“Kami akan membacakan (Alquran) kepadamu (Muhammad) Maka kamu tidak akan lupa. Kecuali kalau Allah menghendaki. Sesungguhnya dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi” (QS. 87: 6-7).   Surah Al-A’la adalah surat ke 87 dalam Alquran tergolong surat makiyyah yang terdiri atas 19 ayat. Dinamakan Al A’laa berarti Yang Paling Tinggi diambil dari perkataan Al A’laa dan terdapat pada ayat pertama surat ini.   Allah menjaga wahyu dan kitab-Nya dengan menurunkan malaikat Jibril yang terus memantau hafalan Nabi Muhammad saw. dan mengeceknya terus. Sebagian ulama mengartikan bahwa Nabi Muhammad saw. dikaruniai hafalan sangat kuat sehingga tidak akan lupa. Kecuali hal-hal yang dikehendaki oleh Dzat Yang Maha Tahu dan hal tersebut tidak terjadi.   Di akhir pekan ini jangan lupa untuk menyempatkan membaca dan menghafal Alquran ya Sob
https://youtu.be/u6k5Xd8bWwg

Semangat Relawan Semangat Kebaikan

Oleh: Andi Ahmadi, Pegiat Sekolah Literasi Indonesia
Menjadi relawan itu identik dengan bekerja tanpa bayaran. Bahkan, tak jarang justru uang dari kantong pribadi yang dikeluarkan. Sungguh pekerjaan yang tak banyak orang bisa melakukan.
Jika dilihat dari kacamata materi, relawan memang tak mendapatkan ba
yaran. Karena aktivitasnya murni atas dasar kemanusiaan. Namun, jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda, menjadi relawan akan mendapatkan bayaran yang sangat berlimpah. Berikut adalah beberapa bayaran yang bisa didapatkkan oleh seorang relawan.
Lingkaran Kebaikan
Orang baik pasti akan dipertemukan dengan orang baik. Begitulah kata orang bijak. Dan nyatanya, hipotesis itu benar adanya. Dalam menjalankan aktivitas sebagai relawan, ada saja orang baik yang akan ditemui. Entah sekadar menjadi teman diskusi, memberikan hidangan saat bersilaturrahmi, memberikan tumpangan transportasi, hingga ada yang sampai menganggap sebagai keluarga sendiri.
Sebagai relawan, kita harus yakin bahwa dari sekian banyak orang yang kita temui, di antaranya pasti ada orang-orang baik yang sefrekuensi. Namun, jika belum juga dipertemukan dengan orang baik, tak ada salahnya kita instrospeksi diri. Jangan-jangan karena niat kita yang belum sepenuhnya baik.
Jaringan yang Luas
Menjadi relawan sudah pasti akan bertemu dengan banyak orang. Mulai dari sesama relawan, aktivis kemanusiaan, komunitas masyarakat yang memiliki kepedulian, para dermawan, hingga pejabat pemerintahan. Dengan jaringan yang luas tersebut, tentu akan bermanfaat bagi seorang relawan. Bukan hanya saat beraktivitas sebagai relawan, tetapi juga bermanfaat untuk dirinya di masa depan. Percaya atau tidak, tidak sedikit orang mendapat rezeki dari jaringan yang didapatkan saat menjadi relawan.
Pengembangan Diri
Salah satu wadah terbaik untuk mengembangkan kapasitas diri adalah di komunitas kerelawanan. Di sana kita akan belajar cara beradaptasi, cara bersosialisasi, cara bernegosiasi, hingga belajar mengembangkan ide-ide kreatif ketika realita tak sesuai dengan ekspektasi. Dan enaknya, belajar di komunitas kerelawanan kita tak perlu takut salah, berbeda dengan saat kita bekerja di perusahaan atau perkantoran. Bagi seorang pembelajar, kesempatan seperti ini jauh lebih berharga dari sekadar materi.
Kebahagiaan Hakiki
Bagaimana perasaan kita ketika melihat orang merasa bahagia dan terbantu dengan apa yang kita lakukan? Kita ikut bahagia bukan? Nah, seperti itulah yang dirasakan relawan. Bagi relawan, kebahagiaan terbesar adalah ketika ia bisa bermanfaat untuk orang lain. Dan tentu saja kebahagiaan seperti ini tak bisa diukur dengan tumpukan uang.
Aliran Pahala
Bayaran terbesar dari seorang relawan adalah aliran pahala yang tak pernah jeda. Seperti yang kita ketahui, ada tiga amal yang pahalanya akan terus mengalir tanpa henti: sedekah jariyah, amal yang bermanfaat, dan doa anak shaleh. Maka, aktivitas kerelawanan bukan hanya tentang membantu sesama, tetapi juga sebagai tabungan pahala yang kelak akan kembali kepada kita.
Dengan segala manfaat kebaikan yang bisa didapatkan, maka menjadi relawan sejatinya adalah sebuah kebutuhan.
Selamat Hari Relawan Internasional

Temnas I KOMPARASI: Tujuh Konsep Mengaqilkan Anak Belum Balig yang Pengasuh Asrama Harus Tahu!

 

 

Bogor – Komunitas Pondok Pengasuh Asrama se-Indonesia (KOMPARASI) dalam Temnas I KOMPARASI ajak 230 pengasuh asrama selami fenomena legalitas remaja melalui “Strategi Mengaqilkan Anak yang Sudah Balig” bersama Adriano Rusfi, Psikolog,

 

 

Merujuk pada literatur psikologi abad ke-19 tak ada istilah masa remaja (adolescence), karena masa remaja adalah produk abad ke-20 di mana lahir generasi dewasa fisik (balig) namun tak dewasa mental (aqil). Fenomena ini menciptakan fenomena legalitas remaja, seolah-olah anak dibiarkan berlama-lama menjadi anak-anak. Maka, lahirlah generasi yang matang syahwatnya, tetapi tanpa kematangan akal.

 

 

Komunitas Pondok Pengasuh Asrama se-Indonesia (KOMPARASI) dalam Temu Nasional (Temnas) I KOMPARASI mengajak 230 pengasuh asrama mendalami fenomena ini melalui “Strategi Mengaqilkan Anak yang Sudah Balig Namun Belum Aqil” bersama Adriano Rusfi, Psikolog, yang dilaksanakan Minggu (01/12), di Aula Sinar Cendekian Boarding School, Telaga Sindur, Bogor.

 

 

“Karena masih remaja dan dianggap belum dewasa maka usia remaja dianggap belum matang dan masih belum bisa menentukan sikap hidupnya,” ujar Adriano. Ia menambahkan jika saat ini banyak pemuda sudah balig tapi belum akil. ”Inilah tugas penting seorang pengasuh asrama untuk membimbing siswa binaannya agar mampu berpikir lebih matang, mandiri, dan bisa bertanggung jawab dengan hidupnya,” tegasnya.

 

 

Fenomena legalitas remaja tersebut menimbulkan banyak kerancuan di publik, salah satunya jika pemuda berusia tujuh belas tahun sudah mampu berbuat kejahatan, tetapi karena usianya, status hukumnya masih masuk dalam kategori anak-anak. Menurut Adriano dalam Islam seseorang sudah memasuki tahap balig maka ia dianggap telah dewasa.

 

 

“Ketika pemuda telah balig seharusnya ia dididik sebagai manusia dewasa, sesuai usianya. Hanya saja umat Islam ikut latah dengan pembenaran atas keliru didik yang fatal ini,” ujar Adriano.

 

 

Adriano menjelaskan, pengasuh asrama memiliki tugas besar membawa kehidupan siswa sekolah berasrama dan pondok pesantren kepada situasi ideal. “Pengasuh asrama disarankan tak hanya mencari sumber masalah (trouble shooting), tapi juga sebagai pemecah masalah (problem solving) melalui pendekatan terbaik,” jelasnya.

 

 

Dalam pemaparannya Adriano mengonsep tujuh hal yang dapat dilakukan pengasuh asrama sebagai strategi mengaqilkan anak balig  antara lain

  • Jangan menganggap periode remaja sebagai keniscayaan, karena remaja adalah produk kebudayaan,
  • Didiklah anak-anak menjadi dewasa bukan setengah dewasa, melalui pendekatan diskusi
  • Didik mereka bertanggung jawab atas perbuatan mereka menggunakan pendekatan consequential learning,
  • Libatkan mereka dengan permasalahan hidup; jangan sterilkan mereka dari hidup dan perjuangannya
  • Besarkan mereka di tengah realitas untuk memecahkan masalah
  • Didik mereka belajar untuk mencari nafkah, walaupun hanya sekadar menambah uang jajan,
  • Ajari mereka berorganisasi, berempati terhadap problematika sosial, dan berpikir untuk menemukan solusinya.

 

 

“Anak bukan makhluk bodoh, belajar terpenting bagi mereka ialah belajar menjadi dewasa. Latih mereka dan jadikan asrama tempat berkehidupan,” tutupnya. (AR)

 

 

Temnas I KOMPARASI: Adab Jangan Pernah Diabaikan!

 

 

Bogor – Krisis adab, KOMPARASI menggelar Kajian pengasuhan seputar metode implementasi kurikulum adab dalam gelaran Temnas I KOMPARASI bersama Dr. Ardiansyah, M.Pd.I, Pengasuh Pesantren At Taqwa Depok.

 

 

Anak dianalogikan seperti kertas putih yang bisa ditulis dengan tulisan apa saja, sebab itulah peran orang tua sangatlah vital karena keberhasilan dalam mendidik anak tergantung dari pendidikan yamg diberikan orang tuanya, namun untuk mereka yang bersekolah asrama atau pondok pesantren keberhasilan mendidik anak ditentukan oleh orang tua (pengasuh asrama) di tempat mereka belajar saat ini. Tujuan pendidikan Islam adalah untuk memproduksi manusia yang baik secara agama (good man), tak sekadar menjadi masyarakat baik (good citizen). Elemen terpenting dalam pendidikan Islam adalah penanaman adab.

 

 

Pentingnya menanamkan adab di sekolah berasrama dan pondok pesantren merupakan standar tersendiri yang harus dipahami pengasuh asrama, oleh sebab itu Komunitas Pondok Pengasuh Asrama se-Indonesia (KOMPARASI) dalam Temu Nasional (Temnas) I KOMPARASI menggelar kajian pengasuhan seputar metode implementasi kurikulum adab di Aula Sinar Cendekian Boarding School, Telaga Sindur, Bogor, pada Sabtu (30/11).

 

 

Dr. Ardiansyah, M.Pd.I, Pengasuh Pesantren At Taqwa Depok, secara tegas mengatakan  jika adab jangan pernah diabaikan, mengingat sekolah berasrama dan pondok pesantren adalah tempat paling tepat untuk menumbuhkan adab. “Ini PR bagi  para pengasuh asrama karena saat ini dunia mulai krisis adab,” tegas Ardi. “Krisis adab tersebut ditandai dengan munculnya kezhaliman di mana manusia gemar meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya, maraknya kedunguan-melakukan sesuatu karena satu tujuan hanya saja caranya salah, dan kegilaan yang tak terkontrol melalui ide dengan tujuan keliru,” tambahnya

 

 

Penanaman adab dapat  pengasuh asarama lakukan melalui dua cara yakni melalui Ta’dib (penanaman adab) dan Ta’lim (pengajaran ilmu). “Ada tujuh ,etode penanaman adab yang bisa pengasuh asrama lakukan antara lain sampaikan ilmu tentang adab, kaitkan adab dengan keimanan, jadilah sosok teladan, jangan bosan dengan oembiasaaan, amalkan dengan penuh keikhlasan, berikan penegakakkan disiplin, jangan lupa berdoa,” jelas Ardi.

 

 

Menurut Ardi poin lain yang harus diutamakan oleh pengasuh asrama ialah ubah framework atau cara pandang untuk ditekankan pada murid-murid. “Dunia pendidikan akan mengalami banyak perubahan, pengasuh asrama harus mampu mengejar perubahan yang ada dengan membuat terobosan, dengan catatan adab harus tetap dijaga

 

 

Menutup kajian pengasuhan, Ardi berpesan, bahwa pengasuh asrama harus bisa menghasilkan orang-orang cerdas dan beradab, yang tahu bagaimana menyiapkan masa depan  mereka dalam mengonsep dan mengaplikasikan ilmu disertai adab baik. (AR)

 

KOMPARASI Ajak Pengasuh Asrama Melek Penyimpangan Seksual Anak Usia Balig

 

 

Bogor – Komunitas Pengasuh Asrama se-Indonesia (KOMPARASI) menggelar Temu Nasional (Temnas) KOMPARASI untuk minimalisasi permasalahan penyimpangan seksual pada anak usia balig dengan mengundang dr. Dewi Inong Irana, Sp.KK dokter Spesialis Kulit dan Kelamin merangkap Aktivis Profesional Independen.

 

 

Komunitas Pengasuh Asrama se-Indonesia (KOMPARASI) menggelar Temu Nasional (Temnas) KOMPARASI perdana setelah sepuluh tahun komunitas pengasuh asrama se-Indonesia ini digagas oleh SMART Ekselensia Indonesia. Sebanyak 230 peserta dari beragam sekolah berasrama dan pondok pesantren di Indonesia mengikuti perhelatan akbar tahunan ini guna meningkatkan kapasitas mereka sebagai pengasuh asrama.

 

 

Tema Transformasi Pengasuhan: Membangun Generasi Peradaban menjadi acuan mencari solusi terhadap permasalahan di asrama. “Di asrama banyak problematika yang membutuhkan solusi terbaik, karena itulah KOMPARASI dihelat agar para pengampu asrama bisa memberikan paradigma baru tentang pengasuhan kepada pengurus asrama lainnya,” kata Hodam Wijaya, Ketua KOMPARASI.

 

 

Hodam mengungkapkan jika salah satu masalah yang ditakutkan terjadi di dalam asrama ialah terjadinya penyimpangan seksual pada anak usia balig. Supaya para pengasuh asrama lebih melek dan bisa minimalisasi permasalahan ini KOMPARASI mengundang dr. Dewi Inong Irana, Sp.KK., dokter Spesialis Kulit dan Kelamin merangkap Aktivis Profesional Independen.

 

 

“Manusia diciptakan hanya dua jenis kelamin laki laki dan perempuan, derajatnya sama hanya tugasnya yang berbeda,” kata sosok tegas yang dipercaya sebagai Saksi Ahli di Mahkamah Konstitusi untuk Pasal Permisifitas Seksual. Dokter Inong juga mengkritisi maraknya situs-situs porno di internet, menurutnya situs-situs porno menyumbang terjadinya penyimpangan seksual. “Sudah saatnya para pengasuh asrama melek internet, jangan sampai dikelabui oleh siswa binaan. Saya sangat berharap agar ada langkah nyata berupa pemblokiran terhadap seluruh situs porno yang saat ini ada di dunia maya,” ujar dokter Inong, sapaan akrabnya.

 

Perilaku menyimpang pada anak usia balig disinyalir mampu mengakibatkan penurunan moral, harkat, dan martabat pelakunya dalam kehidupan individu hingga sosial. “Bagaimanapun perilaku menyimpang bernama LGBT harus diatasi, tugas para pengasuh asramalah untuk bisa meminimalisasi terjadinya penyimpangan melalui langkah-langkah khusus,” tambahnya.

 

 

Dalam materinya Inong memamparkan langkah khusus agar para pengasuh asrama bisa menerapkan pencegahan dini terjadinya penyimpangan seksual di sekolah berasrama dan pondok pesantren.”Ada lima cara yang bisa pengasuh asrama lakukan agar penyimpangan seksual. Pertama cari penyebab terjadinya penyimpangan seksual, jelaskan akibat penyimpangan seksual kepada siswa binaan, bentuk pencegahan terjadinya penyimpangan seksual dengan melakukan kegiatan positif bersama, cari indikator anak mengalami penyimpangan seksual, dan pahami penanganan anak yang terindikasi penyimpangan seksual,” tutupnya. (AR)

 

 

Tingkatkan Kompetensi Pengurus Asrama se-Indonesia, KOMPARASI Gelar TEMNAS I KOMPARASI

 

 

Bogor – Membangun generasi peradaban, Komunitas Pengasuh Asrama se-Indonesia (KOMPARASI) ajak pengasuh asrama dari berbagai pondok pesantren dan sekolah berasrama se-Indonesia ambil bagian guna tingkatkan kompetensi mereka dalam pengasuhan.

 

Pondok pesantren dan sekolah berasrama kini sudah menjadi bagian dari sistem pendidikan di Indonesia. Pondok pesantren sendiri telah ada sejak abad ke enam belas dan memiliki kurikulum serta sistem pembelajaran sendiri, banyak tokoh pendiri bangsa lahir dari sistem pendidikan pondok pesantren. Sementara sekolah berasrama muncul pada pertengahan 1990-an sebagai upaya mengawinkan pendidikan umum dan pesantren. Baik pondok pesantren dan sekolah berasrama berupaya memadukan antara kehangatan keluarga dan suasana Islami.

 

“Salah satu bagian penting dan ujung tombak dalam proses pendidikan di pondok pesantren dan sekolah berasrama adalah kehangatan pengasuhan oleh wali asrama. Merekalah pengganti peran orang tua bagi siswa, peran yang begitu besar dan strategis,” kata Hodam Wijaya, Ketua KOMPARASI.

 

Menurut Hodam membentuk generasi unggul yang mampu membangun peradaban pendidikan bisa dimulai dari rumah, hanya saja untuk anak-anak yang mengenyam pendidikan di sekolah berasrama atau pondok pesantren pihak sekolah perlu memberikan contoh baik dari karakter orang tua. “Di dalam sekolah berasrama seorang wali asrama wajib menciptakan suasana kekeluargaan sehingga kedekatan bisa terbangun, dan anak-anak yang jauh dari orang tua bisa merasakan kasih sayang orang tua mereka. Namun bagian ini tidak begitu mendapatkan perhatian yang serius di beberapa pondok dan sekolah berasrama,” tambahnya

 

.

Sebagai upaya membangun generasi peradaban serta menciptakan ikatan yang kuat antara wali asrama dan siswa, KOMPARASI menghelat Temu Nasional (TEMNAS) I KOMPARASI di Sinar Cendekia Boarding School, Gunung Sindur, Jawa Barat. Mengusung tema Transformasi Pengasuhan: Membangun Generasi Peradaban, selama dua hari (30/11-01/12) 230 peserta dari berbagai pondok pesantren dan sekolah berasrama se-Indonesia ambil bagian guna meningkatkan kompetensi mereka dalam pengasuhan.

 

“Kami memfasilitasi peserta dengan berbagai bentuk kegiatan supaya insight seputar dunia pengasuhan semakin kaya, kegiatannya antara lain kajian pengasuhan bersama pakar di bidangnya, lokakarya pengasuhan bersama pembicara yang berpengalaman, dan diskusi ringan terkait persoalan pengasuhan termasuk di dalamnya solusi serta ide-ide baru terkait pengasuhan,” jelas Hodam.

 

 

Selain menggelar ragam kegiatan mumpuni, TEMNAS I KOMPARASI juga menekankan pada kompetensi peserta dengan mengundang Drs. Adriano Rusfi, S.Psi., Dr. Adian Husaini, dr. Dewi Inong Irana, Sp.KK.; Fitria Laurent, Founder Sahabat Edukasi; dan Aang Hudaya, Co-founder Gema Rapi bahasa.

 

“Meski TEMNAS I KOMPARASI baru dilaksanakan perdana, tapi kami yakin mampu menciptakan konsolidasi dan revitalisasi para pengasuh asrama se-Indonesia. Ini menjadi solusi terhadap permasalahan di asrama karena para pengampunya bisa memberikan paradigma baru tentang pengasuhan kepada pengurus asrama lainnya,” tutup Hodam. (AR)

Hari ini
Mari sejenak kita renungkan.

 

 

 

Tentang sosok yang sangat berjasa dalam hidup kita
Tentang semangat dan dedikasinya dalam pendidikan Indonesia
Tentang pengorbanannya demi masa depan tunas bangsa.

 

 

 

Beliaulah “Guru”
Ibarat pelita dalam gelap gulita
Memberikan ilmu sebagai penerang dalam menjalani kehidupan
Memberikan teladan demi kebaikan akhlak para muridnya.

 

 

 

Siapakah kita tanpa adanya guru?
Yang mendidik tanpa henti
Mengayomi dari hati
Serta menyayangi tanpa pilih kasih.

 

 

 

Mari muliakan guru kita
Doakan guru kita
Dan buktikan rasa terima kasih kita dengan mengamalkan ilmu dari guru-guru kita 😊.

 

 

 

Sumber: https://www.instagram.com/p/B5RfbAgn0yz/?igshid=1rr9hurbao6hk

Pantesan Juara Mulu, Ternyata Ini Sob Rahasia Kami Selama di SMART!

 

 

Sob seperti yang kamu tahu kalau para siswa SMART Ekselensia Indonesia (SMART) adalah anak-anak berprestasi yang terbatas kondisi finansial keluarganya. Jangan salah, meski pintar, tapi tetap saja ada momen nggak pede saat bertemu dengan teman-teman pintarnya lainnya dari seluruh Indonesia. Karenanya, menggembleng mental dan karakter para siswa menjadi agenda utama pembinaan di SMART lho.

 

 

 

 

 

Wadah pembinaan tersebut salah satunya melalui pemaksimalan kemampuan siswa dengan memantik prestasi mereka baik secara akademis maupun non akademis. Keaktifan siswa SMART dalam menggali potensi diri ditunjukkan dengan aktif mengikuti berbagai kompetisi, baik tingkat kabupaten hingga nasional (menyusul internasional dalam waktu dekat, InsyaAllah). Buah dari keaktifan tersebut membuat siswa SMART diganjar rentetan gelar juara. Prestasi siswa SMART terkini dapat kamu lihat pada poster di atas.

 

 

 

Yuk antarkan anak-anak cemerlang di sekitar kita untuk turut berprestasi di kancah nasional juga! Caranya dengan mengikuti Seleksi Nasional Bersama (SNB) SMART 2020. Saatnya bantu kami sebarkan informasi ini dan rekomendasikan anak-anak di sekitarmu Sob! Semoga setiap prestasi yang ditorehkan anak-anak yang direkomendasikan menjadi keberkahan untuk kita semua. Aamiin.

 

 

 

Info lebih lanjut terkait SNB SMART 2020:
Uci Febria : (081282996939) atau Markom (081288338840) atau klik di sini 

Inilah Fasilitas SMART yang KUDU Kamu Tahu Sob!

Sahabat Pendidikan, tahu nggak apa sih rahasianya yang membuat para siswa SMART Ekselensia Indonesia (SMART) betah sekolah di sini? Padahal orang tua mereka jauh di kampung halaman? Selain suasana kekeluargaan yang hangat, rahasianya juga terletak pada fasilitas SMART yang cukup lengkap dan memadai.
Ya, SMART tidak hanya menyediakan asrama saja sebagai tempat tinggal para siswanya. Fasilitas lain untuk mewadahi hobi dan mendukung semangat belajar siswa pun tersedia. Cek poster di atas untuk melihat apa saja fasilitas yang ada di SMART ya!
Nah, SMART masih membuka pendaftaran Seleksi Nasional Beasiswa SMP dan SMA hingga Januari 2020 nih! Masih cukup waktu untuk menyebarkan informasi ini. Jangan lupa juga untuk merekomendasikan anak-anak di sekitar Sahabat Pendidikan sekalian ya! Syukur-syukur Sahabat membantu mendaftarkan mereka.. Kuuy!
Info lebih lanjut :
Uci Febria : (081282996939) atau Markom (081288338840)

Begini lho Sob Rasanya Bersekolah di SMART. Pokoknya Bikin Penasaran

Bagi Nabil Rizky Habibi dan Jefriadi, mendapat kesempatan bersekolah di SMART Ekselensia Indonesia (SMART) adalah sebuah kebahagiaan dan kebanggaan. Dengan keterbatasan ekonomi keluarga, awalnya mereka tak menyangka bisa menempuh pendidikan di sekolah dengan fasilitas selengkap SMART.
“Saya sangat bahagia berada di SMART karena hubungan guru dan siswa sudah seperti sahabat. Tertawa bareng, curhat-curhatan, dan hal menyenangkan lainnya. Kalau di asrama, sekarang sudah sangat nyaman, mulai dari fasilitas tidur, fasilitas pribadi hingga fasilitas olahraga,” ungkap Nabil, siswa asal Medan, Sumatera Utara.
Menyambung Nabil, Jefriadi, siswa yang merantau jauh dari Sabah, Malaysia, juga mengungkapkan kebanggaannya bersekolah di SMART. “Kami tidak hanya dididik dalam bidang akademik, tapi juga dididik untuk menumbuhkan karakter diri yang baik. Suasana kekeluargaan dan keberagaman budaya yang membuat saya betah sekaligus bersyukur dapat berbaur dengan seluruh anak Indonesia dari Sabang sampai Merauke,” paparnya.
Seperti Nabil dan Jefri, masih banyak anak-anak Indonesia berprestasi cemerlang namun memiliki keterbatasan finansial. Yuk, antarkan anak-anak cemerlang Indonesia mendapatkan pendidikan berkualitas di SMART. Share info Seleksi Nasional Beasiswa SMP dan SMA SMART ini dan rekomendasikan anak-anak di sekitar Sahabat Pendidikan ya!
Info lebih lanjut sila hubungi nara hubung kami di bawah ya Sob:
Uci Febria : (081282996939)