,

Saatnya Milenial Berjuang Lewat Tulisan!

Saatnya Milenial Berjuang Lewat Tulisan!

Oleh: Syahrizal Rachim

Alumni SMART Angkatan XI Berkuliah di UNPAD Jurusan Hukum

 

Kebudayaan nusantara merupakan salah satu hal yang saat ini menjadi perbincangan hangat diantara para pelajar di Indonesia. Para pelajar berlomba-lomba untuk menciptakan kreasinya sendiri untuk mewariskan budaya yang ada di Indonesia.

 

Hal ini menjadikan kegiatan jurnalistik menjadi sebuah kegiatan yang sangat penting untuk mengenalkan budaya kepada siapa saja. Peliputan budaya-budaya dengan kreatif dan pengemasan media menjadi menarik membuat para “penikmat” hasil karya jurnalistik semakin tergugah untuk mencintai budaya Indonesia.

 

Semangat para jurnalis muda di sekolah seharusnya mendapatkan dukungan dari berbagai pihak untuk menyukseskan pelestarian budaya yang ada di negeri ini.

 

Berbagai macam pelatihan mengenai cara mengelola karya jurnalistik sangatlah diperlukan di tengah minimnya kegiatan literasi untuk mengenal budaya di sekolah. Program desa budaya yang ada di berbagai daerah mampu menjadi pengembang budaya pada masyarakat. Siswa-siswa sebaiknya lebih mengetahui industri pembuatan barang kebudayaan, sehingga pada akhirnya berbagai peninggalan budaya di Indonesia dapat terus berkembang untuk mempercepat pengembangan karakter siswa.

 

Sebab itu penanaman literasi sangat dibutuhkan oleh generasi milenial saat ini agar kelak bisa menyuarakan banyak hal melalui tulisan, karena jika tindakan tak dapat mengubah bangsa siapa yang tahu jika tulisan malah mampu menjadi penggerak. Maka berkaryalah!

 

 

  

 

 

,

Ini Dia, SMART, Sekolah Penuh Semangat!

Ini Dia, SMART, Sekolah Penuh Semangat!


“Selamat ya mas Azzam, sekarang kamu sudah resmi menjadi anak SMA. Jangan lupa belajar dan berdoa, ya nak. Insha Allah kamu pasti bisa meraih semua impianmju. Umi selalu mendoakan yang terbaik buat mas Azzam”.

Itulah pesan ibu ketika saya menunjukan rapor SMP semester terakhir kala itu. Saya ingat betul ada kata ‘Lulus’ terpampang di sana dan membuat saya tak jenuh melihatnya terus menerus.

Nama saya Muhammad Ikram Azzam. Saat ini saya berumur 16 tahun dan berasal dari Jakarta, saya merupakan alumni SMART Angkatan IX, saat ini saya berkuliah di UNJ Jurusan Sastra Arab. Sungguh tak terasa lima tahun saya merantau ke Kota Hujan untuk bersekolah di SMART Ekselensia Indonesia. Di sini saya berjuang demi menggapai impian menjadi seorang diplomat bergelar cendikiawan muslim. Banyak sekali keseruan dan keceriaan yang hadir dalam rutinitas yang saya jalani selama mengenyam pendidikan di SMART, selain bersekolah kala itu saya juga disibukkan dengan berbagai kegiatan sekolah dan kegiatan di luar sekolah. Saya pernah menjabat Ketua OSIS periode 2016/2017, saya juga didapuk menjadi Duta Gemari Baca oleh Makmal Pendidikan, dan saya juga berhasil menyabet Pemustaka Jawara Pusat Sumber Belajar (PSB) Makmal Pendidikan serta mengikuti Konferensi Forum OSIS se-Jawa Barat di Bandung dua tahun lalu.

Di SMART saya bisa bertemu teman-teman hebat dan cerdas dari seluruh Indonesia, buat saya itu adalah pengalaman paling berkesan dari sekian banyak pengalaman yang saya dapat. Saya juga merasa terhormat karena bisa diajar oleh pengajar hebat yang SMART miliki. Para guru di SMART membuat saya semakin mengerti akan arti perjuangan, tanpa lelah mereka terus menyemangati saya untuk mengejar impian  agar tak pupus di tengah jalan.

Berbicara mengenai impian, saya jadi teringat kenapa saya ingin sekali menjadi seorang diplomat. Dulu ketika masih duduk di Sekolah Dasar saya rajin membaca ensiklopedia tentang  peradaban dunia, saya tertarik dengan keragaman dan kerukunan yang digambarkan di sana. Dari situ saya membayangkan jika suatu hari saya bisa menjelajah dan mengeksplorasi kemegahan dunia sambil menyuarakan dan menciptakan kedamaian di dunia, saya pikir hanya diplomat yang bisa seperti itu. Tekad saya untuk meraih mimpi semakin kuat apalagi didukung oleh teman-teman dan para guru, kata menyerah seakan tak ada lagi dalam kamus hidup saya.

Kini saya sudah menjadi mahasiswa, perjuangannya terasa lebih berat namun saya menikmatinya demi menggapai cita. Saya akan terus berjuang agar bisa menghatrumkan nama SMART dikancah dunia. Pesan saya kepada adik-adik kelas, jangan pernah patah semangat karena kondisi, karena kondisi hanya kitalah yang bisa mengubahnya.

,

SMART Bagaikan Peta

SMART Bagaikan Peta

Oleh: Wayan Muhammad Yusuf

Alumni SMART Angkatan 8 berkuliah di Universitas Brawijaya

 

 

Asrama. Sekolah. Asrama. Sekolah. Asarama lagi. Sekolah lagi. Yah begitulah keseharian kami di SMART Ekselensia Indonesia. Dikatakan bosan, gak juga. Tapi dibilang gak bosan, namun tak dapat digambarkan. Hampir lima tahun saya berada di SMART, selama di sini saya cukup mengerti arti jauh dari keluarga dan arti “terkekang” dalam aturan. Di tulisan ini saya tak akan bercerita tentang suka duka selama di SMART atau suka duka ketika jauh dari keluarga, melainkan tentang peta. Hah? Peta? Hubungannya apa coba? Ada, pasti ada.

 

Saya teringat cerita seorang guru, kata-katanya yang paling saya ingat adalah: “Nasihat (aturan) itu ibarat sebuah peta”. Tuh kan ada hubungannya sama peta. Lalu maksudnya bagaimana? Begini, SMART itu tak seperti sekolah lain pada umumnya dan kami yang ada di sini bisa dikatakan tidak seperti anak-anak di luar pada umumnya. Di sini kami harus taat pada aturan ini dan aturan itu. Terus kalo tak taat aturan dihukum? Paling dibotaki dan ujung-ujungnya dikeluarkan dari SMART. Eh lupa kok malah dijawab duluan. Saya lanjutkan dulu ya pesan guru saya: “Mungkin saat ini orang yang kita nasihati tidak mengikutinya. Ibarat orang akan terus berjalan tidak pada tempatnya, tapi apa yang membedakan antara orang yang dinasihati dan yang tidak? Bedanya –kalau misalnya- orang yang diberi peta ingin selalu berjalan pada tempatnya dan menjadi lebih baik, maka dia hanya perlu melihat peta tersebut. Berbeda dengan orang yang tak mempunyai peta, dia pasti bingung untuk mengambil jalan yang mana jika ia ingin berubah haluan.

 

Benar gak? Masih belum percaya? Saya paparkan beberapa pengalaman saya ya, saya mengenal seorang teman di SMART EI, di akhir semester ia menyatakan ingin berubah dan memutuskan untuk menghafal beberapa juz Al-Quran. Lalu kenapa dia memilih untuk menghafal Al-Quran? Jawabannya karena ia ingat nasihat yang disampaikan guru Al-Qurannya tentang keutamaan menghafal Quran, Quran itu diibaratkan peta yang akan membimbing kita semua ke jalan yang lebih baik. Dengan Quran juga kita takkan mudah tersesat karena Quran akan selalu memandu kita.

 

Sekarang sudah mengerti dong korelasi antara nasihat dengan peta? Di SMART mereka yang menurut akan aturan merupakan orang-orang yang mengikuti peta, mereka ingin menjadi lebih baik dan baik lagi walau mungkin terbersit perasaan jenuh. Sedangkan mereka yang dibotaki atau bahkan dikeluarkan dari SMART merupakan orang-orang yang tidak mengikuti atau bahkan menolak menggunakan peta.

 

Nah untuk adik-adik kelas saya di SMART, SMART bukanlah penjara; aturannya juga bukanlah kungkungan, walaupun terkadang aturannya terkesan “memaksa” namun dari sanalah kalian akan mampu untuk menggambarkan petamu sendiri walau mungkin saat ini kalian tidak mengerti, namun di masa depan pastilah sangat berguna.

Temanku Si Sunyi

Temanku Si Sunyi

Karya Muhammad Habibur Rohman

Alumni SMART Angkatan 9 Berkuliah di FIB UNS

 

Bagi Kesunyian

Bagi kesunyian

Hening adalah bunga

Atau semacam cahaya

Yang menyala di rimbun angkasa

 

Bagi kesunyian

Senyap bukan ketiadaan

Atau tahun-tahun yang usang

Yang begitu jauh dan terlupakan

 

Sajak ini, bagimu

Hanyalah semacam nyanyian

Pada suatu pagi, pada sebuah kesunyian

 

Ramadan dan SMART. Sebuah Kisah di Masa Lalu

Ramadan dan SMART. Sebuah Cerita

Syahrizal Rachim. Alumni SMART Angkatan 10. Berkuliah di UNPAD Jurusan Hukum

 

Ini adalah kisahku selama menjalani Ramadan di SMART, sebuah kisah yang tak akan pernah aku lupa walau sudah tak lagi bersekolah di sana. Beberapa bagian dari kisah ini mungkin sudah tak relevan, tapi aku harap kamu bisa menikmatinya.

“… waktu telah menunjukan pukul empat pagi. Segera bangun dan santap sahur di kantin!,” seru seorang wali asrama kami yang membangunkan siswa-siswa tercintanya untuk santap sahur melalui pelantang suara.

Hari itu masihlah sangat gelap. Ayam-ayam pun belum sempat berkokok tanda mentari masih malu-malu menampakan dirinya. Akan tetapi,kami sudah harus bangun dan bersemangat memulai aktivitas di bulan penuh ampunan ini. Santap sahur secara bersama-sama mengawali aktivitas harian kami di bulan ini. Sebenarnya tidak ada perasaan sahur yang berbeda dengan sahur di bulan-bulan lainnya karena di asrama pun kami sudah dibiasakan sahur untuk menjalankan puasa sunnah. Lantas,setelah dirasa cukup kenyang, kami langsung bersiap menuju masjid untuk melaksanakan salat subuh berjamaah. Banyak siswa yang memaksimalkan waktu untuk mencapai target tilawah di bulan penuh berkah.

Kegiatan belajar di sekolah secara reguler tetap dilaksanakan walau ada sedikit perbedaan kegiatan di siang hari,yaitu kultum yang disampaikan oleh para ustad. Mereka tidak bosan-bosan untuk memotivasi siswa agar memaksimalkan potensi ibadah kita. Matahari yang semakin menuruni langit menjadi tanda akan dilaksanakannya  buka puasa bersama. Buka puasa bersama menjadi momen menjalin silaturahim dan melepas penat secara menyenangkan setelah berpuasa seharian penuh. para siswa biasanya dibagi dalam kelompok-kelompok kecil sesuai dengan nama sahabat rasul dari kelas satu hingga lima.

Momen kece selanjutnya adalah salat tarawih. Seluruh siswa diwajibkan mengikuti salat tarawih secara tertib dan berjamah. Hampir tidak ada yang berbeda dari pelaksanaan salat tarawih kebanyakan, kami tidak luput untuk menambah tabungan tilawah setelahnya. Buku-buku pelajaran sekolah telah menanti untuk dibaca sebelum kami beristirahat menutup hari yang indah di bulan penuh rahmat ini. Kebetulan, pelaksanaan Penilaian Akhir Tahun bertepatan dengan ramadhan. Akan tetapi, kami tetap bersemangat dan fokus meraih hasil ujian yang terbaik.

Setelah bergulat dengan soal-soal ujian, akhirnya, tiba juga liburan akhir semester. Dalam liburan kali ini, diisi dengan berbagai kegiatan menyemarakkan Ramadan. Dari sisi kreativitas dan seni, terdapat lomba menghias kamar dan asrama dan menghias parsel . Setiap siswa saling bekerja sama mengembangkan kreativitas dan potensi untuk meraih hasil yang terbaik. Tak pelak, seluruh sudut asrama penuh dengan dekorasi bertema Ramadan, sahabat nabi, kota-kota bersejarah, dan lainnya. Parsel-parsel lebaran juga disulap menjadi rapi dan menarik serta memilliki nilai yang lebih tinggi.

Dari sisi olah suara,terdapat lomba azan. Para muazin-muazin terbaik SMART saling beradu kemampuan untuk menjadi yang terbaik dalam kompetisi ini. masing-masing pemenang lomba mendapatkan hadiah menarik dan pastinya memotivasi kita untuk menjadi lebih baik dalam semarak Ramadan.

Setelah asik berkecimpung dalam dunia lomba-lomba, pada malam 17 Ramadan, diadakanlah sebuah acara untuk memperingati pertama kali diturunkan Al-Quran, Nuzulul Quran. Setiap siswa dibagi menjadi beberapa halaqoh untuk menuntaskan tilawah 30 Juz. Setelah tilawah usai, ustad-ustad memberikan kajian tentang keutamaan Al-Quran dan memberikan penghargaan kepada siswa dengan tilawah terbanyak. Tak disangka, banyak diantara teman-temanku mendapatkan penghargaan tersebut. Hal ini semakin menguatkan semangatku untuk selalu berusaha terbaik.

Disaat sepuluh malam terakhir,terdapat sebuaha kegiatan yang menjadi rutinitas ku selama Ramadan, Itikaf. Dalam kegiatan Itikaf, siswa-siswa disebar ke berbagai masjid untuk melaksanakan sunnah nabi tersebut. Di sana kami tidak hanya sekadar beristirahat melainkan menambah keberkahan Ramadan dengan mengikuti kajian-kajian, bertilawah, dan salat tarawih serta tahajud berjamaah. Banyak diantara kami saling bercengkrama dengan sesama peserta itikaf ldari berbagai untuk saling menebar keceriaan dan pesan-pesan Ramadan.  Malam yang paling kami nantikan dan harapkan akan tiba, Lailatul Qadar. Walaupun tidak ada yang tahu persis kapan ada Lailatul Qadar, tetapi beberapa sumber banyak yang menyebutkan bahwa malam yang lebih baik daripada 1000 bulan tersbut jatuh pada tanggal ganjil di 10 malam terakhir Ramadan. Banyak peserta Itikaf yang bersungguh-sungguh dalam beribadah untuk mendapatkan kesmpatan malam yang penuh dengan kedamaian tersebut

Selain mengikuti Itikaf, beberapa teman kami terpilih untuk mengikuti kegiatan Homestay. Dalam kegiatan Homestay,dipilihlah beberapa siswa menginap bersama kelurga donatur untuk saling berbagi keceriaan di bulan penuh kemuliaan. Selain itu, dengan mengikuti Homestay, diharapkan mendapat  inspirasi-inspirasi untuk menggapai kesuksesan di masa depan.

Di masa pengujung bulan kemuliaan, sebuah aktivitas yang kami nantikan akhirnya tiba, takbiran. Seluruh siswa bersuka cita menyambut datangnya Idul Fitri sekaligus sedih ditinggal bulan yang penuh dengan rahmat dan hidayah. Semoga Ramadan-Ramadan selanjutnya kita lebih maksimal beribadah dan banyak menebar keceriaan serta senyuman impian sesama umat manusia.

Selamat Idul Fitri 1440H ya Sob!

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1440H, Sob!

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَا وَمِنْكُمْ. جَعَلَنَا الله وَإِ يَّاكَ مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ كُلُّ عَامٍّ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ

Semoga Allah SWT, menerima amal kita semua dan kita termasuk orang-orang yang kembali suci serta selalu dalam kebaikan aamiin. Selamat berlibur ya Sob!

Mohon maaf lahir dan batin

Kamu Kudu Tahu Sunah Idul Fitri Di Sini!

Kamu Kudu Tahu Sunah Idul Fitri Di Sini!

 

Hari Raya Idul Fitri menjadi hari spesial bagi Muslim seluruh dunia, namun ada baiknya sebelum merayakan Idul Fitri kita melaksanakan sunnah Nabi seperti yang akan kami jelaskan di bawah ini:

 

Pertama: Ketika akan melaksanakan Salat Ied kita dianjurkan membersihkan badan dengan mandi dan memakai wangi-wangian. Dari Ibnul Qoyyim rahimahullah: “Dan Nabi Saw. memakai pakaian yang paling indah pada dua hari raya, maka beliau memiliki pakaian khusus yang dipakainya pada dua hari raya dan hari Jum’at”.

 

Kedua: Sebelum melaksanakan Salat Ied kita disarankan untuk makan terlebih dulu. Dari Anas Ra: “ Rasulullah Saw. tidak keluar pada pagi hari Iedul Fitri sehingga beliau memakan beberapa biji kurma dan beliau memakannya dalam jumlah yang ganjil”.

 

Ketiga: Pergi satu jalan dan pulang dari jalan yang lain. Dari Jabir ra berkata: Bahwa Rasulullah Saw. pada hari Ied (pergi dan pulang) pada jalan yang berbeda.

 

Keempat: Disunahkan mengerjakan Salat Ied di tanah lapang

 

Kelima: Mengumandangkan takbir sejak tenggelamnya matahari pada malam Ied dan diwajibkan sebagian ulama berdasarkan firman Allah Swt. dalam surat Al Baqarah ayat 185.

 

Keenam: Mengucapkan selamat di Hari Raya Iedul Fitri. Diceritakan dari sebagian sahabat bahwa mereka berkata pada hari Ied:

تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ

(Taqabbalallahu minna wa minkum)

Yang artinya, semoga Allah menerima (puasa dan amal) dari kami dan (puasa dan amal) dari kalian.

Dalam riwayat sahabat dan salafush shalih yang sampai kepada kita, jawaban taqabbalallahu minna wa minkum adalah doa yang sama: taqabbalallahu minna wa minkum.

 

Ketujuh: Bergembira pada Hari Raya Idul Fitri. Imam Abu Dawud menerangkan dari hadis sahabat Anas berkata: “Pada suatu waktu Nabi datang ke Madinah, di sana penduduk Madinah sedang bersuka ria selama dua hari. Lalu Nabi bertanya “Hari apakah ini (mengapa penduduk Madinah bersuka ria)?” mereka menjawab ”dulu semasa zaman jahiliyah pada dua hari ini kami selalu bersuka ria”. Kemudian Rasulullah Saw. bersabda “Sesungguhnya Allah Swt. telah mengganti dalam Islam dua hari yang lebih baik dan lebih mulia yaitu Idul Adha) dan Idul Fitri”.

 

Yuk Baca Surat Al-A’la Ayat 87 Bareng Kami Sob

Surah Al-A’la adalah surat ke 87 dalam Al Qur’an tergolong surat makiyyah yang terdiri atas 19 ayat. Dinamakan Al A’laa berarti Yang Paling Tinggi diambil dari perkataan Al A’laa dan terdapat pada ayat pertama surat ini.

“Kami akan membacakan (Al Quran) kepadamu (Muhammad) Maka kamu tidak akan lupa. Kecuali kalau Allah menghendaki. Sesungguhnya dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi” (QS. 87: 6-7).

Allah menjaga wahyu dan kitab-Nya dengan menurunkan malaikat Jibril yang terus memantau hafalan Nabi Muhammad Saw. dan mengeceknya terus. Sebagian ulama mengartikan bahwa Nabi Muhammad Saw dikaruniai hafalan sangat kuat sehingga tidak akan lupa. Kecuali hal-hal yang dikehendaki oleh Dzat Yang Maha Tahu. Dan hal tersebut tidak terjadi.

Tradisi Lebaran Ini Cuma Ada di Indonesia Sob!

Tradisi Lebaran Ini Cuma Ada di Indonesia Sob!

Seperti yang kamu tau Sob kalau Lebaran menjadi momen paling ditunggu umat muslim di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia, sebab saat perayaan Lebaran lah tradisi-tradisi unik naik ke permukaan. Kami yakin kamu pasti penasaran kan dengan tradisi unik Lebaran di Indonesia? Berikut empat tradisi Lebaran yang bisa kamu temui di Indonesia.

1. Beli baju baru

Salah satu tradisi yang rutin dilakukan orang Indonesia saat menjelang lebaran ilah membeli baju baru. Tak perlu heran jika mendapati pusat perbelanjaan besar bak pasar rakyat karena pengunjungnya tumpah ruah memenuhi tiap sudut lokasi diskon di sana.

 

2. Mudik

Untuk para perantau Lebaran menjadi momen sakral untuk pulang ke kampung halaman setelah sekian lama tak menemui sanak saudara. Pulang ke kampung halaman alias mudik menjadi tradisi yang pasti dilakukan setiap menjelang Lebaran. Uniknya para pemudik ini membawa banyak sekali barang dari kota sebagai buah tangan untuk saudara yang ada di kampung halaman.

 

3. Takbiran keliling

Malam menjelang Lebaran ialah malam paling dinanti, suasana di jalanan terlihat sangat meriah dengan takbiran keliling. Anak-anak hingga orang dewasa turut memeriahkan kegiatan ini sembari memekikkan kalimat takbir sebagai tanda kemenangan keesokan hari.

 

4. Halalbihalal

Halalbihalal atau saling mengunjungi sanak saudara dan kerabat untuk saling bermaaf-maafan menjadi tujuan dari Lebaran itu sendiri. Sebagai hari suci, Idul Fitri akan terasa sia-sia jika tidak saling meminta maaf dan saling memaafkan. Selain untuk ajang maaf-maafan, Halalbihalal juga menjadi ajang silaturahmi untuk saling mengunjungi tetangga dan anak saudara sambil menikmati ragam santapan khas Lebaran.

Saatnya Kita Raih Kemuliaan Malam Qadr Sob

Saatnya Kita Raih Kemuliaan Malam Qadr Sob

 

“Sesungguhnya kami telah menurunkan Al-Quran pada malam Qadar. Dan tahukah kamu apa malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar” (QS Al-Qadr 1-5).

 

Sob, yuk manfaatkan 10 hari terakhir Ramadan ini untuk raih kemuliaan di malam Qadar! Caranya? Perbanyak ibadah di malam hari, bisa tilawah, salat malam, berzikir, tafakur (kontemplasi) dan lain-lain. Jangan biarkan kemuliaan malam Qadar berlalu begitu saja, nanti menyesal lho. Allah sendiri yang menjamin kemuliaan malam Qadar lho Sahabat, seperti yang disenandungkan Ihsan, santri Ekselensia Tahfizh School (e-Tahfizh).

 

Oh iya, sedekah juga termasuk salah satu amalan yang bisa memeriahkan malam kemuliaan. Yuk, sama-sama kita manfaatkan momen ini untuk membantu sahabat kami di e-Tahfizh agar bisa mendapatkan pendidikan yang berkualitas.

 

Donasi dapat kamu kirimkan melalui BNI Syariah 2881 2881 26 a.n Yys Dompet Dhuafa Republika. Sertakan kode “14” di belakang nominal donasi, contoh : 500.014. Saatnya kita berlomba-lomba meraih kemuliaan malam Qadar di penghujung Ramadan ini. Semoga kita semua layak mendapatkan gelar takwa karenanya. Aamii.