Guru TIK terkejut ketika siswa SMART bisa lakukan hal ini

Guru TIK terkejut ketika siswa SMART bisa lakukan hal ini

Selasa pagi mengawali pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di SMART Ekselensia Indonesia. Diawali dengan kelas 3 yang mendapatkan materi web programming. Sebagai langkah awal, untuk memperkenalkan HyperText Markup Language (HTML), saya meminta para siswa untuk mencari definisi HTML melalui internet, kemudian menuliskannya dalam secarik kertas. Setelah itu, saya bersama dengan para siswa menarik kesimpulan dari materi tersebut.

Ketertarikan para siswa sangat terlihat dari beberapa pertanyaan terkait dengan web programming. Misalnya aplikasi web programming dalam dunia kerja. Pertanyaan siswa tersebut, saya jawab dengan sebuah cerita tentang kakak tingkat saya di kampus yang kala itu bekerja sebagai freelance programming di salah satu perusahaan BUMN terkemuka. Dia mendapat sebuah proyek untuk membangun sebuah web dengan bahasa pemrograman ASP.net.

“Berapa penghasilan yang didapatkan dari proyek itu, Ustadazah?” seorang siswa menginterupsi.

“Yang saya tahu, setelah menyelesaikan proyek itu, beliau memberangkatkan keluarganya naik haji,” jawab saya.

Mendengar jawaban saya, wajah para siswa tampak makin bersemangat. Pekan berikutnya, saya membawa sebuah kotak yang berisi gulungan-gulungan kertas kecil.

“Ustadzah, apa isi dari gulungan-gulungan kertas kecil itu?” tanya salah satu siswa.

Dengan nada penasaran, siswa yang lain bertanya, “Memang kita mau ngapain sih hari ini, Ustadzah?”

Saya meminta para siswa untuk berhitung dan membentuk kelompok. Saya memanggil satu orang perwakilan kelompok untuk maju mengambil salah satu gulungan kertas tersebut. Kertas-kertas tersebut berisikan tema pembuatan web sederhana yang akan dikerjakan oleh tiap-tiap kelompok.

Hasilnya sangat menakjubkan. Sebuah web sederhana yang sangat menarik dan kreatif dari tiap-tiap kelompok. Bahkan, melalui internet, mereka dapat mengkreasikan lebih menarik lagi. Ada yang menambahkan tag <marquee> agar tulisan dapat berjalan. Ada yang mengganti background dengan gambar dan foto sehingga tampilan web menjadi sangat menarik dan unik. Sebuah awalan yang menakjubkan.

Agni Ardi Rein menanyakan hal yang belum pernah terpikirkan oleh teman-temannya. Sebuah pertanyaan yang unik dan menarik pada pekan berikutnya.

“Ustadzah, kalau blog itu bisa dijual gak sih?” Sontak saya sedikit terkejut. Kemudian saya menjawab dengan sebuah pertanyaan,

“Memangnya, trafic blogmu sudah berapa banyak?”

“Kurang lebih sekitar 12 ribu, Ustadzah.”

Saya kembali terkejut, tapi bercampur kagum. Ternyata siswa SMART yang menggunakan komputer dalam waktu yang relatif sedikit mampu membuat sebuah blog dengan pengunjung sebanyak itu.

“Subhanallah, sungguh menakjubkan!” Kalimat ini yang bisa saya katakan untuk Agni.

Sore harinya saya bertanya kepada salah satu rekan di Bandung. Dia adalah freelance animator. Saya bertanya tentang jual-beli blog.

“Bisa. Sebuah blog dapat diperjualbelikan seperti barang lainnya,” jawab rekan saya, yang kemudian memberikan alamat situs jual-beli blog. Esok harinya, saya menyampaikan informasi ini kepada Agni.

Nama blog milik Agni tutor-tekno.blogspot.com. Isinya segala hal tentang teknologi komputer. Bahkan apa yang dipelajarinya di laboratorium komputer (labkom) saat mata pelajaran TIK dituliskan di blognya itu. Sebuah karya yang sangat luar biasa dan layak dijadikan teladan untuk siswa yang lainnya.

Tiga pak kertas origami saya bawa ke pertemuan pekan berikutnya. Selain kertas origami dan dua gulung tali rafia berwarna ungu dan kuning, saya menyediakan peralatan utama, yaitu spidol, pensil, pensil warna, board marker/ permanent, dan pelubang kertas. Raut wajah bingung dengan seribu tanya terpancar dari wajah para siswa.

“Hari ini kita ngapain, Ustadzah? Kita mau buat produk atau display, ya?” Saya hanya menjawab dengan tersenyum dan mengangguk sambil membawa peralatan-peralatan tersebut ke depan kelas. Saya pun menjelaskan mengenai produk yang akan dibuat oleh para siswa. Produk mata pelajaran TIK biasanya selalu terkait dengan komputer, baik itu sotfware maupun hardware. Namun, kali ini produk TIK adalah membuat sebuah buku saku sederhana yang berisi tentang materi-materi HTML dan CSS (Cascading Style Sheets) seperti membuat border, menampilkan foto atau gambar, dan mengubah warna tulisan dan background.

Alhasil, lab komputer SMART yang terdiri dari 22 unit PC itu pun disulap menjadi tempat pameran kriya berupa buku saku sederhana. Suatu hal yang unik dan menarik untuk berbagi ilmu. Bukan hanya melalui sebuah web/blog sebagai sarana untuk menyampaikan ilmu baru. Sebuah buku saku sederhana pun dapat menjadi sarana yang menarik untuk berbagi ilmu.

Berada jauh dari orangtua adalah keadaan yang tidak mudah untuk dihadapi seorang siswa. Walaupun begitu, siswa-siswa SMART masih menunjukkan prestasi di kelas dan di luar sekolah. Mereka juga mampu mempelajari sesuatu secara otodidak meskipun bukan dengan fasilitas pribadi. Di asrama, mereka tidak mendapatkan komputer secara individu. Untuk dapat mengerjakan tugas sekolah ataupun tugas tambahan di luar jam kegiatan belajar mengajar, para siswa harus mengambil form di labkom SMART. Form ini kemudian ditandatangani oleh guru yang memberikan tugas dan penanggung jawab labkom. Dan pada akhirnya, jika disetujui, ditandatangani oleh kepala sekolah SMP atau SMA.

Bukan hal yang sederhana. Namun, demi tanggung jawab, mereka mampu melakukan ini dengan baik dan disiplin. Sering kali saya mendapati para siswa yang mengerjakan tugas yang lain di luar mata pelajaran TIK di labkom, seperti tugas membuat majalah beserta isinya, atau membuat desain sertifikat, piala, dan piagam perlombaan yang diadakan sekolah.

Itulah yang membedakan SMART Ekselensia Indonesia dengan sekolah pada umumnya, sekolah formal berbayar dan tidak berasrama. Jika setiap hari anak-anak di luar SMART mendapat curahan kasih sayang dari kedua orangtua dan keluarga serta mendapat kebebasan untuk bermain, menonton televisi, dan menggunakan komputer; maka tidak dengan para siswa di SMART.

SMART sangat berbeda. Siswa di sekolah ini berasal dari kaum dhuafa, dengan latar belakang keluarga dan adat istiadat yang berbeda-beda. Ada yang sudah pernah mengenal komputer di kampung halamannya. Namun, tidak sedikit yang belum pernah memegang komputer sekali pun. Maka, saat di sekolah ini, mereka diperkenalkan dengan betapa menakjubannya pemanfaatan teknologi komputer untuk kegiatan positif. Dampaknya, kreativitas siswa SMART yang tak terbatas dapat disalurkan ketika mereka berada di labkom. Tidak hanya saat pembelajaran TIK, tapi juga pembelajaran mata pelajaran lainnya, misalnya untuk membuat presentasi.

Jumlah jam penggunaan yang relatif singkat ternyata sama sekali tidak menjadi hambatan untuk berkreasi dan berprestasi lebih. Sebagai bukti, saat ini, website SMART dikelola oleh siswanya sendiri. Sebuah proses belajar yang cepat. Hal ini merupakan prestasi yang luar biasa, dan tidak semua orang dapat melakukannya. []

Ajarkan anak memimpin di kelas

Cara ajarkan siswa memimpin di kelas

“Wah, hari ini Rizky lagi deh yang jadi guru, Dzah,” ujar Fatiur sambil menghampiri saya yang sedang berjalan menuju kelas setelah menikmati makan siang.

Ya, siang itu saya memang memerhatikan kalau Rizky belum menyelesaikan makan siangnya bersama beberapa orang teman sekelasnya. Apa hubungan makan siang dengan menjadi guru? Bukankah harusnya saya yang setelah makan siang ini mempunyai jadwal mengajar di kelas mereka? Mengapa Fatiur berujar seperti itu?

Ide ini muncul begitu saja. Suatu ketika saya menyelesaikan makan siang lebih cepat dari biasanya sehingga saat saya memasuki kelas sebagian besar siswa belum masuk. Hanya ada beberapa siswa yang sedang asyik bersenda gurau. Ketika melihat banyak kursi siswa yang masih kosong, saya memutuskan untuk duduk di samping salah seorang siswa. Mengajak mereka bercerita. Satu per satu siswa yang lain masuk dan menduduki kursinya masing-masing.

Lima menit menjelang bel masuk berbunyi, tersisa empat kursi kosong, yang artinya masih ada empat siswa belum memasuki kelas. Tanpa perencanaan tiba-tiba saja terlontar kalimat, “Siapa yang telat dan enggak kebagian kursi, jadi guru, ya. Ustadzah mau merasakan jadi siswa hari ini.”

Beneran, Dzah?”

“Ustadzah mau jadi siswa? Terus yang ngajar kita siapa?”

“Tugas yang jadi guru apaan, Dzah?” Siswa-siswa langsung berkomentar.

Namanya juga ide dadakan, saya jadi bingung saat ditanya para siswa.

“Nanti gurunya bertugas membuka pelajaran dan memberikan motivasi buat siswanya. Ustadzah ikutan jadi siswa. Yang ngasih materi tetap Ustadzah,” jelas saya.

“Wah, seru nih!” seorang siswa berkata sambil langsung mengambil posisi duduk. Takut tidak kebagian kursi.

Seorang siswa tiba-tiba saja beranjak dari posisi duduknya dan berjalan keluar kelas. Saya sempat berpikir mengapa dia malah meninggalkan kursinya, sedangkan teman-temannya berebutan untuk duduk.

 “Ayo buruan masuk. Yang terakhir masuk dan tidak kebagian kursi nanti bakalan jadi guru lho!”

Oh, ternyata ia ingin mengingatkan teman-temannya yang masih berada di luar kelas.

Beberapa siswa yang masih berada di luar kelas pun berlari menuju kelas. Berusaha sekuat tenaga dan secepat mungkin menemukan kursi yang masih kosong. Tak peduli harus bertabrakan dengan kursi atau meja. Yang terpenting bagi mereka saat itu adalah menemukan kursi untuk duduk dan menghindari tugas jadi guru.

“Alhamdulillah!” Devon akhirnya bisa bernapas lega setelah mendapatkan kursi. Disusul satu per satu siswa lain yang juga mendapat kursi. Saya melihat satu siswa masih berdiri, namanya Rizky, siswa yang berasal dari Bandung.

Rizky pun saya minta maju ke depan untuk membuka pelajaran. Rizky bisa enggak ya? Apakah setelah ini ia akan malu? Apakah ia akan merasa kesal? Berbagai pertanyaan melintas di kepala saya. Saat itu, saya berusaha mengondisikan Rizky agar nyaman dengan posisinya. Untungnya, teman-temannya mendukung posisi Rizky yang saat itu jadi guru.

“Saya harus ngapain, Dzah?” tanya Rizky.

“Rizky nanti membuka kelas. Sama seperti Ustadzah membuka kelas seperti biasanya. Nanti Rizky tunjuk salah seorang siswa untuk memimpin doa dan tilawah,” jelas saya kepada Rizky.

“Oke, Dzah, siap.”

Wah, ternyata pikiran bahwa Rizky akan malu dan tidak mau melaksanakan tugasnya harus saya buang jauhjauh. Rizky malah terlihat bersemangat dan penuh percaya diri. Rizky semakin menikmati posisinya sebagai guru saat seorang temannya mengingatkan cita-citanya.

Ayo, Ki. Kan katanya kamu mau jadi guru. Nah, mumpung sekarang punya kesempatan manfaatkanlah!”

“Ustadzah jadi siswa kan? Saya minta Ustadzah untuk memimpin doanya,” pinta Rizky.

“Let’s pray together.” Saya memimpin doa dalam bahasa Inggris karena setiap Rabu di SMART Ekselensia Indonesia ada program English Day. Guru-guru wajib membuka pelajaran dengan bahasa Inggris.

Setelah siswa membaca doa, Rizky langsung melanjutkan tugasnya dengan menanyakan kabar kami. “How are you this morning?”

Pertanyaan Rizky langsung kami jawab, “Alhamdulillah. Extraordinary. Keep spirit. Keep smile. Allahu Akbar!”

Tanpa saya duga Rizky langsung melanjutkan pembukaan kelas saat itu sesuai dengan kebiasaan saya. Rizky berteriak, “Physic!” Serempak kami pun menjawab, “Yes… yes… yes… we can!”

Ritual pembukaan berlanjut dengan tilawah dan sesi motivasi. Dan alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar. Siswa-siswa terlihat bersemangat. Ide spontanitas ini pun akhirnya menjadi kebiasaan saya di kelas tersebut sampai satu semester berakhir. Saya melihat ini sebagai sebuah kegiatan positif. Siswa bisa melatih rasa percaya dirinya untuk berbicara di depan teman-temannya. Dan saya melihat siswa-siswa pun menikmatinya. Setiap Rabu siang ,mereka akan selalu bertanya-tanya siapakah yang akan jadi guru hari itu.

Oleh : Uci Febria (Guru SMART Ekselensia Indonesia)

Pembelajaran Kimia dalam Pentas Drama

Pembelajaran Kimia dalam Pentas Drama

Pelajaran yang termasuk ke rumpun matematika dan ilmu pengetahuan alam, khususnya pelajaran Kimia, banyak ditakuti bahkan tidak disukai oleh para siswa. Kimia menjadi bagian pelajaran yang tergolong pada mata pelajaran MAFIA (Matematika, Fisika, dan Kimia) dan mempunyai predikat “mengerikan” serta menjadi momok di sekolah. Sudah lumrah bahwa pelajaran tersebut identik dengan perhitungan yang rumit dan membuat kepala pening tujuh keliling.

Di samping berlimpah dengan rumus-rumus dan perhitungan yang rumit, pelajaran Kimia juga dikenal jauh dari nilai-nilai seni dan otak kanan. Bahkan siswa-siswa yang masuk ke dalam penjurusan IPA dikenal dengan “siswa kiri”, yakni siswa yang memiliki kemampuan otak kiri yang dominan dan konon kurang kreatif

Tetapi, stigma tersebut tidak berlaku di SMART Ekselensia Indonesia. Siswa-siswa SMART, dalam pandangan saya, rata-rata kreatif dan mempunyai nalar seni yang bagus. Pandangan saya ini bukan tanpa dasar. Banyak fakta yang saya temukan di SMART yang menunjukkan bahwa mereka kreatif dan berselera seni tinggi, salah satunya terlihat pada trashic (trasch music).

Mendapati anak-anak dengan kreativitas yang tinggi menjadi tantangan tersendiri bagi saya sebagai seorang guru; bagaimana saya harus mengelola pembelajaran dalam kelas dan berusaha menyuguhkan pembelajaran yang kreatif, terutama dalam memberikan pembelajaran Kimia kepada siswa kelas 4 dan 5 IPA yang pada tingkatan ini penuh dengan rumus dan perhitungan rumit. Untuk mengajar anak-anak dengan kecerdasan di atas rata-rata (diketahui dari hasil psikotes pada saat seleksi penerimaan siswa) dan tingkat kreativitas yang bagus, saya pun lebih memosisikan diri sebagai fasilitator. Artinya, 60-70 persen siswa yang aktif di dalam proses pembelajaran, sedangkan saya hanya melihat dan menilai serta memberikan arahan.

Seperti dalam pembelajaran kimia untuk kelas 4 IPA. Ketika membahas materi hidrolisis garam, saya menggunakan metode Developmentally Appropriate Practices, yaitu suatu metode pembelajaran yang didasarkan pada potensi kemampuan siswa. Karena siswa SMART umumnya mempunyai kecerdasan seni yang bagus, saya pun memanfaatkan potensi ini dalam pembelajaran Kimia.

Saya meminta siswa untuk membuat komik tentang beberapa subbab di dalam bab hidrolisis garam secara berkelompok. Komik yang telah mereka buat kemudian dipentaskan menjadi drama. Dalam pembelajaran ini siswa terasah otak kiri maupun otak kanannya, yaitu menyampaikan pesan berupa teori kimia dalam sebuah pementasan.

Tahapan dalam pembelajaran ini adalah sebagai berikut:

Pertama, setiap siswa berdiskusi dalam kelompoknya untuk memahami tema subbab yang diberikan, dan membuat konsep pembuatan komik. Kedua, siswa membuat komik yang telah mereka konsep. Dan ketiga, mementaskan komik yang telah dibuat dalam sebuah drama.

Peran saya sebagai guru pada tahapan pertama adalah menjadi fasilitator untuk menjawab pertanyaan para siswa jika ada konsep dalam teori yang tidak bisa mereka pecahkan dalam kelompok. Pada tahapan kedua saya berperan memberikan penilaian terhadap proses pembuatan komik. Pada tahapan ketiga, saya berperan melakukan penilaian performa dan memberikan konfirmasi terhadap penampilan siswa.

Metode pembelajaran seperti ini membuat 100 persen siswa terlibat aktif di kelas sehingga tidak ada siswa yang mengantuk atau tertidur. Di lain pihak, saya sebagai guru bisa memaksimalkan fungsi sebagai fasilitator yang melakukan kontrol kelas, penilaian, dan konfirmasi terhadap apa yang dilakukan siswa. Di samping itu, metode pembelajaran ini merangsang kreativitas siswa.

Saya tercengang melihat kreativitas siswa, yang menurut saya luar biasa. Kreativitas mereka terlihat jelas pada saat pembuatan komik. Komik yang mereka buat bagusbagus; tidak hanya kualitas gambarnya, isi ceritanya pun menarik. Yang membuat saya lebih tercengang lagi adalah saat mereka menampilkan drama. Saya tidak menyangka bahwa siswa begitu menghayati peran dalam drama tersebut. Saya pikir karena pelajaran ini pelajaran eksakta mereka akan menampilkan drama biasa-biasa saja. Tetapi dugaan saya salah, ternyata mereka menampilkan drama dengan penghayatan yang sangat bagus, dan menyiapkan secara sungguh-sungguh properti-properti tambahan untuk penampilannya.

Setelah penampilan drama dilakukan, selanjutnya saya menguji pengetahuan mereka dengan mengadakan posttest. Hasilnya mengjutkan dimana mereka mendapatkan nilai rata-rata post-test yang bagus, yaitu 80.55, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran cukup berhasil. Mereka dapat menjelaskan konsep teori dalam hidrolisis garam dengan penampilan drama, dan pesan-pesan dalam drama itu tertangkap baik pula oleh setiap kelompok.

Kembali harus saya akui dan syukuri, siswa-siswa SMART tidak hanya cerdas otak kirinya saja, tetapi juga cerdas otak kanannya. Mengajar di SMART memberikan peluang bagi saya untuk mengembangkan diri menjadi lebih baik dalam mengajar dan mengembangkan berbagai metode pembelajaran karena siswanya kooperatif dan mampu mengikuti setiap metode yang saya berikan.

Abdul Gani
Guru SMART Ekselensia Indonesia

Dari sampah kok bisa jadi musik

Sampah kok bisa jadi alat musik?

Dalam wacana kreativitas di dunia pendidikan, semangat mencoba dan mau tampil beda merupakan syarat utama untuk bisa mendalami dan menggelutinya. Banyaknya jam terbang dalam menjalaninya, juga bagian yang mampu menajamkan potensi diri menjadi inspirasi yang imajiner kala mengembangkan ide-ide segar. Berani memandang dari sisi yang bukan pada umumnya adalah bagian keunikan yang bersifat orisinal dan alamiah.

Inspirasi untuk memberdayakan siswa marginal yang tergabung di SMART Ekselensia Indonesia merupakan tantangan tersendiri. Bukanlah hal yang mudah untuk dapat mengembangkan bakat dan potensi mereka. Butuh berbagai variasi ketajaman teori perkembangan peserta didik dan keluasan referensi metode mendidik yang tidak hanya mengajar secara konvensional.

Sentuhannya bukan hanya semangat, melainkan juga tambahan suplemen pengorbanan dan tingginya tingkat kepedulian. Inilah perpaduan tangguh untuk menjadikan siswa kreatif. Bentuk inspirasi itu antara lain berupa gabungan mengolah sampah anorganik menjadi tampilan musik. Istilah yang sering dikenal orang banyak adalah trashic (trash music) atau musik sampah.

Awal kali gagasan ini dimunculkan memang cukup mengerutkan dahi yang mendengarnya. Bisa dibayangkan, panci bolong, wajan usang, pelek motor bekas, tempat jemuran, semua ini difungsikan sebagai perkusi. Ditambah ritmis suara yang mengaplikasi dari gema hukum fisika pada botol yang berisikan air. Alat-alat musik kagetan ini mampu mengeluarkan harmoni tangga nada yang memainkan peran sebagai melodi. Dan sebagai penguat semangat warna musik terdapat pada bas yang dimainkan dari tong plastik berkapasitas 100 liter, yang berteman setia pada jeriken minyak plastik berkapasitas 20 liter. Fungsi esensinya pada ritme keterpaduan cara pukul dan waktu masuk dalam satu alunan lagu.

“Kok bisa ya, Pak? Itu semua kan barang yang enggak layak pakai? Terus cara ngedapatinnya juga harus keliling satu RW, ya?”

Cetus keheranan salah satu anggota masyarakat itu bukan sekali saya dengar. Awalnya, sebagian (besar) orang memandangnya aneh bercampur heran, tapi berikutnya mereka akan memuji setelah alat-alat perkusi itu dimainkan oleh siswa SMART. Permainan musik ala siswa-siswa SMART ini pernah meraih penghargaan pemenang pertama dalam sebuah acara unjuk kreativitas di sebuah stasiun televisi  swasta nasional.

“Wah, keren-keren! Ini baru yang namanya kreatif. Jarang-jarang yang bisa kaya begini.”

Awal mula dibentuknya musik trashic ini berdasarkan pada keisengan siswa-siswa SMART. Sekolah ini memang berupaya menggali potensi kecerdasan siswanya, salah satu nya dalam bakat bermusik. Keisengan mereka berupa seringnya memukul-mukul bangku, meja, dinding pembatas kelas, bahkan ujung ballpoint dan pensil, menjadi inspirasi  untuk membuat satu alat musik yang dijadikan sebagai sarana hiburan mereka. Bakat-bakat siswa itu kemudian di berdayakan dalam satu wadah yang mendukung pembelajaran mereka di kelas. Tantangan kepada mereka untuk bisa mengaransemen satu lagu dalam wadah dan alat yang telah disediakan dari barang bekas tersebut ternyata disambut dengan penuh antusias.

Regenerasi tim yang ada juga sudah tertata dengan sistem yang cukup baik. Setiap angkatan baru masuk, semangat memainkan alat musik trashic sudah ditularkan. Dorongan memotivasi juga diembuskan kepada siswa kelas 1 itu dengan menjelaskan manfaat ikut bergabung dalam trashic.

“Selain waktu untuk berjalan-jalan semakin luas dan lama, tabungan kalian juga bisa bertambah banyak.” Kata-kata ini diberikan untuk membangkitkan ketertarikan para siswa.

Ya, karena bergabung dalam trashic memiliki keuntungan tersendiri. Selain mereka bisa menghibur orang lain, terkadang mereka menerima uang amplop dari pihak pengundang. Isi dalam amplop itu diatur seadil mungkin dalam pembagiannya. Dari lima tahun mereka berada di SMART, mereka akan menerima undangan untuk menghibur orang banyak dalam beberapa kali kesempatan. Dari pembagian ini, para siswa itu bisa menabung. Tabungan para alumni SMART sendiri cukup terbilang besar, setidaknya dalam ukuran mereka, yakni rata-rata satu juta rupiah.

Satu juta rupiah bagi anak-anak kota mungkin tidaklah besar. Namun, bagi siswa SMART, yang semuanya memang berlatar belakang anak marginal, satu juta rupiah adalah spirit, kesabaran, daya juang, ekspresi seni, dan semangat penuh ketangguhan. Satu juta yang dihasilkan dari niat yang tulus menghibur, berkampanye mengenai pemanasan global, peduli terhadap lingkungan, dan yang terpenting adalah usaha mereka untuk mau dan mampu menjadi manusia Indonesia yang mandiri, cerdas, dan penuh keimanan. []

Di Antara Dua Ujian Siswa

Di Antara Dua Ujian Siswa

Aku dipercaya untuk mengajarkan Bahasa Inggris di SMART Ekselensia Indonesia. Sebagai guru full time, ada tiga kelas yang aku ajar, yaitu 2B, 3A, dan 3B. Karena kelas 3A dan 3B bakal menghadapi Ujian Nasional (UN), aku harus membuat mereka siap. Semampuku aku membantu mereka untuk lulus dengan nilai yang memuaskan, khususnya di pelajaranku. Pada try out pertama Diknas dilaksanakan, siswa-siswaku terlihat kurang siap menghadapinya. Hasilnya terbukti, sebagian dari mereka mendapatkan nilai di bawah rata-rata.

“Kamu kenapa bisa dapat nilai segitu? Emang soalnya susah banget?” tanyaku kepada salah satu siswa yang mendapatkan nilai terendah.

 “Gak tahu, Dzah. Kami baru tahu ada try out itu pas paginya, dan kami belum belajar apa-apa.”

“Kok gitu? Kamu kurang cari informasi mungkin? Ayo nilainya ditingkatkan, nanti Ustadzah kasih bonus kalau sampai nilai kamu meningkat,” kataku mengimingi dengan menyebut sebuah merek wafer.

“Iya, Dzah, nanti mah saya serius ngerjainnya, saya bakal dapet 8, Dzah.”

Aku tidak meragukan kemampuan mereka dalam menjawab soal try out, toh mereka adalah anak-anak pilihan. Aku hanya mengkhawatirkan kesungguhan dan keseriusan mereka dalam menghadapi ujian. Beberapa kali aku kurangi jam mengajarku hanya untuk menceramahi mereka agar lebih serius lagi dalam mengerjakan dan menghadapi try out. Sempat aku ingin menyerah dalam situasi seperti ini.

Tapi, aku tersadar, bukankah Allah tidak suka dengan orang yang mudah putus asa? Try out kedua pun dilaksanakan. Kembali aku khawatir dengan hasilnya. Namun, aku percayakan kepada mereka dan pastinya terhadap Allah.

“Semangat, ya… pasti bisa,” ucapku sebelum mereka masuk ruang ujian.

Mereka hanya tersipu, entah apa yang ingin mereka sampaikan.

Tidak Lama Kemudian, HASIL try out kedua keluar. Alhamdulillah, nilai mereka meningkat, dan sebagai penyemangat aku memberikan reward untuk mereka sesuai janji. Ini salah satu apresiasiku terhadap usaha dan kesungguhan mereka. Belum selesai kegembiraanku, try out ketiga siap menanti.

Salah satu usahaku untuk membantu mereka siap menghadapi UN adalah memberikan latihan-latihan soal. Setelah mereka menyelesaikan try out ketiga Diknas, selama tiga jam mata pelajaran (3×40 menit) kami membahas soalsoal di kelas 3A. Berhubung soal Bahasa Inggris ini banyak berupa teks, volume suaraku pun mengecil. Untungnya, seorang siswa mengerti keadaanku.

“Dzah, biar saya bantu menjelaskan ya, tadi pagi kan kelompok saya sudah membahas soal yang ini waktu bimbel.”

Bimbel atau bimbingan belajar adalah kegiatan belajar mengajar yang dilakukan di luar jam pelajaran, dimulai sekitar pukul 06.00 sampai 07.00 khusus untuk kelas 3. Aku hanya tersenyum melihat tindakan siswa ini karena biasanya ia suka membuat ribut di kelas dengan pertanyaanpertanyaan yang kadang tidak berhubungan dengan materi yang dibahas. Aku terima niat baiknya. Setelah membahas soal, aku memberikan PR yang harus dikumpulkan besok.

Keesokan harinya, aku mengajar kelas 3B. Jam pelajaran Bahasa Inggris dimulai setelah istirahat. Ketika aku dan siswa kelas 3B sudah di kelas, masih ada beberapa siswa kelas 3A yang singgah karena jam pelajaran selanjutnya belum dimulai.

Dan kesempatan ini pun aku gunakan untuk mengobrol bersama siswa kelas 3A. Aku mengumumkan siapa saja di antara mereka yang masuk ke dalam datiar Klinik Bahasa Inggris (salah satu program sekolah untuk menindaklanjuti anak-anak yang masih lemah dalam mata pelajaran Bahasa Inggris).

“Kamu, Ustadzah masukkan ke klinik, ya?” Aku bertanya kepada siswa 3A yang membantuku menjelaskan soal dan jawaban kepada temannya di kelas.

“Iya, Ustadzah,” jawabnya sambil tersenyum.

Mendengar jawabannya aku merasa ada yang beda karena biasanya bukan respons seperti itu yang ia berikan. Akan ada tawar-menawar terlebih dahulu sebelum ia mengiyakan pernyataanku.

“Kamu gak masuk ke lab komputer? Kan sebentar lagi kelasnya dimulai?” tanyaku lagi. Jarang-jarang ada siswa yang datang terlambat ke ruang lab komputer.

“Iya, Dzah, nanti saja,” jawabnya dengan tatapan yang kosong.

Setelah mengajar aku pun menjalankan aktivitas seperti biasanya. Kemudian ditambah jadwal video conference (VC) yang biasanya aku lakukan seminggu dua sampai tiga kali. Video conference adalah program menghubungkan siswa SMART dengan anak-anak Indonesia yang bersekolah atau berkuliah di luar negeri, seperti di Kanada, Australia, dan Jepang. Mereka berbincang dan bersilaturahim melalui aplikasi Skype. VC dimulai dari pukul 16.00 sampai 17.00. Sambil mengawasi anak-anak melakukan kegiatan VC, aku juga menunggu PR kelas 3A yang mereka kumpulkan hari itu. Beberapa siswa kelas 3A bergantian mengumpulkan tugas mereka, tapi masih ada beberapa siswa yang belum mengumpulkan, mungkin karena lupa.

Di Rumah, Ketika Jam menunjukkan pukul 03.00 aku terbangun. Aku mendengar getaran ponselku yang terletak tidak jauh dari kepalaku. Ada pesan di WhatsApp grup para guru SMART. Betapa kagetnya aku begitu membaca isi pesan yang menyebutkan bahwa ibunda salah satu siswa kelas 3A meninggal dunia pada hari kemarin, tepatnya pagi hari. Rasa kagetku tak berhenti sampai di situ karena aku membaca bahwa yang meninggal adalah ibunda dari anak yang dua hari sebelumnya membantuku menjelaskan jawaban atas soal-soal yang sedang kami bahas. Ya, siswa yang ketika aku tanya tentang klinik, ia hanya menjawab iya dan tersenyum; anak yang ketika di kelas kadang bertanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada hubungannya dengan materi pelajaran.

Seketika aku terdiam membayangkan wajah siswa itu, yang biasanya ceria dan sering berpendapat tentang apa pun. Aku membayangkan betapa pedih hatinya karena ditinggal ibundanya tersayang, bahkan sekaligus kehilangan calon adiknya yang masih berada di dalam kandungan sang ibunda. Saat itu juga aku berdoa agar hati dan jiwanya kuat menghadapi cobaan dari Allah dalam usia semuda itu.

Ingin rasanya waktu segera menunjukkan pukul 06.00 agar aku dapat langsung ke sekolah dan mengetahui keadaannya. Sayangnya, saat aku sampai di sekolah, anak itu ternyata sudah pergi ke  bandara menuju Batam, tempat keluarganya tinggal.

“Semoga ia diberi kekuatan dan keselamatan,” doaku dalam hati.

Kemudian aku menuju kelas untuk menyimpan tas karena setiap hari kami selalu melaksanakan apel pagi pada pukul 06.40. Sesampainya di kelas, kulihat ada kertas jawaban seorang anak yang mungkin diletakkan sekitar pukul 17.00 ke atas karena kemarin aku tidak menemukan apa-apa di atas mejaku. Aku tahu itu kertas jawaban siswa 3A yang harusnya dikumpulkan kemarin.

Setelah kulihat, ternyata di situ tertulis nama “Muhammad Ihda Alhusnayain”, anak yang baru saja ditinggal oleh ibundanya. Dalam keadaan bersedih ia masih berpikir untuk mengumpulkan tugasnya. Dalam keadaan terpuruk dan pasti sangat terpukul, ia masih merasa bertanggung jawab untuk memenuhi tugasnya karena ia tahu dirinya tidak bisa mengumpulkan tugasnya dalam tiga hari ke depan dikarenakan harus pulang menengok keluarganya.

Sekembalinya dari batam tak banyak yang berubah dari Ihda. Dia tetap semangat menjalani hari-harinya walaupun aku tidak tahu apa yang sebenarnya ia rasakan. Semoga setelah musibah ini Ihda tetap mempunyai semangat untuk menghadapi UN. Semoga anak ini tetap ceria, tetap aktif dalam memberikan pertanyaan-pertanyaan kritis untuk ustadz dan ustadzahnya, tetap tegar demi adik dan ayahnya, dan  yang pasti semoga ia tambah pintar. Begitu juga dengan siswa-siswa yang lain, khususnya kelas 3 yang semoga tetap diberi semangat dan kecerdasan agar mereka dapat melewati UN dengan baik dan lancar serta mendapatkan hasil yang terbaik.

Aku percaya pada anak-anak pilihan ini. []

Penulis:

Irena Daniati
Guru Bahasa Inggris SMART Ekselensia Indonesia