“Kami akan membacakan (Alquran) kepadamu (Muhammad) Maka kamu tidak akan lupa. Kecuali kalau Allah menghendaki. Sesungguhnya dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi” (QS. 87: 6-7).   Surah Al-A’la adalah surat ke 87 dalam Alquran tergolong surat makiyyah yang terdiri atas 19 ayat. Dinamakan Al A’laa berarti Yang Paling Tinggi diambil dari perkataan Al A’laa dan terdapat pada ayat pertama surat ini.   Allah menjaga wahyu dan kitab-Nya dengan menurunkan malaikat Jibril yang terus memantau hafalan Nabi Muhammad saw. dan mengeceknya terus. Sebagian ulama mengartikan bahwa Nabi Muhammad saw. dikaruniai hafalan sangat kuat sehingga tidak akan lupa. Kecuali hal-hal yang dikehendaki oleh Dzat Yang Maha Tahu dan hal tersebut tidak terjadi.   Di akhir pekan ini jangan lupa untuk menyempatkan membaca dan menghafal Alquran ya Sob
https://youtu.be/u6k5Xd8bWwg

Semangat Relawan Semangat Kebaikan

Oleh: Andi Ahmadi, Pegiat Sekolah Literasi Indonesia
Menjadi relawan itu identik dengan bekerja tanpa bayaran. Bahkan, tak jarang justru uang dari kantong pribadi yang dikeluarkan. Sungguh pekerjaan yang tak banyak orang bisa melakukan.
Jika dilihat dari kacamata materi, relawan memang tak mendapatkan ba
yaran. Karena aktivitasnya murni atas dasar kemanusiaan. Namun, jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda, menjadi relawan akan mendapatkan bayaran yang sangat berlimpah. Berikut adalah beberapa bayaran yang bisa didapatkkan oleh seorang relawan.
Lingkaran Kebaikan
Orang baik pasti akan dipertemukan dengan orang baik. Begitulah kata orang bijak. Dan nyatanya, hipotesis itu benar adanya. Dalam menjalankan aktivitas sebagai relawan, ada saja orang baik yang akan ditemui. Entah sekadar menjadi teman diskusi, memberikan hidangan saat bersilaturrahmi, memberikan tumpangan transportasi, hingga ada yang sampai menganggap sebagai keluarga sendiri.
Sebagai relawan, kita harus yakin bahwa dari sekian banyak orang yang kita temui, di antaranya pasti ada orang-orang baik yang sefrekuensi. Namun, jika belum juga dipertemukan dengan orang baik, tak ada salahnya kita instrospeksi diri. Jangan-jangan karena niat kita yang belum sepenuhnya baik.
Jaringan yang Luas
Menjadi relawan sudah pasti akan bertemu dengan banyak orang. Mulai dari sesama relawan, aktivis kemanusiaan, komunitas masyarakat yang memiliki kepedulian, para dermawan, hingga pejabat pemerintahan. Dengan jaringan yang luas tersebut, tentu akan bermanfaat bagi seorang relawan. Bukan hanya saat beraktivitas sebagai relawan, tetapi juga bermanfaat untuk dirinya di masa depan. Percaya atau tidak, tidak sedikit orang mendapat rezeki dari jaringan yang didapatkan saat menjadi relawan.
Pengembangan Diri
Salah satu wadah terbaik untuk mengembangkan kapasitas diri adalah di komunitas kerelawanan. Di sana kita akan belajar cara beradaptasi, cara bersosialisasi, cara bernegosiasi, hingga belajar mengembangkan ide-ide kreatif ketika realita tak sesuai dengan ekspektasi. Dan enaknya, belajar di komunitas kerelawanan kita tak perlu takut salah, berbeda dengan saat kita bekerja di perusahaan atau perkantoran. Bagi seorang pembelajar, kesempatan seperti ini jauh lebih berharga dari sekadar materi.
Kebahagiaan Hakiki
Bagaimana perasaan kita ketika melihat orang merasa bahagia dan terbantu dengan apa yang kita lakukan? Kita ikut bahagia bukan? Nah, seperti itulah yang dirasakan relawan. Bagi relawan, kebahagiaan terbesar adalah ketika ia bisa bermanfaat untuk orang lain. Dan tentu saja kebahagiaan seperti ini tak bisa diukur dengan tumpukan uang.
Aliran Pahala
Bayaran terbesar dari seorang relawan adalah aliran pahala yang tak pernah jeda. Seperti yang kita ketahui, ada tiga amal yang pahalanya akan terus mengalir tanpa henti: sedekah jariyah, amal yang bermanfaat, dan doa anak shaleh. Maka, aktivitas kerelawanan bukan hanya tentang membantu sesama, tetapi juga sebagai tabungan pahala yang kelak akan kembali kepada kita.
Dengan segala manfaat kebaikan yang bisa didapatkan, maka menjadi relawan sejatinya adalah sebuah kebutuhan.
Selamat Hari Relawan Internasional

Temnas I KOMPARASI: Tujuh Konsep Mengaqilkan Anak Belum Balig yang Pengasuh Asrama Harus Tahu!

 

 

Bogor – Komunitas Pondok Pengasuh Asrama se-Indonesia (KOMPARASI) dalam Temnas I KOMPARASI ajak 230 pengasuh asrama selami fenomena legalitas remaja melalui “Strategi Mengaqilkan Anak yang Sudah Balig” bersama Adriano Rusfi, Psikolog,

 

 

Merujuk pada literatur psikologi abad ke-19 tak ada istilah masa remaja (adolescence), karena masa remaja adalah produk abad ke-20 di mana lahir generasi dewasa fisik (balig) namun tak dewasa mental (aqil). Fenomena ini menciptakan fenomena legalitas remaja, seolah-olah anak dibiarkan berlama-lama menjadi anak-anak. Maka, lahirlah generasi yang matang syahwatnya, tetapi tanpa kematangan akal.

 

 

Komunitas Pondok Pengasuh Asrama se-Indonesia (KOMPARASI) dalam Temu Nasional (Temnas) I KOMPARASI mengajak 230 pengasuh asrama mendalami fenomena ini melalui “Strategi Mengaqilkan Anak yang Sudah Balig Namun Belum Aqil” bersama Adriano Rusfi, Psikolog, yang dilaksanakan Minggu (01/12), di Aula Sinar Cendekian Boarding School, Telaga Sindur, Bogor.

 

 

“Karena masih remaja dan dianggap belum dewasa maka usia remaja dianggap belum matang dan masih belum bisa menentukan sikap hidupnya,” ujar Adriano. Ia menambahkan jika saat ini banyak pemuda sudah balig tapi belum akil. ”Inilah tugas penting seorang pengasuh asrama untuk membimbing siswa binaannya agar mampu berpikir lebih matang, mandiri, dan bisa bertanggung jawab dengan hidupnya,” tegasnya.

 

 

Fenomena legalitas remaja tersebut menimbulkan banyak kerancuan di publik, salah satunya jika pemuda berusia tujuh belas tahun sudah mampu berbuat kejahatan, tetapi karena usianya, status hukumnya masih masuk dalam kategori anak-anak. Menurut Adriano dalam Islam seseorang sudah memasuki tahap balig maka ia dianggap telah dewasa.

 

 

“Ketika pemuda telah balig seharusnya ia dididik sebagai manusia dewasa, sesuai usianya. Hanya saja umat Islam ikut latah dengan pembenaran atas keliru didik yang fatal ini,” ujar Adriano.

 

 

Adriano menjelaskan, pengasuh asrama memiliki tugas besar membawa kehidupan siswa sekolah berasrama dan pondok pesantren kepada situasi ideal. “Pengasuh asrama disarankan tak hanya mencari sumber masalah (trouble shooting), tapi juga sebagai pemecah masalah (problem solving) melalui pendekatan terbaik,” jelasnya.

 

 

Dalam pemaparannya Adriano mengonsep tujuh hal yang dapat dilakukan pengasuh asrama sebagai strategi mengaqilkan anak balig  antara lain

  • Jangan menganggap periode remaja sebagai keniscayaan, karena remaja adalah produk kebudayaan,
  • Didiklah anak-anak menjadi dewasa bukan setengah dewasa, melalui pendekatan diskusi
  • Didik mereka bertanggung jawab atas perbuatan mereka menggunakan pendekatan consequential learning,
  • Libatkan mereka dengan permasalahan hidup; jangan sterilkan mereka dari hidup dan perjuangannya
  • Besarkan mereka di tengah realitas untuk memecahkan masalah
  • Didik mereka belajar untuk mencari nafkah, walaupun hanya sekadar menambah uang jajan,
  • Ajari mereka berorganisasi, berempati terhadap problematika sosial, dan berpikir untuk menemukan solusinya.

 

 

“Anak bukan makhluk bodoh, belajar terpenting bagi mereka ialah belajar menjadi dewasa. Latih mereka dan jadikan asrama tempat berkehidupan,” tutupnya. (AR)