,

Saatnya Gunakan Medsos untuk Mencerdaskan Intelektual dan Spiritual Sob!

Saatnya Gunakan Medsos untuk Mencerdaskan Intelektual dan Spiritual Sob!

Oleh: Syahrizal, Alumni SMART Angkatan 10 berkuliah di UNPAD Jurusan Hukum

Saat ini media sosial melekat di segala lini masyarakat. Bagaimana tidak, setiap harinya orang-orang di sekitar kita, dekat ataupun jauh, menggunakan media sosial sebagai sarana aktualisasi diri, silaturahmi, hingga berbisnis. Hal ini memastikan para pengguna media sosial menulis dan membaca isi dari media sosialnya masing-masing. Di Indonesia sendiri terdapat 83,7 juta pengguna aktif dari internet pada 2013. Hal tersebut menjadikan media sosial semakin “memasyarakat” dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Bahasa Indonesia dikenal sebagai bahasa pemersatu keragaman yang ada di nusantara. Saat ini bahasa Indonesia menjadi pilihan dalam penggunaan bahasa diberbagai jejaring sosial terpopuler di dunia seperti Facebook, Twitter, Instagram, dsb.  Hal ini menjadikan semakin mudahnya pengguna media sosial menggunakan bahasa Indonesia untuk bersosialisasi. Hal yang menjadi permasalahan adalah seberapa sering kah pengguna media sosial membaca dan menulis? Bagi sebagian orang menulis dan membaca isi dari media sosialnya masing-masing merupakan kebutuhan, mengakses media sosial di mana pun dan kapan pun sudah menjadi hal yang lumrah dilakukan baik di tempat umum ataupun di rumah masing- masing. Hal yang biasanya ditulis oleh pengguna media sosial adalah emosi dan perasaan terhadap lika-liku kehidupannya sehari-hari.

Semakin seringnya pengguna media sosial membaca dan menulis (terutama hal-hal yang sifatnya pribadi) pada media sosial akan menjadikan pengguna rentan menyalahgunakan fungsi dan tujuan sebuah media sosial. Pengawasan terhadap isi dan konten dari media sosial diperlukan untuk mempertahankan fungsi utama dari media sosial, yakni saling berkomunikasi dengan positif antar sesama penggunanya.

Banyak sekali pengguna media sosial yang hanya menggunakan media sosial –hanya- sebagai sarana mengobrol sesama pengguna, padahal media sosial sendiri dapat dimanfaatkan sebagai sarana berpikir kritis dan mencari jalan keluar permasalahan bangsa. Contohnya seperti tawuran antar pelajar, tawuran sendiri dapat dicegah dengan saling berinteraksi antara sesama pelajar dengan memperhatikan isi dan konten serta kesantunan berbahasa dari tulisan yang dipos. Para pelajar dapat saling berbagi pengalaman , pengetahuan dan kegiatan positif di sekolahnya masing-masing.

Sosialisasi dari berbagai pihak untuk meningkatkan budaya membaca dan menulis melalui media sosial sangat perlu untuk ditingkatkan. Kampanye kesadaran untuk menggunakan media sosial secara positif dapat  dilakukan dengan saling berbagi tulisan yang bermanfaat untuk memperkaya wawasan akan ilmu pengetahuan. Dalam menumbuhkan minat baca yang melalui media sosial, para pemegang kebijakan pemerintahan dan masyarakat dapat bekerjasama memfasilitasi seluruh rakyat Indonesia dalam mendapatkan akses yang optimal terhadap internet. Dengan ini cita-cita untuk mencerdaskan intelektual dan spiritual dapat tercapai dengan optimal dan sukses.

SOCIAL FUN(D)

SOCIAL FUN(D)

Kebahagiaan datang dengan berbagai bentuk, tapi seringkali dia datang lewat cara-cara yang sederhana. Itulah yang saya dapatkan ketika bersilaturahmi ke Panti Asuhan Putra Darussolihin, Salabenda. Panti asuhan yang memiliki halaman yang cukup luas dengan bangunan panti yang berbentuk huruf ‘U’ ini sudah berdiri sejak tahun 1998. Di sini tinggal 31 orang anak asuh, dari siswa SD hingga mahasiswa.

Saya dan teman-teman berkunjung ke panti ini bukan tanpa alasan. Kami bermaksud ingin donasi dan menyumbangkan beberapa barang yang kami (seluruh siswa SMART) miliki, seperti baju, uang, serta alat-alat kebersihan bagi penghuni panti. Acara ini adalah realisasi dari program OASE 2018-2019 yang sudah dirancangkan oleh divisi kami, Divisi Sosial, Komunikasi dan Informasi (Diskominfo).

Kami berkunjung ke Darussolihin pada Sabtu pagi, 21 September 2019 lalu. Saya pergi ke panti asuhan itu dengan teman-teman Diskominfo lainnya, yaitu,  Syarif, Dafa, Thorik, Agil dan Wawan.

Awalnya, program ini sangat sulit untuk direalisasikan karena terhalang beberapa faktor, seperti sulit mencari panti asuhan yang cocok, mencari tanggal yang tepat dan menyiapkan anggaran yang sesuai. Beberapa kali kami ingin mengganti program ini dengan mengadakan bakti sosial kepada siswa-siswa SD yang membutuhkan bantuan di sekitar SMART. Namun ide itu juga kami batalkan karena satu dan lain hal.

Akhirnya, setelah beberapa kali diskusi dengan Ustazah Dina Rahmawati sebagai pembina OASE, pilihan kami jatuh pada Panti Asuhan Putra Darussolihin. Setelah itu, berbagai persiapan pun kami lakukan. Kami mulai dengan melakukan survei ke Panti Asuhan Putra Darussolihin. Survei ini dilakukan untuk menilai seberapa cocok panti menerima donasi.

Selain itu, survei dilakukan untuk membuat janji pelaksanaan kegiatan apabila panti dirasa cocok untuk menerima donasi. Tapi sepertinya takdir berkata lain, pengurus panti pada saat itu sedang tidak ada di tempat. Kami pun menerima kartu nama pengurus panti dan diminta untuk menghubungi lewat Whatsapp oleh Pak Security.

Satu minggu pun berlalu. Saya teringat untuk menghubungi pihak panti guna membuat janji pelaksanaan. Dengan menggunakan ponsel milik OASE, saya pun menghubungi pihak panti. Setelah mendapat kepastian tanggal pelaksanaan, kami pun mulai menyiapkan barang-barang yang akan kami donasikan kepada Panti Asuhan Putra Darussolihin.

Donasi berupa baju dan uang kami kumpulkan secara sukarela dari seluruh siswa SMART. Awalnya, terbesit keraguan untuk mengajak siswa SMART ikut berdonasi, karena kami akan memotong uang saku setiap siswa sebesar Rp 5.000 dan meminta mereka menyumbangkan baju.

Ternyata keraguan kami tidak terbukti, semua siswa mau ikut berpartisipasi. Satu hari sebelum pelaksanaan acara, kami pun menyiapkan semua donasi yang akan kami berikan. Alhamdulillah, terkumpul uang tunai satu juta rupiah dan baju dua kardus besar. Kami juga bisa membeli alat-alat kebersihan untuk teman-teman di panti asuhan.

Hari pelaksanaan pun tiba. Kami pergi dengan menaiki Bus Pusaka dari Jampang menuju Salabenda. Karena sehari sebelumnya kami tidak sempat untuk membeli makanan, maka saya pun memisahkan diri dari rombongan untuk membeli Bolu Lapis Bogor. Kue khas Bogor ini akan kami hadiahkan kepada teman-teman di panti.

Tak butuh waktu lama, 25 menit kemudian kami semua sudah memasuki halaman Panti Asuhan Putra Darussalihin. Kami pun menyiapkan barang-barang yang kami bawa agar terlihat rapi. Sebelumnya kami cukup kerepotan menggotong dua kardus besar berisi baju, alat-alat kebersihan dan Bolu Lapis Bogor dengan berjalan kaki. Ditambah jarak dari pemberhentian Bus Pusaka ke panti asuhan lumayan jauh.

Kami disambut oleh bapak setengah baya, Pak Arif, beliau adalah salah satu pengurus panti. Kami kemudian diajak untuk masuk ke ruang tamu. Lalu kami memperkenalkan diri dan berbincang tentang Panti Asuhan Putra Darussolihin.

Pak Arif menjelaskan bahwa panti ini sudah memiliki cabang di wilayah Ciawi, khusus untuk balita dan perempuan. Penghuni panti juga berasal dari berbagai daerah dan latar belakang. Pak Arif pun berkisah tentang latar belakang anak-anak pantinya. Ada anak yang ditinggal cerai oleh kedua orang tuanya dan tidak terurus. Ada juga anak yang berasal dari jalanan.

Namun yang membuat kami miris adalah ada anak yang ditinggal di rumah sakit oleh orang tuanya sejak lahir. Anak itu diberi nama Imam, sekarang sudah berumur enam tahun,  Kelas 1 SD. Imam tumbuh menjadi anak yang baik dan lucu. Di sisi lain, kisahnya membuat kami berpikir betapa tak punya hati orang yang “membuang” Imam. Pak Arif juga menambahkan bahwa rata-rata anak di panti sudah jarang atau bahkan tidak dijenguk lagi oleh orang tuanya. Jadi jika lebaran tiba, mereka hanya berada di panti. Jika sedang beruntung meraka diajak jalan-jalan oleh para donatur.

Semua penuturan Pak Arif membuat kami teringat dengan kondisi kami dan siswa SMART lainnya. Kondisi kami pun tidak beda jauh dengan para anak panti ini. Kami semua berasal dari daerah yang berbeda-beda di Indonesia dan tentunya latar belakang yang berbeda-beda pula. Teman-teman kami pun ada juga yang memiliki masalah keluarga yang tidak jauh berbeda dengan anak-anak panti asuhan ini.

Kami memang kekurangan secara materi, tapi kami tidak kekurangan secara nurani. Dengan  keterbatasan yang kami miliki, tidak membuat kami mempunyai alasan untuk tidak membantu sesama. Karena pada hakikatnya, seburuk apa pun kondisi kita, masih ada lagi orang yang ditimpa musibah lebih berat. Selama ini kami lebih sering mengeluh tentang apa yang tidak kami punya daripada mensyukuri apa yang sudah dimiliki. Perlahan, rasa malu dan bersyukur menelusup ke dada kami. Sesuatu yang seharusnya sudah lama kami punya.

Setelah cukup lama berbincang di ruang tamu panti, kami pun diarahkan menuju ruangan seperti musala kecil. Ruangan ini tidak besar, tetapi tidak bisa dibilang kecil juga. Pak Arif menjelaskan, bahwa anak-anak mengaji dan kajian di sini.

Acara ini kunjungan kami pun dimulai. Pak Arif membuka acara dengan takzim. Setelah pembukaan, acara pun diserahkan kepada kami. Kami pun memperkenalkan diri masing-masing, seraya menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan kami. Anak-anak panti  manggut-manggut saja karena sepertinya mereka sudah sering dihadapkan pada situasi ini.

Setelah perkenalan diri, saya memberikan mereka sedikit motivasi. Saya mulai motivasi dengan sebuah cerita perompak gurun pasir yang saling bunuh untuk mendapatkan harta. Hingga akhirnya tak ada yang memiliki harta itu karena semuanya mati terbunuh. Semua peserta menyimak dengan serius dan sesekali tersenyum.

Anak-anak panti menyimak dengan serius karena sepertinya jarang ada yang datang dan memberi motivasi dengan berapi-api seperti seorang yang sedang orasi. Saya sengaja mengeraskan suara saya seperti sedang orasi, untuk membangkitkan semangat mereka. Saya ingin menyampaikan bahwa manusia yang dibentuk dengan kepedihan sedari kecil akan menjadi manusia yang tangguh.

Selayaknya berlian yang sangat berharga, hanya dapat terbentuk setelah melewati panggangan ribuan derajat Celsius di magma dan ditempa oleh bumi. Saya juga ingin menyampaikan bahwa, kita yang berasal dari golongan bawah bukan berarti tidak bisa menyebarkan kebaikan. Sebarkanlah kebaikan itu walau sekecil apa pun. Karena berbuat kebaikan itu seperti sebuah bandul. Ia akan kembali lagi kepada kita dengan kebaikan yang berlipat ganda.

Setelah selesai memberi motivasi singkat, acara pun kami lanjutkan dengan penyerahan donasi. Saya menjelaskan bahwa donasi ini berasal dari seluruh siswa SMART Ekselensia Indonesia. Acara pun dilanjutkan dengan menyantap Bolu Lapis Bogor besama-sama. Awalnya kami memberikan Bolu Lapis Bogor untuk dimakan oleh seluruh anak panti, tetapi Pak Arif ingin agar makannya bersama-sama.

“Agar lebih afdhol,” kata Pak Arif. Kami pun mengiyakan saja.

Disaat memotong Bolu Lapis Bogor, Pak Arif berkata, “Jarang sekali kami bisa makan Bolu Lapis seperti ini.” Saya bisa melihat raut kejujuran dari wajah Pak Arif.

Selesai makan bolu bersama, kami semua pun berfoto bersama. Kemudian saya dan teman-teman kembali berbincang singkat dengan Pak Arif tentang kunjungan ini. Beliau mengucapkan banyak terima kasih dan mengundang kami untuk tidak sungkan berkunjung kembali ke panti.

Acara selesai, kami pun bersiap untuk kembali ke SMART. Kami mengucapkan selamat tinggal kepada semua anak panti serta tak lupa bersalaman dengan Pak Arif. Acara ini memang sangat sederhana, tetapi bekas yang ditinggalkan sangat tidak sederhana,  Kawan!

Dari acara sederhana ini kami seperti sedang diajarkan banyak tentang hidup. Dilema kehidupan yang biasanya hanya terlihat di acara-acara televisi, dapat kami lihat langsung dengan mata kepala kami.

Banyak sekali orang yang merasa hidupnya sudah sangat berat, karena dia terus mendongak ke atas, lupa untuk melihat ke bawah. Seandainya dia sering melihat ke bawah, dia akan sadar bahwa masih banyak orang yang lebih susah darinya. Mereka yang menanti uluran tangan, tak peduli walau sekecil apa pun “tangan” yang datang kepada mereka.

 

,

Ketika Kedokteran Terasa Jauh, Yakinlah Allah Maha Dekat

Ketika Kedokteran Terasa Jauh, Yakinlah Allah Maha Dekat

Oleh: Nurkholis.

Alumni SMART Ekselensia Indonesia Angkatan 4, Lulusan Kedokteran UI Depok

 

Awal cerita saya bisa bersekolah dan merasakan manisnya beasiswa di SMART Ekselensia Indonesia berawal dari informasi dan tawaran dari seorang guru agama Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Kamalaputi, Nusa Tenggara Timur (NTT). Setelah melalui proses seleksi regional NTT, akhirnya saya berhasil menjadi perwakilan penerima beasiswa bersekolah gratis SMP dan SMA di SMART Ekselensia Indonesia selama 5 tahun (akselerasi). Sekolah ini merupakan sekolah bagi mereka yang kurang mampu namun memiliki kecerdasan yang mumpuni. Saya sendiri berasal dari keluarga yang kurang mampu, ayah berwiraswasta dengan menjajakan kue dan ibu hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang membantu suaminya. Keluarga kami memang kurang mampu namun kami memiliki kemampuan bertahan yang sangat tinggi. Pekerja keras. Hal ini yang selalu coba saya tanamkan dalam diri untuk menjadi “orang” nantinya.

Awal mula berada di SMART Ekselensia Indonesia saya sempat mengalami hal yang sulit, maklum anak rantau. Saya menyebutnya sindrom kangen rumah. Kurang lebih selama 2 tahun saya (masih) mengalami gejala-gejala ingin pulang, sehingga masa-masa SMP tidak banyak yang bisa saya lakukan. Kurun waktu dua tahun saya pergunakan untuk beradaptasi. Yap, saya termasuk tipe orang yang butuh waktu untuk beradaptasi lebih. Singkat cerita, saya mulai terbiasa dengan dunia akademis di tahun berikutnya, cara pandang mulai visioner. Mulai tahu harus jadi apa saya di masa yang akan datang. 3 tahun berikutnya, saya mulai merintis nilai rapor saya untuk mendapatkan angka 8 di 6 mata pelajaran dasar (yang diujikan dalam UN). Dan selama 3 tahun menjalani masa SMA, saya cukup berkembang dalam hal akademis serta keorganisasian.

Tiba saatnya ketika akhir masa SMA untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Saya ingin bercerita sedikit mengenai proses masuk perguruan tinggi negeri. Ketika itu, saya mendapat kesempatan untuk mengikuti “SNMPTN undangan” di mana proses seleksi hanya dilihat dari berkas-berkas yang ada tanpa dilakukan ujian tulis. Saya bukanlah orang jenius atau pun orang paling pintar di angkatan saya. Akan tetapi, berkat kerja keras ketika masa SMA, di 6 mata pelajaran dasar (yang diujikan dalam UN) saya menduduki peringkat pertama dengan grafik progresivitas yang meningkat. Walaupun jika di total semua pelajaran saya tidak akan mendapat posisi pertama. Dengan kondisi tersebut, saya mencoba memilih jurusan dan universitas yang menurut saya terbaik saat itu. Saya bertekad memilih jurusan pendidikan dokter di Universitas Indonesia. Pertimbangan saat itu adalah saya suka biologi sehingga menurut saya jurusan terbaik bidang itu adalah kedokteran, saya menduduki posisi pertama yang dapat dibilang saya murid rekomendasi sekolah, dan juga jikalau hasilnya pun tidak lolos saya masih ada kesempatan di ujian tulis nanti. Dengan membaca Bismillah, saya memilih pilihan pertama Fakultas Kedokteran UI dan pilihan kedua jurusan non-kedokteran di Universitas Airlangga.

Alhamdulillah, saya berhasil masuk sebagai siswa kedua dari sekolah yang masuk kedokteran UI setelah sebelumnya senior saya juga masuk melalui jalur yang sama. Saat itu, saya langsung sujud syukur kepada Allah atas apa yang telah diberikan. Saya percaya itu memang takdir yang dibuat oleh-Nya, bukan takdir yang sekadar dibuat-buat melainkan takdir yang sebenarya dibuat & patut disyukuri dengan kesungguhan dalam mengembannya. Dengan perasaan yang senang bercampur haru saya kabari keluarga di NTT dan betapa bahagianya mereka, sempat tidak percaya, dan akhirnya mereka menerimanya dengan tangisan bahagia. Sungguh perkataan “berikan ikhtiar terbaikmu dan serahkan segala hasilnya kepada Allah” sangat patut dilakukan disetiap kegiatan kita. Karena Allah lah yang paling tahu kebutuhan terbaik hambanya. Terimakasih Allah Swt. Terimakasih SMART Ekselensia Indonesia.

,

Siswa Kami Tercinta

Siswa Kami Tercinta

Karya Je Firman, Guru Bahasa Indonesia SMART Ekselensia Indonesia

Gelap kelam gulita ini

Bukan enigma

Tapi ini

memang nelangsa

*

Kesunyian selimuti raga

Kala kita tidak bersua

di tempat nan penuh kaldera

*

Kini keheningan telah sirna

Lewati banyak suka duka

Kala puspa tiba

Siapa mereka….

Siswa kami tercinta..

Ini lho Sob Alasan Kenapa Kita Tak Boleh Sembarangan Menilai Orang

Ini lho Sob Alasan Kenapa Kita Tak Boleh Sembarangan Menilai Orang

Oleh: Ana Mariana Mujahid

 

Pada suatu hari Thomas Alva Edison pulang ke rumah dan memberikan sepucuk surat kepada mamanya. Ia berkata “Guru saya memberikan surat ini pada saya dan berpesan agar surat ini hanya diberikan pada mama.”

Dengan airmata berlinang, sang ibu membacakan isi surat tersebut “Anakmu terlalu jenius, sekolah ini terlalu sederhana dan tidak memiliki cukup guru yang baik untuk melatih dia. Ajarilah dia secara langsung.”

Tahun demi tahun berlalu, mama dari Thomas Alva Edison pun sudah meninggal. Ia sekarang sudah menjadi penemu terhebat sepanjang sejarah.

Suatu ketika dia menemukan surat yang dulu dikirim oleh gurunya di laci meja mamanya. Dia membuka dan membacanya. “Anakmu punya masalah. Ia sangat bodoh. Kami tidak mengizinkan lagi untuk datang ke sekolah ini selamanya.”

Edison menangis berjam-jam dan menulis ini di buku hariannya. “Thomas Alva Edison adalah anak gila yang oleh seorang pahlawan yaitu mama saya, diubahnya menjadi yang paling jenius sepanjang abad.

Terlepas dari akurat atau tidaknya cerita yang saya dapatkan dari media sosial di atas, isi ceritanya mengingatkan saya pada istilah labelling. Tidak jarang saya mendengar ungkapan-ungkapan “kamu, nakal sekali sih!” “bodoh, begitu saja tidak bisa”, “dasar pemalas!” dsb, baik itu dari orang tua, guru ataupun teman sebaya. Nakal, bodoh, malas bisa dikategorikan sebagai bentuk labelling atau pemberian cap terhadap seseorang atau sesuatu.

Menurut kamus Merriam-Webster, label adalah deskripsi atau identifikasi melalui kata atau frase. Label diberikan kepada anak atau seseorang untuk mendeskripsikan beberapa perilaku yang dimilikinya. Sebagai contoh, menyebutkan seseorang yang telah melanggar hukum sebagai seorang kriminal. Anak yang mendapatkan nilai jelek di sekolah disebut sebagai anak bodoh, anak yang sering mengganggu temannya disebut sebagai anak nakal. Atau anak yang tidak mengumpulkan PR disebut pemalas dll.

Dalam teori psikologi sosial, labelling adalah menetapkan atau menggambarkan seseorang dalam hal-hal yang berhubungan dengan perilakunya. Menurut A handbook for The Study of Mental Health, label adalah definisi yang ketika diberikan pada seseorang menjadi identitas diri orang tersebut dan menjelaskan tentang tipe bagaimanakah seseorang itu. Terkadang yang menjadi masalah adalah dengan memberikan label pada seseorang, kita cenderung melihat label tersebut sebagai gambaran keseluruhan, bukan gambaran perilakunya satu per satu.

Labelling ada dua macam, label negatif dan label positif. Menurut Mary Sheedy Kurcinka, penulis buku Raising Your Spirited Child (Harper Collins, 1992), label negatif dapat membuat anak kesulitan membangun self-esteem yang baik. Kurcinka berpendapat labelling tidak hanya berpengaruh terhadap perilaku anak tetapi juga terhadap perlakuan orang tua atau orang-orang di lingkungan anak itu sendiri. Orang tua yang menggunakan kata positif daripada label negatif cenderung bertindak kepada anaknya dengan perilaku dan penghargaan yang lebih baik (http://ruangpsikologi.com/topic/labeling-pada-anak/).

Hal ini juga berlaku pada seorang pendidik (guru). Seperti cerita Thomas Alva Edison di atas yang terlanjur di cap bodoh oleh gurunya karena kerap tertinggal dalam pelajaran, padahal sebenarnya Edison tidak bodoh. Namun di tangan yang tepat, yakni ibunya yang justru memberi label positif pada anaknya, Edison menjadi penemu terbesar sepanjang sejarah dengan 1093 hak paten.

Dalam makalah HERLINA/LABELING_DAN_PERKEMBANGAN_ANAK-salman.pdf. Labelling negatif memberikan dampak melalui tiga cara. Pertama, melalui self labelling (self concept). Menurut Sigmund Freud konsep diri berkembang melalui pengalaman. Terutama perlakuan orang lain terhadap diri sendiri secara berulang-ulang. Dengan menerima label “nakal” dari orang lain, maka dalam diri anak akan terbentuk konsep bahwa dirinya adalah seorang anak yang nakal. Dan anak akan mengukuhkan konsep tersebut dengan menampilkan perilaku tertentu yang menurut anggapan umum disebut perilaku anak nakal.

Kedua, melalui persepsi orang dewasa terhadap anak. Persepsi yang berupa, apapun yang anak nakal lakukan pastilah negatif. Walaupun anak berusaha menampilkan perilaku positif , namun dianggap ada niat tersembunyi, atau persepsi “pasti ada maunya nih”, atau “ah paling cuma hari ini dia begitu, besok pasti sudah nakal lagi” sehingga tidak diapresiasi oleh orang dewasa. Hal ini bisa membuat anak frustasi dan tidak mau mengulangi perilaku baiknya.

Ketiga, melalui perilaku orang dewasa terhadap anak. Orang dewasa yang sudah menganggap atau melabel anak negatif, tidak memberikan peluang pada anak untuk berubah. Misalnya dengan ungkapan “sudahlah tidak usah dinasihati lagi, buang waktu saja. Anak itu memang nakal, dan tidak akan berubah.” Akibatnya anak makin tidak tahu mana perilaku yang bisa diterima masyarakat dan terus berperilaku negatif.

Sebagai seorang pendidik sudah menjadi sebuah tanggungjawab untuk mendidik anak menjadi orang yang baik, memiliki masa depan cerah dan mengembangkan bakat serta potensi yang dimiliki oleh anak didik agar bisa bermanfaat bukan hanya untuk dirinya tapi juga untuk masyarakat. Dalam teori psikososial, erikson mengatakan bahwa dalam diri individu ada dua kutub yang akan berkembang pada setiap tahap perkembangan anak, yaitu kutub positif dan kutub negatif. Kutub mana yang akan berkembang sangat tergantung dari stimulasi lingkungan yang diterimanya. Bila lingkungan memberikan stimulasi yang negatif seperti pemberian label negatif maka kutub negatiflah yang akan berkembang, begitu pula sebaliknya. Perkataan yang buruk dapat merusak moral dan mental seseorang. Perkataan yang baik dapat memotivasi seseorang untuk menjadi yang terbaik.

Ada beberapa cara yang berupa stimulasi positif dalam mendidik anak yang bisa dilakukan baik oleh orang tua maupun guru, diantaranya; memberi atau memanggil dengan nama atau julukan yang baik. Memberikan respon yang spesifik, maksudnya berikan respon terhadap perilaku anak bukan pada kepribadiannya. Memberikan pujian dan hukuman secara tepat. Jangan berlebih dan jangan kurang, berikan pujian dan hukuman jika anak menunjukkan perilaku yang diinginkan atau tidak diinginkan. Pujian dan hukuman pun harus disesuaikan dengan usia dan jenis kelamin anak, misalkan anak laki-laki usia dua tahun akan senang jika diberi permen beda halnya dengan anak usia 12 tahun yang lebih suka jika diberi tas baru daripada permen.

Berikutnya adalah konsisten dalam memberikan pujian ataupun hukuman karena inkonsisteni malah akan membuat anak bingung menentukan perilaku yang harus dilakukan dan terakhir jangan lupa untuk memberikan pemahaman mana yang boleh dilakukan dana mana yang tidak boleh dilakukan.

Terakhir saya tutup dengan mengutip kata-kata dari Lawrence G lovasik “if you cannot do a kind deed, speak a kind word. If you cannot speak a kind word think a kind thought.”

 

Semoga bermanfaat.

Seorang Pendidik Harus Memberi Teladan yang Baik

Seorang Pendidik Harus Memberi Teladan yang Baik

Oleh : J. Firman Sofyan, S.Pd.

Disebuah sekolah yang terletak di sebuah Desa Jampang, Kemang, Bogor, hampir setiap bulan selalu ada pergantian spanduk di halaman sekolah yang berisi prestasi-prestasi yang diraih para siswanya. Berbagai prestasi pernah ditampilkan dalam spanduk tersebut, baik prestasi tingkat regional, nasional, maupun internasional. Padahal, sekolah tersebut adalah sebuah sekolah milik pemerintah, tidak ada huruf  N di belakang setiap jenjang sekolahnya. Tidak jauh dari sekolah tersebut, sekolah lain yang memiliki gerbang dan tentu saja gedung lebih megah pun melakukan hal yang sama. Spanduk bahkan baliho berisi prestasi para siswa dengan mudahnya silih berganti.  Wah, hebat-hebat sekali prestasi para siswa yang menempuh pendidikan disekitar desa tersebut? Jika prestasi siswa desa saja seperti itu, bagaimana prestasi siswa-siswa kota? Pasti lebih fantastis, kan? Jika pergantian spanduk prestasi dilakukan di setiap bulan oleh sekolah di desa, berarti pergantian spanduk prestasi sekolah di kota pasti lebih dari seminggu sekali, kan? Mudah-mudahan!

Terus, apa masalahnya? Toh, tidak ada yang salah dengan sekolah-sekolah tersebut! Penempelan dan pergantian spanduk ataupun baliho tersebut wajar-wajar saja dilakukan oleh sekolah di mana pun. Tujuannya pun searah dengan tujuan spanduk dan baliho tersebut: promosi dan iklan! Jadi, kalau itu bukan masalah, ngapain dibahas? Yang perlu diperhatikan, dibahas, dikritisi, dan direnungkan adalah isi dalam spanduk tersebut! Sudah berapa kali sosok guru muncul dalam spanduk-spanduk tersebut sejak sekolah tersebut didirikan? Berapa banyak prestasi yang pernah diraih para guru sehingga mereka cukup pantas dan layak dijadikan sebagai ajang promosi dan iklan sebuah sekolah atau institusi pendidikan?

Beruntung, sekolah pertama yang saya sebutkan dalam tulisan ini, meski tidak sesering siswanya,  termasuk yang mau dan bangga memasang wajah guru-guru berprestasi dalam spanduk mereka. Padahal, sekolah yang bernama SMART Ekselensia Indonesia tersebut merupakan sebuah sekolah yang dikelola oleh Dompet Dhuafa. Bagaimana dengan sekolah-sekolah lain yang sudah dikelola bertahun-tahun secara profesional, sekolah yang dikelola pemerintah, atau sekolah-sekolah mahal yang katanya berstatus internasional? Berapa kali spanduk dan baliho mereka menampilkan sosok para pendidiknya? Mudah-mudahan pernah atau malah sering sekali! Kalau tidak pernah, semoga penyebabnya bukan karena tidak pernah ada prestasi yang ditoreh oleh para pendidik! Semoga saja, asalannya karena memang ajang promosi hanya diperuntukkan bagi para siswa yang mungkin secara fisik pun lebih “menjual” dengan para pendidik mereka di kelas. Dan, yang jangan sampai terjadi adalah sekolah tidak pernah mengapresiasi prestasi para pendidiknya meski hanya dengan menampilkan sosok mereka pada sehelai kertas berukuran raksasa di halaman sekolah mereka.

Entah sebuah jargon, pepatah, atau dagelan, mungkin kita pernah mendengar ini: GURU berarti yang digugu dan ditiru. Gugu (menggugu) sendiri menurut KBBI berarti mempercayai, menuruti, mengindahkan. Berarti digugu berarti dipercai, dituruti, diindahkan.  Adapun tiru (meniru) berarti melakukan sesuatu seperti yang diperbuat orang lain dsb; mencontoh; meneladan. Ditiru berarti dicontoh dan diteladani. Jika jargon di atas benar, ternyata kata guru adalah sebuah profesi mengandung makna yang sangat dalam. Akan tetapi, coba renungkan! Makna yang tersurat dari kata guru ternyata adalah sebuah tantangan dan tuntutan besar untuk siapa pun yang akhirnya memutuskan atau terpaksa menjadi seorang guru. Akhirnya, muncul berbagai pertanyaan. Bagaimana kondisi guru saat ini? Teladan apa yang bisa diambil dari seorang guru? Sudah sehebat apa sehingga sorang guru bisa dicontoh dan diteladani? Guru memang manusia dengan segala keterbatasan dan kekurangan yang tidak akan luput dari dosa dan alpa. Guru pun tidak mungkin disejajarkan dengan teladan umat Muslim, Nabi Muhammad saw. sehingga pantas untuk dicontoh dan diteladani. Salah satu cara agar seorang guru bisa digugu dan ditiru adalah dengan meraih prestasi.

Dalam hal ini, mohon maaf, saya kesampingkan dulu masalah akhlak guru yang tentu saja harus lurus dan searah dengan agama yang dianutnya masing-masing karena semua agama pasti mengajarkan segala kebaikan dan menuntut kebajikan. Secara tersirat pun, seorang guru memang sudah seharusnya memiliki akhlak mulia karena guru hal tersebut merupakan kewajiban seorang manusia terhadap Tuhannya. Ironisnya, dewasa ini banyak sekali terdengar berita yang negatif yang dilakukan oleh para guru. Salah satu kata yang kini identik dengan kata guru dalam sebuah berita justru kata maaf,  cabul!

Kasus pencabulan sepertinya tak henti-hentinya mencoreng dunia pendidikan. Di berbagai daerah muncul kasusnya silih berganti, seperti berlomba-lomba ingin memburamkan wajah pendidikan kita yang sudah lusuh. Khususnya di wilayah Kepri, beberapa tahun silam kasus pencabulan anak SMA oleh guru agama di Tanjung Pinang mencuat, kemarin kasus serupa terjadi di Batam. Hornyzon, Kepala sekolah SMP negeri di Batam diduga mencabuli 15 siswanya. Kasus ini terbongkar setelah salah satu korban bercerita kepada temannya. Selanjutnya berita tersebar dari mulut ke mulut dan menjadi perbincangan hangat diantara siswa. Sampailah masalah ini ke telinga wali murid. Usut punya usut, 15 siswi mengaku pernah dicabuli kepala sekolahnya (metro.kompasiana.com/18 April 2013).

Bukannya berlomba-lomba meraih prestasi, para guru dan bahkan kepala sekolah justru malah berlomba-lomba menjadi penghancur negri. “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari!” kata orang bijak menasihati kita. Jika guru dan kepala sekolahnya melakukan tindakan tidak senonoh, maka siswanya akan melakukan tindakan yang jauh lebih tidak senonoh!

Gelar Itu Harus dan Pasti

Sejenak kita lupakan berita-berita di atas. Berita-berita yang tentu dipublikasikan oleh para media. Tidak perlulah kita menyalahkan mereka yang mungkin luput memberitakan berita-berita prestasi-prestasi prestisius yang pernah dibuat oleh para guru di Indonesia. Toh, itu hak mereka. Itu tuntutan mereka agar banyak orang yang membaca.

Kini, sudah saatnya mengintrospeksi diri. Sudah waktunya para guru bangkit dan berdiri. Prestasi yang akan akan menyebabkan guru memang menjadi sosok yang memang layak dicontoh dan diteladani. Prestasi yang akan membuat media-media bangga menjadikan berita seputar guru sebagai topik utama mengalahkan berita-berita utama seputar olahraga.

Lantas, prestasi apa yang bisa diraih oleh seorang guru? Peluang untuk meraih prestasi saya kira selalu ada. Salah ajang pencarian bakat untuk guru adalah Lomba Karya Ilmiah Guru (LKIG) yang setiap tahun diadakan secara rutin. Kalau itu berat, seorang guru bisa memulai prestasi dengan menulis! Bukan menulis di papan tulis, di daftar hadir, atau sekadar membuat administrasi pembelajaran tentu saja. Media, baik cetak maupun elektronik sekarang semakin terbuka untuk dimanfaatkan. Guru, adalah salah satu profesi yang diharapkan untuk mengisi berbagai forum, tulisan, atau jurnal di dalam media-media tersebut karena untuk sekadar menulis sebuah artikel di dalam sebuah koran, misalnya, saya kira semua guru pasti mampu jika mau!

Bukannya guru saat ini adalah sebuah profesi dengan berbagai tuntutan dan permintaan? Bukankah guru saat ini disibukkan dengan berbagai pekerjaan? Mengajar, mengoreksi, menyiapkan materi, membuat administrasi saja sudah sangat melelahkan, rasanya sudah tidak ada waku luang untuk mengerjakan hal lain lagi. Tidak salah memang. Akan tetapi, saya kira paling tidak dalam waktu 5-8 jam seorang guru di sekolah pasti jika memang mau dan berniat pasti mampu menghasilkan sesuatu. Siswa-siswa  yang dari pagi sampai siang atau sore harus berada di kelas untuk mendapatkan pelajaran dari satu kelas ke kelas lain saja mampu menghasilkan sesuatu. Namun, mengajar dan teman-temannya memang sudah menjadi sebuah kewajiban, keharusan, dan rutinitas, saya kira. Guru, perlu lebih dari sekadar itu agar menjadi individu yang minimal bermanfaat bagi dirinya sendiri. Ibarat pohon yang tentu harus mendapatkan makanan dan minuman, pohon pun wajib mendapatkan pupuk agar bisa memproduksi buah yang unggul.

Berprestasi, kalau kata itu terlalu berat, jauh dari jangkauan, minimal berkaryalah karena manusia akan dikenang dan diabadikan karena karya-karya yang pernah dibuatnya. Berlomba-lomba meraih gelar formal dari berbagai universitas dan institut, baik dalam maupun luar negri tidaklah salah. Gelar memang penting, akan tetapi, maaf, saya katakan itu bukanlah sebuah karya apalagi prestasi karena gelar adalah sebuah kepastian dan keharusan yang harus diraih seorang guru! Faktanya, kini guru di Indonesia memang rata-rata telah minimal bergelar sarjana, apalagi pemerintah memberi waktu hingga akhir 2015 agar para guru telah lulus klasifikasi dibidangnya minimal S1 atau DIV sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Bahkan, tidak sedikit guru yang telah menyelesaikan pendidikan S2 bahkan S3.Akan tetapi, sayang lebih banyak lagi yang tidak pernah berkarya apalagi berprestasi. Akhirnya,  gelar-gelar yang diraihnya bertahun-tahun pun seolah-olah hampa.

Berlomba-lomba mengikuti pelatihan, seminar, dan lokakarya juga, maaf, saya kira itu pun bukanlah sebuah prestasi. Apalagi jika ujung-ujungnya sertifikatlah yang dicari yang kata para pengisi pelatihan bahwa semakin banyak seritifikat yang didapat, maka semakin banyak poin yang akan diraih untuk sertifikasi! Akhirnya, sertifikat sih dapat, namun bagaimana ilmunya? Sayang jika akhirnya semua sekadar pepesan kosong belaka.

Di dalam dunia sepak bola, tidak sedikit  pemain-pemain sepak bola dari berbagai belahan dunia yang digelari ‘Lionel Messinya …….’ karena dianggap memiliki keterampilan dan kehebatan mendekati atau menyerupai salah satu pemain yang dinobatkan sebagai pemain terbaik di dunia tersebut. Di Indonesia sendiri, di dunia perbulutangkisan banyak pemain yang diberi gelar ‘The Next Taufik Hidayat’ karena dianggap memiliki bakat dan kemampuan bermain mirip dengan salah satu pemain bulu tangkis terbaik dunia yang pernah ada itu. Siapa pun yang memangku kedua gelar tersebut pasti akan merasa sangat bangga karena disejajarkan dengan para manusia terbaik dibidangnya masing-maasing.

Di dalam dunia pendidikan, khususnya di Indonesia, kita tentu bukannya tidak memiliki figur yang patut dibanggakan karena prestasi-prestasinya. Kita semua mungkin pernah mendengar nama Ki Hajar Dewantara. Kita juga sepertinya tidak asing dengan semboyan “Tut Wuri Handayani”, atau dalam istilah aslinya: ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Arti dari semboyan ini adalah tut wuri handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan), ing madya mangun karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide), dan ing ngarsa sung tulada (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik). Indonesia saat ini tentu saja merindukan figur-figur guru yang mampu memberikan dorongan dari belakang, menciptakan ide dari tengah, dan memberikan teladan di depan kepada para anak didiknya hingga akhirnya sang guru pun layak diberi gelar ‘Ki Hajar Dewantara Selanjutnya (The Next Ki Hajar Dewantara)’. Salah satu caranya adalah dengan berprestasi. Namun jika itu sulit, jadilah seorang guru yang membuat karya. Kalau itu pun masih tidak bisa, jadilah guru yang menulis karya. Karena dengan menulis, manusia menjadi baka.

,

OHARA Menggelorakan Semangat Berbudaya Pemuda Tanah Air

OHARA Menggelorakan Semangat Berbudaya Pemuda Tanah Air

 

Perhelatan akbar Olimpiade Humaniora Nusantara (OHARA) 2019 telah resmi dihelat. 700 peserta dari berbagai sekolah di Indonesia berpartisipasi mengikuti gelaran OHARA 2019 yang dihelat di SMART Ekselensia Indonesia, Parung, Bogor, Jawa barat pada 23-24 Oktober 2019.  Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya OHARA  menggadang  enam lomba seperti Lintas Nusantara (Lintara), Opera Van Jampang (OVJ), Story Telling, Festival Akulturasi Kuliner Nusantara (FAKN), Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI), Dokumenter Budaya, dan tambahan Festival Budaya.

 

Menggadang tema “Kreasikan Uniknya Budaya Bangsa” OHARA 2019 bertujuan mengangkat kembali budaya Indonesia yang kaya akan nilai-nilai luhur, dipadu dengan unsur kreativitas generasi muda bangsa. Diharapkan setelah mengikuti OHARA para siswa siswi sekolah menengah pertama maupun atas serta sederajat di Indonesia mampu mempertahankan dan mencintai budaya Indonesia. Di OHARA para peserta diajak merefleksikan budaya Indonesia yang kaya dan khas melalui serangkaian penampilan kesenian yang menggugah kecintaan pemuda-pemudi terhadap bangsanya.

Di tahun ke-11 ini OHARA 2019 banyak mendapatkan apresiasi positif dari pemerintah dan peserta yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Pemerintah memberikan kepercayaan dengan memberikan dua piala bergilir, Piala Gubernur Jawa Barat untuk  kategori lomba Opera van Jampang dan Piala Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan untuk kategori lomba Lintas Nusantara (Lintara). Menurut Drs. Tatang Kurnia, M. M.Pd,  gelaran OHARA harus terus bergulir karena dapat mempererat ukhuwah serta jalinan kerjasama.

 

“Di OHARA para pelajar dapat menjunjung tinggi sportivitas dalam menggelorakan semangat berbudaya, kegiatan ini tak boleh hilang dari peredaran di era penuh teknologi saat ini,” tegasnya.

 

Tahun ini juga menjadi ajang yang banyak diikuti oleh pelajar dan pemuda dari luar Pulau Jawa. Sebut saja Makassar, Sulawesi Selatan dan Samarinda, Kalimantan Timur, turut mengirimkan perwakilannya.

 

Yogha, pemenang Juara 1 Lintara SMP, mengatakan jika OHARA merupakan kegiatan anti mainstream yang menyenangkan apabila diikuti oleh seluruh pelajar di Indonesia, ia berharap jika OHARA bisa terus berjaya hingga beberapa tahun mendatang.

Lain Yogha lain pula Diani, salah satu peserta pemenang Juara 1 Festival Akulturasi Kuliner Nusantara (FAKN) asal Bandung, baginya OHARA dapat melestarikan kekayaan nusantara melalui cara yang menyenangkan dan kekinian.

“Kami berusaha melibatkan seluruh siswa seluruh Indonesia agar mereka memiliki ikatan yang kuat satu sama lain, selain itu kami juga ingin mereka lebih mencintai Indonesia,” ujar Ridwan Pramudya, Ketua Panitia OHARA 2019.

 

Di tengah maraknya berbagai pemberitaan negatif mengenai pelajar di Tanah Air, OHARA diyakini mampu mewadahi berbagai hal positif yang dimiliki generasi muda Indonesia. (AR).

 

 

 

,

Cuma di OHARA Kamu Bisa Menemukan Uniknya Budaya Indonesia

Cuma di OHARA Kamu Bisa Menemukan Uniknya Budaya Indonesia

 

Olimpiade Humaniora Nusantara kembali menyapa kita semua. Di tahun 2019 yang menjadi tahun ke-11 penyelenggaraannya. OHARA, begitu biasa di sapa, mengangkat tema “Kreasikan Uniknya Budaya Bangsa” dengan harapan seluruh elemen masyarakat mau dan mampu untuk mengembangkan dan mengkreasikan berbagai keragaman budaya bangsa yang melimpah ruah dari ujung Sabang hingga ujung Merauke. Serta mengangkat kembali budaya Indonesia yang kaya akan nilai-nilai luhur, dipadu dengan unsur kreativitas generasi muda bangsa. Sehingga  mendorong para pelajar sekolah menengah di seluruh Indonesia mengenal budaya dan mencintai Indonesia.

 

Berbicara tentang budaya tentu tak lepas dari warisan berharga nenek moyang kita. Baik itu berupa kebudayaan benda ataupun tak benda, kebudayaan tulisan maupun kebudayaan lisan yang mirisnya hari ini hal tersebut mulai tenggelam seiring berkembangnya zaman. Dengan tujuan mengkreasikan dan membangkitkan kembali uniknya budaya bangsa, OHARA mengakomodasi itu semua. Di OHARA kita akan menemukan Opera Van Jampang, sebuah penampilan seni peran yang menghibur dalam bentuk visual budaya nusantara dijadikan ke dalam bentuk opera disertai dengan guyonan-guyonan. Ada juga Story Telling,  pewarisan seni budaya melalui kemampuan mendongeng menggunakan bahasa Inggris; Kedua lomba tersebut memiliki kesamaan yakni mengangkat tema seputar Legenda dan Pahlawan Nusantara.

 

Kecintaan para siswa sekolah menengah terhadap bangsa dan negara adalah tantangan nyata saat ini. Lintas Nusantara (Lintara) merupakan sebuah lomba dalam OHARA 2019 yang diharapkan dapat menjawab tantangan tersebut dengan perpaduan uji pengetahuan, musikalisasi puisi, akulturasi pakaian adat Indonesia dan lintas alam.

 

Berbeda dengan Lintara, LKTI menjadi spot  untuk mewadahi ide-ide nyata para pemuda agar dapat menyalurkan ide mereka yang dapat diaplikasikan di masyarakat karena sejatinya Ide-ide kreatif para pemuda dari seluruh nusantara tersebut adalah modal penting kemajuan bangsa sehingga  sangat sayang untuk dibiarkan lenyap begitu saja.

 

Dokumenter Budaya menjadi ajang kepedulian siswa dalam mengabadikan budaya dengan media-media kekinian. Dokumenter Budaya mengajak untuk mengetahui jejak-jejak setiap langkah budaya indonesia melalui video yang diolah sedemikian rupa. Yang paling unik dari kegiatan OHARA ini tentunya FAKN, lomba akulturasi kuliner nusantara dan mancanegara yang menuntut pesertanya memiliki inovasi dalam menciptakan masakan baru sehingga menghasilkan budaya baru yang tentunya memperkaya keragaman budaya bangsa kita.

 

Tak ketinggalan hal yang baru di OHARA kali ini adalah Mini Soccer. Perlombaan olahraga sepak bola dengan bentuk lapangan yang lebih kecil dan waktu yang lebih singkat membawa salam silaturahmi dalam hangatnya budaya bangsa.

 

OHARA  bukan sekadar menekankan kecintaan pada budaya, tetapi juga mengajak untuk mencintai budaya negeri sendiri agar tak lekang dimakan zaman. Yuk sama-sama menjaga dan melestarikan budaya kita! (Zaky)

,

Sudah Jadikan Aktivitas Sebagai Ibadah, Supaya Hidup Berkah Belum Sob?

Sudah Jadikan Aktivitas Sebagai Ibadah, Supaya Hidup Berkah Belum Sob?.

Amma Muliya Romadoni, ia adalah alumni SMART Ekselensia Indonesia Angkatan Pertama, ia memiliki kecintaaan besar dalam bidang  enterpreneurship. Kegiatan enterpreneurship yang ia tekuni selama masa kuliah diantaranya wirausaha dan technopreneur. Dalam bidang wirausaha ia menekuni bisnis konveksi khususnya dalam student entrepreneurship center. Technopreneur pun tidak luput digeluti pria muda ini, ia menjadi CEO AMR Engineering lembaga Training Engineering Software pada 2014 lalu. Berbagai penghargaan dalam bidang enterpreneur pun pernah ia dapatkan, salah satunya sebagai penerima dana wirausaha Student Enterpreneurship Center USU 2011.

Dalam kegiatan keorganisasian di kampus, Kak Amma telah melakoni serangkaian pengalaman organisasi softskill yang pernah ia ikuti antara lain organisasi keislaman khususnya lembaga dakwah kampus (LDK), badan eksekutif mahasiswa (BEM), serta badan pers fakultas teknik. Di dalam kegiatan LDK kak Amma -demikian sapaan akrabnya- menjabat sebagai ketua pada tahun 2010-2011. menuru Menjadi staf departemen riset dan teknologi di BEM fakultas telah dijalaninya tahun 2011. Jabatan sebagai ketua redaksi koran “Simetrikal Engineering” di 2012 menjadi pengalaman organisasi berikutnya.

Serangkaian pengalaman berharga ia dapatkan selama berkuliah di Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara (USU). Ia juga pernah mengharumkan nama Indonesia dalam kejuaran membuat mobil hemat energi tingkat Asia Pasifik di Filipina tahun 2014. Juara satu kategori urban konsep bahan bakar etanol berhasil diraihnya dalam lomba yang diadakan salah satu perusahaan minyak terbesar di dunia tersebut.  Tidak tanggung-tanggung, Gubernur Sumatera Utara memberikan penghargaan kepada tim pembuat mobil yang dikomandoi olek Kak Amma tersebut lho Sob.

Bidang penelitian merupakan bidang yang tak asing bagi kakak kelahiran 30 maret ini. Membantu pengerjaan proyek penelitian tingkat pascasarjana  selama kuliah Strata Satu (SI) menjadikannya terampil dan memberikan pengalaman lebih untuk bekal pengerjaan penelitian nantinya, sampai akhirnya pada 2011 Kak Amma terpilih menjadi peserta Studi Banding dan Presentasi Green Technology USU- USM di Malaysia. Tak sampai situ saja Sob, berkat keuletannya Kak Amma menerima Beasiswa dari LPDP Kementerian Keuangan RI.

Kak Amma mengatakan jika hidup tak pernah lepas dari berbagai pengaruh baik maupun buruk dalam setiap aktivitas karena itulah kita ditantang untuk bisa konsisten dalam memilah-milah pengaruh baik maupun buruk sehingga tidak mudah terbawa arus tidak baik.

“Mengamalkan nilai-nilai baik yang telah diajarkan di SMART  menjadi tantangan nyata karena kehidupan pasca SMART menjadi hambatan yang cukup nyata,” tegas Kak Amma.

Kakak yang murah senyum ini berpesan kepada seluruh siswa SMART jika selalu jadikan segala aktivitas sebagai ibadah, agar hidup menjadi berkah.

Saatnya Jadi Generasi Anti Pornografi Pornografi Club Sob

Saatnya Jadi Generasi Anti Pornografi Pornografi Club Sob

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie

SALAH satu godaan berat bagi remaja adalah pornografi. Apalagi di zaman gadget sekarang ini. Konten pornografi bisa disebar dengan mudahnya melalui smartpone. Kabarnya, remaja sekarang tahu pertama kali pornografi dari gadget yang disebar teman sekolahnya. Bahaya banget ‘kan? Bisa jadi awalnya tidak berniat, tapi karena dapat kiriman temannya, rasa ingin tahunya menggedor-gedor akal sehatnya. Ayolah, sekadar ingin tahu aja kayak gimana sih film porno itu?

Di sinilah terjadi pertarungan batin antara menolak dan menuruti. Tidak sedikit remaja yang berkompromi dengan dirinya. Lalu, membuka dan menonton konten porno tersebut. Padahal, perlu dicatat sama kamu, sekali kamu melihat film porno pasti kamu bakal ingin menonton yang kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Gradasinya pun bakalan meningkat. Awalnya mungkin setengah porno, meningkat menjadi porno, lalu kamu ingin melihat segala jenis film porno. Karena, yang biasa-biasa buat kamu sudah nggak ngefek lagi. Ini harus kamu sadari, bro.

Efek dari menonton film porno, remaja terbangkitkan libidonya. Ini membuat remaja pusing untuk menyalurkannya. Pilihannya onani. Kalau sudah berulangkali onani, bisa dipastikan remaja akan kecanduan pornografi. Karena, pornografi menimbulkan sensasi dalam otaknya. Otak memproduksi hormon dopamine yang memberikan sensasi melayang layaknya orang mengonsumsi narkoba.

Padahal, bahayanya adalah otak bisa mengalami kerusakan akibat terpapar pornografi. Bahaya lebih serius lagi, ternyata kerusakan otak akibat kecanduan pornografi lebih berbahaya daripada kecanduan narkoba. Hasil riset menunjukkan bahwa kerusakan otak akibat terpapar pornografi terus menerus bisa bersifat permanen sebagaimana otak yang rusak akibat benturan kecelakaan.

Tidak cukup sampai di sini mudharatnya, tidak sedikit remaja yang kemudian melampiaskan libidonya ke pacarnya. Ini lebih berbahaya lagi. Ini sudah tindakan kriminal. Saya berkali-kali menerima konseling remaja yang pacaran sampai kebablasan. Bahkan, ada yang sampai ketagihan. Bisa jadi pemicunya adalah pornografi. Otak remaja sudah demikian kotor terpapar pornografi, sehingga di otaknya terekam, “Bukan pacaran namanya jika tidak making love.”

Kasus-kasus remaja pacaran yang saya tangani memang diawali dari remaja cowok. Si remaja cowok yang otaknya sudah terpapar pornografi mendesak pacarnya untuk ML. Awalnya, si cewek menolak. Namun, perlahan tapi pasti, sedikit demi sedikit, si cewek luluh juga oleh bujuk rayu dan desakan si cowok. Terjadilah perbuatan nista itu. Perbuatan yang nikmatnya sesaat, tapi deritanya berkepanjangan. Masa depan pun seketika runyam. Bahkan, bisa terasing dan terkucilkan di tengah pergaulan masyarakat.

Karena itu, mencegah lebih baik daripada mengobati. Remaja keren itu bukan hanya dia yang tidak pacaran, tapi juga menjauhi pornografi. Sayang sekali potensi otak kamu yang luar biasa itu menjadi tumpul akibat terpapar pornografi.

Imam Waqi’ (gurunya Imam Asy-Syafi’i) sudah menasihatkan bahwa ilmu itu cahaya Allah. Dan, cahaya Allah tidak akan diberikan kepada ahli maksiat.

Sekolah kamu nggak bakalan sukses dan berhasil meraih prestasi jika kamu dekat-dekat dengan pornografi. Kamu akan terlena dan terlalaikan oleh bayang-bayang pornografi. Kamu akan sulit untuk fokus belajar. Sulit untuk mengingat dan memahami pelajaran. Karena, fungsi berpikir otak kamu tercemar oleh pornografi.

Karena itu, jauhi pornografi. Jangan ada kompromi untuk coba-coba melihat pornografi. Jangan berikan celah sekecil apapun bagi setan untuk memerangkapmu dalam candu pornografi. Jika sudah kecanduan, tidak mudah mengobatinya. Perlu kesungguhan ekstra dan proses untuk bisa lepas dari jerat candu pornografi. Energi dan waktu kamu akan terkuras karenanya.

Padahal, jika kamu tidak pernah berkompromi dengan pornografi, kamu bisa memanfaatkan waktu dan energimu untuk melukis masa depanmu. Sayangi dirimu. Lebih baik manfaatkan otak kamu untuk membaca, menelaah, mengamati, memikirkan, merenungkan ilmu dan semesta ini. Kelak kau akan menjadi remaja keren karena ilmu dan akhlakmu.