Hardware, Open Source Software, dan Hanya Mengajar Komputer

Hardware, Open Source Software, dan Hanya Mengajar Komputer

Oleh: Ari Kholis Fazari Guru TIK SMART Ekselensia Indonesia

 

Awal semester sebentar lagi akan dimulai,  tak ada yang berbeda masih sama seperti dulu ketika pertama kali saya berada di SMART Ekselensia Indonesia. Masing-masing anak di SMART mempunyai karakteristik berbeda, bahkan kemampuan tentang penguasaan teknologi juga berbeda; terutama kemampuan mereka tentang komputer khususnya pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), mata pelajaran yang saya ajarkan untuk anak-anak kelas 1 dan 2.

 

 

Saat memulai pelajaran pun jelas terlihat kebingungan mereka ketika berkenalan dengan komputer.

 

 

 

“Ustaz gimana cara nyalain TV-nya?” salah seorang anak bertanya kepada saya.

 

 

 

“TV yang mana, Dik?”

 

 

 

Anak tadi kemudian menunjuk ke monitor komputer. Itulah sebagian dari keawaman anak SMART ketika baru pertama kali masuk ke kelas komputer. Ketika pertama kali saya berada di sini, saya pun sempat kebingungan mulai dari mana saya harus mengajar. Sebabnya, masing-masing dari mereka mempunyai kemampuan dan pengetahuan yang berbeda tentang komputer, mulai dari yang benar-benar tidak tahu nama masing-masing hardware komputer sampai yang sudah tahu komputer. Apalagi, SMART mempunyai target yang cukup tinggi terhadap siswanya dalam hal penguasaan komputer.

 

 

 

Tantangan lain, sistem operasi komputer yang digunakan di SMART berbeda dengan sistem operasi komputer yang ada di sekolah-sekolah pada umumnya, yakni menggunakan open source software. Otomatis saya harus membuat sendiri administrasi pembelajaran mulai dari silabus sampai ke Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), sebab saya belum menemukan sekolah setingkat SMP yang belajar sistem operasi dan program-program yang sama seperti yang ada di SMART ini.

 

 

 

Ada suatu pengalaman yang tidak mudah saya lupakan ketika awal saya bekerja di sini sebagai guru komputer. Ketika itu, saya dihadapkan oleh komputer yang tidak sebanding dengan jumlah siswanya, dalam arti jumlah komputer yang bisa digunakan hanya separuh dari jumlah siswa yang ada. Terlebih lagi komputer komputer tersebut tampak sudah jadul di eranya. Jadi, secara otomatis banyak masalah ketika mulai digunakan oleh siswa yang notabene siswa kelas 1 yang masih belum mengerti sama sekali tentang komputer, apalagi pada saat itu warnet atau rental-rental komputer belum menjamur seperti sekarang ini. Ketika saya tanya sebagian siswa tentang pengetahuan komputer, hampir semuanya belum pernah memegang komputer sama sekali. Belum lagi ada beberapa siswa yang menangis ketika belajar komputer lantaran rindu dengan orangtuanya. Ketika itu saya bertanya pada diri saya sendiri, “Harus dimulai dari manakah semua ini?”

 

 

 

Saya pun berusaha mencari metode-metode yang sesuai untuk menangani hal ini, mulai dari mencoba sesuai dengan text book sampai dengan saya coba-coba sendiri. Pada akhirnya, saya mulai mengerti bahwa yang saya hadapi adalah anak-anak cerdas dan saya yakin mereka akan cepat belajar. Itulah yang muncul dari dalam hati saya sampai saat ini. Ketika saya berpikir mereka adalah anak-anak cerdas, maka saya akan semakin bersemangat untuk belajar dan belajar lagi.

 

 

 

Tidak terasa, tahun kelima akan dilalui para siswa SMART. Sesuai tradisi di SMART, setiap anak yang akan meninggalkan sekolah atau lulus dari sini mereka wajib mengerjakan Karya Ilmiah Siswa SMART (KAISS). Ada beberapa siswa yang membuat saya terharu ketika saya mengujikan KAISS, karena judul KAISS yang diajukan berkaitan dengan komputer. Ya, mereka mengambil topik seputar dunia komputer. Entah mengapa ada perasaan bangga ketika mereka lulus dari sidang KAISS.  Segera saja saya teringat masa lalu mereka tatkala pertama kali mengenal mouse, keyboard, monitor, Linux, OpenOffice, sampai akhirnya ia dapat menganalisis kekurangan dan kelebihan sebuah software komputer.

 

 

 

Dan tibalah saatnya mereka harus meninggalkan SMART untuk mengarungi dunia yang sesungguhnya. Momentum wisuda SMART menjadi pembuka semua itu. Pada saat prosesi wisuda, seperti angkatan sebelumnya, para siswa memberikan bunga kertas kepada guru- guru mereka. Ketika itu ada salah satu siswa memberikan bunga kepada saya. Padahal, saya sudah diberi bunga kertas oleh siswa yang lain. Tiba-tiba siswa itu datang dan memeluk saya sambil menangis.

 

 

 

“Ini buat Ustaz. Terima kasih, Ustaz, selama ini sudah membimbing saya, dan maatian saya….”

 

 

 

Setelah ia melepaskan pelukan, saya pun terdiam. Dalam hati saya bertanya-tanya, “Apa sih yang pernah saya berikan pada mereka?”

 

 

 

Meskipun “hanya” mengajar komputer, saya juga ingin membangun harapan untuk mereka. Karena bagaimanapun juga, saya sudah menjadi bagian dari keluarga SMART yang berusaha mengubah senyum-senyum anak bangsa semakin lebar. Saya rasa, mungkin seperti inilah kebanggaan seorang guru, sebuah profesi yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya.

 

 

 

Semoga anak-anak didik saya itu bisa mengamalkan ilmu komputer yang didapat di kemudian hari untuk kebaikan.

 

Begini lho Sob Rasanya Bersekolah di SMART. Pokoknya Bikin Penasaran

Begini lho Sob Rasanya Bersekolah di SMART. Pokoknya Bikin Penasaran

Bagi Nabil Rizky Habibi dan Jefriadi, mendapat kesempatan bersekolah di SMART Ekselensia Indonesia (SMART) adalah sebuah kebahagiaan dan kebanggaan. Dengan keterbatasan ekonomi keluarga, awalnya mereka tak menyangka bisa menempuh pendidikan di sekolah dengan fasilitas selengkap SMART.
“Saya sangat bahagia berada di SMART karena hubungan guru dan siswa sudah seperti sahabat. Tertawa bareng, curhat-curhatan, dan hal menyenangkan lainnya. Kalau di asrama, sekarang sudah sangat nyaman, mulai dari fasilitas tidur, fasilitas pribadi hingga fasilitas olahraga,” ungkap Nabil, siswa asal Medan, Sumatera Utara.
Menyambung Nabil, Jefriadi, siswa yang merantau jauh dari Sabah, Malaysia, juga mengungkapkan kebanggaannya bersekolah di SMART. “Kami tidak hanya dididik dalam bidang akademik, tapi juga dididik untuk menumbuhkan karakter diri yang baik. Suasana kekeluargaan dan keberagaman budaya yang membuat saya betah sekaligus bersyukur dapat berbaur dengan seluruh anak Indonesia dari Sabang sampai Merauke,” paparnya.
Seperti Nabil dan Jefri, masih banyak anak-anak Indonesia berprestasi cemerlang namun memiliki keterbatasan finansial. Yuk, antarkan anak-anak cemerlang Indonesia mendapatkan pendidikan berkualitas di SMART. Share info Seleksi Nasional Beasiswa SMP dan SMA SMART ini dan rekomendasikan anak-anak di sekitar Sahabat Pendidikan ya!
Info lebih lanjut sila hubungi nara hubung kami di bawah ya Sob:
Uci Febria : (081282996939)

Mereka yang Selesai dengan Dirinya

Mereka yang Selesai dengan Dirinya

Hari ini, 74 tahun yang lalu, para pejuang kemerdekaan mengobarkan api perlawanan terhadap pasukan sekutu dari Surabaya. Ini menjadi salah satu pertempuran terbesar setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Pertempuran berjalan tak seimbang, sebagian rakyat yang hanya bersenjatakan bambu runcing dan persenjataan sederhana harus berhadapan dengan kekuatan militer sekutu yang jauh lebih modern. Pertempuran ini kemudian menjadi simbol nasional atas perlawanan rakyat Indonesia dalam menolak kedatangan kembali kekuasaan kolonial di tanah air. Karena pertempuran inilah dukungan internasional terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia makin kuat.
Sebelum mengangkat senjata, para pejuang kemerdekaan telah menekan ego keselamatan diri. Mereka memutuskan maju ke medan perang, membahayakan dirinya demi menghapus derita rakyat karena penjajahan. Mereka telah selesai dengan dirinya sendiri, sehingga lebih mengutamakan kepentingan rakyat, kepentingan bangsa Indonesia.
Ya, demikianlah hakikat seorang pahlawan. Mereka yang telah selesai dengan urusan dirinya sendiri, dan mencari kemanfaatan apa yang bisa diberikan untuk orang banyak. Karena setiap diri bisa menjadi pahlawan, dimulai dengan satu kata: kepedulian.
Selamat Hari Pahlawan Nasional!

Rinduku Padamu Melintas Abad

Rinduku Padamu Melintas Abad

Aku tak pernah melihat elok parasmu, pun mendengar merdu suaramu. Kisahmu kutahu dari cerita ayahku, ibuku, guruku, dan dari buku. Namun namamu selalu terlantun, di setiap salatku, di setiap doaku. Namamu juga tergema di seluruh penjuru bumi, lima kali setiap hari, ketika tiba panggilan menghadap Rabb-ku.
Ya Rasulullah… Berabad sudah aku berjarak darimu. Namun ajaranmu telah menaklukkan waktu hingga sampai padaku dan anak cucuku. Dengannya telah kau selamatkan kami dari kejahilan, dan membawa kami kepada kegemilangan Islam. Maafkan aku, yang masih tersaruk meneladani indahnya akhlakmu, Duhai Manusia Agung.
Kini, di hari lahirmu, betapa rinduku membuncah. Sungguh aku mendamba syafaatmu kelak di hari penghakiman. Sungguh aku berharap dapat berkumpul denganmu nanti di keabadian.
Selamat Maulid, Duhai Kekasih Allah, Kekasih kami… Semoga rahmat dan keselamatan tercurah limpah atasmu dan para pengikutmu yang setia, hingga akhir zaman

Ini Dia Sosok Generasi Muda dalam Pandangan Alquran

Sob Alquran merupakan kitab suci umat Islam yang berlaku sepanjang zaman dan telah teruji kebenarannya. Diturunkan oleh Zat Yang Mulia kepada Rasul-Nya yang mulia pula. Pokoknya tidak ada yang bisa menggantikan kedudukannya dari diutusnya Nabi Muhammad Saw. ke dunia hingga akhir zaman. Hal-hal yang terjadi di masa sekarang dan yang terjadi di masa akan datang bahkan yang terjadi sebelum diturunkannya Alquran sudah tertulis di dalam Alquran. Sehingga boleh dikatakan bahwa Alquran ialah kitab yang berisi sejarah lho. Tidak hanya itu, di dalam Alquran juga berisi tentang keimanan, syariat, maupun akhlak. Tidak ada bagian dari kehidupan ini yang terlepas dari Alquran. Jika kita berpegang teguh kepada Alquran, maka selamatlah kita dalam mengarungi kehidupan, baik di dunia maupun di akhirat. Begitu juga dalam kehidupan generasi milenial yang penuh dengan kecanggihan teknologi sekarang ini, jika generasi mudanya sangat jauh dengan Alquran maka dapat dipastikan bahwa teknologi yang mereka banggakan dapat menjadi penghancur masa depan mereka. Perkembangan zaman memang mengubah segalanya, termasuk generasi muda bagi sebuah negara. Di satu sisi, perkembangan zaman dengan segala kecanggihannya membawa kemudahan. Namun di sisi lain juga membawa keburukan, salah satunya yaitu adanya  pengikisan nilai-nilai moralitas. Kebiasaan seperti bolos sekolah, melawan guru, narkoba, pergaulan di luar batas dari yang dengan lawan jenis hingga dengan sesama jenis, dan lebih parahnya lagi sampai hamil di luar nikah merupakan hal yang sangat lumrah di kehidupan sekarang ini. Memang betul bahwa sekarang masih banyak generasi muda yang peduli akan masa depannya dan masa depan bangsanya, misalnya melalui prestasi, baik dari yang bersifat ilmiah hingga yang bernuansa Islam. Bahkan seperti yang dikutip dari laman jawapos.com, jumlah penghafal Quran di Indonesia mencapai tiga puluh ribu orang. Tentu hal ini menjadi kabar gembira bagi kita semua. Namun, hal ini tidak terlalu menggembirakan setelah kita membandingkannya dengan jumlah pecandu narkoba. Menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), dikutip dari laman newsokezone.com, sebanyak 5,9 juta anak di Indonesia sudah menjadi pecandu narkoba. Belum lagi berdasarkan data tahun 2013, kasus hamil di luar nikah usia 10-11 tahun mencapai 600.000 kasus dan usia 15-19 tahun mencapai 2,2 juta kasus seperti yang dikutip dari laman surabayatribunnews.com. Tidak seharusnya kasus seperti ini terjadi di negara kita yang mana mayoritas penduduknya beragama Islam.   Generasi muda adalah salah satu kekuatan bagi suatu umat atau negara. Untuk melihat nasib masa depan sebuah negara ialah dengan melihat generasi muda saat ini. Jika generasi mudanya baik maka baiklah masa depan sebuah negara tersebut. Karena saking pentingnya generasi muda, Ir. Soekarno Sang Proklamator pernah berkata, “Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh orang pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”.  Generasi muda adalah aset suatu bangsa, sehingga harus dijaga dan dirawat dengan baik, mengingat generasi muda sangatlah rentan terhadap derasnya arus modernisasi saat ini. Jika kita lihat melalui konteks keislaman, tentu Islam sudah menaruh perhatian yang sangat besar terhadap generasi muda. Kita lihat pada zaman dahulu banyak pemuda muslim yang tampil dengan keberanian dan kegagahannya untuk berjihad di medan perang. Inilah pemuda yang diharapkan Islam. Bukan hanya sekadar mengikuti arus perkembangan zaman, namun juga mampu bersaing melawan zaman itu sendiri agar hidupnya tidak mudah goyah dan tetap berpegang teguh kepada Alquran. Alquran melarang jika meninggalkan generasi yang lemah, hal ini seperti yang termaktub dalam Alquran surah an-Nisa ayat 9 Menurut Quraish Shihab, ayat di atas berpesan agar umat Islam menyiapkan generasi penerus yang berkualitas sehingga mampu mengaktualisasikan potensi dirinya untuk bekal di masa mendatang. Seperti inilah Alquran memandang generasi muda. Jangan sampai generasi muda itulah yang justru menjadi penghancur bangsanya sendiri. Pengaruh Alquran di Era Milenial Secara formal, Alquran telah diimani dan disepakati sebagai kitab yang terlengkap dan berlaku sepanjang masa, namun faktanya Alquran sudah diabaikan sebagai solusi dalam menyelasaikan permasalahan umat. Padahal jika Alquran menjadi pegangan utama, tentu tidak ada lagi yang namanya krisis moral seperti yang sudah dipaparkan di atas. Jika kita membeli sebuah sepeda motor, tentu kita akan mendapat buku panduan untuk menjalankan sepeda motor tersebut agar aman dalam berkendara. Begitu juga Allah Swt. sudah memberikan manusia kaidah-kaidah atau petunjuk, yang mana petunjuk ini berguna untuk mengarungi segala masalah yang dihadapi hamba-hamba-Nya. Tentu tidak lain dan tidak bukan petunjuk itu adalah Alquran. Dengan Alquran semuanya akan menjadi baik. Hal ini seperti yang termaktub dalam Alquran surah al-Isra ayat 9. Lalu, mengapa muncul kejahatan dan kerusakan? Awalnya manusia dilahirkan dengan kondisi suci atau sudah membawa potensi keimanan, kemudian orang tuanyalah yang mengubahnya menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Pengaruh orang tua disini memberi pengertian kepada kita bahwa ada pengaruh lingkungan untuk membentuk karakter seorang anak. Begitu juga di era milenial yang sangat rentan ini, sudah seharusnya kita sebagai anak atau bahkan sebagai calon orang tua selalu berusaha menanamkan nilai-nilai Alquran dalam kehidupan. Jangankan berusaha menanamkan nilai-nilai Alquran, mendengarkannya pun sudah memberi pengaruh yang amat besar bagi manusia. Hal ini dibuktikan melalui penelitian yang dilakukan oleh Dr. Ahmad al-Qadhi yang mana hasil riset tersebut dipresentasikan dalam konferensi tahunan ke-17 Ikatan Dokter Amerika, di Saint Louis, Missouri, Amerika Serikat. Dari hasil penelitian ini, diperoleh kesimpulan bahwa mendengarkan bacaan ayat suci Alquran membawa pengaruh yang signifikan terhadap perubahan fisiologi dan psikologi manusia. Melalui hasil penelitian tersebut dapat kita lihat betapa agungnya mukjizat dari sebuah kitab suci umat Islam ini. Tidak dapat kita pungkiri bahwa dengan kebesaran mukjizat yang sudah teruji tersebut terkandung banyak nilai-nilai positif di dalamnya dan nilai-nilai tersebut sangat berpengaruh terhadap orang yang berusaha mengamalkan isi dari Alquran itu.  Sisi mukjizat lain dari Alquran yaitu sebagai penawar. Hal ini juga terbukti dari penelitian di Florida yang menyimpulkan bahwa Alquran memberi pengaruh hingga 97% dalam memberikan ketenangan dan penyembuhann penyakit. Dari beberapa mukjizat dari Alquran tersebut dapat dikatakan bahwa rusaknya moral generasi era milenial disebabkan jauhnya mereka dari Alquran. Hal ini diperkuat lagi dengan penelitian yang saya lakukan terhadap 93 responden. Dari 93 responden tersebut, 98% mengatakan bahwa mereka sangat membutuhkan akan Alquran. Menurut mereka, hati mereka sangat tenang setelah membaca Alquran. Padahal dari 98% responden tersebut, ada 89% yang mengakui bahwa mereka hanya membaca Alquran tanpa melihat terjemah atau tafsirnya. Dari sini dapat kita lihat bahwasanya dengan membaca Alquran tanpa melihat terjemah atau tafsirnya pun bisa membuat hati seseorang tenang, apalagi berusaha memahami maksudnya, bahkan mengamalkannya. Jika hati seorang hamba telah terikat dengan Alquran dan yakin bahwa keberhasilan, keselamatan, kebahagiaan serta kekuatannya terletak pada membaca dan menghayati kitab tersebut, maka itulah titik tolak kebangkitannya menaiki tangga kesuksesan dan kebahagiaan hakiki dunia dan akhirat. Sehingga hal-hal yang buruk dapat ia hindari karena ia memiliki Alquran sebagai pedomannya. Beginilah besarnya pengaruh Alquran terhadap kualitas hidup seseorang, mendengarkannya saja mendapat pengaruh yang besar terlebih lagi membaca atau menghayati bahkan berusaha mengamalkan isinya. Menanamkan Nilai Alquran Sejak Dini Menanamkan nilai Alquran pada diri sendiri atau pada generasi selanjutnya bahkan kepada anak bukanlah hal yang dapat dilakukan dalam waktu singkat. Tentu membutuhkan waktu dan proses yang panjang. Nilai-nilai Alquran akan melekat pada diri kita jika kita mencintai Alquran tersebut. Jika sehari saja tidak dibaca, maka seperti ada sesuatu yang kurang. Lalu bagaimana cara mencintai Alquran itu? Modal pertama yang harus dimiliki adalah iman. Maksudnya ialah percaya bahwa Alquran itu merupakan kitab dari Allah Swt. yang berisi petunjuk dengan segala mukjizat yang dikandung di dalamnya dan jika berpegang kepadanya maka akan selamat dunia dan akhirat. Rasa seperti inilah yang perlu ditumbuhkan terlebih dahulu dalam diri seseorang. Tentunya ini juga merupakan hidayah dari Allah Swt. Jika rasa ini sudah tumbuh, maka nilai-nilai dari Alquran baik yang ia dengar dari ceramah atau yang ia baca langsung dapat masuk ke dalam jiwa dengan baik. Menurut Dr. Khalid Abdul Karim al-Laahim, ada lima tanda orang yang mencintai Alquran, yaitu senang bertemu dengan Alquran, tidak bosan berlama-lama dengan Alquran dalam satu majelis, ada kerinduan untuk berjumpa dengan Alquran, banyak berkonsultasi dengan Alquran, dan menaati perintah dan larangan Alquran. Jika diri kita sudah cinta dengan Alquran, maka tugas kita selanjutnya ialah menanamkan rasa cinta Alquran itu kepada anak. Sebagai orang tua muslim, tentu menyadari betul akan pentingnya garis keturunan. Karena anak diharapkan menjadi generasi penerus perjuangan dalam menegakkan kalimat al-haqq. Di samping itu, setiap orang tua harus menyadari bahwa anak adalah pelestari pahala. Walaupun orang tuanya telah meninggal dunia, ia tetap dapat mengalirkan pahala kepada kedua orang tuanya. Begitu juga sebaliknya. Dengan demikian, jika orang tua muslim menyadari hakikat anak mereka tentu akan bangkit keinginan untuk lebih waspada terhadap pendidikan anak-anak mereka. Berikut kiat-kiat yang dapat dilakukan untuk menciptakan generasi muda agar cinta dengan Alquran. Pertama, dimulai dengan mencari pasangan yang baik. Dalam pandangan Islam, memilih pasangan juga ikut berpengaruh dalam memprogramkan anak yang saleh. Pasangan yang baik juga tidak akan jauh dari Alquran. Pasangan yang baik akan menurunkan putera-puteri yang baik. Begitu juga sebaliknya. Karena itu, Rasulullah Saw. bersabda, “Hati-hatilah dengan Hadhra al-Diman, atau wanita cantik dari lingkungan yang tidak berpendidikan”.  Kedua, selalu melantunkan ayat Alquran pada telinga anak. Hal ini dilakukan agar sedini mungkin anak dapat mengenal Alquran. Apabila orang tuanya sibuk atau tidak sempat membacakan Alquran di telinga anaknya, maka dapat digantikan dengan memperdengarkan ayat-ayat Alquran dari tap recorder pada anak. Usaha ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Dr. Nurhayati terhadap bayi yang berusia 48 jam yang dikutip dari laman kompasiana.com. Bayi tersebut menunjukkan respon tersenyum dan menjadi lebih tenang setelah diperdengarkan ayat-ayat Alquran dari tape recorder. Ketiga, memasuki masa kanak-kanak atau kisaran umur 3 tahun, anak sebaiknya sudah diajari membaca Alquran sesuai dengan kemampuannya. Lebih baik jika yang mengajarkan ini orang tuanya sendiri. Bahkan jika orang tua sering membacanya, misalnya ketika salat membaca surah Al-Fatihah, seorang anak pun bisa hafal dengan sendirinya. Selain itu, bisa juga ditambah dengan memberi tahu makna dari surah tersebut guna menanamkan nilai-nilai ketauhidan pada diri anak. Jika nilai-nilai ketauhidn ini sudah tertanam sejak kecil, maka ia pun akan mudah meyakini keberadaan dan keagungan Alquran. Keempat, yaitu menjadikan Alquran sebagai bahan bacaan utama anak di rumah. Setelah mengajari anak membaca Alquran dan anak sudah bisa membaca Alquran dengan baik, maka kemudian tugas selanjutnya ialah menjadikan Alquran itu sebagai bacaan wajib setiap harinya. Misalnya anak diwajibkan membaca Alquran setelah selesai salat lima waktu. Jika anak tersebut tidak mau dengan alasan malas atau sebagainya, maka harus ada hukuman dari orang tua dan hukuman inipun tentunya hukuman yang mendidik. Berdasarkan pemaparan di atas, dapat kita lihat betapa besarnya pengaruh Alquran terhadap seseorang. Orang yang dekat dengan Alquran, dalam artian selalu membaca, menghayati, bahkan berusaha mengamalkan isinya tentu akan berbeda dengan orang yang jauh sekali dengan Alquran. Sehingga wajib bagi kita agar selalu dekat dengan Alquran dan juga mendidik para generasi milenial agar Alquran selalu melekat dalam jiwanya demi kemajuan bangsa terutama dirinya dan terlebih lagi untuk bekal di akhirat kelak. Inspirasi: https://www.kompasiana.com/ahmadriyadhmaulidi/5c911ef795760e16781e40e3/alquran-dan-kepribadian-islam-generasi-milenial?page=all#

Di SMART Setiap Sore Adem Karena Ini lho Sob

Sejak angkatan pertama hingga angkatan lima belas ada sebuah kegiatan yang membuat kami selalu merasa nyaman berada di SMART. Bukan hanya nyaman, tapi juga ada perasaan tenang yang menyusup diantara penatnya pikiran kami akan banyaknya pelajaran yang haus akan perhatian.

“Lalu kegiatan apakah itu?” nah kamu sudah mulai penasaran deh, kami menyebutnya SMART Ma’tsurat. SMART Ma’tsurat merupakan kegiatan yang dilaksanakan setiap Selasa, Rabu, dan Jumat lepas Salat Asar. Semua siswa wajib mengikuti kegiatan ini, tak ada kecuali. Kami yang berjumlah ratusan orang berkumpul di Masjid Al-Insan, satu orang memimpin dan memandu kami selama Al-Ma’tsurat dibacakan, sisanya mengikuti.

Selama kurang lebih tiga puluh menit kami bersama-sama membaca Ma’tsurat dengan khidmat dan penuh kesyahduan. Suasana sangat tenang, damai, dan penuh kesejukan. Suara kami menggema ke seantero area masjid, tak jarang hingga membuat mereka yang lalu lalang berhenti untuk turut serta.

“SMART Ma’tsurat merupakan kegiatan yang selalu kutunggu, karena aku bisa membaca Ma’tsurat bersama teman-tema sekelasku dan kakak kelas yang lain,” ujar Syehan, kelas V. “Kebersamaannya yang membuatku kangen,” tambahnya.

Tapi tahukah kamu kalau membaca Al-Ma’tsurat memiliki beberapa keutamaan yang baik untukmu, antara lain:

  • Diriwayatkan dari Sya’bi dari Ibnu Mas’ud: “Siapa yang membaca 10 ayat dari surat Al-Baqarah di rumah, setan tidak masuk ke rumah tersebut malam itu hingga pagi hari, empat ayat yang pertama, ayat kursi, dan dua ayat setelahnya, dan penutupnya ( tiga ayat terakhir). (HR.Thabrani )
  • Dari Abdullah bin Hubaib berkata rasulullah saw bersabda kepadaku, “bacalah Qul huwallahu ahad’, dan mu’awwadzataini (qul a’udzubirabbil falaq.. dan qul a’udzubirabbinnas.. ketika pagi dan sore tiga kali, cukup untukmu segala sesuatu’. (HR.abu Dawud dan Turmudzi)
  • Keutamaan membaca Al-Ma’tsurt lainnya adalah sebagaimana yang diriwayatkan Dari Ibnu Abbas ra. Berkata, Rasulullah saw. bersabda, “siapa yang mengucapkan ketika pagi hari, ‘Allahumma inni asbahtu minka fi ni’matin’ tiga kali ketika pagi hari dan tiga kali ketika sore, Allah menyempurnakan nikmatnya atasnya” (HR.Ibnu Saunni)
  • Dari Abdullah bin Ghannam Al-Bayadhi, sesungguhnya Rasulullah saw., bersabda,” Siapa yang membaca ketika pagi ‘Allahumma maa ashbaha bii min ni’matin au bi ahadin min khalkika falakal hamdu walakasyukr’ sungguh telah menunaikan syukur hari itu, dan siapa yang membaca pada sore hari, sungguh telah menunaikan syukur malamnya”.  (HR.Abu Dawud)
  • Dari Tsauban, berkata Rasulullah saw. bersabda, ”Siapa yang mengucapkan ketika sore hari “radhitu billahi rabba wabil islami diina wabi muhammadin nabiyyah adalah hak atas Allah untuk menjadikan dia ridha”. ( HR.Turmudzi)
  • Ibnu Abbas berkata Rasulullah saw. Keluar dari (menemui) Juwairiyyah, dan dia berada di mushalanya dan beliau kembali sedang Juwairiyyah masih di mushallanya. Lantas Rasulullah bersabda, ”Engkau tak henti-hentinya di mushollamu ini“. Dia menjawab, “ya beliau bersabda “sungguh aku telah mengucapkan empat kalimat tiga kali kalau ditimbang dengan apa yang engkau katakan niscaya lebih berat dari yang engkau ucapkan,” ” Subhanallahu wabihamdihi ‘adada kholqihi”(HR.Muslim).
  • Dari Utsman bin Affan ra. Berkata, Rasulullah bersabda, ”Tidak ada seorang hamba membaca pada pagi hari setiap hari dan pada sore hari setiap malam, “Bismillaahi lladzi laa yadzurru m’asmihi syai’un……’ tiga kali maka tidak ada satu pun yang membahayakannya”. (HR.Abu dawud dan Turmudzi).
  • Dari Abi Sa’id Al-Khudri berkata, beliau bersabda,”Katakanlah jika engkau masuk pagi dan di sore hari “Allahumma inni a’udzubika minal hammi wal hazani, wa a’udzubika minal ‘ajzi wal kasali” Ia berkata,” maka aku lakukan hal itu lantas Allah menghilangkan kesusahanku dan menunaikan utangnya”. (HR.Abu Dawud).
  • Dari Abdurrohman bin Abi Bakrah dia berkata kepada bapaknya, ”wahai bapakku, sungguh aku mendengar engkau berdoa setiap pagi: ‘ Allahumma ‘aafini fi badani ….’engkau ulang tiga kali setiap pagi dan sore, dan engkau juga mengucapkan ‘ Allahumma inni a’udzubika minal kufri wal faqri…’ engkau ulang tiga kali tiap pagi dan sore. ‘ dia berkata. ”Ya wahai anakku, aku mendengar Nabi Muhammad saw. berdoa dengannya dan aku ingin mengikuti sunnahnya”. (HR.Abu Dawud, Ahmad, dan Nasai).
  • Dari Nabi saw, “penghulu istighfar adalah Allahumma anta rabbi ’barangsiapa membacanya di siang hari yakin dengannya, kemudian mati hari itu sebelum sore hari maka dia termasuk ahli surga, dan siapa yang membaca pada malam hari yakin dengannya lalu ia mati sebelum pagi hari, maka dia termasuk ahli surga”. (HR.Bukhari)
  • Dari Abu Ayyasy, sesungguhnya Rasulullah Saw, bersabda, ‘siapa yang mengucapkan ketika pagi hari ‘Laa ilaaha illallah….adalah baginya sebanding memerdekakan budak dari putra Isma’il, ditulis untuknya sepuluh kebaikan, dihapus sepuluh kesalahan, diangkat sepuluh derajat, dan dia dalam penjagaan dari setan hingga sore, dan jika ia baca ketika masuk sore maka baginya seperti itu pula (HR.Abu Dawud, Nasa’i, dan Ibnu Hibban).

Waaah ternyata banyak sekali ya keutamaan membaca Al-Ma’tsurat, kami jadi semakin semangat mengikuti SMART Ma’Tsurat, selain mendamaikan juga banyak kebaikannya. Yuk kita biasakan membaca Al-Ma’tsurat agar Allah meridhoi semua hajat yang ingin kita lakukan. (AR)

SMART Mewadahi Usahaku Menjadi Orang yang Bermanfaat Bagi Orang Lain

SMART Mewadahi Usahaku Menjadi Orang yang Bermanfaat Bagi Orang Lain

Oleh Vikram Makrif

Alumni SMART Angkatan IX, Undip Jurusan Sastra Indonesia 2017

 

 

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia lainnya

Sebaik-baik ilmu adalah ilmu yang diamalkan

Sebaik-baik harta adalah harta yang disedekahkan

Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat

 

Berawal dari tiga kalimat di atas,aku bertekad untuk menjadi manusia  yang baik dengan cara menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain.  Selama ini aku telah menerima banyak manfaat dari harta yang baik yaitu harta yang diberikan oleh para donatur Dompet Dhuafa dengan keikhlasan  hati mereka. Aku merupakan salah satu anak yang mendapatkan bantuan beasiswa pendidikan dari Dompet Dhuafa Pendidikan yakni bersekolah gratis selama 5 tahun untuk  jenjang  SMP dan SMA di sekolah SMART Ekselensia Indonesia.

 

Bersekolah di SMART Ekselensia Indonesia telah mejadikanku anak yang berpendidikan dan berguna untuk orang lain. Karena dengan bantuan tersebut tersebarlah kebaikan yang kuterima. Namun bagiku Kebaikan tidak boleh putus di penerima manfaat sepertiku saja, tetapi kebaikan harus terus mengalir kepada setiap manusia yang berada

disekitarku.

 

Tiga Kalimat di atas merupakan motivasiku untuk terus berbuat kebaikan. Aku berkeinginan memiliki ilmu yang baik dengan mengamalkan ilmu yang telah diberikan oleh SMART kepadaku. Aku juga bertekad menjadi manusia yang baik dan bermanfaat untuk orang-orang disekitarku serta berkontribusi untuk membangun Indonesia menjadi lebih baik dengan generasi yang berpendidikan dan memiliki ilmu yang bermanfaat.

 

Selama ini tak banyak kontribusi yang kupersembahkan untuk negeri ini.  Tak banyak pula kebermanfaatan yang kuberikan untuk orang lain disekitarku. Namun dengan keinginan  yang kuat, aku berusaha untuk dapat berguna untuk orang lain dan berkontribusi sebaik yang kubisa walau hanya sedikit manfaat yang dapat dirasakan oleh orang lain sekitarku.

 

Berada di SMART selama lima tahun, sudah banyak ilmu yang kudapatkan, mulai dari ilmu dunia sampai ilmu tentang akhirat.  Ilmu-ilmu itu tidak akan berarti jika tidak kuamalkan dan tidak akan bermanfaat bila tidak kusebarkan dan kuajarkan pada orang lain.

 

Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Quran dan yang mengajarkannya

Jampang Mengaji merupakan program Asrama SMART Ekselensia Indonesia yang bertujuan untuk membimbing anak-anak sekitar Desa Jampang agar lebih cinta terhadap Alquran. Hadits Rasul meyatakan “Sebaikbaik kalian adalah orang yang belajar Alquran dan yang mengajarkannya”. Seperti  yang  termaktub dalam hadis tersebut, aku ingin menjadi manusia yang baik, aku ingin belajar Alquran dan mengajarkannya.

 

Aku merasakan kebahagian tersendiri saat dapat mengajar dan yang kuajarkan bersemangat dalam mempelajari  ilmu Alquran. Mengajar adalah salah satu kegiatan yang aku sukai. Mengajar apapun itu, asalkan dengan mengajar tersebut aku dapat bermanfaat untuk orang lain.  Entah itu mengajarkan pelajaran sekolah seperti matematika, fisika, bahasa, biologi atau yang lain seperti menjahit, silat, dan sebagainya. Semua hal yang berhubungan dengan mengajar akan aku lakukan dengan senang hati dan semampuku tentunya.

 

Salah satu kegiatan mengajar dibidang non akademik yang dulu aku lakukan adalah mengajar  pramuka untuk penggalang di SDN Jampang 04. Berbekal modal pelatihan KMD (Kursus Mahir Dasar) untuk menjadi seorang pembina pramuka yang diberikan oleh SMART, aku mencoba untuk terus dapat menyebarkan ilmu yang kumiliki kepada orang yang berada disekitarku yaitu mengajar pramuka kepada para murid kelas 4 dan 5 SDN Jampang  04 setiap Sabtu. Membina Pramuka di SDN Jampang 04 membuatku dapat mewujukkan tekadku untuk mengamalkan ilmu yang kumiliki kepada masyarakat disekitarku.Keinginanku membina pramuka di SDN Jampang 04 adalah untuk membentuk karakteryang baik bagi para peserta didik.

 

Kegiatan mengajar tidak harus selalu diwujudkan mejadi seorang pembina ataupun pengajar.  Tetapi juga dapat diwujudkan dalam bentuk menjadi  seorang duta yang dapat memberikankan pengetahuan baru untuk masyarakat. Aku tidak hanya mengajar di satu tempat, karena jika aku hanya mengajar di satu tempat sama maka kebermanfaatan hanya terbatas di tempat itu saja. Maka dari itu aku memutuskan untuk menjadi Duta Gemari Baca 2016 agar aku dapat memberikan pengetahuan baru ke berbagai tempat dan berbagai golongan.

 

Duta Gemari Baca ini bertugas untuk menyebarkan informasi  tentang literasi kepada semua orang dan mengajak orang lain untuk senang membaca. Aku sangat senang dan bangga dapat menjadi bagian dari Duta Gemari Baca yang dibentuk oleh Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa. Menjadi Duta Gemari Baca membuatku merasa menjadi orang yang berguna untuk mengajak orang lain mengenal dan menyukai literasi.

 

Beberapa kegiatan yang kulakukan selama menjadi Duta Gemari Baca adalah memberikan  pengetahuan baru dan mengajak anak-anak disekitar daerah Bogor untuk mencintai literasi dan gemar membaca. Selain itu, ada pula kegiatan membuka Pojok Baca di Jalan Duren, Depok pada September lalu. Pojok Baca yang dibuat para Duta Gemari Baca tersebut diharapkan menumbuhkan rasa cinta anak-anak yang berada di Desa Jalan Duren semakin gemar membaca .

 

Alhamdulilah dengan berbagai kegiatan yang aku lakukan di SMART dapat mewadahi usahaku untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Semoga kebaikan dan kebermanfaatan akan terus mengalir kepada sebanyak mungkin orang membutuhkannya. Karena sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat.

 

Jangan Jadi Pemuda yang Hanya Bermodal Eksistensi

 Jangan Jadi Pemuda yang Hanya Bermodal Eksistensi

Oleh: Purwoudiutomo

 

Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki pemuda” (Tan Malaka)

April 1993, surat kabar Republika yang baru berusia 3 bulan melakukan promosi di Stadion Kridosono, Yogyakarta. Ketika acara ramah tamah di Restoran Bambu Kuning, rombongan Republika bertemu sekelompok da’i muda yang tergabung dalam Corps Dakwah Pedesaan (CDP). Mereka adalah da’i sekaligus guru dan pemberdaya masyarakat yang berkiprah di daerah miskin Gunung Kidul yang saat itu tengah dilanda kekeringan dan kelaparan. Sebagai aktivis sosial, anggota CDP ini hanya digaji Rp. 6000.- per bulan. Gaji mereka berasal dari sumbangan para mahasiswa dari berbagai kampus di Yogyakarta. Singkat cerita, peristiwa tersebut menginspirasi lahirnya sebuah rubrik di Harian Umum Republika yang bertajuk Dompet Dhuafa pada 2 Juli 1993. Dompet Dhuafa kemudian terus berkembang menjadi salah satu Lembaga Amil Zakat tingkat nasional terbesar di Indonesia dengan puluhan kantor cabang dan perwakilan di dalam dan luar negeri. Sejarah kemudian mencatat nama Parni Hadi, Haidar Bagir, Sinansari Ecip, dan Erie Sudewo sebagai pendiri Yayasan Dompet Dhuafa Republika. Sejarah juga mencatat nama Ustadz Umar Sanusi dan (alm.) Ustadz Jalal Mukhsin sebagai pegiat Corps Dakwah Pedesaan. Namun sejarah luput mencatat, siapa saja mahasiswa yang telah menginspirasi rombongan Republika kala itu dengan menyisihkan uang saku mereka untuk menggaji anggota CDP. Ya, mereka adalah para pemuda yang menginspirasi dalam sunyi.

Pemuda ada di masa puncak idealisme. Kematangan secara fisik yang belum disertai kesempurnaan kematangan emosional justru membuat para pemuda menjadi sosok pemberani yang memegang teguh prinsip yang diyakininya. Itulah yang dilakukan oleh Tamlikha, Maksalmina, Martunis, Nainunis, Sarbunis, Falyastatnunis dan Dzununis yang memilih mengasingkan diri dalam sebuah gua untuk mempertahankan akidahnya. Setelah ditidurkan selama tiga ratus (ditambah sembilan) tahun dan bertemu kembali dengan masyarakat yang sudah silih berganti generasi dan sudah beriman kepada Allah SWT, alih-alih menjadi saksi hidup sejarah masa lalu mereka justru memohon agar Allah SWT mencabut nyawa mereka tanpa sepengetahuan orang lain. Idealisme orientasinya adalah terwujudnya cita-cita, bukan ketenaran. Bahkan nama-nama mereka pun kurang familiar dibandingkan dengan inspirasi sejarah oleh para pemuda yang bergelar Ashabul Kahfi. “…Sesungguhnya mereka itu orang-orang muda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahi mereka dengan hidayah dan petunjuk. Dan Kami kuatkan hati mereka (dengan kesabaran dan keberanian)…” (QS. Al Kahfi: 13 – 14).

Memperjuangkan sebuah idealisme tentu diwarnai berbagai tantangan yang menghadang. Pengorbanan adalah konsekuensi dari sebuah perjuangan. Dalam Al Qur’an Surah Al Buruj dikisahkan mengenai ashabul ukhdud,  kaum terlaknat yang menggali parit berisi api dan melempar semua orang yang beriman kepada Allah SWT ke dalam parit api tersebut. Kisah lengkap ashabul ukhdud dimuat dalam sebuah hadits panjang yang diriwayatkan Imam Muslim. Berkisah tentang seorang pemuda beriman yang dikaruniai keahlian pengobatan dan kemustajaban do’a. Kematiannya justru menancapkan iman yang mendalam kepada masyarakat yang menyaksikan pembunuhannya. Pun keimanan tersebut membuat mereka dilemparkan ke dalam parit api. Mereka menemui ajal dengan mendapatkan keridhaan Allah. Dalam hadits panjang tersebut, si pemuda hanya disebut ghulam yang berarti anak muda. Tidak dikenal namanya tidaklah mengurangi inspirasi mengenai keistiqomahan dan pengorbanan yang dicontohkan.

Semangat pemuda adalah semangat berjuang dan berkarya. Nothing to lose. Benar ataupun salah akan jadi pembelajaran hidup. Cenderung spontan dan agak kurang pikir panjang, tapi karenanya justru menjadi perjuangan yang penuh ketulusan dan keikhlashan. Jika dilis, akan panjang sekali daftar tokoh kunci pemuda inspiratif yang tak terlalu dikenal sejarah. Sebutlah Soegondo Djojopuspito, Ketua Panitia Kongres Pemuda II tahun 1928 yang menjadi titik tolak gerakan pemuda di Indonesia. Belum digelari pahlawan nasional, kalah tenar jika dibandingkan W.R. Supratman, misalnya. Padahal posisi sebagai Ketua Panitia saat itu sangatlah berisiko dan memberikan andil signifikan dalam keberlangsungan Kongres Pemuda. Atau sebut saja Wikana yang mendesak Soekarno memproklamasikan Indonesia, Frans Mendur yang mendokumentasikan detik-detik proklamasi, Shodanco Singgih yang ‘menculik’ Soekarno – Hatta ke Rengasdengklok atau Kusno Wibowo yang merobek warna biru pada bendera bendara yang berkibar di Hotel Yamato. Karena ketercapaian cita-cita adalah yang utama dibandingkan dikenalnya nama, para pemuda idealis ini tidak ambil pusing bagaimana catatan sejarah akan menempatkan mereka. Ya, sejarah juga alpa mencatat siapa mahasiswa yang pertama kali menduduki gedung MPR/ DPR dalam artian yang sebenarnya pada tahun 1998. Karena bukan disitu esensi perjuangan mereka.

Namun roda zaman terus berputar, era pengetahuan dan informasi seakan menuntut semua pihak untuk menunjukkan eksistensi. Para pemuda yang tadinya asyik menginspirasi dalam sunyi kini tak ketinggalan menjadi garda terdepan unjuk eksistensi. Berbagai macam kanal kontribusi digagas, bisa berupa kegiatan, program, gerakan, atau bahkan aplikasi di dunia maya. Iklim kompetisi ditambah motivasi untuk unjuk gigi mewarnai dinamika kontribusi pemuda. Menjadi sulit menyamakan isu dan gerak langkah kontribusi pemuda. Yang memang tidak lagi didesain untuk disatukan. Belum lagi semakin banyak pemuda yang kehilangan jati diri sehingga eksistensi menjadi orientasi, tak lagi memperjuangkan cita dan visi bersama. Kontribusi harus dalam ramai agar bisa menginspirasi. Bagaimanapun harus ada keuntungan yang diperoleh dari setiap karya dan kontribusi. Lebih miris lagi mendapati semakin banyaknya pemuda apatis yang tak peduli. Tingginya kompetisi diyakininya sebagai sebuah tanda untuk hidup ‘mandiri’, hidup untuk diri sendiri, hidup dalam dunianya sendiri. Bagi mereka, karya tidak perlu dibagi, cukuplah untuk menginspirasi diri sendiri.

Akan tetapi, yang namanya roda akan kembali ke titik awal. Saat ini pun masih banyak pemuda yang terus berkarya dalam sepi, tetap menginspirasi dalam sunyi. Gemerlap publikasi tak menyilaukan matanya yang menatap masa depan dengan penuh optimisme kegemilangan. Mereka sudah selesai dengan dirinya, sehingga dengan atau tanpa dikenal manusia, karya tetap harus tercipta. Eksistensi dirinya tak ada nilainya jika dibandingkan dengan motivasi untuk terus berkontribusi dan banyaknya manfaat yang hendak dirawat. Ketika memperjuangkan cita mulia menjadi pilihan, inspirasi bisa dilakukan dalam ramai maupun sunyi. Bentuk perjuangan bisa berubah menyesuaikan zaman, namun cita perjuangan tetaplah sama. Belum tentu populer, tapi memang popularitas bukan tujuan. Semakin sunyi, semakin menginspirasi, sebab energi tidak perlu terkuras hanya untuk meladeni persepsi orang. Hingga akan tiba suatu masa dimana kontribusi dalam sunyi ini kan dibuka tabirnya, menginspirasi dunia, membuat perubahan nyata. Tinggal pastikan diri kita turut berperan di dalamnya.

Arti Sebuah Perjuangan

Arti Sebuah Perjuangan

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie
(Guru Agama Islam SMART Ekselensia Indonesia 2010 – 2012)
Setiap orang pasti punya cerita kehidupan masing-masing yang sifatnya personal. Cerita tentang kuliah sambil kerja barangkali bukan hal baru. Banyak mahasiswa yang punya cerita kehidupan seperti itu.
Namun, bisa saja itu cerita kehidupan yang bermakna dan berkesan bagi seorang mahasiswa yang menjalaninya. Dibaliknya, ada cerita tentang bertahan untuk bisa kuliah dan kelangsungan kehidupan. Dibaliknya mungkin saja ada air mata perjuangan, yang bagi orang yang tidak mengalaminya, tidak bisa merasakan maknanya. Layaknya manisnya gula tak pernah sempurna dijelaskan, kecuali dengan merasakannya.
Dibaliknya, ada cerita tentang kesabaran dan keyakinan akan kebenaran janji Tuhan. Bahwa satu kesulitan diapit oleh banyak kemudahan. Bahwa ada janji pertolongan Tuhan usai kegigihan ditunjukkan.
Singkatnya, ini tentang arti sebuah perjuangan. Setiap perjuangan punya makna dan kesan personal. Tidak bisa dikatakan perjuangan si A lebih bermakna dan berkesan daripada perjuangan si B. Hanya ada satu kesamaan dalam perjuangan, yakni kemuliaan. Selebihnya, punya makna sendiri-sendiri (personal).
Siang tadi (2/11/2019), usai menyampaikan materi “Pemimpin Muda: Integritas dan Intelektualitas” di FIB Undip, saya dibonceng motor Vikram menuju sebuah cafe untuk makan siang dan janjian ketemuan dengan para alumni SMART Ekselensia Indonesia yang di Semarang (Undip dan Unnes).
Kejutan. Sosok pemuda yang membukakan pintu cafe dan mempersilakan masuk adalah anak muda yang saya kenal. Namanya Lazuda (alumni SMART Ekselensia Indonesia), angkatan X, mahasiswa semester III Fakultas Perikanan dan Kelautan Undip. Rupanya Lazuda bekerja di cafe tersebut. Inilah satu cerita perjuangan seorang Lazuda.
Vikram, mahasiswa semester V Fakultas Ilmu Budaya Undip, juga punya cerita perjuangan yang personal. Sampai saat ini Vikram berjualan pempek di kantin fakultasnya. Ini tentang menjaga izzah diri dari membebani oranglain. Ini tentang nilai diri seorang pemuda. Maka, cerita ini mengingatkan saya pada firman Allah,
“Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba [34]: 13).
Bekerja itu bentuk syukur. Syukur atas nikmat anggota tubuh. Maka, gunakan untuk bekerja, bukan meminta-minta. Hasil bekerja gunakan untuk nafkah yang diridhai-Nya. Ini bentuk syukur kita.
Dua cerita tentang Lazuda dan Vikram mengawali banyak cerita kehidupan dalam perjumpaan saya dengan para alumni SMART Ekselensia Indonesia di Semarang. Ujungnya tentang  kesamaan cita-cita berjuang bagi kejayaan Islam dan kemaslahatan umat.
Cerita-cerita kehidupan inspiratif ini akan terus diproduksi di inkubasi kehidupan bernama SMART Ekselensia Indonesia. Maka, berbahagialah orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Ide Hebat dari Watt

Ide Hebat dari Watt

 

KAMU?

0 watt

1 watt

5 watt

20 watt

50 watt

100 watt -lampu