Nasihat Cemerlang Sang Siswa

Suasana asrama lantai tiga sore itu tidak seperti biasanya. Sepi, tidak terdengar suara canda anak-anak. Saya seakan berada di gedung kosong yang sudah lama ditinggal penghuninya. Koridor gelap; hujan di luar deras sekali dari tadi siang. Saya heran apa mungkin anak-anak masih di sekolah karena terjebak hujan. Dengan penuh rasa penasaran, saya nyalakan lampu dan mengecek kamar-kamar. Oh, ternyata mereka sedang terlelap tidur. Alhamdulillah, gumamku dalam hati. Maklum hari itu Senin, mungkin mereka kelelahan atau lemas karena seharian menahan lapar. Sebagai gurunya, saya merasa bangga, murid yang saya didik sudah bisa belajar menghidupkan salah satu amalan Nabi, yaitu berpuasa (shaum) sunnah. Puasa sunnah ini sudah menjadi satu dari puluhan kebiasaan berkarakter di asrama SMART Ekselensia Indonesia. Kebiasaan yang dapat membentuk kepribadian, mentalitas, dan kesehatan tubuh anak-anak.

Saya melihat jam yang dipampang di dinding koridor asrama sebelah barat sudah menunjukan pukul 17.05. Waktunya anak-anak mandi sore, persiapan berbuka, dan Shalat Maghrib berjamaah di Masjid Al-Insan. Sekali lagi, saya berputar melihat mereka yang sedang asyik dengan mimpi-mimpinya. Wajah mereka kelihatan lelah sekali. Saya tidak tega jika harus membangunkannya. Maka, saya putuskan untuk memberikan waktu setengah jam lagi agar mereka menikmati mimpi-mimpinya itu.

Ketika saya masuk ke kamar Kairo, angkatan 9, saya dapati ada dua anak yang sedang asyik mengobrol di atas ranjang sambil makan camilan. Muhammad Alhamid, dan Insan Maulana. Mereka berdua tidak berpuasa. Saya penasaran apa yang sedang mereka bicarakan. Suara mereka tidak begitu jelas. Lalu perlahan saya menghampiri mereka.

“Assalamu’alaikum, kayaknya seru nih obrolannya?” tanya saya.

Hamid dan Insan terdiam sejenak, terpaku, menghentikan obrolannya. Ekspresi mereka berdua seperti orang tepergok berbuat salah.

“Wa’alaikumsalam, Ustadz,” jawab mereka dengan kaku sambil menyembunyikan camilannya ke belakang badan. Sepertinya mereka ketakutan karena tidak berpuasa.

“Kalian gak shaum, ya?”

“Hmmm… gak, Ustadz.”

“Kenapa?”

“Hmmm….” Mereka kikuk.

“Kalau Ustadz shaum gak?” mereka malah balik bertanya.

Waktu itu, saya tidak langsung menjawab. Saya hanya menarik napas kemudian duduk di samping mereka. Saya kikuk seperti mereka yang saya tanya barusan. Duh, saya benar-benar bingung harus jawab apa karena saya juga tidak sedang berpuasa. Sudah dua hari saya kurang sehat.

“Hmmm… ini kan shaum sunnah, Nak. Jadi, boleh kan Ustadz juga gak shaum seperti kalian?” saya sedikit membela diri walau sebenarnya hati ini merasa malu.

“Yeee… ternyata Ustadz juga gak shaum, San!” Hamid teriak kegirangan sambil melirik Insan. Mereka mengelus dada, membuang napas, mereka kelihatan lega sekali. Suasana yang tadinya kaku menjadi cair setelah mereka tahu kalau saya juga tidak berpuasa.

“Kok, Ustadz, gak shaum sih?” sekarang giliran Insan menginterogasi saya.

“Ustadz lagi kurang sehat, San. Lagian ini kan shaum sunnah,” saya kembali membela diri.

“Tapi kan walaupun sunnah, setidaknya Ustadz memberikan contoh yang baik buat anak-anak. Guru kan digugu dan ditiru.”

Saya terdiam mendengar perkataan Insan. Kata-katanya pendek, tapi sangat menancap ke hati. Seketika saya merasa jadi kerdil di hadapan mereka. Malu. Saya malu sekali. Saya pikir yang disampaikan Insan benar adanya.

“Ustadz minta maaf, ya, apa yang kamu sampaikan memang benar, insya Allah nanti hari Kamis Ustadz akan shaum, tapi kalian juga, ya?” saya tersenyum malu.

“Insya Allah, Ustadz,” mereka berdua menjawab dengan kompak.

Kamis harinya, sekuat tenaga saya ikut makan sahur dan berpuasa bersama anak-anak. Alhamdulillah, ketika mengambil takjil, saya bertemu di tempat makan mereka berdua. Hamid dan Insan menepati janjinya untuk berpuasa sunnah.

“Alhamdulillah, akhirnya kalian shaum juga,” sapa saya penuh bahagia.

“Alhamdulillah, Ustadz! Ustadz juga shaum kan?”

“Insya Allah,” saya menjawab diiringi tawa kecil.

Mantab, Ustadz,” kata mereka sambil memberikan dua jempol.

Oh ya, Ustadz, mohon maaf ya kalau Senin lalu perkataan saya kurang berkenan.” Sepertinya Insan merasa bersalah.

“Sip. Teu nanaon, San,” saya jawab dengan bahasa Sunda karena kami sama-sama orang Bandung, sambil memberikan dua jempol seperti mereka barusan.

Sebagai guru, saya banyak belajar dari kejadian ini. Ternyata bukan hal yang mudah menjadi seorang pendidik. Kita harus menjadi teladan dalam setiap hal. Karena anakanak didik kita lebih banyak melihat kita daripada mendengar yang kita sampaikan kepada mereka. Mungkin selama ini pola pendidikan saya salah. Terlalu banyak meminta banyak hal ini dan itu kepada anak-anak, tetapi saya sendiri tidak memberikan contoh yang baik kepada mereka. Senin petang itu saya mendapatkan pelajaran yang sangat berharga sepanjang masa. Mencerahkan hati dan jiwa.

Benar yang dikatakan orang-orang bahwa murid kita adalah guru kita. Anak-anak didik kita pasti memiliki keunikan setiap individunya. Akan tetapi, hikmah itu selalu ada pada setiap jiwa. Ambillah pelajaran dari siapa pun walau ia hanya seorang anak kecil. Seperti kata pepatah, “Lihatlah perkataannya, jangan lihat siapa yang mengatakannya.” [] (Hodam Wijaya, Wali Asrama SMART Ekselensia Indonesia)

*Kisah diambil dari buku “Marginal Parenting”

Mengapa Harus Berjamaah di Masjid?

Syamsumar (Wali Asrama SMART Ekselensia Indonesia)

Jam di dinding menunjukkan pukul 17.15. Saya sedang duduk di kantor asrama Daarul Ilmi sambil mendata dan mengecek kartu izin siswa yang keluar hari itu. Kemudian saya bermaksud ingin menyalakan muratal sebagai tanda persiapan untuk Shalat Maghrib berjamaah.

Semua aktivitas siswa yang tidak berhubungan dengan persiapan shalat berjamaah harus dihentikan. Ternyata salah seorang wali asrama yang lain sudah menyalakannya terlebih dahulu. Saya pun langsung pergi menuju tempat para siswa biasa menyaksikan televisi. Di situ saya melihat mereka sedang asyik menikmati salah satu siaran yang tampaknya tengah seru-serunya. Ada siswa yang tersenyum, ada yang tertawa, bahkan ada juga yang bercanda ria sambil mengikuti ekspresi sesuai yang mereka saksikan. Saya lantas ikut tersenyum sambil mengingatkan mereka.

“Sekarang sudah waktunya untuk melakukan persiapan shalat berjamaah. Silakan TV dimatikan.”

“Sebentar lagi, Ustadz. Kalau sudah iklan ya!” sahut sebagian siswa.

Saya pun menunggu dengan sabar sambil mengingatkan siswa yang lainnya yang ada di setiap kamar. Di salah satu kamar saya mendapatkan ada siswa yang sedang duduk di atas tempat tidurnya sambil membaca buku yang ada di tangannya. Saya pun mengingatkannya untuk melakukan persiapan Shalat Magrib berjamaah.

“Buku apa yang sedang kamu baca?” tanya saya.

“Komik. Memangnya kenapa, Ustadz?” siswa itu balik bertanya, tapi tak lama kemudian meneruskan bacaannya.

“Tidak apa-apa,” jawab saya.

“Baiklah, sekarang sudah waktunya mandi dan persiapan untuk Shalat Maghrib berjamaah.”

“Kenapa kita harus shalat berjamaah di masjid, Ustadz?” tanya siswa bernama Sholeh.

“Shalat berjamaah pahalanya lebih besar dibandingkan shalat sendiri.”

“Tapi bukankah di kamar kita juga bisa melakukan shalat berjamaah?” sergah Sholeh tidak puas.

“Betul, tapi alangkah baiknya kita shalat berjamahnya di masjid.”

Siswa yang sama masih menunjukkan ketidakpuasan atas jawaban saya. “Tapi, pahala jamaahnya sama saja kan?”

“Beda! Kalau kita shalat berjamaah di masjid setiap langkah kita menuju masjid akan dihitung pahalanya oleh Allah Swt, begitu pula saat kembali dari masjid. Apalagi kita tinggal di salah satu lembaga tempat kita harus mengikuti disiplin dan menaati peraturan-peraturan yang ada.” Sholeh menyimak kata-kata saya tanpa menginterupsinya.

“Sebagai manusia,” lanjut saya, “kita harus ingat bahwa hidup ini tidak terlepas dari disiplin, kapan pun dan di mana pun kita berada. Jangankan manusia, hewan dan tumbuhtumbuhan sekalipun harus hidup berdisiplin. Kalau tidak, ia akan mati. Lalu lintas juga ada disiplinnya, ada peraturannya. Kalau tidak diikuti, maka akan celaka, akan saling bertabrakan. Apalagi manusia, apa jadinya kalau hidup tanpa disiplin?”

“Benar, Ustadz. Terima kasih atas masukan dan sarannya.” Saya tersenyum senang. Anak-anak seusia Sholeh memang terkadang suka unjuk diri; semata untuk memenuhi keingintahuan atau bahkan membutuhkan perhatian dari orang dewasa di lingkungan sekolah atau asrama.

“Baik, sekarang silakan kamu mandi dan siap-siap untuk Shalat Maghrib berjamaah.” Anak itu pun menutup komik yang dipegangnya sedari tadi. Ia bersiap untuk beranjak ke kamar mandi.

“Baik, Ustadz!” []

Sujud Sang Calon Ilmuwan

Dia terlahir dengan nama Hizbullah Ash-Shidiqy, dan biasa dipanggil dengan “Hizbah”. Siswa kelas 1 SMART Ekselensia Indonesia ini kerap membuat hakami bergetar manakala melihatnya berdoa sambil sujud dalam waktu yang lama. Siswa ini unik, tidak banyak bicara. Berbeda dari kebanyakan teman-temannya, tidak ada waktu yang tersisa dari keseharian Hizbah, selain untuk belajar, membaca buku, dan tilawah Al-Qur`an. Dia banyak membaca buku-buku penulis hebat, terutama karya-karya Dr. Aidh al-Qarni. Karya-karya al-Qarni, seperti Laa Tahzan, dikenal mampu menyentakkan jiwa dan relung kalbu para pembacanya. Nasihat-nasihatnya begitu mudah dicerna, tapi mendalam sekaligus menenteramkan jiwa. Kuat dugaan, tulisan-tulisan al-Qarnilah yang kemudian membekas di hati Hizbah sehingga ia rajin berdoa dan bersujud dalam tempo yang lama. Hampir setiap selesai Shalat Maghrib siswa asal Bandung ini melakukannya.

Suatu ketika saya menghampirinya. Hizbah terduduk khusyuk membaca bukunya. Lagi-lagi buku karya Aidh al-Qarni tentang nasihat agama untuk seorang pemuda.

Berapa lama kamu membaca buku setebal 300-an halaman ini, Nak?” ,“Kurang lebih dua-tiga hari, Ustadz, jika tidak ada PR.” jawabnya.

Subhanallah, saya sangat kagum. Dahsyat, keren. Waktu yang singkat mampu membaca lebih dari 300 halaman. Begitu bukunya selesai dibaca, Hizbah pasti pergi ke perpustakaan Pusat Sumber Belajar (PSB) yang ada di lingkungan SMART. Ia mencari buku lainnya. Kawan, berapa buku yang kauhabiskan dalam satu pekan, satu bulan, atau pertiga bulan? Sungguh saya sangat kagum terhadap siswa ahli sujud ini. Meskipun doyan melahap buku koleksi PSB, hafalan Al-Qur`an Hizbah tidak kalah tertinggal dari teman-temannya.

“Apa cita-citamu, Hizbah?” tanya saya suatu waktu.

“Saya ingin jadi ilmuwan di bidang sains, Ustadz. Saya ingin kuliah di ITB,” jawabnya dengan mantap.

Suatu hari siswa-siswa kelas 1 mengadakan bakti sosial di Masjid An-Nur, Desa Jampang. Kami, wali asrama, menyiapkan berbagai bingkisan berupa alat kebersihan, mikrofon jepit, dan kipas angin. Agar kegiatan ini lebih berkesan, kami menasihati para siswa untuk saling berbagi dengan menyumbangkan sebagian uang sakunya.

Hampir semua siswa menyumbang, tanpa terkecuali Hizbah. Namun, yang benar-benar di luar dugaan saya, uang yang diberikan Hizbah tidak kurang 25 kali lipat rata-rata sumbangan setiap siswa! Subhanallah. Kawan, tidakkah kita merenung, ada keteladanan dalam diri anak ini. Betapa sikap kedermawanan telah tumbuh dalam dirinya. Tahajudnya tidak pernah putus, shaum-nya selalu terlaksana. Rasanya kita sebagai manusia dewasa pantas malu terhadap prestasi ibadahnya.

Subhanallah, rasa takjub ini begitu besar dan bertanyatanya dalam hati tentang keluarganya. Rasa keingintahuan ini begitu memuncak, seperti hausnya seorang yang berpuasa menjelang waktu berbuka. Setelah saya telusuri, ternyata anak Sulawesi ini terlahir dari seorang ibu yang sederhana, bersahaja, dan bersuamikan seorang ustadz. Orang bilang, buah itu tak jauh dari pohonnya. Tampaknya pepatah ini berlaku pula pada Hizbah. Kami di SMART mendoakan semoga Hizbah tetap istiqamah hingga menjadi sosok yang saleh nan cendekia. [] (Bukhari)

Diambil dari Buku “Marginal Parenting”

Mendidik Anak Biasa menjadi Anak Luar Biasa

Oleh : J. Firman Sofyan (Guru SMART Ekselensia Indonesia)

Seekor katak spesies baru telah ditemukan di wilayah Ghats Barat, India (Kompas, 11 September 2012). Katak tersebut memiliki perbedaan dengan katak pada umumnya. Katak tersebut seolah-olah mengubah semua teori biologi selama ini. Teori yang mengatakan bahwa katak merupakan hewan amfibi yang melakukan sebuah tahapan kehidupan yang unik, berbeda dengan makhluk hidup pada umumnya. Sebuah tahapan kehidupan yang disebut dengan metamorfosis. Katak yang kemudian diberi nama Shrub Kakachi (Raorcgestes Kakachi) ini tidak mengalami metamorfosis seperti spesies katak lainnya. Katak ini tidak mengalami fase berudu. Jadi, bisa dikatakan setelah menetas dari telurnya, katak ini langsung dewasa.

Di bagian barat Pulau Jawa, seorang anak bernama Fajar Sidiq Abdul Mutholib, tampaknya mengalami fase kehidupan yang hampir sama dengan katak di atas. Anak tersebut menempuh sebuah jenjang pendidikan tingkat menengah dan atas yang berbeda dengan anak lainnya di negara kepulauan terluas di dunia ini. Anak tersebut menyandang gelar siswa hanya selama lima tahun untuk jenjang SMP dan SMA. Tentu berbeda dengan siswa lainnya yang harus menyelesaikan dua jenjang sekolah tersebut dalam waktu enam tahun. Realitas yang sepertinya membuat siswa lain di Indonesia ini menjadi cemburu dan iri. Kedua fakta tersebut menyimpulkan sebuah persamaan antara Fajar Sidiq A.M. dan Shrub Kakachi dalam hal keunikan.

Analogi yang tidak terlalu signifikan memang. Alasannya, Tuhan memang mengodratkan manusia menjadi makhluk paling istimewa di dunia ini. Kodrat yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Perbedaan itu pun terjadi dalam fase kehidupan antara Fajar dengan Kakachi. Fajar, dalam tahap kehidupannya yang unik, membuktikan bahwa kodrat yang diberikan Tuhan itu tidaklah salah.

Salah satu yang Tuhan berikan kepada manusia, khususnya siswa ini, adalah kecerdasan. Kecerdasan inilah yang membuat Fajar kembali bermetamorfosis, kali ini metamorfosis yang sempurna. Metamorfosis dari seorang anak dhuafa yang awalnya tidak pernah membayangkan untuk melanjutkan pendidikan setelah dinyatakan lulus dari sekolah dasar hingga kini telah menjadi seorang penulis buku. Penulis buku ilmiah di usianya yang bahkan belum genap 17 tahun. Metamorfosis tersebut bahkan disempurnakan dengan statusnya yang telah menjadi seorang mahasiswa Teknik Geologi Universitas Diponegoro.

Kisah keberhasilan pemuda yang juga pernah menjadi presiden sebuah organisasi internal di sekolahnya tersebut hanyalah satu rangkaian cerita inspiratif tentang metamorfosis anak-anak dhuafa dari seluruh Indonesia hingga mendapatkan keberhasilannya masing-masing. Keberhasilan setelah lima tahun berbagi suka, duka, keakraban, dan berbagai macam rasa dengan para anak bertakdir sama dan dengan para orangtua yang tidak sungkan harus membacakan sebuah kisah klasik demi redanya tangisan mereka. Tangisan karena harus merelakan lima tahunnya jauh dari kedua orangtua kandungnya.

Lima tahun yang sungguh-sungguh spesial. Lima tahun hidup dengan berbagai metafora kehidupan. Kehidupan yang tentu tidak terlepas dari berbagai intrik. Di dalamnya ada sesuatu yang intim tentang saat-saat istimewa berbagi cerita. Cerita tentang bagaimana awal kedatangan mereka dengan bahasa ibunya masing-masing. Awal bagaimana mereka masih terlalu kecil untuk “disapih” dari orangtua kandungnya masing-masing. Kecil dalam arti sesungguhnya. Benar-benar kecil sehingga baju dan jaket yang mereka kenakan di awal kedatangan mereka ke sekolah ini terlihat kebesaran. Namun, dalam ukuran tubuh mini tersebut tersimpan berbagai harapan besar untuk mendapatkan kesuksesan yang lebih besar.

Cerita-cerita tentang keberhasilan yang diawali dari keterbatasan tersebut mungkin telah banyak kita lihat di berbagai media, baik cetak maupun elektronik. Kumpulan cerita orang-orang papa yang akhirnya meraih sukses tersebut pun sudah sering ditampilkan di berbagai acara talk show. Tidak sedikit juga buku yang mengangkat tema yang sama. Fakta yang seolah-olah telah mengubah sesuatu yang tidak istimewa menjadi istimewa. Namun, kisah-kisah tentang anak-anak dhuafa yang meraih keberhasilan di dalam buku ini akan tetap istimewa. Istimewa karena cerita-cerita tersebut disampaikan dengan jujur tanpa manipulasi dari para “orangtua” mereka selama lima tahun di asrama dan sekolah: guru.

Dalam buku ini, akan kita lihat bagaimana perjuangan anak-anak dhuafa dari seluruh Indonesia berdinamika dengan berbagai unsur kehidupan. Dalam buku ini akan kita lihat bagaimana cara anak-anak cerdas tersebut memandang dan berinteraksi dengan dunia. Cerita-cerita di sebuah sekolah bernama SMART Ekselensia Indonesia. Sekolah yang dikelola sebuah lembaga zakat Dompet Dhuafa. Semua cerita tersebut disampaikan apa adanya dari sudut pandang guru sekolah maupun wali asrama. Para pendidik yang membantu para siswa bermetamorfosis. Pendidik yang selama lima tahun tanpa pernah sungkan—apalagi bosan—untuk menyusun rencana pembelajaran. Bukan, bukan hanya rencana pembelajaran, melainkan juga rencana keberhasilan. Inilah sebuah Marginal Parenting, sebuah pengalaman pengasuhan anak-anak dhuafa hingga mereka berani mimpi untuk jadi manusia luar biasa. []