Kalo Gak Jago Silat, Bukan Anak SMART!

 

 

Tahukah kamu Sob kalau sejak 2009 SMART Ekselensia Indonesia (SMART) membuka ekstrakulikuler Pencak Silat sebagai upaya mengasah kemampuan bela diri para siswanya serta menjaga kelestarian budaya bangsa? Nah SMART selalu mendorong kami untuk terus berprestasi, tak tanggung-tanggung SMART telah menorehkan prestasi mumpuni hingga tingkat nasional. Minggu (17/11), empat teman kami mengikuti Kejuaraan Silat Nasional Indonesia Perisai Diri Cup 3 di Kampus UIN Ciputat, perhelatan nasional tahunan ini digadang-gadang menjadi barometer pesatnya peminatan pemuda terhadap Pencak Silat. Wow.

 

satu-satunya perempuan di sana itu teman kami Sob, berbeda perguruan tetapi tetap satu untuk mewujudkan pancak silat dikenal generasi milenial

 

“Sebelum bertanding kami rutin latihan dan menjaga pola makan agar dapat melakukan yang terbaik ketika memasuki arena,” ujar Rama, Kelas 5 IPA asal Yogyakarta. Menurutnya ini bukan kali pertama SMART mengikuti kejuaraan silat nasional Sob. “SMART sudah sering mengikuti pertandingan Pencak Silat tingkat nasional, mengikuti kejuaraan membuat kami memahami strategi ketika bertanding,” tambahnya.

 

 

 

Setelah melewati serangkaian pertandingan, teman kami yang mengikuti Kejuaraan Silat Nasional Indonesia Perisai Diri Cup 3 berhasil menggondol 3 Medali Emas serta 1 Medali Perak dan berhasil menyabet gelar Pesilat Terbaik, keempat teman kami tersebut antara lain Agil Munawar: Peraih Medali Emas dan Pesilat Terbaik, M. Tsalats Ramadhani Masykur: Peraih Medali Emas, Syarif Andi Nurrohman: Peraih Medali Emas, dan Izat Hamdanil: Peraih Medali Perak.

 

 

“Kami bangga bisa kembali membawa nama baik sekolah di kancah nasional, kami juga bangga bisa menjadi bagian dari Pencak Silat yang sudah dikenal di mancanegara sebagai jenis seni bela diri. Kami sebagai penerus generasi bangsa akan terus menjaga Pencak Silat sebagai salah satu tradisi yang ada di Indonesia dan telah diwariskan dari generasi ke generasi,” tandas Rama. (AR)

Serunya GIIAS Educare Caring with Dompet Dhuafa, Bikin Kami Makin Semangat

 

Sob apakah kamu akan menolak jika ditawari pengalaman baru yang akan memperkaya hidup? Kalau kami sih akan mengambil tawaran itu agar bisa menjadi pribadi lebih keren lagi. Nah sebagai bukti kalau kami tak akan melewatkan tawaran mumpuni, kemarin kami menghadiri undangan eksklusif GIIAS Educare Caring with Dompet Dhuafa dari GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) lho. Pada kegiatan ini kami diajak menyelami ragam dunia otomotif yang belum kami ketahui sebelumnya.

Acaranya sendiri diadakan kemarin (24/07) di ICE Bumi Serpong Damai (BSD).  120 siswa SMART ambil bagian di kegiatan GIIAS Educare Caring with Dompet Dhuafa ini, wow kebayang kan banyaknya?

Di kegiatan GIIAS Educare Caring with Dompet Dhuafa kami tak hanya melihat mobil-mobil teranyar mentereng melainkan juga mengikuti workshop bersama para ahli otomotif dan mereka yang ahli di bidang tersebut. Peserta workshop-nya bukan hanya kami, ada beberapa sekolah lain turut bergabung.

Selama mengikuti workshop mental kami digembleng supaya kelak bisa menjadi manusia tak tersesat. Seperti yang disampaikan Om Iwan Pranoto, SPV Communication, Event & Service Management PT. Astra, jika hidup itu tidak seperti sungai yang mengalir tapi kitalah yang menentukan ke mana arah aliran tersebut.

“Kalau kalian punya mimpi yang terpenting adalah fokus untuk meraihnya. Karena dalam mencapai semua mimpi tersebut banyak cobaan dan rintangan. Saat kita ingin meraih impian, terjatuh adalah hal yang wajar. Terpenting adalah bagaimana kita bisa belajar dari keterpurukan,” ujar Om Iwan penuh semangat.

Ia menambahkan, berbuat kesalahan adalah hal bagus karena kita bisa belajar dari kesalahan tersebut, namun semua akan menjadi masalah ketika kita selalu membuat kesalahan yang sama berulang kali. Selama Om Iwan berbicara kami hanya bisa terpaku karena materinya pas sekali untuk kami yang sedang mengejar mimpi.

Selesai mengikuti workshop, kami diajak berkeliling melihat-lihat “kekayaan” jagat otomotif yang tak pernah kami ketahui sebelumnya. Kami berdecak kagum meihat kecanggihan teknologi mobil-mobil terkini di hall-hall yang kami kunjungi, jujur mengunjungi booth mobil-mobil keren semakin membuat kami semangat agar tak pantang menyerah menggapai mimpi.

Kami teringat pesan Om Iwan sebelum berpamitan “Kamu lahir miskin itu bukan salahmu, tapi kalau kamu mati miskin itu salahmu”. Sebuah pesan penuh tamparan kalau jalan perjuangan kami masih panjang.

Sudah saatnya Sob kita tanam bibit-bibit semangat dalam diri supaya kita semua bisa menjadi yang terbaik versi masing-masing. Ingat mimpi itu dikejar, bukan ditunggu :).

Terima kasih GIIAS dan Dompet Dhuafa untuk kesempatan emas ini.

Serunya Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah di SMART

Sebuah awal baru, tempat baru, dan suasana baru tentu membutuhkan proses adaptasi. Begitu pun dengan lingkungan sekolah. Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) menjadi sarana proses adapatasi siswa baru terhadap lingkungan sekolahnya.

Bagaimana dengan di SMART?

Tentu sebagai salah satu sekolah yang berada di bawah Diknas, SMART menjalankan MPLS sebagai menu pembuka tahun ajaran baru bagi siswa-siswa barunya.

Sebagai sekolah berasrama yang terdiri dari jenjang SMP-SMA tentu siswa baru di SMART adalah lulusan dari SMP SMART sendiri. Lantas untuk apa diadakan MPLS jika siswa-siswanya telah mengenal lingkungannya sendiri?

Selain sebagai kegiatan refreshing pikiran setelah liburan pulang kampung selama hampir 2 bulan, MPLS tahun 2019 ini juga menjadi ajang perkenalan siswa baru. Yup, tahun 2019 menjadi edisi perdana SMART membuka pendaftaran siswa SMA dari luar sehingga siswa lama yang notabenenya lulusan SMP SMART mendapatkan teman-teman baru.

Alasan penting lainnya adalah sistem pembelajaran yang berbeda. Hal ini dikarenakan SMA SMART Ekselensia menerapkan program SKS sehingga pengenalan program tersebut penting untuk dilaksanakan.

Diawali dengan pengenalan profil sekolah menggenai seluk-beluk direksi kepemimpina sampai kegiatan ekstrakulikuler. MPLS 2019 melakuka start di hari Selasa, 16 Juli 2019. Dilanjutkan dengan materi literasi yang membuka cakrawala pengetahuan bahwa literasi bukan hanya tentang baca dan tulis tetapi juga tentang bagaimana cara berpikir kritis.

Sejalan dengan kurikulum 2013 yang mengedepankan pendidikan karakter. MPLS 2019 juga menghadirkan materi-materi pendidikan akhlak seperti kedisiplinan dan adab-adab belajar seperti halnya takzim kepada guru.

Wawasan kebangsaan disampaikan dengan materi kesatuan dan persatuan di  era disrupsi tentang bagaimana menjaga, membangun dan memperbaiki persatuan dan kesatuan di tengah keterbukaan data dan menjaga keimanan di tengah kemaksiatan yang merajalela.

Tak hanya kegiatan indoor saja. MPLS 2019 juga terintegrasi dengan kegiatan kepramukaan. Sehingga kegiatan menjelajah menjadi salah satu kegiatan seru yang hadir di MPLS termasuk yel-yel kreatif dari setiap kelompok yang membuat MPLS semakin berwarna.

Dengan semangat REKONSTRUKSI PERADABAN. MPLS menjadi gerbang untuk menjawab pertanyaan perjuangan apa yang akan kamu lakukan untuk Indonesia.

Tanda Tanya

Puisi Kontemporer Oleh: Anggi Nur Cholis, Alumni SMART Angkatan IX

KAMU?

0 watt

1 watt

5 watt

20 watt

50 watt

100 watt -lampu

 

*penjelasan singkat: manusia itu ibarat lampu. Semakin besar energi dalam lampu semakin terang, bermanfaat, dan makin mahal harganya. Begitu pun manusia. Semakin besar energi posotof dalam diri sesorang semakin hebat, bermanfaat, dan makin dihargaioleh orang lain. Energi positif  itu bisa berupa apa saja. Mulai dari semangat, rasa empati, rasa menghormti, atau pun yang lainnya, asalkan energi itu berupa energi positif.

 

 

Pengalaman Seratus Juta Rupiah Bersama CATCHPLAY Indonesia

Wah sudah memasuki hari ketiga beraktivitas di sekolah nih Sob. Gimana? Sudah bisa menyesuaikan diri dengan pelajaran di sekolah dong? Alhamdulillah sama, kami juga. Oh iya Sob kemarin (16/07) kami mampir ke Gedung Philantropy Dompet Dhuafa untuk menghadiri acara serah terima donasi bersama CATCHPLAY Indonesia. CATCHPLAY sebagai perusahaan penyedia layanan streaming film berbasis daring (online) di Indonesia menyerahkan donasi sebesar Rp100.000.000 melalui Dompet Dhuafa Pendidikan untuk SMART Ekselensia Indonesia lho Sob.
Donasi ini merupakan hasil dari kampanye #SedekahSeruCATCHPLAY yang dimulai pada 1 Mei hingga 9 Juni 2019 lalu. Program #SedekahSeruCATCHPLAY mengajak para pengguna setia CATCHPLAY untuk berdonasi sebesar Rp3000 dari setiap transaksi koleksi Single Rental, donasi ini secara otomatis disisihkan tanpa menaikan harga normal Single Rental.
Melalui program ini CATCHPLAY dan DD Pendidikan bersinergi untuk meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa di bidang pendidikan. Pak Roy Soetanto, Chief Marketing Officer, APAC, CATCHPLAY berharap #SedekahSeruCATCHPLAY menjadi langkah awal untuk membangun awareness para movie lovers terhadap sesama.
“Kami harap program ini mampu membawa perubahan bagi para penerima manfaat. Kami percaya sekecil apapun kontribusi kita, akan sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan,” kata Pak Roy Soetanto dalam sambutannya.
Dalam kesempatan kemarin kami juga berkesempatan untuk berbincang banyak hal seputar dunia film dengan kakak-kakak CATCHPLAY. Mbak Lesley, Associate Director CATCHPLAY, berpesan kalau kami harus rajin belajar dan terus semangat dalam menggapai mimpi kami.
“Karena tidak ada yang tidak mungkin selama kalian punya keinginan kuat untuk maju,” kata Mbak Lesley penuh semangat. Kami manggut-manggut tanda mengerti. “Jangan lupa untuk selalu berdoa dan meminta doa kepada orang tua agar apapun yang kalian lakukan berkah,” tuturnya.
Kami sangat berterima kasih kepada CATCHPLAY atas kebaikan dan pengalaman yang tak terlupakan. Semoga CATCHPLAY kian maju dan semakin banyak movie lovers yang menyaksikan film kece di CATCHPLAY.

Cara Ini Bisa Para Guru Terapkan Agar Mengajar di Kelas Lebih Menyenangkan!

“Wah, hari ini Rizky lagi deh yang jadi guru, Zah,” ujar Fatiur sambil menghampiri saya yang sedang berjalan menuju kelas setelah menikmati makan siang.

Ya, siang itu saya memang memperhatikan kalau Rizky belum menyelesaikan makan siangnya bersama beberapa orang teman sekelasnya. Apa hubungan makan siang dengan menjadi guru? Bukankah harusnya saya yang setelah makan siang ini mempunyai jadwal mengajar di kelas mereka? Mengapa Fatiur berujar seperti itu?

Ide ini muncul begitu saja. Suatu ketika saya menyelesaikan makan siang lebih cepat dari biasanya sehingga saat saya memasuki kelas sebagian besar siswa belum masuk. Hanya ada beberapa siswa yang sedang asyik bersenda gurau. Ketika melihat banyak kursi siswa yang masih kosong, saya memutuskan untuk duduk di samping salah seorang siswa. Mengajak mereka bercerita. Satu per satu siswa yang lain masuk dan menduduki kursinya masing-masing.

Lima menit menjelang bel masuk berbunyi, tersisa empat kursi kosong, yang artinya masih ada empat siswa belum memasuki kelas. Tanpa perencanaan tiba-tiba saja terlontar kalimat, “Siapa yang telat dan enggak kebagian kursi, jadi guru, ya. Ustazah mau merasakan jadi siswa hari ini.”

Beneran, Zah?”

“Ustazah mau jadi siswa? Terus yang ngajar kita siapa?”

“Tugas yang jadi guru apaan, Zah?” para siswa langsung berkomentar.

Namanya juga ide dadakan, saya jadi bingung saat ditanya para siswa.

“Nanti gurunya bertugas membuka pelajaran dan memberikan motivasi buat siswanya. Ustazah ikutan jadi siswa. Yang ngasih materi tetap Ustazah,” jelas saya.

“Wah, seru nih!” seorang siswa berkata sambil langsung mengambil posisi duduk. Takut tidak kebagian kursi.

Seorang siswa tiba-tiba saja beranjak dari posisi duduknya dan berjalan keluar kelas. Saya sempat berpikir mengapa dia malah meninggalkan kursinya, sedangkan teman-temannya berebutan untuk duduk.

 “Ayo buruan masuk. Yang terakhir masuk dan tidak kebagian kursi nanti bakalan jadi guru lho!”

Oh, ternyata ia ingin mengingatkan teman-temannya yang masih berada di luar kelas.

Beberapa siswa yang masih berada di luar kelas pun berlari menuju kelas. Berusaha sekuat tenaga dan secepat mungkin menemukan kursi yang masih kosong. Tak peduli harus bertabrakan dengan kursi atau meja. Yang terpenting bagi mereka saat itu adalah menemukan kursi untuk duduk dan menghindari tugas jadi guru.

“Alhamdulillah!” Devon akhirnya bisa bernapas lega setelah mendapatkan kursi. Disusul satu per satu siswa lain yang juga mendapat kursi. Saya melihat satu siswa masih berdiri, namanya Rizky, siswa yang berasal dari Bandung.

Rizky pun saya minta maju ke depan untuk membuka pelajaran. Rizky bisa enggak ya? Apakah setelah ini ia akan malu? Apakah ia akan merasa kesal? Berbagai pertanyaan melintas di kepala saya. Saat itu, saya berusaha mengondisikan Rizky agar nyaman dengan posisinya. Untungnya, teman-temannya mendukung posisi Rizky yang saat itu jadi guru.

“Saya harus ngapain, Zah?” tanya Rizky.

“Rizky nanti membuka kelas. Sama seperti Ustazah membuka kelas seperti biasanya. Nanti Rizky tunjuk salah seorang siswa untuk memimpin doa dan tilawah,” jelas saya kepada Rizky.

“Oke, Zah, siap.”

Wah, ternyata pikiran bahwa Rizky akan malu dan tidak mau melaksanakan tugasnya harus saya buang jauh-jauh. Rizky malah terlihat bersemangat dan penuh percaya diri. Rizky semakin menikmati posisinya sebagai guru saat seorang temannya mengingatkan cita-citanya.

Ayo, Ki. Kan katanya kamu mau jadi guru. Nah, mumpung sekarang punya kesempatan manfaatkanlah!”

“Ustazah jadi siswa kan? Saya minta Ustazah untuk memimpin doanya,” pinta Rizky.

“Let’s pray together,” saya memimpin doa dalam Bahasa Inggris karena setiap Rabu di SMART Ekselensia Indonesia ada program English Day. Guru-guru wajib membuka pelajaran dengan Bahasa Inggris.

Setelah siswa membaca doa, Rizky langsung melanjutkan tugasnya dengan menanyakan kabar kami. “How are you this morning?”

Pertanyaan Rizky langsung kami jawab, “Alhamdulillah. Extraordinary. Keep spirit. Keep smile. Allahu Akbar!”

Tanpa saya duga Rizky langsung melanjutkan pembukaan kelas saat itu sesuai dengan kebiasaan saya. Rizky berteriak, “Physic!” Serempak kami pun menjawab, “Yes… yes… yes… we can!”

Ritual pembukaan berlanjut dengan tilawah dan sesi motivasi dan alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar. Siswa-siswa terlihat bersemangat. Ide spontanitas ini pun akhirnya menjadi kebiasaan saya di kelas tersebut sampai satu semester berakhir. Saya melihat ini sebagai sebuah kegiatan positif. Siswa bisa melatih rasa percaya dirinya untuk berbicara di depan teman-temannya. Dan saya melihat siswa-siswa pun menikmatinya. Setiap Rabu siang, mereka akan selalu bertanya-tanya siapakah yang akan jadi guru hari itu.

Serunya Hari Pertama Sekolah di SMART

Siapa sangka kalau liburan 50 hari berlalu dengan sangat cepat, tiba-tiba saja hari ini kami sudah memasuki Hari Pertama Sekolah. Berbeda dengan Hari Pertama Sekolah di sekolah lain, di SMART Hari Pertama Sekolah kami habiskan dengan mengikuti kegiatan Outbond-nya SMART yang diikuti sekitar 230 siswa Sob. Kegiatan ini merupakan  cara SMART membangkitkan semangat belajar kami dan mengeratkan tali kekeluargaan diantara siswa, guru, dan pihak-pihak yang berhubungan langsung dengan SMART.

Kegiatannya banyak sekali Sob, rata-rata dipenuhi tantangan yang mengasah kemampuan kami dalam memimpin dan membangun kerjasama tim, tentu saja hal ini sejalan dengan misi SMART untuk menciptakan pemimpin unggul di masa depan.

Di setiap sudut lapangan sekolah terlihat wajah-wajah ceria teman kami yang mengikuti ragam tantangan, namun ada juga yang khawatir tak dapat menyelesaikan tantangan dengan baik. Kalau sudah begitu guru kami akan menenangkan dengan berkata “jangan khawatir, anggap saja ini tantangan yang akan kalian hadapi nanti di masa depan”. Kalimat tersebut cukup membuat kami tenang sampai akhirnya mampu menyelesaikan misi dengan baik.

Oh iya sampai lupa kegiatan Outbond SMART diadakan di Lapangan Sepakbola SMART Sob. Kakak-kakak dari Concept Creation dan para guru memfasilitasi kegiatan yang berlangsung sedari pagi hingga sore ini dengan sangat baik. Alhamdulillah kegiatannya menyenangkan sekali dan membuat kami semakin siap menghadapi semester baru di tahun ajaran baru di pertengahan tahun 2019.

Ayo kamu juga semangat dong Sob, jangan sampai liburan terlalu lama membuat kamu mager hingga tak ada gairah untuk menggapai cita. Ingat masa depanmu kamu yang menentukan lho!

Apa Kabar SMART? Kami Kembali!

 

Satu  bulan. Iya satu bulan serasa seperti satu minggu. Rasa liburan sekolah dan liburan Lebaran baru dimulai beberapa hari lalu, tiba-tiba hari ini kami sudah harus kembali ke SMART. Kulirik matahari menyembul malu-malu di balik jendela kereta yang kunaiki, sinarnya hangat membuatku kembali terlelap.

Aku terbangun dari tidur pulasku di kereta, ternyata keretaku masih tertahan di sebuah stasiun yang ku tak tahu apa namanya. Pandanganku kosong, seharusnya kalau tak tertahan mungkin aku akan sampai di SMART setelah Zuhur. Aku tak mau waktuku terbuang begitu saja, maka kulahap buku SBMPTN dan UN yang telah kupersiapkan sebelumnya. Iya sekarang aku sudah kelas 5, sudah harus mempersiapkan banyak hal demi masuk PTN impian.

Menit berubah jam, rasanya perjalanan menuju SMART lama sekali, aku menatap sekeliling tampak wajah-wajah cemas dan tak sabaran teman-temanku yang lain. Ah mungkin mereka juga merasakan yang kurasakan. Lalu aku kembali terpekur ke buku yang kubaca, lalu aku kembali terlelap.

Aku terkejut karena ada tangan yang membangunkanku, ah ternyata sebentar lagi kami akan memasuki Stasiun Senen, “Alhamdulillah,” ujarku dalam hati. Pukul 11.30 kami sampai juga di SMART, dengan tertib kami menuruni tangga bus dan mengambil barang bawaan kami yang super duper banyak layaknya pemudik. Tapi memang kami baru pulang mudik hehe.

Foto 2

Waaah senang rasanya memasuki lapangan apel yang sudah kami kenal bertahun-tahun, tiba-tiba kulihat antrean mengular di depan Ruang Ex Guru. Ooooh ternyata sedang ada pemeriksaan barang-barang yang kami bawa.

Foto 3

“Lalu kenapa harus diperiksa?”

Setiap tahun memang seperti ini Sob, sebab siapa yang tahu beberapa dari kami membawa barang terlarang kan? Karena lebih baik mencegah dan mengantisipasi  daripada nantinya malah membawa dampak tidak baik ke depannya. Selama beberapa lama menunggu akhirnya pemeriksaan selesai dan tak ditemukan satu pun hal ganjil di barang bawaan kami, Alhamdulillah.

Asramaaaa kami dataaaaang!

Berbondong-bondong kami menaiki tangga asrama, barang bawaan kami tentu saja berat tapi tak menyurutkan langkah ceria kami menapaki anak tangga, riuh rendah suara kami membahana di selasar. Tanpa banyak bicara kami bersegera mengeluarkan baju dalam koper dan memasukannya ke dalam lemari, membagi oleh-oleh menjadi beberapa bagian untuk guru serta warga Dompet Dhuafa Pendidikan, dan terakhir kami membersihkan kamar bersama-sama.  Senangnyaaaa bisa berjumpa teman-teman seperjuangan lagi.

Foto 9 Foto 10

Bebersih asrama selesai, saatnya bebersih diri karena Salat Asar akan segera tiba. Kami menuju masjid dengan hati gembira, selepas salat kami makan bersama di Aula Makan SMART lalu segera ke ruangan masing-masing untuk melepas kangen (kembali).

***

Azan Subuh memanggil kami yang terlelap dibalik hangatnya selimut, beberapa dari kami berinisiatif untuk membangunkan yang lain. Gontai kami berjalan ke arah masjid, namun semangat kami untuk menuntaskan kewajiban tetap besar. Lepas Subuh segelintir angkatan melakukan berbagai aktivitas di asrama, mulai dari mencuci, mengobrol, bercanda, mencuci, dan tidur lagi.

Foto 12

Foto 13

Foto 15 Foto 16

Senin  nanti kami –terutama yang duduk di Kelas 5- akan disibukkan dengan jadwal belajar yang padat merayap dan akan sangat sesak karena harus fokus untuk sidang karya ilmiah, Try Out (TO), Ujian Nasional (UN), SNMPTN, dan SBMPTN. Untuk adik-adik kelas kami mereka akan disibukkan dengan banyaknya ulangan dan lainnya. Semua sibuk, semua memprioritaskan banyak hal, semua ingin meraih yang terbaik, dan kami yakin kami bisa mencapai yang ingin kami capai.

***

Satu tahun. Jelas bukanlah waktu yang sebentar, tetapi kami yakin keluarga kami di kampung halaman mengerti bahwa di perantauan kami tengah berjuang menggapai mimpi. Mimpi tinggi untuk membuat mereka bangga.

Foto 17-Cover

Satu hal yang pasti Pulang Kampungnya SMART tahun ini banyak hal berkesan kami dapatkan, banyak pengalaman berharga kami petik, banyak cinta dan kasih yang diberikan orang-orang tersayang. Kami rindu kampung halaman, namun rasa rindu ini akan kami dekap dalam hati, jadi ketika masanya tiba semua rindu akan tercurah tanpa henti.

Pak, bu, adik, kakak, paman, bibi, nenek,kakek, kami semua di sini baik-baik saja. Mohon doanya selalu dan sampai jumpa di Pulang Kampungnya SMART tahun depan :”). (AR)

 

Meski Ramadan telah berlalu namun kenangan menjalankan puasa di SMART tak akan pernah aku lupakan. Aku yang sekarang telah menyandang status mahasiswa selalu merindukan masa-masa di mana bisa berbuka bersama teman-teman di asrama. Mengobati rasa rindu itu aku menuliskan pengalamanku kala mengikuti program HOME STAY sebagai pengingat kalau Ramadan di SMART tak tergantikan.  

 

Pengalaman HOME STAY yang Tak Akan Pernah Kulupakan

Oleh: Aldi Maulana, Alumni SMART Ekselensia Indonesia Angkatan IX

 

Pertengahan Ramadhan tahun 2012 tiba. Siswa SMART Ekselensia Indonesia diprogramkan untuk beriktikaf di masjid-masjid selama liburan dua minggu menjelang Idul Fitri. Karena kala itu aku baru kelas 1 SMP, aku beriktikaf di Masjid Al-Insan, masjid yang berada di lingkungan Dompet Dhuafa Pendidikan. Kelas yang lebih besar dari kelasku beriktikaf di luar lingkungan SMART, ada yang sampai Ciputat.

Bagi sebagian temanku, iktikaf di luar lingkungan SMART terasa menyenangkan. Ada suasana baru, katanya. Tapi, aku lebih suka di masjid sekolah karena aku belum terbiasa dengan lingkungan asing.

Satu dua hari aku memang masih bisa menikmati. Barulah pada hari ketiga aku mulai bosan tinggal di dalam masjid. Tiga hari saja sudah terasa bosan, apalagi dua minggu. Walau begitu, aku berusaha untuk bertahan. Bocoran dari kakak kelas, dua minggu itu tidak hanya melaksanakan iktikaf, tetapi ada kegiatan lainnya yakni HOME STAY. Aku yang masih hijau kebingungan karena belum pernah mendengar HOME STAY, daripada larut dalam penasaran akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya kepada kakak kelas.

“Kak, HOME STAY itu apa sih?” tanyaku. “HOME STAY itu program tahunan untuk mengajak anak SMART berlebaran dan tinggal selama beberapa hari bersama donatur DD Pendidikan,” jawabnya.

Mendengar jawaban itu aku mulai merasa tidak bosan tinggal di masjid. Aku juga berpikir kenapa harus bosan di masjid padahal berada di dalamnya diniatkan untuk ibadah. Dua hari kemudian aku mendapat kabar dari ustaz yang beriktikaf bersama kami bahwa aku dan temanku Ade mendapat undangan untuk HOME STAY bersama donatur yang katanya seorang Perwira TNI. Aku dan Ade tentu saja sangat senang karena tidak semua siswa mendapatkan mengikuti program ini.

Karena sudah tak sabar setiap hari aku menunggu kabar penjemputan, katanya sih donatur akan menjemput kami. Lalu aku mendapat kabar dari ustaz kalau jadwal HOME STAY untukku dan Ade dibatalkan karena sang donatur ada urusan lebih penting. Mendengar penjelasan itu, aku dan Ade kecewa dan sedih. Aku berusaha bersabar dan berkata dalam hati bahwa mungkin itu bukan rezekiku.

Hari kecewa dan sedih sudah berlalu. Waktunya untuk semangat lagi dengan memperbanyak ibadah. Satu minggu berlalu aku pun sudah mengkhatamkan Alquran. Saat itu pun aku senang karena baru pertama kali aku mengkhatamkan Alquran. Setelah khatam, aku tidak berhenti membaca Alquran, aku pun mulai dari awal lagi. Tidak lama kemudian aku mendapat kabar lagi dari ustaz yang beriktikaf bersama kami bahwa aku mendapat undangan HOME STAY lagi dari donatur lain. Kali kedua itu tidak hanya aku, ada Ade, Kak Dian, dan Kak Umar. Kami semua sangat senang, setelah itu aku langsung bersyukur pada Allah.

Seperti biasa, sebelum berangkat HOME STAY kami menunggu jemputan dari donatur. Detik demi detik berlalu, menit demi menit berlalu, jam demi jam berlalu. Tidak sia-sia aku bersabar akhirnya datang juga kesempatanku untuk merasakan HOME STAY. Aku berangkat dua hari sebelum Lebaran menggunakan mobil yang dipesan khusus untuk kami.

Saat aku sampai di tujuan, tampak di kejauhan rumah bagus dengan halaman luas, dan banyak sepeda. Kalau kuhitung dalam satu area itu ada empat rumah. Rumah ke satu adalah rumah yang mengantar kami, rumah kedua rumah saudaranya; di sanalah aku dan Ade tinggal. Rumah ketiga dan keempat masih rumah kerabat donatur. Jadi bisa dibilang kalau satu area itu satu keluarga.

Saat masuk rumah aku merasa malu dilihat orang tua HOME STAY ku. Saat masuk ke dalam rumah aku langsung disuruh duduk oleh orang yang dipanggil ‘Bapak’. Aku dan Ade ditanya nama asal daerah, kelas, dan cita-cita.

Tidak lama kemudian seorang wanita keluar dari kamar mandi dengan membawa anak kecil yang baru saja dimandikan. Beliau bertanya kepada kami hal yang sama, setelah itu kami disuruh menyimpan barang-barang kami di kamar. Kami disuruh mandi terlebih dulu sebelum akhirnya diminta ke meja makan untuk berbuka puasa bersama.

Aku senang sekali karena baru pertama kali datang sudah diajak berbuka puasa bersama. Berbukanya pun dengan sup buah. Setelah berbuka bersama kami langsung pergi ke masjid untuk melaksanakan Salat Magrib berjamaah. Sepulangnya ke rumah, aku menonton televisi terlebih dahulu sembari menunggu Azan Isya. Setelah azan berkumandang, kami kembali ke masjid untuk melaksanakan Salat Isya dan Tarawih. Keesokan harinya, setelah Salat Subuh pagi-pagi sekali kami diajak bersepeda mengelilingi kompleks.

Pada malam takbiran atau semalam sebelum Lebaran, aku diberi baju lebaran yang sangat bagus. Setelah itu aku dan Ade diajak makan malam bersama. Saat itu banyak keluarga Bapak dan Ibu berdatangan untuk silaturahmi Aku merasa malu, saat itu hanya aku, Ade, Kak Dian dan Kak Umar saja yang bukan anggota keluarga mereka. Padahal, sebenarnya aku dan yang lainnya dianggap sebagai keluarga oleh Bapak dan Ibu. Malam itu langit dihiasi kembang api yang meledak-ledak di udara. Tak terasa malam sudah menjemput, rasa kantuk sukar dielakkan. Aku pun langsung ke kamar untuk tidur.

Keesokan harinya kami berangkat untuk menunaikan Salat Idul Fitri. Setelah salat kami mengunjungi tetangga untuk bersilaturahmi; setelah itu, kembali ke rumah untuk menyambut tamu yang datang.

Di Lebaran kedua, aku dan Ade diajak Bapak dan Ibu ke Bandung. Di Bandung aku tinggal bersama anak-anak Bapak dan Ibu. Saat diajak aku sangat senang sekali karena tempat saudara yang mau dikunjungi itu dekat dengan rumahku. Alhamdulillah aku bisa bertemu ibu walaupun hanya sebentar.

Setelah ibuku pulang, kami langsung kembali lagi ke Bogor.

 

Ah kenangan itu rasanya baru saja terjadi kemarin, ternyata sudah tujuh tahun berlalu. Aku berdoa semoga Ibu dan Bapak donatur yang mengajakku HOME STAY selalu sehat dan diberi selalu dalam lindungan Allah Swt. aamiin.

 

Kuncupku di Pojok SMART

Oleh: Muhammad Habibur Rohman

Malam yang bunga
Jejak bulan di angkasa

Sekuntum bintang kecil
Seharum kerlip kantil

Di sini, tinggal mata menuju tua
Di sini, kuncup rindu senyap di dada

Way Halim, 2017