,

SMART Bukan Penjara  

SMART Bukan Penjara

Oleh: Ahfie Rofi. Alumni SMART Angkatan 7. Saat Ini Berkuliah di Universitas Gadjah Mada Jurusan Sastra Arab

 

Diujung tanduk!

Sisa waktuku di SMART kala itu tinggal hitungan hari. Berat rasanya harus pergi, padahal dulu hidup di sini serasa beban. Dulu inginnya cepat selesai, sekarang malah minta tambahan waktu. Tapi apa hakku? Dulu aku menganggap SMART sebagai penjara mengerikan. Namun, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya pengalaman, sekarang aku merasa ini “rumah” yang nyaman. Sebentar lagi lulus… Tidak terasa….

Yang kubayangkan waktu itu, SMART tak ubahnya seperti ibu hamil, dan aku adalah satu dari 38 janin yang akan segera lahir. Di satu sisi rasanya tidak sabar ingin cepat keluar, tapi kalau dipikir lagi, nyaman juga ya di dalam?

Lalu apa kata Ustazah Dini, guruku, menanggapi pernyataanku? Sambil tersenyum, beliau berkata,

 

“Terlalu lama di dalam rahim itu tidak baik, janin bisa mati. Terlalu cepat keluar juga tidak baik, bisa mati juga. Jadi, jalankan sesuai dengan apa yang digariskan-Nya. Nikmati, ikhlaskan, optimis dan berusahalah.”

Ah, benar juga. Memang jatah waktuku cuma lima tahun, dan sejauh ini aku tidak menyesal dengan semua yang telah terjadi.

Kembali aku ingat hari pertama aku menginjakkan kaki di SMART, Rabu 14 Juli 2010 pukul 12.00 WIB bertepatan dengan adzan dzuhur. Mobil jemputan kami tiba di tanah Dompet Dhuafa Pendidikan tercinta, membawaku dan dua temanku, Farhan (yang wajahnya mengingatkanku pada lelaki berandalan padahal seorang gamer) dan Fadlillah (yang waktu itu gendut dan culun, tapi sekarang sudah jadi “Dewa”-nya Fisika di angkatanku) serta orangtua kami masing-masing.

Aku juga ingat pernah diamanahi ayah dari temanku yang berasal dari kota penghasil timah agar menjaga anaknya selama di sini. Padahal anak yang sebenarnya postur badannya lebih kecil itu malah amat senang menggangguku. Tapi tidak apa itu masa lalu, sekarang kami sudah berdamai. Haha.

 

Lucu mengingat dulu temanku pernah dijahili habis-habisan sampai sempat dia pernah lompat dari atas ke bawah (kamar kami menggunakan kasur susun) gara-gara teman-temanku menggoyang-goyangkan ranjang anak Sulawesi itu sambil teriak, “Gempa!! Gempa!!” Untungnya dia mendarat di ranjang yang lain alih-alih langsung ke permukaan lantai. Bisa gawat kalau dia sampai cedera gara-gara itu.

Dan diantara kepolosan-kepolosan itu, tetap ada saja orang-orang yang “terpaksa” bermusuhan gara-gara masalah sepele seperti aku yang pernah bermusuhan dengan temanku dari Bandung cuma gara-gara rebutan permen (iya, serius lho!). Pernah juga ada yang ingin coba-coba kabur dari SMART Ekselensia Indonesia dan pulang ke rumah saudaranya di Jakarta karena tidak tahan tinggal di SMART tapi tidak jadi karena baru sampai di Bogor dia hilang nyali. Haha.

Tetap saja, itu hanya masa lalu, yang meski menyedihkan, meski menyebalkan, tetap akan indah ketika dikenang dengan penuh penerimaan. Dia hanya masa lalu, yang tetap akan begitu.

Sekarang kami sudah besar. Sebentar lagi berpisah, yang artinya sudah hampir lima tahun kami bersama-sama. Syukurlah, sekarang tidak ada lagi “musuhan-musuhan” ala anak-anak. Ah, indahnya.

Suara Hati Menembus Hati di Hari Proklamasi

Suara Hati Menembus Hati di Hari Proklamasi

Oleh : Muhammad Syafi’ie el Bantanie (Direktur DD Pendidikan)

 

Abdullah ibnu Abbas pernah bercerita, sebagaimana diriwayatkan Imam At-Tirmidzi, “Suatu hari saya pernah dibonceng di belakang nabi.” Saat itulah, Rasulullah menyampaikan pesannya kepada Abdullah ibnu Abbas. Rupanya Rasulullah bermaksud menginternalisasikan tauhid ke dalam hati sepupunya itu.

“Wahai gulam (anak kecil), aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat,” terang Rasulullah membuka pembelajarannya.

“Jagalah Allah niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya kau mendapati-Nya selalu ada di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau minta tolong, mintalah tolong kepada Allah. Ketahuilah, walaupun bersatu seluruh manusia untuk memberikan manfaat kepadamu dengan sesuatu, niscaya tiadalah mereka dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah ditentukan Allah. Dan, walaupun mereka bersatu untuk mencelakakan kamu dengan sesuatu, niscaya tiadalah mereka dapat mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah ditentukan Allah kepadamu. Pena telah diangkat dan tinta telah kering.”

Dalam riwayat selain At-Tirmidzi disebutkan, “Jagalah Allah, niscaya engkau mendapati-Nya selalu di hadapanmu. Hendaklah engkau mengenal Allah di waktu lapang, niscaya Allah akan mengenalmu di waktu susah. Ketahuilah, apa yang luput darimu tidak akan mengenai engkau, dan apa yang harus mengenai engkau tidak akan luput darimu. Ketahuilah, sesungguhnya pertolongan (Allah) itu selalu bersama kesabaran, kesenangan itu ada bersama kesusahan, dan kemudahan ada bersama kesulitan.”

Indah sekali hadits ini. Dalam perspektif pendidikan, hadis ini menggambarkan proses pembelajaran seorang guru kepada muridnya. Gurunya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan muridnya adalah Abdullah ibnu Abbas. Coba kita saksamai situasinya seperti apa. Rasulullah sebagai guru membonceng Ibnu Abbas, muridnya, di atas untanya. Ibnu Abbas merasa nyaman dibonceng gurunya, Rasulullah. Jarak keduanya rapat sekali. Terjalin kedekatan fisik yang segera disusul dengan kedekatan hati antara guru dan murid .

Selanjutnya, Rasulullah pun membuka pembelajaran. Materinya berat, tentang tauhid. Namun, disampaikan dalam situasi yang sangat menyenangkan dan jauh dari tekanan. Hasilnya? Kita semua paham bahwa Abdullah ibnu Abbas tumbuh berkembang menjadi remaja saleh dan cerdas. Bahkan, Rasulullah sendiri memberikan gelar kepada Ibnu Abbas, “Turjumanul Qur’an” (Orang yang paling pakar terhadap Al-Qur’an). Tak heran pula, pada masa Khalifah Umar bin Khathab, Ibnu Abbas diangkat menjadi staf ahli khalifah saat usianya baru memasuki 14 tahun.

Singkat sekali Ibnu Abbas belajar kepada Rasulullah. Rasulullah wafat ketika Ibnu Abbas berusia 11 tahun. Tapi, saksamailah masa belajar yang singkat itu hasilnya melebihi professor masa kini. Ini tak lain karena keberhasilan Rasulullah sebagai guru dalam mendidik. Dan, salah kunci keberhasilannya terletak pada kedekatan hati Rasulullah sebagai guru kepada murid-muridnya.

Adakah guru-guru di sekolah-sekolah kita memiliki kedekatan hati dengan murid-muridnya? Ah, benarlah nasehat Imam Ahmad bin Hanbal, “Hanya suara hati yang mampu menembus hati.”

Dari Marjinal Menuju Luar Biasa

Dari Marjinal Menuju Luar Biasa

Oleh : J. Firman Sofyan (Guru SMART Ekselensia Indonesia)

Seekor katak spesies baru telah ditemukan di wilayah Ghats Barat, India (Kompas, 11 September 2012). Katak tersebut memiliki perbedaan dengan katak pada umumnya. Katak tersebut seolah-olah mengubah semua teori biologi selama ini. Teori yang mengatakan bahwa katak merupakan hewan amfibi yang melakukan sebuah tahapan kehidupan yang unik, berbeda dengan makhluk hidup pada umumnya. Sebuah tahapan kehidupan yang disebut dengan metamorfosis. Katak yang kemudian diberi nama Shrub Kakachi (Raorcgestes Kakachi) ini tidak mengalami metamorfosis seperti spesies katak lainnya. Katak ini tidak mengalami fase berudu. Jadi, bisa dikatakan setelah menetas dari telurnya, katak ini langsung dewasa.

Di bagian barat Pulau Jawa, seorang anak bernama Fajar Sidiq Abdul Mutholib, tampaknya mengalami fase kehidupan yang hampir sama dengan katak di atas. Anak tersebut menempuh sebuah jenjang pendidikan tingkat menengah dan atas yang berbeda dengan anak lainnya di negara kepulauan terluas di dunia ini. Anak tersebut menyandang gelar siswa hanya selama lima tahun untuk jenjang SMP dan SMA. Tentu berbeda dengan siswa lainnya yang harus menyelesaikan dua jenjang sekolah tersebut dalam waktu enam tahun. Realitas yang sepertinya membuat siswa lain di Indonesia ini menjadi cemburu dan iri. Kedua fakta tersebut menyimpulkan sebuah persamaan antara Fajar Sidiq A.M. dan Shrub Kakachi dalam hal keunikan.

Analogi yang tidak terlalu signifikan memang. Alasannya, Tuhan memang mengodratkan manusia menjadi makhluk paling istimewa di dunia ini. Kodrat yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Perbedaan itu pun terjadi dalam fase kehidupan antara Fajar dengan Kakachi. Fajar, dalam tahap kehidupannya yang unik, membuktikan bahwa kodrat yang diberikan Tuhan itu tidaklah salah.

Salah satu yang Tuhan berikan kepada manusia, khususnya siswa ini, adalah kecerdasan. Kecerdasan inilah yang membuat Fajar kembali bermetamorfosis, kali ini metamorfosis yang sempurna. Metamorfosis dari seorang anak dhuafa yang awalnya tidak pernah membayangkan untuk melanjutkan pendidikan setelah dinyatakan lulus dari sekolah dasar hingga kini telah menjadi seorang penulis buku. Penulis buku ilmiah di usianya yang bahkan belum genap 17 tahun. Metamorfosis tersebut bahkan disempurnakan dengan statusnya yang telah menjadi seorang mahasiswa Teknik Geologi Universitas Diponegoro.

Kisah keberhasilan pemuda yang juga pernah menjadi presiden sebuah organisasi internal di sekolahnya tersebut hanyalah satu rangkaian cerita inspiratif tentang metamorfosis anak-anak dhuafa dari seluruh Indonesia hingga mendapatkan keberhasilannya masing-masing. Keberhasilan setelah lima tahun berbagi suka, duka, keakraban, dan berbagai macam rasa dengan para anak bertakdir sama dan dengan para orangtua yang tidak sungkan harus membacakan sebuah kisah klasik demi redanya tangisan mereka. Tangisan karena harus merelakan lima tahunnya jauh dari kedua orangtua kandungnya.

Lima tahun yang sungguh-sungguh spesial. Lima tahun hidup dengan berbagai metafora kehidupan. Kehidupan yang tentu tidak terlepas dari berbagai intrik. Di dalamnya ada sesuatu yang intim tentang saat-saat istimewa berbagi cerita. Cerita tentang bagaimana awal kedatangan mereka dengan bahasa ibunya masing-masing. Awal bagaimana mereka masih terlalu kecil untuk “disapih” dari orangtua kandungnya masing-masing. Kecil dalam arti sesungguhnya. Benar-benar kecil sehingga baju dan jaket yang mereka kenakan di awal kedatangan mereka ke sekolah ini terlihat kebesaran. Namun, dalam ukuran tubuh mini tersebut tersimpan berbagai harapan besar untuk mendapatkan kesuksesan yang lebih besar.

Cerita-cerita tentang keberhasilan yang diawali dari keterbatasan tersebut mungkin telah banyak kita lihat di berbagai media, baik cetak maupun elektronik. Kumpulan cerita orang-orang papa yang akhirnya meraih sukses tersebut pun sudah sering ditampilkan di berbagai acara talk show. Tidak sedikit juga buku yang mengangkat tema yang sama. Fakta yang seolah-olah telah mengubah sesuatu yang tidak istimewa menjadi istimewa. Namun, kisah-kisah tentang anak-anak dhuafa yang meraih keberhasilan di dalam buku ini akan tetap istimewa. Istimewa karena cerita-cerita tersebut disampaikan dengan jujur tanpa manipulasi dari para “orangtua” mereka selama lima tahun di asrama dan sekolah: guru.

Dalam buku ini, akan kita lihat bagaimana perjuangan anak-anak dhuafa dari seluruh Indonesia berdinamika dengan berbagai unsur kehidupan. Dalam buku ini akan kita lihat bagaimana cara anak-anak cerdas tersebut memandang dan berinteraksi dengan dunia. Cerita-cerita di sebuah sekolah bernama SMART Ekselensia Indonesia. Sekolah yang dikelola sebuah lembaga zakat Dompet Dhuafa. Semua cerita tersebut disampaikan apa adanya dari sudut pandang guru sekolah maupun wali asrama. Para pendidik yang membantu para siswa bermetamorfosis. Pendidik yang selama lima tahun tanpa pernah sungkan—apalagi bosan—untuk menyusun rencana pembelajaran. Bukan, bukan hanya rencana pembelajaran, melainkan juga rencana keberhasilan. Inilah sebuah Marginal Parenting, sebuah pengalaman pengasuhan anak-anak marjinal hingga mereka berani mimpi untuk jadi manusia luar biasa.

Soleh Ingin Salat Berjamaah

Soleh Ingin Salat Berjamaah

Syamsumar (Wali Asrama SMART Ekselensia Indonesia)

 

Jam di dinding menunjukkan pukul 17.15. Saya sedang duduk di kantor asrama Daarul Ilmi sambil mendata dan mengecek kartu izin siswa yang keluar hari itu. Kemudian saya bermaksud ingin menyalakan muratal sebagai tanda persiapan untuk Salat Magrib berjamaah.

Semua aktivitas siswa yang tidak berhubungan dengan persiapan shalat berjamaah harus dihentikan. Ternyata salah seorang wali asrama yang lain sudah menyalakannya terlebih dahulu. Saya pun langsung pergi menuju tempat para siswa biasa menyaksikan televisi. Di situ saya melihat mereka sedang asyik menikmati salah satu siaran yang tampaknya tengah seru-serunya. Ada siswa yang tersenyum, ada yang tertawa, bahkan ada juga yang bercanda ria sambil mengikuti ekspresi sesuai yang mereka saksikan. Saya lantas ikut tersenyum sambil mengingatkan mereka.

“Sekarang sudah waktunya untuk melakukan persiapan shalat berjamaah. Silakan TV dimatikan.”

“Sebentar lagi, Ustaz. Kalau sudah iklan ya!” sahut sebagian siswa.

Saya pun menunggu dengan sabar sambil mengingatkan siswa yang lainnya yang ada di setiap kamar. Di salah satu kamar saya mendapatkan ada siswa yang sedang duduk di atas tempat tidurnya sambil membaca buku yang ada di tangannya. Saya pun mengingatkannya untuk melakukan persiapan Salat Magrib berjamaah.

“Buku apa yang sedang kamu baca?” tanya saya.

“Komik. Memangnya kenapa, Ustaz?” siswa itu balik bertanya, tapi tak lama kemudian meneruskan bacaannya.

“Tidak apa-apa,” jawab saya.

“Baiklah, sekarang sudah waktunya mandi dan persiapan untuk Salat Magrib berjamaah.”

“Kenapa kita harus shalat berjamaah di masjid, Ustaz?” tanya siswa bernama Sholeh.

“Shalat berjamaah pahalanya lebih besar dibandingkan salat sendiri.”

“Tapi bukankah di kamar kita juga bisa melakukan salat berjamaah?” sergah Sholeh tidak puas.

“Betul, tapi alangkah baiknya kita salat berjamahnya di masjid.”

Siswa yang sama masih menunjukkan ketidakpuasan atas jawaban saya. “Tapi, pahala jamaahnya sama saja kan?”

“Beda! Kalau kita salat berjamaah di masjid setiap langkah kita menuju masjid akan dihitung pahalanya oleh Allah Swt, begitu pula saat kembali dari masjid. Apalagi kita tinggal di salah satu lembaga tempat kita harus mengikuti disiplin dan menaati peraturan-peraturan yang ada.” Sholeh menyimak kata-kata saya tanpa menginterupsinya.

“Sebagai manusia,” lanjut saya, “kita harus ingat bahwa hidup ini tidak terlepas dari disiplin, kapan pun dan di mana pun kita berada. Jangankan manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan sekalipun harus hidup berdisiplin. Kalau tidak, ia akan mati. Lalu lintas juga ada disiplinnya, ada peraturannya. Kalau tidak diikuti, maka akan celaka, akan saling bertabrakan. Apalagi manusia, apa jadinya kalau hidup tanpa disiplin?”

“Benar, Ustaz. Terima kasih atas masukan dan sarannya.” Saya tersenyum senang. Anak-anak seusia Sholeh memang terkadang suka unjuk diri; semata untuk memenuhi keingintahuan atau bahkan membutuhkan perhatian dari orang dewasa di lingkungan sekolah atau asrama.

“Baik, sekarang silakan kamu mandi dan siap-siap untuk Salat Magrib berjamaah.” Anak itu pun menutup komik yang dipegangnya sedari tadi. Ia bersiap untuk beranjak ke kamar mandi.

“Baik, Ustaz!”

Sang Calon Ilmuan Pelahap Buku

Sang Calon Ilmuan Pelahap Buku

 

Dia terlahir dengan nama Hizbullah Ash-Shidiqy, dan biasa dipanggil dengan “Hizbah”. Siswa kelas 1 SMART Ekselensia Indonesia ini kerap membuat hakami bergetar manakala melihatnya berdoa sambil sujud dalam waktu yang lama. Siswa ini unik, tidak banyak bicara. Berbeda dari kebanyakan teman-temannya, tidak ada waktu yang tersisa dari keseharian Hizbah, selain untuk belajar, membaca buku, dan tilawah Al-Qur`an. Dia banyak membaca buku-buku penulis hebat, terutama karya-karya Dr. Aidh al-Qarni. Karya-karya al-Qarni, seperti Laa Tahzan, dikenal mampu menyentakkan jiwa dan relung kalbu para pembacanya. Nasihat-nasihatnya begitu mudah dicerna, tapi mendalam sekaligus menentramkan jiwa. Kuat dugaan, tulisan-tulisan al-Qarnilah yang kemudian membekas di hati Hizbah sehingga ia rajin berdoa dan bersujud dalam tempo yang lama. Hampir setiap selesai Shalat Maghrib siswa asal Bandung ini melakukannya.

Suatu ketika saya menghampirinya. Hizbah terduduk khusyuk membaca bukunya. Lagi-lagi buku karya Aidh al-Qarni tentang nasihat agama untuk seorang pemuda.

Berapa lama kamu membaca buku setebal 300-an halaman ini, Nak?” ,“Kurang lebih dua-tiga hari, Ustaz, jika tidak ada PR.” jawabnya.

MasyaAllah, saya sangat kagum. Dahsyat, keren. Waktu yang singkat mampu membaca lebih dari 300 halaman. Begitu bukunya selesai dibaca, Hizbah pasti pergi ke perpustakaan Pusat Sumber Belajar (PSB) yang ada di lingkungan SMART. Ia mencari buku lainnya. Kawan, berapa buku yang kauhabiskan dalam satu pekan, satu bulan, atau pertiga bulan? Sungguh saya sangat kagum terhadap siswa ahli sujud ini. Meskipun doyan melahap buku koleksi PSB, hafalan Al-Qur`an Hizbah tidak kalah tertinggal dari teman-temannya.

“Apa cita-citamu, Hizbah?” tanya saya suatu waktu.

“Saya ingin jadi ilmuwan di bidang sains, Ustaz. Saya ingin kuliah di ITB,” jawabnya dengan mantap.

Suatu hari siswa-siswa kelas 1 mengadakan bakti sosial di Masjid An-Nur, Desa Jampang. Kami, wali asrama, menyiapkan berbagai bingkisan berupa alat kebersihan, mikrofon jepit, dan kipas angin. Agar kegiatan ini lebih berkesan, kami menasihati para siswa untuk saling berbagi dengan menyumbangkan sebagian uang sakunya.

Hampir semua siswa menyumbang, tanpa terkecuali Hizbah. Namun, yang benar-benar di luar dugaan saya, uang yang diberikan Hizbah tidak kurang 25 kali lipat rata-rata sumbangan setiap siswa! MasyaAllah. Kawan, tidakkah kita merenung, ada keteladanan dalam diri anak ini. Betapa sikap kedermawanan telah tumbuh dalam dirinya. Tahajudnya tidak pernah putus, shaum-nya selalu terlaksana. Rasanya kita sebagai manusia dewasa pantas malu terhadap prestasi ibadahnya.

MasyaAllah, rasa takjub ini begitu besar dan bertanyatanya dalam hati tentang keluarganya. Rasa keingintahuan ini begitu memuncak, seperti hausnya seorang yang berpuasa menjelang waktu berbuka. Setelah saya telusuri, ternyata anak Sulawesi ini terlahir dari seorang ibu yang sederhana, bersahaja, dan bersuamikan seorang ustaz. Orang bilang, buah itu tak jauh dari pohonnya. Tampaknya pepatah ini berlaku pula pada Hizbah. Kami di SMART mendoakan semoga Hizbah tetap istiqamah hingga menjadi sosok yang saleh nan cendekia.

 

Cara Ini Jitu Yakinkan Siswa Untuk Sukses

Cara Ini Jitu Yakinkan Siswa Untuk Sukses

Oleh: Asep Rogia, Guru SMART Ekselensia Indonesia

 

Usai melaksanakan Salat Asar berjamaah, seorang siswa SMART Ekselensia Indonesia datang menghampiri saya.

“Ustaz, bolehkah saya bertanya? Bagaimana caranya agar kita bisa sukses?”

Sejenak saya berpikir, kemudian saya menjawab pertanyaan siswa tersebut.

“Nak, ketahuilah, sungguh sangat sederhana sekali untuk bisa sukses dan berhasil atas target kita. Kita hanya butuh sebuah keyakinan; yakin akan tercapainya setiap target kita.”

“Allah tidak meminta kita bagaimana memikirkan caranya. Yakinlah bahwa Allah akan memberikan jalan kemudahan dalam setiap tahapan pencapaian target kita karena Allah itu sesuai prasangka hamba-Nya. Kalau kita yakin bisa berhasil, maka Allah akan memudahkan tercapainya target kita.” Siswa ini menyimak serius perkataan saya.

“Nak, bukankah Rasulullah pada saat berada dalam situasi sulit, seperti saat Perang Badar, selalu yakin bahwa Allah bakal memberikan kemenangan? Nak, kesuksesan dan keberhasilan atas target kita adalah sejauh mana keyakinan kita. Silakan kamu baca kisah-kisah sukses orang-orang hebat di seluruh dunia. Bekal mereka satu: yakin bahwa mereka akan bisa melakukannya.”

“Mereka tidak pernah memikirkan caranya. Sebab, memikirkan caranya, justru hanya akan merintangi proses kreatif yang berjalan di benak mereka. Mereka hanya perlu untuk pandai-pandai melihat peluang, memanfaatkannya, dan kemudian menikmati hasilnya,” lanjut saya menjelaskan.

Memotivasi siswa yang bertanya sudah menjadi kewajiban saya. Mereka harus didampingi agar bisa mencapai cita-citanya. Bersama mimpi-mimpi mereka, saya tanamkan pentingnya berusaha. Dan sebagai konsekuensi dari sekolah unggulan, mereka harus tetap terpantau untuk terus berada dalam jalur yang tepat.

Setelah siswa pertama pergi, datang temannya seorang diri. Seorang siswa kelas 2 yang baru terkena hukuman sekolah berupa rambut dicukur sampai gundul.

“Ustadz, apa hikmah di balik kejadian pahit?”

Tampaknya siswa ini mencoba merefleksikan hukuman yang baru saja diterimanya. Penggundulan rambut siswa di SMART biasanya terkait dengan satu tindakan siswa yang melanggar peraturan.

“Kejadian pahit itu dapat digolongkan menjadi dua: sebagian dari kejadian pahit itu dikarenakan diri kita sendiri, dan sebagian lainnya tidak berada dalam kuasa kita,” jawab saya.

“Nak,” jelas saya, “kebanyakan kejadian pahit dalam kehidupan kita muncul dari tidak adanya ketelitian dan manajemen yang baik dari diri kita. Bila kita tidak menjaga kebersihan, maka kita akan mudah sakit. Di sini kita yang bersalah. Bila kita tidak menaati peraturan berlalu lintas, maka kita rentan mengalami kecelakaan di jalan. Di sini kita juga yang bersalah. Sementara sebagian kejadian pahit yang di luar dari kehendak kita memiliki banyak sebab. Kesulitan membuat tumbuh dan sempurnanya manusia.”

“Kejadian-kejadian pahit dalam kehidupan manusia, kebanyakan sebagai tebusan atas kesalahan-kesalahan manusia sendiri,” tegas saya.

Sejatinya, saya ingin mengajak siswa ini untuk sadar atas akibat perbuatannya yang tidak berdisiplin. Hukuman yang diberikan di SMART tetap dalam kerangka untuk mengingatkan para siswa. Jangan sampai mereka mudai lalai, atau bahkan meremehkan peraturan. Sebagai orang yang diamanahi dalam hal kedisiplinan siswa, saya menyadari tanggung jawab ini tidaklah mudah.

Teringat ketika pertama kali diminta sebagai guru Pendidikan Agama Islam dan tim kedisiplinan di SMART, tertanam dalam hati saya tekad untuk mendisiplinkan siswa dengan segala risiko yang ada di dalamnya. Sadar bahwa bakal ada pro dan kontra terkait dengan pendisiplinan, entah

itu datang dari siswa atau bahkan dari dewan guru, ketika niat sudah tertancap dan ikhlas sudah mendarah, maka saya harus menjalankan amanah ini.

Saya menyadari bahwa pendidikan tanpa disiplin bakal menjadikan siswa liar, sedangkan disiplin tanpa hukuman hanyalah omong kosong. Hukuman dalam dunia pendidikan mutlak adanya. Tentu saja bukan untuk sarana melepaskan amarah, melainkan untuk menunjukkan kualitas disiplin di lembaga pendidikan itu masih terjaga dan peraturan yang dibuat dilaksanakan dengan sepenuhnya. Oleh karena itu, yang menghukum dan dihukum sekalipun harus terikat disiplin yang ada. Hukuman yang ditegakkan harus dalam sarana mengingatkan dan meluruskan. Jadi, kalau dijewer saja bisa mengingatkan tingkah salah siswa, mengapa siswa harus dicubit? Jika dicubit bisa meluruskan perilaku siswa, mengapa siswa harus dipukul?

Semoga siswa-siswa SMART menyadari arti berdisiplin, termasuk ketika mereka menerima hukuman akibat melanggar peraturan sekolah. Pada waktunya nanti, semoga mereka memahami bahwa pendisiplinan merupakan tangga yang akan membimbing mereka meraih kesuksesan.

 

Beranikah Kita Keluar Dari Zona Nyaman?

Beranikah Kita Keluar Dari Zona Nyaman?

 

Wajahnya datar, malah cenderung terlihat gelisah. Seperti biasa, ia berdiri dari bangkunya. Di SMART Ekselensia Indonesia, selama mengikuti pembelajaran siswa-siswa memang tidak diharuskan duduk di kursi. Ada hamparan karpet yang bisa mereka gunakan selama pembelajaran. Namun, anak ini juga tidak duduk di karpet. Ia berdiri, selalu begitu, lalu berjalan memandangi mind mapping materi yang ditempel di papan display. Lalu duduk lagi. Sebentar memandang ke papan tulis, ia lalu kembali berdiri dan berkeliling kelas. Di kelas saya, ia sering begitu. Tidak mengapa karena saya tahu ia tetap memerhatikan penjelasan saya. Hal ini dibuktikan dengan nilai ujiannya yang selalu di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Demikian pula dalam kedisiplinan, ia tidak pernah terlambat, baik saat memasuki kelas maupun menyerahkan tugas.

Saat diselenggarakan pemilihan presiden OASE (Organisasi Akademika SMART Ekselensia; semacam OSIS di sekolah umumnya), ia maju sebagai calon. Entah itu keinginannya sendiri atau dorongan—dan keisengan—dari beberapa temannya. Dari nama-nama yang masuk ke Panitia Pemilu Raya, semua diloloskan tanpa catatan, kecuali dia.

“Dia itu kritis,” kata Guru Bimbingan Konseling yang dimintai pertimbangannya terkait calon-calon yang akan berkompetisi di pentas demokrasi ala SMART.

“Kritis, maksudnya?” tanya saya keheranan sebab setahu saya ia tidak pernah melakukan pelanggaran aturan di sekolah dan asrama. Kritis dalam artian bodoh? Saya tidak yakin juga karena seluruh siswa SMART merupakan anak-anak cerdas. Walaupun harus diakui juga bahwa ia bukan siswa yang menonjol prestasi akademisnya.

Dari penjelasan Guru BK, diketahui bahwa ia senang mengkritisi hal-hal yang menurutnya tidak sesuai dengan norma keharusan. Ia adalah pembangkang dalam pemaknaan yang positif. Ia anti kemapanan yang melenakan dan menghambat orang untuk terus maju dan berkembang. Ia banyak bertanya dan mempertanyakan.

Apa salahnya dengan sifat kritisnya itu? Tidak. Sama sekali tidak salah. Kalaupun ada yang disebut salah, maka itu adalah kondisi kita, para guru dan pendidik, yang belum berani keluar dari zona nyaman. Kita belum siap menerima sikap kritis dari anak didik karena kita merasa lebih pintar dari mereka. Kita belum siap menerima fakta bahwa murid akan segera mengungguli kita.

Sikapnya yang kritis ini menjadi alasan sebagian guru yang menyarankan agar namanya dieliminasi dari bursa presiden OASE. Paradigma mereka masih konvensional, yaitu bahwa presiden OASE (ketua OSIS bila di sekolah lainnya) haruslah anak yang memiliki segudang prestasi dan memiliki sifat penurut. Presiden OASE haruslah menjadi role model atau teladan bagi siswa lainnya. Sifat penurut artinya tidak perlu banyak bertanya. Tukang kritik yang banyak bertanya, tidak masuk kriteria ini.

Namun, saya dan sebagian guru yang lain melihat dengan perspektif yang berbeda. Anak ini memiliki potensi yang sangat besar, yang belum teraktualisasikan sehingga ia melakukan banyak hal yang menurut sebagian orang dikategorikan sebagai “tidak wajar”. Anak ini perlu wadah yang bisa menyalurkan energinya yang melimpah itu. Anak ini perlu difasilitasi kecerdasannya. Dan wadah yang tepat adalah OASE—Organisasi Akademika SMART Ekselensia. Syukurlah, namanya batal dieliminasi dari bursa pencalonan.

Hari pertama kampanye. Tim sukses dari masing-masing calon mulai riuh menjual kelebihan calon yang diusungnya. Tidak ada suara dan pergerakan dari tim sukses si cerdas kritis tadi. Keesokan hari, kami dihebohkan dengan banyaknya selebaran yang ditempel di seutas tali sepanjang lorong sekolah. Berlembar-lembar kertas bekas menggantung dengan tulisan seperti “partai anu mendukung SBD”, “partai ikan dower mendukung SBD”, dan bersama “partai pencinta dangdut mendukung SBD”. Out of the box? Mari kita cermati penjelasannya.

Lembaran-lembaran yang digunakan berkampanye adalah kertas-kertas bekas yang sudah digunakan. Ada banyak di sekolah, tinggal meminta saja. Toh kertas-kertas ini juga akan segera masuk tempat sampah. Menggunakan barang bekas? Recycle? Pemikiran yang jenius! Tali yang diikatkan di balkon dijadikan media tempel kertas kampanye. Mudah juga didapat. Namun, keekonomisan menjadi alasan yang disampaikannya. Dengan menempel— atau menggantung—kertas kampanye di tali, artinya kita tidak mengotori tembok. Mudah ditempel, dan mudah pula dibersihkan. Walaupun punya kepentingan, tidak sampai mengotori dan merusak sekolah.

Partai pendukung yang “aneh-aneh”? Cerdas! Salah satu cara menarik simpati adalah dengan menonjolkan sisi kemalangan diri sehingga para pemilih akan empati. Namun, cara ini tidak pantas dipilih oleh calon presiden OASE yang disyaratkan memiliki ketegasan dan ketegaran diri. Memunculkan partai-partai fiktif dengan propaganda yang lucu dan unik akan menanamkan ingatan di alam bawah sadar yang akan memengaruhi siswa-siswa di bilik suara. Maka, ia pun menjadi trending topic. Siswa-siswa membicarakannya, guru-guru juga membicarakannya. Pada keesokan hari, hampir seluruh kandidat yang lain melakukan hal yang serupa. Ia akhirnya terpilih menjadi presiden OASE. Setelah melihat kinerjanya, kepemimpinan ia sangat visioner. Saya dan guru-guru sangat berbangga dengannya, sebagaimana kami bangga terhadap seluruh anak didik kami.

Sebagai guru, kita perlu memahami bahwa kecerdasan itu tidak satu, dan tidak melulu diartikan sebagai nilai jauh di atas KKM. Tugas setiap guru adalah menggali dan memfasilitasi bakat dan minat mereka. Ketika ada siswa yang melakukan hal-hal yang tidak lumrah atau bahkan melanggar aturan sekolah, ingatlah bahwa ia adalah anak kita yang tangannya akan menarik kita ke kemuliaan dan surga. Jangan berputus asa untuk selalu menanam kebaikan dan memercayai bahwa kebaikan itu akan berkembang dan kita memanennya kemudian hari. Perbuatan yang oleh sebagian orang disebut sebagai “pembangkangan” dan “kenakalan” bisa jadi hakikatnya merupakan luapan energi yang tidak terfasilitasi dan tersalurkan.

Jika kita bisa arif dan cermat, perbuatan yang kita namai sebagai kenakalan bisa menjadi kreativitas yang membawa kebaikan. Terima kasih, anak-anakku. Kami bangga pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupmu. []

Mimpi Anak Marjinal
,

Jangan Sampai Kerlipmu Menghilang

Menghilang

Oleh: Muhammad Habibur Rohman

 

Ada bunga
Pelan-pelan
Pudar wanginya
Pelan-pelan sekali
Hilang kerlipnya
Dengan hati-hati
Menuju mati

(Kamis, 2017)

Menyenangkan Sekali Bisa Belajar Kimia

Menyenangkan Sekali Bisa Belajar Kimia

Oleh: Abdul Gani. Guru SMART Ekselensia Indonesia

 

Pelajaran yang termasuk ke rumpun matematika dan ilmu pengetahuan alam, khususnya pelajaran Kimia, banyak ditakuti bahkan tidak disukai oleh para siswa. Kimia menjadi bagian pelajaran yang tergolong pada mata pelajaran MAFIA (Matematika, Fisika, dan Kimia) dan mempunyai predikat “mengerikan” serta menjadi momok di sekolah. Sudah lumrah bahwa pelajaran tersebut identik dengan perhitungan yang rumit dan membuat kepala pening tujuh keliling.

Di samping berlimpah dengan rumus-rumus dan perhitungan yang rumit, pelajaran Kimia juga dikenal jauh dari nilai-nilai seni dan otak kanan. Bahkan siswa-siswa yang masuk ke dalam penjurusan IPA dikenal dengan “siswa kiri”, yakni siswa yang memiliki kemampuan otak kiri yang dominan dan konon kurang kreatif

Tetapi, stigma tersebut tidak berlaku di SMART Ekselensia Indonesia. Siswa-siswa SMART, dalam pandangan saya, rata-rata kreatif dan mempunyai nalar seni yang bagus. Pandangan saya ini bukan tanpa dasar. Banyak fakta yang saya temukan di SMART yang menunjukkan bahwa mereka kreatif dan berselera seni tinggi, salah satunya terlihat pada trashic (trasch music).

Mendapati anak-anak dengan kreativitas yang tinggi menjadi tantangan tersendiri bagi saya sebagai seorang guru; bagaimana saya harus mengelola pembelajaran dalam kelas dan berusaha menyuguhkan pembelajaran yang kreatif, terutama dalam memberikan pembelajaran Kimia kepada siswa kelas 4 dan 5 IPA yang pada tingkatan ini penuh dengan rumus dan perhitungan rumit. Untuk mengajar anak-anak dengan kecerdasan di atas rata-rata (diketahui dari hasil psikotes pada saat seleksi penerimaan siswa) dan tingkat kreativitas yang bagus, saya pun lebih memosisikan diri sebagai fasilitator. Artinya, 60-70 persen siswa yang aktif di dalam proses pembelajaran, sedangkan saya hanya melihat dan menilai serta memberikan arahan.

Seperti dalam pembelajaran kimia untuk kelas 4 IPA. Ketika membahas materi hidrolisis garam, saya menggunakan metode Developmentally Appropriate Practices, yaitu suatu metode pembelajaran yang didasarkan pada potensi kemampuan siswa. Karena siswa SMART umumnya mempunyai kecerdasan seni yang bagus, saya pun memanfaatkan potensi ini dalam pembelajaran Kimia.

Saya meminta siswa untuk membuat komik tentang beberapa subbab di dalam bab hidrolisis garam secara berkelompok. Komik yang telah mereka buat kemudian dipentaskan menjadi drama. Dalam pembelajaran ini siswa terasah otak kiri maupun otak kanannya, yaitu menyampaikan pesan berupa teori kimia dalam sebuah pementasan.

Tahapan dalam pembelajaran ini adalah sebagai berikut:

Pertama, setiap siswa berdiskusi dalam kelompoknya untuk memahami tema subbab yang diberikan, dan membuat konsep pembuatan komik. Kedua, siswa membuat komik yang telah mereka konsep. Dan ketiga, mementaskan komik yang telah dibuat dalam sebuah drama.

Peran saya sebagai guru pada tahapan pertama adalah menjadi fasilitator untuk menjawab pertanyaan para siswa jika ada konsep dalam teori yang tidak bisa mereka pecahkan dalam kelompok. Pada tahapan kedua saya berperan memberikan penilaian terhadap proses pembuatan komik. Pada tahapan ketiga, saya berperan melakukan penilaian performa dan memberikan konfirmasi terhadap penampilan siswa.

Metode pembelajaran seperti ini membuat 100 persen siswa terlibat aktif di kelas sehingga tidak ada siswa yang mengantuk atau tertidur. Di lain pihak, saya sebagai guru bisa memaksimalkan fungsi sebagai fasilitator yang melakukan kontrol kelas, penilaian, dan konfirmasi terhadap apa yang dilakukan siswa. Di samping itu, metode pembelajaran ini merangsang kreativitas siswa.

Saya tercengang melihat kreativitas siswa, yang menurut saya luar biasa. Kreativitas mereka terlihat jelas pada saat pembuatan komik. Komik yang mereka buat bagusbagus; tidak hanya kualitas gambarnya, isi ceritanya pun menarik. Yang membuat saya lebih tercengang lagi adalah saat mereka menampilkan drama. Saya tidak menyangka bahwa siswa begitu menghayati peran dalam drama tersebut. Saya pikir karena pelajaran ini pelajaran eksakta mereka akan menampilkan drama biasa-biasa saja. Tetapi dugaan saya salah, ternyata mereka menampilkan drama dengan penghayatan yang sangat bagus, dan menyiapkan secara sungguh-sungguh properti-properti tambahan untuk penampilannya.

Setelah penampilan drama dilakukan, selanjutnya saya menguji pengetahuan mereka dengan mengadakan posttest. Hasilnya mengjutkan dimana mereka mendapatkan nilai rata-rata post-test yang bagus, yaitu 80.55, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran cukup berhasil. Mereka dapat menjelaskan konsep teori dalam hidrolisis garam dengan penampilan drama, dan pesan-pesan dalam drama itu tertangkap baik pula oleh setiap kelompok.

Kembali harus saya akui dan syukuri, siswa-siswa SMART tidak hanya cerdas otak kirinya saja, tetapi juga cerdas otak kanannya. Mengajar di SMART memberikan peluang bagi saya untuk mengembangkan diri menjadi lebih baik dalam mengajar dan mengembangkan berbagai metode pembelajaran karena siswanya kooperatif dan mampu mengikuti setiap metode yang saya berikan.

 

Guru Adalah Contoh yang Baik Bagi Siswanya

Guru Adalah Contoh yang Baik Bagi Siswanya

Oleh: Hodam Wijaya, Wali Asrama SMART Ekselensia Indonesia

Suasana asrama lantai tiga sore itu tidak seperti biasanya. Sepi, tidak terdengar suara canda anak-anak. Saya seakan berada di gedung kosong yang sudah lama ditinggal penghuninya. Koridor gelap; hujan di luar deras sekali dari tadi siang. Saya heran apa mungkin anak-anak masih di sekolah karena terjebak hujan. Dengan penuh rasa penasaran, saya nyalakan lampu dan mengecek kamar-kamar. Oh, ternyata mereka sedang terlelap tidur. Alhamdulillah, gumamku dalam hati. Maklum hari itu Senin, mungkin mereka kelelahan atau lemas karena seharian menahan lapar. Sebagai gurunya, saya merasa bangga, murid yang saya didik sudah bisa belajar menghidupkan salah satu amalan Nabi, yaitu berpuasa (shaum) sunnah. Puasa sunnah ini sudah menjadi satu dari puluhan kebiasaan berkarakter di asrama SMART Ekselensia Indonesia. Kebiasaan yang dapat membentuk kepribadian, mentalitas, dan kesehatan tubuh anak-anak.

Saya melihat jam yang dipampang di dinding koridor asrama sebelah barat sudah menunjukan pukul 17.05. Waktunya anak-anak mandi sore, persiapan berbuka, dan Salat Magrib berjamaah di Masjid Al-Insan. Sekali lagi, saya berputar melihat mereka yang sedang asyik dengan mimpi-mimpinya. Wajah mereka kelihatan lelah sekali. Saya tidak tega jika harus membangunkannya. Maka, saya putuskan untuk memberikan waktu setengah jam lagi agar mereka menikmati mimpi-mimpinya itu.

Ketika saya masuk ke kamar Kairo, Angkatan 9, saya dapati ada dua anak yang sedang asyik mengobrol di atas ranjang sambil makan camilan. Muhammad Alhamid, dan Insan Maulana. Mereka berdua tidak berpuasa. Saya penasaran apa yang sedang mereka bicarakan. Suara mereka tidak begitu jelas. Lalu perlahan saya menghampiri mereka.

“Assalamu’alaikum, kayaknya seru nih obrolannya?” tanya saya.

Hamid dan Insan terdiam sejenak, terpaku, menghentikan obrolannya. Ekspresi mereka berdua seperti orang tepergok berbuat salah.

“Wa’alaikumsalam, Ustaz,” jawab mereka dengan kaku sambil menyembunyikan camilannya ke belakang badan. Sepertinya mereka ketakutan karena tidak berpuasa.

“Kalian gak shaum, ya?”

“Hmmm… gak, Ustaz.”

“Kenapa?”

“Hmmm….” Mereka kikuk.

“Kalau Ustaz shaum gak?” mereka malah balik bertanya.

Waktu itu, saya tidak langsung menjawab. Saya hanya menarik napas kemudian duduk di samping mereka. Saya kikuk seperti mereka yang saya tanya barusan. Duh, saya benar-benar bingung harus jawab apa karena saya juga tidak sedang berpuasa. Sudah dua hari saya kurang sehat.

“Hmmm… ini kan shaum sunnah, Nak. Jadi, boleh kan Ustaz juga gak shaum seperti kalian?” saya sedikit membela diri walau sebenarnya hati ini merasa malu.

“Yeee… ternyata Ustaz juga gak shaum, San!” Hamid teriak kegirangan sambil melirik Insan. Mereka mengelus dada, membuang napas, mereka kelihatan lega sekali. Suasana yang tadinya kaku menjadi cair setelah mereka tahu kalau saya juga tidak berpuasa.

“Kok, Ustaz, gak shaum sih?” sekarang giliran Insan menginterogasi saya.

“Ustaz lagi kurang sehat, San. Lagian ini kan shaum sunnah,” saya kembali membela diri.

“Tapi kan walaupun sunnah, setidaknya Ustaz memberikan contoh yang baik buat anak-anak. Guru kan digugu dan ditiru.”

Saya terdiam mendengar perkataan Insan. Kata-katanya pendek, tapi sangat menancap ke hati. Seketika saya merasa jadi kerdil di hadapan mereka. Malu. Saya malu sekali. Saya pikir yang disampaikan Insan benar adanya.

“Ustaz minta maaf, ya, apa yang kamu sampaikan memang benar, insya Allah nanti hari Kamis Ustaz akan shaum, tapi kalian juga, ya?” saya tersenyum malu.

“Insya Allah, Ustaz,” mereka berdua menjawab dengan kompak.

Kamis harinya, sekuat tenaga saya ikut makan sahur dan berpuasa bersama anak-anak. Alhamdulillah, ketika mengambil takjil, saya bertemu di tempat makan mereka berdua. Hamid dan Insan menepati janjinya untuk berpuasa sunnah.

“Alhamdulillah, akhirnya kalian shaum juga,” sapa saya penuh bahagia.

“Alhamdulillah, Ustaz! Ustaz juga shaum kan?”

“InsyaAllah,” saya menjawab diiringi tawa kecil.

Mantab, Ustaz,” kata mereka sambil memberikan dua jempol.

Oh ya, Ustaz, mohon maaf ya kalau Senin lalu perkataan saya kurang berkenan.” Sepertinya Insan merasa bersalah.

“Sip. Teu nanaon, San,” saya jawab dengan bahasa Sunda karena kami sama-sama orang Bandung, sambil memberikan dua jempol seperti mereka barusan.

Sebagai guru, saya banyak belajar dari kejadian ini. Ternyata bukan hal yang mudah menjadi seorang pendidik. Kita harus menjadi teladan dalam setiap hal. Karena anakanak didik kita lebih banyak melihat kita daripada mendengar yang kita sampaikan kepada mereka. Mungkin selama ini pola pendidikan saya salah. Terlalu banyak meminta banyak hal ini dan itu kepada anak-anak, tetapi saya sendiri tidak memberikan contoh yang baik kepada mereka. Senin petang itu saya mendapatkan pelajaran yang sangat berharga sepanjang masa. Mencerahkan hati dan jiwa.

Benar yang dikatakan orang-orang bahwa murid kita adalah guru kita. Anak-anak didik kita pasti memiliki keunikan setiap individunya. Akan tetapi, hikmah itu selalu ada pada setiap jiwa. Ambillah pelajaran dari siapa pun walau ia hanya seorang anak kecil. Seperti kata pepatah, “Lihatlah perkataannya, jangan lihat siapa yang mengatakannya.”