalah ajang bagi para peserta untuk menuangkan gagasan mereka tentang kebudayaan nusantara. FAKN atau Festival Akulturasi Kuliner Nusantara adalah kompetisi memadukan dua atau lebih kuliner dari daerah yang berbeda, namun tidak meninggalkan kekhasannya.

OVJ, singkatan dari Opera Van Jampang adalah pentas drama bernuansa budaya berbumbu humor, namun tetap memiliki pesan moral. Cerita yang diangkat dalam OVJ biasanya adalah dongeng khas nusantara. Sedangkan Story Telling adalah kompetisi keahlian menceritakan kembali cerita rakyat nusantara menggunakan bahasa Inggris. Dan, Lintara atau Lintas Nusantara, merupakan lomba masterpiece SMART yang memadukan tes tulis, permainan tradisional, cosplay, dan jelajah lintas alam, kesemua tantangan tersebut tetap benuansakan budaya Indonesia.

SMART sendiri adalah sekolah menengah berasrama bebas biaya yang didirikan oleh Dompet Dhuafa untuk anak-anak berprestasi dengan keterbatasan ekonomi dari seluruh Indonesia. Siswa SMART menjalani sekolah SMP-SMA secara akselerasi dengan sistem kredit semester (SKS) dan program pendidikan kepemimpinan. OHARA merupakan bentuk apresiasi para siswa SMART terhadap keragaman budaya dari daerah-daerah asal mereka. (NRS)

Olimpiade Humaniora Nusantara

Yang Muda Yang Satukan Harmoni Budaya Nusantara di OHARA

Yang Muda Yang Satukan Harmoni Budaya Nusantara di OHARA

Bogor – Tak terasa setahun telah berlalu dan Olimpiade Humaniora Nusantara 2017 telah lama pergi meninggalkan kami.  Rasa sedih sempat menghampiri, namun hidup harus terus berjalan kan Sob?

Sekarang kami tak sedih lagi karena pada Rabu dan Kamis (23-24 Oktober) SMART Ekselensia Indonesia Boarding Islamic School akhirnya kembali mengadakan OHARA.

Olimpiade Humaniora Nusantara

 

Seperti yang kamu ketahui OHARA bertujuan untuk menyadarkan generasi muda untuk lebih perhatian terhadap budaya bangsanya. Kebanyakan anak muda zaman sekarang beranggapan bahwa budaya adalah suatu hal yang “kaku” dan “kuno”, padahal sebagai negeri yang memiliki banyak kekayaan budaya seharusnya menjadi suatu kebanggaan bagi para pemuda. Pemuda, sebagaimana pernyataan dari Soekarno, adalah tonggak suatu bangsa karena itulah SMART ingin turut serta berkontribusi terhadap  pengembangan budaya tanah air melalui lomba-lomba yang dapat membuat para pemuda semakin mencintai budaya.

Tahun ini OHARA mengusung tema “Satukan Harmoni Budaya Nusantara” sebagai pengingat jika indonesia adalah negeri dengan budaya sangat melimpah. Ada lima lomba yang dijagokan antara lain: Lintara, FAKN, Story Telling, Essay, dan OVJ.

Lintara alias Lintas Nusantara merupakan lomba yang ditujukkan untuk siswa SMP di seluruh indonesia. Lomba ini mengajak peserta untuk lebih mengenal budaya nusantara lebih dalam. Di Lintara, peserta akan merasakan budaya nusantara melalui berbagai mata lomba yang akan diadakan di indoor maupun outdoor. Tidak hanya budaya, peserta akan diajak untuk lebih dekat dengan alam.

Berbeda dengan Lintara, FAKN (Festival Akulturasi Kuliner Nusantara) adalah lomba yang akan menguji kereativitas para peserta untuk mengakulturasikan dua masakan khas daerah menjadi suatu sajian yang enak dan memilki nilai jual.

Ada juga lomba Story Telling, namun berbeda dengan lomba sejenis, di OHARA peserta WAJIB menggunakan bahasa daerah dari cerita yang mereka bawakan. Pokoknya keren deh Sob

Selain tiga lomba di atas di OHARA tahun ini  Essay turut mengambil porsinya sebagai lomba baru yang digadang mampu menyelaraskan kemampuan berpikir generasi muda dan kemampuan mereka menggerakan di masyarakat. Sst ada yang spesial di Essay nih Sob, karena para peserta akan kami ajak mengikuti pelatihan Social Leader forum bertajuk “Berkontribusi Nyata Terhadap Kemajuan Bangsa”.

Untuk lomba terakhir kami memiliki OVJ (Opera Van Jampang). Lomba ini adalah bentuk visual budaya nusantara yang dijadikan ke dalam bentuk opera disertai dengan guyonan-guyonan untuk menambah keseruan Para peserta dituntut mampu membuat pertunjukkan lucu berdasarkan cerita-cerita budaya di Indonesia. Menghibur dan seru sekali, kamu kudu nonton juga.

OHARA dapat terselenggara berkat dukungan darimu dan berbagai pihak. Kami harap OHARA mampu menjadi wadah untuk menampung inovasi-inovasi brilian anak bangsa demi menyatukan harmoni budaya nusantara. Tunggu reportase kami selanjutnya (AR).

SALAM OHARA….

SMART Sekolah pemimpin

Mencegah Hilangnya Permata Indonesa

Banyak sekali anak Indonesia yang berpotensi luar biasa yang terlahir dari keluarga sederhana namun tidak berkembang potensinya. Karena ketiadaan layanan proses pengembangan yang baik, anak-anak cerdas dari keluarga marjinal itu akhirnya tersisih dan tidak menunjukkan keunggulannya. Ibarat sebuah permata, tanpa proses penanganan yang baik, perhiasan yang bernilai tinggi akan terpuruk menjadi sesuatu yang rendah atau hilang.

SMART Ekselensia Indonesia Islamic Boarding School adalah sekolah yang dirangkai dari sebuah mimpi keluarga besar Dompet Dhuafa (DD) tentang sekolah unggulan bagi orang-orang yang kurang mampu. Membayangkan sekolah bagi orang miskin, biasanya yang tergambar adalah sekolah seadanya. Dari mulai sekolah di bawah pohon, di bawah jembatan, di serambi masjid, atau di teras sebuah rumah kontrakan sederhana. Akan tetapi, DD berimajinasi tentang sekolah untuk kaum marjinal yang bebas biaya dengan standar mutu unggulan. Mimpi itu mulai menjadi nyata ketika pada akhir 2003 DD menyediakan kompleks sekolah unggulan di daerah Parung, Bogor, Jawa Barat. Menjelang tahun ajaran baru pada Juli 2004, anak-anak mulai berdatangan dari berbagai pelosok negeri. Mereka ini hasil seleksi dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Terpilihlah anak-anak yang memiliki potensi kecerdasan tinggi namun berasal dari keluarga dengan kemampuan ekonomi yang kurang.

Waktu demi waktu terus berganti. Anak-anak yang datang dengan segala kesederhanaannya tersebut, setelah menjalani proses pendidikan, mulai berubah. Mereka mulai kelihatan bersih dan rapi. Mereka juga mulai hidup tertib dan disiplin. Pengetahuan dan keterampilan mereka telah meningkat dengan sangat pesat. Wawasan dan kekayaan khazanah kehidupannya telah meluas ke mana-mana. Dengan proses pendidikan yang berkualitas, banyak prestasi yang telah dicapai. Tidak heran jika lulusan SMART Ekselensia Indonesia setiap tahun 100 persen diterima di berbagai perguruan tinggi negeri kenamaan di Indonesia. Selain itu, para alumnus SMART Ekselensia Indonesia sekarang pun telah menjadi sekelompok kecil pemuda Indonesia yang memiliki kesempatan untuk melakukan lompatan besar dalam perubahan diri, keluarga, dan menjadi pemimpin masyarakatnya.

Senyampang dengan perubahan yang ada pada para siswa SMART Ekselensia Indonesia, sesungguhnya masih banyak lagi anak-anak Indonesia yang belum menikmati agungnya pendidikan. Mereka ini tersebar di seluruh penjuru negeri menunggu tindakan dan kerja sama semua pihak. Untuk itulah, perlu ada perluasan pemerataan kesempatan belajar dan peningkatan kualitas asupan pendidikan kepada jutaan anakanak Indonesia.

Keberhasilan SMART Ekselensia Indonesia mendorong DD untuk menyebarkan konsep, dengan mereplikasi sekolah ala SMART ini di berbagai wilayah. Penyebaran ini didasari oleh satu keyakinan bahwa suatu kebajikan seharusnya dapat diperluas sehingga dapat dinikmati oleh sebanyak mungkin orang. Proses penyebaran ini bisa dilakukan oleh DD sendiri secara langsung, juga bisa dilakukan melalui kerja sama dengan segenap pemerhati dan pelaku pendidikan di Indonesia. Berbeda dengan sebagian pelaku pendidikan lainnya, motif penyebaran sekolah SMART yang dilakukan DD berorientasi non-profit motive. DD meyakini harus ada spirit replikasi sistem pendidikan unggul yang betul-betul orientasinya adalah meningkatkan benefit. Semangat yang dibentangkan DD adalah agar semakin banyak anak-anak Indonesia yang bisa mengecap sistem belajar mengajar yang berkualitas. Di dalamnya juga melekat, semangat memberi kesempatan lebih banyak bagi kaum marjinal untuk menikmati pendidikan berkualitas.

Kini sudah 18 belas tahun sudah terlewati. Suka duka bagi para guru untuk mencetak para calon pemimpin negeri. Tentunya komitmen penyediaan layanan pendidikan berkualitas bagi kaum marjinal semakin diperluas, ini berarti semakin banyak potensi luar biasa pada anak-anak marjinal bisa diselamatkan. Dengan demikian, juga berarti semakin banyak permata kehidupan yang bisa dikilaukan. Lebih dari itu, kedepan kilauannya akan menjadi cahaya penunjuk negeri ini. Ujungnya kita berharap terjadinya kecemerlangan pendidikan yang akan mendorong terwujudnya kecemerlangan Indonesia. (Ahmad Juwaini)

wisuda

Perubahan di Ujung Doa

Pukul 16.15, sekolah sudah mulai sepi. Hanya beberapa siswa yang masih beraktivitas di beberapa kelas. Ada yang remedial, ada yang , ada yang mempersiapkan acara OASE, ada juga yang sekadar mengobrol bersama teman-temannya. Aku sendiri masih menunggu dua orang siswa. Aku memutuskan untuk memanggil mereka setelah selesai rapat penilaian Ujian Akhir Semester (UAS) semester ganjil.

“Ustadz memanggil saya?” kata seorang siswa setelah mengucapkan salam.

“Iya,” jawabku, “silakan duduk. Mana Fajar?”

Dua siswa yang aku panggil adalah Dian dan Fajar. Dian sudah berada di depanku, tapi Fajar belum datang. Mereka berdua adalah siswa kelas 4 SMART Ekselensia Indonesia.

“Saya tidak ketemu, Ustadz. Tapi dia sudah tahu kok,” jawab Dian.

Tatapanku tajam pada muka Dian. Ia tampak penasaran karena tidak tahu alasan aku memanggilnya.

“Ya sudah, mungkin Fajar tidak datang, nanti saja menyusul,” kataku.

“Memangnya ada apa, Ustadz?” tanya Dian penasaran.

Aku menarik napas dalam-dalam sebelum menyampaikan berita itu padanya. Mungkin bagi sebagian guru hal ini wajar-wajar saja, tapi tidak untukku. Begitu juga untuk anak itu seharusnya. Mata pelajaran yang aku ajarkan adalah mata pelajaran wajib jurusan. Setiap siswa yang mengambil jurusan IPA harus lulus pelajaran ini.

“Kamu masih ingat, dulu di awal semester saya pernah memanggil kamu sama Fajar?” kataku dengan nada rendah dan agak berat.

“Iya, Ustadz.”

“Dulu saya mengingatkan kamu bahwa dengan cara belajar, sikap, dan semangat kamu yang seperti itu, kamu sulit untuk lulus pelajaran saya,” kataku lagi.

“Iya, Ustadz, saya ingat.” Dian menunduk, mungkin ia sudah bisa menebak apa yang akan aku sampaikan. Fisika. Mayoritas anak SMA merasa bahwa pelajaran ini cukup sulit untuk dikuasai. Bahkan ada yang menganggap lulus saja sudah cukup. Tidak usah mengharapkan nilai yang muluk-muluk. Aku sendiri saat masih pelajar SMA juga merasakan bahwa Fisika itu tidak mudah. Akibatnya, guru Fisika sering kali merasa bahwa siswa harus berusaha lebih keras agar mendapatkan nilai baik. Tidak sedikit guru yang terkesan galak agar para siswanya bisa menjaga keseriusan dan konsentrasi selama belajar Fisika.

“Saya baru selesai rapat nilai. Dan kamu, maaf, belum lulus.”

Dian terdiam. Aku tidak tahu apa kira-kira yang ada dalam benaknya saat itu. Tapi bisa jadi ini adalah sesuatu yang berat bagi dia, mengingat bahwa nilai Fisika menentukan naik kelas atau tidaknya siswa jurusan IPA. Tetapi karena ini baru nilai UAS semester ganjil, maka tidak berpengaruh pada kenaikan kelas, asalkan saat ujian kenaikan kelas hasilnya bagus.

Ketika rapat nilai bersama guru-guru SMA, wali kelas, wakil kurikulum, dan kepala sekolah, tidak sedikit yang terkejut dengan ketidaklulusan kedua siswaku itu. Terkejut karena khawatir nilai itu akan berpengaruh pada saat SNMPTN Undangan. Ada peserta rapat yang menyarankan kepadaku agar kedua siswa itu diberi kesempatan untuk memperbaiki nilainya. Tetapi, guru-guru yang lain mengingatkan bahwa nilai hasil rapat hari itu adalah final dan sudah tidak bisa diubah lagi. Aku sendiri bertanggung jawab penuh atas nilai yang kuberikan. Sebenarnya bisa saja aku memberikan beberapa tugas tambahan sebelum rapat nilai untuk mendongkrak nilai mereka. Tapi, jauh dalam batinku bertanya: apakah ini esensi dari pendidikan yang aku berikan pada mereka, siswa-siswaku? Apakah memang orientasinya angka-angka saja? Aku yakin tidak. Biarlah nilai kedua anak itu apa adanya agar mereka bisa belajar dari sana bahwa nilai sebesar itulah yang bisa mereka peroleh dengan tingkat usaha yang mereka lakukan selama ini.

“Sebenarnya, mungkin wali kelasmu akan menyampaikannya pula. Menyampaikan nilai apa saja yang belum lulus atau perlu ditingkatkan lagi. Tapi, saya ingin menyampaikannya sendiri.”

“Iya, Ustadz,” jawab Dian singkat.

Sepertinya aku tidak melihat raut sedih di wajahnya. Entah aku salah mengira, atau Dian berusaha tegar, atau memang ia tidak sedih dengan nilai yang diperolehnya.

“Saya berharap, di semester depan kamu lebih sungguh-sungguh. Ingat, Fisika adalah mata pelajaran jurusan sehingga jika kamu tidak lulus, maka kamu tidak naik kelas.”

Dian hanya terlihat mengangguk tanpa berkata sepatah kata pun. Suasana menjadi hening untuk beberapa saat. Padahal, dalam hatiku, aku merasa banyak sekali yang ingin disampaikan, ingin sekali ketidaklulusannya kujadikan kayu bakar untuk membakar semangatnya sehingga ia bisa mencapai nilai lebih baik di masa depan, tidak hanya semester berikutnya. Ingin sekali aku mengingatkan Dian bahwa ia adalah siswa terpilih; bahwa dalam dirinya terkandung potensi yang sangat besar untuk tumbuh menjadi seorang siswa yang sangat cerdas karena hasil tes tingkat kecerdasannya memang menunjukkan bahwa kemampuannya di atas rata-rata. Entah mengapa, semua itu tidak keluar dari mulutku.

“Baiklah kalau begitu, kamu boleh kembali ke asrama,” kataku menutup pertemuan.

“Baik, Ustadz, makasih Ustadz.” Dian kemudian keluar dari ruangan kelasku setelah bersalaman dan mengucapkan salam.

Adapun Fajar, anak ini mulai menarik perhatianku ketika rapat pra-penjurusan. Guru Bimbingan Konseling mengabarkan bahwa Fajar ingin sepertiku, kuliah di Institut Teknologi Bandung. Tapi waktu itu, di kelas 3 semester 1 ia tidak menunjukkan sikap belajar seperti yang diinginkannya. Guru-guru pun tidak merekomendasikannya masuk IPA, tapi IPS. Berdasarkan informasi dari guru BK itu, selama semester 2 aku memerhatikannya; sikapnya, belajarnya, motivasinya, dan nilai-nilainya. Alhamdulillah, ada peningkatan sehingga di rapat penjurusan aku menyetujui Fajar masuk IPA.

Sayangnya, saat semester 1 kelas 4 itu, lagi-lagi kebiasaan ia semasa kelas 3 muncul. Bukan sekali dua kali aku memergokinya sedang mengisengi temannya dengan mencopot tali sepatu atau hal-hal lain. Sering ia malah berjalan-jalan dan ketawa-tawa di dalam kelas ketika aku memberikan tugas sehingga aku tidak bosan-bosan memanggil dan mengingatkannya. Karena tidak ada perubahan sikap dalam belajar, nilai Fisikanya di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Ia pun terancam tidak lulus dalam pelajaran ini.

Beberapa hari setelah pemanggilan Dian, Fajar datang ke ruanganku. Pertama-tama aku tanya kenapa dirinya tidak hadir pada hari ketika aku menungguinya. Kemudian aku menyampaikan hal yang sama dengan yang aku sampaikan pada Dian. Dan respons Fajar pun tidak jauh berbeda seperti Dian.

Semester 2 dimulai setelah siswa-siswa pulang kampung. Aku tidak henti-hentinya mengamati sikap Dian dan Fajar. Aku bahagia melihatnya. Ada harapan besar. Mereka berubah, mereka lebih rajin dan lebih serius di kelas. Meskipun sesekali keusilan Fajar muncul, aku tetap bahagia karena sudah jauh lebih baik dibandingkan semester 1. Hasil dari perubahan sikap mereka berdua adalah pada ulangan-ulangan Fisika nilai mereka selalu di atas KKM. Bahkan pada ulangan terakhir tentang termodinamika, Fajar memperoleh nilai di atas 90, sedangkan Dian 80-an. Subhanallah. Mahasuci Allah, Dzat yang mampu membolak- balikkan hati hamba-Nya. Semoga Allah menetapkan hati mereka pada kesungguh-sungguhan, keimanan, ketaatan, dan kecintaan pada-Nya. Yaa muqallibal quluub, tsabbit quluubanaa,’alaa diinika, wa’alaa thaa’atika. [] (Agus Suherman)

*Diambil dari buku “Marginal Parenting”

Siswa Kritis

Pelajaran dari Siswa Kritis

Wajahnya datar, malah cenderung terlihat gelisah. Seperti biasa, ia berdiri dari bangkunya. Di SMART Ekselensia Indonesia, selama mengikuti pembelajaran siswa-siswa memang tidak diharuskan duduk di kursi. Ada hamparan karpet yang bisa mereka gunakan selama pembelajaran. Namun, anak ini juga tidak duduk di karpet. Ia berdiri, selalu begitu, lalu berjalan memandangi mind mapping materi yang ditempel di papan display. Lalu

duduk lagi. Sebentar memandang ke papan tulis, ia lalu kembali berdiri dan berkeliling kelas. Di kelas saya, ia sering begitu. Tidak mengapa karena saya tahu ia tetap memerhatikan penjelasan saya. Hal ini dibuktikan dengan nilai ujiannya yang selalu di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Demikian pula dalam kedisiplinan, ia tidak pernah terlambat, baik saat memasuki kelas maupun menyerahkan tugas.

Saat diselenggarakan pemilihan presiden OASE (Organisasi Akademika SMART Ekselensia; semacam OSIS di sekolah umumnya), ia maju sebagai calon. Entah itu keinginannya sendiri atau dorongan—dan keisengan—dari beberapa temannya. Dari nama-nama yang masuk ke Panitia Pemilu Raya, semua diloloskan tanpa catatan, kecuali dia.

“Dia itu kritis,” kata Guru Bimbingan Konseling yang dimintai pertimbangannya terkait calon-calon yang akan berkompetisi di pentas demokrasi ala SMART.

“Kritis, maksudnya?” tanya saya keheranan sebab setahu saya ia tidak pernah melakukan pelanggaran aturan di sekolah dan asrama. Kritis dalam artian bodoh? Saya tidak yakin juga karena seluruh siswa SMART merupakan anak-anak cerdas. Walaupun harus diakui juga bahwa ia bukan siswa yang menonjol prestasi akademisnya.

Dari penjelasan Guru BK, diketahui bahwa ia senang mengkritisi hal-hal yang menurutnya tidak sesuai dengan norma keharusan. Ia adalah pembangkang dalam pemaknaan yang positif. Ia anti kemapanan yang melenakan dan menghambat orang untuk terus maju dan berkembang. Ia banyak bertanya dan mempertanyakan.

Apa salahnya dengan sifat kritisnya itu? Tidak. Sama sekali tidak salah. Kalaupun ada yang disebut salah, maka itu adalah kondisi kita, para guru dan pendidik, yang belum berani keluar dari zona nyaman. Kita belum siap menerima sikap kritis dari anak didik karena kita merasa lebih pintar dari mereka. Kita belum siap menerima fakta bahwa murid akan segera mengungguli kita.

Sikapnya yang kritis ini menjadi alasan sebagian guru yang menyarankan agar namanya dieliminasi dari bursa presiden OASE. Paradigma mereka masih konvensional, yaitu bahwa presiden OASE (ketua OSIS bila di sekolah lainnya) haruslah anak yang memiliki segudang prestasi dan memiliki sifat penurut. Presiden OASE haruslah menjadi role model atau teladan bagi siswa lainnya. Sifat penurut artinya tidak perlu banyak bertanya. Tukang kritik yang banyak bertanya, tidak masuk kriteria ini.

Namun, saya dan sebagian guru yang lain melihat dengan perspektif yang berbeda. Anak ini memiliki potensi yang sangat besar, yang belum teraktualisasikan sehingga ia melakukan banyak hal yang menurut sebagian orang dikategorikan sebagai “tidak wajar”. Anak ini perlu wadah yang bisa menyalurkan energinya yang melimpah itu. Anak ini perlu difasilitasi kecerdasannya. Dan wadah yang tepat adalah OASE—Organisasi Akademika SMART Ekselensia. Syukurlah, namanya batal dieliminasi dari bursa pencalonan.

Hari pertama kampanye. Tim sukses dari masing-masing calon mulai riuh menjual kelebihan calon yang diusungnya. Tidak ada suara dan pergerakan dari tim sukses si cerdas kritis tadi. Keesokan hari, kami dihebohkan dengan banyaknya selebaran yang ditempel di seutas tali sepanjang lorong sekolah. Berlembar-lembar kertas bekas menggantung dengan tulisan seperti “partai anu mendukung SBD”, “partai ikan dower mendukung SBD”, dan bersama “partai pencinta dangdut mendukung SBD”. Out of the box? Mari kita cermati penjelasannya.

Lembaran-lembaran yang digunakan berkampanye adalah kertas-kertas bekas yang sudah digunakan. Ada banyak di sekolah, tinggal meminta saja. Toh kertas-kertas ini juga akan segera masuk tempat sampah. Menggunakan barang bekas? Recycle? Pemikiran yang jenius! Tali yang diikatkan di balkon dijadikan media tempel kertas kampanye. Mudah juga didapat. Namun, keekonomisan menjadi alasan yang disampaikannya. Dengan menempel— atau menggantung—kertas kampanye di tali, artinya kita tidak mengotori tembok. Mudah ditempel, dan mudah pula dibersihkan. Walaupun punya kepentingan, tidak sampai mengotori dan merusak sekolah.

Partai pendukung yang “aneh-aneh”? Cerdas! Salah satu cara menarik simpati adalah dengan menonjolkan sisi kemalangan diri sehingga para pemilih akan empati. Namun, cara ini tidak pantas dipilih oleh calon presiden OASE yang disyaratkan memiliki ketegasan dan ketegaran diri. Memunculkan partai-partai fiktif dengan propaganda yang lucu dan unik akan menanamkan ingatan di alam bawah sadar yang akan memengaruhi siswa-siswa di bilik suara. Maka, ia pun menjadi trending topic. Siswa-siswa membicarakannya, guru-guru juga membicarakannya. Pada keesokan hari, hampir seluruh kandidat yang lain melakukan hal yang serupa. Ia akhirnya terpilih menjadi presiden OASE. Setelah melihat kinerjanya, kepemimpinan ia sangat visioner. Saya dan guru-guru sangat berbangga dengannya, sebagaimana kami bangga terhadap seluruh anak didik kami.

Sebagai guru, kita perlu memahami bahwa kecerdasan itu tidak satu, dan tidak melulu diartikan sebagai nilai jauh di atas KKM. Tugas setiap guru adalah menggali dan memfasilitasi bakat dan minat mereka. Ketika ada siswa yang melakukan hal-hal yang tidak lumrah atau bahkan melanggar aturan sekolah, ingatlah bahwa ia adalah anak kita yang tangannya akan menarik kita ke kemuliaan dan surga. Jangan berputus asa untuk selalu menanam kebaikan dan memercayai bahwa kebaikan itu akan berkembang dan kita memanennya kemudian hari. Perbuatan yang oleh sebagian orang disebut sebagai “pembangkangan” dan “kenakalan” bisa jadi hakikatnya merupakan luapan energi yang tidak terfasilitasi dan tersalurkan.

Jika kita bisa arif dan cermat, perbuatan yang kita namai sebagai kenakalan bisa menjadi kreativitas yang membawa kebaikan. Terima kasih, anak-anakku. Kami bangga pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupmu. [] (Andi Rahman)

* Diambil dari buku “Marginal Parenting”

Blues

Si Cuek Penggemar The Blues

Pintu diketuk dari luar. Seorang remaja masuk ke kelas yang tengah saya ajar dengan langkah ragu-ragu.

“Maaf, Tadz, tadi saya asyik baca koran di perpustakaan. Maaf saya salah, Tadz.”

“Huuuhh… keluar, keluar, keluar!!!” Teman-temannya menyorakinya.

Tidak ada pilihan bagi anak itu, ia harus meninggalkan ruangan kelas. Saya yang ada di depan mereka dalam posisi bimbang. Batin saya bergejolak. Di satu sisi, saya merasa kasihan anak itu jadi tidak bisa mengikuti pelajaran. Tetapi, di sisi lain, saya harus menegakan disiplin dan konsekuen dengan kontrak belajar yang pernah dibuat bersama di awal tahun pelajaran. Saya rasa, ia selaku pembelajar sejati bisa menerima konsekuensi itu.

Sesuai aturan, saya tidak mengizinkannya untuk mengikuti pelajaran di kelas karena terlambat lebih dari 20 menit. Pengujung Desember 2011 almanak waktu itu, ketika pelajaran Ekonomi untuk persiapan UN, saya membuat siswa terusir itu nyaris menangis.

Hampir seantero Bumi Pengembangan Insani mengenal remaja pembelajar sejati tersebut. Ia sangat familiar, entah dengan adik kelas, tim pantry, karyawan jejaring lain, tim sekuriti, ataupun dengan direktur lembaga sekalipun. Wajahnya wara-wiri setiap hari menghiasi suasana belajar di kawah candradimuka, SMART Ekselensia Indonesia.

Badannya kurus tinggi, rambut warna kuning keemasan yang selalu jingkrak ke atas, dan senyum lebar mengembang, menjadi ciri khas pembelajar sejati dari kota Semarang ini. Hobinya membaca, menulis, dan olahraga. Hampir setiap hari waktu luangnya diisi dengan membaca buku-buku di perpustakaan dan mencari berita sepak bola di koran Kompas, Republika, atau bahkan menumpang pinjam komputer lembaga untuk sekadar berselancar mencari berita sepak bola terutama update Liga Primer Inggris, Seri A Italia, La liga Spanyol, dan Liga Super Indonesia.

Pertengahan Juli 2008 awal perkenalan saya dengan anak sulung putra pasangan bapak Azis dan Ibu Marlina ini. Ia mempunyai cita-cita yang tinggi dan selalu ingin membahagiakan kedua orangtuanya. Ayahnya bekerja sebagai tukang servis komputer dan pernah mengenyam pendidikan di Universitas Diponegoro Semarang, walaupun kandas di tengah jalan. Bakat menulis remaja asal Tembalang ini sudah terlihat ketika salah satu puisinya yang bercerita tentang tragedi jebolnya tanggul Situ Gintung, Tangerang Selatan, dimuat salah satu majalah. Bakatnya semakin terasah ketika ia terpilih menjadi pemimpin redaksi buletin olahraga milik OASE. Ia sangat pintar dan piawai menyuguhkan tulisan yang ciamik, lugas, informatif, dengan pilihan diksi bak seorang jurnalis olahraga profesional.

Setiap Senin pagi, ia pasti datang menghampiri saya di kelas. Ada dua ritual yang ia lakukan. Pertama, bertanya kabar saya hari itu. Kedua, soal urusan berita sepak bola.

Gimana pertandingan semalam, Tadz? Nonton gak?”

Saya dan Mujahid merupakan penggemar berat The Blues Chelsea FC dan kami selalu membahas perkembangan sepak bola dunia. Di luar soal bola, saya melihat ada bakat dan potensi besar pada remaja ini, di antaranya dalam pelajaran Ekonomi- Akuntansi yang saya ampu. Ia termasuk siswa yang cerdas dan cepat menyelesaikan tugas. Ia selalu ingin menjadi orang pertama dalam mengerjakan soal dan selalu mengajari teman-temannya yang belum paham. Selain itu, Mujahid selalu meminta saya untuk mengajarinya matematika karena ia merasa kemampuan matematikanya belum terasah. Setiap hari ia menenteng buku kumpulan soal-soal matematika yang harus ia kerjakan. Saat bertemu saya, ia selalu meminta soal-soal yang baru.

Mujahid juga pribadi yang unik, cuek, dan tidak peduli dengan penampilan diri. Seragamnya lusuh dan kumal, sepatunya kotor, sobek, dan menganga. Bahkan terkadang giginya tidak disikat sama sekali! Ia tidak merasa risih dengan penampilan seadanya itu, walaupun orangorang di sekelilingnya kadang-kadang merasa tidak nyaman.

Selain itu, ia kurang peduli dengan barang-barang yang dimilikinya. Ia sering menyimpan barang-barangnya secara sembarangan, padahal ia juga mudah lupa. Ia sering lupa membawa buku paket pelajaran dan kalau ditanya kenapa, jawabannya simpel.

“Maaf, Ustadz, saya lupa menyimpannya, hehehe…. Maaf, ya, Tadz.”

Terlepas dari kekurangpeduliannya pada soal penampilan, Mujahid dikenal sangat peduli terhadap teman-temannya yang kesulitan dalam memahami pelajaran. Ia supel dan mudah dimintai bantuan. [] (Mulyadi Saputra)

*Diambil dari buku “Marginal Parenting”

Makna Kesuksesan dan Disiplin

Makna Kesuksesan dan Berdisiplin

Usai melaksanakan Shalat Ashar berjamaah, seorang siswa SMART Ekselensia Indonesia datang menghampiri saya.

“Ustadz, bolehkah saya bertanya? Bagaimana caranya agar kita bisa sukses?”

Sejenak saya berpikir, kemudian saya menjawab pertanyaan siswa tersebut.

“Nak, ketahuilah, sungguh sangat sederhana sekali untuk bisa sukses dan berhasil atas target kita. Kita hanya butuh sebuah keyakinan; yakin akan tercapainya setiap target kita.”

 “Allah tidak meminta kita bagaimana memikirkan caranya. Yakinlah bahwa Allah akan memberikan jalan kemudahan dalam setiap tahapan pencapaian target kita karena Allah itu sesuai prasangka hamba-Nya. Kalau kita yakin bisa berhasil, maka Allah akan memudahkan tercapainya target kita.” Siswa ini menyimak serius perkataan saya.

“Nak, bukankah Rasulullah pada saat berada dalam situasi sulit, seperti saat Perang Badar, selalu yakin bahwa Allah bakal memberikan kemenangan? Nak, kesuksesan dan keberhasilan atas target kita adalah sejauh mana keyakinan kita. Silakan kamu baca kisah-kisah sukses orang-orang hebat di seluruh dunia. Bekal mereka satu: yakin bahwa mereka akan bisa melakukannya.”

“Mereka tidak pernah memikirkan caranya. Sebab, memikirkan caranya, justru hanya akan merintangi proses kreatif yang berjalan di benak mereka. Mereka hanya perlu untuk pandai-pandai melihat peluang, memanfaatkannya, dan kemudian menikmati hasilnya,” lanjut saya menjelaskan.

Memotivasi siswa yang bertanya sudah menjadi kewajiban saya. Mereka harus didampingi agar bisa mencapai cita-citanya. Bersama mimpi-mimpi mereka, saya tanamkan pentingnya berusaha. Dan sebagai konsekuensi dari sekolah unggulan, mereka harus tetap terpantau untuk terus berada dalam jalur yang tepat.

Setelah siswa pertama pergi, datang temannya seorang diri. Seorang siswa kelas 2 yang baru terkena hukuman sekolah berupa rambut dicukur sampai gundul.

“Ustadz, apa hikmah di balik kejadian pahit?”

Tampaknya siswa ini mencoba merefleksikan hukuman yang baru saja diterimanya. Penggundulan rambut siswa di SMART biasanya terkait dengan satu tindakan siswa yang melanggar peraturan.

“Kejadian pahit itu dapat digolongkan menjadi dua: sebagian dari kejadian pahit itu dikarenakan diri kita sendiri, dan sebagian lainnya tidak berada dalam kuasa kita,” jawab saya.

“Nak,” jelas saya, “kebanyakan kejadian pahit dalam kehidupan kita muncul dari tidak adanya ketelitian dan manajemen yang baik dari diri kita. Bila kita tidak menjaga kebersihan, maka kita akan mudah sakit. Di sini kita yang bersalah. Bila kita tidak menaati peraturan berlalu lintas, maka kita rentan mengalami kecelakaan di jalan. Di sini kita juga yang bersalah. Sementara sebagian kejadian pahit yang di luar dari kehendak kita memiliki banyak sebab. Kesulitan membuat tumbuh dan sempurnanya manusia.”

“Kejadian-kejadian pahit dalam kehidupan manusia, kebanyakan sebagai tebusan atas kesalahan-kesalahan manusia sendiri,” tegas saya.

Sejatinya, saya ingin mengajak siswa ini untuk sadar atas akibat perbuatannya yang tidak berdisiplin. Hukuman yang diberikan di SMART tetap dalam kerangka untuk mengingatkan para siswa. Jangan sampai mereka mudai lalai, atau bahkan meremehkan peraturan. Sebagai orang yang diamanahi dalam hal kedisiplinan siswa, saya menyadari tanggung jawab ini tidaklah mudah.

Teringat ketika pertama kali diminta sebagai guru Pendidikan Agama Islam dan tim kedisiplinan di SMART, tertanam dalam hati saya tekad untuk mendisiplinkan siswa dengan segala risiko yang ada di dalamnya. Sadar bahwa bakal ada pro dan kontra terkait dengan pendisiplinan, entah

itu datang dari siswa atau bahkan dari dewan guru, ketika niat sudah tertancap dan ikhlas sudah mendarah, maka saya harus menjalankan amanah ini.

Saya menyadari bahwa pendidikan tanpa disiplin bakal menjadikan siswa liar, sedangkan disiplin tanpa hukuman hanyalah omong kosong. Hukuman dalam dunia pendidikan mutlak adanya. Tentu saja bukan untuk sarana melepaskan amarah, melainkan untuk menunjukkan kualitas disiplin di lembaga pendidikan itu masih terjaga dan peraturan yang dibuat dilaksanakan dengan sepenuhnya. Oleh karena itu, yang menghukum dan dihukum sekalipun harus terikat disiplin yang ada. Hukuman yang ditegakkan harus dalam sarana mengingatkan dan meluruskan. Jadi, kalau dijewer saja bisa mengingatkan tingkah salah siswa, mengapa siswa harus dicubit? Jika dicubit bisa meluruskan perilaku siswa, mengapa siswa harus dipukul?

Semoga siswa-siswa SMART menyadari arti berdisiplin, termasuk ketika mereka menerima hukuman akibat melanggar peraturan sekolah. Pada waktunya nanti, semoga mereka memahami bahwa pendisiplinan merupakan tangga yang akan membimbing mereka meraih kesuksesan. [] (Asep Rogia, Guru SMART Ekselensia Indonesia)

*Diambil dari buku “Marginal Parenting”