Mumpung Libur Ngaji Dulu Kuy

Mumpung Libur Ngaji Dulu Kuy

 

Ngapain ngaji?” merupakan pertanyaan yang mungkin ditanyakan oleh orang awam, jangankan orang awam, dulu, akupun akan menanyakan hal yang sama Sob. Ngaji, membaca Alquran, menelaah Alquran, atau hal berbau Islami lainnya bukankah tidak diwajibkan secara turun-temurun? Kebanyakan orang dewasa hanya menekankan pada salat dan puasa, maka agama Islam yang dianut hanya seputar “Yang penting salat dan puasa” padahal, mengkaji Alquran dan Islam tidak sesempit itu.

 

 

 

Sebuah hadis berkata, “Apabila telah kamu taklukkan akhirat, maka dunia akan merunduk”. Hal ini yang sering tidak disadari oleh seseorang, khususnya umat muslim sendiri. Banyak muslim dan muslimah yang memandang sebelah mata tentang agamanya sendiri, menoleh tidak acuh pada fitnah yang terjadi pada umat ini,  men-judge penampilan takwa seperti jenggot, celana cingkrang, dan jilbab lebar, menganggap hal tersebut adalah hal yang aneh dan merupakan gerakan islam radikal yang membahayakan (Syukri, 2019).

 

 

 

Padahal, mereka hanya belum merasakan manisnya Islam, iman, dan apa efeknya yang terjadi pada diri mereka. Hal ini akan lebih mudah diterima apabila mereka merasakannya pada perubahan di dunia nyata.

 

 

 

Islam sebagai rahmatan lil a’lamin, agama yang memudahkan umatnya, yang setiap prosesnya dihitung sebagai pahala, akan mudah dipelajari bagi siapapun, bahkan umat non islam sekalipun. Jangan sampai karena minder kepada seseorang, teman, hingga sahabat yang pemahaman dan ilmu agamanya lebih baik, kita enggan mempelajari islam. Sebaliknya, seseorang yang pemahaman agamanya merasa sudah di atas rata-rata pun bukan jaminan akan masuk surga. Selama napas ini masih berhembus, masih ada kemungkinan untuk berbelok kearah kemaksiatan maupun kebaikan. Oleh karena itu, dakwah hadir untuk menjawab itu semua, menjaga seluruh umat islam tetap berada di jalan kebaikan dengan cara hubungan dua arah, baik pendakwah maupun yang didakwahinya akan mendapatkan efek penjagaan yang sama.

 

 

 

Namun karena cara yang dianggap kuno, kurang kekinian, terlalu mengikat sehingga membuat seseorang yang baru mau berhijrah sulit untuk mempertahankan keistiqomahannya. Pertanyaan “Ngapain ngaji?” adalah maksud dari tulisan ini untuk membedah alasan-alasan, kenapa? Why? Ketika seseorang sudah mengetahui strong why-nya, maka ia akan kembali pada track-nya saat godaan lalai muncul (Siauw, 2013). Yang pertama adalah alasan menuntut ilmu, dalam bahasa formalnya, aspek pendidikan. Yang kedua adalah meningkatkan rasa persaudaraan antar muslim dan muslimah.

 

 

 

Alasan menuntut ilmu

Seperti yang ada di dalam buku Fiqih Prioritas karya Dr. Yusuf Al-Qardawy, ilmu merupakan prioritas dibandingkan dengan amal. Contohnya, seseorang yang tidak mengetahui bacaan salat dan langsung mengkuti gerakan salat tidak akan diterima salatnya. Hal ini dapat dianalogikan ketika manusia hidup di dunia, ilmu tentang dunia telah lengkap dipaparkan islam melalui Alquran dan sunnahnya. Lemahnya ilmu dalam paparan Fathi Yakan di buku Robohnya Dakwah di Tangan Dai dapat menimbulkan penyakit hati sehingga menurunkan kualitas ketakwaan atau ketakutan dalam melakukan dosa.

 

 

 

Meningkatkan rasa persaudaraan

Dalam analogi setan ibarat serigala dan domba adalah manusia, maka serigala akan lebih mudah menerkam domba sendiri dengan domba yang selalu bersama kawan-kawannya. Hal ini dapat dipahami, bawha seseorang yang senantiasa berjalan bersama-sama, mengaji, menuntut ilmu akan lebih sulit digoyahkan dibandingkan seseorang yang hanya beribadah, wirid, dan sholat sendiri. Seperti di dalam hadis. “Seorang mukim bagi mukmin yang lain laksana bangunan yang saling mengukuhkan antara sesamanya.” (HR. Bukhari) (Yakan, 2009).

 

 

 

Memang, dalam berukhuwah, semua tidak akan lezat, kadang terasa pahit, asam, namun juga manis dan gurih. Rasa pahit dan asam akan selalu muncul jika kita tidak bisa menetralisirnya sendiri. Berjalan bersama-sama berarti harus menerima kekurangan antar kawan, memaklumi kelalaian yang terjadi, kekhilafan yang terungkap, karena bangunan dakwah bukanlah bangunan para malaikat. Benar, bahwa mayoritas pendakwah adalah orang yang  sudah memahami agama atau dalam proses tersebut, namun manusia tetaplah manusia yang tabiatnya adalah pelupa sehingga selalu ada celah ketidaksempurnaan. Tetapi hal ini pun bukan pembenaran bahwa kelalaian tersebut bisa dilakukan berulang-ulang. Salah satu nikmatnya berukhuwah adalah seseorang bisa saling mengingatkan satu sama lain tanpa merasa disakiti ataupun menyakiti karena hal tersebut adalah untuk kebaikan masing-masing.

 

 

 

Allah sendiri yang menjamin bahwa Ia lebih menyukai orang-orang yang berjalan bersama seperti barisan rapi yang diabadikan dalam Quran surah As- Saff ayat 4 yang bunyinya,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ

 

 

 

“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh”.

 

 

 

Ketika ditanya “Ngapain ngaji?” atau menanyakan kembali kepada diri sendiri ditengah goncangan godaan setan, selain jawaban mutlak “Ingin masuk surga” kita bisa menambahkan alasan menuntut ilmu dan rasa persaudaraan ini di dalam jawaban “Ngapain ngaji?” ini.

 

 

 

Daftar pustaka :

Qardhawi Y. 2004. Fiqh Prioritas. Surakarta: Era Inter Media.

Quran Tajwid dan Terjemah. 2006. Jakarta: Maghfirah Pustaka

Siauw F. 2013. How to Master Your Habits. Jakarta: Al Fatih Press.

Syukri M, Karimah S. 2019. Nota Kontan untuk Tuhan. Jakarta: Elex Media.

Yakan F. 2009. Robohnya Dakwah di Tangan Dai. Surakarta: Era Inter Media.

Ini Serius! Kamu Jangan Apatis dong!

Ini Serius! Kamu Jangan Apatis dong!

Oleh:  Mustika Rani

 

Mahasiswa merupakan suatu gelar yang sangat istimewa yang ada pada pemuda. Adapun peranan mahasiswa yang tidak akan berubah ,yaitu agent of change, social control, dan iron stock. Agent of change adalah peran mahasiwa dalam melakukan perubahan menuju arah yang lebih baik. Mahasiswa yang sedang berada tahap belajar, mulai memahami kaidah- kaidah yang semestinya yang diterapkan pada kehidupan bernegara. Jika ada sesuatu yang tidak berada dalam aturannya, maka mahasiswalah yang akan mengembalikan ke jalur yang semestinya. Social control adalah peran mahasiswa dalam mengamati lingkungan dan negaranya. Seringkali, pemerintah yang berada diatas hirarki bernegara melakukan hal yang tidak bermanfaat bagi masyarakatnya atau dapat dikatakatan menguntungkan diri sendiri. Maka itulah peran mahasiswa memperbaiki hal tersebut dengan tanpa kepetingan tertentu didalamnya. Yang terakhir adalah Iron stock, mahasiswa diharapkan menjadi pemimpin- pemimpin negara yang lebih baik. Karena mahasiswa telah mengetahui bagaimana hal yang semestinya diperbaiki untuk menyejahterakan negara, hal tersebut Karena mahasiswa telah mengkaji kebijakan-kebijakan pemimpin sebelumnya. Dengan mengetahui hal yang dipaparkan tersebut hendaknya kita sebagai mahasiswa menjadi pemimpin yang dapat berguna bagi rakyat.

 

 

Kontribusi dalam kamus besar Bahasa Indonesia dapat berarti sumbangan. Nah, sumbangan seperti apa yang dibutuhkan bangsa ini. Menilik dari permasalahan bangsa ini di saat sekarang sudah jelaslah solusi dari permasalahn tersebut, dibutuhkan kesadaran pemuda bangsa ini untuk menjadi pemimpin negeri ini dalam memberantas krisis ideologi yang tengah terjadi. Seorang pemimpin yang terus mempelajari dan berbagi mengenai seluk beluk ideologi pancasila yang sebenar–benarnya.

 

 

Adalah suatu kesia-siaan jika gelar mahasiswa ini tidak kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Sangat mubazir jika kita hanya menjadi seorang apatis yang hanya kuliah-pulang atau kuliah-kafe. Belum lagi peran kita sebagai manusia yang diciptakan dimuka bumi untuk menjadi pemimpin umat sedunia.

 

 

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali ‘Imran: 110).

 

 

Berbicara tentang pemimpin, pemimpin Indonesia hendaknya dapat memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi zaman sekarang, seharusnya pemimpin Indonesia dapat membuat terobosan terbaru yang efektif dan efesien dan dapat dijangkau seluruh lapisan masyarakat. Biarlah terobosan tersebut hanya hal kecil. Bisa saja hal kecil seperti sebuah akun khusus dan laman khusus yang akan otomatis ada ketika sebuah akun pemuda Indonesia aktif. Akun khusus inilah nantinya yang menjadi media berbagi serta menguatkan prinsip – prinsip Pancasila kepada setiap pengguna media sosial di tanah air.

 

 

Selain itu, pemimpin juga harus mengetahui segala problematika yang terjadi di Indonesia. Permasalahan saat ini sebenarnya dapat teratasi jika generasi muda sebagai calon pemimpin benar-benar menerapkan nilai-nilai yang ada dalam pancasila. Namun sayangnya ada pemuda yang menganggap pancasila itu tidak relevan. Meskipun ada pemuda yang mengaku mencintai pancasila, tapi mereka tidak memahami nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila seutuhnya. Mereka memang mempunyai nilai nasonalisme yang cukup tinggi, tapi apakah nasionalisme saja sudah cukup untuk memahami makna pancasila? Tidak, karena dalam pancasila telah dirumuskan nilai-nilai untuk kehidupan berbangsa dan bernegara yang berlandaskan kepada nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, dan keadilan sosial. Untuk itu, pemimpin dengan pemahaman tinggi terhadap ideologi sangat dibutuhkan oleh rakyat Indonesia.

 

 

Oleh karena itu janganlah kita menyia-nyiakan waktu yang kita miliki, karena Ahmad Rifa’i Rif’an seorang penulis buku Hidup Sekali, Berarti lalu Mati pernah menyampaikan dalam bukunya:

 

 

Bukankah kezaliman yang tak terkira jika kita menjadikan maha karya yang istimewa ini hanya numpang lewat dalam sejarah? Lahir, hidup, mati tanpa meninggalkan warisan berharga bagi generasi selanjutnya.

 

Keluar Sob! Keluar dari Zona Nyamanmu!

Mempertanyakan Kembali Definisi Zona Nyaman

Jangan takut untuk keluar dari zona nyaman. Kalimat ini sering kita dengar baik dalam seminar motivasi, career coaching, hingga posting media sosial. Pada awalnya, penulis mendapati nasehat ini sangat rasional dan konstruktif. Pasalnya, nasehat ini mengajarkan kita untuk dapat memiliki hidup yang lebih menantang dimana kita dianjurkan melangkah ke zona yang dianggap belum pernah kita lakoni sebelumnya. Ini dianggap penting, karena dengan melakukan sesuatu yang rutinitas normal, kita akan dapat mengembangkan potensi diri, melalui pengalaman, pengetahuan dan kemampuan baru yang didapat.

 

 

Lama narasi ini beredar pada dalam ruang publik, belakangan penulis kembali mempertanyakan konsep yang sangat populer ini. Sebetulnya, apa yang dimaksud keluar dari zona nyaman? kepada apa kata zona itu merujuk? Apakah keluar dari kenyamanan adalah satu-satunya cara untuk mengeksplorasi diri dan potensi yang ada?. Melalui tulisan singkat ini, penulis akan mencoba membahas narasi keluar dari zona nyaman dari perspektif penulis sebagai upaya menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

 

 

 Pertanyaan paling dasar dari narasi keluar dari zona nyaman adalah belum adanya konsep yang begitu jelas tentang apa itu zona dan seperti apa konteks dari kata zona, ketika diasosiasikan dengan kata sifat nyaman. Merujuk pada definisi kamus Oxford, comfort zone atau zona nyaman diartikan sebagai suatu situasi dimana seseorang merasa aman dan nyaman.[1] Sedangkan menurut  Alasdair A. K. White pada jurnal From Comfort Zone to Performance Management, zona nyaman adalah keadaan psikologis seseorang yang merasa tentram karena adanya kontrol terhadap pada lingkungan sekitarnya sehingga mengalami tingkat stres atau perasaan asing yang rendah.[2]  Disamping itu, dalam beberapa seminar penulis juga sering mendengar bahwa zona nyaman juga dapat diartikan sebagai pekerjaan yang telah menjadi rutinitas bagi seseorang. Contohnya, menjadi karyawan untuk sebuah perusahaan atau menjadi ASN (Aparatur Sipil Negara). Dari 3 definisi di atas, tanpa memberturkan gagasan masing-masing perspektif, dapat disimpulkan bahwa secara umum zona dalam konteks zona nyaman dapat merujuk pada tiga hal yakni tempat, kondisi psikologis, atau sebuah kegiatan.

 

 

Relasi Zona dan Rasa Nyaman

Pertanyaan selanjutnya yang harus diurai yaitu dari mana rasa nyaman dapat muncul pada sebuah zona, baik dalam defenisi zona sebagai tempat, kondisi psikologis, atau sebuah pekerjaan. Pertama,  nyaman dalam definisi tempat.  Penulis lahir dan juga besar di Kota Padang, Sumatera Barat. Mulai dari bangku sekolah dasar penulis tidak pernah berdomisili di kota lain dalam waktu yang relatif lama hingga menyelesaikan S-1. Tentu saja dengan demikian sudah hampir semua macam karakteristik Kota Padang penulis pahami. Seperti kultur sosial, budaya, dan bahkan seluk belok area kota. Melanjutkan hidup di Kota Padang tidak akan menyulitkan bagi penulis. Sebab, penulis telah menguasai atau memiliki kontrol yang memadai mengenai lingkungan Kota Padang. Ini  berarti Padang, berdasarkan definisi Alasdair A. K. White, adalah zona nyaman penulis.

 

 

Dengan latar belakang seperti diatas, mayoritas pembicara publik normalnya akan menyarankan penulis untuk keluar dari zona nyaman (Padang). Pada tahun 2018 penulis juga berfikir demikian, dan kabar baiknya, penulis mendapatkan kesempatan untuk keluar dari Padang melalui sebuah program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional di Vietnam Selatan. Melalui program ini, penulis berkesempatan untuk melakukan sejumlah kegiatan di 2 Provinsi Vietnam Selatan selama kurang lebih 1 bulan dengan bonus perjalanan transit di Kuala Lumpur, Malaysia. Akan tetapi, perjalanan ini justru membuat penulis berfikir ulang tentang nasehat “keluar dari zona nyaman”. Pasalnya, sepanjang perjalanan di 2 negara tersebut, penulis tidak menemukan rasa tidak nyaman. Baik Padang ataupun Long Xuyen (Nama Kota yang penulis kunjungi), memiliki rasa nyaman yang sama (walaupun dalam hal yang berbeda). Memang, dalam bahasa, budaya, kuliner,dll  antara Long Xuyen dan Padang memiliki banyak perbedaan. Namun, Vietnam masih terasa sebagai rumah bagi penulis. Begitu juga dengan Kuala Lumpur, dimana penulis bahkan menemukan keluarga angkat yang hingga saat ini selalu seperti keluarga sendiri setiap kali penulis kembali berkunjung. Hingga penulis meninggalkan Long Xuyen, kota ini masih terasa dalam kontrol dan tingkat stress yang juga relatif sama dengan Padang. Terkadang memang terdapat masalah, namun kebanyakan momen dilalui dengan kebahagiaan.

 

 

Kasus yang mirip, juga terjadi pada saat penulis memilih dari jurusan Hubungan Internasional (HI) di mana sebelumnya penulis adalah siswa jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di bangku SMA.  HI yang notabenenya mempelajari politik internasional, membuat penulis harus banyak membaca jurnal dan menulis  tulisan ilmiah. Akan tetapi, tetap saja, bagi penulis antara IPA dan HI, memiliki tingkat stress yang setara. Tsidak ada perbedaan tingkat stress yang signifikan hingga penulis menamatkan kedua jurusan ini. Disamping itu, seingat penulis kondisi psikologis penulis dalam merasakan nyaman juga relatif sama ketika di bangku SMA maupun di PTN. Terkadang terdapat masalah, namun kebanyakan momen dilalui dengan kegembiraan. Ini berarti, berubahnya rutinitas  penulis dari jurusan IPA (yang dapat dikatakan merupakan zona awal penulis) ke jurusan HI juga tidak serta-merta membuat penulis merasa tidak nyaman. Keduanya terasa berada pada keadaan psikologis yang sama.

 

 

Berangkat dari pengalaman diatas, penulis menyimpulkan bahwa zona nyaman hanyalah sebuah konsep. Kita tidak pernah benar-benar diubat nyaman oleh sesuatu diluar diri seperti tempat, orang-orang sekitar, ataupun kegiatan yang kita lakukan. Dengan kata lain, tidak terdapat suatu hubungan atau relasi antara tempat dan rasa nyaman yang kita rasakan. Atau, dapat dikatakan zona nyaman dapat dikatakan inexist (tidak ada).

 

 

Asal-Usul Rasa Nyaman Suatu Zona

Disebut inexist atau (tidak ada) karena tidak ada sejatinya tempat, keadaan psikologi, maupun kegiatan yang dapat dikategorikan nyaman atau tidak nyaman. Setiap tempat, keadaan, maupun kegiatan memang menawarkan pengalaman yang berbeda. Akan tetapi, rasa nyaman pada suatu hal tidak tergantung oleh tempat, keadaan psikologi, maupun kegiatan yang dilakukan. Misalnya, apabila sedari awal kita menetap pada kota kelahiran dan menganggap kota tersebut membosankan, maka kota yang dihuni selama ini juga tidak akan menjadi zona nyaman. Atau dalam kasus kedua, apabila suatu kegiatan yang kita telah kita lakukan bertahun-tahun dinilai sebagai kegitan yang menyebalkan, maka kegiatan tersebut juga tidak akan menjadi zona nyaman walaupun, segala hal telah berada pada kontrol individu dengan tingkat stress paling minim.

 

 

Menurut penulis, rasa nyaman pada zona apapun, berasal dari alam pikiran individu. Alam pikiran inilah yang menjadi penentu apakah suatu tempat, keadaan, atau kegiatan dapat dikatakan zona nyaman atau bukan. Apabila diawal penulis berfikir Long Xuyeng ataupun HI merupakan bukan zona nyaman bagi penulis, maka disaat yang sama, semua kegiatan yang penulis lakukan saat itu pasti akan terasa berbeda dengan di Padang maupun jurusan IPA. Mungkin, Long Xuyeng dapat terasa sebagai kota yang asing, berbeda, atau penuh dengan stres (setidaknya diawal). Namun sebaliknya, semua terasa nyaman karena segala hal dipersepsikan sama. Artinya, semua zona pada hakikatnya bersifat netral hingga kita membentuk persepsi-persepsi tertentu tentang zona tersebut. Adanya istilah keluar dari zona nyaman, sebetulnya disebabkan oleh kebanyakan orang mempersepsikan tempat, keadaan psikologi, maupun kegiatan yang akrab dengan kita saat ini sebagai kenyamanan. Sedangkan tempat, keadaan psikologi, maupun kegiatan apapun yang belum akrab, dianggap sebagai zona tidak nyaman yang harus dituju.

 

 

Padahal, semua zona pada dasarnya sama. Kita tetap dapat bertumbuh menjadi orang yang lebih baik kendati tetap berada pada zona yang sama. Begitu pun dengan orang yang berpindah-pindah zona. Mengapa? Karena, dimana pun manusia berada, selama manusia hidup akan selalu ada masalah. Masalah demi masalah ini akan menguji kehidupan manusia dan membuatnya lebih baik. Tentu saja selama invidu tersebut menjalani segala dinamika dengan tekun dan pantang menyerah.

 

 

Epilog

Kendati demikian, bukan berarti penulis ingin mengatakan bahwa pergi ke suatu tempat atau melakukan aktivitas yang berbeda adalah hal percuma. Karena setiap pengalaman di lain tempat akan membentuk kreativitas, kritisisme, dan juga kedewasaan. Akan tetapi, esai ini dimaksudkan untuk mengemukakan sebuah gagasan baru yakni kemanapun kita pergi, alam pikiran kitalah yang lebih menentukan kenyamanan. Pertanyaan yang menarik disini yaitu mengapa kita harus melangkah ke zona yang tidak nyaman, padahal ketidaknyamanan itu sendiri lahir dari persepsi kita sendiri. Bukankah perjalanan lebih menyenangkan jika kita mendapatkan semua pengalaman baru tanpa harus merasakan stress, asing, dan tidak nyaman? Karena kita dapat selalu ada dalam zona nyaman- pikiran kita sendiri.

Referensi

[1]Lexico powered by Oxford, “Comfort Zone Definition” https://www.lexico.com/en/definition/comfort_zone (diakses 2 Desember 2019)

[2]  Alasdair A. K. White “From Comfort Zone to Performance Management” http://www.whiteandmaclean.eu/from-comfort-zone-to-performance-management/ (diakses pada 2 Desember 2019)

Jangan Sampe deh Kita Jauh dari Allah Sob

Jangan Sampe deh Kita Jauh dari Allah Sob

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie

 

 

 

Ketika Adam ‘Alaihissalam tinggal di surga, Allah mempersilakan Adam ‘Alaihissalam untuk memakan apapun yang ada di dalam surga. Hanya, satu yang tidak boleh, “Akan tetapi, janganlah kamu dekati pohon ini (walaa taqraba hadzihi asy-syajarah).” (QS. Al-Baqarah [2]: 35).

 

 

 

Perhatikan ismul isyarah (kata tunjuk) yang digunakan pada ayat di atas! Alquran menggunakan kata “hadzihi” yang merupakan kata tunjuk dekat dan bermakna “ini”. Artinya, sebelum Adam ‘Alaihissalam melanggar larangan Allah, kedudukan Adam ‘Alaihissalam itu dekat sekali dengan Allah. Karenanya, redaksi Alqurannya menyebutkan, “…pohon ini” bukan “…pohon itu”. Ini menunjukkan dekatnya kedudukan Adam ‘Alaihissalam di sisi Allah.

 

 

 

Akan tetapi, ketika Adam ‘Alaihissalam melanggar larangan Allah dengan memakan buah dari pohon terlarang itu, ismul isyarah-nya berubah dari “hadzihi” (kata tunjuk dekat) menjadi “tilka” (kata tunjuk jauh) yang bermakna “itu”.

 

 

 

Alquran menerangkan, “…Tuhan menyeru mereka, ‘Bukankah Aku telah melarang kamu dari pohon itu (tilkuma asy-syajarah) dan Aku telah mengatakan bahwa sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagimu berdua?’” (QS. AL-A’raf [7]: 22).

 

 

 

Berubahnya kata tunjuk yang digunakan Alquran setelah Adam ‘Alaihissalam melanggar larangan Allah menunjukkan berubahnya kedudukan Adam ‘Alaihissalam di sisi Allah. Semula kedudukannya dekat di sisi Allah menjadi menjauh karena pelanggaran itu.

 

 

 

Dalam kehidupan sehari-hari, semestinya kisah Adam ‘Alaihissalam ini menjadi pelajaran bagi. Yakni, setiap dosa dan pelanggaran syariat yang kita lakukan menjadikan kita semakin menjauh dari Allah Subhanahu Wata’ala. Jika kita menjauh dari Allah, bagaimana mungkin kita bisa merasakan kedamaian dan kebahagiaan dalam hidup? Yang terjadi adalah hidup kita kering kerontang. Mungkin secara fisik materi dunia kita berkecukupan, bahkan mungkin lebih dari cukup. Namun, jiwa dan ruh kita merana dan meronta.

 

 

 

Dosa akan menggelapkan hati kita. Sedang, hati adalah tempat menerima pancaran cahaya hidayah dan taufik. Bila hati gelap pekat, mana bisa menerima cahaya hidayah. Jadi, sebenarnya bukan Allah tidak memberikan hidayah, namun kitalah yang menolak datangnya hidayah dengan dosa dan maksiat yang menggelapkan hati.

 

 

 

Karena itu, tiada yang lebih indah dalam hidup ini selain Allah dekat dalam kehidupan kita. Allah berkenan hadir dalam setiap gerak langkah kehidupan kita. Caranya dengan menjauhi dosa dan maksiat. Sehingga, hati menjadi jernih dan mudah menerima pancaran cahaya hidayah dan taufik. Hidayah dan taufik dari Allah inilah yang menjadikan hidup kita terarah, damai, dan bahagia.

Kudu Paham Geliat Jejak Karbon yang Mengancam Kita Sob

Geliat Jejak Karbon yang Mengancam Kita Sob

 

Tentu kita semua sepakat bahwa perubahan iklim benarlah terjadi. Tentu kita semua merasakan cuaca yang semakin ekstrem. Peningkatan emisi karbon dioksida merupakan satu faktor peningkatan suhu. Apa teman-teman pernah menghitung jejak karbon yang teman-teman hasilkan setiap tahunnya? Penting untuk kita menghitung jejak karbon atau biasa disebut carbon footprint. Jejak karbon adalah akumulasi emisi gas rumah kaca yang diproduksi oleh suatu kelompok, kegiatan (event), maupun individu. Emisi karbon (CO2) yang kita hasilkan berasal dari berbagai aktifitas sehari-hari loh seperti penyalaan lamp, peralatan listrik, pola makan, dan cara bepergian. Seluruh aktivitas yang kita lakukan meninggalkan sisa-sisa karbon.

 

 

Di 2008 US Department of Energy’s Carbon Dioxide Information Analysis Center (CDIAC) menyatakan bahwa rata-rata emisi karbon per kapita di Indonesia adalah 1,8 ton setara CO. Jurnal Teknologi Lingkungan mengklaim bahwa Pegawai Instansi Pemerintah yang berkantor di kawasan Puspiptek Tangerang Selatan, secara rutin mengemisikan gas karbon sebesar 3,1-6,6 ton CO2-e/orang/tahun atau rata-rata sebesar 4,96±1,23) ton CO2-e/orang/tahun. Itu baru satu orang, bagaimana dengan seluruh manusia di dunia? Bayangkan berapa banyak beban pohon untuk menghisap karbon yang mana hutan juga semakin dibabat habis.

 

 

Kita bisa menghitung jejak karbon dengan aplikasi diberbagai website organisasi lingkungan. Teman-teman tinggal search jejak karbon di internet. Umumnya perhitungan ini tidaklah 100% akurat.  Karena perhitungan carbon footprint jauh lebih kompleks dan memerlukan lebih banyak parameter maupun variabel. Setidaknya teman-teman dapat mengukur seberapa besar sumbangsi teman-teman dalam pemanasan global di bumi ini sehingga menjadi acuan untuk teman-teman hidup lebih ramah lingkungan lagi ke depannya. Sehingga setiap tahun jejak karbon yang dihasilkan semakin sedikit.

 

Jangan lupa komen berapa jejak karbon yang teman-teman hasilkan ya!

Sebab yang Kita Butuhkan itu Konsistensi lho

Sebab yang Kita Butuhkan itu Konsistensi Sob

Oleh Halah

 

Menurut KBBI arti dari kata konsistensi adalah ketetapan dan kemantapan (dalam bertindak); dari pengertian tersebut maka dapat disimpulkan secara singkta bahwa tidaklah mudah dalam membangun sebuah konsistensi, dibutuhkan komitmen yang tinggi, pengulangan yang dilakukan berulang akan suatu hal sehingga menjadikan hukum konsistensi itu bekerja sesuai dengan tujuan akhir yang diharapkan. Seseorang yang sudah melakukan sesuatu dengan konsisten akan menjadikan dirinya memiliki kepakaran dalam suatu bidang, menjadi ahli dan menggapai sukses.

 

 

Simak contoh berikut, kita tentu pernah mendengar kekayaan daripada seorang Bill Gates, ataupun Warren Buffet, ataupun Walt Disney, ya mereka adalah para pejuang sukses dalam hidupnya yang berhasil melawan segenap potensi keburukan dan mengubahnya menjadi potensi kebaikan, jika kita telisik seberapa jauh hidup seorang Bill Gates dalam melakukan pencapaian besar dalam hidupnya, hampir ia habiskan dengan penuh kegagalan. Itulah harga yang harus dibayar untuk seonggok kesuksesan. Konsistensi mampu memberikan enegri untuk mengalahkan setiap konsekuensi kekalahan yang akan dihadapi dalam menggapai suksesnya.

 

 

Konsistensi Al Fatih akan sholat tahajjud yang tidak pernah ia tinggalkan sejak balig menghantarkan ia menjadi pemimpin terhebat penakluk benteng konstantinopel. Konsistensi mba Dewi Nur Aisyah untuk tidur hanya selama tiga jam sehari berhasil membuat dirinya menamatkan kuliah kurun waktu tiga setengah tahun dengan perdikat lulusan terbaik disamping menjalani belasan amanah di berbagai organisasi yang dia ikuti.

 

 

Begitulah juga dengan kebiasaan-kebiasaan baik yang ada dalam keseharian kita, seperti mengalahkan sikap egois dalam diri bukanlah hal yang gampang. Melatih diri dengan kebiasaan kebiasaan baik tentunya bukan hal yang mudah, membentuk kebiasaan ibarat memperbaiki mesin daripada sebuah kapal, memperbaiki sistem pusat yang akan bekerja mengatur kehidupan. Hukum konsistensi ini akan menciptakan sebuah produk yang dinamakan kebiasaan, pola kebiasaan akan merubah dan masuk ke dalam alam bawah sadar.

 

 

Terbiasa tahajjud tiap hari, tentunya ada sebuah proses panjang dalam menggapainya, itulah yang dinamakan hukum konsistensi, melakukan secara terus menerus, ibarat batu yang ditetesi oleh air, tentu akan berlubang bukan. Orang yang membiasakan diri untuk tenang dalam menghadapi masalah akan membentuk karakter yang tegar, dan cenderung tidak gegabah dalam mengambil keputusan, orang yang senantiasa membiasakan untuk berdzikir, tentunya Allah akan mudahkan ia dalam menyebut tiap asmanya di segala kondisi.

 

 

Mari bangun komitmen yang baik, agar dapat menciptakan konsisten dalam hal kebaikan pula.

Wiken Gini Enaknya Nyimak Alquran lho Sob

“Kami akan membacakan (Alquran) kepadamu (Muhammad) Maka kamu tidak akan lupa. Kecuali kalau Allah menghendaki. Sesungguhnya dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi” (QS. 87: 6-7).   Surah Al-A’la adalah surat ke 87 dalam Alquran tergolong surat makiyyah yang terdiri atas 19 ayat. Dinamakan Al A’laa berarti Yang Paling Tinggi diambil dari perkataan Al A’laa dan terdapat pada ayat pertama surat ini.   Allah menjaga wahyu dan kitab-Nya dengan menurunkan malaikat Jibril yang terus memantau hafalan Nabi Muhammad saw. dan mengeceknya terus. Sebagian ulama mengartikan bahwa Nabi Muhammad saw. dikaruniai hafalan sangat kuat sehingga tidak akan lupa. Kecuali hal-hal yang dikehendaki oleh Dzat Yang Maha Tahu dan hal tersebut tidak terjadi.   Di akhir pekan ini jangan lupa untuk menyempatkan membaca dan menghafal Alquran ya Sob
https://youtu.be/u6k5Xd8bWwg

Kamu Kudu Banget Tau Cara Menjaga Diri Dari Godaan Setan Sob!

Kamu Kudu Banget Tau Cara Menjaga Diri Dari Godaan Setan Sob!

 

Pacaran? Nggak dulu deh. Serius, pacaran itu unfaedah. Ini bukan sok alim atau sok suci, bukan pula karena nggak laku, melainkan berdasarkan fakta dan kenyataan. Memang nyatanya pacaran itu nggak ada manfaatnya, malah banyak mudaratnya. Tidak sedikit lho remaja dan mahasiswi yang terjerumus dalam zina karena pacaran. Miris setiap kali menerima konseling masalah ini. Kok bisa ya? Kalau sudah kejadian kehormatannya direnggut gratisan oleh pacar, baru deh nyesel dan nangis bombay. Sayangnya, penyesalan yang terlambat. Bunga sudah layu tak bisa dibuat mekar kembali. Kalaupun kamu tidak sampai terjerumus dalam hubungan seks, harga diri kamu juga sudah terendahkan. Karena, kamu sudah dipegang-pegang dan dicium-cium oleh pacarmu, seperti orang beli mangga. Sudah gitu, ujung-ujungnya putus. Terang saja kamu yang rugi, Sob. Seolah kamu tidak ada harga dirinya. Bisa diperlakukan seperti itu. Emang kamu mau digituin? Nggak ‘kan! Hormati dan sayangi dirimu dengan tidak pacaran. Pacaran hanya merendahkan perempuan. Tidak ada pacaran yang memuliakan perempuan. Kenapa? Karena, orientasi pacaran itu fisik. Banyak remaja dan mahasiswi pacaran alasannya untuk penjajakkan. Ia yang terjadi adalah penjajakkan fisik. Sudah didapat, ditinggal pergi. Ibarat pepatah habis manis sepah dibuang. Kurang ajar ‘kan? Makanya, kamu jangan mau jadi korban pacaran, Sist. Sudahlah putusin sekarang juga dan jangan pacaran lagi ya. Pada waktunya nanti, jika kamu sudah siap, menikahlah. Hanya dengan menikah kamu akan termuliakan.

 

 

Sudahlah jangan ngeles. Nggak ada pacaran yang sehat. Kamu mau ngomong gitu ‘kan? Pacaran sehat. Hehehe. Mana ada pacaran sehat? Ngawur orang yang berpendapat kayak gitu. Lebih ngawur lagi pacaran Islami. Waduh tambah kacau nih pola pikirnya. Emang kayak gimana pacaran Islami? Pacarannya di bawah tangga masjid gitu? Atau pacarannya sms-an ngingetin shalat dan ngaji. Hadeeuhh, itu cuma pembenaran  untuk melegalkan pacaran. Pokoknya nggak ada kompromi. Sekali tidak boleh tetap tidak boleh. Titik. Yap, pacaran itu dilarang dalam Islam. Maka, sudah semestinya kamu menjauhinya. Islam melarang pacaran mesti ada hikmahnya, antara lain agar tidak ada celah masuk setan untuk menjerumuskan kamu ke perbuatan hina (zina).

 

 

Berpacaran berarti membuka celah masuk yang lebar kepada setan untuk menggoda dan menjerumuskan kamu dan pacarmu pada kemaksiatan. Ingat, setan itu super licik dan gigih buat menjerumuskan kamu dan pacarmu pada maksiat. Setan akan menyerang kamu dan pacarmu habis-habisan; dari depan-belakang dan kanan-kiri. Dia akan mengerahkan anak buahnya untuk mengeroyok kamu berdua. Kamu tidak akan dibiarkan lolos sampai terperangkap pada maksiat. Dada akan terasa bergemuruh karena bisikan setan yang terus berhembus. Apa kamu dan pacarmu bisa tahan? Sadarilah iman kamu masih tipis ‘kan? Hehehe… Karena itu, hindari berpacaran dan berdua-duaan dengan pacar. Jangan beri celah setan untuk menjerumuskan kamu pada zina. Boleh jadi kamu awalnya nggak ada niat, tetapi ketika kesempatan terbuka, setan menyerang habis-habisan, pacarmu juga terus mendesak, apa kamu kuat bertahan, Sist? Dari konseling yang saya terima, banyak remaja perempuan yang terjebak dalam perangkap zina. Okelah, saya anggap kamu bisa teguh menjauhi zina meski berpacaran. Namun demikian, pikirkanlah waktu produktifmu. Apakah dengan pacaran kamu bisa mengisi waktumu untuk kegiatan produktif? Nggak ‘kan. Malah, pacaran itu menghambat banget untuk pengembangan diri. Alasannya? Sederhana saja, waktumu akan habis tersedot oleh pacar. Mulai dari SMS/WA/DM IG nanyain kabar sampai merayu gembel eh salah maksudnya gombal. Berangkat dan pulang sekolah berdua, jalan-jalan berdua dengan pacar, wah banyak banget deh waktu kamu yang tersita. Eh ujung-ujungnya putus. Sudah banyak yang kamu korbankan, eh doi malah pacaran lagi sama cewek lain. Sakitnya tuh di sini (ngelus dada). Kok bisa? Ya, bisa sajalah. Lha wong, pacaran itu nggak ada ikatan hukumnya, nggak ada statusnya. Kamunya saja yang mau di PHP-in. Mau-maunya menjalin hubungan tanpa ikatan hukum. Mungkin kamu mau ngeles lagi, pacaran ‘kan dalam rangka mencari jodoh. Saya ingatkan ya, jangan pernah berharap mendapatkan jodoh yang baik dengan pacaran. Nggak akan pernah didapat. Bagaimana bisa mendapatkan sesuatu yang baik dengan jalan yang tidak baik. Pacaran bukan jalan yang disyariatkan agama untuk mendapatkan jodoh.

 

 

Mari kita pikir dengan saksama, dalam Islam, pernikahan itu sesuatu yang serius dan agung. Islam menyebutnya dengan mitsaqan ghalizhan (perjanjian yang berat). Ya, sejatinya orang yang menikah itu membuat perjanjian yang berat dengan Allah untuk menjalankan syariat pernikahan. Nah, sekarang kamu pikirkan jika ada seorang laki-laki yang bilang cinta padamu dan ingin menikah denganmu, tapi tidak berani melamarmu, hanya berani memacarimu, apakah cintanya benar dan serius? Kamu bisa jawab sendiri ya. Tanda laki-laki serius dan benar cintanya padamu adalah dia berani datang ke orangtuamu untuk melamarmu. Itu baru laki-laki yang serius dan benar cintanya. Kalau lelaki yang hanya berani menyatakan cinta dan memacarimu, tolak cintanya dan tinggalkan saja. Dia hanya ingin senang-senang denganmu. Makanya, beraninya memacarimu. Sudah banyak kok buktinya. Alih-alih mencari jodoh, yang terjadi malah kehilangan kehormatan dan harga diri. Serius, Sob. Sudah banyak lho remaja perempuan yang terjebak dalam pacaran yang melegalkan hubungan seks. Awalnya sih menolak, tapi karena terus didesak oleh pacar, akhirnya mau juga. Terjadilah dosa besar itu (zina). Dosa yang menghinakan kamu dalam pandangan Allah. Dosa yang menghalangi ibadah selama empat puluh tahun jika tidak ditobati dengan tobat nasuha. Kalau sampai kejadian seperti itu, coba kamu pikir masih mungkinkah kamu memperoleh jodoh yang baik? Kamu menikah dengan pacarmu yang sudah merenggut kehormatanmu? Iya, kalau dia mau tobat nasuha. Jika tidak, kamu hanya akan melewati masa-masa kelabu bersamanya. Jika sebelum menikah saja dia berani berbuat seperti itu kepada kamu, bukan tidak mungkin saat sudah menikah denganmu, dia melakukan hal yang sama kepada perempuan lain. Kalau sudah begitu, pasti rumit masalahnya. Karena itu, sekali lagi saya ingatkan, sebelum kejadian, lebih baik kamu jauhi pacaran. Kalau yang sudah terlanjur pacaran, segeralah putusin. Jangan sampai kamu jadi korban pacaran. Kamu sendiri yang rugi, Sist. Kerugiannya bukan sesaat, tetapi bertahun-tahun, bahkan bisa jadi sepanjang hidupmu. Tiada jalan lain bagi yang ingin mencari jodoh yang baik selain melalui menikah. Ungkapan dan ekspresi cinta yang tulus hanya bisa terwujud melalui pernikahan. Karena, dengan menikah, berarti kamu telah menjadi satu jiwa dengan pasanganmu. Alquran menyebutnya dengan ungkapan sangat indah, “Hunna libasul lakum wa antum libasul lahunna.” (Istri-istrimu pakaian bagimu, dan kamu pakaian bagi mereka).

 

 

Jelas sekali ‘kan? Kalau mau mencari jodoh yang baik, bukan dengan pacaran. Karena itu, jadilah jomblo bermartabat. Fokus saja menata masa depanmu. Terus mempersiapkan dan memantaskan diri untuk diberikan jodoh terbaik. Pada waktunya, ketika kamu sudah siap dan memantaskan diri, InsyaAllah jodoh akan bertamu ke rumahmu. Indah ‘kan?

 

 

Sumber: http://www.sahabatremaja.id/pacaran-no-way/

,

Jangan Asal Ngecap dong Sob!

Jangan Asal Ngecap dong Sob!

Oleh: Reza Bagus Yustriawan
Alumni SMART Ekselensia Indonesia Angkatan IX, Mahasiswa Sosiatri FISIP UGM 2017

 

Anak IPS? Apa yang terlintas di benakmu saat mendengar kata IPS? Nakal? Suka tawuran? Kumpulan begundal? Kalau ya, berarti pikiranmu sudah terkontaminasi dengan “pepatah”  orang tua zaman dulu. Memang, kata siapa semua anak IPS itu begundal? Anak IPS itu seharusnya dihormati tahu, karena anak IPS gemar melestarikan budaya Indonesia melalui beragam ilmu sosial yang diajarkan para guru tercinta.

 

Namun, suka duka sebagai anak IPS yaa banyak juga sih, diantaranya, dicap kalau mereka yang masuk jurusan IPS itu tak elok dan akan sulit mencari pekerjaan di masa depan. Padahal nih yaa, tanpa kehadiran anak IPS, mungkin anak cucu kita tak akan tahu Tari Saman asal Aceh, Kujang, Rencong, Sejarah Indonesia, bahkan sejarah aku dan dia. Ini bercanda hehe.

 

Walau begitu, ada enaknya juga jadi anak IPS, misalnya, tak perlu berurusan dengan angka-angka ajaib, tak perlu mencari bilangan-bilangan rumit, dan tak perlu berpikir terlalu banyak (maksudnya tak perlu berurusan dengan kimia, matematika, fisika, dan pelajaran eksakta lainnya). Jadi, kalau belajar yaa gitu-gitu aja, enak, nyantai, nggak perlu kalkulator, nggak perlu ngitung-ngitung pergerakan setiap benda di bumi. Palingan ngitung-ngitung cuma dipake sekali-kali­—misal di kantin, ngitung utang—.

 

Hayoo… Ngaku…

 

Kalau nggak enaknya jadi Anak IPS juga banyak, salah satu yang paling bikin kesal itu kita harus ngapalin nama-nama orang luar yang nggak jelas. Ada juga tanggal-tanggal. Boro-boro nginget tanggal lahir orang, tanggal lahir orang tua aja nggak tau, ya nggak? Ngaku! Sedangkan, tanggal peristiwa kesaktian aku saja, aku nggak inget, apalagi Hari Kesaktian Pancasila??

 

Jangan dikira jadi anak IPS itu nggak ribet. Mungkin selama ini banyak yang bilang kalau yang ribet itu cuma anak IPA doang, harus bawa termometer lah, labu melerleyer lah, spiritus lah. Eh! Jangan salah! Anak IPS juga ribet, malah lebih ribet, disuruh bawa peta lah, buat peta lah, menggali fosil lah, buat peta sambil menggali fosil lah, berkomunikasi dengan manusia-manusia purba lah. Ribetan mana hayo??

 

Yaa, ribet dua-duanya lah.

 

Aku sebenarnya agak resah, soalnya IPS di Indonesia dianggap tempatnya anak-anak buangan.

 

Aku nggak setuju!!

 

Pertama, karena aku juga anak IPS. Kedua, yaitu kalau nggak ada IPS nggak ada psikolog, kalau nggak ada psikolog nggak ada yang bisa nolongin orang stres, kalau terlalu banyak orang stres semua jadi stres, kalau semua orang stres entar mati. Wahhh!!! Kalau nggak ada anak IPS ujung-ujungnya nyawa semua orang mati. Ngeri banget kan akibatnya??

 

*Ngaco

Hidup Penuh Perjuangan, Mimpi Harus Diperjuangkan

Hidup Penuh Perjuangan, Mimpi Harus Diperjuangkan

Oleh: Bambang Widyatmoko, Alumni SMART 11 berkuliah di UNNES

 

Ini adalah kisahku sewaktu masih menjadi anak asrama di SMART. Semoga kalian terinspirasi ya Sob.

 

Di sebuah pagi kala itu saat kutatap lamat dari dalam bilik kamar, kulihat tumpukan kertas memenuhi gerobak hijau yang terparkir di depan asrama. Aku bertanya-tanya: “Siapa yang mengumpulkan ya? Buat apa kertas-kertas itu?”
Rasa penasaran mendorongku mendekati objek menarik tersebut. Kulewati lantai pualam asrama yang masih basah bekas jilatan kain pel tiga menit sebelumnya. Tak lama kemudian, muncul seorang anak dengan tubuh kurus tanpa mengenakan alas kaki. Postur tubuhnya pendek untuk anak seusianya, dengan lengan mungilnyan ia menarik gerobak hijau tadi.

 

Di kejauhan aku dapat melihat wajahnya memerah dengan tetesan keringat meluncur deras melewati pori-pori kulitnya. Walau terengah-engah semangatnya sungguh luar biasa, sesekali kulihat ia beristirahat, mungkin lelah dengan beban yang ia bawa.

 

Kuberanikan diri untuk mendekatinya sambil menatap tumpukan kertas di gerobak, “hei, kamukah yang mengumpulkan kertas-kertas ini?” tanyaku. Ia menjawab “Iya kak, sama teman satu lagi”. Aku hanya mengangguk. “Oh begitu, boleh kubantu untuk menarik gerobak ini?” pintaku. Iya mengiyakan dengan senyum terbit di wajahnya, tetapi ia terlihat sedikit ragu jika aku sanggup menarik gerobak miliknya. Kujawab keraguannya dengan berkata “Aaah tenang saja aku kuat kok,” lalu kuangkat gerobak tersebut daaaan ya ternyata berat sekali. Melihatku kepayahan ia tergelak sembari berkata “tuh kan benar, sudah kubilang kalau gerobaknya berat”. Akhirmya kami tergelak bersama. “Ya sudah aku yang dorong, kamu yang narik ya. Tapi sampai gerbang SMART saja tak apa kan?” pintaku, “oke tak apa kak. Bismillah saja,” responnya. Bahu membahu kami mendorong gerobak hijau tua itu. Tiba-tiba rasa penasaranku muncul, “kerta-kertas ini mau dijualkah?” tanyaku. “Iya kak  uangnya mau aku tabungkan, lalu sisanya untukku jajan”. Jawabannya sontak menyadarkanku bahwa seharusnya aku lebih banyak bersyukur karena sangat beruntung bisa bersekolah di SMART.

 

Sepanjang jalan kami bercengkrama dan berkali-kali terpingkal, sayangnya percakapan kami harus disudahi. Aku sedikit sedih ketika harus berpisah dengannya, saat itu juga rasa malu menyelimutiku, benar-benar malu. Usianya jauh di bawahku, tetapi ia memiliki pemikiran yang jauuuuuh lebih dewasa dariku. Semangatnya mengumpulkan pundi-pundi Rupiah memberikan banyak pelajaran bagiku bahwa hidup memang penuh perjuangan, dan mimpi pun sungguh harus diperjuangkan. Kita tak perlu malu untuk terus berusaha, bahkan jika perlu menyusuri jalanan Ibu Kota itupun tak mengapa selama perjuangan tersebut mampu membawa kita kepada mimpi-mimpi yang didamba.

 

Ini pelajaran hidup berharga untukku, semoga membuatku semakin dewasa.