Liburan GAK Boleh Mager Sob!

Liburan GAK Boleh Mager Sob!

 

Libur Lebaran  buat pelajar pasti jadi momen menyenangkan, ya bagaimana gak menyenangkan liburnya aja lama banget kan Sob? Nah tapi liburan jangan dihabiskan dengan mager dan tidur-tiduran aja dong Sob. Tidur memang salah satu kenikmatan dunia yang hakiki, iya kan? Iya dong. Eits tapi kita juga harus hati-hati karena menurut penelitian kebanyakan tidur bisa berisiko kematian dini.

 

“HAH SERIUS?”

Dua rius deh. Dikutip dari New York Post, penelitian dari Seoul National University, di Korea Selatan, menganalisis 133.608 orang dewasa berusia 40-69 tahun; dan ditemukan wanita yang tidur lebih dari sepuluh jam per hari memiliki 40 persen kemungkinan kematian dini terkait oleh tiga masalah kesehatan yaitu pinggul membesar, tekanan darah tinggi, dan peningkatan kadar lemak dan gula dalam darah serta kadar kolesterol baik yang menurun. Hal-hal tersebut dapat memicu penyakit jantung, stroke, diabetes, bahkan kanker.

Sedangkan penelitian yang dipublikasikan di jurnal BMC Public Health  menunjukkan bahwa pria yang tidur lebih dari sepuluh jam memiliki risiko yang lebih kecil, yaitu sekitar 28 persen. Tapi berbeda hasil jika waktu tidur per hari kurang dari enam jam. Pada pria, berisiko 12 persen untuk kematian dini, sedangkan pada wanita hanya sembilan persen yang berisiko tinggi.

Para peneliti meyakini bahwa durasi tidur memengaruhi hormon yang terkait dengan nafsu makan, asupan kalori, dan penggunaan energi.

Jadi yuk cari kesibukan agar waktu libur Lebaran kita tak hanya diisi dengan tidur, walaupun tidur diperlukan namun kamu harus menakar dosisnya juga ya.

Sampai Berjumpa Lagi Ramadan

Sampai Berjumpa Lagi Ramadan

 

Oleh: Purwo Udiutomo

 

Wada’an Ya Syahru Ramadhan…

Idul Fitri tinggal menghitung hari, cepat sekali, dinanti sekaligus ditangisi
Lebaran telah di hadapan, membahagiakan sekaligus mengharukan
Amal shalih kembali penuh tantangan, tak lagi begitu ringan dilakukan
Lapar dan dahaga tak lagi warnai keseharian, setan pun lepas ikatan

Lidah tak lagi mudah dijaga, seolah dusta, amarah dan ghibbah hanya dosa di bulan puasa
Ibadah tak lagi jadi fenomena biasa, masjid kembali hampa, jama’ah entah kemana
Qur’an kembali disimpan, hanya terdengar di pengajian, tahlilan dan event tahunan
Orang-orang kembali sibuk dengan dunianya, melupakan tempat kembalinya

Wada’an Ya Syahru Shiyam…

Sedih berbalut sesal dan harapan mengiringi kepergian bulan Ramadhan
Entah diterimakah semua amalan dan diampunikah segala dosa kesalahan
Entah masihkah diperkenankan tuk bersua kembali di tahun depan

Yang tersisa hanya kekecewaan, sebab waktu tak bisa kembali ataupun dihentikan
Oh, rindu ini belum terpuaskan, ingin rasanya menambah lama masa kebersamaan
Ulangi kembali masa yang berlalu tanpa kebaikan agar tak berbuah penyesalan

Wada’an Ya Syahru Maghfirah…

Malu rasanya menangis memohon ampunan atas kelalaian mengisi tiap detik Ramadhan
Air mata tumpah sebanyak apapun takkan mengubah kesia-siaan menjadi keberkahan
Takut akan tak diterimanya amal jauh lebih besar dari kebahagiaan menyambut Syawal
Akhirnya, hanya kepada Allah Yang Maha Pemurah lah do’a dan harapan ini kutitipkan

Nuansa indah Ramadhan takkan kubiarkan berlalu begitu saja di bulan selanjutnya
Efek keberkahan Ramadhan kan terus kujaga, terima kasih telah singgah memberi warna

Wada’an Ya Syahru Mubarak… Ilal liqo

Tips Mudik Nyaman ala Kami yang Kudu Kamu Baca!

Waaaah gak kerasa ya Sob sebentar lagi Lebaran lho. Paling suka kalau menyambut Lebaran begini karena kami bisa mudik, kamu mudik juga gak? Kalau ya yuk ikuti tips di bawah ini supaya mudikmu nyaman.

 

  1. Jaga kondisi tubuh

Ada baiknya kamu istirahat selama 6-7 jam sehari sebelum keberangkatan dan jangan lupa perbanyak mengonsumsi makanan sehat serta vitamin supaya badan tetap bugar selama perjalanan mudik ya.

 

  1. Cek kondisi kendaraan

Jika kamu menggunakan kendaraan pribadi/sewaan ada baiknya mengecek secara pasti kondisi kendaraan, jangan sampai bermasalah di tengah perjalanan. Sampaikan ini kepada orang tua atau kerabatmu ya Sob.

 

  1. Gunakan Pakaian yang Nyaman

Perjalanan mudik pastilah memakan waktu pajang dan lama karena kemacetan yang luar biasa, agar tetap nyaman usahakan kamu memakai baju yang nyaman dan menyerap keringat.

 

  1. Bawa Perbekalan

Macet panjang selama mudik jelas melelahkan, oleh karena itu penting jika kamu membawa bekal berupa makanan dan minuman agar stamina tetap terjaga. Pokoknya makanan dan minuman favortimu deh hehe.

 

  1. Perbanyak Tilawah Al-Quran

Selama mudik jelas rasa bosan akan melanda, namun kamu bisa mengatasinya dengan memperbanyak tilawah atau menghapal Al-Quran. Selain berfaedah dan berpahala juga dapat menenangkan pikiran serta jiwa.

 

  1. Berhenti Saat Lelah

Perjalanan mudik yang panjang kerap kali membuat para pemudik yang membawa kendaraan mengantuk dan lelah, hal tersebut jelas sangat berbahaya Sob. Nah ketika kamu melihat orang tuamu atau kerabat lelah ketika berkendara  sarankan mereka untuk beristirahat sejenak di rest area atau pos mudik.

 

Semoga tips dari kami membantu ya Sob. Selamat mudik dan berkumpul kembali dengan saudara di kampung halaman.

Kala Itu di Ramadan 1438 H

Kala Itu di Ramadan 1438 H

Oleh: Vikram Makrif
Alumni SMART Angkatan 9 berkualiah di UNDIP

 

“Bahagialah setiap saat! Bukan karena segala hal baik-baik saja, tapi karena ada yang baik dalam segala hal”

Halo para pembaca yang baik hati. Aku adalah sore menjelang magrib. Aku akan berbagi tentang kamu. Siapakah kamu? Siapapun kamu yang sedang membaca tulisan ini, kamu adalah Vikram Makrif. Kamu dipanggil Vikram oleh teman-temanmu. Aku akan berbagi tentang kegiatanmu saat sore kala itu mejelang magrib di bulan suci Ramadan 1438 H.

Apa saja kegiatan kamu di bulan Ramadan kala itu Vikram? Kamu sendiri mungkin sudah tahu. Kala itu kamu sedang menunggu pengumuman SBMTPN 2017. Selama menunggu hasil SBMPTN 2017 kamu mencari kegiatan yang dapat bermanfaat untuk orang lain. Sehingga mulai dari Ramadan ke-3 sampai Ramadan ke-16 kamu mengajar pesantren kilat (SANLAT) di sebuah masjid.

Kamu mengajar pesantren kilat setelah Salat Asar sampai menjelang berbuka puasa. Kamu mengajar bersama pengurus DKM lainnya dan guru madrasah di sana. Awalnya kamu bingung dengan metode pengajaran di sana yang berbeda dengan cara mengajarmu. Tapi setelah melihat cara mengajar guru dan juga melihat anak-anak SANLAT yang luar biasa, kamu dapat menyesuaikan diri mengajar di sana.

Ini semua tentang kamu Vikram. Tentang kamu di sore menjelang magrib. Seusai bersujud pada Sang Khalik kamu berbagi pada anak-anak. Kamu tersenyum menyapa mereka yang sedang berlari-larian di halaman masjid. Mereka pun juga tersenyum manis padamu.

“Assalamualaikum adik-adik yuk kita ngaji,” katamu pada mereka memberi salam.
“Walaikumsalam Kak Vi em. Hari ini ngajinya di mana kak? Aula apa masjid?” tanya mereka padamu.
“Hari ini kita di aula lagi ya, biar tempatnya luas,” jawabmu sambil tersenyum dan berjalan menuju aula.

Kamu sebenarnya senang mengajar mereka. Mereka pun juga senang diajarkan olehmu. Tapi terkadang kamu bingung sendiri dengan tingkah laku mereka. Kamu tidak ingin terlalu dekat dengan mereka, anak-anak SANLAT yang lucu dan luar biasa itu. Tak dapat dielakkan lagi kamu dan anak-anak itu bagaikan magnet dan besi. Sangat dekat sekali jika sudah berjumpa. Apakah itu perumpamaan yang benar untukmu? Mungkin saja benar.

“Ayoo adik-adik kita buat lingkaran yang besar ya biar bisa kebagian tempat semua,” ajakmu pada murid-muridmu bersiap untuk game seusai mengaji.
“Aku pengen dekat Kak Vi em,” kata salah satu muridmu.
“Aku juga, aku juga,” kata muridmu yang lainnya saling berebut memegang tanganmu.
“Eh eh jangan dorong-dorongan gitu dong, sekarang kita buat lingkaran besar ya adik-adik,” katamu pada mereka dengan kedua tanganmu yang masih ditarik-tarik.
“Gak mau, maunya dekat Kak Vi em,” kata salah satu muridmu.
“Gak, aku duluan dekat Kak Vi em,” kata muridmu yang lain dengan nada yang sedikit naik.

Kamu semakin pusing melihat tingkah laku mereka saling berebut ingin berada di samping dirimu. Seketika kamu menghilang dan telah berada di dimensi yang berbeda dengan anak-anak. Kamu melihat sekitar. Semua terlihat gelap olehmu. Kamu langsung menatap ke bawah. Di sana kamu melihat dirimu sendiri sedang mengajar mengaji anak-anak SANLAT. Setelah itu kamu mengajak mereka untuk membuat lingkaran. Kamu melihat dirimu sendiri bersusah payah mengurus anak-anak kecil usia TK dan SD kelas satu hingga tiga. Kamu juga melihat guru madrasah dan pengurus DKM Al-Furqon sedang memperhatikan tadarus anak-anak SANLAT yang sudah Al-Quran.

Melihat kejadian itu dari dimensi lain, kamu berkata dalam hati. Andaikan aku bisa berubah menjadi banyak sesuai dengan jumlah adik-adik itu mungkin mereka tidak akan berebutan. Tapi semua hanyalah hayalanmu Vikram. Kamu tidak bisa berubah menjadi banyak seperti di film kartun anak. Karena kamu hanyalah manusia biasa. Hehehe…

Kembali lagi pada episode anak-anak berebut bedara di sampingmu. Kamu langsung maju ke tengah lingkaran dan berkata “Biar adil kakak di tengah-tengah aja ya, ayo lingkarannya dilebarin lagi!”. Kamu melihat mereka langsung membuat lingkaran besar. Mereka senang saat kamu memulai bernyanyi. “Lingkaran besar, lingkaran besar, lingkaran besar… lingkaran kecil, lingkaran kecil, lingkaran kecil…” kamu pun tertawa saat mereka juga ikut bernyanyi.
***
Ini semua tentang kamu Vikram. Tentang kamu di sore menjelang magrib. Seusai bersujud pada sang Khalik kamu berbagi pada anak-anak. Kamu tersenyum menyapa anak-anak SANLAT ketika mereka sedang menatap tetesan air yang jatuh dari awan-awan di langit. Mereka pun tersenyum manis padamu.

“Assalamualaikum adik-adik yuk kita masuk ke dalam,” katamu pada mereka memberi salam sambil mengajak mereka masuk ke dalam masjid.
“Walaikumsalam. Iya Kak Vi em” jawab mereka padamu dan bergegas masuk masjid mengikutimu.

Kamu tahu hari itu hujan turun dari langit sangat deras. Kamu pun mengajak anak-anak mengaji di dalam masjid bukan di aula. Kamu memulai kegiatan dengan mengajak mereka untuk berdoa. Setelah itu kamu muroja’ah hafalan mereka surah An-nisa ayat 58-65. Kamu tersenyum seperti hari-hari yang lalu saat mereka juga muroja’ah hafalan. Kamu kagum melihat mereka hafal ayat yang panjang itu. Walaupun kamu melihat mereka membacanya sambil bermain menjahili teman di sampingnya.

Setelah kamu muroja’ah hafalan, kamu menyuruh mereka untuk mengikuti para pengajarnya masing-masing. Seperti biasa jika pengurus DKM bisa mengajar, maka kamu mengajar anak-anak yang masih iqro bukan yang Al-Quran. Karena anak-anak lebih suka diajar olehmu dari pada yang lain.

“Adik-adik, kakak punya cerita keren nih. Tapi kalian harus jadi patung ya, mulutnya dikunci, kuncinya dibuang, telinganya dipasang, duduk yang rapi,” katamu pada anak-anak yang masih iqro.

“Siap, Yes Yes Okee..” jawab mereka serentak setalah kamu berkata ‘duduk yang rapi’.
“Ceritanya yang serem gak kak?” tanya salah satu murid yang duduk di depanmu.
“Gak lah, sekarang ceritanya tentang nabi kita Nabi Muhammad Saw.,” Jawabmu pada anak di depanmu itu.
“Nah jadi gini ceritanya. Nabi kita telah berjumpa sama Allah. Di depan nabi telah ditampakkan surga tempat beliau tinggal. Allah berkata pada Nabi ‘Ya Muhammad ini adalah surgamu silahkan engkau masuk’. Nabi diam sejenak dan berkata ‘Ya Allah ya Tuhanku, bagaimanakah nasib umatku?’.

Subhanallah ya adik-adik Nabi kita nanti di hari akhir terus memikirkan kita, padahal surga sudah di depan matanya. Nah apa kata Allah setelah itu? Mau dilanjutin ceritanya?” katamu panjang lebar pada anak-anak.

Kamu senang mereka semua terdiam mendengarkan ceritamu. Walaupun kamu melihat mereka tidak diam menjadi patung saat kamu bercerita. Adakalanya saat bercerita kamu sesekali berhenti dan menegur murid yang menjahili temannya.

“Setelah itu Nabi kita berlari lagi mencari para umatnya yang masih memiliki iman di hatinya untuk masuk ke dalam surga. Walaupun imannya sebesar biji zarrah. Tahu gak adik-adik biji zarrah itu sebesar apa?” tanyamu pada anak-anak.

“Lebih kecil lagi lah Kak. Kan tadi biji sawi lebih kecil dari biji kurma. Berarti segede upil Kak” jawab salah satu murid padamu dengan pemikirannya sendiri.
“Bukanlah, masa segede upil. Kalo zaman dulu orang-orang tahunya biji zarrah itu sebesar biji sawi. Sebenarnya Dika bener sih lebih kecil dari biji sawi, tapi bukan segede upil. Biji zarrah itu yang kakak tahu dari guru kakak lebih kecil dari partikel sub atomik” jelasmu pada anak-anak.

Mereka semua bingung dengan penjelasanmu tadi tentang ukuran biji zarrah. Mereka yang masih TK dan SD kamu jelaskan tentang partikel sub atomik. Berarti kamu salah audien nih dalam penjelasan tentang ukuran fisika modern.

“Nah partikel sub atomik itu jutaan kali jauh lebih kecil dari pada biji sawi. Jadi intinya gak bisa kita lihatlah gitu. Subhanallah kan adik-adik. Orang yang imannya kecil banget aja masih bisa masuk surga dengan syafaat dari Nabi kita tercinta,” lanjutmu menjelaskan ukuran biji zarrah.

Setelah kamu bercerita anak-anak mulai mengaji iqro denganmu secara bergantian. Kamu mengajari mereka satu persatu. Saat mengajar tiba-tiba ada yang murid yang tertawa melihatmu mengajar.

“Ih Om lucu deh,” kata Syilmi salah satu muridmu.
“Apa? OM?” katamu seketika.
“Eh iya lupa lagi, Kakak Vi em, itu lucu banget jerawatnya gede banget” kata Syilmi padamu.
“Udah jangan dilihatin terus jerawat kakak, nanti pecah” katamu bercanda pada Syilmi.
“Itu Om juga lucu kumisnya, panjang banget. Hihihi..” kata Syilmi lagi kepadamu.
“Apa?Om lagi?”katamu seketika.
“Eh lupa lagi, abisnya Kakak kumisnya panjang banget tuh,” kata Syilmi sambil menunjuk jenggotmu.
“Waduh Syilmi ini jenggot bukan kumis,” jelasmu singkat.
“Ooh iya tuh jenglot kakak panjang, jadi lucu,” kata Syilmi padamu sambil tertawa.
“Bukan jenglot, tapi jenggot,” jelasmu gregetan.
“Hahaha jengkol? Mata kakak kayak jengkol tuh,” ucap Syilmi blak-blakkan padamu.

Tiba-tiba kamu menghilang ke dimensi lain. Semua pandanganmu seketika gelap. Kamu merasakan tubuhmu membesar. Perutmu menjadi gendut. Wajahmu berubah menjadi badut. Matamu menjadi jengkol. Kamu melihat anak-anak SANLAT yang sedang berlari-larian. Kamu langsung memakan mereka semua sekaligus. Mereka berteriak-teriak takut melihat wajahmu. Tubuh raksasamu dengan cepat melahap pada anak-anak yang lucu dan gemesin di sana.

Semua tentang raksasa badut mata jengkol hanyalah hayalanmu. Kembali lagi ke adegan kamu mengajar dan berbicara kepada Syilmi salah satu muridmu.

“Terserah Syilmi deh, nih kakak lagi ngajar jadi nanti ya ngobrolnya,” jelasmu pada Syilmi.
“Ayo Adli lanjut lagi ngajinya” katamu kepada Adli sambil menunjuk iqronya.
Tiba-tiba ada anak yang berlari menghampirimu dan berkata “Kak Vi em Dinda nangis tuh di sana”
“Kenapa ko bisa nangis Dinda nya?” tanyamu pada anak itu.
“Tadi Dinda dipukul sama Dika Kak” jawab anak itu padamu.
“Iya iya nanti kakak ke sana” katamu singkat.

Kamu menghampiri Dinda yang sedang menangis. Lalu kamu memanggil Dika yang memukul Dinda untuk meminta maaf. Kamu melihat Dika dengan tatapan sedikit memaksa untuk meminta maaf. Akhirnya dengan tatapan supermu Dika pun meminta maaf pada Dinda muridmu yang menangis. Kamu membawa Dinda duduk di dekatmu dan terus mengajaknya untuk tidak menangis lagi.

Tiba-tiba ada anak yang berlari menghampirimu dan berkata “Kak Vi em Hana nangis juga”
“Kenapa lagi, kok bisa?” tanyamu pada anak itu.
“Gak tau kak, tiba-tiba aja nangis” jawab anak itu padamu.
“Oke deh, bawa Hananya ke sini kakak lagi ngajar nih!” serumu pada anak itu.
“Hana nya nagis terus tuh kak, lihat aja di sana, megang-megang kepalanya” jelas anak itu padamu.

Kamu langsung berdiri dan menggendong Hana ke tempat Dinda yang masih menangis. Kamu bingung dengan keadaan itu. Kamu melihat dua anak menangis. Kamu juga masih belum selesai mengajar.

Akhirnya Allah membantu mu. Beberapa saat kemudian mereka berhenti menangis di dekatmu. Kamu terlihat bagaikan seorang ayah yang memiliki banyak anak-anak yang lucu. Kamu bahagia bisa mengajar mereka. Walaupun hanya mengajarkan menbaca dan menulis iqro dan Al-Quran.

Itu lah kisah nyata tentangmu di bulan Ramadan 1438 H kemarin. Kisah tentang kamu di sore menjelang magrib.

“Bahagia bukan hanya karena memiliki sesuatu yang luar biasa, tapi bahagia itu membagikan sesuatu yang kita miliki walaupun tidak terlalu luar biasa”

Pokoknya Lailatul Qadr Jangan Sampai Lolos

Pokoknya Lailatul Qadr Jangan Sampai Lolos

 

Tahukah kamu Sob kalau ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan? Yak benar sekali Malam Lailatul Qadr. Lailatul Qadr ialah malam penuh berkah, oleh karena itu momen ini harus kita maksimalkan sebaik mungkin Sob. Seperti yang diriwayatkan oleh. ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha:

 

كَانَ النَّبِىُّ gإِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

Apabila Nabi  Shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.”

 

Lalu bagaimana cara kita memburu Lailatul Qadr? Caranya adalah dengan memperbanyak Salat Malam, membaca Al-Quran, zikir, berdoa, membaca shalawat, tasbih, istigfar, I’tikaf, dan lainnya. Imam at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan yang lainnya telah meriwayatkan dari Ummul Mukminin, Aisyah RA, ia berkata: ‘Aku bertanya: ‘Wahai Rasulullah, jika aku telah mengetahui kapan malam Lailatul Qadar itu, maka apa yang aku katakan pada malam tersebut?’ Beliau menjawab: ‘Katakanlah:

 

اَللّٰهُمَّ إنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

 

‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’

(Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).

 

 

 

I’tikaf Yuk Sob!

I’tikaf Yuk Sob!

 

Sob hari ini kami akan membahas seputar Itikaf da panduan selama Itikaf nih, kami yakin kalau kamu semua pasti ngeh kalau bulan Ramadan selalu identik dengan I’tikaf di masjid. Nah asal kamu tahu Sob jika ditilik secara bahasa I’tikaf berarti menetap, sedangkan menurut istilah berarti berdiam diri di masjid dalam rangka menjalankan ibadah yang disunahkan untuk dikerjakan di setiap waktu dan diutamakan pada bulan suci Ramadan dan dikhususkan sepuluh hari terakhir untuk mengharapkan datangnya Lailatul Qadr.

Perintah melaksanakan I’tikaf telah tertuang dalam Al-Quran:

… فَاْلآَنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ اْلأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا
الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللهِ فَلاَ تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللهُ آَيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

Artinya: …maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hinggga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu berI’tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka jangan kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertaqwa.” [QS. al-Baqarah: 187]

Dan dalam hadis sahih HR. Bukhari & Muslim:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berI’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.” [HR. Bukhari & Muslim]

 

Sebelum melaksanakan I’tikaf kamu KUDU tahu syarat-syarat yang harus ditunaikan sebagai panduan agar I’tikaf berjalan baik dan penuh berkah, antara lain:

1. Orang yang melaksanakan I’tikaf beragama Islam
2. Orang yang melaksanakan I’tikaf sudah baligh, baik laki-laki maupun perempuan
3. I’tikaf dilaksanakan di masjid, baik masjid jami’ maupun masjid biasa
4. Orang yang akan melaksanakan I’tikaf hendaklah memiliki niat I’tikaf
5. Orang yang ber-I’tikaf tidak disyaratkan puasa, artinya orang yang tidak berpuasa boleh melakukan I’tikaf.

 

Lalu apa saja amalan yang dapat kamu laksanakan selama I’tikaf? Ada empat amalan utama yang dapat Haqers lakukan selama menjalani I’tikaf di masjid diantaranya:

  1. Melaksanakan salat sunat, seperti salat tahiyatul masjid, salat lail, dan lain-lain
  2. Membaca al-Qur’an
  3. Berzikir dan berdo’a
  4. Membaca buku-buku agama

 

 

Semoga tulisan kami di atas bisa memandumu sebelum melaksanakan I’tikaf ya Sob. Semangat!

Maksimalkan Sepuluh Hari Terakhir Ramadan Dengan Cara Ini Sob!

Maksimalkan Sepuluh Hari Terakhir Ramadan Dengan Cara Ini Sob!

 

Wah Alhamdulillah kita semua telah memasuki sepertiga akhir Ramadan lho Sob, gak kerasa ya Ramadan akan meninggalkan kita. Meski Ramadan mulai beranjak pergi namun kamu bisa memaksimalkan waktu yang ada dengan melakukan lima kegiatan di bawah ini supaya puasamu lebih berfaedah.

 

1. Menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan

 

Menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan dilakukan dengan mengajak keluarga untuk meningkatkan kualitas ibadah. Hal ini menunjukkan kesungguhan untuk mendapatkan keutamaan di 10 malam terakhir Ramadan.

 

2. Memperbanyak bersedekah

 

Rasulullah dikenal sebagai seorang yang pemurah. Ia juga sangat dermawan dengan menyedekahkan hartanya. Saat Ramadan, tingkat kedermawanan beliau bertambah dari sebelumnya. Sebagaimana dinyatakan oleh Ibn Abbas ra, “Baginda Rasulullah Saw. adalah orang yang amat pemurah. Pada bulan Ramadan beliau menjadi lebih pemurah lagi.” (Mutaffaq ‘alaih).

 

3. Memperbanyak membaca Al-Qur’an

 

Ada banyak keutamaan membaca Al Quran, terlebih pada bulan Ramadan. Beberapa keutamaan itu diantaranya adalah semakin mendekatkan diri kepada Allah. Membaca Al Quran juga memperoleh dua pahala yakni pahala membaca dan pahala susah payahnya: “Orang yang membaca Al-Qur’an dengan mahir adalah bersama para malaikat yang mulia lagi ta’at, sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dengan tergagap dan susah membacanya baginya dua pahala.” (Hadits Muttafaq alaih).

 

4. Memperbanyak salat malam

 

Bulan Ramadan, selain diwajibkan untuk berpuasa sehari penuh, malamya disunahkan untuk melakukan salat malam yang dikenal dengan salat tarawih. Selain memperoleh pahala, salat tarawih juga akan menghapus dosa-dosa kita yang telah lalu. “Barangsiapa melakukan qiyam Ramadan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759).

 

5. I’tikaf

 

I’tikaf artinya berdiam diri di masjid selama beberapa waktu dengan niat beribadah kepada Allah. I’tikaf sebenarnya bisa dilakukan di setiap waktu, namun, di sepuluh hari terakhir Ramadan ini bisa menjadi kesempatan untuk lebih bersungguh-sungguh.

Hmm Enaknya Olahan Kurma Ini, Buat Yuk!

Sob jangan lemes gitu dong. Nah supaya kamu tetap semangat berpuasa kita butuh asupan energi baik, salah satunya dari kurma. Tapi kalau kamu kamu kamu dan kamu bosan dengan olahan kurma yang itu-itu saja yuk kita bikin resep Bubur Candil Ketan Kurma untuk berbuka puasa kiriman dari Kak Khusnul Chotimaa.
Bahan candil :
400 g Kurma Golden Palm
140 g tepung ketan
2 sdm terigu protein sedang
120 ml air hangat
1/2 sdt garam
Bahan bubur :
800 ml air
100 g gula merah, sisir
3 lbr daun pandan, simpulkan
1/2 sdt garam
2 sdm tepung tapioka, larutkan dengan 3 sdm air
Bahan santan :
300 ml santan kental
1/2 sdt garam
1 lbr daun pandan, simpulkan
.
*Masak semua bahan sambil diaduk hingga mendidih.
Cara Membuat :
• Belah kurma jangan sampai putus lalu buang bijinya. Sisihkan.
• Campur tepung ketan, terigu dan garam, aduk rata.
• Tuangi air hangat, aduk2 sampai adonan bisa dipulung.
• Ambil sedikit adonan, lalu masukkan ke dalam kurma yang sudah dibelah. Lakukan hingga adonan habis.
• Rebus gula merah, air, daun pandan, dan garam hingga mendidih, angkat, saring.
• Panaskan kembali air gula merah tadi lalu masukkan kurma candil, masak hingga candil matang.
• Setelah candil matang, tuang larutan tapioka, aduk dan masak hingga meletup2. Angkat.
• Sajikan bubur candil bersama kuah santan.

Orang tuamu Kudu Tahu Cara Jitu Agar THR Aman Di Sini Sob!

Orang tuamu Kudu Tahu Cara Jitu Agar THR Aman Di Sini Sob!

Kalau ingat Tunjangan Hari Raya (THR) pasti deh langsung ingat Hari Raya, dan kita semua pasti menanti-nanti siapa tau kita kecipratan juga kan? Alhamdulillah kan untuk Lebaran nanti hehe. Nah tapi kamu perlu memberi tahu orangtuamu nih Sob kalau kami punya strategi jitu agar THR aman terkendali. Kami harap strategi berikut bisa membantu orang tuamu di rumah dalam mengatur THR.

 

1. Buat Lebaran

Lebaran sudah dekat maka dapat dipastikan kalau orang tua di rumah pasti membuat rancangan pengeluaran khusus Lebaran sedini mungkin. Sampaikan kepada mereka Sob supaya jangan sampai lebih menuruti keinginan pribadi untuk berbelanja di luar rancangan pengeluaran yang telah dibuat ya.

 

2. Melunasi Kewajiban

Jika orang tua kita ternyata memiliki hutang atau diharuskan melunasi kewajiban lainnya ada baiknya sampaikan pada mereka untuk memprioritaskan uang THR sehingga bisa menutup semuanya. Kita harus ingat ketika kita meninggal kelak dan membawa hutang maka kita akan terhalang masuk surga meskipun mati syahid. Wallahualam.

3. Buat Bersedekah

Kalau anggaran Lebaran dan THR orang tua kita berlebih ada baiknya memanfaatkan uang THR untuk keperluan produktif dengan bersedekah atau berdonasi. Dengan melakukan dua hal tersebut maka kita telah berinvestasi jangka panjang di dunia dan di akhirat.

Nah kamu juga bisa berbagi dengan mendukung program pendidikan bagi anak marjinal melalui nomor rekening 2881 2881 26 BNI Syariah a.n. Dompet Dhuafa Republika sertakan kode 24 di belakang nominal donasi, misalnya Rp 100.024.

Ketika Bukaan Puasa Meninggalkan Kenangan Menakjubkan

Ketika Bukaan Puasa Meninggalkan Kenangan Menakjubkan

Oleh: Kabul Hidayatullah

Alumni SMART Angkatan 8 berkuliah di Universitas Indonesia

 

Takjil dan Ramadan sepertinya sudah seperti sahabat karib yang tak terpisahkan. Setiap kali bertemu Ramadan (hampir) selalu kita pikirkan takjil apa sore ini? Atau ketika akan berbuka kita sering bertanya-tanya: “Loh, takjilnya mana? Tumben nggak barengan?”

Ah takjil dan Ramadan memang sudah menjadi kawan yang akrab.

Begitu juga dengan Ramadan saya tahun lalu dan kali ini. Intensitas perjumpaan dengan takjil lebih sering dari biasanya. Di Ramadan tahun ini saya sudah menjelma menjadi seorang mahasiswa, saya juga diberikan amanah menjadi Ketua Lembaga Dakwah Asrama Universitas Indonesia atau Sahabat Asrama UI. Kalau biasanya kami menyediakan takjil untuk para mahasiswa sepekan sekali (khusus untuk mereka yang berpuasa sunah), sekarang hampir tiap hari.

Selesai dengan takjilan dan Salat Magrib, tugas saya selanjutnya ialah mengkoordinasi massa (baca: mahasiswa asrama) menuju Masjid UI menggunakan kendaraan identik, yak Bus Kuning. Pelaksanaan Salat Isya serta Tarawih khusus mahasiswa asrama UI memang dipusatkan di masjid kampus agar lebih semarak. Ya begitulah, Ramadan sebagai mahasiswa asrama terkadang membawa pikiran saya terbang ke masa lima tahun lalu sewaktu masih berasrama di SMART Ekselensia Indonesia.

Ramadan, sahur, buka puasa, dan tarawih adalah hal paling berkesan untuk saya. Tentu saja  karena kesemuanya tidak akan bisa ditemukan di sebelas bulan lain, dan masa-masa Ramadan di SMART adalah cerita lain. Cerita lain karena satu bulan penuh plus Lebaran saya habiskan dengan keluarga lain (baca: teman-teman asrama) karena kami semua tak pulang ke kampung halaman. Begitulah nasib anak rantau yang berjuang menuntut ilmu. Cerita lain karena banyak kenangan bersama para pembelajar sejati dengan rasa; tekad; dan semangat berjuang yang sama.

Lain padang lain pula belalang. Ketika sahur, jika anak-anak di sebuah keluarga dibangunkan dengan cara kekeluargaan, maka berbeda dengan kami yang dibangunkan menggunakan bel super cempreng (yang meninggalkan kesan teramat sangat di telinga). Belum lagi ustaz-ustaz pembina asrama yang rajin mengetuk pintu kamar sambal berkata: “Assalamu’alaikum. Ayo bangun tahajud dulu” atau untuk kesekian kali, “Ayo bangunkan temannya, sebentar lagi imsak tuh”.

Pun ketika siang hari (biasanya ba’da Zuhur), jika para ustaz menjumpai kami terlelap setelah membaca Quran di masjid, maka mereka akan membangunkan kami melalui pengeras suara. Tak pelak hal tersebut membuat kami ketar ketir, bahkan beberapa nampak masih setengah tertidur ketika bangun dari mimpi indahnya. Ada-ada saja memang.

Saat matahari condong ke barat, murotal sore mulai diputar seantero asrama. Itu tanda untuk kami yang masih saja berolahraga (walau berpuasa tapi main futsal atau latihan silat tetap berjaln) di lapangan untuk segera pulang dan bebersih lalu ke masjid. Di masjid, kami mengambil mushaf masing-masing lalu mencari tempat “semedi” terbaik untuk bekomunikasi dengan Sang Khalik. Jelang Magrib biasanya kami mengadakan nobar alias nonton bareng. Film Islami seputar perjuangan Sahabat Nabi seperti Umar bin Khattab menjadi pilihan jitu, karena mampu membakar semangat kami. Puas menyaksikan film, kegiatan selanjutnya kami habiskan untuk mendalami kisah tesebut hingga menjelang azan. Kala itu saya sering melihat kakak-kakak SDS (SMART Discipline Squad) membagikan takjil diberbagai penjuru masjid sambil memberi tanda centang di buku absensi angkatan.

Mungkin buka bersama untuk segelintir orang menjadi sangat istimewa, namun bagi kami waktu berbuka adalah waktunya kebersamaan dengan format yang tak dapat dijumpai di tempat bukber manapun. Di SMART ketika waktu berbuka tiba maka seluruh siswa dibagi menjadi beberapa kelompok kecil berisi sekitar sepuluh orang. Setiap kelompok berisikan seluruh angkatan (dari yang termuda sampai yang paling senior), oleh karenanya momen ini menjadi momen membaur dan momen keakraban antar angkatan.

Maka ketika ditanya berkesankah Ramadan di SMART ? Maka jawabannya adalah: “Bagaimana tidak?” Ketika saya diminta membuat tulisan seputar Pengalaman Ramadan Berkesan ini, iseng-iseng saya turut membuka laman web SMART, web almamater tercinta. Tiba-tiba saya jadi rindu dengan suasana SMART, dengan takjilannya, dengan antrean ketika mengambil takjil, dengan tidurnya, dengan ustaz-ustazahnya, dengan kenangannya, dan dengan semuanya. Rindu. (KH x AR)