Kamu Berapa Watt?

Puisi Kontemporer Oleh: Anggi Nur Cholis, Alumni SMART Angkatan IX

KAMU?

0 watt

1 watt

5 watt

20 watt

50 watt

100 watt -lampu

 

*penjelasan singkat: manusia itu ibarat lampu. Semakin besar energi dalam lampu semakin terang, bermanfaat, dan makin mahal harganya. Begitu pun manusia. Semakin besar energi posotof dalam diri sesorang semakin hebat, bermanfaat, dan makin dihargaioleh orang lain. Energi positif  itu bisa berupa apa saja. Mulai dari semangat, rasa empati, rasa menghormti, atau pun yang lainnya, asalkan energi itu berupa energi positif.

 

 

Suara Hati Menembus Hati di Hari Proklamasi

Oleh : Muhammad Syafi’ie el Bantanie (Direktur DD Pendidikan)

 

Abdullah ibnu Abbas pernah bercerita, sebagaimana diriwayatkan Imam At-Tirmidzi, “Suatu hari saya pernah dibonceng di belakang nabi.” Saat itulah, Rasulullah menyampaikan pesannya kepada Abdullah ibnu Abbas. Rupanya Rasulullah bermaksud menginternalisasikan tauhid ke dalam hati sepupunya itu.

“Wahai gulam (anak kecil), aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat,” terang Rasulullah membuka pembelajarannya.

“Jagalah Allah niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya kau mendapati-Nya selalu ada di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau minta tolong, mintalah tolong kepada Allah. Ketahuilah, walaupun bersatu seluruh manusia untuk memberikan manfaat kepadamu dengan sesuatu, niscaya tiadalah mereka dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah ditentukan Allah. Dan, walaupun mereka bersatu untuk mencelakakan kamu dengan sesuatu, niscaya tiadalah mereka dapat mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah ditentukan Allah kepadamu. Pena telah diangkat dan tinta telah kering.”

Dalam riwayat selain At-Tirmidzi disebutkan, “Jagalah Allah, niscaya engkau mendapati-Nya selalu di hadapanmu. Hendaklah engkau mengenal Allah di waktu lapang, niscaya Allah akan mengenalmu di waktu susah. Ketahuilah, apa yang luput darimu tidak akan mengenai engkau, dan apa yang harus mengenai engkau tidak akan luput darimu. Ketahuilah, sesungguhnya pertolongan (Allah) itu selalu bersama kesabaran, kesenangan itu ada bersama kesusahan, dan kemudahan ada bersama kesulitan.”

Indah sekali hadits ini. Dalam perspektif pendidikan, hadis ini menggambarkan proses pembelajaran seorang guru kepada muridnya. Gurunya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan muridnya adalah Abdullah ibnu Abbas. Coba kita saksamai situasinya seperti apa. Rasulullah sebagai guru membonceng Ibnu Abbas, muridnya, di atas untanya. Ibnu Abbas merasa nyaman dibonceng gurunya, Rasulullah. Jarak keduanya rapat sekali. Terjalin kedekatan fisik yang segera disusul dengan kedekatan hati antara guru dan murid .

Selanjutnya, Rasulullah pun membuka pembelajaran. Materinya berat, tentang tauhid. Namun, disampaikan dalam situasi yang sangat menyenangkan dan jauh dari tekanan. Hasilnya? Kita semua paham bahwa Abdullah ibnu Abbas tumbuh berkembang menjadi remaja saleh dan cerdas. Bahkan, Rasulullah sendiri memberikan gelar kepada Ibnu Abbas, “Turjumanul Qur’an” (Orang yang paling pakar terhadap Al-Qur’an). Tak heran pula, pada masa Khalifah Umar bin Khathab, Ibnu Abbas diangkat menjadi staf ahli khalifah saat usianya baru memasuki 14 tahun.

Singkat sekali Ibnu Abbas belajar kepada Rasulullah. Rasulullah wafat ketika Ibnu Abbas berusia 11 tahun. Tapi, saksamailah masa belajar yang singkat itu hasilnya melebihi professor masa kini. Ini tak lain karena keberhasilan Rasulullah sebagai guru dalam mendidik. Dan, salah kunci keberhasilannya terletak pada kedekatan hati Rasulullah sebagai guru kepada murid-muridnya.

Adakah guru-guru di sekolah-sekolah kita memiliki kedekatan hati dengan murid-muridnya? Ah, benarlah nasehat Imam Ahmad bin Hanbal, “Hanya suara hati yang mampu menembus hati.”

Soleh Ingin Salat Berjamaah

Syamsumar (Wali Asrama SMART Ekselensia Indonesia)

 

Jam di dinding menunjukkan pukul 17.15. Saya sedang duduk di kantor asrama Daarul Ilmi sambil mendata dan mengecek kartu izin siswa yang keluar hari itu. Kemudian saya bermaksud ingin menyalakan muratal sebagai tanda persiapan untuk Salat Magrib berjamaah.

Semua aktivitas siswa yang tidak berhubungan dengan persiapan shalat berjamaah harus dihentikan. Ternyata salah seorang wali asrama yang lain sudah menyalakannya terlebih dahulu. Saya pun langsung pergi menuju tempat para siswa biasa menyaksikan televisi. Di situ saya melihat mereka sedang asyik menikmati salah satu siaran yang tampaknya tengah seru-serunya. Ada siswa yang tersenyum, ada yang tertawa, bahkan ada juga yang bercanda ria sambil mengikuti ekspresi sesuai yang mereka saksikan. Saya lantas ikut tersenyum sambil mengingatkan mereka.

“Sekarang sudah waktunya untuk melakukan persiapan shalat berjamaah. Silakan TV dimatikan.”

“Sebentar lagi, Ustaz. Kalau sudah iklan ya!” sahut sebagian siswa.

Saya pun menunggu dengan sabar sambil mengingatkan siswa yang lainnya yang ada di setiap kamar. Di salah satu kamar saya mendapatkan ada siswa yang sedang duduk di atas tempat tidurnya sambil membaca buku yang ada di tangannya. Saya pun mengingatkannya untuk melakukan persiapan Salat Magrib berjamaah.

“Buku apa yang sedang kamu baca?” tanya saya.

“Komik. Memangnya kenapa, Ustaz?” siswa itu balik bertanya, tapi tak lama kemudian meneruskan bacaannya.

“Tidak apa-apa,” jawab saya.

“Baiklah, sekarang sudah waktunya mandi dan persiapan untuk Salat Magrib berjamaah.”

“Kenapa kita harus shalat berjamaah di masjid, Ustaz?” tanya siswa bernama Sholeh.

“Shalat berjamaah pahalanya lebih besar dibandingkan salat sendiri.”

“Tapi bukankah di kamar kita juga bisa melakukan salat berjamaah?” sergah Sholeh tidak puas.

“Betul, tapi alangkah baiknya kita salat berjamahnya di masjid.”

Siswa yang sama masih menunjukkan ketidakpuasan atas jawaban saya. “Tapi, pahala jamaahnya sama saja kan?”

“Beda! Kalau kita salat berjamaah di masjid setiap langkah kita menuju masjid akan dihitung pahalanya oleh Allah Swt, begitu pula saat kembali dari masjid. Apalagi kita tinggal di salah satu lembaga tempat kita harus mengikuti disiplin dan menaati peraturan-peraturan yang ada.” Sholeh menyimak kata-kata saya tanpa menginterupsinya.

“Sebagai manusia,” lanjut saya, “kita harus ingat bahwa hidup ini tidak terlepas dari disiplin, kapan pun dan di mana pun kita berada. Jangankan manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan sekalipun harus hidup berdisiplin. Kalau tidak, ia akan mati. Lalu lintas juga ada disiplinnya, ada peraturannya. Kalau tidak diikuti, maka akan celaka, akan saling bertabrakan. Apalagi manusia, apa jadinya kalau hidup tanpa disiplin?”

“Benar, Ustaz. Terima kasih atas masukan dan sarannya.” Saya tersenyum senang. Anak-anak seusia Sholeh memang terkadang suka unjuk diri; semata untuk memenuhi keingintahuan atau bahkan membutuhkan perhatian dari orang dewasa di lingkungan sekolah atau asrama.

“Baik, sekarang silakan kamu mandi dan siap-siap untuk Salat Magrib berjamaah.” Anak itu pun menutup komik yang dipegangnya sedari tadi. Ia bersiap untuk beranjak ke kamar mandi.

“Baik, Ustaz!”

Sang Calon Ilmuan Pelahap Buku

 

Dia terlahir dengan nama Hizbullah Ash-Shidiqy, dan biasa dipanggil dengan “Hizbah”. Siswa kelas 1 SMART Ekselensia Indonesia ini kerap membuat hakami bergetar manakala melihatnya berdoa sambil sujud dalam waktu yang lama. Siswa ini unik, tidak banyak bicara. Berbeda dari kebanyakan teman-temannya, tidak ada waktu yang tersisa dari keseharian Hizbah, selain untuk belajar, membaca buku, dan tilawah Al-Qur`an. Dia banyak membaca buku-buku penulis hebat, terutama karya-karya Dr. Aidh al-Qarni. Karya-karya al-Qarni, seperti Laa Tahzan, dikenal mampu menyentakkan jiwa dan relung kalbu para pembacanya. Nasihat-nasihatnya begitu mudah dicerna, tapi mendalam sekaligus menentramkan jiwa. Kuat dugaan, tulisan-tulisan al-Qarnilah yang kemudian membekas di hati Hizbah sehingga ia rajin berdoa dan bersujud dalam tempo yang lama. Hampir setiap selesai Shalat Maghrib siswa asal Bandung ini melakukannya.

Suatu ketika saya menghampirinya. Hizbah terduduk khusyuk membaca bukunya. Lagi-lagi buku karya Aidh al-Qarni tentang nasihat agama untuk seorang pemuda.

Berapa lama kamu membaca buku setebal 300-an halaman ini, Nak?” ,“Kurang lebih dua-tiga hari, Ustaz, jika tidak ada PR.” jawabnya.

MasyaAllah, saya sangat kagum. Dahsyat, keren. Waktu yang singkat mampu membaca lebih dari 300 halaman. Begitu bukunya selesai dibaca, Hizbah pasti pergi ke perpustakaan Pusat Sumber Belajar (PSB) yang ada di lingkungan SMART. Ia mencari buku lainnya. Kawan, berapa buku yang kauhabiskan dalam satu pekan, satu bulan, atau pertiga bulan? Sungguh saya sangat kagum terhadap siswa ahli sujud ini. Meskipun doyan melahap buku koleksi PSB, hafalan Al-Qur`an Hizbah tidak kalah tertinggal dari teman-temannya.

“Apa cita-citamu, Hizbah?” tanya saya suatu waktu.

“Saya ingin jadi ilmuwan di bidang sains, Ustaz. Saya ingin kuliah di ITB,” jawabnya dengan mantap.

Suatu hari siswa-siswa kelas 1 mengadakan bakti sosial di Masjid An-Nur, Desa Jampang. Kami, wali asrama, menyiapkan berbagai bingkisan berupa alat kebersihan, mikrofon jepit, dan kipas angin. Agar kegiatan ini lebih berkesan, kami menasihati para siswa untuk saling berbagi dengan menyumbangkan sebagian uang sakunya.

Hampir semua siswa menyumbang, tanpa terkecuali Hizbah. Namun, yang benar-benar di luar dugaan saya, uang yang diberikan Hizbah tidak kurang 25 kali lipat rata-rata sumbangan setiap siswa! MasyaAllah. Kawan, tidakkah kita merenung, ada keteladanan dalam diri anak ini. Betapa sikap kedermawanan telah tumbuh dalam dirinya. Tahajudnya tidak pernah putus, shaum-nya selalu terlaksana. Rasanya kita sebagai manusia dewasa pantas malu terhadap prestasi ibadahnya.

MasyaAllah, rasa takjub ini begitu besar dan bertanyatanya dalam hati tentang keluarganya. Rasa keingintahuan ini begitu memuncak, seperti hausnya seorang yang berpuasa menjelang waktu berbuka. Setelah saya telusuri, ternyata anak Sulawesi ini terlahir dari seorang ibu yang sederhana, bersahaja, dan bersuamikan seorang ustaz. Orang bilang, buah itu tak jauh dari pohonnya. Tampaknya pepatah ini berlaku pula pada Hizbah. Kami di SMART mendoakan semoga Hizbah tetap istiqamah hingga menjadi sosok yang saleh nan cendekia.