, ,

Hidup Memang Seru Sob!

Sepilu hidup seperti paku

Kadang hidup terasa ngilu

Walaupun itu memang perlu

Agar hidup lebih berlaku

 

Sepilu hidup seperti paku

Menghadapi hidup penuh kelu

Walaupun kadang penuh tipu

Tapi hidup terasa seru

 

, ,

Bukan Sekadar Enigma

 

Gelap kelam gulita ini

Bukan enigma

Tapi ini

memang nelangsa

*

Kesunyian selimuti raga

Kala kita tidak bersua

di tempat nan penuh kaldera

*

Kini keheningan telah sirna

Lewati banyak suka duka

Kala puspa tiba

Siapa mereka….

Siswa kami tercinta..

 

Mumpung Masih Muda, yuk Kita Menjelajah!

Mumpung Masih Muda, yuk Kita Lakukan Menjelajah!

Oleh: Muhammad Syafei

Salah satu perintah Allah, yang bagi saya, menarik adalah perintah menjelajahi bumi. Bahasa anak Rohisnya rihlah, kalau bahasa gaulnya traveling alias jalan-jalan. Namun, memang bukan sembarang traveling, melainkan traveling dalam rangka menghayati kebesaran dan keagungan Allah yang terhampar di bumi dan memetik pelajaran dari rekam jejak umat-umat atau bangsa-bangsa terdahulu. Perintah menjelajahi bumi banyak tersebar dalam Alquran.

Alquran menerangkan, “Katakanlah (Muhammad), ‘Bepergianlah di bumi, lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang terdahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang menyekutukan (Allah).’” (QS. Ar-Rum [30]: 42).

Saya sendiri menikmati sekali setiap kali keluar kota dan keluar negeri dalam rangka memberikan training atau mengisi kajian Islam. Sedari awal saya niatkan untuk berdakwah. Maka, setiap langkah perjalanannya, saya menikmati sekali. Ketika di bandara menunggu jadwal pesawat, saya biasanya memerhatikan orang yang hilir mudik. Betapa manusia itu bermacam-macam, tapi tak ada yang sama wajahnya. Nyata sekali kebesaran Allah yang telah menciptakan manusia dalam bentuk terbaik dan menjadikannya berbangsa-bangsa dan bersuku-suku.

Ketika sudah naik di atas pesawat, lebih hebat lagi kebesaran dan keagungan Allah yang tersaji. Saya selalu terkagum-kagum menyaksikan langit membentang dan gugusan awan berarak. Wah, terasa sekali deh kebesaran dan keagungan Allah. Dan, berasa banget kalau diri ini kecil, nggak ada apa-apanya. Biasanya ada rasa nyeess di dalam dada. Sejuk dan damai sekali. Makanya, saya selalu meminta kursi dekat jendela saat check in supaya bisa menikmati pemandangan indah itu.

Hal lain yang menjadi perhatian saya adalah para awak kabin alias pramugari. Setiap pramugari pasti melayani dengan sopan dan santun. Saya berpikir semoga ini tidak hanya tuntutan pekerjaan, namun juga terejawantah dalam kehidupan sehari-harinya. Karena, sopan santun adalah bagian akhlak seorang muslim dan muslimah. Saya juga berpikir andai para pramugari itu diberikan haknya untuk mengenakan busana muslimah dan jilbab, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Bisa jadi di antara mereka ada yang berkeinginan untuk mengenakan jilbab, namun terhalang oleh peraturan perusahaan.

Saya pernah mendapat curhatan dari seorang pembaca buku saya yang berprofesi sebagai pramugari. Ia menyampaikan kegundahannya. Ia ingin sekali berjilbab karena itu kewajiban sebagai muslimah, namun terhalang peraturan perusahaan. Semoga tulisan ini dibaca oleh pihak maskapai penerbangan di Indonesia. Setahu saya baru ada satu maskapai penerbangan yang memberikan hak kepada pramugarinya untuk mengenakan jilbab. Semoga segera disusul oleh maskapai penerbangan lainnya. Terutama, maskapai penerbangan milik pemerintah.

Kembali ke asyiknya menjelajahi bumi. Tiba di bandara tujuan, lalu menaiki mobil menuju tempat tujuan juga tak kalah asyiknya. Terutama, ketika saya mengisi training dan kajian Islam di sudut-sudut kota di Sumatra, Kalimantan, Nusa Tenggara Barat, dan Papua. Dari Bandara kota setempat masih menempuh perjalanan darat antara 2 sampai 6 jam perjalanan. Membelah bukit dan menyusuri hutan dan tepian jurang. Seru banget ‘kan?. Sesekali monyet-monyet liar berlarian di tepi jalan mencari makanan. Terjadi pemandangan hijau dan rimbunnya pepohonan di bukit dan hutan. Belum lagi track yang berkelok-kelok dan menanjak. Anak muda banget pokoknya.

Kamu ingin ‘kan? Bisa jalan-jalan dan makan gratis, menginspirasi banyak orang, dan pulangnya dikasih oleh-oleh. Makanya, seriuslah belajar dan menuntut ilmu. Agar kelak dengan ilmumu, kau bisa berdakwah ke segenap penjuru Indonesia dan bumi. Bonusnya bisa jalan-jalan gratis. Hehehe…

Mumpung kalian masih muda, belum ada tanggung jawab keluarga, menjelajahlah. Jejakilah setiap jengkal dan sudut bumi ini. Minimal bumi Indonesia. Rasakan guyuran hujannya, hiruplah aroma tanahnya, tataplah jejeran pepohonan, bukit-bukit, dan rawa-rawa yang terhampar. Dengarkan gemericik airnya, suara binatang malam yang sejatinya sedang bertasbih. Resapi dan hayati kebesaran dan keagungan Allah di mana saja kalian menjejakkan kaki.

Petiklah pelajaran dari rekam jejak bangsa-bangsa terdahulu di kota atau negara yang kamu singgahi itu. Akrabilah warganya dengan segala keunikannya. Galilah informasi dan wawasan sebanyak-banyaknya dari mereka. Cermatilah betapa indahnya Allah jadikan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku.

Lalu, atas semua catatan perjalanan yang mencerahkan itu, jadikan sebagai inspirasi untuk berkontribusi bagi dakwah Islam dan perbaikan umat. Masa depan Islam di masa mendatang ada pada pundak para pemudanya. Pemuda harus berada di garis depan, mengambil peran untuk kejayaan Islam dan kesejahteraan umat.

 

,

Cara Jitu Hentikan Peredaran Narkoba yang Kudu Kamu Tahu

Cara Jitu Hentikan Peredaran Narkoba yang Kudu Kamu Tahu

Oleh: Wildan Khoirul Anam, Alumni SMART Angkatan 8, berkuliah di UNPAD

Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, zat yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan. Pecandu narkotika atau biasa disebut junkies bertebaran di muka Bumi, termasuk di Indonesia. Dan apakah para junkies menyebabkan masalah bagi negara? Dari sudut pandang mereka, mereka tidak merugikan siapapun secara langsung. Mereka mamakai narkoba dan itu merugikan diri mereka sendiri. Namun, lain halnya jika kita berbicara tentang perdaran narkotika di Indonesia. Jelas itu merupakan masalah negara.

Menurut hasil pengungkapan Polri dalam Data Tindak Pidana Narkoba Tahun 2007-2011, data kasus narkoba berdasarkan jenis dari tahun 2007 hingga 2011 berjumlah total kasus 138.475 kasus dengan jenis Ganja, Heroin, Hashish, Kokain, Kode’in, Morfin, Ekstasi, Shabu (Meth), Daftar G, Benzodiazepine, Barbiturate, Ketamine, dan Miras. Kasus terbanyak terjadi pada 2009, kasus paling sedikit adalah untuk jenis morfin, hanya satu kasus dan itu pun hanya pada 2008.

Jika dilihat dari data di atas, kasus narkoba di Indonesia sudah sangat parah. Jika keadaan seperti ini terus menerus berlanjut, mau jadi apa generasi mendatang? Apakah masih ada generasi harapan bangsa yang kita nantikan? Ataukah hanya ada generasi pecandu narkoba yang akan memimpin Indonesia di masa mendatang? Oleh karena itu, pemberantasan narkoba perlu dilakukan. Namun bagaimana caranya? Itulah pertanyaan besar bagi kita. Bagaimana cara memberantas narkoba?

Sebenarnya sulit bagi pihak berwajib untuk menangani narkoba tanpa bantuan dari masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat punya kewajiban untuk ikut serta mencegah dan memberantas narkoba. Bagaimana cara masyarakat melakukannya? Dengan memastikan bahwa semua anggota keluarganya tidak tersentuh narkoba, sebenarnya cara itu sudah efektif jika semua keluarga melakukannya. Berapa orang di Indonesia yang tidak memiliki keluarga? Mungkin hanya segelintir yang sama sekali tidak memiliki keluarga.

Namun bagaimana jika cara tersebut tidak efekif? Apa yang harus dilakukan? Pertanyaan bagus. Apa yang harus dilakukan? Seperti yang disebutkan dalam UUD nomor 5 tahun 1997 pasal 54 tentang peran serta masyarakat. Disebutkan pada ayat satu bahwa masyarakat memiliki kesempatan yang seluas-luasnya untuk berperan serta dalam membantu mewujudkan upaya pencegahan penyalahgunaan psikotropika sesuai dengan undang-undang dan peraturan pelaksanaannya. Dan ayat dua yang berbunyi masyarakat wajib melaporkan kepada pihak yang berwenang bila mengetahui tentang psikotropika yang disalahgunakan dan/atau dimiliki secara tidak sah.

Saya punya cara yang cukup mantap namun sangat berisiko dan mungkin sudah sering dilakukan oleh pihak berwajib untuk menangkap para pengedar dan pecandu narkoba. Cara tersebut saya beri nama “Bos Pengkhianat”. Berikut adalah langkah-langkahnya :

  1. Siapkan satu orang polisi yang sudah siap fisik dan mental. Untuk selanjutnya si polisi akan kita sebut dengan “The Actor”.
  2. Jadikan “The Actor” tersebut agen narkoba dan ketika dia sudah mendapat banyak klien, biarkan! Tunggu waktu.
  3. Klien “The Actor”akan semakin banyak seiring berjalannya waktu dan secara bertahap dia akan menjadi agen besar.
  4. Di dunia per-narkobaan “The Actor” akan bertemu banyak orang yang terkait sindikat narkoba.
  5. Lalu tinggal menunggu waktu sampai “The Actor”bertemu bos narkoba di Indonesia. Dan kalau beruntung, dia bisa bertemu “pemain-pemain besar” dunia.
  6. The Actor” berteman dengan bos itu lalu mereka pun jadi teman akrab.
  7. Ketika si bos akan pensiun, dia akan menyarahkan tahtanya pada“The Actor” selaku teman dekatnya. Dan ketika dia mendapatkan tahtanya, maka dia mendapat data agen-agen dan bandar-bandar di Indonesia.
  8. Dan saat itulah saatnya membuka aib per-narkobaan di Indonesia. Terbongkarlah semua rahasia yang tersimpan. Dan langkah selanjutnya setelah menangkap para junkies tersebut adalah eksekusi massal.

Kelemahan dari teknik tersebut adalah keadaan si polisi penyamar dan waktu. Cara ini akan memakan waktu yang lama namun hasilnya tidak main-main. Dan jika si polisi tergelincir sedikit saja maka dia akan menjadi di luar kendali. Namun tak masalah kita punya data pribadinya karena dia dulu seorang polisi. Saya mendapat ide ini dari film kesukaan saya yang berjudul “Homefront” yang diperankan oleh idola saya, Jason Statham.

Delapan langkah mematikan yang telah saya paparkan mungkin terdengar sangat fiksi. Namun tidak salah untuk dicoba. Dan ketika semua langkah berjalan sukses, kehidupan “The Actor” mungkin agak sedikit terganggu oleh penghianatan yang dilakukannya. Namun sebenarnya dia telah berjasa besar dan mungkin dia bisa mendapat gelas “Pahlawan Negara”.

Menjadi Pembelajar Sejati? Siapa Takut!

 

Menjadi Pembelajar Sejati? Siapa Takut!

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie

 

Sekolah kami SMART Ekselensia
Kami dari Sumatra hingga Papua
Hanya satu tekad di dalam diri
Menjadi pembelajar sejati…

Bait di atas adalah penggalan reff dari mars SMART Ekselensia Indonesia. Ketika pertama kali saya bergabung dengan SMART Ekselensia pada 26 Juli 2010 dan pertama kali mendengar mars di atas, saya bergumam, “Wah keren sekali mars-nya.” Sedari dulu saya menyukai istilah “pembelajar sejati”. Bukan karena kemegahan intelektual yang tersirat dari istilah itu, melainkan spirit untuk terus membaca, menelaah, merenungi, memikirkan, dan menginsyafi, inilah yang membuat saya jatuh cinta dengan istilah ini.

Pembelajar sejati merupakan penafsiran dari wahyu pertama, Iqra. Seorang pembelajar sejati mesti menginsyafi bahwa belajar tidak terbatas waktu, tempat, dan usia. Tepat sekali sabda Rasulullah saw. yang merangkan, “Menuntut ilmu itu sedari buaian hingga datangnya kematian.”

Di mana saja berada, dengan siapapun berinteraksi, seorang pembelajar sejati bisa memetik hikmah dan mereguk wawasan. Berjalan ke penjuru negeri dan mengamati perilaku manusia merupakan inspirasi untuk berkarya bagi pembelajar sejati. Peristiwa sepele dan sederhana bagi kebanyakan orang, bisa menjadi ide cemerlang bagi pembelajar sejati untuk menuliskannya. Dan, dengan tulisan itu dia berbagi inspirasi ke sebanyak mungkin orang. Lebih hebat lagi bila dengan tulisan itu banyak orang yang tercerahkan dan tersadarkan.

Itulah mengapa Alquran menyuruh kita untuk berjalan di penjuru bumi, perhatikan dan pikirkan alam semesta serta cermati dan saksamai jejak perilaku orang-orang terdahulu untuk menjadi pelajaran bagi orang-orang di masa kini. Menurut penulis buku Ayat-ayat Semesta, ayat-ayat Alquran tentang semesta jauh lebih banyak dibandingkan ayat-ayat tentang hukum. Mengapa? Karena, dengan mengamati dan merenungi semesta akan semakin menambah keimanan kita kepada Allah. Dan, berapa banyak di dalam Alquran, setelah menerangkan betapa harmoninya disain alam semesta, selalu diakhiri dengan ungkapan, “Pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang memikirkan”. Sebagai contoh saksamailah surat Ar-Rum ayat 22 – 26.

Oleh karena itu, sungguh ironi jika masyarakat sekarang memahami belajar adalah sekolah. Tugas orangtua selesai dengan menyekolahkan anaknya. Anak pun seperti itu, merasa telah cukup belajar dengan bersekolah. Atas nama lulus sekolah, tak mengapa ujian nasional menyontek. Bila perlu menyontek masal dan difasilitasi oleh sekolah. Pemutihan nilai rapor pun menjadi legal. Sekali lagi atas nama sekolah. Tak beda juga dengan kelakuan oknum para pegawai negeri yang mengejar ijazah demi kenaikan pangkat dan jabatan meski kuliahnya asal-asalan. Bahkan, skripsi atau tesis pun bisa jadi dituliskan oleh orang lain. Sekali lagi atas nama sekolah.

Makna belajar telah sedemikian terpalingkan dari makna aslinya. Tegas sekali yang kita butuhkan adalah belajar, bukan sekolah. Sekolah hanyalah salah satu cara dan tempat untuk belajar, namun bukan satu-satunya. Bahkan, bisa jadi sekolah (yang tidak bermutu) bisa menjadi tempat yang salah untuk belajar. Ini bukan berarti meng-absurd-kan sekolah. Tidak sama sekali. Saya hanya bermaksud untuk menyadarkan kita semua bahwa yang kita butuhkan adalah belajar, bukan sekolah.

Maka, jadikan sekolah sebagai salah satu saja sarana untuk belajar. Selain itu, belajarlah di sekolah kehidupan ini. Belajarlah di sekolah alam semesta ini. Maka, belajar tak pernah mengenal kata lulus. Kita selamanya pembelajar. Dari sini bisa dikenali mana pembelajar sejati, dan pembelajar musiman. Ketika musim sekolah dan kuliah, jadi pembelajar. Begitu musim wisuda, berhenti jadi pembelajar.

Misalnya, seorang mahasiswa yang lulus menjadi sarjana pendidikan dan kemudian menjadi guru. Lalu, karena sudah menjadi guru semangat belajarnya menjadi luntur, bahkan perlahan menghilang. Sejatinya, dia adalah pembelajar musiman. Dia telah gagal menjadi pembelajar sejati. Dan, untuk sekolah yang memiliki guru-guru semacam ini, sulit untuk menjadi sekolah peradaban yang melahirkan generasi pembangun peradaban.

Menutup tulisan ini, saya ingin menceritakan seorang teman saya, lebih tepatnya senior saya, sekadar untuk memantik semangat belajar kita. Kami sama-sama lulusan UIN Jakarta. Hanya beda generasi. Dia seorang pemimpin redaksi penerbit nasional. Gelar akademisnya cukup sarjana saja. Namun, intelektualitasnya mungkin bisa setaraf doktor. Kemampuan Bahasa Inggris dan Arab-nya pun tak diragukan. Karena, ia biasa menerjemahkan buku-buku berbahasa Inggris dan Arab. Dan, kualitas terjemahannya juga berbobot dan enak dibaca. Dengan kompetensinya itu, dia kerap diundang keluar negeri untuk berbicara pada forum-forum internasional. Terakhir, beliau bercerita baru saja menjelajah beberapa negara Eropa atas undangan UNESCO, PBB.

Dari cerita di atas, kita juga bisa menginsyafi bahwa kualitas seseorang belum tentu dilihat dari sederet gelar akademis yang menyertai namanya di depan dan di belakang. Melainkan, sekuat dan sekonsisten apa dia belajar dan terus belajar sepanjang hayatnya. Selamat menjadi pembelajar sejati.

 

Anak Muda Tak Boleh Melupakan Sejarah Sob

Anak Muda Tak Boleh Melupakan Sejarah Sob

Oleh: Aza El Munadiyan

Keras kepala, suka memberontak, suka tantangan, dinamis, cepat dan bersemangat itulah karakter anak muda. Anak muda mencoba dulu, soal hasil belakangan. Anak muda tak banyak pertimbangan. Anak muda merupakan antitesa dari orang tua. Orang tua cenderung lambat, banyak pertimbangan, dan menyukai kestabilan.

Anak muda merupakan masa depan suatu bangsa. Namun anak muda kebanyakan minim pengalaman, tak tahu sejarah bangsanya. Anak muda cenderung malas mengetahui cerita masa lalu dari bangsanya. Coba saja anak muda diminta menyebutkan 100 pahlawan Indonesia, bisa dipastikan sebagian besar akan kesulitan. Apalagi cerita tentang kerajaan Sriwijaya yang mashur dalam dunia kemaritiman, Majapahit jaya dengan kekuatan maritim. Bahkan, nenek moyang kita sebelum cerita-cerita Colombus yang mengelilingi dunia telah berlayar sampai Madagaskar dengan perahu pinisi.

Sejarah tak selalu bercerita tentang hal yang ribet penuh teka teki dan konspirasi namun terkadang menggelikan. Kisah ini pasti diketahui oleh civitas akademika Universitas Gadjah Mada (UGM) dan alumninya. Saat itu UGM semakin besar, jumlah fakultas yang dikelola paling banyak dan paling lengkap, salah satunya fakultas keguruan. Fakultas keguruan memiliki ribuan mahasiswa. UGM merasa akan lebih baik ketika fakultas keguruan berubah menjadi perguruan tinggi sendiri sehingga fokus dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Namun masalah kemudian muncul ketika fakultas keguruan sudah berpisah dan sedang mencari nama perguruan tinggi.

UGM geger akibat isu adanya rencana nama perguruan tinggi yang hanya dipisahkan oleh jalan selebar lima meter itu, Hayam Wuruk. Hayam Wuruk merupakan raja yang memimpin Majapahit ketika Gadjah Mada menjadi Maha Patih. Tentu tidak lucu, kampus yang dulunya merupakan bagian dari UGM memisahkan diri, kemudian mengambil nama raja dalam satu kerajaan dan dalam satu waktu. Posisi raja dalam strata pemerintahan zaman dahulu merupakan spimpinan tertinggi di atas Patih. Sekali lagi ini soal sejarah.

Sejarah itu ibarat spion mobil atau motor. Kita bisa menengok ke belakang melihat sebagian kejadian-kejadian masa lalu. Cerita tentang masa lalu yang mengajarkan banyak hal. Kita mengambil pelajaran dari kesalahan -kesalahan masa lalu sehingga ketika kita mengalami kejadian yang sama persis dengan kejadian masa lalu kita mampu menimilisir kesalahan. Sebuah ungkapan thomas Alfa Edison akhirnya bisa kita pahami bahwa ia bahagia bukan karena ia telah menemukan bohlam lampu namun ia telah mengetahui 1000 kesalahan dalam membuat lampu.

Orang tua merupakan saksi sejarah jadi perjalanan bangsa. Orang tua memiliki pengalaman yang tidak dimiliki oleh anak muda. Namun, sering kali orang tua menyepelekan anak muda karena merasa punya pengalaman yang dimiliki oleh orang tua. Orang tua cenderung feodal dan anti kritik.

Berbagai kelebihan orang tua dan kekurangan anak muda harus dipertemukan, duduk bersama kemudian bicara tentang mimpi masa depan Indonesia.

Anak muda harus belajar dari orang tua. Belajar untuk melapangkan dada menerima pelajaran dari pengalaman orang tua kemudian membuat formula yang sesuai dengan cita rasa zaman. Anak muda harus mengikuti perkembangan zaman jika tidak anak muda terlindas oleh zaman. Namun, anak muda tak boleh melupakan sejarah karena sejarah itu akan terulang.

Orang tua pun harus legowo bahwa waktu senja bagi mereka telah dating. Saatnye mereka mewariskan ilmu dan estafet kepemimpinan kepada anak muda. Kepercayaan terhadap kualitas dan kemampuan anak muda harus ditumbuhkan dan dipersiapkan. Tidak mungkin, anak muda langsung melanjutkan estafet kepemimpinan tanpa teori, latihan dan benturan-benturan di lapangan tanpa di damping orang tua. Itulah substansi tugas sebagi orang tua. Banyak kisah tentang kehebatan orang tua namun ia tak bisa melahirkan kaderisasi anak muda yang lebih hebat dari dirinya.

Orang tua pun tak boleh egois, feodalistik ketika memilih tongkat estafet kepemimpinan hanya berdasarkan trah keturunan. Dunia saat ini semkian berkembang, ketika pemimpin dipilih hanya berdasarkan cerita masa lalu tentang kebesaran nama, perjuangan dan posisi orant tuanya dahulu tanpa memperhatikan kualitas dan kapabilitas calon penerusnya maka terompet kehancuran tinggal menunggu waktu.

Akhirnya ketika saat terbaik dalam rekayasa atau takdir pergiliran kepemimpinan datang, selamat datang anak muda masa depan milik kalian. Kemudian, terima kasih orang tua, jasa dan pengalaman kalian dalam membangun pondasi negeri akan kami kenang dan lanjutkan. Sebuah transisi yang indah tentang kerja sama antara anak muda dan orang tua.

 

Pemuda Kudu Baca Ini!

Pemuda Kudu Baca Ini!

Oleh: Muhammad Sapei

Apa yang terlintas dalam benak dan terpikir dalam pikiran kita ketika disebut kata remaja dan pemuda? Mungkin banyak di antara kita yang berpikir bahwa remaja dan pemuda adalah masa-masa labil dan bergejolak, masanya mencari jati diri. Benarkah demikian?

Celakanya, kita, orang dewasa, membenarkan hal itu tanpa mengkajinya lebih mendalam, sehingga kita memaklumi jika remaja dan pemuda melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai agama. Kita mentolelir jika remaja dan pemuda ibadahnya tidak bagus dan akhlaknya tidak baik.

Salah satu faktor yang menyebabkan kita bersikap seperti itu bisa jadi karena teori yang kita jadikan rujukan. Kita banyak merujuk teori-teori dari Psikologi Barat tanpa membandingkannnya dengan teori dalam Psikologi Islam, bahkan lebih tegas lagi dengan Alquran dan Hadis. Data dari Barat memang menunjukkan hal itu bahwa remaja dan pemuda di Barat memang kacau; hedonis dan permisif. Hidupnya banyak hura-hura dan aktifitas yang tidak bermanfaat. Orang-orang Barat mentolelirnya sebagai masa pencarian jati diri.

Pertanyaannya adalah apakah kita mau ikut-ikutan pola pikir mereka? Konyol sekali menurut saya. Akankah kita menjadikan anak-anak dan murid-murid kita hari ini menjadi korban pendidikan ala Barat? Saya tidak menafikan ada hal-hal positif dari Barat. Tetapi, poin yang ingin saya sampaikan adalah mari kita memfilternya dengan pedoman hidup kita, Alquran dan Hadis. Jangan menelan mentah-mentah teori dari Barat dan dianggap sebagai aksioma. Jika baik, kita ambil. Namun, jika buruk, tentu saja tinggalkan.

Kita sudah sama-sama mengetahui bahwa pemuda memiliki peran strategis bagi kelangsungan sebuah peradaban. Karena itulah, Yahudi dan Barat berusaha menghancurkan peradaban Islam dengan menghancurkan pemudanya. Mereka masuk lewat konsep-konsep pendidikan dan psikologi agar kita mengekor teori mereka. Mereka rusak pemuda Islam dengan gaya hidup hedonis dan pola pikir permisif.

Kita pun sama-sama memahami bahwa masa muda adalah masa yang (semestinya) paling produktif. Karena, tenaga sedang prima-primanya, pikiran sedang kuat-kuatnya, dan semangat pun sedang menggebu-gebunya. Maka, jika para pemuda sebuah negeri baik, maka besarlah kebermanfaatan yang akan terwujud. Sebaliknya, jika para pemuda sebuah negeri buruk, maka besar pula keburukan yang akan terjadi.

Karena itu, mari kita telaah Alquran dan sejarah untuk membantah anggapan masa muda adalah masa labil dan pencarian jati diri.

Pertama, Ibrahim as. ketika melawan tirani Raja Namrud dan menghancurkan berhala masih diusia sangat muda. Hal ini tegas dari kata “fata” yang digunakan Alquran untuk menyebut Ibrahim as. Bahkan, kata fata itu lebih muda daripada kata syabab (pemuda). Artinya, sangat muda sekali, belia.

Kedua, Yusuf as. ketika menunjukkan keimanan yang kokoh saat digoda oleh istri pejabat Mesir juga berusia sangat muda. Kita bisa bayangkan Yusuf hanya berdua dengan perempuan cantik jelita itu di dalam sebuah kamar. Tetapi, Yusuf dapat mempertahankan keimanannya.

Ketiga, Daud as. ketika ikut berperang melawan Jalut dan berhasil membunuhnya juga masih dalam usia sangat belia. Kita bisa membayangkan bagaimana Daud pada usia yang sangat belia memiliki keberanian sebesar itu menghadapi Jalut.

Keempat, para pemuda Ashabul Kahfi yang tegas mempertahankan akidahnya meski harus mengasingkan diri. Mereka juga berusia sangat belia. Alquran menggunakan kata “fityah” (jama’ dari fata) untuk menyebut mereka.

Lihat pula kisah Isma’il as., Yahya as., dan kisah Yusya, seorang yang menemani Nabi Musa as. untuk menemui Nabi Khidir as. Yusya diusia yang masih belia telah menjadi seorang ahli ilmu di bawah bimbingan Nabi Musa as.

Lihatlah, betapa para pelaku sejarah itu, orang-orang besar itu telah mendemonstrasikan kekokohan akidah dan imannya, serta keteguhan sikapnya sebagai seorang pemuda. Maka, salah besar jika masa muda dianggap sebagai masa labil dan pencarian jati diri.

Mari kita telaah lebih dalam lagi dengan mengkaji sejarah para pemuda yang mengelilingi dakwah Rasulullah saw. Imam Ibnu Katsir ketika menafsirkan surat Al-Kahfi yang mengisahkan tentang para pemuda Ashabul Kahfi menerangkan, “Demikianlah dakwah Rasulullah saw juga dikelilingi oleh para pemuda.”

Dari sepuluh orang sahabat Rasulullah saw generasi awal yang dijamin masuk surga hanya tiga orang yang usianya kepala tiga, yakni Sayidina Abu Bakar, Sayidina Usman bin Affan, dan Abdurrahman bin Auf, dua orang usianya kepala dua, bahkan lima orang di antara mereka usianya di bawah dua puluh tahun. Jelas sekali betapa anak-anak muda ini telah matang emosional dan spiritualnya. Tidak ada galau dan pencarian jati diri diusia mudanya.

Mari kita telaah lebih dekat, siapa sebenarnya aktor dibalik pembukaan Madinah sebagai pusat dakwah Islam? Merekalah enam pemuda belia. Rasulullah menemui enam pemuda ini ketika musim haji di Mekah. Seperti biasa, Rasulullah memanfaatkan musim haji untuk berdakwah mengunjungi satu tenda ke tenda lain. Hingga sampailah ke tenda enam pemuda ini yang berasal dari Madinah. Terjadilah dialog antara Rasulullah dan enam pemuda ini.

Singkat cerita, enam pemuda ini tertarik dengan Islam dan mengikrarkan dua kalimat syahadat. Enam pemuda ini bertekad, “Ya Rasulullah, tahun depan di tempat yang sama dan diwaktu yang sama, kami akan datang kembali kepadamu dengan pemuda yang lebih banyak dari sekarang.”

Satu tahun kemudian, enam pemuda ini menepati janjinya. Mereka datang dengan membawa tujuh pemuda lain untuk mengingkarkan dua kalimah syahadat. Saat itulah, terjadi Bai’at Aqabah I. Dari sini saja bisa dibayangkan betapa hebatnya peran pemuda dalam dakwah. Enam orang berhasil mengajak tujuh orang. Keberhasilannya seratus persen. Tapi, mari kita telisik lebih dekat lagi.

Kemudian, 13 pemuda ini kembali ke Madinah dan melanjutkan dakwahnya. Untuk mengawal dan mempercepat proses dakwah di Madinah, Rasulullah mengutus Mus’ab bin Umair untuk menyertai 13 pemuda ini. Siapakah Mus’ab bin Umair? Ya, ia tak lain seorang pemuda belia. Setahun kemudian, 13 pemuda ini berhasil mengajak 75 orang untuk menemui Rasulullah pada musim haji dan terjadilah Bai’at Aqabah II. Cermati percepatannya, pada tahun pertama enam pemuda berhasil mendakwahi tujuh orang. Pada tahun kedua 13 pemuda berhasil mendakwahi 75 orang. Berapa persen peningkatannya?

Namun, kiprah para pemuda ini belum usai. Mereka menyusun strategi dakwah bersama Mus’ab bin Umair. Mereka merancang pertemuan Mus’ab dengan para pemimpin suku-suku di Madinah. Sampai akhirnya, Mus’ab bertemu dengan pemimpin besar suku-suku Madinah, Sa’ad bin Mu’adz. Terjadi dialog dan diskusi antara Sa’ad bin Mu’adz dan Mus’ab bin Umair. Sekali lagi cermati bagaimana Mus’ab, seorang pemuda belia, mampu menaklukkan Sa’ad bin Mu’adz, seorang pemimpin besar Madinah? Seperti apa kualitas diri Mus’ab bin Umair?

Pada akhirnya, Sa’ad bin Mu’adz memperoleh hidayah dan masuk Islam. Masuk Islamnya Sa’ad diikuti oleh masuk Islamnya suku-suku di bawah pimpinan Sa’ad bin Mu’adz. Cermati bagaimana strategi dakwah para pemuda ini. Mereka tentu tidak punya kekuatan dan bukan pemegang kekuasaan untuk memaksa warga Madinah memeluk Islam. Tapi, saksamailah bagaimana para pemuda ini mengatur pertemuan dengan para pemimpin Madinah dan mempengaruhi mereka.

Dari sinilah peristiwa hijrah yang monumental itu bermula. Tonggak awal perjuangan dakwah Islam memasuki babak baru, fase Madinah. Ternyata ada peran besar para pemuda dibaliknya. Para pemuda didikan Rasulullah saw. Para pemuda hebat yang kokoh akidahnya dan teguh keimanannya.

Karena itu, sebuah kesalahan besar jika dalam pembangunan peradaban, kita mengabaikan pemuda. Dalam konteks yang lebih kecil, dalam upaya membangun peradaban di Bumi Pengembangan Insani, peran pemuda di dalamnya sangatlah sentral. Perlu ditegaskan bahwa bukan menafikan peran para orangtua. Tidak sama sekali. Para orangtua memiliki tempat tersendiri di hati para pemuda. Merekalah para pembimbing, penasehat, dan guru bagi para pemuda.

Sebagai penutup, mari kita resapi kisah indah antara Usamah bin Zaid (17 tahun) dan Khalifah Abu Bakar (60 tahun). Kisah ini bermula dari keputusan Rasulullah saw mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglima perang.

Menjelang wafatnya, Rasulullah saw mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglima perang pasukan muslim untuk diberangkatkan ke Romawi Timur. Saat itu, ada beberapa sahabat yang sempat mempertanyakan. Rasulullah menjawab, “Demi Allah, Usamah pantas menjadi pemimpin.”

Usamah berangkat memimpin pasukannya. Namun, baru beberapa mil, Usamah mendengar kabar kewafatan Rasulullah saw. Usamah memutuskan kembali ke Madinah. Usai Sayidina Abu Bakar dipilih menjadi Khalifah menggantikan Rasulullah saw dalam tugas memimpin negara, Khalifah Abu Bakar tetap mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglima perang dan memerintahkan Usamah untuk segera berangkat.

Khalifah Abu Bakar meminta Usamah naik ke atas kuda. Kemudian, Khalifah Abu Bakar menuntun kuda Usamah dan bermaksud mengantarnya sampai gerbang kota Madinah.

“Jangan perlakukan aku seperti itu, wahai khalifah,” ujar Usamah dan dengan sigap turun dari kudanya.

Usamah meminta Khalifah Abu Bakar yang naik ke atas kuda dan ia yang akan menuntun kuda tersebut. Namun, Khalifah Abu Bakar menolak. Usamah pun menolak untuk naik ke atas kuda. Hingga akhirnya, Khalifah Abu Bakar mengucapkan kata-kata pamungkas, “Wahai Usamah, engkau akan pergi berjihad. Maka, izinkan aku mengotori kakiku dengan debu-debu jihad.”

Lihatlah, Usamah sebagai anak muda memiliki adab menghormati Khalifah Abu Bakar. Namun, Khalifah Abu Bakar sebagai orangtua pun tahu menempatkan pemuda (Usamah) sebagai pemimpin. Indah sekali.
Bangkitlah para pemuda. Ambillah peran dan tanggung jawabmu untuk kejayaan Islam. Demi tegaknya agama Allah di bumi ini. Energimu masih besar. Semangatmu masih membara. Kobarkan dan pekikkan Allaahu Akbar!

“Tiada bergerak satu langkah pun seorang di antara kamu hingga kau ditanya empat hal, salah satunya, ‘Masa mudamu, untuk apa kau habiskan?…’”, demikian wasiat Rasulullah saw.

,

Sunyi Kayak Hati

Sunyi Kayak Hati

Karya Muhammad Habibur Rohman

Alumni SMART Angkatan 9 Berkuliah di FIB UNS

 

Bagi Kesunyian

Bagi kesunyian

Hening adalah bunga

Atau semacam cahaya

Yang menyala di rimbun angkasa

 

Bagi kesunyian

Senyap bukan ketiadaan

Atau tahun-tahun yang usang

Yang begitu jauh dan terlupakan

 

Sajak ini, bagimu

Hanyalah semacam nyanyian

Pada suatu pagi, pada sebuah kesunyian

 

Ini Puisi. Ini Rendra

Ini Puisi. Ini Rendra

Oleh: Muhammad Habiburahman

Alumni SMART Angkatan 9 saat ini berkuliah di UNS Jurusan Sastra Indonesia 2017

 

Aku tahu ini bukan Georgia, Rendra.
Tidak ada Negro di sini, kecuali si Jawa
Dan gereja boleh dimasuki siapa saja

Tidak ada yang menderita, di sini
Kecuali tukang becak yang seharian pulas
Tertidur dalam pangkuan becaknya

“Betsy.
Di mana engkau, Betsy?”
“Kulo senes Betsy.
Niki kulo, Pariem.”

Ini bukan Georgia, Rendra.
Ini Solo, tempat mbok Pariem menahan
kesedihan dalam pejam matanya.

Solo, 2018

Sebuah Sentilan Pembangkit Rasa Syukur

Sebuah Sentilan Pembangkit Rasa Syukur

Oleh: Muhammad Wahyudin Nur

Alumni SMART Angkatan 8 Berkuliah di UNPAD Jurusan Sastra Arab

Berangkat dari sebuah ayat,

“Diwajibkan atas kamu berperang,padahal itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu,padahal itu amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui,sedang kamu tidak mengetahui”

Al Baqarah : 216

            Hidup itu gak melulu seperti yang kita mau, seperti sebuah peribahasa yang sering kita dengar atau baca,”Man Proposes, GOD Disposes”. Kita bisa saja membuat  rencana-rencana cantik yang sekilas  membuat hidup kita terasa indah,namun kehendak Allah kadang merubah semua rencana-rencana cantik tersebut. Sebagaimana ayat di atas, ayat yang tak bosan-bosannya teman sekamar saya di Asrama SMART Ekselensia Indonesia, kamar Hammas lantunkan, boleh jadi kita membenci sesuatu padahal itu baik bagi kita, dan boleh jadi kita menyukai sesuatu padahal itu buruk bagi kita. Ayat tersebut benar benar menyentuh hati saya ketika saya lulus dari SMART Ekselensia Indonesia.

            Rencana yang saya buat begitu Indah kala itu, betapa cantiknya ketika membayangkan lulus SNMPTN di sebuah perguruan tinggi ternama di Bogor, mempelajari Ilmu Komputer yang saat itu sangat saya gema,tetapi sebuah keputusan pahit hadir menampar saya terbangun dari angan angan indah tersebut, PLAK! Wahyuddin tidak diterima di kampus tersebut melalui jalur undangan. Saat itu saya begitu yakin dengan nilai-nilai saya, luar biasa, pelajaran besar. Kejadian tersebut begitu menampar saya dan menciptakan galau berkepanjangan. Hingga tersadar , ketika tidak lulus SNMPTN atau jalur undangan, saya harus berjuang untuk SBMPTN atau jalur tes tulis dan jalur mandiri di PTN-PTN incaran saya.

            Belajar dan berdoa agar Allah berikan   yang terbaik adalah usaha terbaik yang bisa saya lakukan. Atas izin Allah saya mendapat kesempatan untuk mencoba SBMPTN di tahun kemarin, dan Alhamdulillah atas izin Allah, lagi-lagi saya tidak diterima. Setelah pengumuman SBMPTN, hari setelahnya adalah pengumuman dari salah satu  jalur mandiri yang saya ikuti, dan hasilnya pun serupa.

            Singkat cerita, selain SBMPTN saya mengikuti 5 ujian mandiri untuk meraih PTN sebagai jenjang selanjutnya dari pendidikan saya saat itu, dan semua gagal. Sedih adalah hal yang saya rasakan, saya kecewa dengan diri saya, mungkin begitu pula dengan SMART, dan begitu pula dengan keluarga saya. “Kemarin belajarnya gimana??” “Doanya kurang kamu,” semua ujian mandiri sudah habis, dan saya  langsung mencari ‘tempat menetap’ bagi saya setelah lulus SMA ini.

 Sesuai dengan rencana yg saya buat apabila tidak lulus di PTN manapun, saya akan menghafal Al-Qur’an, sesuatu yang gagal saya lakukan dalam 5 tahun masa pendidikan di SMART Ekselensia Indonesia. Saya mencari-cari rumah tahfidz yang menerima santri lulusan SMA, dari mulai program 10 bulan, 1 tahun, 2 tahun, saya coba kirim berkas, dan Alhamdulillah saya berkesempatan untuk mencoba seleksi beasiswa menghafal di sebuah rumah tahfidz baru, yang baru saja didirikan. Seleksi kala itu adalah berupa kecepatan menghafal, satu jam per halaman. Saya gagal, saya hanya menyelesaikan setengah halaman dalam satu jam. Saya pun mulai pesimis dan mulai menyusuri google untuk mencari rumah tahfidz lain karena selain yang satu itu, dua rumah tahfiz yang saya daftar kala itu, sudah tutup. Alhasil,rumah tahfidz selain itu, tidak ditemukan. Pada saat itu sya benar benar pasrah kepada ketentuan Allah‘azza wa jalla. Setelah menunggu sekian hari, Alhamdulillah rumah tahfidz tersebut mau menerima saya.

Dimulailah perjalanan baru saya dalam menghafal Al-Qur’an. Bukan sekadar membaca tulisan tulisan berbahasa Arab, menghafalnya, lalu menyetorkannya. Mungkin itu yang pertama kali saya lakukan di awal perjuangan menghafal Al-Qur’an, mengejar target, tamat secepat cepatnya, namun setelah menghafal Al-Qur’an sekian juz, hidayah Allah datang.

“Menghafal AlQur’an bukan masalah cepat cepat seperti balap motor, tapi seperti acara Rangking 1 di teve, siapa yg paling lama bertahan dengan AlQur’an, dialah pemenangnya” ucap seorang ustaz di rumah tahfiz saya.

Mulailah saya membaca dan mencoba memahami tiap pesan cinta yang Allah sampaikan untuk hamba-Nya yang mau membaca kalam-Nya.Tak jarang Allah menghantam hati saya dengan kalam-Nya, membuat saya tersadar bahwa selama ini, saya berjalan di atas kesesatan. Allah membuka mata hati saya lewat sebuah training yang sangat terkenal di Indonesia, Private Class Pola Pertolongan Allah. Pesan cinta Allah tidak hanya Ia sampaikan lewat kitab suci-Nya, tapi dalam setiap masalah yang saya hadapi, Allah lampirkan pesan cintaNya. Saat itu saya masih mengidamkan PTN, dan Allah mengembalikan saya kepada kejadian yang lalu ketika tak ada satupun PTN yang berhasil saya raih untuk membaca pesan cintaNya. Kenyataannya, pada saat itu, Allah hendak memanggil saya untuk bermesraan barang sejenak denganNya dan memahamiNya.

8 bulan sudah saya menghafal Al-Qur’an, lalu Allah pertemukan saya dengan SBMPTN lagi.Tepat setahun yang lalu, dia menjadi sumber sakit hati terbesar saya seumur hidup. Namun kali ini, saya benar benar ingin mencobanya kembali. Kali ini, niat saya berubah, saya tidak meminta kepada Allah agar dapat kuliah di mana pun seperti doa saya tahun lalu, saya tidak memaksa Allah untuk memasukkan saya di PTN favorit seperti tahun lalu, do’a saya kali ini,

“Allah, hamba-Mu ini sekarang akan menghadapi ujian yang akan merubah banyak hal, suasana hati, ukhuwah, dan sebagainya. Allah, untuk kali ini, hamba ikhlas apabila tidak dapat PTN yang hamba idamkan sejak dahulu karena hamba sudah memiliki-Mu yang  dengan sangat baik memberikan cinta-Mu pada hamba. Allah, satu hal yang hamba tidak mau terjadi setelah keputusan hasil dari ujian ini diumumkan,dan hamba sangat tidak mau ini terjadi, hamba tidak ingin ada pihak yang kecewa dengan keputusan-Mu nanti, hamba tidak ingin ada ukhuwah yang rusak karena keputusan-Mu kelak, hamba tidak ingin mengecewakan lembaga SMART Ekselensia Indonesia yang telah dengan sangat baik membina hamba atas izin-Mu selama 5 tahun. Hamba mohon pada-Mu ya Rabb, apapun keputusan-Mu, tempatkanlah hamba dalam ridho-Mu, tempatkanlah hamba dalam cinta-Mu, ya Rabb, Engkau yang Maha Penyayang, perkenankanlah ya Rabb”

Yaa kira-kira begitulah isi do’a saya beberapa bulan yang lalu, ada yang gak saya tulis, itu pribadi, hehe. Alhamdulillah, setelah SBMPTN berlalu saya masih dihantui perasaan takut tidak diterima karena ikut tes juga agak maksa minta izinnya ke pihak rumah tahfiz saya, dan teman-teman yang lain gak ada yang se keras saya maksa ke pak direkturnya. Setelah melalui masa penantian hasil sambil menambah nambah hafalan yang belum disetorkan, Alhamdulillah, atas do’a orang-orang yang mendo’akan saya, dan tentu atas kasih sayang Allah, Allah takdirkan saya untuk melanjutkan hidup yang telah Allah amanahkan kepada saya di jurusan Sastra Arab, Universitas Padjajaran.

WALLAHI, saya melihat dengan jelas pertolongan Allah pada kejadian ini. Kejadian ini membuat saya semakin melek dengan nyatanya cinta Allah pada hamba-Nya. Sastra Arab bukanlah bagian dari mimpi saya tahun lalu, rencana saya pun bukan disitu melainkan di psikologi, beberapa bulan yang lalu saya serahkan semua buku-buku yang menunjang untuk latihan SBMPTN kepada saudara dan teman saya karena saya sudah gak yakin untuk dapat ikut serta di SBMPTN 2017. Alhamdulillah, Allah beri saya sebuah buku kumpulan soal SOSHUM untuk belajar seharga Rp 50.000. Murah, bukan? Ketika SMA basic saya SAINTEK, dan Allah tuntun saya ke arah SOSHUM, saya buka buku soal-soal SOSHUM itu, Alhamdulillah ketika tes, ada beberapa materi yang dahulu saya pelajari selama duduk di kelas 10, dan atas izin Allah, saya diterima di Universitas Padjajaran dengan Pertolongan Allah.