,

Sepi

Sepi

Oleh: Karya Nadhif Putra Widiansah

Sepi, sepi, sepi
sepi bukan mimpi
sepi bukan imaji
sepi bukan ilusi
sepi bukan puisi
sepi bukan diksi
sepi bukan narasi
sepi bukan petisi
sepi bukan mosi
sepi bukan intuisi
sepi juga bukan hati
sepi, sepi, sepi
sepi, untuk diriku sendiri

(Buitenzorg, 2017)

,

Jangan Ngaku Milenials Kalau Belum Baca Ini!

Jangan Ngaku Milenials Kalau Belum Baca Ini!

Oleh: Insan Maulana

Alumni SMART Angkatan 9 Berkuliah di UPI Bandung

 

Aku rela dipenjara asalkan dengan buku, karena dengan buku aku bebas.”

 –Muhammad Hatta-

Zaman sekarang, teknologi mengambil peran penting dalam kehidupan manusia dan seiring berjalannya waktu, teknologi semakin berkembang dan semakin maju. Kemajuan teknologi membuat kita semakin mudah melakukan segala sesuatu, kita ambil contoh jika kita ingin melakukan komunikasi antar kota, puluhan tahun yang lalu kita harus menggunakan surat dan membutuhkan waktu yang lama, itu komunikasi antar kota. Bagaimana dengan komunikasi antar benua? Sepertinya mustahil dilakukan. Namun, sekarang teknologi menyediakan berbagai fitur yang membuat komunikasi antar benua menjadi lebih mudah, selain itu waktu yang dibutuhkan pun teramat singkat. Teknologi seperti e-mail, SMS (Short Message Service), telepon atau media sosial seperti facebook-lah yang membuatnya mungkin. Termasuk untuk mencari informasi, kini tersedia internet yang teramat mudah diakses, bandingkan saat abad 20 ketika itu hanya tersedia surat kabar dan buku sebagai sumber informasi.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan pengguna internet cukup banyak dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara. Sebuah agensi marketing sosial mengeluarkan sebuah laporan pada Maret 2015 mengenai data jumlah pengguna website dan media sosial di Indonesia. Ternyata, jumlahnya menembus angka 72,7 juta pengguna aktif internet dan 74 juta pengguna aktif media sosial.[1] Angka ini meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun. Padahal, di awal pendiriannya, jaringan internet hanya menghubungkan beberapa universitas di Amerika, sekarang internet sudah menjadi viral dan menyasar berbagai kalangan, mulai dari dewasa, remaja bahkan anak usia sekolah dasar sudah mengenal dunia internet.

Sangat mudahnya mendapat informasi melalui internet ini adalah faktor utama turunnya minat untuk membaca buku. Selain punya banyak pengguna internet, Indonesia juga merupakan negara dengan tingkat minat membaca buku yang sangat rendah dibanding dengan negara Asia Tenggara lainnya. Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, H.R Agung Laksono, di Media Tempo pada 12 Januari 2012, menyebutkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah dimana prosentase minat baca masyarakat Indonesia hanya sebesar 0,01 persen, artinya dalam 10.000 orang hanya satu orang saja yang memiliki minat baca. Tingkat minat baca masyarakat Indonesia ini masih jauh ketinggalan dibandingkan negara lain seperti Jepang yang mencapai 45 persen dan Singapura yang menyentuh angka 55 persen. Bahkan berdasarkan survei UNESCO, budaya baca masyarakat Indonesia berada di urutan 38 dari 39 negara yang paling rendah di kawasan ASEAN.[2] Hal ini sungguh memprihatinkan, padahal informasi yang kita dapat dari buku lebih detil daripada informasi yang didapat dari internet. Masyarakat Indonesia pada umumnya cenderung haus akan informasi, seperti contoh mereka selalu ingin mengetahui kabar, kegiatan dan foto-foto temannya. Cara yang tepat bagi mereka tentu menggunakan media sosial seperti Facebook, Twiter dan Instagram. Fenomena inilah yang membuat perspektif mayoritas orang terhadap kegiatan membaca buku atau menulis cerita terlihat kuno atau ketinggalan zaman. Selain itu, kutu buku juga sering dikucilkan dan dianggap culun.

Dalam segala kemudahan yang ditawarkan, media sosial juga kerap kali membawa serta dampak negatif bagi penggunanya. Lupa waktu karena keasyikan, tidak mau membaca buku, dan sering ditemukan hal yang tidak penting seperti kata-kata kotor, kasar bahkan gambar vulgar adalah sedikit dari banyaknya dampak negatif internet. Sekarang mari kita bahas tentang buku. Memang jika kita teliti buku-buku zaman sekarang banyak yang mengandung  konten negatif seperti komik dan novel yang berlabel “dewasa” di bagiam sampulnya. Hal-hal seperti itulah yang menyebabkan sumber daya manusia di suatu negara menjadi hancur secara pikiran maupun perilaku. Maka dari itu, dalam membaca buku pun kita tetap harus selektif.

Berlatar belakang hal-hal di atas, menurut saya perlu beberapa cara suntuk meningkatkan minat baca dan menulis masyarakat terutama kalangan muda yang masih duduk di bangku sekolah. Pertama, pemerintah harus memberikan imbauan kepada seluruh sekolah supaya menasihati siswa-siswinya untuk tidak terlalu sering dan berhati-hati dalam menggunakan media sosial apalagi menyalahgunakannya. Selain itu, penting juga untuk menginformasikan tentang pentingnya membaca buku dan berlatih menulis. Kedua, pemerintah harus mengadakan lomba tentang literasi supaya siswa yang sudah berkembang kemampuan literasinya bisa menyalurkan kemampuan dan bersaing dengan orang lain.

Untuk itu, akan lebih baik jika kita membaca buku yang berisi tentang ilmu pengetahuan atau novel yang berisi cerita orang-orang sukses yang inspiratif dan memotivasi daripada menghabiskan waktu menggunakan media sosial. Tidak salah bila kita menggunakan media sosial dan internet untuk mencari informasi karena lebih mudah, namun kita harus menyadari bahwa dengan membaca buku, ilmu yang kita dapat akan lebih banyak.

,

 Kekuatan Pemuda yang Perlu Kamu Pahami Sob

 Kekuatan Pemuda yang Perlu Kamu Pahami Sob

Oleh: Purwoudiutomo

 

Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki pemuda” (Tan Malaka)

April 1993, surat kabar Republika yang baru berusia 3 bulan melakukan promosi di Stadion Kridosono, Yogyakarta. Ketika acara ramah tamah di Restoran Bambu Kuning, rombongan Republika bertemu sekelompok da’i muda yang tergabung dalam Corps Dakwah Pedesaan (CDP). Mereka adalah da’i sekaligus guru dan pemberdaya masyarakat yang berkiprah di daerah miskin Gunung Kidul yang saat itu tengah dilanda kekeringan dan kelaparan. Sebagai aktivis sosial, anggota CDP ini hanya digaji Rp. 6000.- per bulan. Gaji mereka berasal dari sumbangan para mahasiswa dari berbagai kampus di Yogyakarta. Singkat cerita, peristiwa tersebut menginspirasi lahirnya sebuah rubrik di Harian Umum Republika yang bertajuk Dompet Dhuafa pada 2 Juli 1993. Dompet Dhuafa kemudian terus berkembang menjadi salah satu Lembaga Amil Zakat tingkat nasional terbesar di Indonesia dengan puluhan kantor cabang dan perwakilan di dalam dan luar negeri. Sejarah kemudian mencatat nama Parni Hadi, Haidar Bagir, Sinansari Ecip, dan Erie Sudewo sebagai pendiri Yayasan Dompet Dhuafa Republika. Sejarah juga mencatat nama Ustadz Umar Sanusi dan (alm.) Ustadz Jalal Mukhsin sebagai pegiat Corps Dakwah Pedesaan. Namun sejarah luput mencatat, siapa saja mahasiswa yang telah menginspirasi rombongan Republika kala itu dengan menyisihkan uang saku mereka untuk menggaji anggota CDP. Ya, mereka adalah para pemuda yang menginspirasi dalam sunyi.

Pemuda ada di masa puncak idealisme. Kematangan secara fisik yang belum disertai kesempurnaan kematangan emosional justru membuat para pemuda menjadi sosok pemberani yang memegang teguh prinsip yang diyakininya. Itulah yang dilakukan oleh Tamlikha, Maksalmina, Martunis, Nainunis, Sarbunis, Falyastatnunis dan Dzununis yang memilih mengasingkan diri dalam sebuah gua untuk mempertahankan akidahnya. Setelah ditidurkan selama tiga ratus (ditambah sembilan) tahun dan bertemu kembali dengan masyarakat yang sudah silih berganti generasi dan sudah beriman kepada Allah SWT, alih-alih menjadi saksi hidup sejarah masa lalu mereka justru memohon agar Allah SWT mencabut nyawa mereka tanpa sepengetahuan orang lain. Idealisme orientasinya adalah terwujudnya cita-cita, bukan ketenaran. Bahkan nama-nama mereka pun kurang familiar dibandingkan dengan inspirasi sejarah oleh para pemuda yang bergelar Ashabul Kahfi. “…Sesungguhnya mereka itu orang-orang muda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahi mereka dengan hidayah dan petunjuk. Dan Kami kuatkan hati mereka (dengan kesabaran dan keberanian)…” (QS. Al Kahfi: 13 – 14).

Memperjuangkan sebuah idealisme tentu diwarnai berbagai tantangan yang menghadang. Pengorbanan adalah konsekuensi dari sebuah perjuangan. Dalam Al Qur’an Surah Al Buruj dikisahkan mengenai ashabul ukhdud,  kaum terlaknat yang menggali parit berisi api dan melempar semua orang yang beriman kepada Allah SWT ke dalam parit api tersebut. Kisah lengkap ashabul ukhdud dimuat dalam sebuah hadits panjang yang diriwayatkan Imam Muslim. Berkisah tentang seorang pemuda beriman yang dikaruniai keahlian pengobatan dan kemustajaban do’a. Kematiannya justru menancapkan iman yang mendalam kepada masyarakat yang menyaksikan pembunuhannya. Pun keimanan tersebut membuat mereka dilemparkan ke dalam parit api. Mereka menemui ajal dengan mendapatkan keridhaan Allah. Dalam hadits panjang tersebut, si pemuda hanya disebut ghulam yang berarti anak muda. Tidak dikenal namanya tidaklah mengurangi inspirasi mengenai keistiqomahan dan pengorbanan yang dicontohkan.

Semangat pemuda adalah semangat berjuang dan berkarya. Nothing to lose. Benar ataupun salah akan jadi pembelajaran hidup. Cenderung spontan dan agak kurang pikir panjang, tapi karenanya justru menjadi perjuangan yang penuh ketulusan dan keikhlashan. Jika dilis, akan panjang sekali daftar tokoh kunci pemuda inspiratif yang tak terlalu dikenal sejarah. Sebutlah Soegondo Djojopuspito, Ketua Panitia Kongres Pemuda II tahun 1928 yang menjadi titik tolak gerakan pemuda di Indonesia. Belum digelari pahlawan nasional, kalah tenar jika dibandingkan W.R. Supratman, misalnya. Padahal posisi sebagai Ketua Panitia saat itu sangatlah berisiko dan memberikan andil signifikan dalam keberlangsungan Kongres Pemuda. Atau sebut saja Wikana yang mendesak Soekarno memproklamasikan Indonesia, Frans Mendur yang mendokumentasikan detik-detik proklamasi, Shodanco Singgih yang ‘menculik’ Soekarno – Hatta ke Rengasdengklok atau Kusno Wibowo yang merobek warna biru pada bendera bendara yang berkibar di Hotel Yamato. Karena ketercapaian cita-cita adalah yang utama dibandingkan dikenalnya nama, para pemuda idealis ini tidak ambil pusing bagaimana catatan sejarah akan menempatkan mereka. Ya, sejarah juga alpa mencatat siapa mahasiswa yang pertama kali menduduki gedung MPR/ DPR dalam artian yang sebenarnya pada tahun 1998. Karena bukan disitu esensi perjuangan mereka.

Namun roda zaman terus berputar, era pengetahuan dan informasi seakan menuntut semua pihak untuk menunjukkan eksistensi. Para pemuda yang tadinya asyik menginspirasi dalam sunyi kini tak ketinggalan menjadi garda terdepan unjuk eksistensi. Berbagai macam kanal kontribusi digagas, bisa berupa kegiatan, program, gerakan, atau bahkan aplikasi di dunia maya. Iklim kompetisi ditambah motivasi untuk unjuk gigi mewarnai dinamika kontribusi pemuda. Menjadi sulit menyamakan isu dan gerak langkah kontribusi pemuda. Yang memang tidak lagi didesain untuk disatukan. Belum lagi semakin banyak pemuda yang kehilangan jati diri sehingga eksistensi menjadi orientasi, tak lagi memperjuangkan cita dan visi bersama. Kontribusi harus dalam ramai agar bisa menginspirasi. Bagaimanapun harus ada keuntungan yang diperoleh dari setiap karya dan kontribusi. Lebih miris lagi mendapati semakin banyaknya pemuda apatis yang tak peduli. Tingginya kompetisi diyakininya sebagai sebuah tanda untuk hidup ‘mandiri’, hidup untuk diri sendiri, hidup dalam dunianya sendiri. Bagi mereka, karya tidak perlu dibagi, cukuplah untuk menginspirasi diri sendiri.

Akan tetapi, yang namanya roda akan kembali ke titik awal. Saat ini pun masih banyak pemuda yang terus berkarya dalam sepi, tetap menginspirasi dalam sunyi. Gemerlap publikasi tak menyilaukan matanya yang menatap masa depan dengan penuh optimisme kegemilangan. Mereka sudah selesai dengan dirinya, sehingga dengan atau tanpa dikenal manusia, karya tetap harus tercipta. Eksistensi dirinya tak ada nilainya jika dibandingkan dengan motivasi untuk terus berkontribusi dan banyaknya manfaat yang hendak dirawat. Ketika memperjuangkan cita mulia menjadi pilihan, inspirasi bisa dilakukan dalam ramai maupun sunyi. Bentuk perjuangan bisa berubah menyesuaikan zaman, namun cita perjuangan tetaplah sama. Belum tentu populer, tapi memang popularitas bukan tujuan. Semakin sunyi, semakin menginspirasi, sebab energi tidak perlu terkuras hanya untuk meladeni persepsi orang. Hingga akan tiba suatu masa dimana kontribusi dalam sunyi ini kan dibuka tabirnya, menginspirasi dunia, membuat perubahan nyata. Tinggal pastikan diri kita turut berperan di dalamnya.

,

Mau Menyuarakan Pendapat? Nulis Dong Sob

Mau Menyuarakan Pendapat? Nulis Dong Sob

Oleh: Syahrizal Rachim

Alumni SMART Angkatan XI Berkuliah di UNPAD Jurusan Hukum

 

Kebudayaan nusantara merupakan salah satu hal yang saat ini menjadi perbincangan hangat diantara para pelajar di Indonesia. Para pelajar berlomba-lomba untuk menciptakan kreasinya sendiri untuk mewariskan budaya yang ada di Indonesia.

 

Hal ini menjadikan kegiatan jurnalistik menjadi sebuah kegiatan yang sangat penting untuk mengenalkan budaya kepada siapa saja. Peliputan budaya-budaya dengan kreatif dan pengemasan media menjadi menarik membuat para “penikmat” hasil karya jurnalistik semakin tergugah untuk mencintai budaya Indonesia.

 

Semangat para jurnalis muda di sekolah seharusnya mendapatkan dukungan dari berbagai pihak untuk menyukseskan pelestarian budaya yang ada di negeri ini.

 

Berbagai macam pelatihan mengenai cara mengelola karya jurnalistik sangatlah diperlukan di tengah minimnya kegiatan literasi untuk mengenal budaya di sekolah. Program desa budaya yang ada di berbagai daerah mampu menjadi pengembang budaya pada masyarakat. Siswa-siswa sebaiknya lebih mengetahui industri pembuatan barang kebudayaan, sehingga pada akhirnya berbagai peninggalan budaya di Indonesia dapat terus berkembang untuk mempercepat pengembangan karakter siswa.

 

Sebab itu penanaman literasi sangat dibutuhkan oleh generasi milenial saat ini agar kelak bisa menyuarakan banyak hal melalui tulisan, karena jika tindakan tak dapat mengubah bangsa siapa yang tahu jika tulisan malah mampu menjadi penggerak. Maka berkaryalah!

 

 

  

 

 

,

Kami Bangga Jadi Anak Kreatif

Kami Bangga Jadi Anak Kreatif

Dalam wacana kreativitas di dunia pendidikan, semangat mencoba dan mau tampil beda merupakan syarat utama untuk bisa mendalami dan menggelutinya. Banyaknya jam terbang dalam menjalaninya, juga bagian yang mampu menajamkan potensi diri menjadi inspirasi yang imajiner kala mengembangkan ide-ide segar. Berani memandang dari sisi yang bukan pada umumnya adalah bagian keunikan yang bersifat orisinal dan alamiah.

Inspirasi untuk memberdayakan siswa marginal yang tergabung di SMART Ekselensia Indonesia merupakan tantangan tersendiri. Bukanlah hal yang mudah untuk dapat mengembangkan bakat dan potensi mereka. Butuh berbagai variasi ketajaman teori perkembangan peserta didik dan keluasan referensi metode mendidik yang tidak hanya mengajar secara konvensional.

Sentuhannya bukan hanya semangat, melainkan juga tambahan suplemen pengorbanan dan tingginya tingkat kepedulian. Inilah perpaduan tangguh untuk menjadikan siswa kreatif. Bentuk inspirasi itu antara lain berupa gabungan mengolah sampah anorganik menjadi tampilan musik. Istilah yang sering dikenal orang banyak adalah trashic (trash music) atau musik sampah.

Awal kali gagasan ini dimunculkan memang cukup mengerutkan dahi yang mendengarnya. Bisa dibayangkan, panci bolong, wajan usang, pelek motor bekas, tempat jemuran, semua ini difungsikan sebagai perkusi. Ditambah ritmis suara yang mengaplikasi dari gema hukum fisika pada botol yang berisikan air. Alat-alat musik kagetan ini mampu mengeluarkan harmoni tangga nada yang memainkan peran sebagai melodi. Dan sebagai penguat semangat warna musik terdapat pada bas yang dimainkan dari tong plastik berkapasitas 100 liter, yang berteman setia pada jeriken minyak plastik berkapasitas 20 liter. Fungsi esensinya pada ritme keterpaduan cara pukul dan waktu masuk dalam satu alunan lagu.

“Kok bisa ya, Pak? Itu semua kan barang yang enggak layak pakai? Terus cara ngedapatinnya juga harus keliling satu RW, ya?”

Cetus keheranan salah satu anggota masyarakat itu bukan sekali saya dengar. Awalnya, sebagian (besar) orang memandangnya aneh bercampur heran, tapi berikutnya mereka akan memuji setelah alat-alat perkusi itu dimainkan oleh siswa SMART. Permainan musik ala siswa-siswa SMART ini pernah meraih penghargaan pemenang pertama dalam sebuah acara unjuk kreativitas di sebuah stasiun televisi  swasta nasional.

“Wah, keren-keren! Ini baru yang namanya kreatif. Jarang-jarang yang bisa kaya begini.”

Awal mula dibentuknya musik trashic ini berdasarkan pada keisengan siswa-siswa SMART. Sekolah ini memang berupaya menggali potensi kecerdasan siswanya, salah satu nya dalam bakat bermusik. Keisengan mereka berupa seringnya memukul-mukul bangku, meja, dinding pembatas kelas, bahkan ujung ballpoint dan pensil, menjadi inspirasi  untuk membuat satu alat musik yang dijadikan sebagai sarana hiburan mereka. Bakat-bakat siswa itu kemudian di berdayakan dalam satu wadah yang mendukung pembelajaran mereka di kelas. Tantangan kepada mereka untuk bisa mengaransemen satu lagu dalam wadah dan alat yang telah disediakan dari barang bekas tersebut ternyata disambut dengan penuh antusias.

Regenerasi tim yang ada juga sudah tertata dengan sistem yang cukup baik. Setiap angkatan baru masuk, semangat memainkan alat musik trashic sudah ditularkan. Dorongan memotivasi juga diembuskan kepada siswa kelas 1 itu dengan menjelaskan manfaat ikut bergabung dalam trashic.

“Selain waktu untuk berjalan-jalan semakin luas dan lama, tabungan kalian juga bisa bertambah banyak.” Kata-kata ini diberikan untuk membangkitkan ketertarikan para siswa.

Ya, karena bergabung dalam trashic memiliki keuntungan tersendiri. Selain mereka bisa menghibur orang lain, terkadang mereka menerima uang amplop dari pihak pengundang. Isi dalam amplop itu diatur seadil mungkin dalam pembagiannya. Dari lima tahun mereka berada di SMART, mereka akan menerima undangan untuk menghibur orang banyak dalam beberapa kali kesempatan. Dari pembagian ini, para siswa itu bisa menabung. Tabungan para alumni SMART sendiri cukup terbilang besar, setidaknya dalam ukuran mereka, yakni rata-rata satu juta rupiah.

Satu juta rupiah bagi anak-anak kota mungkin tidaklah besar. Namun, bagi siswa SMART, yang semuanya memang berlatar belakang anak marginal, satu juta rupiah adalah spirit, kesabaran, daya juang, ekspresi seni, dan semangat penuh ketangguhan. Satu juta yang dihasilkan dari niat yang tulus menghibur, berkampanye mengenai pemanasan global, peduli terhadap lingkungan, dan yang terpenting adalah usaha mereka untuk mau dan mampu menjadi manusia Indonesia yang mandiri, cerdas, dan penuh keimanan. []

,

Si Sunyi Bernama Sunyi

Si Sunyi Bernama Sunyi

Karya Muhammad Habibur Rohman

Alumni SMART Angkatan 9 Berkuliah di FIB UNS

 

Bagi Kesunyian

Bagi kesunyian

Hening adalah bunga

Atau semacam cahaya

Yang menyala di rimbun angkasa

 

Bagi kesunyian

Senyap bukan ketiadaan

Atau tahun-tahun yang usang

Yang begitu jauh dan terlupakan

 

Sajak ini, bagimu

Hanyalah semacam nyanyian

Pada suatu pagi, pada sebuah kesunyian

 

,

Hilang Tanpa Bekas

 

———–
Hilang Tanpa Bekas
———–

Oleh: Muhammad Habibur Rohman

 

Ada bunga
Pelan-pelan
Pudar wanginya
Pelan-pelan sekali
Hilang kerlipnya
Dengan hati-hati
Menuju mati

(Kamis, 2017)

,

Diujung Tanduk!

Diujung tanduk!

Oleh: Ahfie Rofi

Alumni SMART Angkatan 7

Saat Ini Berkuliah di Universitas Gadjah Mada Jurusan Sastra Arab

 

Diujung tanduk!

Sisa waktuku di SMART tinggal hitungan hari kala itu. Berat rasanya harus pergi, padahal dulu hidup di sini serasa beban. Dulu inginnya cepat selesai, sekarang malah minta tambahan waktu. Tapi apa hakku? Dulu aku menganggap SMART sebagai penjara mengerikan. Namun, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya pengalaman, sekarang aku merasa ini “rumah” yang nyaman. Sebentar lagi lulus… Tidak terasa….

Yang kubayangkan waktu itu, SMART tak ubahnya seperti ibu hamil, dan aku adalah satu dari 38 janin yang akan segera lahir. Di satu sisi rasanya tidak sabar ingin cepat keluar, tapi kalau dipikir lagi, nyaman juga ya di dalam?

Lalu apa kata seoranng ustazah menanggapi pernyataanku? Sambil tersenyum, beliau berkata, “Terlalu lama di dalam rahim itu tidak baik, janin bisa mati. Terlalu cepat keluar juga tidak baik, bisa mati juga. Jadi, jalankan sesuai dengan apa yang digariskan-Nya. Nikmati, ikhlaskan, optimis dan berusahalah.”

Ah, benar juga. Memang jatah waktuku cuma lima tahun, dan sejauh ini aku tidak menyesal dengan semua yang telah terjadi.

Kembali aku ingat hari pertama aku menginjakkan kaki di SMART, Rabu 14 Juli 2010 pukul 12.00 WIB bertepatan dengan Azan Zuhur. Mobil jemputan kami tiba di tanah Dompet Dhuafa Pendidikan tercinta, membawaku dan dua temanku, Farhan (yang wajahnya mengingatkanku pada lelaki berandalan padahal seorang gamer) dan Fadlillah (yang waktu itu gendut dan culun, tapi sekarang sudah jadi “Dewa”-nya Fisika di angkatanku) serta orangtua kami masing-masing.

Aku juga ingat pernah diamanahi ayah dari temanku yang berasal dari kota penghasil timah agar menjaga anaknya selama di sini. Padahal anak yang sebenarnya postur badannya lebih kecil itu malah amat senang menggangguku. Tapi tidak apa itu masa lalu, sekarang kami sudah berdamai. Haha.

 

Lucu mengingat dulu temanku pernah dijahili habis-habisan sampai sempat dia pernah lompat dari atas ke bawah (kamar kami menggunakan kasur susun) gara-gara teman-temanku menggoyang-goyangkan ranjang anak Sulawesi itu sambil teriak, “Gempa!! Gempa!!” Untungnya dia mendarat di ranjang yang lain alih-alih langsung ke permukaan lantai. Bisa gawat kalau dia sampai cedera gara-gara itu.

Dan diantara kepolosan-kepolosan itu, tetap ada saja orang-orang yang “terpaksa” bermusuhan gara-gara masalah sepele seperti aku yang pernah bermusuhan dengan temanku dari Bandung cuma gara-gara rebutan permen (iya, serius lho!). Pernah juga ada yang ingin coba-coba kabur dari SMART dan pulang ke rumah saudaranya di Jakarta karena tidak tahan tinggal di SMART tapi tidak jadi karena baru sampai di Bogor dia hilang nyali. Haha.

Tetap saja, itu hanya masa lalu, yang meski menyedihkan, meski menyebalkan, tetap akan indah ketika dikenang dengan penuh penerimaan. Dia hanya masa lalu, yang tetap akan begitu.

Sekarang kami sudah besar, sudah hampir lulus kuliah, teman-teman yang tadinya selalu dekat sekarang sudah mulai berjauhan. Sungguh pun aku kangen akan masa-masa itu, tak terasa lima tahun di SMART telah kulewati, ingin rasanya kuulang momen kebersamaan yang tak terlupakan. Terima kasih SMART atas banyak hal yang semakin kusyukuri keberadaannya.

,

Memori Indahku di SMART

Memori Indahku di SMART

 

“Selamat ya mas Azzam, sekarang kamu sudah resmi menjadi anak SMA. Jangan lupa belajar dan berdoa, ya nak. Insha Allah kamu pasti bisa meraih semua impianmju. Umi selalu mendoakan yang terbaik buat mas Azzam”.

Itulah pesan ibu ketika saya menunjukan rapor SMP semester terakhir kala itu. Saya ingat betul ada kata ‘Lulus’ terpampang di sana dan membuat saya tak jenuh melihatnya terus menerus.

Nama saya Muhammad Ikram Azzam. Saat ini saya berumur 16 tahun dan berasal dari Jakarta, saya merupakan alumni SMART Angkatan IX, saat ini saya berkuliah di UNJ Jurusan Sastra Arab. Sungguh tak terasa lima tahun saya merantau ke Kota Hujan untuk bersekolah di SMART Ekselensia Indonesia. Di sini saya berjuang demi menggapai impian menjadi seorang diplomat bergelar cendikiawan muslim. Banyak sekali keseruan dan keceriaan yang hadir dalam rutinitas yang saya jalani selama mengenyam pendidikan di SMART, selain bersekolah kala itu saya juga disibukkan dengan berbagai kegiatan sekolah dan kegiatan di luar sekolah. Saya pernah menjabat Ketua OSIS periode 2016/2017, saya juga didapuk menjadi Duta Gemari Baca oleh Makmal Pendidikan, dan saya juga berhasil menyabet Pemustaka Jawara Pusat Sumber Belajar (PSB) Makmal Pendidikan serta mengikuti Konferensi Forum OSIS se-Jawa Barat di Bandung dua tahun lalu.

Di SMART saya bisa bertemu teman-teman hebat dan cerdas dari seluruh Indonesia, buat saya itu adalah pengalaman paling berkesan dari sekian banyak pengalaman yang saya dapat. Saya juga merasa terhormat karena bisa diajar oleh pengajar hebat yang SMART miliki. Para guru di SMART membuat saya semakin mengerti akan arti perjuangan, tanpa lelah mereka terus menyemangati saya untuk mengejar impian  agar tak pupus di tengah jalan.

Berbicara mengenai impian, saya jadi teringat kenapa saya ingin sekali menjadi seorang diplomat. Dulu ketika masih duduk di Sekolah Dasar saya rajin membaca ensiklopedia tentang  peradaban dunia, saya tertarik dengan keragaman dan kerukunan yang digambarkan di sana. Dari situ saya membayangkan jika suatu hari saya bisa menjelajah dan mengeksplorasi kemegahan dunia sambil menyuarakan dan menciptakan kedamaian di dunia, saya pikir hanya diplomat yang bisa seperti itu. Tekad saya untuk meraih mimpi semakin kuat apalagi didukung oleh teman-teman dan para guru, kata menyerah seakan tak ada lagi dalam kamus hidup saya.

Kini saya sudah menjadi mahasiswa, perjuangannya terasa lebih berat namun saya menikmatinya demi menggapai cita. Saya akan terus berjuang agar bisa menghatrumkan nama SMART dikancah dunia. Pesan saya kepada adik-adik kelas, jangan pernah patah semangat karena kondisi, karena kondisi hanya kitalah yang bisa mengubahnya.

Tugas Kita Sebagai Manusia Hanyalah Berusaha Sob

Tugas Kita Sebagai Manusia Hanyalah Berusaha Sob

Oleh: Muhammad Fatih Daffa

Alumni SMART Angkatan 8, Saat Ini Berkuliah Di Institut Teknologi Bandung (ITB) Jurusan School of Life Science and Technology Engineering Program

 

Kuliah. Masa perubahan status, siswa menjadi ‘maha’siswa. Ya, kini aku adalah seorang mahasiswa. Saat paling tepat untuk membentuk diri, menentukan seperti apa diriku ke depannya. Bertansformasi, layaknya sebuah gerabah yang baru keluar dari cetakannya. Sukses terbentuk menjadi sebuah kendi yang indah, atau pecah karena tak mampu bertahan dalam tungku pembakaran.

Masa-masa akhir di kelas XII di SMART, walaupun nilai Ujian Nasionalku tidak cukup memuaskan. Meskipun aku tidak lolos dalam SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) jalur undangan. Aku merasa sangat bersemangat. Seorang remaja yang selama lima tahun terakhirnya selalu diawasi, dibina, diatur, dan didukung, akan tiba saat baginya dilepaskan menuju fase kehidupan selanjutnya. Mengawasi dan mengatur setiap hal yang dilakukan diri. Mencari dukungan dan membuat dukungan untuk diri agar bisa menemukan jalan terbaik bertahan di jalan itu.

Kini aku berada di posisi itu. Saat aku bebas mengatur diri, memilih tempat, mencari suasana. Terkadang kebebasan tersebut untuk membuat diriku berada di lingkungan yang baik. Namun, terkadang pula kebebasan tersebut hanya untuk membuat diriku nyaman. Entah apakah itu baik atau buruk. Sangat sulit, benar-benar sulit. Itu yang saat ini kurasakan, betapa aku merindukan saat-saat ketika berada di SMART. Bahkan, aku juga sangat merindukan saat-saat ketika aku bersama teman-temanku merasakan pelatihan dari KOPASSUS. Melakukan posisi taubat (tanyakan pada yang pernah merasakan selainku hehe). Saat itu mungkin fisikku mendapatkan hal “istimewa”, namun aku merasa saat itu lebih baik dari saat ini.

 

Kenyataan adalah kenyataan. Hanya Allah swt. dan diriku yang mampu mengubah takdir dan nasibku. Guruku di SMART selalu menyampaikan ini: “Tugas kita sebagai manusia hanyalah berusaha, hasil itu hak prerogatifnya Allah swt”. Untuk setiap orang yang membaca tulisan ini. Kusampaikan padamu, “Hiduplah sesukamu. Namun ingatlah, hal yang baik hanya untuk orang yang baik”.

Sekian.