Serunya GIIAS Educare Caring with Dompet Dhuafa, Bikin Kami Makin Semangat

Serunya GIIAS Educare Caring with Dompet Dhuafa, Bikin Kami Makin Semangat

 

Sob apakah kamu akan menolak jika ditawari pengalaman baru yang akan memperkaya hidup? Kalau kami sih akan mengambil tawaran itu agar bisa menjadi pribadi lebih keren lagi. Nah sebagai bukti kalau kami tak akan melewatkan tawaran mumpuni, kemarin kami menghadiri undangan eksklusif GIIAS Educare Caring with Dompet Dhuafa dari GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) lho. Pada kegiatan ini kami diajak menyelami ragam dunia otomotif yang belum kami ketahui sebelumnya.

Acaranya sendiri diadakan kemarin (24/07) di ICE Bumi Serpong Damai (BSD).  120 siswa SMART ambil bagian di kegiatan GIIAS Educare Caring with Dompet Dhuafa ini, wow kebayang kan banyaknya?

Di kegiatan GIIAS Educare Caring with Dompet Dhuafa kami tak hanya melihat mobil-mobil teranyar mentereng melainkan juga mengikuti workshop bersama para ahli otomotif dan mereka yang ahli di bidang tersebut. Peserta workshop-nya bukan hanya kami, ada beberapa sekolah lain turut bergabung.

Selama mengikuti workshop mental kami digembleng supaya kelak bisa menjadi manusia tak tersesat. Seperti yang disampaikan Om Iwan Pranoto, SPV Communication, Event & Service Management PT. Astra, jika hidup itu tidak seperti sungai yang mengalir tapi kitalah yang menentukan ke mana arah aliran tersebut.

“Kalau kalian punya mimpi yang terpenting adalah fokus untuk meraihnya. Karena dalam mencapai semua mimpi tersebut banyak cobaan dan rintangan. Saat kita ingin meraih impian, terjatuh adalah hal yang wajar. Terpenting adalah bagaimana kita bisa belajar dari keterpurukan,” ujar Om Iwan penuh semangat.

Ia menambahkan, berbuat kesalahan adalah hal bagus karena kita bisa belajar dari kesalahan tersebut, namun semua akan menjadi masalah ketika kita selalu membuat kesalahan yang sama berulang kali. Selama Om Iwan berbicara kami hanya bisa terpaku karena materinya pas sekali untuk kami yang sedang mengejar mimpi.

Selesai mengikuti workshop, kami diajak berkeliling melihat-lihat “kekayaan” jagat otomotif yang tak pernah kami ketahui sebelumnya. Kami berdecak kagum meihat kecanggihan teknologi mobil-mobil terkini di hall-hall yang kami kunjungi, jujur mengunjungi booth mobil-mobil keren semakin membuat kami semangat agar tak pantang menyerah menggapai mimpi.

Kami teringat pesan Om Iwan sebelum berpamitan “Kamu lahir miskin itu bukan salahmu, tapi kalau kamu mati miskin itu salahmu”. Sebuah pesan penuh tamparan kalau jalan perjuangan kami masih panjang.

Sudah saatnya Sob kita tanam bibit-bibit semangat dalam diri supaya kita semua bisa menjadi yang terbaik versi masing-masing. Ingat mimpi itu dikejar, bukan ditunggu :).

Terima kasih GIIAS dan Dompet Dhuafa untuk kesempatan emas ini.

Sekuat dan Sekokoh Teri

Sekuat dan Sekokoh Teri

 

Ada keluguan dan kelucuan jika kita mau mengamati kelakuan anak-anak daerah yang bersekolah di SMART Ekselensia Indonesia. Hal itu dapat ditemukan pada saat mereka melakukan aktivitas belajar, baik di asrama maupun di sekolah. Dua tempat itulah yang menjadikan tereksplorasikannya pengalaman menarik yang didapat dari hasil mengamati tingkah lakunya. Dua sisi keluguan dan kelucuan siswa pada tulisan ini didapat dari aktivitas mereka ketika berada di asrama.

Seperti yang tertulis pada program kerja satu tahun pengajaran SMART, target utama yang menjadi fokus kerja para guru dan wali asrama adalah keseimbangan antara pengetahuan yang berorientasi pada kognitif maupun yang mengoptimalkan peran motorik. Target proses yang bisa menjadi acuan dari para siswa adalah diperkayanya pengalaman belajar mereka. Pengalaman tersebut harus mampu menyatukan dua potensi kognitif yang berpadu dengan motorik sehingga dapat menghasilkan satu inside learning (hikmah) yang bermetamorfosis dalam tingkah laku, yang selanjutnya biasa diistilahkan menjadi satu sikap tingkah laku (afektif).

Dari sisi kognitif, bekal yang harus kita penuhi berupa wawasan guru yang baik. Hal tersebut dapat berupa wawasan pedagogik (pengetahuan mendidik) maupun wawasan profesional keilmuan (wawasan keahlian ilmu). Dua elemen pengetahuan tersebut akan berpadu membentuk sisi keragaman etos kerja dari kinerja dan dedikasi guru.

Sementara pengembangan dari sisi motorik, selain membutuhkan pembekalan strategi pengajaran dan variasi games, juga memerlukan asupan gizi yang layak dari setiap hidangan yang disajikan. Gizi makanan menjadi satu perhatian khusus yang tidak bisa ditinggalkan, baik pada saat makan pagi, makan siang, maupun makan malam.

Khusus untuk biaya makan di SMART; dalam satu hari, biaya yang harus dikeluarkan sebanyak Rp 3 juta untuk 175 siswa. Variasi makanan pun menjadi menu yang cukup bisa dinikmati di setiap harinya. Hal ini yang senantiasa digaungkan untuk menjadi satu kepedulian siswa, sebagai satu bentuk rasa syukur mereka. Bagaimanapun juga, mereka telah mendapatkan banyak nikmat: gedung sekolah yang representatif, makanan yang penuh gizi, guru yang baik, seragam, dan buku mata pelajaran. Semuanya didapat secara gratis alias tak perlu bayar sepeser pun!

Ada satu hal menarik yang pernah diungkapkan oleh salah satu siswa baru. Ketika baru dua minggu merasakan makanan di SMART, ia bertanya kepada saya.  “Ustaz Ahmad, waktu saya sekolah di SD dulu, saya diajarkan untuk selalu mengonsumsi makanan empat sehat lima sempurna. Ada sayur mayur, daging, kacang-kacangan, buah, dan susu,” ujar siswa tersebut.

“Oh begitu. Jadi, di SMART ini kamu tidak merasakan apa yang kamu ketahui sewaktu di SD dulu?” tanya saya menerka arah pembicaraan si siswa.

“Alhamdulillah, Ustaz, semua sudah pernah saya rasakan. Tapi, yang sering saya rasakan sama teman-teman, jenis makanan yang menunya baru, Ustaz. Kandungan vitaminnya juga pasti akan dirasakan baru, Ustaz.”

Saya pun terkejut. “Masya Allah, menu makanan apa itu, Nak?”

Siswa itu pun menjelaskannya dengan sangat antusias.

“Di sini, Ustaz, makanan pagi, siang, dan malam, jika kita mau polakan selama satu Minggu, masakannya tak lain memiliki menu LIMA T Plus SATU B, Ustaz.”

Saya pun langsung menimpalinya dengan pertanyaan yang lebih spesifik lagi.

“Wah, makanan apa lagi itu, ya? Saya baru mendengarnya selama hampir empat tahun mengajar di sini, lho. Makanan apa itu, Nak?”

Siswa baru itu pun dengan sigap kembali menguraikan.

“Setiap kita makan selama hampir dua Minggu, menu lauknya tak jauh dari… toge, tempe, tahu, terong, dan teri rasa baja, Ustaz. Kenapa teri ada rasa bajanya, Ustaz?”

“Itu teri kok ada rasa bajanya? Kira-kira kenapa, Nak?”

“Iya, Ustaz, karena dimasaknya kurang matang atau setengah mentah. Itu ikan teri. Jadi, alot rasanya. Susah dikunyah!”

Saya berusaha bersikap bijak menghadapi siswa baru ini.

“Oh, itu maksud dari menu dan vitamin barunya, Nak.”

“Semua yang baru tidak selamanya baik buat saya, Ustaz.”

“Apanya yang tidak baik?”

“Jika kita selalu disuguhkan yang baru-baru,” terang siswa itu, “kita akan melalaikan yang lama-lama atau yang telah lalu. Dan itu yang tidak baik, Ustaz. Ayah kandung dan ibu kandung kita kan bukan orang baru. Mereka orang yang sudah lama menemani kita, membimbing kita, mendidik kita, masak mereka mau dilupakan, Ustaz? Itu yang pertama, Ustaz.”

Saya menyimak kata-kata siswa yang luar biasa ini.

“Ada lagi yang kedua, Ustaz. Kampung kita semua jenis budayanya, makanannya, ciri khas yang menjadikan rindu ini terus ada di dalam hati. Itu semua kan keunikan yang ada di masa lalu, yang memang tidak boleh kita lupakan, Ustaz?” Saya segera menangkap arah pernyataan penuh hikmah ini.

“Subhanallah, itu yang Ustaz maksud, Nak. Jangan pernah kita terlena dengan fasilitas yang ada, bahkan hati-hati dengan fasilitas yang ada. Jika kita tidak pandai mengaturnya, fasilitas itu akan menjadi penghambat semangat belajar kita. Kalau semangat sudah terhambat, yang muncul adalah sifat malas, acuh tak acuh dengan prestasi. Yang ada, tinggal kita yang ditinggal maju oleh teman-teman kita.”

“Saya paham, Ustaz. Saya juga paham kenapa ikan teri sengaja dibuat alot.”

Saya tercekat heran. “Kenapa, Nak?”

“Teri itu sengaja dimasak alot supaya kita punya mental seperti baja. Kuat, kokoh, dan tangguh dalam belajar.”

Saya mengacungkan jempol atas jawabannya.

“Anak cerdas!” spontan saya memujinya walau di dalam hati. Dan saya tidak lupa segera mendoakan kesuksesan baginya, baik di dunia maupun di akhirat. []

 

,

Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah di SMART Tak Terlupakan

Serunya Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah di SMART

Sebuah awal baru, tempat baru, dan suasana baru tentu membutuhkan proses adaptasi. Begitu pun dengan lingkungan sekolah. Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) menjadi sarana proses adapatasi siswa baru terhadap lingkungan sekolahnya.

Bagaimana dengan di SMART?

Tentu sebagai salah satu sekolah yang berada di bawah Diknas, SMART menjalankan MPLS sebagai menu pembuka tahun ajaran baru bagi siswa-siswa barunya.

Sebagai sekolah berasrama yang terdiri dari jenjang SMP-SMA tentu siswa baru di SMART adalah lulusan dari SMP SMART sendiri. Lantas untuk apa diadakan MPLS jika siswa-siswanya telah mengenal lingkungannya sendiri?

Selain sebagai kegiatan refreshing pikiran setelah liburan pulang kampung selama hampir 2 bulan, MPLS tahun 2019 ini juga menjadi ajang perkenalan siswa baru. Yup, tahun 2019 menjadi edisi perdana SMART membuka pendaftaran siswa SMA dari luar sehingga siswa lama yang notabenenya lulusan SMP SMART mendapatkan teman-teman baru.

Alasan penting lainnya adalah sistem pembelajaran yang berbeda. Hal ini dikarenakan SMA SMART Ekselensia menerapkan program SKS sehingga pengenalan program tersebut penting untuk dilaksanakan.

Diawali dengan pengenalan profil sekolah menggenai seluk-beluk direksi kepemimpina sampai kegiatan ekstrakulikuler. MPLS 2019 melakuka start di hari Selasa, 16 Juli 2019. Dilanjutkan dengan materi literasi yang membuka cakrawala pengetahuan bahwa literasi bukan hanya tentang baca dan tulis tetapi juga tentang bagaimana cara berpikir kritis.

Sejalan dengan kurikulum 2013 yang mengedepankan pendidikan karakter. MPLS 2019 juga menghadirkan materi-materi pendidikan akhlak seperti kedisiplinan dan adab-adab belajar seperti halnya takzim kepada guru.

Wawasan kebangsaan disampaikan dengan materi kesatuan dan persatuan di  era disrupsi tentang bagaimana menjaga, membangun dan memperbaiki persatuan dan kesatuan di tengah keterbukaan data dan menjaga keimanan di tengah kemaksiatan yang merajalela.

Tak hanya kegiatan indoor saja. MPLS 2019 juga terintegrasi dengan kegiatan kepramukaan. Sehingga kegiatan menjelajah menjadi salah satu kegiatan seru yang hadir di MPLS termasuk yel-yel kreatif dari setiap kelompok yang membuat MPLS semakin berwarna.

Dengan semangat REKONSTRUKSI PERADABAN. MPLS menjadi gerbang untuk menjawab pertanyaan perjuangan apa yang akan kamu lakukan untuk Indonesia.

,

Tanda Tanya

Tanda Tanya

Puisi Kontemporer Oleh: Anggi Nur Cholis, Alumni SMART Angkatan IX

KAMU?

0 watt

1 watt

5 watt

20 watt

50 watt

100 watt -lampu

 

*penjelasan singkat: manusia itu ibarat lampu. Semakin besar energi dalam lampu semakin terang, bermanfaat, dan makin mahal harganya. Begitu pun manusia. Semakin besar energi posotof dalam diri sesorang semakin hebat, bermanfaat, dan makin dihargaioleh orang lain. Energi positif  itu bisa berupa apa saja. Mulai dari semangat, rasa empati, rasa menghormti, atau pun yang lainnya, asalkan energi itu berupa energi positif.

 

 

Mengajak Siswa Lebih Aktif Adalah Pembelajaran yang Luar Biasa

Mengajak Siswa Lebih Aktif Adalah Pembelajaran yang Luar Biasa

Bukan perkara mudah memadatkan materi Geografi kelas 5 IPS selama satu tahun menjadi hanya satu semester di SMART Ekselensia Indonesia. Kesulitan yang aku yakin hampir dialami oleh semua guru Geografi SMA, khususnya yang mengajar kelas XII IPS, karena akan menghadapi UN dan SNMPTN. Namun, inilah pembelajaran aktif dan menyenangkan yang justru akan lebih membantu siswa dalam memahami keterampilan pemetaan.

Hari itu cuaca cerah dan terik matahari menggetarkan semangat kami yang siang itu akan berjalan mengelilingi lingkungan sekolah. Aku bersama siswa kelas 5 siang ini akan melakukan praktik pemetaan untuk membuat denah sekolah. Ya, hanya membuat denah gedung sekolah. Tidak begitu luas memang, tetapi inilah pembelajaran agar siswa lebih memahami kondisi ruang tempat mereka tinggal dan beraktivitas.

Keterampilan pemetaan ini sangat dibutuhkan siswa dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam memahami ruang. Misalnya saja ketika seorang siswa yang baru melakukan perjalanan tiba-tiba tersesat ataupun kebingungan tak tahu arah pulang. Atau ketika siswa kebingungan mencari tempat strategis untuk memasang mading sekolah.

Awal praktik pemetaan ini, aku membagi siswa menjadi lima kelompok. Masing-masing kelompok sudah menyiapkan peralatan yang dibutuhkan untuk pengukuran di lapangan, antara lain kompas bidik, meteran, busur, penggaris, dan alat tulis. Kecuali alat tulis, peralatan-peralatan tersebut dipinjam dari laboratorium sekolah kami. Keterbatasan peralatan (misalnya saja kompas yang cuma ada dua) tidak menjadi halangan dalam proses pembelajaran ini.

Tahap pertama, aku mengarahkan siswa menentukan titik pusat untuk membidik arah utara dan mengetahui sudut azimuth. Pada tahap ini, siswa dituntut untuk sangat teliti dalam melihat ukuran sudut di kompas karena akan sangat menentukan arah pengukuran selanjutnya. Jika terjadi kesalahan, maka gambar denah gedung sekolah tidak akan seperti bentuk aslinya. Titik pusat atau titik awal pengukuran dimulai dari tiang bendera, kemudian kompas diarahkan ke sudut titik selanjutnya.

“Oke, sekarang lihat jarum jam di kompas dan arahkan menuju arah utara.”

“Ustazah, kok saya menghadap sini arah utaranya? Beda sama Alif?” sahut Ruly.

“Gak mungkin, pasti sama. Coba posisi badan jangan berubah-ubah, pegangnya yang benar,” jawabku meyakinkan Ruly.

“1600… 1650… 1610… 400… 1600 lebih…” lapor beberapa siswa yang membidik dengan kompas.

“400? Rasanya tidak mungkin! Coba Ustazah lihat.”

Aku sebenarnya masih ingin meyakinkan bahwa alatnya dalam kondisi baik, tetapi ketika aku lihat ternyata benar kompas itu sudah rusak. Arah utara yang ditunjukkan salah. Padahal, kompas inilah yang pernah dibawa salah seorang ustadzah ke luar negeri untuk menunjukkan arah kiblat.

“Maaf, ya, tadi Ustazah gak percaya.”

“Tuh kan, Ustazah, saya benar kan?”

Aku tersenyum mendengar perkataan siswa tersebut. Di sekolah ini, sejatinya aku masih belajar. Belajar memahami diri bahwa menjadi seorang guru tidak selalu menjadi orang yang selalu benar. Aku harus terbuka, termasuk dengan siswa, terlebih siswa yang intelektualitasnya di atas rata-rata pandai seperti di SMART ini. Tidak perlu penjelasan banyak untuk memahamkan mereka pada sebuah materi, termasuk soal penggunaan kompas karena mereka lebih bersemangat belajar dengan melakukannya sendiri.

“Learning by doing… Ustazah!” celetuk sebagian besar siswa-siswaku itu.

Aku benar-benar melihat kesungguhan mereka dalam memahami apa yang belum mereka ketahui. Aku bukan hanya melihat sosok siswa-siswa biasa, tapi siswa yang ingin sukses. Aku lantas teringat dengan kata-kata salah seorang di antara mereka, “Ustazah, saya berani meninggalkan kampung halaman dan keluarga saya, maka saya juga harus sukses dan saya yakin saya sukses. Sukses sekarang, sukses juga masa depan saya!”

 

Tahap berikutnya adalah pengukuran jarak dengan meteran. Di sini dibutuhkan kerja sama yang apik agar pengukuran jarak sebenarnya bisa cepat dan tepat. Setelah pengukuran jarak, tahapan pertama dilakukan kembali, yakni membidik arah untuk titik selanjutnya dengan kompas dan terus dilakukan pengukuran jarak di lapangan. Begitu seterusnya hingga kembali ke titik awal, setelah mengelilingi gedung sekolah.

Kegiatan ini adalah kegiatan outdoor pertama yang aku lakukan sebagai pembelajaran untuk siswa. Aku jadi bisa melihat karakter siswa dengan lebih jelas, ada yang inisiatif, kreatif, sok mengatur, serius, dan cerewet mengoordinasikan teman-temannya. Meskipun demikian, aku lihat semua siswa mau bekerja sama, baik antarsiswa di dalam kelompok maupun siswa di luar kelompok. Bagaimanapun juga, pengukuran di lapangan, khususnya mengukur gedung sekolah, sangat mengandalkan kesolidan tim, terlebih lagi alat praktiknya terbatas.

Setelah semua pengukuran selesai dilakukan, tahap berikutnya adalah menggambarkan hasil pengukuran di lapangan dengan skala tertentu. Di tahapan inilah siswa dapat memahami dengan baik peran skala peta dalam menggambarkan kondisi lingkungan asli atau ukuran sesungguhnya dengan perbandingan tertentu agar dapat digambarkan ke bidang datar yang memiliki ukuran terbatas. Masing-masing kelompok harus dapat menggambarkan ke bidang datar. Ukuran yang digunakan adalah kertas A4, dengan skala peta ditentukan masing-masing kelompok. Dari hasil akhir pengukuran akan terlihat, apakah bentuknya sudah sesuai dengan bentuk aslinya. Apakah sama bentuknya antarkelompok, atau apakah ada gambar denah yang tidak terbentuk karena pengukuran di lapangan kurang tepat sehingga penentuan skala peta pun tidak sesuai.

“Ustazah, kok gambarnya gak sama, ya?” cetus Sayfodin.

“Harusnya sama, kalaupun beda harusnya tidak terlampau jauh selisihnya,” jawabku.

Aku menghampiri kelompoknya, memastikan mengapa denahnya tidak sesuai. Beberapa menit kuperhatikan gambar dan datanya. Memang ada yang salah.

“Kami mengulang aja, Ustazah.”

“Tidak perlu, kalau sudutnya sama, bisa ditarik garis lurus saja.”

“Tapi data kami salah, Ustazah. Kami belajar jujur dong, Ustadzah.”

Tanpa dihiraukan lagi kelompok Sayfodin langsung mengulang pengukuran sudut dengan kompas. Dengan waktu yang terbatas, mereka berjanji dapat menyelesaikannya. Tak lama berselang, kelompok lainnya mulai mengalami kegundahan.

“Kok gak sesuai, ya, dengan skalanya?” salah seorang siswa dalam kelompoknya terheran-heran.

Kebenaran data yang didapat ketika pengukuran menjadi hal yang mutlak agar gambar yang diinginkan sesuai dengan bentuk aslinya. Mulailah mereka mengulang beberapa pengukuran. Sebenarnya mereka bisa saja memanipulasi data karena sudah terlihat bentuknya. Ini akan memudahkan mereka. Tetapi para siswa itu memilih untuk tidak melakukannya. Meski jam menunjukkan hampir pukul tiga sore, mereka tetap mengulang beberapa pengukuran yang dibutuhkan.

“Ayo, semangat! Tuntaskan… selesaikan semua dengan kejujuran!”

“Ustazah, kalo orang bikin peta, mudah saja, ya,berbohong? Buktinya, kalo kami mau, bisa saja kami berbohong. Mudah saja bagi kami untuk memanipulasi data,” ujar seorang siswa.

“Sangat mudah, bahkan dengan teknologi digital pun akan menjadi sangat mudah, tapi lakukanlah pekerjaanmu dengan hati nurani,” jawabku sambil tersenyum.

Alhamdulillah, melalui kejujuran, semua pekerjaan mereka selesaikan pada pukul 15.30, bertepatan dengan kumandang azan Salat Ashar. Mereka menyelesaikannya dengan baik walaupun yang digambar baru dengan pensil dan belum sempat dirapikan. Semua kelompok bentuk gambarnya sama.

Siang dan sore itu, aku memperoleh keyakinan bahwa pembelajaran yang mengajak siswa lebih aktif dan menyenangkan adalah pembelajaran yang luar biasa. Siswa bukan hanya memahami pelajaran sebagai kewajiban seorang pelajar, tetapi juga siswa dapat belajar dan melatih karakter-karakter yang baik seperti kerja sama, bersungguhsungguh, dan jujur.

, ,

Aku Menemukanku di SMART

Aku Menemukanku di SMART

SMART? Apa itu SMART? Aku tidak tahu SMART itu apa, selain sebuah kata dalam bahasa Inggris yang artinya cerdas atau pintar.

Ini adalah kisahku, seorang perantau asal Medan yang ingin menjadi kebanggaan orang tua di Medan.

Oleh: Rizky Dwi Satrio, alumni SMART Angkatan XI berkuliah di Universitas Sebelas Maret.

Hari itu, saat aku kelas 6 SD, tepatnya pada semester 2, aku mendengar kata “SMART Ekselensia Indonesia” dari guruku. Guruku bertanya padaku, “Apakah Satrio mau sekolah di SMART?” Dalam hati aku malah bertanya, “SMART itu sekolah seperti apa?” Sebelum aku mengutarakannya, guruku langsung menjelaskan hal-hal terkait SMART Ekselensia. Guruku sepertinya sudah tahu kebingunganku.

Setelah mendengar semua penjelasannya, aku pun tahu bahwa SMART Ekselensia Indonesia adalah sekolah berasrama yang didirikan untuk anak berprestasi namun orang tuanya kurang dalam finansial, dibangun oleh Dompet Dhuafa, dananya berasal dari zakat, sedekah, infak, dan lain-lain. “Ini kesempatan untukku,” kataku dalam hati dengan sedikit merenung. “Gimana Satrio?” tanya guruku. “ Oh iya, Bu, saya sih mau, tapi belum tentu dengan orang tua saya.” “Ya sudah, ini formulir pendaftarannya. Jika ayahmu setuju, bilang pada Ibu.”

Waktu terasa sangat lama hari itu. Padahal, aku ingin segera memberitahukannya kepada Ayah. Aku terus melihat jam sekolah yang putarannya terasa lama. Tapi, aku baru ingat kalau Ayah sedang bekerja dan biasanya pulang pada waktu maghrib.

Di rumah, setelah pulang sekolah aku memutuskan untuk tidur siang, agar tidak terasa lama menunggu Ayah datang. Kebetulan hari itu aku tidak ada jadwal mengaji, jadi aku bisa tidur.

Akhirnya, setelah lama menunggu, Ayah datang juga. Wajar saja aku sangat ingin memberitahukan hal itu pada Ayah. Pasalnya, aku dan Ibu sudah tak serumah lagi. Aku tinggal bersama Ayah. Ayah dan Ibu sedang mengurus perceraian mereka. Aku sangat sedih melihat keadaan keluargaku, melihat keduanya bertengkar. Aku sering menangis saat berdoa karena memikirkan keadaan keluargaku.

Setelah Ayah selesai mandi dan salat, aku langsung mengatakan informasi di sekolah tadi. “Yah, Ayah setuju tidak kalau Rio sekolah di SMART di Bogor?” “Sekolahnya jelas atau tidak ?” Ayah langsung bertanya. “Rio juga kurang tahu, coba Ayah telepon guru Rio”.

Ayah langsung menelepon guruku. Setelah selesai berbincang, Ayah berkata padaku, “Rio, kalau tekadmu sudah kuat, silakan kamu sekolah di sana, kalau urusan seleksi Ayah yakin kamu pasti lulus”.

Mendengar perkataan tersebut, jantungku langsung berdegup kencang dan mataku berair. Perasaanku antara senang dan sedih, aku tidak menyangka Ayah akan berkata seperti itu.

Bila benar aku diterima, aku sedih karena akan berjauhan dengan keluarga dan teman-teman. Tapi, di sisi lain, hati kecilku berkata bahwa aku tenang dan jauh dari kesedihan yang dialami keluargaku yang mulai hancur. Dengan pergi ke Bogor, aku akan jauh dari masalah dan juga perceraian orangtuaku. Saat itu aku benar-benar sangat sedih. Sebisa mungkin aku ingin pergi jauh dari rumah.

Hari demi hari berlalu aku lewati dengan perkataan Ayah yang selalu teringat di benakku. Sampai-sampai aku berpikir, apakah ini jalan yang terbaik untukku? Saat aku memikirkannya, aku dengan segera menepis jauh pemikiran galau itu.

Detik, menit, dan jam terus berganti, dan saat itu yang aku lakukan hanyalah persiapan untuk seleksi masuk SMART.

Mulai dari menambah jam belajar, berdoa, hingga ikhtiar penunjang. Semunya aku lakukan agar aku bisa mengerjakan soal saat tes nanti. Setelah aku sangat lama menunggu hingga berganti bulan, akhirnya hari untuk seleksi pun tiba. Seleksi pertama adalah tes tulis. Pesertanya telah dilihat nilai rapornya terlebih dahulu; jika nilainya di atas rata-rata, ia pantas untuk tes tulis.

Tes tulis itu diadakan di tempat yang cukup jauh dari rumahku. Jadi, aku bersiap pergi ke sana setelah Salat Subuh. Aku berangkat bersama Ayah mengendarai becak. Ayah memang penarik becak. Walaupun begitu, aku tidak pernah malu, bahkan aku selalu bersyukur.

Setelah cukup lama berkendaraan, akhirnya kami sampai juga. Tempat tesnya sebuah kampus. Aku bersegera masuk ke ruangan tes dan langsung duduk. Aku juga sempat belajar sebelum tes dimulai. “Tes akan segera dimulai!” ucap seorang panitia.

Tes yang pertama adalah pelajaran kesukaanku, matematika. Soalnya cukup banyak dan ada gambar pizza di salah satu soal. Aku tak menemui banyak kesulitan pada soal-soalnya karena aku sangat suka matematika, dan soal-soalnya pun sudah pernah kupelajari.

Tes yang kedua adalah bahasa Indonesia. Kali ini tugasnya adalah mengarang dengan tema “Sekolahku Masa Depanku” sebanyak satu halaman kertas dobel folio. Aduh, aku belum ada inspirasi saat mengarang. Akhirnya aku memutuskan untuk meletakkan pulpen di atas meja dan duduk bersandar sambil mencari inspirasi. Alhamdulillah, inspirasiku datang pada saat 30 menit sebelum tes usai. Jadi, aku memutuskan untuk menulis dengan secepat-cepatnya. Aku pun selesai tepat waktu dengan karanganku yang berjudul “Dengan Sekolah Masa Depanku Terbentuk.”

Tes yang terakhir adalah pelajaran Pendidikan Agama Islam. Soalnya tidak susah dan bisa kujawab dengan baik walaupun aku belum belajar. Akhirnya tes tulis usai, aku pun bergegas pulang. Aku tidak menaiki becak Ayah seperti saat aku pergi namun menaiki angkot. Di perjalanan ada beberapa orang yang menertawaiku karena aku memakai seragam sekolah di hari Minggu.

Sekitar dua minggu kemudian, aku pun mendapat informasi bahwa aku lulus tes tulis. Aku pun cukup senang dan bersyukur. Sebelumnya aku sudah yakin bahwa aku akan lulus tes tahap satu ini. Beberapa hari setelah pengumuman itu, aku harus tes lagi. Tapi kali ini berupa psikotes. Aku tak tahu apa-apa mengenai psikotes, jadi aku memutuskan untuk tidak belajar apa pun.

Aku pergi bersama Ayah menaiki becak. Hari itu aku memakai baju seragam SD, tapi aku yakin takkan ada yang menertawaiku karena hari itu bukan Minggu. Setelah perjalanan yang cukup jauh dan lama, akhirnya kami pun sampai. Aku pun langsung memasuki ruang tes. Ternyata sisa peserta hanya tinggal tiga anak, salah satunya selain aku adalah siswa bernama Helmi (satu siswa lagi aku lupa namanya). Kami pun memulai tes tersebut. Tesnya cukup mudah karena seperti tebak-tebakan dan menguji kreativitas. Ada soal yang mengharuskanku untuk menggambar dan menghitung.

Setelah tes tersebut selesai, ada satu lagi yang harus kuikuti, yaitu wawancara. Mungkin wawancara ini salah satu bagian dari psikotes. Ketika giliranku diwawancarai, aku ditanya tentang latar belakang diriku

Sampailah pada pertanyaan yang membuatku sedih. “Hal apa yang paling membuat kamu sedih?” tanya si pewawancara. “Perceraian kedua orang tuaku,” jawabku dengan suara terisak. Aku pun tak bisa membendung air mata. Aku menangis dan menaruh kepala di atas meja. Aku terus menangis tanpa henti. Aku merasa itulah kejadian yang paling membuatku sedih dan tak bisa kulupakan selamanya. “Sudah jangan nangis lagi, sabar aja ya,” pewawancara itu menenangkanku.

Beberapa menit kemudian, wawancara pun selesai. Pulangnya aku diantar oleh Helmi dan ayahnya. Ternyata orang tua Helmi dan orang tuaku teman dekat. Di perjalanan mataku masih saja sembab karena aku menangis saat tes.

Aku lega karena rangkaian tes telah selesai. Hanya ada satu tahap lagi, yaitu home visit. Tapi, home visit tidak begitu melibatkan diriku. Benar saja, beberapa hari kemudian kunjungan ke rumahku dilaksanakan saat aku berada di sekolah.

Sekitar dua pekan setelah home visit dilaksanakan, aku mendapat SMS dari Ayah saat ia sedang bekerja. “Kamu lulus ke SMART”.

Alhamdulillah, ucapku dalam hati. Tidak lama kemudian, aku pun langsung sujud syukur atas kelulusanku. Sekarang aku sudah tak di SMART, sudah menjadi mahasiswa. Aku bersyukur Allah menakdirkanku untuk bersekolah di sini. Aku banyak mendapatkan pelajaran berharga di sini, aku mendapatkan teman dan keluarga baru, dan aku menemukan diriku. 

,

Pengalaman Seratus Juta Rupiah Bersama CATCHPLAY Indonesia

Pengalaman Seratus Juta Rupiah Bersama CATCHPLAY Indonesia

Wah sudah memasuki hari ketiga beraktivitas di sekolah nih Sob. Gimana? Sudah bisa menyesuaikan diri dengan pelajaran di sekolah dong? Alhamdulillah sama, kami juga. Oh iya Sob kemarin (16/07) kami mampir ke Gedung Philantropy Dompet Dhuafa untuk menghadiri acara serah terima donasi bersama CATCHPLAY Indonesia. CATCHPLAY sebagai perusahaan penyedia layanan streaming film berbasis daring (online) di Indonesia menyerahkan donasi sebesar Rp100.000.000 melalui Dompet Dhuafa Pendidikan untuk SMART Ekselensia Indonesia lho Sob.
Donasi ini merupakan hasil dari kampanye #SedekahSeruCATCHPLAY yang dimulai pada 1 Mei hingga 9 Juni 2019 lalu. Program #SedekahSeruCATCHPLAY mengajak para pengguna setia CATCHPLAY untuk berdonasi sebesar Rp3000 dari setiap transaksi koleksi Single Rental, donasi ini secara otomatis disisihkan tanpa menaikan harga normal Single Rental.
Melalui program ini CATCHPLAY dan DD Pendidikan bersinergi untuk meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa di bidang pendidikan. Pak Roy Soetanto, Chief Marketing Officer, APAC, CATCHPLAY berharap #SedekahSeruCATCHPLAY menjadi langkah awal untuk membangun awareness para movie lovers terhadap sesama.
“Kami harap program ini mampu membawa perubahan bagi para penerima manfaat. Kami percaya sekecil apapun kontribusi kita, akan sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan,” kata Pak Roy Soetanto dalam sambutannya.
Dalam kesempatan kemarin kami juga berkesempatan untuk berbincang banyak hal seputar dunia film dengan kakak-kakak CATCHPLAY. Mbak Lesley, Associate Director CATCHPLAY, berpesan kalau kami harus rajin belajar dan terus semangat dalam menggapai mimpi kami.
“Karena tidak ada yang tidak mungkin selama kalian punya keinginan kuat untuk maju,” kata Mbak Lesley penuh semangat. Kami manggut-manggut tanda mengerti. “Jangan lupa untuk selalu berdoa dan meminta doa kepada orang tua agar apapun yang kalian lakukan berkah,” tuturnya.
Kami sangat berterima kasih kepada CATCHPLAY atas kebaikan dan pengalaman yang tak terlupakan. Semoga CATCHPLAY kian maju dan semakin banyak movie lovers yang menyaksikan film kece di CATCHPLAY.

Cara Ini Bisa Para Guru Terapkan Agar Mengajar di Kelas Lebih Menyenangkan!

Cara Ini Bisa Para Guru Terapkan Agar Mengajar di Kelas Lebih Menyenangkan!

“Wah, hari ini Rizky lagi deh yang jadi guru, Zah,” ujar Fatiur sambil menghampiri saya yang sedang berjalan menuju kelas setelah menikmati makan siang.

Ya, siang itu saya memang memperhatikan kalau Rizky belum menyelesaikan makan siangnya bersama beberapa orang teman sekelasnya. Apa hubungan makan siang dengan menjadi guru? Bukankah harusnya saya yang setelah makan siang ini mempunyai jadwal mengajar di kelas mereka? Mengapa Fatiur berujar seperti itu?

Ide ini muncul begitu saja. Suatu ketika saya menyelesaikan makan siang lebih cepat dari biasanya sehingga saat saya memasuki kelas sebagian besar siswa belum masuk. Hanya ada beberapa siswa yang sedang asyik bersenda gurau. Ketika melihat banyak kursi siswa yang masih kosong, saya memutuskan untuk duduk di samping salah seorang siswa. Mengajak mereka bercerita. Satu per satu siswa yang lain masuk dan menduduki kursinya masing-masing.

Lima menit menjelang bel masuk berbunyi, tersisa empat kursi kosong, yang artinya masih ada empat siswa belum memasuki kelas. Tanpa perencanaan tiba-tiba saja terlontar kalimat, “Siapa yang telat dan enggak kebagian kursi, jadi guru, ya. Ustazah mau merasakan jadi siswa hari ini.”

Beneran, Zah?”

“Ustazah mau jadi siswa? Terus yang ngajar kita siapa?”

“Tugas yang jadi guru apaan, Zah?” para siswa langsung berkomentar.

Namanya juga ide dadakan, saya jadi bingung saat ditanya para siswa.

“Nanti gurunya bertugas membuka pelajaran dan memberikan motivasi buat siswanya. Ustazah ikutan jadi siswa. Yang ngasih materi tetap Ustazah,” jelas saya.

“Wah, seru nih!” seorang siswa berkata sambil langsung mengambil posisi duduk. Takut tidak kebagian kursi.

Seorang siswa tiba-tiba saja beranjak dari posisi duduknya dan berjalan keluar kelas. Saya sempat berpikir mengapa dia malah meninggalkan kursinya, sedangkan teman-temannya berebutan untuk duduk.

 “Ayo buruan masuk. Yang terakhir masuk dan tidak kebagian kursi nanti bakalan jadi guru lho!”

Oh, ternyata ia ingin mengingatkan teman-temannya yang masih berada di luar kelas.

Beberapa siswa yang masih berada di luar kelas pun berlari menuju kelas. Berusaha sekuat tenaga dan secepat mungkin menemukan kursi yang masih kosong. Tak peduli harus bertabrakan dengan kursi atau meja. Yang terpenting bagi mereka saat itu adalah menemukan kursi untuk duduk dan menghindari tugas jadi guru.

“Alhamdulillah!” Devon akhirnya bisa bernapas lega setelah mendapatkan kursi. Disusul satu per satu siswa lain yang juga mendapat kursi. Saya melihat satu siswa masih berdiri, namanya Rizky, siswa yang berasal dari Bandung.

Rizky pun saya minta maju ke depan untuk membuka pelajaran. Rizky bisa enggak ya? Apakah setelah ini ia akan malu? Apakah ia akan merasa kesal? Berbagai pertanyaan melintas di kepala saya. Saat itu, saya berusaha mengondisikan Rizky agar nyaman dengan posisinya. Untungnya, teman-temannya mendukung posisi Rizky yang saat itu jadi guru.

“Saya harus ngapain, Zah?” tanya Rizky.

“Rizky nanti membuka kelas. Sama seperti Ustazah membuka kelas seperti biasanya. Nanti Rizky tunjuk salah seorang siswa untuk memimpin doa dan tilawah,” jelas saya kepada Rizky.

“Oke, Zah, siap.”

Wah, ternyata pikiran bahwa Rizky akan malu dan tidak mau melaksanakan tugasnya harus saya buang jauh-jauh. Rizky malah terlihat bersemangat dan penuh percaya diri. Rizky semakin menikmati posisinya sebagai guru saat seorang temannya mengingatkan cita-citanya.

Ayo, Ki. Kan katanya kamu mau jadi guru. Nah, mumpung sekarang punya kesempatan manfaatkanlah!”

“Ustazah jadi siswa kan? Saya minta Ustazah untuk memimpin doanya,” pinta Rizky.

“Let’s pray together,” saya memimpin doa dalam Bahasa Inggris karena setiap Rabu di SMART Ekselensia Indonesia ada program English Day. Guru-guru wajib membuka pelajaran dengan Bahasa Inggris.

Setelah siswa membaca doa, Rizky langsung melanjutkan tugasnya dengan menanyakan kabar kami. “How are you this morning?”

Pertanyaan Rizky langsung kami jawab, “Alhamdulillah. Extraordinary. Keep spirit. Keep smile. Allahu Akbar!”

Tanpa saya duga Rizky langsung melanjutkan pembukaan kelas saat itu sesuai dengan kebiasaan saya. Rizky berteriak, “Physic!” Serempak kami pun menjawab, “Yes… yes… yes… we can!”

Ritual pembukaan berlanjut dengan tilawah dan sesi motivasi dan alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar. Siswa-siswa terlihat bersemangat. Ide spontanitas ini pun akhirnya menjadi kebiasaan saya di kelas tersebut sampai satu semester berakhir. Saya melihat ini sebagai sebuah kegiatan positif. Siswa bisa melatih rasa percaya dirinya untuk berbicara di depan teman-temannya. Dan saya melihat siswa-siswa pun menikmatinya. Setiap Rabu siang, mereka akan selalu bertanya-tanya siapakah yang akan jadi guru hari itu.

,

Serunya Hari Pertama Sekolah di SMART

Serunya Hari Pertama Sekolah di SMART

Siapa sangka kalau liburan 50 hari berlalu dengan sangat cepat, tiba-tiba saja hari ini kami sudah memasuki Hari Pertama Sekolah. Berbeda dengan Hari Pertama Sekolah di sekolah lain, di SMART Hari Pertama Sekolah kami habiskan dengan mengikuti kegiatan Outbond-nya SMART yang diikuti sekitar 230 siswa Sob. Kegiatan ini merupakan  cara SMART membangkitkan semangat belajar kami dan mengeratkan tali kekeluargaan diantara siswa, guru, dan pihak-pihak yang berhubungan langsung dengan SMART.

Kegiatannya banyak sekali Sob, rata-rata dipenuhi tantangan yang mengasah kemampuan kami dalam memimpin dan membangun kerjasama tim, tentu saja hal ini sejalan dengan misi SMART untuk menciptakan pemimpin unggul di masa depan.

Di setiap sudut lapangan sekolah terlihat wajah-wajah ceria teman kami yang mengikuti ragam tantangan, namun ada juga yang khawatir tak dapat menyelesaikan tantangan dengan baik. Kalau sudah begitu guru kami akan menenangkan dengan berkata “jangan khawatir, anggap saja ini tantangan yang akan kalian hadapi nanti di masa depan”. Kalimat tersebut cukup membuat kami tenang sampai akhirnya mampu menyelesaikan misi dengan baik.

Oh iya sampai lupa kegiatan Outbond SMART diadakan di Lapangan Sepakbola SMART Sob. Kakak-kakak dari Concept Creation dan para guru memfasilitasi kegiatan yang berlangsung sedari pagi hingga sore ini dengan sangat baik. Alhamdulillah kegiatannya menyenangkan sekali dan membuat kami semakin siap menghadapi semester baru di tahun ajaran baru di pertengahan tahun 2019.

Ayo kamu juga semangat dong Sob, jangan sampai liburan terlalu lama membuat kamu mager hingga tak ada gairah untuk menggapai cita. Ingat masa depanmu kamu yang menentukan lho!

Apa Kabar SMART? Kami Kembali!

Apa Kabar SMART? Kami Kembali!

 

Satu  bulan. Iya satu bulan serasa seperti satu minggu. Rasa liburan sekolah dan liburan Lebaran baru dimulai beberapa hari lalu, tiba-tiba hari ini kami sudah harus kembali ke SMART. Kulirik matahari menyembul malu-malu di balik jendela kereta yang kunaiki, sinarnya hangat membuatku kembali terlelap.

Aku terbangun dari tidur pulasku di kereta, ternyata keretaku masih tertahan di sebuah stasiun yang ku tak tahu apa namanya. Pandanganku kosong, seharusnya kalau tak tertahan mungkin aku akan sampai di SMART setelah Zuhur. Aku tak mau waktuku terbuang begitu saja, maka kulahap buku SBMPTN dan UN yang telah kupersiapkan sebelumnya. Iya sekarang aku sudah kelas 5, sudah harus mempersiapkan banyak hal demi masuk PTN impian.

Menit berubah jam, rasanya perjalanan menuju SMART lama sekali, aku menatap sekeliling tampak wajah-wajah cemas dan tak sabaran teman-temanku yang lain. Ah mungkin mereka juga merasakan yang kurasakan. Lalu aku kembali terpekur ke buku yang kubaca, lalu aku kembali terlelap.

Aku terkejut karena ada tangan yang membangunkanku, ah ternyata sebentar lagi kami akan memasuki Stasiun Senen, “Alhamdulillah,” ujarku dalam hati. Pukul 11.30 kami sampai juga di SMART, dengan tertib kami menuruni tangga bus dan mengambil barang bawaan kami yang super duper banyak layaknya pemudik. Tapi memang kami baru pulang mudik hehe.

Foto 2

Waaah senang rasanya memasuki lapangan apel yang sudah kami kenal bertahun-tahun, tiba-tiba kulihat antrean mengular di depan Ruang Ex Guru. Ooooh ternyata sedang ada pemeriksaan barang-barang yang kami bawa.

Foto 3

“Lalu kenapa harus diperiksa?”

Setiap tahun memang seperti ini Sob, sebab siapa yang tahu beberapa dari kami membawa barang terlarang kan? Karena lebih baik mencegah dan mengantisipasi  daripada nantinya malah membawa dampak tidak baik ke depannya. Selama beberapa lama menunggu akhirnya pemeriksaan selesai dan tak ditemukan satu pun hal ganjil di barang bawaan kami, Alhamdulillah.

Asramaaaa kami dataaaaang!

Berbondong-bondong kami menaiki tangga asrama, barang bawaan kami tentu saja berat tapi tak menyurutkan langkah ceria kami menapaki anak tangga, riuh rendah suara kami membahana di selasar. Tanpa banyak bicara kami bersegera mengeluarkan baju dalam koper dan memasukannya ke dalam lemari, membagi oleh-oleh menjadi beberapa bagian untuk guru serta warga Dompet Dhuafa Pendidikan, dan terakhir kami membersihkan kamar bersama-sama.  Senangnyaaaa bisa berjumpa teman-teman seperjuangan lagi.

Foto 9 Foto 10

Bebersih asrama selesai, saatnya bebersih diri karena Salat Asar akan segera tiba. Kami menuju masjid dengan hati gembira, selepas salat kami makan bersama di Aula Makan SMART lalu segera ke ruangan masing-masing untuk melepas kangen (kembali).

***

Azan Subuh memanggil kami yang terlelap dibalik hangatnya selimut, beberapa dari kami berinisiatif untuk membangunkan yang lain. Gontai kami berjalan ke arah masjid, namun semangat kami untuk menuntaskan kewajiban tetap besar. Lepas Subuh segelintir angkatan melakukan berbagai aktivitas di asrama, mulai dari mencuci, mengobrol, bercanda, mencuci, dan tidur lagi.

Foto 12

Foto 13

Foto 15 Foto 16

Senin  nanti kami –terutama yang duduk di Kelas 5- akan disibukkan dengan jadwal belajar yang padat merayap dan akan sangat sesak karena harus fokus untuk sidang karya ilmiah, Try Out (TO), Ujian Nasional (UN), SNMPTN, dan SBMPTN. Untuk adik-adik kelas kami mereka akan disibukkan dengan banyaknya ulangan dan lainnya. Semua sibuk, semua memprioritaskan banyak hal, semua ingin meraih yang terbaik, dan kami yakin kami bisa mencapai yang ingin kami capai.

***

Satu tahun. Jelas bukanlah waktu yang sebentar, tetapi kami yakin keluarga kami di kampung halaman mengerti bahwa di perantauan kami tengah berjuang menggapai mimpi. Mimpi tinggi untuk membuat mereka bangga.

Foto 17-Cover

Satu hal yang pasti Pulang Kampungnya SMART tahun ini banyak hal berkesan kami dapatkan, banyak pengalaman berharga kami petik, banyak cinta dan kasih yang diberikan orang-orang tersayang. Kami rindu kampung halaman, namun rasa rindu ini akan kami dekap dalam hati, jadi ketika masanya tiba semua rindu akan tercurah tanpa henti.

Pak, bu, adik, kakak, paman, bibi, nenek,kakek, kami semua di sini baik-baik saja. Mohon doanya selalu dan sampai jumpa di Pulang Kampungnya SMART tahun depan :”). (AR)